Setelah merilis 4 single dari November 2022 sampai Juli 2023, Cito Gakso baru saja merilis album yang berjudul “YOUR FAVORITE DEMO”. Album perdana dari rapper, model dan visual artist ini berisi 12 trek dan melibatkan 6 produser, termasuk Cito Gakso sendiri. Di album ini, Cito juga berkolaborasi dengan beberapa artis Hip-Hop & RnB tanah air, seperti GALLYGLITCH, ATRiA dari The Couch Club, KidQuest, dan Isiah dari grup ENVY*.


Album “YOUR FAVORITE DEMO” adalah manifestasi ambisi dan impian Cito Gakso sebagai seorang musisi yang ingin menunjukkan eksistensinya. Album ini mencerminkan perjalanan hidupnya yang penuh kepercayaan diri, harapan, cinta, dan pahit manis. Dengan beragam instrumen dan switch beat pada setiap lagu, album ini menunjukkan sisi eksperimental Cito Gakso dan mengeksplorasi evolusi musikalitasnya sejak EP pertamanya, “In Dream Awake”. Cito berharap album ini menjadi favorit para pendengarnya, dan ia menyatakan bahwa album ini menampilkan kematangan musikalitasnya tanpa kehilangan karakteristik khas Cito Gakso yang menyenangkan.

Muchos Libre, rilis single baru dengan tema yang serius. Single yang berjudul “Dunia Tanpa Abu-Abu” ini menceritakan perjalanan seorang individu yang mengalami proses hijrah, dan bagaimana ucapan seorang teman membuat Korongmentah, merenungkan arti agama yang hanya mengenal hitam dan putih. Meskipun jarang mengambil jalur serius, Muchos Libre berhasil menghadirkan nuansa berbeda dalam lagu ini dengan menggabungkan elemen musik baru yang belum pernah mereka eksplor sebelumnya. Single “Dunia Tanpa Abu-Abu” menjadi bagian kedua menuju album mereka yang direncanakan rilis pada bulan Agustus 2023.

Perubahan gaya musik menjadi sorotan dalam single terbaru Muchos Libre, “Dunia Tanpa Abu-Abu.” Mereka biasanya dikenal dengan gaya musik garage rock yang khas, namun kali ini mereka memberikan sentuhan berbeda dengan mencoba unsur-unsur baru. Lagu ini membawa cerita tentang seseorang yang berpikir tentang proses hijrah dalam hidupnya, sekaligus mencermati pernyataan drastis seorang teman mengenai ketegasan hukum agama yang tak mengenal abu-abu. Meskipun tema serius, Muchos Libre tetap mempertahankan identitas mereka sebagai band komedi dan ugal-ugalan, menunjukkan kedewasaan dalam eksplorasi musik mereka. Single ini menjadi prolog menarik untuk album mereka yang dijadwalkan rilis di bulan Agustus 2023, dan telah dapat dinikmati di berbagai platform streaming musik.

Setelah berkarya dan merilis musik secara prolifik, eleventwelfth akhirnya merilis debut album mereka yang bertitel “Similar”. Dari pertama muncul hingga debut album ini, mereka masih bermain di area abu-abu di antara midwest emo dan math-rock, dan mereka memang terlihat nyaman berada disitu. Album ini dibuka oleh petikan gitar dan cengkok vokal yang membawa kamu bernostalgia pada era album-album emo third wave di tahun ‘2000an awal. And it’s a great thing. Pada “back-when-i-leaned-my-back” vokalis Rona Hartriant melantunkan “Allow me to rewind our better days / It perfectly reminds me when our life was quite arrayed”. Bersiaplah untuk berhitung, karena saat gitar akustik berakhir, band ini masuk ke bridge instrumental yang bernuansa math-rock. Sebuah track pembuka yang manis sekaligus banger pada saat yang sama.

Track kedua yang bertajuk “only if you weren’t so loud” masih bermain dalam sinkop-sinkop math rock dan progresi chord midwest emo yang membius. 50 detik terakhir lagu ini adalah part favorit saya. Seolah mereka sudah mengajakmu masuk lebih dalam dan mengajakmu untuk tinggal lebih lama dan membuatmu nyaman di rumah yang bernama “Similar” ini. Lagu ketiga (‘KALA’) kembali meneruskan mood 2 lagu sebelumnya, kali ini dengan featuring dari Mario Camarena dari band math-rock asal Kalifornia bernama CHON. Sebuah track instrumental yang indah, dengan klimaks pada menit ke 2:30 ketika lead gitar Mario menyambut musik eleventwelfth. Track berikutnya yang berjudul “another night awake with you on my mind” kembali menyuguhkan musisi tamu; Adeliesa pada vokal. Sedikit mengingatkan pada kolaborasi mereka dengan Asteriska pada lagu “your head as my favourite bookstore” yang dirilis tahun pada tahun 2017.

Track “(stay here) for a while” adalah sebuah track yang manis, dan sepertinya bisa mengganti playlist Turnover di coffee shop-coffee shop obscure. “ANTARA” kembali membawa eleventwelfth ke ranah akustik. Komposisi instrumental ini ditemani elemen elektronik yang minimal ala band-band indietronica, yang formula nya sedikit mengingatkan saya pada sebuah lagu Styrofoam feat. Ben Gibbard. “destined (to fade)” caught me off guard karena mereka memasukan unsur scream yang disambut oleh synth dan glitch. Mereka benar-benar versatile. Lagu “every question i withhold, every answer you never told” tentunya akan menjadi crowd favorite di setiap performa mereka. Begitu juga dengan “the more i trace you forthwith, the less i want to know where to find you”. Sebuah single material indeed. Distorsi yang warm menyelimuti setiap petikan gitar dengan layer noisy dibelakangnya. Lalu ada choir anak kecil ditengah lagu, yang jika direalisasikan di performa mereka tentu akan membuat bulu kuduk berdiri. Mungkin ini lagu favorit saya di album ini. Seperti yang mereka janjikan, “Similar” adalah sebuah album dengan no skip, no shuffle. Kalian memang diundang untuk menikmati the whole package. Catch them on tour, you won’t be disappointed.

Pada hari Sabtu (22/7), Flash Coffee bekerjasama dengan BDG BMX sukses menggelar event bertajuk “Dare to be Different” di Braga City Walk Bandung. Acara yang digelar dalam rangka menyambut BMX Day ini menampilkan berbagai kompetisi seru untuk para penggemar sepeda BMX, dengan hadiah total jutaan rupiah.

Acara ini dibuka oleh penampilan dance hip-hop lalu dilanjut oleh “Bunny Hops Contest”. Keahlian dan ketangkasan peserta diuji dalam kompetisi ini untuk meraih hadiah yang menarik. Selanjutnya, ada “Rail Trick Contest” yang menantang peserta untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam melakukan trik-trik di atas rel atau railing. Lalu, kompetisi dijeda dulu oleh penampilan dari solois hip-hop Syaeqi. Setelah penampilan enerjik dari Syeqi, dilanjut oleh “Trick BoxContest” di mana peserta akan menunjukkan kreativitas mereka dalam melompat dan melakukan trik di atas kotak yang disediakan. Para peserta yang berhasil menunjukkan kemampuan terbaiknya di setiap kompetisi meraih hadiah dengan total jutaan rupiah. Dare to be Diferent on BMX Day ditutup oleh penampilan dari Baby Lana.

Secara keseluruhan, event “Dare to be Different on BMX Day” oleh Flash Coffee dan BDG BMX merupakan acara yang sangat menarik dan menghibur sambil memperingati hari BMX sedunia. Melalui kompetisi-Selain itu, acara ini juga memberikan hiburan yang menyenangkan bagi pengunjung yang hadir di Baga City Walk, Bandung. Semoga ke depannya akan ada lebih banyak acara serupa yang diadakan untuk mempromosikan olahraga dan kreativitas di kota Bandung.

 

Photos taken from Flash Coffee documentation

Oppenheimer adalah karya epik terbaru Christopher Nolan yang akhirnya tiba, pertanda sekarang adalah puncak dari perilisan film blockbuster musim panas. Oppenheimer memulai debutnya bersama Barbie, dan Mission Impossible: Dead Reckoning Part One yang mendarat lebih dari seminggu sebelumnya. Sementara film-film yang disebutkan di atas jauh lebih mudah dicerna (walaupun masih sangat menyenangkan untuk ditonton), Oppenheimer adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Dalam runtime tiga jamnya, narasinya tidak melambat, penonton akan dimanjakan secara visual dan auditori, dan intensitas film terus bergulir dengan cepat tanpa henti. Singkatnya; ini adalah film yang padat – dan jika kamu belum minum kopi sebelum pertunjukkan dimulai, beberapa poin penting dalam plot dapat dengan mudah lolos dari otak kamu.

Tidak seperti seniman, pendekatan Christopher Nolan pada sinema lebih seperti ilmuwan: logis, teknikal dan penuh pendalaman riset. Saya sangat menikmati karya-karya Nolan ketika dia bermain di genre film noir (Memento, Insomnia & The Dark Knight). Tetapi akhir-akhir ini, Nolan lebih nyaman menggunakan sci-fi sebagai mediumnya. Dimulai dari Inception yang inovatif, sampai Interstellar yang konon teori-teori wormholenya sangat valid (dan bahkan memberikan sudut pandang baru terhadap teori fisika kuantum). Lupakanlah Tenet yang pretensius, dan sambutlah Nolan dengan film biopic terbarunya: Oppenheimer. Oppenheimer adalah sebuah biopic mengenai J. Robert Oppenheimer; ilmuwan pencipta bom nuklir dan seorang figur historikal. Selain Oppenheimer, di film ini juga tampil beberapa ilmuwan terkenal seperti Niels Bohr, Werner Heisenberg, Ernest Lawrence, Enrico Fermi & tentunya Albert Einstein, pencipta teori relativitas (yang secara tidak langsung “membantu” penciptaan bom nuklir).


Kenekatan Nolan dalam membuat film-film nya dengan CGI yang minim (atau kadang nir-CGI seperti di film ini) adalah sesuatu yang cukup spektakuler di era digital dan A.I. Nolan sebelumnya membuat scene koridor “anti-gravitasi” dengan rumit di Inception, kali ini Nolan bahkan me-rekreasi detonasi nuklir tanpa bantuan CGI. Dalam beberapa interview pun Nolan memastikan tidak ada shot yang menggunakan CGI di film ini. Memang practical-effect jauh lebih dashyat efeknya ketimbang digital CGI. Lihat saja animatronic yang digunakan Steven Spielberg di Jurassic Park atau Jaws, atau bahkan efek-efek gore di film horror yang dibuat oleh Tom Savini (Dawn of the Dead, Friday the 13th & Texas Chainsaw Massacre 2). Practical effects lebih memorable, epik dan tentunya terlihat lebih nyata ketimbang efek digital. Dan ini adalah pilihan yang tepat untuk Oppenheimer. Oppenheimer juga adalah film pertama Nolan yang tidak didistribusikan oleh Warner Bros sejak Memento (2000), dan mendapat rating R sejak Insomnia (2002).

Oppenheimer adalah sebuah studi-karakter yang dikemas sebagai spy-thriller. Scoring epik dari Ludwig Goransson juga membantu meng-elevate film ini sehingga intensitas tetap terjaga di film berdurasi 3 jam ini. Dari segi visual, DOP / sinematografer Hoyte Van Hoytema (Interstellar, Dunkirk, NOPE) sudah tidak perlu diragukan lagi. Nolan memaksimalkan semua aspek dan detail, dari kostum, produksi set sampai sound design yang canggih. Uniknya, di sebuah film Christopher Nolan, penonton seolah sudah tidak peduli lagi akan aktor-aktor yang bermain disini, karena Nolan adalah seorang auteur. Ini adalah sebuah ekskursi yang berlimpah akan bintang-bintang: Cillian Murphy, Emily Blunt, Matt Damon, Robert Downey Jr, Florence Pugh, Casey Affleck, Rami Malek, Benny Safdie, Kenneth Branagh, Gary Oldman, dan masih banyak lagi. Sebuah film dimana fisika kuantum dan politik hubungan internasional beririsan, sebuah drama dan studi karakter yang dalam dengan latar belakang perang dunia 2. Sebuah film yang mempertanyakan moralitas dan kemanusiaan itu sendiri. Tidak diragukan lagi, dengan banyaknya detail plot yang ingin disampaikan dan dialog yang membombardir, menonton ulang Oppenheimer kemungkinan besar akan menjadi cara terbaik untuk membedah dan memahami sepenuhnya film ini, serta menghargai cerita yang coba diceritakan oleh penulis/sutradara Christopher Nolan. Oppenheimer adalah karya terbaik Christopher Nolan. Sebuah magnum opus.

Kiko Wikarta, penyanyi, penulis lagu, dan multi-instrumentalis asal kota Bandung, berkolaborasi dengan Bojess (A Little Less 16) untuk mengisi rhythm & riffs, serta Mahfi G Sjaftarie pada drum dalam proyek solonya yang baru. Bersama-sama, mereka merilis single terbaru berjudul “999” (Triple 9) pada hari Rabu (19/7). Single ini menjadi pembuka dari EP yang akan segera dirilis, dan Kiko ingin menampilkan genre musik post-punk, art rock, serta avant-type beat yang mungkin belum banyak didengar oleh sebagian orang dengan judul yang unik “999” Triple 9. Dalam rilis persnya, Kiko Wikarta menyatakan bahwa lagu ini menghadirkan suara dan lirik yang dapat terhubung dengan para penggemar musik seperti DIIV, Black Midi, hingga King Krule.


Kolaborasi dengan Bojess dan Mahfi G Sjaftarie membawa warna yang segar dan kuat dalam lagu “999,”. Single ini dapat dinikmati di berbagai platform musik digital.

SUISSAC Super Group/Essentials Rock, dari Bandung, muncul dengan semangat dan ambisi tinggi. Dibentuk oleh proyek visioner yang diprakarsai oleh Angga Kusuma (Asiaminor/SSSLOTHHH/Billfold/Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy/Rock N’ Roll Mafia), mereka berusaha menciptakan suara segar dan berbeda dari band-band sebelumnya. Dengan dukungan dari Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor), proyek ini akhirnya dikenal sebagai Suissac. Gabungan talenta para musisi yang beragam telah menghasilkan karya yang unik dan menggugah, membuat Suissac menjadi sebuah proyek menjanjikan dalam industri musik.

EP “Magnanimous” yang dirilis oleh Disaster Records ini mengeksplorasi keberagaman manusia dan fenomena kehidupan sehari-hari, serta pentingnya menjalin hubungan tulus dengan lingkungan sekitar. Dalam era modern yang penuh perubahan dan tantangan, EP ini mengajak pendengar dalam perjalanan emosional yang mendalam dengan kekuatan lirik yang menggugah dan melodi yang memukau. “Magnanimous” menjadi cerminan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkan. Lagu-lagu ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya hubungan manusia dalam perjalanan hidup ini, serta bagaimana tindakan kecil dapat membawa perubahan besar bagi dunia di sekitar kita. EP ini menjadi sajian yang menarik, khususnya dengan sentuhan suara distorsi hingga ketukan yang padat, yang semakin dikuatkan dengan kolaborasi dengan produser Alyuadi “Heals/Fuzzy I”.

Gergasi Api adalah duo yang diperkuat Ekyno (Full of Hate, Plum) dan Alexandra J. Wuisan (Sieve, Cherry Bombshell). Mereka baru saja merilis debut albumnya “Red Knight” via Lawless Records. Sebuah debut album yang atmosferik, dan dipenuhi elemen-elemen dari post-metal, industrial, dream pop, shoegaze dan ambient electronica. Tentu saja album ini gelap, apalagi mereka mengajak illustrator Morggth dari Rajasinga untuk menghiasi kover dan booklet albumnya. Mari berbincang dengan Alex dan Eky jika kalian penasaran dengan 3 album apa saja yang akan mereka bawa jika terdampar di sebuah pulau kosong..

“Bikin album tapi ga ada rilisan fisik kayak gimana gitu ya, walaupun kita tau industri nya sekarang lagi ke streaming online kita tetap berprinsip kalau rilisan itu harus ada bentuk fisiknya”

Halo Gergasi Api, congrats atas perilisan debut album nya! Apa kabar? Sedang sibuk mengerjakan apa saja nih sekarang?
Alexandra: Halo Jeurnals. Kabar baik. Terima kasih sudah mau mewawancarai kami. Kami sedang mempersiapkan diri untuk showcase.

Ekyno: Kita lagi mau bikin video kedua juga, lagi mikirin konsepnya..

Kalian kan datang dari background yang cukup berbeda, dimana Alex sebelumnya bermain di genre dream pop dan goth rock (Cherry Bombshell, Sieve), dan Eky di hardcore / industrial (Full Of Hate, Plum). Apa yang menyatukan kalian di Gergasi Api? Kalian lebih nyaman disebut sebagai band apa? Post metal mungkin?
Alexandra: Ini menariknya. Konsep Gergasi Api semenjak awal memang akhirnya, sesuai proses berkarya adalah menitikberatkan pada eksperimen menggabungkan polaritas karakter-karakter yang muncul dari eksplorasi bermusik kami. Banyak unsur selain post metal. Karena alur bermusik kami dalam satu lagu pun bisa berubah. Unpredictable.

Ekyno: Karena memang kita dulu di Bandung satu tongkrongan, bisanya kita saling support dan gue pun dengerin banyak genre, termasuk dream pop dan shoegaze. Dari dulu gue memang doyan vokalnya Alex, emang bisa nyanyi dia hahahahah. Kalo genre… Hmmm disebut post metal ga juga sih, kalo terinfluence iya. GA lebih ke experimen sih… Bebunyian dan mengexplore lebih jauh vokalnya Sandra juga, dulu kan vokal Sandra lebih ngambang, karena tuntutan musiknya juga kali…. Sekarang kita maksimalkan skill bernyanyi nya Alex, lebih lugas. lebih berwarna lah. Yang menyatukan nya apa Lex? Hahaha.. Mungkin ternyata kita punya kesamaan visi dalam bermusik, pengen bikin sesuatu yang baru, at least menurut kita.

Alexandra: Nah iya ini penting. Visi kita sama. Sangat “rare” menemukan “jodoh” berkarya musik seperti Eky. Chemistry kita sangat spot on. Nah ini chemistry penting. Skill kreativitas dan eksplorasi Eky menggabungkan influence-influence yang ada menjadikan sesuatu yang baru gila sih. Bukan type copy paste dia. Avantgarde orangnya. Hahaha..

Gergasi Api itu dimulai dari kapan? Apakah ini proyek pandemi dimana biasanya orang-orang lebih produktif berkarya disaat pandemi?
Ekyno: Cikal bakalnya GA sebetulnya harus ditarik jauh ke tahun 200, ketika gue bikin projek musik sendiri, dan gue pengen Alex ngisi vokal salah satu lagunya, tapi ga kesampean….. Hahaha.. Kemudian pas mulai pandemi, disaat stress melanda gue coba bikin lagu lagi. Dapet beberapa lagu dan gue teringat sama Alex lagi untuk mengisi satu lagu. Berharap WA gue dijawab, karena kita udah lama banget ga kontakan….. Eh ternyata dijawab… Dan dia semangat mau bantuin.

Dari situlah kita intens lagi kontakan sampe akhirnya tercetus… Apa buat band aja ya? Lagu pertama yang jadi cikal bakal GA itu yang judulnya “Sacred Second”, tadinya bukan lagu buat GA. Untuk menyesuaikan dengan konsep GA kemudiaan gue aransemen ulang.

Alexandra: Pas banget momentumnya gua pengen bermusik lagi, Eky kontak kasih lagu kerangka “Sacred Second” untuk proyek solonya “Puerta”. Dia nge-push gua juga untuk bervokal tidak seperti sebelum-sebelumnya. Begitu mendengarkan lagunya, langsung merasa, nah ini, tantangan baru. Sulit tapi berasa “at home”. Lagu-lagu Eky, terdengar sophisticated dari awal, baik konsepnya mau raw maupun polished.

Kalian lebih prefer mana kalau boleh memilih: Jadi band yang prolifik merilis karya atau band yang sering manggung dan tour?
Ekyno: Kalo gue pribadi sekarang…. Pengen manggung / tour…. Tapi mungkin intensitasnya tidak terlalu padat, karena gue pun ada pekerjaan lain. Tapi dengan rilisnya album inipun buat gue sudah sebuah pencapaian, jadi let see lah ini akan kemana. Kurang afdol juga kalo ga mnggung ya hehehe..

Alexandra: Yes setuju. Kalau bisa seimbang. Tapi seperti yang Eky bilang, sesuai flow sajalah. Kita bukan band ngoyo, tapi bukan pemalas juga. Yang pasti karena visi kita sama, segala sesuatu sampai saat ini berjalan sesuai dengan hasrat bermusik kita. Semua dipertimbangkan secara matang. Sesuai momentum.

Kenapa memilih Lawless Records untuk merilis album debut kalian? Awalnya gimana ceritanya proses nawarin ke Lawless?
Alexandra: Lawless Jakarta Records sudah kami incar sedari dulu sebenarnya. Karena kami berpikir ada kontribusi baru yang bisa kami tawarkan lewat musik kami yang eksploratif dan berkembang. Kami juga cocok dengan cara kerja Lawless yang jernih, jelas dan detail dari awal. Selain rilisan fisik yang selalu hasilnya maksimal. Ini salah satu alasan yang kita kejar. Kerjasama Morrgth sebagai desainer dan seniman untuk cover juga cocok dengan konsep Lawless.

Ekyno: Bikin album tapi ga ada rilisan fisik kayak gimana gitu ya, walaupun kita tau industri nya sekarang lagi ke streaming online kita tetap berprinsip kalau rilisan itu harus ada bentuk fisiknya dengan artworknya. Karena semua menjadi satu kesatuan yang ga bisa dipisahkan menurut gue. Menikmati cover art dan content nya sambil mendengar musiknya adalah sebuah kesatuan konsep dan Lawless masih true seperti itu. The old ways.

Kenapa memilih artwork dikerjakan oleh Morrgth? Tema-tema apa saja yang kalian angkat di artwork dan lirik-lirik lagu kalian?
Alexandra: Hahaha… Morgan atau Morrgth selain memiliki gaya ilustrasi seni yang kita suka, dia dapat menginterpretasikan konsep musik dan lirik dengan unsur simbolik yang dia serap menjadi sesuatu kesatuan yang epic. Warna dan nuansa sesuai warna musik juga yang dibuat Eky. Temanya sesuai storytelling yang gua buat. Nah ini panjang…

Storytelling bisa didapat di poem per lagu dan liriknya. Bebas interpretasinya sesuai visual yang dipersembahkan Morgan buat album “Red Knight”. Asik lagi maen tebak-tebakan hihihi.. Unsur mitologi dan spiritual sangat kencang. Overall perjalanan, Death/Life cycle ruh yang kita bisa relate, with mythical/psychological/spiritual journey.

Pertanyaan terakhir: jika kalian terdampar di suatu pulau, 3 album apa yang akan kalian bawa dan kenapa?
Alexandra: Terus terang jarang lho gua suka seluruh musik di satu album. Tapi emang ada beberapa album yang hampir seluruh musiknya gua suka. Seperti:
1. Florence + The Machine – “Dance Fever”, Biar semangat hidup, cari cara keluar dari pulau.
2. Emma Ruth Rundle – “Engine of Hell”, When all hopes seemed all gone, siap jadi orang “gila” sesaat biar kembali “waras”.
3. Playlist Kpop yang gua bikin. Stress ga sih terdampar di pulau. Hahaha

Ekyno:
1. David Bowie – “Rise and Fall of Ziggy Stardust and the Spiders From Mar”s
2. Killing Joke – S/T
3. Black Sabbath – S/T
Semuanya merupakan album yang buat gue membawa perubahan setelahnya, progresif, lebih maju dari zamannya.
4. Faith No More – “Angel Dust”, Kalau boleh nambah satu ini juga deh, ga bosen-bosen juga denger nya.

Text by Aldy Kusumah
Photo from Gergasi Api’s archives

Tenanggg. Tidak akan ada pembahasan soal stereotip dan analisis mendalam soal terminologi emo di dalam tulisan ini. Jadi kalau kamu mencari poin-poin soal dinamika (atau potongan-potongan opini) perihal per-emo-an di sini sebagai bensin pemantik kericuhan seperti cuitan netizen di Twitter beberapa waktu lalu soal istilah midwest, sayangnya kamu salah kamar. Bagaimana kalau saya sarankan kamu untuk membaca artikel Jeurnals yang lainnya di sini? Oke? See you later~

Nah, mari kembali ke topik yang payung bahasannya sudah terpapar lumayan jelas di judul tulisan ini. Emo. Entah kenapa istilah ini masih terkesan anomali sampai sekarang. Meski sudah banyak publikasi dan juga sejumlah paparan diskursus soal sisi etimologi juga runutan historis istilah tersebut, tetap saja yang menjadi deskripsi top-of-mind di dalam benak kebanyakan khalayak ramai global adalah sebuah estetika musik dan fashion yang sempat mengalami peak-nya di pertengahan tahun 2000-an silam.

Kalau kamu lupa akan preferensi dominan dari publik akan emo, silahkan cek foto-foto di bawah ini.

Okay. Mungkin bagimu yang sempat mengalami atau mengamati fase Y2K emo di kala itu tentunya akan langsung click akan momentum yang lumayan krusial di gelembung musik dan subkultur global tersebut. Untukmu yang masih tak paham, akan saya paparkan konteksnya sedikit.

Di pertengahan tahun 2000-an muncul fenomena gerombolan pemuda-pemudi berdandan gothic maksimal yang biasanya menggunakan moda Myspace – media sosial anak skena pada zamannya yang ngetop – untuk berjejaring dan mengekspresikan dirinya sendiri. Golongan emo era ini sangat distingtif di berbagai aspek dengan para predesornya di era Revolution Summer, gelombang skramz awal atau pun gelombang Jade Tree Records juga Revelation Records di tahun 90-an.

Apabila para predesor emo sebelum era Y2K masih terbilang ‘normies’ untuk aspek fashion, kawanan Y2K emo terbilang lebih all out untuk urusan penampilan. Choker, eyeliner, tebaran piercing, tato, lipstik hitam ahhh you name it. They got every goth item to amplify their ‘emotional’ aspect.

Dari segi musik sendiri, musik dari band-band emo populis yang lalu lalang di berbagai media massa kala itu adalah identitas bagi para kawanan Y2K emo. Band-band macam My Chemical Romance, Paramore, Hawthorne Heights dan semacamnya menjadi soundtrack kehidupan para emo MTV ini dan tak jarang ditemui di kolom bio Myspace mereka – karena mungkin lirik musik dari band-band tersebut terasa relate untuk para anak muda depresif itu.

Geliat pergerakan para kawanan Y2K emo ini terbilang berdurasi singkat – karena tiba-tiba di paruh awal tahun 2010-an jumlah mereka drastis menurun seiring di berbagai halaman media sosial mau pun pemberitaan kala itu. Belum lagi band-band favorit mereka mulai banyak yang mengalami fase gamang. Entah memang tiba-tiba berhenti seperti apa yang My Chemical Romance lakukan di saat itu atau band-nya sendiri mengambil manuver musik yang lumayan jauh dari nuansa musik yang membesarkan mereka di era keemasannya. In a flash, Y2K emo was gone for good. At least for a while.

Hampir satu dekade berlalu setelah senyapnya hiruk pikuk keberadaan Y2K emo di berbagai halaman media sosial. Sampai akhirnya kurang lebih setahun yang lalu hingga kini, entah bagaimana tiba-tiba ada gelombang kemunculan baru dari para kawanan itu  di platform media sosial favorit masa kini bernama Tiktok – dan menariknya, kini gerombolan ini bak mengalami regenerasi yang mumpuni. Bukan hanya para millennial yang sempat khusyuk tergabung di lingkup tren keniscayaan zaman itu saja, tapi kini para generasi di bawah mereka pun ada yang lebih all out untuk mengekspresikan estetika Y2K emo di platform tersebut.

Coba tengok sosok influencer Tiktok macam Mad Molly, Hopey Hazbin atau Fernie Mac yang kerap kali mengunggah banyak konten soal trivia Y2K emo lengkap dengan dandanan mereka yang super all out. Ring any bell? Atau seperti sosok Jessica Conrad, salah satu yang dikenal paling fenomenal di Tiktok karena bisa menyuguhkan konten penuh humor tentang skena Y2K yang super duper relevan.

What happened with this resurgence of Y2K emo on Tiktok?

@madmolly #scene #scenekid #scenekids #scenequeen #alternative ♬ Spelljam – SVDDEN DEATH


Eksistensi elder emos adalah benih utama penyebaran trennya di Tiktok
Tentu riak akan paparan estetikan Y2K harus dimulai dari hal yang kecil untuk bisa menciptakan gelombang yang lebih besar bukan? Sepertinya memang ada faktor dimana para pengguna atau influencer Tiktok di kisaran umur 30-an macam Jessica Conrad-lah yang memberikan pengaruh akan paparan perdana banyak user Tiktok – yang mayoritas masih muda dan sama sekali belum lahir ketika tren Y2K emo muncul.

Patut diingat kalau algoritma Tiktok punya salah satu sistem yang terbaik dibandingkan jajaran media sosial masa kini lainnya. Sudah bukan rahasia kalau kode algoritma feed personalization milik Tiktok lebih wahid  dibandingkan dengan apa yang dimiliki Meta – dan itulah mengapa tren Y2K emo bisa dipaparkan ke generasi di bawah para penggiat Y2K dengan lebih efisien.

Mari ambil sampel konteks kasus sesederhana ini: kalau kita mengikuti Jessica Conrad di Tiktok yang kerap kali mengunggah konten seputar lika liku dan anekdot tren Y2K emo dan kita kerap kali menyukai konten yang ia buat tersebut, algoritma Tiktok akan dengan sigap melancarkan kodenya untuk menyajikan banyak konten yang temanya berkaitan dengan konten milik Conrad. Setiap swipe setelah melihat konten Y2K emo milik Conrad, akan muncul lebih banyak lagi konten-konten bernuansa serupa untuk feed sang pengguna.

Dengan metode macam itu, tentu paparan konten yang dilihat oleh sang pengguna lambat laun akan tertanam di benaknya dan tinggal urusan brainware-nya saja untuk menerimanya. Tapi dengan ramainya konten Y2K yang bertaburan di sana, sepertinya memang banyak pengguna Tiktok yang akhirnya tergaet oleh pesona tren Y2K emo haha!

@phonyghost #greenscreen #emo #throwback #fyp #scene #blackveilbrides #bvb ♬ Oh No! – Marina and The Diamonds

Y2K emo adalah salah satu produk ‘unggulan’ monokultur 2000-an
Tidak seperti hari ini dimana semua orang punya platform media sosial yang memberikan mereka konten sesuai dengan algoritma perilaku penggunanya, di era pra-akses internet personal hampir seluruh asupan informasi (termasuk aspek informasi budaya pop serta musik) masih dikekang oleh beberapa media yang terpusat macam televisi, radio sampai media cetak – hal itu menyebabkan arus penyebarannya masih bersifat tunggal alias mono. Dan Y2K emo adalah salah satu produk hasil dari proses monokultur tersebut.

Coba kamu ingat-ingat masa itu. Ketika kamu belum terlalu paham akan manfaat internet terbatas pada kala itu untuk mencari informasi seputar musik atau pun subkultur, apa yang kamu gunakan sebagai acuan selera fashion dan musikmu? MTV? Majalah Hai? Program radio yang memutarkan lagu-lagu populer? Itulah yang saya maksud. Band-band Y2K emo justru mendapatkan spot menguntungkan di moda-moda monokultur tersebut.

Bagaimana video klip “Helena” dari My Chemical Romance yang mondar mandir tayang di MTV akhirnya membuat anak muda non-komplek masa itu akhirnya terpapar oleh emo atau bagaimana lagu “Misery Business” dari Paramore yang kerap kali high-rotation di berbagai stasiun radio seluruh dunia pada masa itu bisa merubah daftar putar Nokia N-Gage banyak anak sekolah masa itu yang terlalu picisan menjadi emo adalah hanya dua contoh konkret tentang begitu besarnya pengaruh ‘mesin’ monokultur pada masa itu untuk membuat eksistensi Y2K emo semasif itu.

Berkat moda monokultur macam itu, maka tak mengherankan pengaruh tren Y2K yang masif itu masih terasa imbasnya sampai hari ini – baik dari hanya sekedar pembahasan atau pun sebagai runutan historis yang tak bisa terelakkan. Itulah pula alasan kenapa artis-artis Y2K emo terasa masih everlasting keberadaannya sampai hari ini – karena mereka sempat berada di puncak arus industri musik kala itu berkat sokongan ‘mesin’ media monokultur saat itu. Dan ketika ada sebuah artis atau band yang sempat menaiki pacuan mesin monokultur itu, setidaknya eksistensi dia (meski secuil) akan tertoreh terus di benak masyarakat populis sampai kapan pun. Setidaknya sampai generasi berganti dan mereka sudah dianggap sebagai budaya primitif ketika waktu itu datang.

Poin ini berkaitan dengan poin sebelumnya tentang elder emos yang menjadi biang awal kemunculan Y2K emo di platform Tiktok. Bayangkan berapa banyak elder emos di berbagai belahan dunia yang merupakan hasil ‘doktrinisasi’ monokultur ini? Sudah jelas tak terhitung jumlahnya. Maka tak mengherankan ketika banyak orang yang sempat mengalami fase Y2K itu akan tetap membawa fase nostalgia itu ke unggahan media sosial mereka sampai kapan pun – dan turut mempengaruhi pengguna lain untuk tak malu mengekspresikan fase itu atau pun para pengguna muda yang lain untuk turut larut ke dalam euforia Y2K sebagai penangguhan jati diri mereka di dunia media sosial.
***
Penelusuran di atas tentu hanya masih terbilang dangkal. Mungkin masih banyak aspek yang bisa ditelaah lebih jauh akan kembalinya tren Y2k emo – bisa jadi dari sisi psikologi atau pun sosialnya belum sempat terjamah di tulisan ini. But in any possible way, kembalinya tren ini ke generasi hari ini adalah hal yang lumayan menyenangkan. Bagaimana tidak? Sebuah produk ‘budaya’ yang datang dari generasi yang dianggap menyebalkan oleh para generasi muda di bawahnya bisa menjadi relevan dan mewakili banyak identitas. Entah karena sebatas tren atau memang ada aspek lebih personal akan hal itu, one thing for sure emo ain’t gonna fade away anytime soon.

Text by Alis

Ada satu lagi destinasi kuliner unik dan nikmat di Bandung, dan lokasinya pun cukup unik: di ruko Segitiga Mas Kosambi. Ruko yang dari dulu terkenal menjual pernak-pernik komputer dan hardware itu kini salah satu lapaknya ditempati oleh TON Kedai. Sebuah kedai yang menyajikan makanan Asian fusion, masih persembahan dari team Gang Nikmat Cihapit dan chefnya Sandiyuda Dananjaya. Sandi dikenal lewat menu-menu sajian nusantara di Gang Nikmat: Sop Ayam Stamina, Sidat Asap dan Ayam Gulung. Kini Sandi mempersembahkan menu-menu yang cukup unik dan tidak akan kamu temukan di tempat lain: Nasi Ton Sapi Gulung & Mie Ton Sapi Gulung.

Seperti Gang Nikmat, makanan di TON Kedai adalah comfort food. Kaldu yang strong menyelimuti kedua menu andalan tersebut. Walaupun Mie TON masih bisa disebut sebagai modifikasi dari ramen, tetapi Nasi Godog Ton Sapi Gulung tidak bisa kamu temukan di tempat lain. Begitu versatilenya perpaduan dari onsen egg, ginseng dan kaldu ramen. Uniknya, setiap pesanan Mie & Nasi TON dapat kerupuk paru goreng kecil yang cocok di pairing bersama kedua menu tersebut. Kami pun memesan baso goreng, ayam crispy dan teh manis dingin. Biasanya jika sebuah tempat makan teh manis nya saja sudah enak, maka saya yakin mereka serius dalam menyajikan menu-menu mereka sampai ke detail terkecil. Kondimen baso goreng adalah salad dengan onion dilengkapi dengan saus mayo yang terasa seperti wijen sangrai, lezat sekali! Chilli oil nya pun salaman dengan ayam crispy nya yang menurut saya salah satu highlights disini. Tentunya sajian TON Kedai akan membuat kangen para pengunjungnya, apalagi kami yang masih belum mencoba sisa menu mereka: ayam panggang.

 

Text by Aldy Kusumah
Photo by Indan Gustian