Brand asal Bandung, Bodypack, balik lagi dengan video yang berfokus pada tema “Balanced Life” setelah belakangan ini tampil dengan penyegaran konten dan produk-produknya. Campaign ini jadi salah satu statement keseriusan Bodypack buat terus dukung kegiatan warga urban dan ningkatin kesadaran terhadap kesehatan mental.

Kabarnya, campaign ini juga jadi teaser kalo Bodypack akan segera rebranding. Adapun judul Urbanventure sendiri didefinisikan sebagai “the exploration of progressive urban people”, yaitu mindset dan lifestyle warga perkotaan yang terus berambisi membuat perbedaan dalam hidup. Creative Director Bodypack, Febby Rusdiansyah, mengungkapkan bahwa kehidupan pasca pandemi dan tuntutan hidup yang kian kompetitif membuat masyarakat perkotaan semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental. “Ambisi untuk terus ber-progress inilah yang sekarang dibarengi
dengan hobi dan kegiatan lainnya di luar rutinitas untuk bisa mencapai life balance,” begitu ungkapnya.

Dalam videonya, label tas dan apparel yang didirikan sejak 1996 ini menampilkan karakter yang mewakili persona Bodypack berada di beberapa lokasi kegiatan. Ia digambarkan sebagai seseorang yang punya banyak aktivitas dan hobi. Seiring waktu yang cepat berlalu, ia terlihat hilang arah dan kendali atas dirinya sendiri. Pada akhirnya ia diberi saran untuk berhenti sejenak sebelum kembali mengejar ambisi.

Product Marketing Manager Bodypack, Ardhiansyah “Kopral” Putra, mengungkapkan bahwa meski dunia ini penuh dengan kesibukan manusia selalu punya ruang untuk ketenangan. Campaign ini juga mengajak audiens untuk berfokus mengembalikan jati diri masing-masing individu.

Setelah merilis album perdana mereka di tahun 2020 yang bertajuk “Burning Lust”, Loutspell, kini merilis single terbaru mereka yang berjudul “Pissed Off”, yang menjadi salah satu Single pembuka dari album kedua mereka yang akan dirilis tahun 2023 ini.

Unit hardcore punk asal Bandung yang beranggotakan Keniro (Vocal), Jurais (Guitar), Willy (Bass), Aggi (Drum) ini berhasil meracik musik yang lebih agresif daripada album sebelumnya, penemuan apik dari Loutspell dengan musik yang terdengar lebih gelap namun spirit dari hardcore punk tetap melekat di setiap riffs-nya.

Dengan lirik yang terasa lebih depresi, mampu meluapkan amarah dan rasa muak terhadap situasi yang sering melanda pikiran, semua tertulis disetiap bait.

 

Setelah 10 tahun menetap di Jl. Kartini, Grimloc pindah lokasi dari Jl. Kartini ke daerah Buahbatu, tepatnya di Jl. Suryalaya. Grimloc kini sepertinya sudah menemukan lokasi yang cukup strategis untuk menetap. Sejak awal pandemi tahun 2020 Grimloc sudah memindahkan seluruh operasinya ke Jl. Suryalaya XII No. 2A Bandung. Sudah tentu kalian akan bisa mendapatkan semua rilisan Grimloc Records dengan mudah dari sini dari CD Jeruji, Vinyl Koil, T-Shirt Krowbar sampai Kaset Homicide. Selain cukup prolifik merilis rilisan fisik, departemen merchandise mereka juga kerap merilis kaos-kaos untuk roster artisnya, belum lagi merchandise official Grimloc yang selalu disajikan dengan desain grafis yang khas.

Selain menjual produk-produk mereka sendiri, toko ini juga kadang mendistribusikan buku-buku dan zine yang dirilis oleh publisher-publisher independen. Rilisan-rilisan Co-release mereka dengan Disaster Records atau Oblivion Records pun tersedia di toko ini. Dengan penataan display yang menarik, kalian bisa dengan nyaman digging records, memilih T-shirt sampai hangout disini, tentunya dengan background music pilihan Grimloc yang sudah terkurasi dan berkarakter. Untuk para music aficionados wargi Bandung maupun dari luar kota, sepertinya sudah menjadi salah satu destinasi wajib untuk mendatangi Grimloc Store dengan masifnya rilisan dan varian produk yang mereka hadirkan disini. We promise you, you won’t go empty handed.

Photos by Grimloc

Membawakan materi atau lagu milik orang lain adalah sebuah tantangan sekaligus untuk seorang musisi yang membutuhkan strategi yang matang dan proses perizinan yang panjang. Hal inilah yang diambil oleh Anda Perdana dalam album barunya yang berjudul Imitasi.

Imitasi adalah sebuah album tribute untuk para musisi yang merupakan teman dan idola Anda Perdana. Dalam album ini, Anda Perdana mengaransemen ulang 16 lagu dari berbagai genre dan lintas generasi, hanya dengan satu instrumen musik. Proyek album ini diinisiasi oleh founder Berita Angkasa, Rizma Arizky. “Kualitas vokal Anda Perdana yang terasa semakin matang seiring dengan pertambahan usianya, makanya gue minta dia bawain album ini dengan 1 instrumen aja,” cerita Rizma tentang konsep 1 instrumen pada album Imitasi agar pendengar lebih fokus menikmati vokal dari Anda Perdana.

Proses mixing dikerjakan oleh I Gusti Vikranta (Drummer Kelompok Penerbang Roket) di Djeroek Poeroet Studio, dan proses mastering dikerjakan oleh Rhesa Aditya (Bassist Endah & Rhesa) di EARSPACE.

Materi album Imitasi akan dirilis setiap dua pekan, terhitung mulai tanggal 10 Maret hingga 6 Oktober 2023. Seluruh materi di album Imitasi, tidak akan dibawakan secara live hingga materi terakhir dirilis. Album Imitasi akan disusul oleh konser tunggal Anda Perdana setelah rilisnya materi terakhir.

Kamu dapat mengetahui banyak hal tentang seseorang dari film favoritnya, dan ini dapat diaplikasikan di dalam dunia sinematik Sofia Coppola. Lost in Translation adalah untuk mereka yang mengalami krisis paruh baya. Bling Ring adalah untuk mereka yang mendambakan pesta pora dan drama, sedangkan Marie Antoinette adalah untuk para penggemar fashion (dan The Strokes). Daftarnya terus berlanjut. Sekarang, penggemar dan diehard fans Sofia Coppola dapat menunjukkan kekaguman mereka terhadap sutradara pemenang Academy Award ini dengan koleksi T-Shirt grafis baru dari Uniqlo. Kolaborasi ini menampilkan dua pakaian basic yang timeless — Kaos putih polos dan totebag kanvas — dihiasi dengan kutipan dan scene yang berkesan dari beberapa film sutradara ini seperti: The Virgin Suicides (1999), Lost in Translation (2003), Marie Antoinette (2006), Somewhere (2010) dan The Bling Ring (2013).

Sofia Coppola, dikenal karena estetika pribadinya yang cerdas selain katalog filmnya yang penuh dengan cult classics. Kadang film-filmnya menggambarkan rasa sepi, tema-tema feminisme, dan seringkali keduanya secara bersamaan. Coppola juga tidak takut untuk menampilkan capsule collection ini dengan caranya sendiri. Grafis-grafis di koleksi ini di design oleh Peter Miles, orang yang bertanggung jawab atas opening titles dan poster-poster film Sofia Coppola. Koleksi ‘Celebrating Sofia Coppola UT’ tersedia sekarang di situs web Uniqlo. Segera amankan merchandise dari film-film favoritmu sekarang juga!

Poison Forever membuka awal tahun 2023, dengan meluncurkan koleksi terbaru dan berkolaborasi bersama band asal Jakarta, Avhath sebagai selebrasi atas konsistensinya selama 10 tahun kebelakang dengan berbagai pencapaian yang diraih dalam industri musik Indonesia.

Koleksi bernama HOUSE OF HORRORS ini ,merepresentasikan identitas Avhath yang dark, gloomy, dan horro tapi tetap dengan visual khas Poison. Kali ini Poison juga menggandeng grafis desainer asal Argentina,Alberto Perancho untuk mendesain seluruh artikel kolaborasi.

Koleksi ini menampilkan t-shirt,crewneck, shortpants, coach jacket dan tote bag. Semua artikel telah rilis pada Minggu,12Maret 2023. Koleksi ini sudah bisa didapatkan secara online diplatforme-commerce dan official website serta bisa didapatkan secara offline distore POISONFOREVER Jl.Gudang Selatan No.22B Merdeka, Sumur Bandung, Kota Bandung.

Skandal, band pop alternatif asal Yogyakarta, akhirnya resmi merilis video musik dari lagu “Lemon”, hari Jumat (10/3). “Lemon” sendiri merupakan salah satu lagu dari rilisan maxi-single mereka yang sudah duluan keluar sekitar 1,5 tahun lalu. Jarak rilis yang lumayan jauh sendiri tidak menyurutkan niat unit ini untuk mengeluarkan video musik dari salah satu nomor yang andalan mereka tersebut.

Skandal berkolaborasi dengan production house dari Yogyakarta, Pour Pictures, dan didukung oleh Starcross untuk menggarap video clip Lemon. Disutradarai Vian Novian Trisna Putra dan Ismawadi Utomo, dua kepala dari Pour Pictures yang aktif di kancah skateboarding lokal, terutama sebagai filmer/videografer, video ini mengambil pendekatan artistik yang banyak dipengaruhi oleh estetika visual video-video skateboard. Lensa fisheye dan estetika vintage memang bukan hal yang asing buat Skandal, terutama untuk urusan video musik dan pendekatan artistik, bisa dilihat dari rilisan-rilisan video mereka sebelumnya. Syutingnya sendiri semua dilakukan di kota Yogya, mulai dari rumah tua, theme park, hingga sejumlah spot outdoor.

Video musik “Lemon” dari Skandal sudah bisa disaksikan mulai sekarang di kanal Youtube Skandal.

Dalam sebuah interview dengan NME Asia di tahun 2021, Ekrig pernah menyatakan bahwa ia memiliki ketertarikan untuk menggarap materi Avhath bersama Remedy Waloni (The Trees & the Wild). Dua tahun berlalu, akhirnya angan tersebut terwujud; Avhath akan merilis sebuah single berjudul “Return to Sender” yang mereka produksi berbarengan Remedy Waloni.

Berdurasi hampir 10 menit, di “Return to Sender” Avhath menampilkan sebuah pendekatan baru dari segi struktur, tekstur suara, metode rekaman, juga hal-hal lain yang dilakukan berbeda jika dibandingkan dengan rilisan-rilisan mereka sebelumnya. Sepanjang pertengahan 2021 hingga akhir 2022, Avhath dan Remedy menjalankan workshop, rekaman demo, meninjau kembali gubahan mereka dan terus bereksperimentasi, hingga akhirnya merekam di studio. Semua proses dilakukan agar kedua pihak menemukan titik di mana visi masing-masing terhadap lagu Return to Sender ini tersalurkan, menghasilkan sebuah output yang kaya akan dinamika.

“Return to Sender” tersedia di digital music stores pada tanggal 10 Maret dan diharap dapat meninggalkan kesan bagi pendengar Avhath.

Collapse yang pada awalnya hanya solo-project Andika Surya (vokal) kini sudah bertransformasi menjadi full band, dengan line-up personil tersolid nya: Angga Kusuma (gitar), Hasbi Erlangga (bass), Mario Panji (gitar) dan Gustian Satria (drums). Dengan line-up itulah Collapse kembali ke studio untuk merekam 4 track yang ada di ‘Saint EP’ ini. Dibuka dengan track instrumental “Born Again”, mood pendengar seakan sudah dipersiapkan oleh suara keyboard yang mengalun dan gitar dengan efek reverse delay nya. Mengawang dan memiliki mood yang sedikit mengingatkan pada “Sleepless and Dreaming” dari EP Grief terdahulu.

Pada saat track 2 “Rute Menuju Ivory” diputar, seakan ada batu bata yang menghantam muka kamu. Aransmen yang tight dan lead gitar catchy mengundang siapapun yang mendengar lagu ini secara live untuk berdansa seakan tidak ada hari esok. Menariknya, lagu ini adalah lagu Collapse pertama yang berbahasa Indonesia, dan rupanya memberanikan diri untuk menulis lirik berbahasa Indonesia adalah langkah yang tepat untuk Collapse. Lagam dan nada vokal yang dinyanyikan Andika sedikit mengingatkan saya ke Dewa 19 era ‘Terbaik Terbaik’ dan Protonema era “Rinduku Adinda”. Walaupun part bridge lagu ini (“Presence / Grudges / Longing / Lost”) menggunakan bahasa Inggris, semua tetap terasa aman dan tidak dipaksakan. Rupanya mereka memilih aransmen yang dinamis tanpa chorus dan pengulangan, karena seperti judul lagunya yang memiliki tema perjalanan, aransmen lagu ini pun tidak maju mundur dan terus bergerak kedepan, semakin intens dan sesekali menurunkan temponya.

Track ketiga “Them Chords” adalah sebuah skit, layaknya sebuah skit di album hiphop. Dibuka dengan voice over penyiar radio yang (katanya) bernama Vidi Nurhadi, di track ini Collapse memainkan musik dengan sound lo-fi dan musik ala slacker rock yang biasa dimainkan oleh band-band seperti Sunset Rollercoaster, Hush Moss, Boy Pablo dan Cuco. Sayang sekali lagu ini hanya dijadikan skit semata, padahal kalau dijadikan lagu penuh mempunyai potensi yang menarik. “Them Chords” seolah hanya bertugas untuk menjadi intro dari track “Violet Membran”, yang ditaruh terakhir di EP ini. So far, mungkin “Violet Membran” adalah lagu terbaik yang Collapse pernah bikin selain “Chloe” dan “Cold November”. Track yang bernuansa dreamo (dream pop + emo) ini memiliki beat dan aransmen straighforward, dimana mereka berhasil mengambil elemen-elemen terbaik dari Title Fight era “Hyperview”, Foo Fighters era ‘The Colour & The Shape’ dan tentunya sedikit riff ala Deftones, in a good way. Andika terasa lebih percaya diri dan lepas dalam bernyanyi setelah menjadi vokalis dan “menggantung” gitarnya, dan itu dibuktikan dengan baik di lagu ini. Overall, jika Saint EP adalah pemanasan untuk debut full album mereka, we can expect great things coming your way.

 

Words by Aldy Kusumah
Photo by Darkofmoist

Sejak awal kemunculannya Noin Bullet telah memainkan musik ska. 3rd wave ska merupakan konsep musik yang mendasari pembuatan karya karya musik .salah satu dedengkot musik ska asal Bandung ini. Sejak EP All Can Ska Can All yang kemudian di satukan untuk menjadi sebuah album bertajuk “Bebas” dan kemudian album “Manusia” Noin Bullet tetap konsisten memainkan musik ska.

Noin Bullet terakhir kali mengeluarkan album studio Di tahun 2001. Yang perlahan di susul dengan hengkang nya beberapa personil awal yang berakhir dengan vakum nya kegiatan band dalam berkarya. 22th kemudian sejak di rilisnya Album “Manusia” dengan beberapa personil baru yang membawa warna tersendiri akhirnya di tahun 2023 Noin Bullet bersama Fightfall Records merilis sebuah album studio bertajuk Be A King yang ber materikan 12 lagu.

Masih dengan konsep bermusik 3rd wave ska yang di mainkan dengan karakter bermusik Noin Bulletdan beberapa personil baru 12 materi yang terekam di album “Be A King” menyuguhkan materi yang sangat fresh untuk dimainkan dan di nikmati.