Turtles.Jr adalah band punk yang telah lama mewarnai blantika musik underground tanah air sejak tahun 1992. Turtles Jr terdiri dari Drummer Boentar, vokalis Boodfuck, bassist Dohem, dan gitaris Buux Frederiksen. Turtles Jr adalah sebuah ikon punk di Indonesia, kalau membahas movement punk di negeri ini, pastilah wajib menyebut nama Turtles Jr.
Tahun ini Turtles Jr mendapat undangan dari Rebellion Festival, sebuah perhelatan musik & budaya punk terbesar di dunia tepatnya di Blackpool, Inggris dan menjadi sebuah sejarah band punk pertama Indonesia yang diundang untuk main di acara tersebut.
The Rebellion Festival, sebelumnya Holidays in the Sun and the Wasted Festival adalah festival punk rock Inggris yang pertama kali diadakan pada tahun 1996. Festival ini telah menarik liputan pers dari berbagai belahan dunia seperti The Guardian, the Independent, The Daily telegraph, Kerrang, dan masih banyak lagi.
Ini menjadi pembuktian untuk semua bahwa Turtles Jr layak untuk tampil di gelaran tersebut, dan Turtles Jr berkesempatan bermain bersama band-band besar international seperti Bad Religion, GBH, Conflict, The Exploited, Sham 69, Anti-Flag, The Addicts, UK Subs, Discharge, The Dickies, dll.
Turtles Jr saat ini sedang menggalang dana untuk keberangkatan ke Inggris tanggal 31 Juli 2022 nanti, mereka dijadwalkan tampil di Rebellion Festival tanggal 5 Agustus 2022.
Turtles.Jr adalah band punk yang telah lama mewarnai blantika musik underground tanah air sejak tahun 1992. Turtles Jr terdiri dari Drummer Boentar, vokalis Boodfuck, bassist Dohem, dan gitaris Buux Frederiksen. Turtles Jr adalah sebuah ikon punk di Indonesia, kalau membahas movement punk di negeri ini, pastilah wajib menyebut nama Turtles Jr.
Tahun ini Turtles Jr mendapat undangan dari Rebellion Festival, sebuah perhelatan musik & budaya punk terbesar di dunia tepatnya di Blackpool, Inggris dan menjadi sebuah sejarah band punk pertama Indonesia yang diundang untuk main di acara tersebut.
The Rebellion Festival, sebelumnya Holidays in the Sun and the Wasted Festival adalah festival punk rock Inggris yang pertama kali diadakan pada tahun 1996. Festival ini telah menarik liputan pers dari berbagai belahan dunia seperti The Guardian, the Independent, The Daily telegraph, Kerrang, dan masih banyak lagi.
Ini menjadi pembuktian untuk semua bahwa Turtles Jr layak untuk tampil di gelaran tersebut, dan Turtles Jr berkesempatan bermain bersama band-band besar international seperti Bad Religion, GBH, Conflict, The Exploited, Sham 69, Anti-Flag, The Addicts, UK Subs, Discharge, The Dickies, dll.
Turtles Jr saat ini sedang menggalang dana untuk keberangkatan ke Inggris tanggal 31 Juli 2022 nanti, mereka dijadwalkan tampil di Rebellion Festival tanggal 5 Agustus 2022.
Turtles.Jr adalah band punk yang telah lama mewarnai blantika musik underground tanah air sejak tahun 1992. Turtles Jr terdiri dari Drummer Boentar, vokalis Boodfuck, bassist Dohem, dan gitaris Buux Frederiksen. Turtles Jr adalah sebuah ikon punk di Indonesia, kalau membahas movement punk di negeri ini, pastilah wajib menyebut nama Turtles Jr.
Tahun ini Turtles Jr mendapat undangan dari Rebellion Festival, sebuah perhelatan musik & budaya punk terbesar di dunia tepatnya di Blackpool, Inggris dan menjadi sebuah sejarah band punk pertama Indonesia yang diundang untuk main di acara tersebut.
The Rebellion Festival, sebelumnya Holidays in the Sun and the Wasted Festival adalah festival punk rock Inggris yang pertama kali diadakan pada tahun 1996. Festival ini telah menarik liputan pers dari berbagai belahan dunia seperti The Guardian, the Independent, The Daily telegraph, Kerrang, dan masih banyak lagi.
Ini menjadi pembuktian untuk semua bahwa Turtles Jr layak untuk tampil di gelaran tersebut, dan Turtles Jr berkesempatan bermain bersama band-band besar international seperti Bad Religion, GBH, Conflict, The Exploited, Sham 69, Anti-Flag, The Addicts, UK Subs, Discharge, The Dickies, dll.
Turtles Jr saat ini sedang menggalang dana untuk keberangkatan ke Inggris tanggal 31 Juli 2022 nanti, mereka dijadwalkan tampil di Rebellion Festival tanggal 5 Agustus 2022.
Turtles.Jr adalah band punk yang telah lama mewarnai blantika musik underground tanah air sejak tahun 1992. Turtles Jr terdiri dari Drummer Boentar, vokalis Boodfuck, bassist Dohem, dan gitaris Buux Frederiksen. Turtles Jr adalah sebuah ikon punk di Indonesia, kalau membahas movement punk di negeri ini, pastilah wajib menyebut nama Turtles Jr.
Tahun ini Turtles Jr mendapat undangan dari Rebellion Festival, sebuah perhelatan musik & budaya punk terbesar di dunia tepatnya di Blackpool, Inggris dan menjadi sebuah sejarah band punk pertama Indonesia yang diundang untuk main di acara tersebut.
The Rebellion Festival, sebelumnya Holidays in the Sun and the Wasted Festival adalah festival punk rock Inggris yang pertama kali diadakan pada tahun 1996. Festival ini telah menarik liputan pers dari berbagai belahan dunia seperti The Guardian, the Independent, The Daily telegraph, Kerrang, dan masih banyak lagi.
Ini menjadi pembuktian untuk semua bahwa Turtles Jr layak untuk tampil di gelaran tersebut, dan Turtles Jr berkesempatan bermain bersama band-band besar international seperti Bad Religion, GBH, Conflict, The Exploited, Sham 69, Anti-Flag, The Addicts, UK Subs, Discharge, The Dickies, dll.
Turtles Jr saat ini sedang menggalang dana untuk keberangkatan ke Inggris tanggal 31 Juli 2022 nanti, mereka dijadwalkan tampil di Rebellion Festival tanggal 5 Agustus 2022.
Turtles.Jr adalah band punk yang telah lama mewarnai blantika musik underground tanah air sejak tahun 1992. Turtles Jr terdiri dari Drummer Boentar, vokalis Boodfuck, bassist Dohem, dan gitaris Buux Frederiksen. Turtles Jr adalah sebuah ikon punk di Indonesia, kalau membahas movement punk di negeri ini, pastilah wajib menyebut nama Turtles Jr.
Tahun ini Turtles Jr mendapat undangan dari Rebellion Festival, sebuah perhelatan musik & budaya punk terbesar di dunia tepatnya di Blackpool, Inggris dan menjadi sebuah sejarah band punk pertama Indonesia yang diundang untuk main di acara tersebut.
The Rebellion Festival, sebelumnya Holidays in the Sun and the Wasted Festival adalah festival punk rock Inggris yang pertama kali diadakan pada tahun 1996. Festival ini telah menarik liputan pers dari berbagai belahan dunia seperti The Guardian, the Independent, The Daily telegraph, Kerrang, dan masih banyak lagi.
Ini menjadi pembuktian untuk semua bahwa Turtles Jr layak untuk tampil di gelaran tersebut, dan Turtles Jr berkesempatan bermain bersama band-band besar international seperti Bad Religion, GBH, Conflict, The Exploited, Sham 69, Anti-Flag, The Addicts, UK Subs, Discharge, The Dickies, dll.
Turtles Jr saat ini sedang menggalang dana untuk keberangkatan ke Inggris tanggal 31 Juli 2022 nanti, mereka dijadwalkan tampil di Rebellion Festival tanggal 5 Agustus 2022.
Turtles.Jr adalah band punk yang telah lama mewarnai blantika musik underground tanah air sejak tahun 1992. Turtles Jr terdiri dari Drummer Boentar, vokalis Boodfuck, bassist Dohem, dan gitaris Buux Frederiksen. Turtles Jr adalah sebuah ikon punk di Indonesia, kalau membahas movement punk di negeri ini, pastilah wajib menyebut nama Turtles Jr.
Tahun ini Turtles Jr mendapat undangan dari Rebellion Festival, sebuah perhelatan musik & budaya punk terbesar di dunia tepatnya di Blackpool, Inggris dan menjadi sebuah sejarah band punk pertama Indonesia yang diundang untuk main di acara tersebut.
The Rebellion Festival, sebelumnya Holidays in the Sun and the Wasted Festival adalah festival punk rock Inggris yang pertama kali diadakan pada tahun 1996. Festival ini telah menarik liputan pers dari berbagai belahan dunia seperti The Guardian, the Independent, The Daily telegraph, Kerrang, dan masih banyak lagi.
Ini menjadi pembuktian untuk semua bahwa Turtles Jr layak untuk tampil di gelaran tersebut, dan Turtles Jr berkesempatan bermain bersama band-band besar international seperti Bad Religion, GBH, Conflict, The Exploited, Sham 69, Anti-Flag, The Addicts, UK Subs, Discharge, The Dickies, dll.
Turtles Jr saat ini sedang menggalang dana untuk keberangkatan ke Inggris tanggal 31 Juli 2022 nanti, mereka dijadwalkan tampil di Rebellion Festival tanggal 5 Agustus 2022.
Turtles.Jr adalah band punk yang telah lama mewarnai blantika musik underground tanah air sejak tahun 1992. Turtles Jr terdiri dari Drummer Boentar, vokalis Boodfuck, bassist Dohem, dan gitaris Buux Frederiksen. Turtles Jr adalah sebuah ikon punk di Indonesia, kalau membahas movement punk di negeri ini, pastilah wajib menyebut nama Turtles Jr.
Tahun ini Turtles Jr mendapat undangan dari Rebellion Festival, sebuah perhelatan musik & budaya punk terbesar di dunia tepatnya di Blackpool, Inggris dan menjadi sebuah sejarah band punk pertama Indonesia yang diundang untuk main di acara tersebut.
The Rebellion Festival, sebelumnya Holidays in the Sun and the Wasted Festival adalah festival punk rock Inggris yang pertama kali diadakan pada tahun 1996. Festival ini telah menarik liputan pers dari berbagai belahan dunia seperti The Guardian, the Independent, The Daily telegraph, Kerrang, dan masih banyak lagi.
Ini menjadi pembuktian untuk semua bahwa Turtles Jr layak untuk tampil di gelaran tersebut, dan Turtles Jr berkesempatan bermain bersama band-band besar international seperti Bad Religion, GBH, Conflict, The Exploited, Sham 69, Anti-Flag, The Addicts, UK Subs, Discharge, The Dickies, dll.
Turtles Jr saat ini sedang menggalang dana untuk keberangkatan ke Inggris tanggal 31 Juli 2022 nanti, mereka dijadwalkan tampil di Rebellion Festival tanggal 5 Agustus 2022.
Turtles.Jr adalah band punk yang telah lama mewarnai blantika musik underground tanah air sejak tahun 1992. Turtles Jr terdiri dari Drummer Boentar, vokalis Boodfuck, bassist Dohem, dan gitaris Buux Frederiksen. Turtles Jr adalah sebuah ikon punk di Indonesia, kalau membahas movement punk di negeri ini, pastilah wajib menyebut nama Turtles Jr.
Tahun ini Turtles Jr mendapat undangan dari Rebellion Festival, sebuah perhelatan musik & budaya punk terbesar di dunia tepatnya di Blackpool, Inggris dan menjadi sebuah sejarah band punk pertama Indonesia yang diundang untuk main di acara tersebut.
The Rebellion Festival, sebelumnya Holidays in the Sun and the Wasted Festival adalah festival punk rock Inggris yang pertama kali diadakan pada tahun 1996. Festival ini telah menarik liputan pers dari berbagai belahan dunia seperti The Guardian, the Independent, The Daily telegraph, Kerrang, dan masih banyak lagi.
Ini menjadi pembuktian untuk semua bahwa Turtles Jr layak untuk tampil di gelaran tersebut, dan Turtles Jr berkesempatan bermain bersama band-band besar international seperti Bad Religion, GBH, Conflict, The Exploited, Sham 69, Anti-Flag, The Addicts, UK Subs, Discharge, The Dickies, dll.
Turtles Jr saat ini sedang menggalang dana untuk keberangkatan ke Inggris tanggal 31 Juli 2022 nanti, mereka dijadwalkan tampil di Rebellion Festival tanggal 5 Agustus 2022.
Turtles.Jr adalah band punk yang telah lama mewarnai blantika musik underground tanah air sejak tahun 1992. Turtles Jr terdiri dari Drummer Boentar, vokalis Boodfuck, bassist Dohem, dan gitaris Buux Frederiksen. Turtles Jr adalah sebuah ikon punk di Indonesia, kalau membahas movement punk di negeri ini, pastilah wajib menyebut nama Turtles Jr.
Tahun ini Turtles Jr mendapat undangan dari Rebellion Festival, sebuah perhelatan musik & budaya punk terbesar di dunia tepatnya di Blackpool, Inggris dan menjadi sebuah sejarah band punk pertama Indonesia yang diundang untuk main di acara tersebut.
The Rebellion Festival, sebelumnya Holidays in the Sun and the Wasted Festival adalah festival punk rock Inggris yang pertama kali diadakan pada tahun 1996. Festival ini telah menarik liputan pers dari berbagai belahan dunia seperti The Guardian, the Independent, The Daily telegraph, Kerrang, dan masih banyak lagi.
Ini menjadi pembuktian untuk semua bahwa Turtles Jr layak untuk tampil di gelaran tersebut, dan Turtles Jr berkesempatan bermain bersama band-band besar international seperti Bad Religion, GBH, Conflict, The Exploited, Sham 69, Anti-Flag, The Addicts, UK Subs, Discharge, The Dickies, dll.
Turtles Jr saat ini sedang menggalang dana untuk keberangkatan ke Inggris tanggal 31 Juli 2022 nanti, mereka dijadwalkan tampil di Rebellion Festival tanggal 5 Agustus 2022.
Setelah merilis album Memorandum di semua platform musik digital. Akhirnya, Perunggu merilis debut albumnya ini dalam bentuk cakram padat oleh Disaster Records.
Sudah bukan rahasia umum bagi musisi, merilis karya di masa pandemi adalah sebuah keharusan. Sebagai suatu tanda keeksisan demi memanaskan jiwa kesenian dalam diri mereka. Seperti yang dilakukan trio Perunggu yang digawangi Adam Adenan (bass, kibor, piano, vokal latar), Ildo Hasman (dram, vokal latar) dan Maul Ibrahim (gitar, vokal utama) pada Jumat (11/3/2022) ini, melempar debut album penuh mereka berjudul Memorandum yang merupakan kepanjangan dari memo, atau pengingat.
Makna album ini berfungsi sebagai catatan. Secara garis besar berkaitan dengan irisan hidup para personel ketika menginjak fase usia paruh baya bersama segala macam dinamika dan problematikanya.
Semua itu tampak jelas tergambar dalam sebelas nomor yang disajikan: Tarung Bebas (tentang kejadian baku hantam secara harfiah), Canggih! (tentang kecintaan mereka terhadap musik), Pastikan Riuh Akhiri Malammu (tentang makna jatuh cinta seorang bapak yang baru dikaruniai anak), Membelah Belantara (tentang kritik sistem politik domestik), Haru Paling Biru (tentang kesedihan yang mendalam), Ini Abadi (tentang kisah percintaan hubungan jarak jauh), Biang Lara (tentang kejujuran atas perasaan kecewa), Per Hari Ini (tentang semangat kerja anak kantoran), Kalibata, 2012 (tentang kematian orang terdekat), Prematur (tentang makna sebuah keinginan), dan 33x (tentang pengingat atas diri sendiri).
Corak musik rock apik gubahan Perunggu sanggup mendorong semangat kita untuk tegar menjalani hari demi hari kehidupan. Ditambah lirik lagu yang bercerita dalam bahasa Indonesia memastikan para pendengar tak perlu mengernyitkan dahi untuk memahami maksud dan pesan yang disampaikan.
Ide album ini bermula pada Februari 2020 sewaktu Adam Adenan tengah menempuh studi di Inggris dan proses kreatif terjadi lewat pengiriman demo mentah via surel. Tak lama berselang pandemi Covid-19 menghantam. Surutnya aktivitas membuat energi mencipta karya tidak terbendung, walhasil total 18 lagu berhasil tertulis selama masa itu.
Agar materi mentah mampu digarap secara rapi serta elegan, anak-anak Perunggu menggamit Giovanni Rahmadeva, penabuh drum unit indie rock Polka Wars yang telah ‘menemani’ Perunggu sejak pengerjaan EP Pendar (2020) sebagai produser album ini. Di tangan beliau sejumlah lagu dieliminasi dalam upaya mencapai kematangan sebuah karya penuh sehingga tidak ada satu pun formula aransemen yang redundan di setiap lagunya.
Beberapa musisi tamu juga dihadirkan di sini. Dennis Ferdinand diajak sebagai co-producer. Lalu tiga gitaris Bima Errawan, Wiku Anindito, dan Lafa Pratomo yang membuat kedalaman Memorandum terdengar layaknya pesta sonik enam senar. Ada juga hara, penyanyi perempuan yang syahdu bersenandung untuk lagu Prematur.
Dengan pengerjaan yang cukup panjang, memperlihatkan kesungguhan Perunggu dalam memeluk kecintaan mereka terhadap musik. Dan persembahan Memorandum inilah pembuktian terbaik untuk dibingkai sebagai sebuah tonggak.
“Musik adalah hal yang sama sekali tidak mungkin kami tinggalkan. Ini album yang dikerjakan dengan serius. Meskipun waktu dan biaya yang dikeluarkan cukup besar, lucunya kami tidak merasa rugi. Karena kami cinta mati sama musik, dan mengerjakan album ini membuat kami senang menjalani segala macam pengorbanannya,†pungkas Maul Ibrahim.
Hardcore Pagebluk adalah follow-up Kidsway atas debut mereka tahun 2017 lampau. Beranggotakan (eks) personil Balcony, Take A Stand dan Asia Minor, mereka melanjutkan rangkaian proyek bersenang-senang dengan hardcore punk yang mereka usung sejak 2018.
Kidsway memperlihatkan sisi fun dan introspektif dari hardcore 90-an yang berakar pada band-band NYHC seperti CIV dan Warzone, selain tentunya band PMA Hardcore serupa H2O. Format dan vibe yang di era Bandung 90-an diwakili oleh Full of Hate, yang pada album ini secara ekstensif mereka aduk dengan pengaruh Snapcase hingga Beastie Boys.
Hardcore Pagebluk, sesuai judulnya, merupakan materi yang mereka tulis selama pengalaman di 2 tahun salama pandemi. Dirilis dalam format CD atas kerjasama dua label, Grimloc dan Disaster. 9 lagu yang dikemas dengan padat dalam durasi album hardcore pada umumnya; kurang dari 30 menit, padat dan cepat. Dengan sampul album yang dikerjakan oleh Ken Terror. mencatat beragam hal dari mulai tema emansipasi moshpit, catatan polemik saat hiruk pikuk senyap pagebluk, hingga memo introspeksi ketika krisis menerpa hingga level yang sangat personal.
Bertamukan rap Tuan Tigabelas, vokal Vansu (dari salah satu unit HC gelombang baru Bandung, Revival Mode), dan sentuhan impresif Alicetriana pada single mereka yang mengadopsi pengaruh Shelter, “Gelapâ€. Sebagai penutup, lagu ikonik Full of Hate “Bandung Hardcore†mereka bawakan sebagai pengingat zaman dan semangat.
Tahun lalu, Mars Volta yang sudah lama tidak terdengar mengeluarkan sesuatu yang baru lewat sosial medianya. Ternyata pada tahun lalu itu, Mars Volta merilis menjadi boxset La Realidad De Los Suenos yang dirilis secara terbatas, dengan berisikan lagu-lagu dulu termasuk materi yang belum pernah dirilis dari debut mereka tahun 2003 De-Loused In The Comatorium.
Setelah semua itu, band yang telah menyatakan bubar pada tahun 2012 ini tidak mengeluarkan apapun sampai di pertengahan Mei 2022 ini, Mars Volta telah kembali dengan lagu baru pertama mereka dalam lebih dari 10 tahun.
Sebelum rilis lagu terbarunya, sempat sebuah kubus muncul di LA Grand Park. Dianggap sebagai instalasi yang didirikan untuk menceritakan kisah kembalinya Mars Volta, setiap pengunjung juga akan mendengar teaser pertama “Blacklight Shine.” Mengenai lagu itu sendiri, Cedric Bixler-Zavala mengatakan lagu itu tentang “a wave of rolling blackouts washing memories onto shore, a heartbeat that still remembers everything.â€
Harry “Bronx†Hardiyansyah sudah malang-melintang menjual T-shirt dan merchandise musik import dari tahun 2009. Dari kecintaan nya terhadap musik dari berbagai genre, Harry pun memutuskan untuk merintis Oblivion merch & Oblivion Records, yang sampai sekarang sangat aktif menjual merch lokal dari The SIGIT, Seringai, Homicide sampai Avhath. Simak perjalanan Harry dari kolektor kaos band sampai membuat toko dan record label. Let’s dig ini..
“Sekarang ada Avhath baru masuk. 350 pieces cuma 24 menit habis di Tokopedia. Upload di Tokopedia, ditinggal tidur, di menit ke 24 udah sold out stock nya. Tinggal nge print, di packing anak-anak dan request pick up. Hahaha..â€
Bronx! Bisa ceritain ga history Oblivion pada awalnya?
Sebenernya ga ada rencana untuk jadiin Oblivion kaya sekarang. Jadi memang organik aja si Oblivion mah. Tadinya berawal dari jualan iseng karena pada saat itu saya masih kuliah. Jual kaos-kaos yang saya pake. Biasana mun hayang meuli baju anyar kudu jual kaos lila soalna eweuh duit na hahaha. Tapi ada beberapa juga kaos lama yang masih disimpan walaupun kekecilan. Awalnya jualan dari tangan ke tangan. Jual BU awal nya sih sebenernya. Karena rame yang beli akhirnya mulai PO sendiri pas 2008-2009. Awal jual di Kaskus sebelum marketplace dan Instagram. Kaskus dan jual COD. Pas jaman dulu nongkrong dan masih gawe di Evil sama Chandra (Nearcrush), boss urang baheula hahaha..
2009 mulai muncul nama Oblivion yang saya ambil dari lagu pertama Crack the Skye nya Mastodon. Urang embung ribet, udah aja ambil dari lagu itu kebetulan saya suka banget lagu nya.
“Tanggal 1 gajian, sore jam 5 ditagih sama leasing cicilan motor jadi beak hahaha.. Numpang lewat gaji.“
Sebelum Oblivion aktivitas lo apa aja?
Nah ieu bodor dan panjang haha. Dulu direkomendasi kuliah akunting sama almarhum Babeh.. Teu sajalur jeung kehidupan urang hahaha.. Kuliah cuma 3 bulan lalu di DO. Mulai freelance di Evil diajak Chandra jadi shopkeeper malahan. Nyambung ngobrol musik ama Chandra nyambung jadi diajakin juga. Tapi penghasilan jaman itu kurang. Tanggal 1 gajian, sore jam 5 ditagih ku FIF leasing cicilan motor jadi beak hahaha.. Numpang lewat gaji. Mulai muter otak lagi untuk cari sampingan lebih nya. Mulai kuliah perhotelan dan gawe juga di hotel. Sempat kerja di Hyatt dan Hilton. Tau nya si Oblivion makin rame pada saat itu. Setelah dihitung ternyata sampingan saya si Oblivion lebih gede dari kerjaan hotel saya. Lalu sempat bikin Poison Stockroom sama Ebho. Karena Oblivion masih keteteran saya memutuskan keluar baik-baik dari Poison. Oblivion itu ibarat anak pertama saya masa di anggurin. Dan Oblivion juga nyambung dengan passion saya ke musik.
Persentase kaos lokal dan luar di Oblivion sekarang banyak mana?
Lokal dong. Kalo dulu yang kaos import rutin, sekarang mah import nya dikurangi, kalau dulu lebih rutin. Awalnya 2016 toko pertama kita ga jual band lokal sama sekali. Dulu di Gandok-Siliwangi 2016 toko nya. Dulu masih jual band-band yang saya suka aja yang D-beat. Idealis mungkin ya. Dulu cuma nyetok Disfear, Discharge, Wolfbrigade, Amebix.. Kaya Metallica ama Lamb of God malah ga saya jual. Lama-lama kompromi ikutin pasar. Mulai masukin big 4 kaya Iron Maiden dan lain-lain biar membludak orderan nya. Lalu ada penawaran merchandise dari The Sigit 2016. Penawaran eksklusif pas mereka mau ke Australia. Deal nya wholesale ambil semua biar eksklusif cuma Oblivion yang jual. Dan kalau ada orang lain mau beli atau wholesale diarahkan mereka ke Oblivion juga. Saya sempat ragu laku ga ya jual kaos lokal, soalnya jaman itu orang sepertinya masih gengsi pake kaos band lokal. Jigana nyak. Taunya 2 hari sold out itu. Per artikel sekarang 1000 pieces kalau The Sigit sekarang.
“Kebetulan si Ken Terror (Sunbath) teh adik kandung almarhum Babeh (Bapak). Jadi om saya si Ken teh haha.. Kalau Sunda mah Mang. Dulu pas SMP kalau main kerumah Ken diracunin Los Crudos, Wolfpack, Hellshock..â€
Kaos-kaos lokal yang paling laku di database toko lu apa aja?
No 1 sudah pasti The Sigit, karena sudah lama kerjasama sama mereka. Image nya di orang-orang kalau mau beli kaos The Sigit udah pasti cari nya ke Oblivion. No 2 Seringai. Ke-3 semua kaos rilisan Grimloc, kaya Homicide dan band-band Grimloc lain nya. Kaya misal Grimloc mau rilis apa, turunan merch nya pasti penjualan nya bagus. Sekarang ada Avhath baru masuk. 350 pieces cuma 24 menit di Tokopedia. Kalau via Whatsapp udah ga akan kekejar. Upload di Tokopedia, ditinggal tidur, di menit ke 24 udah sold out stock nya. Tinggal nge print, di packing anak-anak dan request pick up. Hahaha..
Oblivion juga punya divisi baru: Oblivion Records. Apa saja rilisan nya?
Baru 2 sih rilisan: Vinyl Forgotten (Future Syndrome), reissue album pertama Forgotten yang tahun 1997. Satu lagi CD Sunbath, band alternative rock nya Ken Terror. Kan sudah lama kerjasama sama Grimloc di bagian merchandise. Tertarik bikin record label dan banyak ngobrol sambil belajar ke Ucok (Grimloc). Pas ngobrol ama Ucok ditawarin mau ga rilis reissue Forgotten? Wah anjir! Tertarik banget. Sebuah kehormatan diajak split sama Grimloc. Jadi aja bikin record label kecil-kecilan. Produksi di Inggris waktu itu. Nah terus dari Forgotten kan jauh ke Sunbath, lintas genre hahaha! Nah kebetulan si Ken Terror (Sunbath) teh adik kandung almarhum Babeh (Bapak). Jadi om saya si Ken teh haha.. Kalau Sunda mah Mang. Dulu pas SMP kalau main kerumah Ken diracunin Los Crudos, Wolfpack, Hellshock.. Jadi suka band-band seperti itu, band dia juga kaya gitu kan Kontrasosial, Hark dan Domestik Doktrin. Pas lagi ngobrol dia bilang punya band alternatif ‘90an. Saya rilisin aja format CD si Sunbath sebagai rilisan Oblivion yang kedua.
Upcoming projects Oblivion dan Oblivion Records apa aja Bronx?
Kalau record label sih tadinya mau rilis si Bleach bareng Disaster Records, tapi belum ada obrolan lagi sih. Kalau Oblivion Store sih banyak banget rencana upcoming nya. Karena merchandise kan memang bisa kapan aja rilis nya. Tapi sekarang terbalik, biasanya saya yang apply ke band, sekarang band yang nawarin ke saya. Kalau cocok langsung ditarik dan rilis.
Jadi sejauh ini semua rilisan merch dan record label kurang lebih sesuai selera lo ya?
Iya kurang lebih begitu, tapi kalau Oblivion merch ada konten merch request tiap bulan. Jadi customer request pengen band lokal apa aja. Lalu dari sekian banyak komen saya tampung. Avhath juga hasil dari merch request para customer asalnya. Ternyata edan hasilnya. Sekarang yang lagi jalan Jason Ranti, The Sigit, Sunbath artikel baru. Wah banyak banget sebenernya. Tapi justru Oblivion lisensi produksi merch baru satu, Kontrasosial aja. Sisanya mah wholesale ke band atau record labelnya. Karena saya ga ada team produksi.
Lo pasti koleksi kaos band kan? Top 5 band T-Shirt lo apa aja? Ada wishlist yang belum kesampaian?
Setiap hari juga saya ke kantor pake kaos band terus Dy, hahaha. Ini top 5 kaos favorit saya:
1. Darkthrone – Sardonic Wrath
2. Corrosion of Confirmity – Animosity
3. Godflesh – Hymns
4. Mayhem – Deathcrush
5. Dropdead. Yang ini hampir tiap hari dipakai hahaha..
Wishlist T-Shirt saya yang belum kesampaian:
1. Malignant Altar
2. Entombed – Left Hand Path
3. Killing Joke
4. Gulch, baru bubar kemaren-kemaren, kaos nya rada jarang.
5. Gauze, yang band Jepang.
6. GISM, band Jepang juga.
Words & interview by Aldy Kusumah Photos from Bronx’s Archives
Sesuai janjinya pada postingan di akun instagram CAL (@gilanghadee), ia akan merilis E.P perdananya tepat pada tanggal 20 Mei 2022. Unit Shoegaze asal bandung ini berhasil merangkum dan menetaskan E.P perdannya bertajuk “Anthracite Greyâ€, nama “Anthracite Grey†dikutip dari nama judul track ke-3 yang ada di dalam E.P.
CAL merupakan proyek solo alter ego dari Gilanghade, dengan riff gitar yang dibuat sesederhana mungkin, dan juga warna musik Nugaze/Alternatif. CAL dibantu oleh Vian (Bass/Rounder), Biman (Gitar/Grief), dan Jordy (Drum/Saint Fiction) sebagai pelengkap penuh dalam formasi band.
“Saya sudah memikirkan semua konsep dan timeline rilisan CAL mulai dari single perdana sampai E.P perdana dengan sangat matang, aktivasi CAL selama setahun penuh sudah saya susun di timeline saya.†ujar Gilanghade. E.P ini berisi 5 track yaitu single perdana “Spendingâ€, single kedua “Chemicalâ€, “Anthracite Grey†yang dikutip jadi judul E.P ini, lalu ada “Myself†yang menjadi intro/pembuka, dan “Sulfate†yang menjadi track penutup di E.P ini.
E.P “Anthracite Grey†ini sudah bisa di akses dan di nikmati di berbagai layanan streaming musik.
Eric Wirjanata adalah salah satu founder Deathrockstar (DRS), sebuah webzine dan media musik yang dulu sering mereview band-band independen lokal era tahun 2000an. Eric bersama Marcel (Sajama Cut) dan Ryan aktif mereview gigs, album dan interview band di website Deathrockstar. DRS terkenal dengan reviewnya yang jujur: kalau jelek mereka bilang jelek, kalau bagus, mereka akan menaruh karya itu di sebuah pedestal sebagai selebrasi. Berbagai kritik pun dari band-band yang tidak terima disebut jelek mulai membanjiri DRS sehingga mereka cukup viral pada masanya, dan menjadi salah satu portal musik independen yang paling notorious. DRS juga cukup aktif membuat gigs-gigs lokal di Bandung dan Jakarta pada era itu.
“Dari dulu band dan musisi Indonesia pengen go internasional lewat band pop dan indie rock. Ternyata malah yang eksperimental seperti Kuntari, Senyawa, LAIR dan Gabber Modus Operandi yang go internasional hahaha..â€
Ric, kalau ngobrol sama lo sudah pasti gue akan nanya soal Deathrockstar. Apa kabar nya DRS? Bisa ceritakan sedikit ga mengenai DRS pas lo bikin di awal-awal?
Si DRS saat ini sedang menikmati masa-masa the has-been ya. Hehe. Pada masa nya pernah berjaya. Emang gue lagi bikin beberapa plan. Mungkin ga harus berjaya banget ya, tapi paling enggak masih ada purpose nya. Dulu awal mulai si DRS tuh pas SMA gue kenal si Marcel (Sajama Cut). Kita sering ngobrol tuh karena anak-anak musik jarang di sekolah gue. Gue ga ngeband tapi sangat into musik aja dulu. Pas kita SMA walaupun kita pisah sekolah, kita mulai mengenal skena independen. Dari melihat banyak zine dan majalah-majalah yang terbit secara independen, sampai menikmati rilisan-rilisan fisik independen.
Waktu itu gue kuliah di Bandung, di UNPAR HI. UNPAR kan dekat ke Harder Records (cikal bakal Grimloc Records). Pertama kali kenal sama si Andre Vincent (Jeruji, Soldier Fight) dan anak-anak Balcony juga. Liat zine yang dijual di Harder gue mulai bikin zine fotokopi juga dengan nama Confusion. Tentunya dapat nama dari Confusion is Sex-nya Sonic Youth. Ditaro berapa biji abis. Ternyata orang-orang senang dengan media pada saati itu. Nah pas masa itu warnet lagi berkembang kan, Geocities, mIRC. Di mIRC gue pake nickname Deathrockstar, sebenarnya salah tulis, harus nya dari lagu Thurston Moore “Elegy for all the Dead Rock Starsâ€. Ternyata “death†lebih keren dari “deadâ€. Yang satu (dead) sudah mati, tapi kalau death ini kematian, lebih mengancam hehe..
Lalu awal mula lo bikin website Deathrockstar itu gimana?
Waktu itu dot com banyak dibagikan gratis. Keren nih kayaknya pake dot com. Si Marcel langsung beli aja. Karena waktu itu kita senang membaca Pitchfork Media, kita mulai mereview ala Pitchfork pada masa itu, mulai dari review kaset-kaset yang kita punya. Si Marcel bikin nama sendiri, gue juga ada yang pake nama orang. Si Marcel pernah pake nama Tobin Sprout, personil Guided By Voices hahaha. Kita bikin-bikin aja nama biar kesan nya banyak orang, padahal cuma kita berdua hahaha.. Lalu pas kuliah gue juga ketemu si Ryan. Dia hobby foto dan suka nulis juga. Akhirnya dia bantuin foto, bikin event dan menulis juga.
Lo juga sering buat event dan gigs ya bareng DRS?
Nah setelah ada Ryan, enak tuh kan ada partner nya. Jadi mulai juga bikin event. Pernah bikin gigs di BB’s Jakarta sama Marcel. Nama nya Rock Music Parade. Acara sepi tapi yang datang lumayan buat nambah-nambah temen. Arian Seringai, David Tarigan, Anak-anak Superman is Dead pada dateng. Yang main resmi sebenarnya ada band gue juga main, nama nya Snort, tapi pada gak dateng anak-anak nya hahaha. Akhirnya dibantuin Akbar dan almarhum Andri, sebelum mereka bikin A Stone A. Ada Toilet SOunds, Henry Foundation (sebelum jadi Goodnight Electric), dan Sajama Cut. Anak-anak Superman is Dead manggung terus tiba-tiba minta manggung, alat-alat nya minjem. Mereka pake nama Devildice kalau ga salah.
Lalu kita bikin-bikin juga acara di Bandung. Tahun 2004 bikin Rock Circus kalau gak salah. Bikin ama si Bayu, manager The Sigit yang dulu. Akhirnya bikin di Classic Rock Cafe. Abis dari 347 atau Spills Records kalau gak salah ketemu Koseng atau si Iyo (Pure Saturday), gue lewat ada kafe gitar nya gede banget. Akhirnya gue masuk dan minta kontak nya. Gue kasih tau Bayu dan Marin. Akhirnya jadi acara itu. Line up nya lumayan seru: Seringai, The Sigit, A Stone A, Sajama Cut dan Teenage Death Star.
Lalu sekarang DRS sedang merencanakan dan mengerjakan apa?
Si DRS sih 3 tahun terakhir bisa dibilang ada dan tiada. Tapi gue bikin lebih personal sih sekarang. Kalau bisa dapet partner atau investor mau gue kembangin brand nya. Gue suka brand kaya Maternal Disaster, mereka rilis buku, punya divisi record label juga. Gue juga pengen kaya gitu cuma karena gue sendiri jadi kurang bisa banyak gerak. Maternal jadi benchmark buat gue sih. Ga harus ada semua tapi yang pasti DRS harus ada divisi merch dan event. Sekarang DRS cuma gue sendiri, nulis aja sudah jarang nih soalnya gue sibuk ngerjain digital marketing untuk beberapa klien.
Dulu DRS terkenal dengan review yang benar-benar jujur. Pernah ada yang protes karena lo review jelek atau apa ada cerita-cerita unik?
Sebenarnya karena dulu media yang bahas musik masih jarang, mereka (band-band) itu ga ambil pusing mau dibilang jelek atau bagus. Yang penting di review atau di repost. Beda nya musik dan makanan itu, kalau musik dibilang jelek atau engga lo tetep bisa ngasih sample musik nya disitu, orang masih dengerin juga musik nya. Coba makanan, gue bilang “ini makanan ga enak Dyâ€, lo ga akan makan disitu hahaha. Setiap gue review gue taro juga preview musiknya. Orang tetap bisa dengerin dan menentukan sendiri sih..
Lo inget ga dulu yang pernah lo review jelek album apa aja? Hahaha..
Kebanyakan rata-rata yang gue kritik band besar sih. Yang gue bilang jelek biasanya yang sudah terkenal sih. Band-band baru sih jarang. Dulu Homicide aja pernah gue kritik hahaha. Ternyata setelah beberapa tahun gue baru nyadar ternyata Mini Compo gue yang rusak. Gobloknya Compo gue nya yang suara nya jelek sebenarnya. Padahal anak-anak Hardcore Bandung itu punya sound tahun 2000an aja sampe sekarang masih belum bisa dikalahin. Kaya Balcony aja album “Metafora Komposisi Imajinar†keren banget sound nya dulu di kaset. Album “Terkarbonasi†aja musik nya jadi keren lagi tuh jaman sekarang banyak band-band baru seperti Balcony era “Terkarbonasiâ€. Ternyata tahun 2000 sound band hardcore Bandung udah keren semua. Kalau Jakarta dulu yang bagus sound nya si Step Forward. Gitarisnya Step Forward Ricky Seringai kan, pas pertama manggung tahun 2004 aja main di acara gue udah bawa head cabinet sendiri.
Menurut lo untuk menjadi jurnalis musik yang kredibel itu lo harus bisa bermusik atau engga? Soalnya opini publik terbagi mengenai isu ini dari dulu hahaha..
Orang-orang itu masih banyak yang ketuker antara nge-jurnal, nge-kritik dan nge-review. Nah kalau si jurnalis tersebut bisa main musik tulisan nya akan lebih objektif. Jaman dulu gue lebih juga agak subjektif lebih seperti komentator daripada mereview. Kaya cuma nulis “ini album butut pisan..â€. Soal enak atau engga kan subjektif tergantung orang nya. Misal “bala-bala ini enak karena terbuat dari bahan ABCDE, digoreng dengan temperatur yang pasâ€. Atau misalnya ini band ketukan nya sinkopatik 2/4 dan selama hidup cuma menemukan 2 band seperti ini. Dulu gue suka banget tulisan almarhum Rully The Brandals di majalah Juice, dia gabungin komentar, review dan bahasan teknis.
Album-album lokal yang berpengaruh buat palet musik lo?
Koil – Self Titled (1996): Yang ada Matahari, Lagu Hujan dan Burung Hantu.
Feast – Abdi Lara Insani (2022): Kaya King Crimson dan turunan-turunan nya nih. Menurut gue secara musik dan produksi bagus sih buat musik rock. Bikin makin yakin musik Indonesia masih bisa maju.
LAIR – Kiser Kenamaan (2019): Band dari Jatiwangi. Musiknya campuran Tarling dan psychedelic. Sekarang lagi tur Eropa mereka. Sampe disuruh residensi.
Balcony – Metafora Komposisi Imajinar (2003): Pas kemaren lagi dengerin ulang album ini, ada yang nanya ke gue album lama apa yang menurut gue masih bagus sampai sekarang, kalo gak salah si Samack. Gue bilang ke dia album Balcony ini secara sound dan produksi keren banget, menurut gue melompati zaman. Gak lama dari obrolan itu taunya Ucok announce mo reissue album ini.
Kuntari – Last Boy Picked (2021): Dari dulu band dan musisi Indonesia pengen go internasional lewat band pop dan indierock. Ternyata malah yang eksperimental seperti Kuntari, Senyawa, LAIR dan Gabber Modus Operandi yang go internasional hahaha..
Lo juga bikin platform Bakmi Club (@bakmi.club) yang mereview Bakmi-bakmi enak di Bandung-Jakarta. Top 5 bakmi favorit lo?
ONG Noodle Bar – Pasar Tjihapit.
Menurut gue dia bikin kaldunya sangat serius. Jarang ditemukan di kota Bandung.
Mie Anugerah – GOR Padjajaran
Mie Anugerah favorit gue di Setiabudi Supermarket sudah tutup. Sekarang di GOR Padjajaran. Ditemukan saat gue masih tinggal di Bandung. Kayaknya ini yang bikin gue jadi suka berburu. Kerupuk Dorogdog dan lobak nya bikin khas. Sayang cabangnya banyak berkurang sekarang.
Ho Liaw – Kelapa Kopyor Raya, Kelapa Gading.
Bakmi ini mulai di waktu yang hampir bersamaan dengan Bakmi Club berdiri. Salah satu bakmi non-halal yang bikin topping pork belly tapi resepnya fusion. Jadi wangi dan rasanya cukup ramai. Tips: pesan topping jangan terlalu banyak. Siobak dan ayam garam saja, lalu minta sambal rahasianya: Andaliman.
Bakmi Rudy – Hj.Nawi
Gue ngikutin bakmi ini sejak awal buka, dari kios kecil di Kelapa Gading sampai sekarang di Hj.Nawi. Gue suka karena bakmi ini fokus ke kualitas bahan, jadi selain enak di mulut, di badan juga enak. Dia pakai tepungnya dari Jepang. Rekomendasi: coba mie shirataki plus swekiau.
Mie A Tjuan – jl. Summagung
Rahasianya ada di kaldu ayam kampung yang medok dan gurih. Favorit gue pesan mie karet porsi kecil saja. Coba hirup harumnya, seruput dikit kuahnya, kasih sambel sedikit-sedikit dulu. Surga dunia. By the way ini bakmi kadang habisnya cepat, jadi mesti datang agak pagian.
Interview by Aldy Kusumah Photos from Eric’s Archives
Fikri Hadyan (Vocal), Ramzy Fauzansyah (Guitar), Razaq Caesar (Guitar), Bimo Dwi Anandi (Bass) dan Ihsan Akbar (Drum) tergabung dalam Rounder, yang menurut para penggemarnya salah satu yang terbaik di genre math-core / chaotic / metalcore. Mari berbincang dengan mereka mengenai kecintaan Rounder kepada band-band seperti The Secret, Chamber, dan Dillinger Escape Plan. Dan pastinya, simak juga EP “Mausoleum†mereka yang dirilis Grimloc.
“All-Rounder tuh bisa ke berbagai macam jalan. Kaya di Youtube ada sepeda atau motor itu disebut all-rounder vehicle yang bisa ke berbagai macam medan. Arti lain nya Rounder itu berani menaruh resiko tertinggi, bagaimana pun untuk mendapatkan sesuatu.â€
Bisa elaborasi sedikit mengenai single “Loveless Suffering� Lalu bagaimana konsep EP “Mausoleum�
“Loveless Suffering†itu menceritakan mengenai kehilangan seseorang yang dikemas dengan gelap dan depresif. “Loveless Suffering†adalah jembatan dari Rounder yang dulu ke Rounder yang sekarang. Dulu materi kita ga terlalu agresif dan gelap. EP yang sekarang lebih agresif dan chaotic hehe..
Mendengarkan “Mausoleum†EP gue teringat sama band Chamber dan Dillinger Escape Plan era “Miss Machineâ€. Walaupun tidak mirip cuma teringat sama 2 band itu pas dengerin Rounder. Kalian mendengarkan apa saja sih pas bikin EP?
Kebetulan salah satu yang gue denger itu sih mas, apalagi pattern drum-drum nya. Garis besarnya sih itu hehe. Kita dengerin The Secret juga yang “Intoxicationâ€. Sebagian riff gitarnya ngikutin kesitu sih.
Siapa main songwriter di Rounder?
Biasa kita bikin riff gitar lalu anak-anak nge gabung-gabungin. Awalnya kirim-kiriman lagu. Ga cuma Ramzy (Gitar) yang bikin riff awal, kadang Fikri (Vokal) juga bikin lagu dan riff nya. Terus Vian (Gitar) juga suka bikin riff awal. Semua awal nya dari gitar sih basically.
Awal bergabung sama Grimloc untuk merilis EP “Mausoleum†gimana ceritanya? Lo yang nawarin atau Grimloc yang approach duluan?
Awalnya sama-sama mau sih hehehe.. Pas rilis “Loveless Suffering†Grimloc nge-notice dan tiba-tiba Babap (Herry Sutresna) komen lalu nge DM. Terus kita ketemuan di Grimloc Suryalaya. Ngobrolin dulu mau kaya gimana kedepan nya di Grimloc. Mereka nyaranin bikin album tapi kita baru menyanggupi EP dulu dan kebetulan mereka mau rilis kaset juga. Akhirnya rilis kaset dan merchandise baju. Lagu kita ada juga di Bandcamp, dan kedepan nya akan ada di platform streaming lain.
Berikutnya lagi mempersiapkan apa aja Rounder?
Kita lagi nyiapin album insyaallah rilis akhir tahun. Kalau yang sekarang tuh bakal dirilis Grimloc dan Disaster Records. InsyaAllah ada vinyl nya haha.. Pengen banget sih.
Selama ini bagaimana proses rekaman si Rounder? Upcoming album rencana mau memakai proses recording yang sama atau mau mencoba sesuatu yang berbeda?
Pengen nya sih nyoba yang beda. Karena kebetulan EP itu operatornya mas Yoni di Funhouse tapi untuk drum aja. Gitar, bass dan vokal di studio sendiri di Southside, punya FIkri (Vokal). Lokasi nya di Ciwastra. Disini bisa take smua cuma drum nya electric. Yahh seada nya aja yang dipake hehe..
Kemarin gue liat video Rounder – Mausoleum Live Session di Youtube nya Maternal. Bisa ceritakan sedikit mengenai konsep nya yang sedikit teatrikal?
Awalnya kita main ke Maternal untuk ngomongin konten yang lain. Terus mas Vidi nawarin mau music video atau live session. Karena “Mausoleum†ini kebetulan belum ada konten digital maka akhirnya bikin video live session itu. Kalau manggung sih udah pernah dibawakan materi-materi EP. Awal konsep dasarnya dari anak-anak, yang performing art yang menari, lalu mas Vidi ngasih ide juga mengenai konsep layout dan set design live session itu. Shooting nya di IFI.
Itu di lagu terakhir “Loveless Suffering†ada scene yang menikam lengkap dengan EFX darah nya. Apa lo semua suka film horror dan gore atau itu representasi dari lirik nya?
Hahaha! Anak-anak sih. Kebetulan single itu menceritakan kematian, jadi di part akhirnya Fikri BM pengen nusuk orang padahal itu mannequin sih. Darah nya aja beli pewarna di toko kue kalau ga salah haha. Kalau pake darah ayam bau dong mas hahaha…
Biasanya band-band chaotic dan metalcore pake gitar-gitar humbucker. Tapi uniknya Rounder pake Fender ya walaupun tetap terdengar heavy..
Engga sih sebenernya itu body nya aja Fender, pickup nya sih humbucker.. Cuma mungkin ketutupan tangan pas lagi main haha. Biar unik lah dikit. Tapi banyak kok yang pake Fender kaya Slipknot juga si Jim Root pake Fender..
Sudah dari tahun berapa si Rounder? Personil dari dulu masih sama dan sudah solid ya? Sebelum bergabung di Rounder kalian masing-masing memainkan musik apa?
Awal dibentuk tahun 2017 mas. Personil dari dulu sama, dan kita ga mau bongkar pasang hahaha.. Anak-anak kebanyakan waktu SMA mainin musik post-hardcore. Ya itulah post-hardcore / emo hehehe..
Arti kata Rounder buat kalian?
All-Rounder tuh bisa ke berbagai macam jalan. Kaya di Youtube ada sepeda atau motor itu disebut all rounder vehicle yang bisa ke berbagai macam medan. Arti lain nya Rounder itu berani menaruh resiko tertinggi, bagaimana pun untuk mendapatkan sesuatu. Pengen nya sih bisa eksplor juga ke genre lain dan nyoba banyak eksperimen InsyaAllah kalau kesampaian..​​
Pertanyaan terakhir: Album-album lokal favorit kalian apa saja?
Fikri:
1. Morgue Vanguard – Demi Masa
Tidak perlu alasan.
2. Noise From Under – Aliquem Alium Internum
Liriknya gogon, kasarnya konsisten dari zaman “Substansi”, mirip Latif vokalisnya Swarm.
Ramzy:
1. The SIGIT – Visible Idea of Perfection
Alasan suka album ini karena Rekti.
2. Peterpan – Taman Langit
Alasan suka album ini karena Ariel.
Bimo:
1. CUTS – Rrradarrr.
Simpel sih pertama liat CUTS dari LA Lights Indiefest langsung suka aja dengan materi lagunya ditambah duo vokalis yang energik dan ya ini album terakhir mereka jadi seperti bring back the old memories aja.
2. White Shoes And The Couples Company- Vakansi. L
ove at the first sight, pertama liat di acara berita salah satu tv nasional waktu SMP langsung suka dengan gaya busana unik dan musik pop era 50-70an langsung nempel aja di telinga.
Vian:
1. KOIL – Megaloblast.
Karena ga ngerti aja di tahun segitu ada album sekeren ini dengan lirik-lirik yang relate keadaan di masa itu.
2. Hark! It’s Crawling Tar Tar – Dorr Darr Gelap Communique.
Karena madep pisan album nya.
Ihsan:
1. Burgerkill – Venomous.
Suka banget sama album ini.
2. Rocket Rockers – Ras Bebas.
Pas jaman SMP dikasih denger album ini sama kakaknya temen langsung suka dan merasa paling rebel di kelas.
Interview by Aldy Kusumah Photos from Rounder’s Archives
Laurent Adriant A.K.A. EVERSOMBER adalah visual artist asal Yogyakarta yang dikenal lewat ilustrasi teknik fotokopi Xerox ala flyer musik Vintage. Teknik ini sudah Laurent kembangkan dari 2015. Kalian bisa menemukan reference dari Sade, Dag Nasty sampai Kool Keith. Mari berbincang dengan Laurent mengenai kecintaan nya akan berbagai jenis musik yang sangat mempengaruhi karya-karya visual dia sehingga menjadi cukup ikonik di berbagai skena..
“Gue emang suka banget sama style Xeroxed gitu, dan gue sebenarnya ter-influence banget sama artwork-artwork nya Si Weirdo Dave / Fuck This Life & Si Matthew Bellosi, 2 orang itu yang ngebuat gue jadi suka banget sama style Xeroxed, dan karena gue juga suka banget sama Black Music â€
Halo Laurent. Kenapa lo pake moniker Eversomber untuk karya-karya design lo? Suka Dalek juga ya? Hahaha..
Hallooooooo… Hahaha, hestek Dälekbanget, ya gue emang doyan banget sama Dälek di era MC Dälek, Oktopus & Alm. DJ Still (Hsi—Chang Lin), dulu sempet pake juga Moniker “Permanent Underclass†sebelum akhirnya memutuskan pake nama “Eversomberâ€.
Bisa ceritakan sedikit ga soal kolaborasi-kolaborasi lo dengan brand-brand seperti PMP, Steeze, Grimloc dan Zodiac?
Kalau kolab yg sama PMP & LGN.id kebetulan gue di kontak Si HenHen PMP, kolab pertama gue sama PMP yang berkesan terus kalo Steeze karena gue sama Genta (Steeze) udah temenan lama banget. Nah kalo sama Grimloc mungkin di pending dulu nih, karena memang waktu itu gue diminta buat kerjain cover art buat Kidsway tapi akhirnya dikerjain sama Si Ken Terror, kemungkinan gue bakal kerjain buat merchandisenya Kidsway. Sama yang Zodiac Jakarta itu karena ada unsur Nepotisme hahahaha.. Waktu itu si Reegi (ZIP, Zodiac, Sometimes) yang minta gue buat ngisi artist seriesnya Zodiac. Upcoming collaborations dan collab lain sama siapa saja?
Kolaborasi Lain paling…. Eh, atau bisa dibilang gue buatin artwork gitu mngkin ya sebutannya, itu buat: Leave Me Alone (Kolektif DJ), 707 Jakarta, Apollo 10 (Band Ska—Rocksteady asal Jogja) Superbloom Jakarta, Skandal (Band Jogja), Etc.
Untuk Upcoming paling dekat mungkin belum ada, cuma kemarin sempat disuruh bikin artwork buat Bastards of Young sih mungkin hehehe..
Bisa ceritakan sedikit mengenai konsep upcoming artwork yang lo design untuk Bastards of Young?
Konsep grafis untuk BoY sebenarnya masih di seputaran dunia yang gue suka, Black Music. kebetulan ada beberapa grafis yang pernah gue buat trus belum pernah dipake juga, trus gue coba utak-atik lagi biar sesuai dengan permintaan BoY, gitu sih kurang lebihnya..
Design-design lo sudah cukup ikonik dengan artwork khas xerox dan referensi black music sampai hc/punk. Kenapa memutuskan menggunakan style xeroxed dengan referensi-referensi tersebut?
Kenapa memutuskan buat pake style ala-ala xeroxed ya karena gue emang suka banget sama style xeroxed gitu, dan gue sebenarnya ter-influence banget sama artwork-artwork nya Si Weirdo Dave / Fuck This Life & Si Matthew Bellosi, 2 orang itu yang ngebuat gue jadi suka banget sama style Xeroxed, dan karena gue juga suka banget sama Black Music akhirnya gue coba buat artwork yang berbau black music dengan style xeroxed HC/Punk.. Bisa ceritakan sedikit ga mengenai brand Sometimes yang lo bikin sama Kiki dan Reegi?Gimana awalnya terbentuk dan sekarang sedang mempersiapkan rilisan apa?
Gue diajakin Kiki buat gabung ke SFC tu kalo ga salah sekitar pertengahan tahun 2020, tapi awalnya dulu gue pernah buatin 2 desain buat SFC, dan sebelum nya gue dikenalin Kiki sama si Reegi. Kalo histori gue malah ga tau pastinya gimana hahaha. Bakal ada artikel baru yang dirilis cuma belum tahu pasti kapannya hahaha, gue cuma kebagian kerjain grafisnya aja sih kalo di SFC, bgtu kira-kira.
Top 5 brand Lokal & Luar favorit lo apa aja?
Brand lokal:
UNKL 347 era masih pake nama 347 Boardrider Co., Indicator Footwear, Early Capital Jakarta, Solid Gold (Kesh’s Dominate Former Brand) & Mankind.
Brand luar: The Real McCoy’s, Mister Freedom, RЯL, Schwipe & King Stampede. Album-album jazz favorit lo apa aja?
1. Ahmad Jamal – The Awakening: Ga akan ada The World is Yours kalo ga ada album ini hahah…
2. Lonnie Smith – Drives: Breaks di Track Spinning Wheel adalah salah 1 breaks terbaik sepanjang masa.
3. Horace Silver – Song for My Father: Hasil rekonstruksi ulang oleh Seorang Otis Jackson Jr. aka Madlib membuat saya jadi suka sekali dengan track Song for My Father.
4. Dadisi Komolafe – Hassan’s Walk: ini cover album sampe gue bootleg-in dikaos karena emang suka banget sama track Speak No Evil Nya Wayne Shorter yang dimainin ulang sama Dadisi. Permainan Flute yang mayan cepet gila dan tempo yang lebih cepet juga daripada versi aslinya.
5. Herbie Hancock – Fat Albert Rotunda: Karena Mbak “Jessica†gue memilih album ini sebagai salah satu album jazz favorit gue, dan karena Mbak “Jessica†juga Shooks One PT. II nya MOBB DEEP Terlahir.
Pertanyaan terakhir, Bisa ceritakan sedikit mengenai proyek lo Coltrane Youth?
Cerita singkat tentang Coltrane Youth (CY): Lupa tepatnya di bulan apa tapi yang pasti di tahun 2015, proyek iseng CY gue buat. awalnya cuma iseng-iseng aja gue bikin stiker buat bonusan ke konsumen CON (Toko Awul-awul Gue di Jogja) gue kasih juga ke temen-temen dan mereka ternyata suka dengan nama “Coltrane Youthâ€. setelah itu muncul niat buat gue cetak di kaos, dengan sistem Pre Order. Antusiasnya lumayan ternyata waktu itu, diluar dugaan. Kaos CY Versi awal gue cetak di kaos warna item, dan kaos CY Versi kedua gue cetak di kaos warna putih di tahun berikutnya yaitu tahun 2016, dan karena proyek CY juga ngebuat gue dapet banyak temen. Lalu dicetak ulang lagi di tahun 2021 lalu lewat label bootleg gue yang didalamnya juga ada Kiks (SFC) & juga Mamas (Ferre Apparel).
Interview by Aldy Kusumah Photos from EVERSOMBER’s Archives
Setelah membuat EP berisi 6 lagu dan berkontribusi di kompilasi Reverse Records (Masaindahbangetsekalipisan) dengan Cherry Bombshell pada tahun 1996, Alexandra harus hengkang dari Cherry Bombshell untuk melanjutkan studi di Hong Kong. Setelah meninggalkan band dream pop / shoegaze nya itu, Alexandra membuat proyek goth rock / industrial dengan Riza dari band Sel yang cukup menggebrak dengan EP “Biara†nya. Setelah vakum beberapa tahun dari bermusik, Alexandra sempat menulis sebuah buku bertema medieval fantasy ala Lord of the Rings yang berjudul “Nadi Amuraâ€. Kini Alexandra join forces dengan Ekyno (Full of Hate, Plum) dalam band Gergasi Api. Mari berbincang sedikit dengan Alexandra mengenai “reuni†Sieve, Cherry Bombshell dan upcoming album Gergasi Api yang akan dirilis oleh Lawless Records..
“Kalau gue ga bikin musik lagi, gue yakin bakalan jadi bitter pas tua nanti.â€
Lo udah lama vakum dari jaman Cherry Bombshell dan Sieve, sekarang lo kembali dengan Gergasi Api. Kemana saja selama ini?
Awalnya udah mau bikin lagu lagi sih. Bahkan sebelum Yearnings yang sama Ajie Gergaji (The Milo) dan Kimung (eks-Burgerkill, Nic Fit, Sonic Torment). Gue bilang ke suami gue “Kalau gue ga bikin musik lagi gue yakin bakalan bitter nih pas tua nantiâ€. Gayung bersambut si Ajie ngajakin gue bikin lagu karena gue suka bikin puisi. Sekarang gue udah mulai bersosial media lagi, semacam buka gerbang lah. Ajie lagi bermusik sama Kimung, dia bilang “Lo isi vokal dan lirik dong pake puisi loâ€. Gitu sih awalnya, bahkan karena belum punya mic yang proper gue rekam di handphone gue haha.
Lalu Eky ngontak gue dia bikin proyek Puerta. Bahasa Spanish gitu. Dia pengen gue isi lagu dia. Terus gue bilang ke Ekyno gue pengen punya band. Eky bilang dia mau bikinin lagu buat gue. Akhirnya dia ngasi ke gue lagu dan ngajak bikin band, Gergasi Api. Sekarang lagi nyiapin full album bareng Lawless Records. Lalu Sieve juga lagi fokus mau bikin-bikin lagu lagi. Mau bangun dari tidur lagi nih kita. Diajak Rooftop Sound Records (Krisgatha & Aghi Narottama). Nanti single Sieve di publish dan dimatengin ama mereka.
Bisa ceritakan ga tentang band goth rock lo, Sieve? Band itu dulu kaya menggebrak lalu hilang seperti mitos..
Itu berawal dari jaman Cherry Bombshell kan gue udah pacaran sama si Riza (Sel). Pulang dari Hong Kong tahun 1997 si Cherry Bombshell baru ngeluarin album “Waktu Hijau Duluâ€. Jadi kasetnya dikirim ke Hong Kong. Sedih banget karena itu lagu gue semua. Waktu itu juga sebelum gue ke Hong Kong udah bilang ke Harry Ajo (Cherry Bombshell, Puppen) yang nyanyi pacar lu aja Jo si Widi. Masih ada demo kaset Waktu Hijau Dulu yang isinya masih suara gue tuh, mungkin nanti suatu hari akan gue pindahin ke CD. Kemaren ngobrol ama Peter (Anoa Records) dia mau bantuin transfer ke CD. Nah kata Riza yaudah deh lo bikin band sendiri aja dibantuin. Cuma dia mau nya dibelakang layar aja, jadi composer dan produser. Karena pacaran dia bilang aneh dan awkward kalau se-band di panggung haha. Nah adiknya Riza tuh si Rina, jago main gitar dan piano. Keluarga itu bagus banget sense of music nya. Si Rina waktu itu masih kuliah kayaknya. Dia masuk-masukin piano, Furies Atonement itu sisanya dia semua, kecuali drum dibikin sama si Doni Koil. Itu semua home recording semua hahaha. Ntar Sieve arahnya ga ke goth rock lagi sih. Tunggu aja tanggal main nya hahaha… Lo termasuk salah seorang yang masih nge band dari era dulu dan masih ngeband di era kontemporer ya..
Sekarang emang lebih simple sih kirim-kirim lagu. Cuma gue kangen juga latihan band. Paling sama Gergasi Api latihan. Itupun latihan karena untuk live ada komponen-komponen tertentu yang harus dibikin ulang khusus buat live. Aransmen sih sama cumu harus dibikin ulang lagi. Kalau Sieve jaman dulu itu live nya pake CD player hahaha!
Dulu gue pernah liat ada band industrial Bandung live nya bawa PC ke panggung.. Mereka bawa komputer rumah aja ke panggung haha..
Nah kita lebih simple, pake Minidisc player, CD kecil gitu. Jadi ada crew yang pasang tinggal pencet. Ada gitar, vokal, bass si Makky sama drum si Cholay. Yang di Minidisc cuma sample aja. Si Riza di belakang layar gak pernah ikut manggung. Sound Engineer aja dia tuh. Di panggung gue, Rina, Makky dan Cholay biasanya.
Kalau Gergasi Api itu sepertinya lebih berkonsep ya? Dari tema, artwork dan lirik..
Jadi awalnya itu Eky sama gue udah klik banget. Susah banget cari partner bermusik yang klik banget. Saking kliknya tuh apa yang gue dan dia pikir itu biasanya sama. Di trilogi yang pertama itu kita masih nyari-nyari lah karakter nya kita. Setelah Awakening tuh kita baru nemuin lagi. Di upcoming album udah lebih kental lagi ciri dan karakter nya si Gergasi Api kaya apa. Cukup variatif sih kalau lu dengar. Karena kita masukin banyak banget unsur tapi selalu ada benang merahnya, yaitu vokal gue dan ambiance nya Eky. Kita itu di tiap lagu bisa ganti genre di tiap bagan.
Jadi full album Gergasi Api dirilis sama Lawless Records?
Iya, mungkin sama Lawless sih. Anoa cuma rilis yang single-single kemaren. Yang sekarang full album sama Lawless. Kalau Sieve dipegang sama Rooftop Sound Records. Artwork upcoming album Gergasi Api juga masih dikerjain Morrgth yang ngerjain artwork-artwork sebelumnya. Judul album nya “Red Knight†tapi ga akan ada lagu “Red Knight†disitu. Emang lagu-lagu yang di trilo single ga akan ada di album, karena konsepnya juga sudah berbeda.. Harus beda sih hehehe..
Format live Gergasi Api siapa saja personil nya?
Format live kita ntar sama si Fahri (Kelelawar Malam) main gitar dan yang main drum si Sobron Haki. Ada tuh dia band nya banyak, cek aja Youtube nya. Dia session player juga, dan main di banyak band. BTW, lo kenapa sih dulu keluar dari Cherry Bombshell?
Karena gue mo kerja praktek di Hong Kong. Dulu kan manager Cherbomb almarhum Ademus (347). Dia bilang pas gue cabut “Aduh ini kayak di putusin pacarâ€. Bokap gua against gue bermusik waktu itu. Musiknya juga yang album kedua (Luka Yang Dalam) udah beda sama yang “Waktu Hijau Duluâ€. Widi yang bikin album kedua, dia kan emang shoegaze banget.
Pure Saturday dulu basecamp nya di Gudang Coklat. Kalau Cherry Bombshell dimana dulu basecamp nya?
Basecamp nya Cherbomb itu dirumah Ajo, Dago no. 347. Sebelum 347 jadi brand malah. 347 itu baru keluar dan jadi store pas gue balik dari Hong Kong. Si Dendy ngasih liat ke gue ini konveksi kita, penjahit nya dan lain-lain. Kita disitu itu kan kost-kostan. Ada satu ruangan gede yang kita pake untuk nge jam, rapat dan bikin lagu. Itu anak-anak nongkrong juga disitu semua: ada Helvi (Teenage Death Star), Robin (Puppen), Ekyno juga dateng sama Adhi Brew (Sendal Jepit). Maskom (Ouval).. Anak-anak semua lah. Yang kost disitu Dendy (347), Pechunk (Cherry Bombshell). Dan anak-anak Itenas lain juga. Duh gue jadi inget ga megang sama sekali kaset Cherbomb. Si Arian sempet ngasi lihat ke gue dia ada kaset EP Cherbomb.
Oh iya tahun kemaren lo juga sempet nyanyi di track “The Fountainhead Palace†nya Nearcrush..
Gua kenal baik sama lo dan Nearcrush is one of a band yang matang dan bagus banget menurut gue. Lirik sama melodi udah dari Nearcrush, gua tinggal nambahin komposisi alternatif dari melodi yang udah ada di bagan terakhir. Lo kan minta ada banyak double vocals biar kayak ENYA gitu, hehehe… Jadi track lumayan ga sedikit. Gua pengen gabungin low melody sequences and high ones biar kontras gitu. Seru banget prosesnya. Seperti biasa kalau ngisi on the spot melodi keluar dari dengerin langsung musik aransemennya and I sing. Kaya nge-jam. Konsepnya kan tentang loneliness / insanity that came creeping at the halls of the dead The temple that housed spirits of the dead. So I kinda incorporate that mood into the song. Lirik-lirik lo di Gergasi Api lebih ke konsep medieval fantasy. Top 5 RPG Fantasy / Adventure Games versi lo?
1. King’s Quest Series
Game ini adalah tolak ukur awalnya prefrontal cortex gua terlatih banget buat problem solving dan banyak banget tokoh dan slepetan koplak cerita mitologi, folklore, mythical beasts and supernatural creatures.
2. The Legend of Kyrandia Series
Game bikinan Westwood Studios nih. Plot twist Malcolm dari antagonis ke protagonis, juara. Keputusan untuk mempertahankan karakter sarcastic, malice born from deep traumatic false persecution and witty traits nya mantap. Mengingatkan sama Jokernya DC. Terus banyak pilihan endings dan routes. Choices Nya di seri ketiga Malcolm Returns untuk memilih menjadi devilish, netral dan angelic seru, tentunya jangan pilih dua-duanya yang terakhir.
3. Quest for Glory Series
Although the Maps bikin pengen jambak rambut, still, bisa memilih karakter wizard, thief, hero atau paladin itu seru. Ini RPGnya Sierra, jadi masih hancur dan sembarangan banget karakter-karakter dan conversationnya. Banyak pula easter eggs yang pencetus ide brilian buat promosi games lain. Tiba tiba tokoh dari Space Quest nongol macam film-film superhero jaman sekarang. But remember this was still old true pixelated games pada jamannya yah, jadi ide gini cemerlang banget jaman itu.
4. The Monkey Island Series
Guybrush Threepwood. The one and only yah, Dy. And Lucasarts.
5. Dungeon Siege Legend of Aranna
Ini seru banget soalnya dapet cheat codes dari beli stensilan walkthrough. Because I have a confession, I pretty suck at playing battles in RPGs. Berasa dewa banget di sini.
Top 5 film medieval fantasy versi lo apa aja?
1. LOTR & The Hobbit Trilogy: Karena Tolkien created a whole new mythology of this world on his own. Lengkap dengan berbagai bahasa dan ilustrasi dia dengan peta dunia yang ida buat sendiri. On his own.
2. Merlin: Dulu Sam Neill yang jadi Merlin, ada Helena Bonham Carter, James Earl Jones, Miranda Richardson, Lena Headey as the rest of the cast. It’s magical special effects at the time blew my mind.
3. Willow: Diproduseri George Lucas dan Lucasfilm.
4. Legend: Film Tom Cruise nih. The soundtrack… Mannn…
5. Labyrinth: Last but not least… Drumrolll… Labyrinth. Where to start… David Bowie played in Brian Froud’s World, with Jim Henson, greatest idols of mine. Forever grateful. That particular scene, having a Renaissance Hedonistic Mask Ball and The Song. I always picture myself in one.
Interview by Aldy Kusumah Photos from AJW’s Archives