Berawal dari proyek visioner yang diprakarsai oleh Angga Kusuma (Asiaminor/SSSLOTHHH/Billfold/Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy/Rock N’ Roll Mafia) yang ingin menciptakan sesuatu yang benar-benar belum pernah mereka lakukan dan berbeda dari band-band mereka sebelumnya. Dengan bantuan Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) proyek ini dikenal dengan nama Suissac. Nama “Suissac” sendiri terinspirasi dari petinju legendaris Muhammad Ali, yang memiliki nama asli Cassius Clay. Dengan kecerdikan, mereka membalikkan nama depan “Cassius” untuk menciptakan julukan unik “Suissac”. Terikat oleh gairah musik yang sama, keempat individu ini memulai perjalanan untuk menembus batasan-batasan musik rock.

Chrome Colosseum menceritakan kisah kehidupan, menggunakan Colosseum sebagai representasi metaforis dunia, dimana seseorang harus bertarung dan bertahan hidup. Suasana chrome/mirror memungkinkan individu untuk merefleksikan diri mereka sendiri. Dalam narasi yang hidup tentang Chrome Colosseum, kehidupan diibaratkan sebagai pertarungan sengit di dalam dinding-dinding luas Colosseum. Ini menjadi arena simbolis, di mana individu harus terlibat dalam pertempuran tanpa henti untuk bertahan hidup dan meraih kemenangan.

Setelah merilis single “Spoiled” beberapa waktu lalu, Denisa secara resmi telah merilis album keduanya bertajuk “St. Bernadette,” pada tanggal 16 Juni 2023. Album ini menampilkan persembahan visual dan bunyi yang menggambarkan hubungan antara kehidupan dan kematian. Denisa menjelaskan bahwa album ini bukan hanya tentang antikristus atau nilai-nilai agama, melainkan tentang pahitnya perjalanan mencari makna. Album ini berisi 10 lagu yang merangkum pengalaman Denisa dalam hidup, mulai dari masa kanak-kanak yang terasing, remaja yang kacau, jatuh cinta yang belum matang, hingga penerimaan akan kematian. Solois asal Jakarta ini mengungkapkan bahwa “St. Bernadetta” mencerminkan bagian-bagian kecil memoar pribadinya yang memberikan makna besar.

“St. Bernadette” diproduseri oleh Haecal Benarivo dari Morgensoll dan Denisa sendiri. Adam Bagaskara dari Pelteras juga berkontribusi dalam beberapa lagu. Denisa mencampurkan berbagai referensi musik, mulai dari pendekatan vokal pop hingga bunyi gitar yang berat dan depresif, menciptakan suasana yang muram di album keduanya ini.

Denisa menjelaskan bahwa judul album diambil dari sosok St. Bernadette Soubirous, seorang wanita kuat yang menemukan pencerahan melalui pengakuan dan penebusan dosa meskipun meninggal dalam penderitaan pada usia muda. Denisa merasa terhubung dengan konsep ini karena mengalami penderitaan yang membawa sedikit cahaya terang dalam hidupnya. “St. Bernadette” merupakan hasil eksplorasi tulisan-tulisan Denisa yang lebih puitis dan alkitabiah.

 

Pure Wrath adalah proyek solo dari Januaryo Hardy, yang memainkan atmospheric black metal. Band asal Bekasi, Jawa Barat ini sangat prolifik. Dari 2017-2023 Pure Wrath sudah merilis 3 album dan 1 EP: “Ascetic Eventide” (2017), “Sempiternal Wisdom” (2018), “The Forlorn Soldier EP” (2020) & “Hym to the Woeful Hearts” (2022). Mari berbincang dengan Pure Wrath A.K.A. Ryo mengenai corpse paint, sepanggung dengan Mayhem di Thailand dan scene black metal Perancis.

Halo Ryo! Bisa ceritakan sedikit histori awal lo bikin proyek solo ini sampai bisa bikin 3 album, 1 EP dan sampai jadi pembuka Mayhem?
Pure Wrath dimulai sebagai proyek solo di kamar tidur saya pada tahun 2014. Saya memulai Pure Wrath pada waktu itu hanya sebagai proyek sampingan di sela-sela aktivitas saya dengan Perverted Dexterity dan beberapa band death metal saya. Ide memulainya didasari oleh passion saya yang lebih besar dalam memproduksi musik dibandingkan dengan membawakannya di panggung. Maka menulis banyak lagu dan merilis album menjadi tujuan utama proyek ini pada awalnya, tanpa sekalipun terpikir untuk bermain live. Namun setelah album kedua “Sempiternal Wisdom” rilis, owner Hitam Kelam, Alm. Budi Leksono, pada waktu itu memberi beberapa pencerahan dan menyemangati saya untuk total memberikan seluruh energi saya pada Pure Wrath, karena menurutnya passion saya sangat besar di sini, sayang apabila tidak dibawa ke jenjang yang lebih besar lagi.

Seiring waktu berjalan, pada 2019 saya mulai mengumpulkan teman teman baik saya di death metal untuk membantu saya mempresentasikan musik Pure Wrath dalam live performance. Di tahun yang sama, saya juga merilis EP “The Forlorn Soldier” yang mulai diisi oleh beberapa musisi sesi dan bergabung bersama label asal Perancis, Debemur Morti Productions, dan berlanjut hingga album ketiga “Hymn to the Woeful Hearts” rilis pada 2022. Pada akhir 2022, kami diminta oleh salah satu organizer produktif asal Thailand untuk membuka gig Mayhem di Bangkok sebagai titik terakhir dalam tur Asia-Australia mereka di awal 2023. Kami diminta mengirimkan beberapa lagu terbaik kami untuk dikurasi oleh manajemen Mayhem sebelum pada akhirnya kami terpilih sebagai salah satu pembuka gig bersama band lokal yang juga teman lama kami di sana.

Pure Wrath by Kareem Nararya

Band-band Norwegian black metal kan lebih mengangkat tema-tema viking, satanisme, pagan dan agama. Kalau lo sendiri mengangkat tema apa saja di album-album lo? Kabarnya lo mengangkat tema pembunuhan masal 1965 di salah satu lagu ya.. Bisa ceritakan sedikit tentang itu?
Pada album pertama, saya coba menyampaikan beberapa pandangan pribadi terhadap kehidupan dan kepercayaan, namun saya rasa tema tema seperti itu terlalu personal dan kurang tepat untuk dibagikan ke khalayak. Lalu, pada album kedua, EP dan album ketiga, saya mulai berbicara tentang perspektif ideologis. Menurut saya, cerita tentang 65 adalah hal yang sangat wajib dibicarakan oleh saya sebagai generasi yang tumbuh di era reformasi. Kebenaran dalam genosida 65 tidak pernah diajarkan di sekolah, screening film dibubarkan dan propaganda orde baru masih disebarluaskan. Ini masih membuat keluarga saya yang juga kehilangan, merasa tidak adil dan janggal. Saya bukan personal yang politis, tetapi ada rasa janggal yang membuat saya harus ikut bersuara lewat musik. Karena itu yang bisa saya lakukan. Generasi sekarang juga harus aware tentang peristiwa genosida yang memakan banyak korban dan masih dipendam sampai saat ini.

Mendengar sedikit Mare Cognitum, Aggalloch, Wolves in the Throne Room dan sedikit Alcest di musik Pure Wrath. Apakah band-band tersebut mempengaruhi proses penulisan lagu?
Ya, bisa dibilang saya adalah penggemar setia band-band tersebut dan berani mengklaim diri saya sebagai penggemar Alcest nomor satu di Indonesia.

Saya tidak pernah membatasi ranah dengar saya pada saat menulis musik untuk Pure Wrath. Mungkin, beberapa band kawakan seperti Emperor, Sacramentum, Anorexia Nervosa, Winterfylleth hingga Drudkh bisa dibilang menjadi influence paling masif. Begitu juga pengaruh musik klasik seperti karya karya Chopin, Tchaikovsky, Mozart hingga scoring film garapan Hans Zimmer dan John Williams memberikan pengaruh paling penting dalam penulisan musik saya.

Artwork-artwork Pure Wrath sangat menarik dengan kemasan nuansa lokal tetapi tetap ada unsur kelam. Apa konsep visual Pure Wrath dan siapa yang mengerjakan artwork dan logo nya?
Konsep visual Pure Wrath akan selalu menyesuaikan dengan tema lirik. Artwork tiap album dikerjakan oleh orang yang sama, Aghy Purakusuma. Sedangkan logo yang digunakan saat ini dibuat oleh Rio Oscaryzm.

Biasanya band metal banyak yang pakai gitar-gitar jackson, Ibanez dan gibson. Menariknya Saya lihat mas Ryo menggunakan stratocaster / pacifica untuk rekaman dan live. Alasan memilih gitar tersebut?
Saya sudah coba beberapa gitar berbeda untuk live, namun Yamaha Pacifica murah yang tidak sampai dua juta rupiah ini-lah yang masih menjadi gitar terbaik yang pernah saya punya. Sangat ringan, fingerboardnya pun sesuai dengan ukuran jari saya. Saya hanya harus melakukan beberapa modifikasi di sisi wiring, pickup, fret agar suaranya presentable. Untuk produksi album, saya menggunakan PRS, karena kebutuhan sound yang lebih warm dan thick.

Pure Wrath by @darkofmoist

Sound Pure Wrath terdengar nyaman untuk didengar tidak seperti blackmetal raw ala Capathian Forest atau Darkthrone awal. Sound ideal Pure Wrath versi mas Ryo itu seperti apa? Dan efek dan equipment apa saja yang dipakai?
Terimakasih. Saya selalu ingin sound rilisan Pure Wrath terdengar modern, namun memiliki kesan saturasi old-school. Sebenarnya, tidak ada design khusus untuk sound, hanya saja tiap album selalu memiliki source dari interface dan preamp yang berbeda, terutama pada vocal dan gitar. Album “Hymn to the Woeful Hearts” bisa dibilang memuaskan untuk saya pribadi, karena semua instrumen direkam dengan alat dan instrumen yang terbilang vintage. Untuk equipment rekaman, saya tidak pernah menggunakan alat yang sama. Namun untuk live, saya menggunakan beberapa pedal dengan chain; Tuner Polytune, AMT M2, TC Electronics Hall of Fame 2, Mooer Radar (Dengan IR buatan pribadi dari speaker Greenback). Lalu ads microphone Shure SM58 atau Beta 58A, tergantung venue dan mood.

Pure Wrath lumayan prolifik juga sebagai proyek solo bisa menghasilkan 3 album dan 1 EP dalam waktu yang berdekatan. Gimana proses Pure Wrath bikin lagu dari sketch sampai recording biasanya?
Saya selalu merekam setiap ide riff yang muncul secepatnya ke komputer saya. Setelah terkumpul beberapa riff, saya coba membuat struktur lagu dengan riff riff tersebut. Kadang beberapa lagu malah langsung bisa ditulis sampai selesai dalam satu hari. Semua tergantung mood dan ide yang ada saja. Yang paling penting adalah waktu untuk langsung berada di depan komputer saat ide-ide muncul.

Label apa saja merilis yang versi kaset, CD dan vinyl Pure Wrath? Rencana rilisan berikutnya apa aja nih mas?
Sejauh ini, saya pernah bekerjasama dengan Hitam Kelam Records (Indonesia, RIP), Throats Productions (Mexico) dan Pest Productions (China). Saat ini masih kontrak dengan Debemur Morti Productions (France) untuk beberapa rilisan ke depan. Untuk rilisan selanjutnya, tentunya album keempat. Saya sudah mulai menulis beberapa ide lagu dan akan melakukan beberapa brainstorming dengan drummer sesi saya di Jerman pada bulan Agustus nanti, dan direncanakan untuk rekaman album keempat pada tahun depan di Jerman.

5 album blackmetal terbaik versi lo?
Emperor – In the Nightside Eclipse. Album yang berhasil membuat contekan struktur kompleks bagi beberapa band di era 2000an. Tema lirik, gaya artwork dan musik mencerminkan bahwa album black metal yang tidak berbicara tentang setan, agama atau paganisme juga bisa memiliki shock value.

Peste Noire – La Sanie des siècles. Album yang dibuat jelek secara sengaja, namun malah berhasil memberikan kesan nostalgia dan putus asa yang jauh dari kesan norak seperti band band DSBM masa kini. Album yang penuh dengan detail menggelitik yang hanya dapat dinikmati oleh sedikit dari banyak penikmat black metal, karena benar benar terdengar seperti kabaret sedih yang dimainkan oleh aktor aktor bermuka jelek yang mengejek.

Pure Wrath by Le Minh

Glaciation – Sur les falaises de marbre. Album yang berhasil mencuri waktu saya beberapa bulan untuk tetap mendengarkannya setiap hari. Kolektif musisi musisi kawakan asal Perancis yang berhasil meramu kreasi black metal avant-garde, namun tidak terkesan aneh dan asing bagi metalhead biasa sekalipun. Sedikit lebih baik dari album sebelumnya, 1994, hanya saya diisi oleh vokalis kegemaran saya, Hreidmarr.

Wodensthrone – Curse. Album yang stand-out menjadi influens utama Pure Wrath dari segi riffs dan struktur musik. Tidak banyak yang bisa saya jabarkan, karena saya sangat menyukai album ini dari semua aspek. Lagu penutup di album ini menjadi salah satu lagu terbaik yang pernah ditulis oleh sebuah band black metal.

Nécropole – Solarité. Album yang masih saya dengarkan hampir setiap hari. Karakter vocal yang sangat distinctive, riffs yang memorable, struktur musik, produksi sound yang lofi, minimalis dan terkesan tape-saturated menjadikan album ini sangat sulit untuk dilupakan di setiap list album terbaik yang harus saya buat. Tidak ada hal aneh atau avant-garde di album ini, hanya pure French black metal tanpa basa basi yang sangat sempurna.

Pertanyaan terakhir: apakah visual panggung Pure Wrath di album berikutnya akan ada niatan untuk lebih teatrikal seperti Watain mungkin? Atau memakai corpse paint?
Mungkin hanya beberapa tambahan dekorasi saja. Kami hanya fokus untuk deliver sound dan musik sebaik mungkin. Tidak ada rencana teatrikal atau bahkan corpse paint.

 

Text by Aldy Kusumah
Photo by Le Minh, Prita Mistika, Tino Guruh Putra & Kareem Nararya

Setelah 8 tahun hiatus, Blur akhirnya merilis album kesembilan mereka, “The Ballad of Darren”, yang dirilis pada Juli 2023. Damon Albarn menulis demo album ini di kamar-kamar hotel pada saat dia tour dengan proyek trip-hop nya, Gorillaz. LP berisi 10 lagu ini diproduksi oleh James Ford (Arctic Monkeys, Foals, Depeche Mode) dan direkam di Studio 13 di London dan Devon. Menurut Damon Albarn di press release nya, lagu ‘The Ballad’ adalah salah satu lagu yang ingin Damon selesaikan selama 25 tahun atas permintaan sahabatnya yang bernama Darren. Jadi ketika Blur menyelesaikan lagu itu, album ini hanya bisa memiliki satu judul – ‘The Ballad Of Darren’. Cover art untuk album ini menampilkan gambar kolam renang Gourock di Renfrewshire yang ditangkap oleh fotografer Inggris Martin Parr.

Hiatus sepertinya lekat dengan Blur, karena album kedelapan mereka yang sebelum ini juga (“The Magic Whip”, 2015), adalah album pertama mereka dalam dua belas tahun setelah “Think Tank” (2003) yang cukup revolusioner dalam segi sound. “Think Tank” yang diingat sebagai album Blur dengan kover Banksy ini adalah satu-satunya album Blur yang tidak mencantumkan Graham Coxon di credits, karena Coxon harus rehab karena ketergantungan alkohol pada saat produksi album. Damon Albarn dan kawan-kawan melanjutkan eksperimen mereka dengan suara elektronik dan juga dibentuk oleh minat Albarn yang tumbuh pada hip hop dan musik dunia via Gorillaz, “Think Tank” menampilkan karya gitar yang lebih minim. Coxon meninggalkan band selama sesi rekaman awal untuk Think Tank, dan Blur dibubarkan selama beberapa tahun setelah tur terkait album berakhir, dengan para anggota terlibat dalam proyek lain.

Apakah album “The Ballad of Darren” akan meneruskan eksperimen Blur di “Think Tank” atau akan lebih fun menyerupai sound di album “The Magic Whip”? Semoga Blur dapat melebur elemen-elemen Madchester dan shoegazing dari debut mereka (“Leisure”, 1991), tanpa melupakan Guitar pop Inggris ala the Kinks, The Beatles dan XTC, yang tampil dominan di “Modern Life Is Rubbish” (1993), “Parklife” (1994) dan “The Great Escape” (1995). Single “The Narcissist” adalah sebuah pop ballad dengan lagam vokal yang sedikit mengingatkan pada lagu Gorillaz ‘On Melancholy Hill’. Dibuka dengan intro gitar 2 chord yang simple, keseluruhan lagu ini terasa minimalis, diproduksi dengan baik dan tentunya mengobati rasa kangen para penggemar Blur. Single yang ditugaskan untuk menghangatkan suasana sebelum jadwal rilis ini juga semacam sebuah teaser kalau album ini sepertinya akan lebih dipenuhi pop ballad dan mengembalikan Blur ke sound era awal mereka. It’s a classic Blur’s song. What do you think?

 

Text by Aldy Kusumah

 

Polyester Embassy mengumumkan kembalinya mereka dengan merilis video klip “Parak” setelah mengalami masa sulit pasca kepergian drummer mereka, Givari, pada tahun 2020 dan hilangnya kabar dari Tomo, sang bassist. “Parak” menjadi lagu yang membawa terobosan baru bagi band ini dengan lirik berbahasa Indonesia. Video klip “Parak” menampilkan kumpulan artwork yang dibuat oleh Pastewhilewheat dan akan diaplikasikan dalam rilisan berikutnya dari Polyester Embassy.

Sebenarnya, lagu “Parak” telah diciptakan pada tahun 2019 bersama dengan beberapa lagu lain yang direncanakan untuk menjadi bagian dari sebuah EP. Namun, setelah kepergian Givari dan hilangnya Tomo, Polyester Embassy terpaksa harus beristirahat sementara waktu untuk mencari pengganti drummer dan bass. Polyester Embassy akhirnya mengambil keputusan untuk merilis video klip “Parak” sebagai penghormatan kepada almarhum Givari. Dalam video klip tersebut, posisi drum dan bass dibiarkan kosong sebagai simbol dari masa ketika Tomo menghilang tanpa jejak setelah kepergian Givari. Namun, kabar baik datang ketika band ini berhasil menemukan Prama sebagai pengganti drummer dan Tomo kembali bergabung dengan mereka. Dengan semangat baru, Polyester Embassy melanjutkan beberapa proyek yang tertunda, termasuk merilis video klip “Parak”.

 

 

 

“Ode to all Odds” adalah sebuah ketidaksengajaan: beberapa lagu dan materi yang dikumpulkan satu persatu oleh Kanina Ramaniya Kalyana menjadi satu kesatuan (baca: album). Tetapi semua track disini tetap coherent dan memiliki benang merah walaupun Kanina bermain dengan berbagai genre sebagai playground nya. Dibuka oleh ‘What Started the Vortex’ adalah salah satu intro album terkeran di 2023. Suara gitar reverse delay disambut oleh spoken words dari Kanina, yang jika didengar (atau dibaca) liriknya, lumayan depressing (“I thought of jumping off seven stories building like the predecessor never before I”). Lalu out of nowhere, gitar berdistorsi masuk dan Kanina mulai “memberanikan” diri untuk bernyanyi dan melupakan kegelisahan yang diucapkan sebelumnya. Track kedua ‘Lust’ adalah sebuah lagu elekronik yang trip-hoppy dengan vokal yang soulful. Berbeda dengan lagu sebelumnya, track ini memiliki mood yang sexy, walaupun agak menyentuh tema dan area grief. Produksi di lagu ini patut diacungi jempol, hats of to Cosmicburp dan Mac Dalen.

“and I’m Not Sorry” adalah sebuah track berisi political stance dari Kanina dimana dia bersama para penyintas kekerasan seksual. Track yang bernuansa ‘90s aternative rock ini terasa sedikit pengaruh Fiona Apple, and that’s a good thing. “Heist Costs Money” adalah lagu favorit di album ini. Sebuah pop ballad yang dimulai dengan intro piano dan sound gitar yang smooth. Tema yang diangkat Kanina cukup berat disini, dimana lirik bercerita mengenai perang batin yang dialami para PSK untuk menghidupi dirinya dan survive. Bridge di menit 2:30 menurut sangat menarik, sepertinya ini akan jadi lagu yang keren jika dibawakan live. Lalu ada sebuah spoken words yang cukup menarik di akhir lagu yang menurut Kanina terinspirasi dari ‘Candu Cinta’ nya Aksan Sjuman. Looping synthesizer di outro track 4 pun disambung dan menjadi intro di track 5 ‘Katrina’. ‘Vitruvian Man’ adalah sebuah track yang minimalis, dimana basslines yang empuk dan choir vocal menjadi pilar utama di lagu ini. ‘Hell/High Water’ memiliki groove yang bouncy. Entah apa judul lagu ini terinspirasi dari film neo-noir karya penulis Taylor Shedridan atau bukan, tetapi ini akan menjadi sebuah banger jika dibawakan live dengan sound yang menunjang. ‘Lament Song’ adalah sebuah lagu pop yang di elevate oleh instrumentasi keren dan tentunya suara “smoky” Kanina yang berkarakter. Overall, untuk sebuah debut album, “Ode to all Odds” adalah sebuah album yang polished dan matang. Kamu tidak akan menyesal membeli CD ini, karena tidak menemukan satupun lagu buruk disini.

Text by Aldy Kusumah

Individual Distortion meluncurkan EP elektronik/eksperimental terbarunya bertajuk “NIAT” pada tanggal 12 Juni 2023. EP ini dirilis melalui label Orange Cliff Records dari Bandung. “NIAT” berisikan empat lagu yang digarap oleh Individual Distortion yangmerupakan moniker dari Adythia Utama, seorang musisi dan sutradara asal Jakarta Selatan bersama co-producer Mardial dan Logic Lost/Dylan Amirio. Untuk cover album “NIAT” Adyth mempercayakan pengerjaannya kepada Marshal “Jeko” Pardede.

Nuansa musik yang beragam seperti jungle, digital hardcore berbahasa Minang, post-gabber, dan cyber grindcore sepertinya akan menghantarkan “NIAT” dari Individual Disatortion ini mendapatkan penghargaan di kancah musik tertinggi di Indonesia. “NIAT” tersedia dalam format digital di berbagai platform streaming musik seperti Spotify, Apple Music, Deezer, Bandcamp, dan The Storefront

Mandoors, kuartet neo-psikedelik asal Semarang, baru-baru ini merilis video klip animasi untuk single terbaru mereka yang berjudul “Semestinya”. Video klip ini dirilis pada tanggal 9 Juni, sebulan setelah lagu tersebut tersedia di platform streaming digital.

Video klip “Semestinya” menjadi bagian penting dari kampanye perilisan album baru Mandoors yang berjudul SONE. Album ini dijadwalkan akan dirilis pada tanggal 16 Juni 2023, tepat seminggu setelah peluncuran video klip ini. Dalam upaya untuk menciptakan visualisasi yang unik dan berbeda, Mandoors bekerja sama dengan animator lokal, Opthalmic Februtuhing. Video klip ini dirancang tanpa alur cerita khusus, tetapi lebih berfokus pada harmonisasi musik dan visual. Iwan, vokalis Mandoors, menjelaskan bahwa tujuan dari video klip ini adalah menciptakan kesatuan yang utuh antara musik dan visual. Dalam durasi kurang dari 5 menit, video klip animasi ini menggambarkan kegelisahan seseorang yang merasa kehilangan jati diri. Dalam keadaan gelisah, tokoh utama terjun ke dalam dunia utopis yang penuh ketidakbermaknaan.

Sejalan dengan gaya musik psikedelik Mandoors, video klip ini menampilkan animasi tiga dimensi dengan gaya visual yang memberikan sensasi “trippy”. Beberapa bagian video klip ini juga menggunakan efek “flashing images” yang memberikan kesan yang lebih intens. Untuk menciptakan pengalaman visual yang berkesan, Mandoors memastikan bahwa video klip “Semestinya” tetap sejalan dengan lirik lagu yang menggambarkan seseorang merasa kehilangan arah hidup dan mencoba melampaui batasan serta norma-norma yang ada. Video klip “Semestinya” telah diunggah perdana melalui saluran YouTube Mandoors pada tanggal 9 Juni 2023. Dalam waktu dekat, Mandoors juga akan merilis serangkaian video musik dan tur promosi untuk memperkenalkan album baru mereka.

Tidak banyak fotografer skateboarding lokal yang menonjol di media-media, padahal sebenarnya banyak figur-figur berbakat di posisi ini, tetapi sosok mereka jarang ter-highlight. Kuro adalah salah satunya: fotografer yang fokus di dunia skateboarding. Berasal dari Surabaya, Kuro telah menangkap ratusan lebih foto-foto keren dari skateboarders lokal. Surabaya boleh berbangga, karena jika Amerika memiliki Atiba Jefferson, Indonesia kini memiliki Kuro..

Halo Kuro! Boleh perkenalkan diri kamu dulu ga untuk para pembaca?
Halo saya Kuro dari Surabaya. Kalo ada yang nyebut saya fotografer, please don’t hehe..

Apa background kamu sebelum mengejar passion di dunia fotografi? Apa yang memutuskan lo untuk fokus di fotografi skateboarding dan kenapa tidak mau disebut sebagai fotografer?
Pekerjaan utama saya sebelum mulai belajar foto adalah sound engineer & manager untuk Zilch Streetwear. Saya memutuskan berhenti total dari dunia audio persis sebelum pandemi karena banyak hal yang tidak mungkin saya ceritakan disini. Pas pandemi, selling brand tempat saya kerja sempet libur beberapa bulan. Sampai akhirnya saya lihat-lihat foto-foto lama saya (di Zilch Streetwear, setelah in house fotografer resign, saya takeover kerjaan foto dengan ilmu seadanya). Sampe sekarang saya masih segan dipanggil fotografer karena saya belum merasa cukup ilmu untuk jadi fotografer hehe..

Seberapa penting sih equipment yang harus dimiliki para fotografer skate? Lo sendiri sekarang pake apa aja kalau ngefoto?
Menurut saya 50:50, alat proper belum tentu bisa menghasilkan foto yang proper ditangan orang yang kurang experience. Sebaliknya, alat seadanya bisa jadi bagus di tangan orang yang tepat. It’s all about experience I think, disamping teori fotografi juga penting. Saya sekarang pake Sony A6300, sony 16-50mm f 3,5 , 7 artisan 25mm f 1,8 , 7 artisan 7,5mm f 2,8 , 2x Godox TT 600, Godox x2t.

Siapa saja skater favorit lo?
My personal favorite local skater: Harley Bintang (Lombok), Panji (Batam) , Satria Adjeh (Surabaya)
The reason: They’re Bangers.

International skater: Alec Majerus, Filipe Gustavo, Ryan Sheckler.
The reason: Just love the way they skate.

Fotografer yang menginspirasi lo siapa aja?
Sharkies of Vast skateboards (YK), his works is another level. Foto-foto beliau jadi salah satu trigger saya belajar fotografi lebih dalam. Reece leung (Vague magazine – UK), Changsu (Evisen Skateboards), Owen Yu (Victoria HK) juga bikin saya gatel buat ngajakin temen-temen untuk cari skate spot. All of ‘em have unique perspective on the obstacle & angle.

Apa yang paling sulit dalam menangkap momen seorang skateboarder?
Kalo buat saya yang ga ada background fotografi, sulit semua haha.. Kendala saya yang utama gear, lensa dan lighting yang kurang proper menurut saya. Kendala lain spot foto keseringan backgroundnya jelek (mungkin juga saya yang kurang experienced buat ambil angle biar keliatan bagusan dikit gitu backgroundnya hehe). Ya itu sih mostly, ga semua spot backgroundnya bagus, that’s why we need proper lighting.

Seringkali di video skate kita melihat papan skate melayang ke arah kamera. Apakah pernah terjadi ke lo?
Alhamdulillah belum pernah kena ke lensa/kamera, walaupun angle yang saya ambil rata-rata deket banget. Ini yang jadi pembeda fotografer pada umumnya dengan fotografer skate, kita harus tahu movement papan & skaternya di saat mereka bail (jatuh). The most hilarious moment? Lemme think.. Ooh got one!! Saya sengaja suruh temen saya yang ga jago main skate buat ngelakuin trik yang sebenarnya gampang. Tapi berhubung dia ga jago, saya sengaja cari foto dia bail. I got both the photo & the video, put ‘em on Reels, & it went viral hahaha.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Kuro Damnass (@kurodamnass)

Untuk orang-orang luar Surabaya, 5 tempat makan favorit lo yang lo bakal rekomen ke orang yang main ke Surabaya dimana saja?
1. Tahu Tek Cak Ali (deket Bungkul Skatepark)
2. Pecel Pucang
3. Bebek Songkem (wajib mampir, ownernya denger-denger illuminati)
4. Lontong Balap Rajawali
5. Gado-Gado Jumbo Ngagel

​​Pertanyaan terakhir: video skate pertama yang lo tonton dan bikin lo jatuh cinta dengan skateboarding?
Tentunya 411VM: partsnya Andrew Reynolds & Rodney Mullen.

 

Text & interview by Aldy Kusumah
Photo by Kuro

Less Temporal, brand asal Bandung telah meluncurkan koleksi terbarunya, SS/23: Adorning Form. Koleksi dari brand yang telah berdiri dari tahun 2018 ini menawarkan pilihan pakaian yang menggugah kreativitas dan memberikan kebebasan kepada individu untuk mengekspresikan diri mereka dengan gaya yang unik.

Setelah berbulan-bulan percobaan dan eksperimen, Less Temporal berhasil menemukan formula bahan yang sempurna untuk musim tropis. Menggunakan bahan yang umumnya digunakan dalam pembuatan handuk mandi, koleksi Adorning Form menawarkan siluet longgar yang memungkinkan sirkulasi udara yang baik pada tubuh di bagian bawah. Detail saku yang dipadukan dengan desain juga memberikan kepraktisan dalam penggunaan pakaian ini.

SS/23: Adorning Form dari Less Temporal menawarkan pilihan pakaian yang membebaskan dan memungkinkan setiap individu untuk menjadi diri mereka yang sebenarnya. Less Temporal juga mengingatkan para pelanggan agar merawat koleksi ini dengan baik, dengan harapan agar pakaian ini dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama.