Brand asal bandung, Bodypack, kembali merilis seri tas bernuansa over-pocket. Koleksi yang diberi nama Exodus Series ini memadukan material XPac dan polyester yang memberikan kesan bold dan stylish.

XPac sendiri adalah kain berkualitas yang diproduksi oleh Dimension-Polyant, yaitu produsen kain yang bermarkas di Jerman dan Amerika Serikat. Kain ini mulanya digunakan sebagai kain kapal layar yang anti air dan memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca dan tekanan. Maka dari itu, kain XPac dikenal ringan, kokoh, dan tahan lama. Exodus Series ini terdiri dari 5 jenis tas berbalut paduan warna hijau dan coklat terang.

Bergaransi seumur hidup, Bodypack Exodus Series ini sudah bisa dipesan di marketplace dan website www.bodypack.co.id

 

Photos by Alfian S. Prasetyo

Kuartet R&B/hip-hop The Couch Club dari Bandung mengumumkan perilisan single terbaru mereka “Can’t See Us” sebagai pengantar dari album perdana mereka. Lagu ini menggambarkan pengalaman mereka yang seringkali merasa diremehkan. Bassist Vai Siagian dan vokalis Gally Glitch menekankan bahwa lagu ini menyampaikan pesan kepada mereka yang pernah diragukan, bahwa mereka memiliki potensi besar untuk mencapai apa yang mereka inginkan.

Album perdana The Couch Club akan menghadirkan perpaduan genre musik yang unik, mencerminkan keberagaman dan kreativitas band ini. Mereka berkomitmen untuk menciptakan musik yang menginspirasi, memberdayakan, dan memotivasi pendengar.


Single “Can’t See Us” sudah dapat didengarkan di berbagai platform streaming, dan video musiknya akan dirilis pada tanggal 25 Mei 2023. Informasi lebih lanjut mengenai tanggal perilisan album akan segera diumumkan melalui media sosial band.

Band rock industrial asal Bandung, Koil, telah merilis lagu baru mereka yang sangat dinantikan berjudul “Pecandu N★rkotbah”. Lagu ini resmi dirilis pada Minggu, 14 Mei 2023, dan sudah tersedia di berbagai platform streaming musik. Dalam upaya menebus janji menuntaskan album keempat mereka yang tertunda selama lebih dari dua dekade. Sebelum perilisan lagu ini, Koil telah menghasilkan beberapa seri installment, termasuk album monumental Blacklight dan rekaman ulang lagu lama dalam EP “Lagu Hujan”.

Lagu “Pecandu N★rkotbah” sebenarnya telah diperkenalkan dalam seri installment pertama pada tahun 2020, namun versi yang dirilis saat itu masih dalam bentuk demo yang terbatas. Menurut Donnyantoro, gitaris Koil, lagu ini merupakan sisa penggarapan album ketiga mereka yang sejak lama tertunda, Blacklight Shines On. Setelah melalui perubahan aransemen yang berulang, lagu ini akhirnya mencapai bentuk seperti sekarang dengan sentuhan musik era Blacklight Shines On.

Lirik “Pecandu N★rkotbah” menyentuh fenomena kesalehan sosial dengan nada kritis, sambil tetap menghadirkan ciri khas humor dalam nukilan liriknya ala Otong. Koil tidak hanya merilis satu versi lagu, tetapi juga menyajikan beberapa versi reinterpretasi dengan nuansa yang berbeda.

“Larynx” adalah sebuah lembaran baru dari Kuntari setelah “Last Boy Picked” yang dirilis pada tahun 2021. Sebuah EP berisikan 5 track yang dimainkan oleh Tesla Manaf (Cornet, Sampler, Gitar) dan Rio Abror (Drums & Perkusi). Setelah sebelumnya dirilis oleh netlabel Yesnowave, kali ini “Larynx” hadir dalam format fisik berupa CD, dengan sebuah track tambahan berjudul ‘Stridula’. Dibuka oleh ‘Baopi’ yang terdengar sangat tribal dan eksplosif. Intensitas komposisi di lagu ini bagaikan seseorang yang meledak-ledak dan memiliki moodswings. Permainan drum dan perkusi dari Rio Abror berhasil mengelevate layer-layer instrumen yang dimainkan oleh Tesla. Those two guys can really go hand in hand. Walaupun lebih eksperimental, Tesla pun kembali bermain gitar di track ini. Track ini pun ditutup oleh sebuah suara hewan yang terdengar seperti ingin “berternak”. Track kedua ‘Larynx, Pt. One’ melanjutkan sesi “mating calls” hewan yang ada di menit-menit akhir track pertama. Permainan cornet Tesla di lagu ini terdengar seperti versi liarnya Miles Davis era “Bitches Brew” yang menggunakan efek-efek modern.

Track ketiga adalah ‘Larynx, Pt. Two’ yang berdurasi 12 menit. Track ini tidak akan terdengar out of place apabila dipakai menjadi film score di film-film seperti “Salo”, “Cannibal Holocaust” ataupun film-film bergenre folk-horror seperti “Midsommar” dan “Enys Men”. Overall, “Larynx” adalah sebuah mini-album dengan konsep yang dinamis dan fluid. Dari intensitas komposisi dan output yang bisa kita dengar di EP ini, saya bisa membayangkan Tesla dan Rio mengurung diri di sebuah tempat dan mengerjakan album ini dengan jamming yang dilanjutkan dengan sesi workshop, dari pagi sampai pagi lagi. Lalu merekamnya dengan berbagai revisi pada aransmen maupun eksplorasi sound. Setelah mendedikasikan dirinya memproduce beberapa album jazz, world music, neo-classical, Tesla pun mem-followup eksperimennya dalam menciptakan teknik embouchure yang tidak ortodoks untuk cornet/terompet. Menurut press releasenya: “Tujuannya adalah untuk meniru suara perkawinan hewan dan makhluk fiksi raksasa. Menggabungkan suara primal tersebut dengan irama Hadrah Kuntulan Banyuwangi, dan Sar Ping/Barongsai (tarian barongsai) Bali-Cina. Dan dengan sengaja mengaibaikan not.”. Whoa. Simak juga bonus track ‘Stridula’ yang tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan 4 track sebelumnya.

 

Text by Aldy Kusumah

Aneka Ria Petaka adalah inisiasi dari Vidi Nurhadi (Maternal Disaster) yang mengajak kedua sahabatnya: Alexander Benedict, seorang arsitek / illustrator dan Krowbar, rapper dengan lirik yang (mungkin) sekotor pikiranmu. Kecintaan mereka terhadap medium comic strip menginspirasi mereka untuk membuat 3 karakter sentral yang ikonik dan tentunya meleburkan budaya pop culture dengan kearifan “lokal”. Comic strip yang hadir setiap minggu ini tentunya dinantikan banyak pembaca dan sudah mulai gaining a cult following. Perbincangan yang penuh “insight” ini dilakukan malam hari sehabis Vidi pulang taraweh, dan tentunya ditemani tahu walik favorit Mayatschism yang dibuat secara D.I.Y. Entah dari mana, terdengar sayup-sayup musik dari Coldplay, band yang selalu menghantui Krowbar…

Ide Aneka Ria Petaka ini awalnya datang dari siapa? Dan kenapa namanya Aneka Ria Petaka? SIapa yang mengajak siapa disini?

Vidi: Dari awal sudah pengen bikin comic strip sih 2 karakter tokoh, yang anak hardcore dan anak black metal. Nah pas saya buka Twitter lihat tweet si Bembi (Krowbar) lucu-lucu, kayanya kalau dijadiin komik oke nih.. Lalu nambahin maskot Maternal yang bernama Threat Lord yang mirip grim reaper. Kayanya seru nih bikin komik yang membahas skena, tapi karena website sudah berat jadi di post di Instagram setiap minggu.

Alex: Awalnya lo juga nawarin ke gue dulu tapi selain ngegambar gue juga harus bikin ceritanya jadi weh lila hahaha…

Krowbar: Sama sih ceritanya emang begitu, tapi saya kurang tahu pas jaman Vidi kontak Alex dulu. Lalu Alex ngajakin saya pas habis diajak Vidi..

Saat ini sudah ada 127 edisi komik ARP. Apakah kalian pernah kehabisan ide atau malah sebaliknya? Datang dari mana saja ide-ide liar tersebut?

Krowbar: Kalau ide ga pernah dicari juga. Karena kalau dicari memang ga dapet dan susah. Ini kan hitungan nya kerjaan juga ya, soalnya minggu ada deadline, nah pas lagi dicari malah susah. Habis ide mah engga cuma kalau sengaja nyari malah ga dapet..

Vidi: Sebenarnya sih pengen angkat yang lagi panas dan hangat di obrolan anak-anak, tapi karena si Bembi kuper, jadinya semau dia aja hahaha. Kaya yang kasus Dongker pilkada kemarin juga gak jadi dibikin komiknya. Mau brainstorming di group juga ga aktif, karena ada satu orang yang ga pernah nongol di group hahahah..

Alex: Hahahaha! Soalnya si Bembi nge wa dan group nya di Line, si Vidi di wa lama juga balesnya hahaha..

Untuk Alex, berapa lama biasanya lo menggambar satu edisi ARP? Untuk Krowbar berapa lama biasanya lo menulis satu edisi ARP?

Alex: Sejam palingan juga beres sudah sama kover, cepat soalnya di iPad.

Krowbar: Kadang-kadang kita juga suka telat postingnya jadi hari senin, padahal harusnya minggu.. Tetapi itu karena hal teknis karena saya manggung jumat, sabtu, minggu atau Alex lagi sibuk di proyek atau pameran..

Komik-komik pendek inspirasi kalian bertiga apa saja sih?

Vidi: Kalau dibilang referensi komik justru ga ada sih.. Mungkin inspirasi kita comic strip pada umumnya aja.. Dulu di Tigabelas Zine juga ada komik tuh.. Ya mungkin dari komik-komik yang ada di zine juga sih..

Alex: Sebenarnya ini kan komik kritik sosial mengenai komunitas yang kecil sih.. Selama ini juga belum isu global sih ya.. Semua dilakukan dengan gaya gambar yang gue juga nyaman gambarnya.

Krowbar: Ruang lingkup pembahasan nya kecil sih. Inspirasi comic strip biasa aja sih..

Apakah pernah ada respon lucu atau unik dari pembaca? Misal ada yang ga ngerti punchline nya atau apapun itu..

Vidi: Banyak. Jangankan orang lain, kita aja kadang-kadang ga ngerti punch line nya si Bembi hahaha.. Kadang-kadang Bembi memang punya dunia sendiri dan punchline nya ada yang saya ga ngerti.

Alex: Kadang-kadang gue baca sekali skrip dari Bembi. Lalu gue bikin draft dan lempar ke Bembi lagi sebelum dilempar ke Vidi. Nah pas dibaca Vidi, si Vidi nih biasanya jadi polisinya. Yang udah kena sensor Vidi banyak juga sebelumnya. Banyak nih uncensored nya sebenarnya. Kadang Bembi nanya ke gue “aman ga nih Lex?” nah gue bilang aman aja. Taunya kata Vidi “wah ga bisa ini brutal teuing!” hahahah…

Vidi: Tapi kebanyakan sih orang-orang marah di komen, gara-gara cerita yang CD Coldplay diludahin.. Padahal saya suka Coldplay, tapi karena Bembi ga suka yaudah gapapa dong.. Banyak juga yang saya kurang setuju tapi karena deadline yaudah sikat hehe..

Alex: Nah gue juga kebetulan agak kurang suka Coldplay hahaha..

Krowbar: Hahahahha! Padahal kan saya cuma bercanda sih.. Tapi kagetnya ternyata banyak yang nunggu komik si Aneka Ria Petaka ini sih setiap minggunya. Entah nunggu komiknya atau komen-komen nya hahaha..

So far, jika dilihat dari likes dan comment, komik edisi mana yang paling sukses secara engagement? Kalau edisi favorit kalian masing-masing yang mana dan kenapa?

Krowbar: Biasanya yang engagement rame sih kalau ada yang marah-marah di komen. Tapi kalau sosial media sih kaya gitu sih ya, kalau hal yang ga ada yang ributnya ya gak akan rame. Ya kita juga niatnya bukan pengen bikin rame, cuma yang menurut kita keren aja. Favorit saya sih yang nyela-nyelain Coldpay sih..

Vidi: Bukan pengen bikin konten dan jadiin rame juga sih. Malah ada beberapa yang bakal rame tapi ga kita publish. Soalnya tau sendiri kan si Bembi selalu bermain di ujung jurang hahaha.. Favorit saya yang Beatles nya baru pulang dari TIbet dan mirip Harry Potter, kaya baru kuliah di Hogwarts..

Alex: Kalau edisi favorit gue sih yang kover Darkthrone, yang tenyata orangnya lagi di jamban. Anjir pas gue baca brilian pisan ini hahaha..

Apakah kepikiran untuk membikin format turunan lain ARP? Mungkin menjadi komik fisik, video Youtube atau membuat merch kaosnya?

Krowbar: Iya, rencana nya begitu.

Alex: Iya pengen jadi buku komik lah, anthologi ngumpulin 100 edisi pertama.

Vidi: Sebenarnya proyek tahun kemarin ya ini harusnya. Karena berbagai macam hal.. Tadi barusan aja baru meeting lagi..

Krowbar: Bapak Alex ini baru muncul lagi soalnya hahaha.. Harusnya beres 100 edisi langsung keluar bukunya, cuma yah biasa lah molor kitanya baru ngumpul lagi hahaha..

Vidi: Mau dibikin buku, action figure, merchandise kaos mungkin. Mulai ada pemasukan lah soalnya si ARP ini. Dulu sempat juga kepikiran bikin animasi, cuma kayanya ini aja dulu beresin satu-satu haha..

Sepertinya jika dilihat dari komik-komik ARP, kalian tidak menyukai Coldplay, Radiohead, Nirvana dan Sunn O))). Kenapa? Hahaha. Apa saja sih 3 band/artist yang kalian tidak sukai dan kenapa?

Krowbar: Kalau yang ga ngerti sih banyak, Nearcrush aja saya ga ngerti hahaha..

Vidi: Pamungkas saya ga suka. Kurang suka musiknya, kurang masuklah cengkok nyanyinya. Raissa juga saya kurang suka suaranya. Sama Tulus.

Alex: Peradaban itu Pamungkas kan? Oh bukan ya, atau Feast itu? Gue sih selalu merasa terganggu setiap ada lagu ‘Peradaban’ itu. Teuing lah eta. Oslo Ibrahim itu juga agak absurd. Hindia juga kurang suka saya. Ya selera aja lah ya itu..

Krowbar: Gue gak suka Feel Koplo, soalnya musiknya kagok, kalau mau dangdut kagok dangdut sekalian. Kelompok Penerbang Roket saya ga suka juga karena musiknya kurang masuk di telinga saya. Saya mah ga membenci, saya ga pernah membenci suatu musik cuma emang ada beberapa band yang ga masuk di telinga saya. Band Absar yang baru yang aneh apa sih? Ali ya? Nah itu juga saya kurang masuk.

Alex: Kalau Ali saya suka ada nuansa Timur Tengah nya..

Kalian datang dari background yang berbeda, yang satu musisi/rapper, yang satu arsitek/illustrator, yang satu lagi designer dan penjual kaos. Apakah kalian disatukan dari kegemaran kalian membaca komik atau gimana?

Alex: Kehidupan yang mempersatukan..

Vidi: Pertemanan sih. Kita kalau disebut dipersatukan oleh kecintaan akan medium komik juga engga kayanya. Gue awalnya tau Alex bukan dari arsiteknya tapi dari karya ilustrasinya, dan dia terkenal cepat gambarnya jadi itu awalnya yang bikin saya pengen kerja bareng Alex.. Bembi awalnya saya kenal pas dia main skate bukan dari pas dia ngerap.. Dan saya suka tweet dia di Twitter, Jadi klop aja kalau Alex dan Bembi digabungkan.

Krowbar: Awalnya mah heureuy sih.. Kalau dibilang gue anak komik ya engga juga lah.. Kita bukan anak komik banget lah. Sebenarnya kita ga ada di dunia komik juga gapapa sih.. Kalau pembagian tugas sih Alex gambar, gue yang bikin skripnya, nah Vidi punya media dan sekaligus jadi “rem” nya kalau misal kita nya terlalu nge “gas”..

Pertanyaan terakhir: Apa rencana berikutnya ARP?

Vidi: Saya dari sisi pedagang pengan ini jadi duit, harusnya bisa lebih. Dari perspektif pengusaha ya ini harus lebih menghasilkan.

Alex: Mungkin pengen bikin film animasi next nya. Atau bahkan next nya ada live-action nya hahaha.. Jadi ke medium film..

Krowbar: Pengen cobain bikin komik yang panjang, ada story arc nya. Satu buku tamat. Ambisius sih. Menantang soalnya, beda aja bikin cerita pendek dan cerita panjang.

Vidi: Semoga Netflix baca interview ini.

Last shouts?

Vidi: Pembaca jangan baper hahaha..

Alex: Nikmatin aja komik kita dan dengarkan Anal Cunt!!

Krowbar: Dengarkan Merzbow haha. Eh Anal Cunt belum pernah kita bahas di komik ya? Ah tapi moal aya nu apal sigana hahaha..

 

Interview & Text by Aldy Kusumah
Photos by Firman Rohmansyah

Tau Tau Festival kembali akan digelar pada tanggal 28 Mei 2023 di Lapangan Pusenif Bandung. Tautau Festival dikenal sebagai festival musik yang menghadirkan berbagai genre musik dari artis-artis terkenal Indonesia. Pada gelarannya di tahun 2023 ini Tau Tau Fetival aka dimeriahkan oleh The Jansen, Rub of Rub, Float, Fiersa Besari, Tulus dan masih banyak pengisi acara yang nggak akan kalah serunya.

Tidak hanya itu, Tautau Festival tahun ini akan menampilkan kolaborasi spesial antara dua band besar Indonesia, yaitu Efek Rumah Kaca dan Perunggu. Kolaborasi antara kedua band ini tentunya akan menjadi highlight dari Tautau Festival tahun ini. Ada juga kolaborasi lainnya seperti Ananda Badudu x Rai, dan juga Juici Luicy x Adrian Khalif

Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan penampilan spesial kolaborasi Efek Rumah Kaca x Perunggu untuk pertama kalinya di Tau Tau Festival dan juga artis lainnya di Lapangan Pusenif Bandung 28 Mei 2023 mendatang. Tiket sudah bisa didapatkan secara online dengan harga Rp. 149.000,- dan harga spesial kalau kamu membelinya buat bareng temen-temen kamu.

Menurut pihak keluarga, Frank Kozik meninggal secara tiba-tiba pada hari Sabtu kemarin (06/05). Frank meninggal pada umur 61 tahun dan belum diketahui secara pasti penyebabnya karena keluarga ingin privasinya dijaga selama masa berkabung. Frank mengawali karirnya sebagai ilustrator setelah meninggalkan Angkatan Udara. Dia bekerja sebagai penjaga pintu di sebuah klub malam di Austin, dan secara tidak langsung menjadi bagian dari skena rock bawah tanah di kota tersebut. Dia pertama kali mendapat perhatian sebagai seniman bawah tanah yang berlatih sendiri pada awal 1980-an, membuat flyers dan poster untuk band-band punk Austin.

Pada tahun 1993 Kozik pindah ke San Francisco, dimana dia memulai sebuah record label dan mendirikan Man’s Ruin Records, yang merilis lebih dari 200 album punk dan band alternatif. Dia membubarkan label tersebut pada tahun 2001 untuk fokus pada seni rupa. Kozik sudah bekerja dengan Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden, Stone Temple Pilots, Red Hot Chili Peppers, Melvins, The Offspring, Butthole Surfers, dan Helmet. Kozik mendesain banyak sampul album, termasuk debut self-titled Queens of the Stone Age tahun 1998 dan The Offspring’s Americana. Dia menyutradarai video musik untuk lagu Soundgarden “Pretty Noose”.

Kozik menerbitkan beberapa buku termasuk Man’s Ruin: Posters and Art by Frank Kozik dan Desperate Measures Empty Pleasures. Kozik dianggap sebagai “salah satu ilustrator poster terbaik di dunia rock”, dan diwawancarai di majalah Rolling Stone. Kozik menciptakan karakter ikoniknya Smorkin’ Labbit dan menjadi Direktur Kreatif Kidrobot. Dia pernah menjual lukisan Labbit yang langka di acara lelang TV seharga £4.000. Frank secara tidak langsung mempopulerkan genre stoner rock, dessert rock, doom, dan sludge metal. Record label Man’s Ruin Records pernah merilis band-band cult seperti: Iron Monkey, Entombed, Electric Wizard, High on Fire, Kyuss, Cavity, Queens of the Stone Age, Acid King, Church of Misery, Fu Manchu & Alabama Thunderpussy. Selamat tinggal legenda!

 

Teks by Aldy Kusumah

SL/CED Pizzeria akan kembali membuka gerainya di Bandung. Dalam rangka merayakan kehadiran mereka di kota kembang, SL/CED Pizzeria akan menggelar acara “The New Wave of SL/CED Pizzeria” di Ruang 8 Bandung pada tanggal 13 Mei 2023.

Acara ini akan menampilkan pengalaman unik dalam menikmati pizza yang melibatkan kelima indera, seperti pose di photo booth Snapcorner, menu spesial kolaborasi SL/CED dengan Los Tropis, musik dari Norrrm Radio, tato temporary dari Inkqueen, nail art dari Kutekulash dan tentu saja, mencicipi pizza mereka yang terkenal lezat. SL/CED Pizzeria hadir dengan menu pizza homemade dan eksperimental yang tidak terikat pada gaya pizza tertentu.

Gerai-gerai mereka yang telah tersebar di Jakarta dan Bintaro sangat terkenal karena kemudahan dan keterjangkaannya. Gerai pertama SL/CED Pizzeria di Bandung akan segera membuka pintunya dan diharapkan dapat menjadi pilihan baru bagi pecinta pizza di kota Bandung.

Sebelum merilis album penuh, Phonetic rilis single “All The Time” sebagai pemanasan menuju album penuh pertama dari unit alternative pop asal Bandung ini. Dikerjakan sejak bulan Februari 2023, single yang liriknya ditulis oleh Ario Danan dan Misyel Evelyn ini bercerita mengenai seorang pria yang mengagumi seorang wanita yang diluar jangkauannya. Tidak menyerah begitu saja, sang pria pun mencoba segala cara menghubungi segala waktu dan keterbatasan sehingga wanita itu pun jatuh ke pelukannya.

Lekat dengan aneka licks, fills, hooks, dan riffs yang dikemas sedemikian rupa agar tetap catchy dan masih easy listening, melalui “All The Time” Phonetic mencoba memperkuat kembali identitasnya setelah single sebelumnya “Alien” terdengar berbeda dengan lagu-lagu Phonetic lainnya.

“All The Time” juga menjadi salah satu lagu yang akan masuk kedalam album penuh perdana Phonetic yang rencananya akan rilis pada pertengahan tahun 2023.

Pada hari Sabtu 18 Maret 2023 lalu ada sebuah event yang sangat menarik: yaitu Patch and Process (yang menjadi bagian dari “Cocok Nada: Pameran Perancangan Alat Musik”) di Selasar Pavillion yang berlokasi di Jl. Bukit Pakar Timur no.82. Event pun dibagi ke 2 sesi yaitu Modular synth workshop pada jam 15:00-16:30 yag dipandu oleh Baseput and Deathlessramz, lalu puncak event Modular live set performance pada jam 16:00-22:00. Setelah Lokakarya Modular selesai digelar, event ini langsung menggelar sesi live performance yang menampilkan para performer seperti: Baseput, Bagus Pandega, Parakuat X Deathlessnoir, Grahadea, Discokid909, dan ditutup oleh DJ performance dari Mr. Dymz A.K.A. Adymas Haryo. Instalasi lighting dari Convert ID juga hadir untuk merespon struktur ruang Selasar Pavillion dan live performance memberikan pengalaman visual yang menarik bagi para penonton.

Patch and Process adalah program reguler dari Norrm Radio dan Indomodular, yang kali ini merupakan rangkaian program publik pameran “Cocok Nada: Pameran Perancangan Alat Musik” di Selasar Pavillion. Menurut press rilisnya, event ini adalah “Sebuah perjalanan budidaya suara, sesi melilit suara dari goresan. Sebuah program berkelanjutan yang dibuat oleh Norrm Radio bersama Indomodular”. Program ini juga didukung oleh Maternal Disaster, Capslock_ltd, Convert.id, Downtown Studio dan Timur Rec. Selasar Pavillion sendiri adalah sebuah space yang terletak berdekatan dengan Selasar Sunaryo dan WOT Batu. Semenjak kemunculannya, Pavilion sudah membuat eksibisi menarik dari arsitek asal Perancis Le Corbusier, eksibisi modular music Cocok Nada sampai beberapa eksibisi new and upcoming artist. Mungkin memang Selasar Pavillion bertujuan untuk menaungi para kreatif independen yang berada diluar seni rupa pada umumnya.

 

Text by Aldy Kusumah
Photo by Selasar Pavillion