Dalam rangka perilisan single terbaru “Asa”, grup asal ibu kota, UNDELAYED, berencana untuk mengawali tahun 2023 dengan menggelar sebuah showcase bertajuk “RIUH // KELAM // ASA” di FOYA, Jakarta Selatan pada tanggal 12 Februari mendatang.

“Sebenarnya, showcase ini merupakan sesuatu yang sudah cukup lama kami ingin adakan. Melalui showcase ini, kami juga ingin membawa pengalaman yang berbeda bagi penonton dengan memadukan
beberapa band dari berbagai jenis musik keras yang cukup unik,” ujar vokalis Yanuar Rizky.

Selain menyuguhkan karya terbaru, UNDELAYED akan menampilkan set dengan durasi yang bisa dikatakan lebih panjang dari biasanya, karena mereka akan membawakan beberapa lagu pilihan dari mini album “Primordial” yang dirilis pada 2017 lampau. Lebih menariknya lagi, akan ada beberapa kejutan yang telah mereka persiapkan bagi penonton sepanjang rangkaian acara.

Showcase yang turut dimeriahkan oleh nama-nama seperti Rekah, PVLETTE, Rounder, dan Seiren ini juga didapuk menjadi awalan akan wujud baru dari UNDELAYED dalam beberapa waktu mendatang.
“Kami tidak sabar untuk bisa bertemu dan bersenang-senang bersama di panggung nanti, dan semoga dapat menjadi pengalaman yang berkesan bagi kita semua,” tutup UNDELAYED.

Untuk menyambut rilisnya debut album Pure Saturday 25 tahun lalu, Jangan Kolektif akan merilis kompilasi P.S. Our Sincere Desire: A Tribute To Pure Saturday. Pure Saturday dan jangan kolektif mengajak para teman-teman penggiat musik dari bandung untuk merayakan 25 tahun self titled album milik Pure Saturday. Dengan berbagai lagu dari berbagai album milik Pure Saturday akan di aransemen ulang dan di release di platform musik dan cetak fisik dalam format CD berkerjasama juga dengan Disaster Records, yang juga akan mendistribusikan nya pada tanggal 27 Januari 2023.

Tidak tanggung-tanggung, 16 band diajak untuk mengcover lagu-lagu PS menjadi “versi” mereka. 16 band tersebut juga cukup variatif genrenya, sebut saja Bleach , Cal, Erratic Moody, Lamebrain, Loner Lunar, Nearcrush, Olegun Gobs, Rasukma, Ray Viera Laxmana, Rub Of Rub, Sheeka, Saturday Night Karaoke, Suarloca, The Couch Club, The Panturas dan The Sugar Spun. Full artwork A tribute to pure saturday : P.S our sincere desire Ini dikerjakan oleh @wahwah.studio . Artwork ini memiliki makna dimana ‘perahu otok otok yang menjadi salah satu simbol ikonik perjalanan PS. Menurut Wahwah Studio, “Perahu ini didekap oleh seorang wanita di dalam bathtub yang mengisyaratkan bahwa perjalan otok otok ini merupakan hal yang intimate dan berharga.”

Pada hari jumat (20/01) Jangan Kolektif mengadakan hearing session di @mblocspace . Acara ini merupakan sesi dengar yang mendengarkan isi track dari kompilasi secara umum sambil membahas lagu-lagu tersebut bersama pembicara yaitu @hasiefardiasyah @dicktamimi @satria_nb . Acara ini juga akan dipandu oleh @bckwrds dari Teenage Death Star dan Irama Nusantara. Untuk hearing session di Bandung (26/01), Jangan Kolektif memilih Vandal Gigs & Bar yang berlokasi di Gudang Selatan sebagai venue. Hearing session kali ini menghadirkan pembicara Arief “Toep” Hamdani (Pure Saturday), Herry Sutresna (Grimloc Records) dan Helvi Sjarifuddin (FFWD Records), dan juga dimoderatori oleh Idhar Resmadi. Terlihat personil-personil dari beberapa band yang hadir di kompilasi ini hadir seperti Bleach,The Couch Club, Loner Lunar, Rub of Rub, The Panturas, dan Nearcrush. Acara pun dimulai dari hearing session setiap lagu yang ada di kompilasi ini dan diselingi dengan talkshow dari para pembicara yang mengundang beberapa wakil band untuk berdiskusi. Ditutup dengan karaoke session yang dipandu oleh Pure Saturday, acara hearing session ini pun berakhir seru. Bravo Jangan Kolektif, ditunggu showcase nya!

Berikut adalah tracklist dari kompilasi ini:

Bleach – Coklat
Cal – Utopian Dream
Erratic Moody – Pagi
Lamebrain – Pathetic Waltz
Loner Lunar – Silence
Nearcrush – Langit Terbuka Luas, Mengapa Tidak Pikiranku? Pikiranmu?
Olegun Gobs – Nyala
Rasukma – Elora
Ray Viera Laxmana – Desire
Rub Of Rub – Awan
Sheeka – Gala
Saturday Night Karaoke – A Song
Suarloca – Labirin
The Couch Club – Spoken
The Panturas – Bangku Taman
The Sugar Spun – Simple

 

Photos by Jangan Kolektif

Dalam perindustrian clothing brand di Indonesia, Realizm Eighty Seven membuat gebrakan dengan membanting stir keluar dari zona nyaman. Kali ini mengajak Artis Mural bernama Michael Evan untuk meluncurkan Product Collaboration. Mc Evan nggak hanya diam saja, dalam konsep peluncuran productnya ia kembali mengajak kolabolator lainya. Digi Arafah yang berhasil Mc Evan ajak untuk jadi kolaborator untuk bertanggung jawab membuat visual maping dalam acara launchingnya dengan nama “Stranger Minds”.

Konsep ini sengaja dipakai untuk mengenalkan realizm eighty seven sebagai brand “baru” lagi. Realizm Eighty Seven kini menasbihkan sebagai brand yang support street cultur berbasic komunitas. Tak heran jika komunitas mural mungkin diwakili oleh Mc Evan, komunitas skateboard atau BMX diberbagai kota kini sering berkolaborasi dengan brand ini.

Acara “Stranger Mind” ini dihadiri oleh beberapa kalangan komunitas, acara yang berada di lantai 2 Realizm Eighty Seven ini mempunyai kesan tersendiri yang didapatkan pengunjung. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa acara ini hanya sekedar hiburan dan launching product, nyatanya mulai dari host (Oneding, Liandra) pengisi acara hingga kolaborator lainya merasakan ke intiman yang dihadirkan oleh Realizm Eighty Seven x Mc Evan Feat Digi Arafah. Selain telinga dimanjakan oleh DVGRS (DJ), BERJUDI (DJ), CANDA CENDOL (DJ), re:NAN (Electric Set), GANGSTER 25 (HIP HOP), tak luput indra pengliahatan dimanjakan oleh Visual Maping karya Digi Arafah.

Visual Maping sengaja dihadirkan dalam peluncuran product ini, selain pertama kali dilakukan oleh clothing brand kususnya di Malang, Jawa Timur. Perpaduan art jalanan dengan art digital menjadikan acara “Stranger Minds” lebih hidup, karen Mc Evan dan Digi Arafah selaku kolaborator REALIZM EIGHTY SEVEN sendiri kompak dalam bersuara bahwa ART ngga harus dinikmati sendiri, tapi harus dibagikan diperluas dengan cara memadukan satu ART dengan ART lainya, atau bahasa sekarang kolaborasi.

Ambisi mereka sangat kental sekali, bukan hanya brand saja tapi 2 kolaboratornya juga ingin langsung berlari diawal tahun 2023 ini. Tidak hanya untuk kepentingan perusahaan atau pribadi, tapi demi kelangsungan sdm yang lebih kreatif serta lihai dalam memanfaatkan peluang.

Dengan adanya event seperti “Strangers Minds”, berharap bisa menjadikan ajang kembalinya brand-brand bertemu dengan temen-temen kreatif lainya, serta menjadikan umkm bangkit kembali, seperti contoh REALIZM EIGHTY SEVEN sendiri bisa lebih dekat dengan REAL PEOPLE dan Kolaborator baru. Support Your Local Product!

Product bisa dibeli melalui online di market places dan official website REALIZM EIGHTY SEVEN.

 

Ali, unit trio cinematic-funk/soul asal Jakarta (Arswandaru, John Paul Patton, dan Absar Lebeh) kembali meluncurkan single terbaru dengan judul “Crystal Sand”. Single kali ini kembali lebih upbeat / uptempo dengan dentuman afrobeat yang mendominasi, serta masih dengan sentuhan funk dan lead gitar mid-eastern yang melodius sekaligus repetitif. Mood-booster
song mungkin tepat untuk menggambarkan single terbaru ini. Tentu interpretasi akan lagu ini kembali kepada para pendengar, bagaimana mereka akan memaknai dan menikmati lagu ini. Melalui rilisan ini Ali juga ingin menyampaikan bahwa ini merupakan single terakhir sebelum akhirnya mereka akan merilis full album dalam waktu dekat.

Crystal Sand sudah bisa dinikmati melalui semua platform musik digital.

CAL, moniker dari Gilang Hade tepat pada tanggal 27 Januari 2023 kembali melanjutkan aktivasi di kancah industri musik dengan merilis single yang bertajuk “Conformance” Single ini adalah jembatan 1/3 menuju album perdana nya yang akan dirilis pada bulan april mendatang dibawah  Disaster Records. seperti biasa, CAL selalu mematangkan timeline selama setahun penuh.

“Saya sudah menyiapkan semuanya mulai dari single pertama sampai showcase album selama setahun penuh, begitupun timeline yang sudah saya siapkan ini, saya ditemani oleh Disaster
Records untuk memenuhi semua kejutan yang akan segera dirilis”. Ujar Gilang Hade.

Single “Conformance” sudah dapat didengarkan melalui seluruh digital streaming platform.

Akhir-akhir ini, kultur kaos band vintage cukup ramai dicari orang dan demand nya semakin besar. Nama Pratiwi Gea lumayan sering di mention para kolektor dan seller sebagai salah satu stockist kaos-kaos band yang mungkin bagi sebagian orang adalah “holy grails”. Walaupun sebenarnya Gea tidak hanya fokus di vintage T-Shirt, poster film, collectible items dan terutama jaket-jaket vintage pun sudah sering Gea jual. Mari berbincang dengan Gea mengenai koleksinya, menjual poster yang masuk di lelang Sotheby’s sampai jaket Raw Type Riot pertama yang menjadi sejarah berdirinya RTR..

“Kalau grails yang menurut kita itu bukan kaos yang mahal, tapi kaos yang kita suka banget, misal suka banget band nya atau filmnya..”

Gimana awalnya lo terjun ke bisnis ini? sebelum serius di bisnis ini mengerjakan apa sebelumnya?
Awalnya hobby, cuma kalau perdana jualan itu sekitar 2010. Jadi awalnya itu kita memang suka belanja, dulu aku masih di Medan. Kita awalnya tuh sering belanja di eBay. Lalu kata temen kenapa punya akun eBay tapi ga jualan juga? Terus ngetes satu kaos yang ada dirumah. Iseng kasi harga taunya laku. Lupa itu kaos band apa cuma sekitar $30. Sedangkan pada jaman itu di pasar masih ada kaos-kaos yang 20-30 ribuan. Dulu jualan masih diluar aja. Setelah punya Instagram pribadi karena memang tidak ada akun toko, sekitar 4 tahun ke belakang lah mulai nanya-nanya dan hunting jaket-jaket di Instagram. Ternyata market lokal juga sudah oke dan gak kalah sama market luar. eBay, Etsy dan Instagram jadi.

Pernah ada ga customer kaos music vintage yang komplain dan belum ngerti keunikan barang vintage, dengan karakteristik seperti sablon cracked, warna kaos pudar dan ada sedikit holes?
Kalau yang sekedar nanya doang ada sih. Kalau langsung ke aku sih belum pernah ya walaupun pasti ada aja. Biasanya cuma di komen Instagram aja..

Kadang-kadang kan ada seller nakal yang jual kaos “vintage” pakai label palsu dan sablon yang sengaja dibuat cracked, dengan warna kaos yang sudah di washed agar terlihat vintage. Bagaimana lo membedakan yang fake dan legit?
Sebenarnya kan bahasa jaman sekarang nya check legit ya. Kalau aku dan operator pribadi, kalau barangnya yang kita tahu ya bisa bantuin check legit nya. Tapi kita selalu bilang, itu menurut aku. Sometimes, aku ga bisa nge judge kaos kalau by photo, harus megang kaosnya langsung. Karakter sablon itu ga bisa ngebohongin sih kalau sudah dipegang, kelihatan mana yang produksi baru dan mana yang memang vintage. Kalau aku tau kaosnya ya aku bantuin. Kalau aku bisa bantu ya aku bantu. Susahnya nanti nama aku diapake “Kata kak Gea..” hahaha.. Aku ga berani juga ngecek barang yang aku ga ngerti atau hanya by photo..

Apa aja sih essential vintage thrift selain Akira, Tupac dan Sade yang selalu dicari orang?
Tiap tahun kan trend nya selalu berubah-ubah trendnya. Kalau ngomongin kaos, 2 tahun lalu memang booming banget Akira, Sade dan Tupac. Nascar kaya Daytona baru rame sekarang, Disney sempat rame. Tapi tetap sih kaos band dan film tetap stabil dan rame sampe sekarang, Bjork masih mahal, Nirvana tipe tertentu juga tetap mahal. Yang paling mahal itu yang Heart Shaped Box dan In Utero sample yang warna hitam, kemaren temen aku ngeluarin, dia auction dan hearing offer. Udah ada yang mau 63 juta masih belum dia lepas. Kondisi oke ga ada hole.

Kalau boleh tau, jual kaos paling mahal di angka berapa tuh?
Gapapa gitu dibilang? Haha.. 30an lah.. Kaos band.. Ga enak ah kalau disebutin, yang beli ga mau disebutin nanti pada tau lagi hahaha..

Range harga T-shirt yang sekarang ada di stock inventory sekitar berapa?
Dibawah 500 ada. 300 ribuan juga ada.. Kalau collectible kan ga ada patokannya, kalau aku value in kaos aku paling mahal belasan juta sih. Sebenarnya kita gak fokus ke T-shirt aja. Kita ini ADUHAI, agen dunia akhirat hahaha.. Segala dijual hahaha. Kaos itu baru 2 tahun kebelakang karena marketnya sedang rame. Kita awalnya juga ga jualan di lokal, lebih ke eBay. Di Instagram baru 4 tahunan. Paling banyak jaket dulu tuh. Poster film, poster band yang ikut lelang di Sotheby’s Inggris juga aja. Apa aja sih kalau kita jualnya..

Lo banyak pakai kaos band-band ‘90s di feeds IG lo. Apa yg lo cintai dari 90s culture?
Aku mah era nya My Chemical Romance, kalau gue lebih ke brand ambassador nya lah, yang kurasi barang operator aku mas Riva. Kalau ada undangan juga pasti Pratiwi Gea and team karena udah tau kita ada rombongan nya hahaha. Ya lebih ke nostalgia aja sih kalau ‘90an..

T-Shirt band favorit lo apa aja dan kenapa?
1. MCR yang saya pakai ini, dapetnya di New Zealand. Belum pernah saya liat kembaran nya kaos ini, fotonya masih chubby-chubby. Band aing banget haha
2. Portishead yang covernya Dummy.
3. Massive Attack. Kalau trip hop yang rame kan masih di massive attack sama bjork, kalau kaya Portishead, Goldie memang masih rare kaosnya di peredaran
4. Skunk Anansie – ini emang kaos-kaos yang ga kita jual. Jarang dipakai karena memang anak-anak sekarang belum kesini.
5. Metallica Kill em’ All yang sample cuma dijual di tour mereka, ini kaos salah sablon, kebalik sablon depan dan belakangnya.

Wishlist kaos band yang belum kesampaian apa aja?
1. Panic At the Disco. Aku pengennya ada gambar muka-muka nya gede, gak suka yang grafik cover album, jadi lebih kaya kaos boyband
2. Underworld, tentunya yang born slippy dong..
3. Kalau film mungkin SIlence of the Lambs, yang mukanya Hannibal Lecter, kaya kover bukunya.
4. Prodigy, aku pernah punya, tapi kalau Fat of the Land terlalu umum. Lebih pengen kalau dapet kaos bersi single nya. Belum sempat punya yang versi single-singlenya. Kalau jaman dulu sebelum Spotify aku dengerin musik kan di CD, tapi ga suka beli album, cari nya single-single, misalnya Firestarter. Suka ada bonus remix atau B-Sides.
5. Evanescence. Susah banget itu barangnya. Dan underrated, di market juga gak laku. Rare di market, dan rare juga yang cari haha. Sekarang justru kita ambil-ambil kaos yang di market masih underrated, di market gak laku tapi aku yakin di musim berikutnya akan ramai, kaya Linkin Park dan Limp Bizkit gitu kan sekarang gak ada harganya, tapi suatu saat akan naik tuh musik 2000an.

Pros and cons bisnis vintage thrift?
Kalau dibilang cons nya gak ada, pros semua hahaha. Kalau nggak kita sudah gulung tikar. Nyari barangnya juga ga susah kok, yang penting tau market value nya. Kalau bisa kita sih jual lebih murah dari yang lain.

Kultur bootleg menurut lo?
Kalau sekarang kita sih menerima, dan kita akui art nya bootleg 80% lebih bagus dari kaos-kaos original sekarang. Tapi kalau ngomong jaman dulu, orang ga mau pake bootleg dan gak ada juga kata-kata bootleg disitu, yang ada hanya kaos ori dan palsu. Tapi kultur bootleg harus diterima karena memang bagian dari skena nya. Tetap aja ada effortnya di design bootleg itu.

Kalau boleh tau, lo hunting barang-barang jualan lo dimana sih?
Awal-awal hunting sudah pasti di pasar, tapi barang di pasar udah sulit kita pindah hunting online, beberapa tahun lalu kita juga sempat import dari luar. Kadang juga kita belanja di luar, tapi sebenarnya itu niat awalnya jalan-jalan aja, tapi gimana caranya balikin modal jalan-jalan ini sekalian hunting. Paling surga buat kita itu Malaysia. Nah kalau dimananya itu rahasia hahaha.. Orang-orang kan sibuk belanja di Thailand, padahal sebenarnya turun di Malaysia duluan. Asal muasalnya itu dari Karachi Pakistan. Cuma terlalu effort lah kalau kesana dan panas juga hahaha.. Kalau beli bal-balan itu ga pernah karena bisnis ini bukan main job, jadi mengikuti hobby aja. Beli barang itu memang yang aku suka dan ngerti. Jadi kalau gak laku ya santai aja bisa dipakai juga hahaha. Jadi kurasi pertama itu adalah kita nya mau pakai dulu ga? Itu yang penting dari kekuatan tiap toko thrifting.

Setelah berjualan cukup lama, pasti udah banyak relasi dengan kolektor-kolektor lokal dan buyer di luar negeri ya?
Seluruh dunia banyak klien-klien kita dari eBay. Yang sering datang dan belanja disini si Alip Jon, Rian D’Masiv, Ganindra Bimo, Jejouw anak USS, Inne Febriyanti tuh, dia sukanya Pantera hahaha.. Siapa lagi ya, Putrama Tuta sutradara, Mandy USS, Simon Marantika, Athir Speaker First, anak-anak band sini juga banyak yang sering kesini, Turtles Jr, Koil.

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Photos by Feri Alan

 

Untuk menyambut Musim Yang Semakin Membaik, Diskoria bersama Laleilmanino dan BCL Hadirkan Karya Kolaborasi “Badai Telah Berlalu”. Sebuah single untuk merayakan kehidupan pasca pandemi. Menurut press release nya: Hampir seluruh karya orisinil Diskoria, hadir di masa sulit yang kita lewati bersama, dalam kurun waktu kurang lebih dua tahun lamanya. Kini perlahan keadaan membaik, masa pandemi mulai menghilang, sebuah karya siap disajikan kembali oleh Diskoria dan Laleilmanino. Kali ini, sebuah lagu kolaborasi bersama Bunga Citra Lestari (BCL). Meramu sebuah anthem akhir pandemi dengan merespon mahakarya album terbaik sepanjang masa versi Majalah RollingStone Indonesia, Badai Pasti Berlalu, dengan judul “Badai Telah Berlalu”.

Untuk penggarapan video klipnya, Diskoria kembali mengajak Gianni Fajri dan Bagoes Tresna Aji bersama tim Miura Films. Gian dan Bagoes jugalah yang menggarap video klip hits mereka “C.H.R.I.S.Y.E”. Kali ini, mereka coba menggambarkan kehangatan keluarga yang bisa kembali berkumpul melalui pemeran-pemeran dalam video tersebut, termasuk salah satunya adalah aktor watak veteran Indonesia Christine Hakim, yang baru-baru ini bermain juga di serial The Last of Us yang ditayangkan di HBO.

Secara musik, menurut Merdi approach single ini adalah sebuah lagu untuk closing set performance DIskoria yang terinspirasi dari “Sesaat Kau Hadir” nya Utha Likumahuwa. Merdi dan Aat dari Diskoria, menggambarkan “Badai Telah Berlalu” sebagai persembahan sekaligus rasa syukur terhadap masa sulit yang sudah terlewati. Salah satu karya Diskoria yang bertempo medium, mengajak kita berkontemplasi dan mengingatkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Karya ini sudah bisa bisa dinikmati oleh publik mulai tanggal 20 Januari 2023 pada seluruh layanan musik digital, bersamaan dengan video klip melalui kanal YouTube Suara Disko. “Badai Telah Berlalu” juga direncanakan hadir dalam bentuk rilisan fisik, mengingat di penghujung tahun lalu, Diskoria bersama Suara Disko baru saja merilis piringan hitam 10 inci untuk lagu “Serenata Jiwa Lara” dan juga “C.H.R.I.S.Y.E”.

Lose it All kembali lagi dengan sebuah album baru setelah beberapa kali berganti formasi. “Bentala Sirna”, album ketiga-nya yang memiliki tema-tema lirik yang relevan dengan kehidupan di akhir zaman. Mereka kembali dengan racikan aransmen musik ala groove metal Roadrunner Records tahun 2000an. Sebut saja Machine Head, Prong, Soulfly, Slipknot, bahkan Fear Factory dan A Perfect Circle. Tentunya sebuah album metal dengan kover Raden Saleh sangat layak untuk dikoleksi.

Dibuka dengan”Threnody (Prelude)” yang berdurasi 2:51 detik, intro instrumental yang moody ini dibalut oleh spoken words, seakan menjadi introduksi yang cukup menjelaskan keseluruhan mood dan direction album ini. Track kedua, “Swarm of Apathetic” adalah sebuah track yang groovy, layaknya sebuah lagu groove metal yang jika dirilis pada tahun 2000an awal tidak akan terasa “out of place”. “Surup Dasamuka” memperlihatkan kepiawaian mereka menulis lirik berbahasa Indonesia dengan lirik seperti “Lidah ini setajam belati, mata ini tiada empati!”. Dengan part chorus bernyanyi yang catchy, pasti lagu ini menjadi salah satu lagu dimana crowd akan sing along di live show mereka.

Track 9, “Coup de Grace” adalah sebuah showmanship yang menunjukkan kualitas permainan para personil Lose it All dan kepiawaian mereka mengulik sound. Coba saja dengarkan lagu ini dengan speaker memadai di volume yang keras. Ross Robinson pun sepertinya akan mengangguk menikmati mixingan lagu ini. Lagu favorit kami di album ini sudah tentu “Manufaktur Siwalingga” yang juga menjadi single utama dari album ini. Dengan aransmen quiet-loud dynamics dan performa mereka yang “tight as hell”. Rupanya usaha mereka untuk sedikit “meninggalkan” roots hardcore mereka membuahkan hasil. Semua lagu di album ini sangat catchy, dengan sound mixing dan mastering yang cukup maksimal. Sepertinya, mereka berhasil mengembalikan estetika racikan groove metal ala Roadrunner Records di era tahun 2000an. Rupanya jawaban interview mereka pun selaras dengan konsep yang ingin mereka angkat di album ini: “Saya selalu yakin bahwa revolusi sound itu hanya sebatas pengulangan di setiap dekade dengan pengemasan nya saja yang berbeda.”

 

Words by Aldy Kusumah

Uniqlo, salah satu raksasa label fashion retail terbesar asal Jepang merilis sebuah koleksi yang berkolaborasi dengan salah satu raksasa anime yang selalu menjadi perbincangan akhir-akhir ini: Attack on Titan. Season terakhir dari serial anime ini bertema “Humanity vs. Titans, yang juga dipakai menjadi tema besar kolaborasi 2 raksasa ini. Konklusi akhir dari cerita epik ini akan diakhiri dengan epik juga dengan hadirnya merchandise yang sudah pasti akan sold out dengan kilat.

Serial manga populer yang ditulis dan diilustrasikan oleh Hajime Isayama ini diserialkan di “Bessatsu Shonen Magazine” dari tahun 2009 hingga 2021, sirkulasi kumulatif telah melampaui 110 juta kopi di seluruh dunia, dan Attack on TItan terus menciptakan gelombang kejutan dan menjadi viral. Tidak hanya di Jepang, tetapi juga di seluruh dunia. Koleksi UT Uniqlo ini terinspirasi dari manga yang menarik perhatian pembaca dengan dunia di mana umat manusia dipaksa untuk tinggal di kota-kota yang dikelilingi oleh “tembok” besar yang melindungi mereka dari humanoid pemakan manusia raksasa yang disebut sebagai Titans, dan “Peralatan manuver vertikal” pun dikembangkan umat manusia untuk melawan para Titan.

Koleksi ini menampilkan grafis-grafis yang diambil langsung dari panel-panel manga dan asset grafis serial anime-nya, dan sudah tentu menampilkan karakter-karakter ikonik seperti Eren Jaeger, Levi Ackerman dan para titan raksasa. Segera dapatkan graphic T-shirt dari capsule collection ini, karena kami yakin yang satu ini tidak akan bertahan lama di display toko.

 

KUARTET pop asal Bandung, ikkubaru melepas single baru bertajuk Lagoon diawal tahun 2023 ini. Rilisan dari Muhammad Iqbal (vokal dan gitar), Rizki Firdaussahlan (vokal dan gitar), Muhammad Fauzi Rahman (bas) dan Banon Gilang (drum) ini sebelumnya dirilis pertama kali di Jepang oleh label rekaman mereka disana, Hayabusa Landings, Ca VA? Records pada event tahunan, Record Day 2022 / レコードの日 2022 dibulan Desember tahun lalu dalam bentuk piringan hitam 7-inch.

Sama dengan single mereka sebelumnya, Summer Love Story, kali ini single terbaru Lagoon juga dilengkapi dengan lagu pendampingnya, The Four Seasons. Pendistribusian 7-inch vinyl-nya pun sampai ke Indonesia, karena rilisan Lagoon c/w The Four Seasons mulanya memang diperuntukkan secara khusus untuk pendengar ikkubaru di Jepang. Lagoon c/w The Four Seasons merupakan babak kedua ikkubaru pasca melepas album kedua.

Sedikit berbeda dengan karya-karya sebelumnya, materi lagu pada Lagoon c/w The Four Seasons ini menawarkan karakter gitar jazz fusion di bagian intro dan outro, namun masih terdengar kesan city pop, khas dari ikkubaru pada bagian refrain. Adapun pengaruh gaya musik dari musisi senior asal Jepang, Masayoshi Takanaka yang terdengar kental pada nomor Lagoon ini. Sedangkan untuk penulisan lirik, Muhammad Iqbal ingin menyampaikan perasaan seseorang akan keindahan sebuah Laguna atau danau di pinggir laut yang pada hakikatnya memang diimpikan setiap manusia untuk datang
ke “tempat” seperti itu.

Selain melibatkan label asal Jepang, dalam rilisan Lagoon c/w The Four Seasons ini, ikkubaru juga kembali melibatkan illustrator atau manga artist asal Negeri Matahari tersebut. Artist dimaksud bernama
Ryoichiro Kezuka yang kembali mereka tunjuk untuk menggarap ilustrasi untuk sampul rliisan. Illustrator yang sama dengan rilisan ikkubaru sebelumnya, Summer Love Story.

Piringan hitam 7 inch Lagoon c/w The Four Seasons dijual di Indonesia dalam jumlah sangat terbatas. Hanya tersebar di 5 kota besar di Jawa Barat dan Bali. Namun demikian, seluruh materi Lagoon c/w The
Four Seasons juga dapat dinikmati dalam format digital terhitung Jumat, 13 Januari 2023 di pelbagai layanan platform music, mulai dari Spotify, Apple Music, YouTube Music, Deezer dan lain sebagainya.