Setelah melalui rangkaian dua maxi-single di “Simpul Tak Berdaya” dan “Jeruk Segar”, akhirnya Swellow resmi merilis album penuh pertama yang diberi judul “Katus”. Band indie-rock asal Bogor ini membuka album dengan sebuah track banger berjudul ‘Penjelajah Waktu’. Sebuah riff gitar slacker indie-rock yang menarik, lengkap dengan berbagai variasi chord minor, sus2 dan maj7. Track kedua ‘Segar’ dibuka dengan perkawinan riff gitar drive tipis dan melodi fuzz kotor. Pemilihan sound yang keren ini membawa saya ke era keemasan Matador Records, Drag City dan Kill Rock Stars. Swellow pun tampak effortless membawakan pakem-pakem indie-rock akhir ‘90an-awal ‘2000an ini.

Track ketiga yang berjudul ‘Serangga’ akan membuat para penggemar Wilco merasa nyaman seperti dirumah sendiri. Menariknya, Swellow bisa membuat lagu tentang “diserang” serangga tetap menarik: “Meninggalkan memar / Tak sanggup bekerja / Tangan kanan semakin besar / Lebam hariku diserang serangga”. Tema-tema yang mundane atau trivial seperti ini justru membuat lirik-lirik Swellow lebih berkarakter dengan ciri khas slacker indie-rocknya. ‘Simpul’ sudah pernah dirilis sebagai maxi-single sebelumnya. Tentunya lagu ini akan menjadi crowd-favorite jika mereka tampil, dengan melodinya yang catchy dan membius. ‘Penjara’ juga adalah sebuah balada pop yang cukup stand-out dengan kontribusi dari Harlan Boer. Jika kamu menyukai ‘Penjara’, maka ‘Nyali’ yang bernuansa melankolis juga adalah soundtrack yang tepat untuk leyeh-leyeh seperti slacker sejati. Mereka juga tidak segan untuk menampilkan layer-layer sound yang noisy ala Yo La Tengo seperti di lagu ‘Antrian’ dan ‘Segar’. Semoga mereka lebih banyak lagi membuat lagu seperti ini. Lirik-lirik mereka yang straightforward pun sangat menarik untuk divisualisasikan, seperti “terjun bebas dari teras” atau “tidur dengan lampu menyala” di lagu ‘Kita Semua Kalah’.

Lagu-lagu di album ini bagaikan sebuah selimut hangat; one of those albums that will give you a warm and fuzzy feeling inside. Track demi track masuk ke kuping ini secara effortless. “Katus” adalah sebuah sajian album all killer no filler. Tanpa terasa saya sudah berada di penghujung album dengan penultimate tracknya ‘Pasien’ dan ditutup oleh ‘Berkelana’ yang penuh energi. Menurut Bayu Ramadhan Dwi Azni, sang vokalis, “Katus” adalah perpanjangan dari lagu-lagu di EP “Karet” (2021), di mana Swellow bercerita tentang keseharian, fantasi, sampai perasaan terhadap pencapaian. Semua cerita tersebut ternyata tidak bisa lepas dari peristiwa kesialan,”. Overall “Katus” adalah sebuah album indie-rock yang bagus. Mungkin dewa-dewa indie-rock seperti Steven Malkmus, Robert Pollard dan Jeff Tweedy pun akan approve jika mendengar album ini. Tidak heran jika album ini akan menjadi pilihan AOTY untuk banyak orang.

For fans of: Guided By Voices, Pavement, Wilco, Pedro the Lion & Kitchens of Distinction

Key tracks: ‘Simpul’, ‘Segar’, ‘Antrian’, ‘Serangga’, & ‘Pasien’

 

Text by Aldy Kusumah
Photo by Rendyka Widya

Setelah mendapatkan nominasi Anugerah Musik Indonesia untuk kategori  “Artis Solo Pria/Wanita/Grup/Kolaborasi Elektronika Terbaik” di tahun 2022, White Chorus tiba-tiba drop sebuah album baru di tahun 2023. Setelah debut album “FASTFOOD” yang dirilis pada tahun 2021, kini mereka kembali dengan racikan yang lebih fresh secara produksi, aransemen dan direction. Mereka pernah mengatakan kepada Jeurnals di sebuah interview kalau pada awalnya berniat membuat sebuah album full dengan lagu trip hop ala Portishead dan Massive Attack yang tidak terealisasi di album “FASTFOOD”. Ternya di album “LIMBO” ini, mereka tetap tidak merealisasikan itu tetapi malah membawa direksi musikal White Chorus ke arah yang lebih fresh.

Dibuka dengan lagu ‘BLU’ yang di co-produseri oleh Alyuadi (Heals, Fuzzy I) dan Dhafir (The Sugar Spun), track ini dibuka dengan strumming gitar yang sedikit dreamy dibalas oleh lantunan dari Friska “what else can i do?”. Menarik, karena mereka mungkin bisa dibilang jarang membuka sebuah lagu dengan riff gitar. ‘Mystery’ adalah track yang tepat untuk meneruskan mood ‘BLU’. Highlight track ini terdapat di menit 1.29 dimana terdapat perubahan beat yang semakin intens yang berfungsi sebagai breaks sebelum kembali ke verse. Track ke 3 adalah ‘This Feeling’, single pertama yang sangat pop dan sedikit mengingatkan saya pada Homogenic di album kedua. Beat lagu ini juga sedikit mengingatkan pada single ‘Ditto’ milik NewJeans. ‘Somerset’ yang diambil dari sebuah nama daerah di Singapura adalah single ketiga dari album ini (yang video klipnya juga berlokasi di Somerset). Masih dalam wilayah electro-pop, track ini juga sangat catchy.


‘Don’t Want This To Be Over’ sangat menarik. Loop gitar akustik di yang bermain di seluruh lagu adalah nostalgia terhadap RnB tahun 2000an. Ya, White Chorus memang versatile dan dengan nyaman bisa bermain di genre electro-pop, RnB, house sampai trip hop. Membicarakan trip hop, ‘3AM’ adalah sebuah track bernuansa trip hop yang sedikit gelap. Co-produced juga oleh Tendi Ahmad dan menampilkan rapper Nartok. Ah, ternyata sebuah lagu berbahasa bilingual, menarik. ‘HoW cOuLd U’ sangat menarik, dengan beat dinamis dan gitar jangly. Saya bisa membayangkan track ini akan menarik jika dimainkan live dengan full band tanpa sampling dan sequencer. ‘KAFFEINE’ adalah penultimate track yang juga diproduseri oleh Kareem Soenharjo. Lagu tidak akan terdengar out of place apabila dirilis di akhir ‘90an atau awal ‘2000an. ‘Amarah’ menutup album ini dengan high-note. Dan menurut saya ini adalah track terbaik dan menjadi instant favorite setelah didengar. Mungkin White Chorus harus mempertimbangkan untuk membuat sebuah album full berbahasa Indonesia, karena mereka bisa melakukan nya dengan flawless. Overall “LIMBO” dipenuhi oleh produksi yang top notch dan versatilitas White Chorus untuk berpindah-pindah genre di beberapa lagu tanpa terdengar memaksakan. Walaupun para produser tamu disini mampu menambah warna yang menarik, lagu-lagu yang diproduseri oleh Emir Agung Mahendra sendiri menurut saya sudah cukup keren. Jika ada band yang mampu self produced dengan hasil yang keren, mungkin White Chorus bisa masuk ke list tersebut.

 

Text by Aldy Kusumah

“Ode to all Odds” adalah sebuah ketidaksengajaan: beberapa lagu dan materi yang dikumpulkan satu persatu oleh Kanina Ramaniya Kalyana menjadi satu kesatuan (baca: album). Tetapi semua track disini tetap coherent dan memiliki benang merah walaupun Kanina bermain dengan berbagai genre sebagai playground nya. Dibuka oleh ‘What Started the Vortex’ adalah salah satu intro album terkeran di 2023. Suara gitar reverse delay disambut oleh spoken words dari Kanina, yang jika didengar (atau dibaca) liriknya, lumayan depressing (“I thought of jumping off seven stories building like the predecessor never before I”). Lalu out of nowhere, gitar berdistorsi masuk dan Kanina mulai “memberanikan” diri untuk bernyanyi dan melupakan kegelisahan yang diucapkan sebelumnya. Track kedua ‘Lust’ adalah sebuah lagu elekronik yang trip-hoppy dengan vokal yang soulful. Berbeda dengan lagu sebelumnya, track ini memiliki mood yang sexy, walaupun agak menyentuh tema dan area grief. Produksi di lagu ini patut diacungi jempol, hats of to Cosmicburp dan Mac Dalen.

“and I’m Not Sorry” adalah sebuah track berisi political stance dari Kanina dimana dia bersama para penyintas kekerasan seksual. Track yang bernuansa ‘90s aternative rock ini terasa sedikit pengaruh Fiona Apple, and that’s a good thing. “Heist Costs Money” adalah lagu favorit di album ini. Sebuah pop ballad yang dimulai dengan intro piano dan sound gitar yang smooth. Tema yang diangkat Kanina cukup berat disini, dimana lirik bercerita mengenai perang batin yang dialami para PSK untuk menghidupi dirinya dan survive. Bridge di menit 2:30 menurut sangat menarik, sepertinya ini akan jadi lagu yang keren jika dibawakan live. Lalu ada sebuah spoken words yang cukup menarik di akhir lagu yang menurut Kanina terinspirasi dari ‘Candu Cinta’ nya Aksan Sjuman. Looping synthesizer di outro track 4 pun disambung dan menjadi intro di track 5 ‘Katrina’. ‘Vitruvian Man’ adalah sebuah track yang minimalis, dimana basslines yang empuk dan choir vocal menjadi pilar utama di lagu ini. ‘Hell/High Water’ memiliki groove yang bouncy. Entah apa judul lagu ini terinspirasi dari film neo-noir karya penulis Taylor Shedridan atau bukan, tetapi ini akan menjadi sebuah banger jika dibawakan live dengan sound yang menunjang. ‘Lament Song’ adalah sebuah lagu pop yang di elevate oleh instrumentasi keren dan tentunya suara “smoky” Kanina yang berkarakter. Overall, untuk sebuah debut album, “Ode to all Odds” adalah sebuah album yang polished dan matang. Kamu tidak akan menyesal membeli CD ini, karena tidak menemukan satupun lagu buruk disini.

Text by Aldy Kusumah

Sunny Summer Day adalah alamarhum Dicki Hermansyah (Voices & Guitar), Arief Norman (Lead Guitar)
, Vicky Stefanus (Bass)
 & Teguh Indraputra (Drums). Ferdy Destrian mengisi vokal pada dua dari tujuh lagu di album ini (‘There is a Way’ and ‘Symphony of Lights’). Album ini adalah kisah almarhum Dicki Hermansah dan istrinya yang melakukan perjalanan ke Hong Kong pada tahun 2017. Seharafiah judul “Dreams & Memories”, album ini berisi mimpi dan kenangan yang mereka buat, yang lalu dituangkan ke dalam beberapa lagu di album ini. Lagu yang secara konseptual lebih raw atau ‘kotor’ namun tetap nyaman untuk didengarkan. Produksi yang matang membuat album berisi 7 lagu ini terasa sangat nyaman untuk dinikmati, baik itu di sound system “hareeng” kamu , di mobil ataupun menggunakan earphone telepon genggam.

 

Dibuka oleh ‘Memories’ dengan intro basslines yang catchy, kemudian disambut oleh gitar jangly yang melodious. Entah kenapa, tipe-tipe lagu seperti ini selalu mengingatkan pada Bandung era tahun 2000an. Aransmen lagu ‘Memories’ cukup menarik, karena setelah intro instrumental dan verse, lagu pun ditutup oleh outro yang sama dengan intro. Short and sweet, dan pastinya akan membuat pendengar mengulang track ini. Track 2 berjudul ‘Pearl of Orient’, yang dari judulnya tentu bercerita mengenai kota Hong Kong tersebut. Dibuka oleh intro gitar yang shoegazing dan drumming pattern yang menarik, sedikit mengingatkan pada For Tracy Hyde. Ini adalah lagu favorit di album ini. Durasi 3 menit pun terasa singkat di lagu ini.

‘There is a Way’ adalah sebuah lagu indie pop ala Sarah Records, dengan sound modern. ‘Dusk and Moon (夕暮れと月)’ adalah sebuah track yang menarik, dengan lirik berbahasa Jepang dan diisi vokal perempuan dari Nana Furuya (Charlotte is Mine) yang membius, membuat vibes nostalgia semakin terasa. Track ke 5 ‘Spider Tale’ kembali menaikkan tempo album dengan drumming yang upbeat nya. Sound gitar di lagu ini terasa warm dengan setting drive dan reverb yang pas. Renyah sekali. SSD kembali menurunkan tempo di lagu ‘Symphony of Lights’. Untuk lagu ini tidak terlalu spesial, apalagi jika dibandingkan dengan 6 lagu lainnya yang benar-benar bagus. Track penutup ‘Tomorrow’ sangat menarik, dimulai dengan sinkop drumming dan pattern gitar yang sedikit ehm.. Math rock. Distorsi dan wall of sound shoegazing di lagu ini pun terasa pas membalut aransmen menjadi sedikit droning. Sebuah track yang sangat pas untuk menutup sebuah album yang juga menjadi tribute untuk almarhum vokalis terdahulu, Dicki Hermansah. Seolah mengucapkan selamat tinggal tapi tetap menyambut hari esok dengan penuh passion.

Tracklist:
1. Memories
2. Pearl of Orient
3. There is a Way
4. Dusk and Moon
5. Spider Tale
6. Symphony of Lights
7. Tomorrow

Text by Aldy Kusumah

“Larynx” adalah sebuah lembaran baru dari Kuntari setelah “Last Boy Picked” yang dirilis pada tahun 2021. Sebuah EP berisikan 5 track yang dimainkan oleh Tesla Manaf (Cornet, Sampler, Gitar) dan Rio Abror (Drums & Perkusi). Setelah sebelumnya dirilis oleh netlabel Yesnowave, kali ini “Larynx” hadir dalam format fisik berupa CD, dengan sebuah track tambahan berjudul ‘Stridula’. Dibuka oleh ‘Baopi’ yang terdengar sangat tribal dan eksplosif. Intensitas komposisi di lagu ini bagaikan seseorang yang meledak-ledak dan memiliki moodswings. Permainan drum dan perkusi dari Rio Abror berhasil mengelevate layer-layer instrumen yang dimainkan oleh Tesla. Those two guys can really go hand in hand. Walaupun lebih eksperimental, Tesla pun kembali bermain gitar di track ini. Track ini pun ditutup oleh sebuah suara hewan yang terdengar seperti ingin “berternak”. Track kedua ‘Larynx, Pt. One’ melanjutkan sesi “mating calls” hewan yang ada di menit-menit akhir track pertama. Permainan cornet Tesla di lagu ini terdengar seperti versi liarnya Miles Davis era “Bitches Brew” yang menggunakan efek-efek modern.

Track ketiga adalah ‘Larynx, Pt. Two’ yang berdurasi 12 menit. Track ini tidak akan terdengar out of place apabila dipakai menjadi film score di film-film seperti “Salo”, “Cannibal Holocaust” ataupun film-film bergenre folk-horror seperti “Midsommar” dan “Enys Men”. Overall, “Larynx” adalah sebuah mini-album dengan konsep yang dinamis dan fluid. Dari intensitas komposisi dan output yang bisa kita dengar di EP ini, saya bisa membayangkan Tesla dan Rio mengurung diri di sebuah tempat dan mengerjakan album ini dengan jamming yang dilanjutkan dengan sesi workshop, dari pagi sampai pagi lagi. Lalu merekamnya dengan berbagai revisi pada aransmen maupun eksplorasi sound. Setelah mendedikasikan dirinya memproduce beberapa album jazz, world music, neo-classical, Tesla pun mem-followup eksperimennya dalam menciptakan teknik embouchure yang tidak ortodoks untuk cornet/terompet. Menurut press releasenya: “Tujuannya adalah untuk meniru suara perkawinan hewan dan makhluk fiksi raksasa. Menggabungkan suara primal tersebut dengan irama Hadrah Kuntulan Banyuwangi, dan Sar Ping/Barongsai (tarian barongsai) Bali-Cina. Dan dengan sengaja mengaibaikan not.”. Whoa. Simak juga bonus track ‘Stridula’ yang tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan 4 track sebelumnya.

 

Text by Aldy Kusumah

Sebelum merilis debut album nya, Bleach rupanya ingin “menghangatkan” suasana dengan sajian EP berisi 4 lagu ini. Walaupun single “Ice Cold” dan “Overcast” sudah dirilis tahun 2022 kemarin, hal ini tidak menghentikan Bleach untuk menyajikan 4 lagu dengan packaging yang menarik ini. Track pembuka “Chrome” adalah track tersingkat di EP ini. Dengan hanya bermodalkan durasi 1:42 detik, Bleach mampu menyajikan sebuah track opener yang singkat namun padat. Dibuka oleh dentuman drum yang intens diiringi suara synth yang indah, basslines pun menyambut. Michael (vokal) langsung menyambut rekan-rekan nya dengan spoken words “Gotta find my way back to the cold / I see everything in chrome / Asking myself if this thing worth the pain / I see everything in chrome“. MV “Chrome” pun rilis pada saat tulisan ini ditulis (15/03). Tidak salah bila mereka memilih track ini untuk memulai jumpstart menuju rilisnya full album Bleach nanti.

Track kedua adalah “Scales”, sebuah track yang mungkin diperuntukkan bagi kaum Libra. Lagu alternative rock ini mungkin terinspirasi Drug Church dan Diamond Youth yang album “Don’t Lose Your Cool”. Menariknya, di track ini Bleach berkolaborasi dengan Andika Surya dari Collapse, sehingga cukup membawa warna lain ke lagu ini. Sebuah track yang catchy dan diakhiri oleh sajian pop jazz dreamy ala slacker rock, lagu pun kembali intens saat lirik “Leaving you is not easy” dinyanyikan. Sebuah track yang sangat fresh dan akan menjadi fan favorite di kemudian hari. “Overcast” adalah sebuah track ala tough guys HC, yang kemudian dibalut oleh riff dan vokal bernyanyi yang sedikit grungy. Dan tiba-tiba, suara perkusi pun masuk ditemani oleh basslines yang groovy dan gitar dengan wet chorus. “Iced Cold” mungkin adalah track favorit saya di mini album ini. Dibuka dengan suara flanger yang came out of nowhere, lalu tiba-tiba U-turn menjadi riff ala Nirvana era ‘In Utero’. Vokal Michael tetap menjaga intensitas dan membuat lagu ini pun tetap berada di koridor hardcore yang kental. Riff gitar pun sangat solid di seluruh lagu ini, tanpa ada momen-momen yang membosankan.

For fans of: Higher Power, Expire, Backtrack, Turnstile dan Trapped Under Ice, EP dari Bleach ini menurut saya sangat segar secara musikalitas. Can’t wait to see what surprises they’ve got for us in the upcoming album.

 

Words by Aldy Kusumah

Setelah merilis 12th House Rock pada tahun 2020 lalu, band alternative rock asal Dallas, Texas ini kembali dengan Moments of Clarity, jauh lebih baik dari predesesornya. Kembali dirilis oleh label Run For Cover, di album ini Narrow Head kembali meracik sebuah ramuan yang terdiri dari elemen-elemen terbaik grunge, shoegaze maupun American indie rock. Dibuka dengan “The Real”, sebuah track pembuka yang cukup bombasti. Riff grunge yang tenggelam oleh efek fuzz di intro cukup mengundang kepala untuk sedikit mengangguk pelan. Tack kedua “Moments of Clarity” adalah single utama album ini. Sama seperti track sebelumnya yang grungy, lagu ini juga memiliki chorus yang sangat enak, dan tentunya Pumpkins heavy secara aransmen dan referensi. Tidak aneh bila mereka dijuluki dream grunge (dream pop + grunge) secara genre.

Sampai di track ke-3 bertitel “Sunday”, semakin yakin kalau band ini sudah nyaman bermain dengan tempo middle, tidak terlalu cepat, tetapi tidak pelan juga. Sangat menyukai petikan lead guitar di menit 2:58 yang chorus tetapi tetap menembus mix. Jika album sebelumnya lebih berfokus kepada lirik-lirik depresif mengenai substansi dan aransmen yang “introvert”, di album ketiga ini Narrow Head terasa lebih anthemic dan eksplosif secara aransmen maupun sound. Lihat saja sound gitar yang lebih punchy di album ini. Krisis mental yang dialami Jacob Duarte di album 12th House Rock diganti oleh lirik-lirik yang sedikit lebih positif disini, seolah Jacob menemukan sisi spiritualnya pada lirik “How good does it feel / To be you, to be real?”. Lirik di lagu “The Comedown” seolah menawarkan konklusi kepada para pendengar yang sedang mengalami krisis identitas “You should know I’m getting older / I lost myself and it feels so good.”.

Bagi para penyuka musik ‘90an, album ini terasa nostalgic dan sekaligus memberi angin segar juga di stagnan nya sound-sound band kekinian. Kalian akan menemukan riff-riff ala Smashing Pumpkins atau Hum (“The Real” & “Moments of Clarity”), beat-beat dan gitar ala ‘90s alt-metal seperti Quicksand, Helmet, Deftones (“Flesh & Solitude”) dan nuansa glide ala My Bloody Valentine (“The World” & “Soft to Touch”). Don’t get me wrong, semua referensi itu mereka racik sedemikian rupa menjadi karakter mereka sendiri. Lagi pula jika membicarakan originalitas, band mana sih yang 100% original di tahun 2023?

Key tracks: The Real, Sunday & Moments of Clarity

 

Words by Aldy Kusumah

Unit post-metal asal Jakarta ini kerap mencuri perhatian para penonton setiap mereka perform. Tidak lain karena materi yang mereka bawakan memang keren, terkonsep dan sound live mereka memang terbukti dahsyat. Di album Eternal ini, Morgensoll menawarkan 3 lagu instrumental dan 1 lagu dengan vokalis tamu Ekrig (Satan’s Heir) dari Avhath. “Adiaphora” adalah lagu yang tepat untuk pembuka: seolah menjelaskan akan seperti apa mood dan konsep album ini dengan durasi 11 menit 19 detiknya itu. Drumming yang intens disambut oleh gitar lead ala post-punk yang menembus mix dengan indah dan membius. Pada track kedua (“Familiar Changes”), Satan’s Heir hadir untuk membuat suasana semakin kelam. Song structure ala black metal pun tidak terhindarkan, tetapi ajaibnya masih nge-blend dengan konsep post-metal yang diusung Morgensoll. Sedikit mengingatkan saya pada Deafheaven era Sunbather, tetapi tetap mempunyai karakter yang kuat (apalgi dengan droning atmosferik di awal komposisi). Track ketiga, “Euthanasia” dimulai dengan suara efek yang menyerupai “flatline” pasien ICU di rumah sakit. Euthanasia sendiri adalah sebuah praktek untuk mengakhiri hidup untuk mengurangi penderitaan pasien yang sudah tidak bisa diselamatkan. Anyway track 3 sangat atmosferik dan sound nya pun megah, cocok jika dibawakan pada saat manggung di arena atau stadium besar. Dari keempat track yang dihadirkan disini, favorit saya adalah track terakhir “Getun”, yang dalam bahasa Jawa berarti “Kekecewaan”. Track ini sebenarnya cukup straightforward dan mengingatkan akan kejayaan band-band post-rock/post-metal medio tahun 2000an dengan aransmen crescendo nya yang klimaks.

Morgensoll adalah project solo dari Haecal Aliba Benarivo, yang mengusung genre Post-Metal & Post-Rock. Morgensoll gigih mengusung konsep musik instrumental sejak tahun 2016. Morgensoll cukup prolifik dalam berkaraya: 2 single pada tahun 2018 (Ngengat dan Introvert), album live di tahun 2019 (Prologue), 2 single di tahun 2021 (Doomed & Logos), 2 single di tahun 2022 (Sense of Belonging) dan album Eternal ini untuk menyambut 2023. Hebatnya di album Eternal ini semua seingle yang pernah dirilis tidak ada satupun yang dipakai. Untuk versi kasetnya, Eternal akan dirilis oleh Kamar Bising dan Harsh Productions. Dan ya, Eternal adalah sebuah album karena berdurasi lebih dari 40 menit walaupun hanya terdapat 4 track saja didalamnya. Memang tidak aneh jika mereka suatu saat bisa sepanggung dengan Pelican, Red Sparrowes atau Godflesh, karena Morgensoll is just that good.

Key tracks: Familiar Changes, Getun

 

Words by Aldy Kusumah

Album Rimpang hadir di tahun 2023, tepatnya 8 tahun setelah ERK merilis “Sinestisia”, album ketiga mereka yang cukup epik. Dari awal album ini dibuka, kesan “mewah” sudah tersirat dari aransmen dan sound di lagu pertama. Dibuka dengan “Fun Kaya Fun” yang synthesizernya mengingatkan saya pada Beach House, rupanya eksperimentasi yang dilakukan di album ini akan membuahkan sesuatu yang menyenangkan untuk didengar. Poppie memainkan bass lines nya dengan groovy, dan gitaris baru Reza diberikan ruang untuk bereksplorasi dengan gitarnya. Dengarkan keindahan e-bow Reza yang juga menyelimuti track ini. Peran vokalis latar Suraa (Cempaka Suarakusumah) Track pertama ini pun sudah menjauhkan ERK dari kesan trio minimalis yang kerap menempel sejak debut album Efek Rumah Kaca (2007) dan album kedua mereka Kamar Gelap 2008. Dengan hadirnya 2 personil (Poppie dan Reza), tentunya penulisan lagu di album ini tidak lagi didominasi oleh duo Akbar dan Cholil, melainkan sebuah proses kreatif sebuah band yang beranggotakan 4 orang.

Track ke-2 “Bergeming” seolah membawa kita ke ERK era album 1 & 2. Dimulai dari drumming Akbar yang sedikit mengingatkan saya pada Jason McGerr dari Death Cab For Cutie. Begitu mantapnya bridge di menit ke 2:18. Lalu dari situ lagu pun semakin penuh bagaikan crescendo orkestra yang indah. Track ketiga “Heroik” adalah lagu paling aksesibel di album ini. Sebuah lagu “pop” dengan lirik “Merasa heroik / Memekik-mekik / Orang-orang bergidik / Peran yang kau pikul / Pamrihnya menyembul”, sudah pasti Cholil membicarakan figur-figur yang ber akrobat agar terlihat bak pahlawan didepan media massa, entah dibelakang semua topeng itu apa peran mereka. “Tetaplah Terlelap” seolah merayakan kesedihan dan melankolia menjadi suatu harapan. Sebuah lagu pop dengan semangat akar rumput. Tentunya salah satu track favorit saya disini adalah “Bersemi Sekebun”, dimana Cholil dan cohorts nya menggaet kolaborator Morgue Vanguard (Herry Sutresna), bukan untuk part rapping melainkan spoken words. Tentunya penggalan lirik ini akan menjadi favorit banyak orang: “Ada sejenis api dari kemustahilan / Sejenis harapan yang datang dari pelan nyala sekam / Sejenis badai lahir dari rajutan bukan kepalan / Tak semua seruan harus dilantangkan”. Lagu ini mungkin adalah sebuah ode untuk “perang-perang yang tak akan dimenangkan”, sebuah homage untuk kisah-kisah perjuangan baru yang lahir dari kolektif-kolektif kecil, dan tentunya ini adalah pesan untuk “bertahan sedikit lebih lama” karena hari yang baik akan datang. Album Rimpang ini memang bercerita mengenai harapan-harapan yang baru lahir secara garis besarnya (Google: Definis Rimpang).

Kekuatan Rimpang sudah tentu dari aransemen, kekuatan lirik Cholil, dan songwriting style mereka yang sudah mencapai level selanjutnya (bahkan menurut saya lebih bagus dari Sinestesia). Tetapi bukan hanya lagu-lagunya nya saja yang patut mendapatkan apresiasi, melainkan konsep keseluruhan album ini sebagai suatu entitas yang harus dinikmati secara keseluruhan dari track 1 sampai track 10. Dan lagu penutup “Manifesto” pun adalah sebuah closure yang indah. Poin plus: saya selalu suka album berisi 10 lagu, tidak terlalu banyak, dan tidak kurang juga, pas. Who doesn’t love a great album with 10 great songs? Now i’m officially a big fan of Efek Rumah Kaca.

Key tracks: Fun Kaya Fun, Manifesto, Bersemi Sekebun, Tetaplah Terlelap, Heroik

 

Words by Aldy Kusumah

Pada debut EP-nya, Critical Issues mempersembahkan 8 lagu dengan durasi hanya 10 menit saja. Singkat dan padat karya. Dibuka oleh raungan feedback, “Plague Years” tentunya bercerita mengenai masa-masa pada awal pandemi dengan penggalan lirik “no work / no pay / infections and death rate / and we’re trapped in fouls play”, yang tentunya menjadi kritik juga kepada pihak-pihak yang memainkan data-data pandemi untuk keuntungan mereka semata. Dilanjut oleh “Mark on Your Head” yeng bertema mengenai victim blaming, mungkin? Vokalis Rian Pelor beraksi seakan tidak ada hari esok di lagu ini, dan ketika kita sedang headbang kecil menikmati bagian chorus, tanpa disadari lagu ini sudah berakhir. Menurut Måm (gitar) isu sosial politik memang menjadi titik berat dari band ini. “Lagu “Mark On Your Head” itu adalah pengalamanku yang sempat diintimidasi dan ditahan tanpa alasan jelas oleh aparat kepolisian, hanya karena tampilanku yang hitam-hitam ahahaha.”

Trio punk/hardcore asal Palembang ini dibentuk oleh Lör (vokal) , Måm (gitar), dan Yix (drums), dan sebenarnya embrio ini sudah tercipta sejak tahun 2019 dengan melewati pergantian nama band, dan personil. Bermain di ranah hardcore punk, para personil Critical Issiues juga terlibat di band-band lain, seperti Manekin, Egoism, Disaffer, Justice, dan Dètention. Band penyantap pempek dan mie celor ini juga selalu menampilkan performa yang cukup enerjik pada live shows mereka. Mereka ingin menjadi band ideal yang menampilkan live show yang intens dan juga merilis karya secara prolifik. Dengan tema lirik yang variatif dari “Plague Years” yang membahas pandemi yang 3 tahun lalu kita rasakan bersama; dan beragam krisis yang menyertainya baik secara sosial, ekonomi, dan politik. “Hostile Takeover” bercerita tentang perang dan krisis kemanusiaan yang menyertainya, terpantik akan apa yang terjadi di Ukraina, Suriah, Palestina dan juga Papua. Menurut Lör, lagu “285” itu diambil dari Pasal 285 KUHP. “Itu dari pengalaman pribadiku ketika seorang terdekat menjadi korban pemerkosaan, dan meminta saya untuk menghadapi si predator, dan menjadi mediator karena korban tak ingin kasusnya gaduh. Sekuat tenaga menahan diri karena kehendak korban harus tetap kujaga. Amarah yang harus disimpan itu pun kuluapkan menjadi lagu itu.”. Dengan durasi yang singkat pada lagu-lagu mereka, apakah live show mereka juga akan mempunyai kesan short and sweet? Mari nantikan karya-karya selanjutnya dari Critical Issues, dan tentunya tontonlah performa mereka jika mereka mengunjungi kotamu.

 

Words by Aldy Kusumah