Sebelum menggunakan alat tiup dan instrumen elektronik, Tesla Manaf adalah gitaris jazz yang sangat handal. Semua itu dia tinggalkan di tahun 2017: dia nekat berhenti bermain jazz dan mulai menekuni instrumen alat tiup & elektronik. Uniknya, Tesla mempelajari instrumen-instrumen barunya itu dari nol. Mari berbincang dengan Tesla mengenai rekaman di bunker Tentara Belanda, mempelajari alat tiup karena pandemi dan sintingnya musik Merzbow..

“Gue bikin musik tanpa referensi. Gak ada guidebook sama-sekali. Kalau jelek ya jelek aja ulang dari awal. Kalau bagus yaudah itu kepunyaan gue sendiri dan ga ada orang lain yang sound nya kaya gini.“

Tesla! Kita mulai dari pertanyaan sejuta umat dulu ya: Dulu kan lo gitaris jazz, gimana transisi lo dari jazz ke experimental music yang menggunakan instrumen Cornet dan electronics?
Anjirr sudah puluhan ribu orang nanya gue ini nih hahaha.. Dari 2017 tuh gue udah mentok banget di jazz, apa yang gue pengen dari jazz dan instrumen gitar udah kesampaian semua di tahun 2017 itu. Gue pengen ngasih kejutan ke diri gue sendiri: ga pengen main gitar lagi. Karena ntar suara dan musik yang gue ciptain akan gitu-gitu aja bunyinya. Gue pengen milih instrumen elektronik yang ga gue pegang sebelumnya dan memasuki skena yang ga pernah gue datengin sebelumnya. Akhirnya gue nekat disitu.

Belajar dari nol semua ya berarti? Cornet / Trumpet sebelumnya sudah bisa?
Dari nol banget. Cornet gabisa. Baru belajar iseng pas pandemi. Gue belum pernah pegang terompet sedikitpun, apalagi niup. Nekat-nya gue beli pake seluruh tabungan gue saat itu. Ah bodo deh, sikat aja daripada gue bengong pas pandemi. Sekarang jadi instrumen jagoan gue.

Video performance “Larynx” yang kerjasama dengan Maternal itu gimana konsep awalnya?
Sebenarnya itu cuma ngasih tau ke khalayak luas kalau gue tuh ada 2 format kalau manggung: format elektronik dan format organik. Disitu gue maen elektronik, sample dan main gitar, Tapi main gitarnya ga dipencet, cuma disentuh doang permukaan senarnya, biar suaranya senarnya terdengar seperti perkusi…

Kalau video performance lo yang collab bareng Ssslothhh itu gimana awalnya?
Si Dinar (drummer Ssslothhh) yang ngajak, dia nge message di Twitter ngajak collab bareng. Wah udah ga mikir lah, Ssslothhh nya keren gitu. Lalu mereka ngasih kesempatan dan porsi cukup banyak ke Kuntari. Bebas nih Tesla mau ngapain aja. Bener nih bebas? Akhirnya kirim draft materi, mereka cocok dan kita cuma sekali latihan langsung cocok, yaudah besoknya langsung syuting video nya.

Lo juga sempat memakai konsep improv dalam bermusik ya?
Sebenarnya konsep improv ini di 2019-2020 awal, pas alatnya masih electronic. Tapi pas album “Last Boy Picked” keluar dan format electronic dan cornet ini udah terbentuk, ga improvisasi lagi sih kasarnya sekarang tuh. Memang ada improv ditengah-tengah tapi tetap ada pattern atau pola di dalam setiap lagunya.

Banyak musisi/band pop mainstream ingin go international tapi ternyata yang malah go internasional malah yang eksperimental seperti Senyawa atau Gabber Modus Operandi (GMO). Bagaimana pendapat lo mengenai ini?
Ya sesimple ini aja sih mas, musisi pop dan mainstream banyak banget, jutaan orang kali yang berebut floor dan porsi yang sama. Kalau mas denger Senyawa atau GMO ya cuma mereka aja yang seperti itu di dunia ini.

Kadang dibanding musisi pop yang sangat effort untuk go international, musisi eksperimental lebih terlihat effortless ya bisa menembus batasan-batasan bahasa..
Sebenarnya mereka ada effort juga sebenarnya, meskipun kita ga melihat di depannya gimana, tapi ada agent nya, si mas Wok the Rock (Yesnowave). Biarpun musiknya bagus atau se-original apapun, kalau ga pintar mempromosikan dan tidak mengerti brand image atau strateginya kemana akan sulit juga dijual pada akhirnya. Misal Senyawa bagus tapi main nya di acara Kemenkraf atau Kemendikbud, atau main di Dubai Expo atau acara kedutaan Austria, orang-orang juga ga akan bisa dengar. Management, agent, label dan kemasan itu penting banget. Harus tau mereka bakal dijual kemana, diarahkan kemana, siapa yang nonton, strategi marketing yang jelas..

Tapi kalau ngomongin marketing, lo juga ga ada Instagram ya? Hahaha..
Hahaha.. Kan media marketing bukan Instagram doang.. Masih ada Twitter hehe.. Sebenarnya strategi gue juga udah pasti ada, arahnya mau kemana. Cuma ga ngotot banget, dari 2 tahun pandemi ini udah jadi pelajaran banget ya. 2 tahun kita disuruh berhenti dan istirahat. Ambisi boleh tapi jangan terlalu berlebihan ingin ini ingin itu. Kalau kita tetap usaha terus, dan musik kita bagus, target dan jualan nya jelas, cepat atau lambat pasti ada waktu nya kok.

Di album “Last Boy Picked” itu cover siapa yang mengerjakan? Dan kenapa memutuskan untuk co-release dengan 2 label (Orange Cliff dan Grimloc)?
Itu yang bikin si Nitya Putrini dan yang layout si Anindito (owner Orange Cliff Records). Kalau ketemu Nitya dari saran Dito, kata Dito si Nitya kayaknya bisa translate isi kepala lo untuk album “Last Boy Picked”. Akhirnya cocok dan dibikin sama dia, bagus banget. Karena waktu itu mau di release oleh Orange Cliff, awalnya gue bilang boleh ga gue co-release sama Grimloc. Akhirnya gue ajukan ke mas Ucok (Grimloc) lalu dia oke yaudah deh co-release bareng. Kalau Orange Cliff itu dulu tahun 2020 album pertama Kuntari yang “Black Shirts Attracts More Feather” dirilis mereka, jadi pas “Last Boy Picked” pengen sama mereka lagi. Kalau Grimloc itu gue suka udah lama. Gue akhirnya nekat kontak mas Ucok. Taunya dia suka banget dan akhirnya kita collabs di banyak kesempatan, kaya remix di “Fateh”, dan split album Roman Catholic Skulls X Kuntari.

Ketika membuat komposisi, kapan lo memutuskan bahwa sebuah lagu itu sudah selesai?
Proses gue bikin lagu malah bisa bulanan dan tahunan, tapi itu ga pernah masuk ke draft. Apa yang ada di kepala dicatat dulu dan sengaja ga dibawa ke meja recording. Karena apa yang kita bunyiin sekarang tuh akan beda dengan apa yang kita bunyiin 2 bulan atau tahun depan. Karena referensi kita berjalan terus, referensi terhadap sound juga berjalan terus. Keinginan juga banyak berubah pastinya. Catat aja dulu apa aja yang penting, bikin moodboard, kerangka berpikir, instrumentasi apa aja, manggung nya ntar gimana. Setelah arah nya jelas baru coba dibuat konsep dan pola-polanya. Lalu dicoba latihan. Kalau bagus jalan terus ke rekaman, kalau ga bagus semua moodboard yang sudah dibuat bertahun-tahun itu coret aja udah. Konsep nya ga bagus, mulai lagi dari awal.

Kalau semua draft direkam malah bakal numpuk ya?
Iya mas. Waktu di jazz dulu tiap ada ide gue rekam. Kalau di jazz jelas kan: bunyi gitar seperti apa, ada bunyi drum, piano, bass dan alat tiup. Semua instrumentasi lebih jelas karena kita ada referensi, pasti ada referensi musik barat. Misal Bebop di New York atau Swing di New Orleans. Karena ada referensi ga ada ketakutan untuk buat musik. Suara gitar dan drum pengen kaya gini ah. Ada kali 300-400an lagu gue di hardisk yang belum direkam secara benar. Tapi di musik di genre gue yang sekarang ini, gabisa kaya gitu karena gue jalan tanpa referensi apapun. Walaupun dengar dari kiri-kanan ada inspirasi tapi ga pernah ada sound yang baku dan pasti yang bisa kita colong sedikit pun. Semua mulai dari nol, trial and error nya gila-gilaan. Gak ada guidebook sama-sekali. Kalau jelek ya jelek aja ulang dari awal. Kalau bagus yaudah itu kepunyaan gue sendiri dan ga ada orang lain yang sound nya kaya gini.

“Album Last Boy Picked kita buat dari nol sampai jadi album selama residensi 3 hari. Tiap hari nya latihan 12 jam.”

Yang album “Black Shirt Attracts More Feather” lo rekaman di bunker tentara kan ya? Untuk ambil reverb ruangan nya kah? Lalu bagaimana proses recording yang “Last Boy Picked”?
Yes bener, itu bunker bekas tempat tentara Belanda ngumpet dari tentara Jepang jaman dulu gitu. Bunkernya tuh panjang banget dan reverb-nya bagus banget. Kalau “Last Boy Picked” itu kita residensi 3 hari di Leitstar Studio Kebon Jeruk, tempat nya teman namanya Dhani Siahaan. Jadi sebuah rumah besar dan ada recording studionya. Kita semua berempat ngumpul disitu, dari pagi jam 10 pagi kita latihan sampai jam 10 malam, tidur, makan, istirahat, mandi segala macam disitu kaya residensi aja. Biar ga mikir apapun dan fokus ke musik. Kita buat dari nol sampai jadi album selama 3 hari. Tiap hari nya latihan 12 jam.

Kalau musik electronic apa lo juga dengar band-band avant-noise dan experimental Jepang?
Banyak sih tapi ga pernah dijadiin referensi atau apapun. Musik noise nya juga banyak denger cuma kan ga terlalu nyaman kalau didengar tiap hari…

Coba tiap hari dengar Merzbow mas..
Hahaha udah gila. Udah pasti nih orang sakit kalau tiap hari dengerin Merzbow. Paling nyaman tuh nonton live nya dari band-band seperti itu. Kerasa power dan adrenaline nya. Energinya kerasa banget.

 

Words & interview by Aldy Kusumah


Prabu Pramayougha adalah seorang musisi dan penulis musik asal Bandung. Tulisannya sempat dimuat di koran Pikiran Rakyat, qubicle.id dan beberapa media musik lokal.
Dia dikenal sebagai penulis musik yang memiliki kisaran pendengaran musik yang beragam serta kerap kali menyuguhkan penulisan yang mendalam.

Prabu pun dikenal sebagai sosok punggawa band punk rock lokal Saturday Night Karaoke yang telah berdiri sejak tahun 2008 dan sukses menjalankan tur Jepang selama dua kali dalam waktu lima tahun terakhir. Don’t Read This! : Catatan Melodic Punk Bandung Dari Masa ke Masa adalah sebuah buku yang ditulis oleh penulis musik asal Bandung, Prabu Pramayougha, yang membahas sejarah sekaligus dinamika yang terjadi di kancah musik ‘melodic’ punk di Bandung pada era keemasannya.
Buku ini diterbitkan oleh Bukune pada tahun 2022.

Don’t Read This! akan dijadikan sebagai acuan landasan untuk berbagai program yang bisa dikembangkan dalam bermacam format.

Zanun mungkin sekarang disibukkan oleh retail space Grammars dan Los Tropis, sebuah tropical fruit bar. Selain itu, Zanun adalah sosok dibalik design cover album dari The SIGIT, RNRM, Maliq & D’Essential sampai Jolly Jumper. Mari berbincang dengan Zanun mengenai passion nya terhadap desain interior, buku-buku home decor, zine, makanan warteg sampai dengan izakaya..

“Gelombang baru gairah F&B angkatan sekarang berani dengan eksplorasi bahan dan identitas nusantara. Memecah kebuntuan F&B Bandung yang sempat duplikasi ayam geprek dan seblak aja. Perlu banget diapresiasi.“

Nun, bisa ceritain ga proses awal nya lo bikin Grammars bareng partner-partner lo?
Versi ga disensor dan jujurnya tuh pertama kita semua kerja di bidang design yang project-based. Semua kerjaan nya tuh linear: ada awal dan akhir projek. Ritme nya gitu terus, ada masa yang intens dan masa yang lengang. Kadang penghasilan nya juga gitu, dari ada nya output bisa penagihan, bukan dari prestasi.

Nah kita seneng juga ngeliat teman-teman yang di bidang F&B, mereka punya ritme yang berbeda. Mereka fight nya harian, ada sales harian. Jadi akhirnya kita punya konsep punya toko. Secetek itu sih. Awalnya bareng sama Artiandi Akbar karena memang banyak juga projek dengan dia. Tadinya Ardo Ardhana (Norrm) mau isi ruang atas untuk menjalankan program-program di space yang lebih intim dari Spasial dulu. Lalu seiring perjalanan kenapa ga kita satukan aja retail space kita dengan program-program Ardo dan network yang dia punya. Jadi dedicated space. Bisa nih melebur jadi satu dan akhirnya partnership ini bertiga.

Kenapa memutuskan untuk membuat Grammars di lokasi yang cukup unik, seperti Cihapit?
Buat gue Cihapit adalah memori masa kecil. Banyak memori karena dari dulu tinggal dan tumbuh dekat situ di Terusan Ciliwung. Jadi hawa-hawa nya menyenangkan, dan lokasi juga masih di daerah Riau. Kenapa ga dilirik secara komersial ya? Temen-temen yang studio nya di Gudang Selatan juga sering banget kalau bulan puasa buka puasa di Cihapit. Pas sering lewat Aloha (Resto yang sekarang dipakai Grammars) kita lihat lokasi ini bagus dan sudah vacant atau kosong.

Ada cerita menarik juga nih soal si Tante owner lokasi kita. Kita bukan orang pertama yang mau nyewa lokasi itu. Sempat ada chain minimarket yang ditolak sama si Tante. Kata si Tante kalau minimarket ini diambil sewanya, nanti pasar-pasar dan pedagang sekitar bisa mati bisnis nya. Padahal secara angka dan komitmen bisa lebih menjanjikan dari kita (Grammars). Keren banget si Tante punya kepedulian sosial terhadap sesama warga nya. Kita juga presentasi ke dia soal apa yang mau kita buat dan seperti apa mood nya si Grammars. AKhirnya disetujui lewat proses seleksi juga. Selain itu, Kita sewa Cihapit no. 6 itu cukup luas, kita ga berani sewa sendiri. Jadi akhirnya kita kontrak tempat itu berempat sama si Acong Gang Nikmat. Gang Nikmat ambil belakangnya untuk outlet mereka.

Di Kanada ada toko Better Gift Shop yang pada awalnya jual stationery dan sekarang sudah menjadi brand yang bisa kolaborasi dengan botol minum Nalgene sampai sepatu Salomon. Apa lo ingin mengembangkan Grammars untuk menjadi brand seperti Beams atau Better Gift Shop atau lo punya konsep lain?
Sebetulnya kita udah mulai bergerak ke arah sana. Beberapa tahun lalu kan Isu-nya apakah offline retail bisa bertahan melawan online retail yang menawarkan banyak kemudahan. Kalau kita carry satu brand di Grammars dan mereka punya kanal penjualan sendiri, apa jaminan Grammars tidak akan di bypass oleh customer? Mereka lihat barang di Grammars dan beli nya online kanal brand itu sendiri. Jadinya kita cuma jadi showcase aja. Sebagai select store, kita punya opsi yang lebih banyak, bisa membeli multiple brand di satu tempat. Dengan adanya produk eksklusif yang hanya ada di Grammars atau kolaborasi dengan brand tertentu, itu akan lebih menarik. Seperti toko Kanada yang lo bilang tadi, atau mungkin Beams Jepang lah. Beams kan banyak kolaborasi. Kita harap suatu saat itu akan meningkatkan leverage dan bagus untuk branding kita. Extra exposure.

Kategori dan varian barang-barang yang ada di toko lo apa aja?
Paling banyak memang stationery, zine, publikasi lain termasuk buku, home decor juga salah satu kategori yang paling banyak. Fashion justru paling sedikit, aksesoris juga mulai masuk tapi kuota nya dikit. Itu juga dilakukan secara sadar karena skena retail di bidang fashion itu lahan nya udah ter develop. Kalau kita seperti itu juga akan makin bikin crowded. Lebih blue ocean strategy lah. Dari start cuma 16 brand, sekarang kita nge handle hampir 80-90 brand. Kalau harus nyebutin brand nya aja nanti gue picky deh hahaha. Ga adil hahaha..

“Kita sengaja bikin blank canvas putih biar warna buah-buahan nya Los Tropis ter-highlight. Orang Indonesia ga punya istilahnya tapi orang Jepang punya: Komorebi. Yaitu sinar matahari yang tembus di antara pepohonan dan menghasilkan bayangan yang seru secara visual. “

Kalau Los Tropis itu konsep awalnya seperti apa, Nun?
Ini awalnya dari Gang Nikmat. Si Sandiyuda Dananjaya (Gang Nikmat) ngejalanin kitchen consultation yang mendevelop menu untuk orang-orang. Menjelang nikah dia pengen punya usaha sendiri. Ngobrol lah kita pas awal dia mau bikin Gang Nikmat. Lalu keresahan kita tuh kenapa di Bandung bidang F&B trend nya itu terus. Lagi rame ayam geprek, semua jual geprek. Mozzarella juga jadi rame. Dari situ mulai banyak movement yang membuat F&B di Bandung jadi lebih beragam dan membentuk karakter masing-masing. Lalu gue diajak untuk design si Los Tropis di Gempol. Seiring perjalanan, karena gue selalu bantu sisi kreatif sampe social media nya. Lalu akhirnya diajak jadi partner, sekarang kita berempat. Kebetulan salah satu partner kita si Farhan Suryadi, bapaknya memang pedagang buah di pasar induk Kramat Jati. Jadi kita punya akses untuk buah dengan kualitas bagus dan harga yang belum di mark up oleh banyak tangan.

“Karena kedua lokasi Los Tropis ga ada kanopi jadi emang misbar. Gerimis bubar. Tapi kalau lagi enak, ya bisa enak banget. Istilah nya high ceiling low floor.”

Design Los Tropis yang di Jl. Gempol dan yang baru di Jl. Padjajaran itu sangat khas dan berkarakter ya..
Yang lokasi di Gempol itu udah dipayungin sama pohon. Kita sengaja bikin blank canvas putih biar warna buah-buahan nya ter-highlight. Karena ada bayangan pohon juga harus ngasih bidang polos. Orang Indonesia ga punya istilahnya tapi orang Jepang punya: Komorebi. Sinar matahari yang tembus di antara pepohonan dan menghasilkan bayangan yang seru secara visual. Ada kedai yang memajang buah nya juga jadi secara visual kelihatan itu tempat buah bukan coffee shop. Pas lo dateng kesana matahari lagi enak ga? Cuaca Bandung itu enak banget. Cuma kalau hujan bubar. Karena kedua lokasi kita ga ada kanopi jadi emang misbar. Tapi kalau lagi enak, ya bisa enak banget. Istilah nya high ceiling low floor. Semoga jadi experience yang bagus apalagi kalau dateng pas matahari sore, pas golden hour.

Sebagai interior designer, menurut lo good interior design itu yang seperti apa?
Yang bagus itu yang pasti tidak terikat sama budget. Tapi dengan ada nya batasan budget malah bisa bikin kita lebih kreatif. Dengan space dan budget yang tidak terbatas itu malah bikin bingung. Design tuh harus bisa menengahi batasan budget, ruang dan operasional si user nya. Menemukan solusi dari semua itu adalah design yang bagus.

“Kalo design service / jasa ada rasanya kita mengabdi ke kaum bourgeois, sementara pernah merasakan semangat egaliter dari scene musik Bandung kan. Tapi sekarang gue jadi agen gentrifikasi hahaha.. Jadi bikin Cihapit mahal.”

Bisa ceritakan transisi lo dari interior ke retail?
Gue merasa yang gue jalanin sebagai profesi (interior) mulai merasa membosankan, karena sebatas mencari nafkah. Apalagi yang diolah bukan sesuatu yang bisa dinikmati oleh publik luas. Bukan sesuatu yang relate dengan banyak orang. Rasanya ga ada kontribusi ke semangat anak-anak yang ada selama ini. Bahkan ketika Spasial harus tutup juga ga punya daya apa-apa. Kalo temen-temen yang di musik kontribusinya direct gitu. Yang punya record label misalnya. Kalo design service / jasa ada rasanya kita mengabdi ke kaum bourgeois, sementara pernah merasakan semangat egaliter dari scene musik Bandung kan. Tapi sekarang gue jadi agen gentrifikasi hahaha.. Jadi bikin Cihapit mahal.

Lo juga kadang bikin cover album kan?
Nah itu history kita juga ya, dulu pernah bikin cover Jolly Jumper hahaha.. Nah ini kerjaan design gue yang jarang dibahas. Dulu pertama mulai dari bikin kover RNRM yang album Outbox. Pas Jolly Jumper punya rencana untuk bikin album dulu, kita kan ngobrol. Ternyata proses nya lebih panjang dari yang kita rencanain. Ilustrasi yang udah dibuat harus diganti karena ada pergantian personil dan photoshoot ulang haha. Hampir mundur 2 tahun mungkin ya dulu? Tapi proses nya yang seru sih dan nempel karena sama-sama ngejalanin nya. Dulu jaman Factory Records ada Peter Saville ya. Ga Tau sekarang bikin cover album jadi spesialisasi ga sih. Terakhir gue bikin cover dan ilustrasi vinyl si Munir yang kompilasi Tanamur. Dulu sempat juga bikin cover Maliq & D’Essentials yang Sriwedari dan Musik Pop.

Total udah bikin kover album siapa aja?
RNRM – Outbox (2007)
Jolly Jumper – Feels (2012)
The SIGIT – Detourn (2013)
Maliq & D’Essentials – Sriwedari (2013), Musik Pop (2014)
Laleilmanino – Sayang (2021)
VA – Tanamur City (2021)

Sebagai pengusaha F&B, Top 5 hidden gem tempat makan favorit lo di Bandung apa aja?

1. Ayam Goreng Pa Nanang:
“Kemarin baru makan ini, di Lembang sebelah Ayam Brebes. Ini asli definisi hidden gem. Tempatnya kaya time capsule, gak disentuh waktu. Ayam goreng, sambal dadak & petai nya enak banget.”
2. Nasi Telur Sumber Rezeki:
“Ini di Pasar Cihapit. Sederhana, murah meriah dan enak. Ini highlight gue juga.”
3. Bakmi Tasik San Jose:
“Lagi nongkrong di Los Tropis Padjadjaran, kemarin makan Lau Cu Pan enak banget. Kalau lagi di Los Tropis Padjajaran bisa gojek nih Lau Cu Pan nya, enak banget.”
4. Set n Rise:
“Ini tempat baru punya temen-temen, masih fresh. Izakaya ala Jepang. Berlokasi di Cibeunying. Ada bakar-bakaran yakitori dan minuman kaya highball dan beer. Sangat cocok untuk laidback after hours, pulang ngantor.”
5. Seroja Bakery:
“Ini baru pindah ke Cihapit. Gelombang baru gairah F&B angkatan sekarang yang berani dengan eksplorasi bahan dan identitas nusantara. Memecah kebuntuan F&B Bandung yang sempat didominasi oleh duplikasi ayam geprek dan seblak aja. Perlu banget diapresiasi. Favorit: Taco Kambing Muda & Pavlova Buah Musim.”
Honorable mention: Warung Nasi Teh Neng Muararajeun
“Untuk tanggal tua ini sip banget hahaha.”

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Zanun’s Archives

Mungkin kita mengenal Vidi Nurhadi dari brand Maternal Disaster yang lebih dikenal dengan homage logo Winston Smith / Dead Kennedys nya. Logo M yang ditusuk pedang tersebut bisa kamu lihat dimana-mana, dan rupanya Maternal pun sudah mempunyai anak perusahaan dalam departemen record label (Disaster Records) dan publishing house (Consumed). Uniknya, Maternal tidak hanya membuat konser-konser yang banyak didatangi crowd hardcore/punk, doom dan stoner-rock saja, pada awal berdiri sampai sekarang mereka masih banyak mengadakan eksibisi seni juga. Tema-tema gelap yang diusungnya pun tidak berhenti di T-shirt saja; sports bra, bola basket, jigsaw puzzle, headphone bluetooth, gitar sampai selimut pun sudah mereka produksi. Simak obrolan JEURNALS bersama Vidi berikut ini…

_____________________________________________________

“Sebenarnya yang dijalankan di hidup saya atau Maternal itu ga ada planning sama sekali. Sialnya, Maternal itu ga pernah ada strategi atau target yang ingin dicapai. Soalnya dari dulu saya teh emang ga punya cita-cita.” -Vidi Nurhadi

_____________________________________________________


Apa yang membuat lo tergugah untuk membuat Maternal Disaster pada awalnya? Brand-brand atau band apa saja yang menginspirasi lo untuk masuk ke subculture ini?

 


 

Yang tergugah sebenernya ga ada. Awalnya cuma ikut-ikutan aja sih. Karena lingkungan pada saat itu memang lagi seru-serunya. Anak-anak di tongkrongan lagi eksperimen sesuatu, nyablon ini itu, ya jadi nya cuma nyalurin hobi aja sih. Dulu suka nongkrong di Venom (Distro) yang jual rilisan dan merch musik. Anak-anak itu memang suka pada nyablon sendiri. Awalnya cuma ikut-ikutan aja, kebetulan suka gambar juga. Brand yang menginspirasi sih Volcom dan Insight. Band mah ga ada yang menginspirasi, paling mungkin Puppen karena Puppen pake Volcom, jadi akhirnya tau Volcom. Cuma band yang menginspirasi ke design sih kayaknya ga ada.

 

Sepertinya Maternal juga memiliki ketertarikan di bidang book publishing dengan Consumed. Ceritakan sedikit mengenai proses development buku “Ken” dan “Forever 16” yang dirilis oleh Consumed… 

 


 

Niat awalnya si Consumed tuh mau bikin majalah cetak, udah lama pisan mungkin dari tahun 2013-2015 idenya. Cuma ga ada yang nge-running aja. kebetulan ada obrolan sama Ken juga untuk bikin buku dia. Prosesnya sekitar 5 tahunan. Pas udah beres yaudah dirilis di Consumed aja bukan di Maternal. Waktu itu tuh awalnya mau bikin majalah cuma agak susah ngumpulin waktu dan orangnya. Jadi nya jadi publisher. Produk buku Ken itu pengerjaannya lama di pengarsipan dan ngumpulin plus scan gambar-gambarnya. 


Bisa kerjasama sama Ken itu berawal dari obrolan iseng aja, tapi saya juga memang banyak terinspirasi dari gambar-gambarnya dia. Beres itu lanjut bikin buku Forever 16. Sebenarnya waktu ultah ke 16 Maternal bingung mau bikin apa, dan kebetulan pengarsipan tiap issue / koleksi kita selalu ada walau ga lengkap. Kita bikin buku ini untuk merangkum instalasi toko dan konsep dari tiap issue. Ada juga testimoni-testimoni dari temen-temen yang pernah kerjasama bareng kita. 

 

Projek Consumed berikutnya akan merilis apa nih? 

 

Sebenernya udah banyak rencana kaya bukunya Riandy Karuniawan, Morrgth dan ada juga rencana bikin buku sama Ucok (Herry Sutresna). Semuanya terhambat gara-gara pandemi ini. Sekarang yang lagi jalan sih bukunya Paste While Wheat. Mudah-mudahan bisa produksi bulan depan.

 

Mengenai departemen musik Maternal; Disaster Records, apa saja yang ingin lo capai dengan membuat record label?

 

 

Sebenarnya yang dijalankan di hidup saya atau Maternal ga ada planning sama sekali. Dari awal bikin Maternal juga ga ada yang ingin dicapai atau pengen apa-apa, cuma kebetulan (saya) ada di situ dan ikut-ikutan. Sama juga dengan Disaster, dari awal juga ga ada rencana bikin record label. Awalnya dulu kita sering kolab sama band harus selalu ada rilisannya, kaya kolab sm A.L.I.C.E dan Polyester Embassy ada CD nya, cuman ada kaset, Avhath kaset, nah dari situ banyak orang pengen rilisan nya aja, kadang ga pengen merchnya. Sampe banyak juga yang salah paham Maternal disangkanya record label, jadi banyak yang pengen dirilis. Oh ya udah kita bikin record label aja akhirnya. Kalo pencapaian mah ga ada sih.. Cuma seneng aja bikin-bikin gitu.. Resep lah..

 

Ceritakan sedikit mengenai Top 5 record labels versi lo yang menginspirasi si Disaster Records…

 

Harder Records, Southern Lord, Sacred Bones, Grimloc, Sub Pop.. Standar lah. Saya tuh dari SMP-SMA jarang banget dengerin album luar sebenarnya. Akses terbatas. Rumah orang tua saya teh dulu udah mah di Cimahi, terpelosok lagi di Cibeber, jadi akses ke kota Cimahi juga repot. Naik sepeda atau angkot aja jauh. Satu-satunya akses musik teh paling yang dibawa temen. Jadi ada temen yang bawa kaset, kebanyakan kaset lokal rilisan Harder dan Riotic Records kaya: Blind to See, Jeruji, Savor of Filth, Puppen, Balcony, kompilasi Brain Beverages, atau kaset-kaset bonus dari majalah Ripple dulu. 


Akses hanya dari situ, dan pada saat itu belum ngerti juga apa itu record label? Saya nyangkanya Harder juga dulu toko aja ga tau record label teh gimana..  Jadi cuma beli atau pinjem dan dengekeun weh.  Jadi korelasi dari band ke record label gatau blank aja. Kadang cuma dengerin bandnya ga tau juga record label nya apa. Kalau Southern Lord awalnya dari lihat brand campaign brand apa gitu pas liat kredit lagunya Sunn O))), naha kieu lagu teh? Oh Sunn O)))  teh band Southern Lord, jadi lebih digging. Kalo sebelum itu sih lebih ngalamin Drive-Thru Records atau Fat Wreck Chords.. Haha.. 

 

Dengan lesunya perdagangan disaat pandemi ini, tentunya berakibat ke melemahnya penjualan toko-toko offline dimana-mana, dan bahkan beberapa parbrik kain pun terancam tutup. Harga bahan naik, Supply and demand menurun. Apa aja strategi yang lo terapkan sekarang untuk tetap bisa mengejar target dan survive? 

 


 

Sialnya, Maternal itu ga pernah ada strategi atau target yang ingin dicapai. Dengan adanya pandemi saya juga bingung. Maternal itu melemah atau masih bagus (penjualannya). Analisanya juga belum ada. Masih pada belajar. Tapi kalau misalnya memang turun ya strategi yang diterapkan ya ga ada. Paling intuisinya mengurangi budget promosi dan mengurangi produksi. Kemarin sempet ada promo free ongkir Gojek tetap saja kurang efektif. 

 


 

Sebenarnya bisa dibilang penjualan online masih bagus. Selama saya dagang malah 2020 paling bagus. Cuma masuk 2021 mulai online terdampak, apalagi offline. Strategi sekarang mah yang penting sehat-sehat dulu aja, agar penyebaran (Covid) ga terlalu luas. Soalnya bingung juga mau strategi apa. Mau diskon gede-gedean juga ntar orang ga boleh kumpul..

 

Lo sudah pernah membuat boxing glove, bola basket, headphone bluetooth, pentil motor, sports bra sampai board game ular tangga. Produk-produk nyeleneh apa lagi yang ingin lo bikin tapi masih belum kesampaian? 

 


 

Sebenarnya yang pengen banget, nu hayang pisan mah ga ada. Cuma ada yang pernah mau dibikin ga jadi tuh handphone. Tapi yang cuma bisa sms dan nelpon. Kita ga jadi takutnya ada hubungan dengan provider, misal HP nya ga cocok sama sim card GSM sini dan taunya Supreme juga bikin handphone. Intinya mah gajadi aja. Kita juga disini sama anak-anak ga terlalu memaksakan sih, jadi yang bisa dibikin ya dibikin, yang ga bisa ya gausah. Sebenarnya saya juga dapat input dari komen-komen Instagram. Ada yang nanya iseng produk yang ga ada yaudah saya bikin aja. Kagok jadiin data aja si comment section Instagram daripada dipikiran teuing. 


 

 

Ada yang komen “bikin cangcut (celana dalam)” ya emang udah pernah bikin juga cangcut segitiga hahaha. Nah kalau ada yang komen produk yang kita belum bikin ya akhirnya kita bikin aja, kita ikutin.  

 

Apa saja produk tidak umum lo yang ternyata banyak sekali peminatnya diluar dugaan lo?

 


 

Sebenernya hampir 90% laku. Kebanyakan yang kurang laku yang merknya kurang terlihat. Orang beli produk tuh pengen dilihat orang lain juga kan? Jadi seperti produk mangkok kita yang disimpan dirumah aja ya kurang bagus penjualannya. Seperti botol minuman kan kelihatan, aksesoris motor kaya tempat plat nomer laku soalnya kelihatan.

 


 

Dengan brand lokal dan luar sudah berkolaborasi dengan siapa saja? Bisa ceritakan sedikit tentang kolaborasi-kolaborasi berikutnya?

 

Kalau brand lokal mah udah banyak banget, saya juga udah ga bisa hitung. Sama Bastards Of Young aja kan udah pernah 2 kali. Kalau brand luar memang saya ga ngejar, tapi pernah sama Corpse Board New York, Singapore This Is Alley. Yang ngajak banyak banget, cuma ga pernah direspon soalnya bahasa inggris saya kurang bagus, dulu juga kita produksi ga selancar sekarang, jadi ga pede pas dulu diajakin Bowery Australia.


Pernah juga mau kolab sama Anti Sweden Anti Denim, cuma gajadi karena kitanya yang dulu ga sanggup. Kalau next sih banyak ada sama TDS, Swell, Mesin Tempur. Ada juga Family Values yang banyakan. Kolab brand-brand Bandung, ga semua sih, cuma memang kan awalnya planning si Brez, cari dulu aja brand yang dekat-dekat dulu dan kenal biar prosesnya bisa cepet. Pengennya sebanyak mungkin cuma karena ada sisi urgent buat donasi ya harus cepet. Jadi Fam Values ini teh kolab brand-brand yang hasil penjualannya akan di donasi kan ke Solidaritas Sosial Bandung. 

 

Dengan banyaknya restriksi dan ruang gerak selama pandemi ini, kita harus lebih kreatif dan efisien dalam beraktivitas. Apakah dampak pandemi signifikan untuk kehidupan personal dan profesional lo?

 


 

Kalau saya pribadi sih sebelum pandemi juga udah jarang nongkrong, udah jarang main. Apalagi setelah punya anak agak rada susah apalagi anak ada 2. Jadi pas pandemi sebenarnya untuk saya pribadi sih ga banyak berubah. Paling yang bikin bete ga bisa ke bioskop aja dan susah ketemu temen-temen. Da saya mah jarang nongkrong atau makan di resto. Jadi ga terlalu kehilangan juga kalau ga bisa dine-in. Kalau dari sisi bisnis banyak terkendala soalnya banyak pabrik ada yang WFH (Work From Home) atau tutup. Proses produksi dan kreatif jadi lambat, terhambat oleh WFH dan masalah komunikasi.

 

Jika ada satu atau beberapa hal yang bisa lo rubah dari Maternal, apa yang akan lo rubah?

 

 

Ga ada sih, (walaupun) Maternal teh sampai saat ini masih banyak masalah intern atau organisasi yang masih berantakan dan harus dibenerin. Kalau dirubah flow gawe ntar jadi ga nyaman. Kalau lebih diketatkan apalagi. Paling ya saya terus belajar aja sih. Cuma saya sih pribadi ga pengen berubah. Kalau bisa mah saya pengen dengan kondisi seperti sekarang tapi harga tanah masih harga jaman dulu hahaha. 

 

Sebenarnya kalau orang lain mah ngomong pengen keluar dari zona nyaman, kalau saya mah gamau. Kalau saya sih justru kalau udah nyaman ya ngga mau keluar dari zona nyaman. Justru aneh kalau menurut saya hahaha. Yang ada sih justru saya sampai sekarang tuh belum nyaman-nyaman. Posisi ngeunah teh can beunang wae. Flow produksi belum enak. Karena itu saya pengen ngejar kenyamanan dulu. Soalnya kalau ngomongin keluar dari zona nyaman, tanpa dicari juga bakal selalu ada ketidaknyamanan tersebut hahaha..

 

Jika lo bisa kembali ke masa lalu, apa yang bakal lo katakan ke Vidi Nurhadi 20 tahun lalu?

 


 

Hmm 20 tahun lalu.. Vidi yang masih SMA? Ngomong naon nya hahaha. Kalau saya bilang suruh dia bikin brand malah beda ntar akhirnya malah ada universe Vidi yang lain hahaha. Kayaknya kalau saya punya mesin waktu saya ga akan ngomong apa-apa sama Vidi yang dulu. Paling cuma pengen lihat memori-memori dulu saya gimana. Soalnya dari dulu saya teh emang ga punya cita-cita. Masuk Itenas juga gara-gara ada skatepark nya. Pas udah kuliah juga malah ga maen skate hahaha. 

 

Mungkin satu-satu nya yang saya bilang ke Vidi 20 tahun lalu: Kumpulin kaset-kaset jangan dipinjemin. Di apik-apik barang-barang nya. Dulu soalnya suka ada covernya, kasetnya ga ada. Jual mobil kasetnya kebawa juga. Tapi pernah sih dulu beli kaset Balcony album ‘Terkarbonasi’ dapet kasetnya doang, nah saya kebetulan punya covernya doang jadi cocok. Majalah-majalah kaya Ripple dan Boardriders juga pengen nya mah dulu teh diapik-apik.

 

Apa hal paling gila dan pengorbanan terbesar lo untuk Maternal?

 

Pengorbanan terbesar sih ya waktu. Sama dulu pernah pinjam sertifikat rumah orang tua sebagai jaminan buat modal. Sertifikat rumah kan bukan yang saya sebenarnya hahaha. Dulu teh ga pernah pulang kerumah, kuliah gak lulus-lulus, dateng-dateng kerumah pinjam sertifikat hahaha. Dulu  kebetulan adik saya baru kerja di bank dan ada target. Jadi akhirnya dikasih pinjem juga sertifikat sama orang tua. Padahal orang tua saya ga ada basic di bisnis jadi pasti was-was minjemin sertifikat rumah hahaha. Cuma untungnya aja dulu tuh dikasih pinjem sertifikatnya. Sekarang sudah lunas juga jadi ya udah tenang sih. 

 

Sekarang keterlibatan di Maternal apa aja? Masih nge design dan mengerjakan departemen lain juga?

 


 

Masih nge design. Hasil akhir worksheet dan PO juga masih saya sendiri yang bikin. Cuma udah dibantu aja untuk jumlah quantity. Ilustrasi juga dibantu gambar sama Dannus dan Bejo. Mungkin karena saya masih suka nge design kali ya. Dan saya kalau ga ngelakuin sesuatu tuh kaya geje aja. Jadinya ga enak dan stress. Siga nu gering teu pararuguh…

_____________________________________________________

 

“Saya emang lebih sibuk dari pada anak Maternal yang lain. Saya juga tipikalnya digaji, jadi saya absen juga. Posisi saya disini ya karyawan. Saya juga sering banget disuruh-suruh sama anak-anak lain malah haha. Cuma kalau ada meeting saya memposisikan diri saya sebagai direktur. Saya semacam punya dua kepribadian disini” -Vidi Nurhadi

_____________________________________________________

 

Soalnya pernah dulu ke kantor lo malem-malem dan gue liat lo masih ngedit video dan foto sendirian..

 

Iya emang lebih sibuk saya dari pada anak-anak Maternal yang lain. Yang lain mah bisa nongkrong hahaha. (Saya masih nge design sendiri) Bukan nya karena ga percaya ya, cuma kadang masalah selera dan keinginan saya yang berbeda. Dan jujur saya agak jelek dalam masalah komunikasi, saya tipikal yang paling ga bisa nyuruh orang. Disini juga saya jarang nyuruh-nyuruh, ada perasaan ga enak takutnya disangka gimana. Misalnya ada hasil foto yang saya kurang suka, dari pada saya nyuruh-nyuruh untuk dibenerin mending saya aja yang benerin. Lebih ke efisiensi sih sebenernya. Cuma sekarang udah belajar dikit-dikit untuk bilang kalau misalnya ada hasil yang kurang sesuai. 

 

Jam kerja saya tuh dari jam 11 siang sampai jam 9 malam. Dan saya juga tipikalnya digaji, jadi saya absen juga. Posisi saya disini ya karyawan. Saya juga sering disuruh-suruh sama si Dinar bikin poster atau apa. Saya sering banget disuruh-suruh sama anak-anak lain malah haha. Cuma kalau ada meeting saya memposisikan diri saya sebagai direktur. Saya semacam punya dua kepribadian disini. Kalau lagi nge design ya saya jadi karyawan aja. Dulu sih pulang kerumah juga masih nge design, cuma sekarang udah ga boleh sama istri hahaha...

 

_____________________________________________________

 

“Dirumah udah ga bisa denger lagu keras, pusing juga ada anak-anak teriak terus lagunya teriak-teriak juga haha. Dirumah mah ya itu: Dua Lipa, Tayo sama Baby Shark..” -Vidi Nurhadi

_____________________________________________________

 

Last question: sedang mendengarkan band-band apa saja yang baru-baru? Apa ada rekomendasi untuk pembaca Jeurnals?

 

 

Terakhir sih ngedengerin Turnstile Love Connection, Loathe, Baby Metal sama Dropdead yang baru. Sebenernya udah jarang nge denger lagu, lagi bosen aja, yang fresh teh justru Turnstile, bikin seneng lagi denger lagu. Kalau lokal banyak sih yang bagus kaya Pleasure and Pain dari Medan, ZIP, Brigade of Crow, Senyawa yang baru, Ametis, Rounder, Nearcrush paling tah nu keur hot pisan mah hahaha… Ya itu sih rekomendasi beberapa rilisan Disaster Records. Malah sering nge denger Dua Lipa sekarang gara-gara istri haha. Soalnya dirumah udah ga bisa denger lagu keras, pusing juga ada anak-anak gogorowokan (teriak-teriak) terus lagu nya gogorowokan juga haha. Saya paling denger lagu kalau lagi kerja atau di mobil. Dirumah mah ya itu: Dua Lipa, Tayo sama Baby Shark..

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Vidi archives
Layout by Prita
 

This dude needs no introduction. Tapi buat yang belum mengenal sosok Herry Sutresna a.k.a. Ucok a.k.a. Morgue Vanguard a.k.a. Babap Kobra, dia adalah seorang lyricist handal yang lirik-lirik politisnya sudah malang-melintang di album-album Homicide, Bars of Death, Pure Saturday, proyek-proyek solonya dan masih banyak lainnya. Kini Ucok disibukkan oleh record labelnya, Grimloc dan juga brand apparel/media-nya Uprock83. Selain menjadi rapper dan produser musik, Ucok juga sudah menulis beberapa buku dan karya design grafisnya sudah banyak dipakai band-band dari Peterpan, Seringai sampai Pure Saturday. Mari simak bincang-bincang JEURNALS dengan Ucok.

 

____________________________________________________________________________________

“Saya ga peduli sih sama orang-orang yang anti-vaksin lah, atau apa lah, orang mau percaya bumi datar juga saya ga peduli. Ini era krusial dimana debat-debat soal kebebasan individu dan kepentingan banyak orang beririsan banget.”

____________________________________________________________________________________

 

Halo Cok! Bagaimana kabarnya Grimloc? Kabarnya akan merilis beberapa reissue menarik dari Hark dan Balcony? Apa saja yang akan dirilis dalam waktu dekat ini?

Kabar baik, survive so far. Kalo ngomongin rilisan agak banyak memang, ada proyek reguler, ada proyek reissue. Yang reissue ini agak bermasalah, numpuk karena akumulasi dari gagalnya perilisan di 2020. Hampir setengahnya lebih perilisan di tahun 2020 gagal rilis karena lockdown dan pandemi era pertama. Jadi banyak PR-nya di taun ini. Kayak reissue Forgotten, Balcony, Hark dan Full of Hate itu sudah direncanakan dari lama, cuma banyak halangan teknis. Yang album baru juga cukup banyak, hanya sebagian udah dirilis di kwartal awal 2021. Sisanya ada CD Inhell, CD album proyeknya Tesla Manaf, kaset Roman Catholic Skulls, Rounder dan beberapa lainnya. Ada proyek Klab 7” yang kita mulai taun ini, agendanya merilis single-single baru dan singel klasik era lawas, meski beberapa gak lawas-lawas amat. Yang baru itu Krowbar, pre-ordernya baru dibuka. Kemudian, Eyefeelsix bulan depan, yang lagi proses single klasik milik Koil, ada dua lagu baru kolabo saya sama Doyz, lalu split antara Haramarah dan Total Jerks, lalu kolabo dua lagu lama Balcony x Homicide. Sebetulnya ada juga satu 7” yang direncanakan bareng Eben kemarin, dua lagu baru Burgerkill, tapi nampaknya udah nyaris mustahil karena seperti yang kita ketahui, Eben mendahului kita semua beberapa minggu lalu. Ada beberapa yang lain, tapi ntar lah, belum fix prosesnya.

Kalau yang reissue CD, kemaren itu Homicide, lalu yang baru rilis banget Hark! It’s A Crawling Tar Tar. Sekarang momen tepat 15 tahun album itu, kita pengen rilis ulang dengan layak, di-remaster musiknya, ada booklet isinya liner notes dan arsip dokumentasi mereka. Ada album Ayperos juga, dulu sempet bikin kasetnya, sekarang pengen remaster dengan proper dan cetak CD-nya, dengan tambahan lagu singel lepas mereka. Kalau soal Balcony saya bersyukur ditunda. Karena dulu ga ada master wav-nya dan kita mencoba me-remastering dari kaset. Baru belakangan ternyata kita akhirnya nemu WAV yang lebih proper. Untung ga dirilis tahun kemarin haha. Sebenernya ga sengaja juga nemunya, karena awalnya mau nyari artwork cover untuk dibikin ulang, taunya pas si Febby nyari mentahan cover malah nemu file WAV hahaha. Kalo versi vinyl kita rilis yang mercusuarnya dulu, ‘Metafora Komposisi Imajinar (2003)’ kita anggap sebagai album esensial dan rilisan terbaik dari Balcony. Album-album Balcony lain juga akan kita rilis dalam format CD complete discography lengkap dengan booklet liner notes dan lain-lain. Sebagai tambahan spesialnya, ada beberapa versi unreleased yang ditulis almarhum Jojon. Lagu-lagu yang sempat dia tulis akan kita rilis juga di CD complete discography tersebut.

Agenda lainnya dalam waktu dekat mungkin album remix dari album saya Fateh dalam format CD. Saya ngundang beberapa band/musisi yang saya senangi dan saya pikir bakal menarik kalo mereka melakukan versi remix dari lagu-lagu di album Fateh. Ada Oktopus eks member Dalek, Mike dari Destructo Swarmbots, Nishkra, Vladvamp dari Koil, Senyawa, Tesla Manaf, Efek Rumah Kaca dan beberapa lainnya. Yang versi Senyawa malah bukan remix lagi, udah masuknya cover version sih. Sebuah kebanggaan tentunya. Bagi saya yang pasti, hasil-hasil remix yang sudah masuk sangat mengejutkan. 

Ya kurang lebih itu sih agenda dalam waktu dekat ini. Ada beberapa lagi, tapi lupa, hahahaha. Saking banyak dan tumpang tindih jadi sering lupa apa aja.

 

Lalu bagaimana nasibnya reissue album Full of Hate, yang merupakan salah satu album hardcore terbaik yang pernah dirilis di kota kembang pada era Harder Records?  

 

Masih proses remastering sekarang. Udah cukup lama memang, bahkan kelamaan. Permasalahan FOH sama dengan beberapa band lain pada era itu, ga ada masternya yang proper. Masternya dulu pake DAT yang sekarang entah kemana dan belum sempat di-digitalisasi. Jadi kita mastering pakai kaset. Di situ masalah dimulai. Permasalahan besar remastering dari kaset, tiap kaset itu surfacenya beda-beda. Kaya kaset saya lagu ke-1 dan ke-2 bagus, lagu ke-3nya jelek. Pinjam lagi dari si Baruz lagu ketiga bagus, lagu lainnya jelek. Pinjam lagi ke Aris Metalgodz dia punya yang lebih bagus. Jadi sampai sekarang tinggal 2 lagu lagi yang belum nemu versi bagusnya. Lu punya kaset Full of Hate dan saya punya juga, bakal beda-beda jeleknya dimana. Kalo masih segel belum otomatis bagus juga. Karena lama disimpan kemungkinan lebih buruk karena berjamur. Tadinya FOH ini mau rilis versi vinyl tapi kayaknya CD aja dulu.

 

Lalu apa saja 5 album independen lokal klasik favorit lo? 

 

Puppen – MK II (1998)

 

Sudah pasti Puppen EP pertama dan album MK II. Tapi atas alasan tertentu kayaknya saya pilih MK II. Bukan karena saya terlibat juga di dalam proses album itu. cuma memang banyak sekali inspirasi yang datang baik dari prosesnya, melihat mereka rekaman di studio, melihat Puppen sebagai band, atau dari album itu sendiri. “Atur Aku” bagi saya adalah salah satu lagu lokal terbaik yang pernah ditulis.

 

Rotor – Behind the 8th Ball (1992)
 

 

Album yang bagi saya membuka banyak cakrawala pisan.Saat itu mikirnya kalau album (thrash metal) dengan sound ekstrem seperti itu aja bisa, harusnya bikin hip hop yang gak lazim juga bisa. Jadi mau se-ekstrim apapun kalian main musik bisa aja. Sebelumnya kan emang pesimis. Selain faktor hegemoni industri yang dominan saat itu, pengalaman nol, juga karena memang belum ada contoh juga sebelum Rotor bikin album ini. Tentunya juga atas alasan saya fan thrash metal sejak berkenalan dengan genre itu di penghujung 80-an. Untungnya pengarsipan mereka bagus jadi ketika di-reissue, WAV-nya masih sangat bisa dibuat lebih layak pas Elevation bikin vinyl-nya.

 

Pure Saturday – Self-Titled (1995)
 

 
Yang satu ini lebih personal nampaknya, tapi saya gak bisa menampik pengaruh besar dari mereka di era itu. Saya menyaksikan proses mereka pas bikin album itu dan bukan hanya menghibur saya tapi juga sangat menginspirasi. Bukan karena ini album para sahabat saya dari kecil, tapi lebih karena membuka banyak perspektif buat saya. Hampir sama kaya Rotor lah membuka perspektifnya. Cuma kalau Rotor kan orang lain yang berbeda kota dan saya ga (belum) kenal, kalau PS kan kenal, notabene temen yang sehari-hari main bareng, literally. Sesimpel itu. Tentunya juga atas alasan karena album ini memang bagus secara artistik. Gak ada lagu jelek di album ini, sama sekali.
 
Koil – Blacklight Shines On (2007)
 

 
Saya udah lama jadi fans Koil semenjak album self-titled yang ada lagu ‘Matahari’ dan ‘Hujan’. ‘Megaloblast’ juga saya suka. Cuma saya ga pernah sebegitu takjub nya dengar Koil sampe kemudian dengerin Blacklight. Anjing! Bisa kaya gini Koil tuh! Ternyata lu bisa bikin album se-solid itu di era yang berbeda. Ternyata konsistensi sangat menentukan. Itu album 2007 pas Homicide udah mau bubar dan era akhir-akhir majalah Ripple. Saya nulis alasan mengapa saya mengagumi album ini di liner notes rilisan reissue vinyl yang Grimloc bikin 3 tahun lalu. Alasan lebih lengkapnya saya sebut semua di situ.

 

Efek Rumah Kaca – Self-Titled (2007)
 

 

 
Atas banyak alasan, tapi yang paling mencolok adalah bagaimana mereka menulis album yang bisa didengar saat sendu sendirian, berduaan dengan istri atau ditemukan di tengah sebuah diskusi panel tentang kekerasan militer di era pasca-reformasi, semuanya dilakukan seolah effortless dan tanpa terdengar pretentious.

Ya itu kalo lima sih, itu pun yang langsung kepikiran. Rata-rata album favorit saya datang dari era 90-an ke sini. Banyak lagi sebetulnya kalo dipikir lebih lama atau daftarnya lebih dari lima. Album Balcony – Metafora Komposisi Imajinar (2003), Burgerkill ‘Dua Sisi (2000)’, ‘Future Syndrome’-nya Forgotten, album semata wayangnya Hark! It’s A Crawling Tar-Tar, misalnya.

 
Lima rekomendasi band-band Bandung baru?
 

Rounder: Band generasi sekarang yang lahir pasca Alice mempopulerkan chaotic metal begituan. Bentar lagi rilis EP, dan tahun depan rilis album.
Bleach: Hardcore dengan suara dan tone kekinian juga.
Iron Voltage: Bisa jadi band thrash lokal paling favorit saya hari ini. Bentar lagi bikin album katanya.
Arrived Consilium: Neo-crust dengan vokal cewek, baru rilis EP di Bandcamp-nya kemaren.
Harm: Band crustcore Bandung Selatan, entah sekarang udah selesai belum EP-nya. Band-band crust Bandung Selatan ini belakangan berbahaya sih, banyak yang bags.

Bagaimana kabarnya dengan brand Uprock83? We miss the zine and those old school hip hop mixtape!

 

Photo by Domdom GNDHI

Basically Uprock itu dijalanin sebagai media dulu. Media saya sebagai fan hip hop berbagi apa yang saya senengin dari kelebayan saya jadi fan hip hop. Apparelnya itu belakangan setelah saya ngajak Iwan. Nah, belakangan saya gak punya energi untuk bikin medianya tadi. Bikin mixtape berenti, bikin Newsletter/Zine juga berhenti. Ya udah, saya juga gak tertarik juga bikin apparel-nya. Tentu juga ada alasan lain, misalnya saya dan Iwan overwhelmed oleh Grimloc, jadi kita istirahatkan dulu si Uprock, sampe satu waktu kita bisa nemuin lagi energi dan momentumnya. Kemarin Iwan ada ide kalo mo bikin apparel ya bikin aja, cuma saya ga mau kalau kita belum bisa bikin zine dan mixtapenya. Ga lengkap aja kalau cuma bikin apparel doang. Meskipun pasti laku-laku aja. Uprock83 itu ekspresi fandom, jadi selama ekspresi itu belum bisa keluar, (atas alasan waktu dan energi atau apapun), ya udah, istirahat dulu aja.

 

____________________________________________________________________________________

 

“Lebaran tahun kemarin itu kita ga keluar rumah sama sekali kan? Lebaran aja ga jadi apalagi bikin festival musik hahaha…”

____________________________________________________________________________________


Apa saja hal-hal paling menyebalkan yang lo alami di masa pandemi ini? Dan apa saja hal-hal terbaik yang lo temukan di masa sulit ini? 

 

Photo by Hanas Duvanc
 
Yang paling menyebalkan ya tentu seperti banyak orang lain yang kehilangan teman dan kerabat. Itu paling tai. Yang lainnya sih sekunderan, misalnya beberapa hal yang ga bisa kita lakukan pas pandemi, gagal eksekusi padahal perencanaan sudah lama. Kita pengen 2020 itu merayakan ultah satu dekade Grimloc. Tadinya mau bikin Grimloc Fest tepat di bulan Juni 2020. Pas lagi gila-gila nya pandemi, gak mungkin banget bikin festival. Lebaran tahun kemarin itu kita ga keluar rumah sama sekali ‘kan? Bisa dibayangin, lebaran aja ga jadi apalagi bikin festival hahaha. Mimpinya luar biasa; semua roster Grimloc main semua, kawan-kawan SSSLOTHHH, Eyefeelsix, Goredath, Forgotten, Wethepeople, Krowbar sampe Mesin Tempur dan Koil maen. Tapi ya sudahlah, kita ganti aja sama kompilasi ‘Dasawarsa Kebisingan’, tadinya malah ga ada rencana bikin kompilasi cuma ya pengen bikin milestone aja pas ultah Grimloc. Hal lain? Omunibus Law lah pasti, plus hal-hal lain yang yang urusannya sama otoritas di lapangan di luar sana yang males saya ceritain di sini.
 
Kalau yang personal sih mungkin saya gagal rilis buku. Salah satu benefit rilis buku adalah tour-nya. Saya ada buku baru cuma gara-gara ga bisa tour ya mendingan saya tunda. Saya ga pengen rilis buku tapi ga bisa tour. Males kalau tournya pindah ke zoom, ga fun ga bisa ketemu teman-teman. Apalagi ya? Paling sisi lainnya, pandemi mengizinkan saya beririsan dengan inisiatif-inisiatif mutual aid kaya dapur umum, yang mungkin kalau ga ada pandemi lebih sulit diorganisir. Tapi pas ada pandemi ini momennya untuk terlibat di dalamnya.

 

Hal terbaik? Apa ya? Mungkin hal-hal sepele kayak bikin webstore. Dari dulu tuh kita ga pernah beres mengeksekusi mau bikin webstore. Intinya mah males dan ga punya duit. Cuma duit bisa dicari tapi kalau udah males sulit ya? Haha. Gara-gara pandemi, offline tutup dan kita ga nyaman di marketplace, jadi yaudah kita investasi untuk bikin aktivasi jualan di webstore. Berlaku juga sama workshop artprint kita, dulu rasanya males banget buat mulai, tapi kemaren gara-gara pandemi dan ikutan pameran grafis di Grammars Cihapit, jadi punya workshop setelah mikirin apa yang bisa dilakuin di saat karantina begitu.

Apakah bisa mengelaborasi sedikit mengenai gagasan awal kawan-kawan di Solidaritas Sosial Bandung (SSB) dengan dapur umum dan kebun warga nya? Sudah se-masif apa pergerakan kolektif tersebut?

 

Pengukuran masif atau engganya kalau buat saya lebih ke bagaimana ter-diaspora gerakan nya daripada membesar. Saya bersyukur ide-ide kawan-kawan berdiaspora dan menyebar. Bukan inisiatif 1-2 orang, tapi inisiatif banyak orang. Jadi bahkan orang-orang yang random dan ga saling kenal jadi terhubung dan berinisiatif. Kaya rhizomatic gitu. Gagasannya sih sederhana, bagaimana merespon realita sosial di luar sana yang butuh direspon sama kawan-kawan, terutama dalam wilayah krisis pangan, wilayah distribusi dan logistik dan lain sebagainya. Bukan cuma gara-gara isoman-isoman, karena isu isoman baru belakangan. Awalnya banyak kawan-kawan berhenti kerja dan ga bisa makan. Dari situ kita bagi-bagi tugas, siapa yang cari logistik, siapa yang organisir dapur, siapa yang masak, siapa yang distribusi dsb. Pada akhirnya yang terjangkau melampaui ekspektasi, bukan kawan-kawan yang bisa diraih, tapi juga warga lain yang juga terdampak.
 
Proyek dapur umum ini gerakannya memang simultan dengan kebun warga. Bukan kayak logika duluan mana ayam atau telur, tetapi kedua gagasan itu muncul berbarengan. Resource-nya beragam, dari mulai donasi terbuka, fundraising jual kaos termasuk bikin album kompilasi dan juga dari kawan-kawan yang menyediakan ruang-ruang untuk berkebun. Donasi itu ga selalu berupa uang. Bisa juga tanah kosong yang bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Di Bandung pernah sampe ada 17 posko SSB, karena ini bukan sistem yang terpusat. Bagaimana kawan-kawan bisa mengemansipasi kawan-kawan lain untuk bikin dapur umum terdekat di lingkungan mereka. Lu punya tanah, lu punya potensi kerja-kerja kewargaan, lu bisa kontakan ama warga sekitar, ya lu bikin. Jangan sampai ada kawan berkebutuhan di Bandung Timur ngambil logistik di Bandung Barat. Udah aja lu masak di Bandung Timur. Itu positifnya dari sistem desentralisasi, ga ada pusat. Justru antar titik bisa saling berbagi sumber daya, misalnya ada surplus tomat di Bandung Barat bisa ngabarin ke titik lain yang membutuhkan. Jejaring ini yang coba dirawat dan mencoba terkoneksi dengan yang serupa di kota lain. Kadang kalo di kita ada surplus sumber daya keuangan, kita salurkan ke titik di kota lain yang membutuhkan. Seiring waktu memang ada pengurangan karena memang mempertahankan lebih susah dari bikin. Ada beberapa kendala personal atau kolektif yang memang harus dimaklumi. Pas gila-gilanya naik angka/curva covid, kawan-kawan kena juga. Jadi ada yang overlap masak iya, delivery iya, pemetaan juga, nganterin logistik jadi kecapean, dan banyak juga yang kena covid.
 

___________________________________________________________________

 

“Barangkali Bandung memungkinkan untuk itu, kalian bisa sebangku sama siapa, temenan sama siapa, terus bikin band yang berbeda dan pada akhirnya tetap nangkring bareng.”  


___________________________________________________________________

 

 

Mungkin selain menulis lirik di proyek solo, Bars of Death dan Homicide, banyak juga yang tidak percaya kalau beberapa judul lagu dan lirik Pure Saturday lo yang tulis. Gimana ceritanya dulu bisa menulis lage bareng mereka? 
 
Sebenarnya banyak sih bukan Pure Saturday aja, cuma saya ga akan bilang. Ghostwriting hahaha. Kalau PS emang saya ada di credit. Kalo ditanya gimana bisa gitu, basically, ya memang sebelum jadi ngapa-ngapain di kemudian hari, kita semua teman main, sejak SMP. Gimana sih temen, saya punya masalah ya sharing sama teman. Begitu juga mereka ketika mereka ada kendala teknis cerita sama saya. Ya teman bantu teman aja. Ya mungkin kalau pada saat itu mereka temenan sama siapa gitu yang bisa nulis lirik lebih proper, cuma kebetulan pada saat itu saya yang ada di sana. Selama itu juga saya besar bersama mereka. Gede bareng ti ABG. Si Adi (Aditya Ardinugraha) malah teman sebangku saya. Sesederhana itu aja sih. Jadi jawaban gak pastinya; barangkali Bandung memungkinkan untuk itu, kalian bisa sebangku sama siapa, temenan sama siapa, terus bikin band yang berbeda dan pada akhirnya tetap nangkring bareng.
 
Sebagai graphic designer, lo juga banyak membuat logo-logo band dan juga brand. Dari logo Peterpan sampai membantu mendesain cover album Pure Saturday. Album-album dan logo-logo apa saja yang sudah dikerjakan? 
 
Photo by Easthood
 
Hhmm lupa. Apa ya? Sampul album? Basically saya itu desainer grafis, level teknis nya berbeda beda. Ada yang dari awal sama saya dibikin, dari mulai ilustrasinya, layoutnya, bahkan ada yang sampe typeface-nya saya sengaja bikin. Ada yang saya cuma layout aja, ada yang artwork-nya aja, ada yang Cuma tipografinya aja. Dan dari semua macemnya itu kalo diitung banyak banget, malah udah banyak yang saya lupa. Ada yang artworknya setengah-setengah, kayak album Taruk, ‘Bara Dalam Lebam’, sampul depan oleh Morgan, layout dan artwork dalam oleh saya. Ada yang bikin konsep sampai hurufnya kaya album si D’Army – ‘Negeri Kutukan (2007)’. Hampir semua rilisan Grimloc saya yang layout. Mostly sih pada akhirnya pas Grimloc jalan 5 taunan, saya jadi lebih kayak creative/art director dan layout aja. Kayak sampul album Krowbar misalnya, saya yang ngonsep tapi sampe level eksekusi saya minta si Tahu yang motret. Begitu juga album reissue debut Forgotten, saya minta Aditia Wardhana eksekusi ide saya. Anjing Tanah – “Complete Discography” juga, foto sampulnya yang si Lumax digulung badut Winnie The Pooh itu saya yang usulkan, saya minta Pepey yang motret, itu orang-orang yang lagi lewat di jalan Banda pada heran, kenapa ada orang digebukin badut. Selanjutnya saya cuma eksekusi fotokopi dan layout, tipografi aja, ilustrasi dalamnya si Lukita yang saya minta kerjakan.
 
Jadi lo kaya Alfred Lion dan Franciss Wolff nya di Grimloc ya?
 
Jeung tukang setting oge. Tukang setting Pagarsih. Kabeh lah hahaha. Saya pernah ngeburuh di pabrik percetakan, jadi skill setting saya lumayan cakep, hahahaha. Apalagi ya? Banyak sih, Pure Saturday dan beberapa yang lain. Kalau cuma layout doang kaya album Seringai yang ‘Seperti Api’, Arian kasih mentahan saya yang layout. Kalo di luar Grimloc saya udah hampir lupa apa aja dan mungkin setengahnya rilisan Lawless Records kayak albumnya Hurt Em misalnya, juga rilisan-rilisan Elevation Records kayak reissue vinyl trilogi Gombloh dan Rotor kemaren. Mostly sih layout aja, nya jiga album maneh lah hahahaha (Nearcrush‘Bloodsports & Modern Arts’). Album Peterpan ‘Suara Lainnya (2012)’ dari ide, moodboard sampai layout akhir saya yang bikin meski pada akhirnya layout jadi agak menyebalkan karena permintaan tambahan ini itu dari pihak label. Album debut Risa Saraswati yang tahun 2011, begitu pula album Godless Symptoms yang baru akan dirilis sama Disaster Records sebentar lagi. Yang lebih dari 10 tahun sih udah lupa banget, harus lihat daftarnya di komputer, hahaha. 

 

Selain swiss design dan inspirasi dari label seperti Stones Throw, Def Jux atau Dischord, inspirasi-inspirasi grafis/visual terbesar lo apa saja?
 
Saya teh fans pisan sama David Carson dari jaman dulu. Dia ada di tengah-tengah antara swiss desain dan punk rock. Walaupun ga terukur, dia tuh anti-grid banget. Memanfaatkan negative space-nya tuh swiss design banget. Saya juga fans banget sama poster-poster Rusia, ya konstruktivist pada umumnya. Brutalist, Bauhaus dada-dada gitu lah. Ya itu mah mazhab ya. Hip hop juga tentu, terlebih visual hip hop era 80-an akhir sampe 90-an awal. Era grafis Memphis gitu, modelan Yo! MTV Rap. Juga penggayaan hardcore 90-an awal. Sebenernya referensi desain terbesar saya mah punk rock karena saya besar dengan punk rock meskipun pada akhirnya seringnya mikir grid kayak swiss desain banyak ngebantu. Kaya Gee Vaucher (Crass) dengan kolasenya. Sampe sekarang saya mainin kolase, kemaren Domesticrust dari mana lagi kalau bukan dari Gee Vaucher. Dari punk referensi paling paling favorit itu Mark McCoy dari era Charles Bronson-nya. Anjing bagus pisan! Sampe sekarang saya fans berat Mark McCoy. Ajaib gimana dia maenin metode fotokopi manual, drawing-fotokopi bolak-balik, komputer-manual-komputer-manual.

 

Kaya album Balcony yang ‘Metafora Komposisi Imajinar (2007)’ itu juga fotokopi ya? Pakai lakban segala kan di foto-fotonya?
 
Itu mostly sih Febby yang buat. Kesetanan David Carson juga. Semua album Balcony juga pada eranya pake teknik jadul. Basically karena keterbatasan teknik pada era itu ya harus kaya gitu, kalau jaman sekarang bisa digital, tinggal nempelin tekstur. Jaman dulu ada lakbannya di-layout album Balcony ya karena emang nya’an lakban hahaha. Ya balik lagi ke desain, ya inspirasi terbesar mostly punk rock lah. Majalah Heartattack, Maximum Rocknroll, Profane Existence. Album-album crust core meskipun beda-beda desainer tapi mirip-mirip kan hahaha.
 
Apakah sulit untuk membuat semua rilisan album Grimloc Records memiliki nuansa visual dan karakter yang senada? Yang gue liat juga kaya rilisan Stones Throw, Dischord, Grimloc walaupun berbeda designer dan karakter tapi terlihat “Oh ini album rilisan Dischord, ini rilisan Grimloc”..
 
Sulit sih ngga, Cuma emang gak pernah direncanain untuk senada juga. Tapi kadang saya nyadar suka ada yang senada. Paling engga pemilihan tipografi dan layout, ya betul sepakat sih dalam hal itu. Cuma -nya beda-beda tergantung arahan artistik-nya. Saya ga bisa nyamaratain desain album Koil dengan album Anjing Tanah hahaha. Rand Slam ga bisa saya bikin dengan feel-nya Sacred Witch. Sesuatu yang sangat berbeda secara mood-nya juga. Mostly arahan artistik dari saya, tapi ada juga diskusi dengan band-nya, atau dengan senimannya. Kaya untuk Bars of Death saya diskusi sama Riandy, bagusnya kaya apa ilustrasinya. Ongoing project kita lagi bikin sampul Eyefeelsix, saya diskusi sama Fajar Alanda yang bikin cover Burgerkill ‘Adamantine’. Tapi kadang-kadang ga melibatkan band. Kaya Anjing Tanah, saya pikir ga perlu ngobrol sama band-nya, sikat-sikat aja hahaha, yang penting saya liatin hasilnya dan mereka memberi lampu hijau “Okeyy”..
 
Ada niat pameran?
 
Ada sih, tapi ntar. Si Vidi (Maternal Disaster) sempet ngajak. Pameran artprint saya. Harusnya tahun kemaren juga ada rencana pameran di beberapa kota, dan dapet undangan pameran di Tokyo dan sekaligus residensi di Rotterdam, tapi ya sekali lagi, pandemi mengubah semua rencana.

 

____________________________________________________________________________________
 

 

“Dulu bodo amat sama manajemen waktu. Kita punya seharian semalaman untuk kita sendiri. Sekarang engga. Hidup kita bukan milik kita sendiri.”

 

____________________________________________________________________________________
 

Apa saja hal-hal terbaik yang dimiliki oleh Harder Records dan tidak dimiliki oleh Grimloc? Dan sebaliknya…

 

Harder itu embrio-nya Grimloc. Kalau ga ada pengalaman sama Harder saya mungkin ga akan punya pengalaman untuk membangun Grimloc. Otomatis Grimloc memperbaiki banyak hal yang dulu miss di Harder. Saya sama Febby (Herlambang) tentunya ya. Karena, yang dulu di Harder dan sekarang di Grimloc ya cuma saya sama Febby. Sekarang lebih terorganisir dan mencoba buat sustainable. Makanya kemudian umurnya Grimloc lebih lama dari Harder. Dulu pada zamannya Harder itu ya begitu, jadi tempat komunitas, kaya melting pot dari berbagai komunitas. Sekarang juga sama tapi sekarang kita ga harus nongkrong di Grimloc, sekarang kita bisa nongkrong dimana aja, tapi semacam episentrum lah si Grimloc. Buat saya juga itu positif negatif karena saya juga gasuka Grimloc jadi sentralisasi. Seharusnya lebih menyebar aktivitasnya. Positifnya dari ngumpul bareng itu jadi banyaknya aktivitas yang bisa lahir dengan cepat karena nongkrong bareng. Dulu mungkin ga ada sosmed. Jaman dulu untuk hal-hal yang teknis kita harus ketemuan dan janjian di Harder. Sekarang semua diselesaikan oleh teknologi. Kalau sekarang mo ngurus cetakan bisa langsung ketemu di percetakan atau kirim file, kenapa harus ketemu di Grimloc? haha. Mungkin untuk beberapa hal teknis sekarang ga harus ketemu. Sekarang tuh mengefektifkan waktu untuk orang-orang seperti kita yang udah bapak-bapak itu penting. Manajemen waktu seperti itu kita ga pernah ngeh pas jaman Harder. Dulu bodo amat sama manajemen waktu. Kita dulu seolah punya seharian semalaman untuk kita sendiri. Sekarang engga. Hidup kita bukan punya kita sendiri. Dulu Harder ga serapih Grimloc dalam mengatur cash flow produksi, agenda dan lain-lain, jadi kaya take it to the next level lah.

 

_________________________________________________________________
 

 

“Sejauh ini kesimpulan saya, ini seperti yang saya yakini tentang sebab akibat. Secara makro ini akibat dari segala hal yang dibuat manusia terhadap alam.”

 

____________________________________________________________________________________
 

 

Apakah menurut lo covid ini adalah defense mechanism mother nature untuk melindungi diri, a freak random accident atau human made bio-weapon? Bagaimana lo menyikapi ini semua dengan padatnya arus informasi dan hoax yang bertebaran… 

 

Sejujurnya saya selalu mencari rujukan dalam banyak hal. Kaya misalnya lu gatau sound lu belajar sound ke yang ngerti sound. Lu mau benerin gitar ya tanya ke teknisi gitar. Benerin boombox ya ke Cikapundung. Nah, untuk hal medis dan ekologi saya belajar ke banyak orang yang ngerti. Ya tanya ke orang yang lebih tau banyak soal hal medis, kaya ke nyokap saya salah satunya yang lebih tahu banyak tentang medis. Sejauh ini kesimpulan saya, ini seperti yang saya yakini tentang sebab akibat. Secara makro ini akibat dari segala hal yang dibuat manusia terhadap alam. Lu ngerusak habitat dimana virus hidup, kaya lu rusak hutan tempat kelelawar cari makan, ya kelelawarnya ke tempat manusia lah cari makan sambil bawa virus. Ya habitatnya lu rusak. Global warming juga bukan sesuatu yang datang begitu saja. Kaya misalnya lu belajar ideologi biar ga dogmatis ya lu baca juga tandingannya. Misal Marxisme, belajarlah dan dibuktikan secara empirik, baca teks buku lain yang berlawanan dengan ideologi lu. Ya sama seperti sekarang dengan banyaknya arus informasi walaupun kita punya keterbatasan untuk absorb informasi, ya cari aja yang relevan dengan hidup lo. Dan juga cari info yang berhubungan dengan itu semua. 

Lalu bagaimana pendapat lu terhadap orang-orang yang menyebarkan informasi tidak benar di era pandemi ini?

 
Agak problematik untuk nentuin apa yang benar dan tidak di era chaos seperti ini. Meski demikian, saya ga peduli sih sama orang-orang yang anti-vaksin lah, atau apa lah, orang mau percaya bumi datar juga saya ga peduli. Ini era krusial dimana debat-debat soal kebebasan individu dan kepentingan banyak orang beririsan banget. Pertanyaan soal kebebasan untuk gak divaksin dan irisannya dengan publik, juga soal kepentingan korporasi dibalik politik dagang dan kesehatan publik. Saya berusaha untuk ga peduli beberapa hal dan lakuin aja apa yang diporsi saya aja. Ya saya sih nyuruh orang terdekat dan temen-temen vaksin aja dulu, tentu dengan prasyarat medis tertentu, yang orang medis pasti lebih tau. Dalam level propaganda, sama aja kayak ada orang yang mempromosikan ideologi neolib, ya upaya tandingannya agitasi propaganda ide-ide tandingannya.
 
Saya gak punya masalah sama orang yang berbeda pandangan, malah upaya kriminalisasi orang-orang yang kayak begitu buat kemudian di penjara kayak JRX kemaren itu harus dilawan juga. Cuma yang jadi masalah buat saya adalah ketika orang-orang itu mulai masuk ke DM atau di sosmed untuk ngajak debat dengan memulai kaya “Lucu banget, anti kapitalisme ngapain lo vaksin?”, itu kan males banget debatnya juga. Udah kelewatan gobloknya sampe males ngeladenin. Ya bisa aja masuk ke debat meskipun saya punya jawabannya, tapi ya wasting time aja gitu. Banyak lah yang ajak debat soal ini, ya adalah gausah disebut lah orangnya tar jadi drama hahaha. Intinya mah udah aja jalanin aja dulu apa yang kita yakinin.
 

Ngomongin soal informasi, ada waktunya tarung ideologi, diskursus, wacana atau apapun namanya. Lain tempat dan waktu. Saya juga suka nyerang dalam hal-hal yang sangat politis. Namanya juga perjuangan politik ada agitasi dan propaganda. Tapi itu beda konteks, dan harus dipastikan premisnya kagak goblok. Ada waktunya buat merealisasikan ide-ide, menjalankan praktek-praktek, membumikan gagasan dsb. Ada waktunya juga buat refleksi, diskusi, kritik-otokritik dan perang wilayah gagasan. Ada waktunya juga buat perang di wilayah imaji, karena kita tau para politikus beroperasi dan membuka medan juga di situ. Kayak Ridwan Kamil, orang Bandung udah paham gimana dia memanfaatkan kekuatan citra untuk mengkonstruksi realitas di luar sana. Dan saya pikir harus dilawan spectacle itu, Guy Debord guerilla squad style.

 

Jadi sekali lagi, saya mah gak heran pandemi hadir, memang mungkin sudah seharusnya seperti sekarang dengan semua yang manusia udah lakuin. Sistem hari ini busuk bukan gara-gara pandemi, pandemi cuma menelanjangi apa yang memang udah busuk. Buat saya sih gimana sekarang kita ngerespon sesuatu yang sudah terjadi diluar, dan kemudian kita saling jaga aja. Dari pada ngabisin energi untuk mencoba merubah hal-hal yang jauh dari jangkauan kita. Kalau ngomongin negara, kebijakan-kebijakan negara yang sudah ada itu sebenarnya sama horornya dengan pandemi. Omnibus Law yang kemaren rame-rame dilawan itu misalnya. Karpet merah buat korporasi untuk buka lahan misalnya. Politik upah murah dan segala tetek bengeknya. Ga ada salahnya buat kawan-kawan yang mau meneruskan mengkritik negara saat ini, go on. Mungkin ini memang saatnya untuk melakukan itu lebih intens lagi. Tapi harus juga dibarengi dengan upaya-upaya, ikhtiar-ikhtiar agar kita sesama warga bisa survive. Ngebangun basis ekonomi warga, bikin mutual aid, berserikat, berjejaring, bersolidaritas dan sebagainya. Ini bukan cuma buat pandemi, karena jauh sebelum pandemi, kapitalisme sudah melahirkan krisis.

 
Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Herry Sutresna archives, Easthood, Domdom GNDHI & Hanas Duvanc

 

Jojo’s Bizarre Adventure (JBA) adalah salah satu pengalaman paling gila, unik dan aneh bagi kami saat membaca manga atau menonton animenya. JBA sudah berjalan lebih dari 30 tahun dan terjual lebih dari 100 juta kopi. Untuk sebuah manga dan anime series, franchise JBA adalah salah satu anomali paling menarik: Di satu sisi menjadi franchise yang sangat populer tapi di sisi lain memiliki niche-market dan membutuhkan acquired taste untuk menikmati karyanya. Sebut saja unsur kekerasan, hiper-seksualitas, pose-pose awkward, fashion flamboyan, referensi musik pop, unsur supernatural sampai fakta-fakta sejarah dunia ada disini. Berbagai referensi menarik dari selera musik Araki yang bagus dan memiliki range luas tersebar di seluruh seri anime dan manga JBA. Seri 5 (Golden Wind) yang berlokasi di Italia dan seri 7 (Steel Ball Run) yang menampilkan road-trip cross-country keliling Amerika diperoleh Araki dari riset mendalam setelah mengunjungi Italia dan liburan keliling Amerika. Experience unik sudah tentu akan didapatkan oleh para pembaca manga atau penonton animenya. Spin-off Jojo’s Bizarre Adventure yang berjudul ‘Thus Spoke Kishibe Rohan’ adalah perpaduan antara kekaguman Araki terhadap filosofi Nietzsche (Thus Spoke Zarathustra) dan budaya pop. Di setiap part dan season JBA, tema, setting, dan genre storytelling Araki selalu berbeda, sehingga selalu menarik, tidak seperti Dragonball Z atau One Piece yang plot dan strukturnya story arcnya cenderung sama.

 

 
Sebagai salah satu manga yang paling influensial, mendeskripsikan Jojo’s Bizarre Adventure ternyata cukup sulit. Setelah diadaptasi menjadi anime pada tahun 2012, JBA sebentar lagi akan memasuki Season 5 (Stone Ocean). Banyak konsep karakter, visual dan ide-ide seperti konsep “Stand” menjadikan Jojo’s berbeda dari anime dan manga lain. Tidak seperti Dragon Ball Z atau Fist of the North Star dimana para karakter berkelahi pada umumnya, para karakter Jojo’s (mulai dari Stardust Crusaders) bertempur menggunakan “stand”, manifestasi fisik dari kekuatan mental para penggunanya. Dengan uniknya kekuatan para stand tersebut, pertempuran di Jojo’s tidak pernah membosankan. Beberapa stand dan karakter bahkan menggunakan nama yang diambil dari album, lagu atau nama band tertentu: Rubber Soul (Beatles), Steely Dan, Iggy (Iggy Pop), Foo Fighters, Crazy Diamond (Pink Floyd), Tusk (Fleetwood Mac), Love Deluxe (Sade) dan masih banyak lagi. Menurut Araki, beberapa karakter pun terinspirasi dari musisi dan aktor. Protagonis Jotaro Kujo terinspirasi dari Clint Eastwood, sedangkan serial killer Yoshikage Kira terlihat seperti David Bowie. Antagonis serial ini pun (DIO Brando) dinamakan dari Ronnie James Dio, vokalis Black Sabbath. 
 

 

 
Tentunya para penggemar anime akan mendapat sensasi yang aneh saat pertama kali menonton Jojo. Karena interest Araki pada high-fashion (Christian Dior dan Gianni Versace adalah favoritnya), selera pakaian para karakternya pun terlihat sangat flamboyan dan sedikit cross-dressing. Tentunya kamu yang memiliki toxic-masculinity akan “terganggu” saat melihat karakter-karakter androgini dari Golden Wind (Vento Aureo), Steel Ball Run atau Diamond is Unbreakable. Selera humor Araki pun selalu berusaha menyentil norma sosial, memecah tabu dan kadang menjadi offensive untuk beberapa pembaca / penonton Jojo baru. Araki mengakui banyak terpengaruh oleh seniman/pelukis Perancis Paul Gauguin sebelum memulai karirnya di dunia manga. Kejeniusan Araki akhirnya diakui di Perancis. Karya nya “Rohan at the Louvre”, yang menggunakan karakter Jojo Kishibe Rohan, dipamerkan  di museum Louvre Paris pada tahun 2009. Pada tahun 2011 Araki juga sempat berkolaborasi dengan brand fashion couture Gucci untuk eksibisi Gucci x Hirohiko Araki x Spur magazine yang dipamerkan di Gucci store Shinjuku. Eksibisi yang bertema “Rohan Kishibe Goes to Gucci” ini adalah selebrasi ulang tahun Gucci yang ke-90. Eksibisi ini juga menampilkan figure life-size Rohan Kishibe dan juga berbagai ilustrasi (termasuk 2011-2012 fall/winter collection yang menampilkan Rohan dan Jolyne Kujo menggunakan Gucci). Araki juga pernah berkolavborasi dengan brand footwear Vans. Sampai-sampai Billie Eilish pun terlihat memakai baju Jojo (walau menurut kami dia hanya poser otaku saja). Tapi tentunya yang paling epic adalah patung life-size Jotaro Kujo yang dipamerkan di Comic Con New York 2017.
 

 
Karir Araki dimulai dari manga bertemakan koboy Poker Under Arms (1980) yang tepilih dalam penghargaan Tezuka Awards. Pada tahun 1983 Araki mulai membuat manga series berjudul Cool Shock B.T., mengenai seorang ahli sihir yang memecahkan berbagai misteri. Araki pertama kali menggunakan kekerasan dan gore pada tahun 1984 dengan manga berjudul Baoh, yang diadptasi menjadi anime di tahun 1989. Baoh adalah salah satu anime yang sangat kami rekomendasikan dari visual dan storytellingnya. Seri berikutnya yang Araki kerjakan adalah magnum opusnya, yaitu Jojo’s Bizarre Adventure. Sebuah serial yang menceritakan dinasti keluarga Joestar dan rivalnya Dio Brando. Part 1 adalah Phantom Blood, sebuah cerita mengenai Jonathan Joestar yang melawan vampir bernama Dio Brando dan bersetting di Inggris tahun 1880an. Kedua karakter utama disini terinspirasi dari Arnold Schwarzenegger dan Sylvester Stallone. Part 2 menceritakan Joseph Joestar dan petualangannya untuk melawan pillar men. Pada kedua part ini terlihat sekali inspirasi karakter kekar dan muskular ala Fist of the North Star. Part 3 yang berjudul Stardust Crusaders adalah yang pertama memperkenalkan pertempuran dengan “stand”. Menceritakan Jotaro Kujo yang berpetualang keliling dunia (dari Jepang, India, Hongkong sampai Cairo) bersama kakeknya Joseph Joestar, untuk menyelamatkan ibunya dari kutukan DIO. Stardust Crusaders pun banyak terinspirasi dari Indiana Jones dan horror ‘80an. Pada part 4 (Diamond is Unbreakable) Araki mencoba storytelling ala murder-mystery. Dimana satu kota kecil diterror oleh seorang serial killer yang menyerupai David Bowie dan memiliki fetish terhadap tangan wanita. Part 5 (Golden Wind) terinspirasi dari obsesi Araki terhadap budaya Italia dan film Godfather. Bersetting di Itali, Golden Wind bercerita mengenai sebuah geng yang dikejar-kejar oleh boss mafia dan komplotannya mengelilingi Italia. Favorit kami tentunya adalah part 7 yang berjudul Steel Ball Run. Bersetting koboy ala wild west, imajinasi terliar Araki ini menampilkan lomba balap kuda 6000km, hantu, dinosaurus, biarawati Vatican yang cross-dressing, musuh yang bisa memanipulasi waktu sampai presiden Amerika yang mencari mayat Yesus. Diselipi tema rasialisme dan protagonis yang difabel, ini mungkin adalah salah satu manga terbaik yang pernah ditulis. Dari art-style yang unik sampai world-building franchise yang aneh, beri hadiah kepada dirimu sendiri dan mulailah menonton serial ini. You owe it to yourself to experience the weirdness of Jojo’s Bizarre Adventure and the fucked-up mind of Hirohiko Araki.
 

 

Words Aldy Kusumah