Jane Birkin, penyanyi/aktris yang menginspirasi tas Hermès Birkin, telah meninggal dunia pada usia 76 tahun. Kematian Birkin diumumkan oleh kementerian kebudayaan Perancis, yang mengatakan bahwa Birkin ditemukan meninggal di kediaman nya di Paris. Sampai tulisan ini diketik, belum ada penyebab kematian yang diberikan. Birkin juga baru-baru ini membatalkan konser karena alasan kesehatan yang tidak ditentukan; dalam beberapa tahun terakhir, dia juga menderita stroke dan melawan leukemia. Birkin awalnya tidak ingin namanya dikaitkan dengan tas Hermès Birkin itu, tetapi kemudian menyetujuinya dengan syarat Hermès memberikan sumbangan ke beberapa badan amal pilihannya. Uniknya, band experimental rock Sonic Youth juga pernah membuat merchandisenya T-shirt ringer dengan foto Jane Birkin dibawah logotype Sonic Youth-nya.
Perempuan kelahiran Inggris yang tenar di Perancis ini juga dikenal sebagai seorang penyanyi dan aktris film. Pada saat berusia 20 tahun, Birkin pindah ke Perancis tanpa mengetahui bahasa Prancis. Ketenaran Birkin dimulai tak lama setelah kedatangannya di Paris, ketika dia jatuh cinta dengan aktor dan penyanyi Perancis Serge Gainsbourg. Keduanya dengan cepat menjadi daya tarik publik yang luas, karena menjalin hubungan dengan Gainsbourg yang hampir 20 tahun lebih tua dari Birkin. Pasangan ini sering berkolaborasi secara profesional, tampil menyanyikan duet bersama di lagu “Je t’aime… moi non plus,†dengan lirik eksplisitnya yang membuat lagu itu dilarang di beberapa negara. Birkin kemudian menjadi kesayangan dunia perfilman Perancis, dia muncul di lebih dari 70 film dan bekerja dengan beberapa sutradara paling terkenal di Prancis, termasuk Jean-Luc Godard, Agnes Varda, dan Bertrand Tavernier. Dia membintangi film-film terkenal seperti Blow Up (1966), La Piscine (The Swimming Pool) pada tahun 1969 dan Death on the Nile (1978).
Jane Birkin, penyanyi/aktris yang menginspirasi tas Hermès Birkin, telah meninggal dunia pada usia 76 tahun. Kematian Birkin diumumkan oleh kementerian kebudayaan Perancis, yang mengatakan bahwa Birkin ditemukan meninggal di kediaman nya di Paris. Sampai tulisan ini diketik, belum ada penyebab kematian yang diberikan. Birkin juga baru-baru ini membatalkan konser karena alasan kesehatan yang tidak ditentukan; dalam beberapa tahun terakhir, dia juga menderita stroke dan melawan leukemia. Birkin awalnya tidak ingin namanya dikaitkan dengan tas Hermès Birkin itu, tetapi kemudian menyetujuinya dengan syarat Hermès memberikan sumbangan ke beberapa badan amal pilihannya. Uniknya, band experimental rock Sonic Youth juga pernah membuat merchandisenya T-shirt ringer dengan foto Jane Birkin dibawah logotype Sonic Youth-nya.
Perempuan kelahiran Inggris yang tenar di Perancis ini juga dikenal sebagai seorang penyanyi dan aktris film. Pada saat berusia 20 tahun, Birkin pindah ke Perancis tanpa mengetahui bahasa Prancis. Ketenaran Birkin dimulai tak lama setelah kedatangannya di Paris, ketika dia jatuh cinta dengan aktor dan penyanyi Perancis Serge Gainsbourg. Keduanya dengan cepat menjadi daya tarik publik yang luas, karena menjalin hubungan dengan Gainsbourg yang hampir 20 tahun lebih tua dari Birkin. Pasangan ini sering berkolaborasi secara profesional, tampil menyanyikan duet bersama di lagu “Je t’aime… moi non plus,†dengan lirik eksplisitnya yang membuat lagu itu dilarang di beberapa negara. Birkin kemudian menjadi kesayangan dunia perfilman Perancis, dia muncul di lebih dari 70 film dan bekerja dengan beberapa sutradara paling terkenal di Prancis, termasuk Jean-Luc Godard, Agnes Varda, dan Bertrand Tavernier. Dia membintangi film-film terkenal seperti Blow Up (1966), La Piscine (The Swimming Pool) pada tahun 1969 dan Death on the Nile (1978).
Jane Birkin, penyanyi/aktris yang menginspirasi tas Hermès Birkin, telah meninggal dunia pada usia 76 tahun. Kematian Birkin diumumkan oleh kementerian kebudayaan Perancis, yang mengatakan bahwa Birkin ditemukan meninggal di kediaman nya di Paris. Sampai tulisan ini diketik, belum ada penyebab kematian yang diberikan. Birkin juga baru-baru ini membatalkan konser karena alasan kesehatan yang tidak ditentukan; dalam beberapa tahun terakhir, dia juga menderita stroke dan melawan leukemia. Birkin awalnya tidak ingin namanya dikaitkan dengan tas Hermès Birkin itu, tetapi kemudian menyetujuinya dengan syarat Hermès memberikan sumbangan ke beberapa badan amal pilihannya. Uniknya, band experimental rock Sonic Youth juga pernah membuat merchandisenya T-shirt ringer dengan foto Jane Birkin dibawah logotype Sonic Youth-nya.
Perempuan kelahiran Inggris yang tenar di Perancis ini juga dikenal sebagai seorang penyanyi dan aktris film. Pada saat berusia 20 tahun, Birkin pindah ke Perancis tanpa mengetahui bahasa Prancis. Ketenaran Birkin dimulai tak lama setelah kedatangannya di Paris, ketika dia jatuh cinta dengan aktor dan penyanyi Perancis Serge Gainsbourg. Keduanya dengan cepat menjadi daya tarik publik yang luas, karena menjalin hubungan dengan Gainsbourg yang hampir 20 tahun lebih tua dari Birkin. Pasangan ini sering berkolaborasi secara profesional, tampil menyanyikan duet bersama di lagu “Je t’aime… moi non plus,†dengan lirik eksplisitnya yang membuat lagu itu dilarang di beberapa negara. Birkin kemudian menjadi kesayangan dunia perfilman Perancis, dia muncul di lebih dari 70 film dan bekerja dengan beberapa sutradara paling terkenal di Prancis, termasuk Jean-Luc Godard, Agnes Varda, dan Bertrand Tavernier. Dia membintangi film-film terkenal seperti Blow Up (1966), La Piscine (The Swimming Pool) pada tahun 1969 dan Death on the Nile (1978).
Jane Birkin, penyanyi/aktris yang menginspirasi tas Hermès Birkin, telah meninggal dunia pada usia 76 tahun. Kematian Birkin diumumkan oleh kementerian kebudayaan Perancis, yang mengatakan bahwa Birkin ditemukan meninggal di kediaman nya di Paris. Sampai tulisan ini diketik, belum ada penyebab kematian yang diberikan. Birkin juga baru-baru ini membatalkan konser karena alasan kesehatan yang tidak ditentukan; dalam beberapa tahun terakhir, dia juga menderita stroke dan melawan leukemia. Birkin awalnya tidak ingin namanya dikaitkan dengan tas Hermès Birkin itu, tetapi kemudian menyetujuinya dengan syarat Hermès memberikan sumbangan ke beberapa badan amal pilihannya. Uniknya, band experimental rock Sonic Youth juga pernah membuat merchandisenya T-shirt ringer dengan foto Jane Birkin dibawah logotype Sonic Youth-nya.
Perempuan kelahiran Inggris yang tenar di Perancis ini juga dikenal sebagai seorang penyanyi dan aktris film. Pada saat berusia 20 tahun, Birkin pindah ke Perancis tanpa mengetahui bahasa Prancis. Ketenaran Birkin dimulai tak lama setelah kedatangannya di Paris, ketika dia jatuh cinta dengan aktor dan penyanyi Perancis Serge Gainsbourg. Keduanya dengan cepat menjadi daya tarik publik yang luas, karena menjalin hubungan dengan Gainsbourg yang hampir 20 tahun lebih tua dari Birkin. Pasangan ini sering berkolaborasi secara profesional, tampil menyanyikan duet bersama di lagu “Je t’aime… moi non plus,†dengan lirik eksplisitnya yang membuat lagu itu dilarang di beberapa negara. Birkin kemudian menjadi kesayangan dunia perfilman Perancis, dia muncul di lebih dari 70 film dan bekerja dengan beberapa sutradara paling terkenal di Prancis, termasuk Jean-Luc Godard, Agnes Varda, dan Bertrand Tavernier. Dia membintangi film-film terkenal seperti Blow Up (1966), La Piscine (The Swimming Pool) pada tahun 1969 dan Death on the Nile (1978).
Jane Birkin, penyanyi/aktris yang menginspirasi tas Hermès Birkin, telah meninggal dunia pada usia 76 tahun. Kematian Birkin diumumkan oleh kementerian kebudayaan Perancis, yang mengatakan bahwa Birkin ditemukan meninggal di kediaman nya di Paris. Sampai tulisan ini diketik, belum ada penyebab kematian yang diberikan. Birkin juga baru-baru ini membatalkan konser karena alasan kesehatan yang tidak ditentukan; dalam beberapa tahun terakhir, dia juga menderita stroke dan melawan leukemia. Birkin awalnya tidak ingin namanya dikaitkan dengan tas Hermès Birkin itu, tetapi kemudian menyetujuinya dengan syarat Hermès memberikan sumbangan ke beberapa badan amal pilihannya. Uniknya, band experimental rock Sonic Youth juga pernah membuat merchandisenya T-shirt ringer dengan foto Jane Birkin dibawah logotype Sonic Youth-nya.
Perempuan kelahiran Inggris yang tenar di Perancis ini juga dikenal sebagai seorang penyanyi dan aktris film. Pada saat berusia 20 tahun, Birkin pindah ke Perancis tanpa mengetahui bahasa Prancis. Ketenaran Birkin dimulai tak lama setelah kedatangannya di Paris, ketika dia jatuh cinta dengan aktor dan penyanyi Perancis Serge Gainsbourg. Keduanya dengan cepat menjadi daya tarik publik yang luas, karena menjalin hubungan dengan Gainsbourg yang hampir 20 tahun lebih tua dari Birkin. Pasangan ini sering berkolaborasi secara profesional, tampil menyanyikan duet bersama di lagu “Je t’aime… moi non plus,†dengan lirik eksplisitnya yang membuat lagu itu dilarang di beberapa negara. Birkin kemudian menjadi kesayangan dunia perfilman Perancis, dia muncul di lebih dari 70 film dan bekerja dengan beberapa sutradara paling terkenal di Prancis, termasuk Jean-Luc Godard, Agnes Varda, dan Bertrand Tavernier. Dia membintangi film-film terkenal seperti Blow Up (1966), La Piscine (The Swimming Pool) pada tahun 1969 dan Death on the Nile (1978).
Jane Birkin, penyanyi/aktris yang menginspirasi tas Hermès Birkin, telah meninggal dunia pada usia 76 tahun. Kematian Birkin diumumkan oleh kementerian kebudayaan Perancis, yang mengatakan bahwa Birkin ditemukan meninggal di kediaman nya di Paris. Sampai tulisan ini diketik, belum ada penyebab kematian yang diberikan. Birkin juga baru-baru ini membatalkan konser karena alasan kesehatan yang tidak ditentukan; dalam beberapa tahun terakhir, dia juga menderita stroke dan melawan leukemia. Birkin awalnya tidak ingin namanya dikaitkan dengan tas Hermès Birkin itu, tetapi kemudian menyetujuinya dengan syarat Hermès memberikan sumbangan ke beberapa badan amal pilihannya. Uniknya, band experimental rock Sonic Youth juga pernah membuat merchandisenya T-shirt ringer dengan foto Jane Birkin dibawah logotype Sonic Youth-nya.
Perempuan kelahiran Inggris yang tenar di Perancis ini juga dikenal sebagai seorang penyanyi dan aktris film. Pada saat berusia 20 tahun, Birkin pindah ke Perancis tanpa mengetahui bahasa Prancis. Ketenaran Birkin dimulai tak lama setelah kedatangannya di Paris, ketika dia jatuh cinta dengan aktor dan penyanyi Perancis Serge Gainsbourg. Keduanya dengan cepat menjadi daya tarik publik yang luas, karena menjalin hubungan dengan Gainsbourg yang hampir 20 tahun lebih tua dari Birkin. Pasangan ini sering berkolaborasi secara profesional, tampil menyanyikan duet bersama di lagu “Je t’aime… moi non plus,†dengan lirik eksplisitnya yang membuat lagu itu dilarang di beberapa negara. Birkin kemudian menjadi kesayangan dunia perfilman Perancis, dia muncul di lebih dari 70 film dan bekerja dengan beberapa sutradara paling terkenal di Prancis, termasuk Jean-Luc Godard, Agnes Varda, dan Bertrand Tavernier. Dia membintangi film-film terkenal seperti Blow Up (1966), La Piscine (The Swimming Pool) pada tahun 1969 dan Death on the Nile (1978).
Jane Birkin, penyanyi/aktris yang menginspirasi tas Hermès Birkin, telah meninggal dunia pada usia 76 tahun. Kematian Birkin diumumkan oleh kementerian kebudayaan Perancis, yang mengatakan bahwa Birkin ditemukan meninggal di kediaman nya di Paris. Sampai tulisan ini diketik, belum ada penyebab kematian yang diberikan. Birkin juga baru-baru ini membatalkan konser karena alasan kesehatan yang tidak ditentukan; dalam beberapa tahun terakhir, dia juga menderita stroke dan melawan leukemia. Birkin awalnya tidak ingin namanya dikaitkan dengan tas Hermès Birkin itu, tetapi kemudian menyetujuinya dengan syarat Hermès memberikan sumbangan ke beberapa badan amal pilihannya. Uniknya, band experimental rock Sonic Youth juga pernah membuat merchandisenya T-shirt ringer dengan foto Jane Birkin dibawah logotype Sonic Youth-nya.
Perempuan kelahiran Inggris yang tenar di Perancis ini juga dikenal sebagai seorang penyanyi dan aktris film. Pada saat berusia 20 tahun, Birkin pindah ke Perancis tanpa mengetahui bahasa Prancis. Ketenaran Birkin dimulai tak lama setelah kedatangannya di Paris, ketika dia jatuh cinta dengan aktor dan penyanyi Perancis Serge Gainsbourg. Keduanya dengan cepat menjadi daya tarik publik yang luas, karena menjalin hubungan dengan Gainsbourg yang hampir 20 tahun lebih tua dari Birkin. Pasangan ini sering berkolaborasi secara profesional, tampil menyanyikan duet bersama di lagu “Je t’aime… moi non plus,†dengan lirik eksplisitnya yang membuat lagu itu dilarang di beberapa negara. Birkin kemudian menjadi kesayangan dunia perfilman Perancis, dia muncul di lebih dari 70 film dan bekerja dengan beberapa sutradara paling terkenal di Prancis, termasuk Jean-Luc Godard, Agnes Varda, dan Bertrand Tavernier. Dia membintangi film-film terkenal seperti Blow Up (1966), La Piscine (The Swimming Pool) pada tahun 1969 dan Death on the Nile (1978).
Jane Birkin, penyanyi/aktris yang menginspirasi tas Hermès Birkin, telah meninggal dunia pada usia 76 tahun. Kematian Birkin diumumkan oleh kementerian kebudayaan Perancis, yang mengatakan bahwa Birkin ditemukan meninggal di kediaman nya di Paris. Sampai tulisan ini diketik, belum ada penyebab kematian yang diberikan. Birkin juga baru-baru ini membatalkan konser karena alasan kesehatan yang tidak ditentukan; dalam beberapa tahun terakhir, dia juga menderita stroke dan melawan leukemia. Birkin awalnya tidak ingin namanya dikaitkan dengan tas Hermès Birkin itu, tetapi kemudian menyetujuinya dengan syarat Hermès memberikan sumbangan ke beberapa badan amal pilihannya. Uniknya, band experimental rock Sonic Youth juga pernah membuat merchandisenya T-shirt ringer dengan foto Jane Birkin dibawah logotype Sonic Youth-nya.
Perempuan kelahiran Inggris yang tenar di Perancis ini juga dikenal sebagai seorang penyanyi dan aktris film. Pada saat berusia 20 tahun, Birkin pindah ke Perancis tanpa mengetahui bahasa Prancis. Ketenaran Birkin dimulai tak lama setelah kedatangannya di Paris, ketika dia jatuh cinta dengan aktor dan penyanyi Perancis Serge Gainsbourg. Keduanya dengan cepat menjadi daya tarik publik yang luas, karena menjalin hubungan dengan Gainsbourg yang hampir 20 tahun lebih tua dari Birkin. Pasangan ini sering berkolaborasi secara profesional, tampil menyanyikan duet bersama di lagu “Je t’aime… moi non plus,†dengan lirik eksplisitnya yang membuat lagu itu dilarang di beberapa negara. Birkin kemudian menjadi kesayangan dunia perfilman Perancis, dia muncul di lebih dari 70 film dan bekerja dengan beberapa sutradara paling terkenal di Prancis, termasuk Jean-Luc Godard, Agnes Varda, dan Bertrand Tavernier. Dia membintangi film-film terkenal seperti Blow Up (1966), La Piscine (The Swimming Pool) pada tahun 1969 dan Death on the Nile (1978).
Jane Birkin, penyanyi/aktris yang menginspirasi tas Hermès Birkin, telah meninggal dunia pada usia 76 tahun. Kematian Birkin diumumkan oleh kementerian kebudayaan Perancis, yang mengatakan bahwa Birkin ditemukan meninggal di kediaman nya di Paris. Sampai tulisan ini diketik, belum ada penyebab kematian yang diberikan. Birkin juga baru-baru ini membatalkan konser karena alasan kesehatan yang tidak ditentukan; dalam beberapa tahun terakhir, dia juga menderita stroke dan melawan leukemia. Birkin awalnya tidak ingin namanya dikaitkan dengan tas Hermès Birkin itu, tetapi kemudian menyetujuinya dengan syarat Hermès memberikan sumbangan ke beberapa badan amal pilihannya. Uniknya, band experimental rock Sonic Youth juga pernah membuat merchandisenya T-shirt ringer dengan foto Jane Birkin dibawah logotype Sonic Youth-nya.
Perempuan kelahiran Inggris yang tenar di Perancis ini juga dikenal sebagai seorang penyanyi dan aktris film. Pada saat berusia 20 tahun, Birkin pindah ke Perancis tanpa mengetahui bahasa Prancis. Ketenaran Birkin dimulai tak lama setelah kedatangannya di Paris, ketika dia jatuh cinta dengan aktor dan penyanyi Perancis Serge Gainsbourg. Keduanya dengan cepat menjadi daya tarik publik yang luas, karena menjalin hubungan dengan Gainsbourg yang hampir 20 tahun lebih tua dari Birkin. Pasangan ini sering berkolaborasi secara profesional, tampil menyanyikan duet bersama di lagu “Je t’aime… moi non plus,†dengan lirik eksplisitnya yang membuat lagu itu dilarang di beberapa negara. Birkin kemudian menjadi kesayangan dunia perfilman Perancis, dia muncul di lebih dari 70 film dan bekerja dengan beberapa sutradara paling terkenal di Prancis, termasuk Jean-Luc Godard, Agnes Varda, dan Bertrand Tavernier. Dia membintangi film-film terkenal seperti Blow Up (1966), La Piscine (The Swimming Pool) pada tahun 1969 dan Death on the Nile (1978).
Polyester Embassy kembali dengan merilis album terbaru yang bertajuk “EVOL”. Disaster Records sebagai label yang menaungi mereka mengumumkan perilisan album ini, yang berisi delapan lagu eksploratif yang mencerminkan evolusi musik band tersebut dalam format compact disc dan cassette. Sebagai band yang seringkali disebut sebagai band eksperimental, Polyester Embassy selalu mencoba berbagai eksplorasi dalam musik, lirik, dan tampilan visual mereka untuk memperkuat identitas suara yang berbeda.
Dalam album “EVOL”, Polyester Embassy menghadirkan konsep evolusi musik yang mengadaptasi hal-hal lama. Mereka mempercayai bahwa evolusi manusia adalah tentang beradaptasi dengan situasi, bukan meninggalkan hal-hal lama, melainkan mengadaptasinya. Album “EVOL” menjadi bukti nyata dari evolusi tersebut. Sebelum merilis mini album ini, Polyester Embassy telah merilis beberapa lagu sebagai pengantar, seperti “Parak” dan “Laugh and Swell”. Lagu-lagu ini menunjukkan bahwa band ini tidak meninggalkan esensi musik mereka sejak awal, tetapi terus berkembang dan matang dalam setiap karya yang mereka ciptakan.
Cinta atau “LOVE” juga menjadi tema yang erat hubungannya dengan mini album baru Polyester Embassy. Cinta terhadap musik dan persahabatan antar anggota band adalah yang mempertahankan eksistensi mereka sejak awal berdirinya. Meskipun perjalanan ini tidak selalu mudah, Polyester Embassy telah melewati masa-masa sulit seperti kehilangan drummer mereka, Givari, dan ketidakaktifan sementara rekan Givari, Tomo. Eksplorasi, evolusi, dan cinta terhadap musik tetap ditanamkan dalam karya-karya mereka, termasuk dalam 8 lagu di mini album “EVOL”.
Mundae., membuat kejutan dengan kembalinya mereka setelah hiatus yang cukup lama. Tendi Ahmad Hidayat (Gitar/Vokal), Riski Indriyana (Drum), dan Meigy Saputra Dewa (Bass) kembali dengan formasi baru yang diperkuat oleh anggota baru Rizqi Taufik Hidayat (Gitar/Vokal), Mundae. siap menyuguhkan sesuatu yang segar. Unit rock alternatif asal Bandung ini menandai kembalinya dengan merilis single perdana berjudul “Kelak” yang diiringi dengan video klip, sebagai bagian dari album yang rencananya akan dirilis pada akhir tahun 2023.
Melalui “Kelak”, Mundae. ingin menyampaikan pesan introspektif tentang tujuan hidup dan takdir di masa depan. Mundae. berusaha untuk berinovasi dalam aransemen musik dan menciptakan suasana baru yang menarik.
Fr3lan adalah seorang illustrator yang sudah lumayan lama berkecimpung mengerjakan logotype band-band seperti Dongker, Bleach, ZIP, dan lain-lain. Logo-logo buatan Elan sudah mempunyai karakter yang cukup kuat. Selain itu, Elan juga mengerjakan cover art, flyers bahkan sampai design merchandise beberapa band dan brand. Sekarang seniman asal kota Palu ini pindah ke Bali untuk menekuni seni tato dan menjadi tattoo artist. Mari berbincang dengan Elan mengenai band hardcore dia, Defy dan mendapat sebuah tawaran menarik dari Travis Barker..
Halo Elan! apa kabar? Sedang sibuk mengerjakan proyek apa saja nih sekarang?
Halo, kabar baik nih!!! Wah lumayan penuh nih akhir-akhir ini hahaha seperti biasa ngerjain band dan brand.
Waktu JEURNALS interview Mike Bleach, dia cerita lo juga dulu aktif di scene kota Palu. Bisa ceritakan seperti apa scene musik independen di kota Palu?
Yes bener, ya sebenernya perkembangannya hampir sama aja dengan kota-kota lain cuman mungkin di Palu pada saat itu belum ter-expose ke kota-kota luar karena emang beneran cuman hiburan yang ada dikota Palu saat itu ya kalau bukan gigs pasti festival musik, tapi belakangan ini mulai rame kembali nih gigs dan festival yang ada di kota Palu, setelah gempa yang terjadi 2018 itu cukup memberi dampak yang lumayan buruk sih sampai berapa tahun gak ada gigs atau event musik sama sekali.
Lo dari kapan mulai mengerjakan ilustrasi secara serius? Oh ya, dengar-dengar mau ngerjain sebuah ilustrasi ya untuk Travis Barker?
Kalau mulai serius tuh kalau gak salah pas gue ngerjain flyer United Force 3 di Padang dan itu gambar gue pertama kali dipakai oleh orang lain hahaha, seneng banget sih Kempeng waktu itu yang support banget ama gue. Waduh dah kesebar aja nih hahaha yes bener gue lagi garap Famous dalam waktu dekat ini cuman ya gitu Travisnya kadang balesnya cepet kadang lama juga hahaha….
Oh btw gue lupa ngasih tau juga nih haha, gue juga udah beres ngerjain Dropdead untuk artikel terbarunya dan salah satu logotype gue udah rilis di webnya dan Olivernya langsung yang nge DM gw buat ngerjain itu hahaha.. Kalau gak salah ada beberapa seniman indo juga yang diajak ama doi…
Top 5 logo band yang paling lo suka?
1. FURY. Salah satu logo band yang gak ada matinya dan menurut gw bagus banget!
2. MORBID ANGEL. Siapa sih yang gak suka logonya MA hahaha..
3. VELOCITY, LIBERTY, COUNTDOWN, EKULU, BURST OF RAGE. Kenapa banyak ya karena semua bikinan Chrism Wilson salah satu favorite artist gue dan itu semua band dia hahaha..
4. DEAD HEAT. Logonya gue suka banget karena yang bikin juga gitaris nya sendiri dan salah satu inspirasi gue dalam buatin logo band gue sendiri.
5. DIZTORT. You now what i meaaannn….. Band yang dari segi logo, materi sampai personilnya POWERFULL!!!
Sebenernya 5 mah ga cukup mas hahaha cuman aku kasih yang menurutku Oke banget nih…
Lo juga ngeband di Defy & Nobody Safe. Apa kabarnya 2 band itu? Sedang sibuk ngapain nih sekarang band-band lo?
Kalau Nobody Safe sih terakhir lagi garap satu lagu lagi sih mas setelah rilis single kemarin yang “Demiseâ€. Nah kalau Defy dalam waktu dekat ini kami ada agenda tour East Java dan Bali bulan di Juli, lebih tepatnya bisa cek ig @defyhc. Agenda tour ini sekaligus mempromosikan EP kami, 3 lagu yang udah rilis di bandcamp Defy yang dirilis oleh label Thailand yaitu Holding On Records.
Kembali lagi membahas design, bisa ceritakan sedikit kerjaan lo apa aja selain menjadi ilustrator freelance?
Kerjaan gue 3 bulan terakhir ini sih nyoba belajar tattoo, dan sekarang gue udah pindah di Bali sekaligus jadi apprentice di @redpeach.tattoo.
Apa yang membuat lo tertarik menjadi tattoo artist?
Yang buat gue tertarik sebenarnya lebih ke tekniknya kali ya, pada dasarnya kan sama basicnya ilustrasi juga dan gue juga mau coba lebih mengexplore aja lebih dalam sampai mana kemampuan gue. Kalau di dunia tattoo tuh mungkin lebih ke sabar dan teliti kali ya. Nah itu yang mau gue asah dari diri gue hahaha…
Fonts dan logotype band yang cenderung tajam-tajam ini sudah menjadi ciri khas lo sekarang. Tipe-tipe logo yang lo kerjakan ini masuk ke kategori / sebutan apa sih?
Hahahaha, gimana ya sebenernya kalau logotype tuh gue lebih suka ngeliatin font-font atau logo-logo band Death Metal Oldskool gitu-gitu sih, gak selalu mengarah ke hardcore karena menurut gue logo-logo band jaman itu tuh lancip-lancip terus kadang gak presisi tiap sudutnya, dan itu menurut gue keren banget liatnya gak boring, nah kalau itu gue gak bisa nyebutnya kategorinya apa ya, mungkin lebih ke style apa yang gue suka aja sih mas hahaha…
Kuartet punk rock asal Bandung, Saturday Night Karaoke, telah merilis single terbaru mereka yang berjudul “Smitten”. Meskipun dikenal dengan musik punk rock yang catchy, mereka berhasil mengeksplorasi sisi musikalitas baru dengan nuansa akustik dalam lagu ini. Mereka mengundang Dennis Ferdinand dan Rezki Delian untuk berkolaborasi, yang memberikan sentuhan harmonis paduan suara dan ketukan perkusi yang efektif. Single ini dipuji sebagai karya akustik yang mumpuni dan tetap mempertahankan identitas khas dari Saturday Night Karaoke, serta menunjukkan eksplorasi baru dalam karya musik Prabu dkk.
“Smitten” menjadi single keempat yang dirilis oleh Saturday Night Karaoke pada tahun 2023. Sebelumnya, mereka telah merilis single lain seperti “…Abnormal? Abnormal!!!”, “FILE UNDER: Aradaneks_Beta_Version”, dan versi bahasa Jepang dari single tersebut. Seluruh rangkaian single ini, bersama dengan beberapa single berikutnya, akan dirangkum menjadi sebuah EP dalam format piringan hitam 7″ oleh label Jepang I Hate Smoke Records, yang akan didistribusikan secara eksklusif di Indonesia oleh Disaster Records.
Maaf kalau terkesan agak bias, tapi jujur sepertinya saya agak berat hati untuk sekedar mengkategorikan Atarashii Gakko sebagai sebuah girlband atau, ehm, idol group belaka. Memang kalau dilihat secara kasat mata dari berbagai konten visual macam video klip atau unggahan Tik Tok mereka yang selalu berseliweran di lini masa, mereka mungkin terkesan seperti just another music group – tapi kalau ditelusuri lebih mendalam, ada beberapa aspek detail di dalam kuartet vokal-plus-koreografi asal Jepang tersebut yang kini mampu menarik hati banyak penggemar musik seantero dunia.
Bagi kamu yang belum familiar dengan entitas musikal bernama Atarashii Gakko, mereka adalah unit vokal yang memulai kiprahnya di tahun 2015 silam sebagai sebuah indie idol group di negeri Sakura. Grup yang beranggotakan Suzuka, Mizyu, Kanon dan Rin tersebut mendapatkan big break-nya di tahun 2017 lewat rilisnya debut single label mayor mereka, “Dokubana (毒花)†, di bawah naungan Victor Entertainment.
Namun biggest breakout unit vokal tersebut justru terjadi di tahun 2021 ketika perusahaan musik internasional nge-hits 88rising meriliskan single terbaru mereka yang berjudul “Nainainai†ke gelembung pasar musik internasional. Seketika popularitas Atarashii Gakko meroket dan mereka pun beranjak dari unit J-Pop berkesal sektoral menjadi sebuah grup musik internasional yang sukses.
Kembali lagi ke poin paragraf awal di tulisan ini, rasanya ada faktor lain di luar popularitas Atarashii Gakko yang membuat mereka begitu terkenal dan disukai khalayak ramai. Setelah diselidiki dan diamati sedemikian rupa, rupaya ada lima aspek yang berhasil saya temukan dari eksistensi unit vokal asal Jepang tersebut – dan bisa dibilang berfungsi bak magnet yang mampu menggaet perasaan banyak orang untuk lebih menyukai mereka dari sekedar musiknya saja. Here they are!
Koreografi tarian mereka super enerjik dan rumit
Tanpa mendiskreditkan grup-grup vokal populer lainnya yang tentu punya koreografi yang sama-sama menarik untuk disimak, koreografi tarian dari Atarashii Gakko justru punya poin lebih karena terkesan lebih chaotic. Betul. Kalau dilihat terkesan seperti ugal-ugalan namun semuanya tetap tertata dan on point – dan hal itu terbilang lumayan langka untuk ukuran sebuah grup vokal J-Pop yang kalau kamu menyimak penampilan mereka lebih seksama memiliki banyak ‘template’ gerakan di berbagai bagian lagunya.
Untuk ukuran grup J-Pop, musik mereka terasa lebih ‘eksperimental’
Satu hal yang kerap kali sulit dilupakan dari musik asal Jepang adalah progresi akor serta bagan musiknya yang khas. Selalu ada kunci miring serta melodi vokal catchy yang seakan berteriak di dalam benak para pendengar musik: “Ini mah Jepang banget!â€. Tapi hal itu tidak terlalu kentara di karya-karya Atarashii Gakko.
Kalau kamu simak musik mereka dengan lebih seksama, kebanyakan dari karya musik mereka justru lebih memiliki pengaruh musik ‘eksperimental’ yang lebih kental. Mulai dari pengaruh hip-hop, RnB, rock alternatif, new wave sampai disco terasa tumpah ruah di berbagai katalog musik dari Atarashii Gakko.
Ambil contoh di lagu “Nainainai†yang penuh dengan nuansa 90’s hip-hop dengan paduan drum track yang sangat vintage. Pure aces. Atau di lagu “Suki Lie†yang tidak ada satu pun melodi vokal kawaii ala musik J-Pop bisa ditemukan di lagunya. Malah lagu itu kental akan nuansa RnB plus ada kejutan bagan bossanova di paruh tengah lagunya. Gila.
Berbicara soal kawaii, poin berikutnya adalah…
Mereka punya estetika kawaii berbeda berkat persona mereka yang ‘aneh’
Sudah terlalu lama industri J-pop – terutama yang berada di ceruk idol – kerap kali menjunjung tinggi nilai ‘kepolosan’ untuk mengamplifikasi persona kawaii dari para artisnya. Hal itu mungkin memang sudah menjadi salah satu torehan parameter industrinya yang mendarah daging untuk ranah musik tersebut. Tapi beberapa tahun ke belakang muncul fenomena alternative idol yang mendobrak norma usang tersebut dengan menampilkan sisi lain yang lebih humanis dan unik dari para idolnya.
Salah satu dari gelombang alternative idol itu tentunya adalah Atarashii Gakko sendiri. Dengan persona konyol nan aneh ala murid sekolah berstatus badut kelas yang mereka kerap tampilkan di berbagai publikasinya, kuartet ini seakan menjadi relatable bagi banyak pendengar musik yang menyukai sosok artisnya sebagai manusia yang ‘apa adanya’.
Lucunya, persona mereka selama ini memang diproyeksikan sebagai ‘pemimpin SMA’ yang bersemangat. Tapi entah memang sengaja dikonsepkan seperti itu atau ada eksplorasi publisitas yang mereka terapkan, sejauh ini hal itu malah membuat persona mereka sangat komikal dan charming. But then again, people seem to love them for that.
Atarashii Gakko sukses melampaui AKB48 sebagai delegasi J-Pop masa kini
Tenang 48 fans, bukan maksud ingin menyepelekan grup favorit kalian. Toh saya pun masih menyukai musik 48 group sampai hari ini – meski sebatas beberapa katalog saja. Tapi harus diakui bahwa upaya AKB48 sejak beberapa tahun lalu yang ingin menggaet pendengar internasional dengan berbagai macam effort-nya dilibas dengan entengnya dengan hadirnya Atarashii Gakko. Artinya, kuartet itu muncul gelembung industri musik pada momentum yang tepat.
Ketika AKB48 masih terlalu identik dengan ruang lingkup penggemar dari stereotip wota atau pun weeaboo sampai sekarang, kemunculan Atarashii Gakko langsung disambut riuhan para penggemar populis – dan terasa effortless. Tentu faktor utamanya adalah berkat mereka digaet 88rising yang notabene sebagai salah satu manajemen artis keniscayaan penggemar musik populis hari ini.
Tanpa harus ekspansi ke berbagai negara sebagai bentuk sosialisasi kekaryaan atau positioning di industri, Atarashii Gakko langsung bisa menembus gelembung industri musik internasional dan disambut baik oleh banyak orang dari berbagai macam latar belakang preferensi musik.
Mereka meng-cover “Intergalactic†dari Beastie Boys
Nothing cooler than a J-Pop group paying homage to one of the greatest hip hop acts in the world with justice. Sebetulnya sudah ada alternative idol group lainnya bernama Denpagumi Inc yang meng-cover “Sabotageâ€. Tapi ya, you’ll be the judge. Bagi saya Atarashii Gakko menang telak dalam urusan ini dan mutlak dinobatkan (setidaknya bagi saya) idol group terkeren sepanjang masa.
So what do you think? Are you into Atarashii Gakko as well?
Sedikit latar belakang: Timberland pertama kali memperkenalkan sepatu perahu chunky 3-Eye yang sangat berpengaruh ini pada tahun 1978, menggabungkan bagian atas kulit buatan tangan premium dengan sol luar sepatu boot yang kokoh dari The Original Timberland Boot. Sekarang, lebih dari 45 tahun kemudian, itu tetap menjadi bahan pokok di lemari pakaian pria modern.
ALD dan Timberland bersatu kembali musim ini untuk tiga rilisan dari si cantik bermata 3, yang mendarat di toko dan online 19 Mei 2023. Pertama kali disinggung dalam lookbook SS23 ALD yang baru-baru ini dirilis, sepatu tersebut hadir dalam beberapa jalur warna yang diberi nama unik: Grape Leaf, Sleek White, dan Classic Black, serta mempertahankan semua catatan desain yang kamu harapkan dari salah satu siluet paling ikonik di Timberland. Namun, apakah kamu akan memasangkan sepatu ini di kaki atau tidak, kita semua pasti setuju bahwa tidak diragukan lagi, sepatu-sepatu ini memang timeless dan klasik.
Entah kenapa, nama beberapa band lokal dengan huruf “Z†sering kami temui akhir-akhir ini, entah di IG Story, cuitan Twitter maupun invitation flyers-flyers gigs. Entah ini sebuah trend atau bukan, yang pasti musik-musik dari band seperti ZIP, Dazzle, EAZZ, dan beberapa band lainnya lumayan mencuri perhatian kami. Mari simak beberapa band lokal yang menggunakan huruf “Z†di namanya (and if we missed any, feel free to comment on our Instagram feeds!)
ZIP
ZIP adalah kuintet asal Jakarta yang memainkan hardcore dengan referensi yang cukup obscure. Para personil ZIP pun tergabung di beberapa band dan project lainnya, sehingga wajah mereka tentunya sudah tidak asing lagi. Uniknya, band ini tidak memiliki social media seperti Twitter ataupun Instagram seperti band-band lain pada umumnya, tetapi jadwal panggung mereka cukup padat dan merchandise mereka selalu diburu.
EAZZ
EAZZ adalah Alfi, dan Alfi adalah EAZZ. Proyek solo dari Alfi yang juga gitaris dari Prejudize ini kadang kerap melibatkan beberapa temannya dari band seperti Rounder, Swarm dan lain-lain. Alfi memainkan shoegaze repetitif yang lebih terdengar menyerupai rilisan Creation Records era ‘90an ketimbang band nu-gaze modern. Simak 2 single terbaru dari EAZZ yang kabarnya dalam waktu dekat ini akan merilis debut albumnya.
DAZZLE
Dazzle memainkan musik hardcore crossover dengan sound modern. Band ini pun sudah sangat matang untuk perform dan beberapa kali tampil di panggung-panggung besar. Jika kalian menyukai Mizery, Take Offense atau Red Death, mungkin Dazzle akan menjadi salah satu local acts favorit kamu. Simak EP 2021 mereka, “Vanity & Void†dan single 2022 mereka , “Revenge is Mineâ€.
PREJUDIZE
Unit hardcore asal Bandung ini cukup menyita perhatian kami, mereka memainkan metallic hardcore yang cukup intens dan selalu tampil dengan sound yang solid di setiap performanya. Bermodalkan sebuah DEMO EP berisi 4 lagu yang dirilis pada tahun 2021, dan maxi single “Coward & Vague†pada tahun 2022, Prejudize juga kerap berkolaborasi dengan musisi-musisi seperti Satan’s Heir dari Avhath, Kevin Bleach dan Vai dari The Couch Club. Artwork kover EP pertama mereka juga dikerjakan oleh Fr3lan dari band Defy. Simak single terbaru mereka “Constant Burning†yang video klipnya baru dirilis pada bulan Februari 2023.
PLEAZURE AND PAIN
Band hardcore asal Medan ini sudah merilis album “Hidden Agenda†pada tahun 2020 kemarin. Pada tahun 2022 mereka kembali merilis EP berisi 6 lagu (1 lagu cover Stone Roses). Sedikit groovy, PAP mungkin akan sedikit mengingatkan kalian pada Biohazard era album “Urban Disciplineâ€. Mari kita tunggu kejutan-kejutan baru apa yang akan mereka rilis pada tahun 2023 ini.
DAZED
Band punk dari Bandung Selatan ini sudah merilis sebuah EP berjudul “Distort Reality†melalui label Grimloc Records. Dengan bermodalkan 7 track segar yang dipenuhi oleh referensi band-band hardcore/punk Skandinavia, Dazed sudah siap untuk membakar gigs-gigs punk lokal di kota kamu. Kami juga penasaran untuk menyaksikan performa live mereka. Untuk sementara, segera dengarkan mini album mereka yang tersedia melalui format cassette tape.
FLYZAD
Satu-satunya di list ini yang bukan band, melainkan solo rapper. Flyzad adalah rapper dari Bukittinggi yang mulai berkarya di Kota Bandung sejak tahun 2016 sampai sekarang. Dalam waktu dekat Flyzad akan merilis “Diksi Reduksi†melalui label asal Bandung, Grimloc Records. Diproduseri oleh Napalm Squad, sudah pasti single ini patut ditunggu. Untuk sementara, cek single “Nawaitu†yang dirilis pada tahun 2022 kemarin.
BIZARRE
Bizarre adalah unit hardcore dari kota Malang yang diperkuat oleh Jaka Permadi (vokal), Wildan Salis (gitar), Yossy Andreas (bass), dan Galih Arlanosa (drum). Bizarre memainkan hardcore crossover ala band-band seperti Leeway, Agnostic Front dan mungkin sedikit Cro-Mags. Simak EP 3 lagu mereka yang diberi judul “Promo 2022â€. Can’t wait to see more of them in the future.
ZEAL
Pada tanggal 14 Februari lalu, Bertepatan dengan Valentine, band pop punk Zeal merilis single “Lionheartâ€. Dengan aransmen yang catchy dan durasi yang cocok untuk kamu yang sedang sibuk, single ini terdengar lebih fresh walaupun masih mengamini benang merah seperti EP yang mereka rilis di tahun 2022. For fans of: (early) The Story So Far, Man Overboard, No Pressure.
ZIGI ZAGA
Band baru dengan wajah-wajah yang tidak asing, salah satu personil Zigi Zaga adalah Eka Annash dari The Brandals yang bermain bass disini. Juga ada Ricky Putra dari Alpha Mortal Foxtrot pada departemen gitar. Nadya Syarifa pada departemen vokal mengisi kekosongan yang ditinggalkan vokalis terdahulu dan Wizra Uchra bertugas menjaga beat band yang beraroma post-punk ini. Setelah merilis debut album “Psycho Mob†pada tahun 2019, kini mereka kembali di tahun 2023 dengan single terbaru “Push it Outâ€.
ZZUF
Proyek lain dari Pandu “Fuzztoni†bersama tiga cohortsnya: Freddy Alexander Warnerrin, Achsan Pradiansyah, dan Gomz Gomien. ZZUF menurut beberapa teman saya mirip Ozma. Tetapi karena saya tidak mendengarkan Ozma, impresi saya terhadap Zzuf adalah sebuah unit alt/indie rock dengan nuansa power pop yang kental. Suara gitar fuzz bertemu dengan lagam vokal yang catchy. Band ini sempat bernaung di Leeds Records dan kini bersama Anoa Records.
DRIZZLY
Drizzly adalah band bergenre dreampop dari kota Sidoarjo. Drizzly pada awalnya hanya dimotori dan menjadi proyek dari Amanda (Vocal). Walaupun pada awalnya ini hanya proyek solo, akhirnya Drizzly pun bertransformasi menjadi sebuah band. Sekarang formasi Drizzly adalah Amanda (Vocal), Moza (Bass), dan Faye (Guitar). Untuk merchandise dan kover single pun mereka kadang berkolaborasi dengan Conbini. Simak 2 single mereka “Bitter to See You†dan “If We Know Each Other Well Enough..†yang catchy dan upbeat di Spotify.
LEIPZIG
Leipzig memainkan post-punk disaat banyak orang menjauhi post-punk, karena itu mereka cukup stand out dan unik. Debut albumnya sangat catchy dan hanya berdurasi 13 menit saja. Lirik mereka mencampurkan bahasa Indonesia, Inggris dan kadang Sunda, dan kalian pun akan menemukan line-line seperti “Tapi lapar itu temporary / yang eternal hanya miskin†atau “Di kepalaku ada Astrud Gilberto yang menyanyi Nega Do Cabelo Duroâ€. Band punk mana lagi yang name-dropping Astrud Gilberto dan Noam Chomsky di album yang sama? Saat perform, mereka kerap membawa bendera berlogo Macan Siliwangi, yang lebih menyerupai logo perguruan silat ketimbang logo band.
Rapper dan penyanyi asal Bandung, Sbplusix, telah merilis single terbaru berjudul “WHEREIM@”. Single yang diproduseri oleh Sbplusix sendiri dan berkolaborasi dengan Gilang Dhafir ini menjadi bagian dari mini album yang akan dirilis oleh Sbplusix tahun ini. “WHEREIM@” menggambarkan perjalanan dan perkembangan Sbplusix di suatu tempat, sambil menghadirkan pesan tentang pentingnya mengingat tempat pulang melalui lirik lagu yang energik.
Dalam single terbarunya ini, Sbplusix mencoba menyampaikan refleksi tentang tumbuh dan berkembang di suatu tempat, serta kekhawatiran yang terkait dengan lingkungan tersebut. Dengan energi musik yang kuat, Sbplusix ingin menekankan pentingnya mengingat tempat pulang dalam perjalanan hidupnya. Sebagai seorang seniman multifaset, Sbplusix telah menciptakan karya musik yang menggabungkan hip-hop dan R&B dengan sentuhan artistiknya sebagai seorang desainer dan artis visual.
S terbaru Sbplusix berjudul “WHEREIM@” telah tersedia di berbagai platform streaming musik.
Jaydawn merilis single ‘Cek TKP’ ini sebagai foreplay sebelum album penuh nya rilis. Di single yang dirilis pada hari ulang tahun nya ini, Jay menggandeng Nartok dan Al Smith sebagai MC. Produser hip hop mana lagi yang membuka lagunya dengan sebuah sampling dari film bokep semi kaset betamax hasil ngerental? Lagu ini dibuka dengan sample dialog dari film “Golok Setan (1983), Lalu disambut basslines yang cukup familiar dari score film Inglorious Basterds-nya Tarantino. Sound bass empuk yang enak ini pun menyelimuti lagu. Beat gelap Jay yang khas dan sudah diperkenalkan di EP “Darker Dawns Ahead†3 tahun lalu kembali menghantui track ini. Delivery Nartok di verse awal sangat lugas dan padat. Kamu pun akan bertanya-tanya “berapa lama MC ini kuat menahan nafas didalam air?â€.
Al Smith menyambut verse 2 dengan flow yang lebih santai pada awalnya “Tendang rima ke kepala gaya popo Kanjuruhan di tengah kerusuhan beat ala Jaydawn“, sebelum he goes all loco rappin in full speed di beberapa bar terakhir. Lagu ini juga mempunyai beberapa rima yang cukup memorable, salah satunya adalah: “Tulisan ku dicuri bak Lukisan Raden Saleh / tapi ku takkan peduli karna kau takkan peroleh style rima orisinil ala Arab Condetâ€. Lagu berdurasi 4 menit ini pun diakhiri dengan outro jazz, dan kalian pun serasa di teleport ke sebuah jazz bar obscure di tengah kota. ‘Cek TKP’ adalah sebuah single yang sangat menjanjikan.
Beats-beats, produksi sample dan hasil remix Jaydawn mungkin sudah pernah kamu dengarkan di full album Krowbar yang bernuansa psychedelic, Bars of Death yang layer lagunya dipenuhi horn section dan sampling film, Rand Slam, Taring, Jeruji, Homicide, Efek Rumah Kaca dan tentunya group hip hop Jay yang bernama Eyefeelsix. Sound-sound gitar busuk dari website psychedelic Vietnam sampai film-film kung fu dari tahun ‘70-an pun Jay jadikan sample di beat-beats yang dia buat. Bersiaplah, karena dalam waktu dekat ini Jaydawn akan merilis full albumnya yang bertajuk “Sekte Air Mata Odinâ€. Tentunya dirilis oleh the usual suspects; Grimloc Records.