Setelah merilis 12th House Rock pada tahun 2020 lalu, band alternative rock asal Dallas, Texas ini kembali dengan Moments of Clarity, jauh lebih baik dari predesesornya. Kembali dirilis oleh label Run For Cover, di album ini Narrow Head kembali meracik sebuah ramuan yang terdiri dari elemen-elemen terbaik grunge, shoegaze maupun American indie rock. Dibuka dengan “The Real”, sebuah track pembuka yang cukup bombasti. Riff grunge yang tenggelam oleh efek fuzz di intro cukup mengundang kepala untuk sedikit mengangguk pelan. Tack kedua “Moments of Clarity” adalah single utama album ini. Sama seperti track sebelumnya yang grungy, lagu ini juga memiliki chorus yang sangat enak, dan tentunya Pumpkins heavy secara aransmen dan referensi. Tidak aneh bila mereka dijuluki dream grunge (dream pop + grunge) secara genre.

Sampai di track ke-3 bertitel “Sunday”, semakin yakin kalau band ini sudah nyaman bermain dengan tempo middle, tidak terlalu cepat, tetapi tidak pelan juga. Sangat menyukai petikan lead guitar di menit 2:58 yang chorus tetapi tetap menembus mix. Jika album sebelumnya lebih berfokus kepada lirik-lirik depresif mengenai substansi dan aransmen yang “introvert”, di album ketiga ini Narrow Head terasa lebih anthemic dan eksplosif secara aransmen maupun sound. Lihat saja sound gitar yang lebih punchy di album ini. Krisis mental yang dialami Jacob Duarte di album 12th House Rock diganti oleh lirik-lirik yang sedikit lebih positif disini, seolah Jacob menemukan sisi spiritualnya pada lirik “How good does it feel / To be you, to be real?”. Lirik di lagu “The Comedown” seolah menawarkan konklusi kepada para pendengar yang sedang mengalami krisis identitas “You should know I’m getting older / I lost myself and it feels so good.”.

Bagi para penyuka musik ‘90an, album ini terasa nostalgic dan sekaligus memberi angin segar juga di stagnan nya sound-sound band kekinian. Kalian akan menemukan riff-riff ala Smashing Pumpkins atau Hum (“The Real” & “Moments of Clarity”), beat-beat dan gitar ala ‘90s alt-metal seperti Quicksand, Helmet, Deftones (“Flesh & Solitude”) dan nuansa glide ala My Bloody Valentine (“The World” & “Soft to Touch”). Don’t get me wrong, semua referensi itu mereka racik sedemikian rupa menjadi karakter mereka sendiri. Lagi pula jika membicarakan originalitas, band mana sih yang 100% original di tahun 2023?

Key tracks: The Real, Sunday & Moments of Clarity

 

Words by Aldy Kusumah

Setelah sukses dengan perilisan kolaborasi dengan deadsquad Chapter 1 Gozeal kembali merilis produk kolaborasi dengan Deadsquad. Untuk kolaborasi kali ini mereka mengangkat tema “The Apocalypse”. Pemilihan tema “The Apocalypse” atau kiamat secara garis besar merujuk pada kehancuran, pembantaian dan kematian, Dalam kolaborasi ini Gozeal x Deadsquad akan merilis beberapa koleksi Tees, Longsleeve, Hoodie dan Shoes.

Desain dalam kolaborasi kali ini mengadopsi dari beberapa sumber terkait, seperti ruruntuhan Yunani agar terkesan klasik, hewan atau monster dari mitologi Yunani seperti typhon yang kami adopsi dan di padupadakan dengan snakegoat dari Deadsquad, dan gerbang neraka yang menggambarkan kesakitan, dan keterpurukan. Selain itu dalam desain kolaborasi ini terdapat tokoh empat penunggang kuda atau “four horseman the apocalypse”, salah satu tokoh penunggang kuda “war” (perang) dengan tampilan khasnya menunggang kuda yang membawa pedang kehancuran menjadi desain kolaborasi kali ini.

Kolaborasi Gozeal x Deadsquad akan rilis pada tanggal 28 Maret 2023 di shopee official Gozeal.

Setelah sukses menggelar event pertama pafa akhir tahun 2022, Diorama hadir kembali dengan mengusung tema “Diorama A Day At Museum” yang akan diselenggarakan di Paris Van Java Mall – Level P7 Bandung , Kamis – Minggu, 6 – 9 April 2023. Lebih dari 40 brand yang sudah terkurasi akan memerkan produk- produk dari mitra kreatif mulai dari Art & Craft, Hobbies, Fashion hingga Home Living.

Beberapa mitra kreatif Art & Craft, Hobbies, Fashion, Home Living hingga Food and Beverage yang bergabung antara lain: Ikatterikat, Ddekap, Room 533, Sillyco, The Bahamas, Kerenissi, Studio RUI, Stellar Coronae, Delynclothing, Railway Coffee, Jumbuh Meramu & Cayahati Apothecary, Qrystal Soul & Qreate Studios, Clayt, Heartmade by Amora, Minime, Madame Yo, Xusha, HelloPop! & SELARAS, Paduka, Ooganikku Indonesia, Harvs Studio, Moshi Day, Madeline Boboo, Kreema Florist and Decoration Cein Goods, Keartas Studio & September Spring, Boura, Niyya Studio & Eleanor Art Scarf, Tablewear by Elin, Labuan Linen Wear, LYKASTORY, Teno, Tummy Time by Frida, Gutaste, Sei Babibu, Loh Jinawi, Twinkle Well dan Patisserie Kaede.

Selain Pop-Up Market, Diorama juga mebuat aktivasi Creative Workshop yang berkolaborasi dengan berbagi brand, artisan, hingga komunitas seni. Seperti workshop Tufting, Resin Art, Pressed Flowers, Pottery, Binding Books hingga workshop yang berkolaborasi dengan komunitas studio design disabilitas, Tab Space. Juga aktivasi pameran karya seperti produk design dan artwork dengan kontributor seniman yang sudah dikurasi. Pengunjung juga dapat mengikuti sesi Talkshow yang mengundang icon kreatif hingga seniman yang akan berbagi pengalaman-nya.

Diorama berharap event ini menjadi wadah bagi pegiat dan penikmat produk-produk kreatif lokal untuk memperkenalkan-nya kepada masyarakat luas dan memajukan industri kreatif lokal dan wisata khusus- nya di kota Bandung.

Unit post-metal asal Jakarta ini kerap mencuri perhatian para penonton setiap mereka perform. Tidak lain karena materi yang mereka bawakan memang keren, terkonsep dan sound live mereka memang terbukti dahsyat. Di album Eternal ini, Morgensoll menawarkan 3 lagu instrumental dan 1 lagu dengan vokalis tamu Ekrig (Satan’s Heir) dari Avhath. “Adiaphora” adalah lagu yang tepat untuk pembuka: seolah menjelaskan akan seperti apa mood dan konsep album ini dengan durasi 11 menit 19 detiknya itu. Drumming yang intens disambut oleh gitar lead ala post-punk yang menembus mix dengan indah dan membius. Pada track kedua (“Familiar Changes”), Satan’s Heir hadir untuk membuat suasana semakin kelam. Song structure ala black metal pun tidak terhindarkan, tetapi ajaibnya masih nge-blend dengan konsep post-metal yang diusung Morgensoll. Sedikit mengingatkan saya pada Deafheaven era Sunbather, tetapi tetap mempunyai karakter yang kuat (apalgi dengan droning atmosferik di awal komposisi). Track ketiga, “Euthanasia” dimulai dengan suara efek yang menyerupai “flatline” pasien ICU di rumah sakit. Euthanasia sendiri adalah sebuah praktek untuk mengakhiri hidup untuk mengurangi penderitaan pasien yang sudah tidak bisa diselamatkan. Anyway track 3 sangat atmosferik dan sound nya pun megah, cocok jika dibawakan pada saat manggung di arena atau stadium besar. Dari keempat track yang dihadirkan disini, favorit saya adalah track terakhir “Getun”, yang dalam bahasa Jawa berarti “Kekecewaan”. Track ini sebenarnya cukup straightforward dan mengingatkan akan kejayaan band-band post-rock/post-metal medio tahun 2000an dengan aransmen crescendo nya yang klimaks.

Morgensoll adalah project solo dari Haecal Aliba Benarivo, yang mengusung genre Post-Metal & Post-Rock. Morgensoll gigih mengusung konsep musik instrumental sejak tahun 2016. Morgensoll cukup prolifik dalam berkaraya: 2 single pada tahun 2018 (Ngengat dan Introvert), album live di tahun 2019 (Prologue), 2 single di tahun 2021 (Doomed & Logos), 2 single di tahun 2022 (Sense of Belonging) dan album Eternal ini untuk menyambut 2023. Hebatnya di album Eternal ini semua seingle yang pernah dirilis tidak ada satupun yang dipakai. Untuk versi kasetnya, Eternal akan dirilis oleh Kamar Bising dan Harsh Productions. Dan ya, Eternal adalah sebuah album karena berdurasi lebih dari 40 menit walaupun hanya terdapat 4 track saja didalamnya. Memang tidak aneh jika mereka suatu saat bisa sepanggung dengan Pelican, Red Sparrowes atau Godflesh, karena Morgensoll is just that good.

Key tracks: Familiar Changes, Getun

 

Words by Aldy Kusumah

Greedy Dust bersama maker asal Bandung, 1.Spesifikasi mengeluarkan desain mika kaset baru yang terbuat dari akrilik, dengan kuncian sederhana serta visual hitam putih, packaging ini hadir pertama kali dalam Double EP dari Kinder Bloomen berjudul Dazed & Confuzed.

Double EP ini terdiri dari 2 Kaset dengan total 6 lagu berdurasi Panjang. Dijual seharga Rp. 279.000 danpemesanannya dibuka Jumat, 24 Maret 2023 bersamaan dengan pra-pesan dari merchandise Kinder Bloomen yang lain.

Setelah merilis secara eksklusif di Storefront.com, Lips!! meluncurkan single yang berjudul “Akhir si Jahanam” di semua platform musik streaming pada Jumat (24/03) lalu. Lagu ini adalah sekuel dari lagu Hajar Jahanam, berkisah tentang para bajingan yang memegang kendali lalu berakhir secara tragis sebelum memperbaiki apa telah mereka mulai. Mimpi dan citra yang dirakit sedemikian rupa, seketika musnah dan tertunduk di hadapan takdir. Kota memang tidak aman bagi kalian (jahanam). penuh godaan, tempat dimana mimpi dirakit, pun tempat kalian ditikam oleh realita.

Secara musik, bila dibandingkan dengan Kiss and Die (2018) dan Thirsty (2019) akan terdengar ramuan berbeda yang dilakukan oleh kuartet punk rock asal Jakarta ini di single “Akhir si Jahanam”. Hal inilah yang akan menjadi kejutan besar di peluncuran EP Lips!! di bulan Mei nanti. Namun, tetap mempertahankan benang merah mereka sebagai band punk/rock yang digawangi oleh Dila (Vokal), Hari (Gitar), Isan (Drum) dan Dafi (Bass) ini. Akhir si Jahanam dan materi EP lainnya di rekam di Plug Studio, Cibubur. Untuk mixing mastering sendiri dilakukan di The Pandora Labs, Bandung.

Bleach adalah salah satu band hardcore yang selalu menjadi sorotan akhir-akhir ini, bahkan dari awal mereka menelurkan EP self titled mereka pada tahun 2020 Bleach already started making waves. Fast forward ke tahun 2023, dengan formasi yang semakin solid, Bleach merilis EP Chrome yang merupakan aktivasi “pemanasan” sebelum debut album mereka rilis. Mari berbincang dengan mereka mengenai proses rekaman dan rencana epik mereka membuat 10 video klip untuk debut albumnya

Masing-masing bisa ceritakan sedikit tentang EP Chrome yang baru dirilis dan upcoming album si Bleach?
Mike: Project album ini buat saya itu adalah satu cara kami mengekspresikan musik hardcore dengan cara kami sendiri. EP Chrome merupakan sedikit bentuk dari eksplorasi musik yang kita lakukan.

Kevin: Sebenarnya full album tuh bakal rilis Februari, tapi karena Maret dan April bulan puasa, jadi biar gak kepotong puasa dan materi tetap “hangat” kita rilis EP dulu. Yang ada di EP ini juga nanti masuk semua ke album. Dari segi materi sebenarnya ini semua sudah dibikin dari tahun 2020. Pertama kita bikin EP self-titled, lalu ktia bikin EP bareng Couch CLub dan single “Treat The Disease”. Dan setelah itu recording materi album ini udah beres, tinggal take vokal aja. Drum di Funhouse sama Pak Yoni Gayot. Untuk gitar, bass, mastering dan vokal di Homestrack, operator nya si Faris. Secara kreatif ya color musiknya ya musik-musik tahun segitu, seperti Higher Power, Expire, Backtrack, Turnstile dan Trapped Under Ice masih.


Proses ngerjain materi lagu di Bleach biasanya seperti apa?
Kevin: Biasanya demo awal dari gue, dulu tuh gue dan Krisna belum married jadi sore-sore suka ngerjain materi dirumah Krisna. Proses ngerjain materi album ini cuma sekitar 3 bulan. Sehari bisa beres 1 lagu. Kaya yang collab sama Dika juga cuma sehari, lirik dari dia. Sebenernya ada 3 collab di album ini tuh, sama Austino (vokalis Prime, bassist Lost Sight), lagu terakhir ada yang sama Jamrud. Balik lagi ke proses penggarapan materi biasanya gue kerumah Krisna, ga bawa lagu, tapi bikin riff mendadak disitu, ngalir aja. Jadi pas masuk studio anak-anak ngasih input dan aransmen, poles-poles. Kalau departemen lirik gue percayain sama Mike semua. Awal-awal lagam vokal gue ga ngelepas si Mike, tapi untuk album Mike sudah datang ke studio dan explore sendiri. Sampai vokal-vokal clean si Mike yang nyari nada nya sekarang.

Bleach sudah eksplor genre-genre musik diluar hardcore itu sendiri dari kolaborasi sama Couch Club di Intermezzo, cover “Coklat” PS yang sedikit berbau grunge sampai single “Scales” yang jazzy. Bahkan katanya ada pengaruh dari King Krule. Apa yang ngebuat lo semua eksplor genre-genre yang tidak umum di hardcore tersebut?
Mike: Simple aja, karena saya sendiri suka dengerin berbagai macam genre. banyak aspek-aspek keren dari genre-genre tersebut yang bisa dicampurkan dengan musik hardcore yang kami mainkan.

Kevin: Kaya lagu “Overcast” aja ada elemen perkusi yang di highlight. Dan karena basic nya kita juga suka genre-genre musik lain diluar hardcore itu sendiri, jadi kenapa tidak dimasukkan aja elemen-elemen nya. Dan gue juga ga mikir sejauh apakah kita akan mengalienasi penggemar Bleach dengan eksplorasinya, ya kita bikin aja dulu dan semoga semua menerima.

Kenapa memilih di co-release oleh Oblivion dan Disaster Records? Bagaimana awal prosesnya?
Kevin: Sebenarnya udah ngincer mereka dari lama. Dari pas rilis videoklip pertama udah ngebahas sama anak-anak pengen dirilis sama Disaster dan Oblivion. Nah pas Oblivion ngeborong merch kita, kita sekalian pitching soal album, gow katanya. Terus nanya ke Ody Disaster juga mereka kasih lampu hijau. Gatau kenapa lama ya, mungkin gara-gara kita nya gak ngerjain aja, gara-gara tour dan manggung jadi sedikit terhambat. Yang “Scales” itu kan alternatif, terinspirasi Drug Church dan Diamond Youth yang album “Don’t Lose Your Cool”.

Mike: Buat Oblivion dan Disaster sendiri sebenarnya ruang lingkupnya masih dalam circle pertemanan Bleach. kami pun sangat menilai tinggi apresiasi mereka di dalam musik. Jadi untuk proses rekaman EP dan Album ini bisa dibilang sangat smooth karena mereka juga bisa keep pace dengan bleach.

Apa yang kalian kejar dari sound dan aransmen Bleach untuk EP dan album?
Upy: Drumming di album Bleach tuh banyak pake beat-beat heavy metal 90an..

Mike: untuk vokal sih di album ini saya ingin mencoba di beberapa bagian diisi dengan tune vokal ala-ala Chino Moreno dari Deftones.

Kevin: Gue terinspirasi gitar-gitarnya si Culture Abuse, asik flanger-flanger basah yang cepat. Leeway juga gue dengerin yang album “Born to Expire”. Kalau gue sih ingin gitar nya dapet sound si Mizery, tight nya masih ada tapi terdengar sedikit vintage. Chorus nya asik juga. Kalau TItle Fight dia banyak main open chords chorusnya. Warzone yang album Warzone juga gak kaya Warzone, enak banget gitarnya.

Denger-denger semua lagu di album kalian mau dijadiin video klip ya? Bisa ceritakan sedikit dari sudut pandang masing-masing?
Kevin: Iya nih 10 track mau dibikin music videonya. Mulai shooting tanggal 12 sampai 27 Februari ini kita kerjain. Sebenarnya pengen bikin film. Rangkaian dan aktivasi nya tuh banyak sebenarnya, tapi nanti details nya off the record aja hehehe. Durasi full album cuma 21 menit, harusnya masih make sense untuk dibikin film pendek. Gue ketemu sama directornya, Putt April. Dia tuh biasa ngerjain anak-anak hiphop kaya Cito Gakso, Belva. Dia juga pengen bikin short film juga dan selalu cari modal. Alhamdulillah akhirnya kita dapat dananya dari label untuk merealisasikan short film ini. Rilisnya Juni kalau ga ada halangan.

Mike: Iya bener, sebenarnya pembuatan semua lagu dijadikan video klip ini biar orang-orang yang mendengar lagu-lagu di album ini bisa merasakan experience lain salah satunya dengan memvisualkan semua lagu di album ini.

Mike, gimana proses kreatif lo untuk mengisi departemen lirik dan lagam vokal pada saat penulisan lagu? Ceritain juga transisi lo dari bassist jadi vokalis..
Mike: Untuk lirik di album ini sendiri sih sebenarnya tidak jauh-jauh dari hal-hal yang sedang relate di hidup saya setahun belakangan ini. Hal-hal ini saya coba kumpulkan dan jadiin dalam beberapa lagu yang dipakai di album ini. Untuk transisi dari bass ke vokal tuh lumayan challenge sih di awalnya. Karena vokal sendiri merupakan hal yang baru bagi saya selama ngeband dan saya sendiri ngerasain perkembangan saya dari awal saya pegang vokal di Bleach sampai sekarang.

Upy, selain di Bleach, lo juga bermain di beberapa band yang berbeda genre seperti Lowlines, sempat ngedrum di Couch Club dan Eazz. Apa lo juga mencoba memasukan referensi dari berbagai genre tersebut ke style drumming lo di Bleach? Oh ya kabarnya lo juga mau bikin buku not balok album Bleach ya?
Upy: Kalo untuk mencoba memasukan dari genre genre di atas itu nggak sih, style drumming di Bleach tuh banyak pake beat beat heavy metal 90s. Di sini juga gw mempertahankan dengan single pedal ditambah touch yang dibuat full power.
Untuk project buku not drum itu sebetul nya goals gw adalah pengen orang bisa baca not dan mengenal basic drumming di music hardcore. Ini versi gw, jadi nanti isi nya tuh basic-basic beat hardcore versi gw sama ada beberapa teknik dasar aja itu sih.

Krisna dan Axel, kenapa memilih instrumen gitar dan bass dan ga mengikuti ayah kalian (Om Krisyanto dan Om Azis MS) yang sudah ikonik sebagai vokalis & gitaris Jamrud?
Krisna: Awal nya saya ingin jadi arsitek, cuma ga kesampean. Dari kecil emang udah hobi gambar gunung dan sawah. Kenapa pilih instrumen gitar, dulu SD kelas 6 pertama kali denger lagu nya A7X “Unholy”. Terus di sekolah ada yang bisa mainin lagu itu, kesan pertama wow “keren” sampe pada akhir nya ngulik. Pertama tertarik dengan gitar SD kelas 4 lihat film dokumenter nya Slipknot lihat Jim Root, walaupun awalnya sempat ketakutan nonton-nya, kaya sekte setan kegelapness…

Axel: Dari kecil sebenarnya tertarik ke drum sampe ikut-ikut perlombaan tapi waktu pandemic mulai ga ada kegiatan apa-apa akhirnya nyobain ngulik bass ternyata suka banget dan mulai mendalami lebih jauh…

Kevin: Si Axel baru maen bass 6 bulan pas gabung Bleach, dan langsung diajak tour hahaha.. Padahal DJ dia aslinya..

 

Words & Interview by Aldy Kusumah
Photos taken from Bleach archives

Album Rimpang hadir di tahun 2023, tepatnya 8 tahun setelah ERK merilis “Sinestisia”, album ketiga mereka yang cukup epik. Dari awal album ini dibuka, kesan “mewah” sudah tersirat dari aransmen dan sound di lagu pertama. Dibuka dengan “Fun Kaya Fun” yang synthesizernya mengingatkan saya pada Beach House, rupanya eksperimentasi yang dilakukan di album ini akan membuahkan sesuatu yang menyenangkan untuk didengar. Poppie memainkan bass lines nya dengan groovy, dan gitaris baru Reza diberikan ruang untuk bereksplorasi dengan gitarnya. Dengarkan keindahan e-bow Reza yang juga menyelimuti track ini. Peran vokalis latar Suraa (Cempaka Suarakusumah) Track pertama ini pun sudah menjauhkan ERK dari kesan trio minimalis yang kerap menempel sejak debut album Efek Rumah Kaca (2007) dan album kedua mereka Kamar Gelap 2008. Dengan hadirnya 2 personil (Poppie dan Reza), tentunya penulisan lagu di album ini tidak lagi didominasi oleh duo Akbar dan Cholil, melainkan sebuah proses kreatif sebuah band yang beranggotakan 4 orang.

Track ke-2 “Bergeming” seolah membawa kita ke ERK era album 1 & 2. Dimulai dari drumming Akbar yang sedikit mengingatkan saya pada Jason McGerr dari Death Cab For Cutie. Begitu mantapnya bridge di menit ke 2:18. Lalu dari situ lagu pun semakin penuh bagaikan crescendo orkestra yang indah. Track ketiga “Heroik” adalah lagu paling aksesibel di album ini. Sebuah lagu “pop” dengan lirik “Merasa heroik / Memekik-mekik / Orang-orang bergidik / Peran yang kau pikul / Pamrihnya menyembul”, sudah pasti Cholil membicarakan figur-figur yang ber akrobat agar terlihat bak pahlawan didepan media massa, entah dibelakang semua topeng itu apa peran mereka. “Tetaplah Terlelap” seolah merayakan kesedihan dan melankolia menjadi suatu harapan. Sebuah lagu pop dengan semangat akar rumput. Tentunya salah satu track favorit saya disini adalah “Bersemi Sekebun”, dimana Cholil dan cohorts nya menggaet kolaborator Morgue Vanguard (Herry Sutresna), bukan untuk part rapping melainkan spoken words. Tentunya penggalan lirik ini akan menjadi favorit banyak orang: “Ada sejenis api dari kemustahilan / Sejenis harapan yang datang dari pelan nyala sekam / Sejenis badai lahir dari rajutan bukan kepalan / Tak semua seruan harus dilantangkan”. Lagu ini mungkin adalah sebuah ode untuk “perang-perang yang tak akan dimenangkan”, sebuah homage untuk kisah-kisah perjuangan baru yang lahir dari kolektif-kolektif kecil, dan tentunya ini adalah pesan untuk “bertahan sedikit lebih lama” karena hari yang baik akan datang. Album Rimpang ini memang bercerita mengenai harapan-harapan yang baru lahir secara garis besarnya (Google: Definis Rimpang).

Kekuatan Rimpang sudah tentu dari aransemen, kekuatan lirik Cholil, dan songwriting style mereka yang sudah mencapai level selanjutnya (bahkan menurut saya lebih bagus dari Sinestesia). Tetapi bukan hanya lagu-lagunya nya saja yang patut mendapatkan apresiasi, melainkan konsep keseluruhan album ini sebagai suatu entitas yang harus dinikmati secara keseluruhan dari track 1 sampai track 10. Dan lagu penutup “Manifesto” pun adalah sebuah closure yang indah. Poin plus: saya selalu suka album berisi 10 lagu, tidak terlalu banyak, dan tidak kurang juga, pas. Who doesn’t love a great album with 10 great songs? Now i’m officially a big fan of Efek Rumah Kaca.

Key tracks: Fun Kaya Fun, Manifesto, Bersemi Sekebun, Tetaplah Terlelap, Heroik

 

Words by Aldy Kusumah

Street Rookie mengeluarkan seri terbarunya “MK-02” yang fokus pada kenyamanan dan ketahanan untuk dipakai daily. Didesign dengan memaksimalkan lost material dipabrik membuat sepatu ini unik dan terbatas. Dengan siluet yang baru membuat tipe kaki lebar, lebih leluasa dalam memakainya.

Ditujukan untuk para daily warrior sepatu vulcanize ini dibalut premium suede, collar mesh lining, rubber toe cap dan super comfy & durable latex cup insole. Tersedia dengan 3 warna dengan low dan mid cut membuat pilihan style #rookies menjadi lebih variatif Explore and Perform with Street Rookie.

 

Setelah melepas debut album bertajuk Negative Thoughts pada 2021 silam, Maio merilis debut albumnya tersebut kedalam format digital. Sebuah manifesto hardcore punk dengan balutan rock n roll slengean. versi digital ini merupakan extended version, perbedaan dari versi sebelumnya ada di dalam tracklist yang terdiri dari tujuh track, satu cover version, dan lima track tambahan versi live.

Sebelumnya unit hc/punk yang digawangi oleh Aziz (vokal), Martin (gitar), Abuy (gitar), Kikim (bass), dan Wisong (drum) merilis album ini via HSTD Records dalam format kaset pita dengan dua versi, bundle pack dan regular. Yang membedakan dengan format fisik, Momen ini pun menjadi sebuah tonggak sebagai pembukaan menuju album Maio selanjutnya yang sedang digarap.

Album Negative Thoughts sudah bisa didengarkan di berbagai digital streaming platform Versi rilisan fisik masih bisa didapatkan via HSTD Records jika persediaan masih ada