Konflik lahan di Sukahaji memang belum rampung. Warga masih berada diambang kecemasan. Seorang warga di sana mengungkapkan keresahannya tentang perasaan yang masih belum aman untuk tinggal di tempat tersebut.

“Dibilang aman, nggak. Dibilang engga aman juga, iya.”

Setidaknya, perasaan itu diungkapkan dalam perhelatan Balai Santai Vol.1 di Sukahaji, pada Senin, 31 Agustus 2026.Sebuah mini gigs yang diinisiasi oleh kolektif warga sekaligus perilisan EP Senartogok yang bekerja sama bersama Forum Sukahaji Melawan.

Beberapa moniker dari serikat pekerja rima, DefBloc, seperti Randslam, Kid Vicious, bahkan Ken Amok, turut menjadi pengisi acara. Mereka tidak hanya bermain hip-hop, tetapi juga membuat perasaan warga kembali hangat. Bahkan, anak-anak di sana menikmatinya sambil menganggukkan kepala, tak jarang pula ikut bernyanyi.

Suasana memang cukup padat, terlebih ketika Pangalo! mengambil mikrofon. Beberapa kali lagunya terhenti di tengah pertunjukan karena kabel listrik terinjak-injak. Namun, beberapa kali pula Pangalo! berusaha menuntaskan penampilannya.

Berdiri di sana perlu cukup berhati-hati. Pasalnya, di bawah kaki terdapat marmer dan batu bata bekas reruntuhan yang kondisinya cukup mengenaskan.

Di sela-sela itu, ada pula refleksi yang bukan hanya datang dari Sukahaji. Jaringan solidaritas dari Sukajaya, Cicalengka, bahkan ikut memberi kabar tentang keadaan mereka yang memiliki kesamaan nasib: penggusuran.

Ada pula solidaritas dari warga yang ikut menyisipkan puisi-puisinya. Mereka datang sambil membawa buku, atau menyisihkan sebagian rezeki untuk dibagikan.

Gigs berhenti persis ketika bulan berganti, dan September tiba. Lumayan gelap, sama seperti bulannya.

Teks & photos: Iman Hadiansyah

Joyland Festival Jakarta 2024 kembali membuktikan diri sebagai salah satu festival musik yang paling dinantikan di setiap tahunnya. Selama tiga hari (22–24 November), sekitar 45.000 pengunjung memadati Stadion Baseball GBK Senayan untuk menikmati pengalaman tak terlupakan. Festival ini menghadirkan panggung yang memukau, mulai dari aksi artis internasional hingga musisi lokal yang membawa energi luar biasa.

Penampilan luar biasa dari artis lokal hingga internasional menjadi highlight festival yang ramah untuk membawa anak ini. Dengan sajian visual dan sound yang memukau, headliner Air menjadi penutup yang manis Joyland 2024 di hari pertama. Tidak lupa St. Vincent memukau pengunjung dengan aksi panggungnya yang karismatik dan sound yang berkelas. Selain itu dihari pertama ada penampilah dari band-band lokal seperti, Feast, White Shoes and The Couples Company, Bank, The Sigit, dan lainnya. Di hari kedua dibuka oleh penampilang di Cottons di stage Lily Pad. Yang menarik di hari kedua Joyland ini ada penampilan set spesial dari Efek Rumah Kaca dengan set Rimpang yang menghiasi panggung dengan tatanan visual yang ERK pakai ketika merayakan peluncuran album Rimpang pada Juli 2023 lalu. Dan ada set “Hujan Orang Mati” dari Majelis Lidah Berduri yang menampilkan aksi teatrikal di atas panggung Plainsong. Tentu saja di hari kedua ini, [AAA] kolaborasi Hyukoh dari Korea Selatan dan Sunset Rollercoaster dari Taiwan menjadi salah satu line up yang ditunggu tampil tanpa celah kekurangan sedikit pun. Hari ketiga dibuka oleh band asal Jepang DYGL, lalu disambung oleh Teenage Death Star di Lily Pad stage dan Brainstory di Joyland stage. Blueboy menjadi salah satu band yang ditunggu penampilannnya di Joyland Festival 2024. Tampil dengan set yang minimalis, Blueboy berhasil membawa romantisme era kejayaan Indie pop. Bombay Bicycle Club menjadi band yang tampil terakhir di Joyland Festival 2024.

Di panggung Lily Pad pun tidak kalah menarik dengan panggung besar Joyland dan Plainsong. Panggung yang dikurasi oleh White Shoes and the Couples Company ini menghadirkan The Panturas, The 5,6,7,8, Idiotape sampai Dj seperti dari Jazzy Sport, Daniella Dee sampai Habibi Funk berhasil menarik perhatian para pengunjung. Panggung-panggung lainnya seperti Shroom Stage, yang dikurasi oleh Soleh Solihun, menampilkan stand up comedian dari yang emang kita sering jumpai layar televisi sama comic dari komunitas pun hadir menghibur penonton yang hadir di Joyland Festival 2024. Dan tidak lupa pemutaran film hasil kurasi Joko Anwar di Cinerillaz menjadi suguhan menarik. Bagi pengunjung yang mebawa putra-putrinya ada sajian sajian activity yang disuguhkan di area White Peacock. Dimulai dari puppet show yang dibacakan langsung oleh Sal Priadi, tempat menitipkan stroller sampai story telling dari conductor MRT ada semuanya di area White Peacock.

Joyland Festival merupakan salah satu festival yang sangat disayangkan bila dilewatkan. Kami sangat tunggu kejutan berikutnya dari Plainsong untuk ramuan Joyland tahun 2025 mendatang.

 

Teks by Firman Oktaviawan

Photos by Plainsong Live doc’s

United Hart atau UH! Adalah sebuah streetwear brand yang mempunyai koneksi erat dengan kultur skateboarding. Untuk merayakan International Skateboarding Day pada 21 Juni, mereka merilis sebuah video skate yang bertitel “Dialektika Eklektika”. Mereka sukses menggelar malam pemutaran Video Full Length Skate Pertama mereka bertajuk “DIALEKTIKA EKLEKTIKA”. Diluncurkan bersamaan dengan #HappyGoSkateboardingDay 21 Juni 2023, Screening ini berlokasi di #UHSTORE, Jl. Trunojoyo No.4 Bandung.

Proses pembuatan film skate-video adalah budaya asli skateboard yang sudah dilakukan dari dulu oleh brand-brand seperti Toy Machine, Girl, Birdhouse, Zero dan lain-lain, dan sering dianggap sebagai dedikasi dari brand dan para skater itu sendiri terhadap budaya tersebut. Pembuatan video berdurasi 11 menit ini membutuhkan waktu pembuatan selama 3 tahun. Video itu sendiri terdiri dari semua riders UH!: Indra Dom-dom, Acil, Lil’ Dez, Rifo, Leika dan Rifky. Difilmkan oleh berbagai filmer Bandung, dan diedit oleh Iyo dan Indra Saefur. Mereka menghadirkan pendekatan baru dari musik dan editing. Video berdurasi 11 menit ini dibuka oleh parts Indra Dom Dom yang bermain tricky dan “kreatif”. Noseslide shove-it out dan nose-manual flip out dia lakukan dengan smooth. Berikutnya adalah Lil Dez yang terlihat effortless melakukan 360 flip dan backside kickflip. Lalu ada Acil dengan boardslide yang epic. Leika adalah satu-satunya riders perempuan disini dan sepertinya dia yang paling ngebut. Parts Leika juga banyak bermain di bowl. Parts Rifo dan Rifky cukup menarik juga dengan spots di Taman Lalu Lintas dan Monumen Perjuangan Bandung yang cukup ikonik. Video ini ditutup oleh scene bails para riders dengan soundtrack dari “Surrender” dari Suicide.

Orang-orang yang datang dan penasaran untuk menyaksikan pemutarannya jauh di luar dugaan, mereka harus membuat beberapa grup untuk menonton videonya secara bergiliran, karena kapasitas ruangan tidak cukup untuk menampung semua penonton. Para skater Bandung dari berbagai generasi berkumpul, mulai dari kru OG STREET SPYDERS / TLL, TG, 18Park, Pasoepati, Taman Pramuka dan masih banyak lagi wajah-wajah baru yang bergabung dalam acara tersebut. Malam kemudian diakhiri dengan lagu-lagu vinyl dari Indra Dom-dom dan Mr.Dymz.

Text by Aldy Kusumah
Photos from UH!’s archives

Dengan premis road rage yang bernuansa komedi, episode 1 Beef dimulai dari premis yang cukup simple. Pertemuan “tidak sengaja” antara Danny (Steven Yeun) dan Amy (Ali Wong) dikarenakan mereka hampir saling menabrak di parkiran toko peralatan rumah tangga. Dari adegan klakson timbul lah chase scene yang dipenuhi adrenaline. Tetapi Beef lebih kompleks dari semua itu. Beef adalah sebuah efek bola salju: dimana sebuah road rage bisa berakibat fatal untuk para pelaku sampai keluarga dan orang-orang terdekat mereka. Pertemuan 2 orang ini pun membuka trauma masa lalu. Tema-tema yang dipresentasikan show creator Lee Sung Jin disini sebenarnya cukup heavy, karena meliputi depresi, PTSD, class-struggle, bullying, toxic positivity, gap antar generasi, jeleknya komunikasi dalam rumah tangga sampai krisis identitas. Tetapi semua itu dikemas dengan “ringan”, lengkap dengan dark jokes, durasi yang padat dan soundtrack yang tepat. Menariknya, pelukis David Choe (yang juga berperan sebagai Isaac) menyumbangkan 9 lukisannya untuk opening setiap episode serial tersebut.

Soundtrack Beef pun yang dipilih oleh Tiffany Anders (music supervisor) adalah radio hits ‘90an akhir sampai ‘2000an awal. Beberapa ada yang cheesy seperti Hoobastank (The Reason), The Offspring (‘Self Esteem’) atau Incubus (Drive). Beberapa ada yang benar-benar nostalgic seperti Bjork (‘All is Full of Love’), Bush (‘Machinehead’) dan Smashing Pumpkins (‘Mayonaise’). Tetapi semua lagu yang tampil disini, apalagi beberapa yang ditaruh di ending credits setiap episodes terasa sangat pas, bahkan berhasil meng-elevate serial TV ini. Mungkin hanya di scene ending Beef episode 1 kamu bisa mendengar Hoobastank yang terasa begitu pas dengan adegan slow motion dan latar ceritanya. Scoring pun dibuat oleh Bobby Krlic yang pernah berkerja dengan Bjork, Goldfrapp dan membuat scoring Midsommar (2019). Overall, menonton 10 episode Beef terasa nyaman dan ringan. Walaupun ada 1-2 episode yang sedikit bermasalah dengan pacing, story arc para karakter disini diliput dengan lengkap dan tidak bertele-tele. Episode 10 mungkin sedikit berat dengan dialog filosofisnya, tetapi you’ll be glad seeing the ending. Tontonlah semua episodenya jika sempat, and tell us what you think.

Text by Aldy Kusumah

Makoto Shinkai mendapatkan ide untuk “Suzume” saat dia berkeliling Jepang untuk memberikan mempromosikan karya-karyanya. Di Jepang ada kebiasaan untuk mengadakan “jichin-sai” atau upacara peletakan batu pertama, sebelum konstruksi dimulai pada gedung atau rumah baru. Tetapi menurut sebuah wawancara, menurur Makoto Shinkai, orang Jepang tidak melakukan apa-apa saat menutup sebuah gedung, rumah atau konstruksi tertentu. Shinkai memperhatikan bahwa ada banyak daerah kosong dan terbengkalai di Jepang karena angka kelahiran yang menurun dan populasi yang menua, jadi dia pun sepertinya berpikir untuk menulis sebuah cerita mengenai “tempat-tempat sepi yang terlantar” dan mengajak para penonton untuk berkabung bersama. Anggap saja film ini sebagai sebuah homage atau tribute mengenai tempat-tampat terlantar yang di masa lalu penuh dengan kehidupan.

Lalu fim ini pun seketika menjadi sebuah road-movie dengan unsur komedi yang menyenangkan, dan tentunya sedikit lebih ringan, apalagi jika dibandingkan karya-karya nya terdahulu nya. Fase ini mungkin bisa kita sebut “emo phase” nya Makoto Shinkai, dimana tema-tema tentang kehilangan, jodoh dan cinta dia kemas dengan musik dari Radwimps. Fase emo Makoto adalah: The Place Promised in Our Early Days (2004), 5 Centimeters per Second (2007), dan The Garden of Words (2013). Tetapi jika membicarakan genre adventure dan fantasy, Makoto sudah pernah membuat Children Who Chase Lost Voices (2011). Dan sekarang kita sampai ke fase terkini dari Makoto dimana dia menggabungkan “emo phase” nya dengan tema-tema sci-fi, fantasy dan sedikit lebih spiritual: Your Name (2016), Weathering with You (2019) dan Suzume (2022).

Memang Suzume terasa lebih ringan, light-hearted dan bahkan lebih fun dibandingkan Your Name (2016) atau Weathering with You (2019). Untuk visual, sepertinya Makoto sudah nyaman menggabungkan style anime dengan CGI, dan untungnya semua itu berbaur dengan sempurna. Pacing juga sedikit frantic, dimana dari awal film dimulai situasi sudah sedikit intens. Perjalanan kedua protagonis; Suzume dan Souta, dalam “menutup pintu” dan mencegah gempa-gempa terjadi lumayan menegangkan. Editing jump-cuts ala French New Wave kembali diterapkan Makoto di film ini walaupun lebih kental di Kimi No Wawa ataupun Weathering with You. Tema-tema supernatural, kematian, pengorbanan diri dan keluarga sudah pasti akan relate dengan para penonton. PS: Jangan lewatkan montage keren di dekat akhir film. Saya tidak akan menggali lebih dalam mengenai plot nya disini, tetapi jika kamu adalah seorang fan dari Makoto Shinkai, maka segeralah pesan tiket film ini dan tontonlah di layar lebar. Visual indah seperti memang sudah seharusnya ditonton di layar lebar, bukan di laptop.

Words by Aldy Kusumah

Haul kembali untuk membuat malam kalian semakin kelam setelah 6 tahun tertidur lelap. Formasi solid di EP ini adalah Kenny (vocal), Dendry (guitar), Cakra (guitar), Hasbi (bass) dan Dawan (drum). Setelah merilis 2 single dalam bentuk music video berjudul “Adamar” dan “Perse- foniak”, kini EP yang berjudul “Adamar” hadir dalam format CD. Kali ini mereka kembali dengan format yang sedikit berbeda: death metal dengan nuansa blackened hardcore. EP berdurasi 16 menit ini dibuka tanpa basa-basi dengan “Persefoniak”, notasi dan riff gitar blackmetal menghiasi track ini, dan vokal Kenny pun diberi efek reverb, sehingga terdengar seperti Attila Csihar yang meraung di sebuah kastil kosong di Hungaria.

Rupanya peran produser Alyuadi dari Heals cukup membuat EP ini terdengar maksimal dari segi sound, aransmen dan produksi. Kamu bisa mendengar dengan jelas detail suara cymbal diantara shredding gitar yang padat dan bass yang heavy heavy low low. “Sajah Kumus” meneruskan keberingasan track pembuka dengan intensitas yang kurang lebih sama, dengan dibumbui sedikit aroma thrash metal. Diakhiri dengan permainan grand piano di akhir, track berdurasi 4:19 detik ini terasa singkat.

Sebelumnya Haul pernah merilis ‘Rima Penghitam Cakrawala’ (2012) dan 2 single “Surja” dan “Purnama” dalam split 7 inci bareng AVHATH (2013). Transformasi dan evolusi Haul menjadi seperti sekarang ini tentunya semakin menarik, apalagi jika kamu mendengarkan lagu penutup sekaligus title track “Adamar”. Lagu berdurasi 8 menit (kurang 1 detik) ini memiliki aransmen yang cukup epik dan beberapa part bernyanyi. Part bernyanyi ini terdengar seperti chant yang diambil dari film horror B-movie Italia dan kental sekali nuansa okultisme nya. Track “Adamar” pun ditutup dengan solo gitar 1 menit. Overall, sajian singkat ini sudah tentu agak sedikit nanggung bila mereka tidak segera mem followup dengan album penuh. Tentu saja album penuh dari Haul akan menarik. Untuk sementara, Adamar sudah bisa didapatkan melalui Disaster Records.

 

Words by Aldy Kusumah

Sebagai seorang teenager di tahun ‘90an, cukup beruntung bisa tumbuh bersama film-film Studio Ghibli seperti Castle of Cagliostro (1979), Nausicaä of the Valley of the Wind (1984), Laputa: Castle in the Sky (1986) dan Porco Rosso (1992). Tetapi saya terpapar oleh sihir magis Hayao Miyazaki pertama kali tentunya oleh Princess Mononoke (1997) yang pada saat itu cukup menjadi blueprint dan meng-elevate medium anime ke level selanjutnya. Film-film Ghibli lainnya pun seperti Ponyo (2008), Spirited Away (2001), My Neighbor Totoro (1988) dan Kiki’s Delivery Service (1989) menawarkan hal-hal terbaik dari anime yang sangat bersahabat untuk dikonsumsi dan ditonton bersama keluarga. Menonton kembali film-film Studio Ghibli ketika sudah berkeluarga ternyata membuka wawasan dan membuat saya mengapresiasi detail-detail frame yang digambar oleh tangan, tema-tema alam vs manusia, selebrasi kultur Jepang dan tentunya penggambaran para protagonis wanitanya.

Ada sesuatu yang istimewa mengenai protagonis perempuan dalam film-film Studio Ghibli. Tanpa ragu, para wanita ini berdiri untuk pemberdayaan wanita, tetapi ini adalah metode pemberdayaan wanita yang tidak  terlihat di karakter wanita film-film Hollywood. Studio Ghibli mencirikan protagonis wanita yang kuat dengan penolakannya terhadap standar-standar patriarkis. Jelas sekali bahwa protagonis wanita dalam film Ghibli menonjol di luar standar Hollywood yang kebanyakan menggambarkan karakter wanita yang butuh pertolongan (damsel in distress). Karakter-karakter wanita di Ghibli adalah representasi multi-dimensi yang bernuansa unik. Untuk benar-benar menghargai pentingnya multi-dimensi dalam karakterisasi wanita, ada baiknya memeriksa konteks Barat seputar pemeran utama wanita. Standar Hollywood untuk pemberdayaan perempuan memainkan binari gender. Artinya, gagasan tradisional tentang maskulinitas dan feminitas tetap menjadi kunci bagi banyak penciptaan karakter Hollywood. Faktanya, jarang kita melihat gender ditampilkan secara lebih eksplisit selain di media Barat populer: karakter wanita dibangun di atas fondasi kebaikan, kepasifan, dan kerentanan, sementara karakter pria dibangun di atas fondasi kekuatan, agresi dan ketabahan. Dengan demikian, ikon-ikon feminis yang cenderung kita lihat di Hollywood memperoleh karakterisasi badass-nya dari kualitas yang terkait dengan maskulinitas tradisional.

Pahlawan wanita Studio Ghibli adalah alternatif yang bagus untuk disajikan kepada gadis-gadis muda. Disney tidak pernah secara tradisional dikenal karena feminismenya – malah domainnya cenderung sexist: putri-putri jinak yang tidak banyak bicara dan diselamatkan oleh pangeran-pangeran tanpa kepribadian. Dari 23 film-film Ghibli, 16 memiliki tokoh utama wanita. Mari mulai dengan memeriksa mahakarya Miyazaki dari tahun 1997: “Princess Mononoke”. Karakter tituler, Putri Mononoke, mengambil bentuk seorang wanita muda yang sangat kuat. Sebagai putri angkat dewa serigala berusia 200 tahun, Moro, Putri Mononoke sering disebut sebagai ‘Gadis Serigala’. Karena itu, dia menolak konvensi manusia seperti gender, yang justru memberinya kompleksitas yang menarik. Sepanjang film, Princess Mononoke menunjukkan kualitas tradisional maskulin dan kualitas tradisional feminin, tetapi sepenuhnya bergantung pada keduanya. Pertama kali kita melihat Putri Mononoke, dia menyedot peluru dari luka ibu serigalanya. Mulutnya berlumuran darah, dan tatapannya tajam. Langsung saja, kita dapat melihat bahwa ini adalah karakter yang tidak mematuhi binari fundamental. Dia tidak sepenuhnya manusia, karena dia memancarkan kebiadaban kebinatangan, tetapi dia juga tidak sepenuhnya hewan, karena dia menunjukkan kecerdasan manusiawi tertentu. Kemudian, Putri Mononoke merawat protagonis ganda film itu, Ashitaka, untuk kembali sehat. Karena Ashitaka terlalu lemah untuk makan, Putri Mononoke mengunyah makanannya dan meludahkannya ke mulutnya, sebuah tindakan yang terasa seperti kode keibuan/feminin dan jelas kebinatangan. Kompleksitas seperti itu diringkas dengan sempurna oleh Moro, dewa serigala dan ibu angkat Putri Mononoke, yang mengklaim, ‘putriku yang malang, jelek, cantik bukanlah manusia atau serigala’. Memang, Putri Mononoke adalah satu oxymoron: bergerak bebas antara manusia dan hewan, pria dan wanita.

Satu lagi favorit dari Studio Ghibli adalah film 2001 mereka yang berjudul “Spirited Away”. Wanita dalam film ini adalah Chihiro, seorang gadis sepuluh tahun yang mendapati dirinya diperbudak oleh penyihir yang kuat setelah orang tuanya mencuri makanan dari dunia roh. Dibandingkan dengan judul Disney populer yang menampilkan protagonis wanita remaja, protagonis utama Spirited Away sangat unik. Chihiro tidak hanya menumbangkan narasi khas “damsel in distress” dengan bertujuan untuk menyelamatkan orang tuanya dengan bantuan karakter pangeran tampan yang dia temui di sepanjang jalan, dia juga menentang ekspektasi estetika khas yang ditempatkan pada wanita: daripada memiliki mata besar berbinar dan berperilaku ceria, Chihiro memiliki fitur kecil dan ekspresi cemberut, serta tubuh kurus dan kekanak-kanakan. Sikap kesal dan kerentanan emosional Chihiro menunjukkan multi-dimensi yang secara realistis menarik bagi gadis-gadis yang diwakilinya.

Meskipun sebagian besar filmnya dimaksudkan untuk dinikmati oleh anak-anak dan menekankan aksi, fantasi, dan kepahlawanan, Hayao masih berhasil menemukan cara untuk melawan seksisme dengan cara yang menjelaskan mengapa seseorang mungkin memiliki pendapat tersebut, dan bagaimana mereka akhirnya terbukti salah. Ini banyak dibahas di “Porco Rosso”, di mana karakter tituler sering meremehkan, menyerang, dan mencaci maki Fio – seorang insinyur wanita muda yang bersemangat yang membantu memperbaiki pesawatnya (di film ini, karyawan pabrik pesawat terbang pun semuanya adalah wanita). Setelah bermitra dengan Fio untuk membantunya melarikan diri dari pemerintah Italia, Porco mendapati dirinya berhadapan langsung dengan pria seksis arogan lainnya dalam taruhan untuk memastikan kebebasan pribadi Fio. Karena harus menghadapi seseorang yang serupa dalam perlakuan mereka terhadap wanita, Porco dipaksa untuk merenungkan prasangkanya sendiri dan mengatasinya. Dan Porco pun yang pada awalnya sexist, digambarkan seperti babi, dan akhirnya bertransformasi menjadi “manusia” kembali di akhir film.

Di sebagian besar film Miyazaki, bahkan dalam film di mana protagonis atau co-protagonis adalah laki-laki, karakter perempuan memiliki peran penting untuk dimainkan. Akibatnya, Hayao juga memilih untuk membuat semua jenis karakter yang berbeda dan biasanya memanusiakan mereka semua dalam beberapa cara, bahkan jika mereka adalah penjahat. Dia memiliki ibu tunggal, putri prajurit, penyihir (baik dan buruk), pengasuh, petani, bajak laut, pembuat topi, insinyur, owner bakery dan seterusnya dan seterusnya. Tidak ada satu tipe orang, jadi dia juga memutuskan begitulah cara dia menciptakan karakternya, menerapkan filosofinya bahwa “kita dilahirkan dengan kemungkinan tak terbatas”. Alasan besar mengapa film-film Ghibli juga begitu terkenal dan berhasil menyentuh hati pemirsa adalah kenyataan bahwa Hayao memastikan karakter-karakter Wanita dalam filmnya adalah inti yang penuh kasih dan sisi emosional di semua filmnya.

 

Words by Aldy Kusumah

“Bandung Synth Meet #3” adalah sebuah perhelatan musik elektronik dengan berbagai variasi genre dari ambient sampai experimental. Bandung Synth Meet merupakan acara rutin yang di inisiasi oleh Subtractive sebuak kolektif musik elektronik dan improvisasi bebas, dan juga komunitas musik elektronik Bandung Synth Society dan Indomodular. Diadakan pada hari Jumat, 18 November 2022. Bertempat di Kopi Kohi yang sudah menjadi reguler bagi perhelatan ini. Acara ini menampilkan beberapa line-up dari Discokid909 (Jakarta), Kuntari, Firzi O, Profound Grief (Deathless Ramz). Suasana yang ingin dibangun di perhelatan ini juga cukup intimate dengan adanya talkshow dan workshop yang dipandu Adhit Android, Baseput, Kimung dan Kuntari. 

Acara dibuka di jam 18:30.oleh Rembo dan Adhit sebagai moderator dari talkshow dengan dengan pembicara ialah Baséput (moniker dari Rayhan Sudrajat) dan Kuntari (moniker dari Tesla Manaf). Tanpa terasa, talkshow tersebut pun berakhir dan performa Profound Grief membius semua penonton yang hadir disitu. Profound Grief adalah moniker dari Rembo, yang juga bermain di band Nearcrush. Di fokus memainkan samples dari instrumen modular synthesizernya. Setelah itu Kuntari memadukan terompet dengan synth miliknya. Pilihan bebunyian dan nada yang dimainkan Tesla Manaf (Kuntari) memang bisa membuat merinding, apalagi saat pekik terompet bersuara diatas intrumen lainnya yang droning. Setelah itu giliran Firzi O dengan white noise dan polyrhythm nya.

Acara ini pun ditutup oleh Discokid909. Moniker dari Hendra RNRM ini memainkan beat-beat disco dan bassline yang danceable. Hendra meramu komposisi musiknya menggunakan modular system dengan kabel yang bejibun. Fakta menarik adalah Hendra membuat sendiri rack modularnya menggunakan 3D printing.

Semoga perhelatan seperti ini terus digelar agar ekosistem musik elektronik pun semakin menjalar di kemudian hari.

 

Words by JEURNALS

Additional text by Rayhan Sudrajat

Latar belakang gigs ini cukup menarik: sebuah perhelatan diadakan dadakan pada hari Minggu(13/11) (diprakarsai Discover Sounds & Kaum) menampung band-band yang seharusnya main di Alternative stage Fosfen tetapi tidak jadi dikarenakan festivalnya yang (katanya) postponed. Dengan line up keren yang cukup variatif seperti, Saturday Night Karaoke, Muchos Libre, Dongker, Phonetic, Collapse, CAL sampai Eastcape yang jauh-jauh datang dari Blitar.

Saturday Night Karaoke menghangatkan dingin nya udara Grun Bar yang terletak di jalan Setiabudi atas tersebut dengan sajian musik punk ala Lookout Records (The Queers, Screeching Weasel). Kami melewatkan penampilan Muchos Libre tetapi kami yakin mereka bisa menghibur penonton seperti biasa dengan aksi panggungnya yang atraktif. Jika SNK membuat suasana menjadi hangat, CAL kembali “mendinginkan” suasana dengan sajian nu-gaze nya yang mengalun. Mereka tampil rapih malam itu.

Eastcape yang tahun lalu baru merilis split EP dengan Sugar Thrills (Bali) sangat menarik. Mereka membawakan musik midwest emo ala American Football dengan sedikit sentuhan math rock. Datang jauh-jauh dari Blitar untuk bermain di Fosfen, kedatangan mereka pun tidak sia-sia karena akhirnya tampil di Grun Bar pada malam itu, dan crowd pun cukup apresiatif melihat penampilan mereka. Phonetic bermain sangat maksimal malam itu walaupun tidak soundcheck. Mungkin mereka sudah bosan mendengar komparasi dengan band 1975, tapi beberapa lagu baru mereka malah keluar dari pakem musik seperti itu. Mereka juga membawakan cover version “There She Goes” entah dari The LA’s atau Sixpence None The Richer pada setlist nya.

Dongker membuat crowd stage dive dan singalong, rupanya sebagian besar penonton ternyata hafal lirik-lirik lagu Dongker. Malam itu ditutup dengan Collapse yang tentunya membawakan “Given” dan 2 cover version wajib mereka: “Blood Bank” dari Bon Iver & “Toxic Boombox” dari Angel Du$t. Mereka juga sempat membawakan single baru “Ivory” yang sangat catchy. Tidak ada yang lebih tepat dari mendengarkan Collapse membawakan “Cold November” di malam November yang dingin.

 

Words by Aldy Kusumah

Photos by Fabian Insan Faturahman

 

Setelah sukses mengadakan Intimate Show pada bulan September lalu, No Exit Room kembali mengadakan gigs pada Jumat(11/11) di Kopi Kohi, Bandung. Untuk kali ini kolektif No Exit Room memberi tajuk “A Step Further Away” untuk gelarannya.

CAL photo By Fabian Insan Faturahman

EN Sunbath photo by Aditya Erawan

Dengan layout “panggung” yang tidak biasa, A Step Further Away dibuka oleh penampilan dari unit alternative rock asal Bandung Turmpike. Lagu-lagu seperti, “Window”, “I Don’t Know” sampai single terbaru Teman Lama dibawakan secara apik oleh Galuh dkk. Dilanjut oleh penampilan dari band 90’s alternative “ugal-ugalan” Sunbath yang berhasil memanaskan Kopi Kohi yang kala itu  sedang gerimis. Berikutnya ada Gilang bersama monikernya CAL yang tampil dengan set-nya termasuk lagu Covet dari Basement. Swarm didaulat sebagai penampil berikutnya. Swarm tampil penuh energi sepanjang set dan sempat juga mencover salah satu lagu dari Envy. Terakhir ada penampilan dari Sunlotus yang sedang mengadakan tour ke beberapa kota di Jawa. Sunlotus baru saja merilis single Glass-like Dreams dan split bersama Milledenials dalam bentuk kaset. Semua materi dari Sunlotus dibawakan pada malam itu.

Sunbath photo by Aditya Erawan

Sunlotus photo by Aditya Erawan

No Exit Room berhasil membuktikan bahwasanya membuat sebuah gigs dengan bantuan teman-teman masih bisa diselenggarakan dengan baik. Buktinya telah 2 gigs yang telah sukses diadakan oleh No Exit Room. Semoga akan ada gigs-gigs lain dari kawan-kawan kolektif No Exit Room.

 

Words by Firman Oktaviawan

Photos by Aditya Erawan and Fabian Insan Faturahman