OAKS terletak di jantung kota Bandung. Sebuah communal space yang bisa digunakan untuk beberapa fungsi, aktivasi dan sarana display retail yang variatif. OAKS diprakarsai oleh Oxford Society & Kyrra dengan tujuan tunggal: bahwa bersama-sama kita dapat menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi masyarakat dan komunitas. Rumah bagi Oxford Society & Kyrra ini adalah sebuah ruang seluas 54 meter persegi di dalam Paskal Hyper Square, Bandung. Tepatnya di area pintu belakang Paskal.

Dengan roots untuk memfasilitasi komunitas tertentu, OAKS ingin menitikberatkan komunitas untuk kembali menjadi bagian yang lebih berarti dari kehidupan kita sehari-hari. Brand-brand yang available di OAKS juga lumayan variatif: Ada apparel dari Oxford Society dan Kyrra, tas-tas SYMA, headwear dari Capslock, Oaken dengan produk bodycarenya, blankets & socks dari Pattent Goods dan masih banyak lagi. Menurut kami, OAKS adalah sebuah one-stop-shop dimana kamu bisa menemukan apparel dari head-to-toe sampai ke pernak-pernik dan bodycare. Kunjungi segera OAKS di Paskal Hyper Square Blok J. @oaks_id

Unit punk rock Saturday Night Karaoke yang berasal dari Bandung telah mengumumkan perilisan single keempat mereka untuk tahun ini, berjudul “Benevolence”, menjelang peluncuran EP terbaru mereka. Single ini akan menjadi bagian dari EP dalam format 7″ vinyl dan akan dirilis oleh label independen I Hate Smoke Records dari Jepang. “Benevolence” juga menandai kedatangan Sarah Devira sebagai gitaris baru dalam formasi band, yang mengubah Saturday Night Karaoke dari trio menjadi kuartet untuk pertama kalinya sejak pembentukannya pada tahun 2008.


Seperti halnya beberapa single sebelumnya, produksi “Benevolence” tetap dikawal oleh sentuhan dingin dari produser Dennis Ferdinand (Manny Rune, Perunggu). Selain itu, lagu ini akan diiringi oleh video klip yang akan dirilis beberapa minggu setelah perilisan lagunya. Selain mengumumkan single baru, Saturday Night Karaoke juga mengungkapkan rencananya untuk menjalani tur Asia dengan nama “More Places, Better Points Asia Tour 2023”, yang akan dimulai dari pertengahan bulan Agustus hingga awal Oktober. Ini menjanjikan pengalaman live bagi para penggemar mereka di berbagai tempat di seluruh Asia.

Flash Coffee berkolaborasi dengan Synchronize Fest meluncurkan produk minuman bertema “Synchronize Series”. Produk kolaborasi ini mulai tersedia di pasaran pada 11 Agustus – 16 September 2023 dan bisa didapatkan di semua gerai Flash Coffee, aplikasi Flash Coffee, dan delivery channels.

Synchronize Series terinspirasi dari kolaborasi dua brand yang lekat dengan gaya hidup aktif dan kreatif anak muda. Synchronize Latte, merupakan minuman berbasis kopi yang memadukan Latte Gula Aren dengan sentuhan unik foam sea salt. Sementara Synchronize Mocktail menyuguhkan pengalaman menikmati teh dengan sirup lemon dan sensasi foam sea salt.

“Ada yang identik antara Flash Coffee dan Synchronize Fest, dimana kami sama-sama didorong oleh semangat untuk melakukan hal-hal yang berbeda dan di luar pakem yang sudah ada. Kolaborasi ini adalah untuk merayakan semangat komunitas kreatif, terutama lewat musik,” kata Grace Surya, Country Head Of Marketing Flash Coffee Indonesia.

“Setiap tahun Synchronize Fest selalu melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak kreatif, salah satunya melalui F&B. Berkolaborasi dengan Flash Coffee yang dimana kami berbagi DNA kolaboratif yang sama, harapannya melalui produk Synchronize Series ini dapat menjadi suatu pengalaman baru yang segar bagi para audience ,” ujar Director of Communications Synchronize Fest 2023, Aldila Karina.

Para audience yang ingin mencicipi Synchronize Series juga bisa mendapatkan produk tersebut dengan mendatangi booth Flash Coffee di sepanjang pagelaran Synchronize Fest 2023 di Gambir Expo Kemayoran pada 1,2, dan 3 September 2023. Bertema “Bhineka Tunggal Musik”, Synchronize Fest 2023 menampilkan kolaborasi lintas genre dan dekade, yang didukung lebih dari 120 penampil musisi ternama tanah air.

Dengan jajaran satu barak MC lokal all-star lintas generasi, pengawalan tracklist yang ketat dan produksi yang top-notch, debut album dari Jaydawn yang berjudul “Sekte Air Mata Odin” ini bisa menjadi salah satu album hip hop terbaik yang pernah dirilis di Indonesia. Album ini dibuka oleh track instrumental berjudul ‘Showdawn (Intro)’. Jika Wu-Tang banyak menggunakan sample dan referensi film kungfu, maka Jaydawn menjawabnya dengan cuplikan sampling film laga Indonesia era ‘80an (yang kemungkinan besar mengandung adegan semi dan poster sexy). Track ini seolah menyambut kamu di Valhalla dimana Valhalla versi Jaydawn adalah surga dari beat-beat dan sampling keren. That goddamn horn and funk guitars really gets you in the mood. Track kedua adalah single ‘Cek TKP’ yang sudah dirilis sebelum album ini dijual. Jay menggandeng Nartok dan Al Smith sebagai MC. Produser hip hop mana lagi yang membuka lagunya dengan sebuah sampling dari film bokep semi kaset betamax hasil ngerental? Lagu ini dibuka dengan sample dialog dari film “Golok Setan (1983), Lalu disambut basslines yang cukup familiar dari score film Inglorious Basterds-nya Tarantino. Sound bass empuk yang enak ini pun menyelimuti lagu. Beat gelap Jay yang khas dan sudah diperkenalkan di EP “Darker Dawns Ahead” 3 tahun lalu kembali menghantui track ini. Delivery Nartok di verse awal sangat lugas dan padat. Kamu pun akan bertanya-tanya “berapa lama MC ini kuat menahan nafas didalam air?”. Al Smith menyambut verse 2 dengan flow yang lebih santai pada awalnya “Tendang rima ke kepala gaya popo Kanjuruhan di tengah kerusuhan beat ala Jaydawn“, sebelum he goes all loco rappin in full speed di beberapa bar terakhir. Lagu ini juga mempunyai beberapa rima yang cukup memorable, salah satunya adalah: “Tulisan ku dicuri bak Lukisan Raden Saleh / tapi ku takkan peduli karna kau takkan peroleh style rima orisinil ala Arab Condet”. Lagu berdurasi 4 menit ini pun diakhiri dengan outro jazz, dan kalian pun serasa di teleport ke sebuah jazz bar obscure di tengah kota. ‘Cek TKP’ adalah sebuah single yang sangat menjanjikan.

Track ketiga ‘Mulut Silet’ dengan featuring 4 MC dari Madness On Tha Block adalah sebuah lagu dengan rima yang padat, beats intens dan looping piano yang keren. Dibalik semua intensitas itu, Jay masih sempat menyelipkan sebuah outro yang akan membuatmu tertawa. Track ketiga adalah ‘Bariton Valhalla’ dengan featuring duet MC Endo dan Jerefundamental. Synth yang sepertinya diambil dari lagu industrial obscure menyelimuti seluruh lagu, dan para MC bersuara berat ini berhasil mendeliver rhyme-rhyme terbaiknya (“Endo dan mic, Bruce Lee dan nun chuck / Bruce Willis Die Hard” & “Tiupkan sangkakala / siapa sangka ku gelar perkara”) di track yang berdurasi 3 menit ini. Saatnya pendengar diberi istirahat setelah rentetan beats dan rima yang intens dari 3 track sebelumnya. ‘Phuck The Ho-Lice’ bertugas sebagai sebuah skit yang apik sebelum kegaduhan dilanjutkan. Beberapa elemen disini mengingatkan saya akan film-film blaxploitation. ‘Ujung Fajar’ memiliki basslines terbaik di album ini, dan kolaborator Eyefeelsix mengisi track ini seakan tidak ada hari esok. ‘Style of Steel Fingers’ adalah sebuah lagu dimana Jay memberi ruang bagi DJ Evil Cutz untuk beraksi. Sedikit homage terhadap Public Enemy / The Bomb Squad dengan drum breaks yang asik. ‘Tiga Ragnarok’ adalah aktivitas threesome dari Refo, Kid Vicious, dan Don Wilco. Delivery Kid Vicious seperti biasa sangat laidback dengan lirik yang witty. 3 MC ini cocok sekali berada di satu track, mungkin menarik jika mereka kelak membuat group hip hop. Selanjutnya, ‘Departemen Kegelapan’ hadir dengan featuring dari Krowbar dan Insthinc. Lirik-lirik Krowbar selalu menarik untuk disimak dan Insthinc selalu stylish dalam setiap deliverynya. Mungkin track ini akan menjadi pilihan yang tepat untuk dibuat video musiknya, karena sangat representatif dan catchy. ⅔ album ini ditutup oleh sebuah skit berjudul ‘Anyir’, dengan sample dialog yang cukup dark.

‘Babad Sangit’ adalah sebuah track yang lebih politikal dan gelap, apalagi diisi oleh Morgue Vanguard aka Babap Kobra (yang juga mendesign kover album ini). Adanya Pangalo! di lagu ini tentunya meng-elevate lagu ke titik yang bisa membuat kamu merinding saat mendengar + membaca liriknya (“Meninju ke langit, menolak kendali / tegak berdiri di tanah sendiri”). Setelah lagu dengan muatan yang gelap, saatnya Jaydawn mengembalikan sedikit senyuman untuk para pendengar dengan skit berjudul ‘Valkyrie Cicaheum’. ‘Kalam Demagog’ adalah grimy ‘90s boombap at it’s best, apalagi dengan MC-MC dari era tersebut: Doyz dan Xaqhala, dengan flownya yang smooth dan diksi-diksi yang lugas. Penultimate track album ini adalah ‘Prosa Kehilangan’ dengan duet MC Rand Slam dan Joe Million. Joe Million writes some of his best lyrics here; “selain selempeng sepapan apapun akan ku makan / selama dapat memperpanjang nafas ku sampai ke finish / semangat seorang morfinis”. Album ini pun ditutup dengan sebuah track instrumental (‘Jamuan Odin’) yang mensampling Black Sabbath dengan epik. Overall album ini juga memiliki range yang cukup luas, dan Jaydawn meracik elemen-elemen terbaik dari classic boombap sampai G-funk ala Warren G. Mungkin ini adalah salah satu rilisan Grimloc yang cukup ambisius. Bayangkan saja mengumpulkan jajaran MC, DJ, dan kolaborator dalam satu komando, didalam satu album yang secara musik dan tema cukup konseptual. Belum lagi dengan adanya benang merah dari setiap tema lirik yang ditulis oleh MC yang berbeda. Ya, “Sekte Air Mata Odin” ini menurut saya adalah sebuah concept album yang sangat versatile. Anggap saja ini adalah album kompilasi hip hop yang bagus dengan produksi maksimal dari sang maestro Jaydawn. Easily one of the best hip hop albums of 2023. AOTY material indeed.

Text by Aldy Kusumah

Photo by Verdy Pepey

Brand lifestyle asal Bandung, Bodypack, kembali ngeluarin koleksi terbaru yang diberi nama Little Wander. Momen liburan singkat emang jadi hal yang ditunggu-tunggu untuk sekadar refreshing sebentar sebelum harus balik lagi ke kehidupan perkotaan. Makannya, melalui koleksi yang bertemakan life-balance ini, Bodypack mengajak kaum urban untuk quality time dengan berpetualang singkat di akhir pekan.

Di koleksi ini, Bodypack ngeluarin empat rangkaian artikel yang terdiri dari Siren T-shirt, Aventura vest, Augury sling pouch, dan Vander sling bag. Keunikan vest Aventura jadi salah satu highlight untuk koleksi ini. Faktanya, rompi ini bukan sekadar rompi. Vest jacket ini bisa berubah jadi tote bag hanya dengan sekali zip. Selain itu, Bodypack juga ngeluarin Siren T-shirt yang punya cooling sensation dan bisa jadi andalan untuk dipake sehari-hari. Kaos ini pake bahan yang diberi nama comflex sebagai deskripsi perpaduan antara comfort and flexible experience dari kaos ini.

Koleksi Little Wander ini sudah bisa dipesan melalui website dan marketplace Bodypack.

Photo Credit: Alfian S. Prasetyo

Grup Latin asal Jatinanor, Elkarmoya, kembali menghadirkan cerita menarik dalam single terbaru mereka berjudul “Sigareto”. Lagu ini lahir dari kerinduan mendalam akibat perasaan kehilangan dan membawa pesan tulus yang merefleksikan pengalaman pribadi para personil. El Baccuanos, salah satu anggota grup, menjelaskan bahwa lagu ini awalnya diciptakan sebagai ekspresi kerinduan terhadap anggota mereka yang bernama Pablo. Lirik “Sigareto” menggambarkan perasaan titik terendah dalam kehidupan, seperti merasa dijambret secara emosional, yang membuat seseorang merasa tak berdaya dan hanya bisa meminta bantuan.

Bayangan akan titik terendah dan tamparan tak terduga menjadi inti dari lagu ini, menciptakan gambaran tentang kehilangan dan kerentanan. Elkarmoya mengungkapkan dalam lirik mereka tentang pentingnya menemukan kedamaian dalam kebersamaan, yang tercermin dalam kata-kata “Muenta sabatang”. Mereka meyakini bahwa bahkan dalam situasi paling sulit dalam hidup, manusia masih bisa menemukan kebahagiaan dan kedamaian dalam momen-momen sederhana, seperti berbagi percakapan tulus dengan sahabat dekat. “Sigareto” tidak hanya merupakan bagian dari album terbaru mereka, tetapi juga melanjutkan tradisi Elkarmoya dalam menyampaikan pesan-pesan kuat melalui melodi latin yang mampu menyatukan emosi dari cerita ke dalam musik mereka, sehingga pendengar dapat merasakan perjalanan tersebut melalui nada-nada yang dihadirkan.

Grup Punk Rock The Rang-Rangs dari Jakarta telah merilis video musik terbaru berjudul ‘Bellboy Rock’ pada 9 Agustus 2023 lalu yang menjadi single pembuka dari album ‘9 Jahitan’ mereka. Lagu ‘Bellboy Rock’ ditulis dan diaransemen oleh Mika Tobing, yang juga merupakan pemain bass dan penyanyi utama. Proses rekaman dilakukan di Starlight Studio dengan produksi dan mixing oleh Pandu Fuzztoni, dan mastering dilakukan di Awalswara Studio oleh Christian Choi. Video ini menggambarkan kehidupan Mika Tobing sebagai seorang gitaris band Punk Rock dan seorang bellboy di hotel bintang lima, dengan penggarapan video dilakukan di Rumah Bergerak, tempat yang sering dikunjungi oleh The Rang-Rangs untuk bermain skateboard.

Dalam video ‘Bellboy Rock’, Mika Tobing tampak menjalani rutinitasnya sebagai bellboy yang bekerja keras dengan tampilan bersolek yang khas. Lagu ini dianggap sebagai anthem bagi semua kelas pekerja yang tetap mencari kesenangan dalam realitas kehidupan yang melelahkan. Video ‘Bellboy Rock’ dapat dilihat di YouTube The Rang-Rangs, sementara format audio bisa didengarkan melalui layanan streaming seperti Apple Music, Spotify, Joox, Deezer, dan YouTube Music. Grup ini, yang terbentuk pada tahun 2016 dan beranggotakan Mika Tobing, Miko Tobing, dan Bagas Raka Farizan, telah merilis satu mini album dan tiga single sebelumnya. Mereka tetap aktif berpartisipasi dalam gigs lokal dan festival musik di Indonesia.

 

Dari tagline albumnya yang “unskippable” dan susunan tracklist yang terjaga rapi, eleventwelfth akhirnya menghadirkan debut album mereka setelah lebih dari 10 tahun aktif berkarya menciptakan lagu dengan tuning gitar yang tidak umum. Mari berbincang dengan Almas, Rona, Kessa dan Petir mengenai CHON, album-album emo favorit mereka dan hal ter-emo yang pernah mereka alami..

“Banyak sekali musisi lain yang tidak bangga dengan album-album awalnya, kita tidak ingin seperti itu.“

Album “Similar” mempunyai tagline sebagai “album yang tidak perlu di skip dan menawarkan experience untuk dinikmati secara keseluruhan”. Album-album apa saja yang tidak di skip oleh para personil eleventwelfth?

Rona: Tidak pernah skip mendengarkan album apapun, dan hanya mendengarkan album apabila ingin mendengarkan lagu.

Almas: Album OST Tarzan (Original Motion Picture Soundtrack) karena isian partitur perkusinya sangat magical dan itu yang bikin gue pengen belajar main drum.

Kessa: Karena gue tumbuh di jaman masih beli rilisan kaset aja, kayaknya hampir semua album favorite gue nggak pernah gue skip sih.

Petir: Kalau denger album pasti engga pernah gua skip sih karena dengerin album memang enak nya jangan di skip.

Kenapa baru memutuskan untuk membuat debut album di tahun 2023 setelah eksis cukup lama?

Almas: Karena sudah waktunya..

Rona: Karena ingin membuat album pertama yang near-perfect menurut standar kita sendiri, yang penting kita puas dan tak terkesan terburu-buru. Alhasil, kita bangga dengan album ini. Banyak sekali musisi lain yang tidak bangga dengan album-album awalnya, kita tidak ingin seperti itu.

Kessa: Proses membuat album nya sih udah berjalan dari 2018 ya, tapi emang baru rampung dan akhirnya rilis di 2023..

Petir: Kebetulan di 2020 ada musibah besar yang berimbas ke segala kegiatan manusia di seluruh dunia. Nah, itu termasuk rencana elenventwelfth yang tertunda dan akhirnya bisa dirilis pada tahun 2023.

Jika harus memilih, pilih mana: midwest emo atau math-rock? Kenapa?

Almas: Jazz.

Rona: Math Rock, terkesan lebih segmented.

Kessa: Math-rock aja deh, karena kita featuring Mario Camarena dari CHON.

Petir: Math-rock.

“(Saya) Tidak pernah skip mendengarkan album apapun, dan hanya mendengarkan album apabila ingin mendengarkan lagu”

Bagaimana awalnya kalian bisa berkolaborasi dengan Mario Camarena dari band math-rock CHON? Kenapa memilih dia sebagai kolaborator?

Almas: Coba Kessa atau Rona tolong dijawab..

Rona: Ini Kessa yang akan cerita.

Kessa: gue persingkat aja ya, waktu itu gue nonton CHON di Singapore, beres mereka manggung ternyata ada sesi meet &greet gitu dan mungkin Mario notice gue. Dari situ Mario gue suruh dengerin eleventwelfth dan ternyata suka, yaudah gue belaga gila aja bilang kalo kita lagi proses pembuatan album dan nanya mau nggak dia isi solo gitar di lagu kita, dia jawab mau! Kenapanya ya menurut gue dia cocok, dia tau musik eleventwelfth arahnya kemana, jadi nggak perlu banyak brief kita udah yakin pasti isian gitar solo dia pasti klop sama materi album kita.

Petir: Thanks kess udah dijawab ya..

Lagu-lagu di album kalian terkesan muram dan bahkan kalian memberi tissue untuk para penonton showcase kalian. Apakah kalian semuram itu keseharian nya?

Almas: Sehari-hari nggak muram sih, cuma emo aja..

Rona: Tidak juga sih, karena semua kemuraman sudah tersalurkan di lagu-lagu kita haha..

Kessa: Bener kata Rona.

Petir: Ya, karena kita sudah tidak punya bapak dan kalau berkomunikasi cuma bisa melalui doa.

5 album emo favorit masing-masing personil apa saja?

Almas: Gue nggak banyak dengerin lagu emo. Tapi album Samsons yang “Perjalanan Hidup” bagus banget!

Rona:
1. Stay Ahead of the Weather – We Better Get Goin’ If We’re Gonna, bukan album sih tapi EP. Tidak ada EP ini tidak ada eleventwelfth soalnya, Almas pertama kali mengajak saya main band untuk buat musik seperti ini.
2. Alexisonfire – Watch Out, bukan emo sih lebih ke Post-hardcore yang ada unsur emonya. Album yang membuka dunia obscure music di luar Radio Rock di dalam hidup saya.
3. Boys Night Out – Boys Night Out, underrated banget.
4. Pianos Become the Teeth – Keep You, impact album ini sangat besar karena cerita tentang kehilangan Ayah yang dimana waktu album ini keluar Ayah saya masih hidup. Setelah Ayah saya meninggal baru kena sejadi-jadinya. Album yang buat saya jadi ingin punya sesuatu untuk didedikasikan ke mendiang Ayah saya yang main band juga.
5. Into It. Over It. – Proper, setelah Almas mengajak saya ngeband saya jadi mengulik Stay Ahead Of The Weather dan ternyata vokalis bandnya punya solo project ini. Akhirnya jadi kecantol dan jadi ikut ingin membuat musik dengan mood yang sama.

Kessa:
ini album yg menurut gue aja emo, belum tentu menurut orang lain emo ya:
1. Sheila On 7 – 07 Des, lebih emo dari album “Kisah Klasik”.
2. Box Car Racer – Box Car Racer, Tom Delonge emo-phase dimulai disini hahaha
3. Blink-182 – Untitled, kurang emo apa lagu ‘Stockholm Syndrome’.
4. John Mayer – Battle Studies, pasca putus dari Jennifer Aniston menurut gue ini album emo-nya John Mayer.
5. Funeral For A Friend – Casually Dressed & Deep in Conversation, salah satu album emo yang nggk akan gue skip!

Petir:
Warm Thoughts – Mar Vista
Jawbreaker – 24 Hour Revenge Therapy
Macseal – Super enthusiast
Pohgoh – Du Ind Ich
Ache – Ache EP
Saves The Day – Through Being Cool
City and Colour – Sometimes
Signals Midwest – At This Age
Semuanya album yang sering gua putar sampai sekarang dan sudah berusia lebih dari 5 hahaha..


Bagaimana proses pembuatan “Similar”? Apakah bisa diceritakan dari ide awal, konsep, penulisan materi sampai proses recordingnya?

Almas: Ron, tolong jawab Ron..

Rona: Kita buat konsepnya dulu, sebenarnya sudah mulai demo dari 2018 tapi karena banyak hal jadinya belum serius untuk benar-benar menggarap album. Akhirnya pandemi dan karena aktivitas band jadi pause, akhirnya jadi pemicu untuk melanjutkan demo album. Konsepnya ingin buat album yang bisa dibolak-balik tracklistnya, jadi kita buat lagunya sesuai dengan mood lagu apa yang cocok untuk jadi track 2 atau 10, 4 atau 8, dan seterusnya. Kalau mau lebih dalam sebenarnya konsepnya lebih ribet lagi tapi nanti interview ini jadi 80 halaman haha. Ini pertama kali kita buat sesuatu dengan Produser, dan pertama kali juga kita buat lagu full Pre-pro tanpa jamming di studio sama sekali. Kita baru latihan lagu-lagu di album SIMILAR setelah albumnya rilis haha.

Kessa: Karena proses pembuatan albumnya panjang jadi kayaknya nggak akan cukup kita jabarin satu-satu disini, tapi jawaban Rona sudah cukup singkat, padat, dan jelas.

Petir: Thanks Na sudah menjelaskan panjang lebar.

Kalau bisa mengganti nama band, bakal kalian ganti dengan apa nama band kalian? Kenapa memilih eleventwelfth pada awalnya?

Almas: Nggak pengen ganti nama. Rona lagi coba yang ceritain..

Rona: Akan ganti jadi eleventwelfth Reborn atau eleventwelfth Perjuangan haha. Memilih eleventwelfth pada awalnya karena ingin pakai angka, terinspirasi blink-182.

Kessa: Gamau ganti sih, udah cukup catchy walaupun sering banyak yg suka salah tulis hahaha!

Petir: eleventwelfth sudah cukup bagus untuk sebuah band emo hehe..

Pertanyaan terakhir: kapan kalian terakhir menangis? Hal-hal apa yang membuat kalian menangis?

Almas: Beberapa tahun yang lalu pas bokap gue meninggal.

Rona: Terakhir menangis waktu cerita ke pacar saya tentang liriknya Pianos Become the Teeth di album “Keep You” beberapa hari setelah ayah saya meninggal. Baru kali itu baca lirik berasa karena dia buat “Keep You” setelah Bapaknya meninggal juga. Akhirnya saat itu memutuskan apapun yang saya buat akan saya dedikasikan untuk Bapak saya, akhirnya lahirlah EP eleventwelfth.

Kessa: Terakhir nangis tuh pas gue nikah, tapi kemarin pas SIMILAR SHOWCASE Jakarta lumayan hampir nangis sih, nangis bahagia!

Petir:
Pas bapak meninggal
Ketika eleventwelfth showcase pas bagian penonton nyanyi bareng
Pas plafon rumah orang tua gua roboh ruang tamunya. Bersyukur untung ibu gua lagi ga didalam rumah.

Senikanji adalah sebuah medium visual yang terbentuk dari dialog almarhum Pak Supomo dengan anaknya Yulius Iskandar. Ilustrasi Pak Supomo sangat khas dengan warna spidol merah & biru yang sangat berkarakter, apalagi quotes-quotes nya yang sederhana, lugas dan kadang sarkastik. Kali ini, penerbit independen Binatang Press! Yang sudah menerbitkan banyak buku-buku menarik seperti “Going South To The North”, “Dari Ngak Ngik Ngok Ke Dheg Dheg Plas” dan “Lagu Zine”, menerbitkan buku perdana Senikanji dalam ukuran yang cukup compact. Tidak main-main, buku ini dicetak menggunakan printer Risograph dan menggunakan kertas Munken Pures dengan gramasi 120 gsm. You can smell quality right there.

Buku terbitan terbaru antara Binatang Press! dan Senikanji ini dirilis pada tanggal 30 Juni 2023. Ditulis oleh Felix Dass berdasarkan wawancara dengan pencipta Senikanji, Supomo, dan anaknya, Yulius Iskandar. Kalian bisa melihat sejarah Senikanji dari awal, bahkan Felix akan membawa pembaca ke titik awal dari histori Pak Supomo; ketika dia mulai hobby mencoret-coret dinding rumah menggunakan kapur, putus sekolah pas SMP dan kerja di brand onderdil dengan menempuh jarak 11km setiap harinya. Yang menarik dari Senikanji ini adalah selain menjadi medium untuk berkarya antara Pak Supomo dengan anaknya Yulius, Senikanji juga lah yang membuat komunikasi antara bapak dan anak itu terjalin lagi setelah cukup lama hanya berkomunikasi seperlunya. Pergerakan Yulius dalam mendistribusikan buah tangan karya ayahnya dan mengkonsepkan awal mula brand ini juga patut diacungi jempol, karena selain membantu mempopulerkan ilustrasi ayahnya, Yulius juga seolah mendorong ayahnya untuk serius menekuni hobby berkesenian di usia senja dan melakukan apa yang ayahnya cintai di akhir hidupnya sehingga Senikanji menjadi sebuah entitas yang immortal.

Buku ini dengan baik meng-capture semua itu, baik dari hubungan personal maupun profesional antara ayah-anak ini didalam brand yang dinamakan Senikanji. Beberapa karya Pak Supomo pun terpampang menghiasi buku ini dengan layout yang menurut saya sangat on point. Saya juga menyukai kovernya yang dijahit menggunakan benang merah, seperti kitab-kitab kungfu jaman dahulu. Singkat cerita, pada tahun 2021, Pak Supomo meninggal, namun kelangsungan karya-karyanya dilanjutkan oleh Yulius. Seperti apa masa depan Senikanji? Tentunya kita akan menanti kelangsungan brand tersebut karena outputnya selalu menarik. Buku ini sangat layak untuk dikoleksi, sebuah cerita dari sebuah brand yang dikemas dengan rapi dan tulisan Felix sangat enak untuk dibaca. Get this limited prints as soon as possible.

www.binatangpress.com
Instagram: @senikanji

 

Hoya Filed pada SS23 ini merilis koleksi yang diberi judul ‘Mild Motion’ dengan mengusung konsep unik yang terinspirasi dari segala hal yang terkait dengan seragam dinas sipil. Dalam usaha untuk menangkap nuansa seragam yang sudah terlalu sering dipakai dan alat-alat yang digunakan oleh para pekerja, seperti tukang kayu dengan palu dan paku, pekerja logistik dengan papan dada dan topinya, pekerja packaging dengan lakban dan gunting, serta pekerja terkenal lainnya dengan alat kerjanya.

Koleksi ini mencakup 10 item mulai dari celana panjang dan celana pendek, jaket dengan bahan kain airibs dengan warna olive militer 0G 107, serta topi dan rompi yang masing-masing mewakili fitur fungsional pada setiap bagian pakaian.

‘Mild Motion’, sebuah koleksi pakaian yang berfokus pada kenyamanan dan desain dengan tampilan praktis juga nyaman, kini sudah tersedia secara online.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs web resmi mereka di www.hoyafields.co.