Selain menjadi frontman band space rock n’ roll bernama Polyester Embassy, Elang juga menekuni industri garment, lebih tepatnya untuk produksi topi. Karena memang musik dan fashion selalu beririsan, diluar segala tetek bengek “passion before fashion” atau apapun itu. Elang sudah aktif di industri ini dari tahun 2010, dengan membuat brand dan tempat produksi sendiri. Mari berbincang dengan Elang mengenai Capslock, Polyester Embassy dan trend fashion retail…

“Kalau melihat sekarang, mungkin ini analisa gembel gue ya: pasar menengah itu engga ada, yang ada sekarang mungkin cuma pasar bawah banget atau pasar atas banget.”

Brand headwear lo, Capslock, gue liat makin kesini semakin menjadi sportswear ya? 
Emang diawali nya dari running caps dan cycling caps, kalau ngomongin pakaian yang di bawah kepala kan belum. Sportswear emang teknologi nya harus lebih advanced sih. Kalau sebatas headwear sudah cukup pede lah.

Berarti riset dan develop produk lo sebagai headwear yang dipakai olahraga harus lebih advanced ya?
Karena gue diawali dari topi, ketika bikin topi running atau cycling tuh harus dengan Bahan dry fit yang lebih tipis dari bahan topi biasa. Inner line nya dibikin lebih nyaman, menyerap keringat. Dan tentunya langsung di tes ke yang melakukan nya. Gue juga emang suka olahraga dan memakai topi sih. Produksi Capslock untuk topi nya udah jelas develop nya cukup lama. Performance tuh level untuk develop produk nya lebih dari produk biasa. Karena Capslock itu brand topi pada awalnya, walaupun kita ada jaket, celana, kaos dan sarung tangan sepeda, buat kita itu semua jadi produk aksesoris, karena tetap yang main nya itu topi. Ya tapi kedepan nya ga ada yang tahu ya. Kita lebih ke ngalir aja planning nya. Kita juga sekarang mulai develop lagi produk-produk casual untuk daily basic

History lo bikin Capslock dan vendor produksi topi awalnya gimana? 
Sebenarnya dulu gue buat nya barengan: si brand dan tempat produksi. Dulu nama nya Cool Caps. Jadi awalnya gue develop 2 tempat yang berbeda, karena kebutuhan brand dan tempat produksi itu beda ya. Dulu tuh awalnya pengen punya brand topi. Kalau brand yang dulu sih dari 2010. Trus kalau Capslock ini starting mulai seriusnya 2015.

Berarti lo dari hulu ke hilir ya, punya tempat produksi topi dan punya brand topi juga? Apa terkadang 2 kepentingan yang berbeda itu memecah fokus lo?
Sebenarnya keduanya punya porsi masing-masing. Bisa 50-50 atau ingin berat kemana dulu. Tapi memang yang utama nya sih si produksi. Lebih sibuk di produksi, cuma ga sampai keteteran sih.

Lo kan olahraga banget nih, dari tennis, lari sampai sepeda. Brand sportswear favorit lo apa aja? 
Kalau sekarang ya tetep sih kalau ngomongin sportswear pasti Nike. Apalagi yang seri Gyakusou nya Jun Takahashi dari Undercover, dia memang selalu gila untuk develop dan detailing performance product nya. Ciele kali yah kalau untuk headwear nya. Si Patagonia juga sebenarnya untuk outdoor dan sports nya lumayan detail produknya. Apa lagi ya? Oh iya kalo produk Tennis selain Nike Court saya suka Babolat dan Sergio Tacchini.

Trend budaya diskon menurut lo bahaya ga kedepan nya untuk brand-brand?
Jir gue teh selalu membahas ini dengan beberapa orang hahaha. Kalau ngomongin perjuangan brand di satu sisi mungkin ya, jaman dulu gue kerja di Airplane menjual kaos dari 65,000 dan semakin naik. Kita teh udah susah proses naikin harga menuju sekarang, tapi sekarang harga nya turun lagi. Sekarang semua lebih masif dengan ada nya marketplace dan social media. Pandemic teh emang merubah banyak hal secara cepat. Brand gue beban pegawai nya ga terlalu banyak, kita mungkin masih bisa bertahan. Beban operasional kita ga sebesar brand-brand yang banyak orang bergantung di dalamnya. Dan ketika kompetitor mereka melakukan itu akan lebih sulit bagi mereka untuk tidak melakukan itu.

Memang jauh berbeda ya kultur fashion retail 5 tahun yang lalu dan sekarang ini..
Jaman dulu kalau kita bikin brand itu punya duit, 80% untuk produksi, 20% untuk promo. Sekarang bisa 50:50 atau malah sebaliknya karena ada kebutuhan ads dan digital marketing yang cukup besar. Kalau melihat sekarang, mungkin ini analisa gembel gue ya: pasar menengah itu nggak ada, yang ada sekarang mungkin cuma pasar bawah banget atau pasar atas banget. Pasar menengah pindah ke bawah, dan yang menengah sok-sok an mending pilih keatas. Kalau mau up ya mending up sekalian dengan meningkatkan detail atau kualitas misalnya, kalau mau dibawah ya siap quantity.

“Kalau ngomongin perjuangan brand di satu sisi mungkin ya, jaman dulu gue kerja di Airplane menjual kaos dari 65,000 dan semakin naik. Kita teh udah susah proses naikin harga menuju sekarang, tapi sekarang harga nya turun lagi jadi hpp lebih dikit hahaha”

Jadi posisi lo di situasi ini gimana?
Kalau sebagai tempat produksi kita harus lebih siap sih dengan kebutuhan quantity yang di order sama brand-brand yang serius di marketplace tadi sih, karena speed jualan mereka cepet banget. Kalau gue pribadi di sisi produksi gue banyak memproduksi brand-brand yang melakukan itu.  Tapi kalo untuk brand Capslock ga terlalu ngejar kesana malah cenderung lebih santai dan lebih ngulik detail sambil terus belajar develop yang belum pernah kita develop sebelumnya aja sih. Jadi sekarang tuh kayaknya momen vendor dan momen konsumen marketplace yang terus dimanjakan untuk terus berbelanja haha.

Kalau ngomongin musik, apa kabarnya Polyester Embassy?
Kayanya album yah Tang? Tadinya mau EP 4 lagu, dan gak beres-beres. Sekarang lagi rekaman dan garap materi di rumah si Prama (drummer). Rumah kosong, tapi ada drum dan grand piano. Ada ruang akustik. Jadi tinggal bawa speaker dan laptop. Kemarin cuma nambah 3 lagu baru di sesi itu, tapi sekalian retake beberapa file rekaman EP yang hilang. Up and down seperti kepergian drummer kita Givari yang sangat mendadak ketika itu, proses kreatif nya juga kepotong pandemic. Pengen nya beresin dulu ini dan di compile. Baru sesudah ini beres kita mau bikin follow-up nya dengan formasi sekarang. Dan sekarang kehadiran Prama sebagai drummer pengganti lumayan menambah energi. Kita udah nyaman sama dia sebagai drummer, banyak involved dan sense of belonging nya udah kaya personil. Lumayan kebantu sama energi dia, karena masih muda mungkin ya jadi semangat.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Elang’s Archives

 

Beberapa waktu kebelakang, Bandung di kala akhir pekan selalu dihiasi oleh adanya gigs di berbagai venue. Tidak jarang dalam sehari ada dua sampai tiga gigs diadakan secara bersamaan. Banyaknya gigs yang diadakan sebuah penanda ramainya skena musik di Bandung. Salah satunya yang menarik perhatian adalah gigs yang diadakan oleh Greedy Dust dan Futura Free di Grun Resto & Bar Setiabudi(24/7), dengan line up band-band hardcore dari Bandung, Jakarta, Malang, dan Blitar.

Greedy Dust Futura dibuka oleh Nousonix band hardcore punk asal Bandung yang telah merilis M.O.B Demo. Lalu disambung oleh unit hardcore chaotic Ametis yang tampil dengan penuh energi. Berikutnya, ada penampilan dari Centra band asal Jakarta yang memanaskan Grun Resto & Bar. Setelah Centra, giliran Bleach yang mengisi stage. Setelah tampil di Greedy Dust Futura, dikabarkan tidak akan manggung untuk beberapa waktu kedepan.

Hadd didaulat menjadi penampil setelah Bleach, disambung oleh penampilan dari band asal Malang Keep It Real yang membuat area moshpit semakin “rusuh”. Berikutnya, ada Prejudize yang pada malam itu di tengah set nya sempat membawakan Numb, But I Still Feel It dari Title Fight yang langsung disambut sing a long di area moshpit. Unit hardcore yang berisikan orang-orang lama di skena hardcore Jakarta, Zip yang membuat area moshpit kembali panas walaupun sudah diiringi oleh beberapa band sebelumnya. Terakhir ada Bizzare yang menjadi penutup Greedy Dust Futura.

Angkat topi buat Greedy Dust dan Futura Free yang selalu sukses mengadakan gigs. Meskipun sempat berpindah venue tidak menyurutkan niat muda-mudi Bandung dan sekitarnya untuk menghadiri gelaran Greedy Dust Futura.

 

Words by Firman Oktaviawan

Photos by Prita @darkofmoist_

 

Jamu memang sudah lama melekat pada orang Indonesia dari yang muda hingga yang tua. Mulai dari khasiat hingga fungsi rekreasionalnya juga sangat dekat dengan kultur pop dan kultur anak muda. Kurang lebih, kami anggap jamu adalah multivitamin asli indonesia dengan beragam fungsinya.

Hubungan baik antara UNKL 347 dan Kamengski telah terjalin sejak lama, hal itu dibuktikan dengan rilisan kolaborasi pertama mereka terjadi di tahun 2018, dan 4 tahun kemudian ditahun 2022 mereka kembali berkolaborasi untuk merespon budaya pop yang kita lihat di sekitar kita. Kali ini, tema besarnya adalah jamu.


Karena UNKL347 sangat erat berkaitan dengan budaya skatebord dan surfing, maka tercetuslah gagasan menciptakan jamu jago surfing dan jamu jago skateboard. Berandai andai saja jikalau ada jamu yang berkhasiat untuk membuatmu jadi lebih jago main skateboard atau surfing. Kenapa kolaborasi 2 brand ini malah rilisnya jamu? Ya biar beda dan ngga umum aja. Tentu saja dengan material pendukung lainnya seperti jacket, tote bag, long sleeve, short sleeve t-shirt, bucket hat, dan skateboard deck agar terlihat seperti capsule collection yang akan di rilis pada Jumat, 22 July 2022 kemarin ini di toko UNKL347, dan juga berbagai platform online dari kedua brand.

Kemudian Dendy Darman (Founder UNKL347) tidak sengaja mendengarkan lagu Waljinah yang berjudul “Suwe Ora Jamu”. Sepertinya lagu ini dinilai cocok untuk dijadikan soundtrack kolaborasi ini dan menamainya menjadi ”Suweg Ora Jamu 347”.

Walaupun nggak beneran bikin jadi jago main skateboard atau surfing, setidaknya pegalmu berkurang dan keren aja.

“Saya hanya ingin sebanyak mungkin pemain mengalami kegembiraan yang datang dari mengatasi kesulitan” -Hidetaka Miyazaki (Elden Ring creator)

Setelah memainkan (dan menamatkan) Elden Ring selama ± 150 jam, menurut saya Elden Ring adalah sebuah masterpiece yang absolut. Bayangkan saja betapa epic nya sebuah open-world Souls game. Hidetaka Miyazaki (CEO FromSoftware, game director, creative director, designer dan scriptwriter) pernah mengakui kalau Elden Ring terpengaruh juga oleh aspek eksplorasi open-world dari game Elder Scrolls dan Zelda: Breath of the Wild. Aspek design pun dipengaruhi oleh game Shadow of the Colossus yang cukup ikonik lanskap nya. Pengalaman pertama saya memainkan “Souls” game dari FromSoftware bukanlah Demon’s Souls atau Dark Souls 1, melainkan Dark Souls 3. Cukup berkesan rupanya pengalaman saya memainkan DS3. Karena sebagai gamer yang dibesarkan dengan game “menantang” semacam Contra, Castlevania 2, Zelda, Metroid dan Megaman series, ternyata DS3 pada awalnya cukup membuat stress. Tidak ada hand-holding disini. Dari awal kalian langsung dilempar ke sebuah dunia yang dipenuhi musuh-musuh yang bisa membunuhmu dalam 1-2 hit. Dan dalam mayoritas waktu selama saya bermain, saya tidak tahu harus kemana dan tujuan akhir game ini apa. And that’s fun. Uniknya, dalam Souls Series tidak ada map. Lupakanlah navigasi dan kompas, game ini membutuhkan kalian untuk menggunakan memori dan sense-of-direction yang canggih. Untuk menambah kesulitan, game ini tidak bisa di pause dan memiliki checkpoint yang jaraknya sangat berjauhan (lupakanlah checkpoint sebelum ruangan boss, kalau kalah, biasanya kalian harus ulang area tersebut dari awal).

“Untuk cerita dan world-building, kali ini Hidetaka Miyazaki selaku director dan owner FromSoftware dibantu oleh George R.R. Martin, penulis dari Game of Thrones”

Untungnya Elden Ring sedikit lebih “memaafkan” dari Souls Series: Kalian bisa menggunakan map dan ada sistem fast travel yang lebih seamless dari DS3. Ketika saya memainkan Elden Ring, game ini terasa lebih aksesibel untuk pemain-pemain yang tidak pernah memainkan Souls Series sebelumnya. Mari kita lihat dan bahas semua elemen nya: Grafik dan visual sudah tidak perlu diragukan. Art direction yang menggambarkan dunia medieval yang sudah rusak (apocalypse wasteland versi medieval?), dengan konsep keindahan yang dikelilingi oleh kegelapan, struktur-struktur megah yang hampir runtuh, gunung, hutan dan danau semua divisualisasikan dengan detail yang menakjubkan. Menurut Miyazaki: “Cahaya terlihat lebih indah dalam kegelapan.

Ketika ada sesuatu yang indah di tengah gurun, kita bisa lebih menghargainya. Satu permata tidak terlihat indah di antara tumpukan permata lain, tetapi jika Anda menemukan satu permata di tengah lumpur, itu jauh lebih berharga.” Bayangkan saja hampir setiap frame game ini terlihat seperti lukisan. Belum lagi desain karakter, armor, senjata, kastil dan detail-detail lain nya yang bisa saya bahas seharian disini. Sound? Coba saja memainkan game ini dengan headphone. Dari opening title saja kalian sudah dimanjakan oleh orkestra yang megah nan epic dari komposer Tsukasa Saitoh (yang juga mengerjakan musik latar untuk Bloodborne dan Sekiro). Belum lagi sound efek suara pedang yang menghantam tameng great shield dan transisi suara kuda yang berlari dari rumput ke air, semua itu terdengar sangat detail dan menakjubkan, seolah kamu benar-benar berada di “the lands between”.

“Cahaya terlihat lebih indah dalam kegelapan. Ketika ada sesuatu yang indah di tengah gurun, kita bisa lebih menghargainya. Satu permata tidak terlihat indah di antara tumpukan permata lain, tetapi jika Anda menemukan satu permata di tengah lumpur, itu jauh lebih berharga.” -Hidetaka Miyazaki (Elden Ring creator)

Untuk cerita dan world-building, kali ini Hidetaka Miyazaki selaku director dan owner FromSoftware dibantu oleh George R.R. Martin, penulis dari Game of Thrones. Lore dan narasi cerita Elden Ring tidak se-obscure Souls Series sebelumnya yang menurut Miyazaki adalah environmental storytelling, layaknya sebuah jigsaw puzzle dimana cerita keseluruhan akan kita dapatkan dari deskripsi items yang kita temukan, dialog NPC yang cryptic, musuh yang kita kalahkan dan lokasi yang kita kunjungi. Dalam 17 hari sejak rilis, game ini terjual 12 juta kopi. Tidak aneh, karena Elden Ring memiliki semua nya: gameplay yang tidak linear (kebebasan untuk pergi kemanapun, melawan siapapun), sistem pertarungan yang sempurna, visual yang surreal & hyper-realistic disaat yang sama, sound dan musik latar yang bagus, dan tentunya world-building yang keren.

Memang tidak semua orang “sabar” untuk menamatkan game yang susah seperti ini (konon jika semua optional boss dihitung, ada sekitar 200 boss battles yang harus kamu kuasai). Untuk melawan salah satu boss di awal game pun saya harus mencoba grinding sekitar 10-15 jam untuk bisa mengalahkan nya. Kebanyakan players game ini mungkin akan menyerah setelah bertemu boss sulit seperti Margit atau Godrick. Kalian pun akan terjebak untuk meng-eksplorasi lanskap yang masif untuk beberapa items yang (mungkin) tidak akan kalian gunakan. Tapi bagi kalian yang berhasil menamatkan game ini, selamat! Kalian telah memainkan salah satu game terbaik di abad ini. Mungkin di kehidupan ini. Mengutip quotes Miyazaki mengenai tingkat kesulitan game-game yang dia buat, menurutnya: “Saya hanya ingin sebanyak mungkin pemain mengalami kegembiraan yang datang dari mengatasi kesulitan”. Ya, sebuah karya seni memang tidak selalu dimaksudkan untuk setiap orang.

 

Words by Aldy Kusumah

Setelah beberapa kali manggung, akhirnya CJ1000 siap untuk memperkenalkan diri mereka lebih lanjut dengan sebuah album debut berjudul Midnight Ambush.

Kuartet asal Bandung yang beranggotakan Muhammad Fardlan Hakim (vokal), Rangga Widya Putra (bas), Fattah Abdul Malik (gitar) dan Muhamad Naufal Jordie (drum) ini sejatinya sudah menyelesaikan seluruh proses penggarapannya sejak tahun 2021 lalu. Namun selayaknya sebuah band dengan berbagai dinamikanya, mereka memutuskan untuk merilis sang album debut di bulan Juli 2022, bisa dibilang sebagai sebuah perayaan akan selesainya lika-liku dan segala campur aduk perasaan yang mereka lalui, walau pada prakteknya tantangan sesungguhnya akan dimulai setelah ini.

Secara tema, CJ1000 ingin menyampaikan ragam cerita dalam Midnight Ambush, yang mana cerita-cerita tersebut diakui oleh mereka bahwa seringkali terlihat dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari.

 

Untuk departemen post-rock, jika Kanada memiliki Godspeed You! Black Emperor, maka Flukeminimix adalah jawaban dari Bandung. Unit eksperimental rock ini baru saja mengeluarkan album ketiga yang sangat menarik dan tentunya tetap niche dan eksperimental dari segi sonik dan konsep. Mari berbincang dengan para personilnya mengenai efek Big Muff, rekaman di Bosscha, dan Neurosis..

Halo apa kabar Flukeminimix? Bisa ceritakan sedikit ga perbedaan “Pulsating Star”, “Between Spaces Into Space” dan “The Unsound of Partial Edges”?
Dinar: Karena saya baru gabung pas album sekarang, dan berangkat dari fanboy mereka kayaknya yang paling kentara perbedaan nya itu output sound (yang dulu) sama yang album terakhir ini lebih dark dan gloomy kali ya.

Farris: Halo, baik pak Aldy. Kalo perbedaan untuk ketiga album itu “Pulsating Star” yang paling berbeda dikarenakan narasi dan proses nya yang memang “Pulsating Star” membawa narasi data “Bintang Mati” dari Bosscha dan kolaborasi bersama Bosscha dan Gustaff H. Iskandar.

Untuk “Between Spaces into Space” & “The Unsound of Partial Edges” album yang sekarang ini mungkin penggarapan secara sound nya cukup berbeda yang dimana album Between ada sedikit unsur melancholy, di album sekarang ini secara vocabulary sound lebih “keras” bisa dibilang. tapi tetap membawa narasi kontemplatif secara spiritual, sosial maupun personal di tiap judul lagu nya.

Rangga: “Pulsating Star” dari segi sound masih bereksperimen.. “Between Spaces into Space” lebih banyak clean sound dan composing melankolis didalamnya. “The Unsound of Partial Edges” ini dari segi rekaman lebih detail, mulai dari gear sampai proses mixingnya.

Ibrahim: “Pulsating Star” di rekam semua secara live. Karena kebutuhan menangkap momen. Pada saat itu Bosscha (Lembang) sedang merayakan ulang tahun. Karena ajakan Gustaff kita bisa bermain secara live di salah satu ruangan disana. Karena momen tersebut langka, kita membawa seperangkat alat rekam dan instrumen lain nya. Dan menjadilah suatu album. Dan di album tersebut memang kita dalam proses mencipta lagu dimulai dari observasi suara-suara bintang di semesta sana.

Untuk “Between Spaces into Space” unsur melancholy sangat terasa disitu karena kehadiran cello yang cukup. Kuat. Dan di “The Unsound of Partial Edges” sangat tidak ada unsur melancholy tersebut. Selain tidak ada nya instrumen violin. Kondisi pembuatan album di masa pandemi ini pun menjadi berpengaruh.

Godspeed You! Black Emperor (GY!BE) bisa menyiratkan pesan yang politis tanpa adanya vokal yang berlirik. Apa yang Flukeminimix ingin sampaikan melalui “The Unsound of Partial Edges“?

Dinar: Untuk urusan politik dan lain sebagainya yang berhubungan dengan itu saya ga pernah tertarik. Ga pernah juga mau tau cause we’re locked out since day one haha!

Farris: GY!BE selain secara simbolis memang menyiratkan unsur perlawanan politis, mereka memang terjun langsung ke lapangan. Dengan cara seperti itu dan memang soul band nya seperti itu maka “gagasan” medium penyampaian musik nya sangat terasa.

The Unsound of Partial Edges secara garis besar judul album adalah fragmen tentang pandangan kita di saat ini, dimana yang menurut kami hubungan antara manusia dan manusia, manusia dan alam nya, bahkan manusia dengan diri nya sedang dalam keadaan yang urgensi nya tidak baik. Kondisi personal seperti itu akan mengakibatkan response energi yang sama kurang baik nya kepada manusia lain nya bahkan alam di sekitar nya, kita mencoba mengkaji jawaban itu kepada 7 lagu di album tersebut. Lagu dengan judul yang cukup kontemplatif yang menurut kami sebelum kita “taking a side” kami berusaha menjadi pribadi yang lebih baik terlebih dahulu. Mungkin itu singkatnya yang ingin coba disampaikan, lebih ke self notes sih.. Tidak berusaha mengingatkan diluar diri kita masing-masing.

Rangga: Secara personal ingin memperlihatkan Flukeminimix yang lebih dewasa, dan pas bikin album ini lagi jaman pandemic banget kan ya.. Jadi lebih menunjukan kita bisa struggle saat masa-masa pandemic.. Dan tetap berkarya di masa-masa sulit.

Ibrahim: Musik instrumentalis (nir vokal) sangat melekat pada pribadi pencipta nya. Menurut saya yang dilakukan GY!BE adalah seperti perjalanan hidup dan statemen dari personil yang dijadikan suatu karya musik. Menjadi politis karena pemberian judul”cerita” dan posisi personil yang memang terjun langsung di dunia sosial dan politik. Untuk The Unsound of Partial Edges saya idem dengan pernyataan Farris.

Bisa elaborasi sedikit mengenai proses rekaman “The Unsound of Partial Edges”?

Rangga: Album “The Unsound of Partial Edges” segi rekaman nya sangat detil dari mulai gear sampai bagian composingnya. Masing-masing harus memahami betul dari materi yang sudah terbentuk. Dari memilih karakter sound hingga proses mixing.

Dinar: Saya gabung dengan Flukeminimix ini ketika semua materi nya sudah rampung. Bahkan draft drum nya pun sudah ada, jadi saya tinggal take ngikutin pattern drum yang ada, bisa dibilang dikit banget improvisasi nya. Tapi yang unik dari rekaman ini tuh total ga pake metronome, karena Flukeminimix itu lagunya dinamis, keinginan mereka juga emang gitu, tempo nya naik turun. Ini kali pertama saya setelah sekian lama recording ga pake metronome, jd semua nya harus one take. Dan ada satu lagu yang menarik judulnya “Gargantua” yang emang drum nya out of tempo dibanding instrumen lain. Kalo secara sound ga banyak nemuin kesulitan karena kalo sound drum buat flukeminimix itu ga beda tone nya sama band lain saya Ssslothhh.

Farris: Proses rekaman yang sekarang mungkin lebih optimal dari tiap personal nya, karena sudah ada pemahaman yang lebih baik dari album sebelumnya. Secara sound design dari tiap personal sudah lebih terbentuk. Secara tekstur ada beberapa yang hilang tapi banyak kehadiran tekstur sound yang lebih diperkuat keberadaan nya. Mungkin karena kondisi psikis kita yang di masa itu “buang yang ga perlu amat” meh bisa ngebut haha.. Untuk proses rekaman engineer nya Ibrahim Adi yang mungkin lebih mengenal dari tiap proses nya secara lebih teknis..

Ibrahim: Proses rekaman “The Unsound of Partial Edges” terjadi lebih organik. Karena kita semua sudah jadi lebih tau apa yang akan dihasilkan di akhir album (secara sound). Tidak banyak melakukan sulap di mixing, karena source yg di rekam sudah cukup mewakili. Tapi tetep lama penggarapan nya karena terjadi pergantian posisi drum. Dan rekaman drum yang sudah dilakukan oleh drummer terdahulu, di rekam ulang oleh posisi Dinar. Mastering dikerjakan oleh ramuan James Plotkin, benar-benar gak ada revisi. Sekali kirim langsung kita sepakati jadi.

Cover album kalian menggunakan artwork dari Arin Dwihartanto Sunaryo. Bisa ceritain ga konsep nya apa, dan background bisa kerjasama dengan Arin itu gimana?

Dinar: Kalo ini biar Farris yg jawab haha..

Rangga: Iyaaa hahaha

Farris: Sebetul nya di tahun 2017 mas Arin meminta album kita untuk beliau yang menjadi cover artwork nya, tentu nya kami sangat menyambut dengan hormat dan bahagia. Dan ajakan beliau yang membuat kami menjadi lebih semangat lagi untuk menyelesaikan album ini (walaupun tetap terpaut waktu yang cukup panjang). Seperti di album sebelum nya, album ini pun di layout oleh Ucok. Di album ini kami sangat bersyukur bisa berkolaborasi dengan seniman-seniman yang kami kagumi. Bahkan di album ini ada karya tulisan Nishkra, yang secara personal bisa mengenal langsung baru 2 tahun belakangan ini. Tapi sudah sering mendengar cerita legend beliau sejak dulu.

Kami selalu tertarik untuk bekerja sama dengan Ucok, beliau selalu bisa membahasakan musik kita dengan baik. Tanpa banyak diskusi sudut pandang beliau menjadi sudut pandang yang sangat menarik dan selalu beririsan dengan kami secara nyata.

Ibrahim: Ketika karya musik sudah dilempar ke pendengar, maka akan terjadi respon-respon yang sangat alami. Kita bersyukur yang merespon adalah orang-orang yang hebat dan tentu kita kagumi. Maka terjadilah di album The Unsound of Partial Edges.

Album-album favorit masing-masing personil apa aja? Bisa ceritain juga kenapa suka album tersebut?

Dinar: Neurosis – Through Silver in Blood. Pertama kali tau Neurosis tuh album ini dan langsung suka. Waktu pertama denger intro nya aja lumayan aneh sendiri, cuma drum doang yang dimainkan secara perkusif dan berlayer-layer. Dan Neurosis punya sejumlah riff gitar yang total heavy buat saya waktu itu pertama kali dengerin, karena jaman pertama kali dengerin Neurosis ini, saya lagi kerajingan banget sama hardcore/punk. Bisa dibilang ini life changing album buat saya, azeg.

Rangga: The Smashing Pumpkins – Siamese Dream dan Mellon Collie and the Infinite Sadness. Paling suka banget, kalau bisa dibilang ini album Smashing pisan, mulai dari vokal cempreng falsetto Billy Corgan yang ketara banget. Ketukan drum ciri khas Jimmy Chamberlin lebih banyak. Chord bass D’arcy yang simple tapi penting. Dan sound distorsi gitar James Iha yang menggawangi seluruh part lagu. Adanya di lagu Cherub Rock, Edan pisan bagi-bagi tugasnya.. The Smashing Pumpkins jadi salah satu influence sound gitar saya hehe..

Farris: ​​Untuk album favorit saya ingin bisa menjawab Turing Machine – A New Machine For Living, atau Simon & Garfunkel – Bridge Over Troubled Water yang bagi saya lagu tersebut bisa membuat peradaban dikala peradaban sudah runtuh, seperti monolith di film 2001: A Space Odyssey. GY!BE – A Slow Riot For New Zero Kanada yang dipenuhi dengan nada repetitif dan crescendo yang sangat apik. Dan masih banyak lainnya hahaha..

Tapi jika harus pilih hanya satu album, jawaban saya sangat umum. Radiohead – OK Computer; album yang dibuat di tahun 1997 dengan musikalitas yang cukup maju dengan statement komposisi yang kuat. Tekstur musik seperti di lagu The Tourist & Subterranean Homesick Alien yang dimana kehadiran tekstur dari gitar Ed O’Brien dan Jonny Greenwood sangat tidak terduga secara kehadiran dan nada nya. Bye dan maaf untuk yang tereliminasi.

Ibrahim: Pink Floyd – The Wall. Sebelum tau album nya saya nonton dulu DVD live concert yang di Berlin tahun 1990 (karena album The Wall rilis sebelum saya lahir). Pertunjukan tersebut yang membuat saya pengen punya band, dan bisa konser. Tata artistik, tata panggung dan momen (berlokasi di tembok Berlin) berkolaborasi dengan baik. Ditambah permainan gitar David Gilmour yang mengarahkan saya untuk menjadi pemain gitar, karena sebelumnya saya bermain drum.

Untuk para gitaris/bassist: Effect pedals that you can’t live without?

Ibrahim: Big muff Pi Russian. Pake satu pedal itu saya bisa mainin semua part saya di Flukeminimix hahaha..

Rangga: Overdrive pedal sama distorsi hahaha.. Super Overdrive Boss SD1, Turbo Distortion Boss DS2, dan Ibanez Tube Screamer TS9DX.

Farris: Big Muff Pi USA, Fender Twin Reverb Amp dengan mix speaker British dan American.

Background memilih label Grimloc dan Disaster untuk rilisan ketiga kalian?

Dinar: Sesimple karena mereka berteman lama dengan kami dan 2 label tersebut representatif buat Flukeminimix.

Farris: Grimloc sebagai label sudah sangat baik secara distribusi dan kenamaan branding mereka yang cocok dengan Flukeminimix, dan juga DSSTR yang memang kagum dengan bentuk support mereka ke skena musik.

Rangga: Sudah terjawab oleh Farris hehe..

Ibrahim: Grimloc dan Dsstr cocok secara branding dan memfasilitasi kami sebagai band yang banyak maunya ini. Hahaha..

Harusnya ini saya tanyakan di awal, tapi gapapa: Nama band kalian terdengar sedikit nyeleneh. Dari mana datangnya nama tersebut dan apa arti nya?

Faris: Flukeminimix mungkin tidak ada arti secara harfiah nya. tapi saya mengartikannya sebagai sesuatu yang jarang terjadi, sebuah keberuntungan dengan faktor ilahi. Bagi kami singkat nya Flukeminimix adalah sebuah momentum. Kami sendiri yang jadi momentum nya.. Dapat dan bisa membuat momentum nya sendiri.. Mungkin ini yang membuat kita selalu berkomitmen untuk membuat sesuatu atau sebuah karya dengan berbagai medium penyampaian. Keberuntungan juga dikarenakan hubungan antar personil yang sangat erat.. Teman dan sahabat, saudara yang belajar dan memahami musik sedari kecil bersama dan berkomitmen untuk membuat musik sampai tua.

Pada cerita nya Rangga dan Iqbal mengajak main band yang saya tolak beberapa kali, ketika saya mengiyakan.. Saya mau nih bikin band asal bisa bertahan puluhan tahun ke depan hahaha… Sebuah visi yang memang melihat dari awal nya akan menjadi musik yang tidak cepat untuk sampai ke para apresiator. Butuh medium-medium dari yang lain bahkan tidak jarang interdisiplin. Tapi kembali ke semua nya, seni kami hanya sampai penciptaan.. Penilaian sepenuhnya milik kalian, karya hanya akan kembali ke pencipta nya sebagai cerminan.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Flukeminimix’s Archives

 

Terletak di seberang taman umum pusat di Cibeunying, Bandung. Set N Rise adalah kedai yakitori dan bar eklektik yang disajikan di dalam ruang minimalis, abu-abu-&-kayu hangat. Diinisiasi oleh Chef Lucky Lukman bersama Taufik Nofrizal, Ari Triawan, Ginar Satria, dan Christian Willy yang berlatarkan ide dan praktik lintas disiplin: Kuliner-Musik-Desain-Fashion.

Melalui semangat DIY dari makanan hingga arsitektur, dan segala bentuk pengalaman di dalamnya. Set N Rise menyajikan makanan dan minuman siang dan malam untuk dikonsumsi dalam kehidupan yang menyenangkan dan serba cepat. Dengan praktik kreatif yang dibawa pada setiap komponennya, Set N Rise berusaha untuk menyajikan berbagai bentuk lifestyle yang diawali dengan ‘hidangan’.

Set N Rise buka setiap hari pada jam makan siang 11.00 – 01.00 dan juga 16.00 – 23.00.

Perunggu adalah trio indie-rock asal Ibu kota yang cukup menarik perhatian sejak mereka merilis single ‘Biang Lara’ dan ‘Tarung Bebas’ yang begitu fresh dan powerful dalam waktu yang sama. Tidak berlebihan apabila menurut kami band ini sangat menjanjikan dan bisa menjadi besar untuk meramaikan ekosistem musik Indonesia.

Bila kemudian waktu band ini tidak besar dan tetap menjadi “underdog”, maka ada yang salah dengan industri musik Indonesia. Tetapi seperti nama band nya, Perunggu memang sudah nyaman menjadi “underdog” dan tidak membutuhkan pengakuan, karena mereka nyaman dan enjoy dengan situasi apapun yang terjadi. Untuk para penggemar Death Cab For Cutie, Band of Horses & Silversun Pickups dengan sensibilitas pop Indonesia, kalian harus menyimak band yang satu ini. Mari sedikit berbincang dengan vokalis Perunggu, Maulana Ibrahim.

Sbplusix a.k.a Belva Prabowo rapper, penyanyi, penulis lagu, artis visual dan designer asal Bandung, akan merilis sebuah single yang berjudul “Colurgrade”. Single pertama yang di produseri oleh Sbplusix ini sendiri bekerja sama dengan singer dan co-produser yaitu Putra Baskoro (Putt Aprill) & Gilang Dhafir, “Colourgrade” merupakan single terbaru dari Sbplusix untuk awal dari mini album di tahun 2022.

“Colourgrade” menceritakan tentang bagaimana seseorang yang memiliki batasan disaat menjalin hubungan, batasan ini berkaitan dengan kondisi sosial saat ini yang dilanda berbagai persoalan pelik serta kekhawatiran pada setiap individu dan bagaimana mereka memecahkan masalah dengan prinsip masing-masing. “I sit back and hangover, I feel waves on the ocean, I’m try to find the motion, I’m try to feel the closure” – penggalan lagu dari “Colourgrade” adalah semacam refleksi yang ingin disampaikan oleh Sbplusix dan Putt April dalam single ini, dibalut dengan karakter musik yang cukup energetic demi mempertegas pesan yang disematkan didalamnya.

Colourgrade, sudah bisa didengarkan diseluruh platform musik digital pada 15 Juli 2022.

This dude needs no introduction. Dendy Darman adalah salah satu pionir dari masa-masa keemasan brand fashion lokal yang sudah membangun brand 347 dari tahun 1996. Mari berbincang dengan Dendy mengenai budaya diskon, Nyi Roro Kidul, dan koleksi Jenglot..

“Kita punya pengalaman, dan mereka (generasi muda) punya energi. Kalau digabung keren banget.”

Den! Apakabar 347 sekarang? Lagi banyak collab ya?
Lagi banyak collab supaya bisa gabung lagi sama darah muda. Soalnya kan dulu juga gue tuh banyak energi di masa itu, masa muda. Karyawan 347 sekarang regenerasi juga, karyawan nya anak-anak sekarang. Energi nya pasti lebih banyak. Lo juga dulu pas di jaman Ripple kan masih seumuran anak-anak generasi sekarang jadi banyak energi. Kalau seumuran gua kan udah banyak aspek lain kaya keluarga dan lain-lain.

Gue liat kemaren lo sempat juga collab sama White Chorus, Bleu House dan Couch Club ya?
Sebenarnya pas 3 band itu bikin satu musi bareng-bareng. Pengen nyambungin generasi aja sih sebenernya, jauh banget kan generasinya. Mereka appreciate sama kita dan kita juga appreciate sama mereka. Sekarang harus jalan lagi yang kaya gitu soalnya energi itu dapet dari banyak ketemu-ketemu orang, bikin sesuatu bareng, beredar lagi. Kita punya pengalaman, dan mereka punya energi. Kalau digabung keren banget.

Kemarin collab lo sama Compass yang 25 sepatu seru juga ya. Ada yang pakai lukisan Nyi Roro Kidul-nya Basuki Abdullah?
Iya! Itu collab nya dibikin se-organik mungkin. Mereka sampai effort bikin 25 sepatu untuk 25 tahun umur 347. Padahal biasanya mereka bikin satu model itu 1000 pcs, kemarin 1 varian nya cuma 100 pcs dibikin terbatas. Yang 24 itu dari archives lama, tapi 1 design itu bener-bener discuss dan akhirnya keluar yang Nyi Roro Kidul. Dia dikeluarin terakhir, setelah siangnya rilis yang 24 model, malam nya rilis yang Nyi Roro Kidul.

Tapi yang design Nyi Roro Kidul itu ga boleh dipake kan sepatu nya?
Ga boleh! Ceritanya panjang itu. Kita pengen tidak ada yang disakiti lah. Masa sih diinjak jadi sepatu, sebenarnya konteksnya bukan itu juga. Lukisan nya aja diambil dari Basuki Abdullah, jadi kita beli royalty lukisannya untuk dipakai di desain sepatu. Awalnya kita pengen setiap sepatu Nyai Roro Kidul itu box nya digembok, jadi kalau orang beli ga bisa dibuka karena kunci nya kita simpan di kantor kita ga dikasih ke pembeli hehehe. Tapi teknis nya susah banget. Kalau Compass tuh retail era sekarang, gue juga menyaksikan kalau mereka menjual barang itu ga sampai 10 menit. Gue takjub aja betapa majunya informasi sekarang bisa seperti itu jualan nya. Jaman gue dulu tuh udah berubah banget sama jaman sekarang, Tang. Budaya nya udah beda. Lo bayangin kita dulu bikin baju, abis bikin butuh berapa bulan untuk orang tau, sekarang cuma butuh berapa menit untuk menghabiskan. Gila sih. Salutlah sama anak-anak sekarang.

“Lo bayangin kita dulu bikin baju, abis bikin butuh berapa bulan untuk orang tau, sekarang cuma butuh berapa menit untuk menghabiskan.”

Pendapat lo mengenai trend marketing diskon gimana?
Sebenarnya ini cuma trend nya saja, dan kenyataan nya sudah terjadi. Gue aja sekarang mikir harus ikut gitu? Kalau enggak kan kita jadi closeminded gitu. Tapi kalau gue sih mikir mungkin pada akhirnya akan kembali pada track nya. Nah sekarang ga tau tuh siapa yang jadi leader nya tuh yang gitu-gitu hehehe.. Mereka memang bikin jalur baru dan akhirnya jadi budaya baru di industri retail. Harus diakui bahwa market leader nya seperti itu. Ya kita ikuti saja dulu, tapi gue juga punya cita-cita untuk mengembalikan trend nya kembali seperti dulu. Trend diskon ini sementara, hanya karena dibikin hype.

Dan bahkan sudah ada sebutan seperti “generasi diskon” ya di budaya retail sekarang..
Tapi ada beberapa orang juga yang beli barang karena memang suka dan ga ngejar diskon. Ini cuma dampak dari sosial media aja. Pada prinsipnya gue sih tetap aja bikin design dan produk yang bagus. Walaupun gue mau diskon juga, kalau design nya datang dari studio gue ya gapapa. Wayahna weh harga nya sekarang dibalikin lagi ke tahun 2000 hahaha..

“Walaupun gue mau diskon juga, kalau design nya datang dari studio gue ya gapapa. Harga nya sekarang dibalikin lagi ke tahun 2000 hahaha. (Padahal) Kita dari dulu bikin harga pelan-pelan naik “

Iya nih Den, harga kaos diskon sekarang kaya balik ke harga tahun 2000an lagi ya..
Agak kacau sih sebenarnya. Kita dari dulu bikin harga pelan-pelan naik. Anggap aja ini hiburan buat customer. Customer lah yang sekarang ini diuntungkan. Yang ga boleh di gue itu kalau gue bikin sesuatu karena barang model tersebut lagi laku, kecuali kalau gue memang suka trend yang lagi laku itu. Mungkin 7 tahun yang lalu gue itu udah engga ada di management unkl. Gara-gara social media ini gue juga udah 2-3 tahun ini jadi director nya lagi. Karena menurut gua ini bahaya, ini masa-masa krusial. Kalau salah gaul, ato apa.. Ke kiri ke kanan nya harus hati-hati lah. Makanya gue ada lagi. Analogi nya kalau di industri musik, karena Aldy tuh di musik, mungkin lo harus ikutin jalur bagaimana major label menyebarkan lagu nya, tapi lagu lo tetap lo yang bikin dan ideal buat lo. Yang pasti sih secara dibuat nya harus idealis, tapi cara penjualan nya adaptasi aja. Gue ga bisa idealis kalau jual barang, tapi kalau bikin barang gue bisa idealis. Pada prinsipnya buat gue sih barang nya idealis. Buat gue konteks itu masih on track lah, ga sakit hati banget. Ga jual diri lah hehehe..

Lo juga jual pernak-pernik di DFO store ya?
Ini salah satu hiburan gue juga sih. Mungkin gue tuh harus cari hiburan untuk membayar toleransi gue. DFO store tuh design sendiri, retail sendiri, kalau ada yang suka beli, kalau enggak ya gak papa juga. Itu obatnya hahaha. Ekspektasi gue dulu pas membangun 347 itu mungkin terlalu ideal, tapi di perjalanan nya gue harus toleransi dan adaptasi. Jadi gue harus punya obat. Iya kan? Harus banyak obat nya, kalau habis tinggal makan setengah, jangan sampai kosong hehehe..

Kalau Dendy & Darman Studio (DDS) sekarang lagi ngerjain apa aja nih, Den?
Banyaknya resort, dan mau lebih fokus ke rumah-rumah kecil. Gue cita-cita awalnya bikin DDS ini kan untuk bikin rumah buat teman-teman gue yang tadinya ga kepikiran untuk punya rumah. Lo pasti bisa punya rumah, berapa lo dapet sebulan nih. Rumahnya gausah gede-gede. Concern kedepan nya mo kesana sih. Sekarang sih lagi bikin project resort dan rumah pribadi. Soalnya untuk bikin stock rumah-rumah kecil gitu kita harus nabung dulu. Sebenarnya pengen bikin kawasan aja sih. Gue kan besar di lingkungan yang banyak anak-anak kreatif, tapi mereka kadang punya penghasilan tapi gatau mengolah uang nya. Jadi kaya berat banget untuk punya rumah padahal itu bisa direalisasikan dengan berbagai cara.

Btw kenapa DDS pake logo The Cramps sih Den? Lo suka banget The Cramps atau gimana?
Itu iconic aja sih logonya. DDS kan awalnya kan organik. Gue itu bukan arsitek tapi seniman grafis. Cita-cita gue itu suatu hari nanti kalau DDS besar akan pameran arsitek. Nanti pas kita masuk poster pameran arsitek dan logo kita bakal masuk, nanti yang bikin posternya akan bete “anjing ini log apaan sih” hahaha. Sebenarnya cuma itu goal gue pake logo The Cramps. Kaya pas lo design poster pameran, pasti ada kan yang “kenapa logo ini harus masuk ya” hahaha.. Akan gue challenge semua designer-designer dunia dengan logo gue yang akan mengganggu Biennale lo hahaha..

Pertanyaan terakhir nih: Koleksi Jenglot lo udah nambah belum?
Ohh nambah dong. Bukan Jenglot lagi tenang nanti bakal ada yang baru. Nanti bentar lagi gue posting kalau Jenglot dan teman-teman nya udah pada dateng. Jenglot kan buat pemula buat gua. Jenglot itu ga akan bagus kalau di sebelahnya ga ada Keyboard Roland Juno-60. Kalau Jenglot di sebelahnya ada Roland Jupiter 8 beda ceritanya.

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Photos take from Unk347’s archive