Setelah Album Hidden Agenda rilis pada 2020 silam, Pleazure and Pain terus produktif dalam meramu materi-materi baru mereka. Kali ini Greedy Dust kembali bekerja sama dengan Pleazure and Pain dalam perilisan EP pertama mereka berjudul Big Boom Bye. EP Big Boom Bye dirasa merupakan porsi ideal dari Pleazure and Pain. EP ini merupakan proses pendewasaan bagi member Pleazure and Pain untuk lebih mengenal diri karakter dan porsi yang akan mereka mainkan kedepannya.

Tidak terlalu berbeda dengan materi di album Hidden Agenda, pada proses pembuatan materi di EP barunya Pleazure and Pain masih mencoba membawakan riff dan tempo yang groovy. Band-band seperti Biohazard dan Cro-mags merupakan influence tersediri untuk pembuatan EP ini. Big Boom Bye berisikan 5 lagu dengan 1 lagu cover yang merupakan lagu dari grup band legendaris asal Inggris The Stone Roses. Pada segi lirik di EP ini masih dalam bentuk amarah dan kepercayaan diri yang sedang di sidang dan di pertanyakan.

Big Boom Bye dirilis pada 4 Oktober 2022 lalu dan dapat didengarkan diplatform music seperti spotify dan bandcamp. Rencananya pada EP pertama Pleazure and Pain ini akan dirilis dalam
dua format yaitu kaset dan piringan hitam.

Sajian seafood di ruangan terbuka adalah kombinasi yang tepat. Setelah membuka pop-up di perhelatan Keuken di Kiara Artha Park, Fisherman’s Paradise kembali hadir dengan konsep semi-permanent di Laswee Creative Space. Dengan konsep dapur di dalam truk yang bekerjasama dengan Labotruck, meja-meja outdoor dan sajian seafood bakar terasa sangat cocok. Saat kamu duduk pun aroma lezatnya udang bakar sudah tercium.

Fisherman’s Paradise bermula dari hobby memancing Satria NB (Pure Saturday, Teenage Death Star). Hasil-hasil tangkapan selama memancing pun diolah dengan bumbu bakar sederhana dan mulai diperjualbelikan selama pandemi dengan konsep hidangan siap masak dan juga beberapa pop-up di event-event otomotif dan event kuliner. Sekarang Fisherman’s Paradise sudah hadir dengan lokasi permanen di Laswee Creative Space dengan menu-menu dari mix seafood platter goreng tepung, fried fish Thailand sauce, kepiting saus Padang sampai udang bakar bumbu Malaysia.


Dengan opsi dibakar, digoreng sampai masak ala Chinese food dengan 5 kombinasi sauce (Padang, Singapore, Malaysia, Thailand & telur asin) tentunya sajian di Fisherman’s Paradise ini sangat beragam dan tentunya akan membuatmu kembali kesini beberapa kali untuk mencicipi semua kombinasi menu nya. Lokasi Fisherman’s Paradise ini sangat tepat untuk berkumpul bersama rekan-rekan dan keluarga sambil menyantap lezatnya seafood segar. Kunjungi segera di Jl. Laswi no. 1 / @fishermansparadise.id .

 

Words by Aldy Kusumah
Photos by Feri Alan & Ardly

Terbentuk di tahun 2012 dan menghasilkan 1 EP dan 1 album, Devdan pada tahun 2022 ini telah merilis EP yang berjudul “Awaken”. EP ini dikerjakan selama 8 bulan, direkam di Studio Escape dan di Wowma Studio. Referensi seperti Stick to Your Guns, The Ghost Inside, sampai Shai Hulud mereka coba terapkan di musik mereka yang dimana mereka juga tidak mematok secara formula musik dan EP ini dikerjakan secara organik dengan menyatukan berbagai referensi dari masing-masing personil.

Saat ini, Devdan kembali berkarya dengan beberapa personil baru yang juga tergabung dengan Jeruji dan Kidsway. EP yang berisikan 5 lagu ini akan menuntun mereka ke agenda selanjutnya, seperti tour ke
bagian Kalimantan sampai Sumatera dan berencana tour ke Jepang untuk kedua kalinya.

A Little Less 16 adalah moniker terbaru yang diadopsi oleh penulis lagu dan multi-instrumentalis Bojes asal Bandung. A Little Less 16 menghadirkan musik dengan benang merah alternatif rock ditambah beberapa eksplorasi pengaruh dari pop/punk, emo pop hingga indie rock.

“Direction” dimaknai sebagai pemikiran seseorang yang seharusnya tidak perlu diarahkan ke jalan lain untuk mencapai tujuan tertentu. Terlihat dari artwork mini album ini yang dirasa merepresentasikan keadaan seseorang tersebut. Dinamika dalam mini album ini terasa membalut rangkaian cerita kehidupan yang pada akhirnya akan memiliki interpretasi yang berbeda. Berisi 4 lagu termasuk “Solo” dan “Collide” yang dilepas beberapa waktu lalu, kini dilengkapi oleh “Direction” dan “Afterglow” yang menyuguhkan alur dari cerita tersebut.

Irama Nusantara, salah satu garda terdepan dalam pengarsipan digital musik populer Indonesia, merilis situs web baru dengan berbagai fitur yang lebih komprehensif dari sebelumnya. Di luar dari arsip audio dan visual setiap rilisan, masih banyak arsip terkait musik yang belum pernah Irama Nusantara sajikan pada situs web sebelumnya. Mulai dari media massa yang bertemakan musik, arsip foto para musisi, hingga artikel-artikel untuk memudahkan pengguna mencari sebuah informasi yang tersaji dalam situs web secara lebih mendalam dan mudah diakses.

Beberapa tambahan fitur baru, adalah sebagai berikut:
● filter & sort; untuk menentukan format (vinyl / cassette / shellac / CD) apa yang ingin dimunculkan, type untuk mensortir tipe album (vinyl 7”, 10”, 12” / EP / LP), year untuk menentukan dari era berapa rilisan yang ingin dimunculkan, dan country untuk memunculkan di negara mana suatu rilisan dicetak.
● view options; pada situs web Irama Nusantara terbaru ini, tampilan informasi rilisan di setiap kolom pada beberapa halaman tertentu dapat dilihat dengan dua tampilan, secara list (detail) atau thumbnail (kover album).
● Dua bahasa / bilingual; Irama Nusantara juga menghadirkan fitur dua bahasa (Indonesia & Inggris) untuk memudahkan pengguna yang lebih fasih dalam berbahasa Inggris.
● master record / parent page, di mana fitur ini berfungsi untuk menghubungkan dua rilisan yang sama tetapi berbeda format (contoh: dua album Vina Panduwinata Vol. 4 dalam format vinyl & cassette).
● related articles; fitur relasi ini tidak hanya terdapat pada rilisan ke rilisan saja, tetapi juga rilisan ke artikel atau media massa yang menulis tentang satu musisi tertentu (contoh: Vina Panduwinata dibahas pada satu artikel di majalah Aktuil #69, dengan menggunakan search engine Irama Nusantara sekarang untuk mencari informasi terkait VP, artikel tersebut dapat langsung muncul dalam daftar pencarian).
● artikel & video; bagi pengguna situs web Irama Nusantara yang tidak bergelut di media sosial, Irama Nusantara juga menyajikan konten yang pernah dibuat dalam Instagram / Youtube ke dalam situs web terbaru.
● pustaka; sejak tahun 2018, Irama Nusantara telah menambah format media massa untuk diarsipkan secara digital. Sekitar 200 edisi majalah Aktuil telah berhasil didigitalisasi. Data ini diharapkan dapat menjadi data pendukung dari arsip utama, yaitu rilisan musik populer Indonesia. Dengan pembaruan website ini, kami berkomitmen untuk mengunggah data-data terkait musik populer Indonesia dalam format pustaka.

Resmi berdiri sejak 2013, Irama Nusantara telah mendigitalisasi sekitar 5000 rilisan yang disajikan secara bebas akses dalam www.iramanusantara.org.

Arifin Windarman, yang lebih akrab disapa dengan Ipin adalah salah satu founder Unkl347. Tetapi kecintaan Ipin terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan masak-memasak, akhirnya menjerumuskan dia ke bisnis F&B sampai dengan aktivasi Parti Gastronomi-nya yang memiliki banyak sub-program. Mari berbincang dengan Ipin mengenai keterkaitan desain dan makanan sampai dengan spot Sate Padang favoritnya.

“Menurut gue masak sama desain produk itu ga ada bedanya kalau soal proses. Masak itu kaya design thinking, dari proses prepare sampai plating dan di serve ke customer itu kaya proses design.”

Proyek kuliner lo apa aja sih? Dari cofeeshop sampai bikin batagor dan pop-up di konser Ride, proyek FNB lo kayaknya ada dimana-mana..
Jir geus lila pisan eta konser Ride. Sebenernya proyek kuliner gue yang based-nya bisnis itu mainly si Cupola, coffee shop dari 2017 sampai sekarang. Ada 2, satu di Braga dan satu lagi di dekat lapangan Supratman. Lagi proses nambah 1 lagi, cuma pengen punya Cupola dengan konsep baru, yang ga mainly ke coffee shop-nya. Batagor teh sebenarnya proyek pandemi, diajak sama si Lucky Sarwo. Dia punya resep, dan akhirnya bertiga sama si Zaky, partner gue di Cupola. Organically ngedrop dan ditinggal karena kesibukan masing-masing.

Kalau keterlibatan lo mengisi menu steak Suis Butcher dan Gabriel Braga itu gimana ceritanya Pin?
Kalau di Suis Butcher tahun 2018 gue sempet diminta sama Bimo Suis Butcher. Dia ada program koki bertamu, nah gue ditawarin jadi koki bertamu yang kedua. Pada dasarnya gue memang bageur sih jadi ku urang ditarima weh haha. Niat gue mah ga muluk-muluk sih, gak pengen bikin apa-apa. Tapi kalau ceritanya Bimo sih dia butuh pembaharuan menu Suis Butcher yang menurutnya terlalu klasik. Nah peran gue ada di situ. Gue bikin 4 menu yang based nya steak: Coffee Butter Steak, Miso Butter Steak, Garlic Butter Sirloin & Korean Barbeque Ribs. Ternyata lumayan jalan proyek koki bertamu gue, jadi pas Suis Family bikin Gabriel di Braga, menu gue dibawa, kalau gak salah yang Coffee Butter Steak dan Miso Butter Steak. Kalau Gabriel itu lebih fusion aja menu nya dan modern. Idealisme nya si Bimo.

Proyek pop-up lo bervariasi juga ya?
Kalau yang pop up itu gue sebenarnya ada beberapa project sih. Salah satunya Open Table, pop up dining. 10 tahun lalu di Keuken Bandung. Niatnya sih pengen senang-senang aja sambil memasak. Makan bareng di luar sambil disamperin yang masak dulu konsep yang cukup jarang. Dulu sampai 17 course meal, gue bikin 17 dishes. Bikin 7-9 menu aja ripuh sekarang mah. 2018 sempat gue bubarin karena partner gue Lukman meninggal. Lalu gue bikin Parti Gastronomi bareng sama Seto dan Eja. Akhirnya Open Table gue masukin juga ke program Parti Gastronomi. Karena PG ini menaungi beberapa sub-program.

Kelima makanan ini kalau di pairing sama minuman dan musik latar bagus nya sama apa:
Batagor: Anjir batagor yah! Kalau makan batagor enaknya sambil denger Chemical Brothers “Hey Boy, Hey Girl” hahaha.. Apalagi kalau pedas. Kalau minum paling oke menurut gue teh botol Sosro..
Steak Rare: Pake theme song nya The Sopranos, dan minumnya udah pasti red wine sih..
Sate Padang: Oh Sate Padang! Urang nyaho ieu.. Make lagu Nassar “Seperti Mati Lampu” hahaha! Minum nya es pala.
Ramen Spicy: Hmmm.. Tatsuro. City pop. Minumnya apa ya, gue udah ga minum alkohol euy haha.. Minum nya sake yang pasti mah.
Gurame Bakar: Lagu nya apa coba? Sabilulungan. Toe toe toet.. Minumnya teh panas..

Awalnya mula menekuni masak sampai bisnis fnb gmn?
Kalau dari dulu banget sih.. Kalau masuk ke bisnis nya sih ga sengaja, awalnya dari Open Table. Sebelum itu gue ga ada aktivasi atau kegiatan yang melibatkan kuliner. Dulu kan jaman kuliah gue tinggal sama nenek gue, maneh apal pan? Karena cuma berdua sama nenek, jadi memasak adalah suatu keharusan menurut gue. Biar ga bosen makan ya harus bisa bikin sendiri. Ga Mungkin ngomong ke nenek pengen apa atau apa. Ngulik sendiri jadinya. Tahun 2014 memberanikan diri punya FNB sendiri, dulu Unkl Kitchen di Trunojoyo. Otodidak semua, kuliah soalnya desain produk. Menurut gue masak sama desain produk itu ga ada bedanya kalau soal proses. Masak itu kaya design thinking, dari proses prepare sampai plating dan di serve ke customer itu kaya proses design. Riset dulu, ada yang harus dibaca. Prosesnya ternyata ada keterkaitan antara design dan kuliner. Selain keilmuan kuliner, anak design itu paling dekat ke proses masak memasak dibanding jurusan lain.

Lo juga salah satu founder Unkl347. Bagaimana awalnya lo bergabung sama 347?
Tahun 1996 tuh sebenarnya kalau mau dirunut gue masuk ya masuk aja ke 347. Dendi, Luki, Anli dan beberapa orang lain nya, kaya Agung Pecunk. Mereka lagi butuh satu orang yang bisa ngegantiin almarhum teman gue yang kerjaan nya distribute. Jalan-jalan ke setiap outlet seperti kirim barang dan ngambil duit. Dulu semua dikerjain sendiri sama anak-anak. Karena aslinya 347 itu nomer rumah. Brand itu teh dulu mah brand barudak weh, ga ada yang punya dan belum ditetapkan siapa yang punya. Kalau ngomongin siapa pendiri nya banyak banget, ada sekitar 11 orang dan berguguran satu per satu. Sejak 2016 akhir gue memutuskan untuk off di operasional sampai sekarang. Dan lebih baik dipegang sama yang muda lah. Si Dendy juga masih ada di kantor controlling. Cuma darah muda tetap diperlukan, jadi yang in charge sekarang Dendy sama Luki, gue sama Anli ada di belakang.

Passion lo terhadap FNB & fashion lebih berat kemana?
Kalau lo menetapkan gue ke fashion atau kuliner salah. Gue lebih senang disebut antara keilmuan design dan kuliner. Soalnya Unkl itu pada awalnya kan rumah design, semua kita garap. Scope nya lebih besar lagi. Cuma orang belum ngeh kesitu. Kalau design dan kuliner sebenarnya so-so sih. Kuliner itu alter ego gue. Di studio sih gue masih ngerjain design. Parti Gastronomi lebih banyak risetnya. Kalau masak itu kita nyebut nya manggung. Masak yang kita lakukan itu based dari riset yang setahun kemarin kita lakukan. Kaya fermentasi yang based di Parahyangan seperti oncom. Gue sekarang lagi sibuk di Ceremony, restoran di Bogor. Kalau 347 sih autopilot karena sistem nya udah bagus.

Pendapat lo tentang kontes memasak?
Kalo liat program kayak gini di TV, sebenernya mah programnya kayak party ya, harusnya semua orang bisa bersenang-senang disitu, siapapun yang masuk kesitu nikmati aja, it’s a show, dan ini tidak menggambarkan keadaan dapur komersial sesungguh-nya. Buat yang nonton enjoy the show lah. Orang-orang yang nonton kan sama kayak kubu-kubu yang berbeda pilihan calon presiden; yang bilang bagus banyak, yang bilang jelek juga banyak, jadi terlepas dari semua pendapat seperti itu kalo kata gue, kalo ga suka ya matiin, kalo suka terusin nontonnya Hahaha..

Resto / tempat makan ideal versi lo?
Hospitality yang baik di setiap elemen hidupnya: tukang masak, server & owner. Ketika lo dateng dan staff resto menyapa dan mempersilahkan lo duduk dengan aksi yang tidak dibuat-buat seperti “damang kang?, mangga lebet”. Itu cukup banget buat gue. Makanan enak mah udah pasti, ga ada orang yang nyari tempat makan tapi nyari tempat makan yang makanannya ga enak hahaha..

Tempat-tempat makan favorit versi lo?
Soto Pak Simon Cibadak (Bandung): Soto Simon itu adalah pecahan Soto Banjir Astananyar. Kalau lo nanya ke Pak Simon nya panjang ceritanya. Dia tuh versi upgrade nya Soto Banjir kalau menurut gue. Potongan daging lebih bagus.
Jiwa Jawi (Yogya): Tempatnya enak. Makanan Indonesia, hospitality nya bagus. Daging-dagingnya nice cut, makanan dan rasa nya cakep juga.
Sate Padang Ma Etek (Bandung): Ini the best menurut gue. Sate Padang Pariaman. Potongan nya komplit disini. Usus, lidah, paru dan daging. Depth bumbu nya oke lah. Aksesoris keripik singkongnya masuk banget. Memang harus komplit itu sate padang dan keripik singkongnya hahaha..
Ma Uneh (Bandung): Makanan Sunda menurut gue mah masih tetep Ma Uneh ya. Udah legend aja sih, kalau kata nyokap gue udah dari tahun ‘70an. Sampai sekarang dia masih ada,luar biasa sih. Jadi ya gak salah lah gue, kalau mau makanan Sunda ya Ma Uneh.
Mikawa (Bandung): Di terusan Pasteur harus masuk kedalam ruko. Salmon Donburi nya enak banget.
Gabriel Braga (Bandung): Kalau makan steak sekarang-sekarang gue selalu lari ke Gabriel. Miso Butter Steak nya enak, ya itu menu gue hahaha..

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo taken from Ipin’s and Parti Gastronomi’s archives

Woodensun menyambut musim dingin dengan merilis ‘Pictonesian’, capsule collection yang merupakan hasil kolaborasi Woodensun dengan ilustrator Stewart Armstrong. ‘Pictonesian’, adalah penggabungan antara Pictish (Skotlandia kuno) dan Indonesia.

Penelitian terhadap mitos dan stupa Pictish dan Indonesia kuno dilakukan untuk ditampilkan dalam koleksi ini. Terinspirasi oleh tekstur dan bentuk kuno dan modern dengan menampilkan grafis yang berfokus pada persamaan, kontras dan penyelarasan antara dua lanskap yang berbeda, namun tampaknya terkait dan sejarah folkloric. Penerapan grafis kuno dapat dengan mudah dilihat pada berbagai produk koleksi, seperti T-Shirt, Shirt, Longpants, Shortpants, dan Crewneck.

Stewart Armstrong (Compost Positions / Club Club) merupakan seorang designer grafis, art director dan ilustrator, yang berbasis di Edinburgh, Skotlandia. Proses berkarya dari Stewart melibatkan permainan analog dan digital, seringkali dimulai dengan satu tanda, menggambar, menemukan gambar atau fotografinya sendiri; yang kemudian dipindai, disusun ulang, dan digambar ulang hingga terasa enak, (atau sudah waktunya pulang).

Koleksi “Pictonesian” Woodensun x Stewart Armstrong, sudah tersedia di webstore Woodensun.