Thee Marloes memilih jalur yang berbeda: bergerak pelan, rapi, dan penuh perasaan. Berangkat dari Surabaya, trio ini meramu soul dan nuansa retro dengan cara yang tidak sedang berusaha meniru masa lalu, tetapi mencoba memahami apa yang membuat musik itu jujur. Hasilnya adalah karakter suara yang terasa familiar sekaligus tidak bisa sepenuhnya ditempatkan dalam timeline tertentu.

Ini adalah percakapan yang tidak hanya tentang musik, tetapi juga tentang kejujuran, posisi, dan arah yang ingin mereka tempuh ke depan.

Musik kalian sering disebut “retro soul dari Indonesia.” Apakah kalian nyaman dengan label itu?

Sebetulnya kami tidak terlalu mengambil pusing dengan adanya istilah tersebut, mungkin karena kami merupakan band pop yang banyak ter-influence oleh grup dari era ‘60 hingga ‘70an (tidak hanya soul), sehingga secara tidak sadar musik dan sound yang dihasilkan terkesan “retro”.

Banyak yang bilang Thee Marloes terdengar seperti band dari luar negeri bagaimana kalian menanggapi anggapan bahwa apresiasi baru datang setelah musik kalian “terdengar tidak lokal”?

Di era digital di mana semua orang bisa meniru sound 70-an dengan plugin, bagaimana kalian membedakan vintage taste dari sekadar vintage gimmick?

Kami merasa terlalu bias untuk penggunaan kata “vintage” pada sound, dan bisa saja kita mereplika sound “vintage” dengan instrumen modern atau VST, namun yang membedakan adalah cara memainkan instrumennya, mungkin contohnya adalah jika kamu memainkan bass seperti James Jamerson, meskipun menggunakan bass Squier keluaran tahun 2022 maka hasilnya akan tetap terdengar ‘70-an, namun jika menggunakan bass vintage precision dan memainkan dengan style Thundercat, maka akan tetap terdengar “modern”.

Seberapa banyak kompromi yang kalian lakukan antara menjaga keaslian sound analog dengan kebutuhan produksi modern?

Kami masih memakai plug in bawaan DAW untuk memberi warna, tetapi semua instrumen direkam tanpa VST; menggunakan drum, piano, perkusi, dan gitar asli dengan amps. Di album terbaru, kami juga menambahkan sound sitar elektrik hasil dari modifikasi gitar asli.

Dalam musik soul, konteks sosial dan sejarah sangat penting. Bagaimana kalian menempatkan soulfulness itu di realitas sosial Indonesia hari ini?

Sebetulnya kami lebih menempatkan musik yang kami buat sebagai cerminan baik dari diri sendiri maupun orang lain. Ada beberapa lirik seperti “Mungkin Saja” dan “Logika” itu sebetulnya cerminan keadaan kita sehari-hari, juga kemalangan yang kadang disebabkan oleh bobroknya sistem di atas.

Bagaimana akhirnya Thee Marloes bisa dilirik dan bekerjasama dengan Big Crown Records?

Hal itu terjadi karena interaksi di media sosial. Pada tahun 2020, Big Crown Records memperhatikan karya Thee Marloes dan menanyakan apakah ada demo lagu lain. Dari situlah kerja sama kami dengan mereka berjalan.

Label luar seperti Big Crown Records membawa kalian ke pasar global. Apakah kalian merasa Thee Marloes lebih “dimiliki” oleh audiens luar ketimbang audiens lokal?

Kami merasa Thee Marloes milik semua pendengar.

Apa tantangan terbesar ketika musik kalian lebih diapresiasi oleh pendengar asing ketimbang publik di rumah sendiri?

Justru poin itu sepertinya tantangannya.

Kalau Thee Marloes bukan band soul, kira-kira kalian akan main musik seperti apa?

Pilihan jatuh kepada reggae, hehe

Ada lagu dari musisi lain yang akhir-akhir ini jadi guilty pleasure kalian?

If it’s please you then it’s not a guilt

Kalian bakal tampil di Joyland Session apa yang paling kalian nantikan dari festival ini?

Merasakan Joyland session, yang sepertinya akan lebih intim daripada Joyland Festival.

Joyland punya reputasi sebagai festival yang menyorot musik dengan karakter kuat. Apa yang ingin kalian tunjukkan di panggung kali ini?

Performance yang baik, seperti panggung-panggung lainnya.

Banyak musisi bilang Joyland punya audiens yang sangat present dan menghargai detail. Apakah itu memengaruhi cara kalian membangun setlist atau perform?

Kami selalu mencoba memaksimalkan sound dan tata panggung saat melakukan penampilan di Joyland

Kalau kalian bisa mendeskripsikan energi panggung Thee Marloes di Joyland dengan satu kata, apa dan kenapa?

Apa adanya.

Ali muncul sebagai salah satu band yang menawarkan sesuatu yang berbeda: perpaduan funk yang hangat, ritme afro-beat yang menular, dan aksen Timur Tengah yang terasa seperti membuka pintu ke dunia lain. Sejak merilis Malaka, trio asal Jakarta ini konsisten membangun identitas yang tidak hanya terdengar segar, tapi juga memiliki kedalaman kultural yang jarang disentuh musisi lain. Setelah tampil di panggung internasional, meramaikan festival besar, hingga membawa energi mereka ke Joyland Session, Ali terus menunjukkan bahwa musik yang jujur pada akarnya bisa berdiri sejajar dengan siapa pun.

Kami mencoba menelusuri perjalanan mereka: dari proses kreatif, identitas musikal, sampai bagaimana mereka memaknai ruang baru yang semakin luas. Berikut percakapannya.

Hai, gimana kabar Ali belakangan ini?
Halo, kabar baik.

Banyak yang menyebut musik kalian sebagai “funk Timur Tengah” dari mana awalnya ide perpaduan itu muncul?
Ide ini muncul secara organik setelah kami saling share playlist dan menemukan jika di Indonesia pernah ada musik funk era 70an dengan nuansa dan lirik Arab yang dibawakan oleh Munif Bahasuan yang berjudul “Naghm El Uns”. Itu menjadi salah satu trigger kami untuk kemudian memadukan elemen timur tengah di musik Ali, karena ternyata sudah ada di Indonesia sejak lama. Bahkan jika ditelusuri lebih jauh lagi sudah ada jauh sebelum era 70an juga dan sudah terasimilasi secara organik. Jadi menurut kami menjadi make sense jika Ali hadir dengan perpaduan musik ini di era sekarang, agar menyuguhkan sesuatu yang “fresh” bagi penikmat musik. Sekaligus menjadi pengingat bahwa kita pernah punya juga musik semacam ini di masa lampau.

Apa momen pertama yang bikin kalian sadar kalau arah musik Ali harus seperti ini soulful, groovy, tapi tetap punya akar budaya yang kuat?
Tidak ada keharusan sebenarnya, tapi memang secara organik referensi musik kami di seputar musik yang groovy sebagai elemen utamanya, seperti funk, disco, dan afro beat misalnya. Unsur budaya dimasukkan agar membawa pesan dan tidak “kosong” secara value.

Beberapa lagu Ali menggunakan bahasa Arab seberapa penting unsur bahasa dan spiritualitas dalam karya kalian?
Pemilihan bahasa Arab digunakan agar semakin melengkapi tema musiknya. Disamping itu, karena penulis lirik sekaligus frontman (Arswandaru) memang bisa berbahasa Arab secara pasif dan masih keturunan Arab. Tidak ada unsur kesengajaan dalam aspek spiritualitas, karena makna liriknya pun tidak mengacu ke sana. Jika ditangkap pendengar dengan makna berbeda, itu tidak bisa dihindari, biarkan mengalir saja.

Apakah ketika manggung di luar negeri rasa nasionalitas akan Indonesia perlu ditampikan? sebagai contoh mungkin seperti memasang bendera negara di amps
Kami menampilkannya secara verbal dan implisit, melalui greetings di jeda set lagu. Kami selalu menyampaikan bahwa kami band dari Indonesia, dan selalu mendapatkan tanggapan yang sangat apresiatif. Menurut kami itu sudah cukup.

Pada tahun 2025 ini Ali kembali akan tampil di Joyland, tapi untuk tahun ini Joyland dalam format yang berbeda, apa yang disiapkan Ali untuk Joyland Session tahun 2025?
⁠Kami akan mencoba menyiapkan set list yang cukup berbeda di Joyland tahun ini. Agar audience yang mungkin juga menyaksikan kami di Joyland tahun lalu mendapatkan experience yang berbeda

Apa pendapat Ali mengenai Joyland?
⁠Joyland adalah festival yang sangat nyaman dan cukup ideal, baik bagi musisi yang bermain dan penonton yang datang untuk menikmati musik. Pemilihan line up juga terkurasi dengan baik.