Ekspektasi tinggi selalu menghantui NewJeans sejak perilisan EP debut mereka pada Agustus 2022, yang menjadi album debut pertama girl grup K-pop yang terjual lebih dari satu juta kopi. Mereka menaklukkan tangga lagu bulanan di layanan streaming musik terbesar di Korea, Melon, dan menjadi artis K-pop tercepat yang mencapai satu miliar streaming di Spotify setelahnya. Banyak yang menantikan EP terbaru mereka, “Get Up”, yang baru saja dirilis pada 21 Juli kemarin. Anggota NewJeans Haerin dan Danielle juga berpartisipasi dalam proses penulisan lagu, memberi mereka kredit kontributor, sebuah prestasi langka di K-pop. Penempatan lagu dan susunan tracklist sangat penting, karena lagu-lagu di “Get Up” menceritakan kisah cinta, dimulai dengan naksir crush di “Super Shy” hingga kecurigaan perselingkuhan di “ETA”.


Album dimulai dengan ‘New Jeans’, intro self-titled yang sedikit lo-fi. Ritme 2-step yang melompat-lompat berubah menjadi tendangan yang menghentak ditambah sound harpa yang menjadi highlight. Bermodalkan lirik yang diulang-ulang, aransemen sederhana, dan penyampaian vokal yang monoton. Track selanjutnya adalah ‘Super Shy’ dengan produksi yang energik. Track ini semakin bagus semakin sering kamu mendengarnya. Lagu ini juga menawarkan bassline dan departemen perkusi yang dipengaruhi elemen dance musik garage dari Inggris. Rap break dari Hyein adalah elemen lain yang menonjol. ini adalah pertama kalinya dia nge-rap di lagu NewJeans, dan akan menarik untuk melihatnya mengembangkan keterampilan ini lebih lanjut di rilisan mendatang.

“ETA” dimulai dengan loop bass yang keras dan terdistorsi yang sedikit out-of-place jika dibandingkan dengan rilisan NewJeans sebelumnya. Namun urgensi suara tersebut selaras dengan konsep lagu yang memperingatkan seorang teman tentang perselingkuhan pasangannya. Pengulangan dan sahutan “What’s your ETA? What’s your ETA?” juga menambah aksen pada urgensi tersebut, bersama dengan kalimat seperti “You deserve better than that” dan “Boys be always lying. Di ‘ETA’ terdengar klakson dari track Baltimore Club klasik “Samir’s Theme”, dan tidak lupa menambahkan layer sound synth yang nyaman untuk menyelimuti lagu. Sepertinya ketertarikan NewJeans pada genre Jersey club music yang dimulai di ‘Cookie’ dan balada pop dengan sound Baltimore club di lagu ‘Ditto’ telah mengarah ke momen ini. Ini adalah lagu pop dengan instrumen berlapis yang menyegarkan, dan mudah untuk membayangkannya menjadi crowd favorite saat dibawakan di konser. Lagu keempat ‘Cool With You’ terdengar lebih laidback dibandingkan 3 track sebelumnya, dan sedikit anti-klimaks. Video musiknya cukup viral dan sukses besar, berkat penampilan dari bintang film Hong Kong Tony Leung (Chungking Express) dan aktris serial TV Squid Game Hoyeon Jung. Di sisi lain, lagu ini terkesan datar (walaupun tetap catchy). Sayangnya setelah beberapa pengulangan, tidak terdapat “evolusi” di lagu ‘Cool With You’. Tidak seperti ‘Super Shy’ yang semakin bagus jika semakin sering didengar.

“Get Up”, lagu kedua dari terakhir di EP, mungkin hanya berdurasi 36 detik, tapi terdengar seperti hits RnB era 2000an yang mengawang, dan berhasil memaksimalkan vokal NewJeans yang ethereal dengan lirik berbahasa Inggris. Ini mungkin adalah sebuah kejahatan terhadap umat manusia dari “boss besar NewJeans” Min Hee-Jin: Memberi durasi 36 detik untuk salah satu lagu terbaik yang pernah direkam oleh NewJeans. Pffftt. Lagu terakhir, ‘ASAP’ adalah lagu favorit saya di EP ini. Vokal yang dreamy dibalut dengan elemen electronica yang minimalis. Apalagi part “tik tok tik tok..” yang sudah pasti akan diingat at least untuk setahun kedepan (sampai NewJeans membuat lagu catchy lainnya). ‘ASAP’ sedikit mengingatkan saya pada ‘Ditto’. Walaupun tidak bisa mengimbangi ‘Ditto’ secara aransmen, ‘ASAP’ adalah track yang keren. Penyanyi-penulis lagu RnB Erika de Casier juga membantu menulis lagu dan memproduseri beberapa track di “Get Up” ini (‘New Jeans’, ‘Super Shy’, ‘Cool With You’ & ‘ASAP’), dan karakter minimalis Erika sangat terdengar di ‘Cool With You’ dan ‘ASAP’. Anyway, EP ini bukanlah output terbaik dari NewJeans jika dibandingkan dengan EP pertama mereka (‘Attention’, ‘Hype Boy’, ‘Cookie’ & ‘Hurt’) dan 2 single ‘OMG’ & ‘Ditto’. Tetapi lagu-lagu NewJeans yang “biasa” pun tetap keren. Lagu NewJeans yang “aman” pun tetap berakhir sebagai lagu pop yang sangat baik. Jadi meskipun rilisan ini mungkin tidak mengungguli kualitas rilisan mereka sebelumnya, patut dikagumi bahwa manajemen mereka tidak takut merilis materi yang kurang konvensional. Mungkin eksperimen mereka akan membuahkan hasil pada waktunya dan NewJeans akan merubah atau memberi standar baru bagi K-pop untuk selamanya

 

Words by Aldy Kusumah

 

SUISSAC adalah rock supergroup baru yang dimotori oleh Angga Kusuma (Asiaminor / SSSLOTHHH / Billfold / Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy / Rock N’ Roll Mafia). Menurut press release nya, “Mereka berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar segar dan berbeda dari band-band sebelumnya”. SUISSAC pun diperkuat oleh Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) di seksi ritem. Tentunya sebuah mini album dari para veteran industri musik ini akan menarik untuk disimak, apalagi dengan kover art yang menggunakan foto dari Deby Sucha. Epic adalah kata yang tepat untuk menggambarkan mini album ini. Dengan berleburnya latar belakang genre dari tiap personil dan pemilihan sound yang tepat, SUISSAC mempersembahkan 6 lagu untuk output perdana mereka dalam berkarya. 6 track yang tersaji di EP ini bisa dibilang cukup stand-out dan memiliki highlight yang berbeda pada detail aransemen nya. Dengan tema-tema lirik yang “mencerminkan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkan”. Let’s blast this EP on the speakers, shall we?

Dibuka dengan ‘In Silence’, sebuah banger track yang sangat cocok tirauh menjadi hidangan pembuka. Track ini juga bertugas untuk membangun mood di mini album bertitel “Magnanimous EP” ini. SUISSAC mengeksplor time-signature dan output sonic mereka dengan effortless. Sebuah aransemen yang lumayan kompleks, apalagi dengan banyaknya part yang berbeda sebagai fondasi lagu ini. Track kedua adalah single utama yang berjudul ‘Chrome Colliseum’, yang sedikit mengingatkan saya pada Mars Volta era “De-Loused in the Comatorium”. Vokal Eky Darmawan bisa lebih lepas dan bebas untuk bereksplorasi disini, dan tentunya detail-detail departemen gitar pun diisi dengan baik oleh Angga Kusuma. Saya sangat menyukai quiet-loud dynamics di lagu ini, terutama pada 2:20 dimana lagu rock yang noisy ini berubah menjadi shoegazing alt-rock ala Swervedriver. ‘Nirsinar’ dibuka dengan riff gitar yang sedikit bluesy / stoner. Permainan para rhythm section Alan Davison (Bass / Backing Vokal) dan drummer Emyr Farand sangat groovy disini. Tight.

‘Gold Colosseum’ adalah sebuah track ambient pop berdurasi pendek yang (mungkin) bertugas untuk meredam 3 lagu sebelumnya; yang bertempo cepat, dipenuhi riff-riff noisy dan penuh secara instrumentasi. Titel track ‘Magnanimous’ kembali menaikkan mood pendengar. Menurut saya jika dibanding dengan 5 track lainnya, this one is my least favorite SUISSAC song. Di 3 track awal mereka bermain dengan durasi yang sama, sekitar 4 menitan, tapi track ini justru terasa lebih lama bagi saya. ‘Magnanimous’ adalah sebuah track yang dipenuhi oleh banyak ide-ide dan mungkin terasa sedikit terlalu kompleks bagi saya. Highlight di lagu ini terdapat di menit 2:24, solo gitar yang sangat indah dan mengawang, dengan sound ala gitar-gitar dari band Tortoise. Track penutup ‘My Reflection of Rejection the Definition Just too Insane’ adalah sebuah lagu rock yang lebih straight-forward jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya di EP ini. Sangat fresh dan juga mengundang kalian untuk kembali mendengar EP ini dari awal lagi. Overall, produksi di album ini sangat keren dan ternyata ada produser Alyuadi (Heals/Fuzzy I) yang turut membantu memproduseri EP ini. SUISSAC adalah salah satu newcomer (dengan wajah-wajah lama) yang patut kalian tunggu aksi panggungnya.

Text by Aldy Kusumah
Photo by Vendrie Openk

Kuartet beranggotakan Ratta Bill (vokal, gitar), Abi Chalabi (gitar), Smita Kirana (bass) dan Ariel Kaspar (drum) merilis album baru bertajuk “Capa City” yang sedikit berbeda dari rilisan-rilisan mereka sebelumnya (Geography, Perennial EP). Pertama, band yang rilisannya biasa dirilis Kolibri Records ini kini menemukan “rumah” baru di La Munai Records yang merilis album ini. Kedua, tidak seberti predesesornya, kali ini Bedchamber lebih bereksperimen dengan ritme, lebih mengambil nada-nada disonan dari no-wave dan tentunya terdengar pengaruh post-punk yang cukup kuat. Tapi jangan takut, kalian tetap akan menemukan gitar jangly khas mereka dan basslines yang catchy di “Capa City”.

Title track ‘Capa City’ menjadi pembuka album ini dengan basslines yang groovy, dan disambut gitar jangly daru Ratta dan Abi. Vokal dreampoppy khas Bedchamber langsung menyambut pendengar di aransmen Bedchamber yang tidak asing. Spoken words disini semakin menguatkan karakter no wave / post-punk yang semakin lekat dengan direksi baru band ini. ‘Peak Season’ dimulai dengan intro gitar disonan yang dengan ajaib disambut oleh bass dan melodi yang catchy. Mungkin arah musikal yang sedikit berbeda ini adalah pengaruh dari side-project Ratta Bill (Glyph Talk) yang memang terlihat nyaman di ranah no wave / post punk / egg punk.

Track keempat ‘Elevator Pitch’ adalah sebuah instrumental dengan melodi synth yang manis dan drum midi. Memang terdengar seperti elevator music. ‘Mandatory’ melanjutkan mood yang sudah mereka bangun di 4 lagu awal. Reff lagu ini seakan membius pendengar dengan diucapkannya kata “mandatory” secara repetitif. ‘Tired Eyes’ adalah single yang sudah mereka rilis sebelum album ini rilis. Tentunya bakal menjadi crowd favorite di performance Bedchamber di kemudian hari dan siap mengganti ‘Out of Line’ menjadi lagu andalan. Track ke 7 yang berjudul ‘Riptide’ adalah track favorit kami: Sedikit mengingatkan pada Deerhunter di era Microcastle (2008), in a good way. Perpaduan vokal Smita dan Ratta di part chorus lagu sangat stand out, the’ve should do this more. Outro di lagu ini juga sangat cakep; berkurangnya intensitas dari instrumen dengan riff yang repetitif always works. Overall, “Capa City” adalah sebuah eksplorasi yang berhasi, dan berhasil membawa Bedchamber ke level baru. Semua lagu disini ter-elevate oleh produksi yang pas, tidak over-produced tetapi tetap nyaman di telinga. Can’t wait to see them perform these songs live.

Text by Aldy Kusumah

Rilisan baru dari Polyester Embassy tentunya akan selalu dinantikan, karena sejak mereka merilis single “Polypanic Rooms” di tahun 2006, sepertinya mereka sudah menemukan karakter yang tepat. Sebuah racikan yang pas dari space-rock, elektronica, ambient pop dan shoegaze. Saya juga menemukan pengaruh dari band-band seperti The Cooper Temple Clause, Hope of the States, Mansun, The Shins, Flaming Lips sampai Radiohead dan Mew di lagu-lagu mereka. Mereka mengambil unsur-unsur tersebut secara halus dan sudah menemukan karakter sendiri di album ‘Tragicomedy’ & ‘Fake / Faker’, yang keduanya dirilis pada tahun 2006 dan 2011 silam. Kali ini Polyester Embassy hadir dengan formasi: Elang Eby (vokal/gitar), Khrisnamurti ‘utinks’ Wahyu (lead gitar), Eky Darmawan (Vokal/ Gitar), Dissa Kamajaya (Synthesizers/Backing vokal), Ridwan Aritomo (Bass) dan Pramaditya Azhar (Drum). Beberapa isian drum di album ini masih melibatkan mendiang Givari. Sedangkan sosok drummer baru mereka, Pramaditya Azhar, juga turut mengisi drum di beberapa lagu, plus satu lagu berjudul “Can I Fly” yang diisi oleh kedua sosok drummer ini.

‘EVOL’ hadir di tahun 2023, tepatnya 12 tahun setelah mereka terakhir merilis album (yang pasti membuat pembaca bertanya-tanya berapa umur para personilnya sekarang). Tanpa disangka, ‘EVOL’ masih mengusung jenis musik yang sudah nyaman mereka bawakan selama ini. Hanya saja disini, mereka terlihat jauh lebih matang secara produksi, aransemen dan sound. Track pembukan “Can I Fly” seolah meneruskan mood yang sama dan menjadi mesin waktu yang membawa kita ke era 2000an akhir pada saat baru mendengarkan “Orange is Yellow”. Lagu berdurasi 5 menit ini cukup straightforward, dan diakhiri dengan outro yang cukup epik. “Scattered” adalah lagu yang sedikit prog, dengan sinkopasi drumming dan dynamics yang berubah-ubah. Layer-layer synth dari Dissa Kamajaya (synth, backvocal) menambah nuansa dreamy dan “ke’eung” pada saat yang sama. Track ketiga adalah “Parak” yang sudah di publish 2 tahun yang lalu. Sebuah single yang radio friendly, apalagi disini mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Melodi yang catchy dari Utink (gitar) dan Ekky (gitar, vokal) bisa menetralisir aransmen PE yang kompleks. “Kerai” adalah lagu yang masih menggunakan bahasa ibu. Lagu ini juga menghadirkan Octavia ‘Heals’ yang mengisi suara latar. Saya menyukai momen-momen dimana Polem bermain dengan disonansi, feedback, arpeggio dan berubah menjadi band yang sangat eksperimental di sebuah track yang awalnya sangat easy listening. Tentunya part-part seperti ini akan menarik jika direalisasikan di live show mereka yang didukung oleh sound dan pencahayaan yang mumpuni. Dan mereka masih memberi kejutan di akhir lagu: sebuah part outro dengan gitar akustik untuk meredam jam session noisy mereka.

“Ruins (II)” adala sebuah re-interpretasi Polyester Embassy untuk lagu Polyester Embassy sendiri yang sudah hadir di album pertama mereka (“Ruins”). Ternyata mereka adalah band yang cukup kritis, bahkan kepada dirinya sendiri. Disini mereka mempersembahkan sebuah versi lain dari lagu “Ruins” yang lebih shoegazing, noisy dan sedikit dreamy. Diakhiri oleh crescendo yang lebih klimaks, i have to say this is the better version of “Ruins”. “Laugh And Swell” sudah jelas memperlihatkan kecintaan para personil Polem terhadap pengaruh electro pop dan indietronica. Lagam vokal di lagu ini sedikit mengingatkan saya pada RNRM (mungkin karena Ekky juga adalah vokalis dari RNRM). Suara latar Janis (anak dari Elang Eby) dan Karina Sokowati di lagu ini sangat menarik dan menjadi salah satu highlight di track ini (selain synth + delay yang catchy). Penultimate track album ini adalah sebuah pop ballad berjudul “Look Out Looking”, yang ditaruh tepat untuk membiarkan penonton menghela nafas setelah mendengar 6 lagu dengan instrumentasi yang kompleks. Lagu penutup, “Kala”, adalah lagu favorit saya di album ini. “Kala” memiliki semuanya: aransmen yang cerdik, instrumentasi kompleks, sound + produksi yang apik, lirik yang well-written dan tentunya quiet / loud dynamics yang pas. Untuk generasi sekarang mungkin Polyester Embassy adalah band yang cukup obscure. Biarkan lagu-lagu Polem merasuki kupingmu dan menetap disitu. Jika kamu belum pernah mendengar rilisan Polem, you can start with this one.

 

Text by Aldy Kusumah

 

“Red Knight” adalah debut album dari Gergasi Api, duo yang diperkuat Ekyno (Full of Hate, Plum) dan Alexandra J. Wuisan (Sieve, Cherry Bombshell). Mereka meleburkan post-metal, dream-pop, shoegaze sampai sedikit elemen industrial menjadi racikan keren khas Gergasi Api (GA). Uniknya, di album “Red Knight” ini single berjudul ‘Red Knight’ malah tidak muncul. Dibuka oleh ‘Sacred Sound’ yang menurut saya kurang kuat untuk sebuah opener. Sound gitar raw dan synth sedikit mengingatkan saya ke NIN era “Downward Spiral”, and it’s a good thing. Nah, track kedua ‘Soul Bound’ tedengar lebih catchy dan dinamis untuk sebuah opener, tetapi malah ditaruh sebagai track kedua, tetapi tidak apa-apa, tetap keren. Lagu dengan tempo medium beat ini sedikit mengawang, tetapi itu tidak lama, karena gitar yang noisy dan produksi yang “in your face” membuat lagu ini tetap rocking. Sedikit notes, mungkin vokal terdengar sedikit terlalu depan dan agak menutupi instrumentasi yang kompleks. ‘Dead Eyes’ adalah lagu favorit kami di album ini. Sedikit trip-hoppy di verse, tetapi semua itu akan berubah pada saat masuk ke bridge dan reff. Single material indeed.

‘Void Glide Celestials’ adalah judul yang menarik. Dibuka dengan bait “I’ve swallowed shards of pain before”. Track yang moody ini cenderung downbeat dan lebih gelap jika dibanding 3 lagu sebelumnya. ‘Ghost Ascending’ adalah sebuah track yang catchy, dengen loop gitar melodius dan layer-layer vokal yang membius. Horn sections di lagu ini akan lebih baik jika menggunakan horn sections asli, semoga mereka melakukan nya suatu saat untuk format live. ‘Awakening (Mothra Remix)’ menurut saya adalah track remix yang keren, apalagi diremix oleh Aghi Narottama (Ape On The Roof), sayang saja mixing nya kurang terdengar nyaman. ‘Darkling’ meneruskan kembali mood album dari ‘Ghost Ascending’ yang sempat terputus akibat remix di track sebelumnya. Track berikutnya adalah ‘Mothra’, yang cukup aneh muncul setelah versi remixnya. Karena hanya selang satu lagu dari versi remixnya, mendengarkan ‘Mothra’ membuat pendengar yang antusias mendengar lagu berikutnya sedikit backtracking sejenak. ‘Dive’ yang bernuansa shoegazing mengajak pendengar untuk mengawang dan berserah diri menikmati piano dan distorsi raw yang menyelimuti aransemen lagu ini dengan hangat.

Overall, ini adalah debut album yang sangat baik dari Gergasi Api. Lagu-lagu mereka sudah bersinar dengan lirik haunting ala Alexandra dan instrumentasi yang mendetail dari Ekyno. Mungkin jika sedikit nitpicking, kelemahan album ini terletak pada susunan tracklist yang kurang tepat, terutama di track pembuka dan tengah-tengah, dab bisa mengakibatkan pendengar berhenti mendengarkan di tengah album, padahal track 7 sampai 12 dipenuhi oleh lagu-lagu yang menarik. Produksi album ini pun terdengar kurang nyaman di beberapa lagu, entah karena overproduced atau level vokal yang terlalu depan. Oh ya, packaging album ini juga sangat menarik, dengan ilustrasi dari Morrgth dan pemilihan kertas yang berkesan mewah. Now when can we see this guys perform live?

Text by Aldy Kusumah

Berasal dari dataran dan padang rumput terdingin Kanada yang tidak terbatas, Home Front berdansa dengan bebas seakan tidak ada hari esok, berbagai referensi yang saya tangkap di seluruh album ini adalah Suicide, The Cure, New Order, Echo & The Bunnymen dan tentunya Blitz era post-punk (“Second Empire Justice”). Home Front adalah sebuah momen hilang yang berada diantara “kematian” punk dan “kelahiran” new wave. Sebuah album keren yang dipenuhi oleh suara drums 808, loop gitar repetitif, analog synth dan vokal yang anthemic. Home Front adalah Gary Numan jika dia membuat band punk. Atau Tears For Fears jika mereka menonton GBH di akhir minggu. Kita bisa berbahagia karena eksistensi Home Front adalah nyata.

Home Front adalah gagasan dari Graeme MacKinnon (dari band punk No Problem dan Wednesday Night Heroes), dan Clint Frazier (dari band electro-dance Shout Out Out Out Out dan Physical Copies). Gabungan duo ini menyatu menjadi sesuatu yang istimewa — juga dibantu oleh drummer Fucked Up Jonah Falco pada departemen produksi, duo ini telah membuat album synth-punk penuh dengan riff berotot dan emosi yang menggelora. Ini adalah kumpulan seruan untuk berpesta di kondisi terburuk, sebuah ajakan untuk berdansa di malam yang dingin dan gelap. Jika 3 track awal seperti: ‘Faded State’, ‘Real Eyes’ dan ‘Nation’ tidak membuat kamu jatuh cinta pada band ini, maka jangan buang waktu untuk membaca sisa resensi ini. Lirik-lirik seruan untuk menikmati hidup dari MacKinnon bagaikan permata dalam lumpur. “nobody here gets out alive” adalah sebuah deklarasi yang juga merupakan kata-kata pertama yang muncul di album ini. Tema-tema eksistensi manusia modern di sebuah distopia kerap menjadi tema sentral di lagu ‘Real Eyes’ : “Material gain, material joy / Morally aimless dreams destroyed”


Mungkin untuk saat ini ‘Overtime’ adalah track favorit saya di album ini. Synth dan melodi gitar yang catchy dibalut oleh nada vokal anthemic di reff, dan tentunya sedikit mengingatkan saya kepada lagu ‘A Space Age Love Song’ dari A Flock Of Seagulls. Apa yang kamu dapatkan jika menggabungkan punk dengan new wave? Jawaban nya adalah spirit survival dari musik punk dan vibes musik ‘80an yang membuatmu semangat untuk bangun di pagi hari. Home Front rupanya mengambil elemen-elemen terbaik dari kedua genre itu. Debut album Home Front ini lebih terasa seperti album klasik yang obscure daripada sebuah debut album modern; sebuah peleburan menarik dari post-punk yang menyeramkan, krautrock yang motorik, dan semangat punk yang bergairah. Games of Power disatukan oleh kejelasan visi dan konsep, seluruh lagu album ini bagus dan tentunya bakal menjadi calon album of the year versi kami.

Key Tracks: ‘Overtime’, Faded State’, ‘Nation’ & ‘Contact’

Text by Aldy Kusumah

Entah kenapa, band indie pop asal Sidoarjo/Surabaya ini mengingatkan saya dengan band asal Bandung Mocca dan Olive Tree. Dimulai sebagai proyek solo, Drizzly telah berkembang menjadi kuartet bersaudara musisi yang terdiri dari Manda (Vocal), Moza (Bass), Faye (Guitar) dan menyambut member terbaru mereka yaitu Rascillo (Drum). Seperti all-female band asal Jawa Timur pendahulu nya, Dara Puspita, para personil Drizzly juga piawai dalam memainkan alat musik dan selalu tampil enerjik di setiap performanya. Kali ini mereka merayakan fase terbaru Drizzly dengan merilis EP yang merangkum seluruh tema besar negeri para peri sejak ‘Bitter To See You’ dan ‘If We Know Each Other Well Enough, Maybe We Can Go On a Date’ dengan merilis EP berjudul “Fairyland” via Lisdia Records, Bandung mulai 1 Mei 2023, bertepatan dengan May Day.

EP berisi 5 lagu ini dibuka dengan lagu instrumental berjudul ‘A Moon Parch’t’ yang membius pendengar dengan gitar jangly nya di intro, dengan sentuhan tipis piano di belakangnya. Kesan manis ini dibuyarkan dengan drumming yang dinamis dan powerful dari Rascillo, member terbaru Drizzly. Sound gitar di track kedua (‘ ‘If We Know Each Other Well Enough..’) sedikit mengingatkan saya pada sound gitar Alvvays, and that’s a good thing. Vokalis Manda pun menyambut dengan “one two three four!!” ala Joey Ramone. Lagu ini juga memiliki sound ala band-band roster Heavenly Records. Catchy dan pastinya akan menjadi fan favorit ketika mereka perform kelak.

Track ketiga yang berjudul ‘Peachy World’ agak sedikit punkish dan tentunya tetap mengandung unsur manis seperti dua lagu sebelumnya. Mengenai tema fantasi, Drizzly menganggap bahwa tema besar tentang do Peri-peri juga banyak melalui rintangan seperti dalam lagu keempat: ‘Grasp All, Lose All’, di mana hubungan pertemanan tidak selalu mulus dan diisi orang-orang setiakawan. Selama proses rekaman, Drizzly banyak dibantu berbagai pihak seperti Firhan dari Croud dan pihak Artefakt Records sendiri. Lagu penutup EP ini adalah ‘Bitter To See You’ yang sudah dirilis sebagai single sebelumnya pada tahun 2022. Lagu tercatchy di EP ini juga sudah di stream di Spotify sebanyak 150,000 pada saat tulisan ini ditulis. Dengan produksi sound yang memadai dan materi yang bagus, tentunya debut album mereka akan sangat dinantikan. Jangan lewatkan juga performa mereka jika Drizzly mengunjungi kota kamu. You’re in for a treat.

Text by Aldy Kusumah

Dengan jajaran satu barak MC lokal all-star lintas generasi, pengawalan tracklist yang ketat dan produksi yang top-notch, debut album dari Jaydawn yang berjudul “Sekte Air Mata Odin” ini bisa menjadi salah satu album hip hop terbaik yang pernah dirilis di Indonesia. Album ini dibuka oleh track instrumental berjudul ‘Showdawn (Intro)’. Jika Wu-Tang banyak menggunakan sample dan referensi film kungfu, maka Jaydawn menjawabnya dengan cuplikan sampling film laga Indonesia era ‘80an (yang kemungkinan besar mengandung adegan semi dan poster sexy). Track ini seolah menyambut kamu di Valhalla dimana Valhalla versi Jaydawn adalah surga dari beat-beat dan sampling keren. That goddamn horn and funk guitars really gets you in the mood. Track kedua adalah single ‘Cek TKP’ yang sudah dirilis sebelum album ini dijual. Jay menggandeng Nartok dan Al Smith sebagai MC. Produser hip hop mana lagi yang membuka lagunya dengan sebuah sampling dari film bokep semi kaset betamax hasil ngerental? Lagu ini dibuka dengan sample dialog dari film “Golok Setan (1983), Lalu disambut basslines yang cukup familiar dari score film Inglorious Basterds-nya Tarantino. Sound bass empuk yang enak ini pun menyelimuti lagu. Beat gelap Jay yang khas dan sudah diperkenalkan di EP “Darker Dawns Ahead” 3 tahun lalu kembali menghantui track ini. Delivery Nartok di verse awal sangat lugas dan padat. Kamu pun akan bertanya-tanya “berapa lama MC ini kuat menahan nafas didalam air?”. Al Smith menyambut verse 2 dengan flow yang lebih santai pada awalnya “Tendang rima ke kepala gaya popo Kanjuruhan di tengah kerusuhan beat ala Jaydawn“, sebelum he goes all loco rappin in full speed di beberapa bar terakhir. Lagu ini juga mempunyai beberapa rima yang cukup memorable, salah satunya adalah: “Tulisan ku dicuri bak Lukisan Raden Saleh / tapi ku takkan peduli karna kau takkan peroleh style rima orisinil ala Arab Condet”. Lagu berdurasi 4 menit ini pun diakhiri dengan outro jazz, dan kalian pun serasa di teleport ke sebuah jazz bar obscure di tengah kota. ‘Cek TKP’ adalah sebuah single yang sangat menjanjikan.

Track ketiga ‘Mulut Silet’ dengan featuring 4 MC dari Madness On Tha Block adalah sebuah lagu dengan rima yang padat, beats intens dan looping piano yang keren. Dibalik semua intensitas itu, Jay masih sempat menyelipkan sebuah outro yang akan membuatmu tertawa. Track ketiga adalah ‘Bariton Valhalla’ dengan featuring duet MC Endo dan Jerefundamental. Synth yang sepertinya diambil dari lagu industrial obscure menyelimuti seluruh lagu, dan para MC bersuara berat ini berhasil mendeliver rhyme-rhyme terbaiknya (“Endo dan mic, Bruce Lee dan nun chuck / Bruce Willis Die Hard” & “Tiupkan sangkakala / siapa sangka ku gelar perkara”) di track yang berdurasi 3 menit ini. Saatnya pendengar diberi istirahat setelah rentetan beats dan rima yang intens dari 3 track sebelumnya. ‘Phuck The Ho-Lice’ bertugas sebagai sebuah skit yang apik sebelum kegaduhan dilanjutkan. Beberapa elemen disini mengingatkan saya akan film-film blaxploitation. ‘Ujung Fajar’ memiliki basslines terbaik di album ini, dan kolaborator Eyefeelsix mengisi track ini seakan tidak ada hari esok. ‘Style of Steel Fingers’ adalah sebuah lagu dimana Jay memberi ruang bagi DJ Evil Cutz untuk beraksi. Sedikit homage terhadap Public Enemy / The Bomb Squad dengan drum breaks yang asik. ‘Tiga Ragnarok’ adalah aktivitas threesome dari Refo, Kid Vicious, dan Don Wilco. Delivery Kid Vicious seperti biasa sangat laidback dengan lirik yang witty. 3 MC ini cocok sekali berada di satu track, mungkin menarik jika mereka kelak membuat group hip hop. Selanjutnya, ‘Departemen Kegelapan’ hadir dengan featuring dari Krowbar dan Insthinc. Lirik-lirik Krowbar selalu menarik untuk disimak dan Insthinc selalu stylish dalam setiap deliverynya. Mungkin track ini akan menjadi pilihan yang tepat untuk dibuat video musiknya, karena sangat representatif dan catchy. ⅔ album ini ditutup oleh sebuah skit berjudul ‘Anyir’, dengan sample dialog yang cukup dark.

‘Babad Sangit’ adalah sebuah track yang lebih politikal dan gelap, apalagi diisi oleh Morgue Vanguard aka Babap Kobra (yang juga mendesign kover album ini). Adanya Pangalo! di lagu ini tentunya meng-elevate lagu ke titik yang bisa membuat kamu merinding saat mendengar + membaca liriknya (“Meninju ke langit, menolak kendali / tegak berdiri di tanah sendiri”). Setelah lagu dengan muatan yang gelap, saatnya Jaydawn mengembalikan sedikit senyuman untuk para pendengar dengan skit berjudul ‘Valkyrie Cicaheum’. ‘Kalam Demagog’ adalah grimy ‘90s boombap at it’s best, apalagi dengan MC-MC dari era tersebut: Doyz dan Xaqhala, dengan flownya yang smooth dan diksi-diksi yang lugas. Penultimate track album ini adalah ‘Prosa Kehilangan’ dengan duet MC Rand Slam dan Joe Million. Joe Million writes some of his best lyrics here; “selain selempeng sepapan apapun akan ku makan / selama dapat memperpanjang nafas ku sampai ke finish / semangat seorang morfinis”. Album ini pun ditutup dengan sebuah track instrumental (‘Jamuan Odin’) yang mensampling Black Sabbath dengan epik. Overall album ini juga memiliki range yang cukup luas, dan Jaydawn meracik elemen-elemen terbaik dari classic boombap sampai G-funk ala Warren G. Mungkin ini adalah salah satu rilisan Grimloc yang cukup ambisius. Bayangkan saja mengumpulkan jajaran MC, DJ, dan kolaborator dalam satu komando, didalam satu album yang secara musik dan tema cukup konseptual. Belum lagi dengan adanya benang merah dari setiap tema lirik yang ditulis oleh MC yang berbeda. Ya, “Sekte Air Mata Odin” ini menurut saya adalah sebuah concept album yang sangat versatile. Anggap saja ini adalah album kompilasi hip hop yang bagus dengan produksi maksimal dari sang maestro Jaydawn. Easily one of the best hip hop albums of 2023. AOTY material indeed.

Text by Aldy Kusumah

Photo by Verdy Pepey

CAL adalah proyek solo dari Gilang Hade (vokal & gitar) yang juga diperkuat 3 orang sahabatnya: Jordy (drums), Dwiki (bass) & Thian (gitar). CAL akhirnya merilis debut album bertitel “Notion”. Sebenarnya album ini masih memiliki warna yang CAL sudah persembahan di “Anthracite Grey” EP dan juga single ‘Spending’. Hanya saja, di debut album ini, seluruh track benar-benar tergarap lebih detail dari produksi sound hingga aransemen. Track pembuka ‘The Art of Eye Contact’ menggiring pendengar ke “dunia” CAL yang muram, mengawang dan membius. Dengan lirik “More of a friend and non-toxic” mungkin menceritakan sebuah hubungan platonik tanpa ekspektasi. CAL cukup menarik dan fresh. Jika rekan-rekan shoegazers “seangkatan” mereka seperti EAZZ lebih mengambil sound era Creation Records, atau Enola yang lebih droning, CAL lebih mengambil sound nu-gaze ala My Vitriol, Whirr dan Amusement Parks on Fire.

‘Logical’ adalah track kedua yang menurut saya masih melanjutkan mood yang dibangun oleh track pembuka. Track mid-tempo ini sedikit lebih repetitif, dengan sedikit kejutan pada akhir lagu. ‘The City Debt’ adalah track favorit saya di album ini. Lebih noisy dan up-tempo jika dibandingkan dengan dua track sebelumnya. Penggalan lirik “Bullshit at the beginning of the month / another invoice” mungkin membicarakan kondisi finansial yang sedang buruk, dan rutinitas keuangan yang selalu terulang di setiap bulan nya. Track ini diakhiri oleh saxophone ala John Zorn. ‘Wisata Individu’ adalah lagu berlirik Indonesia, dan menurut saya CAL lebih menarik saat membawakan lagu berbahasa Indonesia dibandingkan lirik Inggris. ‘Conformance’ adalah track yang sangat catchy dan bisa menjadi gateway untuk penggemar baru. Single material indeed.

‘Malam Atma’ melanjutkan tongkat estafet lirik berbahasa Indonesia yang sudah dimulai oleh ‘Wisata Individu’, dan ya, sekali lagi saya benar, at least menurut saya sendiri. CAL memang terasa pas dan Gilang sudah terdengar nyaman melantunkan lirik berbahasa ibu. Tanpa sound reverb dan wall of sound yang ada di departemen gitar, lagu ini bisa saja menjadi sebuah track emo tahun 2000an. And that’s a good thing. ‘Exit Dream’ sedikit lebih moody dibandingkan lagu lainnya. Tetapi jika dibandingkan dengan lagu lainnya di album ini, this has to be the weakest song here. ‘Musim Berseri’ adalah sebuah track yang langsung mengingatkan saya pada My Vitriol saat mendengar intro gitarnya. CAL langsung memperlihatkan warna dan ciri khasnya pada saat vokal masuk di verse awal. Jika dilihat dari liriknya sebenarnya ini adalah lagu dengan mood bahagia, tetapi jika sudah diselimuti wall of sound ala CAL, pendengar mungkin menyangka ini adalah lagu “galau” jika tidak membaca lirik “Menikmati indahnya kota Bandung.. Wooo berbagi oh senangnya..”. ‘Megahom’ memiliki isian gitar yang menarik dan drumming pattern yang groovy. Track penutup ‘Color Motion’ adalah lagu paling noisy di album ini. Cocok sekali menjadi track penutup. Overall, album ini memiliki susunan tracklist yang bagus. Entah kenapa, sebuah album berisi 10 lagu selalu terasa pas bagi saya. Jika kamu menyukai satu lagu CAL, saya yakin kamu akan menyukai seluruh lagu di album ini, begitu juga sebaliknya. Mungkin yang CAL butuhkan di album berikutnya adalah sedikit variasi pada lagu-lagunya, dan lebih banyak lagi lirik berbahasa Indonesia.

Key Tracks: ‘Wisata Individu’, ‘City of Debt

Text by Aldy Kusumah

Setelah berkarya dan merilis musik secara prolifik, eleventwelfth akhirnya merilis debut album mereka yang bertitel “Similar”. Dari pertama muncul hingga debut album ini, mereka masih bermain di area abu-abu di antara midwest emo dan math-rock, dan mereka memang terlihat nyaman berada disitu. Album ini dibuka oleh petikan gitar dan cengkok vokal yang membawa kamu bernostalgia pada era album-album emo third wave di tahun ‘2000an awal. And it’s a great thing. Pada “back-when-i-leaned-my-back” vokalis Rona Hartriant melantunkan “Allow me to rewind our better days / It perfectly reminds me when our life was quite arrayed”. Bersiaplah untuk berhitung, karena saat gitar akustik berakhir, band ini masuk ke bridge instrumental yang bernuansa math-rock. Sebuah track pembuka yang manis sekaligus banger pada saat yang sama.

Track kedua yang bertajuk “only if you weren’t so loud” masih bermain dalam sinkop-sinkop math rock dan progresi chord midwest emo yang membius. 50 detik terakhir lagu ini adalah part favorit saya. Seolah mereka sudah mengajakmu masuk lebih dalam dan mengajakmu untuk tinggal lebih lama dan membuatmu nyaman di rumah yang bernama “Similar” ini. Lagu ketiga (‘KALA’) kembali meneruskan mood 2 lagu sebelumnya, kali ini dengan featuring dari Mario Camarena dari band math-rock asal Kalifornia bernama CHON. Sebuah track instrumental yang indah, dengan klimaks pada menit ke 2:30 ketika lead gitar Mario menyambut musik eleventwelfth. Track berikutnya yang berjudul “another night awake with you on my mind” kembali menyuguhkan musisi tamu; Adeliesa pada vokal. Sedikit mengingatkan pada kolaborasi mereka dengan Asteriska pada lagu “your head as my favourite bookstore” yang dirilis tahun pada tahun 2017.

Track “(stay here) for a while” adalah sebuah track yang manis, dan sepertinya bisa mengganti playlist Turnover di coffee shop-coffee shop obscure. “ANTARA” kembali membawa eleventwelfth ke ranah akustik. Komposisi instrumental ini ditemani elemen elektronik yang minimal ala band-band indietronica, yang formula nya sedikit mengingatkan saya pada sebuah lagu Styrofoam feat. Ben Gibbard. “destined (to fade)” caught me off guard karena mereka memasukan unsur scream yang disambut oleh synth dan glitch. Mereka benar-benar versatile. Lagu “every question i withhold, every answer you never told” tentunya akan menjadi crowd favorite di setiap performa mereka. Begitu juga dengan “the more i trace you forthwith, the less i want to know where to find you”. Sebuah single material indeed. Distorsi yang warm menyelimuti setiap petikan gitar dengan layer noisy dibelakangnya. Lalu ada choir anak kecil ditengah lagu, yang jika direalisasikan di performa mereka tentu akan membuat bulu kuduk berdiri. Mungkin ini lagu favorit saya di album ini. Seperti yang mereka janjikan, “Similar” adalah sebuah album dengan no skip, no shuffle. Kalian memang diundang untuk menikmati the whole package. Catch them on tour, you won’t be disappointed.