Sunbath adalah band alternative-rock revival yang namanya sering tampil di gigs-gigs komunitas akhir-akhir ini. Mari berbincang dengan Ken, En, Zaliando, Zulfi, Oink dan Imunk mengenai kecintaan mereka terhadap kehidupan di tahun ‘90an dan tentunya musik-musik era ‘90an yang sampai sekarang sangat mempengaruhi musikalitas mereka.

Halo Sunbath! Kabarnya sedang recording untuk mempersiapkan single dan album ya? Sudah sampai mana prosesnya?
Halo! Iya betul, baru rampung mixing & mastering, tinggal mempersiapkan promo kit, mematangkan konsep MV, dan lain-lain.

Masing-masing personil, bisa share pengalaman pada saat recording mungkin?
Zali: Proses take untuk bass sih lumayan ga terlalu banyak kendala karena persediaannya cukup matang dan emang udah sering latihan. Yah kalo momen sih banyak karena temen-temen yang lain pada jail dan gangguin pas take tapi masih aman dan terkendali.

Imung: Momen lucu sih yang pasti selalu ada dilihat dari semua personil kan pada baik dan soleh yah hahaha, dan momen-momen yang tegang pastinya pas lagi take tiap masing-masing ada aja lah seperti gangguan yang bikin konsentrasi jadi buyar..

Ivan: Standard, ketika dimanja oleh ritme metronom yang sedikit mengintimidasi, tiba-tiba di tengah jalan tersesat. Konsentrasi buyar dan pikiran entah melanglang buana kemana, haha.

Zulfi: Yang pasti pengalaman seru, tetep bikin nagih rekaman bareng Sunbath disisi lain memang proses rekaman di band ini sangat berbeda dengan rekaman band saya sebelumnya yang genre nya berbeda jauh, oh iya paling ini nih pas proses take gitar, perasaan sudah sesuai tempo, eh ternyata kecepetan atau terlalu lambat hahaha..

Oink: Agak sedikit gugup, karena baru pertama kali mengisi nuansa musik seperti ini, ya tapi dengan dukungan semuanya bisa berjalan lancer dan enjoy.

En: Buat aku yang baru banget ngalamin ini bener-bener menegangkan dan menyenangkan at the same time, tau kalau ternyata “oh kaya gini ya rasanya masuk dapur rekaman” lelah, tapi terbayar ketika hasilnya enak.

Lalu kenapa memilih sound dan referensi musik ‘90an?
Kita ingin menawarkan angin segar di tengah maraknya band dan genre yang bermunculan, dengan catatan karena kita sendiri senang memainkannya dan belum begitu banyak juga yang menyuguhkannya.

Bisa ceritakan hal apa yang kalian senangi dari kehidupan di tahun ‘90an yang tidak kalian rasakan di era sekarang?
Ivan: Aktifitas luar rumah yang lebih ‘hidup’, tatap muka langsung dalam bersosialisasi, a simpler life, iklim kota yang masih sejuk, dan lancarnya lalu-lintas. Pensi SMA dan festival musik di Saparua juga menjadi hal yang cukup esensial.

Imung: Nunggu anime pas balik sekolah sama mantengin MTV

Zali: Di tahun 90an hal yang paling disenangi adalah maen tanpa beban dan pulang semaunya hahahaha.

Oink: Seperti pada umumnya anak pada tahun 90an hal yang paling ditunggu yah nonton film kartun di hari minggu.

Zulfi: Ngaji sore bareng temen-temen. Subhanallah ya hehehe

En: Banyak hal iconic lahir dari era 90s, one of the best decades sih kalo menurut aku, dari musik, film, culture, entertainment dan yang lainnya. Paling kangen ya MTV, bacain dan koleksi magazine, dan nonton sitcom-sitcom di masa itu

Lalu apa saja rilisan favorit kalian dari era ‘90an yang sampai sekarang masih tetap mempengaruhi musikalitas masing-masing member Sunbath?
Ivan: The Smashing Pumpkins, Hole, L7, Throwing Muses, Belly, Lush, Shed Seven, Placebo, Ash, Garbage, Curve, Failure, Filter.
Imung: Daft punk, Portished dan kurang lebih sama seperti yang lain lah..

Zali: The Cranberries, Dewa 19 dan band-band Indonesia yang ada pada masa itu paling.

Zulfi: Kurang lebih sama dengan yang bang Ivan sampaikan, paling ada tambahan seperti Korn, Mariah Carey, Incubus dan masih banyak lagi…

Oink: Silverchair dan Starsailor selebihnya sih sama dengan yang lain.

En: Chapterhouse, Deadstar, The Field Mice, Suede, Sixpence None The Richer, The Sundays, Primal Scream.

Untuk anggota “senior” Sunbath yang terlibat di EP Strange Days, apa yang berbeda dari penulisan lagu, sound dan konsep materi EP dulu dengan yang sekarang?
Ivan: Kalau yang EP pertama, referensi dan vibenya kita menggali dari atmosfer era awal-pertengahan tahun 90an. Untuk materi yang sekarang kita sedikit shifting ke era akhir tahun 90an-awal tahun 2000an. Kita mencoba menulis lagu yang lebih dinamis dan menambahkan beberapa instrumen tambahan.

Zali: Kalo menurut aku sih yah suasana dan alat yang dipakai udah jelas beda banget, ya kalo ngerjain EP ‘Strange Day’ dulu sih alat yang dipakai seadanya, terus rekaman di rumah dengan modal pas-pasan hahaha. Kalau yang sekarang sih lumayan proper lah.

Zulfi: yang pasti untuk materi musik sekarang eksplorasi lebih luas.. Rasanya lebih banyak ide bermunculan saat proses penggarapan

Untuk para member yang “baru” bergabung di Sunbath, sebelum nya kalian terlibat di band / proyek musik apa saja?
Imung: Dulu sempat jadi bassist, sempat juga mengisi vocal dan gitar di “Serayu Jingga”

Oink: Sebelumnya saya menjadi member dari band Pop punk Bandung yaitu Billfold, dan saat ini juga masih bergabung dengan band Reregean dan Lowlines.

En: Untuk band sebelumnya atau pernah terlibat di proyek music lain sih belum pernah sama sekali, dan emang bener Sunbath adalah band pertama dan proyek music saya pertama.

Pilih mana: manggung dalam keadaan “under the influence” atau sadar 100%?
Imung: Dua-duanya nya gow hahaha..

Ivan: With or without you, haha

Zali: Gimana situasi, Tapi kebanyakan di bawah pengaruh sih hahahah

Zulfi: Under the influence “tipsy dikit lah ya” ahahaha. Kalo sadar 100% suka malu aku nya.

Oink: Karena saya dibesarkan dari keluarga yang agamis jadi saya udah jelas harus sadar.

En: Sadar

Konser-konser terbaik yang kalian tonton dan menginspirasi kalian untuk terus bermain band sampai tua?
Ivan: Shed Seven – Eldorado, Bandung, 2012. Sama Ride – Neon Lights Festival, Fort Canning Park, Singapore, 2015

Imung: Bon Iver – Senayan

Zali: Metallica – Senayan, sama Dying Fetus – Rockin Solo

Zulfi: Banyak yang menginspirasi, tapi salah satu nya Metallica pas 2013 lalu.. Dagdigdug berkata di hati “mau punya band kompak sampai tua”

Oink: Four Year Strong – Jakarta

En: Boyz II Men – El Dorado, soalnya aku dapet bunga lemparan.

Siapa yang paling banyak menulis lirik dan struktur awal lagu-lagu di Sunbath?
Struktur dan materi awal dari Ivan dan berlanjut ke member yang lain, sedangkan untuk ranah lirik biasanya En atau Ivan yang menulis, atau combo keduanya. Dan Untuk lirik single baru ini En yang menulis.

Pertanyaan terakhir: apakah kalian akan ngeband terus sampai tua seperti Rolling Stones? Atau mending bubar saat sedang berada di puncak?
Kita lebih ingin bahagia dan berkarya sampai tua sih, apapun bentuknya bebas yah. Lagian kita rasa sih ga akan pernah sampai puncak karena ngeband atau berkarya tuh tantangannya akan selalu ada. Kita rasa Rolling Stones pun mungkin berpikir mereka masih kurang dari rasa sempurna.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos by Sunbath’s Archive

MICROGRAM, turut meramaikan gelaran festival Pestapora di Gambir Expo Jakarta selama tiga hari 23-25 September 2022 dengan menghadirkan MICROGRAM ALTERNATIVE STAGE. Sesuai dengan namanya, deretan nama di panggung ini akan membawakan berbagai genre musik yang kerap dilabeli dengan sebutan “alternatif”. Mulai dari indie-folk, electro-pop, psychedelic, post-punk, hardcore, latin, bahkan dangdut. Hal ini sejalan dengan semangat Pestapora yang ingin menjadi perayaan lintas genre dan generasi atas kebangkitan musik Tanah Air setelah dua tahun terpukul pandemi.

Di tengah-tengah musisi yang tampil di pangung besar, Microgram Alternative Stage di Pesta Pora dibuka oleh penampilan dari Cal dilanjut oleh Hockey Hook, White Chorus, Elkarmoya dengan set spesialnya. Lalu, dihari pertama juga ada Muchos Libre, Oscar Lolang dengan potongan rambut barunya, Bleach dan terakhir sebagai penutup ada karaoke yang dilead oleh Microgram x Bertinder. Hari kedua Microgram Alternative Stage dimulai lebih awal 30 menit dibanding hari pertama yang ditandai oleh penampilan dari Sunbath, diteruskan oleh Ray Viera Laxmana, lalu ada grup musik Leipzig dengan ciri khas yang selalu membakar dupa ketika manggung. Setelah break maghrib ada The Couch Club, Bleu House, Lizzie dan ditutup oleh penampilan dari Heals. Hari ketiga, sebagai hari terakhir Microgram Alternative Stage line up pun lebih banyak dibanding dua hari sebelumnya. Dibuka oleh The Sugarspun, lalu ada unit screamo dari Bandung Swarm disambung Adadde, Prejudize, Mundae, Saturday Night Karaoke yang sempat featuring Jimmy Multhazam. Lalu ada kolaborasi Dongker x Kinder Bloomen, Symphony Polyphonic Geng dan terakhir ada after party dari Berita Disko.

Microgram berhasil mencuri perhatian ditengah-tengah penampil yang mengisi stage-stage besar. Alternative Stage dari Microgram ini pun kemarin terletak ditempat yang strategis dimana orang yang lewat dari satu area besar ke area besar lainnya pasti lewat ke depan Alternative Stage dari Microgram ini. Area venue yang tidak terlalu besar membuat suasana didalam pun terasa sangat intim. Mengutip dari zine yang dibuat oleh Microgram yang menyatakan bahwa “Alternative Stage adalah buah manifesto kami untuk mengekspos entitas musik potensial yang menanggalkan aturan arus utama mau pun semi -pinggir-” nampaknya sangat mewakili bagaimana Jeurnals melihat pergerakan yang dilakukan oleh Microgram di festival besar sekelas Pesta Pora. Kami selalu menunggu kejutan apalagi yang akan dilakukan oleh Microgram berikutnya.

 

Photos by Fabian Insan Faturrahman

Greedy Dust Record kembali mendapatkan kesepakatan yang bagus dengan merilis salah satu band berbahaya saat ini, Limbo. Dalam kerja samanya, Greedy Dust akan merilis EP pertama dari Limbo. Limbo terbentuk di Batu, Jawa Timur pada tahun 2021 dan hingga kini telah merilis satu demo di tahun 2021 dan satu single berjudul Big Kings pada awal tahun 2022 kemarin. Limbo membawakan musik hardcore dengan sentuhan metalcore yang dipadukan dengan elemen beatdown yang agresif. Limbo beranggotakan Adjie pada vokal, Wahyu pada gitar, Yefta pada bass, dan Kelvin pada drum.

Pada tahun 2022 ini Limbo bergabung menjadi roster Greedy Dust Records untuk perilisan EP pertama mereka bertajuk “Cruelty”. EP Cruelty berisikan 6 track penuh agresif dengan lirik-lirik dan tema yang kuat. Secara garis besar lirik di EP “Cruelty” menceritkan sifat-sifat manusia yaitu tentang keserakahan , kekejaman , kekuasaan dan keangkuhan seseorang. Proses rekaman EP Cruelty dilakukan di tiga studio rekaman, yaitu di Karasu Studio untuk semua instrumen kecuali intrumen drum yang direkam di Vamos Studio dan untuk proses mixing dan mastering dikerjakan di Grifin Studio. Sedangkan untuk proses kreatif cover EP Cruelty dikerjakan oleh Eye Dust artworker asal Bandung. Limbo juga berkolaborasi dengan Yustian (Breakage) yang mengisi guest vocal di track berjudul Big Kings.

EP Cruelty telah rilis pada 27 September 2022 dan akan dirilis dalam format kaset tape oleh Greedy Dust. Rencananya setelah dirilisnya EP Cruelty, Limbo akan melangsungkan tour ke 7 titik di Pulau Jawa untuk memperluas koneksi dan mempromosikan EP “Cruelty” ke khalayak yang lebih luas.

Brand asal Bandung, Statesman Division ,barusaja merilis kembal ikumpulan artikel hasil kurasi dari artikel yang pernah diluncurkan sebelumnya.

Merangkum perjalanan Statesman Division dalam 18 produk pilihan ,koleksi kurasi bertajuk“Springtime!” ini merefleksikan sebuah proses pertumbuhan. Menengok kembali perjalanan dan pencapaian dengan pengemasan yang fresh, sebelum menginjakkan kaki di fase yang baru.

Artikel pada koleksi ini terdiri dari basic monokrom dan eksplorasi spektrum warna. Memanifestasikan berbagai macam warna sebagai rasa,refleksi masa kecil,dan proses pendewasaan.

“Springtime!”sudah dapa tdibeli melalui Official Store StatesmanDivision.

Firman Boesly adalah salah satu skateboarder old school dari Bandung yang style bermain nya adalah speed dan melakukan big tricks baik pada saat drop in atau menghadapi obstacle rails besi. Bermain skate dari awal tahun ‘90an, bersama adik (Nova) dan kakak (Fajar), Firman pun merasakan kultur skateboard Bandung dari awal ‘90an sampai sekarang ini dimana dia masih aktif dan membuka Boesly school of skateboarding dan juga menjadi team manager dari Screamous skate team. Mari berbincang dengan Firman mengenai “perjalanan” skateboard dia dari Gedung Sate, Taman Lalu-Lintas, Hobbies skateshop sampai membawa dia mendapatkan sponsor dan berkompetisi dimana-mana..

“Segala sesuatu dalam kehidupan ini nyambung ke skateboard, kalau sedang ada masalah bisa cepat mencari solusi nya. Dalam pengambilan keputusan baik dalam bermain skate dan dalam hidup, kita pun diharuskan berfikir dan memiliki refleks cepat.”

Apakabar Firman? Sekarang kegiatan apa saja?
Alhamdulillah baik. Kegiatan masih seputaran skateboard. Kerjaan masih di produksi kemeja dan jaket dari 2003, bareng adik juga si Nova. Kalau untuk skate kebetulan buka skate school namanya Boesly school of skateboarding..

Berarti sekeluarga ikut jadi pengajar dan instruktur skateboard?
Kalau dibutuhkan si Fajar juga ikutan ngajar, kalau Nova ga mau ngajar haha. Lokasi di taman pramuka. Murid dari 3 tahun sampai 21 tahun ada. Pernah ada ibu-bu umur 39 juga ikutan. Mungkin agak gengsi kalau seumuran kita ikut kursus skateboarding haha. Total murid ada 11 alhamdulillah.

Gue inget dulu Boesly bros pernah di interview dulu jaman majalah Ripple. Yang main skate awalnya siapa?
Yang awal main kakak saya si Fajar tahun 1993-1994. Kalau pro kita bertiga sekeluarga bareng. Secara profesional bermain skateboard maksudnya. Dapet sponsor dan endorse pertama si Nova Spyderbylt tahun 98-2003, dan berangkat ke Thailand untuk kompetisi X-Games. Fajar dan saya bareng dapet sponsor tahun 1999-2000. Kalau saya di sponsorin sama Thrift clothing, brand nya si Metal dulu. Bareng sama Jack Curtain yang sekarang sudah jadi pro di Amerika. Lalu dapet sponsor berbayar yang decent Rip Curl. Lalu pindah kontrak ke Insight 51 brand Australia. Jadi memberanikan diri ke almarhum bokap untuk berhenti kuliah. “Mau hidup gimana nanti? Papan skate dan sepatunya aja harus beli. Uang darimana kalau ga kuliah.” Dulu beli sepatu Vans Salman Agah di Rockets BIP yang dari dulu aja sudah mahal. Karena saya sudah ada sponsor keluarga akhirnya support di tahun 2001-2002. Akhirnya keluar dari kampus dan skate for life. Di umur 40 ini saja alhamdulillah saya jadi team manager skate team Screamous. Kalau sekarang saya endorse dari Screamous aja.

Video skate dan majalah skate yang menginspirasi lo dari awal?
‘Hokus Pokus’ (H-Street, 1989). ‘Welcome to Hell’ (Toy Machine, 1996), cikal bakal nya brand Zero disitu. ‘Jump Off A Building’ (Toy Machine, 1998), dan ‘Dying to Live’ (Zero, 2002). Kalau majalah tentunya Thrasher, Transworld dan Big Brother. Itu aja yang masuk ke Indo jarang, cuma di Hobbies di Bandung mah. Saya aja ga pernah kebagian kalau mau beli majalah Thrasher di Hobbies karena benar-benar limited.

Skater-skater favorit lo siapa aja?
Ga berubah dari dulu sampai sekarang: Jamie Thomas (Zero Skateboards), Geoff Rowley dan Tom Penny (Flip Skateboards). Tom Penny yang gombrang bajunya double 3XL berlayer haha. Kalau main saya dulu dibilang lebih mirip style Zero Boy, karena banyak bermain besi dan mengambil style bermain Jamie Thomas. Kalau Nova dan Fajar lebih santai stylenya. Kalau Tom Penny style nya asik. Geoff Rowley style UK-based skater pisan, masa tua nya banyak main bowl dan ramps cuma dulunya brutal juga kaya Jamie Thomas. Pada masa nya mah mereka main satu tipe, cuma kalau sudah tua ya main nya mini ramps dan bowl. Saya juga main bowl, gausah banyak trick dan yang penting berkeringat lah hehe..

Bagaimana culture skateboarding di Bandung saat era lo awal mula main skate?
Saya juga SD udah maen skate pada tahun segituan, pas kelas 4-5 SD. Ada teman kebetulan anak nya wakil Gubernur. Dia duitnya banyak pisan, waktu itu beli papan 10 set dibagikan ke anak-anak, saya salah satunya. Dulu maen di sekolah aja anak-anak. Mulai kenal sama komunitas skate pertama di Gedung Sate (GS) pas tahun 1993, dibawa sama Fajar. Anak-anak tahun ‘90an awal kan kemana-mana jalan kaki, dari rumah di Kacapiring sampai ke Gasibu pake BMX sama Nova dan Fajar bertiga. Saya nonton disitu karena Fajar sudah ada teman-teman disitu. Dari situ kita bertiga beli satu papan untuk bertiga. Ollie, manual dulu belum tahu, baru tau pas lihat anak-anak GS bermain trick.

Sebelum saya main di Taman Lalu-lintas (TL) saya sempat beli papan dari anak GS. Main lah mulai di TL tahun 1994-1995. Ternyata papan yang saya beli itu ketinggalan jaman dan besar dibanding anak-anak TL yang papan nya kecil-kecil. Ternyata anak-anak GS ketinggalan zaman haha. Kalau style sama ya oversized dan gombrang-gombrang. Mau main malu papan nya beda dan di TL jago-jago. Disana seharian dateng duduk dan nontonin yang main aja seharian. Disitu ada Robby Gondrong, Opa Tiko, Maskom, Dimas, Ari Boy, Cholay. Saya ditegur sama Robby, bahagia banget ditegur hahaha. Disuruh drop di quarter ramps. Wah ini mungkin challenge saya untuk bisa diterima disini. Kalau anak-anak GS kaya Fajar dan Nova bikin komunitas pindah main ke Balkot sama Azis To See, Sonny Blankwear. Kultur musik kental juga disana. Tahun 1996 mulai ikut pertandingan di TL, tahun 1997-1998 Hobbies Jl. Tera buka, dan karena TL tutup semua pindah main di Hobbies Skate Shop. Tahun 2000an gara-gara kenal Charlie Hobbies jadi dapet juga sponsor-sponsor berbayar. Charlie suka memberi tawaran ke anak-anak yang potensial, Rip Curl, Insight 51 dapet dari Charlie.

Trik paling berbahaya apa yang pernah lo coba dan cedera paling parah pas lo coba trick apa?
Trik paling berbahaya yang saya pernah coba mungkin Kickflip backside lipslide di downrail. Tapi yang membuat saya celaka cedera dislokasi bahu kanan adalah trik heureuy yang namanya caveman. Hampir anak skate semua Dy, celaka pas lagi bercanda. Karena trik bahaya kita semua pasti fokus dan full dedikasi. Alhamdulillah jarang ada yang celaka parah. Tapi pas sedang bercanda malah suka ada yang cedera parah. Banyak yang lagi maju ga konsen jatuh kaki retak. Si Dimas kakinya nyelip di celah solokan basement BIP pas acara Bandung Public Festival. Jadi ya itu biasanya lebih banyak yang celaka dan cedera bukan karena trick yang berbahaya, lebih banyak pada saat bercanda atau tidak fokus.

Melihat Jamie Thomas drop in dari lantai 2 ‘Leap of Faith’ di video “Thrill of it All” dan Aaron “Jaws” Homoki drop-in 25 tangga di Lyon Perancis, apakah dengan conditioning para skateboarder professional ini memiliki kaki yang lebih kuat dari orang-orang normal? Lalu apa saja yang lo ajarkan saat menjadi instruktur di Boesly’s school of skate?
Saya juga pernah melihat Dimas drop in tinggi banget, jatuh dia langsung berdiri lagi. Jadi secara science, skateboard ini mengurangi impact ketika lo loncat dari ketinggian. Tanpa skate, akan menjadi high impact karena jatuh dalam keadaan diam (tidak maju) ketika landing. Lutut bisa potong atau ankle. Ketika ada skate dan roda, akhirnya impact tinggi ini berkurang karena ada gerakan maju kedepan setelah landing. Si Jaws yang drop in 25 tangga di Lyon Perancis itu dia ngebut banget, ketika itu papan nya aja masih patah. Full impact ada di skateboard entah di papan atau truck bengkok, mengurangi impact di kaki skater nya. Kalau suspensi sih kita naturally sudah ada di kaki. Saya pernah drop in paling tinggi 14-15 tangga, Dimas pernah drop in di KFC Wastukencana depan IP. Sampai sekarang detik ini belum ada yang berani. Itu tinggi nya lebih dari 2 badan kita.

 

Itu semua kalau saya diawali dari drop in 3 tangga, naik ke 4 tangga, 9 tangga ITB. Kalau jatuh sudah terbiasa roll kedepan, jadi impact nya berkurang. Reflek dan motorik akan terlatih. Karena itu di skate school saya ini sangat menyarankan anak-anak dari kecil agar belajar motorik dan respon badannya cepat. Semua diarahkan, jadi refleks si anak jadi berkembang. Secara scientific dan ilmu pengetahuan skateboard ini sangat membantu motorik dan refleks si anak. Di tempat saya anak introvert jadi mudah bergaul dengan komunitas dan anak-anak lain, yang tadinya badannya kaku jadi luwes. Selama 30 tahun saya main, Skateboard ini berpengaruh ke kehidupan. Segala sesuatu dalam kehidupan ini nyambung ke skateboard, kalau sedang ada masalah bisa cepat mencari solusi nya. Kita datang ke skate spot dan melihat obstacle yang harus ditaklukan, dan otak kita pun langsung mikir di depan obstacle tersebut ada apa lagi nih, jadi solusi itu harus kita dapatkan dari kebiasaan main skate. Dalam pengambilan keputusan baik dalam bermain skate dan dalam hidup, kita pun diharuskan berfikir dan memiliki refleks cepat.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Firman’s archives

 

Setelah meilis koleksi mini kapsul “Madhouse” yang bekerja sama dengan The Sugar Spun, Vicious Pain meluncurkan F/W 22 Into The Unknown delivery 0.2 yang cocok dipakai ketika cuaca sedang hujan.

Koleksi terbaru melanjutkan ciri khas Vicious Pain yang concern terhadap estetika seperti Knit-Sweater, Tees, Pants dan juga Polo Shirt yang dilengkapi kerah dengan 3 kancing di leher. Sweater yang dapat menemani ketika cuaca sedang dingin dan hujan, crewneck dan tee Embrodiery dengan heavy-graphic. Into The Unknown delivery 0.2 menghadirkan outerwear untuk penggunaan sehari-hari, yang merubpakan penggabungan dari kolekso Vicious Pain Into The Unknown sebelumnya.

Into The Unknown delivery 0.2 collection bisa didapatkan di platform digital sejak 14 September 2022.

Jika kamu pernah membeli kaset Pesta Rap pada tahun 1995, maka tentunya tidak asing dengan Blakumuh yang merupakan salah satu hip hop group veteran. Mereka juga sempat berkolaborasi dengan Sweet Martabak untuk membuat P-Squad dan juga sempat membantu performa live Iwa K. Setelah sibuk oleh proyek masing-masing, di pertengahan tahun 2022, MR.EP dan Doyz kembali menggebrak dengan merilis album Dekaden Lintas Dekade. Simak perbincangan Jeurnals bersama Blakumuh berikut ini.

“Kalau hip hop trap kayaknya engga, waktu buat kita sudah berhenti di tahun 1999. “

Tahun 1995 single kalian ‘Kaum Kumuh’ debut di Pesta Rap 1, dan ‘SOS’ tampil di Pesta Rap 3 tahun 1997. Kenapa baru buat debut album Blakumuh di tahun 2022?

MR. EP: Sebenarnya udah ada album, P-Squad tahun 2001 hahaha

DOYZ: Jadi waktu itu mereka punya wacana untuk bikinin album kita dan Sweet Martabak, jaman dulu kan cost nya gede untuk rekaman. Masih pakai pita dan waktu ga efisien. Mereka melihat kita berempat (Blakumuh dan Sweetmartabak) cukup akur, yaudah deh disuruh bikin supergroup aja berempat. Rilis satu album.

Siapa yang memberi nama Blakumuh? Ide nya dari MR.EP atau DOYZ?

MR.EP: Sebenarnya itu nama dari announcer-announcer departement store kaya Matahari, Borma & Ramayana. Dulu tiap minggu kita ke Blok M ngamen. Nyari panggung dan mencari jam terbang. Ngasih tau ke orang hip hop itu kayak apa. Kan biasanya ada information di depan toko-toko itu. Mereka biasanya nyediain baju buat kita pakai dan kita nge-rap disitu.

DOYZ: Salah satu announcer booth itu tuh. Kan Ramayana ada announcer yang suka ngasi tau diskon. Mereka melihat kita dekil, pakai sendal jepit dia bilang “Blakumuh lo” hahaha.. Dulu pas kita SMA kelas 3 itu umur 16. Dulu Blakumuh itu kuartet berempat. Yang di Pesta Rap sudah berdua tapi. Kebetulan sudah almarhum dua-duanya.

MR.EP: Dulu sebelum hip hop saya sempat ngeband thrash metal sampai grindcore. Bawain Sepultura, sempat juga bawin Morbid Angel sampai Terrorizer..

DOYZ: Saya sempat bawain Faith No More, groove metal hahaha..

Selama ini proyek solo masing-masing apa aja?

DOYZ: Kalau saya sendiri rilis album solo 2002 (‘Perspektif’), rekaman dan ngumpulin materi udah dari 1997 dari abis jaman Pesta Rap 3. Erik (MR.EP) juga punya band ya?

MR. EP: Ada Native, jazz-hop gitu tapi ada band nya kaya The Roots hahaha. Lengkap playernya, ada drum dan udah main di gigs-gis jazz kaya Java Jazz, Soulnation. Masih ada orang-orang nya cuma belum diaktifkan lagi hehe..

Kalau album solo DOYZ yang ‘Demi Masa” bareng Morgue Vanguard itu gimana background pembuatan nya?

DOYZ: Itu awalnya dari album solo gue yang kedua “Oblivion” pas 2015. Kita juga udah niat pengen nge-revive Blakumuh disitu makanya ada 2 track yang ada Erik nya. Waktu itu kita rilis nya sharing, Baturaja Records dan Grimloc. Sekalian ajak Ucok ngisi satu lagu yang ‘Testamen’. Lalu habis itu ketagihan, 2017 bikin lagi yang “Check Your People’. Abis itu ada ide untuk bikin mini album. Pas 2018 itu tuh proses album rekaman Blakumuh berbarengan sebenarnya dengan ‘Demi Masa’. Cuma karena satu dan lain hal yang menghambat, rilisnya yang ‘Demi Masa’ dulu. Dari single, jadi EP dan akhirnya malah jadi LP hahaha..

Cover kalian adalah homage/tribute terhadap Organized Konfusion yang album “stress”. Ada cerita apa dibalik konsep artwork itu? siapa saja yang terlibat?

MR. EP: Tribute sih sebenarnya ya, beberapa ide juga dari kita dan Ucok. DIbantu Aldy dari Drips & Drops. Akhirnya ketemu lah sama Crack The Toy

DOYZ: Dari pihak kita dan Ucok juga sebenarnya ga ada jembatan untuk ke Crack, yang kenal Aldy jadi dia jadi mediatornya. Sebenarnya awalnya pengan format foto dan ada lukisan nya. Kenapa ga bikin homage ke Organized Konfusion aja yang album Stress.

MR. EP: Itu album yang sangat berpengaruh sekali buat kita. Golden age of hiphop banget.

DOYZ: Saat itu duo hiphop yang bagus gak banyak ya, cuma Organized Konfusion aja mungkin. Banyaknya trio kaya Cypress Hill, Naughty By Nature, RUN DMC, Erik B. & Rakim aja yang satunya lagi DJ haha. Jadi si Organized Konfusion ini relate banget sama Blakumuh..

Top 6 album hiphop 90an favorit kalian?

MR. EP: Big Daddy Kane yang “Long Live the Kane”, pas jaman dia lirik-lirik nya tuh kena banget dan multi-syllable. Dia salah satu yang paling gila saat itu. KRS-ONE “Return of Boombap” the best lah. Dari lirik dan musiknya udah deh susah ngomongnya hahaha. Sama album pertama nya Naughty by Nature yang ada “O.P.P.” the best tuh.

DOYZ: Saya sih “It Takes A Nation..” nya Public Enemy. Waktu itu kayaknya ga ada yang bikin album kaya gini. Kanonik banget rasanya. Out of the blue ada album kayak gitu. SOund gila dan berisik, lirik nya juga gokil dan politikal. Kita sih gak ngerti cuma kok keren banget. Big Daddy Kane yang “Long Live the Kane” . Ini orang suaranya enak banget, pimp banget gayanya dan cool, tapi dia bisa deliver teknik rap yang gak hilang. Mungkin kalau materi itu dibawain sama Kurtis Blow gak mungkin bisa sekeren dia haha. Terakhir Eric B. & Rakim yang “Don’t Sweat the Technics”. Memang relate sama kita yang awalnya suka dengerin lagu itu di disko haha. Cukup nempel di kuping. Dan ada soundtrack Juice yang “Know the Ledge”, itu anthem kita banget pas jaman SMA hahaha..

Kenapa memilih sound dan musik boombap klasik ala golden age of hip hop untuk album “Dekaden Lintas Dekade”?

MR. EP: Simple aja, sound klasik karena kita orang klasik hahahaha! Ya pengen bawa aja knowledge dan legacy Blakumuh yang selama 29 tahun ini gak pernah keluar album.

DOYZ: Balik ke identitas awal kita. Sebenarnya kita mulai dari suara-suara yang seperti itu, walaupun tahun 1993-1995 kita sempat nge G-Funk, yang single pertama Pesta Rap ‘Kaum Kumuh’ itu kan G-Funk banget hahaha. Sempat lah kita manggung bawain lagu Snoop dan Warren G. Sekarang balik lagi sih. Kalau trap kayaknya engga, waktu buat kita sudah berhenti di tahun 1999. Tahun 1999 sudah selesai hahaha. Kalau yang baru-baru kita juga masih ngikutin tapi nyari yang suara nya sama, kaya Griselda Records, Roc Marciano, sound nya masih familiar buat kuping kita.

Bagaimana awalnya memutuskan untuk bekerja sama dengan Napalm Squad?

MR. EP: Karena awalnya ya taste nya sama, dengerin nya sama, dan temen juga…

DOYZ: Seperti yang Ucok pernah singgung di presscon kemarin, walaupun kita beda di Jakarta dan Bandung, karena kita tumbuh di era yang sama pasti referensi nya juga pasti sama sebenarnya. Apa yang Ucok dengar pasti sama dengan apa yang kita dengar. Ya pasti relate aja karena grow up di era yang sama. Dari awal Ucok bilang “pokoknya kalau Blakumuh rilis gue yang produserin”. Dia mungkin punya desire yang gede untuk menampilkan sonik-sonik jadul itu di album kita hahaha..

Blakumuh sempat manggung di Dago Elos. Bisa ceritakan mengenai support dan solidaritas kalian dengan kawan-kawan terhadap pergerakan warga Dago Elos?

DOYZ: Kalau kasusnya sendiri di media sudah banyak ya. Tapi kalau dilihat dari pengalaman saya sendiri relate karena saya korban gusuran urban dari tahun ‘90an. Jadi yang apa mereka rasakan (Warga Dago Elos) itu berasa banget di saya pribadi terutama. Saya yakin Erik juga dulu di kampung nya di Benhil dulu kena juga program penggusuran. Jadi hal seperti ini tuh relate banget. Dan hal seperti ini sampai sekarang ga berubah.

MR. EP: Iya sama. Mafia tanah nya masih sama.

DOYZ: Sekarang juga masih di inisiasi sama Ucok sih Festival Kampung Kota ini, cuma yang nanti malam tema nya hip hop, secara Ucok bapak hip hop hahaha.. Jadi dia mungkin gampang ngambil pengisi acara nya haha..

Musik hip hop sepertinya lebih praktis ya untuk rehearsal dan live set nya dibandung full band?

MR. EP: Ya kalau hip hop sih sebenarnya kita berdua juga bisa tanpa harus ke studio. Cuma dulu gue sempat bikin band karena ada dendam tersendiri. Dari jaman dulu tuh EO kalau kita check sound suka diremehkan “oh rap ya? Minus one doang kan?”. Yaudah akhirnya gue bikin band hip hop yang full band jadi dapet akses check sound yang proper hahaha..

DOYZ: Dulu kita sempat ikut Iwa K sih, disuruh backing in Iwa jadi hype man nya. Dia full band, keyboard aja ampe 2 hahaha, gitar bass, rame lah.. Seru. DJ juga sempat ada tapi kesini nya kayanya engga. Sekarang sih kita format nya pake DJ, classic hip hop: microphone dan DJ.

Pertanyaan terakhir: apakah para penggemar Blakumuh harus menunggu 20 tahun lagi untuk rilisan berikutnya?

DOYZ: Hahahahaha!

MR. EP: Hahaha.. Ya buat penggemarnya Blakumuh nanti mungkin saatnya kalian yang jadi Blakumuhnya nanti, kita yang dengerin haha..

DOYZ: Emang ada penggemarnya Blakumuh? Hahaha. Kita bikin fanbase aja dulu kali ya? Justru emang kadang mereka yang bikin semangat. Kalau tour sebenarnya pengen sih kalau ada yang sponsorin. Cuma mungkin kalau rekaman atau projek studio lagi belum dulu.

 

Words by Aldy Kusumah
Photos by Feri Alan 

Jika membicarakan brand sandal, sudah tentu dari sekian banyak brand yang ada, Hijack adalah salah satu brand sandal lokal yang cukup ikonik. Mari berbincang dengan Zaki dan Fahmi, kedua orang founder Hijack, mengenai sandal Tarompah, Swallow dan membikin produk di Cibaduyut..

Bisa ceritakan sedikit tentang awal dari Hijack?

Zaki: Jadi saya ama Fahmi teh satu kampus di Widyatama. Fahmi teh senior walaupun satu tongkrongan, dan sering bareng. Pada Tahun 2009-2010 tuh lagi banyak yang bikin brand sepatu, karena Cibaduyut mulai terbuka source nya, kita bisa bikin satu-dua lusin disitu. Seangkatan kita tuh ada Brodo, Amble, Sagara, jadi memang banyak yang bikin sepatu. Kita pengen ikutan juga cuma kayaknya boots udah ada yang bikin, sepatu udah banyak, jadi saya pengen cobain bikin sendal aja, karena memang suka pake sendal.

Fahmi: Sebenarnya sih awalnya founded by Zaki, lalu saya gabung. Tapi emang dari jaman kuliah udah lumayan antik si Zaki, pake sendal terus ke kampus. Zaki cukup unique lah pada saat itu, jadi pas dia bikin sendal ya cukup genuine juga pada akhirnya sih.. Itu mungkin yah awal perjumpaan kita..

Fahmi juga sering pake sendal ke kampus?

Fahmi: Engga gue sih hahaha! Ga begitu sesering Zaki pake sendal.. Di kantor kan diwajibkan untuk pakai sandal sebenarnya. Ada Hijack yang edisi untuk dirumah dan di kantor, kaya sendal hotel.

Zaki: Gue ngefans banget sama tarompah, sendal Tasik. Pas jaman kuliah teh kan sebenernya ga boleh pake sendal, cuma dosen-dosen tertentu yang boleh. Jadi influence awal sebenarnya tarompah. Mo bikin di Cibaduyut ga kesampaian. Akhirnya kita bikin sendal-sendal yang dimodifikasi dan lebih universal. Sebenarnya ga niat sampai kaya sekarang. Dulu beli kulit masih dan bahan masih ngeteng, sekarang mah udah bikin sole minimal order sudah mulai besar quantity nya.

Gue liat colorways sendal-sendal Hijack bisa terinspirasi dari mana aja dari album the Blue Nile, sampai Powerpuff Girls. darimana datangnya inspirasi-inspirasi random itu?

Fahmi: Sebenarnya itu teh balik lagi ke preferensi anak-anak. Kemarin kita baru rilis satu fitur biar customer bisa customize sendalnya. Kalau design itu berasal darimana memang bisa serandom itu. Kaya obrolan ringan di kantor bisa jadi serius pada akhirnya dan dibikin produk. Desainer grafis kita yang kemarin itu memang suka Blue Nile. Jadi anak-anak yang disini suruh customize sendiri colorways favorit mereka. Cuma memang ide sih seliar itu..

Lalu nama hijack sendiri datang darimana? Kenapa kaya bajak laut? Hahaha..

Fahmi: Tah si Zaki eta mah hahaha..

Zaki: Nah saya juga sih kalau bisa balik lagi kenapa ya dulu pakai nama Hijack hahaha.. Benar sih Hijack artinya membajak. Tapi ada dua meaning, dulu bisa juga jadi greetings kayak “Hi Jack!”. Dulu ada spasi nya. Ternyata kurang bold statement nya. Mending gagah sekalian lah kaya membajak, walaupun ada konotasi negatif. Di sisi lain si pembajak juga cukup exploring terhadap pulau-pulau baru, menembus batas terus, dan bisa survive di lautan berhari-hari. Nyambung nih, karena kita juga cuka mendobrak pattern. Jadi cukup filosofis lah..

Fahmi: Sebenarnya ada sisi exploring dan conquering something juga si Hijack itu teh. Jadi nyambung sama visi kita. Bisa nih dipakai.

Gue pernah liat Hijack ada kolaborasi dengan Diskoria sampai Marvel Studios. itu gimana awalnya terjadi kolab-kolab tersebut?

Fahmi: Marvel emang ngontak duluan. Launch tuh di 2018. Disney Indonesia emang kontak kita untuk kolaborasi. Waktu itu untuk campaign film apa ya, Avengers: Infinity War kalau ga salah. Semua tentu suka Marvel disini. Akhirnya kita ngobrol, product development, colorways dan model pun back and forth sampai di acc Marvel pusat. Kalau yang Diskoria itu untuk event Fash Futur Fest. Dari situ mereka ngasih freedom ke kita mau kolab sama siapa aja. Kita langsung ngontak Aat dan Daiva Diskoria. Dan emang limited cuma 100 pcs.

Memang sulit untuk memilih, tapi Kolaborasi Hijack favorit kalian yang mana aja?

Zaki: Kalau gua sih yang kolab sama Gabber Modus Operandi. Itu juga ga dirilis di Hijack, cuma kang Ican Harem nya memang gering lah, memang pengen sesuatu yang beda dan out of the box banget. Anak R&D kita kebetulan keceletot untuk nama artikel nya jadi “Pecel Lele”. Sendal nya juga bisa di roll gitu. Cuma rilis 50 pasang dan dijual pas GMO main di Berlin. Saya aja ga kebagian haha..

Fahmi: Kalau saya yang kolab sama Bluesville. Dia kan indigo dye gitu ya. Secara holistik saya suka banget produknya. Founder Nya emang temen juga, dari awal ngobrol nyambung, referensi nyambung, eksekusi dan konsep oke pisan. Bikin aktivasi juga di Jakarta, kaya workshop batik gitu, hasil karya peserta bikin batik dikasih ke mereka semua sendal nya, jadi personalized banget, ada yang gambar penis lah hahaha.. Tapi dari awal sampai akhir ada keterikatan.

Zaki: Kadang collab yang seru itu adalah collab yang bukan generate uang dan sales. Yang seru yang seperti itu. Kalau sales kan kita mikirin aspek jualan jadi ada limitasi seperti warna harus gimana ya biar laku.

Gue pernah liat di suatu podcast kalian bilang ingin dikenang dan dipakai masyarakat luas seperti sendal Swallow. Bisa elaborasi atau cerita lebih lanjut tentang pernyataan ini?

Fahmi: Bener itu kayaknya saya yang ngomong hehe. Lebih ke arah habit orang Indonesia itu kan sendal dipakai kemana-mana. Di setiap rumah di Indonesia pasti ada satu sandal. Ada sandal untuk ke Masjid, Swallow. Ada Carville untuk jalan-jalan, ada Eiger untuk naik gunung. Kalau ke Masjid pakai Suicoke kan takut hilang haha. Jadi ya harapan saya teh orang melihat ke kultur itu, disini negara nya emang tropis dan humidity nya memastikan kita untuk at some level harus pakai sendal. Kalau kita bisa dipakai masyarakat luas dan bisa apalagi kalau kita bisa provide mereka dengan sandal dari untuk ke warung sampai ke undangan. Kenapa kita ga embrace aja culture ini. Si Sustained Culture ini kita jadikan Campaign dan emang dari jargon awal kita.

Zaki: Mungkin juga kedepan nya ada lini yang lebih “murah” nya, dan bukan bikin brand baru. Seperti bikin varian early stages atau gimana. Kita juga lagi memasarkan Hijack ke luar negeri seperti Singapura dan Jepang. Nah harga ini jadi lumayan sensitif, murah nya relatif juga di Indonesia dan Jepang bakalan beda. Kita juga pengen bikin varian lebih banyak kedepan nya, untuk daily atau untuk ke undangan misalnya.

Top brand sandal favorit kalian?

Zaki: Kalau yang memang strict bikin sandal doang ga banyak ya, cuma Birkenstock cukup oke. Dia kuat banget, dia dari tahun 1774 kan. Dia juga ada sisi kesehatan nya kan, karena bisa mengikuti contour kaki kita. Tapi fitur itu orang-orang banyak yang ga tau. Tentu Suicoke juga bagus dan menjadi influence Hijack awal-awal.

Fahmi: Swallow jelas lah roots. Birkenstock suka function nya sih. Yang sekarang varian nya ngabret sih, ada yang kolab sama Dior segala. Yang artikel “Boston” tuh bagus banget. Satu lagi ada dulu namanya Yuketen Japan. Handmade garis keras tapi shape nya ga selalu vintage, dan tetap modern walaupun handmade dengan gaya klasik.

Sale event kalian yang “Fishy Business” cukup menarik display nya seperti di pasar ikan…

Fahmi: Idenya seperti bikin hajatan aja sih. Kita jarang sale, setahun paling 1-2 kali maksimal. Jadi kalau ada event kagok kita bikin unik. Kaya dagang ikan di pasar awal ide nya. Kita bikin literal aja dari nama Fishy Business. Pertama dulu bikin pas Spasial masih ada. Respon nya menarik juga. Yaudah tiap akhir tahun kita bikin tema sale yang berbeda, Pernah bikin display bootleg kaya Breaking Bad sampe ada laboratorium dan meth-meth biru nya. Display convenience store juga pernah. Ide sih semua dari bercanda, dan berakhir serius…

Trend diskon menurut kalian?

Zaki: Kalau untuk si brand nya sebenarnya bahaya sih, konsumen jadi melihat offering harga dan jadi tidak melihat value brand nya. Tapi kalau secara bisnis atau survive ya itu pilihan ownernya masing-masing. Ga ada salah atau benar, cuma ada konsekuensi ketika brand nya terus-terusan mengambil strategi diskon di satu platform, jadinya perang harga dan value brand nya tidak muncul. Hanya muncul sebagai harga murah. Kalau pendapat pribadi saya kesana sih.

Fahmi: Ada 1-1, 2-2, 3-3, terus aja. Pasti bakal impact banget ke branding. Harusnya value brand nya yang keras kita bangun. Gue lebih memilih untuk back and forth disitu aja sih, biar dapat branding nya seperti “kalau saya beli Hijack sih ga usah nunggu diskon karena value produknya bagus”. Selama 12 tahun ini kita selalu drive market kita untuk lebih mengangkat value brand nya. Kemarin liat acara apa ya pada jual baju 70-80 ribu wah ini kok harga balik lagi kaya jaman pas saya masih kerja di clothingan tahun 2000an dulu..

Zaki: Yang paling kasian vendor jadi di push kualitas harga produksi, terms of payment kadang ada yang kurang sehat. Yang happy sebenarnya platform marketplace dan konsumen.

Fahmi: Kita sih udah aja fokus di value produk yang kita kerjakan sekarang. Kalau kita kebawa-bawa juga ya ga cuan juga mungkin hehe. Ada riset dan develop yang panjang, kita kasih liat aja ke orang-orang kalau kita sih harga segitu memang worth dengan kualitas yang kita berikan.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo taken from Hijack’s archives

Greedy Dust berkolaborasi dengan studio design Sub-Unit untuk merilis koleksi tech wear. Koleksi tech wear Greedy Dust//Sub Unit ini menampilkan 1 outerwear, pouch bag, sling bag, tote bag, 5 panel caps dan juga t-shirt. Koleksi yang berfokus pada kultur grimes ini dihadirkan dengan warna dominan hitam denagan aksen material reflektif di seiap itemnya.

Grafis pada tshirt Greedy Dust//Sub Unit merupakan karya dari Ade Annash, dengan menampilkan foto tagging Greedy Dust dan Sub Unit di daerah Bintaro.

Koleksi tech wear dari Greedy Dust dan Sub Unit sudah bisa didapatkan melalui marketplace Greedy Dust.

Pada bulan ini Cito Gakso merilis sebuah single yang berjudul MS. MONDAINE. Bekerja sama dengan Gilang Dhafir yang dipercaya sebagai produser, single ini merupakan sebuah rilisan terbaru di tahun 2022 ini setelah perilisan EP-nya di bulan November 2021 dan “Pigeons on the block” pada 18 februari 2022.

MS. MONDAINE adalah single pembuka sekaligus penanda akan hadirnya debut album dari Cito Gakso pada tahun 2023 mendatang. Mengambil sample beberapa bagian dari lagu rekan musisinya Ratih Putria yang berjudul Cinta Kita 1987, lagu ini bercerita tentang menyukai perempuan fashionable dan high class. Rasa insecure, rasa syukur dalam sebuah hubungan semua dirangkum apik dalam lagu MS. MONDAINE. Dimulai dari nyanyian yang catchy pada intro diikuti switch verse rap yang cukup unexpected dari karakter Cito Gakso, lagu ini merupakan salah satu lagu cinta yang energetic namun tetap memiliki kesan experimental di dalamnya.

“MS. MONDAINE” sudah bisa dinikmati di seluruh music streaming platform.