Moutley, baru-baru ini mengadakan acara menarik yang bertujuan untuk menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang dan gaya hidup di bawah bendera musik. Acara yang bertajuk ‘Chamber of Pleasure’ ini bertujuan untuk menghadirkan kembali kegembiraan dan kebahagiaan yang mungkin telah memudar seiring berjalannya waktu.

Acara Chamber of Pleasure yang diadakan di Tones No.6 Bandung pada tanggal 27 Mei 2023 ini menghadirkan kolaborasi Moutley dengan Namoy Budaya dan Muklay. Pemilihan musik yang cermat, membuat yang datang pada malam itu ke larut kedalam kegembiraan dan juga kebahagiaan.

Bukan hanya di Bandung, Moutley akan membawa Chamber of Pleasure keliling dan berkolaborasi dengan para seniman dari berbagai kota. Dengan memperluas jangkauan acara dan bekerja sama dengan bakat-bakat yang beragam, Moutley bertujuan untuk menciptakan efek domino kepositifan dan kesenangan di berbagai kota.

 

Photos by Bion Farhan

Nousonix, unit hardcore punk asal Bandung dengan merilis single terbaru mereka yang berjudul “Perished”. Single ini menjadi bagian dari album mereka yang akan dirilis tahun ini dan juga termasuk dalam kompilasi “New Evidence” yang dirilis oleh Grimloc Records.

Dalam karya terbaru mereka, Nousonix menghadirkan musik yang lebih agresif dengan menggabungkan tempo cepat dengan nuansa ala Scandinavian dan Japanese Hardcore. Nousonix awalnya didirikan pada tahun 2018 dengan nama Sonic Reducer, namun sempat mengalami hiatus sejenak sebelum akhirnya kembali dengan formasi baru. Saat ini, Nousonix diperkuat oleh Ucal (vokal), Keniro (gitar), Jurais (bass), dan Aldo (drum).

Sebelum merilis single “Perished”, Nousonix sebelumnya telah mengeluarkan demo berjudul “M.O.B DEMO” pada tahun 2019. Rilisan tersebut tersedia dalam format kaset melalui Necros Records dan juga dapat didengarkan secara digital melalui platform Bandcamp.

Saturday Night Karaoke, unit punk rock asal Bandung, kembali membuat gebrakan dengan merilis single baru berjudul “File Under: ARADANEKS_BETA_VERSION” Hanya dalam waktu satu bulan setelah sukses merilis single “…Abnormal,” Saturday Night Karaoke menghadirkan lagu baru yang catchy dan poppy. Diproduksi oleh Dennis Ferdinand, lagu ini tetap mengusung identitas musik khas Saturday Night Karaoke yang telah dikenal sejak mereka berkiprah pada tahun 2008.

Dalam lagu ini, SNK masih menggunakan lirik Bahasa Indonesia, yang memberikan tantangan baru bagi mereka dalam menulis lirik yang lebih naratif. Saturday Night Karaoke juga memberikan bocoran bahwa mereka akan merilis beberapa single lain sebagai persiapan menuju perilisan EP mereka di paruh akhir tahun ini.

“File Under: ARADANEKS_BETA_VERSION” dari Saturday Night Karaoke telah dapat didengarkan melalui berbagai platform musik digital, sementara video musik yang menampilkan banyak cameo dari musisi independen Bandung akan segera dirilis. Prabu, gitaris dan vokalis, menjelaskan bahwa lagu ini menciptakan suasana seperti obrolan santai tentang seseorang yang diidolakan banyak orang, tetapi juga diakui bahwa mereka berbeda dan terlalu keren untuk dapat disaingi.

Dengan premis road rage yang bernuansa komedi, episode 1 Beef dimulai dari premis yang cukup simple. Pertemuan “tidak sengaja” antara Danny (Steven Yeun) dan Amy (Ali Wong) dikarenakan mereka hampir saling menabrak di parkiran toko peralatan rumah tangga. Dari adegan klakson timbul lah chase scene yang dipenuhi adrenaline. Tetapi Beef lebih kompleks dari semua itu. Beef adalah sebuah efek bola salju: dimana sebuah road rage bisa berakibat fatal untuk para pelaku sampai keluarga dan orang-orang terdekat mereka. Pertemuan 2 orang ini pun membuka trauma masa lalu. Tema-tema yang dipresentasikan show creator Lee Sung Jin disini sebenarnya cukup heavy, karena meliputi depresi, PTSD, class-struggle, bullying, toxic positivity, gap antar generasi, jeleknya komunikasi dalam rumah tangga sampai krisis identitas. Tetapi semua itu dikemas dengan “ringan”, lengkap dengan dark jokes, durasi yang padat dan soundtrack yang tepat. Menariknya, pelukis David Choe (yang juga berperan sebagai Isaac) menyumbangkan 9 lukisannya untuk opening setiap episode serial tersebut.

Soundtrack Beef pun yang dipilih oleh Tiffany Anders (music supervisor) adalah radio hits ‘90an akhir sampai ‘2000an awal. Beberapa ada yang cheesy seperti Hoobastank (The Reason), The Offspring (‘Self Esteem’) atau Incubus (Drive). Beberapa ada yang benar-benar nostalgic seperti Bjork (‘All is Full of Love’), Bush (‘Machinehead’) dan Smashing Pumpkins (‘Mayonaise’). Tetapi semua lagu yang tampil disini, apalagi beberapa yang ditaruh di ending credits setiap episodes terasa sangat pas, bahkan berhasil meng-elevate serial TV ini. Mungkin hanya di scene ending Beef episode 1 kamu bisa mendengar Hoobastank yang terasa begitu pas dengan adegan slow motion dan latar ceritanya. Scoring pun dibuat oleh Bobby Krlic yang pernah berkerja dengan Bjork, Goldfrapp dan membuat scoring Midsommar (2019). Overall, menonton 10 episode Beef terasa nyaman dan ringan. Walaupun ada 1-2 episode yang sedikit bermasalah dengan pacing, story arc para karakter disini diliput dengan lengkap dan tidak bertele-tele. Episode 10 mungkin sedikit berat dengan dialog filosofisnya, tetapi you’ll be glad seeing the ending. Tontonlah semua episodenya jika sempat, and tell us what you think.

Text by Aldy Kusumah

Dubyouth dan BAP., telah berkolaborasi untuk menghadirkan kolaborasi musik yang memukau dalam single terbaru mereka yang berjudul “JUST DUB IT”. Dalam proyek kolaborasi ini, Dubyouth dengan gaya musik dub/reggae mereka yang santai bertemu dengan nuansa hip-hop yang khas dari BAP., menciptakan sebuah perpaduan yang segar dan unik.

Dubyouth, dengan pengalaman musik mereka sejak tahun 2003, telah menggabungkan berbagai genre musik seperti reggae, dub, oldschool jungle, hip-hop, ragga, house music, dan urban vibe. Di bawah keahlian Heruwa a.k.a Poppa Tee, Dubyouth menciptakan album debut yang sangat dinantikan, “Dubyouth”, pada tahun 2012. Sementara itu, BAP., dipimpin oleh Kareem Soenharjo, telah memperoleh pengaruh dari beragam genre seperti hardcore, punk, jazz, dan LA beat scene. Dengan kepiawaian dalam musik dan penampilan panggung yang mengagumkan, BAP. telah mencuri perhatian di skena musik Indonesia.

Dalam single “JUST DUB IT”, Dubyouth dan BAP. menciptakan suara yang unik dan menyegarkan. Ritme santai ala Dubyouth, bassline dengan sentuhan funk, serta suara synth yang luas, digabungkan dengan ketukan dan sajak yang kuat dari BAP., menciptakan harmoni yang sempurna. Lagu ini menampilkan vokal toasting yang penuh perasaan dari Poppa Tee, yang dipadukan dengan pembawaan rap yang rapat dari BAP., menciptakan lagu yang menyenangkan dan penuh energi.

“JUST DUB IT” merupakan bukti inovasi musikal Dubyouth dan BAP., yang berhasil menggabungkan genre yang berbeda dan menciptakan sesuatu yang benar-benar unik dan segar. “JUST DUB IT” sudah bisa dinikmati di semua platform streaming utama melalui DoggyHouse Records.

MANKIND, merilis koleksi houseware pertamanya yang sangat cocok untuk memperindah dan membuat suasana didalam rumah menjadi lebih tenang. Koleksi menarik ini menampilkan tempat pembakar dupa dan karpet, keduanya menawarkan suasana yang tenang yang dapat disesuaikan dengan berbagai interior.

Dengan mengedepankan nilai sentimental pada sebuah barang yang berharga, MANKIND bekerja sama dengan RAG. Home, pembuat karpet ternama dari Jakarta, untuk memperkenalkan koleksi karpet “Phoenicia” yang memikat. Tersedia dalam nuansa hijau, merah, dan putih-muda, setiap karpet adalah karya unik yang dikerjakan dengan cermat oleh pengrajin terampil di RAG. Home. Konstruksi benang yang padat memastikan daya tahan dan nuansa mewah saat diinjak.

Selain itu, ada juga tempat pembakar dupa yang terinspirasi oleh karakter “Howey” dan “Curtis. Dibuat dari 100% keramik, tempat pembakar dupa ini memiliki palet warna yang halus dengan nuansa beige, merah, dan zaitun, yang dapat dengan harmonis menyatu dengan dekorasi interior apa pun. Dengan lubang asap yang menciptakan efek visual menarik, bagian bawah yang dapat dilepas memudahkan dalam membersihkannya, memastikan kenyamanan bagi penggunanya.

Koleksi houseware pertama dari brand asal Bandung ini sudah tersedia eksklusif secara offline di FONDNESS, dan kalau ingin beli secara onlise bisa langsung kunjungi Thisismankind.com.

 

Vertical Abuse adalah band crossover hardcore/metal/punk yang beranggotakan Andy LA Jhon (vokal), Reza Septian (gitar), Oktav Mutter (drum), Anggara Pandu (bass), dan Reza Pratama (gitar). Mereka meracik komposisi dan aransmen musik yang tight atas hasil peleburan berbagai referensi mereka. Sebut saja: Integrity, Agnostic Front, Pro-Pain, END, Chamber, Meshuggah, Disembodied, Chimaira, Converge, Machine Head, Throwdown, Slayer, Entombed dan Bolt Thrower. Jika kalian menyukai salah satu atau semua band tadi, kemungkinan besar kalian akan menyukai album debut mereka yang bertitel “Jurnal Apokalips”.

Rupanya mereka memilih sound “modern” ala band-band Roadrunner Records dan djent kekinian, sehingga nuansa “hardcore” yang mereka tawarkan lebih versatile, heavy dan dark. Dibuka dengan intro instrumental ‘Suar Bala’ yang akan seakan mengagendakan bakal seperti apa warna album ini. Title track ‘Jurnal Apokalips’ bernuansa heavy dan groovy, lengkap dengan pinch harmonics ala djent di part akhir lagu. Track ke 3 ‘Delusi’ starts with a bang. Dimulai dari drumming yang bombastis dari Oktav, yang tentunya ditemani oleh permainan bass Anggara dan duo gitaris bernama Reza. ‘Garda Domestik Subversif” dimulai dengan pinch harmonics yang ikonik. Vokal Andy terasa prima di tack ini, dan setiap kata yang dia ucapkan pun terasa jelas pengucapannya pada saat bait “Satu komando berkarat / Melindungi siapa? / Melayani siapa?” diucapkan. Lirik anti-authoritarian mereka cukup menarik untuk disimak, sayang saja fonts yang digunakan di sleeve artworknya agak sulit terbaca, apalagi untuk yang sudah menggunakan kacamata plus. Track terakhir cukup menarik karena mereka mengkover lagu Integrity yang berjudul ‘Heavens Final War’. Intro alunan basslines yang heavy dan low sudah mengundang kita ke area hardcore gelap ala Integrity. Kurang menyimak lagu originalnya, tapi dari apa yang Vertical Abuse presentasikan disini, sepertinya kover ini cukup representatif. Overall, sebuah album yang menarik dengan kualitas produksi yang top notch. Album ini di produseri oleh VA & Luke Heartwork (Lose it All), dan artwork kover dikerjakan vokalis VA, Andy La John.

Text by Aldy Kusumah

Kanina adalah singer/songwriter asal Semarang. Kanina sudah cukup prolifik merilis berbagai single di tahun 2019 (‘Lust’, ‘I Survived Christmas’ & ‘Hell/High Water’ ) dan juga di tahun 2020 dengan maxi-single “The Tide is Nigh, I Dim the Light” yang berisi 2 lagu: ‘Soon Doesn’t Like What’s Coming, While Doesn’t Want to Know’’ dan ‘Lament Song’. Setelah merilis debut album pada tahun 2021 bertitel “Ode to all Odds”, akhirnya Kanina merilis albumnya dalam format CD via Disaster Records di tahun 2023. Mari berbincang dengan singer/songwriter ini mengenai lirik-lirik dan tema gelap yang terdapat di debut albumnya.

“Sejujurnya waktu menulis lagu-lagu ini i was not at a good place jadi mungkin ter-refleksi di beberapa lagunya.”

Halo Kanina! Apa kabar? Sedang sibuk mengerjakan apa saja nih setelah merilis versi CD dari “Ode to all Odds”?

Kabar baik! Lagi sibuk ngelarin kuliah dan lagi mulai nabung-nabung materi baru buat album kedua sih sebenarnya..

Lo udah merilis “Ode to all Odds” tahun 2021, kenapa baru merilis versi fisiknya tahun 2023?

Awalnya tuh belum kepikiran sama sekali buat rilis fisik apalagi buat merchandise. Waktu itu cuma pengen rilis digital aja, soalnya jaman sekarang CD, vinyl dan kaset itu kan mostly punya value sebagai collectibles instead of diputar gitu kan. Jadi biar lebih praktis merilis digital aja dulu. Lalu makin kesini ada certain kind of pressure untuk bikin versi fisik, dan waktu itu sempat ngobrol sama mas Ucok Grimloc Records. Awalnya mau ngajuin proposal buat dirilis fisiknya sama Grimloc. Waktu itu mereka sedang ga bisa facilitate intinya. Lalu mas Ucok ngarahin ke mas Vidi dan mas Ody dari Disaster Records.

Lo sebelumnya ngeband di Foolish Commander, apa yang membuat lo memberanikan diri untuk membuat album solo? Dari mana ide dan momen “eureka” tersebut?

Sebenarnya ga ada eureka moment hehe.. Tapi mulai nabung materi solo, pertama bikin single dan karena responnya bagus, jadi rilis single lagi dan kemudian single lagi, lalu setelah merasa materinya cukup untuk sebuah album jadi bikin aja, jadi lebih ke step-by-step process sih dibanding eureka moment..

Photo by Nanda

Judul lagu ‘Hell/High Water’, ‘Heist Costs Money’ dan ‘House of Four Rooms’ seperti terinspirasi dari film. Film-film apa saja yang menginspirasi lo untuk membuat lagu atau lirik?

Hahaha iya ya.. Hmm sepertinya kebetulan aja sih.. Aku suka nonton film, mungkin juga secara gak sadar masuk ke cara aku ngasi judul gitu sih. Sebenernya ga suka nonton film perampokan atau heist, cuma karena itu terminologi film jadi cukup familiar aja sih. Single pertama yang aku bikin (‘Lust’) itu malah yang terinspirasi dari film. Dari film romance yang cukup depressing berjudul “Take This Waltz”, dan itu end up jadi lirik di bagian pertama nya. Malah aku belum nonton film “Hell / High Water”…

Beberapa lagu seperti mempunyai tema alienasi, grief dan loss. Pada saat menulis dan membuat album ini, hal-hal apa saja yang yang mendorong lo untuk membuat album yang dark seperti ini?

Hahaha.. Hmm apa ya.. Semua yang ditulis di album ini kan produk dari internal thoughts aku, jadi terbawa aja. To be totally honest waktu menulis lagu-lagu ini i was not at a good place jadi mungkin ter-refleksi di beberapa lagunya.

“Mungkin aku lebih nyaman menuliskan pengalaman-pengalaman yang dark and depressing daripada pengalaman-pengalaman yang menyenangkan..”

Gue pernah membaca sebuah artikel yang membahas kalau Hayao Miyazaki adalah pribadi yang depresif tetapi output karyanya cenderung hopeful dan “cerah”. Sedangkan Satoshi Kun (Perfect Blue) adalah pribadi yang ceria tetapi karyanya cenderung gelap dan depressing. Kalau lo sendiri bagaimana?

Gimana yah hehe.. Menjawab pertanyaan itu cukup susah.. Ya maksudnya mungkin aku pun bukan orang yang one-dimensional, ada saat-saat dimana aku memikirkan hal-hal yang depressing, tetapi ada saat-saat lain juga dimana aku ini menjadi periang dan bright gitu. Mungkin aku lebih nyaman menuliskan pengalaman-pengalaman yang dark and depressing daripada pengalaman-pengalaman yang menyenangkan..

Photo by @rottenslice

Produksi di album ini bagus banget. Siapa saja sih yang turut andil sebagai produser dan lo ajak untuk berkolaborasi dalam mengaransmen album ini? Apa alasan lo memilih para produser ini untuk menggarap “Ode to all Odds”?

Di album ini ada 2 produser, produser utamanya itu Mellonzz / Cosmicburp / Luthfi adianto. Terus dia itu produce almost every song di album ini. Di lagu ‘House of Four Rooms’ ini diproduseri Pitra Prabowo / Mac Dalen. Kalau gue jujur banget sih karena mereka itu teman-teman main dan kami memang punya interest in music, juga sering sharing-sharing musik tertentu juga. Cosmicburp punya interest di music production, kalau Mac Dalen itu interest nya lebih ke sound engineering kaya mixing / mastering. Tapi bukan cuma karena mereka teman main dan cocok, tapi karena menurutku mereka really good at what their doing, and they know their shit.

Ada pengaruh rock, soul, trip hop, elektronika dan sedikit gospel di lagu-lagu lo. Bagaimana lo mendeskripsikan album lo ke pendengar yang belum mendengar album ini sebelumnya? Apakah peleburan genre ini memang lo konsepkan atau mengalir begitu saja saat menulis aransmen nya?

Kalau ngejelasin mungkin aku akan propose mereka untuk dengerin dari awal sampai akhir. Kalau cuma dengar satu-dua lagu doang kaya mereka ga akan fully comprehend the whole genre mish-mash thing. Dari awal pun pembuatan album ini bukan direncanakan jadi album, tetapi dari tabungan materi-materi yang sudah ada dan dianggap coherent untuk dimasukin jadi satu album. Dan aku juga dibantu sama 2 produser ini agar secara produksi semua lagunya masih ngeblend..

Photo by @adtn

Lagu ‘and I’m Not Sorry’ bercerita tentang apa? Bisa elaborasi sedikit?

Hmm.. Permukaan nya sih aku menulis lagu itu karena aku ingin mengadvokasi para penyintas sexual assault. Intinya i’m with them, i’ve been there and i’m with them. Lebih ke political stance aja. Here’s my stance, i’m with these people, so if you can’t agree, i don’t want you to hear my songs if that make sense..

Di single ‘Soon Doesn’t Know What’s Coming..’ lo berkolaborasi dengan Aldrian Risjad dari Sajama Cut. Gimana proses penggarapan lagu dan awal terpikir untuk kolaborasi dengan Aldrian?

Kepikir collab sama Aldrian karena personally i’m a fan. Menurutku dia adalah salah satu musisi dan soloist terbaik di angkatan ku. Aku suka juga cara bagaimana dia menulis lagu-lagunya. Karena jarak jauh, semua dilakukan secara online, dimana dia home recording dari Jakarta dan aku juga rekaman di Semarang.

Di epilog lagu ‘Heist Costs Money’ ada beberapa pertanyaan interaktif yang bisa dijawab pendengar. Apa makna dari pertanyaan-pertanyaan tersebut? Tema lagu ini kalau dari sudut pandang Kanina tentang apa?

Inspirasi besarnya itu dari album ‘Candu Cinta’ Aksan Sjuman. Track terakhir album “Realitas Khayal” itu sama dengan spoken words di lagu ‘Candu Cinta’ tapi semua kata cinta nya diganti drugs atau substance gitu. Kalau maknanya aku kepikiran untuk taruh spoken words itu di akhir di parts yang depressing nya. Sebenarnya ini salah satu hal yang misunderstood atau gimana, cuma yang lagu ‘Heist Costs Money’ ini adalah soal prostitusi. Jadi kaya constant battle yang dialami para prostitutes, dimana mereka membutuhkan uang untuk hidup, tetapi mereka tidak bahagia bagaimana mereka mendapatkan uang tersebut.

Lirik dulu atau musik dulu? Apa lo sudah nyaman dalam membuat lirik berbahasa Inggris atau di rilisan selanjutnya akan ada lagu berbahasa Indonesia?

Lirik dulu sih. Biasanya kalau musik nya itu di jahit atau di combine dari beberapa parts yang sudah ada. Aku perform dan rekam dulu di voice notes hp dulu dalam beberapa parts dan akhirnya dijahit jadi satu lagu. Hmm aku sebenarnya sudah nyaman sih nulis lirik bahasa Inggris, dan belum ada urgensi untuk menulis dalam bahasa Indonesia, dan kurang pede juga dalam membuat lirik bahasa Indonesia, jadi bahasa Inggris dulu sementara..

Karena lo berasal dari Semarang, 5 rekomendasi makanan favorit lo di Semarang?

5 rekomendasi makanan di Semarang: Om Ndut (babi panggang gitu), bebek peking dan ayam panggang Pak Gembul, nasi empal Bu Marie, Gohyang Jib (masakan korea authentic gitu), sama Bakmi Karet Alung.

 

Text by Aldy Kusumah
Photo by Aditya Nugraha @adtn_, @rottenslice & Kanina’s archives

Sunny Summer Day adalah alamarhum Dicki Hermansyah (Voices & Guitar), Arief Norman (Lead Guitar)
, Vicky Stefanus (Bass)
 & Teguh Indraputra (Drums). Ferdy Destrian mengisi vokal pada dua dari tujuh lagu di album ini (‘There is a Way’ and ‘Symphony of Lights’). Album ini adalah kisah almarhum Dicki Hermansah dan istrinya yang melakukan perjalanan ke Hong Kong pada tahun 2017. Seharafiah judul “Dreams & Memories”, album ini berisi mimpi dan kenangan yang mereka buat, yang lalu dituangkan ke dalam beberapa lagu di album ini. Lagu yang secara konseptual lebih raw atau ‘kotor’ namun tetap nyaman untuk didengarkan. Produksi yang matang membuat album berisi 7 lagu ini terasa sangat nyaman untuk dinikmati, baik itu di sound system “hareeng” kamu , di mobil ataupun menggunakan earphone telepon genggam.

 

Dibuka oleh ‘Memories’ dengan intro basslines yang catchy, kemudian disambut oleh gitar jangly yang melodious. Entah kenapa, tipe-tipe lagu seperti ini selalu mengingatkan pada Bandung era tahun 2000an. Aransmen lagu ‘Memories’ cukup menarik, karena setelah intro instrumental dan verse, lagu pun ditutup oleh outro yang sama dengan intro. Short and sweet, dan pastinya akan membuat pendengar mengulang track ini. Track 2 berjudul ‘Pearl of Orient’, yang dari judulnya tentu bercerita mengenai kota Hong Kong tersebut. Dibuka oleh intro gitar yang shoegazing dan drumming pattern yang menarik, sedikit mengingatkan pada For Tracy Hyde. Ini adalah lagu favorit di album ini. Durasi 3 menit pun terasa singkat di lagu ini.

‘There is a Way’ adalah sebuah lagu indie pop ala Sarah Records, dengan sound modern. ‘Dusk and Moon (夕暮れと月)’ adalah sebuah track yang menarik, dengan lirik berbahasa Jepang dan diisi vokal perempuan dari Nana Furuya (Charlotte is Mine) yang membius, membuat vibes nostalgia semakin terasa. Track ke 5 ‘Spider Tale’ kembali menaikkan tempo album dengan drumming yang upbeat nya. Sound gitar di lagu ini terasa warm dengan setting drive dan reverb yang pas. Renyah sekali. SSD kembali menurunkan tempo di lagu ‘Symphony of Lights’. Untuk lagu ini tidak terlalu spesial, apalagi jika dibandingkan dengan 6 lagu lainnya yang benar-benar bagus. Track penutup ‘Tomorrow’ sangat menarik, dimulai dengan sinkop drumming dan pattern gitar yang sedikit ehm.. Math rock. Distorsi dan wall of sound shoegazing di lagu ini pun terasa pas membalut aransmen menjadi sedikit droning. Sebuah track yang sangat pas untuk menutup sebuah album yang juga menjadi tribute untuk almarhum vokalis terdahulu, Dicki Hermansah. Seolah mengucapkan selamat tinggal tapi tetap menyambut hari esok dengan penuh passion.

Tracklist:
1. Memories
2. Pearl of Orient
3. There is a Way
4. Dusk and Moon
5. Spider Tale
6. Symphony of Lights
7. Tomorrow

Text by Aldy Kusumah

Tentunya jika membicarakan spot-spot tempat ngopi, di Bandung sudah sangat umum dan berjamur, mulai dari coffee shop yang klasik, modern bahkan franschise yang membosankan. Setelah berhibernasi, kedai kopi milik Gania Alianda dan Brez ini hadir kembali dengan konsep baru, menu-menu baru dan tentunya design interior yang fresh. Dengan tagline Hi-Fi Coffee Bar, selain menjadi coffee shop, kamu akan dimanjakan dengan kurasi musik dan sound system yang memadai. Tidak main-main, mereka menggunakan turntable MK3, ampli McIntosh, dan speaker JBL 4311B + JBL 4642A yang langka.

Rupanya Mental Vacation juga terinspirasi dari listening bar ala Jepang, yang lebih berfokus kepada kurasi musik dan suara yang dihasilkan oleh perangkat sound systemnya. Kamu juga bisa digging dan membeli koleksi piringan hitam yang tersedia disitu. Tentunya interior pun sangat aesthetic, apalagi dengan banyaknya mainan, tanaman indoor, poster-poster, foto-foto dan furniture yang ditampilkan disitu. Untuk kamu yang ingin membuat acara pop-up atau spinning session juga bisa disini, karena pada hari-hari tertentu, akan ada selektor yang akan bermain langsung selagi kamu menikmati segarnya Eskosu signature dan mocktails khas mereka. Segera kunjungi Mental Vacation di Jl. Perintis 92, Sarijadi, Bandung (9am-10pm) dan follow IG mereka di @mentalvacation.bdg.

 

Text by Aldy Kusumah
Photo by @acaffeinman