Setelah hampir 11 tahun sejak album self-titled dirilis, Disconnected untuk pertama kalinya, akan tampil dengan formasi awal dimana saat itu, Grahadea adalah synth player yang akhirnya hengkang bergabung dengan Homogenic. Band yang sempat menjadi line-up di Music Matters Singapore edisi pertama ini, akan mengisi salah satu line festival yang akan diadakan padatanggal 12 Juni 2020 di Bandung.

Kembalinya Disconnected saat ini akan diikuti dengan rilisan beberapa single di tahun 2022, dan direncanakan akan mengadakan headline tour pada tahun 2023. Rencana tour ini yang diharapkan dapat mengulang kesuksesan tour Jawa-Bali-nya saat itu bersama “Heaven Rawk Tour”. Rilisan single ini pun akan melibatkan Grahadea untuk ikut andil dalam penulisan lagu dan aransmen musik.

Band yang terdiri dari Arie Aradaz, PJ Panji, Yuda Sarjana dan Decil Christianto ini telah memberikan pengaruh terhadap perkembangan skena musik punk di Indonesia khususnya di Bandung. Di era awal 2000 an, Disconnected menembus radio komersial sebagai band independent pertama yang melantunkan lirik bahasa inggris dalam lagu “Endless”, dimana saat itu, sangat jarang artis/band Indonesia yang “diterima” untuk mempublikasikan lagu lirik bahasa inggris di stasiun radio komersial. Disconnected pun akhirnya menjadi referensi dari band-band pop punk ternama di Indonesia seperti Pee Wee Gaskins.

Selama masa hiatus ini, para personil band Disconnected, tidak pernah jauh dari urusan musik. Sang vokalis, Arie Aradaz dan Grahadea sukses membangun startup software musik-nya dan PJ Panji telah menjadi promotor konser / festival artis internasional. Album self-titled Disconnected yang dirilis tahun 2011, sampai saat ini masih bertengger diplatform musik digital dan dapat didengar secara streaming oleh fans nya. Band yang sempat di bawah naungan label rekaman Heaven Records ini, akan kembali hadir dengan lagu-lagu baru dengan tetap memadukan elemen musik punk dan synth-pop, yang juga rencananya akan diproduksi sendiri.

 

Jeurnals

Horror adalah genre yang sangat luas. Sebut saja: paranormal, slasher, splatter, found footage, home-invasion, cannibal, zombie, monster sampai psychological horror (dan masih banyak lagi subgenre niche lain nya). Lupakanlah film-film populer seperti The Shining (1980), Suspiria (1977), Midsommar (2019), Texas Chainsaw Massacre (1974) dan Ju-On (2002). Ini adalah beberapa hidden gems yang underrated dan mungkin terlewati oleh banyak orang. Tidak ada horror jumpscares murahan di list ini…

The Wailing (Na Hong Jin / 2016)
Scare level: 5/5
Gore level: 4/5
Walaupun film Korea ini sukses secara box-office, The Wailing tidak meraih status mainstream. Plot film ini mempunyai kemungkinan besar untuk membuat penonton mengalami mimpi buruk. Seorang polisi bernama Jong-goo (Kwak Do-won) melakukan investigasi di sebuah kampung kecil, dimana orang-orang mulai membunuh keluarga nya sendiri. Film ini disutradarai oleh Na Hong Jin yang membuat film-film thriller keren seperti The Yellow Sea (2010), The Chaser (2008) dan juga menulis / memproduseri The Medium (2021).

The Sadness (Rob Jabbaz / 2021)
Scare level: 4/5
Gore level: 5/5

Film ini sudah tentu masuk ke top 5 film zombie favorit saya. Film Taiwan yang disutradarai oleh sineas asal Kanada ini mungkin adalah salah satu film zombie tersadis yang pernah saya tonton. Bayangkan splatter ala Braindead (1992) nya Peter Jackson digabung dengan gore yang realistis ala Zombi 2 (1979) nya Lucio Fulci. Menarik nya, disini para “zombie” masih bisa bicara dan mempunyai akal, hanya saja zombie-zombie ini adalah versi terbejat dari hasrat terpendam manusia yang menginginkan seks dan kekerasan. Pada era dimana banyak filmmaker “me-ngerem” imajinasi karya-karya nya, Rob Jabbaz malah tancap gas pol disini. To the max.

Audition (Takashi Miike / 2001)
Scare level: 4/5
Gore level: 3/5
2/3 film ini bercerita mengenai seorang duda yang mencari jodoh dengan cara meng-audisi puluhan wanita. Takashi Miike memang terkenal sering berganti-ganti genre di setiap film nya, tetapi selalu berhasil dalam eksekusi. Dari Ninja Kids (2011) yang family-friendly sampai Ichi The Killer (2001) yang mendorong batas censorship di Jepang sudah pernah dia buat. Seolah-olah seperti film romantic comedy bernuansa hiburan ringan, part terakhir Audition ini tiba-tiba berubah 180 derajat menjadi full-blown horror film. Setelah narasi berlanjut, akhirnya para penonton tahu siapa sebenarnya wanita beruntung yang dipilih si duda malang itu…

The House of the Devil (Ti West / 2009)
Scare level: 4/5
Gore level: 3/5
Sebuah throwback ke era film horror akhir ‘70 an dan awal ‘80 an. Dengan alur yang lambat dan slow-burn, film ini justru diam-diam mencapai klimaks di bagian akhir nya. Kepiawaian Ti West dalam mendirect film horror terlihat maksimal disini. Disini Greta Gerwig (sutradara Little Women dan Lady Bird) berperan menjadi protagonis yang bernasib buruk. This film is criminally underrated.

X (Ti West / 2022)
Scare level: 3/5
Gore level: 3/5
Lagi-lagi sebuah persembahan dari Ti West. Film yang baru rilis ini adalah sebuah homage kepada Texas Chainsaw Massacre. Dengan sebuah twist, tentunya. Mia Goth (Suspiria, A Cure For Wellness, Nymphomaniac) berperan menjadi aktris film “dewasa” yang melakukan syuting film syur di sebuah rumah pertanian terpencil. Ya, kalian mungkin bisa menduga apa yang selanjutnya terjadi. This movie is low key sad. Damn.

You’re Next (Adam Wingard / 2011)
Scare level: 3/5
Gore level: 3/5
Sebuah home invasion horror yang menarik dari Adam Wingard (The Guest, Godzilla VS Kong, Death Note). Bayangkan saja film ini seperti Home Alone (1990) dengan versi yang jauh lebih sadis dan gore. Acara makan malam dan reuni sebuah keluarga besar dirusak oleh kehadiran beberapa tamu misterius yang meneror rumah mereka. Disini ada juga penampilan Ti West sebagai cameo.

The Fly (David Cronenberg / 1986)
Scare level: 5/5
Gore level: 4/5
David Cronenberg adalah master dari subgenre body horror. Dia sudah mendirect beberapa film horror dan cult classics seperti Videodrome (1983), Scanners (1981), Dead Zone (1983), History of Violence (2005), dan tentu nya yang satu ini: The Fly. Disini Jeff Goldblum berperan menjadi seorang ilmuwan yang sedikit nyentrik, dan gila. Film ini akan membuat kamu melupakan image Jeff Goldblum flamboyan dan menyenangkan seperti yang kamu ingat di Jurassic Park (1993). Sebuah tantangan dari kita: tontonlah yang satu ini sambil makan.

Possessor (Brandon Cronenberg / 2020)
Scare level: 4/5
Gore level: 5/5
Like father, like son. Brandon adalah anak kandung David Cronenberg, dan dia juga sutradara handal dalam sub-genre body horror. Setelah sukses dengan film Antiviral (2012), kali ini Brandon kembali dengan film yang tidak kalah aneh: Possessor. Bercerita mengenai sebuah organisasi pembunuh yang bisa mengontrol otak manusia secara remote untuk membunuh target-target nya. Dengan karya seperti ini, mungkin kita harus bertanya; “Are you okay, Brandon?”

Tremors (Ron Underwood / 1990)
Scare level: 1/5
Gore level: 2/5
Mungkin ini film paling santai di list ini. Sebuah film horror yang mungkin ditemukan di rak diskon tempat rental video pada zaman nya, Tremors dengan piawai menggabungkan genre komedi dengan horror monster nya. Kevin Bacon pun sangat lucu dan menghibur disini. Sangat cocok untuk ditonton bersama teman-teman dengan ditemani kudapan dan minuman segar. This film is an enjoyable treat!

House (Nobuhiko Obayashi / 1977)
Scare level: 2/5
Gore level: 2/5
Sebuah film horror comedy yang sedikit eksperimental. Tentunya dengan dirilis pada tahun 1977 yang bersamaan dengan premiere Star Wars: A New Hope, film ini seakan ditelan bumi. Walaupun pada saat rilis di Jepang mendapatkan review buruk, film ini sukses secara komersial. Dan akhirnya mendapat cult status setelah versi remaster Blu-ray nya dirilis oleh Criterion Collection. Special effects yang buruk, akting kaku dan plot yang tidak jelas tidak akan menghentikan kamu untuk menikmati film ini. A cult classic indeed.

Creep (Patrick Brice / 2014)
Scare level: 3/5
Gore level: 1/5
Sebuah horror found footage ala Blair Witch Project (1999) dan Paranormal Activity (2007). Creep tidak menampilkan unsur paranormal ataupun gore, tetapi tetap mengerikan dan disturbing jika ditonton malam hari sendirian. Beberapa jump scare memang cheesy tapi itu disengaja sebagai humor dan comic relief. Patrick Brice berhasil membuat tensi yang mencekam dengan hanya berfokus pada 2 karakter saja sepanjang film. Itu semua dia bangun menggunakan setting seada nya dan plot yang sederhana. Sebuah film yang simple, efisien, on point dan tentunya creepy.

The Vanishing / Spoorlos (George Sluizer / 1988)
Scare level: 5/5
Gore level: 1/5
Mungkin beberapa orang akan mendeskripsikan film ini lebih ke thriller atau misteri, tetapi bagi saya, film yang akan menghantui pikiran mu setelah berhari-hari ditonton adalah horror. Film Belanda ini bercerita mengenai pasangan yang sedang berlibur, dan tentu nya liburan itu berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang beristirahat di rest area, kekasih sang protagonis hilang dan raib begitu saja tanpa jejak. Jawaban atas hilang nya sang kekasih tersebut di ending film ini adalah salah satu ending film paling mengerikan yang saya pernah lihat. So shocking, this film will stays with you forever.

Text by Aldy Kusumah

Grahadea, yang lebih akrab dipanggil Dea adalah salah satu pentolan pop-punk pada jaman nya. Sebagai pengisi synth di band Disconnected, dari dulu Dea sudah menggunakan instrumen yang tidak umum. Sekarang Dea sedang sibuk mengurus perusahaan pro-audio software nya yang bernama Kuassa dan juga menggarap materi baru untuk HMGNC. Mari berbincang dengan Dea, tech-geek dan anime-nerd enthusiast ini..

Halo Dea! Akhir-akhir ini lagi develop apa saja sama Kuassa?
Halo mas Aldy! Salam kenal buat para pembaca. Saya Grahadea personil dari grup elektronik HMGNC dan CEO dari perusahaan pro-audio software Kuassa. Kesibukan Kuassa sih kita terus-menerus bikin produk baru dan meng-update produk lama. Rencana mo bikin software buat media Beat.de. Dia tuh sebuah perusahaan media Jerman yang bikin majalah dan ada online nya juga.

Awal mula lo bikin Kuassa gimana cerita nya?
Jadi Kuassa awal mula nya dari temen SMA dan temen band saya Arie Ardiansyah, vokalisnya Disconnected, band synth-punk. Setelah lulus kuliah saya sempat kerja di Jakarta, pas kembali ke Bandung pas saya S2, Arie itu sempet ngerilis software audio yang dia rilis gratis. Saya sama Arie dan Adhit Android bertiga bikin studio rekaman yang kapitalnya lumayan gede. Nah jadi kepikiran ngerintis bikin perusahaan software pro-audio.

Musisi lain pada umumnya kan ngerintis bisnis clothing dan kuliner, sementara lo bikin software audio. Ide awal nya dari mana?
Simply, kita semua teh pengguna software audio. Dari remaja sudah sering pakai dan udah familiar sama software audio. Arie juga lagi suka sama digital audio workstation (DAW). Sering bikin musik dan rekaman di rumah. Adhit juga tentu nya produser kawakan ya, yang ngerjain Homogenic album kedua juga, yang memang full digital. Saya juga background nya musik elektronik. Ya emang kita pengguna aja sih, tau harganya lumayan dan sedikit banyak tau industri nya seperti apa. Kita juga tau benchmark ideal produk audio software yang bagus itu seperti apa, jadi kalau mau bikin tahu bagusnya seperti apa. Gitu lah kira-kira.

Homogenic sendiri sedang mempersiapkan apa sekarang? Album baru?
Homogenic mah ada persiapan album baru. Ditunggu saja.. Format nya masih bingung, tapi selama pandemi udah ada 3 lagu kita keluarin. Materi baru mah kita bakal garap terus-menerus. Mungkin kalau saya sama Dina (HMGNC) masing-masing banyak kolaborasi sama seniman-seniman bikin NFT, tapi itu proyek pribadi aja..


Dulu di Homogenic lo kan belum pake eurorack seperti sekarang. Gimana perbedaan nya modular system lo sekarang dengan alat-alat yang dulu lo pake era album 1 dan 2?
Kalau eurorack ya, ini mah pendapat pribadi. Kalau pendapat pribadi sih secara suara ga ada bedanya dengan software sekalipun. Jadi formatnya aja yang berbeda si modular format, per device dia. Mungkin yang membedakan adalah workflow nya. Anggap synthesizer atau drum machine tapi per modul. Nah ini mah sendiri-sendiri disatukan dengan satu casing, dari vendor yang berbeda. Jadi bisa ngarang misalnya oscillator pake Moog, tapi filter pake prophet dan efek Strymon itu tuh bisa. Tidak ada batasan. Secara sound mungkin lebih punchy karena sinyalnya agak hot. Saya juga banyak dibantu anak-anak Indo Modular, Indra Perkasa, si Deathlessramz (Nearcrush), Hendra (RNRM), Dissa (Polyester Embassy), edan sound nya punchy dan warm. Bagaimanapun juga alat mah gimana operatornya..

Udah berapa lama lo main modular yang berciri khas kabel kusut ini?
Tepat mulai sebelum pandemi. Gara-gara diskon black friday. Mulai nyobain di sistem kecil yang segede majalah. Ada history nya di IG dari kecil sampai sekarang. Kalau orang lain udah sampe 3 sistem kalau gue masih 1 case. Awal-mulanya diracunin sama Indo Modular yang pendirinya adalah Bagus Pandega dan Randy Nidji. Ditambah lagi diracun sama Hendra RNRM dan Dissa produser Nadin Amizah. Basicnya ini synth dan drum machine biasa cuma dalam packaging yang berbeda. Awalnya gue pikir apaan ini mahal banget. Kan tadi kata lo kabel-kabel nya kusut, nah kalau alat lain kan di dalamnya kabelnya nyambung disolder. Kalau ini kabelnya diluar bisa di routing kemana aja, jadi membebaskan pikiran. Workflow baru, cara kerja baru dan proses baru, jadi terbebaskan otak kreatif nya. Dulu diracun ini suara kick paling gagah, ini suara nya Homogenic banget, ya langsung keracun apalagi pas liat perform live nya. Seru.

Banyak juga kan musisi modular main NFT, lo sendiri gimana?
Kenapa anak-anak modular main NFT? Karena mereka tuh orang-orang yang cepat mengadopsi teknologi baru. Orangnya itu-itu juga, Dago DAO. Mereka ngajarin NFT tuh gimana, cuan dan lain-lain. Pas pandemi orang-orang ga bisa manggung dan ngulik NFT ya karena emang cuan, suatu opsi lah dalam berkarya. Cuma ya ga instan juga. Meskipun gue kreator dan belum banyak bikin paling baru 4-5. Si Dina malah lebih banyak bikin NFT. Untuk pembaca yang belum tau NFT itu adalah Non Fungible Tokens, menjual karya digital menggunakan teknologi Blockchain. Ada semacam stempel dan smart contract di karya nya. Secara digital tersimpan di blockchain, bukan disimpan di server atau gimana. Jadi ada di setiap komputer di seluruh dunia, kaya komputer yang terdesentralisasi. Jadi tiap karya seni nya ini bisa dibikin limited atau banyak, dan ada semacam stempelnya di setiap karya nya, kalau penjelasan layman’s terms nya.


Lo juga cukup dikenal sebagai geek dan nerd yang suka game dan manga ya? Hahaha. Top 5 games dan anime versi lo apa aja?
Malu ah disebut gamer mah, masih banyak yang lebih hardcore haha.

Game:
Overwatch
“Kalau yang memorable ya Overwatch, gue lumayan suka first-person shooter, apalagi Call of Duty series.”

COD series

Diablo 3
“Diablo 3 bikin gue sempat begadang berhari-hari.”

Total War series

Elder Scrolls: Skyrim
“Terobsesi juga sama Skyrim dulu haha. Karena bisa di Mod.”

Gue emang anak nya manga banget ya, suka komik haha. Lagu Homogenic banyak based on manga kaya “Transmutasi” yang diambil dari transmutation circle dari Fullmetal Alchemist.

Anime:
The End of Evangelion.
“Seri versi awal. Bagi gue definisi keren all-package, ada mecha, cult dan menggambarkan kiamat dengan sangat indah. “

Berserk
“Sangat heavy metal.”

Gantz
“Sangat sci-fi dan penuh dengan gore.”

Attack on Titan

Kimetsu no Yaiba
“Lebih bagus dari manga nya. Sinting lah.”

Fullmetal Alchemist


Lalu peran-peran lo di Startup Bandung, komunitas sepeda BBMCC dan Signature Live apa saja?
Kalau sepeda mah gua anak baru euy hahaha. Ga nyangka kecebur di geng yang kompetetif, balapan ke Lembang haha aduh cape. Circle baru gara-gara pandemi, tapi BBMCC ya gua anggota aja sih, tapi ini olahraga yang fun. Awalnya anak-anak Brompton, pada dijual terus beli road bike hahaha. Di Signature Live gue KOR, yaitu key opinion rider hahaha. Itu mah diajakin ama anak-anak Indomodular, intinya sih komunitas sepeda yang apapun sepeda nya bisa ikutan, ga terjebak dalam satu genre sepeda. Seru aja menemukan genre-genre baru dalam sepeda, kaya musik aja ada genre nya sepeda itu. Di Start-up Bandung adalah komunitas founder-founder startup yang cukup senior di Bandung. Gue dari 2019, dan jadi ketua yang kedua. Ada sekitar hampir 200 founder start-up. Di start-up juga ada berbagai sub-genre dari game, tech sampai music kaya gue.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Grahadea’s Archives

Ucay memang dikenal lewat gaya bernyanyi dan fashion ‘80s nya yang cukup khas ketika dulu masih berbagi panggung bersama Rocket Rockers. Sekarang dia lebih menekuni sisi bisnis brand skate shoes nya yang bernama FYC (Forever Young Crew). Cerita Ucay mengenai ditipu sampai puluhan juta dan bagaimana membangun FYC yang bermula dari pabrik home industri di gang sampai sekarang membuat produknya di pabrik besar tentunya akan menarik untuk disimak.

“Mind blowing nya tuh produk yang laku malah yang dulu kita ragukan. Yang membahagiakan di FYC adalah bestseller nya adalah idealisme kita.”

Apa kabar Cay? Gimana kabarnya FYC?
Kabar mah saya lagi overweight hahaha. Sudah 3 digit. Geus 100kg urang parah yeuh hahaha. FYC pandemi kemarin tuh beberapa cabang tutup. Jakarta, Tangerang, Lampung, hampir semua tutup tinggal Bandung dan Bekasi pokoknya. Alhamdulillah masih survive, ditengah-tengah efek pandemi value brand masih terjaga soalnya kemarin baru collab sama ban FDR dan sekarang lagi projek sama Poco handphone, dulu sub nya Xiaomi cuma sekarang udah lepas.

Mengenai cabang-cabang yang tutup itu karena offline turun drastis?
Kita kan sistemnya kaya franchise tetapi kita nyebutnya wholesaler. Mereka itu emang khusus jual produk FYC aja. Pandemi kemarin terasa berat dan mereka udah gak bisa nutup operasional. Yang cabang kita pribadi juga yang di Jakarta Fatmawati udah ga kuat bayar kontrakan. Jadi sekarang cuma official store Bandung, online dan store Bekasi.

Dulu lo juga sempat bikin varsity jacket dengan brand College Star kan? Sebelum varsity hype sekarang ini..
Dulu 2010 setelah Rocket Rockers menerima endorsement dari Volcom, Macbeth, saya jadi banyak belajar promosi, cara menghandle brand dan menanam value di brand. Mungkin ini sudah waktunya saya bikin sendiri. College Star awalnya brand saya sendiri untuk bikin merch Rocket Rockers (RR), Aska beda lagi brand merch RR nya. Dari awal ngeband juga suka varsity biar jadi diferensiasi dengan fashion-fashion band Saparua yang mayoritas hitam-hitam. Gue ambil fashion teen movie, salah satunya pakai varsity jacket itu, karena jarang juga yang pake 2010 itu. Akhirnya jalan College Star di 2010 ketika orang lain masih sibuk dengan fashion emo, kita beda sendiri. Sempat dibantu Nanu GBB dan Soffi juga. Ditengah jalan, ya itu mah udah takdir lah ditipu dan bahan nya dibawa vendor. Untuk brand yang masih grow up ditipu 40jt an sama dihitung bahan lumayan gede lah. Yaudah saya mati suri kan dulu. Sebelum keluar dari band gue juga mikir apa ya yang bisa bikin survive setelah keluar dari brand.

Lalu dari situ lo dapat ide untuk bikin FYC?
Sempat mau bikin chino tapi pemain nya banyak. Akhirnya cari yang barang mainstream tapi pemain nya dikit. Sepatu lokal pada saat itu mati suri juga tuh kaya Indicator dan Gummo. Ya ngambil ceruk itu aja, pas yang lain tidur gue bangun. Mencoba ngebangun brand skate shoes. Kan tagline College Star itu Forever Young Crew, yaudah nama brand nya itu aja disingkat jadi FYC. Start di 2012 ngajak si Rahmat. Di tahun 2014 akhirnya bertiga, ada partner yang masuk nama nya Zeni, orang Jakarta tapi sekarang tinggal di New Zealand

Balik lagi ke College Star lo ada keinginan untuk ngebangun College Star ga? Kan sekarang varsity lagi rame..
Banyak yang colek sih “Cay lo kan dulu bikin varsity awal-awal, bikin lagi dong”. Banyak juga followers yang dulu ga kebagian jaketnya. AKhirnya kita bikin varsity tapi nama artikel, jadi College Star by FYC. Cuma pas pandemi jadi ke pending soalnya banyak yang subsidi silang. Paling nunggu momen aja sih, sekarang kan 10 tahun FYC, kayaknya kita mau ngeluarin varsity itu untuk anniversary FYC..

Kalau lo suka sepatu awalnya banyak mengambil referensi kemana? Gue lihat FYC sedikit berbeda dengan brand lain yang banyak memakai siluet Vans..
Kalau gue pribadi sih lebih ke ‘80an, ya Vision. Tapi di combine juga sama selera Rahmat yang lebih suka Adidas, Vans dan Supra. Jadi kita ngeluarin lidah tinggi dari kombinasi Vision dan Supra. Edisi pertama kita Caven (Cavendish), itu perpaduan selera karakter gue dan Rahmat. Nama artikel kita banyak diambil dari ingredients pisang. Mindblowing nya tuh anehnya produk yang laku malah yang dulu kita ragukan. Seperti si Caven, mirip oldskool tapi lidah nya tinggi dan label nya gede. Aneh kan kaya sepatu freak. Malah jadi bestseller. Yang membahagiakan di FYC adalah bestseller nya adalah idealisme kita.

Kalau lo sendiri merilis sesuatu itu masih pakai instinct atau ngikutin idealisme lo?
Yang pasti yang pertama kita kumpulkan data penjualan. Setelah Caven yang laku yang mana? Slim Caven, yang lidahnya lebih pendek. Dari data penjualan kita klasifikasikan yang penjualan bagus di repeat lebih banyak, dibanding sepatu yang ga terlalu keluar. Ada juga momen yang ga laku itu di tahun berapa malah dicari orang, emang ga ketebak pasar itu, tapi at least kita punya pegangan lah. Yang tebak-tebakan juga ada kalau demand nya banyak di reissue lagi. Karena bikin sepatu itu stamina dan effort nya lebih besar. Produksi nya juga lebih lama dari kaos atau celana. Caven, Guinea dan Slim Caven itu siluet klasik kita lah. Kita juga lagi bikin siluet baru dan lagi approach ke pasar. Nanti juga ada kolaborasi dengan seniman Bandung. Dan signature series rider skateboard kita si Anggiew.

“Sedih pasti karena intensitasnya lebih dari kakak-adik ketemu sama si Rocket Rockers itu. Kita safar bareng tour ke luar kota dan ke luar negeri. Memori lebih banyak sama si RR daripada sama family. Berat nya tuh itu, kehilangan momen-momen itu berat juga. Ada juga fase-fase gue nonton Rocket manggung sambil jaga booth FYC hahaha.”

Emang basic nya FYC approach nya lebih ke skate shoes proper ya sebelum membuat casual shoes?
Basic nya emang ngejarnya skate shoes sebelum ke kasual. Alhamdulilah sekarang dapat pabrik yang proper. Bisa mengejawantahkan apa yang kita inginkan hahaha. Bahasa na kelas pujangga edan ya haha. Jadi si FYC udah berkelana dari gang kecil di home industry, istilah nya kita les disitu, terus pindah ke pabrik yang sedang dan sempat juga di pabrik Compass sebelum mereka menaikkan level brand nya. Mereka sempat tergugah pas ngeliat FYC, owner Compass di akhir usia nya teh pengen punya brand sepatu keren.

Setiap kita masuk pabrik malah kita mewarnai pabrik-pabrik tersebut karena mereka belum paham skate shoes. Karena kita bawa cetakan sulah sendiri. Kita beli Lakai dan kita belah di pabrik, shape dalam nya kita tiru untuk kenyamanan sepatu kita. Sebelum nya masih trial and error, masalah dimensi dan kenyamanan kaki kiri-kanan. Kita menyediakan size 34-47, memfasilitasi yang big size. Dari pengalaman pabrik ke pabrik akhirnya kita diajak sama pabrik yang besar pas mereka ngeliat sepatu kita di Jakcloth. Pas kita kesana taunya pabrik hektaran dan bikin brand internasional juga. Sekarang udah tenang, beberapa idealisme kita sudah terjawab dengan hasil produksi pabrik itu.

Ngomongin musik, pengalaman-pengalaman lo selama bermusik di Rocket Rockers yang lo aplikasikan di bisnis lo sekarang apa saja?
Dari memanage kaku nya gue untuk berbicara di panggung dan public speaking. Dari banyak bicara di panggung terpakai ketika gue diundang di acara-acara entrepreneurship, jadi pembicara ga mulai dari nol lagi. Udah punya basic ketika agak-agak stand-up di Rocket Rockers hahaha. 2012 sempet juga ikut stand-up pas awal-awal rame. Ada stand up challenge di Bober Cafe gue diajak dan penonton nya ada orang Metro TV dan Kompas. Cuma dari situ gue kayaknya ga disini, terlalu ngeri ngulik materi nya di stand-up comedy, materi nya brutal teuing haha. Akhirnya memutuskan serius di FYC.

Dari segi memanage emosi di band pas bareng RR, sekarang gue juga bisa nge manage emosi di perusahaan. Kan ada juga idealisme yang tertolak. Vibes nya hampir sama. Yang satu bentuknya karya musik, yang satu jadi benda. Tahun 2001-2007 bareng sama Volcom kan RR di endorse jadi banyak belajar pas main ke kantor nya Volcom, diceritain sejarah Volcom sama Robin. Punk rock ethics nya keren dan akhirnya kita ambil untuk FYC. Sekarang juga kita ngambil skater-skater baru yang terlihat ada gejala bakal maju, bukan yang sudah jadi. Kaya waktu dulu Volcom ngambil RR pas kita masih belum besar.

Lalu kenapa pada akhirnya lo memutuskan untuk berhenti dari RR dan berhenti bermain musik?
Jadi setahun sebelum keluar udah ngumpulin anak-anak dan minta surat resign. Ngasih tahu pelan-pelan soalnya pasti banyak tugas promo yang harus gue lakukan sebelum keluar, karena tepat pas baru keluar album ke-4 “Tons of Friends”. Itu album terakhir gue di RR. Per tanggal 1 Januari 2013 baru resmi keluar. Sedih pasti karena intensitasnya lebih dari kakak-adik ketemu sama si RR teh. Kita safar bareng tour ke luar kota dan ke luar negeri. Memori lebih banyak sama si RR daripada sama family. Berat nya tuh itu, kehilangan momen-momen itu berat juga. Ada juga fase-fase gue nonton Rocket manggung sambil jaga booth FYC hahaha.

Kalau soal berhenti musik tidak hanya dari segi religius ya, cuma lebih ke di titik capek dengan kehidupan tour. Burnout. Pas tour mempertanyakan juga ke diri sendiri sampe kapan gue begini? Padahal dulu ini yang gue inginkan. Semakin banyak tour jadi tidak menyukai perjalanan. Perjalanan terasa semakin capek dan mengerikan; sempet dulu ada tabrakan mobil, di pesawat ada turbulence. Sampai akhirnya memikirkan kematian. Momen-momen itu bikin mikir. Lalu ketika RR musik nya lebih ke arah pop yang agak kental, gue vokal nya juga kurang bisa mengikuti. Jadi setengah hati di musik, dan passion buat tour juga setengah hati. Dibanding ganggu anak-anak yang lain ya gue memutuskan ini titik gue untuk berhenti pas di album ke-4.

Lo kan pecandu kuliner kelas berat Cay, top 5 kuliner Bandung versi lo?

1. Bajamba Kapau Jl. Riau – Cukup terharu pas makan disini hahaha. Wajib buat  penggemar kikil dan jando berbumbu padang.

2. Tahu Gejrot Ruko Batununggal – Ada sekeluarga jual tahu gejrot, 4 gerobak semua jual

3. tahu gejrot. Takaran bawang nya brutal. Yang parkir mobil mewah semua dan pada makan tahu gejrot disini hahaha.. Ini the best tahu gejrot di Bandung lah.

4. Sushi Tei – Ga bisa ga nyebut Sushi Tei euy. Udah parah Sushi Tei mah kaya keluarga haha. Gue paling suka uni, bulu babi laut.

5. Ayam Goreng RCTI / Ngudi Rahayu – Sate kulit nya bikin candu.

6. Warteg Budisari – Masuk nya dari Rotiku Setiabudi, mentok ada warteg disitu. Penilaian gue mengenai warteg enak itu dari jengkol nya, kalau jengkol udah enak pasti yang lain enak. Jengkol terbaik yang pernah gue makan disini.

Lagu terbaik versi lo yang membuat lo jatuh cinta dengan musik pertama kali?
Nah gue pernah ngobrol ini sama si Yas (Alone at Last). “Yas, gue kalo ditanya the best song on planet earth, gue sih pribadi bakal jawab ‘1979’ nya Smashing Pumpkins”. Akhirnya balik lagi ke ‘90s. Lo juga pada akhirnya pulang ke selera ‘90s kan? Eta-eta deui kita-kita mah. Karena gue pertama nge band sebagai drummer ngulik nya ini. Lagu nya flat tapi magical. Video klip nya bagus pisan, momen di intro pas roda nya muter udah bikin nempel di otak.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Ucay’s Archives

Godless Symptoms (GS) adalah salah satu band crossover metal yang sudah terbentuk dari tahun 2003 dan masih bertahan sampai sekarang . Wajah mereka pun terasa familiar karena sudah mewarnai beberapa band seperti Balcony, Konfliktion, Tomorrow is Another Day, Ommerta & Bloodsucker. Rilisan terakhir mereka “Satir Getir” merupakan album ke-5 GS yang dirilis oleh Disaster Records pada November 2021. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda untuk melambat sedikitpun, karena 9 track di “Satir Getir” terasa padat, on point dan no bullshit. Dengan hasil mixing dari Ramdan Agustina (Burgerkill), sound pun semakin prima. Mari berbincang dengan Yudi “Baruz” Setiawan (Vokal), Gusti Sukma Pratama (Drums), Diki Fajar Sidik (Guitar), Feby “Mbi” Rubby Febian (Bass) dan Ryan Pratama (Gitar) mengenai proses rekaman, penting nya komunikasi dalam band dan manggung di penjara Banceuy…

“Kita pernah manggung di Penjara Bandung menghibur para napi tahun 2005. Dan keren nya lagi, LO nya kita adalah kawan kita juga yang sedang menjalani hukuman disana.”

Halo Godless Symptoms! Apa kabar masing-masing personil selama pandemi ini? Sedang sibuk beraktivitas apa saja di luar band?
Hallo hallo. Alhamdulillah kita semua dalam keadaan sehat wal’afiat dan masih tetap main band walaupun di kondisi pandemic, walaupun aktivitas dari masing-masing personil juga ga sepenuh nya di band. Ada yang kerja kantor juga, tapi karena kita sudah berkomitmen untuk menjalankan band ini, jadi ya sempet ga sempet harus ada agenda yang tetap kita jalankan. Haha..

Album ke 5 kalian “Satir Getir” dirilis tahun kemarin oleh Disaster Records. Gimana awal mulanya memilih Disaster dan proses awal mula pengerjaan album ini?
Proses nya sih setelah kita merilis single “Rengkuh Semadi” pada 2020 lalu, akhir nya semua dari kita bersepakat untuk kembali menulis materi baru dan merilis album baru. Setelah proses kreatif, dan lain-lain, singkat cerita album ini beres. Awal nya album ini mau dirilis oleh Grimloc Records, tapi karena masih panjang juga list mereka untuk merilis album kami, juga karena master album ini sudah terlalu lama menunggu untuk dirilis, akhir nya kami coba tawarkan ke Disaster Records dan dirilis sama mereka.

Bisa ceritakan sedikit tentang tema-tema yang ingin kalian angkat di album ini?
Tema di album ini sih sebenar nya masih sama, saya masih menyuarakan apa apa yang saya rasa ga fair, tentang kehidupan, tentang kemarahan saya melihat pemerintah yang memang sampai kapan pun ga akan pernah berpihak, cuma mungkin di album ini yang saya teriakan lebih ke personal, lebih ke personal depression akibat kekacauan yang dibikin sama pemerintah secara psikologis.

“Album ke 5 kita “Satir Getir” adalah hasil karya yang menggunakan teknologi WA Group di masa pandemi, yang akhirnya bisa melahirkan Album.”

Kabarnya lagi sibuk shooting untuk video taping live dan video klip ya?
Ya, kita sedang mengerjakan trilogi video. Ada 2 video klip dan 1 live session yang sedang kita siapkan. “Lancang Menerang” dan “Meratus Kalut” music video juga Satir Getir Virtual Ritual (Live session). Kita membuat ini dalam rangka mengerjakan apa saja yang kita bisa kerjakan sebagai pemain band. Hal yang sangat lumrah dan umum aja sih, untuk mempromosikan lagi band ini.

Ada perubahan formasi personil juga untuk album ke 5 ini. Bisa elaborasi sedikit mengenai itu?
Perubahan personil jelas merubah band ini sedikit banyak. Terutama dari materi lagu dan juga proses pengerjaan materi lagu nya. Pasti ada yang berubah, walaupun 80% materi mentah album ke 5 ini masih berangkat dari Diki ( gitar ). Original line up yang tersisa ada saya Baruz, Goestie, dan Diki. Bassist kita Mbi, masuk dari semenjak kita merilis album ke 4 The Deaf & The Wasted pada 2017, dan gitaris baru Ryan, masuk menggantikan Tommy yang keluar pada 2018.

Top 5 album versi masing-masing personil apa saja?
Baruz:
1. Metallica – Master Of Puppets (1986)
Album metal pertama yang saya beli waktu SMP. Dan hidup saya berubah setelah itu. Haha.
2. Guns N’ Roses – Appetite for Destruction (1987)
Kaset yang dibeli almarhum kakak saya pada waktu yang bersamaan, dan akhir nya menyukai GNR sampai hari ini, seperti layak nya saya menyukai Metallica.
3. Anthrax – Among The Living (1987)
Ga tau kenapa, pertama mendengar band ini, langsung ‘klik’ aja sama semua nya, dengan penampilan nyeleneh tidak seperti band band thrash metal kebanyakan, dan dengan suara vokal Joey Belladonna yang mungkin berbeda dengan band band thrash metal yang lain.
4. Sepultura – Beneath the Remains (1989)
Album ini yang menginspirasi saya juga untuk menjadi pemain band. Haha..
5. Mötley Crüe – Dr. Feelgood (1989)
Setelah beberapa kaset dibeli dengan perjuangan yang tidak mudah waktu SMP, akhir nya menemukan album keren ini di Aquarius Dago.

Mbi:
1. Black Sabbath – Heaven and Hell (1980)
Band dan album yang pertama masuk ke telinga saya.
2. Pantera – Vulgar Display of Power (1992)
Di album ini awal masuknya sentuhan hardcore ke Pantera menurut saya, dengan karakter gitar juga yang lebih berat, materi yang berbeda dari band lainnya.
3. Sepultura – Chaos A.D. (1993)
Album yang pertama saya dengar dari Sepultura. Album masterpiece, album sepanjang masa.
4. Slipknot – Slipknot (1999)
Album baru dengan warna musik metal baru pada jamannya, sampai sekarang tidak bosan untuk mendengarkan album ini.
5. Between the Buried And Me – Automata II (2018)
Best progressive metal band yang pernah saya dengar, album penyemangat yang mengajak saya untuk terus berkarya.

Diki:
1. Deftones – White Pony (2000)
2. Vision Of Disorder – Imprint (1998)
3. Lamb of God – Sacrament (2006)
4. Paramore – All We Know is Falling (2005)
5. Slipknot – Iowa (2001)

Goestie:
1. Tool – 10,000 Days (2006)
2. Deftones – Adrenaline (1995)
3. Rammstein – Sehnsucht (1997)
4. Black Sabbath – Paranoid (1970)
5.Rage Against the Machine – The Battle of Los Angeles (1999)

Ryan:
1. Dream Theater – Systematic Chaos (2007)
2. Gojira – The Way of All Flesh (2008)
3. Suffocation – Pierced From Within (1995)
4. Deftones – Koi no Yokan (2012)
5. Mastodon – Crack the Skye (2009)

Apakah kalian masih jamming di studio untuk membuat lagu baru atau di era pandemi ini lebih menggunakan teknologi? Kalian prefer seperti apa sih ideal nya dalam berproses kreatif?
Goestie: Kebetulan hasil dari album ke 5 kita “Satir Getir” adalah hasil karya yang menggunakan teknologi WA Group di masa pandemi, yang akhirnya bisa melahirkan Album.

Baruz: Jamming di studio jelas masih, tapi kalo untuk jaman sekarang sih kita prefer kirim kirim materi lewat digital dulu, karena kan teknologi nya juga udah memudahkan banget, irit biaya juga, haha. Setelah gambaran nya fixed, saya juga udah menggambar vokal nya, dan semua udah oke, baru kita jamming di studio, sambil merekam materi tersebut, untuk kita revisi lagi sebelum disimpan untuk direkam track by track.

Ryan: Yaa harusnya balance sih yaa, kita bisa manfaatkan teknologi untuk membuat raw material yang nantinya akan jadi bahan materi lagu. Naah selanjutnya kalo udah dirasa ok ya perlu jamming buat matengin lagunya sama personil yang lainnya.

Diki: Kalo jamming di studio kita masih lakuin itu sebulan sekali dan selebihnya kita sering keep in touch melalui WA untuk membahas materi-materi untuk next album. Untuk proses berkreatif sendiri ya kita seringnya bikin dulu mentahan trus kita rekam dan buat midi di rumah Mbi, terus kita share lewat WA dan kita matangkan dengan ide-ide masukan dari semua personil. Lalu kita fix kan lagu tersebut.

Mbi: Ya, sejauh ini kami masih jamming untuk melancarkan kekompakan bermusik salah satunya, selain itu juga kami tetap berkomunikasi dan akan terus memulai membuat karya selanjutnya yaitu album baru, yang kurang lebih prosesnya sama dengan album sebelumnya: dengan cara berkumpul dengan beberapa personil yaitu Diki dan Ryan untuk menggambar awal lagu baru yang akan dikemas, ini dilakukan di rumah saya dengan memanfaatkan teknologi home recording seadanya. Ketika gambaran lagu sudah beres.. Next langsung di share ke Baruz dan Goestie untuk evaluasi apabila ada revisi.

Mungkin banyak yang belum tahu makna dari nama band kalian. Bisa ceritakan kenapa memilih Godless Symptoms?
Godless Symptoms itu artinya Gejala Tak Bertuhan. Tentang apapun yang kita jalani di kehidupan bermasyarakat di Indonesia, yang beragam kepercayaan dan agama, tapi pada kenyataan nya, selalu saja ada Hal-hal Kotor yang dilakukan oleh para umat yang mengakui punya agama, kelakuan nya sama sekali tidak mencerminkan seperti orang yang beragama, bahkan orang-orang yang tidak beragama saja kadang masih banyak yang melakukan Hal-hal baik selayak nya manusia yang saling menghargai.

Panggung yang paling berkesan selama ini?
Ryan: Karena saya personil yang baru join di era pandemi, selama ini belum banyak panggung yang dirasain, jadi ya semuanya berkesan..

Baruz: Panggung paling berkesan selama karir Godless Symptoms mungkin pada tahun 2005, waktu kita dikasih kesempatan untuk manggung di Penjara Banceuy, menghibur para tahanan disana, dan kita manggung jam 8.30 pagi, dimana biasanya waktu tersebut adalah waktu untuk sound check kalo kita manggung di acara-acara regular. Dan keren nya lagi, LO nya kita adalah kawan kita juga yang sedang menjalani hukuman disana.

Goestie: Iya, Panggung yang berkesan itu pas kita pernah bermain di Penjara Bandung menghibur para napi tahun 2005..

Mbi: Manggung di Launching album ke-4 (The Deaf and the Wasted), karena di acara launching tersebut, saya waktu itu masih berposisi sebagai additional. Suatu kebanggaan, maka dari itu saya merasa acara tersebut adalah acara special buat saya karena itu adalah panggung pertama saya bersama Godless Symptoms.

Diki: Panggung paling berkesan tidak ada lagi buat saya di acara Nutz N’ Nutz di daerah sukajadi sekitar 8 tahun lalu, dimana itu adalah acara ultah suatu produk dan yang hadir adalah keluarga yang tidak sama sekali menyukai metal. Alhamdulillah karena kita ga mikirin itu semua, kita manggung semaksimal mungkin akhirnya suasana cair dan mereka menikmati perform dari Godless Symptoms.

Faktor apa saja yang membuat GS bertahan selama ini?
Komunikasi aja sih. Dibiasakan berkomunikasi aja yang enak, ada apapun selalu kita bicarakan. Mau itu berkaitan dengan panggung, studio latihan, studio rekaman, merchandise, dan lain-lain. Hal sekecil apapun, ketika berkaitan dengan band, pasti kita share, dan alhamdulillah bisa bertahan sampai selama ini, tahun depan 2023, band ini berusia 20 tahun.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Godless Symptoms’s Archives

Garbage Disposal Communique adalah rilisan debut dari Leipzig, sebuah band baru asal Bandung yang beranggotakan Mario Prasetya, Ryan Arman, Mirza P. Wardhana dan Iman F. Amarullah. Terbentuk pada akhir tahun 2021, Leipzig tak banyak membuang-buang waktu untuk langsung mengeluarkan sesuatu. Terhitung satu bulan setelah terbentuk, total 10 lagu yang masuk kedalam Garbage Disposal Communique ini sudah rampung direkam. Untuk proses rekamannya sendiri hampir semuanya direkam di Teargas Studio, Bandung dan untuk proses mixing mastering-nya dikerjakan oleh Alikbal R. di The Pandora Lab.

Dengan mengusung musik garage/punk yang sedikit (meskipun tidak selalu) mengacu kepada Devo, Minutemen hingga IDLES, Leipzig mencoba untuk menyatukan musik tersebut dengan lirik bilingual Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia (dan beberapa Bahasa Sunda) dengan tema-tema lagu yang beragam dan nir-makna; dari mulai tentang Ian Curtis hingga tentang Frida Kahlo.

Sebelum rilisnya album ini, dua single berjudul “Nothing Grand, Nothing Fun” dan “Manchester 56-80: The Pilgrimage of Tuan Curtis” sudah dilempar kepada publik pada bulan Februari lalu sebagai perkenalan, dilanjut dengan video klip dari “Common Sense” dan full album Garbage Disposal Communique yang telah dirilis pertama kali dalam versi kaset oleh Lisdia Records pada Records Store Day 2022. Dan rangkaian ini kemudian akan ditutup oleh rilisnya album ini dalam versi CD dan kemudian versi digital yang akan dirilis oleh Disaster Records pada awal bulan Juni.

Sebagai penggemar Pushead dan John Baizley (Baroness), karya-karya ilustrasi Angga juga sangat terpengaruh oleh mereka dan beberapa illustrator luar lain nya. Kecintaan Angga pada musik juga yang membuat Angga menekuni hobby gambar nya menjadi salah satu pekerjaan utama nya. Dengan mengoleksi vinyl secara masif dan pernah bermain di beberapa band juga (Piece of Cake, The Bahamas, Aparatmati), Pengaruh musik sangat kental terlihat di karya-karya Angga. Mari berbincang dengan illustrator veteran ini mengenai pressure bekerja di agency sampai band-band post-hardcore favoritnya…

Apakabar Angga! Sedang sibuk ngapain aja nih sekarang?
Baik-baik.. Kalau sehari-hari sih ngantor di Lawless sama ya sibuk tetep gambar aja sih.. Dua itu aja udah. Kalau soal proyek yang lagi gue kerjain lagi mo bikin merch buat sendiri sih. Kalau proyek orang lain yang baru beres sih ada yang collab Mischief X Seringai batch kedua. Sama ada beberapa kover album. Ada yang masih berupa sketch sih. Ada juga sama Cycloops, toko sepeda gaul hehehe..

Kalau melihat beberapa karya ilustrasi lo gue suka teringat sama John Baizley. Siapa saja influence lo di departemen ilustrasi?
Kalau dulu banget gue awal hobi ngegambar belum ada influence dari mana-mana. Ketika lo udah mulai seneng musik dan subculture lain baru ada influence-influence dalam hidup lo. Ketika gue main skate di Taman Lalu-Lintas, lumayan jadi tau banyak hal dari musik, fashion dan culture. Dulu idola gua cuma dua: Pushead dan Vernon Courtland Johnson, illustrator Powell-Peralta. Lalu dulu kan ngumpulin kaos band suka juga sama artwork nya. Baru tahun 2011 gue baru pengen ngegambar kaya style sekarang nih.

Dulu kerja di agency. Sekarang gue di Lawless diajak Arian gabung. Ya bantu-bantu lah. Dulu ngegambar ini pelarian pas gue masih kerja di agency yang pressure banget. Bener kata lo, John Baizley itu mungkin inspirasi gue no 3 kali ya? Haha. Pas album Baroness yang Blue Record baru rilis gue bener-bener suka artwork kover nya. Pemahaman anatomi orang dan semi-realistic nya bener-bener dapet, jadi pada awalnya gue menekuni style yang mirip-mirip begitu. Kalau sekarang sih influence banyak banget, dan gue juga udah tau struktur kerja nya harus gimana dalam proses kreatif. Ternyata orang keren itu banyak hahaha.. Termasuk yang lokal-lokal juga banyak yang jago dan imajinasinya liar.

Lo pernah bikin paper bag Lawless Burger, kaos band dan cover album. Selain itu artwork lo pernah diaplikasikan di media apa saja?
Sebetulnya pada saat itu unik juga sih artwork gue dipake sebagai packaging makanan. Pada saat itu belum ada yang seperti itu packaging makanan. Kemaren yang kolab Mischief juga cukup baru buat gue, di bahan denim saku dalam. Di bagian luar ilustrasi gue dipake di leather patch dan flasher (kertas karton di saku belakang). Seru juga packaging celana jeans. Bandana pernah, topi sepeda pernah juga. Skateboard pernah tapi bukan produk untuk dijual, cuma buat eksibisi dan pameran aja. Sempat juga ada band yang bikin kover, terus ilustrasinya jadi merch kaos dan papan skate secara ga sengaja haha..

Collab lo yang unik dan favorit apa aja?
Yang packaging vape Maternal gue suka cuma timeline agak mepet. Kalo agak panjang waktunya gue bisa ngulik lagi haha. Kadang-kadang ada proyek yang harus dikerjakan cepat dan sayang juga kalau dilewatkan. Cuma kadang kurang maksimal dan ga 100% puas. Sama si Mujiono bikin cycling caps baru juga tuh, terobosan ke barang sepeda. Dan antusias nya gila banget, dalam 15 menit 120 pieces habis. Barang ghoib hehe. Itu rilis pas 2020 pas pandemi orang-orang pada sepeda-an.


Biasanya satu gambar lo kerjain berapa lama?
Kalau gue ga ngantor sih seminggu – dua minggu beres sih. Gue biasa kerjain di weekend. Senin sampai jumat gue ngantor sambil riset. Kalo ada waktu nge sketch, lalu baru eksekusi setelah ada approval. Di weekend berikutnya sudah bisa sketch di ukuran besar kaya A2 atau A3. Paling enak tuh di A3, kalau A2 lumayan pegel, dan nge-scan harus dibagi 2 kertasnya. Karena gue males ke gerai printing haha. Kadang-kadang menempuh cara yang agak primitif dikit. Revisi suka gue batasi juga sih yaa maksimal 3 kali revisi lah. Tapi kadang bablas juga. Kekurangan nya gambar manual kalau digital tinggal di undo malah rentan revisi haha. Kalau manual kan udah di inking kalau ada revisi lagi repot. Kalau di agency ruang kebebasan itu dikit karena kita ngerjain demand klien. Sekarang kalau gue ngerjain ilustrasi, si klien sudah harus tertarik sama style yang gue punya.

Bagaimana menurut lo mengenai trend visual dan ilustrasi stoner/doom yang memacu trend ilustrator menjadi banyak bermunculan?
Sebetulnya ada bagus dan enggaknya juga ya. Industri jadi rame. Label-label kaya Maternal dan Lawless jadi banyak mengangkat ilustrasi sejenis. Banyak jadi job yang bisa didapat ilustrator dengan karakter ilustrasi seperti itu. Sisi jeleknya ya batasan jadi blur. Yang keren tuh yang gimana sih ilustrasi nya? Yang gambar tengkorak kan banyak opsi nya, semua jadi dimakan aja sama industri menjadi trend. Jadi pada akhirnya terjadi persaingan tidak disengaja. Semua hampir sama karakter visualnya. Jadinya gue menyiasati untuk fokus ke detail, ada orang yang lebih fokus ke anatomi. Akhirnya masing-masing jadi lebih spesifik biar beda, survive nya di situ. Yang ga bisa ngikutin akhirnya ngilang dan gak aktif lagi. Sekarang trend nya beda lagi kan, jadi digital.

Ngomongin karya digital, lo maen NFT juga?
Nah kemaren kan sempet ada trend FOMO NFT. Kalau lu ga maen NFT jadi FOMO. Dan ternyata ya gapapa juga kalau lu ga maen. Belum terpanggil aja sih kalau gue. Lebih seneng ngeliat projek apa yang ada di depan mata. Gue ngantor iya, gambar iya, kalo maen NFT juga kayaknya serakah banget haha. Tapi ya gapapa kalau lo sanggup sih, kalau gue ga bisa ngelakonin semuanya. Mungkin agak oldschool pemikiran gue ya gapapa deh hahaha..

Kalau ngomongin musik, lo juga pernah tergabung di Piece of Cake, Aparatmati dan The Bahamas ya?
Ya dulu pernah di Bahamas. Sebelum The Bahamas itu ada Piece of Cake sama Xonad. Band Xonad sih itu bukan band gua hahaha. Ngeband sering tapi ga terlalu banyak. Kalau yang ada rilisan ya paling Piece of Cake, The Bahamas sebelum rilis gue udah cabut ke Jakarta. Gue sekarang udah ga punya waktu sih buat nge band jujur aja. Kalau Aparatmati tuh kaya ngeband sama rockstar semua. Almarhum Ebenz, Arian dan Khemod (Seringai). Manggung cuma 2 kali di Buqiet Cafe dan Kafe Hitam Putih Lembang. Yang bikin kalau ga salah anak-anak Riotic. Ya itu band cuma ngikutin jadwal Arian, Ebenz dan Khemod yang pada sibuk. Waktu itu yang ga sibuk ya cuma gue hahaha. Album cuma wacana doang waktu itu. Mereka sempat “Yuk bikin album isinya 100 lagu!”. Waktu itu kita lagi suka powerviolence, hardcore dan sludge. Kalau waktu itu masih seru, sekarang udah ga aneh lagi. Ceritanya gitu sih band lawak itu hahaha…

Gue sempat membaca beberapa review album post-hardcore / emo lo di majalah Trolley dan Ripple (era tahun 2000an awal). Apa saja album-album post-hardcore favorit lo sepanjang masa?
Sebenarnya itu cuma bantu-bantu aja karena nongkrong di Trolley dan Ripple. Pas Ripple di Trunojoyo dan pindah ke Jl. Bali. Nongkrong aja dan akhirnya bantu ngelayout beberapa halaman dan ngisi review. Ga kerja sih itu bantu-bantu aja sambil nongkrong. Pada saat itu gue emang lagi suka wave awal emo, emo generasi awal lah. Mungkin first wave era Dischord records. Yang generasi kedua masih keren, jaman Vagrant dan Revelation records. Elliott, Gameface, Garrison. Kalau generasi 3 udah gatau lagi tuh hahaha..

Beberapa rilisan post hardcore klasik & terbaik versi lo?
1. Quicksand – Slip (1993)
2. Elliott – False Cathedral (2000)
3. Cave in – Jupiter (2000)
4. At the Drive in – Relationship of Command (2000)
5. Envy – Recitation (2010)

Interview by Aldy Kusumah
Photos from Angga’s archives

Pada awal tahun 2022 Prejudize merilis Maxi-Single mereka Coward & Vague bersama dengan Greedy Dust Records. Kali ini Prejudize bersama Greedy Dust Records kembali muncul dengan merilis koleksi kapsul dari maxi-single mereka, yang sekaligus menjadi produk pertama dari kerja sama Greedy Dust & Sun Eater.

Koleksi ini terdiri dari 2 t-shirt, 1 longsleeve, handuk, dan juga kaset. Dirilis terbatas dan bisa didapatkan di marketplace dari Sun Eater.

Grafis dikerjakan oleh Saint Mary & Criminal Horde yang beberapa diantaranya berfokus pada logo baru Greedy Dust berupa Shuriken.

Jeurnals