Selain menjadi vokalis dari Ancient (band Black Metal / Thrash asal Bandung), Dannus juga adalah seorang illustrator yang karya-karyanya cukup ikonik dan sudah dapat kamu lihat dimana-mana, dari kover album Avhath, Billfold, Bisinggama sampai brand-brand seperti Maternal, Early Funeral, Blood Wizard Skateboards, Mary Wyatt London, dan Ouro Wheels. Semua cover album dan brand-brand tersebut sudah dihiasi oleh karya-karya-nya. Band Hallas dari Swedia bahkan menggunakan artwork Dannus sebagai backdrop untuk tour Eropa mereka. Let’s meet the man behind those cool artworks…

 

___________________________________________________________________

 

“Yang membedakan-nya kalau sudut pandang saya hanya satu: “Tujuan” masing-masing membuat design itu untuk apa? Untuk support / tribute akan objek yang kita design, untuk jualan kah, atau  rip-off. Semua tergantung tujuan dan pada akhirnya tetap saja untuk kebutuhan personal kita sendiri.”

 

___________________________________________________________________

 

Halo Dannus, apa kabar? Akhir-akhir ini sedang disibukkan dengan proyek ilustrasi/pekerjaan dan bermusik apa saja?
 

 

Sekarang lagi sibuk di Maternal dan menjadi freelance illustrator. Untuk proyek yang sedang dikerjakan saat ini adalah membuat ilustrasi untuk Blood Wizard Skateboard US, Alhamdulillah ini kedua kalinya saya dipercaya oleh Chris Gregson, salah satu pro skater dan co founder/owner dari Blood Wizard untuk mengerjakan series terbarunya yang nantinya board ini akan dipakai oleh beberapa skater pro baru.

 

 

Untuk pekerjaan sekarang sibuk di Maternal sebagai team creative, untuk bermusik sih belum ada kegiatan karena salah satu gitaris band saya di Ancient masih berada di luar kota. Mungkin setelah dia kembali ke Bandung kita akan meneruskan materi lagu selanjutnya.

 

Bisa ceritakan sedikit tentang background awal memulai karir sebagai seniman/ilustrator? 
 

 

 
Secara singkat aja ya hehehe.. Awal memulai menjadi ilustrator karena melihat beberapa ilustrator yang ada di Bandung seperti Ken Terror, Morrgth, Riandy Karuniawan. Ketiganya sangat menginspirasi saya sampai saat ini. Juga illustrator luar negeri seperti Adam Burke, Arik Roper, Velio Josto Mereka semua menjadi trigger saya dalam berkarya. Cover Album yang saya ingat dulu pernah buat adalah cover untuk Avhath, Billfold, Primata, hmm apalagi ya harus cek file-file lama hahaha. Baru-baru ini ngerjain untuk Diamond Chazer band heavy metal Columbia. Yang menarik saya pernah membuat artwork untuk band Hallas dari Swedia yang diaplikasikan ke backdrop ukuran 5×3 meter untuk tour Eropa mereka. Brand lokal sudah pasti Maternal ya hehe, Oblivion, dan ada brand luar negeri Mary Wyatt London, Blood wizard Skateboards, Ouro Wheels. Terakhir kemarin bikin inner cover band nya Daniel Mardhany, Bisinggama, yang akan dirilis Disaster Records.

 

_____________________________________________________________

 

“Awal memulai menjadi ilustrator karena melihat beberapa ilustrator yang ada di Bandung seperti Ken Terror, Morrgth, Riandy Karuniawan. Ketiganya sangat menginspirasi saya sampai saat ini.”

 

____________________________________________________________________________________

 

Kalau untuk ilustrasi, top 5 illustrator yang merubah style menggambar dan bahkan merubah hidup lo siapa aja? 
 

 
Masih jawaban yang sama hehe Ken Terror, Morrgth, Riandy Karuniawan, Surialism, Loudsonic. dan lain lain. Alasan-nya karakter dan teknik gambar mereka super hehe..

 

Kalau top 5 sih: Adam Burke, Velio Josto, Ken Terror, Morrgth, Riandy Karuniawan.

 

 Bisa ceritakan beberapa ilustrasi Dannus buat Early Funeral? Menurut lo, apa yang membedakan homage, tribute, parody dalam design? Good Bootleg VS knock-off?
 

 

Hmmm kenal Early Funeral sebenarnya karena ownernya teman sekantor hehe, dari sudut pandang yang saya liat awalnya ini produksi bootleg kok designnya keren-keren sampai Ucok Homicide pun sempet bilang “Nus ieu Bootleg tapi aralus kieu design na”  hahaha. Karena teman sekantor jadi sering beli juga ke dia. Kalau prosesnya saya kurang tau cuma kemarin saya dikasih kesempatan untuk redraw Bathory Album “Under The Sign Of The Black Mark”. Dan ternyata setelah ngobrol-ngobrol ringan sama ownernya Kempeng, respon dari orang dalam dan luar negeri bagus. Juga banyak yang beli juga di web Early Funeral. Yang membedakan nya kalau sudut pandang saya hanya satu: “Tujuan” masing-masing membuat design itu untuk apa? Untuk support / tribute dan pride akan objek yang kita design, untuk jualan kah, atau  rip-off. Semua tergantung tujuan dan pada akhirnya tetap saja untuk kebutuhan personal kita sendiri.

 

Apa kabar juga Ancient, setelah split bareng Brigade of Crow apakah sedang menyiapkan rilisan berikutnya? Atau lo ada proyek bermusik lainnya?
 

 
Untuk proyek lain belum ada, hehe satu band sudah lumayan haha. Ancient masih slow progress karena beberapa bulan kemarin stuck karena pandemi dan PPKM berlevel-level hehehe.. Intensitas untuk bermusik pun jadi sangat terbatas.
Sesuai namanya, apakah roots Ancient lebih mengambil referensi blackmetal klasik atau bagaimana?
 

 

Kita lebih ke arah band black thrash metal seperti Nifelheim, Deathhammer dan band speed metal seperti Ranger, Vulture..

Top 5 album blackmetal versi Dannus? 
 

 
1. Bathory – Bathory (1984) 
2. Darkthrone – A Blaze in The Northern Sky (1992)
3. Nifelheim – Envoy of Lucifer (2007)
4. Watain – Sworn To The Dark (2007)
5. Occvlta – Night Without End (2017)

 

Alasannya kelima band itu menjadi inspirasi saya dalam bermusik.

 

Top 5 album emo / hardcore?
 

 
1. Youth of Today – Breakdown The Wall (1986)
2. Poison The Well – You Come Before You (2003)
3. Killswitch Engage – As Daylight Dies (2006)
4. Eighteen Visions – Obsession (2004)
5. Harm’s Way – Post Human (2018)

 

Sebagai ilustrator dan desainer yang juga bekerja di brand fashion seperti Maternal, brand-brand heritage favorit lo dari dulu sampai sekarang apa saja? 

 

Yang sering dipakai sampai saat ini kaya Nike, Lonsdale, The North Face, hingga Salomon, karena brand-brand ini enak untuk dipakai kegiatan olahraga seperti jogging, trekking, hiking, dan selain itu buat sehari-hari sangat nyaman dari segi material dan fit sizingnya.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Dannvs archives
Layout by Prita

Kebiasaan manusia untuk mencari informasi ataupun hiburan pada masa sekarang sudah berubah. Kalau dulu senangnya nonton tv, sekarang nonton youtube. Mungkin pilihan tontonan menjadi salah satu alesan kenapa pada saat ini youtube lebih digemari daripada stasiun televisi. Hal ini dibuktikan dengan maraknya artis-artis tv yang membuat youtube channel. 

 

Dengan meningkatnya pengguna Youtube, isinya juga jadi beragam. Ada yang review makanan atau masak, ada juga yang review otomotif atau pamer kekayaan dan lain sebagainya. Untuk mengasah otak, kami akan merekomendasikan lima kanal youtube Indonesia agar pengetahuanmu bertambah dan semakin kritis terhadap keadaan sosial.

 

Watchdoc

Rumah produksi yang telah berdiri sejak tahun 2009 ini isinya dokumenter atau video features yang menampilkan isu sosial. Seperti Belakang Hotel yang bercerita tentang pembangunan hotel yang berdampak kepada kesusahan air bersih untuk warga sekitarnya, dan ada juga Kinipan yang memperlihatkan bagaimana usaha mempertahankan hutan adat dan tanah-tanah warga yang perlahan tergusur oleh industri kelapa sawit. Masih banyak lagi video lainnya dari Watchdoc yang harus kamu tonton agar tau bagaimana keadaan diluar sana.

 


Remotivi

 

Sebuah lembaga studi dan pemantauan media. Cakupan kerjanya meliputi penelitian, advokasi, dan penerbitan. Konten-konten videonya sering mengkritik media yang melenceng dari kaidahnya. Seperti cara media untuk membahas kasusnya Reynhard Sinaga, ada analisis film horor Indonesia yang mebahas kenapa hantu perempuan Indonesia lebih seram, dan ada juga video Kenapa Harus Cantik? Yang menelaah kenapa stereotype cantik itu mempunyai standar yang serupa. Pembahasannya nggak terlalu berat, tapi isu-isu yang dibahas di Remotivi ini penting untuk diketahui.

 

 

Sepulang Sekolah

 

Kanal Youtube yang berisikan video-video penjelasan mengenai kejadian bersejarah di dunia, tokoh-tokoh yang berpengaruh, sejarah zombie sampai sejarah negara pun tak luput di jelaskan di Sepulang Sekolah. Seperti namanya, Sepulang sekolah merupakan ilmu yang bisa didapatkan setelah bel pulang sekolah berbunyi.

 

 

 

Narasi

 

Sebuah platform media yang dibuat pada tahun 2018 lalu oleh mantan penyiar MetroTV, Najwa Sihab. Narasi TV merupakan rumah produksi dari Mata Najwa. Udah kebayang kan kayak gimana? Channel ini lebih mengangkat isu-isu sosial atau politik yang sedang ramai menjadi perbincangan. Selain Mata Najwa yang tayang juga di stasiun TV swasta, ada juga beberapa program video. Seperti, Buka Buku, Namanya Juga Lyfe,  program memasak  Life Ingredients dan lainnya.

 

 

Asumsi

 

Asumsi awalnya merupakan suatu media yang berfokus membahas politik dan budaya yang aktif mewawancarai tokoh-tokoh dan membahas isu politik terkini. Tapi seiring perkembangannya, Asumsi jadi membuat konten yang lebih besar lagi. Seperti ada Asumsi Distrik yang membahas daerah-daerah di Indonesia yang mempunyai ciri khas tapi tidak terlalu diketahui oleh orang banyak, dan ada Kerah Biru yang membahas orang-orang yang beralih dari suatu pekerjaan dan sukses membuat usaha yang menjanjikan

 

Words & curated by team JEURNALS
Cover Photo credit: Erik Mclean (unsplash)
Dari Producing Musik Sampai Jualan “Toilet”

 

Dissa Kamajaya, seorang pria asal Bandung yang selalu memiliki rasa ingin mengulik sesuatu. Hasilnya, jadi banyak bidang yang dikuasainya. Dari producing musik, membuat karya visual, trading crypto sampai menjual karya di NFT. Ditengah kesibukannya, kami berhasil berbincang-bincang dengan Dissa atau dikenal juga dengan panggilan Jaqes. Simak interview-nya berikut ini.

 

Eh, ini dipanggilnya mau Dissa Apa Jaqes?
 
Bebas, hehehehe

 

Pertama dapet panggilan Jaqes tuh dari mana pertamanya?

 

Dulu pas SMA, ada film Jackass. Jadi, dulu pas SMA bikin jaket angkatan pengen ditulis Jackass di jaketnya. Terus ditulis sama tukang jahitnya, orang sunda tukang jahitnya itu. Jadi ditulisnya sama dia Jaqes.

 

Dari banyaknya bidang yang lo geluti kita awali perbincangan ini dari karir bermusik dulu yah, awal menekuni musik gimana?
 

 

Awalnya dulu di tahun 2007 pernah solo bikin noise terus jadi DJ. Dari situ nggak laku kan yah kalau musik-musik gitu tuh, nggak jelas. Akhirnya, bikin band tuh Sins Of Sun di tahun 2012 sama Botfvck.

 

Tapi sebenernya lo tuh main alat musik apa basicnya?
 
Gw tuh sampe sekarang nggak ada yang bisa alat musik. Maksudnya, nggak jago di satu alat musik. Kan ada biasa seorang gitaris, pasti jago main gitarnya tuh. Nah, kalo gw bisa semua alat musik. Cuman nggak jago. Hahahahah… Kalau pertama bisa main alat musik, standar gitar dulu lah.

 

Nah, kalau pertama nge-produce musik?
 
Pertama nge-produce musik teh sama Bottlesmoker dulu album Lets Day Together. Awal banget Bottlesmoker dulu. Itu pertama kali disitu buat produce album.

 

Dissa juga kan sebagai producer dari Nadin Amizah, pertama bisa terlibat sama Nadin itu gimana ceritanya?
 
Jadi dulu gw lagi nge-produce Teman Sebangku, Dolly sama Sarita. Dolly tuh Om-nya Nadin. Dia ngasih liat Nadin “Mas, ini gw ada keponakan umurnya masih 15 tahun lagi seneng nyanyi”. Terus dia ngajak nggarap bikinin lagu. Akhirnya, kita bikinin lagu sketch-sketch kirim ke Nadin dan dia mulai nyobain nulis. Terus pernah nyobain manggung di cafe daerah Tangerang dengan format kecil akustikan. Akhirnya dia mau rekaman. Keluarlah Rumpang, album debutnya itu.

 

Berarti dari pertama sampai sekarang tuh semua karya seorang Nadin Amizah tuh ada Dissa dibelakangnya?
 
Iya sih bareng, tapi nggak semuanya. Nggak semua gw full in charge.

 

Selain produce musik, kalo liat website profile portofolio Dissa udah banyak banget bikin jingle buat iklan dan ada beberapa film. Nah, sekarang lagi ada project bikin scoring nggak?
 
Sekarang lagi jalan buat layar lebar, tapi dokumenter tentang penemuan candi Liyangan di daerah Jawa Tengah. Itu tuh yah candinya di dalam tanah 20 meter. Digali sama petani, keras katanya. Ternyata pas dikeruk dalamnya ada candi seluas enam hektar. Belum beres sampai sekarang dikeruknya juga. Lagi ngerjain scoring-nya berdua sama Rara Sekar.

 

Kalo paling cepat ngerjain buat jingle atau scoring iklan itu berapa lama?
 
Hahahaha… Emang kalo buat ini waktunya tuh gila kalau dunia iklan tuh. Bisa orderannya masuk jam 12 siang nih, sore harus sudah ada preview. Dan itu iklannya udah tayang jam enam sore.

 

Lo pernah belajar musik nggak sih?
 

 

Nggak, nggak pernah. Otodidak semua. Semuanya lewat internet, youtube. Hahahahah

 

Satu lagi tentang, musik nih. Dulu gw inget lo bikin musik pake coding, itu masih dikerjain nggak?
 
Nggak, pusing.. hahahah… Jadi itu dulu ada software baru diluncurkan namanya Pie Music. Jadi bahasa nya pake Raspberry Pie. Kayak mau bikin beat jadi ngetik 1.4 play apa gitu kode. Ribet Lah pokoknya.

 

Dari musik, kita berpindah ke ngobrolin seni visual. Nah, pertama lo menekuni seni visual ini tuh kenapa?
 
Sebenernya gw lebih ke designer dari pada ke musisi. Jadi awal-awal mau kuliah tuh tertariknya sama design gitu.

 

Emang dulu kuliah ngambil jurusan design?
 
Nggak, dulu kuliah di Telkom jurusannya manajemen bisnis.. hahahaha

 

Si nyambungg.. hahaha.. Terus kalau buat seni visual 3D tuh gimana ceritanya?
 

 
Itu gara-gara covid, kan lockdown tuh. Bingung ngapain, ngulik 3D itu baru pas pertama-pertama Covid.

 

Lo emang orangnya tuh ngulik banget. Sama kayak pas crypto pertama gw kenal crypto tuh diracun sama lo, Hahah.. Pertama tertarik sama dunia cryptocurrency gimana itu ceritanya? 
 
Sama itu juga gara-gara covid. Iyakan pas Covid tuh manggung di cut semua, kantor juga gitu kerjaannya, sepi. Jadi gw harus cari income lain. Terus ngulik-ngulik ada reksadana, bibit. Terus, “asa teu kaharti euy” hahaha.. Butuh modal gede kan kalau untuk itu. Akhirnya, nemu aplikasi di hp tuh ada Luno sama Pintu nyoba beli Bitcoin sama Ethereum pertamanya disitu. Dulu, sekitar  dua tahunan lalulah pertama beli 1 bitcoin tuh harganya sekitar 97jutaan, sekarang udah 800an juta gitu. Kalo Ethereum dulu masih 2,5 jutaan, sekarang 50 jutaan.

 

Dulu pernah dapet income berapa di crypto?
 
Wahh ini emang life changing sih crypto tuh. Maksudnya, biasa kerja sebulan sama manggung disatuin tuh, bisa cuman seminggu buat dapetin nominal yang sama di main crypto. Tapi up and down sih.

 

Pernah kehilangan senilai berapa pas main crypto?
 
Hahahah ada 100 kayaknya ada nyampe 100juta gitu. Cuman kan kalo lagi turun gitu didiemin aja nanti balik lagi tapi lama sih balik laginya juga.

 

Jadi, kalau main crypto tuh harus gimana sih?
 
Iyaa, mindset-nya invest aja. Maksudnya kalo buat jangka panjang itungannya nabung aja gitu. Ketika ada spare uang dingin beliin koin. Terus jangan disentuh aja selama satu atau dua tahun.

 

Nah, dulu lo sering kan bikin conference video call sama yang ada di grup Kekaisaran Dago. Suka bagi-bagi ilmu tentang grafik-grafik crypto. Itu dapet ilmunya darimana?
 
Dari twitter. Jadi kenapa gw delete instagram, karena lebih fokus di twitter. Semuanya ada di twitter tentang teori-teorinya.

 

Itu dulu ilang 100 juta gara-gara apa?
 
Gara-gara Elon Musk nge-twit. Jadi waktu itu dia nge-twit price its too high atau apa gituh. Semua orang jadi jual crypto-nya. Jauh banget itu koreksinya semua coin. Bulan April kemarin kalo nggak salah, baru baru kok.

 

Dari Cryptocurrency, kita bahas tentang NFT yang lagi marak nih sekarang. NFT tuh apa sih?
 
NFT itu adalah token crypto yang mewakili kepemilikan. Jadi karyanya tuh berupa token atau smart contract. Kasarnya token itu jadi sebuah sertifikat kepemilikan atas suatu karya. Nah, itu sebenarnya yang diperjual belikan tuh. Karya yang diwakili oleh sertifikat itu. Misal, kita punya jpeg karya logo A gitu misalkan. Logo A itu di upload terus di minting dijadikan token. Minting tuh kayak upload, dibuat menjadi token. Nanti si token itu mewakili atas kepemilikan si logo A itu. Tez itu nama jaringan atau network-nya sebenarnya.

 

Jadi, ketika gw minting karya namanya A nih, nanti token crypto-nya jadi A juga?
 
Iyah, namanya terserah yang upload mau dinamain apa juga terserah.

 

Kalau yang membuat lo tertarik sama dunia NFT ini kenapa? 
 
Pertamanya dari crypto. Kan ngulik crypto tuh ada apa gitu. Bitcoin tuh apa terus Ethereum tuh apa. Di dalem Ethereum itu ternyata ada NFT. JAdi bisa memperjualbelikan dan membuat token sendiri. Kalau di Bitcoin nggak bisa. Karena itu sudah mata uang aja. Kalo Ethereum kita bisa bikin apa aja didalamnya. Kayak bikin bank, ada asuransi, ada deposito , ada juga tabungan di dalamnya.

 

Berarti bentuknya nggak selalu artwork atau gambar yah kalo buat NFT?
 
Apapun sih, bisa apa aja. Kalo mau foto selfie juga bisa, meme juga bisa. Tapi orang-orang jadi tertarik nggak untuk membelinya?

 

Ohhh gitu, jadi kalo karya pertama lo buat di NFT tu apa?
Ada itu di tezos. Jadi, Tezos itu kayak Ethereum, jaringanlah gitu. Jadi kayak ekosystem gitu. Kita mau kemana nih menjual karyanya. Ada kayak gallery lah, tapi ini galery nya ada di ekosistem si Tezos. Jadi kita transaksinya pake token atau koin Tezos. Dari Tezos juga bisa ditukar ke rupiah. Kalu Bitcoin kan BTC, kalo Tezos tuh di namnya XTZ.

 

Kalau mau join nih di dunia NFT. Misalkan, gw punya karya yang mau dijual cara pertamanya gimana?
 

 

Pilih dulu jaringannya mau dimana. Ada HEN di Tezos, kalau OpenSea foundation itu di Ethereum. Jadi dipilih dulu mau dijual dimana kalau mau di HEN jangan dijual di OpenSea juga. Soalnya jadinya nggak etik aja. Jatuhnya nanti tanggung jawabnya ke kolektor. Misal gw beli karya A yang di HEN, taunya karya A di minting juga di Opensea. Jadinya rugi yahh.

 

Jadi sistemnya tuh yang beli atau kolektor itu jadi minting juga nggak hitungannya?
 
Jadi yang beli tuh nge-swap uangnya dia buat NFT artist yang buat karyanya. Berbentuk token, nanti tokennya jadi berubah yang asalnya dimiliki oleh artist, jadinya dimiliki sama yang beli. Ketika udah berubah kepemilikan, si pembeli itu punya hak untuk memperjualbelikan. Dan justru yang bikin rame tuh yang memperjualbelikan kembali NFT nya itu. Kalo artist atau yang pertama bikinnya itu dapet persenan setiap si NFT nya itu terjual. Persenannya langsung terpotong otomatis masuk ke wallet artisnya itu sendiri. Besaran persennya ditentukan sama artist-nya ketika pertama minting si NFT atau karyanya.

 

Tapi kalau diliat sekarang tuh, yang beli karya atau NFT tuh kebanyakan artist lainnya. Emang gitu?
 
Hhmmm. Karena ekosystem ini tuh community based yah. Ibaratnya gini, dunia NFT sama dunia nyata tuh beda. Siapa kalian di dunia nyata, pas masuk dunia NFT tuh dari nol lagi. Mau artist besar, seniman sebesar apapun ketika masuk NFT ketika bilang” gw artist besar nih gw minting karya gw dengan harga sekian” itu akan susah terjual. Beda dengan artist yang berasal dari komunitas yang aktif di twitter. Kayak aktif menjual karyanya di twitter, atau membeli karya artist lainnya.

 

Biasanya suka liat di twitter, suka ada drop your NFT, itu teh apa?
 
Nah, itu tuh kayak nyambungin antara si artist ke yang mau beli. Kayak wadah lah gitu. Si orangnya biasanya butuh engagement atau followed juga. Nanti, si artist bakal ngedrop link-link nya di tweet itu bisa jadi artist lainnya yang beli. Atau tiba-tiba lewat di timeline orang lain dan dibeli sama orang itu. Karena jadinya emang ada saling support aja di sesama artist juga. Misalkan gw bikin karya terus lo juga bikin. Terus karya lo gw beli. Jadinya kan lo punya modal lagi buat gas buat nampilin karya berikutnya. Karena buat nampilin karya itu ada biayanya.

 

Nah, kalo buat gas fee itu harganya berapa?
 
Tiap jaringan beda-beda harganya. Paling mahal tuh gas fee di Ethereum bisa sampai 2 jutaan atau 2,5 jutalah. Jadi Gas fee itu biaya untuk menggunakan blockchain. Per minting atau mengupload karya tuh kalo di Ethereum harus bayar segitu. Kalo di HEN cuman sekitaran delapan ribuan buat sekali minting. Makanya artist-artist lebih suka di HEN karena lebih murah juga. Lebih simplenya lagi kalo HEN tuk marketplace-nya NFT lah gitu.

 

Ohh okeh okeh.. Terus, kalo kemaren bikin project Soiletart itu gimana pertamanya?
 

 

Jadi itu isinya orang-orang yang ada di grup Kekaisaran Dago. Jadi gw dulu liat ada network Solana. Nah, disitu tuh jelek-jelek NFT nya. Tapi masih baru disitu tuh networknya. Jadi kita bikin project baru disitu. Kebetulan, di Kekaisaran Dago ada yang bisa dan ngerti tentang kontraknya. Akhirnya, kita ngemodal bikin website, smart contract, terus kolaborasi sama 15 visual artist dan 15 audio artist buat bikin karya yang dirilis 2 minggu sekali dengan sistem lelang. Karena lelang, jadi per karya tuh emang dijualnya cuman 1 aja, dibikin rare.

 

Itu yang paling mahal, laku kejual berapa? 
 
Kemaren kalau yang pertama, kalo nggak salah kejual 23 SOL gitu. 1 SOL nya itu 3 juta rupiah, jadi sekitar 69an juta kalo nggak salah.
 
Jadi beda yah sama HEN?
 

 

Beda, jadi kita bikin platform sendiri. Currency atau koinnya itu SOL. Jadi di Solana ini, si Soilet itu bikin platform sendiri di dalamnya kayak HEN nya. Khusus buat beli toilet. Hehehe

 

Kenapa harus toilet?
Karena, konyol aja gitu. Toilet gitu. Maksudnya karena, si NFT tuh emang dibikin sesantai itu.

 

Untuk pembagian hasil penjualannya gimana?
 
Jadi dari pertama di smart contract nya itu sudah ada kesepakatan. Jadi artist visual berapa persen, audio berapa persen, sosmed, marketing sampai bendahara dapet persenan juga. DAO namanya, Decentralized Autonomous Organization.

 

Kalo di Solana kayak Soilet gitu ada nggak sih Platform lain dari Indonesia?
 
Kayaknya ada baru, namanya Abstract Lab. Cuman kalo di Ethereum yang dari Indonesia udah banyak disitu.

 

Menurut penerawangan seorang Dissa, berikutnya apa nih yang bakalan rame atau jadi trend?
 

 

Yang bakalan rame nanti ada NFT music. Yang bareng sama gw ada di beta.catalog.works tuh ada Richie Hawtin, Telefon Tel Aviv, Tycho, lumayan banyak sih yang ada disitu. Jadi itu ngejualnya kayak vinyl, satu lagu sistemnya lelang jadi karya yang dijual tuh lagunya cuman satu aja. Buat masuk sini juga musiknya sudah terkurasi, jadi kayak ke toko vinyl aja. Kemarin sempet ada yang terjual di catalogue itu tuh harganya 17ETH, kalo dirupiahin jadi sekitar 850 jt an lah kayaknya. Satu lagu itu harganya segitu.

 

Tapi semua orang bisa ngedengerin lagunya itu?
 
Bisa, cuman kepemilikan dari lagu itu aja yang jadi milik si pembeli. Jadi kalo musisinya mau minting lagi lagunya yang udah kejual itu, udah nggak bisa lagi. Soalnya kepemilikannya udah bukan milik musisinya itu lagi. Malah kadang suka ada yang ngasih file bounce-nya per-layer. Jadi kalo misalnya beli satu lagu, nanti dikasih file mentahannya lengkap sama file-file project-nya. Yahh kalo kejual 500jt mah, kasih ajalah yah. hahahah. Ada Disclosure ngejual lagu 10ETH, tapi lagunya belum jadi. Nanti kalo beli, si pembelinya diajak zoom bareng buat beresin lagunya. Ketika lagunya jadi, hasil penjualannya dibagi 50% masing-masing. Terus, ada juga yang jual per layer gitu jadi jual gitarnya doang, bass nya doang. Jadi kalo mau punya satu lagu full harus beli satu-satu. Tapi dikasih pilihan misal, guitar ada beberapa style untuk satu lagu yang sama. Jdi, nanti yang beli bisa milih bebas mau style  mana aja yang mau dipake buat lagu itu.

 

Kalo misalnya si musisi itu ngebawain lagunya secara live atau meng-upload di platform musik boleh?
 
Boleh, tapi ketika si musisi bawain lagunya. Si pembeli pasti ada rasa bangga “niih lagu gw dibawain”, hahahah.. Di upload ke platform musik juga boleh, jadi si pembeli cuman berhak atas kepemilikan lagu yang ada di blockchain.

 

Jadi dunia NFT ini bisa menjadi jalan keluar bagi musisi atau artist untuk bisa lebih hidup?
 
Iyah, terutama masalah royalti. Ini royalti spotify satu juta million stream, kalah sama jualan 1 NFT sekarang. Misalkan gw bikin karya nih, di beli sama Mano. Ketika sama Mano dijual lagi di dunia nyata teh gw nggak kebagian. Beda kalo di NFT, gw dapet persenan seumur hidup kalo karya gw diperjualbelikan lagi sama Mano. Gw dapat royalti, kalo Mano jadinya dapat untuk dari selisih nilai pas beli dan menjual.

 

Rencana kedepan mau ngapain lagi?
 
Rencana kedepan mau, resign dari semua pekerjaan. Mau full NFT.. hahahaha

 

Words & interview by Firman Oktaviawan
Photos from Andigodi & Jaqes archive
Layout by Prita

Perunggu adalah trio indie-rock asal Ibu kota yang cukup menarik perhatian saya sejak mereka merilis single ‘Biang Lara’ dan ‘Tarung Bebas’ yang begitu fresh dan powerful dalam waktu yang sama. Tidak berlebihan apabila menurut kami band ini sangat menjanjikan dan bisa menjadi besar untuk meramaikan ekosistem musik Indonesia. Bila kemudian waktu band ini tidak besar dan tetap menjadi “underdog”, maka ada yang salah dengan industri musik Indonesia. Tetapi seperti nama band nya, Perunggu memang sudah nyaman menjadi “underdog” dan tidak membutuhkan pengakuan, karena mereka nyaman dan enjoy dengan situasi apapun yang terjadi. Untuk para penggemar Death Cab For Cutie, Band of Horses & Silversun Pickups dengan sensibilitas pop Indonesia, kalian harus menyimak band yang satu ini. Most of the times, kita selalu roots for the underdogs dalam film, buku atau bahkan musik. Mari sedikit berbincang dengan para self-proclaimed underdogs ini.


Halo Adam (bass & vokal), Ildo (drums & vokal) dan Maul (vokal & guitar). Apa kabar Perunggu? Kabarnya sedang mempersiapkan album baru ya?


Adam: Halooo mas Aldy. Salam kenal!


Nando Maulana: Nah aman hadir semua ehehe.. Sehat walafiat baik dan happy semua, habis nonton bareng konser virtual nya Death Cab For Cutie semalem di Red Rock hehehe. Betul, kami lagi di fase post-production buat debut album nih


Adam: Iya sambil studi banding..


Nando Maulana: Mas Aldy gimana kabarnya? Kami fans berat Jolly Jumper dan tulisan-tulisan Mas Aldy era Ripple dulu. So its a huge huge pleasure bisa ngobrol bareng hehehehe.


Ildo: Sehat alhamdulillah. Betul kita lagi proses mixing mastering. Doakan segera rampung hehe..


Thanks! It’s a huge pleasure too! By the way, Single terbaru kalian yang ‘Tarung Bebas’ terdengar lebih rocking out dari lagu-lagu kalian yang lain. Apa tema lagu dan konsep aransmen lagu tersebut?

 


Nando Maulana: Wahaha kedengarannya begitu ya? Mantep deh. Jadi memang kami doyan musik kenceng juga sebenarnya. Dan waktu proses ngumpulin demo buat album baru, somehow kebikin lah si lagu ‘Tarung Bebas’ ini begitu saja. Proses rekamannya cepet banget juga tanpa tedeng aling-aling. Secara tema sih si ‘Tarung Bebas’ ini semacam subset dari tema keseluruhan album kami nantinya, irisan-irisan dalam keseharian. Tentang gimana caranya buat bisa bebas. Karena gue sendiri demen sama istilah ‘Tarung Bebas’, karena pas dibaca tuh itu entah lo harus bertarung dengan bebas, atau lo harus bertarung agar bisa bebas.
____________________________________________________________

 

“Kenapa Perunggu, karena hidup mah ga harus selalu jadi nomer satu, jadi nomer tiga juga gapapa yang penting udah masuk podium. Jadi ga ngoyo gitu lah sama kehidupan ini.”


____________________________________________________________


Pertanyaan klise: Kenapa menamakan trio indie-rock ini sebagai Perunggu? Kenapa tidak perak atau emas? Hahaha..

 


Nando Maulana: Kalo jawaban gue sih karena gue udah kebayang font type set nya tulisan Perunggu kaya gimana. Di Google search juga itungannya masih aman. Plus enak juga buat diucapin.. Hahaha.. Untuk jawaban yang rada-rada filosofis nya monggo Adam dan Ildo..


Adam: Waktu itu sempat bingung juga mau namain apa, terus dari masing-masing kami keluarin ide lah. Nah kalo Perunggu itu dari Maul awalnya tapi entah kenapa pas dari awal disebut gue pribadi pun langsung aminin gitu. 


Kalo mau filosofis dikit mah yah hidup mah ga harus selalu jadi nomer satu jadi nomer tiga juga gapapa yang penting udah masuk podium. Jadi ga ngoyo gitu lah sama kehidupan ini. Terus hal lain nih (belum pernah ngomong juga sebetulnya) gue pribadi pas dibilang kata Perunggu itu kerasanya kaya merepresentasikan warna dari musik yang kami mainkan.


Nando Maulana: Wah iya juga ya… dipikir-pikir benar juga.


Ildo: Hahaha, sebenarnya pas di awal Maul suggest Perunggu, kalau gw pribadi langsung relate aja sama namanya. Gak perlu selalu pushing hard buat jadi nomor 1 lah intinya. Sama kaya awal terbentuknya band ini, kita juga gak ada ekspektasi buat band ini mau dibawa kemana. Pure senang-senang pulang kantor.


Adam: Top of mind gue pas lu pertama kali ngomong ini sebetulnya “warna perunggu”.


Nando: Nah iya bener. Somehow kami suka banget sama konsep being underdogs gitu.. jadinya cuma ngajuin 1 nama langsung nancep. Dan baru dinamakan Perunggu juga seinget gue pas udah masuk studio buat rekaman EP ‘Pendar’ kan ya? Jadi sempet lama tuh group Whatsapp kami namanya masih “Ben-Benan”..


Adam: Pas tengah-tengah rekaman malah, inget dikirim bouncingan dari studio masih nama ngasal awal dulu..


Nando Maulana: Oh iya bener..


Lalu apa saja referensi bermusik masing-masing personil? Saya mendengar pengaruh Death Cab For Cutie, Band of Horses dan Silversun Pickups di lagu-lagu kalian.. 


Nando Maulana: Yoi pas pisan! Jawaban klise: Kami nih itungannya cukup geek dan dengerin buwanyak banget musik. Apapun jenis suaranya. Tapi memang ada beberapa nama buat gue pribadi yang nempel dan mempengaruhi untuk main gitar dan nyanyi.. Buat yang kerasa hint nya di Perunggu sih mungkin ya Death Cab jelas, selain itu ya At The Drive-In, Jimmy Eat World, Sheila on 7, Teenage Wrist, Title Fight, Silversun Pickups ada dikit-dikit hehehe. Oh iya dan Vincent Vega. Tambahan, kalo buat nulis lirik gue kepapar banget sama Jeff Tweedy nya Wilco, Ben Gibbard nya DCFC, Elliott Smith, sama Jeff Buckley. Gaya bertutur nya ringan agak kikuk tapi straightforward. Agak aneh mengingat si Perunggu kan so far lirik lagunya bahasa indonesia, jadi gue nyontek gaya bertutur nama-nama diatas, dicampur sama baca-baca buku sastra indo baru.. Dari Budi Darma, Eka Kurniawan, sampai Leila S. Chudori.


Ildo: Kalau referensi musik Perunggu sih lumayan beragam. Tapi gw pribadi, untuk drumming style banyak banget terpengaruh sama Pat Wilson (Weezer), Brian Chase (YYYs), sama Jason McGerr (DCFC).


Adam: Kalo ditanya referensi musik yang kami dengar sebetulnya beragam banget-banget jadi bingung juga kalo ditanya spesifik buat Perunggu. Bentar buka spotify dulu hahaha.. Ok setelah buka-buka Spotify ternyata yang gue dengerin belakangan pas mulai Perunggu itu QOTSA, Bloc Party, Jimmy Eat World, DCFC, RHCP dan tentu saja om Colin Greenwood Radiohead. Gue adore banget sih doi tuh kek jadi “Lem” dari ke-chaos-an Thom, Jonny dan lain-lain..


Saya menemukan Perunggu dari referensi teman-teman pas kalian merilis single ‘Biang Lara’. Coba ceritakan sedikit mengenai proses pembuatan dan recording lagu tersebut.. Lagu itu fresh banget buat saya, karena jujur lagi bosen dengerin musik baru sekarang-sekarang ini..


Adam: Nuhun pisan! Ini salah satu lagu yang ga kami beri perhatian lebih pada saat penggarapannya, kaya bener-bener selewat aja gitu malah awalnya. Tapi seiring berjalannya waktu rekaman dan mulai nambah ini itu, mixing kemudian mastering. Walah kok malah jadi enak banget ya hahaha. Intinya ga mikir banget waktu bikinnya, yang lewat di otak aja pada saat itu.


Ildo: Waduh makasih mas. Seneng banget dengernya. Sebenar-benarnya Biang Lara ini tuh di awal-awal jadi salah satu lagu underdog kita. Gak masuk barisan buat jadi single malahan. Secara blueprint lagu ini tuh straight forward Pop aja. Pas workshop pun kita ngulik lagu ini pun selewatnya aja (sampai hari H rekaman belum tau pattern drum nya mesti bagaimana). Tapi entah gimana kelar rekaman lagunya jadi berubah lumayan drastis. Terus kita sempet kasih denger juga ke kerabat dekat dan mereka pun pada suka. Akhirnya mah lagu yang tadinya gak masuk top tier malah jadi single pertama haha..


Nando Maulana: Wah makasih banget!! Seneng dengernya. Mengamini jawabannya Ildo sama Adam diatas. Dan lucunya ya saking kami suka sama konsep underdog, sampai lagu underdog malah yang “diem-diem minta” dijadikan single perdana. Bener..


Ildo: Nah Memang kadang yang tidak di expect suka dateng sendiri kalau ikhlas dan tawakal wkwkw..


Nando Maulana: Nambahin lagi, jadi inget juga dulu waktu gue ngeshare draft lagu nya ke Adam sama Ildo (‘Biang Lara” ini termasuk lagu-lagu awal yang mengisi folder demo album) – gue sempet ngerasa nggak pede buat nge share. Karena nggak kebayang nantinya bakal diapain. Polos lagu manis aja gitu. Tapi pas udah masuk studio emang ini lagu paling drastis pertumbuhannya. Kami bertiga pun masih suka bingung respon orang-orang bisa sebegitunya, mengingat lagu ini justru dulu sama sekali ga masuk shortlist yang bakal jadi single.


Kenapa video klip ‘Biang Lara’ menggunakan format video vertikal ala Insta story? Unik dan keren konsepnya! Tema apa yang mau kalian tampilkan dengan video ini?


Nando Maulana Ibrahim: Silahkan pak sutradara Adam..


Adam: Wehewehe terima kasih Mas! Debut jadi Sutradara ini. Karena relate sama kondisi sekarang aja sih awalnya, rata-rata orang Indo menghabiskan waktu sekarang lebih banyak di hape, segala macam bisa kita lakukan di hape. Yaudah sekalian aja bikin yang ukurannya kaya layar hape biar yang nontonnya juga ga ribet. Nah terus kalo soal ceritanya, nyambung sama liriknya, gue menginterpretasikan bahwa ‘Biang Lara’ ini seperti siklus kehidupan, jadi klip nya memperlihatkan keseharian kami mulai dari bangun tidur-sarapan-kerja-main sama keluarga- dan diakhiri dengan ngeband di studio. Sekalian perkenalan juga lah ahaha. intinya enjoyin aja hidup mah..
____________________________________________________________

 

“Emang ga ada yang bisa ngalahin main musik bareng di 1 ruangan sambil liat-liatan langsung sih.”

 

____________________________________________________________


Bagaimana rasanya aktif ngeband disaat pandemi? Tidak bisa banyak manggung, tidak bisa showcase dan launching album dan juga mungkin jarang bertemu ya?

Ildo: Yang ke impact banget juga mah selain gak bisa manggung dan latihan, proses produksi album juga sempet kesendat gara-gara personil dan team produksi gantian kena covid waktu itu. Harapannya sih album kelar pas juga dengan pandemi kelar, jadi bisa lanjut showcase manggung offline.


Adam: Amiin banget..


Nando Maulana: Iya sedih nya kangen banget manggung sih. Pengen banget mainin musik kami didepan banyak orang terus ngeliat reaksi langsung. Ga pengen ngarep juga buat bisa manggung secepatnya. cuma ya kita nya pengen nyiapin diri juga once udah aman buat manggung momen nya pas buat kita sambil ngenalin lagu-lagu baru dari upcoming album. Selama pandemi lumayan bikin proses bikin album jadi agak beda. Karena bingung dirumah mau ngapain, folder demo jadi cepet banget penuh keisi karena dikit-dikit bikin lagu tuker-tukeran file. Pas juga tepat sebelum pandemi, Adam lanjut mengambil master di UK. jadinya kalo ga pandemi pun bakal ketemu situasi serupa kali ya, kirim-kiriman file. Beda sama EP Pendar yang lagunya pure hasil jamming. Urusan ketemuan jadinya diakalin sama zoom aja. Dan mostly pas zoom call pun catch up keadaan masing-masing. Ngomongin musiknya mungkin 20% nya hahaha.


Adam: Sedih sih lumayan ga bisa manggung tuh. Tapi yang kami lakukan di masa pandemi yang ga jelas ini ngeband dan rekaman segala macemnya malah jadi sebuah aktivitas biar tetep waras sih hahaha!


Nando Maulana: Dan pas Adam baru banget pulang ke Jakarta di bulan September, kami sempetin workshop dulu 3x lumayan intens buat matengin si lagu-lagunya. Langsung pada kebentuk banget enak sih hampir semua lagunya. Emang ga ada yang bisa ngalahin main musik bareng di 1 ruangan sambil liat-liatan langsung sih.


Waduh sama nih kasusnya sama band saya (Nearcrush) sama Rembo. Bikin album dari rumah masing-masing jadinya. Band rumahan hahaha!


Nando Maulana: Bagus banget by the way albumnya Mas! Saya suka lirik-liriknya terutama hehehe.


Adam: Wah iya Nearcrush, video liriknya bodor eta pake hape jadul kepikiran hehe..


Apakah kalian para pedal geeks? Coba ceritakan sedikit masing-masing rig instrumen, efek, ampli, drum set, dan lain-lain yang digunakan saat buat lagu, rekaman atau manggung apa saja? Tone gitarnya ‘Biang Lara’ tone ‘mahal’ tuh hehe..

 

 
Ildo: Kalau drum di rumah mah cuma ada electric. Gak ada tempat buat naro drum beneran hehe. Kalau pas rekaman Alhamdulillah dapet pinjeman drum DW dari mas Konde ex Samsons. Cymbals dari dulu masih setia sama Zildjian hehe.
 

Adam: Maul tuh pedal geeks, haha, gue mah ga terlalu. Dulu sempet tapi dah dijual-jualin. Sekarang mah rely sama efek modern aja pake Line6 HX stomp. Nah kalo pas rekaman album kemarin karena biar ga bosen juga setiap lagunya gue pengen karakter bass nya beda-beda jadilah pinjam sana sini alhamdulillah dapet mulai dari Jazz Bass, Precision Bass, Jaguar, Mustang, Musicman even Stu Hamm signature juga. Tapi kalo yang pribadi pake cuma jaguar + Line6 HX stomp sudah cukup banget buat live juga. Lagi nyari Precision Bass sebetulnya siapa tau mas Aldy ada temen yang mau jual hehe..


Ildo: Oh yg lumayan variatif pas rekaman sih snare drums nya. Snare utama ada Ludwig supraphonic. Terus produser (Deva) juga ngasih pinjaman Ludwig Black Beauty, sama Ludwig jadul gak tau seri apaan.


Nando Maulana Ibrahim: Hahahaha. Mahal di ilmu nya mas. Emang konsultasi sama ahli tuh penting banget. Gue biasanya liat pedal based on looks si enclosure nya wkwkwk. Pas tone-shaping buat album emang bener-bener digodok via diskusi sama nama-nama diatas. produser kami (Deva & Dennis) juga cukup nitty gritty-an urusan ini. Hahaha saya sih emang doyan banget ngepoin gear-gear. bisa dibilang cukup geek, tapi ngga pernah segitu pede buat investing beli alat-alat dan hoarding sebanyak banyaknya, dan biasanya saya ngobrol konsul sama Rambo (Nearcrush) juga urusan ini. Suhu saya dari jaman masih main band di bandung 6-7 tahun lalu. Selain sama Rambo saya juga ngobrol banyak sama Ano (chief engineer album kami nanti), Wiku (Alpha Mortal Foxtrot) dan Nandie (Dried Cassava/Lamusika Store). Mereka-mereka tuh pure geeks urusan pedals, amps, dan guitars.


Tapi ya sejak ngeband lagi sama Perunggu, akhirnya gue jadi ngerasa layak buat collect alat-alat seperlunya karena ada kebutuhan buat bikin lagu dan rekaman. set buat manggung sih ngejar praktis dan tinggal colok. signal chain nya:

 

Fender Jazzmaster JM66 jepang taun 96 (gitar ini sempet nangkring di Rambo juga lama. ujung-ujungnya nyampe ke saya setelah lewat 2-3 orang lain. kocak) –> Kemper Stage.


Kalo pas di studio baru lumayan BM dan ambisius. Gitar yang dipake:


– Fender Jazzmaster JM 66
– Fender Jazzmaster US 2012
– Fender Telecaster Mexico 2002
– Epiphone Sheraton (pinjem punya Adam)
– Gibson SG Classic with Bigsby
– Nash Jazzmaster
– Danelectro ’57
– Gibson Custom acoustic

 

(4 gitar terakhir itu pinjem dari Ano dan Wiku)


Untuk pedals nya yang kepake banget di album:
– Xotic SP Compressor
– HBE Power Screamer Overdrive
– EHX BigMuff Pi yang military green edisi baru
– DOD Rubberneck Analog Delay
– GFI System Specular Tempus
– Anasounds Phase Lag


Ampli selama rekaman pake:
– Hiwatt Custom Little D
– VOX AC15

 

Ampli juga pinjem punya Wiku sama Ano.


Kenapa memilih menggunakan lirik berbahasa Indonesia? Jujur membuat lirik Indonesia itu sulit sekali buat saya dan kawan-kawan..


Nando Maulana Ibrahim: Ini juga langkah nekat sebenarnya. Saya pribadi baru pede mulai nulis pake bahasa indonesia bahkan ya pas nulis EP Pendar. keterusan sampe bikin album. Kenapanya sih karena tema lagunya emang lebih “nyampe” ternyata kalo pake bahasa indonesia. secara konteks ada hal-hal yang agak sulit kalo di inggris-in dan kami ga pengen maksain juga. Sama ya gue sukanya bahasa indonesia tuh somehow lebih romantis aja. Pengucapannya juga enak banget buat ditekuk-tekuk pas dinyanyiin. Dan ternyata ya si lagu-lagu yang kami tulis sejauh ini memang entah kenapa cocok banget dipakein lirik bahasa indonesia. Saya ga bisa bayangin ‘Biang Lara’ jadi “Source of Pain”, atau ‘Jenuh Kan Kutelan’ jadi “I’ll Swallow the Boredom” hahahaha. Tapi penasaran sih Mas, so far dari dirimu ada tanggapan apa ngga perihal lirik-lirik nya kami?


Bagus mas lirik-liriknya, lugas, ada romantisme tapi gak cheesy sama sekali seperti lagu-lagu pop lokal lainnya. Saya harus belajar sama mas nih bikin lirik Indonesia haha..


Nando Maulana Ibrahim: Waduh hahaha hatur nuhun! Saya juga masih belajar banget ini…


Apa yang kalian rasakan dengan masih bisa nya bermain band setelah berkeluarga, pulang kantor dan tetap masih bisa menawarkan youthful energy dalam setiap lagu-lagu nya?

 

Adam: Seneng banget, lebih tepatnya kalo gue pribadi ga akan mau ngelepasin musik dari kehidupan gue, jadi ya pengen tetap disini sampai kapanpun karena ini salah satu pelepasan energi-energi dari rutinitas lainnya (kerja kantoran) biar tetap waras hahaha. Termasuk nonton konser (kalo uda bisa hehe).


Ildo: Kami pada dasarnya emang cinta banget sama musik dan dari dulu seneng main musik. Walaupun ada kesibukan lain pun suka masih disempet-sempetin buat bermusik. Dan makin tua pun gw rasa kita makin jago atur waktu ya, jadi lebih paham apa yang perlu diprioritaskan dalam hidup. Dan Alhamdulillah nya musik selalu bisa jadi channel buat refreshing dan berkarya bukannya jadi beban. Harapannya semoga bisa bermusik terus sampe tua sih.


Nando Maulana Ibrahim: Seneng banget. Gue pribadi bisa bilang kalo emang si Perunggu ini mah emang ‘meant to be’ aja gitu. Kami bertiga tuh ga gitu kenal deket-deket amat sampai pas pertama kali jamming pun masih canggung. Tapi ya kami bertiga lagi ada di fase hidup yang kurang lebih sama, dengerin musik yang kurang lebih sama juga, dan punya pandangan yang sama juga gitu bahwa main musik tuh pada khitahnya harusnya seneng-seneng. Makanya nggak begitu ambisius harus laku atau gimana gitu. Cuma ya balik lagi karena kami secinta itu sama musik, pas bikin lagu dan produksi rilisan kami tau kalau bikinnya harus bagus banget. Harus bisa dibanggain minimal sama diri sendiri. Namanya cinta sama format karyanya, jadinya ya harus di present selayak mungkin. Jadi ya kayaknya si ‘youthful energy’ nya mungkin hasil energi seneng-seneng yang tembus dari si lagu nya kali ya. Dan ya gue sih bersyukur banget bisa main musik sama Perunggu. Ideal banget. Lucunya ya kami pun dulu sempet ada di fase udahan aktif ngeband dan jual-jualin alat. Eh pas ketemuan bertiga langsung ibaratnya kayak disuruh “pulang” gitu sama musik. Ngga bisa jauh-jauh. Dan pas pulang dengan kondisi se ideal ini, gue bener-bener bersyukur.


Terakhir nih, masing-masing ada rekomendasi lagu atau album untuk para pembaca JEURNALS? 


Ildo: Yang lagi didengerin belakangan ini:


1. The Panturas – album ombak banyu asmara
2. Deafheaven – album Infinite Granite
3. Purpla – JKT 24/7
4. Swellow – Sukar
5. Ananda Badudu – Hiruplah Hidup
6. Turnstile – album Glow on


Nando Maulana Ibrahim:  Bebas lama atau baru kan ya? Hehe.. Album atau EP yang cukup high rotation buat gue belakangan sih:


1. Swellow – Karet EP
2. Satu Per Empat – Pasca Falasi
3. Low – HEY WHAT
4. Cave-In – Antenna
5. Jeremy Enigk – OK Bear
Nah iya nih Turnstile. Anak saya suka banget sama lagu Holiday hahaha


Ildo: Yoi soundtrack pulang dari Bandung kemarin. Anaknya Maul teriak-teriak “Whattt”  Wkwkwk…

 

Nando Maulana Ibrahim: Ajaib kan.

 

 

Adam: Wah udah kasebut semua haha bentar.. Tambahin deh:

Beabadoobee – Fake it Flowers

Wolf Alice – Blue Weekend (seger banget ni album)

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Perunggu archives
Layout by Prita