Setelah 4 tahun bubar, Billfold kembali dengan formasi baru. Bersama Mustika Kamal dan Savira Razak sebagai vokalis, Billfold menyalakan kembali semangat yang seharusnya tidak pernah padam.

Lokasi sesi live ini adalah tempat show pertama Billfold sebagai band dan juga tempat mengakhiri perjalanannya dengan mengadakan last show pada 13 Mei 2018 lalu. Sekarang, Pam dkk disini untuk kembali dengan melepaskan masa lalu, dan menjadikannya kenangan indah. Video live ini adalah penanda bahwa Billfold telah kembali.

Akhirnya CD debut album dari unit thrash metal / crossover Bandung ini sampai ke meja kami. Dan betul adanya, they’re tight as hell. Dari track pembuka “Devastation” saja, nuansa Slayeurrghhh sudah tercium, in a good way. Video klip untuk single ini juga baru saja tayang Nuansa lagu dan sound dari Iron Voltage seakan membawa saya ke golden age of thrash metal dimana band-band seperti Sodom, Exodus (era “Bonded by Blood”), Slayer dan Metallica (era “Kill ‘Em All”) menjadi panutan. Tanpa basa-basi, track kedua “Immortal Crush” dimulai dengan tempo cepat. Lagu ini sudah tidak asing karena pernah dirilis sebagai single sebelum album ini dirilis. Melodi ala Kerry King diselipkan dengan ciamik. Lirik yang dilantunkan Edy terdengar cukup nihilistik. “Destruction on ignorance will remain eternal / until everyone realized that they are victims” sepertinya bercerita mengenai kehancuran yang dialami umat manusia atas dampak perang. Track ketiga “Under the Lightning” dibuka dengan intro gitar dengan modulasi flanger. Duo gitaris Yowdi dan Reyga shredding sekalan tidak ada hari esok. Beat di lagu ini cocok sekali untuk headbang tipis ketika sedang menyetir mobil (tentunya dengan kaca terbuka lebar). Saya sangat menyukai karakter vokal Edy yang sedikit mengingatkan saya pada Joel Grind dari Toxic Holocaust. Semua personil Iron Voltage seakan mengkomplemen satu sama lain, dan mereka terdengar cukup solid di album ini.

Overall, 10 lagu di album ini adalah tipe album yang either you love it or you hate it. Berita baiknya adalah: Karena terdapat kemiripan riff dan struktur aransemen di beberapa lagu, jika kamu menyukai satu lagu di album ini, kamu akan menyukai keseluruhan album ini. Dan begitupun juga sebaliknya. Untuk departemen lirik tidak ada yang spesial disini, semoga di rilisan selanjutnya mereka akan mengangkat tema-tema lain. Sepertinya Iron Voltage pun akan lebih menarik jika menggunakan bahasa Indonesia di rilisan selanjutnya. Iron Voltage adalah salah satu angin segar di ekosistem scene metal, mereka memainkan late ‘80s – early ‘90s thrash metal dengan sangat apik. Bahkan pada saat saya menyetel album ini di speaker, rekan saya pun berkomentar “ini band lama ya?”. Yep, mereka berhasil mengadopsi sound klasik thrash metal dan membuat para penggemar genre ini untuk sedikit bernostalgia. Tentunya, setelah mendengarkan album ini saya akan menghadiri live performance mereka berikutnya, i’ll bet they sound great live.

Setelah berkolaborasi dengan Diskoria dan The Panturas, kali ini brand streetwear asal Bandung berkolaborasi dengan Perunggu, sebuah band alternatif / indie rock yang merilis debut albumnya pada 11 Maret tahun 2022. Music Series adalah seri capsule collection yang dirilis Bastards of Young dengan band-band favorit mereka, tentunya untuk menunjukan apresiasi label tersebut kepada musik-musik yang mereka sukai, sekaligus berbagi apresiasi kepada sesama penggemar band yang sama.

Untuk capsule collection bersama Perunggu ini, uniknya kedua nama tersebut tidak menggunakan “X” yang biasa menandakan tanda sebuah kolaborasi, melainkan menggunakan emoticon love berwarna biru. Ketiga artikel dalam capsule collection ini adalah respon design dari Bastards of Young terhadap lagu, lirik dan tema-tema yang diangkat Perunggu dalam album “Memorandum” mereka. Artikel “Bear” adalah sebuah respon terhadap lagu “Pastikan Riuh Akhiri Malammu”, dimana design depan menunjukkan grafis ayah beruang bersama anak beruang. Dengan media kaos ringer T-shirt, Bastards of Young juga mencoba memperlihatkan kecintaan mereka terhadap kultur ‘90an, yang tentunya disambut baik juga oleh Perunggu. Pada design belakang ada sebuah ilustrasi chord gitar seperti di majalah musik bagi kamu yang ingin mengulik chord gitar dari lagu tersebut.

Artikel Biang Lara yang sudah tentu merespon lagu yang berjudul sama, adalah sebuah T-shirt hitam dengan grafis yang colourful di depan, dengan logo Perunggu yang dibuat oleh Bastards of Young dan sebuah ilustrasi bianglala dengan colorways pink dan tulisan hijau. Pada design backprint, terdapat juga penggalan lirik reff lagu “Biang Lara”, yang akan membantu penonton yang berdiri dibelakangmu untuk menyanyikan lirik lagu tersebut. Artikel terakhir adalah sebuah respon terhadap tema lagu “Membelah Belantara” dan “Tarung Bebas”, sebuah tema mengenai survival yang kerap diangkat di lagu-lagu Perunggu. Ilustrasi memperlihatkan seorang lelaki paruh baya yang berdiri diatas podium bertuliskan juara 3 sambil memakai medali Perunggu, yang juga sering menjadi icon dan emoticon yang sering dipakai Perunggu dalam caption-caption mereka. Koleksi terbatas ini dirilis pada hari senin (“Besok hari senin”) tanggal 16 Januari. Dan kabarnya akan hadir juga di beberapa toko reseller. Segera kunjungi Instagram @bastards_ dan @perunggu_ untuk info-info selanjutnya. Don’t miss this one, and don’t sleep on it.

Ardo Ardhana banyak berperan dibelakang layar. Mungkin ratusan orang atau band yang menikmati pertunjukan di alternative space bernama Spasial tidak mengenalnya tapi Ardo lah sosok dibalik venue yang cukup ikonik itu. Ardo sekarang disibukkan oleh retail spacenya yang cukup ramai diperbincangkan, yaitu Grammars, sebuah toko unik yang menjual printed matters sampai home decor. Dia juga aktif di Norrm Radio dan brand fashion PPPear sebagai managing director. Mari berbincang dengan Ardo mengenai suka duka nya memanage Spasial, menemukan lokasi di Cihapit sampai majalah-majalah favoritnya.

“Print dan media cetak akan terus berlangsung menurut gue.”

Bisa ceritain ga awal histori lo bikin Grammars itu gimana?
Jadi di 2019 pasca Spasial, kita gak punya ruang. Suatu hari ngelewat bangunan bekas rumah makan Aloha. Kita bertiga lagi sering ngumpul, sama Artiandi dan Zanun. Kita lalu memutuskan bikin toko Stationary, dan udunan juga sama si Gg Nikmat. Ide nya sih berasal dari ruang komersial dan retail, dan jalan sampai sekarang.

Awalnya retail toko buku dan stationery, tapi setelah pengamatan lebih jauh kurang ngangkat. Apa yang menjadikan Grammars unik? Akhirnya kita bikin kategori gimana kalau fashionnya cuma 10%, dari kolektif teman-teman. Dan kita sebut sebagai wearables. Ada lifestyle, aksesoris, home decor, printed matters. Kurang lebih itu kategori utama nya. Cuma kita ada juga program seperti aktivasi launching buku, project presentation itu semua jadi satu paket di toko kita.

Grammar photo by Okta.rsd (@okt4__________)

Dan kenapa memilih lokasi Cihapit?
Cihapit kan sebenarnya distrik perdagangan cuma sama warga Bandung mungkin sempat terlupakan. Cihapit itu ada 2 patahan, dan patahan tempat kita berlokasi sekarang itu di 2019 – 2020 masih sepi. Saya dan Andi punya memori sendiri ke Cihapit ini, apalagi Zanun yang rumahnya dekat. Jujur pas bkin Grammars kita gak ada benchmark dan referensi, jadi sambil jalan aja.

Tentunya Norrm berangkat dari passion lo terhadap musik. Apa yang ingin lo angkat lewat platform Norrm Radio?
Sebenarnya sebelum ada Spasial dan Grammars, Norrm sudah ada di tahun 2013. Dulu sama Idham dan Nina bertiga. Dulu awalnya platform di website yang ngasih referensi, apa yang kita suka dan apa yang kita ingin orang lain juga tahu. Jadi semacam alternative platform sih. Di Norrm ini juga Artianadi dan Zanun adalah kontributor, mereka kontributor arsitektur dan design. Sempat hiatus pas bikin Spasial, 2016 kita baru jalan lagi dan baru bikin Norrm Radio. Sampai sekarang sudah konstan si Norrm Radio itu, selama 7 tahun sudah sampai ke episode ke 500. Pengen jadi media alternatif aja sih, dan kebetulan core yang paling kuat nya sebagai radio. Networking nya lagi asik dan ada juga line merchandise nya.

Dulu lo me-manage salah satu venue yang cukup ikonik di bandung; Spasial. Apa aja suka duka nya saat lo masih me-manage Spasial?
Suka nya sih di tahun ke 4 kita tutup di kondisi bahagia, bukan karena tuntutan finansial. Bikin event dan return sudah otomatis, community sudah terbentuk. Cuma ya kita gak bisa lagi nempatin lokasi tersebut. Kita punya alat-alat pada waktu itu, internship ada sekitar 120 orang, mereka juga turun untuk bikin event, kita ada EO nya juga untuk event. Secara lokasi sudah mulai dikenal. 400 event kita garap dalam 4 tahun. Duka nya sih sedih karena ga bisa cari tempat lain yang bisa kita occupy seperti Spasial dengan profit seperti itu: high ceiling, parkir luar, lokasi strategis. Bukan sentral tapi Spasial sudah cukup menjadi center untuk event dan workshop. Sekarang banyak juga ruang-ruang alternatif lain seperti coffee shop, IFI, Hallway Space. Jadi tambah seru lah.

Spasial

Kenapa Spasial berhenti beroperasi? Apa tidak tertarik untuk mencari communal space lagi yang bisa menggantikan kekosongan yang dulu diisi Spasial?
Kita gak diperpanjang kontraknya. Kalau kita kan bikin rusuh terus, tiap minggu bikin event bahkan ada 3 event di satu hari. Sulitnya itu sih, sewanya dulu relatif murah untuk lokasi mewah di Gudang Selatan. Akses juga mudah untuk equipment masuk. Kita udah coba cari dalam setahun dan sampai sekarang belum dapet, ga ada yang bisa mengakomodir kebutuhan kita.

Lo juga terlibat di brand street fashion PPPear ya?
Setelah 2 tahun hiatus, di 2022 baru jalan lagi. Gue terlibat sebagai managing director dan semi creative director. Yang lagi dikerjakan adalah beberapa program untuk tahun 2023, ada kolaborasi dengan beberapa brand dan artis lain yang masih rahasia. Sekarang yang lagi jalan sih sama Norrm yang namanya No More Tears, itu merchandise diluar program radio.

PPPear

Dulu lo juga tergabung di kolektif Scandal yang berada dibawah manajemen Unkl347. Bisa ceritain beberapa output Scandal dan apakah pengalaman lo di Scandal bisa lo implementasikan di kerjaan lo sekarang?
Beberapa output Scandal dulu adalah bukunya Unkl347 yang Aften Ten Years Friends Call us UNKLE. Kemudian ada semi-book Still Loving Youth yang keluar 3 edisi. Kemudian beberapa pameran seperti Singapore Design Festival. Kalau yang dipakai sampai sekarang sih design approach dan editorial approach nya. Gue juga sempat bikin publishing Else Press yang cuma bertahan 3 tahun dan gue masih ingin berkontribusi di ranah printed matters. Jadi Grammars mengakomodir kebutuhan teman-teman yang berkarir di penerbitan mandiri. Dan alhamdulillah so far seru tanggapan teman-teman, ada Kamboja Press, Binatang Press, Lazy Susan, bisa kita fasilitasi sekarang di Grammars.

Ketertarikan lo terhadap dunia publishing terlihat dari involvement lo di berbagai publikasi seperti buku Unkl347, majalah Still Loving Youth sampai pameran zine yang dulu di Spasial. Apakah menurut mengenai kiasan “Print is dead”?
Print dan media cetak akan terus berlangsung menurut gue. Kalau berbicara makro memang beberapa ada yang shut down lini produksi print secara massal dan beralih ke digital. Tapi untuk di grassroots akan terus berlangsung dengan metoda cetak yang sekarang dimudahkan dengan silkscreen, riso, xerox dan digital printing yang bisa on-demand. Itu aka nterus hidup menurut gue.

Top 5 majalah favorit lo dan kenapa?
1) Rubbish FAMzine
Dari Singapore. Dikerjain sama satu keluarga. Kakaknya art drector, bokap dan nyokapnya juga ikut ngerjain. Approachnya seru, multi format dan dipackage jadi satu bundle.

2) Adbusters
Majalah yang selalu bikin balance dan waras.

3) Lodown Magazine
Referensi pada waktu muda yang ngerubah cara pandang ke terbitan cetak.

4) Trolley Magazine
Sudah pasti tau kenapa…

5) Ripple Magazine
Sama.

 

Words & Interview by Aldy Kusumah
Photo taken from Ardo’s archives

Setelah merilis “Magnum Opus” pada 16 September 2022 lalu, Valla akan merilis EP keduanya yang berjudul “Parti Pris” Pada 20 Januari 2023. “Parti Pris” merupakan bahasa perancis yang berarti bias. Tema yang diangkat dalam “Parti Pris” seputaran Cinta, Kehidupan dan Keputusasaan, yang secara penulisan lirik saling bersinggungan, juga dirasa bias. “Parti Pris” juga bersinggungan secara langsung maupun tidak langsung dengan Manusia dan Tuhan. Perenungan yang cukup dalam lahir dari Kareka Puja Saputra sebagai penulis Lirik.

Untuk merayakan rilisnya “Parti Pris”, Valla telah mengadakanHearing Session di dua kota Bandung dan Jakarta. Hearing Session ini akan dimulai dari Jakarta di Kios Ojo Keos pada tanggal 12 Januari 2023 dan Bandung akan bertempat di Downtown Market pada tanggal 13 Januari 2023. Di acara ini Valla akan memperdengarkan keseluruhan track “Parti Pris”, jugabercerita soal proses dibuatnya “Parti Pris”, juga meminta tanggapan jujur dari pendengar yang hadir.

Baru aja di akhir Desember lalu Bodypack ngerilis Overrow Series, seri tas dengan kain quilt yang terinspirasi dari fashion. Campaign ini diberi judul “Neu Quilt”, yakni memadukan unsur fashion ke dalam tas dan aksesoris untuk menampilkan kesan mewah, nyaman, dan timeless.

Series ini terdiri dari 5 tas dan 1 topi bergaya klasik dengan sentuhan modern berbalut paduan warna hijau dan hitam. Berbeda dengan cara konvensional yang mengandalkan jahitan, teknik quilting yang hadir di seri ini menggunakan metode heat press yang diklaim sangat rapi dan kuat.

Bergaransi seumur hidup, Bodypack Overrow Series ini sudah bisa dipesan di marketplace dan website mereka www.bodypack.co.id.

Downtown Market adalah salah satu melting pot yang menarik, karena disitu juga terdapat coffee shop, merchandise store dan rehearsal space. Di lantai 2 terdapat recording studio yang dinamakan Downtown Studio B. Kali ini Downtown berkolaborasi dengan The Throne Room, yang merupakan studio recording dan juga music gear shop. Dengan adanya kolaborasi ini, Downtown Market X The Throne Room bekerjasama di sekitar jasa recording, mixing dan mastering. Equipment mereka digabung jadi bisa recording multi track sama nambah beberapa perangkat analog.

Kerjasama ini sudah dimulai sejak Oktober 2022. So far, band-band seperti Dongker, Nearcrush, Erratic Moody, White Chorus dan Collapse sudah rekaman disini. Mereka juga sudah mengerjakan mastering untuk Between the Inbetween, dan scoring untuk video promo brand-brand lokal. Semua aktivitas di Doma X Throne Room dikerjakan langsung oleh Emir dan Deathless Ramz sebagai engineer. Sebuah recording space yang nyaman dan comfortable dengan suasana homey tentunya akan membuat proses rekaman nyaman dan tidak intens seperti di studio-studio rekaman pada umumnya. Band kamu bisa mengaransmen lagu dan jamming di studio A dan tinggal naik ke lantai 2 untuk merekam lagunya. What a perfect place to record your album! Kunjungi Downtown Market X The Throne room recording studio di Jl. Mangga no. 37A.

Words by Aldy Kusumah
Photos from Doma X TTR archives

Jogja Noise Bombing Festival sendiri merupakan sebuah pertunjukan musik noise tahunan yang digagas oleh komunitas Jogja Noise Bombing (JNB). Festival ini digadang menjadi sarana memperluas jaringan pelaku dan penikmat musik noise tidak hanya di Indonesia tapi juga negara lain. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme para penikmat dan pelaku noise dari segala penjuru dunia yang datang untuk menyaksikan festival ini setiap edisinya.

Ada beberapa hal baru yang menarik, yang membuat JNB Fest 2023 ini layak untuk kembali disambangi. Selain melihat progress regenerasi di tubuh komunitas JNB selaku penyelenggaranya, tahun 2023 juga menjadi festival pertama yang melakukan open call dan para penampil dipilih oleh figur di luar anggota JNB. Salah satu alasannya adalah untuk membuat pemilihan penampil dari sudut pandang yang berbeda. Dipilihlah Wok The Rock (Yes No Wave) sebagai juri Open Call JNB Fest 2023. “Dipilihnya Wok The Rock sebagai juri Open Call selain sebagai salah satu tokoh yang memiliki referensi musik noise dan eksperimental yang luas, Wok juga sudah terbiasa melakukan kurasi untuk beberapa festival musik lain semisal Pestapora 2022” ungkap Rio ‘Coffee Faith’ selaku project manager JNB Fest 2023.

JNB FEST 2020 Foto dari Sudut Kantin

Sebelumnya JNB membuka submission bagi musisi noise melalui Google Form. Terkumpul total 29 submission yang kemudian terpilih 22 musisi ditambah 6 invitation performer. Ke 28 pengisi JNB Fest kali ini berasal dari 16 kota di Indonesia dan 4 negara lain.

JNB Fest 2018 Foto oleh Sanne

JNB Fest 2023 diselenggarakan gratis selama dua hari 21-22 Januari 2023. Hari pertama menggambarkan isu-isu sekarang mengenai desentralisasi, itu menjadi alasan kenapa kegiatan pada hari itu dibuat menjadi sebuah paralel event dan bekerjasama dengan beberapa kelompok kolektif yang ada di Jogja yaitu Ruang Gulma Collective, Kombo, Lifepatch serta Tempuran Ambient Spasial di tempat terpisah. Sementara itu pre event yang diselenggarakan 20 Januari diorganisir oleh Bast Cultura.

Kabar baik bagi kamu yang menyukai Balcony, khususnya yang mendengarkan album “Instant Justice” (1997), “Terkarbonasi“ (1999) dan “Metafora Komposisi Imajinar” (2003). Grimloc, label asal Bandung yang cukup prolifik merilis rilisan fisik akan merilis Balcony Complete Discography (1994-2017), yang rencananya akan berisi semua lagu dari 3 album, 3 EP, 3 single dan beberapa unreleased tracks. Menurut Baruz, kompilasi ini akan dirilis dalam format double CD dan berisi “kurang lebih 50 track sepertinya hahaha”. Balcony adalah salah satu band hardcore asal Bandung yang pada era ‘90an sampai 2000an awal sering berbagi panggung dengan Puppen, Savor of Filth, Burgerkill, Full of Hate, Injected, Homicide, sampai Authority. Formasi awal Balcony adalah: Yudi Setiawan (Vocals), Ardiandes (Lead Guitar), Febby Herlambang (Drums), Wahyu Permana (Rhythm guitar) dan Anton Andrianto (Bass). Pada tahun 2012 mereka sempat reuni dengan formasi: Yudi Setiawan, Febby Herlambang, Wahyu Permana, Ramdan Agustiana dan Dikdik Setiawan.

Setelah Grimloc dan Disaster Records merilis reissue album “Metafora Komposisi Imajinar” pada April 2022 dalam versi vinyl, beberapa penggemar Balcony bertanya-tanya kapan reissue 2 album terdahulu nya akan rilis. Rilisan ini sekaligus menjawab semua pertanyaan itu. Sudah sepatutnya Grimloc records merilis kompilasi diskografi Balcony, karena album-album mereka dulu dirilis oleh Harder Records, yang kemudian bertransformasi menjadi Grimloc. Yang satu ini tentunya jangan sampai terlewatkan, a collectible archives indeed.

Album:
• Instant Justice (1997)
• Terkarbonasi (1999)
• Metafora Komposisi Imajinar (2003)

EP:
• Redefinishit (2000)
• Hymne Penghitam Langit & Prosa Tanpa Tuhan (split EP bersama Homicide, 2003)
• Reunion (2013)

Single:
• Reckless Life (Strike hard compilation Riotic Recs )
• Lemah Nyata ( single 1998, Brain Beverages compilation Harder Recs )
• Kafir (2012, Die Trying Recs )

 

Words by Aldy Kusumah
Photo taken from Grimloc’s archives