Tanpa banyak basa-basi, ini adalah beberapa film horror/thriller rekomendasi kami. Lupakanlah film-film horror klasik, kali ini kita akan highlight beberapa rekomendasi film yang masih hangat dan melekat di memori. Semoga kalian bisa menemukan sesuatu yang mungkin terlewatkan. Here it goes…

1. Barbarian (Zach Cregger, 2022)
Jangan percaya orang-orang yang memberi review negatif pada film ini. Dengan casting yang sempurna, film ini menghadirkan Bill Skarsgård, seorang icon creepy guy film horror kontemporer (IT) dan Justin Long, sebagai ultimate toxic white guy. Tontonlah film ini tanpa menonton trailer dan nikmati perjalanannya. Tepat ketika kamu berpikir akan tahu apa yang terjadi, sebuah twist akan segera mematahkan ekspektasi kamu. Sebuah midnight movie yang luar biasa keren dan menegangkan. Zach Cregger benar-benar tahu caranya untuk mendirect sebuah horror yang efisien dan fun.

2. Hunter Hunter (Shawn Linden, 2020)
Awalnya hanya mengira ini adalah film survivalist thriller biasa. Dan salah, sangat salah. Shawn Linden begitu cerdik memanfaatkan suspense walaupun hanya ada 3 karakter sentral saja di film ini. Bersetting di hutan-hutan Manitoba, Shawn memanfaatkan setting alam yang luas sebagai salah satu “esensi” film ini. Bercerita tentang satu keluarga fur trapper yang menjual bulu binatang untuk hidup. Mereka bertiga (bapak, ibu dan anak perempuan) tinggal di sebuah kabin terpencil. And guess what? Bahaya pun menghampiri mereka. Alhasil ending film ini pun bertahan di memori selama 2 tahun.

3. Speak No Evil (Christian Tafdrup, 2022)
Sebuah film psychological horror/thriller dari Skandinavia tentunya akan selalu menarik. Jika kamu menyukai film Belanda tahun 1988 yang berjudul The Vanishing / Spoorloos, kemungkinan besar kamu akan mencintai yang satu ini. Speak No Evil tidak mengandalkan jumpscare dan lebih mengandalkan intensitas build up yang tidak terburu-buru, yang akan membuat kamu “greget” di sepanjang film. Sebuah liburan keluarga ke Tuscany, Italia berubah menjadi mimpi buruk bagi turis-turis tersebut ketika mereka bertemu keluarga lain yang “mencurigakan” dan creepy. Ini adalah salah satu film yang akan “menempel” dan tidak mudah dilupakan begitu saja. Menulis reviewnya pun membuat merinding.

4. Pearl (Ti West, 2022)
Ti West dan Mia Goth adalah a match made in heaven (or hell). Setelah sebelumnya Ti West dan Mia Goth berkolaborasi untuk film “X”, kali ini mereka kembali bekerja sama untuk Pearl, yang ternyata adalah prekuel dari X. Jika X adalah backwoods slasher generik (dengan elemen pornografi ‘70an) seperti seri Texas Chainsaw Massacre, Pearl lebih ke horror studi karakter. Setelah menonton film ini dan melihat performa Mia Goth, sudah jelas bahwa dia terlahir untuk memerankan karakter Pearl ini. Ti West memang kreatif dalam membuat scene gore, dan karena dia juga seorang veteran horror-geek, tentunya dia selalu meracik elemen-elemen terbaik dari film-film favoritnya menjadi sesuatu yang benar-benar fresh di setiap output filmnya. Kami pun setia untuk menunggu kolaborasi berikutnya dari Ti West X Mia Goth yang berjudul “Maxxxine”.

5. The Black Phone (Scott Derrickson, 2021)
The Black Phone diadaptasi dari cerpen Joe Hill, yang merupakan anak dari penulis Stephen King, lord dari semua film horror. Entah kenapa, mood film ini terasa seperti menonton Stand By Me (1986). Mungkin setting ‘80an nya dan unsur coming-of-age para karakter anak kecil/remajanya, yang dibalut oleh misteri pembunuhan berantai di kota tersebut. Baru kali ini melihat Ethan Hawke memerankan sosok seorang serial killer, and oh boy, dia memerankan peran ini dengan tingkat creepiness maksimal. Unsur supernatural dan realisme pembunuhan di kota kecil pun diracik dengan sangat baik oleh sutradara Scott Derrickson (Dr. Strange). Fun fact: Scott menolak tawaran untuk membuat sekuel Dr. Strange karena ingin membuat film ini. Jika kamu tidak terlalu menyukai film horror/thriller, mungkin film ini adalah satu-satunya film di list ini yang harus kamu tonton.

 

Words by Aldy Kusumah

 

Aksi eksperimental asal Bandung, KUNTARI dijadwalkan tampil di festival musik Taiwan, LUCFest 2022. Digelar di Kota Tainan, sebuah kota lama di selatan Taiwan yang lekat dengan unsur vintage dan ruang-ruang kebudayaannya, proyek musikal dari musisi kawakan Tesla Manaf ini dijadwalkan tampil pada Minggu, 6 November 2022.

Untuk penampilannya di LUCFest nanti, Tesla menyebut akan tampil dalam format EP, Larynx. Pada EP yang dirilis Juni 2022 lalu lewat label Yes No Wave Music ini, Tesla tidak sendiri. Ia ditemani oleh
drummer dan percussionist, Rio Abror.

Meski diundang untuk tampil di LUCFest 2022, KUNTARI juga menyiapkan beberapa show tambahan. KUNTARI akan tampil di Taipei, ibu kota Taiwan yang letaknya di sebelah utara pulau ini. Penampilan di Taipei, dihelat di Revolver, salah satu venue legendaris untuk kancah musik bawah tanah Taiwan. Event ini digarap oleh Indonesia-Taiwan Pop Bureau bekerja sama dengan kolektif punk Taipei, Suck Glue Boys. Di panggung Revolver yang digelar pada 2 November 2022 ini, KUNTARI akan manggung bersama Goose, unit Chinese Rock dari Singapura, juga kolektif eksperimental Taipei, Psyberlama. Selain Taipei, KUNTARI juga dijadwalkan tampil di Kota Hsinchu pada 3 November 2022. Digelar di ruang kreatif Jiang Shan Yi Gai Shuo, KUNTARI akan berbagi panggung dengan saxophonist asal Polandia, Patryk Lichota, noise-artist asal Taipei, LICA, dan kolaborasi experimental dari Taichung, DJ REX feat. Xiao Liu. Acara ini digagas oleh Indonesia-Taiwan Pop Bureau dan toko rekaman Spazz Society.

Selain tiga panggung ini, KUNTARI juga telah dikonfirmasimenjadi satu penampil di Tainan Music City pada 5 November 2022 nanti.

Jika kamu bingung untuk mencari resto yang menyajikan menu-menu steak, Jeurnals punya jawaban yang tepat: Gabriel Braga dan Gabriel Stockerhouse. Kualitas masakan dan bahan baku daging pun sudah tidak perlu diragukan lagi karena Gabriel adalah bagian dari Suis Butcher Group, salah satu pionir resto steak lokal yang sudah established dari tahun 1984. Bedanya, Gabriel Braga lebih berani untuk keluar dari konsep steakhouse tradisional dan menawarkan menu-menu fusion seperti: Tofu nuggets, Gochujang fried wings, honey glazed chicken bao, dan Balinese duck. Favorit kami adalah Shitake mushroom Suntori steak, 43 ribeye steak dan Miso butter striploin resep chef Arifin WIndarman.

Gabriel berlokasi di pusat dan jantung kota Bandung, yaitu Braga. Sebuah lokasi yang tentunya tidak asing dari era tahun ‘80an sampai sekarang sebagai pusat kuliner dan retail-retail yang unik. Konsep fusion Western dan Asian menjadi twist yang menarik, karena elemen-elemen yang bersifat nostalgic bisa bergabung dengan makanan kontemporer.

Di area luarnya pun terdapat Gabriel Stockerhouse, sebuah konsep pop-up Gabriel yang menyediakan makanan dengan konsep packaging yang lebih praktis, seperti pasta carbonara & beer, dan steak & fries-nya yang lezat, dengan pilihan 3 saus: togarashi, gochujang dan mushroom. Tidak hanya itu, konsep modern dan minimalis mereka pun terlihat di ambiance restoran, musik yang telah dikurasi untuk menemani pengunjung bersantap dan tentunya plating makanan yang ciamik. Craving for steaks and fusion foods? Segera kunjungi Gabriel di Jl. Braga No. 43, Bandung.

 

Words by JEURNALS
Photo from @gabriel.in.braga

Wolfza, band pop-elektronik dari Bandung menggelar tour No Time for a Reason and Let’s to Find The Sun in The Ocean – Tour 2022 dari tanggal 27 Oktober sampai 30 Oktober 2022 yang akan menyambangi Yogyakarta, Malang, Surabaya dan Bali. Judul tour dari duo kakak beradik Ihsan dan Handy Muchlis ini diambil dari 2 single yang telah dirilis yaitu ‘No Time for a Reason’ dan ‘The Sun in The Ocean’.

Di setiap kotanya pun tidak hanya Wolfza yang akan tampil tapi turut dimeriahkan oleh teman- teman band dan musisi dari kota masing-masing.

Selepas tour ini Wolfza akan merilis single ketiga dan di tahun 2023 akan mengeluarkan album perdananya. Rencana single ketiga dan album perdana nanti akan menggaet Giovanni Rahmadeva (Polka Wars) dan Dennis Ferdinand (Perunggu) sebagai produser.

Pada tanggal 13 Oktober 2022 lalu, Feeze meluncurkan maxi-single “Nice,Try To Wake Up di platform musik digital. Unit alternative/indie rock asal Pandeglang, Banten ini kembali dengan merilis video musik “Give Me Flower” yang merupakan rangkaian dari perayaan rilisnya maxi-single “Nice, Try To Wake Up”.

Video musik ini digarap secara DIY oleh Feeze dan dibantu oleh kawan-kawan dari Pecah Kongsi Kolektif, storyline dan proses edit di kerjakan oleh Azi Mufti, pengambilan video dan arahan oleh Akbar Samudra, pemerannya adalah Aulia Habibie masih kawanan dari Pecah Kongsi Kolektif. Pengambilan gambar dan video dilakukan di Pandeglang dan Serang, pada awal bulan oktober.

“Untuk perilisannya, video musik ini sengaja rilis seminggu setelah maxi-single nya rilis, sebagai rangkaian perayaan dalam perilisannya, jadi biar tiap minggu ada agenda tentang perilisan ini, dimana seminggu kemudian nanti, atau tepatnya akhir bulan oktober ini kita bakal bikin special show atau showcase perilisan maxi-single ini, di bantu oleh Pecah Kongsi Kolektif, teman-teman kita di Serang, Banten.” Ungkap Azi.

Tentunya band baru dan berbahaya dari Palembang ini akan sangat dinantikan rilisannya dan performanya. Trio punk/hardcore ini dibentuk oleh Lör (vokal) , Måm (gitar), dan Yix (drums), dan sebenarnya embrio ini sudah tercipta sejak tahun 2019 dengan melewati pergantian nama band, dan personil. Bermain di ranah hardcore punk, para personil CRITICAL ISSUES juga terlibat di band-band lain, seperti Manekin, Egoism, Disaffer, Justice, dan Dètention. Mari berbincang dengan CI mengenai Polisi, pempek dan Pasal 285 KUHP

“Yah kadang ide kreatif kan enggak bisa dieksekusi dalam satu band, yang kalau dipaksakan malah bisa terkesan maksa. Maka itu mendingan bikin band yang lain.”

Kata Pelor, ngumpulin personil Critical Issues agak sulit karena “graveyard shift” beberapa personil. Kesibukan diluar main band masing-masing apa saja? Apakah kalian band nokturnal yang hanya bisa beraktivitas pada saat jam tidur?
Lör: Ahahaha bukan sulit hanya untuk menjadwal waktu wawancara dengan personil lengkap yang bisa sinkron dengan waktu kerja redaksi Jeurnals mungkin agak sulit karena ritme kerja dan aktivitas harian dari kami. Aku di siang aktif di radio tempat aku kerja, dan malam kadang masih suka ada kerjaan freelance. Jadi waktu komunikasi kami pun memang suka ajaib, begitu pagi eh pagi banget, begitu malam dini hari.
MaÌŠm: Bener sih, karena aku memang banyak aktivitasnya malam, mengerjakan artwork commission dan desain grafis. Jadi waktu aktifnya sangat random ahahaha.
Yix: Kalau aku ya kebetulan bekerja di hotel yang ada tiga shift kerja, dan kerap kebagian jadwal malam hingga pagi.

Kenapa menggunakan nama singkatan seperti Måm, Yix, & Lör? Apakah agar terdengar lebih cool? hahaha
Måm: Nah, kalau itu bisa dibilang idenya Lör.
Lör: Sebenarnya bukan untuk keren-kerenan sih, tapi hanya sebagai pseudonim yang bisa membedakan identitas kami dengan keterlibatan personil Critical Issues di band lainnya. Dan, kebetulan panggilan singkat dari nama kami bisa ditulis dengan tiga huruf, konsonan – vokal – konsonan.
Yix: Dan ide itu kebetulan pas dan cocok sih.

Diluar CI, para personil bermain musik di band Manekin, Egoism, Disaffer, Justice, dan Dètention. Apa yang membuat CI berbeda dengan band-band kalian yang lain? Apa yang tidak bisa kalian salurkan di band-band lain sehingga harus membentuk CI dan merilis sesuatu?
MaÌŠm: Secara musiknya memang tiap band yang aku terlibat musiknya berbeda, walau masih berada dalam lingkup hardcore punk. Band yang satu dengan lainnya style musiknya berbeda. Memang lebih ke eksplor mainkan style yang beda di tiap band. Manekin memainkan power violence, dan Egoism memainkan hardcore punk yang terpengaruh band macam Lux, City Hunter, dan Blazing Eye. Kalau Critical Issues dari awal ketika aku memulai memang mau bikin band dengan pengaruh d-beat, khususnya ala band hardcore punk dari Boston yang terpengaruh hardcore Swedia seperti Green Beret, Bloodkrow Butcher, Koward, dan sejenisnya lah.
Yix: Waktu MaÌŠm mengajak bergabung dengan Critical Issues, aku berminat karena musiknya berbeda dengan bandku yang lain, Disaffer itu main straight up hardcore, dan di Justice musiknya lebih ke hardcore punk seperti Scowl. Jadi seperti MaÌŠm, aku semacam mencoba eksplor sub genre yang berbeda.
Lör: Ketika pertama mengajak MaÌŠm untuk bikin band, yang jadinya malah meneruskan Critical Issues – yang waktu itu vokalis sebelumnya memutuskan keluar karena urusan kerja dan keluarga – niatnya memang bikin band hardcore punk dengan tendensi ke D-beat, atau crust punk; dan itu pas betul dengan arah style dari Critical Issues. Yang dalam konteks band khususnya secara musik, musik Critical Issues memang berbeda dengan DeÌ€tention. bahkan dari style vokalnya juga. Yah kadang ide kreatif kan enggak bisa dieksekusi dalam satu band, yang kalau dipaksakan malah bisa terkesan maksa. Maka itu mendingan bikin band yang lain.

Kendala di dalam band tanpa bassist? Tugas low-end tersebut dibebankan pada siapa ketika live dan recording?
Lör: Kalau format trio tanpa pemain bass sebenarnya di Dètention pun seperti itu ahahaha makanya enggak terlalu mengejutkan secara teknisnya.
Måm: Sebenarnya sebelumnya Critical Issues memang ada seorang pemain bass, tapi karena satu dan lain dia memutuskan enggak lanjut. Untuk live sih aku biasanya menggunakan skema yang dipakai Dètention dari Lör yang memungkinkan gitarku untuk memakai dua ampli gitar, dan juga ampli bass. Untuk sesi rekaman mini album kemarin, aku memang mengisi part bass. Tapi, untuk tour yang akan datang kami sedang mempersiapkan pemain bass sebagai touring member; yang mudah-mudahan bisa jadi member penuh Critical Issues nantinya.
Yix: Iya tidak merekrut pemain bass ketika proses pengerjaan memang karena kami kerja ngebut pasca Lör bergabung. Jadi memang karena tidak mau membuang waktu untuk merekrut dan mempersiapkan pemain bass untuk proses pengerjaan dan produksi mini album.

“lagu “Mark On Your Head” itu Lör merekam pengalamanku yang sempat diintimidasi dan ditahan tanpa alasan jelas oleh aparat kepolisian, hanya karena tampilanku yang hitam-hitam ahahaha.”

Saya baru mendengar 2 lagu saja di bandcamp kalian. Isu-isu politikal apa saja yang kalian angkat di lirik-lirik kalian yang lain?
Lör: Ketika bergabung di Critical Issues, aku langsung diembankan porsi untuk mengerjakan lirik. Dan kalau bicara soal fokusnya, sebenarnya mungkin sudah jelas terlihat dari nama bandnya. Pemantiknya adalah segala hal yang hal di luar sana yang meliputi isu ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Tapi bila spesifik soal apa yang menjadi topik lirik dalam delapan lagu Critical Issues di mini album debutnya, bahasannya adalah soal krisis yang muncul akibat pandemi, kekuasaan berlebih dari aparatur negara, sistem elektoral yang manipulatif, politik identitas, konflik militer dan krisis kemanusiaan, sistem ekonomi yang eksploitatif, dan isu kekerasan seksual.
Måm: Iya, isu sosial politik memang menjadi titik berat dari band ini. Dan, seperti lagu “Mark On Your Head” itu Lör merekam pengalamanku yang sempat diintimidasi dan ditahan tanpa alasan jelas oleh aparat kepolisian, hanya karena tampilanku yang hitam-hitam ahahaha.
Lör: Lagu “285” itu adalah dari Pasal 285 KUHP. Itu dari pengalaman pribadiku ketika seorang terdekat menjadi korban pemerkosaan, dan meminta saya untuk menghadapi si predator, dan menjadi mediator karena korban tak ingin kasusnya gaduh. Sekuat tenaga menahan diri karena kehendak korban harus tetap kujaga. Amarah yang harus disimpan itu pun kuluapkan menjadi lagu itu.
Yix: Iya sih, kami berbicara akan hal yang untuk sebuah band hardcore punk mungkin terdengar klise dan bombastis, tapi pada hakikatnya dekat dan mempengaruhi kehidupan kita.

Lagu “Plague Years” dan “Hostile Takeover” tentang apa sih?
Lör: “Plague Years” itu tentang pandemi yang dua tahun lalu kita rasakan bersama; dan beragam krisis yang menyertainya baik secara sosial, ekonomi, dan politik. Kalau “Hostile Takeover” itu tentang perang dan krisis kemanusiaan yang menyertainya, terpantik akan apa yang terjadi di Ukraina, Suriah, Palestina dan juga Papua.

Awal dari kerjasama dengan Disaster Records bermula darimana? Kenapa memilih Disaster Records untuk merilis EP kalian?
MaÌŠm: Awalnya kami mikir mau merilis sendiri, tapi kemudian agar kerja dan fokusnya bisa di-backup ahh kenapa enggak coba bekerjasama dengan label rekaman independen saja. Sembari proses rekaman mini album berjalan, akhirnya kami membuat daftar label rekaman yang mungkin cocok dengan Critical Issues, dan salah satunya Disaster Records.
Lör: Iya, semua proses rekaman kami bereskan dulu hingga sampai rough balance mix untuk menjadi bahan preview ke label rekaman independen yang akan kami ajukan; yah niatnya biar enggak beli kucing dalam karung lah. Dan, Disaster Records itu adalah label rekaman independen pertama dalam daftar yang kami buat. Kami ajukan materi audio, dan time schedule rencana kami pada bulan Mei atau Juni lalu ke Disaster Records. Dan, Disaster Records berkenan; semuanya bergulir dari situ.
Yix: Dan, jujur kami senang karena dalam prosesnya Disaster Records juga sangat suportif untuk segala rencana yang kami persiapkan.

Apakah CI ingin lebih dikenal sebagai live band yang intense atau sebagai band yang rilisan nya sangat prolifik?
Lör: Idealnya sih keduanya ya, yah tapi kami enggak banyak proyeksi yang muluk-muluk ya. Karena mini album yang baru kami rilis baru rilisan debut. Jadi untuk sekarang kami coba menikmati saja segala proses yang kami jalani sekarang.
MaÌŠm: Iya sih kami coba jalani saja dulu prosesnya, yang pasti gass pol ahahahaha.
Yix: Enggak mau bermain dengan ekspektasi kawan-kawan. Bisa diapresiasi dengan baik sekarang ini pun kami cukup senang.

Album-album terbaik yang merubah hidup & musikalitas kalian?
Lör: Hmmm.. mesti berundur beberapa dekade sih yak ahahaha kalau aku mungkin Bad Religion “Recipe For Hate”, dan Slayer “Seasons In The Abyss”. Ada beberapa lain yang cukup signifikan juga khususnya dari ranah punk, tapi dua yang di posisi puncak mungkin itu.
Måm: Aku sih, Milisi Kecoa “Kalian Memang Menyedihkan”, dan album-album dari bandnya Ryan Abbott seperti Chain Rank dan Green Beret.
Yix: Kalau aku, Entombed “Left Hand Path” dan Iced “Don’t Mean Shit”

Pertanyaan terakhir: Kuliner-kuliner khas Palembang favorit kalian?
Lör: Ahahaha pertanyaan lompat topik yang cukup menarik. We have different ideas, but food could unite us all hahaha kalau aku apa ya? Mungkin Mie Celor, menu mie khas Palembang dengan kuah kental kaldu dari udang yang cocok banget dimakan sebagai menu sarapan, dan juga makan sore. Satu lagi mungkin Martabak Har telor bebek, dengan kuah karinya yang mantap.
MaÌŠm: Pempek dan model mie, dua itu sih yang jadi favorit karena untuk makan itu ada momennya biar lebih terasa nikmat makannya ahahaha.
Yix: Laksan, karena aku suka olahan dari ikan yang diolah dengan sagu dan berbagai racikan lainnya, biasa makannya dicampur sama kuah santan. Yang kedua, apalagi yah Pempek ahahaha sudah jadi makanan cemilan sehari-hari. Dan bukan hanya beli tapi juga bikin untuk dimakan sendiri sekeluarga di rumah. Makannya jelas sama kuah cuko.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos by Dewi Andriani, Cacink

Bodypack baru saja mengeluarkan statement terbaru lewat koleksi apparel. Brand asal Bandung ini mengungkapkan bahwa aktivitas dan produktivitas warga perkotaan sehari-hari tidak hanya didukung oleh produk tas.

Bodypack turut bergerak bersama komunitas dan berkembang menjadi sebuah brand lifestyle. “Kami punya mimpi untuk membangun komunitas di mana semua orang saling mendukung di dalamnya. Saling terhubung dan membawa pengalaman baru bagi siapapun yang ingin membuat perbedaan.”, begitulah ungkap Imanuel Wirajaya selaku Brand Owner dari Bodypack. Gagasan itulah yang menjadi inspirasi untuk membuat koleksi apparel dengan DNA tas yang telah dikembangkan selama 26 tahun sejak 1996, yaitu berkualitas tinggi dan bisa digunakan untuk berbagai aktivitas, baik di dalam kota maupun di luar kota hingga alam terbuka.

Setelah pandemi mereda, Bodypack juga melihat fenomena bahwa masyarakat menjadi lebih sadar untuk menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan. Oleh karena itu, kegiatan refreshing mengunjungi alam terbuka dinilai menjadi salah satu alternatif hiburan bagi masyarakat untuk sejenak melepaskan penat dari sibuknya kehidupan perkotaan.

“It’s more than just going outdoors or visiting remote places. It’s about escaping your routine,
trying something new, and having the courage to make a difference. Anytime everywhere, for those who are active and productive as well as for play and travel.”

Koleksi ini menampilkan beragam siluet mulai dari jaket, kaos, celana, hingga aksesoris kepala.
Semua item dibalut dengan material berkualitas tinggi dan diklaim nyaman dikenakan untuk segala aktivitas. Bodypack juga merilis rincian produknya melalui akun Instagram @bodypack. Drop lini apparel terbaru Bodypack sudah bisa dipesan secara online via laman resmi www.bodypack.co.id.

Setelah merilis single Ice Cold pada Jumat (16/9) lalu, kuintet hardcore asal Bandung, Bleach kembali dengan merilis video lirik Ice Cold via Disaster dan Oblivion Records yang dijadikan sebagai gambaran awal album mereka yang rencananya bakal dirilis pada awal tahun 2023.

Pada video musiknya yang dibuat dalam bentuk bentuk 3D Animation, mereka menggaet nama-nama Putra Baskoro dan Yafi alias Helloblu Days. Video ini juga adalah bentuk respon dari sampul untuk single ini dikerjakan oleh Yowdy Santiar dari Iron Voltage. Video lirik dari single “Iced Cold” sendiri telah rilis pada Jumat (21/10) pada platform Youtube.

Selain video lirik, Bleach juga merilis exclusive merchandise yang telah dirilis pada hari yang sama, oleh Oblivion dan Disaster Records. Pada merch kali ini, mereka membawa serta sampul dari single teranyar mereka, dan font yang ditaruh pada bagian belakang bersama logo iconic pada bagian bawahnya.

Pada bulan Februari lalu, Extincted telah merilis debut single dengan tajuk Piromania. Kali ini unit metalic hardcore asal Bandung merilis single kedua Terrible Drain Traps yang menjadi sebuah project plot twist sebagai pembuka untuk full length album perdana yang berjudul Inferno. Tidak berbeda dengan Piromania, balutan vibe ala band metallic hardcore era 90/200an dengan sound modern yang heavy dan kelam, Terrible Drain Traps lebih menonjolkan medium tempo yang dibalut riffing era chuga chuga yang dominan.

Single ini merupakan era sebelum Piromania dirilis ke publik. Pengerjaan full lengt album yang cukup lama dengan berbagai kendala menjadi pengalaman bagi Extincted untuk terus berproses bersama Oktav Mutter di Re-Built 40.1.24 Studio untuk merampungkannya.

Terrible Drain Traps sudah bisa didengarkan si platform musik digital dan full length debut album dari Extincted yang bertajuk Inferno akan segara rilis dalam bentuk cakram pada oleh Grimloc Records

Tentunya brand ini sudah tidak asing lagi, apalagi jika kalian adalah penggemar brand-brand outerwear. Dengan bermodalkan menyukai dan mengkoleksi produk-produk dari Neighborhood, WTAPS, Nonnative, Visvim, OAMC, Braindead dan Undercover, Ginar Satria pun secara tidak langsung “belajar” untuk membuat produk yang berkualitas bagus dan memiliki teknik craftmanship tinggi seperti brand-brand favoritnya tersebut. Mankind selain dikenal lewat produk-produk jaket dan outer nya yang eksklusif, sempat juga merilis banyak kemeja aloha / Hawaiian. Mari berbincang dengan Ginar mengenai Mankind dan brand-brand favoritnya…

“Gua juga baru sadar sekarang ketika punya brand, gua ga buang-buang uang selama ini sering belanja jaket. Gue jadi tau apa yang gue inginkan.”

Sudah berapa lama Mankind beroperasi? Orang-orang yang terlibat menjalankan siapa saja?
Hahaha.. Panjang sih. Gue sebenarnya mulai dari tahun 2015 cuma bikin quantity sedikit. Sudah kepikiran dari dulu kalau punya brand namanya mau Mankind. Masih bermain dengan konsep. Gue mulai serius 2016 akhir pas ngeluarin full collection. Launching 2017 awal Maret. Dulu sih banyakan sama Dimas Kokom, Chaka, Inez dan Chicha.

Sebenarnya gue ga ngitung dari tahun 2015 sih, cuma benar-benar serius itu baru 5 tahun. Dulu sih belum jelas label woven juga belum ada. Dulu pengen bikin lookbook yang proper pada saat itu. Kalau sekarang tinggal gue aja sendiri, ada partner baru, baru join. Dia support kapital.

Apa yang membedakan Mankind dari brand-brand lain yang sejenis?
Kasarnya sih dari 2015 sampai sekarang gue ga ke konveksi, gue memilih pakai tailored. Semua tailored jacket, celana, kemeja, kecuali T-Shirt sablon. Sebenarnya yang bisa menilai perbedaan Mankind dari brand lain bukan gua hahaha… Gue sih paling pakai manual embroidery. Di sketch di kertas kalkir lalu di bordir. Jadi tidak masif. Kalau dari 2017 sampai sekarang juga sebenarnya design gue tapi sekarang ada team dan designer 2 orang. Team sekarang ada 11 orang, yang terdiri dari marketing, designer, photographer in-house, orang produksi, orang yang ada di showroom.

Kita lihat Mankind dari awal sampai sekarang desainnya banyak diaplikasikan di kemeja ya? Apa yang membuat lo lebih tertarik untuk membuat kemeja?
Naahh.. Awalnya gue juga belum look up ke brand kaya Wacko Maria. Cuma gue dari awal sudah pengen banget bikin brand outerwear. Dari awal bikin Mankind yang cuma bikin 5 piece jaket dan lain-lain, gue rasa gue juga butuh varian lain. Kaya untuk keperluan foto lookbook yang head to toe jadi nya gue juga bikin koleksi yang lengkap dari jaket, kemeja, T-Shirt sampai celana. Hawaiian / aloha shirt ini juga dibikin awalnya dari iseng karena konsep lookbooknya spring/summer. Season berikutnya jadi gue bikin kemeja dan melupakan jaket. Demand si Mankind sekarang kebetulan balik lagi ke outerwear. Gue cukup happy karena apa yang gue pengen di awal kembali lagi, kalau dulu pas bikin kemeja gue sempat kemakan trend. Walaupun sekarang bikin kemeja lebih menonjolkan hand stitching dan manual embroidery. Prints udah ga terlalu gue up.

Dari dulu aplikasi di kemeja nya sudah main prints di bahan cotton rayon atau sublimasi?
Dari dulu sudah rayon print, ga ada yang sublim. Karena itu price point si Mankind dari dulu juga sudah lumayan. Dari awal sudah pengen orang nyaman pakai kemejanya. Apalagi print rayon tahun 2016 itu masih jarang. Orang-orang juga cukup kaget gue jual kemeja dengan harga 700 ribuan sampai 1 jutaan. Bukannya mengada-ngada, tapi karena kita pake tailor, bayar jahitnya saja 1 piece jaket bisa 200 ribu, belum aksesoris dan bahan.

Kelebihan dan kekurangan memakai tailor?
Ya gue ga bisa se-masif itu. Gue suka konsep artisan nya aja sih, Tang. At least saya bayar buruh dengan benar sih.

Brand lain kan bikin basic wear, tapi lo memberanikan diri dari awal membuat outerwear yang lebih rumit tanpa ada background pendidikan fashion. Bagaimana teknisnya?
Tapi gue teh dari dulu sering banget belanja jaket hahaha. Sekarang mah jaket udah gak kepake. 2 tahun kebelakang sih udah ga pake jaket. Cuma pakai celana pendek dan kaos aja. Hidup saya cuma dari rumah ke kantor. Hahaha aneh ya gua jual jaket tapi gak pernah pakai jaket.. Ya mungkin momen-momen tertentu ada pakai jaket. Cuma balik lagi awalnya sering ke Jepang jadi suka brand-brand Jepang kaya Neighborhood, WTAPS. Sekarang lagi suka Nonnative, Visvim cuma kadang-kadang gua ga mampu beli jaketnya hahaha.. Sejujurnya gue belajar karena sering belanja sih. Gua juga baru sadar sekarang ketika punya brand, gua ga buang-buang uang selama ini belanja. Beda lah lihat di internet sama memegang barangnya. Bukannya saya ngajarin orang belanja ya, tapi lo bisa handfeel, bisa cek fitting nya kalau beli barangnya.

Berarti lo bikin pola dan develop dari nol?
Sebenarnya gue ga pernah bawa sample ke tempat produksian. Cuma jadi tau aja apa yang gue inginkan. Untungnya ketemu kepala produksi yang ngerti apa yang gue pengen. Sebenarnya cuma brief verbal aja. Pokoknya cutting di brief misal agak boxy, drop shoulders, cuttingnya misal saya pengen numpuk di tangan. Cuma gitu aja sih briefnya. Pola ya jadi dari nol. Tiap season selalu ada pola baru yang ngemix dari pola-pola base sebelumnya.

Pendapat lo tentang trend diskon dan harga coret?
Gue ga peduli hahaha! Gue orang yang gak percaya sama ads. Tapi bukan berarti kedepan nya gue gak akan pakai. Pernah sekali coba doang sebulan untuk ngereach ke luar negri terus gak pakai lagi. Gue pengen lebih organik aja growthnya. Misal gue pernah meeting sama digital marketing, lalu saya tanya apa yang bisa dia janjikan? Gak ada. Ah mending untuk produksi. Kayaknya kalau di Mankind ga works si ads.

Balik lagi ke harga coret, yang gue sayangkan itu ya harga balik lagi ke tahun 2000an. Kalau di kepala saya daripada diskon 70% terjual 1,000 pcs. Profitnya sama aja mungkin dengan diskon 30% dan terjual 200 pcs. Jadi sama fenomena ini gue agak bingung gitu. Menurut gue kalau mereka tetap stick di trend diskon ini ekosistem ya bisa hancur. Jeleknya orang ga akan mau beli produk lo kalau ga ada diskon misalnya. Prosesnya kan panjang bukan sekedar menjual. Dari order bahan, mendesign, designer yang mendevelop produk, nah dengan fenomena ini cuma dihargai segitu produknya, ya sayang aja. Mudah-mudahan kedepan ga gini lagi trend nya.

Rencana kedepan?
Ada collab cuma belum bisa disebutkan, karena baru chat semata haha. Doain aja kita mau buka offline store, diatasnya ada wine bar namanya Fondness (diambil dari nama campaign Mankind juga). Pengen fokus ke signature wine dan natural wine karena grafik botolnya lucu-lucu padahal mah saya si ngerti dan expert wine hahaha. Pengennya sih ada listening roomnya, karena ada platform Mankind radio juga kan.

Pertanyaan terakhir: Top 5 brand favorit lo?
Braindead. Meraka movement nya keren, rapid banget. Logonya enak banget ditempel dimana-mana walaupun collab dengan brand lain logonya masuk aja.
Nonnative. Suka cuttingnya, dan N. Hollywood, mereka tuh sama-sama neat dan plain sebenarnya. Bukan yang full graphic. Tapi clean look dan neat aja kedua brand itu. OAMC karena mereka mikir banget. As a product gue suka. Dan tiap season judulnya itu wording dari singkatan OAMC yang mereka rubah terus. Cek aja Instagramnya. Jadi dari awal udah mereka pikirkan itu nama brandnya bisa jadi apa aja. Undercover kali yah? Kalau look up ke embroidery nya. Maharishi juga keren cuma kadang-kadang too much. Ada bordir naga sebesar celana misalnya. Beberapa brand yang tadi gue sebut pasti gue ada produknya walaupun cuma satu, jadi sambil belajar juga.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos by Feri Alan