Pop Up Market berkolaborasi dengan Dozens Studio telah sukses mengadakan event offine pertama pada 3-6 November 2022 lalu di Kuningan City (2nd floor), Jakarta. Pop Up Market merupakan event tahunan dari Universitas Prasetiya Mulia yang ditujukan untuk mendukung brand lokal.
Dozens Studio sebagai creative agency yang berani untuk #createmore dipercaya untuk menggarap area aktivasi dengan menampilkan banyak karya seni yang telah dikurasi dari pelaku industri kreatif, photographers, ilustrator, brands, dan lainnya. Area aktivasi yang diberi tema "STEPS" ini terletak setelah pintu masuk Pop Up Market. Jadi, ketika pengunjung datang bisa langsung merasakan experience art exhibition yang dibuat oleh Dozens Studio.
Di area STEPS by Dozens Studio ada instalasi interaktif DIY Brand Identity . Dimana pengunjung dapat beintraksi membuat identitas brand mereka melalui 5 langkah sederhana. Bukan hanya itu, pengunjung dapet melihat langsung proses pemotretan produk secara langsung di aktifasi yang dilakukan oleh FOCUS by Dozen.
Dozens of Goods yang juga bagian dari Dozens Studio di STEPS by Dozens meluncurkan koleksi functional goods seperti tumbler, lighter, foldable bag berkolaborasi dengan Geralda Winona dan juga T-shirt. Setelah Pop up Market berakhir, semua produknya bisa didapatkan melalui instagram @dozensofgoods.
Pop Up Market berkolaborasi dengan Dozens Studio telah sukses mengadakan event offine pertama pada 3-6 November 2022 lalu di Kuningan City (2nd floor), Jakarta. Pop Up Market merupakan event tahunan dari Universitas Prasetiya Mulia yang ditujukan untuk mendukung brand lokal.
Dozens Studio sebagai creative agency yang berani untuk #createmore dipercaya untuk menggarap area aktivasi dengan menampilkan banyak karya seni yang telah dikurasi dari pelaku industri kreatif, photographers, ilustrator, brands, dan lainnya. Area aktivasi yang diberi tema "STEPS" ini terletak setelah pintu masuk Pop Up Market. Jadi, ketika pengunjung datang bisa langsung merasakan experience art exhibition yang dibuat oleh Dozens Studio.
Di area STEPS by Dozens Studio ada instalasi interaktif DIY Brand Identity . Dimana pengunjung dapat beintraksi membuat identitas brand mereka melalui 5 langkah sederhana. Bukan hanya itu, pengunjung dapet melihat langsung proses pemotretan produk secara langsung di aktifasi yang dilakukan oleh FOCUS by Dozen.
Dozens of Goods yang juga bagian dari Dozens Studio di STEPS by Dozens meluncurkan koleksi functional goods seperti tumbler, lighter, foldable bag berkolaborasi dengan Geralda Winona dan juga T-shirt. Setelah Pop up Market berakhir, semua produknya bisa didapatkan melalui instagram @dozensofgoods.
Pop Up Market berkolaborasi dengan Dozens Studio telah sukses mengadakan event offine pertama pada 3-6 November 2022 lalu di Kuningan City (2nd floor), Jakarta. Pop Up Market merupakan event tahunan dari Universitas Prasetiya Mulia yang ditujukan untuk mendukung brand lokal.
Dozens Studio sebagai creative agency yang berani untuk #createmore dipercaya untuk menggarap area aktivasi dengan menampilkan banyak karya seni yang telah dikurasi dari pelaku industri kreatif, photographers, ilustrator, brands, dan lainnya. Area aktivasi yang diberi tema "STEPS" ini terletak setelah pintu masuk Pop Up Market. Jadi, ketika pengunjung datang bisa langsung merasakan experience art exhibition yang dibuat oleh Dozens Studio.
Di area STEPS by Dozens Studio ada instalasi interaktif DIY Brand Identity . Dimana pengunjung dapat beintraksi membuat identitas brand mereka melalui 5 langkah sederhana. Bukan hanya itu, pengunjung dapet melihat langsung proses pemotretan produk secara langsung di aktifasi yang dilakukan oleh FOCUS by Dozen.
Dozens of Goods yang juga bagian dari Dozens Studio di STEPS by Dozens meluncurkan koleksi functional goods seperti tumbler, lighter, foldable bag berkolaborasi dengan Geralda Winona dan juga T-shirt. Setelah Pop up Market berakhir, semua produknya bisa didapatkan melalui instagram @dozensofgoods.
Pop Up Market berkolaborasi dengan Dozens Studio telah sukses mengadakan event offine pertama pada 3-6 November 2022 lalu di Kuningan City (2nd floor), Jakarta. Pop Up Market merupakan event tahunan dari Universitas Prasetiya Mulia yang ditujukan untuk mendukung brand lokal.
Dozens Studio sebagai creative agency yang berani untuk #createmore dipercaya untuk menggarap area aktivasi dengan menampilkan banyak karya seni yang telah dikurasi dari pelaku industri kreatif, photographers, ilustrator, brands, dan lainnya. Area aktivasi yang diberi tema "STEPS" ini terletak setelah pintu masuk Pop Up Market. Jadi, ketika pengunjung datang bisa langsung merasakan experience art exhibition yang dibuat oleh Dozens Studio.
Di area STEPS by Dozens Studio ada instalasi interaktif DIY Brand Identity . Dimana pengunjung dapat beintraksi membuat identitas brand mereka melalui 5 langkah sederhana. Bukan hanya itu, pengunjung dapet melihat langsung proses pemotretan produk secara langsung di aktifasi yang dilakukan oleh FOCUS by Dozen.
Dozens of Goods yang juga bagian dari Dozens Studio di STEPS by Dozens meluncurkan koleksi functional goods seperti tumbler, lighter, foldable bag berkolaborasi dengan Geralda Winona dan juga T-shirt. Setelah Pop up Market berakhir, semua produknya bisa didapatkan melalui instagram @dozensofgoods.
Pop Up Market berkolaborasi dengan Dozens Studio telah sukses mengadakan event offine pertama pada 3-6 November 2022 lalu di Kuningan City (2nd floor), Jakarta. Pop Up Market merupakan event tahunan dari Universitas Prasetiya Mulia yang ditujukan untuk mendukung brand lokal.
Dozens Studio sebagai creative agency yang berani untuk #createmore dipercaya untuk menggarap area aktivasi dengan menampilkan banyak karya seni yang telah dikurasi dari pelaku industri kreatif, photographers, ilustrator, brands, dan lainnya. Area aktivasi yang diberi tema "STEPS" ini terletak setelah pintu masuk Pop Up Market. Jadi, ketika pengunjung datang bisa langsung merasakan experience art exhibition yang dibuat oleh Dozens Studio.
Di area STEPS by Dozens Studio ada instalasi interaktif DIY Brand Identity . Dimana pengunjung dapat beintraksi membuat identitas brand mereka melalui 5 langkah sederhana. Bukan hanya itu, pengunjung dapet melihat langsung proses pemotretan produk secara langsung di aktifasi yang dilakukan oleh FOCUS by Dozen.
Dozens of Goods yang juga bagian dari Dozens Studio di STEPS by Dozens meluncurkan koleksi functional goods seperti tumbler, lighter, foldable bag berkolaborasi dengan Geralda Winona dan juga T-shirt. Setelah Pop up Market berakhir, semua produknya bisa didapatkan melalui instagram @dozensofgoods.
Pop Up Market berkolaborasi dengan Dozens Studio telah sukses mengadakan event offine pertama pada 3-6 November 2022 lalu di Kuningan City (2nd floor), Jakarta. Pop Up Market merupakan event tahunan dari Universitas Prasetiya Mulia yang ditujukan untuk mendukung brand lokal.
Dozens Studio sebagai creative agency yang berani untuk #createmore dipercaya untuk menggarap area aktivasi dengan menampilkan banyak karya seni yang telah dikurasi dari pelaku industri kreatif, photographers, ilustrator, brands, dan lainnya. Area aktivasi yang diberi tema "STEPS" ini terletak setelah pintu masuk Pop Up Market. Jadi, ketika pengunjung datang bisa langsung merasakan experience art exhibition yang dibuat oleh Dozens Studio.
Di area STEPS by Dozens Studio ada instalasi interaktif DIY Brand Identity . Dimana pengunjung dapat beintraksi membuat identitas brand mereka melalui 5 langkah sederhana. Bukan hanya itu, pengunjung dapet melihat langsung proses pemotretan produk secara langsung di aktifasi yang dilakukan oleh FOCUS by Dozen.
Dozens of Goods yang juga bagian dari Dozens Studio di STEPS by Dozens meluncurkan koleksi functional goods seperti tumbler, lighter, foldable bag berkolaborasi dengan Geralda Winona dan juga T-shirt. Setelah Pop up Market berakhir, semua produknya bisa didapatkan melalui instagram @dozensofgoods.
Pop Up Market berkolaborasi dengan Dozens Studio telah sukses mengadakan event offine pertama pada 3-6 November 2022 lalu di Kuningan City (2nd floor), Jakarta. Pop Up Market merupakan event tahunan dari Universitas Prasetiya Mulia yang ditujukan untuk mendukung brand lokal.
Dozens Studio sebagai creative agency yang berani untuk #createmore dipercaya untuk menggarap area aktivasi dengan menampilkan banyak karya seni yang telah dikurasi dari pelaku industri kreatif, photographers, ilustrator, brands, dan lainnya. Area aktivasi yang diberi tema "STEPS" ini terletak setelah pintu masuk Pop Up Market. Jadi, ketika pengunjung datang bisa langsung merasakan experience art exhibition yang dibuat oleh Dozens Studio.
Di area STEPS by Dozens Studio ada instalasi interaktif DIY Brand Identity . Dimana pengunjung dapat beintraksi membuat identitas brand mereka melalui 5 langkah sederhana. Bukan hanya itu, pengunjung dapet melihat langsung proses pemotretan produk secara langsung di aktifasi yang dilakukan oleh FOCUS by Dozen.
Dozens of Goods yang juga bagian dari Dozens Studio di STEPS by Dozens meluncurkan koleksi functional goods seperti tumbler, lighter, foldable bag berkolaborasi dengan Geralda Winona dan juga T-shirt. Setelah Pop up Market berakhir, semua produknya bisa didapatkan melalui instagram @dozensofgoods.
Pop Up Market berkolaborasi dengan Dozens Studio telah sukses mengadakan event offine pertama pada 3-6 November 2022 lalu di Kuningan City (2nd floor), Jakarta. Pop Up Market merupakan event tahunan dari Universitas Prasetiya Mulia yang ditujukan untuk mendukung brand lokal.
Dozens Studio sebagai creative agency yang berani untuk #createmore dipercaya untuk menggarap area aktivasi dengan menampilkan banyak karya seni yang telah dikurasi dari pelaku industri kreatif, photographers, ilustrator, brands, dan lainnya. Area aktivasi yang diberi tema "STEPS" ini terletak setelah pintu masuk Pop Up Market. Jadi, ketika pengunjung datang bisa langsung merasakan experience art exhibition yang dibuat oleh Dozens Studio.
Di area STEPS by Dozens Studio ada instalasi interaktif DIY Brand Identity . Dimana pengunjung dapat beintraksi membuat identitas brand mereka melalui 5 langkah sederhana. Bukan hanya itu, pengunjung dapet melihat langsung proses pemotretan produk secara langsung di aktifasi yang dilakukan oleh FOCUS by Dozen.
Dozens of Goods yang juga bagian dari Dozens Studio di STEPS by Dozens meluncurkan koleksi functional goods seperti tumbler, lighter, foldable bag berkolaborasi dengan Geralda Winona dan juga T-shirt. Setelah Pop up Market berakhir, semua produknya bisa didapatkan melalui instagram @dozensofgoods.
Pop Up Market berkolaborasi dengan Dozens Studio telah sukses mengadakan event offine pertama pada 3-6 November 2022 lalu di Kuningan City (2nd floor), Jakarta. Pop Up Market merupakan event tahunan dari Universitas Prasetiya Mulia yang ditujukan untuk mendukung brand lokal.
Dozens Studio sebagai creative agency yang berani untuk #createmore dipercaya untuk menggarap area aktivasi dengan menampilkan banyak karya seni yang telah dikurasi dari pelaku industri kreatif, photographers, ilustrator, brands, dan lainnya. Area aktivasi yang diberi tema “STEPS” ini terletak setelah pintu masuk Pop Up Market. Jadi, ketika pengunjung datang bisa langsung merasakan experience art exhibition yang dibuat oleh Dozens Studio.
Di area STEPS by Dozens Studio ada instalasi interaktif DIY Brand Identity . Dimana pengunjung dapat beintraksi membuat identitas brand mereka melalui 5 langkah sederhana. Bukan hanya itu, pengunjung dapet melihat langsung proses pemotretan produk secara langsung di aktifasi yang dilakukan oleh FOCUS by Dozen.
Dozens of Goods yang juga bagian dari Dozens Studio di STEPS by Dozens meluncurkan koleksi functional goods seperti tumbler, lighter, foldable bag berkolaborasi dengan Geralda Winona dan juga T-shirt. Setelah Pop up Market berakhir, semua produknya bisa didapatkan melalui instagram @dozensofgoods.
Sbplusix bersama dengan DESHO, rapper pendatang baru, meluncurkan sebuah single terbaru bertajuk “RUN!†yang memadukan spesialisasi masing-masing rapper tersebut. Sbplusix dengan peletakan adlibs yang terkesan ramai dan berwarna bersama dengan DESHO dengan variasi flow yang ia mainkan. Dua perpaduan energi yang saling melengkapi satu sama lain menghasilkan materi upbeat dalam nuansa hip-hop yang enerjik.
RUN!†menceritakan tentang kecemasan pribadi yang berkaitan dengan kondisi sosial kontemporer. Berbagai permasalahan yang rumit muncul, seperti keraguan pribadi pada masing-masing individu. “RUN!†menjadi solusi bagi berbagai permasalahan tersebut. Proses produksi lagu ini melibatkan Sbplusix sebagai penulis dan DESHO yang merangkap sebagai produser sekaligus penulis.
Lagu kolaborasi ini merupakan awal dari kolaborasi-kolaborasi yang akan datang dari Sbplusix dan DESHO. “DPLUSIX†akan menjadi produk akhir berwujud EP (Extended Play). Terdiri dari enam lagu, EP “DPLUSIX†akan hadir dengan club banger secara keseluruhan. Dua sosok rapper ini juga akan membawa warna-warna musikalitas lain melalui keterlibatan berbagai kolaborator yang merupakan teman bermusik dari masing-masing lingkungan mereka.
Latar belakang gigs ini cukup menarik: sebuah perhelatan diadakan dadakan pada hari Minggu(13/11) (diprakarsai Discover Sounds & Kaum) menampung band-band yang seharusnya main di Alternative stage Fosfen tetapi tidak jadi dikarenakan festivalnya yang (katanya) postponed. Dengan line up keren yang cukup variatif seperti, Saturday Night Karaoke, Muchos Libre, Dongker, Phonetic, Collapse, CAL sampai Eastcape yang jauh-jauh datang dari Blitar.
Saturday Night Karaoke menghangatkan dingin nya udara Grun Bar yang terletak di jalan Setiabudi atas tersebut dengan sajian musik punk ala Lookout Records (The Queers, Screeching Weasel). Kami melewatkan penampilan Muchos Libre tetapi kami yakin mereka bisa menghibur penonton seperti biasa dengan aksi panggungnya yang atraktif. Jika SNK membuat suasana menjadi hangat, CAL kembali “mendinginkan†suasana dengan sajian nu-gaze nya yang mengalun. Mereka tampil rapih malam itu.
Eastcape yang tahun lalu baru merilis split EP dengan Sugar Thrills (Bali) sangat menarik. Mereka membawakan musik midwest emo ala American Football dengan sedikit sentuhan math rock. Datang jauh-jauh dari Blitar untuk bermain di Fosfen, kedatangan mereka pun tidak sia-sia karena akhirnya tampil di Grun Bar pada malam itu, dan crowd pun cukup apresiatif melihat penampilan mereka. Phonetic bermain sangat maksimal malam itu walaupun tidak soundcheck. Mungkin mereka sudah bosan mendengar komparasi dengan band 1975, tapi beberapa lagu baru mereka malah keluar dari pakem musik seperti itu. Mereka juga membawakan cover version “There She Goes†entah dari The LA’s atau Sixpence None The Richer pada setlist nya.
Dongker membuat crowd stage dive dan singalong, rupanya sebagian besar penonton ternyata hafal lirik-lirik lagu Dongker. Malam itu ditutup dengan Collapse yang tentunya membawakan “Given†dan 2 cover version wajib mereka: “Blood Bank†dari Bon Iver & “Toxic Boombox†dari Angel Du$t. Mereka juga sempat membawakan single baru “Ivory†yang sangat catchy. Tidak ada yang lebih tepat dari mendengarkan Collapse membawakan “Cold November†di malam November yang dingin.
Setelah sukses mengadakan Intimate Show pada bulan September lalu, No Exit Room kembali mengadakan gigs pada Jumat(11/11) di Kopi Kohi, Bandung. Untuk kali ini kolektif No Exit Room memberi tajuk “A Step Further Away” untuk gelarannya.
CAL photo By Fabian Insan FaturahmanEN Sunbath photo by Aditya Erawan
Dengan layout “panggung” yang tidak biasa, A Step Further Away dibuka oleh penampilan dari unit alternative rock asal Bandung Turmpike. Lagu-lagu seperti, “Window”, “I Don’t Know” sampai single terbaru Teman Lama dibawakan secara apik oleh Galuh dkk. Dilanjut oleh penampilan dari band 90’s alternative “ugal-ugalan” Sunbath yang berhasil memanaskan Kopi Kohi yang kala itu sedang gerimis. Berikutnya ada Gilang bersama monikernya CAL yang tampil dengan set-nya termasuk lagu Covet dari Basement. Swarm didaulat sebagai penampil berikutnya. Swarm tampil penuh energi sepanjang set dan sempat juga mencover salah satu lagu dari Envy. Terakhir ada penampilan dari Sunlotus yang sedang mengadakan tour ke beberapa kota di Jawa. Sunlotus baru saja merilis single Glass-like Dreams dan split bersama Milledenials dalam bentuk kaset. Semua materi dari Sunlotus dibawakan pada malam itu.
Sunbath photo by Aditya ErawanSunlotus photo by Aditya Erawan
No Exit Room berhasil membuktikan bahwasanya membuat sebuah gigs dengan bantuan teman-teman masih bisa diselenggarakan dengan baik. Buktinya telah 2 gigs yang telah sukses diadakan oleh No Exit Room. Semoga akan ada gigs-gigs lain dari kawan-kawan kolektif No Exit Room.
Words by Firman Oktaviawan
Photos by Aditya Erawan and Fabian Insan Faturahman
Hampir 2 dekade setelah ngeluarin EP Biara dalam format kaset di tahun 1999, Sieve “me-reissue†debut full album-nya yang berjudul sama. Dengan tambahan 4 unreleased tracks untuk melengkapi 4 lagu lain dari EP ikonik mereka itu. Album Biara ini dirilis ke di format CD oleh label Anoa Records. Dibentuk di tahun 1998, Sieve bisa dibilang merupakan salah satu band pionir di scene musik lokal, baik Bandung maupun Indonesia, yang bergenre goth rock/darkwave, bareng dengan unit-unit seangkatan lainnya seperti Getah, SEL, Koil, Kubik dan Silent Sun. Band ini dibentuk oleh keyboardist dan pemain synth band industrial SEL, Richard Riza dan Alexandra J. Wuisan, vokalis pertama Cherry Bombshell. Formasi mereka kemudian dilengkapi oleh Regina Rina yang bergabung jadi gitaris sekaligus backing vocal. Mari berbincang dengan Alex, Rina dan Riza mengenai rencana-rencana Sieve…
“Scene musik Bandung pada tahun ‘90an berwarna banget. Kita satu komunitas lah sama Puppen, Arian jaman dulu, hangout di Reverse milik Richard Mutter dulu. Disitu juga ada Helvi dan Didit (FFWD), Ketemu banyak anak-anak yang nongkrong disana. Kita sih dekat banget sama personil-personil Koil dan Kubik. Waktu di Saparua juga banyak anak-anak punk/hardcore kaya Burgerkill, band almarhum Eben. Kita gak bisa sebutin satu-satu karena banyak banget apalagi scene Ujungberung. Jadi cukup berwarna lah dan masing-masing saling support. It’s the golden days of musik bawah tanah saat itu.“
Halo Sieve! Apa kabar. Kemana saja selama 23 tahun ini dan apa yang memutuskan kalian untuk rekaman & aktif lagi? Alex: Halo, apakabar! Kalau gue sih terakhir sempat ngeband sama Ekyno (Gergasi Api), dan lagi prep juga untuk rilis album. Sisanya sih jadi ibu rumah tangga aja hahaha. Kenapa sih kita kembali lagi? Karena kita banyak banget hasrat untuk bermusik. Sayang kalau kita gak terusin. What do you want to do in your life? Kita ingin memberikan sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya walaupun esensinya sama. Kita sudah cukup dewasa dan sudah tua juga ya haha.. We want to share our quintessential essence of Sieve, karena dulu kita masih meraba-raba, sekarang udah kita godok banget. So you can taste Sieve seperti apa dengan musik jaman sekarang, semoga gak ketinggalan zaman dan semoga menyuguhkan sesuatu yang baru.
Riza: Kalau gw sih kebetulan sibuk sama kehidupan pribadi dan kerjaan, sempat lama gak pernah nyentuh dunia musik ataupun kreatif. Sebetulnya kalau gw sih sekarang aktif lagi di musik itu karena suatu “kebetulan” saja. Untuk Sieve kebetulan aja teman-teman di sekitar kita banyak yang minta Sieve untuk rilis ulang dan kebetulan kesempatannya ada, jadi kita coba. Dan kebetulan juga gw lagi diminta bantuan sama beberapa teman untuk bikin lagu. Jadi pas banget waktunya untuk memulai Sieve dan coba rekaman lagi.
Rina: Seperti yang Sandra bilang tadi sama sih esensinya. Kita itu sebenarnya ga pernah bubar dan cuma vakum. Vakumnya memang keputus tiba-tiba, padahal sebenarnya masih banyak hal dan ide-ide yang bisa kita kerjain, sayang sih sebenarnya. Dengan kesibukan masing-masing ada anak dan keluarga semuanya jadi terlupakan. Sekarang karena momennya pas dan ada tawaran reissue awalnya dari Anoa, jadi kepikiran kenapa gak mulai lagi? Walaupun kita sibuk, ada waktu untuk berkarya lagi. Sekarang lebih matured lah kitanya juga.
Scene musik Bandung pada saat dulu Sieve merilis “Biara†di tahun 1999 seperti apa? Sepertinya kalian salah satu pionir goth rock / darkwave ya pada saat itu? Alex: Berwarna banget. Kita satu komunitas lah sama Puppen, Arian jaman dulu, hangout di Reverse milik Richard Mutter dulu. Disitu juga ada Helvi dan Didit (FFWD), anak-anak skateboard TL seperti Ekyno (Full of Hate/Plum), Maskom, dan Ketemu banyak anak-anak yang nongkrong disana, terutama yang ada di kompilasi “Masaindahbangetsekalipisanâ€.. Kita sih dekat banget sama personil-personil Koil dan Kubik. Sebelumnya gue di Cherry Bombshell jadi dekat sama komunitas 347 dirumahnya Ajo, anak-anak Itenas disitu. Kita sering juga manggung sama anak-anak Saparua, lalu kenal anak-anak Jakarta juga seperti anak-anak Stepforward seperti Ricky (Seringai) dan Jill, Wondergel, & Pestol Aer. Waktu di Saparua juga banyak anak-anak punk/hardcore kaya Burgerkill, almarhum Eben. Kita gak bisa sebutin satu-satu karena banyak banget apalagi scene Ujungberung. Jadi cukup berwarna lah dan masing-masing saling support. It’s the golden days of musik bawah tanah saat itu.
Saat itu terus terang kita gak mengarah ke genre tertentu dan yang pertama menyebut darkwave itu saya ingat si Arian. Dari wawancara majalah Trax kalau gak salah, Arian sedang mengulas tentang musik gothic di Indonesia. We just like those kinds of music at the moment, Riza dan Rina juga influencenya sintesis dari semua yang kita dengarkan saat itu. Jadi kita tahu darkwave itu dari Arian dan para pendengar.
Riza: Gw sih gak tau juga kalau kita disebut pionir goth…. Soalnya dulu pas bikin lagu gak mikir genre musik tertentu. Tapi kebetulan influence yang lagi kita dengar saat itu aja mungkin ada sedikit goth, dan pengaruh buku, film, musik yang kita dengerin saat itu aja mungkin ya. Kalau scene musik Bandung sendiri saat itu sih lebih banyak band indies ya… Seperti Pure Saturday, Kubik, Cherry Bombshell dan lain-lain. Disamping hardcore masih tetap berjaya juga meski sudah mulai stagnan. Tapi yang rada gelap memang gak terlalu banyak. Kubik sendiri saat itu mah lagunya masih ceria. Termasuk Koil juga masih grunge, Belum terlalu gelap..
Rina: Dulu itu pas jaman kita bikin EP “Biara†itu tuh memang anak-anak muda Bandung banyak yang lagi suka bermusik. Anak Bandung memang cenderung banyak yang saling kenal dan kompak. Jadi tiap band bergenre apapun kita main bareng dan memang jaman itu berwarna banget. Kita juga gak pernah peduli ke genre musiknya ya, hangout bareng aja. Untuk pelabelan musik goth, kita cuma bikin musik yang kita suka dan kita senang aja. Gak pernah kepikiran jadi gothic seperti yang orang bilang. Ya terserah orang sebutan nya apa.
Bisa ceritakan sedikit mengenai penggarapan dan konsep single “In the Shore of Madness� Riza: Awalnya karena kita ingin coba bikin-bikin materi baru, gw coba lah bikin beberapa sketsa, salah satunya cikal bakal “In the Shore of Madness†ini… Masih sketsa kasar terus gw kasih ke Sandra dan Rina, mereka ngembangin lagunya lebih lanjut. Untuk lirik dan vokal dibikin sama Sandra. Ada saat Rooftop ngebantu kita, sketsa dibantu dikembangin sama mereka dari sisi sound dan teknis. Mereka bantu kita produce, saling diskusi, dan ngembangin materinya. Kalau dari konsep sebetulnya gw sendiri awalnya gak matok untuk bikin aliran tertentu, semuanya mengalir. Malahan pada awalnya gw bikin sketsanya lebih ke arah elektronik. Pada pengembangan lanjutannya akhirnya berkembang dengan sentuhan-sentuhan rock. Semuanya gak direncanakan tapi ngalir aja sih dan kita juga malahan gak pengen bikin lagu gelap atau goth. Sebetulnya konsepnya mau bikin lagu pop aja.
Rina: Seperti yang RIza bilang ya. Kita gak mau bikin lagu seperti dulu yang dilabeli goth. Kita ingin lebih berwarna, berkembang dan mengikuti jaman, tetapi tetap dengan karakter kita. Ga kepatok genre tetapi lebih ke musik yang kita suka.
Alex: Kita diajak Aghi dan Kris dari Rooftopsound Records untuk kolaborasi. Mereka sebagai produser. Yang arrange musiknya si Aghi di studio yang dia pakai untuk scoring musik film. Yang membuat sketsa kasar awalnya Riza. Lalu gue isi melodi vokal. Peran Riza dalam membuat chords dan progresi lagu itu menurut gue jenius sih, sangat mudah untuk gue isi dan mengalir begitu saja, mudah dapet nada yang catchy. Lalu kita hearing session dan Aghi arrange lagi. Ada kendala sound pada alat musik jadi dibantu banyak sama Aghi. Rina juga menyumbangkan banyak ide-ide dan bagian musik mana yang harus dikembangkan, dan mana yang harus dimodifikasi. Kris juga mengarahkan. Liriknya terus terang terinspirasi dari puisi-puisi pendek yang gue tulis, mengenai progresi upward spiral dalam hidup kita. Ada hope dari chaos. Lagu ini sebetulnya hopeful sekali. Ketika sedang mengalami kesulitan dalam hidup, in the brink of madness, saya ingin menginkorporasikan semua itu di lirik lagu “In the Shore of Madnessâ€.
Masih ingat ga equipment yang kalian pakai pada saat menggarap EP “Biara†dan live pada saat tahun ‘90an-2000 awal apa saja? Rina: Ini Riza kayanya yang jawab detailnya, sampe dah lupa karena udah lama banget. Jaja juga lupa nih kayanya hahaha…
Alex: Ja lo pake protools atau apa tuh? Kalau gak salah ada keyboard Yamaha bokap gue yang lo pinjem. Yang pasti komputer semua di RIza deh.. Mastering, Mixing semua di RIza. Rina gue gatau pake gitar apa lupa. Mereka satu rumah sih.
RIza: Lupa-lupa inget gw. Tapi yang pasti mah DAW nya dulu masih Cool Edit Pro ya. Kalau gak salah. Atau masih manual pake Tascam/Fostex 4 track, keyboard sequencer Yamaha yang gw lupa tipenya. Tapi tipe biasa aja. Efek gitar Korg AX30g, gitar Epiphone dan Gibson. Udah itu aja sih dulu mah. Paling untuk sample manggung kita cuma pake kaset tape metal C90 di Fostex, terus sempet make Sony Minidisc untuk sample manggung. Itu juga sample manggung yang pake kaset tape mesti ganti tiap manggung karena selalu mulur pitanya, jadi berubah nada dasarnya hehe.
“Saat itu terus terang kita gak mengarah ke genre tertentu dan yang pertama menyebut darkwave itu saya ingat si Arian. Jadi kita tahu darkwave itu dari Arian dan para pendengar.“
Masing-masing personil bisa ceritakan sedikit mengenai proyek musikal kalian sebelum bergabung di Sieve? Alex: Gue di Cherry Bombshell formasi awal banget. Keluar dari Cherry Bombshell pernah diajak Adjie The Milo mengisi lagu di album pertama mereka (Let Me Begin, 2003). Gue isi vokal dan lirik di lagu “Sianida†dan “Yin’s Evolvingâ€.
Rina: Kalau gue sebelum Sieve masih kecil banget, belum punya proyek musikal. Umurnya jauh sama kakak-kakak Sandra dan RIza haha.. Jadi gue masih anak SMA aja, walaupun gue suka bermusik kaya main piano. Pas lulus SMA gue diajak mereka main band di Sieve.
Riza: Sebelum Sieve gw bikin SEL, sisanya sih paling awal-awal bantu Koil dikit. Kubik sempat bantuin manggung aja.. Cherry Bombshell juga sempet bantuin manggung. Kayanya itu aja sih dulu. Pernah mau bikin projek sama vokalis gw dulu, almarhum Ademus. Lagunya sedikit grunge. Tapi gak sempet dilanjut, udah ada 1 lagu tapi materi hilang dan Ademusnya keburu kabur ke surga..
Pada saat menggarap “Biaraâ€, masing-masing sedang mendengarkan album apa saja?
Alex: Pengaruh musik kita banyak, kita dengar macem-macem dari Curve, Tori Amos lah, kalau RIza mungkin Puscifer, NIN, ya kita juga dengerin itu. DIa juga dengerin metal lawas kaya Iron Maiden yang poster mahluk Eddienya ada di kamar dia gede banget hahaha. Kalau Cocteau Twins gue dengerin dari jaman Cherry Bombshell. Berwarna banget sih. Tapi kita paling anti copy-paste, jadi kita pengen semua inspirasi terkumpul menjadi sesuatu yang baru. Kita gak mau stuck di satu genre.
Inspirasi lain mungkin luas banget dari buku dan film. I’m into escapism. Buku atau film yang berbau supernatural atau fantasy seperti Lord of the RIngs, WIllow, Narnia, Labirin, Sandman.. Kita tuh seneng main games. Teori konspirasi seperti UFO, holy grai, histori Sumeria dan piramida juga kita bertiga suka banget.
Riza: Apa yah? Lupa gw. Nine Inch Nails mah udah pasti, Broken, Downward Spiral, Pretty Hate Machine. Terus Marilyn Manson juga pasti nya. Lagi ngumpulin vinyl nya, Antichrist Superstar, Mechanical Animal. Terus Ministry juga yang Twitch, Jesus Built my Hotrod, Mind is Terrible Thing to Taste. Indies juga sih. Kaya Lush dan Slowdive dan Manic Street Preachers. Dan Smashing Pumpkins. It’s a must sih itu. Alasannya… Gak ada alasan sih, suka aja. Gak tau kenapa hahaha…
Rina: Nah iya Slowdive dan Smashing tuh gw dulu. Gue juga lupa, tapi yang pasti pas lagi garap “Biara†gue lagi suka banget Tori Amos sama Curve. Dan sedikit Cocteau Twins dan NIN juga. Kalau film sih gue seneng banget film fantasy kaya Labirin yang ada David Bowie. Mungkin kebawa Sandra dan Riza juga sih karena dulu masih kecil jadi terinspirasi apa yang mereka suka.
Setelah single “In the Shore of Madness†rencana berikutnya apa saja nih? Apa ada rencana untuk membuat showcase dan pertunjukan live dekat-dekat ini? Riza: Live sih udah pasti. Tapi karena udah lama gak manggung jadi banyak persiapan yang mesti disiapin dari mulai personil, equipment itu sudah pasti. Dan juga settingan panggung dan sound juga mesti disiapin. Jadi kita lagi bebenah dulu, belum lagi manajemen juga masih dibentuk karena udah lama vakum. Kemaren ini juga ada beberapa tawaran seperti di Extreme Moshpit cuma terpaksa kita lewat karena materi belum siap.
Rina: Kita lagi cari additional nih mungkin ada yang mau ngelamar? Hehe.. Karena kita butuh banget additional. Kita mau latihan tapi agak sulit karena Sandra di Jakarta. Kalau additionalnya anak Jakarta ya kita kayanya latihan di Jakarta juga sih, benar-benar perlu effort banyak
Alex: Additional anak Bandung mungkin untuk main di Bandung, kalau manggung di Jakarta pake additional anak Jakarta. Ini ide jenius nya Riza sih haha. Kalau manggung di luar 2 kota itu mungkin pembaca ada yang bisa? Hahaha.. Pastinya kita lagi cari personil bassist dan drummer. Yang pasti ada guest star rahasia hahaha.. Pastinya ya pengen ada showcase nantinya kalau itu semua udah set.
Panggung Sieve yang dulu paling memorable bagi kalian pas perform dimana aja? Kenapa? Riza: Nah ini mah aslinya lupa. Dimana aja ya? Saparua kayanya sih ya yang berkesan..
Rina: Paling memorable ya. Gue lupa tempatnya tapi ingat performnya. Di Buqiet cafe sih gue inget momen nya. Kita pernah kan ya main disitu? Entah kenapa suka aja pas main disitu. Sama yang di Jakarta tuh di SMA mana ya, kita ketemu mas Gilang Ramadhan dan diajak rekaman di studio dia. Sempat dia mau bantu isi drum buat lagu kita.
Alex: Semua memorable sih. Yang memorable biasanya yang ada kejadian lucu. Gue paling lupa tempat karena secara geografis gue jelek dan ga tau jalan. Yang gue inget banget itu crowd yang ga expect musik kita. Pernah juga gue lagi sakit batuk dan belum nemu teknik bernyanyi kalau lagi serak. Ada yang menyarankan gue untuk merokok Samsu biar sembuh batuknya tapi malah makin parah lah hahaha.. Kita bawain lagu “Mars†dan “Vitreus Wish“ crowd langsung loncat-loncat tuh haha..
Pertanyaan terakhir: perbedaan ngeband di Sieve di era ’90an dan sekarang ketika reuni lagi setelah sekian lama? Riza: Bedanya sih udah pasti kita semua punya kesibukan masing-masing. Jadi mesti bagi waktu dengan kesibukan kita. Kalau dulu kan masih bebas. Ditambah lagi visi musik masing-masing juga makin berkembang dan berbeda. Jadi pastinya kita mesti bisa menahan ego masing-masing karena pastinya banyak selera musik dan referensi yang udah jauh beda antara kita. Bagusnya sih jadi memperkaya aja ya. Mudah-mudahan bisa bikin musik Sieve jadi lebih dewasa.
Rina: Setelah berkeluarga sebenarnya kita selalu bertemu dan kompak walaupun ga ngeband. Yang pasti bedanya kita lebih matured. Dari perform juga pasti nanti fashion nya beda, sudah mengikuti zaman dan umur lah yang pasti. Bener sih kata Riza, visi musik pasti berkemband dan lebih berwarna.
Alex: Kalau dulu tuh kita masih sharing musik bareng, nongkrong bareng tanpa batas waktu nginep di rumah Rina. Pulang manggung hangout sama anak-anak. Kita dulu dengerin Swervedriver, Kate Bush, Billy Bragg , Chapterhouse sampai Sisters of Mercy kalau lagi nongkrong. Kalau sekarang kan udah punya keluarga masing-masing jadi ngumpul agak susah, cari personil aja susah karena networking juga udah gak pernah. Waktu bertukar pikiran juga semakin dikit, jadi kalau ketemu kita brainstorming lebih dalam dan haha-hihi nya dikit. Kalau dulu lebih banyak pesta pora nya hahaha. Karena udah berumur ya lebih matang lah.
Words & interview by Aldy Kusumah Photos by @jusa666, Satria NB & Sieve’s Archives
Unit Crossover Hardcore asal Sidoarjo, Voorstad akhirnya merilis mini album terbaru mereka melalui label Greedy Dust Records. Mini album tersebut sekaligus menjadi rilisan kedua mereka setelah pada awal tahun ini merilis demo bertajuk Demo 2022. Mini album self-titled dari Voosrtad berisikan 5 materi dimana 4 tracks di dalamnya adalah materi terbaru mereka. Pada EP ini, Voorstad banyak mengalami pendewasaan dalam hal tema dan lirik. Di segi musikalitas Voorstad banyak dipengaruhi band-band NYHC era 90’an seperti Merauder, Death Threat, hingga Biohazard.
Proses rekaman EP Voorstad dilakukan di tiga studio rekaman, yaitu di Trek House Recording Studio, Golden Temple Recording Studio, dan Natural Recording studio. Untuk proses mixing dan mastering dikerjakan di Grifin Studio (Limbo, Dazzle, Bizarre). Sedangkan untuk proses kreatif cover EP Cruelty dikerjakan oleh Firzha aka Mobjustice, artworker sekaligus tattoo artist asal Jakarta.
EP self -titled Voorstad dirilis pada 10 November 2022 dan akan dirilis dalam format kaset tape oleh Greedy Dust. Rencananya setelah dirilisnya EP tersebut, Voosrtad akan melangsungkan mini tour di Pulau Jawa untuk memperluas koneksi dan mempromosikan EP “Self -Titled†mereka ke khalayak yang lebih luas.
Tones No. 6 adalah sebuah spot baru yang cukup menarik dan memanjakan mata, telinga dan lidah tentunya. Kenapa mata, telinga dan lidah? Karena dari momen kita menginjakkan kaki di Tones, kalian akan disambut oleh musik Jazz yang terdengar renyah dari speaker JBL 4315 yang diputar dari vinyl koleksi mereka. Furniture-furniture yang tertata apik secara aesthetic pun memanjakan mata kalian. Apalagi hidangan speciality mereka: creamy gulai fettuccine, pompom soda, dan americano dingin dengan kombinasi biji kopi dari Wanoja dan Brazil.
Ambiance yang nyaman, tempat duduk yang cozy dan sajian musik yang dikurasi tentunya akan menambah value si cafe itu sendiri dan juga meng-elevate sajian makanan / minumannya. Tones No. 6 juga memasang harga standard untuk sajian food & beverages nya, dan untuk rasa dan porsi pun sangat memuaskan. Untuk sekedar meeting atau bersilaturahmi dengan kerabat, Jeurnals sangat merekomendasikan kamu untuk segera mengunjungi Tones No. 6 di Jl. Terusan Cisokan No.6, Kota Bandung, Jawa Barat.
Setelah mencuri perhatian lewat video clip Adamar, Haul kembali merilis single kedua bertajuk “Persefoniak” dalam format video clip. Persefoniak merupakan lagu pertama dari EP Adamar yang akan dirilis oleh Disaster Records dalam format CD dan 10″ Vinyl.
Berbeda dengan video clip Adamar yang terlihat “grande”, untuk menggambarkan “Persefoniak” yang agresif dan kasar, video clip kali ini terlihat lebih noise dan lebih kelam karena menggunakan 2 jenis kamera dengan medium berbeda yaitu camera super 8mm dan VHS. Untuk pengerjaannya, unit death metal asal Bandung ini mempercayakan Adityo H. Martodiharjo sebagai director dan Arief Wahyudi sebagai DOP juga editor.
Muusic Video”Persefoniak” dari Haul sudah mulai tayang pada 11 November 2022 di kanal youtube Maternal Disaster.
Di penghujung tahun 2022 Greedy Dust akan menutup release season mereka dengan band-band alternative. Season penutup tahun ini terdiri dari perilisan materi roster lama dan roster baru mereka. Langkah tersebut diawali dengan merilis Sunlotus, unit shoegaze asal Blora. Band yang telah berdiri sejak 2018 ini akan merilis single sekaligus mengumumkan bahwa bergabungnya mereka menjadi roster Greedy Dust mengikuti jejak Enola (Surabaya).
Single ini merupakan awal kerja sama Sunlotus dengan Greedy Dust untuk EP yang akan mereka akan rilis pada Maret 2023. Selain rencana tersebut single ini terasa spesial karena Sunlotus terasa lebih solid dengan formasi baru. Lagu ini dilempar ke audiens dengan harapan pendengar dapat menginterpretasikan sendiri makna lagu ini.
Tentunya ini adalah list versi kami. Tidak ada list yang paling benar dan absolut. Mungkin ada beberapa yang terlewat saat kami mengcompile list ini. Jika ada yang terlewat, kalian bisa menambahkan di kolom komentar. Enjoy the list! Here it goes.
2. Snapcase – Progression Through Unlearning (1997)
“Selain merch bootleg logo Adidas mereka, salah satu ciri khas Snapcase adalah sound snare drum mereka. Kalian akan tahu kalau itu adalah lagu Snapcase ketika kalian mendengar Tim Redmond memukul snare tersebut. Ini adalah satu rilisan Victory Records favorit kami. Daryl Taberski juga adalah salah satu vokalis hardcore terbaik yang pernah ada, dengan delivery nya yang powerful. Dari track pembuka “Caboose†yang groovy, “Guilty By Ignorance†yang enerjik, “Zombie Prescription†sampai 2 lagu penutup “Breaking And Reaching†dan “Outroâ€, tidak ada satupun lagu filler di album ini. All killer, no filler.â€
3. Cro-Mags – Age Of Quarrel (1986)
“Ketika beberapa pembuat onar, pengedar narkotika dan praktisi beladiri Jiu Jitsu / Boxing dari New York membuat band, maka tentunya output dari NYHC crew ini akan sangat menarik. Age of Quarrel adalah hardcore punk yang sangat primitif: cepat, penuh dengan raw energy, influence thrash metal dan sedikit pengaruh Rush. John Joseph, Harley Flanagan dan Parris Mayhew adalah legenda.â€
4. Bad Brains – S/T (1982)
“Mungkin ini album dengan BPM tercepat di list ini. 16 lagu dalam durasi 36 menit saja. Bad Brains mendeliver performa yang intense dan penuh energi dari setiap pertunjukan mereka, dan semua itu tertangkap dengan baik di album ini. Cover albumnya mungkin kalian sering lihat, dan bajunya pun mungkin banyak yang memakai. Tetapi apakah kalian sudah pernah mendengarkan keseluruhan album ini dari awal sampai akhir in one sitting? Coba saja, dan rasakan energi H.R., Dr. Know, Darryl Jenifer & Earl Hudson merepresentasikan Washington D.C. hardcore kepada dunia.â€
5. Strife – In This Defiance (1997)
“Ah. Strife. Jika di ensiklopedia musik ada pembahasan hardcore, maka menurut kami album inilah yang seharusnya ditempel sebagai benchmark di buku ensiklopedia tersebut. Pada tahun 1997 saya pertama kali melihat video klip “Blistered†dan cukup tercengang oleh energi yang di deliver band ini (dan tentu gang vocals di lagu ini). Crew straight edge dari Kalifornia ini pun selalu mendeliver sound yang terbaik di setiap album nya.
6. Shelter – Mantra (1995)
“Untuk saya pribadi, album ini salah satu gateway menuju genre hardcore. Sangat catchy, easy listening dan tentunya penuh dengan filosofi Hare Krishna Ray Cappo yang anti peradaban modern pada departemen lirik. Produksi album ini pun sangat top notch. Album ini sangat meledak pada saat rilis di tahun 1995 karena dirilis oleh major label Roadrunner. Oh betapa catchy nya riff Porcell pada “Message Of The Bhagavat†dan “Here We Goâ€.
7. Gorilla Biscuits – Start Today (1989)
“Ringkasnya, Start Today dari Gorilla Biscuits adalah album yang sangat penting dalam hardcore. Energi mentah dengan melodi yang tepat, lirik yang cerdas, semua ditangkap dalam empat belas track. Kamu seharusnya sudah memiliki album ini jika kamu menyukai hardcore. Para penggemar Minor Threat dan 7 Seconds dan band serupa lainnya, kemungkinan besar kamu akan menikmati album ini. Ini album terakhir GB sebelum membubarkan diri. Anthony “CIV” Civarelli kemudian membuat band CIV. Porcell membuat Shelter setelah ini, Walter Schreifels membuat Quicksand dan Rival Schools, bahkan vokalis latar di album ini, Toby Morse, membuat H2O di kemudian hari. â€
8. CIV – Set Your Goals (1995)
“Mungkin album ini dulu dikenal karena lagu “Can’t Wait One Minute More†tampil di serial kartun MTV Beavis & Butthead dan juga berkolaborasi dengan Lou Koller dari Sick of it All. Drum tribal yang meminjam dari lagu Adam and the Ants mewarnai lagu ini. Tentunya lagu yang cukup ikonik dari mereka adalah “So Far, So Good, So Whatâ€, yang sedikit bernuansa pop-punk. Band yang dibentuk oleh 3 mantan personil Gorilla Biscuits ini cukup menarik. Selain Anthony “CIV” Civarelli, Arthur Smilios dan Sammy Siegler (yang juga bermain di Judge dan Youth Of Today) mengisi posisi bass dan drum di CIV. Set Your Goals, band pop punk asal San Francisco mengambil namanya dari album ini.â€
9. Judge – Bringin’ It Down (1989)
“Judge adalah unit musik berumur pendek yang menghasilkan hanya satu album: Bringin’ It Down. Rilisan lain mereka ‘Chung King Can Suck It’ telah mencapai status legendaris di antara kolektor vinyl. Album ini dengan mudah menjadi album Revelation Records favorit kami. Warisan sound hardcore punk bertemu metal dari Judge adalah band-band seperti Integrity dan band manapun yang memiliki pengaruh metal yang bercampur dengan hardcore punk. Lagi pula, siapa sih yang tidak pernah melihat logo palu berbentuk “X” dari band Judge?â€
10. Black Flag – The First Four Years (1983)
“Album kompilasi yang sangat menarik dari Black Flag era sebelum Henry Rollins menjadi vokalis utama mereka. Tentunya vokalis BF favorit kami adalah Keith Morris yang lebih slengean. “Nervous Breakdownâ€, “Wastedâ€, “Jealous Again†dan “Six Pack†ada disini beserta sederet “hits†lainnya dari mereka. Menurut beberapa kawan kami, ini adalah soundtrack terbaik untuk bermain skateboard pada era ‘90an.â€
11. Brain Beverages Compilation (1999)
“Salah satu kompilasi terbaik hardcore/punk Bandung yang dirilis Harder Records (Sebelum sekarang orang-orangnya menciptakan Grimloc Records). Beberapa band di kompilasi ini sekarang masih aktif: Take A Stand, Jeruji, Full of Hate, Turtles Jr, Blind to See. Bebrapa track favorit kami yang menjadi highlight disini adalah: Homicide (“State of Hateâ€), Puppen (“Abstainâ€), dan Groggi (“Deformâ€).â€
12. Full Of Hate – Basi (1999)
“Salah satu album klasik yang juga dirilis Harder Records, Full of Hate “Basi†terasa sangat catchy dan segar pada saat dulu rilis. Dengan kover logo PERSIB nya yang ikonik dan juga menjadi design T-Shirt, track-track seperti “Bandung Hardcoreâ€, “Losing Your Mindâ€, “Left Behind†dan bahkan “Lalat†yang dinyanyikan oleh Adymas Haryo (Take A Stand) menjadi anthem yang sangat menyegarkan di tahun 1999.â€
13. Balcony – Terkarbonasi (1999)
“Maaf, tidak bermaksud menilai rilisan ini lebih penting atau lebih baik dari opini publik mengenai magnum opus Balcony yang berjudul “Metafora Komposisi Imajinarâ€. Tetapi bagi kami album ini adalah sebuah jembatan yang menyenangkan dari era Balcony album “Instant Justice†dengan hardcore generiknya dan kompleksitas “Metafora Komposisi Imajinar†yang menggabungkan beberapa genre. Terkarbonasi adalah Balcony dengan sound yang jauh berbeda dari band-band hardcore pada masa itu. Album ini konon hanya dibuat oleh 3 personil yang tersisa selepas debut albumnya. Coba saja dengarkan “Suara Sampahâ€, “Khianat†atau cover version lagu Turtles Jr “Kuya Ngora†di album ini.â€
14. Puppen – MK2 (1998)
“Sepertinya album ini sudah tidak perlu dijelaskan lagi. Tapi untuk yang belum pernah mendengarkan salah satu album hardcore lokal yang esensial ini, MK2 is that perfect hardcore album. Riff-riff catchy nan brilian dari Robin Malau, lirik-lirik cerdik dan delivery ikonik dari Arian 13. Jangan lupakan juga peran Prima pada posisi low-end dan Marcell Siahaan pada drum. “Atur Aku†pun semakin terasa eternal eksistensi nya untuk generasi sekarang karena dikover oleh Burgerkill. Ingin mendengar Puppen dengan vokal Morgue Vanguard? Cek juga track “United Fistâ€. Solid gold.â€
15. Minor Threat – Out Of Step (1983)
“Walaupun hanya eksis selama 3 tahun, impact Minor Threat terasa sangat kuat. Perasaan teralienasi sebagai “outsider†dirangkum dan menjadi tema sentral album ini, lengkap dengan kovernya yang ikonik.â€
16. Fugazi – Repeater (1990)
“Walaupun kami menikmati diskografi Ian MacKaye di Egg Hunt, Embrace, Teen Idles dan Minor Threat, Mungkin Fugazi adalah proyek musikal favorit kami dari seorang Ian MacKaye. Dan jika Nirvana memiliki album Nevermind, Repeater adalah Nevermind milik Fugazi. Album ini bahkan masih terasa avant-garde jika didengarkan di tahun 2022 sekali pun. Ian MacKaye dan Guy Picciotto membawa prinsip-prinsip D.I.Y., anti kapitalisme dan membawa hardcore / post-hardcore ke level yang baru.â€
17. Title Fight – Floral Green (2012)
“Perpaduan terbaik antara hardcore dan shoegaze, yang beberapa media sebut sebagai shoegazi. Harapan untuk mereka reuni mungkin sangat kecil, tapi berterimakasihlah kepada TF karena sudah merilis magnum opusnya yang berjudul “Floral Greenâ€. Album ini juga diproduseri oleh Will Yip.â€
18. Turning Point – Behind This Wall: 1988 – 1991 (2020)
“Mungkin ini band paling ‘emo’ di list ini. Album kompilasi Turning Point ini dibuka dengan petikan gitar akustik di track pertama “Behind This Wallâ€, yang menjadi benchmark untuk band-band emocore di kemudian hari. Track kedua “Thursday†dengan intro yang ikonik dan disambut oleh vokal shouting pun terasa sangat familiar, apalagi bagi kamu yang menyukai band Thursday. Hmm mungkin bukan kebetulan jika Geoff Rickly menamai band nya Thursday. Anyway, band asal New Jersey ini sudah tentu membuka khasanah baru untuk band-band emo & melodic hardcore dengan tipikal vokal shouting dan sedikit spoken words. Bahkan pada saat mereka reuni untuk festival This is Hardcore di tahun 2016, Geoff Rickly menyumbangkan vokalnya untuk Turning Point, karena vokalis mereka Skip Candelori overdosis di tahun 2002.â€
HONORABLE MENTIONS:
19. Burgerkill – Dua Sisi (2000)
20. Agnostic Front – Victim Of Pain (1984)
21. Earth Crisis – Destroy the Machines (1995)
22. Youth Of Today – Break Down The Walls (1988)
23. Biohazard – Urban Discipline (1992)
24. Fucked Up – The Chemistry Of Common Life (2008)
25. Madball – Set It Off (1994)
26. Sick of it All – Built to Last (1997)
27. Angel Du$t – Rock the Fuck On Forever (2016)
28. Trapped Under Ice – Big Kiss Goodnight (2011)
29. Hatebreed – Satisfaction is the Death of Desire (1997)
30. Speed – Gang Called Speed (2022)