1990: Awal mula Fuct didirkan oleh Erik Brunetti dan Natas Kaupas
Brand ini lahir berdekatan dengan brand-brand ‘90an lainnya seperti Supreme. Fuct sudah pernah dipakai oleh Zack De La Rocha, sampai berkolaborasi dengan Rolling Stones. “Fuct” adalah brand streetwear yang didirikan oleh Erik Brunetti di Los Angeles pada tahun 1990. Merek ini terkenal dengan desainnya yang provokatif dan kontroversial, sering kali menampilkan bahasa eksplisit, pernyataan politik, dan citra satir. Nama “Fuct” sendiri menurut Erik Brunetti adalah singkatan dari “Friends U Can’t Trust”, tetapi Fuct merupakan plesetan dari pengucapan sumpah serapah “Fu*k”, dan merek tersebut telah menghadapi tantangan hukum terkait dengan namanya dan penggunaan bahasa eksplisit dalam desainnya. Pada tahun 2019, Mahkamah Agung AS memenangkan merek tersebut dalam kasus merek dagang. Pengadilan memutuskan bahwa penolakan Kantor Paten dan Merek Dagang AS untuk mendaftarkan merek dagang tersebut karena dianggap menyinggung perasaan melanggar perlindungan kebebasan berpendapat dalam Amandemen Pertama. Kasus ini menarik perhatian pada persinggungan antara undang-undang merek dagang dan Amandemen Pertama, yang menyoroti tantangan dalam mengatur merek dagang yang berpotensi menyinggung atau kontroversial. Keputusan tersebut memperkuat gagasan bahwa pemerintah tidak dapat menolak perlindungan merek berdasarkan konten atau sudut pandang yang diungkapkan oleh suatu merek.

Terlahir dari imajinasi liar Erik Brunetti
Erik Brunetti adalah seorang desainer streetwear dan pendiri merek pakaian “Fuct.” Lahir di Santa Monica, Kalifornia, Brunetti mendirikan Fuct di Los Angeles pada tahun 1990. Brand ini dengan cepat menjadi terkenal karena desainnya yang berani dan provokatif, yang sering kali menampilkan bahasa eksplisit, gambar satir, dan pernyataan politik. Fuct dikaitkan dengan etos streetwear yang kontra-budaya dan anti kemapanan. Brunetti telah terlibat dalam dunia streetwear dan skateboard, mengambil inspirasi dari subkultur dan bentuk seni alternatif. TIdak hanya mengambil inspirasi dari musik dan skateboard, Brunetti juga sangat terpengaruh oleh film-film klasik seperti Planet of the Apes dan Goodfellas (Martin Scorsese), sehingga kedua film tersebut pun menjadi salah satu design T-shirt Fuct yang ikonik. Karyanya dengan Fuct telah berkontribusi pada reputasi merek dalam mendorong batasan dan menantang norma-norma masyarakat melalui desainnya. Selain kiprahnya di bidang fashion, Erik Brunetti mendapat perhatian karena perselisihan hukum terkait pendaftaran merek dagang atas nama merek Fuct. Kantor Paten dan Merek Dagang AS awalnya menolak untuk mendaftarkan merek dagang tersebut, dengan alasan dianggap menyinggung. Namun, pada tahun 2019, Mahkamah Agung AS memenangkan Brunetti, dengan menyatakan bahwa penolakan tersebut melanggar perlindungan kebebasan berpendapat dalam Amandemen Pertama. Hingga Januari 2022, Erik Brunetti terus dikaitkan dengan Fuct, dan brand tersebut tetap menonjol di skena streetwear dan fashion internasional. Fuct adalah pionir, legenda dan sudah meraih cult status di dunia street fashion. Fuct dikenal juga karena beberapa desainnya mengandung bahasa dan gambar eksplisit yang mungkin dianggap menyinggung sebagian individu (malah terkadang sangat vulgar). Penggunaan konten tersebut disengaja dan sejalan dengan estetika merek yang provokatif dan style counter-culture mereka.

Campaign kolaborasi FUCT dengan Brand, musisi dan seniman
Sepanjang tahun 1990-an Fuct berpartner dengan fotografer Larry Clark dan Shawn Mortenson dalam berbagai campign. Subyek dan model yang di shoot Mortenson adalah Kate Moss, Snoop Dogg, The Notorious B.I.G., dan Keith Richards (Rolling Stones). Pada tahun 1998, seniman Kaws meminta Brunetti untuk berkolaborasi dalam sebuah iklan untuk rumah design Calvin Klein. Fuct juga pernah bekerjasama dengan brand pakaian rapper Beastie Boys Mike D, X-Large. Kemudian Fuct membuka pintu lokasi toko pertamanya, X-FUCT, pada tahun 1993. Terletak di Los Angeles, Kalifornia, interior X-FUCT dimodelkan menyerupai toko makanan; desain ini mencakup penggunaan counter daging bekas sebagai pajangan barang dagangan. X-FUCT merilis kolaborasi terbatas di seluruh toko operasional-nya selain menyimpan produk masing-masing merek. Setelah X-FUCT ditutup, Brunetti kembali mengoperasikan Fuct di rumahnya di Hollywood Hills. Pada tahun 2008, Fuct meluncurkan lini produk SSDD (Same Shit, Different Day) di Jepang. Bahasa desainnya menggabungkan motif yang terinspirasi oleh gerakan counter-culture Amerika pada tahun 1960an dan 70an. Produk SSDD dibuat di Jepang dengan pola size chart untuk market orang Asia yang lebih kecil. Pada tahun 2018, Fuct bermitra dengan merek streetwear FTP yang berbasis di Los Angeles untuk merilis capsule collection. Pada tahun 2019, Fuct bermitra dengan majalah Richardson untuk merilis capsule collection. Rilisan ini mencakup desain Fuct sebelumnya yang digabung dengan logo Richardson. Overall, Fuct adalah sebuah brand yang provokatif sejak pertama didirikan, namun sampai sekarang sepertinya tidak ada brand yang se-berani Fuct dalam merilis grafis-grafis yang provokatif dan politikal. Harga T-Shirt grafis Fuct pun selalu naik dengan fantastis setiap tahun nya, karena rilisan mereka yang memang terbatas dan tidak banyak dijual di toko-toko reseller. Jika kamu masih memiliki T-Shirt Fuct dengan design Goodfellas, coba saja dijual dan cek harganya di Ebay. Sampai saat ini, Fuct adalah brand yang selalu disebut oleh berbagai designer dan owner brand fashion lainya sebagai inspirasi. Erik Brunetti adalah seorang legenda.

Words by Aldy Kusumah

“Setelah Anda mengatasi hambatan subtitle setinggi satu inci, Anda akan diperkenalkan dengan lebih banyak film menakjubkan.” — Bong Joon-ho (Parasite, Memories of Murder, The Host)

Ledakan arus K-Pop dan K-Drama di era kontemporer tidak dapat dihindarkan, ketika semua kalangan (bahkan metalheads) menikmati album terbaru dari NewJeans dan Le Sserafim, dan streaming history (hampir) setiap pengguna Netflix dan Disney Plus adalah serial Korea. Tetapi bagi saya pribadi, sebelum K-Pop dan K-Drama saya terpapar oleh sinema Korea lebih dulu. Semenjak menonton film-film seperti Oldboy dan Memories of Murder di tahun 2000an, saya langsung digging film-film Korean new wave ini. Para sineas Korea memang terlihat lebih menyukai genre neo noir, horror dan action. Dan rata-rata ketiga genre tersebut men-glorifikasi kekerasan, bahkan kebanyakan menampilkan gore-level yang cukup tinggi. Sebut saja I Saw The Devil & Oldboy, unsur gore realistis yang ditampilkan di film-film ini tentu akan membuat penggemar film blockbuster Hollywood sedikit kaget. Mayoritas film Hollywood lebih menampilkan reaction shot wajah korban penusukan pada saat ditusuk (off screen kills), sebaliknya film-film Korea malah zoom in pada pisau yang menancap di perut sang korban. And most of the times, the violence works very well, dan kekerasan yang di glorifikasi tersebut menjadi “bumbu” penyedap yang membuat tone dan mood film lebih terbentuk.

Tidak bisa dipungkiri, nama-nama sutradara seperti Park Chan-wook, Bong Joon-ho, Kim Ki-duk dan Na Hong-jin adalah para auteur yang ada di garda terdepan sinema Korea. Jika pada video klip K-Pop dan serial K-Drama kalian banyak melihat coloring warna yang bright dan dipenuhi warna-warna pastel, para sineas ini malah bereksperimen dengan warna gelap, tone yang suram dan tentunya sedikit berbanding terbalik dengan citarasa bright yang menjadi template video Korea kebanyakan. Meskipun sejarah perfilman Korea ditandai oleh sensor dan lanskap politik yang bergejolak, industri film di negara tersebut telah mengalami kebangkitan yang sangat pesat sejak pertengahan tahun 1990an. Para filmmaker muda mulai terlibat dalam komentar politik yang relevan dalam karya-karyanya serta menghidupkan kembali eksperimen dengan genre. Upaya mereka membantu membuka jalan bagi kesuksesan global untuk film-film Korea baru-baru ini, termasuk penghargaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Parasite (2019) karya Bong Joon-ho yang menjadi film non-Inggris pertama yang memenangkan Oscar untuk Film Terbaik.

Komentar sosio politik bahkan merambah dunia film thriller aksi box office, sebuah genre yang menjadi sumber arus uang yang menggiurkan di Korea pada tahun 1990-an. Munculnya film action-thriller banyak disebabkan oleh pengaruh budaya Amerika, namun film seperti Shiri (1999), I Saw The Devil (2010), Crying Fist (2005) dan Tube (2003) membuktikan bahwa Korea dapat memproduksi film aksinya sendiri yang berkualitas tinggi dan menghasilkan keuntungan besar. Setelah Bong Joon-ho merilis Memories of Murder (2003), baik penggemar film Korea maupun internasional sudah menantikan karya berikutnya. Ketika filmnya The Host dirilis pada tahun 2006, film tersebut dengan cepat menjadi film terlaris di box office Korea yang pernah tercatat. Secara internasional, film tersebut diberi label, “film monster terbaik sejak Jaws.” Bong Joon-ho dengan lugas dan effortless bisa berpindah-pindah genre di setiap filmnya. Begitu pula dengan Park Chan Wook dan Na Hong Jin. Park Chan-wook mulai dilirik media dan publik setelah merilis Oldboy pada tahun 2003 yang langsung menjadi film favorit Quentin Tarantino. Konon, hanya Tarantino yang memberikan standing applause di festival film Cannes untuk film yang mempunyai tema (sangat) disturbing tersebut. Park memang dikenal lewat trilogi balas dendam Sympathy For Mr. Vengeance (2002), Oldboy (2003) & Sympathy For Lady Vengeance (2005) yang bergenre revenge-thriller, tetapi Park sebelumnya pernah membuat action-thriller yang menjadi sleeper hit berjudul Joint Security Area (2000). Lalu dia pun membuat rom-com (I’m Cyborg But That’s OK), horror (Thirst), sci-fi (Snowpiercer) sampai neo-noir (Decision To Leave). Jika Kim Ki-duk lebih bermain di area arthouse dan drama (3-Iron, filmnya yang paling terkenal hanya memiliki sedikit dialog), Na Hong-jin memilih untuk bermain di area neo-noir, police procedural dan detective thriller di The Chaser (2008) dan The Yellow Sea (2010). Tetapi dia banting setir ketika mendirect The Wailing (2016), sebuah film horror bertema supernatural, yang kemudian dia lanjutkan di The Medium (2021), sebuah film produksi Korea Selatan dan Thailand, walau kali ini dia bertindak sebagai produser. Jika kalian tertarik untuk digging film-film Korean New Wave ini, kalian bisa memulainya dengan beberapa rekomendasi dari kami:

Oldboy (Park Chan-wook, 2003)

Memories of Murder (Bong Joon-ho, 2003)

I Saw The Devil (Kim Jee-woon, 2010)

The Host (Bong Joon-ho, 2006)

The Chaser (Na Hong-jin, 2008)

The Wailing (Na Hong-jin, 2016)

Words by Aldy Kusumah

Seniman yang satu ini sudah tentu memiliki karya-karaya dan visual yang sangat iconic. Kolaborasi-kolaborasinya cukup masif, diantaranya adalah collab dengan brand dan seniman seperti seperti Puma, Stella McCartney, The Weeknd dan Pornhub. Hajime Sorayama lahir di Jepang dan lulus pada tahun 1969 dari Chubi Central Art School di Tokyo. Dia memulai karirnya di bidang periklanan sebelum menjadi pekerja freelance di Hollywood, di mana dia membantu memproduksi visual untuk sebuah film fiksi ilmiah. Karya-karyanya selalu berputar diantara gambar wanita, robot, dan erotisme, dan outputnya cukup dikenal baik di dalam maupun di luar Jepang. Dia adalah salah satu seniman langka yang diakui sekaligus oleh institusi paling bergengsi di dunia seni, serta oleh rumah fashion Haute-Couture terkenal, publikasi erotis, dan perusahaan multinasional yang berspesialisasi dalam teknologi baru. Karena Hajime berhasil memadukan senirupa, sci-fi, erotisme dan design secara effortless di setiap karyanya.

Karya Sorayama yang berfokus pada pencarian keindahan tubuh manusia dan mesin menerima pengakuan internasional yang tinggi, dan karya khasnya yang berjudul, “Sexy Robot” (1978-) telah menjadi visual yang ikonik. Reputasinya terpapar di seluruh dunia. Penggambaran yang memadukan keindahan estetika tubuh perempuan ke dalam konteks robot ternyata memberikan pengaruh yang signifikan terhadap formulasi citra robotik selanjutnya. Pada tahun 1999, ia memenangkan Good Design Award dan Grand Prize Festival Seni Media atas karyanya dengan Sony dalam desain konsep robot hiburan mereka ‘AIBO.’ Sorayama tinggal dan bekerja di Tokyo, Jepang. Karya-karyanya menjadi koleksi tetap Museum of Modern Art di New York dan Smithsonian Institution di Washington DC.

Belakangan ini, Hajime Sorayama secara terbuka mengontak Beyoncé mengenai visual yang dia gunakan dalam tur film RENAISSANCE yang sedang berlangsung. Grafik yang dimaksud Sorayama menunjukkan Beyoncé mengenakan hiasan kepala bot cyber femme dan setelan yang mirip dengan estetika lukisan yang terkenal dari seniman Jepang tersebut (terutama pada seri “Sexy Robot” nya). Di Instagram, Sorayama mem-posting ulang gambar dari tour tersebut, dengan cuek berkomentar: “Yo @beyonce, You should have asked me “officially” so that I could make much better work for you as like my man @theweeknd .” Pada saat artikel ini ditulis, masih belum jelas, setidaknya secara publik, apakah tim Beyoncé telah menanggapi tuduhan tersebut. Masih banyak kasus “penjiplakan” lain yang menimpa Sorayama, tetapi dengan karya-karya yang ikonik, seperti sudah tidak perlu dijelaskan lagi siapa pencipta ilustrasi-ilustrasi “Sexy Robot” tersebut. Sorayama adalah seorang living legend.

 

Words by Aldy Kusumah

Dari film-film kelas Oscar, art-house, film horror independen, animasi, sampai action film action, menghiasi deretan film-film favorit JEURNALS untuk tahun 2023 ini yang sangat bervariasi. Ini adalah beberapa film yang sangat stand-out di tahun ini.

The Killer (Dir. David Fincher)
Michael Fassbender berperan sebagai pembunuh bayaran yang akhirnya menjadi target setelah pekerjaannya gagal. Sebuah thriller prosedural dari David Fincher (Seven, Fight Club, Gone Girl) yang presisi selalu menarik untuk ditonton. Fassbender dengan piawai memainkan seorang pembunuh bayaran yang dingin dan penuh kalkulasi. Melihat Fassbender melakukan gerakan yoga sambil mendengarkan The Smiths di film ini sangat menghibur dan meresahkan di saat yang sama.

Barbie (Dir. Greta Gerwig)
Anda tidak akan menemukan kritik terhadap pabrik mainan Mattel dalam Barbie karya Greta Gerwig, namun ada pesan-pesan self-empowerment, kritik terhadap budaya patriarki dan sedikit feminisme yang penting untuk diamini para penonton wanita dan para ayah yang mempunyai anak perempuan. Beberapa lelucon Greta lucu (Stephen Malkmus dan Pavement di-mention Ryan Gosling di sebuah dialog dan cuma saya sendiri yang tertawa di bioskop) dan ada beberapa yang cringe, tetapi tempo film yang cepat dan keberhasilannya untuk menampilkan hal-hal spektakuler membuat film ini fun untuk ditonton. Akting penuh komitmen Robbie dan Gosling membuat film ini tetap bertahan sampai end-credits akhir. Berdasarkan hukum karma box-office, setiap daftar film-film terbaik 2023 yang menyertakan “Oppenheimer” karya Christopher Nolan juga harus menyertakan Barbie karya Greta Gerwig, dan sebaliknya. Bagi siapa pun yang hidup hingga tahun 2023, keduanya akan selamanya bersatu dalam sebutan “Barbenheimer”. Barbie bahkan bukan film Greta Gerwig favorit saya (Little Women!!) — Tetapi apa pun yang dilakukan Gerwig selanjutnya, akan saya tonton dan tentunya akan saya tunggu.

Suzume (Dir. Makoto Shinkai)
Angin puyuh monster bertentakel, portal antar dimensi, dan kursi berbicara membentuk dunia fantasi supernatural yang menakjubkan dari sutradara Your Name & Weathering With You ini. Lupakanlah era emo Makoto Shinkai dalam “5 Centimeters per Second” dan “Garden of Words”, disini imajinasi Shinkai akan menyajikan visual yang sangat indah dan superficial. Tetapi momen-momennya yang lebih membumi tetap sama indahnya.

Talk to Me (Dir. Danny & Michael Philippou)
Horor remaja era media sosial ini menarik perhatian dengan bantuan tangan keramik jahat yang memungkinkan makhluk hidup dirasuki oleh roh tanpa tubuh. Sebuah ide yang segar dan eksekusi yang sangat efisien, “Talk to Me” berhasil meng-elevate ide-ide cerita dimana karakter-karakter bermain dengan jelangkung atau papan Ouija. Luapakanlah jump-scare murahan dari James Wan dan sambutlah duo sutradara horror pendatang baru ini.

Anatomy Of A Fall (Dir. Justine Triet)
Drama psikologis pemenang Palme d’Or yang sangat cerdas ini mengadili seorang istri yang dicurigai bertanggung-jawab atas kematian suaminya yang kejam. Sang istri Sandra mempertahankan kepolosannya, namun ia adalah seorang wanita yang cerdas sehingga ‘polos’ bukanlah label yang cocok untuknya. Dalam setiap reaksi simpatik, ada sedikit manipulas dalam diri Sandrai; dalam setiap flashback penuh amarah, sekilas terlihat sesuatu yang dingin… Di antara dua kutub absolut antara ‘bersalah’ dan ‘tidak bersalah’ terdapat spektrum kesalahan dan keterlibatan yang beragam. Anatomy of a Fall menavigasi kekeliruan moral ini dan mengungkap absurditas dalam mencoba mengambil keputusan biner yang sederhana darinya. Film ini adalah contoh bagaimana sebuah film bisa berhasil dalam beberapa genre sekaligus: Sebagai film thriller menegangkan yang membuat penonton terus bertanya siapa-, bagaimana-, dan mengapa hingga frame terakhir dan seterusnya, sebagai drama ruang sidang yang menegangkan, dan sebagai potret pernikahan yang retak dilihat dari serangkaian perspektif yang sedikit berubah. Sutradara Justine Triet berhasil membuat durasi dua setengah jam dari misteri pembunuhan art-house ini terasa lebih pendek daripada satu jam episode serial TV.

Oppenheimer (Dir. Christopher Nolan)
Epik sci-fi Christopher Nolan yang (sangat) serius tentang ‘bapak bom atom’ J. Robert Oppenheimer ini berfokus pada konfrontasi ruang sidang yang bertele-tele, tetapi sentuhan visual yang indah – dan penampilan introspektif Cillian Murphy yang layak dapat piala Oscar – menempatkan “Oppenheimer” jadi salah satu karya terbaik Christopher Nolan. Oppenheimer dengan cermat mewujudkan dunianya, mulai dari ruang kelas Berkeley hingga uji coba bom Trinity. Scoring Ludwig Göransson terus berlanjut; string-stringnya yang melengking dan crescendo yang obsesif membawa film ini ke level yang lebih indah. Sebuah pencapaian yang berhasil dari sisi narasi, teknis, visual dan suara. Siapa yang tidak merinding pada saat Oppenheimer berhasil meledakan bom atomnya dan membayangkan korban-korban dari pencapaian ilmiahnya?

Past Lives (Dir. Celine Song)
Chemistry instan bukanlah segalanya dan tolak ukur dalam urusan cinta. Film pertama Celine Song ini secara diam-diam berhasil menumbangkan konvensi romantic-comedy dengan cemerlang. Yang lebih luar biasa lagi adalah perlakuan seimbang dari kedua karakter pria di film ini, kegagahan mereka memungkinkan mereka diperlihatkan sebagai 2 pria yang menginginkan wanita yang sama, namun siap melepaskan wanita tersebut jika wanita itu menginginkannya. Sebuah drama yang sangat grounded dan di shot dengan indah, dimana penonton akan terbawa di momen-momen intim ketiga karakter tersebut dan turut merasakan keresahan, kesedihan dan closure yang diberikan film ini.

The Boy And The Heron (Dir. Hayao Miyazaki)
Film baru Hayao Miyazaki yang mistis – yang tidak lagi menjadi ‘yang terakhir’ – adalah pengalaman yang mendebarkan dan menyajikan hingar-bingar yang secara bertahap membuka diri terhadap sesuatu yang besar, bahkan apokaliptik. The Boy and the Heron adalah kisah tentang perlunya seseorang mengakui dan menerima tanggung jawab – Saya melihat ini adalah tentang dunia Studio Ghibli yang lahir dari imajinasi liar Miyazaki, dan bisa hancur seketika tanpa ada penerusnya. Sebuah dialog antara Miyazaki dengan inner childnya, dan sebuah metafora fantastis tentang menerima kematian. Semua ini divisualisasikan melalui serangkaian lanskap surealis dan berskala epik, tentunya dengan scoring Joe Hisaishi. Memang bukan karya terbaik Miyazaki, tetapi animasi mana yang bisa menandingi The Boy and the Heron di tahun 2023 ini?

Killers Of The Flower Moon (Dir. Martin Scorsese)
Epik berdurasi tiga jam ini bukanlah potret gangster stylish ala “Goodfellas”, neo-noir ala “Taxi Driver” ataupun horror psikologis seperti “Shutter Island”— mungkin bagi seorang pembuat film ulung berusia 81 tahun yang masih selalu mencari cerita baru untuk diceritakan, ini adalah sebuah mahakarya epik. Mahakarya Scorsese yang terakhir ini adalah kisah epik yang diceritakan secara mendalam tentang “perampokan” dan pembunuhan sistematis terhadap suku Indian Osage di Oklahoma, Amerika Serikat pada tahun 1920-an. Ini adalah kisah nyata tentang suku Osage yang terpaksa menyaksikan pemberantasan mereka sendiri dan tidak berdaya untuk menghentikannya. Dan pusat moralnya adalah Mollie Burkhart yang diperankan dengan sangat baik oleh Lily Gladstone: seorang wanita yang terpecah antara keluarga tempat dia dilahirkan dan keluarga yang dia buat (karena dia menikahi pria kulit putih). Sebuah pertanyaan: Seberapa bagus film yang ingin kamu tonton? Pilihan Scorsese untuk membingkai pembunuhan berantai beberapa lusin orang Osage di Oklahoma tahun 1920-an dari sudut pandang pemukim kulit putih yang mengorganisir pembunuhan tersebut bagi saya bukan hanya pilihan yang dapat dipertahankan, tetapi juga pilihan yang berani. Yang terpenting, ini adalah film tentang kulit putih, ini hanya sepenggal kisah kebrutalan sejarah kulit putih Amerika, dan tentunya secara tidak langsung Scorsese menceritakan kepada penonton bagaimana sejarah Amerika yang dibangun dengan darah.

The Zone Of Interest (Dir. Jonathan Glazer)
Potret seorang komandan Jerman dan keluarganya di Auschwitz dari seorang Jonathan Glazer tentunya akan sangat menarik. Mungkin kalian mengenal Glazer dari direksi uniknya di video klip Radiohead, Blue, Massive Attack dan Jamiroquai, Jonathan Glazer juga sudah mendirect 3 film yang cukup “nyeleneh” sebelum mendirect film ini (“Birth”, “Sexy Beast”, “Under The Skin”). The Zone of Interest pada dasarnya adalah drama rumah tangga seorang perwira Nazi dan keluarganya, dimana mereka tinggal di sebuah rumah yang terisolasi dari kekejaman Auschwitz (mereka tetap mendengar suara-suara mengerikan dari Auschwitz tetapi secara “visual” mereka tidak melihat kekejaman Auschwitz secara langsung). Film ini adalah adaptasi dari novel karya mendiang Martin Amis yang menempatkan pemirsa di dalam pernikahan pasangan kehidupan nyata, komandan Auschwitz Rudolf Höss (Christian Friedel) dan istrinya Hedwig (Sandra Hüller. Keluarga Höss tinggal di dekat tembok batu tinggi yang memisahkan kompleks mereka dengan lokasi kamp konsentrasi Nazi. Meskipun bukti mengerikan mengenai pembunuhan massal yang terjadi di sebelahnya ada di mana-mana, Glazer tidak pernah mengizinkan kita melihat sekilas apa yang ada di baliknya. Yang membuat film ini mengerikan adalah bagaimana kejahatan murni itu bisa ada di orang-orang “biasa”.

Monster (Dir. Hirokazu Koreeda)
Siapa monsternya? Apakah kamu? Dia? Atau Saya? Ketika pertanyaan-pertanyaan ini mengganggu pikiran kita, tentunya ini adalah film yang harus ditonton lebih dari satu kali. “Monster” adalah sebuah karya Hirokazu Koreeda yang berhasil (lagi) setelah sutradara Jepang ini mendapatkan kesuksesan mainstream dari “Shoplifters (2018)” dan “Broker (2022)”. Monster adalah sebuah cerita yang melingkupi pertanyaan-pertanyaan ini, mengundang kita untuk bertanya mengapa/apa yang disakiti/disembunyikan oleh protagonis bernama Minato, saat dia berjuang untuk tumbuh sebagai anak tunggal dari seorang ibu tunggal, merindukan ayahnya yang sudah meninggal, mengalami intimidasi di sekolah dan hal-hal lainnya yang tentu akan menjadi spoiler bila saya sebutkan di resensi ini. Begitu banyak kemungkinan yang terungkap melalui struktur narasi multiperspektif ala Reservoir Dogs-Tarantino atau Rashomon milik Akira Kurosawa. Keluarga biasanya merupakan tempat berlindung yang aman, tetapi Minato malah menemukan tempat perlindungan dalam persahabatannya dengan sesama ‘monster’ bernama Yori. Dunia indah di mana hutan dan danau bergaya Miyazaki menjadi tempat bermain bagi anak-anak lelaki yang melarikan diri dari sakit hati karena dikucilkan. Di sana, mereka menemukan kenyamanan, dan akhirnya keselamatan, ‘dilahirkan kembali’ dengan harapan akan awal yang baru. Saya berharap saya dapat menonton ulang film untuk pertama kalinya lagi. Satu kata kunci: filmnya tentang “kesalahpahaman”, Bagaimana dua anak, seorang ibu, seorang guru, dan seorang sutradara dapat membuat alur cerita sebuah film menjadi begitu unik?

Honorable Mentions:
The Holdovers (Dir. Alexander Payne)
Infinity Pool (Dir. Brandon Cronenberg)
TÁR (Dir. Todd Field)
Poor Things (Dir. Yorgos Lanthimos)
Asteroid City (Dir. Wes Anderson)
Beau is Afraid (Dir. Ari Aster)
Showing Up (Dir. Kelly Reichardt)
Night of the 12th (Dir. Dominik Moll)
Sisu (Dir. Jalmari Helander)
Cocaine Bear (Dir. Elizabeth Banks)
Godzilla: Minus One (Dir. Takashi Yamazaki)
Godland (Dir. Hlynur Pálmason)

Words by Aldy Kusumah

Tahun 2023 adalah tahun yang menarik untuk musik. Dengan banyaknya album bagus yang dirilis. Tanpa berbasa-basi, ini adalah beberapa album yang selalu kami putar di playlist kami dengan volume kencang, dan tentunya album-album inilah yang mencuri perhatian kami. Jika kalian mempunyai beberapa rekomendasi, tell us in the comments! Tanpa disajikan secara berurutan, ini adalah beberapa rilisan favorit kami di 2023…

Parannoul – After the Magic
Di album ini, Parannoul menyuguhkan lagu-lagu anthemic yang cocok dibawakan di arena atau stadium. Padahal, lagu-lagu tersebut dibuat di sebuah ruangan kecil, suara 20 orang di studio rekaman yang berasal dari satu komputer, sebuah karya megah nan epik yang dibuat sebagian besar oleh satu orang. Pemilihan detail-detail soung di setiap lagu juga sangat presisi: Indahnya efek tremolo gitar di ‘We Shine At Night’, sound piano dan strings epik ala scoring Japan-RPG yang melebur dengan gitar akustik di ‘Parade’ , atau ritme musik yang menghanyutkan di penultimate track ‘Blossom’. Sangat euphoric. Sound gitar fuzz dan walking bass di ‘Arrival’ membuat saya membayangkan bagaimana Billy Corgan akan membuat simfoni gitar dengan style Siamese Dream pada tahun 2023— dengan menumpuknya layer-layer overdub kecil yang tak terhitung jumlahnya. Sebelum Parannoul, saya tidak membayangkan sound bedroom pop bisa semegah ini. Parannoul bisa meng-elevate bedroom pop menjadi sesuatu yang layak dipertontonkan di venue besar. Output album ini bisa dibilang jauh dari input satu orang yang merekam musiknya didepan sebuah laptop. Bagi saya, ini adalah AOTY material indeed.

Tomb Mold – The Enduring Spirit
Setelah merilis tiga album death metal klasik, Tomb Mold mengambil pengaruh dari luar angkasa (mungkin mengikuti jejak Blood Incantation?). Meskipun The Enduring Spirit penuh dengan part-part gitar yang clean dan aransmen instrumental yang rapih, lagu “Servants of Possibility” dan “Angelic Fabrications” menampilkannya Tomb Mold dalam versi yang lebih heavy, sedikit mengingatkan kita kepada pendahulu mereka di Atheist. Dengan elem-elemen dari jazz fusion, prog ‘70an dan dream pop ala 4AD records, “The Enduring Spirit” adalah album death metal yang cukup unik. Coba saja pasang “Will of Whispers” dengan volume yang kencang. Biarkan Tomb Mold mengguncang dunia kamu.

Yo La Tengo – This Stupid World
Jika kamu merindukan suara gitar Ira Kaplan yang terdengar seperti suara Stratocaster vintage-nya yang tercekik, maka album Yo La Tengo No. 17 ini; “This Stupid World,” adalah performa mereka yang paling keras dan paling epic selama bertahun-tahun bermusik. Dibuka dengan “Sinatra Drive Breakdown” yang berdurasi tujuh menit lebih. Diikuti oleh “Fallout,” yang memiliki riff gitar yang terdengar seperti sesuatu yang direkam pada tahun 1992 di puncak era alt-noisepop, dan kemudian “Tonight’s Episode,” yang dipenuhi feedback, dan sedikit mengingatkan influence terbesar Yo La Tengo: Velvet Underground. “Aselestine”, adalah sebuah track laidback yang dinyanyikan oleh drummer Georgia Hubley. Overall, hampir 40 tahun dalam karir mereka sebagai sebuah band, dengan “This Stupid World,” Yo La Tengo telah mencapai puncak teratas musikalitas mereka. This is indierock at it’s finest peak.

boygenius – the record
Album debut dari boygenius adalah ramuan terbaik dari para ratu indie-rcok: Julien Baker, Phoebe Bridgers, dan Lucy Dacus. Di album ini mereka menunjukkannya kepiawaian songwriting mereka dengan kekuatan penuh. Album ini mempertahankan kekuatan dan karakter dari masing-masing: Julien Baker dengan vokal antemik dan lick-lick gitarnya, folk spektral ala Phoebe Bridgers, dan puisi Lucy Dacus yang dibuat dengan tepat. BUkan masalah jika sebelumnya kamu tidak mendengarkan karya solo dari trio ini, “the record” tetap akan menjadi album bagus yang bisa kamu nikmati. Setalah mendengar album ini, saya yakin kalian akan mengecek kembali katalog dan digging rilisan lama dari trio ini.

Noname – Sundial
Bagaimana bisa album hip hop yang politically-charged seperti ini bisa didengarkan dengan mudah dan terdengar catchy? “Sundial” adalah album Noname yang dipenuhi lirik-lirik dengan tema ketidakadilan sosial, yang diilhami oleh teori anti-kapitalis. Rapper asal Chicago ini menunjukkan kecerdasan sosio politiknya terhadap segala hal mulai dari standar kecantikan bagi perempuan kulit hitam sampai teori-teori anti-konsumerisme dan sedikit bumbu marxisme. “She’s a shadow walker, moon stalker, Black author/Librarian, contrarian” dia lantunkan di lagu pembuka album, “black mirror,” sebuah lirik yang powerful yang diselipkan di tengah instrumental yang santai dan vokal latar yang dreamy. “Sundial” adalah karya Fatimah Warner dengan segala kehebatan nya untuk membuat sebuah album jazz hop / neo-soul yang bisa menyaingi “The Low End Theory” milik A Tribe Called Quest.

Caroline Polachek – Desire, I Want to Turn Into You
Jika pada album “Pang” Caroline masih dibanding-bandingkan dengan Kate Bush, di album ini Caroline benar-benar keluar dari ekspektasi tersebut. Lebih eksperimental tidak seperti “Pang” yang lebih dream pop, “Desire, I Want to Turn Into You” adalah Caroline Polachek yang berkarya sebebas-bebasnya. “Bunny Is a Rider” memiliki verse yang tidak catchy, yang justru semakin memperkuat chorusnya yang akan membawamu ke surga electro pop. S”ementara Billions” adalah sebuah lagu cinta yang secara tak terduga menawarkan sesuatu bagi para penggemar Elizabeth Fraser dari Cocteau Twins. Grimes dan Dido bertamu di ”Fly to You”, dan entah bagaimana, perpaduan itu terdengar epic. Meskipun drum’n’bass semakin banyak memasuki irama artis-artis mainstream AS, karya Caroline lebih terasa artsy dan tetap memiliki sensibilitas pop yang kental. Hanya Caroline lah yang bisa terdengar seperti menggunakan auto-tune padahal dia mungkin hanya menyindir trend auto-tune tersebut.

Grrrl Gang – Spunky!
Siapa sangka kalau album terbaik Grrrl Gang adalah sebuah album dimana mereka membuat lagu punk. Spunky! tidak hanya punk secara direksi musik, tetapi secara spirit riot grrrl nya. Lupakanlah lagu-lagu Grrrl Gang era “Bathroom” dan “Dream Grrrl” (walaupun di “Dream Grrrl” sudah tercium sedikit aroma punk), Spunky penuh dengan energi, dan seakan kerasukan Kathleen Hanna, vokalis Angeeta lebih banyak shouting, spoken words dan vokalnya terdengar lebih lantang disini. Tetapi dibalik semua itu, Spunky! Tetap memiliki sensibilitas pop yang selalu dimiliki Grrrl Gang.

XG – New DNA
New DNA adalah sebuah EP berisi 6 lagu, tapi persetan dengan itu, rilisan yang satu ini wajib masuk ke list ini. Tidak ada satu genre pun yang benar-benar dapat mendefinisikan XG. XG terdiri dari tujuh anggota berdarah Jepang, berbasis di Korea dan menyanyikan lirik berbahasa Inggris. Mereka tidak ingin disebut sebagai K-Pop maupun J-Pop, karena mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai “global pop”. Single mereka sebelumnya di tahun 2023, ‘Shooting Star’ dan ‘Left Right’ adalah lagu pop bernuansa R&B ‘90an yang membawa XG ke stratosfer. Namun girl grup ini tidak berpuas diri dengan mini album debut mereka ‘New DNA’. Proyek ini merupakan sebuah peleburan style, influens, dan genre, dilapisi dengan kemasan Y2K, cyberpunk dan sedikit surreal. Meskipun kita telah melihat gaya futuristik ini di K-pop, XG lah yang melakukan ini dengan berhasil. Mereka memainkan perpaduan musik Jersey club (yang kembali dipopulerkan oleh Ditto milik NewJeans), hip hop, ‘90s R&B dan tentunya electro pop. Kepiawaian Maya, Jurin dan Cocona dalam rapping dilengkapi juga oleh vokal dreamy dari Juria, Hinata dan Chisa. Dan tentunya jangan lupakan syle vokal/rap Harvey yang sangat berkarakter. Lupakanlah NewJeans, XG akan segera menguasai dunia dalam waktu dekat.

Swellow – Katus
Setelah melalui rangkaian dua maxi-single di “Simpul Tak Berdaya” dan “Jeruk Segar”, akhirnya Swellow resmi merilis album penuh pertama yang diberi judul “Katus”. Band indie-rock asal Bogor ini membuka album dengan sebuah track banger berjudul ‘Penjelajah Waktu’. Sebuah riff gitar slacker indie-rock yang menarik, lengkap dengan berbagai variasi chord minor, sus2 dan maj7. Pemilihan sound yang keren ini membawa saya ke era keemasan Matador Records, Drag City dan Kill Rock Stars. Swellow pun tampak effortless membawakan pakem-pakem indie-rock akhir ‘90an-awal ‘2000an ini.
Lagu-lagu di album ini bagaikan sebuah selimut hangat; one of those albums that will give you a warm and fuzzy feeling inside. Track demi track masuk ke kuping ini secara effortless. “Katus” adalah sebuah sajian album all killer no filler. Tanpa terasa saya sudah berada di penghujung album dengan penultimate tracknya ‘Pasien’ dan ditutup oleh ‘Berkelana’ yang penuh energi. Overall “Katus” adalah sebuah album indie-rock yang bagus. Mungkin dewa-dewa indie-rock seperti Stephen Malkmus, Robert Pollard dan Jeff Tweedy pun akan approve jika mendengar album ini. Tidak heran jika album ini akan menjadi pilihan AOTY untuk banyak orang.

HEALTH – RAT WARS
Berkat produser Demi Lovato, Stint, departemen vokal di album ini diberi lebih banyak ruang dan sering disajikan dalam layer double-track. Hal ini menimbulkan nuansa pop adalah pada lagu “ASHAMED”. Meski begitu, itu digunakan dengan cara yang sangat efektif. Meskipun saya tidak suka ketika band-band seperti Sleep Token menambahkan dimensi pop pada suara mereka, teknik rekaman tersebut bekerja lebih baik di sini karena suasana tertindas yang diciptakan oleh keseluruhan musik menyeimbangkan hal ini. Dan perpaduan musik industrial dengan vokal merdu ini mengingatkan saya pada Stabbing Westward era “Wither Blister Burn & Peel”, in a good way. Alur synth dari “HATEFUL” menciptakan suasana yang eksplosif. Sound gitar dinamis di “CRACK METAL” mengambalikan HEALTH pada roots noise rock mereka. Salah satu favorit saya adalah “CHILDREN OF SORROW”, yang memiliki riff yang sangat keren.
Segalanya berakhir dengan band yang paling dekat dengan balada dengan ‘DON’T TRY’. Hal ini mengingatkan kita pada momen-momen paling depresif dari Placebo, yang sekali lagi merupakan cita rasa yang mungkin tidak menarik bagi semua pembaca di sini, begitu pula album ini secara keseluruhan. Namun, menurut saya penggemar musik industrial dan beberapa penggemar musik eksperimental yang lebih kecewa secara sonik akan menganggap album ini sebagai soundtrack yang menyenangkan untuk zaman modern.

Sebagai penggemar band ini, ini adalah salah satu album terbaik dari genre apa pun yang pernah saya dengar selama beberapa waktu, jadi saya merasa tugas saya untuk menyanyikan pujiannya kepada mereka yang memiliki selera serupa yang menikmati suara suram dengan intensitas emosional tinggi yang dapat menjadi hal lain. rasa berat.

SZA – SOS
Dengan 23 lagu, “SOS” hadir sebagai puncak klimaks SZA dalam versi musikal. Ini bukan album berkonsep naratif, tapi lagu-lagunya dihubungkan oleh alur yang repetitif: rangkaian perselingkuhan, reuni, pengkhianatan dan koneksi, anxiety dan afirmasi. Lagu-lagunya melompat dari masalah pribadi ke masalah universal, tetapi secara musik, album ini terdengar ringan dan catchy. “SOS” melibatkan banyak produser dan kolaborator, menggunakan peleburan terbaik dari style musik lama dan memanfaatkan genre-genre modern. Dalam “Kill Bill,” SZA berfantasi tentang membunuh mantannya dan pacar barunya, terdengar ringan sekaligus berbahaya saat produksi menghadirkan balada R&B yang epic. “Too Late” dicuri secara sonik dari Janet Jackson era ‘80an, dan dalam “F2F,” dia memulai dengan folk-pop yang kemudian menjadi rock saat dia bersikeras bahwa dia hanya selingkuh dengan seseorang saat menyanyikan lirik “because I miss you”. ‘SOS’ adalah SZA dalam versi paling ambisius, dan dia berhasil. Siapa sangka patah hati bisa meng-elevate seseorang ke titik musikal yang jenius?

Home Front – Games of Power
Apa yang kamu dapatkan jika menggabungkan punk dengan new wave? Jawaban nya adalah spirit survival dari musik punk dan vibes musik ‘80an yang membuatmu semangat untuk bangun di pagi hari. Home Front rupanya mengambil elemen-elemen terbaik dari kedua genre itu. Debut album Home Front ini lebih terasa seperti album klasik yang obscure daripada sebuah debut album modern; sebuah peleburan menarik dari post-punk yang menyeramkan, krautrock yang motorik, dan semangat punk yang bergairah. Mungkin untuk saat ini ‘Overtime’ adalah track favorit saya di album ini. Synth dan melodi gitar yang catchy dibalut oleh nada vokal anthemic di reff, dan tentunya sedikit mengingatkan saya kepada lagu ‘A Space Age Love Song’ dari A Flock Of Seagulls. Games of Power disatukan oleh kejelasan visi dan konsep, seluruh lagu album ini bagus dan tentunya bakal menjadi calon album of the year versi kami.

Words by Aldy Kusumah

Terbentuk di tahun 1989, VICTORY RECORDS memisahkan diri dari label-label sejenis sebagai label independen yang dianggap “berhasil” menjadi blueprint untuk punk, hardcore, emo, metal, dan alternatif. Dengan katalog musiknya yang telah terbentuk, selama 30 tahun Victory Records sudah menyajikan album-album bagus kepada fanbase nya di seluruh dunia. Label yang lahir dan berbasis di Chicago ini menyuarakan suara tiga generasi dan membangun budaya tanpa kompromi.

KONTROVERSI
Pada masa nya, Victory Records adalah puncak dari menjadi cool secara independen, dan bukan kebetulan kalau mereka adalah label independen terbesar kedua di Amerika Serikat. Katalognya cukup lengkap dari Bad Brains hingga Hatebreed, Earth Crisis hingga Grade dan Taking Back Sunday. Tony Brummel telah menjadi juru bicara resmi bagi remaja yang gelisah di mana pun, dia juga cukup vokal dan terus-menerus mencerca kejahatan major label “korporat” dengan urgensi yang tendensius. “Victory Records adalah kamu, aku, musik yang berkembang di jalanan,” dia mengingatkan para fans nya. Sayangnya dibalik manifesto Tony Brummel dan keren nya rilisan-rilisan Victory, mereka juga menuai kontroversi mengenai royalty roster artist nya yang beberapa bahan berakhir di pengadilan.

Victory Records memiliki beberapa hubungan negatif dengan band yang telah menjadi roster di label tersebut. Selama bertahun-tahun, banyak band telah menyampaikan keluhan, konflik, atau mengajukan tuntutan hukum terhadap label rekaman, sementara yang lain tetap bertahan dengan label ini selama bertahun-tahun, atau bahkan kembali ke Victory setelah merilis album di label berbeda. Mantan band Victory, Thursday, memiliki konflik dengan label tersebut masalah royalty. Gitaris Atreyu Dan Jacobs berbicara buruk mengenai Victory dan pendiri label tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka memiliki masalah dengan Tony Brummel. Bahkan band-band seperti Hawthorne Heights, A Day to Remember dan Streetlight Manifesto membawa konflik mereka dengan Victory Records ke pengadilan.

Pada bulan September 2019, bertahun-tahun setelah membeli sebagian dari katalog label, Concord membeli Victory Records dan Another Victory seharga $30 juta dolar. Craft Recordings telah mengelola katalog Victory Record sejak Concord mengakuisisi label tersebut. Victory sejak itu tidak men-sign band baru atau merilis album baru. Sebaliknya, label tersebut beroperasi untuk distribusi alumni label saat ini, serta untuk merilis reissue. Katalog Victory mencakup 4.500 rekaman master dan 3.500 komposisi melalui penerbitnya Another Victory.

RILISAN-RILISAN VICTORY RECORDS FAVORIT JEURNALS

Earth Crisis – Firestorm (1993)
Vinyl tujuh inci yang dirilis tahun 1993 ini hanya berisi empat lagu, namun 4 lagu dari para legenda vegan straight edge Earth Crisis ini memang esensial. Dengan tema-tema seperti anti-industrialisasi, animal liberation dan global warming, lagu-lagu Earth Crisis sangat relevan untuk didengar di tahun ini. Bahkan sampai saat ini, lagu-lagu dari tersebut menginspirasi partisipasi penonton yang militan dalam suasana live.

Deadguy – Fixation on a Coworker (1995)
Magnum opus dari Deadguy yang dirilis di tahun 1995 ini adalah satu-satunya karya full-length dari grup New Jersey yang negatif dan agresif ini. Ritmenya yang tidak rata, gitar yang chaotic, dan vokal yang menjerit/mengeram memberikan pengaruh pada banyak band yang bermunculan dan mencoba mengimitasi Deadguy.

Snapcase – Progression Through Unlearning (1997)
Suara snare drum yang sangat berkarakter di album ini adalah hal pertama yang Anda dengar ketika kamu memainkan album Snapcase ini. Itu juga hal pertama yang akan kamu dengar ketika bertanya kepada penggemar musik hardcore tentang apa yang membuat album ini begitu unik. Selain membuat album bagus tanpa cacat, Snapcase mendefinisikan sound drum hardcore yang tentunya ditiru oleh banyak band setelah mereka.

Thursday – Full Collapse (2001)
Full Collapse memiliki produksi yang lebih raw dibandingkan kebanyakan band-band emo yang merilis sesuatu di medio tahun 2000an. Mungkin itu hanya karena anggaran yang terbatas, namun lagu-lagu ini tetap terdengar segar karena lagu-lagu emo-pop dengan produksi yang terlalu rapih sudah ketinggalan jaman. Ini adalah album yang menjadi influensial tidak hanya di kalangan emo/post-hardcore tapi juga di kalangan rock underground secara umum, dan itu karena album ini diambil dari banyak hal yang berbeda. Di Full Collapse terdengar berbagai referensi dari sound emo, punk, hardcore, post-hardcore, screamo, dan metalcore, serta musik gothic/post-punk seperti The Cure dan Joy Division.

Strife – In This Defiance (1997)
Salah satu aspek yang saya sukai dari In This Defiance adalah betapa hebatnya segala sesuatu terdengar, dari sudut pandang sonik. Mungkin saya bukan seorang metalhead, tetapi jika kamu mendengarkan album-album thrash klasik dari akhir tahun ‘80an sampai awal ‘90an, kalian akan menemukan “benang merah” nya dengan sound yang dipilih Strife di album ini. Pada tahun ‘90an, sebagian besar album hardcore kurang maksimal di tahap produksi, tetapi In This Defiance menjadi blueprint sebagai album hardcore dengan sound yang sangat bagus. Sebuah upgrade sound layaknya album Divine Intervention milik Slayer yang meredefinisikan sound Slayer. Sound hardcore modern berubah untuk selamanya setelah In This Defiance rilis.

Refused – Songs to Fan The Flames of Discontent (1996)
Pertama kali saya melihat video klip “Rather Be Dead” saya sedikit bingung: Kenapa para anggota dari Refused ini terlihat seperti personil Weezer? Ya, Refused memang tidak terlihat seperti band-band hardcore pada umumnya, tetapi mereka bisa membuat album yang sangat heavy (baik itu secara lyrical maupun aransemen dan sound). Sebelum merilis magnum opus mereka yang berjudul “The Shape of Punk To Come”, Refused sudah memperlihatkan cikal bakal bahwa suatu hari band Swedia ini akan menjadi besar.

Integrity – Humanity Is The Devil (1996)
Membandingkan Humanity is the Devil dengan rilisan-rilisan hardcore kontemporer pada masa itu, dan bahkan rilisan paling modern sekalipun, menunjukkan perbedaan yang sangat besar. Kebanyakan band hardcore terlalu berdedikasi pada aturannya sendiri, dan Integrity sama sekali tidak takut untuk bereksperimen dan bahkan meninggalkan sound hardcore sepenuhnya di album ini. Dengan kover yang di design oleh Pushead dan judul album (dan tema-tema lirik) yang cukup mengerikan, mungkin Integrity adalah band hardcore tergelap. Mungkin album ini tidak akan pernah bisa dipahami sepenuhnya. 8 lagu di Humanity is the Devil adalah mahakarya dan tetap menjadi salah satu album “punk rock” paling unik dan aneh yang pernah direkam.

Hatebreed – Satisfaction is the Death of Desire (1997)
Satisfaction adalah album yang mendefinisikan Hatebreed. Album debut dari punggawa metalcore asal Connecticut, Satisfaction is the Death of Desire menampilkan sisi paling mentah dan paling sederhana dari Hatebreed. Vokal Jamey Jasta berada di antara tampil prima disini dan kadang terdengar seperti Kirk Windstein dari Crowbar. Satisfaction masih menjadi salah satu rilisan terberat dalam diskografi Hatebreed.

EPILOG
Tapi apa mau dikata, dibalik semua kontroversi tersebut, Victory adalah sebuah record label yang membangun taste music beberapa generasi, dan siapa sih yang bisa melupakan album-album terbaik yang mereka rilis seperti Full Collapse, In This Defiance, Progression Through Unlearning, Firestorm dan Satisfaction is the Death of Desire? Meskipun label ini dikenal luas karena hubungannya dengan band-band seperti A Day to Remember, Emmure, Taking Back Sunday dan Bayside, Victory memainkan peran integral dalam scene hardcore dan metalcore, memunculkan sejumlah band baru dan merilis album-album penting. Jadi apa saja rilisan Victory Records favorit mu?

Words by Aldy Kusumah

Brand outdoor sports yang lahir di Pegunungan Alpen ini sebenarnya dibuat untuk olahraga ski, trail-running dan hiking. Tetapi bagaimana brand outdoor sports ini bisa “bergerak” dari gunung sampai dipakai para konsumen nya untuk “mendaki” kerikil-kerikil di coffee shop favoritmu? Let’s find out.

HISTORY
Salomon didirikan pada tahun 1947 di kota Annecy di jantung Pegunungan Alpen Prancis. François Salomon meluncurkan perusahaan tersebut dengan memproduksi ski-edges di sebuah bengkel kecil, hanya dengan bantuan istri dan putranya, Georges. Georges Salomon dikreditkan dengan mengambil alih perusahaan dan mengembangkannya menuju brand outdoor sports global yang kita kenal seperti sekarang ini. Lahir pada tahun 1925, Georges Salomon bertahan hidup selama pendudukan Nazi di kampung halamannya di Annecy di Pegunungan Alpen Perancis. Pasca perang dunia 2, pada tahun 1947 ia berbisnis dengan ayahnya François, seorang produsen mata gergaji. Dia meyakinkan Salomon yang lebih tua untuk beralih ke pembuatan pinggiran dan suku cadang ski untuk industri ski pasca-perang yang baru lahir di Eropa, dan revolusi industri ski sedang berlangsung dipimpin oleh garda depan Salomon. Ketika Salomon dan ketiga putranya menjual perusahaan tersebut ke Adidas pada tahun 1997, keterlibatannya dengan perusahaan tersebut berakhir dengan penjualan tersebut, namun etika dan brand identity yang di develop keluarga ini masih mendorong perusahaan tersebut. Kini, Salomon SAS merupakan bagian dari Amer Sports, yang dimiliki sejak 2019 oleh grup Tiongkok ANTA Sports dengan merek sejenis Wilson, Atomic, Precor, dan Arc’teryx.

SALOMON DI ERA KONTEMPORER
Selama beberapa dekade berikutnya sejak didirikan, Salomon mulai beralih ke kategori outdoor sports lainnya, yang akhirnya berfokus pada pakaian dan alas kaki yang dirancang untuk trail-running, hiking, ski, dan snowboarding. Namun baru-baru ini, Salomon lebih disukai oleh orang-orang yang menghadiri fashion week ketimbanghiking di gunung. Crowd ini sebagian besar disebabkan oleh munculnya ‘Gorpcore’ — nama yang diberikan untuk trend pakaian outdoor yang digunakan sebagai street fashion, yang diciptakan oleh The Cut pada tahun 2017 — tetapi hal ini juga berasal dari Salomon yang meluncurkan program Sportstyle dan bekerja sama dengan berbagai brand yang memiliki visi dan nilai-nilai yang sama. Sebuah langkah maju yang besar terjadi ketika JP Lalonde bergabung dengan Salomon untuk memimpin divisi Sportstyle pada tahun 2016. Lalonde membantu me-rebranding brand Salomon seperti brand yang kita kenal sekarang ini di era kontemporer, dengan bantuan Boris Bidjan Saberi.

Kolaborasi-kolaborasi Salomon pun selalu on point dan mereka memilih brand-brand dengan core values yang kurang lebih sama. Sebut saja: Palace, and wander, Beams, The Broken Arm, Hidden NY, Sandy Liang, Bodega, dan Dover Street Market. Dominasi Salomon masih jauh dari selesai. Brand Perancis ini mengikuti gelombang tech-wear dengan selama beberapa tahun terakhir, mulai dari merek yang dikenakan ayah kamu saat mendaki hingga seragam tidak resmi di fashion week. Highlight ini sebagian besar disebabkan oleh siluet XT-4, XT-6, dan XT-Wings yang, setiap musim, diberikan beberapa colorways terbaik. Namun, itu bukanlah keseluruhan cerita, karena kolaborasi Salomon adalah kolaborasi-kolaborasi terbaik di skena footwear global. Bahkan ex-karyawan Salomon membuat brand baru juga yang tidak kalah menarik bernama Hoka One One. Perusahaan ini didirikan oleh Nicolas Mermoud dan Jean-Luc Diard, mantan karyawan Salomon, pada tahun 2009, ketika mereka berusaha merancang sepatu yang memungkinkan mereka berlari menuruni bukit lebih cepat, dan menciptakan model dengan sol luar berukuran oversized yang memiliki lebih banyak bantalan, dibandingkan sepatu lari lainnya pada saat itu. Nama sepatu ini diambil dari bahasa Māori yang secara berarti “terbang di atas bumi”.

EPILOG
Salomon memiliki sepatu untuk berbagai aktivitas tetapi lebih mengkhususkan diri pada sepatu untuk outdoor sports seperti ski, snowboarding, hiking, dan trail running. Meskipun sepatu hiking Salomon pada awalnya dirancang dengan konsep outdoor sports, pada tahun 2023, industri fashion mengadopsi sepatu trail-ready XT-6 sebagai salah satu sepatu kets yang wajib dimiliki pada tahun 2023. Fashion it-girls seperti Bella Hadid, Hailey Bieber, dan Emily Ratajkowski terlihat memakai sepatu tersebut. Musisi seperti Dev Hynes (Blood Orange) sampai A$AP Rocky juga terlihat menggunakan Salomon pada beberapa acara. Menurut kita, design-design Salomon terlihat effortless jika dipakai untuk situasi apapun. Tidak seperti hiking shoes dari brand-brand outdoor seperti Columbia dan TNF, Salomon masih bisa dipakai untuk sekedar ngopi di coffee shop atau ke gigs lokal favoritmu. Tidak seperti sepatu dari brand-brand outdoor lainnya, Salomon bisa nge blend dengan kaos band sampai pakaian semi-formal. Belum lagi jika kita membicarakan colorways mereka yang unik dan detail dan kualitas produknya. Maka tidak heran jika Salomon adalah sepatu favorit kebanyakan orang untuk sekarang ini. So while this gorpcore trends still exist, let’s just embrace it shall we?

Words by Aldy Kusumah

Justin Saunders sudah berhasil mengembangkan arsip kolaborasi dengan New Balance dan Reebok, lalu dia memulai partnership apparel dengan brand seperti Levi’s.
JJJJound bukanlah merek yang kamu tuju saat mencari desain yang mendorong inovasi atau mengambil langkah ke wilayah baru. Bagi sebagian orang, itu cukup untuk dianggap membosankan atau dilabeli kurang kreatif. Namun apa yang telah dilakukan oleh label asal Montreal ini dengan konsistensi adalah menciptakan barang kebutuhan pokok dengan kualitas tertinggi, dan ini tidak boleh diabaikan.

Kolaborasi merek yang paling populer adalah sepatu ketsnya dengan New Balance dan Reebok. Setiap artikel di-tweak agar lebih fresh, lapisan kain terry berwarna berbeda di Club C kulit putih atau suede berwarna earth-tone pada sepatu running New Balance. Di luar sepatu kets, brand ini mengambil langkah-langkah untuk membuat barang esensial terbaik, dan tidak takut merekrut kolaborator yang bisa meng-elevate contoh standar tersebut untuk melakukannya. Itu berarti membuat jaket dan jeans pengemudi truk dengan Levi’s atau mengajak Blackstock & Weber dari Chris Echevarria untuk membuat sepasang sepatu pantofel hitam yang ideal untuk setiap kesempatan. Untuk melengkapi sisa lemari pakaian, merek ini juga menyediakan chino santai, kemeja oxford, dan hoodies yang dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam rotasi pakaian siapa pun. JJJJound tidak membuat pakaian yang membosankan. Mereka menyempurnakan wardrobe setiap konsumen nya.

Sejak diluncurkan pada tahun 2006 sebagai website virtual untuk referensi desain dan moodboard yang dikuratori, JJJJound telah beralih dari inspirasi digital ke studio desain yang nyata. Di bawah direksi pendiri brand Justin Saunders, studio yang berbasis di Montreal Kanada ini memproduksi produk terbatas yang mencakup bola pengering mesin cuci sampai biji kopi. JJJJound juga telah meminjamkan style normcore mereka yang cerdas untuk berkolaborasi dengan A.P.C., Reebok, Vans dan tentunya dua New Balance 990.

​​Bagaimana JJJJound Beralih dari sensasi Tumblr ke studio desain yang nyata? Sejak 2008, estetika Internet telah bernavigasi ke JJJJound.com untuk menikmati kehidupan yang baik. Situs ini, dimulai oleh orang Montreal Justin Saunders, berisi estetika visual yang keren: foto interior tonal, mobil elegan, wanita cantik, busana minimalis, meme kelas atas — dan daftarnya masih terus berlanjut. Estetika pemersatu JJJJound adalah taste dan cita rasa Saunders yang sangat tinggi, yang sangat tepat sampai Kanye West pun sering membuka website ini. Seiring waktu, Saunders mengembangkan studio kreatif yang berbasis di Montreal secara diam-diam dan bekerja dibelakang layar untuk beberapa nama terbesar di industri fashion dan hiburan (seperti Kanye West). Dalam beberapa tahun terakhir studio itu perlahan-lahan berkembang menjadi desain studio yang langsung berhadapan dengan pelanggan: menjual totebag, cangkir kopi, topi, kaus kaki, Vans, dan barang-barang penting lainnya di bawah moniker JJJJound. Produk JJJJound bukanlah barang dagangan yang sembarangan, karena Justin Saunders tidak hanya mengandalkan design minimalis nya, tetapi dia juga menciptakan pasar-pasar dan estetika jenis baru secara diam-diam.

 

Teks by Aldy Kusumah

Mungkin kalau kamu hanya menilai tulisan ini dari judulnya saja, kamu akan kecewa besar. Tak akan ada pembahasan soal Blink-182 di tulisan ini – atau pun profiling sosok Tom DeLonge yang memang sudah vokal untuk urusan pembuktian kehidupan extraterrestrial sejak dari dulu. Tapi saya ingin mengajak kamu untuk melihat lebih dalam tentang potensi apa yang akan terjadi kalau ternyata alien atau pun apa pun makhluk non-manusia ternyata eksistensinya benar-benar ada. Shit, this is serious thing, you know.

Pembahasan soal alien, UFO atau pun UAP (unidentified Aerial Phenomenon) menjadi ramai kembali diperbincangkan karena sempat dihelatnya Congress Hearing di Amerika Serikat pada akhir bulan Juli lalu – dan betul, topik spesifiknya memang membahas soal pemaparan fakta dan data soal makhluk/benda extraterrestrial tersebut yang dipaparkan oleh tiga orang saksi kunci:

Letnan Ryan Graves, seorang pilot pesawat jet F/A-18 Super Hornet di US Navy yang terlah bertugas selama 10 tahun, Komandan David Fravor, pensiunan pilot Angkatan Laut Amerika Serikat yang aktif di dunia militer selama 24 tahun dan David Grusch, seorang veteran Angkatan Udara Amerika Serikat yang pernah dinas di Afghanistan pada tahun 2013. Kalau kamu agak familiar dengan wajah Grusch, bisa dimaklumi karena dia seringkali muncul di berbagai pemberitaan soal UFO beberapa tahun ke belakang ini. Pasalnya, dia pernah bekerja di National Geospatial-Intelligence Agency (NGA) [2021 – 2022], National Reconnaissance Office (NRO) & Unidentified Aerial Phenomena Task Force (UAPTF) [2019 – 2021].

Kembali kepada Congress Hearing soal UFO kemarin, tiga saksi tersebut memaparkan beberapa pengakuan dan juga memegang beberapa data soal penampakan dan juga interaksi mereka dengan fenomena atau pun makhluk yang berkaitan dengan hal itu selama bertahun-tahun ke belakang.

Beberapa paparan yang membuat publik tercengang soal keberadaan makhluk extraterrestrial dan UFO itu di antaranya tentang ditemukannya bangkai makhluk non-manusia yang mengendarai kendaraan interdimensi super canggih di beberapa kesempatan ketika jatuh ke bumi, sejumlah penampakan fenomena udara akan bentuk-bentuk UFO yang kasat mata sampai yang paling kontroversial: adanya retaliasi dari makhluk non-manusia dan juga beberapa pihak badan intelejen yang berkaitan dengan subjek UFO terhadap beberapa saksi mata atau pun beberapa orang yang bekerja di bidang tersebut.

If you put one to one together, kamu bisa paham bahwa ternyata urusan pembuktian soal alien dan UFO ini bukan lagi tentang kelegaan nalar bahwa ternyata ada makhluk lain di luar sana selain manusia. Tapi hal ini bisa menjadi sebuah ancaman yang potensial terhadap kehidupan umat manusia. No, this is not a science fiction movie premise. It’s a real thing.

Semua ini terasa masuk akal ketika kenapa banyak badan intelejen atau pun pihak pemerintahan yang menyembunyikan soal fakta-fakta akan keberadaan UFO, UAP atau alien yang sempat dilihat banyak publik namun tak pernah ada pemberitaannya. Ditambah ada satu paparan di Congress Hearing soal UFO kemarin bahwa ternyata ada beberapa perusahaan badan pemerintah mau pun swasta yang menyimpan banyak peninggalan teknologi UFO yang jatuh ke bumi untuk dijadikan contoh agar teknologi ‘asing’ itu bisa diimplementasikan ke produk-produk mereka.

Berbahaya bukan? Bayangkan kalau sialnya ternyata yang menyimpan artefak teknologi alien itu adalah perusahaan senjata yang ingin mengimitasi teknologi super canggih untuk membuat sebuah bom yang bisa saja menghancurkan setengah daratan bumi atas nama pertahanan dunia. That’s just bad as it’s heard.

Tanpa bermaksud mengantagonis entitas lain di luar manusia, harus diakui banyak hal di alam semesta ini yang belum diketahui manusia – entah untuk hal yang baik atau buruknya. Tapi untuk urusan alien atau UFO, rasanya ada beberapa paparan yang perlu dipublikasikan soal keberadaan mereka. Sesederhana apa tujuan mereka datang ke bumi atau dimensi manusia? Kenapa National Defense sampai harus turun tangan ketika ada fenomena makhluk atau benda asing di berbagai belahan bumi ini? Semuanya terasa mengerucut kepada aspek keamanan bukan? Bukankah ini mengerikan?

Meski semua revelation soal UFO ini terasa sangat kelam karena terlalu banyak kaitannya dengan urusan intelejen dan pertahanan dunia, satu hal baik yang harus kita terapkan di benak kita semua adalah manusia seharusnya bersatu – bukan terpecah belah oleh berbagai ancaman yang hadir di sekitar kita. Kalau pun memang ada intensi buruk yang datang dari para entitas extraterrestrial ini, kita harus yakin bahwa seluruh umat manusia kelak akan menanggalkan semua latar belakang dan prinsipnya demi menghadapi satu potensi ancaman yang sama. Damn, ini mah bukan Tom DeLonge was right, tapi Morrissey was right about what he sings in “Ask”.
“If it’s not love, then it’s the bomb that will bring us together.”

Sebagai seorang wibu anime/manga kasual yang tidak terlalu menggebu untuk melahap banyak karya dari ranah itu, saya sebetulnya tidak terlalu neko-neko untuk urusan detail di berbagai aspek dalam lingkupnya. Contoh paling sederhananya, ada beberapa kawan wibu saya yang bisa merasakan perbedaan guratan gambar tangan dari sang ilustrator di sebuah anime atau manga dan dia menganggap perubahan guratan tersebut sangat mempengaruhi kenikmatannya akan produk budaya pop asal Jepang tersebut. Ketika ia mencoba memperlihatkan dan menjelaskan kepada saya akan aspek yang berbeda itu, saya malah geleng-geleng kepala karena jujur saya tidak melihat adanya perbedaan. See? That’s why you can really call me as a casual weeaboo. I don’t really care about small details like that.

Tapi meski saya dengan bangga mengklaim bahwa diri saya adalah penikmat karya-karya anime serta manga yang ‘santai’, ada satu hal yang lumayan masih mengganggu saya dari ranah tersebut: saya masih punya prasangka buruk akan live-action anime adaptation. Itu lho, adaptasi film yang berbasis dari anime atau manga tapi diperankan oleh manusia sungguhan – mau seabsurd atau sekolosal apa pun animenya, tetap diperankan oleh manusia.

Mungkin paparan saya di atas terkesan berlebihan alias lebay, tapi saya tak mengada-ada. Konteks terdekat yang baru terjadi akhir-akhir ini adalah ketika saya mencoba untuk menonton live action One Piece dan JoJo’s Bizzare Adventure di Netflix. Untuk versi anime dan manganya, saya lumayan menyukai dua judul tersebut – tapi ketika menyaksikannya dalam format live-action, ugh, saya bak baru saja membuang waktu dan ruang di otak saya untuk sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan.

Untuk konteks dengan gambaran yang lebih besar, coba ingat akan film adaptasi live-action Dragon Ball: Evolution besutan sutradara James Wong di tahun 2009 silam. Film tersebut flop di pasaran dari segi penghasilan serta tumpah ruahnya ulasan buruk mengitarinya. Kurang cukup contohnya? Silahkan delik sendiri info seputar film live action macam Death Note (2017), Avatar: Last Air Bender (2010) atau bahkan Attack On Titan (2015). Semuanya relatif tak sukses di pasaran dan dikecam oleh banyak orang – bahkan orang-orang di luar fandomnya sendiri yang terbilang normies.

Tapi di sisi lain, ada pula live-action anime/manga adaptation yang berhasil menangkap esensi dari karya sumbernya lebih efisien lewat format lebih ‘nyata’ tersebut. Sebut saja film adaptasi dari Beck: Mongolian Chop Squad (2010), beberapa film adaptasi Rurouni Kenshin (alias Samurai X), Gintama (2017) atau Assasination Classroom (2015) – semua film itu terbilang aman dari segi penjualan mau pun reputasi karyanya. Kecaman para wibu puritan mungkin akan tetap ada tapi setidaknya tidak separah seperti beberapa contoh yang saya paparkan di paragraf sebelumnya.

Lantas apakah live-action anime adaptation layak ditonton atau tidak? Lalu sebetulnya apakah yang membuat kebanyakan adaptasi film macam itu tidak berhasil?
Sejauh pengamatan dan pengalaman saya dari menonton banyak film dari ceruk tersebut, ada beberapa faktor yang mempengaruhi akan keberhasilan dan tidak berhasilnya sebuah film live-action anime. Ingat semua parameter ini bersifat personal, jadi jangan berekspektasi banyak akan kesahihan sudut pandang ini. But anyway, here goes something.

Terlalu banyak unsur bombastis di anime yang tak tervisualisasi di live-action
Mulai dari efek hancurnya kota karena pertarungan sengit antara dua manusia berkekuatan super yang saling menembakan laser dari tangan kosongnya sampai ekspresi muka absurd yang tak mungkin tergambarkan secara efektif oleh raut wajah manusia di kehidupan nyata, nyatanya media gambar atau animasi memang yang paling efektif untuk menggambarkan itu semua.

Meski kini teknologi CGI sudah semakin canggih dan berbagai macam efek visual sudah semakin berkembang, rasanya tetap saja aspek medio 2-dimensi tak akan pernah bisa diterjemahkan ke media yang berlandaskan format 4-dimensi.

Perkembangan karakter dan ruang lingkup dunia animenya seringkali diabaikan
Mungkin kalau yang menonton live-action-nya adalah normies yang cukup menganggapnya sebagai sekedar hiburan tak akan terlalu memperhatikan aspek ini. Tapi ketika penontonnya adalah fans dari sumber karya adaptasinya biasanya akan menyadari bahwa ada beberapa aspek yang ojol-ojol muncul. Tapi tentu adaptasi-serba-cepat ini bisa sangat dipahami mengingat harus ada efisiensi dari segi durasi dan format untuk menekan banyaknya plot atau pun karakter yang bertaburan di sumber karya adaptasinya. Apalagi kalau adaptasinya berformat film standar durasi 1-2 jam.

“Kok tiba-tiba setting-nya di sini?”, “Lah kok dia tiba-tiba jahat?”, “Lah harusnya kan karakter ini muncul setelah ketemu si ini?”. Racauan akan acuan terhadap sumber karya aslinya akan merusak semua tayangan sajian si live-action dengan begitu mudah.
Menyambung akan ketimpangan yang direspon oleh penonton yang memang mengharapkan lebih dari kredibilitas adaptasi dari sumber karya aslinya. Poin selanjutnya adalah…

Target selera penonton adaptasi live-action masih super liar
Memang sulit untuk menyenangkan semua orang – apabila dari sudut pandang selera akan suatu karya. Tak hanya musik, ranah gambar bergerak alias film pun seperti itu. Selera adalah satu hal dari kehidupan manusia yang tak bisa diatur. Dalam konteks live-action anime adaptation pun seperti itu – ada yang memang menyukai karya tersebut dan menerima perubahan yang memang menjadi hasil terjemahan visualisasi dari karya sumbernya, ada pula yang memang demanding akan keabsahan beberapa aspek yang harus ditampilkan dari sumber karya adaptasinya.

Tapi berbicara soal keabsahan dan terjemahan visualisasi yang harus serba sesuai dengan sumber karyanya, biasanya permasalahan itu terjadi ketika live-action mengadaptasi karya yang terlalu bombastis dari segi guratan gambar, narasi atau pun ruang lingkup dunia di dalam karyanya – contoh paling sederhana soal itu adalah ketika biasanya sumber karyanya bergenre fantasy lengkap dengan berbagai penokohan yang larger-than-life dan aspek-aspek pelengkapnya terlalu ngawang untuk diterjemahkan dengan visualisasi di dunia nyata.

Tapi kalau mau ditelusuri lebih detail, sebetulnya ada juga live-action adaptation yang berhasil – tapi biasanya dari genre slice of life atau yang latarnya memang mendekati dengan dunia nyata. Film-film macam Beck, I Am A Hero, Solanin atau apa pun anime/manga yang landasan dunianya masih dekat dengan dunia nyata dan minim efek-bombastis-dan-keabsurdan-larger-than-life adalah bentuk adaptasi yang tetap disukai oleh berbagai kalangan – baik normies atau pun weeaboo akut.

Jadi rasanya, pembahasan soal live-action adaptation ini bisa diambil jalan tengahnya melalui adaptasi yang memang sumber karyanya masih terkesan realistis. Tapi entahlah, selling well or not, pada akhirnya semua itu kembali ke industri. Tak ada yang pernah tahu manuver industri yang memang punya niatan awal hanya untuk menunggangi IP yang sudah ada atau memang memperhatikan hal-hal detail macam tadi yang dipaparkan. I guess as long as it goes, we can’t really expect anything.

So what do you think? Is it a nay or yay?