Etos D.I.Y., anti-konsumerisme dan anti-kekerasan (violent dancing / slam dance)
Selain prinsip D.I.Y., straight-edge dan anti-konsumerisme mereka yang unik, Fugazi juga mempunyai berbagai prinsip yang cukup berbeda dengan band-band punk/hc atau yang mengusung genre sejenis. Fugazi tidak pernah membuat merchandise dan mereka sangat anti untuk memakai baju atau atribut yang bermerk (mereka seringkali manggung bertelanjang dada ataupun memakai kaos polos). Jadi jika kamu melihat orang memakai merch Fugazi, sudah pasti itu bootleg. Selain itu, etos D.I.Y. (do it yourself) mereka cukup garis keras. Mereka merekam, memproduksi, merilis dan mendistribusikan rilisan-rilisannya secara mandiri. Mereka tidak pernah manggung di venue yang menjual tiket masuknya diatas $5 (walaupun di akhir umur band ini mereka kesulitan membook event yang ingin menjual tiket dibawah $10-$15), karena mereka ingin membuat gigs punk selalu terjangkau untuk semua kalangan, dan menariknya selalu bermain di all-ages show dimana penonton dibawah 17 tahun pun boleh masuk dan menikmati showcase Fugazi. Karena Fugazi juga anti segala bentuk bahasa kekerasan, maka mereka selalu melarang para crowd untuk slam dancing / violent dancing di moshpit. Di sebuah show Ian MacKaye pernah menghentikan lagu dan menyuruh seorang penonton yang moshing dengan brutal untuk keluar, lalu uang tiket penonton tersebut dikembalikan dengan sopan. Uniknya, Fugazi pun selalu memberikan performa maksimal seakan tidak ada hari esok di setiap penampilannya.


Formasi dan tahun-tahun awal (1986–1989)
Fugazi terbentuk setelah grup punk hardcore legendaris Minor Threat dibubarkan, MacKaye (vokal dan gitar) aktif dengan beberapa grup yang berumur pendek, terutama Embrace. Dia memutuskan untuk membuat sebuah proyek yang terdengar “seperti The Stooges dengan elemen reggae”, tetapi MacKaye khawatir untuk membentuk band lain setelah bubarnya Embrace. MacKaye ingin berada di sebuah band bersama orang-orang yang ingin bermain musik seperti dia. MacKaye merekrut mantan drummer Dag Nasty Colin Sears dan bassist Joe Lally, dan ketiganya mulai berlatih bersama pada bulan September 1986. Setelah beberapa bulan latihan, Sears kembali ke Dag Nasty dan digantikan oleh Brendan Canty (sebelumnya Rites of Spring). Suatu hari, Guy Picciotto, rekan band Canty di Rites of Spring mampir saat sesi latihan Fugazi. Dia kemudian mengakui bahwa dia ingin untuk bergabung dengan grup tersebut. Namun Picciotto kecewa karena sepertinya tidak ada tempat untuknya.

Band ini manggung pertama kali di Wilson Center pada awal September 1987. Grup tersebut masih membutuhkan nama, jadi MacKaye memilih kata “Fugazi” yang diambil dari buku “Nam” karya Mark Baker. Di dalamnya terdapat akronim slang untuk “Fucked Up, Got Ambushed, Zipped In [a body bag]” yang disingkat menjadi Fugazi. Band ini mulai mengundang Picciotto untuk berlatih. MacKaye akhirnya meminta Picciotto untuk menjadi anggota penuh, dan dia menerimanya. And the rest is history.

Ian MacKaye, Fugazi dan pengaruh Dischord Records terhadap skena Washington D.C.
Sebelum mendirikan Fugazi, Ian MacKaye lebih dulu bermain bersama The Teen Idles (pada tahun 1979). Sesaat setelah Idles bubar, MacKaye ingin melakukan sesuatu mengingat ia masih memegang $600 yang dihasilkan dari beberapa kali manggung bersama Teen Idles. Akhirnya MacKaye bersama Jeff Nelson memutuskan untuk membangun label rekaman sendiri bernama Dischord Records. Lewat label ini, MacKaye mulai menjaring relasi dengan band-band punk lokal di D.C. Pada 1985, Revolution of Summer yang diinisiasi oleh Amy Pickering mulai aktif. Dilatarbelakangi oleh maraknya kekerasan di gigs punk hingga sikap apatis terhadap kondisi sosial-politik. Mereka melangsungkan demo di depan kedutaan Afrika Selatan. Mereka menuntut apartheid dihapuskan.


Kehadiran Revolution Summer melahirkan band-band baru seperti Rites of Spring, Embrace, Dag Nasty, Soulside, Jawbox, Shudder to Think, sampai Nation of Ulysses. Keadaan tersebut juga membawa MacKaye melakukan hal serupa dengan membentuk Fugazi pada 1987, empat tahun pasca bubarnya Minor Threat. Secara tidak langsung Ian MacKaye, Dischord dan Fugazi juga sangat berpengaruh bagi blueprint dan menjadi benchmark musik post-hardcore maupun punk/hc di skena Washington D.C., yang kemudian diadopsi juga stylenya oleh band-band secara global.
Untuk kamu yang baru digging musik Fugazi, kami menyarankan untuk mulai dari track-track berikut ini:

1. Waiting Room

2. Turnover

3. Sieve-Fisted Find

4. Recap Modotti

5. Cashout

6. Do You Like Me?

7. Great Cop

8. Nice New Outfit

9. Bulldog Front

10. I’m So Tired

Words by Aldy Kusumah

Denis Villeneuve sepertinya tidak pernah membuat film gagal, dan dia terlihat sangat versatile dalam melakukannya. Pertama kali saya jatuh cinta pada karya Denis adalah pada saat melihat Sicario di bioskop, sebuah crime-thriller yang mengandung unsur-unsur film noir dan western di dalamnya. Saya selalu melihat Josh Brolin dan Benicio Del Toro seperti para gunslingers di film-film koboy Sam Peckinpah, hanya saja menggunakan senjata yang lebih modern. Mungkin Denis Villeneuve adalah salah satu sutradara yang kecil kemungkinannya untuk menyutradarai film-film besar Hollywood. Pertimbangkan ini: Villeneuve merilis film pertamanya pada tahun 1998 (August 32nd on Earth) dan film keduanya Maelström pada tahun 2000, kemudian Denis mengambil jeda selama bertahun-tahun untuk menekan tombol reset dan, baru-baru ini dia mengatakan kepada The Hollywood Reporter, bahwa dia telah mempelajari pendekatan yang berbeda terhadap sinema. Pendekatan baru Denis ini melibatkan dia untuk mengamati sutradara teater yang sedang bekerja dan mempelajari cara-cara berkomunikasi yang lebih baik dengan para aktor. Lalu pada tahun 2009 tiba-tiba Denis muncul dengan Polytechnique, yang kemudian dilanjutkan dengan masterpiece Incendies (2010), Prisoners & Enemy di tahun 2013, lalu Sicario (2015), Arrival (2016) dan Blade Runner 2049 (2017) secara berturut-turut. Apakah orang ini bisa membuat film jelek? Sepertinya tidak.

Fast-forward ke 2024: Villeneuve berhasil menyelesaikan adaptasi dua bagian dari film sci-fi terkenal karya Frank Herbert, Dune, sebuah proyek yang dulunya secara luas dianggap tidak dapat diadaptasi setelah upaya David Lynch gagal dan flop secara komersil pada tahun 1984. Bahkan sutradara nyentrik Alejandro Jodorowsky pun gagal mengadaptasi Dune. Namun Dune mungkin juga dibuat khusus untuk Villeneuve, yang berhasil merancang storyboard untuk adaptasi imajinasi dengan sahabatnya saat remaja. Setiap adaptasi buku Herbert harus menangkap kekerasan, ambiguitas moral, dan konflik manusia di masa depan tanpa kehilangan sisi anehnya. Ini semua adalah sebuah sweet spot bagi Villeneuve, bahkan di luar genre sci-fi sekalipun. Denis berhasil membawa karya-karyanya ke panggung yang lebih besar, tanpa kehilangan karakternya. Berikut ini adalah film-film Denis Villeneuve favorit JEURNALS dari yang “terburuk” sampai ke terbaik.

Maelström (2000) & August 32nd on Earth (1998)
Dua film pertama Villeneuve adalah satu kesatuan, sehingga sulit untuk untuk membahasnya secara terpisah. Kecelakaan mobil memainkan peran sentral dalam keduanya, begitu pula hubungan ambigu antara dua orang yang mungkin terletak di sepanjang garis tipis antara hidup dan mati. Maelström mengimplementasikan elemen-elemen fantasi dan komedi, narator film ini pun adalah ikan yang dapat berbicara. Ketertarikan Denis pada tema-tema gelap dan ambiguitas moral mendorong kedua film tersebut untuk mendapat pujian dari berbagai kritikus, dan Maelström bernasib cukup baik di Genie Awards Kanada, meraih enam piala, termasuk penghargaan Film Terbaik, Sutradara, Skenario, dan Aktris. Sayangnya, ikan-ikan yang menjadi narator itu tidak mendapat apa-apa. Jika melihat film-film Denis setalah ini, tentu saja 2 film awal ini sangat jauh kualitas nya dengan karya-karya berikutnya yang dia buat.

Polytechnique (2009)
Villeneuve kembali ke film layar lebar setelah hampir satu dekade berlalu, karena mungkin terpanggil untuk memfilmkan dengan dramatisasi pembantaian di École Polytechnique; sebuah insiden yang terjadi di tahun 1989 dimana seorang pria misoginis bersenjata menembak dan membunuh 14 wanita dan melukai 14 rekan mahasiswanya di sebuah universitas di Montreal. Di shoot dengan format hitam-putih, Polytechnique sebagian besar mengikuti dua siswa yang hadir di pembantaian tersebut. Film ini berdurasi singkat (hanya 77 menit, dengan kredit), shocking, dan tak terlupakan. Film ini tidak tanggung-tanggung dalam menggambarkan peristiwa mengerikan tersebut namun tidak pernah terasa eksploitatif. Film ini sedikit mengingatkan saya pada Elephant karya Gus Van Sant, dan kedua film ini menurut saya cukup ditonton sekali saja.

Enemy (2013)
Adaptasi dari novel The Double karya José Saramago yang ditulis oleh Javier Gullón, film surealis ini dibuka dengan sebuah scene surreal yang berlatar di sebuah klub rahasia di mana wanita menusuk tarantula dengan sepatu hak tinggi dan film ini menjadi semakin aneh setlah adegan itu. Jake Gyllenhaal berperan sebagai Adam, seorang profesor sejarah Toronto yang murung, hidupnya menjadi tidak tenang ketika dia melihat duplikatnya, Anthony Claire, berperan sebagai pelayan dalam komedi Kanada. Setelah Adam menghubunginya, kehidupannya dan kehidupan Anthony (dan kehidupan pasangan mereka, yang diperankan oleh Mélanie Laurent dan Sarah Gadon) mulai tumpang tindih dalam cara yang tidak nyaman sehingga menjadi perebutan kekuasaan. Difilmkan sebelum Prisoners tetapi dirilis setelahnya, disini Villeneuve sudah bermain-main dengan konvensi pembuatan film bergenre saat ia meng-injeksi momen-momen yang tampaknya biasa-biasa saja dengan rasa takut. Enemy adalah sebuah mindfuck dan studi karakter yang cukup berat, penonton perlu sedikit energi ekstra untuk mengkonsumsi yang satu ini.

Arrival (2016)
Diadaptasi oleh penulis skenario Eric Heisserer dari cerita pendek karya Ted Chiang, film ini dibintangi oleh Amy Adams sebagai Louise, seorang ahli bahasa yang terpanggil untuk bertindak ketika 12 pesawat ruang angkasa (UFO) misterius muncul secara tak terduga di seluruh dunia. Diambil dengan indah oleh DOP Bradford Young, film ini menggunakan warna abu-abu pucat dan warna hijau yang subtle untuk menciptakan suasana tidak nyaman yang semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Alien di film ini datang dalam bentuk makhluk humanoid yang berkaki banyak. Mereka memiliki kecerdasan namun dengan motif misterius yang tidak dapat dimengerti melalui cara komunikasi manusia. Kebutuhan untuk berkomunikasi dengan alien-alien ini berubah menjadi perlombaan melawan waktu ketika kapal-kapal dan pilot misterius mereka memicu krisis global yang mengancam. Terlepas dari semua unsur politik global, dan impending doom yang disebabkan oleh kedatangan alien-alien tersebut, Arrival tetap menjadi kisah tentang Louise, sebuah cerita mengenai nasib dan bagaimana kehidupan tidak dapat dipisahkan dari kematian. Tema sentral film ini mungkin dekat dengan Interstellar karya Christopher Nolan. In other words, jika kamu menyukai Interstellar, kemungkinan besar kamu akan menyukai yang satu ini.

Incendies (2010)
Selain mempertimbangkan kembali pendekatannya terhadap film, Villeneuve menghabiskan tahun-tahun setelah film pertamanya mengerjakan skenario untuk Polytechnique dan Incendies, yang dia buat satu demi satu. Sebuah adaptasi (ditulis bersama Valérie Beaugrand-Champagne) dari karya drama 2003 milik screenwriter Kanada asal Lebanon, Wajdi Mouawad. Drama tersebut beralih antara masa lalu dan masa kini karena menggambarkan sebuah tragedi yang cakupan penuhnya tidak akan terlihat sampai semua puzzle-nya telah tersusun. Ini adalah mahakarya sinematik yang bisa “triggering” untuk beberapa penonton, dengan cerita yang kuat dan kedalaman emosional. Sutradara Denis Villeneuve menciptakan narasi memukau yang mengungkap rahasia, ikatan keluarga, dan masa lalu yang menghantui dengan lokasi Timur Tengah yang menarik. Momen paling “berdarah” di Incendies datang dengan tiba-tiba dan mengejutkan, tetapi juga terasa seperti akibat yang tak terhindarkan dari kekuatan politik yang lebih besar dan siklus kekerasan multigenerasi, tema yang dia ulang kembali di Dune dan Sicario. Lagi-lagi, menurut saya plot-twist gelap di film ini hanya cukup ditonton sekali saja.

Prisoners (2013)
Villeneuve membuat lompatan dari Kanada ke Hollywood dengan sebuah film-noir tanpa kompromi yang dibintangi Hugh Jackman, Viola Davis, Terrence Howard, dan Maria Bello, masing-masing berperan sebagai Keller, Nancy, Franklin, dan Grace, orang tua dari dua gadis yang menghilang di kota kecil mereka di Pennsylvania pada hari saat Thanksgiving. Ketika karakter Jackman yakin dia telah menemukan pelakunya, seorang warga lokal bernama Alex (Paul Dano), dia mengambil tindakan sendiri bagai seorang vigilante, menyandera Alex dan menyiksanya untuk mengetahui detail dan rincian kejahatannya. Beberapa momen di film ini terasa seperti sebuah torture porn yang satisfying untuk beberapa penonton. Jake Gyllenhaal berperan sebagai Loki, detektif yang menangani kasus ini. Akting Gyllenhaal pun cukup intens di film ini. Ini juga film pertama dari tiga film Denis dimana dia berkerjasama dengan sinematografer legendaris Roger Deakins. Namun terlepas dari balas dendam, film ini tetap berakar pada kemanusiaan dimana Denis mengeksplorasi bagaimana sebuah kejahatan menghasilkan kejahatan baru.

Blade Runner 2049 (2017)
Respon Villeneuve terhadap film sci-fi masterpiece Blade Runner yang dibuat Ridley Scott di tahun 1982 adalah respon yang tepat. Denis membuang kerangka cerita film-noir dari karya originalnya untuk menjelajahi alam semesta yang lebih luas yang disarankan. Film ini mengikuti K (Ryan Gosling), seorang Blade Runner yang juga seorang replicant (android). K tergiring pada sebuah perjalanan yang akan membuatnya mempertanyakan hubungan antara manusia dan ciptaan androidnya. Pertanyaan lama yang sudah ditanyakan oleh Ridley Scott kembali ditanyakan lagi disini: Apa yang membuat manusia menjadi manusia? Harrison Ford kembali sebagai Blade Runner dari film OGnya, Rick Deckard. Film ini tidak kekurangan adegan action tetapi tetap memberikan banyak ruang untuk perenungan filosofis didalam dialog-dialog dan tema sentralnya. Kolaborasi Denis-Deakins lainnya, Blade Runner 2049 juga menawarkan visual yang menakjubkan: Tidak ada yang lebih berkesan dari reruntuhan Las Vegas. Mungkin ini bukan film untuk setiap orang, tetapi untuk para penggemar Blade Runner, film in adalah sebuah karya yang esensial. Dan sudah sepatutnya para penonton berterima kasih pada Denis untuk menghadirkan Ana de Armas sebagai AI sebesar billboard neon yang epik.

Sicario (2015)
Di shoot dengan indah oleh Roger Deakins, ditambah dengan set piece keren seperti scene pertempuran di terowongan gelap atau tembak-menembak yang intens di perbatasan, dibalut oleh scoring indah dari Jóhann Jóhannsson, Sicario memiliki semua elemen untuk menjadi film 10 out of 10. Performa Benicio Del Toro dan Josh Brolin pun menjadi aksen yang kuat untuk membuat Sicario jadi salah satu crime-saga paling keren yang pernah difilmkan. Denis juga ingin memperlihatkan kalau pemerintah, kartel narkotika dan polisi adalah para aktor abu-abu. There is no good guys here. Namun, sekali lagi, kerugian yang diakibatkan oleh konflik-konflik war on drugs inilah yang menjadi perhatian utamanya. Siapa saja para pelaku kejahatan multi-generasi ini? Siapa saja korban-nya? Pasangkan film ini dengan Incendies, dan kamu akan menemukan beberapa elemen yang berima dan senada.

Dune (2021)
Novel Dune memang sulit untuk di adaptasi. David Lynch dan Alejandro Jodorowsky gagal, dan karena kegagalan itulah yang George Lucas berhasil menjadikan Star Wars sebagai IP sci-fi paling sukses di dunia (padahal konon Lucas pun “meminjam” beberapa ide dari novel Dune karya Frank Herbert). Tapi di tahun 2021 dan 2024 adapatasi Dune yang berhasil akhirnya muncul ke permukaan. Setelah kesuksesan Dune ini, perlu diingat betapa mudahnya hal itu gagal. Novel Herbert kaya akan lore dan kental dengan tokoh-tokoh bernama unik seperti Glossu Rabban, Thufir Hawat, dan Duncan Idaho. Oke, yang terakhir mungkin tidak terlalu sulit. Ceritanya mencakup seluruh galaksi dan menampilkan banyak subplot, liku-liku, dan konspirasi. Tidak tanggung-tanggung seperti Terminator yang menggambarkan dunia pada tahun 2029 atau Blade Runner yang bersetting tahun 2019, Dune bersetting tahun 10,191. Dan sebagian besar cerita terjadi di gurun. Banyak sekali rintangan yang harus diselesaikan untuk membuat film ini, tetapi Villeneuve hampir membuatnya terlihat mudah melalui desain film yang imajinatif, CGI yang keren, dan plot yang jelas. Dune menampilkan dunia-dunia menakjubkan secara visual. Kepiawaian Denis memilih lokasi untuk beberapa set-pieces action yang intens pun kembali terlihat, seperti yang sebelumya dia lakukan di Sicario, khususnya serangan malam hari di Istana Arrakeen yang memenuhi langit dengan api. Namun, yang terpenting, ini adalah investasi film pada karakter-karakternya — khususnya calon mesias Paul Atreides (Timothée Chalamet), ibunya Lady Jessica (Rebecca Ferguson), dan (lebih lagi di Bagian Dua daripada film ini), mentornya di Fremen– kekasih Chani (Zendaya) — yang membuat Dune tetap membumi. Look out Star Wars, Dune akan segera menggeser posisi sebagai IP sci-fi terbaik untuk dekade ini.

Dune: Part Two (2024)
Tanpa rencana untuk membuat sekuel jika film pertama adaptasi Villeneuve tidak laku, Dune: Part Two tetap hadir dengan maksimal. Villeneuve konon sudah menyelesaikan Dune: Part Two ini jauh-jauh hari, walupun tidak ada kepastian untuk shooting. Ada juga beberapa rumor kalau adaptasi dari Dune Messiah dan beberapa alur cerita yang jelas-jelas mengisyaratkan mungkin ada lebih banyak lagi yang akan datang sudah mulai dikerjakan. Jika berbicara visual dan adegan epik, lihat saja rangkaian visual monokrom panjang di bawah matahari hitam planet Harkonnen dan scene Shai-Hulud yang menakjubkan. Membentang melintasi cakrawala di layar IMAX, memanjakan mata para penonton. Jika membicarakan sound design, arsitektur brutalist dan scoring film ini, mungkin artikel ini akan jadi terlalu panjang, so let’s skip that for another time. Beberapa kekuatan terbesar Dune: Part 2 ini bahkan tidak ada hubungannya dengan dunia Dune dan efek CGI. Semua aktor di film ini juga memainkan peran-nya masing-masing dengan sempurna (kecual Christopher Walken yang menurut saya sedikit miscast dengan aksen gangster Brooklyn-nya). Dune 1 dan Dune: Part 2 tidak bisa dipisahkan. Saya menganggap kedua film ini sebagai satu kesatuan, dimana Dune 1 mengenalkan backdrop dan backstory para karakternya, sedangkan Dune 2 bergerak dengan pacing yang lebih dinamis. Saran saya: Tontonlah kedua film ini back-to-back. Dan kamu akan mendapatkan experience yang tidak terlupakan.

Words by Aldy Kusumah

Preface
Lahir dan besar di Tokyo, Shinichiro Nakamura (lebih dikenal sebagai Sk8thing) telah menjadi tokoh penting dalam dunia streetwear selama lebih dari dua dekade. Meskipun ada banyak outlet untuk karya desainnya, portofolionya mencakup tugas bersama legenda-legenda industri street fashion seperti Nigo, dan kemudian Pharrell Williams. Resume desain grafisnya yang produktif sudah tampil di produk-produk BAPE, WTAPS, Human Made, dan Undercover. Dibalik karya-karya monumentalnya, hanya sedikit yang diketahui tentang desainer berpengaruh dan misterius ini. Mari menggali sedikit lebih dalam tentang pria dibalik topeng tersebut.

Pria misterius itu bernama Shinichiro Nakamura
Shinichiro Nakamura lahir di Tokyo pada tahun 1969. Minim sekali informasi mengenai masa kecil dan remajanya, kecuali fakta bahwa dia tidak menerima pendidikan seni rupa secara formal. Hiroshi Fujiwara memperkenalkan Sk8thing pada komputer Apple awal, dan dia segera mendalami software-software desain grafisnya. Dia dengan cepat membuat namanya terkenal sebagai desainer grafis dunia streetwear Tokyo, langkah besar pertamanya adalah mendirikan BAPE bersama Nigo setelah maraton menonton film sci-fi “Planet of the Apes” selama 5 jam. Di BAPE Sk8thing bertanggung jawab atas banyaknya grafis dan design-design awal perusahaan ini. Di tahun 2003 dia bertemu Toby Feltwell dari Mo’ Wax. Setelah bergabung dengan BAPE, Toby juga memperkenalkan Sk8thing kepada Pharrell Williams sebagai desainer grafis untuk label streetwear barunya BBC dan Ice Cream, yang mana Sk8thing tidak hanya menciptakan koleksi season awal tetapi juga logo terkenalnya. Bekerja sama di BAPE dan BBC/Ice Cream, Toby dan Sk8thing menemukan potensi kolaborasi mereka dan meletakkan dasar untuk mendirikan Cav Empt bersama Hishiyama Yutaka beberapa tahun kemudian.

Pengaruh Sk8thing di ekosistem streetwear Jepang
Selama 30 tahun terakhir Sk8thing telah menjadi pengaruh paling “obscure” namun mendominasi streetwear dan budaya Jepang hingga saat ini. Karyanya dalam desain grafis telah menjadi kekuatan pendorong bagi hampir setiap merek streetwear Jepang yang relevan sejak tahun 90an dan dia benar-benar ada di sana ketika beberapa nama paling ikonik di dunia streetwear mulai terbentuk. Untuk sebagian besar karirnya, Sk8thing memutuskan untuk tidak disebutkan namanya secara publik, biasanya mengenakan topeng atau menutupi wajahnya ke mana pun dia pergi. Dia mengatakan itu dimulai ketika dia masih kecil setelah dia menonton Phantom of the Opera, itu terkait dengan apa yang selalu dia rasakan di dalam dirinya. Pengalaman sinematik itu adalah manifestasi dari alter egonya, Sk8thing. Sk8thing akan selalu tetap anonim untuk memisahkan kehidupan pribadi dan profesionalnya yang menurut dia tidak penting untuk dimunculkan ke permukaan. Hiroshi Fujiwara (Fragment Design) bukan satu-satunya yang terpengaruh oleh Sk8thing karena pada tahun 1992, teman baik mereka bernama Nigo juga ingi memulai mereknya sendiri. Melalui koneksi-koneksi dengan para pionir tersebut akhirnya Sk8thing dipekerjakan full-time masih dan bekerja di toko Nowhere sebagai desainer grafis di mana dia mengembangkan beberapa desain paling terkenal untuk merek seperti Bathing Ape, Undercover, Neighborhood, dan banyak lagi.

Designer grafis misterius
Sk8thing juga memainkan peran integral dalam pengembangan banyak merek seperti Bounty Hunter oleh Hikaru Iwanaga dan Undercover oleh Jun Takahashi. Bounty Hunter dimulai sebagai perusahaan mainan vinyl, memproduksi karakter kecil yang dapat dikoleksi dan Sk8thing merancang salah satu mainan pertama untuk mereka yang diberi nama “Kid Hunter.” T-shirt dengan karakter tersebut juga dirilis yang merupakan usaha pertama Bounty Hunter di bidang fashion. Dengan Undercover, Jun Takahashi meminta Sk8thing untuk mendesain grafis dan juga koleksi SS 2001 miliknya yang berjudul “Chaotic Discord.” Sk8thing sangat sulit dipahami dalam hal identitas publik dan kepribadiannya. Meskipun banyak desainer dan orang dalam industri fashion ingin menarik perhatian media dan mendokumentasikan style mereka, Sk8thing lebih memilih untuk tidak menonjolkan diri dan tetap anonim. Faktanya, dia jarang terlihat tanpa masker. Dalam suatu interview Sk8thing mengenakan syal C.E. yang menutupi bagian bawah wajahnya. Yang lebih misterius lagi adalah bagaimana keseluruhan video disajikan melalui teks dengan suaranya yang diubah secara digital.

Di awal karirnya, Sk8thing bahkan menolak sebagian besar permintaan wawancara karena dia lebih suka berbicara melalui karyanya. Meskipun ia mampu untuk tetap berada di bawah radar saat bekerja untuk tokoh-tokoh besar yang sering tampil di hadapan publik seperti Nigo dan Hiroshi Fujiwara, salah satu pendiri C.E. memaksa Sk8thing untuk lebih menerima publisitas. Pendekatan Sk8thing terhadap desain dapat digambarkan sebagai tidak konvensional. Sulit membayangkan banyak desainer lain memilih untuk membalik logo Monster Energy atau memasukkan kutipan dari filsuf Perancis postmodernist ke-kirian seperti Jean Baudrillard. Meskipun karyanya di BAPE dan BBC dibatasi oleh estetika yang konsisten dan berbeda dari label-label tersebut; Sk8thing telah mampu mengekspresikan dirinya sepenuhnya setelah memulai C.E. Konon, Sk8thing juga banyak mengerjakan design-design untuk beberapa perusahaan terkenal yang dirahasiakan, dan dia tidak masalah menjadi ghost writer untuk perusahaan-perusahaan tersebut. Designer mana yang lebih keren dari Sk8thing di era foto selfie Instagram dan video OOTD Tik Tok ini? We praise you, lord.

Words by Aldy Kusumah

Wacko Maria adalah brand fashion asal Jepang, yang didirikan pada tahun 2005 oleh dua mantan pemain J-league (sepak bola profesional Jepang), Atsuhiko Mori dan Keiji Ishizuka. Wacko Maria memulai perjalanan-nya sebagai toko kaset yang berbasis di Tokyo dengan bar koktail yang ter-integrasi di dalam tokonya. Keiji Ishizuka dan Atsuhiko Mori membuat lini Wacko Maria pertama mereka pada tahun 2005 dan merek tersebut dengan cepat menjadi nama populer di Jepang. Dengan tagline dan motto perusahaan: “Music is the Trigger of Imaginations”, brand ini didefinisikan oleh musik sebagai fondasi terkuatnya. Wacko Maria juga merepresentasikan style yang glamor, nakal, klasik dan romantis di saat yang sama. Koleksi setiap season-nya dipengaruhi dan mendapat inspirasi dari musik, film, seni rupa dan tentunya pengalaman sehari-hari para kreatornya. Mereka telah berkolaborasi dengan sutradara film independen Jim Jarmusch dan Larry Clark, fotografer Tim Barber, dan berbagai IP terkenal semacam Ghost in the Shell sampai Basquiat.

Nama brand-nya, WACKO MARIA, adalah bahasa Latin untuk “Maria yang eksentrik”. Dengan konsep “orang dewasa kasar yang menyukai wanita, musik, alkohol, dan topi-topi stylishqq”, banyak item yang ditujukan untuk para profesional dengan style yang lebih laidback dan kenyamanan bahan dan kualitas ala brand artisan Jepang. Semua barangnya merupakan di develop dan di buat di Jepang. Dengan kualitas tinggi dan garansi bebas perawatan, bahan-bahan berkualitas tinggi khas industri Jepang, dan keahlian Jepang yang sangat memperhatikan detail, Wacko Maria adalah brand yang patut diperhitungkan. Produk mereka pun sangat bervariasi dari aksesori, T-shirt, hoodie, jaket, dan tentunya kemeja-kemeja Hawaiian andalan mereka.


Fanbase Wacko Maria pun terus bertambah. J-pop idol, para rocker, sampai DJ memakai produk-produk Wacko Maria dengan bangga. Dalam budaya Jepang, hal-hal seperti tato dan “premanisme” tidak disukai masyarakat, namun Wacko Maria memadukan hal ini dalam marketingnya dan image mereka dan benar-benar menangkap suasana seorang anggota Yakuza yang doyan party. Keseimbangan antara image bad boy dan culture party inilah yang membedakan mereka dari brand “nakal” yang lain.

 

Brand streetwear andalan Tokyo ini tentunya mengambil pengaruh besar dari budaya Amerika. Secara effortless Wacko Maria dengan mudah memadukan style jazz tahun 70an dan 80an dengan gaya rockabilly yang rebellious sehingga menciptakan looks unik yang keren. Label ini melahirkan banyak pengikut setelah beberapa proyek kolaborasi dengan WTAPS dan Porter Yoshida & Co, Nonnative, N. Hoolywood dan UNDERCOVER. Secara keseluruhan, WM dikenal luas karena pakaiannya yang banyak menggunakan aplikasi bordir yang dihiasi dengan tagline “PARADISE TOKYO” dan “GUILTY PARTIES,” yang merupakan penghormatan kepada distrik Nakameguro di Jepang dan Guilty Parties adalah merek turunan-nya. Meskipun Keiji Ishizuka kini telah pensiun, Atsuhiko Mori sampai sekarang tetap bertanggung jawab sebagai desainer dan creative director aktif sejak berdirinya perusahaan. Wacko Maria memiliki visi dan identitas yang jelas dan mereka terus berusaha mencapainya secara effortless. Mereka selalu nampak bersenang-senang dalam melakukan sesuatu, dan hal inilah yang jarang dilakukan oleh brand-brand lain saat ini.

 

Words by Aldy Kusumah

1 Maret 2024 adalah tanggal yang buruk untuk para penggemar Akira Toriyama. Beliau meninggal karena subdural hematoma (pendarahan di otak), dan cukup membuat shock kami dan teman-teman kami, yang tentunya massive otaku-nerds. Siapa yang tidak mengenal Akira Toriyama? Kami yakin sebagian besar dari kalian bertumbuh besar ditemani oleh komik dan anime karya-karya Akira Toriyama (Dragon Ball dan Dr. Slump). Dengan masifnya gempuran manga-manga dan anime-anime baru di era kontemporer ini, selalu ada tempat spesial di hati kita terhadap design iconic Akira Toriyama yang terlihat jelas dari rambut-rambut karakternya, dan garis-garis tegasnya yang sangat khas. Bukan hanya piawai dalam menggambar karakter, Akira Toriyama juga adalah salah satu ilustrator favorit kami yang sangat piawai dalam mendesain kendaraan futuristik dan arsitektur unik di karya-karyanya. Berikut ini adalah karya-karya iconic sensei Akira Toriyama yang tidak hanya berhenti di manga dan anime, tetapi cukup menonjol juga di dunia console gaming. Goodbye Sensei Akira Toriyama, thanks for all the memories.

Dragon Ball Series (1984 – Sekarang)
Ketika franchise Dragon Ball dimulai, manga ini adalah adaptasi bebas dari novel klasik Tiongkok Journey to the West, dengan Goku sebagai Sun Wukong dan Bulma sebagai Tang Sanzang. Uniknya Akira menggunakan latar dunia fiksi yang masih beraroma Asia, juga mengambil inspirasi dari beberapa budaya Asia termasuk Jepang, Tiongkok, India, Asia Tengah, budaya Arab, dan Indonesia. Pada awalanya Dragon Ball lebih menitikberatkan stylenya sebagai manga petualangan dengan gaya komedi yang khas, namun seiring berjalannya serialisasi, hal ini perlahan berubah, dan kemudian ia mengubah serial tersebut menjadi “manga pertarungan” shounen. Tidak hanya manga dan adaptasi animenya, Franchise Dragon Ball juga melebar ke industri game dan action figure.

Game Dragon Ball merupakan seri video game yang berdasarkan manga dan anime Dragon Ball. Seri ini mencakup berbagai genre, termasuk fighting game, RPG, dan action adventure. Game-game ini memungkinkan pemain untuk re-live cerita dan pertarungan epik antara Goku dan kawan-kawannya melawan berbagai musuh. Populer di seluruh dunia, seri ini terkenal dengan gameplay yang dinamis dan setia pada narasi aslinya, bahkan setelah hampir 40 tahun dari rilisan pertamanya. Walaupun ada beberapa rilisan Dragon Ball versi RPG dan action adventure, para fans Dragon Ball tentunya lebih menyukai adaptasi fighting game nya ketimbang genre lain.

Chrono Trigger (1995)
Chrono Trigger adalah game RPG klasik yang dikembangkan oleh Square Enix, pertama kali dirilis untuk Super Nintendo pada tahun 1995. Game ini terkenal karena ceritanya yang inovatif, yang melibatkan perjalanan waktu dan punya multi ending yang cukup unik di masa itu. Selain itu, Chrono Trigger memiliki gameplay yang menarik, dan musik yang sangat memorable. Dibuat oleh “Dream Team” termasuk Hironobu
Sakaguchi (Final Fantasy), Yuji Horii (Dragon Quest), dan Akira Toriyama. Walaupun game ini dirilis hampir 30 tahun yang lalu, Chrono Trigger tetap dianggap sebagai salah satu game terbaik sepanjang masa.

Dragon Quest (1986 – Sekarang)
Dragon Quest (dikenal sebagai Dragon Warrior di Amerika Utara) adalah franchise RPG klasik Jepang yang dibuat oleh Yuji Horii. Game ini bahkan lebih besar dari Final Fantasy di negara asalnya (Jepang). Konon pemerintah Jepang kadang memberi hari libur atau tanggal merah setiap rilisan baru dari game ini rilis. Game ini terkenal dengan elemen-elemen tradisional nya seperti turn-based combat, storytelling yang mendalam, dan tentunya desain karakter dari Akira Toriyama yang sangat iconic. Seri ini adalah benchmark dalam dunia RPG karena perannya dalam menetapkan fondasi bagi genre RPG dan masih populer di seluruh dunia walaupun game ini pertama kali dirilis pada tahun 1986, bahkan sebelum Final Fantasy rilis. Jika Final Fantasy terus berinovasi untuk membuat JRPG semakin modern, menariknya Dragon Quest adalah antitesis dari franchise FF, dengan cerita yang lebih simple dan gameplay RPG tradisional yang akan membuat para penggemar JRPG merasa nyaman seperti memakan masakan rumahan.

Dr. Slump (1980 – 1999)
Slump adalah serial manga Jepang yang ditulis dan diilustrasikan oleh Akira Toriyama. Manga ini diserialkan di majalah manga shōnen milik Shueisha Weekly Shonen Jump dari Februari 1980 hingga September 1984. Serial ini mengikuti petualangan lucu robot gadis kecil Arale Norimaki, penciptanya Senbei Norimaki, dan penduduk Desa Penguin lainnya yang nyentrik. Manga ini sempat diadaptasi menjadi serial televisi anime oleh Toei Animation yang ditayangkan di Fuji TV dari tahun 1981 hingga 1986. Seri remakenya ditayangkan dari tahun 1997 hingga 1999. Franchise ini juga telah menelurkan beberapa novel, video game, dan sebelas film animasi. Dr. Slump berisi permainan kata-kata dan humor toilet yang jorok, serta parodi budaya Jepang dan Amerika. Misalnya, salah satu karakter yang berulang adalah Suppaman, yang merupakan parodi dari Superman; Suppaman tidak bisa terbang, dan berpura-pura terbang dengan berbaring tengkurap di atas skateboard dan berlari di jalanan. Selain itu, salah satu polisi desa memakai helm stormtrooper bergaya Star Wars.

Blue Dragon (2006)
Blue Dragon adalah game RPG Jepang yang dikembangkan oleh Mistwalker dan Artoon, dirilis untuk Xbox 360 pada 2006. Ceritanya mengikuti petualangan lima sahabat yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan bayangan yang menyerupai naga. Game in menonjol dengan musiknya yang dibuat oleh Nobuo Uematsu (Final Fantasy) dan desain karakter oleh Akira Toriyama, sayang, karena dirilis di Xbox 360, game ini kurang terlalu dikenal bahkan di negara asalnya sendiri. Overall Blue Dragon adalah sebuah JRPG basic dengan cerita menarik, dan jika kamu menyukai Akira Toriyama, at least kalian harus mencoba memainkan game ini.

Tobal Series (1996 – 1997)
Tobal No 1 dan Tobal 2 adalah seri game 3D fighting yang dikembangkan oleh DreamFactory dan dirilis oleh Square (sekarang Square Enix) pada pertengahan tahun 1990-an untuk PlayStation. Seri ini terkenal karena grafiknya yang memukau pada masanya, battle mechanic yang kompleks, dan quest mode yang unik (dengan elemen RPG). Tobal No. 1 terutama dikenal karena menampilkan karakter yang didesain oleh Akira Toriyama. Sayangnya, Tobal 2 tidak dirilis di luar Jepang. Tetapi sequel ini dipuji karena jumlah karakternya yang banyak dan improved gameplay-nya di hampir segala aspek. Bayangkan saja game fighting ala Tekken dengan karakter yang di-design oleh Akira Toriyama.

Sand Land (2024)
Sand Land adalah manga pendek karya Akira Toriyama, Kisahnya berlatar di dunia post-apocalypse yang gersang ala Mad Max. Cerita Sand Land mengikuti petualangan Pangeran Beelzebub, Thief, dan pensiunan tentara Sherman dalam pencarian mereka akan sumber air baru. Sand Land dijadwalkan untuk rilis pada tahun 2024 ini, sayang Akira Toriyama tidak sempat memainkan versi final daro game ini karena belum rilis. Walaupun kami hanya melihat dari trailer yang sudah dirilis di Youtube, game ini nampaknya akan menjadi game Action RPG yang cukup menjanjikan. Apalagi dengan world-building ala Sensei Toriyama yang selalu menarik dan kompleks.

Words by Aldy Kusumah

 

Rilisan-rilisan menarik dari Fat Wreck Chords pasti pernah melintas di kehidupan kalian, entah itu pada saat kalian beranjak dewasa (SMP, SMA, Kuliah) ataupun ketika kalian baru mendengarkan rilisan FWC pada saat sudah bekerja. Rilisan-rilisan ikonik mereka seperti Lagwagon – Let’s Talk About Feelings (1998), No Use For A Name – More Betterness (1999), Hi-Standard – Angry Fist (1997), sampai NOFX – I Heard They Suck Live!! Sudah pasti pernah mampir di CD player ataupun menghiasi Winamp media player kamu pada saat itu. Untuk kasus saya, beberapa kaset-kaset bootleg rilisan Fat Wreck Chords pernah saya dapatkan di lapakan depan BIP (Bandung Indah Plaza) dan saya juga banyak menemukan CD bekas rilisan Fat Wreck di DU atau juga di lapakan-lapakan Cihapit. Roster-roster Fat Wreck Chords pun dikurasi dengan baik oleh Fat Mike (NOFX), selaku label owner. Band-band seperti The Ataris, Propagandhi, Rancid, Descendents, sampai Against Me! pernah merilis sesuatu di label ini, entah itu EP, album kompilasi, single, album live atau LP.

Uniknya, walaupun berfokus pada punk rock, roster artist Fat Wreck cukup bervariasi dari ska-punk (Mad Caddies), hardcore (Sick of it All) sampai folk punk (Joey Cape, Against Me!). Fat Mike (Mike Burkett) dan istrinya pada saat itu, Erin Burkett, menjalankan dan mendirikan label ini secara independen, sampai akhirnya menjadi salah satu label punk terbesar di dunia yang telah menjual jutaan keping album. Mereka juga sempat memberi royalty sebesar $50,000 untuk Propagandhi yang kemudian dipakai Chris Hannah dan Jord Samolesky untuk membuat record labelnya sendiri (G7 Welcoming Committee). Fat Wreck Chords benar-benar bersinar dan merilis beberapa rilisan terbaiknya pada tahun 1999. Jika tertarik untuk digging record label ini ataupun bernostalgia, berikut ini ada rilisan-rilisan Fat Wreck Chords favorit Jeurnals.

Rilisan Fat Wreck Chords favorit JEURNALS:

No Use For A Name – More Betterness (1999)
Jika pada “Leche Con Carne” mereka masih terdengar seperti Bad Religion, NUFAN sudah menemukan karakter kuat-nya sendiri di album ini. Album ini dipenuhi oleh riff-riff dan melodi gitar yang catchy, lirik-lirik yang cukup ikonik dan tentunya ada sebuah cover version dari The Pogues (‘Fairytale of New York’) juga disini.

Propagandhi – How to Clean Everything (1993)
Album debut yang fantastis dari band politikal asal Kanada. Dengan single-single yang masih relevan sampai sekarang: “Anti-Manifesto”, “Ska Sucks” dan “Haillie Sellasse, Up Your Ass” yang juga merupakan lagu anti-zionist dari Propagandhi. Mereka mencampurkan ritme punk, riff-riff metal klasik, ketukan sinkop yang teknikal dan ska kedalam musiknya yang unik.

Lagwagon – Let’s Talk About Feelings (1998)
Mungkin ini adalah album Lagwagon paling “emo”. Selain memiliki tracklist yang bagus, album ini juga sukses secara komersil karena lagu “May 16” ada di soundtrack Tony Hawk Pro Skater. Sebuah lagu yang paling personal dari Joey Cape ketika konon dia tidak diundang ke pernikahan sahabatnya terdekatnya.

The Ataris – Look Forward to Failure EP (1998)
Perkenalan pertama saya dengan The Ataris adalah dari lagu ‘San Dimas Highschool Football Rules’ yang terdapat di EP ini, dan kemudian mereka masukan ke album ikonik mereka yang berjudul “Blue Skies, Broken Hearts.. Next 12 Exits”. Mungkin ini adalah lagu cinta-monyet terbaik yang Kris Roe pernah tulis.

Me First and the Gimme Gimmes – Are a Drag (1999)
Me First adalah band all-star yang diperkuat oleh Joey Cape (Lagwagon), Fat Mike (NOFX), Chris Shiflett (Foo Fighters, No Use For A Name), Dave Raun (Lagwagon, Good Riddance) dan Spike Slawson (Swingin’ Utters). Menariknya, di album ini mereka mengkover lagu-lagu soundtrack dari film musikal (show tunes). Kapan lagi bisa mendengar versi punk dari lagu-lagu seperti “Over the Rainbow” dari film Wizard of Oz, “Favorite Things” dari The Sound of Music dan tentunya “Rainbow Connection” dari The Muppet Movie?

HI-STANDARD – Making The Road (1999)
“Making the Road” adalah album favorit saya dari trio punk rockers asal Jepang yang diperkuat oleh Ken Yokoyama (gitar, vokal), Akihiro Nanba (vokal, bass) dan almarhum Akira Tsuneoka (drums). Kover art nya pun cukup unik karena mengambil sebuah adegan dari film samurai Akira Kurosawa (Yojimbo). Album ini bereisi lagu-lagu terbaik mereka seperti Starry Night, Standing Still, Teenagers Are All Assholes, Stay Gold & tentunya sebuah kover dari Black Sabbath (‘Changes’).

Various Artist – Fat Music For Fat People (1994, compilation)
Ini adalah salah satu kompilasi terbaik yang pernah dirilis Fat Wreck. Tidak ada satu pun lagu buruk disini. CD ini dibuka oleh “Anti-Manifesto” dari Propagandhi, yang disambut oleh “Know it All” dari Lagwagon. Lalu Strung Out, Bracket, Face To Face sampai NOFX secara beruntun menghajar pendengar dengan single-single terbaik mereka.

Rise Against – Revolutions per Minute (2003)
Band melodic hardcore dengan lirik politikal ini memang kerap merilis album bagus, tetapi RPM10 atau Revolutions per Minute adalah album favorit saya. Tidak ada yang bisa mengalahkan album bagus yang dipenuhi lagu catchy, produksi maksimal dan lirik yang ditulis dengan baik. Tim McIlrath tampil prima disini.

Sick of it All – Call to Arms (1999)
Tentunya album terbaik yang pernah ditulis Lou dan Pete Koller bersaudara adalah “Built to Last” (1997), sayangnya “Built to Last” adalah rilisan Equal Vision dan kita sedang membahas Fat Wreck Chords disini. Tetapi sebagai follow-up dari album monumental tersebut, “Call to Arms” adalah sebuah album yang tidak kalah menarik dan dipenuhi lagu bagus dari track 1 sampai akhir. All killer no filler.

Against Me! – Reinventing Axl Rose (2019, reissue)
Ini adalah debut album dari Against Me! Yang juga menjadi rilisan pertama mereka yang ada instrumen gitar listrik, bass dan drums. Tom Gabel (sebelum bertransformasi menjadi Laura Jane Grace) menulis lirik-lirik terbaiknya di album ini. Walaupun kualitas vokal Tom Gabel tidak se-maksimal teknik vokal Laura Jane Grace di kemudian hari, album ini tetap menjadi album Against Me! Yang cukup ikonik karena masih ada unsur folk punk dan kami menyukai kualitas sound raw mereka juga disini sebelum mereka masuk major label (Sire Records) dan merilis New Wave yang juga tidak kalah menarik.

NOFX – The Decline EP (1999)
Mungkin ini adalah salah satu lagu terbaik NOFX. Komposisi dan aransmen mereka disini benar-benar out-of-the box. EP ini hanya berisi 1 lagu yang berjudul “The Decline” dan berdurasi 18 menit. Bayangkan saja aransmen komplex ala Bohemian Rhapsody milik Queen di-aplikasikan ke tubuh NOFX. JIka tidak sedang bercanda, NOFX bisa membuat karya epik seperti ini dan tetap having fun melakukannya.

Words by Aldy Kusumah

Rambutnya berminyak dan kulitnya penuh dengan tato klasik. Saat melakukan backside boardslide atau drop-in impossible tailgrab, Dylan lebih memilih untuk memakai kaos putih polos, atau kemeja hitam. Saat difoto sebagai model fashion dia sering mengenakan jaket kulit dan membawa gitar Takamine akustik. Ya Dylan Rieder lebih terlihat seperti bintang film dan rockstar ketimbang skateboarder yang umumnya memakai streetwear dan graphic T-shirt ketimbang pakaian polos. Rambut pria ini juga selalu terlihat fresh karena ayahnya adalah seorang barber terkenal dan Dylan tidak pernah dicukur oleh orang lain selain ayahnya. Dylan Rieder secara fisik terlihat seperti gabungan antara Johnny Depp muda dan Kit Harrington dari Game of Thrones. Tentu saja, semua ini tidak akan mungkin terjadi jika Dylan Rieder tidak sangat berbakat, dan itu adalah hal yang paling dia pedulikan. Penampilan-nya di video Supreme tahun 2014, “Cherry”, adalah salah satu skate-parts terbaik berdurasi empat menit yang pernah kamu lihat, apalagi part dia dihiasi oleh lagu “Never Tear Us Apart” dari INXS.

Tentu saja dia juga sangat tampan, dan itu membuat peralihan dari skater ke model fashion menjadi sangat mudah bagi Dylan. Namun sebelum Dylan banyak tampil di iklan dan fashion spread majalah fashion besar, Rieder dipuja karena gaya pribadinya, yang terlihat secara sempurna melengkapi style skating-nya yang effortless dan keren. Meskipun banyak yang masih menganggap fashion skate sebagai jeans longgar, T-shirt oversized, dan rantai dompet, Rieder lebih sering terlihat dengan kaus yang dimasukkan ke dalam celana denim hitam slim-fit. Dia adalah seseorang yang menolak untuk mematuhi definisi yang tepat tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang skater. Saat dia mendesain sepatu untuk Huf, hasilnya adalah sesuatu yang terlihat seperti sepatu kawinan ketimbang skate shoe atau sneakers. Tentunya, selain karir skateboardnya, Dylan Rieder juga mempunyai prestasi di dunia fashion dan modeling. Dylan banyak berkolaborasi dengan brand fashion ternama.

Pria yang lahir pada tanggal 26 Mei 1988, di Westminster, California ini mendapat pengakuan atas skill skating-nya yang luar biasa, ollie-nya yang tinggi dan style uniknya baik di dalam maupun di luar dunia skateboard. Karier skateboarding Dylan Rieder dimulai saat Dylan masih muda, dan dengan cepat dia dikenal karena gayanya yang smooth dan inovatif. Dia menjadi rider untuk berbagai brand skateboard, seperti Supreme, Alien Workshop, Osiris Shoes, Birdhouse, Fucking Awesome dan Quiksilver. Permainan skatingnya berada tepat diantara kombinasi trick technical, speed yang cepat dan estetika khas yang membedakannya dari banyak skateboarder lainnya. Tragisnya, Dylan Rieder meninggal dunia pada 12 Oktober 2016 di usia 28 tahun akibat komplikasi leukemia. Kematiannya yang terlalu dini merupakan kerugian besar bagi komunitas dan dunia skateboard. Dylan Rieder dikenang atas kontribusinya pada skateboarding dan fashion. Pengaruh Rieder melampaui kehebatan teknisnya dalam bermain skateboard; gaya dan pengaruhnya meninggalkan warisan abadi. Bahkan dia disebut sebagai skateboarder paling stylish oleh beberapa media. Siapa yang akan melupakan skate-part Dylan di Alien Workshop “Mindfield” dengan soundtrack Elliott Smith? Rest in power, Dylan.

Ini adalah beberapa video Terbaik Dylan Rieder favorit kami:

Supreme – Cherry

Alien Workshop – Mind Field

Gravis – Dylan

;

Dylan Rieder: True Blue

Street League best of 2013: Dylan Rieder

Shoegaze adalah subgenre alternatif-rock yang muncul pada akhir 1980an dan awal 1990an, ditandai dengan penggunaan reverb yang berat, efek delay, dan layer-layer suara distorsi/fuzz untuk menciptakan sound yang indah dan imersif. Istilah “shoegaze” diyakini berasal dari kecenderungan pemain untuk menatap sepatu mereka saat bermain, sebagian karena fokus pada pedal efek yang cukup complicated. Dengan adanya band-band nu-gaze, grunge gaze dan new wave of American shoegaze, revival genre shoegaze ini sendiri diramaikan oleh band-band seperti Nothing, Westkust, Ovlov, Gleemer, Teenage Wrist & Narrow Head. Bahkan band-band hardcore seperti Turnstile dan Title Fight pun mulai terpengaruh sound shoegaze ini. Anyway, berikut adalah 20 rilisan shoegaze (klasik & modern) yang menurut kami sangat esensial. Here goes..

20. Nothing – Tired of Tomorrow (2016)
Band Philadelphia ini terdiri dari veteran hardcore punk dengan vokalis mantan narapidana yang (sedikit) bermasalah. Di album kedua grup tersebut, “Tired of Tomorrow”, wordplay atau lirik vokalis Domenic Palermo sangat visual dan gamblang; pada “A.C.D. (Abcessive Compulsive Disorder),” permohonannya terhadap cintanya yang hilang digambarkan pada penggalan lirik: ““Swallow corrosive confection / Decay, rotting in your womb / I can wallow in your filth.” Dibalik gelapnya lirik-lirik Palermo, “Tired of Tomorrow” tetap terdengar indah, dilengkapi crescendo gitar yang anthemic dan suara serak Palermo yang tentunya mengacu pada Kurt Cobain. Album ini catchy dan bermain dengan dinamika pelan/keras yang pas. Album dari Nothing ini cukup menjadi gerbang pembuka untuk para pendengar generasi modern yang ingin memulai menggali lebih dalam mengenai shoegaze.

19. Pale Saints – In Ribbons (1992)
Pale Saints telah merilis debut mereka, “The Comforts of Madness”, ketika mantan eks-vokalis Lush, Meriel Barham, bergabung dengan lineup band ini di akhir tahun 1990. Pada saat mereka merekam LP terakhir mereka, Slow Buildings di tahun 1994, vokalis dan bassis pendiri Ian Masters telah pergi. Uniknya, masa-masa pergantian personil ini merupakan masa keemasan bagi band ini, yang berpuncak dengan “In Ribbons”, sebuah album shoegaze yang bagus dengan sensibilitas pop yang tinggi. Alih-alih melupakan shoegaze, musik mereka mungkin mendapatkan deskripsi genre yang berbeda jika mereka tidak terbentuk di Leeds pada akhir tahun 80-an. Kata “pain” muncul berulang-ulang di In Ribbons, dan dampaknya dapat meresahkan: Ada intensitas pada permainan drum Chris Cooper yang keras dan cepat pada “Ordeal” yang lebih mendekati musik industrial, sementara “Hair Shoes” dipenuhi oleh kecemasan. “Shell” adalah sebuah lagu slowcore, suara senarnya terdengar muram, instrumen glockenspiel, dan vokal kental ala Nico dari Masters memancarkan aroma depresi. Namun dengan semangat Meriel Barham yang menyeimbangkan suara Masters yang membosankan dan sedikit androgini, serta peran penting produser Hugh Jones yang membatasi suara feedback, “In Ribbons” adalah revisi dari “The Comforts of Madness” yang terdengar lebih terkonsep.

18. Chapterhouse – Whirlpool (1990)
Meskipun berasal dari Reading, Inggris, Chapterhouse menjadi lebih dikenal di skena independen London awal tahun 1990-an yang telah menghasilkan band-band seperti Lush dan Moose. Yang membedakan Chapterhouse, khususnya dengan perilisan debut full-length mereka “Whirlpool”, adalah kemampuan mereka untuk melakukan referensi silang dari genre-genre yang dekat dengan shoegaze, dan menggabungkannya secara kohesif menjadi sembilan lagu yang sempurna. Whirlpool dengan anggun membawa obor yang dinyalakan oleh nenek moyang soniknya hanya beberapa tahun sebelumnya, mengawinkan aspek indie-pop yang jangly dari My Bloody Valentine era awal (Geek! & This is Your Bloody Valentine) dan The Jesus and Mary Chain yang erat dengan ledakan distorsi gitar yang memekakkan telinga dan harmoni vokal berlayer yang mewakili shoegaze secara keseluruhan. Menggali lebih dalam ke masa lalu, Chapterhouse juga membantu memperkuat kehadiran elemen psikedelia tahun ‘60an di shoegaze, mengacu pada gitar wah-wah dan The Beatles era “Tomorrow Never Knows.” “Whirlpool” tetap menjadi album esensial dalam genre shoegaze, dan genre ini pun disempurnakan oleh Chapterhouse.

17. Drop Nineteen – Delaware (1992)
Dalam banyak hal, shoegaze dapat dianggap sebagai genre khas Inggris. Namanya tidak hanya diciptakan oleh media Inggris, namun sebagian besar band shoegaze memiliki kesamaan geografi yang mempengaruhi musik mereka. Namun, pada awal tahun 1990-an, segelintir band kontemporer AS memadukan musik rock kampus Amerika dengan karakteristik utama shoegaze, mengambil referensi dari band-band seperti Galaxie 500, Lilys, Swirlies dan Dinosaur Jr. dan mengawinkan sound gitar mereka yang tidak jelas dengan lirik introspektif. Drop Nineteens pun mengeksplor produksi atmosferik ala Kevin Shields dan kawan-kawan yang kuat secara sonik. “Delaware”, album debut Drop Nineteens dari Boston, memiliki aura romansa yang puitis yang sejalan dengan band-band alt-rock pada zamannya. Vokalis/gitaris Greg Ackell dan Paula Kelley menyanyikan lirik mengenai masa muda yang menyedihkan dan cinta pertama dengan vokal yang cukup khas. “Reberrymemberer” memunculkan kesan grungy yang mengingatkan pada momen-momen eksperimental Pixies. Beroperasi di bawah sorotan media mainstream dan terisolasi dari payung shoegaze secara bersamaan, “Delaware” menempatkan Drop Nineteens di liga mereka sendiri. Jika harus memilih album-album ’90an yang bernuansa shoegaze dari Amerika, saya akan menaruh “Delaware” diatas “In the Presence of Nothing” milik Lilys atau “Blonder Tongue Audio Baton” milik Swirlies.

16. Teenage Wrist – Chrome Neon Jesus (2018)
Teenage Wrist terdiri dari para alt rocker yang berbasis di LA dan ini adalah album debut mereka di Epitaph Records. “Chrome Neon Jesus” adalah sebuah album yang menyerupai ibadah alternatif nostalgia tahun ‘90an yang dikemas dalam elemen shoegaze dan grunge seperti band-band Catherine Wheel, Nirvana dan Slowdive. Meskipun rekaman ini mengingatkan pada sound yang populer di tahun ‘90an, namun tetap terasa menyegarkan dan orisinal mengingat rilisnya baru-baru ini. “Chrome Neon Jesus” dimulai dengan lagu dengan judul yang sama yang dengan sempurna menggambarkan apa yang dimaksud dengan Teenage Wrist. Lagunya upbeat dan catchy dengan sedikit sentuhan shoegaze — gitarnya dipenuhi efek pedal chorus dan vokalnya hampir tenggelam di latar belakang instrumen. Memang menenangkan, tapi juga keras, dan bagian reff-nya sangat catchy, seperti kebanyakan lagu di album ini.
Formula yang sama ditemukan di sebagian besar lagu dalam rekaman, seperti single utama “Dweeb”, “Swallow”, dan “Black Flamingo”. Namun pada “Supermachine” terasa sedikit lebih maskulin. “Spit” adalah lagu shoegaze yang lebih lambat dan tradisional, sama seperti lagu “Kibo” yang sebagian besar bersifat instrumental dan repetetif. Coba juga dengarkan EP mereka “Dazed” yang patut diberi gerakan tubuh “chef’s kiss”.

15. Title Fight – Hyperview (2015)
“Hyperview” adalah pernyataan tegas bahwa Title Fight tetap mengeksplorasi dan berani memberi penggemar mereka sesuatu yang berbeda. Album ini merupakan perubahan drastis dari apa pun yang pernah dilakukan oleh mereka berempat sebelumnya, baik dalam sound-nya yang indah maupun range-nya yang ambisius. 30 detik pertama dari lagu pembuka “Murder Your Memory” menyiratkan agresi langsung namun sebenarnya tentang berdamai dengan masa lalu dan bergerak maju. Hyperview paling menarik pada momen-momen yang tidak terlalu condong ke satu arah atau yang lain. Ambivalensi Title Fight di sini tidak boleh disalahartikan sebagai kepasifan; bahkan pada saat-saat paling “membosankan” sekalipun, Hyperview selalu terdengar berpotensi meledak. Title Fight mungkin jadi lebih pelan dan terlihat tidak memperdulikan reputasi hardcore mereka yang kuat, namun album ini membuktikan kalau Ned Russin dan kawan-kawannya bisa melakukan apa yang mereka mau dan tetap menghasilkan output yang bagus.

14. My Vitriol – Finelines (2001)
My Vitriol telah dibandingkan dengan banyak band lain, seperti Nirvana dan The Foo Fighters. Tapi, menurut saya mereka memiliki suara dan gaya orisinalnya sendiri. Salah satu alasannya adalah mereka orang Inggris, bukan orang Amerika (walaupun Som lahir di Sri Lanka). Saya selalu cenderung lebih menyukai band-band Amerika karena mereka tampaknya memiliki suara yang lebih berat dibandingkan dengan suara indie khas Brit-pop. Di situlah band ini mendobrak batasan stereotip yang diikuti banyak band Inggris. Saya rasa kamu akan dapat mengenali lagu My Vitriol, tidak hanya dari gaya musiknya, tetapi dari suara dan karisma suara Som Wardner. Dari mendengarkan “Finelines” (untuk ke-sekian kalinya), Saya dapat melihat bahwa ini hanyalah permulaan dari sebuah band yang kamu tahu akan bertahan lama. Tidak ada lagu yang gagal di album ini. Dari track pembuka “Alpha Waves”, disambut oleh hit single “Always: Your Way”, kemudian “The Gentle Art of Choking” sampai “Grounded”, tidak terasa kalian sudah mendengarkan setengah album ini tanpa cela. Saya anjurkan untuk mendengar album ini secara keseluruhan tanpa jeda. Dan coba juga degnarkan “Between The Lines” dimana mereka mengkover “Game of Pricks”-nya Guided by Voices. Jika kamu hanya membeli satu album nu gaze tahun ini, jadikanlah “Finelines” pilihanmu.

13. Parranoul – To See the Next Part of the Dream (2021)
Shoegaze didefinisikan oleh karakteristiknya yang halus, dan “To See the Next Part of the Dream” berfokus pada elemen itu. Parranoul adalah proyek shoegaze dari seorang musisi solois asal Korea Selatan yang anonymous. Dia memproduksi, merekam dan merilis album ini sendirian dan menurut kabar umurnya masih terbilang muda (22 tahun). Dia tidak ingin dikenal secara pribadi, menolak interview dengan berbagai media, dan tidak ada informasi sedikit pun mengenai identitas dan foto musisi ini. Pada tahun 2021, Parranoul merilis album yang cukup menjadi perbincangan di seluruh dunia. Bayangkan saja: sebuah album shoegaze bagus dari Korea Selatan. Ada sedikit sentuhan noise pop, emo dan post hardcore disini, tetapi Parranoul tetap menegaskan pendengar bahwa ini adalah album shoegaze mentok. Dengan gitar fuzz yang droning ala Kevin Shields dan produksi drum midi ala M83 awal, album ini langsung membuat saya jatuh cinta pada Parranoul. Parranoul sebenarnya merilis album lagi di 2023 yang lebih polished dan terkonsep, tetapi entah kenapa saya tetap kembali lagi mendengarkan “To See the Next Part of the Dream” di playlist saya.

12. Lush – Gala (1990)
“Gala” sebenarnya adalah sebuah kompilasi yang berisi beberapa extended play (EP) milik Lush, dan menampilkan empat lagu penting: “Sweetness and Light”, “Sunbathing”, “Breeze”, dan “De-Luxe”. EP ini menampilkan sound Lush yang indah dan halus, dengan tekstur gitar yang khas dan vokal unik Miki Berenyi. Jika kamu tertarik dengan scene shoegaze awal dan digging band-band shoegaze vokalis perempuan seperti Lush, “Gala” adalah album penting yang menangkap kualitas atmosfer dan sejauh mana dari genre tersebut bisa dibawa. Setelah “Gala”, Lush kemudian merilis beberapa album, termasuk “Spooky” dan “Lovelife”, dan mereka semakin berpengaruh di dunia musik alternatif sebelum hilang ditelan dunia.

11. Medicine – Shot Forth Self Living (1992)
“Shot Forth Self Living” adalah album studio debut band alt-rock asal Amerika bernama Medicine. Album ini dirilis pada tahun 1992. Medicine terkenal dengan perpaduan unsur-unsur noisy dari shoegaze dengan rock alternatif yang juga menampilkan elemen psikedelik. “Shot Forth Self Living” menampilkan wall-of-sound yang diciptakan oleh lapisan gitar dan efek, bersama dengan vokal halus Beth Thompson. Beberapa lagu terkenal dari album ini termasuk “Aruca”, “Defective”, dan “One More”. Album ini diterima dengan baik karena pendekatannya yang eksperimental dan menentang genre ini untuk berevolusi lebih jauh, dan album ini berkontribusi pada reputasi band dalam dunia musik alternatif dan shoegaze. Jika kamu penggemar musik rock yang berisik, bertekstur, dan sedikit eksperimental dari awal tahun ‘90-an, menjelajahi “Shot Forth Self Living” dari Medicine bisa menjadi pengalaman yang unik.

10. Blonde Redhead – 23 (2007)
Pada tahun 2007, trio Blonde Redhead dari New York telah dikenal selama lebih dari satu dekade sebagai art-rocker, dan menjadi favorit di skena indie New York ; DI album ”23” mereka sedikit merubah sound dan cara mereka merepresentasikan lagu-lagu mereka. Album ketujuh grup ini (dan pertama yang diproduksi sendiri), merupakan album yang terasa spontan dan penuh semangat. Simone dan Amedeo Pace menawarkan eksplorasi yang dalam pada gitar, permainan piano yang gloomy, dan sound perkusi hi-hat nyaring. Penyanyi Kazu Makino menyalurkan keajaiban yang depresif dari shoegaze klasik di dalam lagu-lagunya, dia mendesah dan berbisik dengan keanggunan, sementara vokal Amedeo Pace yang terdistorsi di “Publisher ” semakin mendekati suara blues, gitar math-rock, dan sentuhan elektronik minimalis yang halus. Sampai saat ini, sepertinya tidak ada yang berani mengeksplorasi dan berhasil memainkan formula seperti Blonde Redhead ini.

9. Catherine Wheel – Chrome (1993)
“Chrome” adalah album studio ketiga oleh band rock alternatif Inggris Catherine Wheel, dirilis pada tahun 1993. Catherine Wheel adalah bagian dari dunia musik alternatif dan shoegaze pada awal hingga pertengahan 1990-an. “Chrome” menampilkan perpaduan elemen rock alternatif dan shoegaze, dengan lapisan tekstur gitar dan atmosfer yang indah. Beberapa lagu terkenal dari album ini termasuk “Crank”, “The Nude”, “Show Me Mary”, dan “Judy Staring at the Sun”. Album ini secara umum diterima dengan baik oleh para kritikus dan menjadi favorit di kalangan penggemar genre shoegaze dan rock alternatif. Jika kamu menyukai musik dari era dan genre ini, “Chrome” dari Catherine Wheel bisa menjadi pengalaman yang sangat berharga. Fun fact, Robert Dickinson vokalis Catherine Wheel adalah sepupu dari Bruce Dickinson Iron Maiden.

8. Alcest – Souvenirs D’un Autre Monde (2007)
Alcest berhasil meleburkan batas antara black metal dan shoegaze: Ketika kedua genre itu mulai berkembang pada awal tahun 1990-an, kesamaannya tidak terlihat jelas. Namun pada awal tahun 2000-an, konvergensi keduanya tampaknya tidak bisa dihindari. Musisi Perancis Neige meninggalkan skena black metal pada tahun 2005 dengan EP debut dari band post-punk melankolisnya Amesoeurs, tetapi butuh album penuh pertama dari proyek berikutnya—”Souvenirs D’un Autre Monde” oleh Alcest—untuk menyempurnakan karyanya yang melampiaskan minat ganda Neige terhadap black metal dan shoegaze. Judul album 2007 ini jika diterjemahkan adalah “kenangan dari dunia lain”—oleh karena itu, Neige mengilhami enam lagunya dengan kombinasi gitar akustik dan distorsi yang melebur tanpa effort. Penulisan lagunya bahkan kadang lebih indah dari band-band shoegaze bahkan dream pop, bahkan ketika intensitas musik di lagu Alcest meningkat, secara struktural album ini tetap mengingatkan kita akan leluhur metal Alcest. Pada saat yang sama, ia menciptakan kembali shoegaze untuk abad baru, membuktikan betapa sumber daya sonik dapat diperbarui dengan teknologi modern. Dan seperti yang teman saya ucapkan ketika saya menyetel album ini: “Ini Alcest? Kok kaya Pale Saints?”

7. Slowdive – Souvlaki (1993)
Bisa dibilang, album ini menggambarkan apa yang dimaksud dengan shoegaze: gitar yang terdistorsi, perkusi yang khas, dan tekstur yang tidak jelas dengan perpaduan harmoni vokal pria dan wanita. Lirik berada di belakang rangkaian kebisingan yang holistik. Vokal digunakan hanya sebagai instrumen lain, dan kamu mungkin dimaafkan jika mendapat kesan bahwa rekaman tersebut murni instrumental pada saat pertama kali mendengarkannya. Hal ini dapat dicontohkan dengan baik dibandingkan dengan salah satu karya utama album ini, “Souvlaki Space Station”, yang lebih mengandalkan instrumentasi dibandingkan alur vokal Goswell yang berputar-putar di latar. “Machine Gun”, “When the Sun Hits” dan “Dagger” adalah anthem-anthem shoegaze klasik yang tidak akan hilang dimakan zaman. Jika di ensiklopedia ada segmen shoegaze, menurut saya kover album ini patut ditaruh disebelah kata “shoegaze” tersebut.

6. Adorable – Against Perfection (1993)
Naik turunnya Adorable mencerminkan shoegaze itu sendiri. Band ini memainkan pertunjukan pertama mereka pada bulan Januari 1991, tepat di awal fase shoegaze, dan merilis album debut mereka “Against Perfection” pada bulan Maret 1993, ketika Suede menjadi favorit di berbagai media. Adorable merilis serangkaian single yang cukup kuat untuk mengokohkan tempat mereka dalam skena shoegaze, termasuk lagu-lagu epik seperti “I’ll Be Your Saint” dan “Sistine Chapel Ceiling” yang catchy. “Sunshine Smile,” khususnya, memberikan contoh semua hal yang luar biasa tentang Adorable: riff gitar yang sangat indah dan kemudian meledak menjadi distorsi yang intens, suara lesu dari vokalis Pete Fijalkowski, yang sediki “meminjam” style menyanyi ala Ian McCulloch (Echo & The Bunnymen), dan tentunya departemen rhythm yang sangat pas. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, menurut saya sekarang kalian setel saja video klip “Homeboy” di Youtube and thank me later.

5. Curve – Doppelgänger (1992)
Inovasi hebat Curve adalah mengawinkan ritme elektronik yang rapat dengan serangan noise-pop yang kental. Sebelum debut “Doppelgänger” mereka pada tahun 1992, perpaduan itu tidak terdengar, tetapi Curve menjadi pionir sound yang akhirnya tersebar luas ini; doppelgänger mereka sendiri, Garbage, membuat album dengan perpaduan ini hanya beberapa tahun kemudian. Tetapi Curve memiliki ikatan yang lebih kuat dengan shoegaze dibandingkan Garbage, namun, bukan hanya karena timingnya namun juga artikulasinya: Vokalis Toni Halliday dan multi-instrumentalis Dean Garcia menyukai ketidakjelasan dalam suara dan gaya, membiarkan estetika menyatu, dan Curve lebih menyukai sensasi daripada lagu yang pop. Di Doppelgänger, duo ini menunjukkan melodi yang kuat dan itu terlihat pada riff dan ritme seperti halnya di lirik mereka sendiri. Halliday juga tetap unik dalam shoegaze: Dia adalah seorang penyanyi yang mendorong dirinya sendiri ke garis depan, mencuri perhatian kebisingan dan distorsi yang mengelilinginya, membuat Curve menonjol diantara band-band shoegaze lainnya yang lebih terdengar serupa.

4. The Verve – A Storm In Heaven (1993)
Jika kamu hanya mengenal The Verve lewat “Bittersweet Symphony”, maka kamu ketinggalan yang satu ini. Sebelum dikenal lewat album “Urban Hymns”, The Verve pernah membuat sebuah album shoegaze. “A Storm in Heaven” adalah album studio debut band rock Inggris The Verve, yang dirilis pada tahun 1993. Album ini menandai eksplorasi awal pengaruh psikedelik dan shoegaze dari The Verve sebelum mereka kemudian mencapai kesuksesan luas dengan album ketiga mereka, “Urban Hymns”.
“A Storm in Heaven” menampilkan lanskap suara yang indah dan atmosferik, serta aransemen musik yang luas. Album ini berisi lagu-lagu seperti “Slide Away”, “Star Sail”, dan “Already There”. Lagu-lagu ini menunjukkan kemampuan band untuk menciptakan lanskap sonik yang diambil dari berbagai pengaruh, termasuk shoegaze, psikedelia, dan spacerock ala Spacemen 3. Meskipun “A Storm in Heaven” tidak sukses secara komersil pada saat dirilis, lagu-lagu dari album ini mendapat pujian kritis dan dianggap sebagai karya penting dalam genre shoegaze dan rock alternatif. Jika kamu mengapresiasi musik rock atmosferik dan eksperimental, menjelajahi album ini dapat memberikan wawasan tentang evolusi musik awal The Verve.

3. Swervedriver – Mezcal Head (1993)
Mezcal Head” adalah album studio kedua oleh band rock alternatif Inggris Swervedriver. Album ini dirilis pada tahun 1993 dan sangat dihormati dalam genre shoegaze dan rock alternatif. Swervedriver, seperti Ride, sering dikaitkan dengan gerakan shoegaze. Yang membedakan Swervedriver dari band-band shoegaze lain seangkatan nya adalah Swervedriver lebih rocking dan sedikit lebih maskulin secara aransmen. “Mezcal Head” menampilkan lagu-lagu seperti “Duel”, “Last Train to Setansville”, dan “The Birds”. Album ini menampilkan kemampuan band ini untuk memadukan elemen shoegaze dengan suara yang lebih berorientasi rock, sehingga pengalaman saya pada saat mendengarkan album ini pun lebih dinamis dan bertenaga ketimbang mendengarkan MBV atau Ride, misalnya. Jika kamu penggemar musik rock alternatif atau shoegaze, “Mezcal Head” layak untuk di eksplore. Sound unik dan gaya penulisan lagu Swervedriver membuat mereka mendapatkan fanbase yang berdedikasi, dan album ini dianggap yang paling menonjol dalam diskografi mereka.

2. Ride – Nowhere (1990)
“Ride” adalah band rock alternatif Inggris yang dibentuk pada tahun 1988. Salah satu album mereka yang paling terkenal berjudul “Nowhere,” dirilis pada tahun 1990. “Nowhere” dianggap sebagai album shoegaze yang monumental, menampilkan sound yang cukup spesifik dan atmosferik dan ditandai dengan layering gitar, vokal halus, dan produksi yang rapih. Album ini berisi lagu-lagu seperti “Vapour Trail”, “Polar Bear”, dan title track “Nowhere”. Jika harus menyebut satu lagu untuk mendeskripsikan shoegaze pada orang awam, saya tentu akan memilih “Vapour Trail” yang timeless dan memiliki sensibilitas pop yang kuat. “Nowhere” milik Ride sering dianggap sebagai album klasik dalam genre shoegaze dan memiliki pengaruh yang bertahan lama pada skena musik alternatif dan indie. Jika kamu penggemar shoegaze atau rock alternatif, “Nowhere” adalah album yang sangat penting untuk dijelajahi.

1. My Bloody Valentine – Loveless (1991)
“Loveless” adalah album My Bloody Valentine yang dianggap sebagai album inovatif dan sangat berpengaruh dalam genre musik alternatif dan shoegaze. Dirilis pada tahun 1991, album ini adalah album studio kedua oleh band Irlandia ini, dan terkenal karena penggunaan efek gitar yang inovatif, atmosfer yang indah, layer-layer gitar yang kompleks dan teknik produksi yang rumit. Inovasi Sonik yang ditampilkan My Bloody Valentine (dipimpin oleh Kevin Shields) mendorong batas-batas dari apa yang bisa dicapai dengan gitar dan efek. Penggunaan tremolo-arm, distorsi kotor, dan kreasi tekstur sonik berlapis yang unik berkontribusi pada sound khas album ini. Wall-of-sound yang dihasilkan band ini menjadi ciri khas genre shoegaze. “Loveless” adalah sebuah album yang membawa pendengar ke dunia lain dengan sound dan atmosfer ethereal-nya. Lapisan suara gitar, lanskap sonik dan disonansi menciptakan pengalaman dreamlike dan membuat pengalaman mendengarkan album ini menjadi “berbeda” dari album-album lainnya di tahun 1991.

Menariknya, vokal pada “Loveless” sering kali diperlakukan sebagai instrumen lain daripada sebagai sarana lirik tradisional. Vokal Shields dan Bilinda Butcher terkubur dalam mix dan memperkaya tekstur musik secara keseluruhan. Pendekatan vokal mengawang ini menekankan pentingnya suara keseluruhan daripada elemen individual.
Produksi “Loveless” adalah elemen kunci kesuksesannya. Shields dan bandnya bereksperimen secara ekstensif dengan teknik produksi, termasuk penggunaan efek studio secara ekstensif dan metode rekaman yang tidak konvensional. Dan proses rekaman “Loveless” ini pun menghabiskan waktu 2 tahun dan konon hampir membuat bangkrut Creation Records karena memakan biaya sebesar Rp. 4,805,820,000,00. “Loveless” mempunyai dampak besar pada genre shoegaze dan musik alternatif secara keseluruhan. Pengaruhnya dapat didengar dalam karya band-band yang tak terhitung jumlahnya setelahnya. Hasil dari produksi rekaman ini adalah sebuah album yang terdengar futuristik dan abadi. Dan Kevin Shields adalah sang arsitek pionir untuk genre ini.

Words by Aldy Kusumah

Southern Lord adalah label rekaman independen yang berbasis di Los Angeles, California, yang mengkhususkan diri pada genre niche metal eksperimental seperti drone metal, stoner rock, heavy metal, doom metal, sludge, dan kemudian memperluas roster-nya dengan menyertakan rilisan-rilisan dari band black metal, hardcore punk, dan crust punk. Didirikan pada tahun 1998 oleh Greg Anderson, yang juga dikenal sebagai personil Sunn O))) dan Goatsnake. Southern Lord telah merilis album oleh beragam artis, antara lain Sunn O))), Power Trip, Nails, Earth, Boris, Pelican, dan Wolves in the Throne Room. Label ini terkenal atas dedikasinya terhadap musik underground dan komitmennya terhadap rilisan vinyl, sering kali menampilkan kemasan yang rumit dan rilisan-rilisan limited edition. Southern Lord telah mendapatkan reputasi keren karena rilisannya yang berkualitas tinggi dan telah memainkan peran penting dalam pertumbuhan scene metal bawah tanah.

Greg Anderson menjalani kehidupan ganda sebagai musisi dan pemilik label rekaman. Kadang kedua hal itu bertentangan satu sama lain, tetapi Greg Anderson berhasil menyeimbangkan kebutuhan label dengan kehidupan musisi eksperimental. Sebagai seorang musisi yang menjalankan sebuah label, Greg memiliki empati terhadap artis/musisi lain dan mencoba memperlakukan band-band di label tersebut sebagaimana dia (sebagai musisi) ingin diperlakukan oleh sebuah label. Kami yakin Greg Anderson pun sudah memiliki staff yang bisa mengurusi labelnya dengan baik saat dia melakukan ibadah touring bersama Sunn O))). Memang ada beberapa ejekan mengenai Southern Lord sebagai “beard metal” atau hipster metal, tapi ejekan-ejekan tersebut sama sekali tidak penting, karena kita semua tau Southern Lord is the real deal. Berikut adalah beberapa album terbaik Southern Lord favorit kami. Here goes the Southern Lord starter pack:

1. Sunn O))) – Black One
“Sunn O))) – Black One” adalah salah satu album drone metal yang esensial. Sunn O))). merilis “Black One” pada tahun 2005. Album ini mempunyai sound yang eksperimental dan penuh dengan riff-riff drone bertempo super-lambat, juga ditandai dengan karakter sound frekuensi yang sangat rendah, pengaruh black metal, gitar yang sangat terdistorsi, dan komposisi yang minimalis. “Black One” juga menampilkan kolaborasi dengan berbagai artis termasuk Malefic (Xasthur), Wrest (Leviathan), dan Oren Ambarchi. Album ini terkenal dengan tema gelap dan atmosferiknya, dengan lagu yang sering kali menampilkan drone yang panjang dan berkelanjutan serta nada disonan. Konon, Malefic (yang mengidap klaustrofobia) merekam vokalnya selagi dikurung didalam peti mati oleh duo pentolan Sunn O))), Greg Anderson dan Stephen O’Malley. Dengarkan yang satu ini menggunakan headphones / earphones.

2. Earth – The Bees Made Honey In The Lion’s Skull
Dylan Carson membuat Earth di tahun 1989 dan konon dialah yang menciptagan genre drone metal. Dylan Carson juga adalah sahabat dekat Kurt Cobain (yang diminta oleh Kurt untuk membelikan shotgun). Album studio kelima ini band drone metal Amerika ini dirilis pada tahun 2008. Earth dikenal dengan pendekatan ultra-minimalis dan atmosferiknya di genre drone metal, menggabungkan elemen musik ambient, country dan folk ke dalam sound mereka. “The Bees Made Honey in the Lion’s Skull” sering dipuji karena soundscapes sinematiknyai. Album ini menampilkan perpaduan drone gitar yang heavy dan terdistorsi, melodi yang menghantui, dan riff-riff Spaghetti western yang gelap. Ya, kami tau album “Hex” adalah album terbaik mereka, tetapi “The Bees Made Honey in the Lion’s Skull” adalah favorit kami.

3. Lair of The Minotaur – The Ultimate Destroyer
Lair of the Minotaur adalah band sludge metal yang sedikit obscure. Mereka dikenal karena sound-nya yang agresif dan heavy, dan sering kali mengambil inspirasi dari tema mitologi dan fantasi ala Tolkien. Salah satu album terbaik mereka yang berjudul “The Ultimate Destroyer” dirilis pada tahun 2006. Album ini memiliki karakter sound yang raw dan intens, menampilkan riff yang keren, drumming yang epik, dan vokal parau khas dari Steven Rathbone. Liriknya sering kali mendalami tema kekerasan, peperangan, dan pertarungan mitologi kuno, yang mencerminkan estetika dan image band ini secara keseluruhan. Siapa sangka, elemen-elemen doom metal, sludge dan thrash bisa dileburkan menjadi “ramuan” yang menarik oleh Lair of the Minotaur di album ini.

4. Wolves in the Throne Room – Celestial Lineage
“Celestial Lineage” adalah album ketiga dari band black metal Amerika Wolves in the Throne Room. Album ini dirilis pada tahun 2011, sebuah follow-up setelah album mereka “Two Hunters” (2007) yang banyak mendapat pujian kritis. Mirip dengan karya mereka sebelumnya, “Celestial Lineage” dicirikan oleh pendekatan atmosferik dan inspirasi alam Wolves in the Throne Room terhadap black metal. Album ini menampilkan campuran elemen black metal yang agresif yang dikombinasikan dengan part-part ambient, melodi, field recordings dan tekstur yang atmosferik. Secara lirik, “Celestial Lineage” melanjutkan eksplorasi band ini terhadap tema-tema yang berkaitan dengan alam, spiritualitas, dan mistisisme. Judul albumnya sendiri menunjukkan adanya hubungan dengan alam surgawi atau alam eksistensi yang lebih tinggi. Album ini semakin memperkuat reputasi Wolves in the Throne Room sebagai salah satu band terkemuka dalam genre black metal atmosferik yang epik.

5. The Secret – Solve et Coagula
Apa yang terjadi jika Converge bertemu dengan Darkthrone? The Secret adalah jawabannya. Band Itali ini pun berkesempatan untuk merekam album epik ini dengan produser yang tidak lain adalah Kurt Ballou dari Converge.

6. Boris – Pink
Kekuatan Pink hadir dengan influence yang besar dari shoegaze. Dari mengawangnya track pembuka “Farewell” hingga reverb basah di lagu “My Machine”, band yang mengambil nama mereka dari lagu Melvins juga menyalurkan sound-sound ala post-rock seperti Mogwai atau This Will Destroy You. Pada album ke 10-nya ini Boris memberikan sensasi lain yang tidak terdapat di album-album mereka sebelumnya. Sound gloomy ini tentunya muncul dari direksi trio gitaris Wata, bassis Takeshi (dengan bassline stoner metal dan garage rock) dan drummer Atsuo yang mengerjakannya Pink dengan eksplorasi maksimal. Namun Pink masih menggunakan noise metal. Dari riff hard rock “Pseudo Bread” dan sound kotor di “Nothing Special”. Track penutup adalah lagu “Just Abandoned Myself” yang berdurasi hampir 20 menit diputar, noisy, tetapi berhasil menutup album dengan epik. Dan lagi, ini adalah band yang yang sangat prolifik: 29 album, puluhan single, EP, kompilasi & split album. Tetapi diantara masifnya rilisan mereka, “Pink” tetap menjadi album yang sangat stand out bagi kami.

7. Power Trip – Nightmare Logic
Mungkin ini adalah satu-satunya rilisan Southern Lord yang mendapat nominasi Grammy Awards. Ini adalah salah satu album thrash “klasik” di era kontemporer ini. “Nightmare Logic” adalah album kedua oleh band thrash metal crossover asla Amerika, Power Trip. Ddirilis pada tahun 2017 dan menerima pujian kritis yang luas, dan membawa Power Trip menjadi salah satu band thrash metal modern yang mencapai titik mainstream. “Nightmare Logic” dicirikan oleh sound yang agresif dan berenergi tinggi, mengambil pengaruh dari band thrash metal klasik sambil memasukkan elemen modern ke dalam musik mereka. Album ini menampilkan riff cepat yang berotot, dentuman drum, dan vokal yang intens, menciptakan pengalaman sonik yang raw dan intens. Secara lirik, “Nightmare Logic” mengeksplorasi tema kerusakan masyarakat, korupsi politik, dan tema-tema personal. Almarhum Riley Gale adalah seorang legenda.

8. Sunn O))) & Boris – Altar
Sebuah split album yang dibuat oleh pionir drone Sunn O))) dan band metal eksperimental asal Jepang tentunya tidak bisa dilewatkan begitu saja. Membayangkan 5 orang ini berada di satu studio untuk merekam lagu-lagu epik ini saja sudah membuat kami merinding. Yang menarik dari “Altar” adalah bagaimana output kolaborasi ini ternyata bisa lebih “aksesibel” jika dibandingkan rilisan-rilisan personal dari Sunn O))) dan Boris.

9. Black Breath – Sentenced To Life
“Sentenced to Life” melanjutkan pendekatan agresif dan intens Black Breath terhadap sludge metal, memadukan unsur-unsur punk hardcore dan death metal ke dalam sound mereka. Album ini menampilkan riff-riff yang dahsyat, drum yang epik, dan vokal yang raw dan parau, menciptakan pengalaman sonik dengan intensitas tanpa henti. Secara lirik, “Sentenced to Life” mengeksplorasi tema keputusasaan, pembusukan, dan nihilisme, yang mencerminkan sifat musik yang suram dan tanpa kompromi. “Sentenced to Life” memantapkan reputasi Black Breath sebagai salah satu band sludge metal modern yang patut diperhitungkan. Bahkan untuk kalian yang tidak menyukai sludge pun, album ini tergolong “catchy” dan sangat aksesibel.

10. Om – Pilgrimage
Om adalah band bass/drum duo yang unik, mereka memadukan elemen-elemen dari stoner rock, drone, pengaruh musik Timur, dan tentunya riff-riff Black Sabbath. Pada album ini, Om adalah Al Cisneros (Sleep, Asbestosdeath, Shrinebuilder) dan drummer multi-talenta Chris Hakius (Sleep, Asbestosdeath). Direkam oleh produser Steve Albini (Nirvana), tentunya Pilgrimage bukan sembarang album. Pada rilisan ini, mereka akhirnya menemukan bahwa distorsi juga dapat memiliki efek meditatif. Heavy rocker utama dalam album ini adalah “Bhima’s Theme” yang berdurasi 11 menit penuh dengan Riff berlumpur droning yang dipengaruhi oleh gaya timur, permainan drum yang berat dan tribal, dan vokal khas Cisneros yang melambung dan melengking.

 

Words by Aldy Kusumah

Banksy: seniman jalanan dengan karya yang bernilai ratusan ribu dolar
Banksy adalah seorang seniman yang karya-karyanya selalu relevan dengan zaman. Aktivisme dan sikap politisnya tersiratkan dari karya-karyanya yang anti-otoritas dan sering kali menyindir pemerintahan, kapitalisme, dan kondisi manusia. menggambarkan distopia kontemporer. Ketika majalah Time memilih seniman asal Inggris, Banksy—ahli grafiti, pelukis, aktivis, pembuat film, dan provokator serba guna—untuk masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia pada tahun 2010, ia berada di tengah-tengah Barack Obama, Steve Jobs, dan Lady Gaga. Foto Banksy di majalah itu adalah sebuah self-potrait dirinya dengan kantong kertas (yang dapat didaur ulang, tentu saja) di atas kepalanya. Sebagian besar penggemarnya tidak benar-benar ingin tahu siapa dia (dan dengan keras memprotes upaya Fleet Street untuk membuka kedoknya). Namun mereka ingin mengikuti perkembangannya dari grafitti ilegal—atau, istilahnya, “bombing”—dinding di Bristol, Inggris, pada tahun 1990an hingga seniman ini memiliki karya-karya yang bernilai ratusan ribu dolar di rumah lelang internasional seperti Christie dan Sothebys. Saat ini, dia sudah bombing di kota-kota dari mulai Wina hingga San Francisco, Barcelona hingga Paris dan Detroit. Dan dia kadang beralih dari grafitti di tembok kota dan mulai melukis di atas kanvas, membuat patung konseptual, dan bahkan shooting proyek film, dengan film dokumenter “Exit Through the Gift Shop”, yang dinominasikan untuk Academy Award.

Inspirasi Banksy dalam menggunakan stensil
Pest Control, organisasi yang didirikan oleh seniman untuk mengautentikasi karya seni Banksy yang asli, juga melindunginya dari pihak luar yang ingin tahu mengenai identitas aslinya. Bersembunyi di balik kantong kertas, atau, yang lebih umum, email, Banksy tanpa henti mengontrol narasinya sendiri. Wawancara tatap muka terakhirnya terjadi pada tahun 2003. Meskipun ia berlindung di balik identitas yang dirahasiakan, ia menganjurkan hubungan langsung antara seorang seniman dan masyarakat umum. Banksy adalah seorang seniman yang mengembalikan dunia seni borjuis menjadi milik rakyat. Dari dulu, Banksy menetapkan aplikasi karya stensilnya yang khas pada grafiti. Ketika dia berusia 18 tahun, dia pernah dikejar polisi saat sedang bombing di sebuah kereta api bersama sekelompok temannya. Ketika Polisi Transportasi Inggris muncul dan semua orang berlarian. Banksy menghabiskan lebih dari satu jam bersembunyi di bawah truk dengan oli mesin bocor ke sekujur tubuh nya. Dari pengalaman itu Banksy memutuskan dia harus memotong setengah waktu “bombing”nya atau berhenti sama sekali. Banksy pun terinspirasi oleh stensil di bagian bawah tangki bahan bakar ketika sedang bersembunyi di bawah truk tersebut, dan dari situlah Banksy mulai menerapkan aplikasi stensil pada karya-karya grafittinya, sehingga membuat proses bombingnya jadi 2x lebih cepat dari seniman-seniman grafitti lain. Banksy juga menyukai sisi politiknya dari perpaduan grafitti dan stensil tersebut. Semua grafiti adalah perbedaan pendapat tingkat rendah, tetapi stensil memiliki sejarah tambahan menurutnya. Menurut sejarah stensil telah digunakan untuk memulai revolusi dan menghentikan perang.

Banksy dan anonimitas
Banksy adalah seniman dan aktivis jalanan kontemporer Inggris yang, meskipun terkenal secara internasional, tetap mempertahankan identitas anonimnya. Ditujukan sebagai bentuk kritik budaya, sang seniman sering menyasar agenda sosial dan politik yang sudah mapan dengan ilustrasi cerdasnya yang dibuat dengan stensil dan cat semprot di kota-kota seperti New Orleans, New York, dan Paris. Meskipun rincian kehidupan artis tersebut sebagian besar tidak diketahui, diperkirakan bahwa Banksy lahir di Bristol, Inggris, pada tahun 1974. Dia memulai karirnya sebagai seniman grafiti di kota. Pada tahun 2015, Banksy membuka Dismaland Bemusement Park, sebuah pameran seni kontemporer yang difungsikan sebagai taman hiburan, seperti Disneyland versi gelap. Setelah berjalan selama 36 hari, pekerja dan materialnya dikirim ke kamp migran Calais di Prancis untuk membangun perumahan tambahan. Di antara aksi seniman yang paling terkenal termasuk lukisannya yang tercabik-cabik: Ketika lukisan karya Banksy dijual di lelang seharga $1,4 juta pada tahun 2018, sebuah mekanisme dipicu yang menyebabkan karya seni tersebut hancur sebagian, menghasilkan karya baru berjudul Love in the Bin (Cinta di Tempat Sampah (Love in the Bin). 2018). Pertanyaan yang sedang berlangsung tentang siapa Banksy terus menjadi berita utama ketika pada tahun 2017 Robert Del Naja, penyanyi dari band trip-hop Massive Attack, dirumorkan sebagai Banksy. Dalam beberapa media, sempat ditulis bahwa jadwal tour Massive Attack selalu pas dengan aksi bombing Banksy di kota-kota tersebut. Goldie, seorang musisi trip hop pernah keceplosan dalam sebuah interview dan menyebut Banksy dengan nama “Robert”. Gaya Banksy dan penggunaan perampasan kulturnya telah melahirkan sejumlah seniman jalanan lainnya, termasuk Mr. Brainwash dan Alec Monopoly. Anonimitasnya menambah lapisan misteri pada kepribadiannya, dan hal itu telah memicu spekulasi dan minat terhadap dunia seni dan seterusnya. Beberapa kritikus berpendapat bahwa anonimitasnya memungkinkan fokusnya tetap pada seni itu sendiri, sementara yang lain mempertanyakan ketulusan seorang seniman yang tetap bersembunyi. Meskipun anonimitas Banksy telah memicu intrik dan spekulasi, hal ini juga menimbulkan perdebatan tentang peran identitas dalam dunia seni.

Mengembalikan seni ke jalanan
Karya seni Banksy sering muncul di jalanan, tembok, dan jembatan di berbagai kota di seluruh dunia. Gaya khasnya mencakup gambar stensil dan slogan-slogan yang tajam dan jenaka. Karya-karyanya bisa sangat mencolok secara visual dan menggugah pikiran. Tidak seperti seniman-seniman kebanyakan yang hanya memperhatikan aspek estetika dan terkadang terkesan pretensius, karya seni Banksy sering membahas masalah politik dan sosial. Karya-karyanya mencakup topik-topik seperti perang, kemiskinan, imigrasi, dan pengawasan, memberikan kritik terhadap sistem yang sudah mapan dan menantang status quo. Pesan dalam karya-karya Banksy juga gampang dimengerti karena menggunakan gaya bahasa yang lugas, sehingga orang awam pun bisa menikmati karya seni Banksy tanpa harus mengerti teori seni rupa atau menjadi penikmat seni terlebih dahulu. Yang membuat Banksy menarik adalah dia berhasil merahasiakan identitasnya. Banksy mulai lebih dikenal secara luas setelah menyutradarai film dokumenter “Exit Through the Gift Shop” pada tahun 2010. Film ini mengeksplorasi dunia seni jalanan dan menampilkan seniman jalanan terkemuka lainnya. Namun, beberapa aspek keaslian film tersebut masih diperdebatkan. Karya Banksy mempunyai dampak yang sangat signifikan terhadap seni dan budaya kontemporer. Karya-karyanya sering mendapat perhatian luas dan mendapat harga tinggi di pasar seni. Terlepas dari sifat seni jalanannya yang tidak sah, seni jalanannya telah dicari dan bahkan dilindungi dalam beberapa kasus. Seni Banksy tidak hanya tentang estetika tetapi juga berfungsi sebagai bentuk aktivisme. Dia menggunakan platformnya untuk menarik perhatian terhadap isu-isu sosial dan menantang masyarakat untuk berpikir kritis tentang dunia di sekitar mereka. Banksy bahkan berani menggambar di tembok Gaza Strip pada tahun 2005, dan selama dia menggambar, sniper Israel sudah membidik kepala nya. Ada sebuah gosip beredar mengenai Brad Pitt yang ingin sekali memiliki karya Banksy. Karena karya-karya Banksy itu sulit untuk dibeli, Brad Pitt memutuskan untuk membeli sebuah tanah dengan bangunan nya di Inggris, dimana ada grafitti Banksy di bangunan tersebut, lalu Brad Pitt memugar tembok tersebut dan menjual kembali bangunan nya. Semua penduduk Inggris pun selalu berharap Banksy suatu saat bombing di tembok rumahnya. Overall, Pengaruh Banksy terhadap dunia seni dan budaya populer tidak dapat disangkal, dan karya-karyanya yang menggugah pemikiran terus memicu diskusi tentang titik temu antara seni, politik, dan masyarakat. Banksy adalah seniman terpenting di abad ini.

Words by Aldy Kusumah