Setelah beberapa kali berganti formasi, Lose It All kembali dengan “Bentala Sirna”, album ketiga-nya yang memiliki tema-tema lirik yang relevan dengan kehidupan di akhir zaman. Mereka kembali dengan racikan aransmen musik ala groove metal Roadrunner Records tahun 2000an. Sebut saja Machine Head, Prong, Soulfly, Slipknot, bahkan Fear Factory dan A Perfect Circle.

“Saya selalu yakin bahwa revolusi sound itu hanya sebatas pengulangan di setiap dekade dengan pengemasan nya saja yang berbeda.”

Diantara gelombang baru band-band chaotic hardcore dan metalcore, racikan groove metal 2000an awal kalian terdengar fresh dan cukup stand out untuk tahun 2022. Apa kalian sudah bosan dengan sound band kekinian sehingga memutuskan untuk kembali ke roots dengan album “Bentala Sirna”?

Lucky: Sebenernya kalo bosan sih enggak, cuma kalo semua band bertipikal homogen secara sound dan lainya, apa yang jadi pembeda dalam penyajian kepada audience? Saya selalu yakin bahwa revolusi sound itu hanya sebatas pengulangan di setiap dekade dengan pengemasan nya saja yang berbeda. Secara konsep dan komposisi “Bentala Sirna” memang lebih mempertajam wilayah aransemen dan karakter sound yang lebih low dark agar ada space yang luas untuk komposisi vokal yang lebih berkarakter distorted singing di dalam nya. Tapi disisi lain groove metal era Roadrunner Records memang the best, dimana produser-produser sekaliber Ross Robinson, Andy Sneap dan Colin Richardson berhasil mengemas komposisi sound ke arah yang lebih baik dan juga sangat menginfluence untuk karakter sound masa kini.

Azi: Nambahin, kalo secara genre musik menurut saya berputar terus ya. Ya itu tadi, mungkin bisa dikatakan setiap dekade. Kita ingin melakukan apa yang belum orang lakukan untuk saat ini ya, secara komposisi dan aransemen.

Pengaruh roots hardcore secara personal dari masing-masing personil yang dibawa ke Lose It All?

Azi: Pas penggarapan “Bentala Sirna” saya pribadi dengerin band hardcore nya cuma “Bury Your Dead” aja.

Indrawan: Roots hardcore secara musik mungkin lebih banyak didengarkan ketika awal awal Lose It All dibentuk.

Anggara: Kalo dari sektor vokal lebih mengedepankan karakteristik low tune karena disesuaikan dengan materi album “Bentala Sirna” yang lebih bernuansa dark.

Lucky: Skena Bandung memang tidak bisa dipisahkan dari hardcore/punk dari zaman Saparua sampai massive nya gigs akhir pekan saat ini. Transformasi bermusik pun ikut berkembang dengan melebarkan pasar dan audience sehingga mau tidak mau pengaruh sekecil apa pun masih terasa. Mungkin aransemen band hardcore 2000 an sih yang sound nya sudah mulai modern dan dikemas dengan bantuan produser kala itu yang coba saya masukan ke album “Bentala Sirna” ini.

Rengga: Dari segi aransemen dan tanpa mengindahkan roots hardcore saya benar-benar memfungsikan instrumen bass menjadi basic line pada rhythm section dalam grup.. Ini untuk melengkapi pemakaian frekuensi low pada aransemen album “Bentala Sirna”

“Setiap album sebuah band selalu memiliki parameter dan batasan dalam setiap proses nya. Tapi disisi lain ketidakpuasan itu biasanya menjadi bahan perimeter di album atau band band berikutnya hahaha…”

Kalau membicarakan Progresivitas band lawas Luckyta, Pitfall, Apakah ada kecenderungan tidak puas ka satu karakter tetap di musik?

Lucky: Sebenarnya saya selalu puas dengan karakter yang dibangun dari band ke band yang pernah saya mainkan. Karena setiap album sebuah band selalu memiliki parameter dan batasan dalam setiap proses nya. Tapi disisi lain ketidakpuasan itu biasanya menjadi bahan perimeter di album atau band band berikutnya hahahaha…

Bisa ceritakan mengenai proses pengumpulan materi sampai rekaman dan jadi album “Bentala Sirna” dari sisi masing-masing personil?

Azi: Kalau mengenai pengumpulan materi, awal nya saya mengajukan 5 lagu yang akan digarap untuk album. Secara konsep dan komposisi, setelah mengajukan tersebut Lucky mengirim 5 lagu untuk di gabungkan. Ada beberapa lagu yang rubah sedikit seperti tempo, beat dan pattern. dan akhirnya terkumpul sampai 15 lagu. Yang dipilih di “Bentala Sirna” hanya 10 lagu. Sisanya mungkin akan di masukan ke projek album selanjutnya. Sebenarnya banyak pro dan kontra juga, terutama di pihak produser pada saat itu kebetulan oleh Toteng Forgotten, implementasi beliau mungkin berbeda dengan personil Lose It All. Sampai beliau berucap “jangan sampai Lose It All mengalami kemunduran dalam segi musik”. Tapi alhamdulilah beberapa demo diberikan kepada beliau berikut dengan isian vokalis yang baru, dan akhir nya beliau baru mengerti maksud nya.

Lucky: “Bentala Sirna” diproses tidak melalui sistem studio jamming, pengumpulan materi lebih kepada personal material (Azi dan Lucky) yang di share kepada member lainnya. Kita coba bikin lagu sebanyak banyaknya yang nantinya di kumpulkan dan di diskusikan bareng dalam pengambilan lagu mana yang sesuai dengan karakter album “Bentala Sirna” ini. Dulu kalau ga salah terkumpul sekitar 15an lagu yang akhirnya dipilih 10 lagu yang sesuai dengan tema dan karakter album “Bentala Sirna” itu sendiri.

Rengga: Dalam Lose It All masing-masing mempunyai peran dan porsinya. Dalam hal pengumpulan materi khususnya album “Bentala Sirna”, penggarapan ide dan bahan materi aransemen awal dimulai dari Azi dan kemudian Luckyta menerjemahkan ide dan gagasan awal Azi ke dalam lirik hingga Visual asset yang akan dipakai di album ini. Kemudian materi yang sudah di rancang diaplikasikan di dalam studio hingga pencarian komponen detail aransemen.

Anggara: Jujur untuk penggarapan materi di album “Bentala Sirna” ini saya belum terlalu banyak berkontribusi baik dari segi penulisan lirik ataupun aransemen vokal karena secara keseluruhan materi sudah jadi dan sudah terima beres hahahaha.. Untuk proses rekaman vokal sendiri merupakan sebuah pengalaman baru walaupun dengan adanya sedikit kendala terkait vokal yang kurang maksimal dan mengharuskan re-take hahaha.. Tapi sejauh ini sangat puas dengan jerih payah yang dihasilkan hehehe..

Cover art nya sangat menarik. Dari mana ide nya menggunakan lukisan Raden Saleh dan ilustrasi ala etching di dalam booklet nya?

Indrawan: Ide konsep awal dari Babap yang menyarankan artwork nya menggunakan lukisan karena di album “Bentala Sirna” Babap menginginkan sesuatu yang berbeda

Rengga: Awalnya saya nggak yakin dengan penggunaan cover Raden Saleh. Bukan karena tidak bagus yaaa.. Tapi terkait Copyright. Tapi setelah mencari informasi dan diyakinkan Luckyta bahwa penggunaan atas karya ini aman atau bisa dipakai karena umurnya sudah lebih dari 100 tahun, akhirnya saya setuju sekaligus bangga dengan penggunaan salah satu karya seni terbaik di Indonesia untuk dijadikan cover album.

Lucky: Proses penggarapan cover “Bentala Sirna” sangat panjang, tapi kurang lebih saat itu Babap pengen front cover dan layout album pengen berupa lukisan realis yang berbau lokal dan penulisan seperti novel atau kitab-kitab tua. Saya sendiri coba untuk membuat lukisan secara digital yang pada akhirnya tidak masuk dalam kriteria yang Babap maksudkan. Lalu Babap memberikan moodboard yang salah satunya adalah lukisan milik Raden Saleh yaitu “Banjir di Jawa” dan “Kapal Karam Dilanda Badai” dan “Kapal Dilanda Badai”. yang kemudian pada akhirnya dipilihlah “Kapal Dilanda Badai” sebagai front cover dan 2 lainnya untuk insert. Kemudian sisipan engraving ala Gustave Dore yang dibentuk dalam suasana lokal menjadi sisipan untuk didalam bookletnya. Alhamdulillah nya, kita gak kena piracy atau kebijakan yang mengharuskan kita membayar, karena lukisan tersebut telah berumur 100 tahun dan sudah di legalkan oleh galeri nasional sebagai pemilik lukisan tersebut. jir panjang oge hahaha..

“Bentala Sirna” diproses tidak melalui sistem studio jamming, pengumpulan materi lebih kepada personal material (Azi dan Lucky) yang di share kepada member lainnya.

Kenapa memilih ‘Flood on Java’ dan ‘Ships on a Stormy Sea’ dari Maestro Raden Saleh untuk di keping CD dan kover? Tema sentral apa yang ingin kalian angkat di album ini?

Lucky: Sebenarnya ketika masih menjadi moodboard pun saya sudah tertarik dengan karakter dari ketiga lukisan tersebut, terlebih “Kapal Karam Dilanda Badai” yang lebih mempresentasikan tentang simbol hilang dan lenyapnya sisi manusia secara hakikat di periode ini dalam balutan sisi industri global yang disangkutkan dalam historical bible 7 deadly sins. Dan secara grafis mungkin lukisan Raden Saleh ini sangat hidup dan bernyawa. Dari objek, warna dan komposisi yang menjadikan simbol dalam album “Bentala Sirna” itu sendiri.

Album-album groove metal & nu metal favorit masing-masing personil apa saja?

Azi: Korn – Untouchables (2002)

Anggara: Slipknot – S/T (1999)

Lucky: Machine Head – Burn My Eyes (1994), Soulfly – S/T (1998) dan Fear Factory – Digimortal (2001) & Obsolete (1998)

Rengga: Soulfly – Primitive (2001)

Indrawan: In Flames – Soundtrack To Your Escape (2004)

“Manufaktur Siwalingga” cukup menarik judul lagu nya. Apa yang ingin kalian sampaikan dari tema lirik lagu itu?

Lucky: “Manufaktur Siwalingga” adalah sebuah idiom dimana nafsu “lust” yang mulai didesentralisasikan dalam berbagai media digital yang berperan dalam masuknya arus industri global di indonesia saat ini. Sehingga banyak nya sisi negatif akibat legalnya industrialisasi nafsu syahwat yang sangat bertentangan dengan budaya Timur.

Lirik berbahasa Inggris lebih mendominasi di album ini. Apakah ada kesulitan yang kalian temui saat membuat lirik Indonesia? Beberapa band dengan lirik Indonesia yang kalian sukai?

Azi: Band dengan lirik Indonesia yang saya pribadi sukai adalah Forgotten

Indrawan: Forgotten dan Balcony

Rengga: Pure Saturday

Anggara: Koil

Lucky: Kalau band saya suka dengan Kantata Takwa yang formasi awal. Sebenarnya penulisan lirik mengalir begitu saja ketika saya mendengarkan instrumen yang telah di kurasi untuk album. Dan tidak ada tuntutan untuk semua berbahasa Indonesia maupun Inggris. kalau kesulitan mungkin selalu ada, baik Inggris maupun Indonesia, terutama dalam mencari kata ganti yang pas, rima dan struktur kata yang pas dengan alunan nada vokal yang ditampilkan.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos by @okintiano

 

Setelah merampungkan agenda anjangsana ke kota-kota di selingkar Jawa Timur dan Pulau Bali. Sunlotus, kolektif beranggotakan Made Dharma (gitar/vokal), Dzul Fawaid Ahmad (gitar), Sinergy Aditya (bas), dan Bagus Pratama (dram) ini langsung menggeber kancah musik Tanah Air lewat single terbarunya, “Jar Of Spells”. Berbeda dengan rilisan sebelumnya, single terbaru kali ini mereka rilis dalam bentuk sebuah Video Musik.

Video musik “Jar of Spells” ini merupakan buah kolaborasi antara Sunlotus dengan rumah produksi asal Yogyakarta, 7daysoff. Disutradarai oleh sineas Gilang Rabbani, video musik berdurasi 5 menit 8 detik ini menceritakan kisah asmara antara Pekerja Seks Komersial dan seorang pelanggan yang dibalut dengan nuansa melankolis sekaligus meneganggkan. Keduanya dikisahkan memiliki latar belakang kehidupan yang buruk dan tengah mencari pelarian.

Single ini rencananya tercantum dalam rilisan mendatang Sunlotus berupa album split dengan grup musik Milledenials. Band Shoegaze asal Bali yang digawangi oleh Nadya Narita (vokal), Billy Sukmono (bass), Made Krisna (gitar), Bagus Aditya (gitar) dan Darin Vidaswara (drum) ini tahun lalu sukses mencuri perhatian dengan mini album “5 Stages of Doomed Romance” rilisan Skullism Records. Bersama Sunlotus, mereka ikut menebar suara bising se antero Bali dalam rangkaian Deafening This Old House Tour. Jika rencana berjalan lancar, album split tersebut akan rilis akhir September 2022.

“ We’re making Earth our only shareholder.”

Founder Patagonia, Yvon Chouinard, mentransfer seluruh shares kepemilikan nya kepada 2 entitas NGO non-profit untuk membantu menghadapi krisis perubahan iklim. Setelah hampir 50 tahun membangun dan memiliki Patagonia, kini seluruh profit Patagonia akan digunakan untuk menghadapi krisis iklim. Brand ini pun sudah dari dulu dikenal sebagai perusahaan conservationist yang aktivisme korporasinya adalah bagian besar dari brand identity mereka. Pada tahun 2017, Patagonia pernah menuntut eks-Presiden Donald Trump karena administrasi Trump dianggap merusak 2 monumen nasional di Utah.

Yvon Chouinard membangun Patagonia dari tahun 1973 di Ventura, Kalifornia. Yvon dikenal sebagai pendaki gunung yang lumayan prolifik lewat aksi-aksi pendakian nya di tebing-tebing curam Yosemite National Park sebelum membangun Patagonia. Brand yang menjual peralatan outdoor & apparel ini memang dikenal melalui misi-misi perlindungan alam dan message yang cukup vokal juga terhadap climate change di kanal-kanal medianya.

“Daripada mengambil keuntungan dari alam dan merubahnya menjadi kekayaan, kita akan merubah kekayaan dari Patagonia untuk melindungi sumbernya, planet bumi.”

Menurut press release yang dipublish Rabu kemarin (14/09), efektif per hari ini Chouinard dan keluarganya akan mentransfer seluruh kepemilikan shares Patagonia nya dan membangun 2 entitas non-profit. Kedua entitas NGO itu akan menjunjung tinggi nilai-nilai Patagonia dalam melestarikan alam dan melawan perubahan iklim. Menurut Chouinard: “Jika kita ingin planet bumi ini masih ada 50 tahun dari sekarang, maka kita semua harus melakukan apa yang kita bisa dengan resources yang kita miliki”. Yvon menambahkan “Daripada mengambil keuntungan dari alam dan merubahnya menjadi kekayaan, kita akan merubah kekayaan dari Patagonia untuk melindungi sumbernya, planet bumi”.

 

Share terbesar milik perusahaan Patagonia yang berupa 98% stock sekarang akan dimiliki Holdfast Collective. Sebuah organisasi non-profit yang akan memastikan keuntungan annual Patagonia (sekitar $100 juta dollar per tahun) akan digunakan untuk melindungi alam, biodiversity, men-support komunitas dan melawan perubahan iklim / krisis alam. Sisa dari stock perusahaan akan diberikan ke lembaga funding yang baru dibuat: Patagonia Purpose Trust, yang akan melindungi dan memastikan visi Chouinard untuk menghadapi krisis iklim ini.

Ada sebuah communal space yang menarik dan berlokasi di Jl. Mangga (masih di sekitar daerah Jl. Riau) yang bisa kalian kunjungi. Menurut Emir, founder dari Downtown Market (DoMa), “Downtown Market itu terinspirasi dari warung-warung rokok kecil yang ada di pinggir jalan di Indonesia, terus kepikiran gimana kalau warung-warung rokok itu jualnya jadi sesuatu yang berbau musik dan fashion”. Karena di luar negeri nya, menurut Emir Downtown Market itu seharusnya adalah open air market yang diadakan mingguan. DoMa mulai beroperasi secara online dan mulai membagikan produk-produk pertamanya pada 15 Desember 2021.

Konsep DoMa sendiri adalah produk casual sehari-hari yang disukai oleh Emir, dan tentunya terinspirasi dari hal-hal yang sedang disukai dan menarik baginya. Nama area dimana DoMa berlokasi adalah Mango St yang isinya ada Downtown Market, Downtown Studio (Studio musik / rehearsal space), The Pleasant Service (coffee shop), Room+Room (food service) dan Flood Coffee Roastery. Menurut Emir “Arsitek bangunan ini dibikin sama tiga orang antara lain ada aku sendiri terus Ilham dari The Pleasant Service dan Nabil dari Room+Room, dan kita gak ada basic arsitek sama sekali tapi kita nyoba bangun dari referensi yang kita suka.”. Emir juga menambahkan waktu membangun mereka banyak terinspirasi dari bangunan Dendy Darman dan bangunan yang ada di ruko Segitiga Mas di Kosambi. Sehingga banyak menggunakan aksen tegel tegel putih.

Rencana kedepannya, Emir masih ingin mengembangkan Downtown Market dan Downtown Studio, yang memiliki studio latihan dan juga fasilitas rekaman. Bagi teman-teman band/brand yang mau bikin aktivasi di DoMa dari hearing session atau pra dengar sampai launching brand/album disini juga bisa. “Harapannya Downtown Market ini bisa jadi melting point musisi atau teman teman pekerja seni lainnya”. Segera kunjungi Downtown Market / Studio dan juga nikmati berbagai sajian dari The Pleasant Service, Room+Room dan Flood Coffee Roastery. One stop shop dimana band kalian bisa latihan / rekaman, ngopi, makan dan juga membeli artikel-artikel fashion dari DoMa sambil diiringi oleh background music yang dikurasi oleh tenant-tenant Mango St.

 

Words by Aldy Kusumah
Photos from Downtown’s archives

Brand apparel asal Bandung, HAVOC dari Bandung mengeluarkan koleksi Musim Gugur terbaru yang diberi judul “Flower Power”. Setelah melewati situasi pandemi Covid-19 banyak kesulitan yang dialami oleh orang-orang di seluruh dunia. Setelah masa sulit berlalu, banyak hal berubah dari biasanya. Yang tentu saja membentuk kepribadian dan karakter yang lebih baik lagi. Karena itu, kekuatan bunga yang sedang mekar, HAVOC jadikan sebagai benang merah dalam koleksi terbarunya.

HAVOC mempresentasikan lewat bahan yang dipilih secara khusus, untuk mewakili identitas dari brand HAVOC, dengan menggunakan bahan bermotif bunga di beberapa artikel. Edisi “Flower Power” menghadirkan produk seperti Outerwear, Varsity Jacket, Hoodie, Pants dan Cap. Rilisan Artikel “Flower Power” akan tersedia pada tanggal 15 September 2022 di Marketplace dan situs resmi HAVOC.

Untuk informasi lebih lanjut bisa dilihat melalui Instagram HAVOC.

Berlokasi di Jl. Panumbang Jaya No.5, Ciumbuleuit, Bandung, The House Tour Midtown kembali menggelar pameran “Room to Room” pada 9 sampai 11 September 2022 lalu. Pameran yang berlangsung di dalam area kamar-kamar menjadi keunikan tersendiri, dengan menggandeng berbagai local brand untuk ikut berpartisipasi, yaitu Play With Pattero, Inked Skin by Aia Adjie, Bling It On, Botanina, USS Studio, Tocco Ceramics, Pricky Cholla, Touche Shop, Bertjorak, Wsay Studio, Soothe The Ritual, dan Pepper & Garlic.

Pengalaman berbeda didapatkan oleh para pengunjung karena dapat sekaligus merasakan sensasi room tour dan mengunjungi pameran di waktu yang bersamaan. Setelah berbelanja, para pengunjung juga dapat menikmati beraneka ragam santapan makanan di dalam ruangan kaca atau Glass House di area Boundary Restaurant.

Setelah merilis demo ditahun 2021 dan EP berjudul Vanity and Void, Dazzle kembali merilis single berjudul Revenge Is Mine dibawah naungan Greedy Dust Records. Single Revenge Is Mine dirilis pada Senin, 5 oktober 2022 kemarin dan sudah bisa didengarkan di beberapa platform musik digital. Rilisnya single ini juga menjadi penanda akan rilisnya album pertama mereka yang direncanakan akan selesai pada tahun depan.

Dazzle adalah unit crossover hardcore asal Malang yang terbentuk pada awal 2021. Musik Dazzle mencampurkan elemen-elemen hardcore punk dan trash metal. Beranggotakan Agan pada vokal, El dan Charis pada gitar, Syahidan pada bass dan Adyan pada drum. Dazzle sangat dipengaruhi oleh band-band seperti; Red Death, Iron Age, hingga Metallica.

Revenge Is Mine sendiri ditulis oleh Agan sang vokalis dan menceritakan tentang suatu masa lalu yang di selimuti dengan kekalahan, perampasan, penindasan oleh sesorang yang ternyata hanya sosok yang lemah. Revenge Is Mine menjadi simbol akan waktu yang tepat untuk mendapatkan apa yang sudah diambil sesuai dengan porsinya.

Sama seperti EP Vanity and Void, untuk penggarapan single Revenge Is Mine Dazzle masih mempercayakan Griffin Studio sebagai studio tempat mereka merekam materi-materi anyar mereka. Sedangkan untuk proses kreatif cover single, Dazzle bekerja sama Bersama Loonerhze (Blckhwk) artworker asal Palembang.

Diannov Pamungkas adalah seorang produser dan juga selector yang cukup prolifik dalam berkarya. Setelah merilis EP “Karangpawitan” dibawah moniker nya Xin Lie, sebuah maxi-single berjudul “Mapagkeun Kawani” pun dirilis . Yang didalamnya terdapat track berjudul ’MAPAGKEUN’, ‘PANÉN (MIND HARVEST)’, dan ‘KAWANI’. Diannov juga adalah orang yang aktif dibalik Disaster Records.

Bisa ceritain ga lo awal gabung ke Disaster Records gimana?
Awalnya sih ga ada rencana, pas tahun 2019, tiba-tiba dipanggil sama Vidi (Maternal Disaster). “Lagi santai ga? Bisa ke kantor ga besok?”. Ngobrol lah kita. Sebelumnya juga saya juga dulu ada label santai yang ngerilis karya teman-teman. Sebenernya Vidi nyari orang yang bisa graphic design juga yang bisa layout dan lain-lain. Sampai sekarang sih kerjaan nya ga banyak berubah cuma akhir-akhir ini saya ngehandle jualan juga, tadinya jualan nya disatukan sama Maternal, sekarang mah dipisah. Yang sekarang aktif di Disaster cuma saya ama Vidi aja. Dulu sebelum sama saya Disaster itu Vidi sama Manno dan sempat juga sama Agan.

Roster artist Disaster kan lumayan variatif, dari Soleh Solihun, RNRM sampai Komunal dan Kontrasosial ada juga. Apakah ada aspek-aspek lain yang memutuskan Disaster untuk sign band-band tersebut? Apakah ada cerita unik pas lagi menggarap suatu band?
Selain musik teh memang banyak juga aspek lain. Dan biasanya berawal dari pertemanan, jadi ya karena barudak sebenarnya. Dari situ berlanjut ke obrolan lain dan rilisan. Kalau cerita unik ada cerita yang band nya tiba-tiba ga aktif setelah saya ajukan untuk dirilis Disaster. Penggarapan bagus, dari segi visual dan materi. Tapi pas beres rilis udah aja itu band nya ga aktif aja hehehe…

Top 5 rilisan favorit yang lo garap untuk Disaster apa aja?
1. Avhath – The Avhath Rites EP: karena itu pas saya pertama masuk Disaster langsung garap Avhath. Dari segi musik bagus, komunikasi jelas, artwork mah ga usah ditanya lah udah pasti bagus.
2. SSSlothhhh – Celestial Verses: The whole package lah, penggarapan nya serius dari segi artwork sampai marketingnya. Barudakna daek dikukumaha. Dan selling nya bagus juga ini.
3. Komunal – Komando Badai Api: Komunal sebelumnya juga pernah kita reissue format vinyl nya (Hitam Semesta & Gemuruh Musik Pertiwi).
4. Senyawa – Alkisah: Album yang keren. Alkisah juga dirilis oleh beberapa label internasional.
5. Ancient / Brigade of Crow split: Dirilis di format 7”. Dari segi materi dan artwork bagus juga.

Bisa elaborasi sedikit mengenai proyek musik lo yang memakai moniker Xin Lie?
Nama Xin Lie diambil dari daerah rumah saya, Sindanglaya hehehe. Secara konsep sih elektronik eksperimental aja tapi tetap ada ritmik yang dancy, bisa dibilang sekarang tuh yang seperti ini disebut sebagai “Deconstructed Club Track”, rilisan NON rata-rata seperti itu.

“Karangpawitan”, EP lo yang dirilis di tahun 2021 juga mengandung unsur perkusi tribal tradisional ya?
Jadi itu emang drum rack yang saya kerjakan. Saya merekam dan bikin drum rack sendiri. Nama instrumen perkusi nya itu “Dogdog”, yang biasa dipakai di reak (pementasan tradisional atau kesenian khas Jawa Barat) atau kuda lumping.

Lalu full album nya kapan?
Sekarang memang lagi garap album. Sepertinya kalau cari label sih masih di label anak-anak, tapi pengen juga self-release.

Bisa ceritakan sedikit mengenai maxi single baru lo?
Secara teknis, MAPAGKEUN KAWANI masih bertujuan untuk mempelajari lebih dalam cara kerja Ableton Live, DAW yang saya pakai untuk membuat musik. Secara personal, ini adalah sebuah motivasi untuk menjalani kehidupan dari yang buruk menjadi sesuatu yang lebih baik. Akan ada versi lain untuk materi ini yang akan dirilis oleh Ecstatix dengan format kaset pita dan ada tambahan remix dari Bagvs. Kemungkinan akan ada versi lain di tahun depan, ditunggu saja!

Perbedaan Xin Lie live set dan DJ set?
Sebenarnya kalau live set hanya lagu sendiri aja, kalau DJ set dicampur lah. Karena DJ set lagu-lagu nya agak berbeda dengan produksian saya. DJ set musiknya electronica, breaks, techno nya udah jarang lah. Tapi pas DJ set masih masuk aja mainin lagu sendiri, tergantung sound system. Yang membedakan di flyers ada keterangan nya dalam kurung biasanya. Masih keitung banget kalau main live set karena masih belum berani, sekarang masih belajar lagi dan mempersiapkan live set. Alat sebenernya ga ribet cuma controller dan laptop, cuma harus siapin DAW (digital audio workstation) nya. Karangpawitan aja sebenarnya belum tour.

Yang menurut lo agak ribet dalam produksi dan komposisi musik Xin Lie?
Writing nya yang agak ribet. Biasalah pengen bikin yang beda tea. Yaa apal lah sesama musisi.. Jadi yang ribet secara writing nya, mainin nya sih simple-simple aja. Saya pake drum rack itu teh karena pas masih kecil main reak juga. Sebelum ide pake dogdog, sempat juga bikin-bikin tapi hasilnya saya sendiri pun gak suka karena sound nya gak bagus juga, jadi ya itung-itung belajar DAW lah.

Karangpawitan itu dari nama daerah kan di Garut? Apa yang menarik dari Karangpawitan?
Awal tahun 2020 saya menjenguk teman saya yang terkena musibah di Sumedang. Beres dari situ saya bingung mau kemana. Di Bandung gak ada hiburan. Udah aja saya ke Garut untuk ketemu teman-teman lama. Salah satunya si Acil orang dari Karangpawitan. Yang spesial mungkin banyak fenomena unik disitu. Obrolan bersama teman-teman itu saya rekam, durasi sekitar 1 jam setengah dan saya pecah jadi 12 cerita. Tadinya mau dibikin album tapi baru jadi 3 lagu yang fix. Sekarang sudah ada sekitar 40 lagu yang mood nya terinspirasi dari cerita-cerita tersebut.

Scene rave bawah-tanah ini kaya semakin rame ya sekarang? Banyak juga yang dari punk/metal sekarang banting setir jadi musisi elektronik ya?
Karena sekarang ada wadahnya dan pelakunya lebih banyak, jadi terlihat seperti naik lagi. Lebih tepatnya dinaikkan sih bukan naik lagi. Terus karena internet juga ya penyebaran informasi jadi lebih gampang. Kalau banyak yang dari punk/metal ke elektronik ya itu mungkin ya, kebebasan berekspresi tea hahaha..

Balik lagi ke Disaster Records, apa ada beberapa upcoming release yang bisa lo ceritakan disini?
Vinyl ada beberapa sih, Avhath yang Felo De Se. Komunal yang Komando Badai Api, yang kemaren 2 lagu itu dirilis lagi di format vinyl. Speedkill ada yang baru, reissue album pertama Extreme Decay, Haul yang Adamar. Critical Issues band baru nya si Rian Pelor. Trus EP baru Saturday Night Karaoke. Ada penyanyi dari Yogya, Kanina, yang album fisiknya belum ada mau kita rilis juga. Ada juga band screamo Aillis yang minggu depan mau kita rilis, dan terakhir mungkin Tribute to Sajama Cut, split release sama Oblivion Records. Eh bukannya Nearcrush juga ada kan di tribute to Sajama Cut? hahaha..

 

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo taken from Xin Lie’s archives

Setelah hampir 10 tahun lebih tidak menyaksikan performa live Sajama Cut, gigs intim mereka hadir di Bandung. Sebuah event launching CD Tribute Sajama Cut yang dirilis oleh Oblivion Records dan Disaster Records. Event apik ini pun diprakarsai oleh mereka. Menariknya band-band yang tampil mengkover lagu-lagu Sajama Cut dalam kompilasi ini bisa dibilang lintas genre. Dari Neonomora, Lomba Sihir, Sal Priadi, Ade Paloh (Sore) ft. Costaroy, Texpack, Adrian Adioetomo & Daniel Mardhany sampai Polka Wars ada disini dengan reinterpretasi mereka masing-masing. Dari Bandung juga ada beberapa band seperti Polyester Embassy, Nearcrush, Ikkubaru dan Muchos Libre yang tentunya berbagi panggung juga dengan Sajama Cut di gigs ini.

Muchos Libre

Perhelatan ini berlokasi di IFI Bandung yang cukup sering menjadi pilihan lokasi dari event-event Maternal Disaster dan Disaster Records. Ada beberapa merch table dari Oblivion Records yang menjual merch Sunbath, Nearcrush sampai Forgotten. Disampingnya ada merch table dari Disaster Records yang menjual T-shirt dengan design logo baru mereka, dan tentunya T-Shirt dan CD Sajama Cut yang eksklusif. Para pengunjung juga bisa mendapatkan poster dan stiker Sajama Cut gratis di table ini. Terlihat juga merch table dari Ikkubaru dan Muchos Libre didekat pintu backstage.

Ikkubaru
Nearcrush

Penampil pertama adalah Muchos Libre dengan punk rock ugal-ugalan nya. Mereka juga membawakan kover lagu Sajama Cut “Tekstur Kulit Wanita Kaya-Raya” yang menurut akun IG mereka akan dibawakan pertama dan terakhir kalinya di gigs ini. Penampil kedua Ikkubaru cukup menarik dengan sajian City Pop nya. Mereka mengkover juga “Paintings/Pantings” dari Sajama Cut dan “Star Guitar” dari Chemical Brothers. Penampil ketiga adalah Nearcrush dengan presentasi musik alt-rock’ 90s mereka. Sound mereka terdengar sedikit lebih berisik dan raw dari kedua penampil sebelumnya. Selain membawakan materi dari debut album “Bloodsports & Modern Arts” yang dirilis oleh Disaster Records, mereka juga sempat mengkover lagu “Head in the Ceiling Fan” dari Title Fight. Lagu kover Sajama Cut mereka “Season Finale” dibawakan juga, yang di album kompilasi menampilkan permainan drum dari Andika Surya (Collapse). Penampil terakhir sebelum SC adalah Polyester Embassy yang tentunya selalu apik dalam soal sound dan performa. Mereka membawakan “Adegan Ranjang 1981❤️ 1982” versi remix. Tentunya kedua lagu penutup dari Elang Eby dan kawan-kawan akan menganti rasa rindu kalian pada Polem: “Faded Blur” dan “Polypanic Rooms” yang sound gitar dan intro bass nya sangat ikonik.

Polyester Embassy
Sajama Cut

Perhelatan ini ditutup oleh penampilan apik dari Sajama Cut. Hampir kebanyakan materi upbeat dari album “Godsigma” mereka bawakan. Formasi Sajama Cut yang kali ini sepertinya adalah formasi tersolid mereka so far. Dengan Aldrian Risjad (Gitar), Arta Kurnia (bass), Dewandra Danishwara (Gitar), Daniel Hasu (Keyboard), Adam Rinando (Drum) dan tentunya the one and only Marcel Thee, satu-satunya founding member yang masih ada di Sajama Cut dari awal sampai sekarang. Permainan gitar duo Aldrian dan Danish sangat mengkomplemen satu sama lain, dan tentunya permainan drum Adam yang sangat powerful dan teknikal, sangat cocok membawakan materi-materi lagu baru dari “Godsigma”. Bahkan lagu “Less Afraid” dari soundtrack Janji Joni pun terasa lebih enerjik dengan drumming style Adam. Mereka juga membawakan beberapa lagu dari ‘Osaka Journals’ juga seperti “Alibi”, “Less Afraid”, “Fin” dan “Fallen Japanese”. Jokes-jokes sarkastik Marcel dan stage banter-nya dengan Aldrian cukup membuat penonton terhibur di Sabtu Malam itu. Hujan deras di luar pun tidak terasa dengan setlist SC yang sangat upbeat. Penampilan SC malam itu diitutup dengan “Terbaring Di Pundak Pesawat, Termakan Api, Terlentang, Tersenyum”.

Sajama Cut

Malam itu memang pengunjung tidak terlalu ramai yang mungkin dikarenakan karena bentrok juga dengan beberapa acara pada hari itu, dan juga derasnya hujan. Tapi tidak apa-apa, Sajama Cut memang sudah memiliki niche-marketnya sendiri, dan sedikit obscure. Hal itu dibuktikan dengan mayoritas pengunjung yang sepertinya sudah hafal lirik dan materi-materi lagu mereka. Seperti liner notes yang ada di kover CD kompilasinya: “Buat apa juga punya ribuan fans tapi cuma hafal “Less Afraid” kan?”

 

Words by JEURNALS

Photos by Firman Rohmansyah

Pada 20 Agustus 2022 lalu, GRIEF. merilis single “…Even in the Warmest Embrace” yang dirilis melalui Samstrong Records dalam bentuk fisik yang menjadi salah satu lagu yang ada di Wrapped in Violence compilation, bersama 9 band lainnya. Kali ini GRIEF. secara resmi merilis single yang sama secara digital.

GRIEF. mengartikan single “…Even in the Warmest Embrace” ini sebagai sebuah montase dari pengalaman pahit yang terjadi dalam hidup manusia, utamanya merujuk pada peristiwa yang telah terjadi dalam rentang waktu beberapa tahun ke belakang. Tidak dapat dielakkan bahwa realita yang telah terjadi dapat meruntuhkan bayangan atas kepastian dalam hidup yang diteriakkan para motivator; ketidakpastian selalu menelik di berbagai penjuru.

Mengakui, menerima, dan mengambil keputusan secara sadar atas keterpurukan yang dialami adalah cara yang GRIEF. yakini untuk mengatasi berbagai ketakutan tersebut. Namun, jauh sebelum mengatasi itu semua, langkah pertama yang harus ditempuh ialah mengenali dan memvalidasi setiap luka sebagai bagian dari proses berkehidupan.

“…Even in the Warmest Embrace” sudah bisa didengarkan di Bandcamp GRIEF. Selain itu, CD Wrapped in Violence compilation juga bisa didapatkan melalui Samstrong Records.