White Chorus menghadirkan kejutan dengan merilis album berjudul LIMBO+. Hanya dua bulan setelah perilisan album penuh kedua mereka, LIMBO, album ekstensi ini menampilkan empat trek tambahan yang memberikan perspektif baru terhadap lagu-lagu yang sudah dirilis sebelumnya. Dengan 1 lagu baru berjudul "used to be used to be used to be" yang mengusung elemen elektronika dengan tempo cepat, serta tiga versi demo dari lagu-lagu seperti "Don’t Want This To Be Over", "How Could You", dan "I’m Trying", White Chorus memberikan perspektif lain kepada pendengar untuk lebih mendalami proses kreatif lagu-lagu mereka. LIMBO+ sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming mulai 30 Agustus 2023 lalu.
Tak hanya itu, White Chorus juga bersiap untuk menggelar showcase yang dijadwalkan pada tanggal 8 September mendatang di Jakarta. Acara bertajuk "This Showcase Is LIMBO" ini akan menjadi momen spesial, di mana Emir dan Friska ini akan membawakan seluruh trek dari album LIMBO+ dalam format full band. Showcase ini juga akan diisi oleh sejumlah nama, seperti Hindia, BAP., Basboi, Adeliesa, Noni, Awan, dan Xandega.
White Chorus menghadirkan kejutan dengan merilis album berjudul LIMBO+. Hanya dua bulan setelah perilisan album penuh kedua mereka, LIMBO, album ekstensi ini menampilkan empat trek tambahan yang memberikan perspektif baru terhadap lagu-lagu yang sudah dirilis sebelumnya. Dengan 1 lagu baru berjudul "used to be used to be used to be" yang mengusung elemen elektronika dengan tempo cepat, serta tiga versi demo dari lagu-lagu seperti "Don’t Want This To Be Over", "How Could You", dan "I’m Trying", White Chorus memberikan perspektif lain kepada pendengar untuk lebih mendalami proses kreatif lagu-lagu mereka. LIMBO+ sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming mulai 30 Agustus 2023 lalu.
Tak hanya itu, White Chorus juga bersiap untuk menggelar showcase yang dijadwalkan pada tanggal 8 September mendatang di Jakarta. Acara bertajuk "This Showcase Is LIMBO" ini akan menjadi momen spesial, di mana Emir dan Friska ini akan membawakan seluruh trek dari album LIMBO+ dalam format full band. Showcase ini juga akan diisi oleh sejumlah nama, seperti Hindia, BAP., Basboi, Adeliesa, Noni, Awan, dan Xandega.
White Chorus menghadirkan kejutan dengan merilis album berjudul LIMBO+. Hanya dua bulan setelah perilisan album penuh kedua mereka, LIMBO, album ekstensi ini menampilkan empat trek tambahan yang memberikan perspektif baru terhadap lagu-lagu yang sudah dirilis sebelumnya. Dengan 1 lagu baru berjudul "used to be used to be used to be" yang mengusung elemen elektronika dengan tempo cepat, serta tiga versi demo dari lagu-lagu seperti "Don’t Want This To Be Over", "How Could You", dan "I’m Trying", White Chorus memberikan perspektif lain kepada pendengar untuk lebih mendalami proses kreatif lagu-lagu mereka. LIMBO+ sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming mulai 30 Agustus 2023 lalu.
Tak hanya itu, White Chorus juga bersiap untuk menggelar showcase yang dijadwalkan pada tanggal 8 September mendatang di Jakarta. Acara bertajuk "This Showcase Is LIMBO" ini akan menjadi momen spesial, di mana Emir dan Friska ini akan membawakan seluruh trek dari album LIMBO+ dalam format full band. Showcase ini juga akan diisi oleh sejumlah nama, seperti Hindia, BAP., Basboi, Adeliesa, Noni, Awan, dan Xandega.
White Chorus menghadirkan kejutan dengan merilis album berjudul LIMBO+. Hanya dua bulan setelah perilisan album penuh kedua mereka, LIMBO, album ekstensi ini menampilkan empat trek tambahan yang memberikan perspektif baru terhadap lagu-lagu yang sudah dirilis sebelumnya. Dengan 1 lagu baru berjudul "used to be used to be used to be" yang mengusung elemen elektronika dengan tempo cepat, serta tiga versi demo dari lagu-lagu seperti "Don’t Want This To Be Over", "How Could You", dan "I’m Trying", White Chorus memberikan perspektif lain kepada pendengar untuk lebih mendalami proses kreatif lagu-lagu mereka. LIMBO+ sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming mulai 30 Agustus 2023 lalu.
Tak hanya itu, White Chorus juga bersiap untuk menggelar showcase yang dijadwalkan pada tanggal 8 September mendatang di Jakarta. Acara bertajuk "This Showcase Is LIMBO" ini akan menjadi momen spesial, di mana Emir dan Friska ini akan membawakan seluruh trek dari album LIMBO+ dalam format full band. Showcase ini juga akan diisi oleh sejumlah nama, seperti Hindia, BAP., Basboi, Adeliesa, Noni, Awan, dan Xandega.
White Chorus menghadirkan kejutan dengan merilis album berjudul LIMBO+. Hanya dua bulan setelah perilisan album penuh kedua mereka, LIMBO, album ekstensi ini menampilkan empat trek tambahan yang memberikan perspektif baru terhadap lagu-lagu yang sudah dirilis sebelumnya. Dengan 1 lagu baru berjudul "used to be used to be used to be" yang mengusung elemen elektronika dengan tempo cepat, serta tiga versi demo dari lagu-lagu seperti "Don’t Want This To Be Over", "How Could You", dan "I’m Trying", White Chorus memberikan perspektif lain kepada pendengar untuk lebih mendalami proses kreatif lagu-lagu mereka. LIMBO+ sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming mulai 30 Agustus 2023 lalu.
Tak hanya itu, White Chorus juga bersiap untuk menggelar showcase yang dijadwalkan pada tanggal 8 September mendatang di Jakarta. Acara bertajuk "This Showcase Is LIMBO" ini akan menjadi momen spesial, di mana Emir dan Friska ini akan membawakan seluruh trek dari album LIMBO+ dalam format full band. Showcase ini juga akan diisi oleh sejumlah nama, seperti Hindia, BAP., Basboi, Adeliesa, Noni, Awan, dan Xandega.
White Chorus menghadirkan kejutan dengan merilis album berjudul LIMBO+. Hanya dua bulan setelah perilisan album penuh kedua mereka, LIMBO, album ekstensi ini menampilkan empat trek tambahan yang memberikan perspektif baru terhadap lagu-lagu yang sudah dirilis sebelumnya. Dengan 1 lagu baru berjudul "used to be used to be used to be" yang mengusung elemen elektronika dengan tempo cepat, serta tiga versi demo dari lagu-lagu seperti "Don’t Want This To Be Over", "How Could You", dan "I’m Trying", White Chorus memberikan perspektif lain kepada pendengar untuk lebih mendalami proses kreatif lagu-lagu mereka. LIMBO+ sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming mulai 30 Agustus 2023 lalu.
Tak hanya itu, White Chorus juga bersiap untuk menggelar showcase yang dijadwalkan pada tanggal 8 September mendatang di Jakarta. Acara bertajuk "This Showcase Is LIMBO" ini akan menjadi momen spesial, di mana Emir dan Friska ini akan membawakan seluruh trek dari album LIMBO+ dalam format full band. Showcase ini juga akan diisi oleh sejumlah nama, seperti Hindia, BAP., Basboi, Adeliesa, Noni, Awan, dan Xandega.
White Chorus menghadirkan kejutan dengan merilis album berjudul LIMBO+. Hanya dua bulan setelah perilisan album penuh kedua mereka, LIMBO, album ekstensi ini menampilkan empat trek tambahan yang memberikan perspektif baru terhadap lagu-lagu yang sudah dirilis sebelumnya. Dengan 1 lagu baru berjudul "used to be used to be used to be" yang mengusung elemen elektronika dengan tempo cepat, serta tiga versi demo dari lagu-lagu seperti "Don’t Want This To Be Over", "How Could You", dan "I’m Trying", White Chorus memberikan perspektif lain kepada pendengar untuk lebih mendalami proses kreatif lagu-lagu mereka. LIMBO+ sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming mulai 30 Agustus 2023 lalu.
Tak hanya itu, White Chorus juga bersiap untuk menggelar showcase yang dijadwalkan pada tanggal 8 September mendatang di Jakarta. Acara bertajuk "This Showcase Is LIMBO" ini akan menjadi momen spesial, di mana Emir dan Friska ini akan membawakan seluruh trek dari album LIMBO+ dalam format full band. Showcase ini juga akan diisi oleh sejumlah nama, seperti Hindia, BAP., Basboi, Adeliesa, Noni, Awan, dan Xandega.
White Chorus menghadirkan kejutan dengan merilis album berjudul LIMBO+. Hanya dua bulan setelah perilisan album penuh kedua mereka, LIMBO, album ekstensi ini menampilkan empat trek tambahan yang memberikan perspektif baru terhadap lagu-lagu yang sudah dirilis sebelumnya. Dengan 1 lagu baru berjudul "used to be used to be used to be" yang mengusung elemen elektronika dengan tempo cepat, serta tiga versi demo dari lagu-lagu seperti "Don’t Want This To Be Over", "How Could You", dan "I’m Trying", White Chorus memberikan perspektif lain kepada pendengar untuk lebih mendalami proses kreatif lagu-lagu mereka. LIMBO+ sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming mulai 30 Agustus 2023 lalu.
Tak hanya itu, White Chorus juga bersiap untuk menggelar showcase yang dijadwalkan pada tanggal 8 September mendatang di Jakarta. Acara bertajuk "This Showcase Is LIMBO" ini akan menjadi momen spesial, di mana Emir dan Friska ini akan membawakan seluruh trek dari album LIMBO+ dalam format full band. Showcase ini juga akan diisi oleh sejumlah nama, seperti Hindia, BAP., Basboi, Adeliesa, Noni, Awan, dan Xandega.
White Chorus menghadirkan kejutan dengan merilis album berjudul LIMBO+. Hanya dua bulan setelah perilisan album penuh kedua mereka, LIMBO, album ekstensi ini menampilkan empat trek tambahan yang memberikan perspektif baru terhadap lagu-lagu yang sudah dirilis sebelumnya. Dengan 1 lagu baru berjudul “used to be used to be used to be” yang mengusung elemen elektronika dengan tempo cepat, serta tiga versi demo dari lagu-lagu seperti “Don’t Want This To Be Over”, “How Could You”, dan “I’m Trying”, White Chorus memberikan perspektif lain kepada pendengar untuk lebih mendalami proses kreatif lagu-lagu mereka. LIMBO+ sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming mulai 30 Agustus 2023 lalu.
Tak hanya itu, White Chorus juga bersiap untuk menggelar showcase yang dijadwalkan pada tanggal 8 September mendatang di Jakarta. Acara bertajuk “This Showcase Is LIMBO” ini akan menjadi momen spesial, di mana Emir dan Friska ini akan membawakan seluruh trek dari album LIMBO+ dalam format full band. Showcase ini juga akan diisi oleh sejumlah nama, seperti Hindia, BAP., Basboi, Adeliesa, Noni, Awan, dan Xandega.
Setelah mendapatkan nominasi Anugerah Musik Indonesia untuk kategori “Artis Solo Pria/Wanita/Grup/Kolaborasi Elektronika Terbaik†di tahun 2022, White Chorus tiba-tiba drop sebuah album baru di tahun 2023. Setelah debut album “FASTFOOD†yang dirilis pada tahun 2021, kini mereka kembali dengan racikan yang lebih fresh secara produksi, aransemen dan direction. Mereka pernah mengatakan kepada Jeurnals di sebuah interview kalau pada awalnya berniat membuat sebuah album full dengan lagu trip hop ala Portishead dan Massive Attack yang tidak terealisasi di album “FASTFOODâ€. Ternya di album “LIMBO†ini, mereka tetap tidak merealisasikan itu tetapi malah membawa direksi musikal White Chorus ke arah yang lebih fresh.
Dibuka dengan lagu ‘BLU’ yang di co-produseri oleh Alyuadi (Heals, Fuzzy I) dan Dhafir (The Sugar Spun), track ini dibuka dengan strumming gitar yang sedikit dreamy dibalas oleh lantunan dari Friska “what else can i do?â€. Menarik, karena mereka mungkin bisa dibilang jarang membuka sebuah lagu dengan riff gitar. ‘Mystery’ adalah track yang tepat untuk meneruskan mood ‘BLU’. Highlight track ini terdapat di menit 1.29 dimana terdapat perubahan beat yang semakin intens yang berfungsi sebagai breaks sebelum kembali ke verse. Track ke 3 adalah ‘This Feeling’, single pertama yang sangat pop dan sedikit mengingatkan saya pada Homogenic di album kedua. Beat lagu ini juga sedikit mengingatkan pada single ‘Ditto’ milik NewJeans. ‘Somerset’ yang diambil dari sebuah nama daerah di Singapura adalah single ketiga dari album ini (yang video klipnya juga berlokasi di Somerset). Masih dalam wilayah electro-pop, track ini juga sangat catchy.
‘Don’t Want This To Be Over’ sangat menarik. Loop gitar akustik di yang bermain di seluruh lagu adalah nostalgia terhadap RnB tahun 2000an. Ya, White Chorus memang versatile dan dengan nyaman bisa bermain di genre electro-pop, RnB, house sampai trip hop. Membicarakan trip hop, ‘3AM’ adalah sebuah track bernuansa trip hop yang sedikit gelap. Co-produced juga oleh Tendi Ahmad dan menampilkan rapper Nartok. Ah, ternyata sebuah lagu berbahasa bilingual, menarik. ‘HoW cOuLd U’ sangat menarik, dengan beat dinamis dan gitar jangly. Saya bisa membayangkan track ini akan menarik jika dimainkan live dengan full band tanpa sampling dan sequencer. ‘KAFFEINE’ adalah penultimate track yang juga diproduseri oleh Kareem Soenharjo. Lagu tidak akan terdengar out of place apabila dirilis di akhir ‘90an atau awal ‘2000an. ‘Amarah’ menutup album ini dengan high-note. Dan menurut saya ini adalah track terbaik dan menjadi instant favorite setelah didengar. Mungkin White Chorus harus mempertimbangkan untuk membuat sebuah album full berbahasa Indonesia, karena mereka bisa melakukan nya dengan flawless. Overall “LIMBO†dipenuhi oleh produksi yang top notch dan versatilitas White Chorus untuk berpindah-pindah genre di beberapa lagu tanpa terdengar memaksakan. Walaupun para produser tamu disini mampu menambah warna yang menarik, lagu-lagu yang diproduseri oleh Emir Agung Mahendra sendiri menurut saya sudah cukup keren. Jika ada band yang mampu self produced dengan hasil yang keren, mungkin White Chorus bisa masuk ke list tersebut.
Setelah merilis dua single “This Feeling” dan “Don’t Want This to Be Over” beerapa waktu lalu, pada Jumat (2/5) White Chorus secara resmi merilis album penuh kedua mereka yang bertajuk LIMBO. Menurut duo electronic asal Bandung ini, LIMBO mencerminkan campuran frustasi, keputusasaan, dan spektrum emosi yang mereka rasakan baru-baru ini. Mereka menggabungkan unsur-unsur pop elektronika, dance, R&B, dan rock dengan sentuhan magis, menghasilkan formula musik yang unik dan harmonis. Album ini juga menampilkan kolaborasi dengan beberapa produser ter seperti BF-131131525 (Mamoy dari BLEU HOUSE), Alyuadi Febryansyah (Aldead dari HEALS) yang memberikan nuansa dan perspektif musikal yang beragam.
LIMBO dibuka dengan trek “BLU”, diikuti dengan suasana misterius dalam lagu “Mystery”. White Chorus kemudian menghadirkan lagu-lagu seperti “This Feeling” yang memukau dan “Somerset” yang penuh dengan gelombang emosi. Mereka juga menggandeng Nartok dalam lagu “3AM” dan menampilkan lagu berbahasa Indonesia pertama mereka yang berjudul “Amarah”.
LIMBO dirilis di bawah label Microgram dan juga menjadi bukti keberanian Clara Friska Adinda (whiteskkeleton) dan Emir Agung Mahendra (analogchorus) dalam menembus batasan konvensional melalui musik sebagai proses penemuan diri mereka.
Oxford Society merilis koleksi terbaru bertajuk Everblooming. Koleksi semi kasual ini menampilkan pakaian yang simple dan nyaman untuk digunakan sehari-hari. Antara lain seperti headgear, tops, bottoms, totebag, and outer yang dapat melengkapi kebutuhan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Untuk memberikan kenyaman dalam memakai produknya, Oxford Society membuat desainnya minimalis dan juga pilihan warna soft yang membuat keseluruhan terlihat bersih dan sederhana.
Koleksi Everblooming dari Oxford Society sudah bisa dibeli melalui situs resmi oxfordsociety.co.
Tentunya nama White Chorus (WC) sudah tidak asing lagi. Walaupun mungkin sebagian orang belum mendengar album “FASTFOOD†yang mereka rilis tahun 2021, nama White Chorus sudah sering muncul di flyers gigs-gigs alternatif dan beberapa media elektronik. Mari berbincang dengan duo electro pop White Chorus mengenai makanan cepat saji, mendapat nominasi AMI Awards sampai shooting video klip di kuburan.
“Awalnya White Chorus mau bikin musik trip hop kaya Portishead. Lalu ada ide gimana kalau trip hop tapi sound hip hop jaman sekarang.â€
Halo White Chorus! Sudah berapa lama kalian aktif sebagai WC? Oh iya congrats ya kalian dapet nominasi AMI Awards kategori ‘Elektronika Terbaik’ ya? Emir: Sudah tiga tahun kita aktif. Dari 2019.. Friska: Seneng banget! Submit itu awalnya kita. Kaya 3 tahun udah pernah submit tapi baru sekarang masuk nominasi hahaha.. Kita masuk bareng Logic Lost + Rully Shabara, Bleu Claire + Teza Sumendra, Mataharibisu, Monica Hapsari.. Emir: Alhamdulillah.. Gak nyangka sih. Kita lagi ngumpul kan terus tiba-tiba dapet nominasi. Iseng-iseng berhadiah aja. Seneng aja di apresiasi. Ya bonus lah ini mah bukan tujuan juga sih menang penghargaan cuma kita anggap bonus aja hehehe..
Videoclip “Disappear†bikin pake kamera laptop ya? Emir: Iya. Jadi lagi terinspirasi sama yang raw-raw gitu, orang lain kan pake kamera digital jadul, handycam.. Kita pake apa nih? Pake laptop aja yuk! Friska: Syuting nya lumayan 2 hari muter-muter Jakarta.. Dari pantai, ke PIK sampai kuburan hahaha..
Kenapa judul album nya “FASTFOOD� Kalian suka banget makanan cepat saji? Atau apakah musik kalian bikin nya secepat fast food? Friska: Enggak sih sebenernya.. Emir: Kita emang sering makan makanan yang tidak sehat sih akhir-akhir ini hahaha.. Tapi awalnya karena kita lagi cepet bikin lagu nya. Gara-gara dapet sample bagus dan bikin lirik cepet pas bulan itu.. Friska: Enggak ada deadline padahal.. Lirik sudah nyetok. Emir: Mood nya lagi bagus banget, terinspirasi lah.. Dalam satu bulan beres, langsung ngomong ke Microgram kita mau bikin album. Dapet 9 lagu tanpa banyak mikir, dengan lirik receh. Apa ya judul albumnya? FASTFOOD aja deh hahaha..
Memang liriknya sereceh apa sih? Emir: Hahahaha! Liriknya anak muda banget lah.. Friska: Tentang cinta-cintaan, sedih-sedihan hahaha..
Loh kalian couple kan? Kok liriknya sedih Hahaha.. Friska: Liriknya ada yang pengalaman orang hahaha, ga semuanya lirik pribadi hehe..
Sebelum membuat WC Emir juga punya band Loner Lunar ya? Kalau Friska sebelumnya band apa? Pertama bikin WC gimana ceritanya? Emir: Iya saya Loner Lunar masih jalan.. Friska: Belum pernah ngeband sih sebelum WC.. Baru ngeband pas sama Emir. Emir: Aku awalnya dikenalin sama teman. Pas lagi di coffee shop ada temen bilang “Mir ada yang mau kenalanâ€. Wah geer kan hehe.. Taunya si Friska juga dijailin bilangnya saya yang mau ngajak kenalan. Tapi udah tau Friska penyanyi juga di Soundcloud. Dulu lagu folk-folk ya? Danilla? Haha.. Friska: Engga bukan Danilla. Itu tau, Nadin.. Haha ya pokoknya abis kenalan jadi ngeband bareng.. Emir: Pengen punya proyekan yang lebih santai dan gampang. Kalo di Loner Lunar kan serius banget dan agak rumit musiknya..
Awkward ga sih ngeband sama pasangan? Friska: Sama aja sih, si Emir sering protes juga ke gue malah hahaha! Emir: Kalau lagi ngeband sih ya ngeband aja. Paling pas Friska lagi main atau check sound malu-malu “Keluarin dong nyanyi yang bener!†hahaha.. Friska: Rata-rata vokalis suka gitu sih malu-malu pas checksound haha.. Si Emir lebih sering protesnya, padahal sama aja kadang ga bener main nya hahaha.. Tapi kalau ngeband berdua doang kaya gini gak ada yang menengahi haha..
Musik WC itu kalau dibilang electropop kaya Lali Puna, Röyksopp atau Ladytron engga juga, dibilang RnB juga bukan walaupun ada sedikit pengaruh black musicnya. Kalau kalian ini sebenarnya arah musiknya lebih kemana sih? Friska: Awalnya mau trip hop kaya Portishead. Lalu ada ide gimana kalau trip hop tapi sound hip hop jaman sekarang. Emir: Ternyata jadinya malah hip hop aja hahaha.. Ngide-ngide tapi gak dapet. Gak keulik sih trip hop kaya Massive Attack dan Portishead, jauh banget. Jadinya ya kaya WC sekarang ini hasilnya.
Ternyata lo berdua suka dengerin band lama juga ya kaya Portishead dan Massive Attack.. Friska: Gara-gara serial TV American Horror Story itu pas jaman SMP. Kalau gak salah yang season 2 yang Asylum.. Emir: Suka sih suka banget trip hop.. Pas SMA emang suka kaya Massive Attack, Portishead Zero 7, terus dapet Sneaker Pimps, Hooverphonic.. Friska: Trip hop kan gloomy dan gelap, kita gak terlalu se gloomy itu sih pada akhirnya.. Malah kadang upbeat. Trip hop harus ada suara “kresek-kresekâ€..
Emir: Sepertinya rilisan berikut kita akan lebih gloomy.. Mulai kebayang lah trip hop itu harus gimana..
Ribet ga sih alat-alat dan set live lo? Gue liat pas kalian checksound id Kopi Kohi sepertinya alat lumayan ribet ya? Friska: Ini udah dipangkas sih jadi sedikit.. Emir: Ini settingan paling cepat buat bermain bertiga tapi bisa penuh. Pas saya main bass misal sequencer jalan terus. Friska: Saya pake sampler. Kaya masukin back vocal ke sampler ngambil dari rekaman. Emir: Udah paling ringkes lah set live dan alat-alat kita sekarang..
Kalian berdua lumayan canggih juga memahami alat-alat seperti drum machine, sampler, sampai DAW dan home recording. Belajar bareng atau gimana awalnya? Friska: Hahaha.. Iya sekarang rekaman bisa rekaman dimana aja sih. Sebelumnya ga bisa, belajar dari Emir awalnya. Dia lumayan jago hahaha. Aku sama Emir juga kan dulu bikin usaha sewa sound system. Belajar juga masang-masang sound system untuk acara dan nge-balance suaranya ke depan.. Emir: Iya jaman sekarang ngulik dari Youtube aja kita.. Dulu kita ada rental sound system sekarang sih ya barang-barangnya udah ada di Downtown Studio. Jadi di DOMA lumayan banyak aktivitas kita berdua dari bikin brand, rental studio latihan/rekaman, sewa sound system sampai ngeband Friska: Ngangkut-ngangkut barangnya juga berdua hahaha..
Plus-minusnya band dengan format elektronik? Friska: Ga enaknya tuh pas awal-awal kita cuma main berdua, garing banget kalau ga ada drummer. Emir: Drum nya di lagu kita juga kaya gak bisa diapa-apain gitu. Pendekatan aransemen nya juga agak pop jadi gak bisa dipanjangin lagunya.
Tapi kemarin sempat bawain lagu ada yang format beatnya bisa dipake two-step ya? Hahaha.. Friska: Iya bawain yang lagu “I Shouldn’t Bring My Heart Next Time†di aransemen ulang.. Kita bikin pake beat punk. Ada sih seorang yang joget two-step pas di Tangerang kita bawain lagu ini. Emir: Sejujurnya liat band teman-temen kaya Bleach dan Prejudize ada yang joget two-step pengen banget, seru.. Kita coba lah di aransemen beat dug-dug-tak kaya punk, tapi tetep aja belum ada penonton yang joget two step.. Friska: Ada sih seorang yang joget two-step pas di Tangerang kita bawain lagu ini haha..
Kemarin kan Friska juga sempat bantuin Nearcrush buat yang kompilasi Pure Saturday, Emir juga ikut kompilasi itu ya sama Loner Lunar? Friska: Itu sehari sebelum rekaman ngapalin hahaha.. H-2 dikasih tau sama om Rembo, tapi itu rekaman tercepat aku loh haha.. Kalau lagu-lagu Pure Saturday aku udah banyak yang tahu cuma yang di kover sama Nearcrush aku baru dengerin banget, ga ada di Spotify haha.. Emir: Tapi aman ya mas udah beres? Jadi Friska kalau rekaman di direct aku kaya ga ngerti-ngerti, tapi kalau di direct om Rembo pas sama Nearcrush bisa langsung beres hahaha.. Mungkin udah ada pengalaman juga Friska recording sekarang ya gak kaya dulu.. Kalau saya sih sebelum ikut kompilasi ini cuma tau lagu “Kosong†doang, ternyata lagu-lagunya banyak yang enak. Tapi kalau misi PS untuk regenerasi pendengar kayaknya udah berhasil sih mereka..
Dengan adanya fasilitas studio rekaman dan studio latihan sendiri, apakah membuat band kalian lebih produktif? Friska & Emir: Enggak! Hahaha.. Malah sebaliknya. Friska: Karena sibuk juga dan capek sih ngurusin si Downtown Market.. Emir: Semenjak pindah ke jalan Mangga sekitar 4 bulan, malah belum ada lagu yang jadi. Masih penyesuaian. Kalau ga kerja malah banyak duduk-duduk dan malas bikin lagu. Kalau dipaksain kayaknya bisa sih cuma masih santai hahaha..
Words & interview by Aldy Kusumah Photos by Feri Alan
Brand asal Bandung, Statesman Division ,barusaja merilis kembal ikumpulan artikel hasil kurasi dari artikel yang pernah diluncurkan sebelumnya.
Merangkum perjalanan Statesman Division dalam 18 produk pilihan ,koleksi kurasi bertajuk“Springtime!†ini merefleksikan sebuah proses pertumbuhan. Menengok kembali perjalanan dan pencapaian dengan pengemasan yang fresh, sebelum menginjakkan kaki di fase yang baru.
Artikel pada koleksi ini terdiri dari basic monokrom dan eksplorasi spektrum warna. Memanifestasikan berbagai macam warna sebagai rasa,refleksi masa kecil,dan proses pendewasaan.
“Springtime!â€sudah dapa tdibeli melalui Official Store StatesmanDivision.
Musik di Taman sukses hadir dengan konsisten setiap minggunya dengan menyajikan panggung intimate show dengan vibes sejuk di taman. Kali ini bertempat di Kopi Kohi di bilangan Jl Riau, Bandung, pada hari Sabtu(27/8) Musik di Taman yang hadir atas kerjasama Kopi Kohi dan Waves Entertainment menghadirkan Intimate Show Nearcrush yang merayakan satu tahun debut album Bloodsports and Modern Arts.
Musik di Taman Intimate Showcase Nearcrush dibuka oleh Plastisin, kuartet asal Bandung yang baru merilis single “Optik & Suaraâ€. Berikutnya, ada Eazz solo project dari Alfi (Prejudize) dengan nuansa musik dreamy dan pengaruh shoegaze yang kental. Eazz membawakan single terbaru “Thank You For My Lucky Starâ€, sempat meng cover lagu “Vapour Trail†dari Ride dan mengakhiri penampilannya dengan lagu “Golden Hair†dari Slowdive.
Proyek solo alter ego dari Gilanghade, Cal tampil setelah Eazz dengan membawakan lagu-lagu yang ada di EP Anthracite Grey dan juga membawakan Pine dari Basement. Lalu ada penampilan dari Clara dan Emir yang tergabung dalam unit electro pop, White Chorus.
Terakhir, sebagai penutup ada yang punya hajat Nearcrush yang membuka set-nya dengan lagu Ocean’s Depth. Total tujuh lagu dibawakan oleh Kevin dkk, termasuk satu lagu dari Title Fight “Head in the Ceiling Fanâ€. Musik di Taman Intimate Showcase Nearcrush ditutup oleh lagu “Hazy Dayâ€.
Musik di Taman Intimate Showcase Nearcrush terasa intim dengan tidak adanya level atau panggung. Jadi, penonton dan band yang tampil terasa tidak ada yang membatasi. Nearcrsuh sempat membagikan lirik sheet agar bisa bernyanyi bersama. Kita tunggu intimate showcase siapa lagi yang akan hadir di Musik di Taman.