Sempat dikabarkan non-aktif setelah mengadakan “Pearl Futura” pada September 2023 lalu, Futura Free kembali dengan menggelar gigs “Spit The Rat” pada 30 April 2023 mendatang. Selain mengadakan gigs kembali, kolektif yang berbasis di Bandung ini hadir dengan logo baru.

Jajaran line up yang diisi oleh band-band hardcrore seperti Peach, Pleazure And Pain, Neurova, Bleach, Prejudize, Vibrant, The Horror Tribe dan Nut. Menandakan bahwa Futura Free kembali ke root hardcore show lewat “Spit The Rat”. Bukan hanya itu, Futura Free juga merilis CD kompilasi berisikan lagu-lagu pengisi “Spit The Rat” dan mengeluarkan special merchandise totebag sebagai gift untuk 100 orang pembeli tiket pre-sale 1. Untuk yang tidak kebagian gift, Futura Free bekerja sama dengan Dowtown Market untuk merilis eksklusif t-shirt dan totebag bertajuk “Ftown”.

Tiket “Spit The Rat” tersedia secara online dan offline di store Downtown Market dan Sorry Not Sorry Bitch. Untuk venue akan segera diumumkan oleh Futura Free dalam waktu mendatang.

Brain Beverages adalah salah satu kompilasi hardcore lokal yang cukup membuka jalan bagi kompilasi-kompilasi lokal lain sejenis, walaupun bukan yang pertama. Dirilis pada tahun 1999 oleh Harder Records (proto Grimloc Records) dan 40.1.24 Records, Brain Beverages tidak tanggung-tanggung berisi 23 lagu dari 23 band veteran seperti Puppen, Balcony, Jeruji, Homicide, Full of Hate, Noin Bullet, Turtles Jr. sampai Blind to See mengisi kompilasi ini. Tidak melulu berisi band bergenre hardcore dan punk, karena ada ska (Noin Bullet), Hip hop (Homicide) dan beberapa band yang agak sulit untuk di kotak-kotakan.

Dibuka oleh Take A Stand dengan lagu berjudul “What the Best” yang memainkan hardcore super cepat ala band-band old school youth crew. Track kedua adalah Soldier Fight yang memainkan harcore yang cukup heavy, lengkap dengan double pedalnya. Jeruji, band punk veteran dari Bandung muncul di track ketiga dengan sebuah lagu berjudul “Broken”. Disini Themfuck masih mengisi departemen vokal dan mereka memainkan hardcore punk yang cukup harsh dengan sound gitar yang terdengar seperti 2 efek metalzone digabungkan. Tajam dan raw. Authority memainkan sebuah track yang cukup groovy (“Back to Where We Belong”), band ini juga diperkuat oleh saudara kembar Layala (drum) dan Lahami (gitar) yang juga merupakan anak kandung dari musisi legendaris Harry Roesli. P.I.N. yang terdengar seperti Ramones cukup menarik pada saat itu, karena mereka terdengar beda sendiri dari band-band lain di kompilasi ini. Lagu favorit kami disini adalah “Deform” dari Groggi, yang kadang mengcover Sepultura jika dulu manggung di pensi-pensi sekolah. Overall, hampir semua track di kompilasi ini keren, bisa dibilang all killer no filler. Siapa yang masih menyimpan kasetnya?

Berikut adalah interview singkat kami dengan Baruz (ex-Balcony, Godless Symptoms), salah satu penggagas kompilasi ini:

Awal mula konsep kompilasi BB?
Berawal dari tongkrongan kios di jalan Teuku Umar Bandung, melihat banyaknya generasi-generasi muda yang membuat band ‘hardcore’, kepikiran buat sesuatu seperti kompilasi ‘Bandung’s Burning’ yang dibuat oleh Riotic Recs.

Kenapa memilih band-band tersebut?
Memilih band-band tersebut karena ya mereka satu tongkrongan sama kita, dan ingin supaya band-band ini dikenal orang lebih banyak, Salah satu caranya adalah dengan membuat kompilasi.

Track favorit di BB?
Take a stand, Homicide, Groggi, OOS, Puppen, Full of hate, Balcony, hampir semua band yang ikut serta di kompilasi ini adalah band band favorite saya.

Dicetak berapa kopi?
2000 kopi, yang saya tau dari Richard Pas band (waktu itu 40.1.24 dikelola oleh beliau salah satu nya).

Apakah ini kompilasi hardcore Indonesia pertama?
Saya kurang apal, tapi yang pasti di ingatan saya bahwa kompilasi ini terus menerus diburu, karena isi dari band-band yang ikut serta nya rata-rat sudah banyak dikenal di kalangan scene Underground Indonesia saat itu.

Siapa saja inisiator kompilasi BB ini? Mulai dikerjakan dari kapan?
Awal nya saya yang menginisiasi di jalanan, kemudian ada Febby, Jojon almarhum yang ikut membantu (inilah awal dari muncul nya Harder Records), kemudian untuk sleeve design nya sendiri dibantu oleh Helvi (sekarang Teenage death Star dan FFWD Records), juga Richard PAS Band yang ‘mendealkan’ dan membeli master dari kompilasi ini seharga 5 juta saat itu. Dikerjakan sejak 1998, ketika sedang marak nya demo penggulingan Soeharto, Dan selesai pada 1999.

;

Words by Aldy Kusumah
Photos from Baruz & ADMS

KEEP KEEP Musik sudah membuka pintunya dari tahun 2016, dengan konsep seperti sebuah one stop destination, dimana kamu bisa digging vinyl-vinyl favorit kamu, makan, ngopi, bahkan dalam beberapa occasions mereka seringkali menjadi tempat aktivasi dan juga pertunjukan gigs band-band favoritmu. Beberapa brand pun pernah melakukan launching produk disini, dan KEEP KEEP pun bisa memfasilitasi semua itu dengan halaman parkir yang luas, open space dan sebuah ruangan display yang bisa memenuhi kebutuhan para klien.

Tentunya, banyak juga beberapa pengunjung yang menikmati estetika interior dan penataan home decor di Keep Keep sehingga seringkali menjadi spot foto. Untuk food and beverages ada Sejiwa Coffee yang menetap di area KEEP KEEP sehingga sudah pasti hidangan makanan dan kopi favorit kalian juga akan terpenuhi disini, ditambah alunan musik yang sudah terkurasi dari team KEEP KEEP, tentunya kalian mungkin hanya perlu men-shazam (dan mungkin membeli vinylnya jika tersedia) untuk menambah wawasan musik kalian.

Di dekat area tempat makan juga terdapat sebuah thrift store unik bernama Kameo yang memiliki barang-barang terkurasi dari kaos-kaos musik vintage sampai collectible items seperti Akira action figures, pullover Richardson, sandal Suicoke sampai kaos Sade bootleg. Oh iya, Keep Keep juga sering mengadakan pameran dari beberapa seniman dan mereka juga sering merilis merchnya sendiri dari graphic tees sampai tote bag dan celana. Kunjungi segera Keep Keep di Jl.Kiputih No. 1A, Bandung.

 

Photos from KEEP KEEP Archives

Tones No. 6 adalah sebuah spot baru yang cukup menarik dan memanjakan mata, telinga dan lidah tentunya. Kenapa mata, telinga dan lidah? Karena dari momen kita menginjakkan kaki di Tones, kalian akan disambut oleh musik Jazz yang terdengar renyah dari speaker JBL 4315 yang diputar dari vinyl koleksi mereka. Furniture-furniture yang tertata apik secara aesthetic pun memanjakan mata kalian. Apalagi hidangan speciality mereka: creamy gulai fettuccine, pompom soda, dan americano dingin dengan kombinasi biji kopi dari Wanoja dan Brazil.

Ambiance yang nyaman, tempat duduk yang cozy dan sajian musik yang dikurasi tentunya akan menambah value si cafe itu sendiri dan juga meng-elevate sajian makanan / minumannya. Tones No. 6 juga memasang harga standard untuk sajian food & beverages nya, dan untuk rasa dan porsi pun sangat memuaskan. Untuk sekedar meeting atau bersilaturahmi dengan kerabat, Jeurnals sangat merekomendasikan kamu untuk segera mengunjungi Tones No. 6 di Jl. Terusan Cisokan No.6, Kota Bandung, Jawa Barat.

 

Words by JEURNALS
Photo from @tones_no.6

Jika kamu bingung untuk mencari resto yang menyajikan menu-menu steak, Jeurnals punya jawaban yang tepat: Gabriel Braga dan Gabriel Stockerhouse. Kualitas masakan dan bahan baku daging pun sudah tidak perlu diragukan lagi karena Gabriel adalah bagian dari Suis Butcher Group, salah satu pionir resto steak lokal yang sudah established dari tahun 1984. Bedanya, Gabriel Braga lebih berani untuk keluar dari konsep steakhouse tradisional dan menawarkan menu-menu fusion seperti: Tofu nuggets, Gochujang fried wings, honey glazed chicken bao, dan Balinese duck. Favorit kami adalah Shitake mushroom Suntori steak, 43 ribeye steak dan Miso butter striploin resep chef Arifin WIndarman.

Gabriel berlokasi di pusat dan jantung kota Bandung, yaitu Braga. Sebuah lokasi yang tentunya tidak asing dari era tahun ‘80an sampai sekarang sebagai pusat kuliner dan retail-retail yang unik. Konsep fusion Western dan Asian menjadi twist yang menarik, karena elemen-elemen yang bersifat nostalgic bisa bergabung dengan makanan kontemporer.

Di area luarnya pun terdapat Gabriel Stockerhouse, sebuah konsep pop-up Gabriel yang menyediakan makanan dengan konsep packaging yang lebih praktis, seperti pasta carbonara & beer, dan steak & fries-nya yang lezat, dengan pilihan 3 saus: togarashi, gochujang dan mushroom. Tidak hanya itu, konsep modern dan minimalis mereka pun terlihat di ambiance restoran, musik yang telah dikurasi untuk menemani pengunjung bersantap dan tentunya plating makanan yang ciamik. Craving for steaks and fusion foods? Segera kunjungi Gabriel di Jl. Braga No. 43, Bandung.

 

Words by JEURNALS
Photo from @gabriel.in.braga

Dari awal kehadiran nya, Flash Coffee sudah mencuri perhatian. Dengan gerainya yang memiliki colorways kuning dan merah, tentunya akan stand out diantara bangunan-bangunan yang mayoritas berwarna abu atau putih. Flash Coffee menawarkan kopi berkualitas dengan konsep “cepat saji”. Gerai mereka memang sepertinya ditujukan agar customer membeli untuk take away atau diantar via kurir.

Bagaimana dengan menu kopi mereka? Tentunya beberapa menu mereka sudah menjadi favorit team JEURNALS, seperti: Avo Latte, Oatmilk Cappuccino, Lotus Milkshake atau Macadamia Latte. Menu nya pun cukup lengkap dari varian non-coffee seperti Lemon Sunset (Lemon tea & gula aren), Pink Senorita (Strawberry & Lemon with soda), kolaborasi Flash Coffee X Boom (Boomies Latte, Shake, Tuna Spicy Cheese Bun dan Cheese Danish), Ice Tea, Cinnamon Series, Charcoal series, Sparkling Espresso dan tentunya beberapa sajian klasik dari Latte gula aren, Nutella / Toblerone Latte, Matcha Latte sampai Espresso, Americano dan Caramel Latte. Jika lapar, ada juga beberapa pilihan makanan seperti Oatmeal Raisin Cookie, Crispy Stick Balado, Stroopwafel Caramel, CInnamon Roll, Spicy Croque Monsieur Beef Croissant sampai Tuna sandwich.

Strategi promosi mereka pun cukup masif dengan mengendorse beberapa public figur, influencer, sampai band-band lokal. Jangan lupa untuk segera mengunjungi gerai-gerai mereka di Jl. Riau, Surya Sumantri, Braga Citywalk, Gatot Subroto, dan Buah Batu. Jangan lupa juga untuk restock botol Flash Americano 1 liter atau Latte Gula aren susu almond kalian, yang kapanpun bisa kalian minum dengan praktis.

 

Photos taken from Flash Coffee IG

Sajian seafood di ruangan terbuka adalah kombinasi yang tepat. Setelah membuka pop-up di perhelatan Keuken di Kiara Artha Park, Fisherman’s Paradise kembali hadir dengan konsep semi-permanent di Laswee Creative Space. Dengan konsep dapur di dalam truk yang bekerjasama dengan Labotruck, meja-meja outdoor dan sajian seafood bakar terasa sangat cocok. Saat kamu duduk pun aroma lezatnya udang bakar sudah tercium.

Fisherman’s Paradise bermula dari hobby memancing Satria NB (Pure Saturday, Teenage Death Star). Hasil-hasil tangkapan selama memancing pun diolah dengan bumbu bakar sederhana dan mulai diperjualbelikan selama pandemi dengan konsep hidangan siap masak dan juga beberapa pop-up di event-event otomotif dan event kuliner. Sekarang Fisherman’s Paradise sudah hadir dengan lokasi permanen di Laswee Creative Space dengan menu-menu dari mix seafood platter goreng tepung, fried fish Thailand sauce, kepiting saus Padang sampai udang bakar bumbu Malaysia.


Dengan opsi dibakar, digoreng sampai masak ala Chinese food dengan 5 kombinasi sauce (Padang, Singapore, Malaysia, Thailand & telur asin) tentunya sajian di Fisherman’s Paradise ini sangat beragam dan tentunya akan membuatmu kembali kesini beberapa kali untuk mencicipi semua kombinasi menu nya. Lokasi Fisherman’s Paradise ini sangat tepat untuk berkumpul bersama rekan-rekan dan keluarga sambil menyantap lezatnya seafood segar. Kunjungi segera di Jl. Laswi no. 1 / @fishermansparadise.id .

 

Words by Aldy Kusumah
Photos by Feri Alan & Ardly

Firman Boesly adalah salah satu skateboarder old school dari Bandung yang style bermain nya adalah speed dan melakukan big tricks baik pada saat drop in atau menghadapi obstacle rails besi. Bermain skate dari awal tahun ‘90an, bersama adik (Nova) dan kakak (Fajar), Firman pun merasakan kultur skateboard Bandung dari awal ‘90an sampai sekarang ini dimana dia masih aktif dan membuka Boesly school of skateboarding dan juga menjadi team manager dari Screamous skate team. Mari berbincang dengan Firman mengenai “perjalanan” skateboard dia dari Gedung Sate, Taman Lalu-Lintas, Hobbies skateshop sampai membawa dia mendapatkan sponsor dan berkompetisi dimana-mana..

“Segala sesuatu dalam kehidupan ini nyambung ke skateboard, kalau sedang ada masalah bisa cepat mencari solusi nya. Dalam pengambilan keputusan baik dalam bermain skate dan dalam hidup, kita pun diharuskan berfikir dan memiliki refleks cepat.”

Apakabar Firman? Sekarang kegiatan apa saja?
Alhamdulillah baik. Kegiatan masih seputaran skateboard. Kerjaan masih di produksi kemeja dan jaket dari 2003, bareng adik juga si Nova. Kalau untuk skate kebetulan buka skate school namanya Boesly school of skateboarding..

Berarti sekeluarga ikut jadi pengajar dan instruktur skateboard?
Kalau dibutuhkan si Fajar juga ikutan ngajar, kalau Nova ga mau ngajar haha. Lokasi di taman pramuka. Murid dari 3 tahun sampai 21 tahun ada. Pernah ada ibu-bu umur 39 juga ikutan. Mungkin agak gengsi kalau seumuran kita ikut kursus skateboarding haha. Total murid ada 11 alhamdulillah.

Gue inget dulu Boesly bros pernah di interview dulu jaman majalah Ripple. Yang main skate awalnya siapa?
Yang awal main kakak saya si Fajar tahun 1993-1994. Kalau pro kita bertiga sekeluarga bareng. Secara profesional bermain skateboard maksudnya. Dapet sponsor dan endorse pertama si Nova Spyderbylt tahun 98-2003, dan berangkat ke Thailand untuk kompetisi X-Games. Fajar dan saya bareng dapet sponsor tahun 1999-2000. Kalau saya di sponsorin sama Thrift clothing, brand nya si Metal dulu. Bareng sama Jack Curtain yang sekarang sudah jadi pro di Amerika. Lalu dapet sponsor berbayar yang decent Rip Curl. Lalu pindah kontrak ke Insight 51 brand Australia. Jadi memberanikan diri ke almarhum bokap untuk berhenti kuliah. “Mau hidup gimana nanti? Papan skate dan sepatunya aja harus beli. Uang darimana kalau ga kuliah.” Dulu beli sepatu Vans Salman Agah di Rockets BIP yang dari dulu aja sudah mahal. Karena saya sudah ada sponsor keluarga akhirnya support di tahun 2001-2002. Akhirnya keluar dari kampus dan skate for life. Di umur 40 ini saja alhamdulillah saya jadi team manager skate team Screamous. Kalau sekarang saya endorse dari Screamous aja.

Video skate dan majalah skate yang menginspirasi lo dari awal?
‘Hokus Pokus’ (H-Street, 1989). ‘Welcome to Hell’ (Toy Machine, 1996), cikal bakal nya brand Zero disitu. ‘Jump Off A Building’ (Toy Machine, 1998), dan ‘Dying to Live’ (Zero, 2002). Kalau majalah tentunya Thrasher, Transworld dan Big Brother. Itu aja yang masuk ke Indo jarang, cuma di Hobbies di Bandung mah. Saya aja ga pernah kebagian kalau mau beli majalah Thrasher di Hobbies karena benar-benar limited.

Skater-skater favorit lo siapa aja?
Ga berubah dari dulu sampai sekarang: Jamie Thomas (Zero Skateboards), Geoff Rowley dan Tom Penny (Flip Skateboards). Tom Penny yang gombrang bajunya double 3XL berlayer haha. Kalau main saya dulu dibilang lebih mirip style Zero Boy, karena banyak bermain besi dan mengambil style bermain Jamie Thomas. Kalau Nova dan Fajar lebih santai stylenya. Kalau Tom Penny style nya asik. Geoff Rowley style UK-based skater pisan, masa tua nya banyak main bowl dan ramps cuma dulunya brutal juga kaya Jamie Thomas. Pada masa nya mah mereka main satu tipe, cuma kalau sudah tua ya main nya mini ramps dan bowl. Saya juga main bowl, gausah banyak trick dan yang penting berkeringat lah hehe..

Bagaimana culture skateboarding di Bandung saat era lo awal mula main skate?
Saya juga SD udah maen skate pada tahun segituan, pas kelas 4-5 SD. Ada teman kebetulan anak nya wakil Gubernur. Dia duitnya banyak pisan, waktu itu beli papan 10 set dibagikan ke anak-anak, saya salah satunya. Dulu maen di sekolah aja anak-anak. Mulai kenal sama komunitas skate pertama di Gedung Sate (GS) pas tahun 1993, dibawa sama Fajar. Anak-anak tahun ‘90an awal kan kemana-mana jalan kaki, dari rumah di Kacapiring sampai ke Gasibu pake BMX sama Nova dan Fajar bertiga. Saya nonton disitu karena Fajar sudah ada teman-teman disitu. Dari situ kita bertiga beli satu papan untuk bertiga. Ollie, manual dulu belum tahu, baru tau pas lihat anak-anak GS bermain trick.

Sebelum saya main di Taman Lalu-lintas (TL) saya sempat beli papan dari anak GS. Main lah mulai di TL tahun 1994-1995. Ternyata papan yang saya beli itu ketinggalan jaman dan besar dibanding anak-anak TL yang papan nya kecil-kecil. Ternyata anak-anak GS ketinggalan zaman haha. Kalau style sama ya oversized dan gombrang-gombrang. Mau main malu papan nya beda dan di TL jago-jago. Disana seharian dateng duduk dan nontonin yang main aja seharian. Disitu ada Robby Gondrong, Opa Tiko, Maskom, Dimas, Ari Boy, Cholay. Saya ditegur sama Robby, bahagia banget ditegur hahaha. Disuruh drop di quarter ramps. Wah ini mungkin challenge saya untuk bisa diterima disini. Kalau anak-anak GS kaya Fajar dan Nova bikin komunitas pindah main ke Balkot sama Azis To See, Sonny Blankwear. Kultur musik kental juga disana. Tahun 1996 mulai ikut pertandingan di TL, tahun 1997-1998 Hobbies Jl. Tera buka, dan karena TL tutup semua pindah main di Hobbies Skate Shop. Tahun 2000an gara-gara kenal Charlie Hobbies jadi dapet juga sponsor-sponsor berbayar. Charlie suka memberi tawaran ke anak-anak yang potensial, Rip Curl, Insight 51 dapet dari Charlie.

Trik paling berbahaya apa yang pernah lo coba dan cedera paling parah pas lo coba trick apa?
Trik paling berbahaya yang saya pernah coba mungkin Kickflip backside lipslide di downrail. Tapi yang membuat saya celaka cedera dislokasi bahu kanan adalah trik heureuy yang namanya caveman. Hampir anak skate semua Dy, celaka pas lagi bercanda. Karena trik bahaya kita semua pasti fokus dan full dedikasi. Alhamdulillah jarang ada yang celaka parah. Tapi pas sedang bercanda malah suka ada yang cedera parah. Banyak yang lagi maju ga konsen jatuh kaki retak. Si Dimas kakinya nyelip di celah solokan basement BIP pas acara Bandung Public Festival. Jadi ya itu biasanya lebih banyak yang celaka dan cedera bukan karena trick yang berbahaya, lebih banyak pada saat bercanda atau tidak fokus.

Melihat Jamie Thomas drop in dari lantai 2 ‘Leap of Faith’ di video “Thrill of it All” dan Aaron “Jaws” Homoki drop-in 25 tangga di Lyon Perancis, apakah dengan conditioning para skateboarder professional ini memiliki kaki yang lebih kuat dari orang-orang normal? Lalu apa saja yang lo ajarkan saat menjadi instruktur di Boesly’s school of skate?
Saya juga pernah melihat Dimas drop in tinggi banget, jatuh dia langsung berdiri lagi. Jadi secara science, skateboard ini mengurangi impact ketika lo loncat dari ketinggian. Tanpa skate, akan menjadi high impact karena jatuh dalam keadaan diam (tidak maju) ketika landing. Lutut bisa potong atau ankle. Ketika ada skate dan roda, akhirnya impact tinggi ini berkurang karena ada gerakan maju kedepan setelah landing. Si Jaws yang drop in 25 tangga di Lyon Perancis itu dia ngebut banget, ketika itu papan nya aja masih patah. Full impact ada di skateboard entah di papan atau truck bengkok, mengurangi impact di kaki skater nya. Kalau suspensi sih kita naturally sudah ada di kaki. Saya pernah drop in paling tinggi 14-15 tangga, Dimas pernah drop in di KFC Wastukencana depan IP. Sampai sekarang detik ini belum ada yang berani. Itu tinggi nya lebih dari 2 badan kita.

 

Itu semua kalau saya diawali dari drop in 3 tangga, naik ke 4 tangga, 9 tangga ITB. Kalau jatuh sudah terbiasa roll kedepan, jadi impact nya berkurang. Reflek dan motorik akan terlatih. Karena itu di skate school saya ini sangat menyarankan anak-anak dari kecil agar belajar motorik dan respon badannya cepat. Semua diarahkan, jadi refleks si anak jadi berkembang. Secara scientific dan ilmu pengetahuan skateboard ini sangat membantu motorik dan refleks si anak. Di tempat saya anak introvert jadi mudah bergaul dengan komunitas dan anak-anak lain, yang tadinya badannya kaku jadi luwes. Selama 30 tahun saya main, Skateboard ini berpengaruh ke kehidupan. Segala sesuatu dalam kehidupan ini nyambung ke skateboard, kalau sedang ada masalah bisa cepat mencari solusi nya. Kita datang ke skate spot dan melihat obstacle yang harus ditaklukan, dan otak kita pun langsung mikir di depan obstacle tersebut ada apa lagi nih, jadi solusi itu harus kita dapatkan dari kebiasaan main skate. Dalam pengambilan keputusan baik dalam bermain skate dan dalam hidup, kita pun diharuskan berfikir dan memiliki refleks cepat.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Firman’s archives

 

Ada sebuah communal space yang menarik dan berlokasi di Jl. Mangga (masih di sekitar daerah Jl. Riau) yang bisa kalian kunjungi. Menurut Emir, founder dari Downtown Market (DoMa), “Downtown Market itu terinspirasi dari warung-warung rokok kecil yang ada di pinggir jalan di Indonesia, terus kepikiran gimana kalau warung-warung rokok itu jualnya jadi sesuatu yang berbau musik dan fashion”. Karena di luar negeri nya, menurut Emir Downtown Market itu seharusnya adalah open air market yang diadakan mingguan. DoMa mulai beroperasi secara online dan mulai membagikan produk-produk pertamanya pada 15 Desember 2021.

Konsep DoMa sendiri adalah produk casual sehari-hari yang disukai oleh Emir, dan tentunya terinspirasi dari hal-hal yang sedang disukai dan menarik baginya. Nama area dimana DoMa berlokasi adalah Mango St yang isinya ada Downtown Market, Downtown Studio (Studio musik / rehearsal space), The Pleasant Service (coffee shop), Room+Room (food service) dan Flood Coffee Roastery. Menurut Emir “Arsitek bangunan ini dibikin sama tiga orang antara lain ada aku sendiri terus Ilham dari The Pleasant Service dan Nabil dari Room+Room, dan kita gak ada basic arsitek sama sekali tapi kita nyoba bangun dari referensi yang kita suka.”. Emir juga menambahkan waktu membangun mereka banyak terinspirasi dari bangunan Dendy Darman dan bangunan yang ada di ruko Segitiga Mas di Kosambi. Sehingga banyak menggunakan aksen tegel tegel putih.

Rencana kedepannya, Emir masih ingin mengembangkan Downtown Market dan Downtown Studio, yang memiliki studio latihan dan juga fasilitas rekaman. Bagi teman-teman band/brand yang mau bikin aktivasi di DoMa dari hearing session atau pra dengar sampai launching brand/album disini juga bisa. “Harapannya Downtown Market ini bisa jadi melting point musisi atau teman teman pekerja seni lainnya”. Segera kunjungi Downtown Market / Studio dan juga nikmati berbagai sajian dari The Pleasant Service, Room+Room dan Flood Coffee Roastery. One stop shop dimana band kalian bisa latihan / rekaman, ngopi, makan dan juga membeli artikel-artikel fashion dari DoMa sambil diiringi oleh background music yang dikurasi oleh tenant-tenant Mango St.

 

Words by Aldy Kusumah
Photos from Downtown’s archives

2022–Bandung-based apparel/brand, Pile of Dime, baru saja mengeluarkan capsule pertamanya “Logos/Sublunary” yang resmi dirilis pada Kamis, 25 Agustus 2022. Merespon sifat dasar manusia yang tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya dan perjalanan spiritual personal, Pile of Dime mencoba mempresentasikan lewat artwork bergaya doodle dengan karakter pewarnaan ala vintage comic.

Secara arti, “logos” memiliki arti buah pikiran yang diungkapkan oleh perkataan, pertimbangan nalar, atau arti. Sementara “sublunary” atau alam sublunar adalah tempat yang penuh perubahan dan peluruhan. Di mana benda-benda muncul, tumbuh menjadi matang, dan akhirnya mati. Ini menjadi wujud ide fundamental dari Pile Of Dime tentang hasrat dan kefanaan.


Menurut Krisna Rinaldi sebagai sosok di balik Pile Of Dime, produknya sendiri menjadi representasi dari sisa atau puing-puing yang bisa dikerjakannya untuk memperkuat daya hidupnya. Ini menjadi bentuk accepting-nya terhadap sifat dasar manusia yang tak kenal puas.

Menggaet beberapa designer dengan karakter yang kuat seperti Ebispen dan Budi Pratama alias n001cares, mereka sukses memberikan kesan yang kuat dalam beberapa produk yang dimunculkannya dengan line-up hoodie, t-shirt, short pants, caps dan cardigan.

Capsule “Logos/Sublunary” dari Pile Of Dime ini sudah tersedia secara online dan offline di Downtown Market.