East Hood, brand pakaian berasal dari Bandung merilis "2002 til Forever". Brand yang selalu berkaitan dengan sepeda motor sehingga desain produk Easthood selalu bertemakan militer, sepeda motor dan outdoor ini mengambil konsep dasar 90's - 2000's sehingga produk dan desain grafis yang diberikan Easthood adalah Spirit era.
Selain itu, konsep "2002 till Forever" juga mengenang kembali bagaimana founder Dani Rachmad merespon hobi, dan situasi yang terjadi di sekitarnya. Pola fikir tersebut di implementasikan terhadap Easthood.
East Hood, brand pakaian berasal dari Bandung merilis "2002 til Forever". Brand yang selalu berkaitan dengan sepeda motor sehingga desain produk Easthood selalu bertemakan militer, sepeda motor dan outdoor ini mengambil konsep dasar 90's - 2000's sehingga produk dan desain grafis yang diberikan Easthood adalah Spirit era.
Selain itu, konsep "2002 till Forever" juga mengenang kembali bagaimana founder Dani Rachmad merespon hobi, dan situasi yang terjadi di sekitarnya. Pola fikir tersebut di implementasikan terhadap Easthood.
East Hood, brand pakaian berasal dari Bandung merilis "2002 til Forever". Brand yang selalu berkaitan dengan sepeda motor sehingga desain produk Easthood selalu bertemakan militer, sepeda motor dan outdoor ini mengambil konsep dasar 90's - 2000's sehingga produk dan desain grafis yang diberikan Easthood adalah Spirit era.
Selain itu, konsep "2002 till Forever" juga mengenang kembali bagaimana founder Dani Rachmad merespon hobi, dan situasi yang terjadi di sekitarnya. Pola fikir tersebut di implementasikan terhadap Easthood.
East Hood, brand pakaian berasal dari Bandung merilis "2002 til Forever". Brand yang selalu berkaitan dengan sepeda motor sehingga desain produk Easthood selalu bertemakan militer, sepeda motor dan outdoor ini mengambil konsep dasar 90's - 2000's sehingga produk dan desain grafis yang diberikan Easthood adalah Spirit era.
Selain itu, konsep "2002 till Forever" juga mengenang kembali bagaimana founder Dani Rachmad merespon hobi, dan situasi yang terjadi di sekitarnya. Pola fikir tersebut di implementasikan terhadap Easthood.
East Hood, brand pakaian berasal dari Bandung merilis "2002 til Forever". Brand yang selalu berkaitan dengan sepeda motor sehingga desain produk Easthood selalu bertemakan militer, sepeda motor dan outdoor ini mengambil konsep dasar 90's - 2000's sehingga produk dan desain grafis yang diberikan Easthood adalah Spirit era.
Selain itu, konsep "2002 till Forever" juga mengenang kembali bagaimana founder Dani Rachmad merespon hobi, dan situasi yang terjadi di sekitarnya. Pola fikir tersebut di implementasikan terhadap Easthood.
East Hood, brand pakaian berasal dari Bandung merilis "2002 til Forever". Brand yang selalu berkaitan dengan sepeda motor sehingga desain produk Easthood selalu bertemakan militer, sepeda motor dan outdoor ini mengambil konsep dasar 90's - 2000's sehingga produk dan desain grafis yang diberikan Easthood adalah Spirit era.
Selain itu, konsep "2002 till Forever" juga mengenang kembali bagaimana founder Dani Rachmad merespon hobi, dan situasi yang terjadi di sekitarnya. Pola fikir tersebut di implementasikan terhadap Easthood.
East Hood, brand pakaian berasal dari Bandung merilis "2002 til Forever". Brand yang selalu berkaitan dengan sepeda motor sehingga desain produk Easthood selalu bertemakan militer, sepeda motor dan outdoor ini mengambil konsep dasar 90's - 2000's sehingga produk dan desain grafis yang diberikan Easthood adalah Spirit era.
Selain itu, konsep "2002 till Forever" juga mengenang kembali bagaimana founder Dani Rachmad merespon hobi, dan situasi yang terjadi di sekitarnya. Pola fikir tersebut di implementasikan terhadap Easthood.
East Hood, brand pakaian berasal dari Bandung merilis "2002 til Forever". Brand yang selalu berkaitan dengan sepeda motor sehingga desain produk Easthood selalu bertemakan militer, sepeda motor dan outdoor ini mengambil konsep dasar 90's - 2000's sehingga produk dan desain grafis yang diberikan Easthood adalah Spirit era.
Selain itu, konsep "2002 till Forever" juga mengenang kembali bagaimana founder Dani Rachmad merespon hobi, dan situasi yang terjadi di sekitarnya. Pola fikir tersebut di implementasikan terhadap Easthood.
East Hood, brand pakaian berasal dari Bandung merilis “2002 til Forever”. Brand yang selalu berkaitan dengan sepeda motor sehingga desain produk Easthood selalu bertemakan militer, sepeda motor dan outdoor ini mengambil konsep dasar 90’s – 2000’s sehingga produk dan desain grafis yang diberikan Easthood adalah Spirit era.
Selain itu, konsep “2002 till Forever” juga mengenang kembali bagaimana founder Dani Rachmad merespon hobi, dan situasi yang terjadi di sekitarnya. Pola fikir tersebut di implementasikan terhadap Easthood.
Hot Stuff edisi kali ini adalah top 3 favorit team JEURNALS untuk bulan ini. Musik, makanan, film atau apapun itu, here goes our Hot Stuff for this month…
Andika Surya State Craft – Into The Snowlight Gate (2000)
Lupakan riff metalcore generik dari Killswitch Engage atau bahkan At The Gates sekalipun. Bagian awal lagu ini sudah langsung ditampol dengan riffing black metal dengan sound rebek keluaran metalzone dan sound drum classic. State Craft membawa nuansa Metalcore lebih gelap dan kelam lagi dari formula biasanya. Selain mereka menjadi band yang bisa disebut band legendaris dari Jepang, dalam beberapa hal, mereka adalah band yang tidak terlalu dianggap di skena metalcore global. Jika kalian menyukai riff metalik mentok dibalut dengan breakdown ala death metal maka dengarkan album mereka “To Celebrate the Forlorn Season (2000)â€.
One King Down – Deliver Me (1998)
Dibuka dengan intro E-Chugging ketukan ganjil bersamaan dengan chord dissonance membuat saya agak mengerutkan dahi pada saat pertama mendengarkan lagu ini karena biasanya beat breakdown metalcore itu ketukannya standar abis. Diantara band-band yang muncul pada saat itu lagu, album ini termasuk menjadi transisi era antara classic menuju modern metalcore.
Arkangel – Written in Black
Kalau bisa dilombakan lagu ini mungkin menempati posisi pertama untuk gelar “Riff Iconic no.1 di genre classic metalcoreâ€. Selain teknik vokal yang menyeramkan, di bagian hook lagu ini bisa membuat nuansa breakdown menggunakan riff metalcore menjadi lebih simple namun tetap nempel di kepala.
Aldy Kusumah Bakmi Badami
Salah satu secret spot Bakmi di Bandung yang sempat viral di Tiktok karena ada yang menyebarkan alamat rahasianya. Uniknya, kedai bakmi ini beroperasional sesuka hati dan memakai sistem reservasi terbatas. Setelah reservasi mereka akan mengirim alamat rahasianya. Rekomendasi saya, pesan bakmi keriting beef cabe gendot (plus acar cabe) dan es teh jeruk kunci-nya.
Hoka One One – Clifton 8 Wide
Semakin bertambah usia, bagi saya kenyamanan sepatu lebih penting dari design atau looksnya. Memang tidak ada yang mengalahkan visual New Balance 990v3 JJJJound, Vans Vault slip-on dan Adidas Gazelle biru, tetapi coba saja pakai ketiga sepatu itu untuk berjalan jauh. Hoka ini adalah brand running shoes dari Perancis, yang kedua foundernya adalah eks-designer Salomon. Menariknya Hoka menawarkan 2 opsi untuk setiap artikel produknya: regular & wide, sebuah opsi yang jarang ditemukan di brand sepatu lain. Clifton 8 ini terasa ringan, memiliki sole yang super cushy dan nyaman sekali untuk dipakai trail running maupun jalan kaki biasa. Lupakanlah Salomon: Hoka Clifton 8 ini memiliki spec yang cukup tinggi dengan price point yang ramah di kantong.
Elden Ring (PS4/PS5)
Bukan rahasia kalau Elden Ring adalah sebuah game action-RPG yang cukup “hardcoreâ€. Menggabungkan elemen-elemen terbaik dari open-world adventure ala The Legend of Zelda: Breath of the Wild dengan pertempuran khas Dark Souls series yang sedikit “grindingâ€. So far, ini adalah salah satu game terbaik yang pernah saya mainkan. Tidak semua bisa memenuhi tantangan game ini. Namun, imbalannya sepadan dengan risikonya.
Firman Oktaviawan: Rumah makan Pak Sarwon
Iga bakar, sate cobek, tongseng dan semua menu di Pak Sarwon enak semua. Dagingnya empuk dengan bumbu meresap kedalam, ditambah baluran kuah yang top banget. Harga ramah di kantong kisaran 35 ribu sudah sama nasi.
Pengabdi Setan 2 (2022)
Film ini jadi standar film horror di Indonesia. Sedikit mengandalkan jumpscares tapi dari cerita dieksekusi dengan baik menjadi visual ditambah akting pemainnya sangat mendukung. Setelah film selesai pun masih jadi perbincangan tentang teori-teori yang berkembang tentang cerita yang ada di Pengabdi Setan 2.
Explosion In The Sky (Singapura, 2017)
Mengikuti band ini semenjak tahun 2000an awal dan akhirnya bisa nonton langsung. Experience nonton konser yang nggak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Prabu Pramayougha The Jansen
Pete Shelley dan Joey Ramone mungkin sedang tersenyum riang di atas Sana ketika kuartet punk rock asal Bogor ini mengamalkan kaidah-kaidah punk rock lawas yang mereka mainkan di kala masa hidupnya dengan mumpuni sekarang. Musiknya terlalu usang? Mungkin kupingmu saja terlalu dinamis untuk menikmati aspek keprimitifan itu.
Leipzig
Ada yang bilang mereka mirip Idles, ada juga yang berceloteh mereka mirip Uranium Club. Bebas. Namun bagi saya pribadi, saya sangat merasakan nuansa Devo yang sangat kental di aspek musikalitas mereka. Plus mereka punya narasi lirik yang lebih menarik apabila kamu punya niat lebih untuk menyimaknya dengan seksama. Ah akhirnya, ada band post-punk lokal yang tak terlalu mengagungkan Joy Division.
Sunwich
Mungkin terlalu singkat untuk menilai mereka sebagai favorit. Tapi lagu “The Bended Man” adalah sebuah lagu pop yang bagus. Bias rasanya mengingat selera musik saya yang sangat menyukai format pop ala twee macam itu. Lagu-lagu mereka yang lain sebetulnya tidak terlalu masuk ke selera saya. Entahlah. Semoga di debut albumnya akan lebih banyak lagu yang bernuansa mirip “The Bended Man”. Boleh dong berekspektasi sedikit.
Adetri Spirited Away (2001)
Ini jadi anime pertama yang ditonton dan udah di re-watch beberapa kali. Suka sama visualnya, soundtrack dan alur ceritanya. Seperti ingetin kita biar ga greedy dan egois. Karakter favorit tentu saja si No Face / Kaonashi.
Slowdive – Souvlaki (1993)
Karena suka genre musiknya, shoegaze yang mengawang-ngawang hahaha! Seolah-olah mengajak ke alam bawah sadar kita buat tenggelam sama musiknya. Band shoegaze favorite masih di juarai Slowdive, dan lagu favorite dari album ini adalah Alison. Ini album favorite sepanjang masa juga.
Pantai Gunung Geder, Garut Jawa Barat
Pantai favorite sepanjang masa. Tempatnya agak hidden gem karena harus masuk dulu hutan dan melewati sungai hilir, masih asri dan belum ada penataan yang baik. Suka sama semua hal di laut, suara ombak, aroma laut, tapi kadang-kadang suka ngerasa serem sendiri kayak mau dimakan ombak.
Sasa Oktaviana Nasi Goreng Pak Ikin (PR)
Kayanya gak ada orang Bandung yang gak tau Nasgor PR, mungkin sebagian orang bilang rasanya sama aja tapi buat aku enak banget dan porsinya pas. Harganya gak berubah ya segitu aja 20 ribu dan yang bikin balik lagi aa yang jualannya sabar. Dateng pas weekday aja karena kalau weekend banyak orang luar kota, penuh dan makannya jadi buru-buru.
Thirty-Nine (2022)
Drama tentang tiga orang sahabat, perempuan semua, mereka berteman sudah sangat lama sampai akhirnya menginjak umur 39 tahun dengan kisah kehidupan yang beda-beda. Sampe akhirnya ada salah satunya yang sakit keras dan kebetulan sakitnya sama kaya almarhum bos aku. Seru, dramatis, lucu tapi sungguh mengharukan.
Chung Ha – Bare & Rare (2022)
Lumayan lama hiatus dari album terakhirnya “Killing Meâ€, akhirnya keluar juga album barunya. Bare & Rare Pt.1 ini terdiri dari 8 track yang aku belum dengarkan dengan seksama semua lagunya, cuma album kali ini terdengar lebih dewasa. Lagu pertama yang keluar (“Sparkling) terdengar lebih ringan, tapi lagu lainnya lebih adem di telinga.
Feri Alan The Batman (2021)
Sebenarnya saya ga terlalu mengikuti film-film DC (tidak seperti Marvel) namun berbeda dengan film yang satu ini. Film solo The Batman ini digarap oleh Matt Reeves dan di perankan oleh Robert Pattinson. The Batman sangat berbeda dengan film DC ataupun film Batman sebelumnya. Film ini lebih fokus menceritakan sisi Batman sebagai detektif. Lalu dari segi tone visual ini yang saya suka: warnanya tuh benar-benar gelap dan didukung oleh ceritanya yang begitu intens dari awal hingga akhir film. Film ini masuk ke daftar film DC dengan nuansa gelap setelah film Joker dan Batman the Dark Knight.
Turnstile – Glow On (2021)
Ga tau sih ini kenapa, memang teman banyak yang muterin album ini, sama di kantor sering muterin juga jadi terbawa suka aja. Bisa di bilang karbitan kali yah, yang di dengerinnya juga yang album Glow on aja.
Gunung Merbabu
Gunung berketinggian 3145 mdpl ini berada di 3 kabupaten jawa tengah, yaitu Magelang, Boyolali dan Semarang. Gunung ini menyuguhkan padang sabana yang sangat luas dan mempesona, serta terlihat pemandangan gunung Merapi dari kejauhan. Belum pernah sih ke gunung ini, tapi ini udah jadi list pendakian saya, mungkin tahun depan lah kalau ada rejekinya…
Setelah merilis Transition pada tahun 2017 lalu, Rafi Muhammad Drummer sekaligus produser asal Jakarta kembali dengan secara resmi merilis mini album bertajuk Laugher Master pada Jumat (18/11) lalu.
Mini album yang bernuansa jazz, afro, house hingga hip hop ini diproduseri oleh Rafi sendiri, ia merekamnya secara live bersama tiga musisi yang juga sahabatnya: Nikita Dompas (gitar), Kevin Suwandhi (synth bass, keyboard), dan Kuba Skowroński (saksofon). Mereka berempat merekamnya secara live di Syaelendra Studio, Jakarta Selatan, dalam waktu satu hari pada pertengahan Januari 2022. Rafi
Muhammad menggarap keempat materi tersebut bersama Doni Joesran, salah satu personel trio jazz/leftfield/electronica asal Jakarta, Batavia Collective. Dan proses mixing-nya dilakukan oleh Randy MP dan mastering digarap oleh Viki Vikranta dari Kelompok Penerbang Roket.
Melalui rilis pers, Rafi Muhammad menceritakan bahwa banyak perbedaan dalam aransemen, proses kreatif, dan rekaman antara Transition dengan Laughter Master. Ia mengatakan bahwa dalam EP terbarunya ini ia tidak ingin terlalu banyak berpikir dalam mengambil keputusan. “Kayak mau bikin musik, ya sudah bikin musik aja gitu. Apa yang gua suka. Kalau dulu mungkin gua kayak terlalu nyari rasa sakitnya di mana untuk ngebikin lagu. Atau mungkin dulu gua terlalu nyari suasana untuk bikin lagu gitu kali ya. Kalau sekarang inspirasi gua juga nggak harus dari kepahitan atau kebahagiaan gua. Jadi kalau sekarang di saat gua pengin bikin lagu, ya gua bikin yang maksimal saja,†ungkap Rafi.
Laughter Master sudah bisa didengarkan disemua platform media streaming musik digital
Pasca sempat merilis single nomor pertama yang mereka bocorkan yakni “Iced Coldâ€, yang dirilis via Disaster dan Oblivion Records, kuintet hardcore asal Bandung, Bleach pada Jumat (25/11) kembali merilis single pengantar bertajuk “OVERCAST†untuk album penuh terbarunya yang diproyeksikan akan dirilis pada awal tahun depan.
Berbeda dari single pendahuluan “OVERCAST†terlihat lebih memiliki banyak manuver dan kejutan, mulai dari tatanan suara part pada vokal dan instrumen tambahan lainya. “Untuk lagu overcast sendiri,ada beberapa part yg memakai instrumen tambahan perkusi.kalo dari segi musik,bleach sendiri ingin memberikan sedikit unsur grunge seperti the smashing pumpkin, alice in chain yg di gabungkan dengan musik ala band2 heavy hardcore†Tambah Kevin ( Gitar ).
“Overcast bercerita tentang seseorang yang sedang stuck dan terlalu takut untuk memulai hal-hal baru. dia hanya bersembunyi dibalik perasaan stagnan yang dia rasakan. berharap orang lain membantunya kabur dari zona stuck ini tapi akhirnya dia sadar tidak ada yg bisa membantunya†ungkap Mike sebagai penulis liriknya.
Selain itu, Bleach juga sudah menyiapkan video musiknya dalam bentuk video footage yang kemungkinan dirilis dalam waktu bersamaan dengan perilisan format audionya. Sampul untuk single ini dikerjakan oleh Yowdy Santiar dari Iron Voltage. Dengarkan “OVERCAST†di semua layanan musik digital.
Bagvs adalah nama panggilan Bagus Prayogo, DJ dan musisi elektronik asal Bandung, Indonesia. Seorang DJ yang lumayan sering muncul namanya di flyers party-party. Berbagai club dari Zodiac sampai Potato Head. Pernah residensi di Norrm Radio (Bandung, Indonesia) dan Noods Radio (Bristol, Inggris). Bagvs dengan cepat memantapkan dirinya ke poros budaya klub bawah tanah lokal. Mari berbincang dengan Bagvs mengenai me-remix lagu Senyawa, resep nasi goreng dan ekosistem kultur DJ-ing di Indonesia…
“DJ yang bagus versi gue itu yang milih lagunya enak aja sih, dan yang tau karakter dia itu gimana. Tapi gue suka DJ yang bisa mainin banyak genre tapi bisa nyambung.â€
Halo Bagvs! Bisa ceritakan sedikit tentang sedikit aktivitas lo sekarang?
Halo pembaca! Gue Bagvs, gue baru 3 minggu pindah ke Bali. Soalnya ada pekerjaan dari Potato Head, buat ngurusin Headstream, platform baru community radionya Potato Head. Sama jadi resident DJ di Potato Head juga sih. Kalau dulu mah sebenarnya cuma nge DJ di Zodiac Jakarta doang sih. Bukan resident DJ juga sih, cowok panggilan aja sih. Kalau dipanggil main, gak dipanggil gak main hahaha.. Naon deui.. Ga banyak tempat juga sih di Jakarta dan Bali tuh sebenarnya. Sekarang sih agak ngantor dari pagi sampai sore ke kantor ngurusin dan develop si Headstream aja sih, ngantornya di depan meja komputer dan meja DJ. Kalau pulang kantor ada slot DJ pulangnya langsung nge DJ. Sekarang baru itu aja sih masih nyari ritme juga sih di Bali..
Lo juga ada proyekan kuliner “Nasgero†yang lumayan hits kan di ibukota?
Jadi sebenarnya pas covid kemarin kita gak ada pemasukan karena ga ada event kan. 2019 si Gerry nawarin gue kerjaan di Potato Head untuk gantiin Indra basisnya Avhath yang keluar. Tapi ternyata covid dan shutdown 2 tahun. Lalu gue dan Gerry iseng bikin brand nasi goreng. Taunya lumayan rame jadi kita lanjutin aja. Tapi kita gak berhenti nge DJ. Sampai sekarang masih kita jalanin berdua cuma sekarang kita hire orang untuk jalanin operation nya di Jakarta.
DJ tiba-tiba bikin brand nasi goreng. Gimana ceritanya?
Sebenarnya itu nasi goreng yang sering dimakan di ruang keluarganya rumah Gerry sih. Trus biasalah ada ide-ide pas lagi bokek. Keidean aja untuk jualan nasi goreng. Pas lockdown daripada ngelamun yuk dagang aja, tiba-tiba Gerry nelpon yuk dagang nasi goreng aja. Outlet kita baru kita jalan 3 bulanan sih. Dulu sempat habis 150-250 porsi sehari pas lagi rame-ramenya. Cabang ada 3 di rumah Gerry (Cilandak), di Menteng dan di Adityawarman lagi mau bikin. Yang di Menteng kaya compound gitu, foodcourt masa kini lah ya hehe…
Agak unik ya Nasgero, pakai nasi basmati dan rempah-rempah infused kari ya?
Itu emang resep dari ibu Gerry. Keluarga Gerry itu dari Medan. Rata-rata masakan Sumatera itu kan ada ciri khas kari, infused China, India. Dari Aceh, sampai Bukit Tinggi rata-rata begitu. Dan memang pakai nasi basmati.
Lo pernah produce lagu sendiri ga?
Baru nyoba sih 2020 bikin 2 lagu. Ngetest aja sih. Kalau bikin lagu elektronik itu kayak gimana. Kompilasi Non-Archive pernah ikut yang labelnya si Agan. Terus ikutan remix lagu Senyawa untuk Disaster Records. Pernah rilis sendiri juga 2 lagu. Iseng aja bikin lagu dance music itu kayak gimana sih. Gitu aja sih awalnya penasaran hehe..
“Bukan resident DJ juga sih, cowok panggilan aja sih. Kalau dipanggil main, gak dipanggil gak main hahahaâ€
Kurasi musik setlist lo pas nge DJ sama untuk setiap event genrenya atau sikat-sikat aja?
Kadang-kadang gue sih suka kangen pas awal-awal gue nge DJ, kaya maen di manapun sikat-sikat aja. Sekarang lebih banyak pertimbangan lah, lebih ngeliat tempat, membaca crowd. Intinya jadi menyesuaikan dengan tempat, jam, dan konsep acara.
Gue penasaran sih kalau DJ bawa equipmentnya apa aja sih?
Kalau sekarang ya club standard CDJ udah ada, jadi yaudah gitu doang, bawa headphone dan playlist aja, kalau gue di USB. Aman sih bawa USB asal isinya jangan file-file corel dan excel ya, isinya harus lagu hahaha… Bodor teu bodor teu? Hahaha..
Menurut lo DJ yang bagus itu seperti apa? DJ yang bagus versi lo itu seperti apa?
Sebenarnya semua itu intertwined sih. Semua nyambung: secara teknis ngerti, ngemix jago, tau crowd, tau main dimana. Dan yang pasti para bookers juga harus tau sih DJ nya main apa. Jangan asal booking aja. Sering banget sekarang kadang banyak yang promotor party undang DJ tapi gatau DJ nya mainin apa. DJ yang bagus versi gue itu yang milih lagunya enak aja sih, dan yang tau karakter dia itu gimana. Tapi gue suka DJ yang bisa mainin banyak genre tapi bisa nyambung.
DJ-DJ lokal favorit lo siapa aja?
Joni. Gue suka DJ yang mainin berbagai genre. Dan kalau lo coming from hip hop background pasti kaya gitu. Digging terus dan disambung-sambungin macem-macem genre nyambung dia tuh.
Merdi Diskoria. Keren aja sih orangnya. Music wise diggingnya kesana-kemari, semua musik dia dengerin dan punya band juga dulu dia The Sweaters & Sugarstar. Merdi dan Aat gokil sih, terus sekarang mereka bikin Diskoria. Musik Indonesia yang nge-lead sekarang mereka itu orang yang tepat sih.
Dita. Dia resident DJ Potato Head, keren dia musiknya. Ada Kindergarchy. Agak obscure sih. Orang Indo tinggal di Singapura. Dia nge DJ pake plat, diggingnya serius. Rebbit juga keren sih walaupun gue belum pernah liat dia full-set. Mulai bermunculan talent-talent DJ cewek yang jarang diekspos di industri ini.
Bayu. Anak Bandung yang tinggal di Melbourne. Aktif juga di club scene Australia. Dia tuh bodo amat aja, sikat-sikat masang musik apa aja yang dia suka. Masih gengnya Merdi dan Joni juga. Set dia bagus tuh yang di Boiler Room Bali, ada di Youtube.
“Dulu pernah bikin party di Bandung, orang-orang udah pada dateng tapi listrik belum nyala, genset belum datang hahaha.â€
Ekosistem kultur DJ-ing / dance music menurut lo sudah terbentuk belum?
Kalau menurut gue, ekosistem ekonomi kultur DJ-ing di Indonesia itu belum terbentuk. Kalau lo mau ambil kerjaan sebagai full-time DJ yang paling relevan di Indonesia ya cuma di Bali menurut gue. Kota lain belum se-masif itu ekosistem, kultur dan industrinya. Disini itu masalahnya kekurangan club aja sih. Mungkin kalau Coliseum ada ruangan buat kita-kita bakal seru sih hahaha. Independen aja sih artistnya dibiarkan terserah mau ngapain, gak terlalu ngasih makan crowd sih. Baru Zodiac aja sih yang menurut gue seperti itu.
Ada cerita seru selama nge DJ?
Kebetulan belum ada sih yang unik dan seru, masih aman-aman aja sih haha. Paling kalau misalnya lagi nge DJ gue “too much†sampai gak bisa nge DJ lagi ga lucu kan? Hahaha.. Standar banget. Apa ya, dulu pernah bikin parti ama Ofri di Bandung, orang-orang udah pada dateng tapi listrik belum nyala, genset belum datang hahaha. Jadi deg-degan. Genset datang jam 10, jadi party cuma dari jam 10 sampai jam 1.
Serunya bikin-bikin party underground tuh apa ya, ya kita beda server aja sih sama klub-klub yang pakai nama DJ anu, female DJ. Yang gue liat anak-anak yang nge DJ di lingkungan gue tuh anak-anak yang main band juga, tongkrongan nya tuh pada bikin brand juga, ada ngapain juga. Kita ga nulis-nulis gender juga sih di flyers party.
Pertanyaan terakhir: Best afterhours joints sehabis pulang party? Hahaha… 1. Bakmi Alpino (Seberang Bakmi Tasik tapi lupa namanya LOL, Bandung) — Lebih enak dari Bakmi Tasik IMO hehe 2. Lontong Kari Dago (Depan Toko Sepeda & PHD, Bandung) — Enak banget deh pokoknya. Santen diatas jam 2 pagi haha 3. Dragon Flames (Jakarta) — Dim Sum nya oke lah ya, sama karena buka 24 jam 4. Nasi Jinggo Bu Sret Sret (Bali) — Best nasi jinggo favorit ane 5. Indomie Cikajang (Jakarta) — Hihihi.. Deket dari Zodiac ajaa sihh
Words & interview by Aldy Kusumah Photos taken from Bagvs’ archives
Setelah merilis Menghibur Domba di Atas Puing pada 2020 lalu. Akhirnya Dongker kembali dengan merilis materi baru yang jauh berbeda secara artistik dan kualitas dari materi-materi mereka yang sudah ada. Di materi terbarunya kini Dongker tidak lagi mempertahankan ciri khas mereka yaitu memainkan lagu berdurasi singkat. Single terbaru Dongker berjudul “Bertaruh Pada Api†berdurasi 4 setengah menit, sekaligus menjadi lagu terpanjang versi mereka. Pada single ini Dongker mencoba proses kreasi yang lebih terbuka dan inklusif. Proses tersebut Dongker ramu dengan mengajak banyak teman terdekat mereka untuk berkontribusi serta memberi kesan yang lebih ramah namun tetap dengan ciri kalimat ofensif di tiap baitnya.
Untuk pengerjaan mixing, Dongker mempercayakannya kepada Pandu Fuzztoni (Morfem, The Adams) dan pada proses mixing dan Bill Handerson dari Azimuth Studio (Title Fights Kingston era & Tigers Jaw Two World) pada proses mastering. Untuk cover single ini dikerjakan oleh Sidney Islam. Selanjutnya Dongker akan berkala merilis single dan menargetkan album penuh pada paruh ke-2 2023. Single “Bertaruh Pada Api†sudah dapat didengarkan di semua platform musik.
Tanpa banyak basa-basi, ini adalah beberapa anime rekomendasi JEURNALS. Beberapa ada yang mungkin sedikit obscure, dan mungkin beberapa adalah icon-icon yang sudah pernah kamu tonton. Kita harap kalian bisa menemukan sesuatu yang baru yang mungkin kalian lewatkan di list ini. Ini adalah beberapa anime favorit JEURNALS. Here we go…
1. Castle of Cagliostro (Hayao Miyazaki, 1979)
Jika membicarakan Studio Ghibli, tentunya ‘Spirited Away’, ‘Princess Mononoke’, dan ‘My Neighbour Totoro’ akan menjadi highlight, walaupun sudah terlalu umum. Dan siapa yang menyangka kalau Sensei Hayao Miyazaki pernah mendirect sebuah anime Lupin yang berjudul Castle of Cagliostro ini? Beberapa set pieces action di anime ini bahkan menginspirasi Steven Spielberg untuk membuat trilogi Indiana Jones. Salah satu film Lupin terbaik, dan tentunya sebuah hidden gem dari katalog Ghibli yang cukup variatif.
2. Perfect Blue (Satoshi Kon, 1997)
Menonton Perfect Blue lebih menyerupai menonton sebuah thriller misteri Alfred Hitchcock ketimbang sebuah tontonan anime Jepang. Tema-tema seperti identitas, seks, kekerasan dan obsesi menjadi tema sentral disini. Sebuah mystery thriller dimana yang juga memiliki elemen-elemen horror, dimana sang protagonis menghadapi stalker yang mengerikan. Dianggap orang sebagai karya essential dari Satoshi Kun, Perfect Blue adalah sebuah masterpiece bagi kami. Selain Perfect Blue, karya-karya Satoshi Kun yang lain seperti ‘Tokyo Godfathers’ dan ‘Paprika’ juga wajib kalian simak.
3. Ghost in the Shell (Mamoru Oshii, 1995)
Apakah ada karya cyberpunk yang lebih relevan dari Ghost in the Shell? Ya, mungkin Akira dengan dystopia apokaliptiknya cukup merepresentasikan beberapa elemen cyberpunk, tapi Ghost in the Shell adalah sebuah blueprint buat anime-anime cyberpunk di masa mendatang. Mengangkat tema yang kurang lebih sama seperti Blade Runner, Ghost in the Shell juga memiliki aesthetic visual yang keren. Menariknya, Mamoru Oshii men-direct film ini layaknya sebuah spy-thriller ketimbang action cyberpunk ala Armitage 3 atau Battle Angel Alita. Yang satu ini memang membutuhkan kamu untuk sedikit berfikir dan fokus untuk mencernanya.
4. Akira (Katsuhiro Otomo, 1988)
Walaupun memiliki sedikit perbedaan di beberapa scene, anime ini cukup merepresentasikan apa yang ingin disampaikan oleh manga-nya. Ya, Katsuhiro Otomo mengadaptasi Akira dari manga yang ditulisnya sendiri. Visual yang cukup spektakuler, scoring musik yang bombast dan plot yang tidak mudah ditebak menjadi kekuatan Akira untuk menjadi icon anime. Tentunya T-shirt vintage Akira yang berharga 7 jutaan di thrift shop tidak akan banyak diburu jika anime nya jelek. Jika kamu pernah mendengar Akira tapi belum menonton nya, you’re in for a treat.
5. Metropolis (Rintaro, 2001)
Metropolis disutradarai oleh Rintaro (Shigeyuki Hayashi), salah satu co-founder Madhouse Studios, dan juga ditulis oleh Katsuhiro Otomo (Akira). Rintaro mengadaptasi karya tahun 1949 dari mangaka legendaris Osamu Tezuka (Astro Boy, Buddha). Dengan kecintaannya terhadap film noir Perancis dan sci-fi, Rintaro adalah orang yang tepat untuk mengadaptasi cerita dystopia ini. Cerita yang terinspirasi oleh film German expressionism berjudul sama karya Fritz Lang tahun 1927 ini bercerita mengenai ketergantungan manusia terhadap teknologi. Dengan world-building yang sangat mendetail dan visual yang bernuansa cyberpunk, Metropolis adalah sebuah anime yang secara naratif sedikit subversif dan wajib untuk ditonton.
6. Wicked City (Yoshiaki Kawajiri 1987)
Jika kalian menyukai sex and violence, ini adalah anime yang tepat untuk kamu. Yoshiaki Kawajiri dikenal oleh anime-anime dan OVA’s nya yang sadis dan memiliki sedikit unsur pornografi. Sebut saja Ninja Scroll (1993), Demon CIty Shinjuku (1988), Vampire Hunter D: Bloodlust (2000), dan favorit kami, Cyber CIty Oedo 808 (1990). Disini kamu akan menemukan banyak tentakel, adegan nudity dan gore yang bertebaran. Bahkan (mungkin) salah satu scene pada awal film ini akan membuat beberapa orang phobia untuk berhubungan intim. Ha. Untungnya plot di film ini cukup menarik, karena tanpa plot dan narasi yang jelas, menurut kami Wicked City bisa saja menjadi hentai. Mengerikan dan erotik pada saat yang sama.
7. Your Name (Makoto Shinkai, 2016)
Estetika kota kontemporer dan mood “galau†di setiap karya Makoto SHinkai adalah sebuah ciri khas. Jika Miyazaki banyak bermain dengan setting fantasy, Makoto Shinkai sering menempatkan para protagonisnya (yang kebanyakan hopeless romantics) di setting kontemporer seperti kota Tokyo. Begitu indahnya kereta yang melintas diguyur hujan (animasi yang sangat renyah dan high-def!), scene protagonis melahap makanan dan dialog-dialog yang tentunya lebih relevan ketimbang anime fantasy pada umumnya. Departemen musik dikerjakan oleh Radwimps yang selalu menjadi kolaborator Makoto Shinkai. Editing jump-cuts yang cepat khas Makoto Shinkai juga membuat kami jatuh cinta pada karya-karyanya yang lain, terutama ‘5cm per Seconds (2007)’, ‘The Garden of Words (2013)’, ‘dan Weathering With You (2019)’.
8. UrotsukidÅji: Legend of the Overfiend (Hideki Takayama, 1989)
Seri UrotsukidÅji dibuat oleh Toshio Maeda dari tahun 1986. Toshio Maeda pun pernah berkolaborasi dengan brand street wear ikonik Supreme pada tahun 2015 untuk koleksi fall/winter mereka (yang juga menggunakan beberapa artwork UrotsukidÅji). Lahir pada tahun 1953, Maeda menjadi terkenal dan menjadi produktif selama tahun 80-an hingga 90-an. Terutama pada tahun 1989, ia menciptakan karyanya yang terkenal, UrotsukidÅji: Legend of the Overfiend, yang menjadikannya sebagai pelopor genre yang sekarang dikenal sebagai “Hentai”. ‘Legend of the Overfiend’ juga dianggap oleh banyak orang sebagai salah satu film anime Horror yang paling kejam. This one will blow your mind.
9. Wolf Children (Mamoru Hosoda, 2012)
Pertama kali kami ‘terpapar’ oleh karya anime kontemporer jenius, Mamoru Hosoda, adalah pada saat melihat ‘Wolf Children’ untuk pertama kalinya (tentunya via Torrent pada masa itu). Wolf Children adalah kisah tentang Hana, seorang wanita muda yang, jatuh cinta dengan manusia serigala, lalu hamil dengan keturunan lycanthropic-nya. Menampilkan kepekaan tematik rutin Hosoda, Wolf Children menggambarkan – dengan sungguh-sungguh – cobaan dan kesengsaraan memulai sebuah keluarga, kesengsaraan membesarkan balita supernatural dan masalah sosial mendesak yang muncul dari menjadi orang tua tunggal; dan tetap memperhatikan seluk-beluk emosi manusia secara bersamaan.
10. Megazone 23 (Noboru Ishiguro, 1985)
Meskipun The Matrix baru-baru ini mempopulerkan konsep realitas virtual menjadi konsep mainstream, konsep manusia yang hidup di dunia ilusi yang diciptakan ternyata telah ada dari tahun 1985. Dengan diperkenalkannya Megazone 23, sebuah judul terkenal yang bisa dibilang meluncurkan format OVA dan melahirkan dua sekuel. Hampir dua puluh tahun kemudian, animasi tersebut menjadi sangat ketinggalan zaman, tetapi Megazone 23 berisi semua cerita inti yang membuat film Keanu Reeves begitu sukses. MUngkin sebagian dari kalian sudah pernah melihat cuplikan scene-scene Megazone 23 di playlist Youtube City Pop atau video lirik band tertentu. Memang aesthetic di Megazone 23 sangat menarik, apalagi action set piecesnya yang cukup epik. Ini adalah salah satu hidden gems yang menurut kami masuk kedalam kategori wajib tonton. Happy hunting!
Honorable mentions:
1. Bubblegum Crisis (1987)
2. Patlabor: The Movie (1989)
3. Royal Space Force: The Wings of Honneamise (1987)
4. Jin-Roh: The Wolf Brigade (1999)
5. Angel’s Egg (1985)
6. Armitage 3 (1995)
7. Cowboy Bebop (1998)
8. Kite (1988)
9. Records of Lodoss War (1990)
10. Neon Genesis Evangelion (1995)
Baskara Rizqullah A.K.A. Basboi mungkin adalah anomali dalam kultur hip hop Indonesia: dia tidak berpakaian seperti rapper kebanyakan, dia lebih memilih untuk hang out bersama pemain band, dan dia terpapar oleh banyak referensi yang berada diluar kultur hip hop itu sendiri. Rapper & lyricist ini merantau dari Medan dan kuliah di UNPAD Jatinangor, dan kedua skena Medan dan Jatinangor ini pun mulai membuka wawasan bermusiknya. Mari berbincang dengan Basboi mengenai Tyler the Creator, album-album hardcore favoritnya dan culture flexing di social media.
“Selalu ada tempat spesial di hati gue untuk brand keren, punya identitas tapi price point sesuai harga kantong street. Ya streetwear. Relevan, hadir di masyarakat. Bukan jadi brand elitist yang cuma mampu dibeli oleh kalangan ekonomi tertentu dan jadinya gak relevan dan gak sustain.“
Album “Adulting for dummiesâ€, yang dirilis tahun 2021 lalu banyak mendapat respon positif. Kalau lo menempatkan diri lo sebagai kritikus musik, review dan kritik apa aja yang akan lo katakan untuk “Adulting for Dummiesâ€?
Wow.. Pertanyaannya bagus banget hahahahahaha. Kalau gue jadi kritikus musik yaa.. Sulit banget hahahahah! Kalau gue jadi kritikus musik yang ngereview “Adulting For Dummies†i would say: “antar track secara musik, dijahit dengan narasi, tapi tidak secara “soundâ€. Kalau saja secara sound bisa lebih runut seperti narasinya, akan buat album ini lebih kohesif lagi. Itu aja kali yaa.. Bingung hahahaha…
Apakah lo sudah puas dengan album itu secara musikal?
Cukup puas. Gue bisa mainin dan explore semua jenis sound yang gue suka dari ragam referensi yang gue suka. Yang mana kebanyakan malah bukan hip-hop. Dan gue mainin itu sesuka hati gue. Dengan hasil akhir yang bisa dengan pede gue bilang tercipta kesan soundnya “Basboi†banget.
Kita sempat melihat lo berfoto bareng sama Tyler di Paris. Seberapa besar pengaruh Tyler di musik dan diri lo dan apa pendapat lo tentang Tyler?
Besar banget ya bisa gue bilang. Secara musik dalam artian “sonic†sih enggak banyak. Gue suka dia bukan dari aspek musiknya sih yang paling besar. Yang paling besar itu mindset dan visual sih. Mindset dalam artian Tyler itu adalah figur musik/seni pertama yang gue liat ga bisa dikategorikan. Maverik dan unorthodox. Dia rap, Hip hop tapi doesn’t look like one & doesn’t really sounded like one. Yang bikin gue kecantol banget awalnya sama dia adalah pas gue nonton video live nya Trash Talk. Judulnya Trash Talk 119. Ada dia dong, dan itu bikin gue kaya “anjing gue mah bebas mau dengerin apa aja, mau form self expression gue kaya gimanaâ€. Biar kata hal-hal yang gue sukai ga ada korelasinya, gak nyambung, ato kontradiktif justru itu yang bikin gue otentik. Sama kaya dia jadi otentik. Gue ga harus ngikutin format populer dari suatu bidang, misal hiphop harus begitu looks dan referensinya.
Mungkin gue outputnya hip hop, tapi gue sendiri ga se hip hop itu. Growing up gue malah dengerin musik punk/hardcore dan kultur skateboarding. Pop easy listening kaya Dewa, Radja, Tipe-X juga gue suka sampai Jason Mraz. Disaat gue tidak mengikuti format populer dari suatu bentuk, gue malah bisa jadi otentik. Udah ga penting musik gue hip hop, rap, metal, ya musik gue musik Basboi aja. Dan gue dapet mindset itu dari Tyler. Tyler juga inspires gue untuk gak ngebatasin diri gue dalam 1 format. Gue bisa bikin apapun yang gue mau dengan karakter kuat yang gue punya. Baju kah, presenting kah, ngelawak kah, apapun itu. No wonder he named himself the creator. Not the rapper, the musician.
“Gue sebisa mungkin mengusahakan diri gue terpapar sama banyak referensi yang luas dan bagus-bagus ajaâ€
Fashion lo cukup standout diantara rapper lain. Siapa saja fashion role model lo? Dan mungkin bisa sebutkan top 5 brand lokal favorit lo?
Udah pasti Tyler itu salah satu fashion role model gue. Tapi sebenarnya gue lebih ke certain look, karena sebenarnya ga ada satu orang yang gue patok semua looksnya gue jadikan acuan. Terkadang orang yang kita gatau siapa nongol di explore IG oh nice nih looks nya juga bisa. Gue sebisa mungkin mengusahakan diri gue terpapar sama banyak referensi yang luas dan bagus-bagus aja tanpa mematok si A, si B si C untuk jadi patokan gue.
Kalau untuk brand-brand lokal favorit gue saat ini Pot Meets Pop, gue suka sama spirit dan attitude nya. Sekarang gue lebih suka lagi karena mereka lebih ke general fashion items dan gak terlalu denim-deniman, soalnya gue juga gak segitunya pakai denim, pegel pak. Elhaus gue suka banget cara mereka maneuver dari awalnya denim jadi yang seperti sekarang. Secara branding gue sangat appreciate mereka bisa sustain market mereka dan bisa nembus pasar luar. Price mereka pun wajar sesuai dengan value produknya. Lo dapet apa yang lo bayar, bukan overpriced bullshit. Based Club dong pastinya, gue udah beli dari dulu sebelum di support. Dari jaman gue kuliah jaman di Jatos. 2014-2015 belum banyak brand lokal yang estetika nya soft, kebanyakan yang hitam-hitam galak gitu kan. Selalu ada tempat spesial di hati gue untuk brand keren, punya identitas tapi price point sesuai harga kantong street. Ya streetwear. Relevan, hadir di masyarakat. Bukan jadi brand elitist yang cuma mampu dibeli oleh kalangan ekonomi tertentu dan jadinya gak relevan dan gak sustain. Jadi geek club yang gak relevan dan gak hadir di masyarakat. Gue suka banget Play With Pattero. Jarang ada yang sentuh area itu, sekarang udah banyak pakaian rajut cowok kue, tapi mereka salah satu yang thriving banget dari awal. Keliatan mereka bukan riding the trend knitwear. Banyak brand yang riding the wave knitwear untuk quick cash, dan bukan untuk sustainability dan longevity. Anjayy ngomong apa sih gue.. Terakhir Voted Socks. Bagus banget bahannya dan enak banget dipakai. Bukan soal tagline, atau branding personality nya. Cuma ini sih no bullshit buat gue, udah aja bagus produknya top banget. Fungsional.
Tadi lo bilang growing up banyak dengerin musik punk dan hardcore. Gateway lo ke musik hc/punk awalnya dari mana? Sekarang lagi suka album apa aja yang masih di ranah hc/punk?
Medan in general music scene sampai sekarang ga gede. Dulu ada dominasi hc/punk. Madafaka Records cukup mendominasi di Medan, talent nya banyak ada Martyr, No One Cares. Sampai tur asia tenggara mereka tuh. Gue juga bikin band namanya Mind War. Belum band punk nya. Sebagai orang yang suka musik, dulu sangat mudah untuk terseret ke arus itu. Kalau untuk sekarang yang gue suka si Turnstile “Glow On†udah pasti. Terus ada OVLOV yang “Buds†entah punk atau engga itu, bingung juga gue genre sekarang. Itu dua jadi heavy rotation kalau spesifik hc/punk. Yang dulu-dulu masih gue denger sampai sekarang itu “Nothing to Prove†H20 dan “Songs to Scream at the Sun†nya Have Heart. Masih sering gue puter tuh sampai sekarang.
“Adulthood di mata gue soal kompromi sih. Seberapa jauh lo mau kompromi untuk apa yang mau lo kejar. Karena orang dewasa harus tanggung jawab dan gak akan bisa kalau ga punya disiplin, komitmen dan etos kerja.â€
“Adulting For Dummies†adalah judul yang menarik untuk sebuah album. How’s life and adulthood di mata Basboi?
Thank you man. Life’s been very good. Gue manggung sana-sini, tawaran lagi oke. It’s been very good lah, relationship aman, hubungan sama orang tua, teman dan orang-orang yang gue sayangin aman. Sama rekan-rekan bisnis juga aman. Adulthood di mata gue soal kompromi sih. Seberapa jauh lo mau kompromi untuk apa yang mau lo kejar. Gue dulu pengan ada di posisi gue sekarang tapi bangun siang melulu. Effortnya cuma lempar-lempar lagu terus berharap suatu hari pecah. Gak punya etos kerja dan disiplin. Ngorbanin waktu main untuk kerja adalah kompromi yang harus gue lakuin. Ternyata dengan melakukan itu hidup gue jauh lebih nikmat walaupun terasa berat di awalnya. Kompromi, konsisten dan komitmen, jawabannya lumayan normatif dan klise, cuma untuk adulthood jawabanya ya buat gue cuma kompromi. Kalau self-discovery itu kan pre-adulthood kan ya. Karena orang dewasa harus tanggung jawab dan gak akan bisa kalau ga punya disiplin, komitmen dan etos kerja. Begitu bree…
Lo juga sempat berkolaborasi dengan Noni di lagu “WRITTENINTHESTARSâ€. Gimana background collab itu terjadi dan tentang apa sih tema lirik lagu-nya?
Collabnya beneran Noni ngontak gue dan nanyain mau ga? KAta gue kirimin aja. Gue ngerasa cocok banget sama musiknya. Noni kirim jam 4 sore jam 6 udah beres gue tulis verse gue. Kalau dari Noni sih ini lagu tentang seorang cowok yang mungkin crush-nya dia. Kenapa harus malu-malu, secara zodiak kita sudah cocok. Kalau verse gue karena gue ga terlalu percaya zodiak, gue seperti ga penting juga soal zodiak, karena kita yang menentukan what is written in the stars. Kalau memang kita saling effort, dan itu bakal terjadi terlepas dari apapun yang tertulis di langit, kita yang nentuin nasib kita. Seperti di lirik “Nasib kita di tangan kita behind the wheelâ€. Kalau menurut zodiak lo bakal jadi orang sukses tapi kerja lo leha-leha, lo bakal jadi ampas selamanya..
Bagaimana pendapat lo tentang flexing culture di social media?
Sah-sah aja ya, seru-seru aja asalkan lo juga pantas buat flexing. Sorry to say, kalau lo masih di tahap token listrik bunyi atau isi bensin cuma sanggup 100rb ga sanggup full tank, tapi lo flexing pake sepatu 6 juta lo tolol sih. Kalau mau flexing yang sabi lah kaya gue foto sama Tyler hahaha!
Gue suka orang flexing yang punya basis achievement. Mostly gue suka flexing yang berbentuk prestasi ya, bukan materi. Tapi ada juga terkadang pencapaian materi lo itu pencapaian prestasi seperti “ini mobil pertama gueâ€. Tapi kalau yang kaya pemaksaan, hidupnya sulit tapi pakai Carhartt atas-bawah, padahal makan aja sulit. Itu ga masuk ke flexing sih lebih ke tolol aja..
Scene musik Jatinangor pada saat lo dulu tinggal di sana seperti apa?
Waktu gue tinggal di sana dulu band punk banyak, dan band kampus yang variatif banyak. Ada Breh and the Bangsat, Alzheimer Grind, Oscar Lolang dengan folk yang bukan format populer. Ada band-band punk kampus yang absurd banget, ada The Panturas, si Gogon basisnya The Panturas juga punya band orkes komedi, tapi rap kayaknya cuma gue doang di Jatinangor, dan emang belum populer juga. Terlepas dari apapun, yang paling gue suka dari scene Jatinangor itu adalah mereka tetap support gue walaupun mereka gak ngerti musik gue. Jadi itu juga ngasah skill gue kaya bermusik ya bermusik aja. Secara natural gue juga nongkrongnya sama anak band. Dan gue juga lebih senang terasosiasi sama anak band dan musisi. Bukan cuma sekedar showmanship “ah ah, yeah yeahâ€. Dan gue jadi lebih bisa menghargai inklusivitas.
Top 5 Kuliner Medan favorit lo?
– Bihun Kari RM Tabona
– Mie Bangladesh Warkop AGEM Senyum Ketawa
– Kwetiau Akuang
– Dimsum Nelayan
– Srikaya Medan
Seberapa sulit menulis lirik Indonesia menurut lo?
Awalnya gue pikir sulit ternyata gak sulit sama sekali. Orang pikir susah karena gampang cringe. Ya emang lo nya aja nyembah bule. Lirik bule aja banyak banget yang cringe dan ketahuan gak sekolah. Karena kita udah kepatok standar bule jadinya gampang jijik sama lirik Indonesia. “Ihh alay, ihh katroâ€. Ga norak nyet, itu emang kita aja kaya gitu. AKan lebih mudah nulis lirik Indonesia kalau menurut gue dengan manner seperti lo biasa ngomong. Lirik gue ga pakai bahasa baku dan sastrais. Tapi gue lebih ke diksi-diksi dan pelafalan seperti gue ngomong Medan sehari-hari. Ya gue akhirnya menulis lagu dengan manner sehari-hari gue berbicara. Liat aja Slank ngomong sehari-hari gitu lirik nya gitu juga. Karena menurut gue itu bahasa ibu dan sudah pasti lebih mudah untuk kembali ke dasar dibanding menjadi yang lain, kalau menurut gue.
Track terakhir di album lo judulnya “Bismillahâ€. How religious have you gotten throughout the years while making music?
Not much ya bisa gue bilang hahaha. Religiously speaking, i’m just the same man as before. With all the flaws and law-breaking juga. Bismillah itu lebih ke berharap dan berdoa untuk apapun yang gue lakukan. Seperti orang kaya gue juga pantas untuk berdoa, memohon kelancaran dan meminta belas kasih Tuhan. Dan berbangga akan hubungan lo sama Tuhan itu gak harus setelah lo religius, jidat hitam dan celana ngatung. Atau dalam format terkesan religius dalam konteks budaya bebas lain. Sekotor-kotornya lo tuh berhak punya hubungan spesial dengan Tuhan lo. Gak harus jadi suci dulu. Mungkin secara religius not much, tapi secara spiritual gue lebih in tune aja with myself and with my creator. Juga dengan sesama. Habluminallah habluminannas. Yo’i.
Words & interview by Aldy Kusumah Photos from Basboi’s IG & Archives
Sunbath merilis video clip Paralyzed yang kental dengan nuansa tahun 90an. Paralyzed merupakan single teranyar dari unit alternative rock asal Bandung ini. Nuansa 90’s di video clip selaras dengan musik mereka yang terinspirasi oleh band-band rock alternative seperi The Smashing Pumpkins, Hole, L7, Throwing Muses, Belly, Lush dan lainnya.
Setelah merilis EP “Starnge Day” pada tahun 2021 lalu, Paralyzed merupakan rilisan pertama Sunbath dengan formasi En (vocal), Firman (gitar), Zulfi (gitar), Rizal (basa), Eko (keyboard,synth,sequencer) dan Ivan (drum). Lirik yang bercerita tentang pandangan akan suatu hal yang tidak sesuai dengan keinginan, sehingga membuat kecewa dan merubah sudut pandang agar tetap kuat ini merupakan kali pertamanya En menulis lirik lagu bersama Ivan.
Video clip Paralyzed dari Sunbath sudah tayang di kanal youtube Maternal Disaster.
Demajors Records merilis album perdana dari penyanyi/pencipta lagu asal kota Medan Turbokidz bertajuk Oranye. Mulai tanggal 18 November 2022 lalu, Oranye sudah bisa dinikmati lewat berbagai platform streaming digital dan akan dirilis dalam waktu dekat dalam format compact disc.
Turbokidz merupakan moniker dari Ican Pane, gitaris band Pijar yang telah memulai karir solonya sebagai Turbokidz sejak Oktober 2020 lalu. Album mini perdana dengan tajuk Http 404 sempat mencuri pertahtian terutama single “petrikor”.
Album yang telah digarap dari Agustus 2021 ini merangkum perjalanan seorang Ican Pane selama masa pandemi, mulai dari fase sendu sampai akhirnya menjadi acuh. Oranye juga menampilkan beberapa kolaborasi Ican dengan beberapa musisi, seperti Sekaranggi, Eff Hakim dari Malaysia dan Fadhilah Hasyyati biduanita grup Coltrains.
Turbokidz menjadikan lagu Ang$a sebagai single pertama dari album Oranye. Lagu yang berkisah mengenai seseorang yang bermulut besar, menganggap dirinya selalu dan memikirkan uang ini dirilis dalam bentuk music video berbarengan dengan rilisnya album Oranye.
Album Oranye dari Turbokidz sudah bisa didengarkan di seluruh platform musik digital di antaranya Spotify, Apple Music, Joox, Resso, YouTube Music dan Deezer.