Akhir-akhir ini ada satu gelagat yang membuat sebuah cetakan bernama zine memiliki suatu daya tarik bagi teman-teman tongkrongan saya. Entah apa sebab-musababnya. Walaupun sering mengoleksi hal-hal yang demikian, terus terang, jika ada yang bertanya soal apa itu zine, saya sendiri kadang kebingungan menjelaskannya. Kalau masalah metode teknis, okelah, tapi kalau sudah merambah ke pertanyaan: apa esensinya? Kenapa ia disebar begitu lincah? Kenapa menulis di sana begitu bebas sekaligus liar? Jujur, perkara demikian tidak mudah untuk menjawabnya.


Selain mempunyai jawaban subjektif, zine sendiri tak mempunyai pakem absah mengenai definisinya, tergantung dari sudut pandang mana melihatnya. Terlebih di era serba semua orang bisa mendefinisikannya sendiri-sendiri, tergantung pengalamannya. Toh, pastilah banyak tulisan sejarah yang sudah menguraikannya. Entah karena konon dulu ada yang kebetulan menyukai fiksi ilmiah, lalu kemudian medium cetak dijadikan sebagai bentuk pelarian dari realita/kenyataan yang menolak keberadaan mereka, hingga pada akhirnya zine berkembang sangat pesat dan menjadi sumber informasi fresh bagi banyak orang yang ingin mencari bahan bacaan dari luar media mainstream.


Sejak ditemukannya mesin cetak dan uap, pemakaian bahasa yang dulunya mengharuskan penuturnya mengatur susunan kalimat dan pengaplikasian kata, baik secara lisan untuk bercerita, digantikan dengan seni menggunakan bahasa tulisan. Proses itu jugalah yang kemudian membuat isi pesan yang ingin disampaikan bisa dengan mudah dipublikasikan kepada banyak orang.


Ambil contoh medium yang masih (mungkin) kita pernah rasakan, yaitu koran. Koran dengan seabreg informasi, sejak pencetakannya bisa dicetak mana suka, bisa membuat orang mengetahui suatu peristiwa tertentu tanpa harus bertemu dengan penutur atau tempat kejadiannya. Di sanalah pula suatu peristiwa dan ceritanya bisa tersebar luas kepada khalayakbanyak.


Namun seiring zaman, perkembangan mesin/teknologi yang semakin melaju tanpa ampun, terlebih sejak keberadaan digital, suatu informasi bisa mudah didapatkan dengan begitu cepat. Tentu saja terdapat setumpuk penyebab yang mengharuskan masa kini merasakan hal demikian. Peristiwa satu, kalah cepat dengan sirene ambulans, persis apa yang disindir Ugoran Prasad, misalnya. Tanpa bermaksud mengucilkan. Karena kalaupun toh ada masalahnya, saya rasa inilah keniscayaan kemuktahiran; sebab perubahan selalu datang dengan dampak dan nilai baru yang dibawanya. Maka dari situ, nilai lama akan digantikan oleh nilai baru. Di sinilah teks yang dijadikan, sekaligus medium informasi yang ingin saya sampaikan, dalam format kecilnya yang imut dan kadang bringas sekaligus radikal pada saat bersamaan; zine. Iya, zine. Dalam bentukan hasil fotokopian dengan segala estetika visualnya yang menawarkan pengalaman indrawi. Yang teman-teman sepangkringan saya akhir-akhir ini minati. Entah menjadi bagian dari creator atau hanya sebagai pembaca.

Zine hadir pada bumi Indonesia, digadang-gadang ketika tahun 90-an awal dijemput oleh band-band dan juga komunitas punk. Saat itu, redaksionalnya lebih banyak menguliti soal pertarungan dengan negara, kabar komunitas atau resensi musik. Ditambah waktu itu dengan kerangkeng yang diberlakukan budaya sensor oleh zaman Orba membuat usaha ini perlu upaya besar. Situasi di mana ideologi negara sudah dimapankan dengan seruan patriotisme ala militeristik. Hal demikianlah yang menjadikan zine menjadi alternatif sekaligus infrastruktur pengetahuan dari luar bacaan mainstream, terlebih produk sejarah yang dibuat negara. Menurut Alia Swastika, dalam bukunya Dari Protes ke Proses, pada kisaran pra-98 kebanyakan rilisan cetak zine sekaligus lintas disiplin seni lainnya banyak membahas soal pertarungan dengan tema sosial-politik melawan negara, karena memang pada masa itu masyarakat punya musuh yang harus diturunkan bersama-sama; yaitu Soeharto. Namun setelah pasca-98, ketika reformasi itu sendiri kurang menyentuh akar masalah, sehingga memunculkan kekecewaan politik, maka rilisan pada era setelahnya lebih banyak dan semakin luas dan lebih terhubung dengan praktik kehidupan sehari-hari. Termasuk tema-tema yang membahas personal. Hal ini bisa kita lihat dalam praktik seni masa kini. Kondisi yang memungkinkan semua orang mampu membahas suatu hal yang lebih intim, lebih personal. Tentu, kondisi sosial membuat transformasinya bisa dirasakan.


Sedangkan Zen RS dalam Pidato Genealogi Penerbitan Bawah Tanah yang dibacakan di Bandung Zine Fest 2026, kemarin, melihat lebih jauh soal perkembangan budaya cetak zine ini dalam periode gerakan anti-kolonialisme pada era 1920-an. Lewat kacamata Marco Kartodikromo yang menerbitkan Doenia Bergerak. Zen menyebut, dalam kebudayaan kita, infrastruktur yang memberikan pengetahuan alternatif serupa zine sudah lebih dulu ada. Cetakan ini disebut sebagai Penerbitan Situasional, di mana penerbitan bahan-bahan cetak untuk kepentingan-kepentingan yang spesifik, tanpa target harus laku berapa, tanpa ambisi bertahan lama dan tanpa memikirkan modalnya akan balik kapan. Cetakan ini juga terikat dengan komunitas dan terikat dengan ruang-ruang spesifik, mirip zine hari ini.


Penerbitan situasional lahir ketika sirkulasi besar tidak lagi mungkin, ketika hidup dan mati penerbitan ditentukan oleh situasi. Kondisi di mana selembar kertas mampu membuat seseorang berhadapan dengan risiko. Kondisi di mana juga sebuah cetakan mampu menggoyangkan kekuasaan, sekaligus memberi senjata dalam bertindak. Namun, ia juga tidak
lepas dari atmosfer yang membuat sebuah cetakan seperti membawa barang berbahaya. Hingga di level, sebuah penerbitan disita karena terlalu berbahaya.


Apa yang menarik dari penerbitan situasional, karena ia tumbuh di dalam infrastruktur sosial yang menopangnya, teks tidak berhenti sebagai bacaan. Teks hidup karena dibacakan, dibahas dan dipakai untuk memutuskan satu keputusan bersama, di Surakarta tahun 1923, Bale Tenjo, memperlihatkan sejarahnya. Teks berjalan bersama suara, pertemuan, pengulangan dan pembelaan. Ia hidup karena kondisi, karena kebutuhan mendesak, karena teks dibutuhkan untuk dibacakan bersama. Sebab, pada masa itu, tanpa infrastruktur sosial yang seperti tadi, zine hanyalah selembar kertas. Namun, sekali lagi, cetakan ini mirip zine, namun memiliki suatu pergerakan sosial yang sirkulasinya memiliki daya dorong.

Pengalaman psikologi-sosial ini juga yang tentunya mendatangkan pengalaman yang mempunyai nilainya tersendiri. Distribusi mandiri, dicetak dalam jumlah seadanya. Diskursus yang tidak berhenti dalam sebuah cetakan, namun juga dibicarakan keras-keras yang hidup dalam komunitas, tempat nongkrong, ruang diskusi dan jaringan advokasi. Zine dan Penerbitan Situasional memiliki banyak kemiripan, salah satunya ia diciptakan karena kebutuhan mendesak. Mungkin Marco membuat itu karena keadaan untuk sebuah pembelaan hak dari penjajah kolonial. Hari ini gelagatnya mungkin karena situasi keadaan narasi terlalu riuh di media maya. Sama-sama dibutuhkan karena desakan.


Akhirnya, saya berkesimpulan sekenanya mengapa teman-teman saya penasaran soal-menyoal zine. Mungkin ada kerinduan untuk sebuah benda fisik. Satu gagasan dibicarakan, dibaca lamat-lamat, lalu didiskusikan di meja tongkrongan. Saya tidak berhenti menyebutnya sebagai ‘daya magis’ sebuah cetakan. Ada pengalaman ketika pesan cepat sudah tersedia, ia kemudian memunculkan nilai baru yang sublim itu. Meskipun ada teknologi, saya percaya rilisan fisik tetap dibutuhkan untuk mengingat kejadian, memberi ruang untuk berkumpul lalu menjadikannya sebagai monumental yang berdaya.


Mungkin zine sekarang dan dulu berbeda kondisi material, namun ada satu hal yang bisa dipelajari dari penerbitan situasional atau zine atau apa pun sebutannya yang terlahir setelahnya; sebuah cetakan mampu berpindah dari tangan ke tangan, dari tubuh ke tubuh, dari suara ke suara yang berdiam di ruang yang sama dalam rentang waktu yang lama;
sesederhana untuk membuat satu gagasan lebih jelas. Pada saat itulah saya melihat bahwa medium itu menjadi politis (medium is political). Narasi politik juga hadir dengan caranya sendiri yang organik, keluar dari jargon sloganistik, yang kemudian memberi arah baru pada praktik seni kontemporer pada masa kini.


Tidak ada pakem total soal mendefinisikan zine, saya pernah melihat tulisan yang bisa dibaca sebagai surat cinta. Saya juga pernah membaca tulisan yang membahas soal kesehariannya—mirip diary. Atau saya juga pernah melihat tulisan yang benar-benar memperlihatkan tentang dunia yang bisa dijalani dengan berbeda. Setiap generasi menghadapi persoalan zamannya sendiri dalam membaca, mengatasi serta merespons hal-hal dengan cara yang berbeda.


Di situasi ganas, tidak ada yang sia-sia, tak ada yang trivial dalam upaya melarung waktu.
Terutama cetakan fisik bernama zine. Tulis, tata, cetak, sebar!

Text by Iman Hadiansyah