BrantaSepuluh Studio didirikan pada tanggal 8 Agustus 2022 oleh almarhum Remy Ramdhan: seorang musisi, music producer, arranger dan programmer, yang pernah mengerjakan beberapa recording project dengan Dewi Sandra, Sania, R42, RED, Denny Saba, Amalia, Denny Didan & Joeniar Arief. Selai itu Remy juga mengerjakan beberapa project scoring dan soundtrack untuk beberapa film layar lebar. Awalnya BrantaSepuluh studio hanya digunakan untuk keperluan pekerjaan almarhum dan latihan band kolega dekat saja. Setelah almarhum wafat dan sempat tutup sebulan lamanya, studio BrantaSepuluh kembali dibuka oleh istrinya, Lia Amalia. Diawali dengan rehearsal Yura Yunita untuk Pertunjukan Tutur Batin.

Kenyamanan rehearsal space ini sudah dipercaya oleh beberapa band seperti The Titans, The Groove, Five Minute, T- Five, Brown Sugar, Protonema, Yovie & Nuno, Yonago Trio Jazz , Fariz RM, P Project, Project Pop sampai Aura Kasih. Selain itu band-band dengan genre alternative dan electronic seperti Polyester Embassy, Nearcrush, Rub of Rub, Domestic Club dan Rock N Roll Mafia juga beberapakali berlatih disini. Kenyamanan, kebersihan, juga ruang studio yang luas dan suasana homey merupakan kelebihan dari studio BrantaSepuluh. Tata letak peralatan dan speaker monitor yang sudah diperhitungkan secara detail oleh Remy yang membuat vibes rehearsal di studio BrantaSepuluh menjadi serasa “manggung”, dengan ciri khasnya “memanjakan” para musisi dan vokalis yang berlatih disini. Selain rehearsal, studio BrantaSepuluh juga bisa digunakan untuk recording digital per track (tracking), live session recording multitrack dan keperluan shooting untuk konten live session band, photo session dan workshop.

Equipment di Studio ini juga cukup memadai dengan adanya ampli gitar Roland Jazz Chorus, Blackstar HT Stage MK II, ampli keyboard Roland KC600 dan ampli bass Bugera dengan head TC Electronic BQ500. Beberapa kelebihan studio ini menurut kami adalah space nya yang lumayan besar, sehingga cocok untuk menampung band dengan personil banyak dan instrumen yang lebih banyak. Tentunya dengan tersedianya toilet di dalam ruang studio, akan mengurangi traffic keluar masuk ruangan yang akan mengganggu latihan. Jangan takut kelaparan juga, karena ada beberapa pilihan snack, makanan instan dan lemari pendingin berisikan minuman segar disini. Poin plus lainnya tentu adalah parking space yang memadai dan lingkungan strategis dekat Cihapit. Segera coba sendiri studio ini and tell us what you think in the comments.

Pria yang dikenal sebagai vokalis D’Masiv ini sekarang aktif membuat konten di channel Youtubenya dan seringkali berbagi info mengenai passion-passion nya terhadap collectible items seperti vintage band T-Shirts, jersey Sepak Bola sampai vinyl-vinyl langka. D’Masiv pun bisa dibilang aktif kembali seperti puber kedua: rekaman di Abbey Road, lalu tour ke Amerika, Inggris sampai Eropa. Mereka collab dengan berbagai band independen seperti Perunggu, Pure Saturday, The Sigit dan Efek Rumah Kaca. Mari berbincang dengan Rian mengenai kecintaan nya terhadap kultur ‘90an, hunting kaos Bjork dan rela tidak makan seminggu biar bisa beli CD..

“Kita gak pernah nyangka ya sebuah band dari Gang kecil di Ciledug bisa bertahan 20 tahun, bisa bikin 7 album dan manggung keliling dunia, bahkan terakhir kita merekam lagu kita di Abbey Road London.”

Halo Mas Rian! Apa kabar? Lagi sibuk ngapain aja nih?
Halo baik. Sekarang lagi sibuk manggung dari festival ke festival. Terus persiapan September kita akan tour ke beberapa negara, kita akan berangkat ke Amerika untuk manggung di Times Square New York, lalu Philadelphia dan Los Angeles. Oktober kita berangkat lagi ke Inggris untuk main di Manchester dan Liverpool, lalu lanjut ke Eropa untuk main di Belanda, Jerman dan Austria. Lalu mempersiapkan materi album ke 8 yang mungkin akan kita rilis di tahun depan.

Dengar-dengar suka koleksi barang hobby yang berbau vintage ya Mas? Gimana tuh hobby mulai nya?
Kalau ngomongin vintage memang selalu suka dengan barang-barang hobby yang berbau vintage. Seperti rilisan fisik kaya kaset dan piringan hitam. Gitar-gitar juga banyak yang vintage, bahkan audio seperti speaker, ampli, turntable, tape deck dan CD player vintage semua. Semua itu saling terkait karena musik itu pasti gak jauh-jauh dari rilisan fisik, T-Shirt band dan merchandise. Intinya sih apa yang dikoleksi tuh lebih mewakili perjalanan waktu kecil sih.. Dan jaman sekarang karena mungkin sudah punya kemampuan untuk membeli dan mengoleksi.. Jadi akhirnya lebih fokus ke hal-hal yang dulu sering dilihat atau didengar waktu kecil..


Top 6 kaos musik lokal & luar favorit Mas Rian apa saja? Bisa elaborasi sedikit mengenai kaos-kaos tersebut?
Kalau luar yang mungkin punya cerita itu kaos nya The Sundays, band dream pop asal Inggris. Mereka adalah salah satu band yang dikenalkan sama istri saat itu, dan saya dan istri semakin yakin kalau dia itu pasangan saya pas dia ngasih rekomendasi The Sundays. Lalu T-Shirt Electric Light Orchestra tahun 1977, band asal Birmingham yang dulu sering didengerin bokap waktu saya kecil, lagunya “Mr. Blue Sky”. Gue sempet nonton Jeff Lynne waktu ke London dan akhirnya mendapatkan tanda tangan dan pick gitar ELO. Dia sempat mengomentari kaos ELO yang gue pakai soalnya itu T-Shirt dia dari tahun 70an. Satu lagu T-Shirt The Smashing Pumpkins yang kover album “Siamese Dream”. Salah satu album Smashing yang iconic dan membekas buat gue. Entah kenapa gue selalu suka kover album yang ada anak kecilnya, entah kenapa selalu jadi album-album yang everlasting.

Kalau yang lokal mungkin Guruh Gypsy. Ini adalah salah satu T-Shirt yang iconic karena ada tulisan sansekerta atau apa, unik lah pokoknya. Musiknya kan psychedelic dan ada world musicnya, salah satu album yang magis, almarhum Chrisye main bass disini dan mas Guruh Soekarnoputra mengisi gamelan dan membuat lagunya. Yang kedua Chaseiro group vokal tahun ‘70an yang di era itu sudah banyak membuat lagu-lagu bernuansa funk/jazz mungkin kalau kata anak sekarang city pop ya. Gue kebetulan dapet T-Shirt nya tahun ‘81 dari personilnya langsung, jadi itu salah satu T-Shirt yang gue sayang. Satu lagi Godbless yang album “Semut Hitam”, salah satu album yang bokap sering dengerin dan membuat gue juga pengen jadi anak band pada saat itu.

“Tapi karena saling respect itulah kita bisa saling berkolaborasi, kita juga pernah collab dengan Fariz RM, Pure Saturday, The Sigit, Efek Rumah Kaca & Perunggu.”

Shout outs untuk toko-toko penjual kaos vintage, langganan Mas Rian dimana saja? Ada yang sampai cari ke Malaysia ya? Kaos apa yang paling susah didapatkan dan apa aja yang masih jadi wishlist?
Sebenarnya kalau di era 2009-2010 sering beli di Instagram nya @Nostalgeec , banyak koleksi dia itu dari indiepop sampai shoegaze dan britpop, banyak kaos-kaos yang jarang gue liat yang ada di toko dia tapi memang sekarang sudah mahal-mahal. Yang terbaru itu baru kemaren tuh mungkin @altr_store koleksi nya sih keren banget. Gue baru dateng ke opening nya kemaren, koleksi nya bagus-bagus tapi harga ya relatif lah karena memang sudah barang-barang langka. Kemarin sempat thrifting di Malaysia Johor Baru dan di Kuala Lumpur. Kalau yang paling enak tuh di Los Angeles, cuma sudah dikurasi. Sepanjang jalan Melrose isinya toko-toko vintage dan bikin pusing ya, selain bagus-bagus harganya mahal-mahal.

Kalau yang paling susah didapatkan mungkin Bjork “Post” yang longsleeve. Salah satu yang gue cari dari dulu dan baru kesampaian dapet kemarin. WIshlist banyak banget, sekarang lagi nyari Cocteau Twins “Four Calendar Cafe”, tapi yang berwarna bukan yang monokrom.

“Waktu SMP itu bahkan saya rela ga jajan dan lebih memilih untuk mintain makanan temen-temen biar uang jajan gue ga kepake dan bisa beli CD atau Kaset.”

Kalau berbicara mengenai vinyl, mulai kapan Mas Rian koleksi vinyl dan membeli sebuah turntable?
Nahh kalau ini sebenarnya meneruskan hobi gue dari SD yang udah ngumpulin kaset, SMP itu bahkan rela ga jajan dan lebih memilih untuk mintain makanan temen-temen biar uang jajan gue ga kepake. Setiap weekend gue pakai uang jajan gue untuk beli kaset-kaset di Taman Puring atau Aquarius Mahakam Jakarta. Sekarang keduanya sudah tutup dan banyak pedagang yang dulu dagang di Taman Puring pindah ke Blok M Square. Saat itu memang sudah pengen banget koleksi vinyl. Kalau album yang gue suka tuh biasanya punya berbagai format dari kaset, CD sampai piringan hitamnya. Mulai sekitar tahun 2010 pas udah punya penghasilan sendiri, lalu beli turntable, ampli dan speaker vintage. Pelan-pelan mulai mengoleksi album-album yang gue suka dari kecil, standar lah Beatles, ELO, Chicago, Koes Plus, Chrisye. Mulainya dari situ dulu..

Koleksi vinyl Mas Rian kalau boleh disebutkan ada berapa Mas? Hahaha.. Top 5 album yang wajib dimiliki vinylnya versi Mas Rian apa aja?
Sampai sekarang bisa dibilang udah keracunan dan addicted banget, sampai bingung ngitungnya mungkin di ruangan saya ada 2000an vinylnya. Terakhir ngitung sih segitu udah termasuk album-album lokal dan luar. Sekarang mulai membeli musisi-musisi dari Filipina dan Malaysia ternyata banyak yang keren dirilis di era ‘80an itu.

Top 5:
Badai Pasti Berlalu OST (1977): Ini peringkat pertama kali, tahun 1977. Diisi sura Chrisye, lagu diciptakan oleh Eros Djarot. Musiknya dibuat oleh om Yockie Suryo Prayogo. DIsitu ada 2 penyanyi Chrisye dan Tante Berlian Hutauruk.
Sheila Majid – Emosi (1986): Kalau gak salah ini album kedua. Dari kecil sampai sekarang gak pernah bosan karena ada lagu “Sinaran” dan “Antara Anyer dan Jakarta”.
Godbless – Huma Di Atas Bukit (1985): Kovernya itu kaya ilustrasi kartun dari Ahmad Albar, wajib dimiliki para kolektor.
Guruh Soearnoputre – Pagelaran Karya Cipta: Ada lagu-lagu yang bagus banget kaya “Melati Suci” terus “Cinta Indonesia” dan “Seni”. Bagus banget sih album ini.
D’Masiv – Time: Karena disini kita keluar dari zona nyaman dan memainkan musik yang bisa dibilnag gak biasa, ada nuansa city pop, indie pop dan RnB nya juga. Jadi cukup berani aja di album ini. Vinylnya wajib dipunya tuh karena artworknya lumayan nyeleneh juga, pertama kali kita bikin cover yang benar-benar pake sketch, biasanya band mainstream kan pake kover muka-muka gitu haha..

Jika berbicara mengenai D’Masiv, perubahan terbesar apa yang dialami D’Masiv sekarang? Setelah ngeband selama 20 tahun, apa sih bedanya ngeband pas awal-awal dulu dengan D’Masiv yang sekarang?
Perubahan terbesar sih yang pasti kita gak pernah nyangka ya sebuah band dari Gang Ciledug, Gang Kamboja, mungkin di jaman itu orang gak akan nyangka band dari sebuah gang kecil bisa bertahan 20 tahun, bisa bikin 7 album dan manggung keliling dunia, bahkan terakhir kita merekam lagu kita di Abbey Road London. Kita bisa manggung di negara-negara yang gak pernah kita bayangkan dulu. Sekarang semua itu bisa kita rasakan. Yang bikin kita kaget sih sebenarnya band ini bukan hanya sebuah band tapi menjadi tempat bernaung untuk banyak orang mendapatkan rejeki, untuk crew-crew, staff dan karyawan kita. Kita bertransformasi dari band 17 Agustusan dan bisa jadi tempat bernaung untuk banyak orang.

Kita mungkin umurnya sudah 20 tahun tapi selalu merasa seperti band baru terus ya. Bahkan desire bermusik kita berkali-kali lipat, dan gairahnya itu gak habis-habis ya. Malah pengen explore dan bikin sesuatu yang out of the box. Seperti kemarin konser 20 tahun dan berkolaborasi dengan band-band sidestream dan cross sekali dengan genre D’Masiv. Tapi karena saling respect itulah kita bisa saling berkolaborasi, kita juga pernah collab dengan Pure Saturday, The Sigit, Efek Rumah Kaca. Dan kita juga sempat mengajak beberapa musisi indie label. Beberapa waktu lalu sempat ramai tentang major vs indie. Tapi buat kita major dan indie itu bukan sesuatu hal yang perlu diperdebatkan dan buat kita musik adalah musik, dan kita bisa berkolaborasi dengan siapapun.

D’Masiv sudah berkolaborasi dengan Fariz RM, Fiersa Besari sampai Perunggu. Kenapa memilih para kolaborator tersebut? Ada keinginan untuk kolaborasi dengan siapa lagi yang belum terwujudkan?
Seperti yang tadi gue sampaikan ya, buat kita musik itu bisa menjadi alat komunikasi yang baik, termasuk dengan musisi-musisi yang lain. Jadi ketika sudah menaruh respect maka sekat sudah tidak ada, mau genre apapun itu bukan masalah. Kita bisa berkolaborasi dengan siapapun ketika kita semua saling respect. Seperti om Fariz mungkin sudah menjadi pahlawan para musisi Indonesia. Fiersa Besari juga salah satu muissi yang punya pergereakan tidak biasa. Perunggu juga punya semangat yang berbeda ya, mereka seperti bermusik tanpa nothing to lose, tanpa berkespektasi tinggi tapi karyanya bisa menyentuh banya orang.

Pengen nya sih kolaborasi sama band yang agak nyeleneh yah. Mungkin sama band punk mungkin, D’Masiv kolaborasi sama Dongker mungkin seru juga ya hahaha. Yang belum kesampaian sih sama Koil, padahal sering kabar-kabarana sama kang Otong tapi belum sempat kolaborasi di panggung. Pengen sama White Chorus kali ya? Seru juga kali ya kalau D’Masiv bisa kolaborasi sama White Chorus. Karena dia musiknya elektronik gitu, sempat beberapa kali menonton mereka, kayaknya akan ada warna baru kalau berkolaborasi.

5 lagu yang merubah hidup mas Rian apa saja?
Sudah pasti Chrisye yang berjudul “Sabda Alam”. Itu adalah salah satu lagu puitis dengan lirik indah dan juga notasi yang luar biasa. Tidak bisa dipungkiri mungkin lagunya Sheila on 7 yang “Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki”. Dulu nyokap tuh sering bilang pas gue kecil. Mamah sering bilang suara gue kaya Duta kalau nyanyi lagu ini. The Beatles yang “The Long And Winding Road”. Lagu ini bisa membuat gue merenung dan meneteskan air mata kalau sedang di perjalanan jauh. Boleh ya lagu D’Masiv ya? Hahaha. “Jangan Menyerah”. Lagu itu gue tulis ketika berada di kondisi yang sangat sulit pada saat itu, tapi ternyata banyak orang-orang yang mungkin lebih sulit beban hidupnya dari gue pada saat itu dan mereka bisa lebih mensyukuri hidupnya. Lagu itu masih menjadi penyemangat gue dalam kondisi apapun, terutama saat lagi capek dan banyak pikiran. Terakhir mungkin Koes Plus “Bunga Di Tepi Jalan”, salah satu lagu yang indah dan ternyata makna nya sangat dalam ya, sampai saat ini gak pernah bosan gue dengerin sih.

Pertanyaan terakhir: Seperti mas Rian sedang asik ngulik dan membuat konten di Youtube ya? Apa aja sih hal yang membuat mas Rian terjun juga jadi content creator? Apakah sekedar sharing soal passion aja, just for fun atau channel ini nanti mau dibawa ke arah yang lebih serius?
Baru mulai punya channel Youtube sekitar tahun 2018 atau 2019, awalnya cuma mendokumentasikan beberapa kegiatan aja sih. Cuma ternyata ada beberapa konten yang views nya banyak terutama kalau konten bola ata ngobrol. Sebenarnya bukan content creator, ya tapi dari dulu juga kita udah jadi content creator kan sebagai musisi ya konten nya adalah lagunya. Cuma memang kalau di Youtube itu gue sendiri lebih ke pendokumentasian pribadi aja sih, jadi apa yang kita lakukan itu terekam dan semua bisa kita kenang 10 atau 20 tahun lagu.

Kalau ngomongin cari uang di Youtube nggak juga sih, walaupun ada endorse-endorse yang masuk ke Youtube gue, cuma gue lebih mengaktifkan lagi konten-konten gue di Youtube yang membahas T-Shirt band atau jersey. Dan pengen aktifkan lagi podcast gue yang isinya gue ngobrol sama musisi atau pemain bola. Ternyata banyak yang suka ketika gue ngobrol dengan musisi lain. Atau membahas hobby. Intinya sih kalau mau dibawa serius atau engga ya ngalir aja. Tapi lebih ke pendokumentasian aja, tapi konten hobby dan podcast (The Rep Show) itu biar orang ga boring aja nonton nya. Gitu sih..

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo by Rakasyah Reza

Sutradara langganan Studio A24 Ari Aster kembali ke layar lebar dengan salah satu aktor terbaik yang bekerja di industri sinema hari ini: Joaquin Phoenix. “Beau is Afraid” dari awal hingga akhir berkisah tentang perjalanan panjang yang melelahkan dari seorang pria yang gelisah dalam upayanya untuk mengunjungi ibunya. Joaquin selalu memilih peran karakter yang sangat abstrak dan kompleks, dan Joaquin tampil prima di semua film yang dia perankan. Film ini terlihat seperti mimpi dari POV penonton. Sebuah pengalaman sinematik yang berani, luar biasa, dan bahkan menyesakkan bagi pemirsanya.


Di permukaan, terlihat elemen-elemen tema black comedy dengan nada melodramatis. Itu dibuat dengan cermat oleh Ari Aster dalam 3 jam, untuk membuatnya terasa lebih kaya dan lebih detail. “Beau Is Afraid” memiliki anggaran yang lebih besar dibanding 2 karya Ari Aster sebelumnya: “Hereditary” dan “Midsommar”. Dan itu sangat membantu dalam produksi dan visual dari skenario aneh di “Beau Is Afraid”. Overall, “Beau Is Afraid” adalah film Aster yang paling ambisius hingga saat ini. Meski bukan horor yang mentah dan eksperimental, namun film ini tetap menghadirkan pengalaman dan perasaan tak terlupakan yang kerap dirindukan dalam film-film arthouse belakangan ini.

Saya senang untuk mengatakan bahwa saya sangat terpesona dan puas dengan film terbaru dari studio A24 ini . Entah itu logika mimpi, atau logika mimpi buruk yang hadir. Saya merasakan kehadirannya dengan baik setelah runtime film. “Beau Is Afraid” akan menjadi film yang mempolarisasi banyak orang, either you love it or you will hate it. Tetapi Ari Aster selalu memiliki suara yang unik. Mudah-mudahan Ari Aster tidak pernah berhenti menjadi diri sendiri untuk film-film selanjutnya, karena sejauh ini, konsep-konsep auteur ini selalu on point. Dalam hal plot, saya akan mendeskripsikan film ini dengan “Kafkaesque”. Penonton akan menemukan diri mereka bertanya apakah film ini didasarkan pada fantasi atau kenyataan atau apakah dimaksudkan sebagai garis tipis antara dua ekstrem di mana mimpi dan kehidupan nyata bergabung dan bercampur. Film serupa yang muncul di benak setelah direnungkan adalah Brazil(1985), Paprika (2009) dan The Truman Show(1997).

Text by Aldy Kusumah

Dua band dengan generasi berbeda, Koil dan .Feast, telah bergabung dalam proyek kolaborasi dengan merilis ‘Tarian Penghancur Dunia Fantasi’. Dalam proyek ini, keduanya saling bertukar lagu, dengan Koil merekonstruksi lagu terkenal .Feast yang berjudul “Tarian Penghancur Raya”, sementara .Feast menggubah ulang lagu ikonik milik Koil, “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi”. Tema utama dari proyek ini adalah tingkah laku manusia yang tamak, di mana “Tarian Penghancur Raya” berfokus pada hubungan manusia dengan lingkungan, sementara “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi” membahas pertanyaan manusia terhadap negara yang mereka tinggali.

Kedua lagu ini mengalami transformasi yang luar biasa, dengan Koil menghadirkan perluasan emosi dalam “Tarian Penghancur Raya” dengan sentuhan musik rock pada era-nya Koil, sedangkan .Feast memberikan versi yang lebih tajam dan modern dari “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi”. Perilisan split single ini menandai awal dari proyek musikal yang lebih besar dari Koil dan .Feast, yang akan menghadirkan sebuah single bersama yang masih dirahasiakan. Kolaborasi ini dianggap sebagai angin segar dan pencapaian penting dalam sejarah musik Indonesia, dengan Koil mewakili era keemasan mereka yang legendaris dan .Feast sebagai wajah baru dalam dunia rock masa kini. “Tarian Penghancur Dunia Fantasi” sudah dapat dinikmati secara digital melalui layanan streaming musik sejak Rabu, 20 September 2023.

Rilisan baru dari Polyester Embassy tentunya akan selalu dinantikan, karena sejak mereka merilis single “Polypanic Rooms” di tahun 2006, sepertinya mereka sudah menemukan karakter yang tepat. Sebuah racikan yang pas dari space-rock, elektronica, ambient pop dan shoegaze. Saya juga menemukan pengaruh dari band-band seperti The Cooper Temple Clause, Hope of the States, Mansun, The Shins, Flaming Lips sampai Radiohead dan Mew di lagu-lagu mereka. Mereka mengambil unsur-unsur tersebut secara halus dan sudah menemukan karakter sendiri di album ‘Tragicomedy’ & ‘Fake / Faker’, yang keduanya dirilis pada tahun 2006 dan 2011 silam. Kali ini Polyester Embassy hadir dengan formasi: Elang Eby (vokal/gitar), Khrisnamurti ‘utinks’ Wahyu (lead gitar), Eky Darmawan (Vokal/ Gitar), Dissa Kamajaya (Synthesizers/Backing vokal), Ridwan Aritomo (Bass) dan Pramaditya Azhar (Drum). Beberapa isian drum di album ini masih melibatkan mendiang Givari. Sedangkan sosok drummer baru mereka, Pramaditya Azhar, juga turut mengisi drum di beberapa lagu, plus satu lagu berjudul “Can I Fly” yang diisi oleh kedua sosok drummer ini.

‘EVOL’ hadir di tahun 2023, tepatnya 12 tahun setelah mereka terakhir merilis album (yang pasti membuat pembaca bertanya-tanya berapa umur para personilnya sekarang). Tanpa disangka, ‘EVOL’ masih mengusung jenis musik yang sudah nyaman mereka bawakan selama ini. Hanya saja disini, mereka terlihat jauh lebih matang secara produksi, aransemen dan sound. Track pembukan “Can I Fly” seolah meneruskan mood yang sama dan menjadi mesin waktu yang membawa kita ke era 2000an akhir pada saat baru mendengarkan “Orange is Yellow”. Lagu berdurasi 5 menit ini cukup straightforward, dan diakhiri dengan outro yang cukup epik. “Scattered” adalah lagu yang sedikit prog, dengan sinkopasi drumming dan dynamics yang berubah-ubah. Layer-layer synth dari Dissa Kamajaya (synth, backvocal) menambah nuansa dreamy dan “ke’eung” pada saat yang sama. Track ketiga adalah “Parak” yang sudah di publish 2 tahun yang lalu. Sebuah single yang radio friendly, apalagi disini mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Melodi yang catchy dari Utink (gitar) dan Ekky (gitar, vokal) bisa menetralisir aransmen PE yang kompleks. “Kerai” adalah lagu yang masih menggunakan bahasa ibu. Lagu ini juga menghadirkan Octavia ‘Heals’ yang mengisi suara latar. Saya menyukai momen-momen dimana Polem bermain dengan disonansi, feedback, arpeggio dan berubah menjadi band yang sangat eksperimental di sebuah track yang awalnya sangat easy listening. Tentunya part-part seperti ini akan menarik jika direalisasikan di live show mereka yang didukung oleh sound dan pencahayaan yang mumpuni. Dan mereka masih memberi kejutan di akhir lagu: sebuah part outro dengan gitar akustik untuk meredam jam session noisy mereka.

“Ruins (II)” adala sebuah re-interpretasi Polyester Embassy untuk lagu Polyester Embassy sendiri yang sudah hadir di album pertama mereka (“Ruins”). Ternyata mereka adalah band yang cukup kritis, bahkan kepada dirinya sendiri. Disini mereka mempersembahkan sebuah versi lain dari lagu “Ruins” yang lebih shoegazing, noisy dan sedikit dreamy. Diakhiri oleh crescendo yang lebih klimaks, i have to say this is the better version of “Ruins”. “Laugh And Swell” sudah jelas memperlihatkan kecintaan para personil Polem terhadap pengaruh electro pop dan indietronica. Lagam vokal di lagu ini sedikit mengingatkan saya pada RNRM (mungkin karena Ekky juga adalah vokalis dari RNRM). Suara latar Janis (anak dari Elang Eby) dan Karina Sokowati di lagu ini sangat menarik dan menjadi salah satu highlight di track ini (selain synth + delay yang catchy). Penultimate track album ini adalah sebuah pop ballad berjudul “Look Out Looking”, yang ditaruh tepat untuk membiarkan penonton menghela nafas setelah mendengar 6 lagu dengan instrumentasi yang kompleks. Lagu penutup, “Kala”, adalah lagu favorit saya di album ini. “Kala” memiliki semuanya: aransmen yang cerdik, instrumentasi kompleks, sound + produksi yang apik, lirik yang well-written dan tentunya quiet / loud dynamics yang pas. Untuk generasi sekarang mungkin Polyester Embassy adalah band yang cukup obscure. Biarkan lagu-lagu Polem merasuki kupingmu dan menetap disitu. Jika kamu belum pernah mendengar rilisan Polem, you can start with this one.

 

Text by Aldy Kusumah

 

Jeruji, unit hardcore punk asal Bandung siap kembali ke panggung musik dengan karya terbaru mereka setelah lebih dari dua dekade berkiprah. Dalam formasi yang tetap kuat dengan Rangga sebagai vokalis, Sani Harjasyah di drum, Hendy Hanafi di bass, dan Moh. Irsyad Ridlwan di gitar, Jeruji tetap berkomitmen untuk memberikan suara lantang dalam pergerakan kemanusiaan dan skena musik ekstrim. Mereka merayakan pencapaian luar biasa, memasuki usia ke-27 tahun mereka pada tanggal 30 September, menggambarkan konsistensi mereka dalam menciptakan lirik-lirik tajam yang mengangkat isu-isu penting.

Jeruji telah menghadapi berbagai tantangan sepanjang perjalanan mereka, tetapi mereka tetap fokus pada misi mereka. Dalam single terbaru mereka berjudul “Bernyawa,” band ini mengungkapkan perasaan, pilihan hidup, dan kebenaran serta kesalahan yang mereka hadapi. Dengan lirik yang kuat, Jeruji menegaskan bahwa mereka tidak peduli dengan pandangan negatif atau pengakuan dari luar, tetapi mereka akan tetap setia pada hati nurani mereka. Single “Bernyawa” akan segera tersedia di berbagai platform streaming digital mulai tanggal 16 September 2023, dan ini menjadi titik awal menuju rilis EP terbaru mereka yang dijadwalkan akan hadir pada akhir tahun ini.

Maja Family resmi membuka Papila Kids Club untuk umum di acara “PLAY MARKET” pada tanggal 16 – 17 September 2023 di lokasi House Tour-Uphill Hotel. Acara ini dimulai pada pukul 09.00 WIB sampai 17.00 WIB di kedua harinya, dengan serangkaian acara kolaboratif untuk si kecil dan para orang tua di masing-masing harinya.

Dalam kesempatan ini, Papila Kids Club mengajak publik untuk turut serta mencoba fitur-fitur Kids Experience Playground-nya yang akan dimeriahkan oleh acara “PLAY MARKET”. Kids Games seperti Pirate Treasure Hunt dengan WonderKids Motoric Club dimana si kecil diajak berjelajah untuk mencari harta karun, Summer Party dengan Ruang Riang dimana anak-anak diajak waterplay dan asah kreatifitas, serta Sensory Exploration Class dengan Maincamacama dimana mereka akan dibantu eksplorasi rasa.

“PLAY MARKET”  juga mengadakan hiburan untuk para Parents seperti Kids Fashion Pop-Up Market yang dikurasi oleh Touché Shop, dimana sejumlah brand favorit para moms akan membuka booth. Aunties Tittle Tattle juga akan turut hadir untuk memanjakan para Moms dengan sesi Mom’s Nail Art. Hiburan lain seperti face painting dan juga kepang rambut untuk sikecil akan ikut meramaikan acara.

Kini waktu refreshing untuk si kecil dan para orang tua dapat dilakukan semua di satu tempat. Jadikan Papila Kids Club tempat yang nyaman, tenang dan tepat untuk si kecil berkreasi, eksplorasi dan berimajinasi tanpa batas.

Untuk info lebih lanjut silahkan kunjungi @papila.kidsclub

Isyana Sarasvati, solois wanita kelahiran Bandung, semakin mengukir prestasi internasional dengan pengumuman baru-baru ini. Ia akan tampil di Jepang pada bulan Oktober mendatang, menjadi musisi Asia Tenggara pertama yang mengisi acara di venue bergengsi. Isyana akan menggelar dua konser di Jepang, pertama di Yokohama, di Billboard Live Yokohama, di mana ia akan membawakan lagu-lagu orisinalnya dari album keempatnya. Konser ini akan digelar dalam dua sesi, siang dan malam.

Yang membuat penampilan Isyana di Jepang semakin istimewa adalah kabar kolaborasinya dengan gitaris legendaris Marty Friedman dari band metal Megadeth. Marty akan berkolaborasi dalam salah satu lagu Isyana Sarasvati. Setelah Yokohama, Isyana akan mengunjungi Tokyo, di mana ia akan tampil di Yamaha Hall Ginza dengan konsep “Isyana Unplugged Live in Tokyo”. Venue ini dirancang khusus untuk menciptakan pengalaman bermusik yang lebih dekat dan intim antara penampil dan penonton. Pada konser ini, Isyana akan berkolaborasi dengan violinis terkenal asal Jepang, Emiri Miyamoto. Penampilan Isyana di Yamaha Hall Tokyo juga akan disiarkan secara langsung melalui internet pada tanggal 9 Oktober mendatang.

Penjualan tiket untuk kedua pertunjukan ini sudah dibuka. Untuk konser di Billboard Live Yokohama, tiket tersedia mulai dari ¥6.900 hingga ¥7.400. Sementara untuk konser unplugged di Yamaha Hall Tokyo, harga tiket berkisar antara ¥5.000 hingga ¥7.000.

Hari Raya, band asal Jatinangor, Jawa Barat, akhirnya merilis single ketiganya yang berjudul “Menunggu Detik Membiru” setelah beberapa bulan vakum dalam berkarya. Band ini terdiri dari Aisyah (vokal), Naufal/Ansul (Keys), Rayhan/Age (gitar), Rino (gitar), Ilham/Icam (bass), dan Mahen (drum). Perjalanan band ini tidaklah mudah, dimulai pada tahun 2019, mereka menghadapi berbagai rintangan, termasuk pergantian personel dan kesulitan menyesuaikan jadwal latihan karena kesibukan anggota. Namun, mereka berhasil merilis single pertama pada Desember 2021, yang kemudian di-take down, dan kemudian merilis single kedua berjudul “Neverland” pada Desember 2022. Sekarang, pada kuartal ketiga tahun 2023, Hari Raya kembali dengan single terbarunya, yang menjadi langkah awal menuju EP yang akan segera dirilis.

“Menunggu Detik Membiru” adalah lagu patah hati dengan sentuhan musik twee dan indie pop, dinyanyikan dalam bahasa Indonesia. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang menunggu sesuatu yang tidak pasti akan datang, dan kata “Detik Membiru” menggambarkan waktu yang hampir tak bisa bernafas hingga terasa seperti membiru. Secara musikal, lagu ini menghadirkan melodi yang repetitif sepanjang lagu dengan nuansa twee dan indie-rock ala Captured Tracks atau band-band asal Inggris pada tahun 80-an yang dirilis oleh Sarah Records.

“Red Knight” adalah debut album dari Gergasi Api, duo yang diperkuat Ekyno (Full of Hate, Plum) dan Alexandra J. Wuisan (Sieve, Cherry Bombshell). Mereka meleburkan post-metal, dream-pop, shoegaze sampai sedikit elemen industrial menjadi racikan keren khas Gergasi Api (GA). Uniknya, di album “Red Knight” ini single berjudul ‘Red Knight’ malah tidak muncul. Dibuka oleh ‘Sacred Sound’ yang menurut saya kurang kuat untuk sebuah opener. Sound gitar raw dan synth sedikit mengingatkan saya ke NIN era “Downward Spiral”, and it’s a good thing. Nah, track kedua ‘Soul Bound’ tedengar lebih catchy dan dinamis untuk sebuah opener, tetapi malah ditaruh sebagai track kedua, tetapi tidak apa-apa, tetap keren. Lagu dengan tempo medium beat ini sedikit mengawang, tetapi itu tidak lama, karena gitar yang noisy dan produksi yang “in your face” membuat lagu ini tetap rocking. Sedikit notes, mungkin vokal terdengar sedikit terlalu depan dan agak menutupi instrumentasi yang kompleks. ‘Dead Eyes’ adalah lagu favorit kami di album ini. Sedikit trip-hoppy di verse, tetapi semua itu akan berubah pada saat masuk ke bridge dan reff. Single material indeed.

‘Void Glide Celestials’ adalah judul yang menarik. Dibuka dengan bait “I’ve swallowed shards of pain before”. Track yang moody ini cenderung downbeat dan lebih gelap jika dibanding 3 lagu sebelumnya. ‘Ghost Ascending’ adalah sebuah track yang catchy, dengen loop gitar melodius dan layer-layer vokal yang membius. Horn sections di lagu ini akan lebih baik jika menggunakan horn sections asli, semoga mereka melakukan nya suatu saat untuk format live. ‘Awakening (Mothra Remix)’ menurut saya adalah track remix yang keren, apalagi diremix oleh Aghi Narottama (Ape On The Roof), sayang saja mixing nya kurang terdengar nyaman. ‘Darkling’ meneruskan kembali mood album dari ‘Ghost Ascending’ yang sempat terputus akibat remix di track sebelumnya. Track berikutnya adalah ‘Mothra’, yang cukup aneh muncul setelah versi remixnya. Karena hanya selang satu lagu dari versi remixnya, mendengarkan ‘Mothra’ membuat pendengar yang antusias mendengar lagu berikutnya sedikit backtracking sejenak. ‘Dive’ yang bernuansa shoegazing mengajak pendengar untuk mengawang dan berserah diri menikmati piano dan distorsi raw yang menyelimuti aransemen lagu ini dengan hangat.

Overall, ini adalah debut album yang sangat baik dari Gergasi Api. Lagu-lagu mereka sudah bersinar dengan lirik haunting ala Alexandra dan instrumentasi yang mendetail dari Ekyno. Mungkin jika sedikit nitpicking, kelemahan album ini terletak pada susunan tracklist yang kurang tepat, terutama di track pembuka dan tengah-tengah, dab bisa mengakibatkan pendengar berhenti mendengarkan di tengah album, padahal track 7 sampai 12 dipenuhi oleh lagu-lagu yang menarik. Produksi album ini pun terdengar kurang nyaman di beberapa lagu, entah karena overproduced atau level vokal yang terlalu depan. Oh ya, packaging album ini juga sangat menarik, dengan ilustrasi dari Morrgth dan pemilihan kertas yang berkesan mewah. Now when can we see this guys perform live?

Text by Aldy Kusumah