CAL adalah proyek solo dari Gilang Hade (vokal & gitar) yang juga diperkuat 3 orang sahabatnya: Jordy (drums), Dwiki (bass) & Thian (gitar). CAL akhirnya merilis debut album bertitel “Notion”. Sebenarnya album ini masih memiliki warna yang CAL sudah persembahan di “Anthracite Grey” EP dan juga single ‘Spending’. Hanya saja, di debut album ini, seluruh track benar-benar tergarap lebih detail dari produksi sound hingga aransemen. Track pembuka ‘The Art of Eye Contact’ menggiring pendengar ke “dunia” CAL yang muram, mengawang dan membius. Dengan lirik “More of a friend and non-toxic” mungkin menceritakan sebuah hubungan platonik tanpa ekspektasi. CAL cukup menarik dan fresh. Jika rekan-rekan shoegazers “seangkatan” mereka seperti EAZZ lebih mengambil sound era Creation Records, atau Enola yang lebih droning, CAL lebih mengambil sound nu-gaze ala My Vitriol, Whirr dan Amusement Parks on Fire.

‘Logical’ adalah track kedua yang menurut saya masih melanjutkan mood yang dibangun oleh track pembuka. Track mid-tempo ini sedikit lebih repetitif, dengan sedikit kejutan pada akhir lagu. ‘The City Debt’ adalah track favorit saya di album ini. Lebih noisy dan up-tempo jika dibandingkan dengan dua track sebelumnya. Penggalan lirik “Bullshit at the beginning of the month / another invoice” mungkin membicarakan kondisi finansial yang sedang buruk, dan rutinitas keuangan yang selalu terulang di setiap bulan nya. Track ini diakhiri oleh saxophone ala John Zorn. ‘Wisata Individu’ adalah lagu berlirik Indonesia, dan menurut saya CAL lebih menarik saat membawakan lagu berbahasa Indonesia dibandingkan lirik Inggris. ‘Conformance’ adalah track yang sangat catchy dan bisa menjadi gateway untuk penggemar baru. Single material indeed.

‘Malam Atma’ melanjutkan tongkat estafet lirik berbahasa Indonesia yang sudah dimulai oleh ‘Wisata Individu’, dan ya, sekali lagi saya benar, at least menurut saya sendiri. CAL memang terasa pas dan Gilang sudah terdengar nyaman melantunkan lirik berbahasa ibu. Tanpa sound reverb dan wall of sound yang ada di departemen gitar, lagu ini bisa saja menjadi sebuah track emo tahun 2000an. And that’s a good thing. ‘Exit Dream’ sedikit lebih moody dibandingkan lagu lainnya. Tetapi jika dibandingkan dengan lagu lainnya di album ini, this has to be the weakest song here. ‘Musim Berseri’ adalah sebuah track yang langsung mengingatkan saya pada My Vitriol saat mendengar intro gitarnya. CAL langsung memperlihatkan warna dan ciri khasnya pada saat vokal masuk di verse awal. Jika dilihat dari liriknya sebenarnya ini adalah lagu dengan mood bahagia, tetapi jika sudah diselimuti wall of sound ala CAL, pendengar mungkin menyangka ini adalah lagu “galau” jika tidak membaca lirik “Menikmati indahnya kota Bandung.. Wooo berbagi oh senangnya..”. ‘Megahom’ memiliki isian gitar yang menarik dan drumming pattern yang groovy. Track penutup ‘Color Motion’ adalah lagu paling noisy di album ini. Cocok sekali menjadi track penutup. Overall, album ini memiliki susunan tracklist yang bagus. Entah kenapa, sebuah album berisi 10 lagu selalu terasa pas bagi saya. Jika kamu menyukai satu lagu CAL, saya yakin kamu akan menyukai seluruh lagu di album ini, begitu juga sebaliknya. Mungkin yang CAL butuhkan di album berikutnya adalah sedikit variasi pada lagu-lagunya, dan lebih banyak lagi lirik berbahasa Indonesia.

Key Tracks: ‘Wisata Individu’, ‘City of Debt

Text by Aldy Kusumah

Pure Saturday merilis lagu terbaru berjudul “Fleeting Away,” yang menggambarkan perubahan dan kehilangan dalam hubungan manusia. Lagu ini ditulis oleh Ade Purnama sejak tahun 2017 dan akhirnya dirilis pada tanggal 4 Agustus 2023. Melalui liriknya, lagu ini menggambarkan bagaimana ikatan emosional yang dulu kuat dapat memudar dan berakhir, mengajarkan pentingnya menerima perubahan dalam kehidupan. Meskipun menghadirkan pesan tentang kehilangan, melalui “Fleeting Away” Pure Saturday juga mengajak untuk merenung dan belajar tentang arti kedewasaan dalam menghadapi perubahan.

Proses pembuatan “Fleeting Away” dilakukan secara berkelanjutan selama beberapa tahun, dengan berbagai bagian instrumen direkam di studio yang berbeda-beda pada tahun 2021. Lagu ini menggambarkan perasaan hambar dan hampa setelah momen-momen berharga memudar, sambil memahami bahwa segala hal dalam hidup memiliki siklusnya sendiri. “Fleeting Away” kini tersedia di berbagai platform digital resmi Pure Saturday, dengan artwork oleh Herry Sutresna yang menggambarkan esensi pesan dalam lagu ini.

 

 

 

‘Transcan of Error’ adalah bentuk perlawanan terhadap egoisme yang tertanam di dalam diri. Agar segala bentuk kesalahan dalam masa lalu dapat berubah menjadi cara pandang baru dalam kehidupan dan menjadi cara baru untuk mendapat banyak inpirasi dan solusi.

Segala bentuk pemikiran itu pun dituangkan dengan grafis yang simple pada koleksi terbaru milik Miracle Mates. Dalam Koleksi ini pun Miracle mengeluarkan produk yang lengkap dari head to toe diantaranya ; Topi, T shirt, Longsleeve T shirt, Hoodie, Zip Hoodie, Tas, Celana Pendek, Celana Panjang dan, Kaos kaki.

Seluruh koleksi dari Transcan of Error ini telah diluncurkan pada tanggal 1 Agustus 2023 di Webstore WWW.MIRACLEMATES.ID, dan Marketplace official dari Miracle Mates.

Swellow adalah salah satu band jebolan kota Bogor yang cukup dikenal dengan nuansa indie-rock nya. Swellow adalah Bayu Ramadhan Dwi Azni (vokal), Andi Idam Fauzi (gitar), Afnan Hissan (gitar), Misbahuddin Nika (bas), dan Muhammad ‘Opay’ Fadhli (drum) – mereka dikenal juga bermain dengan beberapa band Bogor lainnya seperti Reid Voltus, The Kuda, Texpack, Diskoteq, dan Rasvala. Setelah merilis EP “Karet” (2021), single “Kalam” (2022), dua maxi-single di “Simpul Tak Berdaya” dan “Jeruk Segar” di tahun 2023, akhirnya Swellow resmi merilis album penuh pertama yang diberi judul “Katus”. Mari berbincang dengan para punggawa indie-rock ini mengenai Matador Records, Stephen Malkmus, Robert Pollard dan doclang …

Menurut press release nya, penjudulan Katus sendiri berangkat dari plesetan “kaktus”, dan dipercaya fengshui membawa sial. Dan menurut Bayu semua cerita tersebut ternyata tidak bisa lepas dari peristiwa kesialan. Apa saja kesialan yang dialami masing-masing personil pada saat penggarapan materi album “Katus”?
Idam: Ada kejadian lucu sih kaya lagu serangga itu based on true story, waktu itu tangan gw smpet bengkak dan sakit banget tiba-tiba, tapi gak tau penyebabnya gitu, mana udah deket lagi mau proses ngetake demo waktu itu, sempet panik karena gak bisa maen gitar haha, ini gimana ya pas ngetake ntar,,akhirnya berobat tapi gak ngaruh gitu,, udah gw paksain aja sambil nahan sakit tiap maen gitar, eh malah ilang sendiri tuh sakitnya ajaib

Bayu: Sebenernya penamaan Katus itu ceritanya, kita lagi ngomongin nama album, rencananya mau ngetik ‘kaktus’ tapi malah typo hahaha… Cuman ternyata memang di bahasa sunda nyebutnya katus. Iya dan kalo memang kalo di fengshui justru untuk ngehindarin sial. Dan semua liriknya memang dari cerita anak-anak Swellow tentang kejadian-kejadian di kehidupan kita gitu lah. Iya nih hahahah Abo banyak banget ceritanyaaa.. kalo Miska waktu itu sempet sharing-sharing aja sih tentang kehidupan diusia 30an dan di jadiin lirik nyali.

Abo: Banyak kang kalo kesialan mah yah, kalo saya di mulai dari kecelakaan Oktober kemarin, lalu pincang 5 bulanan mah ada sampe sekarang ga enak wkwkwk.. Miska sial mulu idupnya tiap hari kang hehehe..

Miska: Alhamdulilah, kebalikannya kayanya saya mah hahahaa.. Standar sih Kang, nah iya sebenernya usia 30 tuh seru-seru aja, cuma di masyarakat kita sering jadi negatif. Misalnya kalau pria/perempuan usia 30 belum menikah disebut perawan tua.

Opay: Kalo gua sih sial yg sampe nempel gitu selama pengerjaan ga ada sih kang lebih ke sial yang ringan ringan. Korek ketinggalan, take drum pake celana yg sempit..

Pada segi produksi, materi dan penggarapan, apa yang beda dari “Karet” dan “Katus”?
Idam: Kali ini, kita lebih niat aja dari EP sebelumnya “Karet”, kali ini banyak dibantu oleh teman-teman dari nentuin lokasi recording, pemilihan karakter sound, mixing, sampai mastering. Ada beberapa sudut pandang lirik dan layer2 sound yang belum pernah kita pake sebelumnya di “Karet”. Penggunaan progresi chord pun lebih sederhana tapi tetap mewakili karakter yang ingin disampein di tiap lagu.

Miska: Proses album “Katus” lebih ter-manage dengan baik karena di album ini kita udah punya manager yaitu Pram, jadi secara konsep dan kepengenan kita di sound dibaca: BM-BM kita jadi lebih mudah diwujudkan aja, Kang.

Opay: Kalo dari segi produksi “Katus” lebih kompleks dari “Karet” ngejar karakter organik (drum khususnya) dibandingkan dengan “Karet” yang banyak ngandelin proses equalizing setelah proses record drum.

Kalo untuk materi Swellow sebetulnya dari awal memang punya “stok materi” yang demo nya sudah ada berbarengan dengan “Karet” diantaranya “Penjara”, “kita semua kalah(awalnya judulnya “Anggur”)”, “antrian” dan juga “pasien” yg mana itu peleburan 2 materi lagu. Nah semua melalui proses merekam demo ulang, baru cari referensi karakter soundnya baru take instrument + vocal. Timeline nya lebih tersusun di proses produksi.

Pada lagu ‘Penjara’ kalian berkolaborasi dengan Harlan Boer. Apa yang membuat kalian memilh Harlan sebagai kolaborator? Bagaimana awalnya kalian berkerja sama?
Idam: Dari dulu sih slalu kepikiran pengen feat sama bang Harlan, gw fans berat karya-karya doi soalnya haha,, langsung kepikiran aja kayaknya lagu ini yang cocok sama karakter vokalnya, kebayang bakal ada vibe-vibe Lou Reed-nya gitu tadinya haha. Tapi berhubung bang Harlan lagi stay di Belanda akhirnya suruh coba take vokal pake hp aja, eh ternyata aman sih hasilnya, lo-fi gimana gitu hehe. Puas sih untuk hasilnya diluar ekspektasi gw malah.

Miska: Kalau mundur ke belakang awal Swellow terbentuk memang belum ada Vokalis yang tetap gitu ya, Wak. Bahkan lagu-lagu di materi album “Karet” kalau ga salah lumayan lama 2-3 bulan tanpa ada vokalisnya, sambil mencari vokalis yang cocok beberapa lagu di kasih ke temen-temen, ini ide dari Idam jadi makannya Ada Harlan Boer dan Alfi dari Gascoine yang isi vokalnya. Ini bisa menjawab dari segi lirik emang terpengaruh besar sama Harlan Boer ya.

Kalian memilih tema-tema keseharian sebagai bahan bakar lirik. Apa yang membuat kalian tertarik untuk mengangkat hal-hal biasa tersebut dan bagaimana kalian memolesnya agar lebih spesial?
Bayu: sebenernya untuk lirik kita gak memang mengkonsepkan cerita-cerita keseharian, tapi karena memang lebih sering ketangkep aja tema-tema kayak gitu. Dan secara penulisan pun kita gak ada treatment khusus paling cuma nyamain moodnya aja ke musiknya, secara bahasa juga yang biasa kedenger aja.

Menurut teman saya, kadang lirik Indonesia yang super-cheesy pun akan terdengar keren kalau musiknya juga keren. Bagaimana menurut kalian?
Bayu: setuju sih gw

Opay: Yuuups

Idam: Sempet bilang ke bayu c dulu “bay lirik mah nyontek weh rumahsakit, zeke khaseli jeung harlan boer haha.

Bayu: 3 ini inspirasi sih

Miska: Secara preferensi personal saya selalu suka dengan lagu yang pake lirik bahasa Indonesia, mungkin karena bahasa ibu aja ya, jadi lebih gampang menyerap konten dan konteks lagu dalam lirik berbahasa Indonesia. Tapi ada beberapa lagu/secara progresi chord dan notasi vokalnya ga cocok pake bahasa Indonesia, atau sebaliknya, jadi bener kata Abo harus saling mengisi antara lagu dan lirik, begitu pun konten dan konteks lagunya. Tambahan, sebenernya kelebihan menggunakan lirik bahasa Indonesia adalah lebih mudah memunculkan karakter musik/band secara keseluruhannya, misalnya kalau musiknya mirip banget dengan Pavement atau GBV tapi liriknya bahasa Indonesia niscaya akan terdengar ga mirip deh hehe…

Abo: Kang maap nambahin, Kayanya ga gini menurut pendapat ane, Soalnya ada case bisa jadi musiknya biasa aja, karena lagu liriknya Bahasa Indonesia (Indo in general termasuk lirik super-cheesy) jadi keren keseluruhan lagunya hahaha. Kayanya penentuan lirik Indo atau asing tuh agak sulit soalnya musti kawin aja si musik dan liriknya jadi semacam timbal balik gitu.

Kenapa memilih periode akhir ‘90an dan awal ‘2000an sebagai referensi? Apakah kalian tumbuh di era itu?
Idam: Iya musik era2 itu 90-00s cukup membekas sih buat gw, jadinya malah mentok buat gw untuk nyari source referensian sound, selalu balik dengerin band era-era itu, udah yg paling kena sih buat gw. Sampe sekarang pun gw masih intens dengerin Pure Saturday terutama album utopia, selalu jd mood booster gw tuh album.

Bayu: karena emang kebetulan dulu tumbuh dan denger referensi kayak gitu kali ya jadi kebawa-bawa hahaha…

Opay: Di era itu sebetulnya gua sih ga mengalami nya langsung (masih TK)🤣🤣. Tapi sampai sekarang masih berkutat di era 90an ke 00an untuk eksplore referensi sound, lirik, komposisi musik dll apapun itu.

Kalian menyebut Kitchens of Distinction, Ride, Sonic Youth dan GBV sebagai inspirasi dan high-rotation playlist selama menggarap ‘Katus’. Lagu terbaik mereka versi kalian apa saja dan kenapa?
Opay: Ngikut wa Idam kalo gua mah kang🤣🤣🤣🤣🙏🏼🙏🏼

Idam: Wkkk bisaan.
-Kitchens of Distinction
“The 3rd Time We Opened the Capsule”
Sound delay dan reverbnya jadi referensian gw buat lagu tak berdaya.

-Ride “today”
Simple song tapi jleb di produksiannya gawat lah.

-Sonic Youth “providence”
lagu temen ngahuleng sambil ngopi dan ngudud.

-GBV “tractor rape chain”
Ini lagu pokoknya chordnya gw bgt haha,referensian gw di lagu segar.

Miska: Kalau Sonic Youth, Saya suka lagu “Karen Revisited” dari album Murray St, Lee Ranaldo yang nyanyi, makannya di lagu “Nyali” Idam yang nyanyi hahaha, suara gitaris emang khas ya.

Ride – OX4 intronya yahud.

Kitchen of Disctinction – Come on now

GBV – a salty salute (Bassline yang catchy)

Bayu: Kitchen of Distiction – The 3rd time we opened the capsule, gw pribadi suka gaya vokalnya sih dan salah satu inspirasi juga.

Ride – Leave them all behind

Sonic Youth – superstar

GBV – Iam a Scientist, tema yang diangkat unik

Abo: Kalau eug
Kithcen of Distinction – the 3d time we opened the capsule
Ini part lagu nya ancur bagus bgt wkwk pernah berandai2 sambal ngaca pura2 manggung bawain lagu ini hahaha…

Ride – Sennen
Nempel terus dari Pertama ngedengerin.

Sonic Youth – Jams Runs Free
Karena mood lagu nya agak gelap trus part outronya bagus banget.

GBV – Gold Star for Robot Boy,
tema liriknya bagus banget, ngebayangin bisa jadi premis anime mungkin yah.

 

Stephen Malkmus atau Robert Pollard? Kenapa?

Idam: Robert pollard – jagoan klo bikin artwork, album solo nya bahaya2,produktif parah haha..

Abo: Wah ini mah, King op Indie rock apa prince op indie rock, agak syulit nih wkwkwk.. Ane Malkmus deh, suka persona panggungnya, slacker, bangor dan sama apa ya, keliatan kaya ga jago main gitarnya, tapi kayanya aslinya jago deh wkwkwk plus kayanya karena Malkmus main gitar kalo dipanggung, sedangkan Pollard engga.

Miska: Iyah ini sulit Kang wkwkw.. Kalau wajib milih lebih berat ke Robert Pollard, mungkin karakter vokalnya lebih suka aja. Ga merdu tapi enak didengerin.

Matador Records atau Sub Pop? Kenapa?

Abo: Matador, soalnya hamper semua favorit ada disana hahahahaha…

Idam: Iya sama persis gw juga.

Miska: Sub Pop, karena ngerilisin Koes Barat-nya Alan Bishop.

GBV atau MBV? Kenapa? Hahaha
Abo: Edyan hahahah.. Ane GBV, soalnya kalo bikin lagu kaya MBV, loba keterbatasan alat alias epek jeung gitar na mahal wak naujubilah. Lebih produktip.. Iya wak wkwkwk minjem bulldog suarana lo fi tapina lo fi gembel alias lo fi beneran wkwkwkw…

Kalo jadi GBV, pake epek hiji bulldog ge udah aman gow keun jigana hahahahaha…

Bayu: hahahah.. gw MBV deh, karena album isnt anything.

Idam: Aduhhh migrenn.. MBV aja lah,,duluan tau mbv soalnya daripada GBV, pamali.. Haha urang boga tah efek buldog bo,, pakenya di Texpack.

Miska: MBV, sound di lagu-lagunya lebih variatif, jadi ga bosen kalau dengerin.

Menurut kabar, kalian sedang merencanakan tour dengan Collapse dan Skandal ya. Bagaimana awalnya rencana itu terjadi dan berapa kota yang akan dikunjungi?

Miska: Ya bener Kang, Rencananya kami akan menjalankan ibadah tour *syaelah bersama Collapse dan Skandal (Hometown Tour) di 3 kota asal kami masing-masing yaitu Jogja, Bandung, Bogor dan terakhir di Jakarta. Tour berlangsung di akhir bulan Agustus. idenya datang gara-gara pernah main bareng sama Collapse di Jakarta, terus 3 band yang terlibat waktu rilisnya pun di tahun yang sama, yaudah kenapa ga tour bareng aja biar bisa patungan budget tournya juga hahaha..

Tempat makan yang akan kalian rekomendasikan untuk para band yang sedang tour ke kota kalian? Dimana saja comfort food terbaik kota Bogor versi Swellow?
Idam: Sepanjang jln.Veteran sih di daerah Merdeka terutama malam hari banyak jajanan dari mulai doclang, bubur ayam, sate dan lain-lain rasanya enak-enak dnn harganya masih terjangkau lah..

Bayu:
-Soto Ace Bogor, di dalem Pasar Anyar, Borobudur.
-Seafood Bonex 69, di Boper (malam)
-Doclang 405, di Gunung Batu jembatan Cisadane.

Abo: Doclang di seberang Stasiun Bogor kaneee..

Miska: Mie Bangka di daerah Boper Permai Kang. Kayanya itu okay buat temen-temen yang lagi tour ke Bogor.

Opay:
Rekomendasi pagi :
Toge Goreng / Bubur Ayam Kabita di Jl. Rumahsakit II (depan pintu masuk IPB Pascasarjana).

Siang

Siomay parkiran pool damri br.siangm
Laksa bogor gg. Aut
ayam goreng warung doyong

Malem :
Bubur ayam pak kumis depan toko terang jembatan merah
Nasi uduk gg. Tangkil jl. Ceger R3

Beberapa orang bahkan sudah menyebut “Katus” sebagai album of the year. Bagaimana tanggapan kalian?
Idam: Jujur gw ini album bisa kelar aja dah alhamdulillah, berasa plong akhirnya beres sesuai timelinenya pak bos Pram hehe, gak nyangka juga sama respon orang-orang sama album ini, nuhun pisan pokokna mah.

Bayu: Semoga ya Kang Hahaha. Karena ini album kerasa bareng-barengnya juga sih secara pengerjaan udah libatin banyak temen. Bagi kita album ini sih secara perjalanannya spesial.

Miska: Kaget juga kang, tapi senengnya juga alhamdulilah kerja anak-anak terbayarlah. Puji syukur.

Lalu album of the year versi kalian masing-masing tahun ini apa saja? (lokal / luar dengan alasan nya)
Swellow: Yo La Tengo – “This Stupid World”. Bisa dibilang “makin tua makin jadi”, lu bisa denger unsur krautrock sampe noise pop di album ini ditambah lagi untuk produksinya yang keren juga. Edan lah.

 

Word & interview by Aldy Kusumah

Photos by Rendyka Widya

Untuk Bastards Music Series vol. 5, Bastards of Young berkolaborasi dengan Dongker, band yang selalu menjadi crowd-favorite di setiap gigs, mempunyai lirik-lirik yang tajam, serta sedang hangat dibicarakan oleh publik. Setelah Berkolaborasi dengan Diskoria, Perunggu, The Panturas dan Collapse, Bastards of Young memilih untuk bekerja sama dengan Dongker bukan semata karena musikalitasnya, tetapi band ini juga sudah memiliki identitas visual dan karakter yang kuat, dengan logotype, karakter-karakter dan berbagai elemen yang kerap muncul di output visual mereka seperti rilisan fisik, merch, cover art single sampai video klip.

Tidak hanya merilis merchandise berupa T-shirt, Bastards juga melakukan sesi wawancara dan membuat playlist Spotify yang diisi oleh lagu-lagu pilihan personil Dongker. Berikut ini adalah pendapat dari Dongker dan Bastards mengenai inspirasi design dari ketiga artikel yang dirilis:

API
“Api kita pilih karena lagu “Bertaruh Pada Api” adalah satu lagu Dongker yang paling iconic, crowd favorite dan memiliki lirik yang bagus. Logotype di design oleh Mayatschism, ilustrasi oleh Meirmaid. Sebuah parodi dari Cuphead.” -BASTARDS

“Design ini merupakan interpretasi dari lagu “Bertaruh Pada Api” yang mengambil identitas visual band metal Deicide yang digabungkan dengan tokoh King Dice pada video game Cuphead. Kami memang cukup sering memparodikan visual dari band metal, sebelumnya Sabbath Bloody Sabbath, tapi ilustrasi ini jauh lebih menarik dan kami sangat suka. -DONGKER

KEKAR
“Kekar Menyelimuti Mu” di backprint kaos diambil dari penggalan lirik “Luka di Pelupuk Mata”. Lagu ini bertema tentang toxic masculinity, feminisme dan patriarki, sehingga kami pilih design parody She-Hulk yang digambar oleh Mayatschism. -BASTARDS

“Ini adalah merch pertama yang menginterpretasi lagu “Luka di Pelupuk Mata” yang bercerita tentang toxic relationship yang seringkali terjadi karena konstruksi patriarki di masyarakat. Pada ilustrasinya menampilkan lirik “kekar menyelimuti” yang umumnya identik dengan pria namun diganti dengan sosok perempuan.” -DONGKER

KOTA
“Design kota adalah respon Bastards terhadap lagu “Tuhan di Reruntuhan Kota”. Sebuah homage terhadap design stiker Angkutan Umum yang di parodikan dengan estetika Godspeed You! Black Emperor. -BASTARDS

“Ide ini datang dari Bastards, dan yang membuatnya menarik ada 2 easter egg di design ini. Jika QR code di scan kalian akan mendapatkan soft file dari zine yang kami tulis, dan jika QR code di zine tersebut kalian scan akan masuk ke web manga di salah satu chapter manga favorit kami.” -DONGKER

Franchise Evil Dead karya Sam Raimi rupanya telah menemukan cara yang sangat menyenangkan untuk bangkit kembali. Setelah empat film; The Evil Dead (1981) , Evil Dead II (1987), Army of Darkness (1992) dan Evil Dead (2013), franchise Evil Dead tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti. Sebuah serial TV pun sempat digarap (Ash VS Evil Dead) dengan Bruce Campbell kembali mengenakan mantel sang pahlawan OG bernama Ash. Sulit untuk tidak mempertanyakan apakah Evil Dead akan menawarkan sesuatu yang baru di jaman yang dipenuhi oleh remake, reboot, prekuel, dan sekuel ini. Jika dibandingkan dengan karya O.G. Sam Raimi (Army of Darkness tidak termasuk) yang memiliki setting kabin terpencil (seperti remake 2013 nya juga), kali ini Evil Dead Rise berlokasi di sebuah gedung apartemen bobrok di LA. Gelap, suram, dan tentunya klaustrofobik.


Apartemen sempit ini adalah rumah bagi tattoo artist Ellie (Alyssa Sutherland) dan ketiga anaknya Danny (Morgan Davies), Bridget (Gabrielle Echols) dan Kassie (Nell Fisher). Mereka berjuang untuk bertahan hidup setelah ditinggalkan ayah mereka. Tak lama saudara perempuan Ellie, Beth (Lily Sullivan) yang berprofesi sebagai teknisi gitar tiba ke apartemen tersebut dan cerita pun mulai bergerak saat Danny menemukan Book of the Dead di sebuah ruangan rahasia di bawah gedung mereka. Seperti pada cerita-cerita Evil Dead yang lain, deadites pun dipanggil karena selalu ada karakter asshole yang membaca mantra pada book of the dead tersebut. Dan sisanya pun kalian sepertinya sudah tahu akan mengarah kemana. Evil Dead Rise mungkin tidak se-groovy karya Sam Raimi, tetapi Lee Cronin bisa mengarahkan film ini dengan pitch-black comedy dan set-pieces yang fun. Beberapa komplain saya mungkin mengarah pada karakter-karakter penghuni apartemen lainnya yang tidak menambah apa-apa dan bahkan beberapa mati secara off-screen. Ugh.

Franchise Evil Dead memang dari dulu tidak mengedepankan plotnya, melainkan set pieces yang bikin greget, unsur gore yang campy dan tentunya selalu memiliki mood horror yang tidak terlalu serius. Ya, unsur fun Evil Dead karya Sam Raimi tetap ada disini walaupun tidak ada satupun karakter yang mengucapkan kalimat “groovy baby”. Beberapa scene gore disini cukup kreatif dan juga ada beberapa creative kills yang mungkin baru saya lihat di film ini. Ada juga sebuah adegan yang melibatkan sebuah alat parut keju dan sebuah adegan lift yang mungkin berupa homage terhadap The Shining. Anyway, karakter Beth yang diperankan oleh Lily Sullivan sebagai final girl memang cukup keren walaupun tidak bisa mengganti Bruce Campbell sebagai Ash. Sebuah film Evil Dead tanpa Ash layaknya sebuah episode Pokemon tanpa Pikachu. Tetapi Evil Dead Rise berhasil membuktikan kalau kalian tidak membutuhkan Ash untuk bersenang-senang. Yang menjadi highlight bagi saya disini adalah karakter Ellie yang dirasuki oleh deadites. Alyssa Sutherland berakting total seakan tidak ada hari esok: teriak-teriak, mengucapkan sumpah-serapah sampai berperilaku seperti orang kesurupan 100%. Menurut saya sebuah film horror dapat diukur kesuksesannya jika ditengah-tengah film terlihat beberapa penonton yang keluar dari bioskop. Evil Dead Rise memiliki kombinasi yang tepat antara menakutkan, lucu dan sadis. Tontonlah, you’re in for a treat.

 

Words by Aldy Kusumah

Di Bandung pecel identik dengan pecel lele dan ayam khas Lamongan padahal ada jenis pecel lain dari Jawa Timur yang tak kalah menarik, yaitu pecel sayur dengan bumbu kacang yang memiliki berbagai ciri khas yang berbeda dari tiap kota, seperti bunga turi untuk pecel Madiun, tempe bacem untuk pecel Kediri, mie goreng untuk pecel Surabaya, dan masih banyak lagi.

Pecel khas Jawa Timur bernama Saestu baru saja hadir di daerah Riau, Cihapit, yang berlokasi bergandengan dengan Toko Kopi Djawa. Dimotori oleh Arno dan Delpi dari band Dongker, Pecel ini hadir dengan bumbu kacang khas dari Jawa Timur, lebih tepatnya di ambil di Kota Blitar, lengkap dengan peyek serta beras asli dari Blitar. Yang cukup unik dan berbeda adalah kombinasi sayur yang dihadirkan tidak hanya kangkung dan toge namun ada tambahan bunga kecombrang sebagai pengganti kemangi.

Kedai ini berlokasi di jantung kota Bandung, dekat dengan Taman Pramuka dan Pasar Tradisional Cihapit tepatnya di Jl. LLRE Martadinata No. 205 bersandingan dengan Toko Kopi Djawa, Eleanore Pastry, & Okkosan Gyoza. Selain berlokasi di lingkungan yang nyaman, nuansa yang dihadirkan juga sangat berbeda dengan kedai pecel kebanyakan. Pecel Saestu adalah kedai dengan eksterior modern, lengkap dengan style open kitchen bar, serta ornamen ala Jepang yang umumnya hadir di kedai Ramen. Mereka juga menyajikan kondimen tambahan berupa Sate Tusuk Ayam, Kulit Ayam, Telur Puyuh, Paru Sapi, Usus Ayam, serta berbagai varian yang jarang ditemukan di warung pecel seperti Katsu, Nugget, Egg Roll, dll. Pengunjung juga akan ditawarkan beras kencur sebagai hidangan pelengkap.