Tau Tau Festival kembali akan digelar pada tanggal 28 Mei 2023 di Lapangan Pusenif Bandung. Tautau Festival dikenal sebagai festival musik yang menghadirkan berbagai genre musik dari artis-artis terkenal Indonesia. Pada gelarannya di tahun 2023 ini Tau Tau Fetival aka dimeriahkan oleh The Jansen, Rub of Rub, Float, Fiersa Besari, Tulus dan masih banyak pengisi acara yang nggak akan kalah serunya.

Tidak hanya itu, Tautau Festival tahun ini akan menampilkan kolaborasi spesial antara dua band besar Indonesia, yaitu Efek Rumah Kaca dan Perunggu. Kolaborasi antara kedua band ini tentunya akan menjadi highlight dari Tautau Festival tahun ini. Ada juga kolaborasi lainnya seperti Ananda Badudu x Rai, dan juga Juici Luicy x Adrian Khalif

Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan penampilan spesial kolaborasi Efek Rumah Kaca x Perunggu untuk pertama kalinya di Tau Tau Festival dan juga artis lainnya di Lapangan Pusenif Bandung 28 Mei 2023 mendatang. Tiket sudah bisa didapatkan secara online dengan harga Rp. 149.000,- dan harga spesial kalau kamu membelinya buat bareng temen-temen kamu.

Setelah berkolaborasi dengan Diskoria dan The Panturas, kali ini brand streetwear asal Bandung berkolaborasi dengan Perunggu, sebuah band alternatif / indie rock yang merilis debut albumnya pada 11 Maret tahun 2022. Music Series adalah seri capsule collection yang dirilis Bastards of Young dengan band-band favorit mereka, tentunya untuk menunjukan apresiasi label tersebut kepada musik-musik yang mereka sukai, sekaligus berbagi apresiasi kepada sesama penggemar band yang sama.

Untuk capsule collection bersama Perunggu ini, uniknya kedua nama tersebut tidak menggunakan “X” yang biasa menandakan tanda sebuah kolaborasi, melainkan menggunakan emoticon love berwarna biru. Ketiga artikel dalam capsule collection ini adalah respon design dari Bastards of Young terhadap lagu, lirik dan tema-tema yang diangkat Perunggu dalam album “Memorandum” mereka. Artikel “Bear” adalah sebuah respon terhadap lagu “Pastikan Riuh Akhiri Malammu”, dimana design depan menunjukkan grafis ayah beruang bersama anak beruang. Dengan media kaos ringer T-shirt, Bastards of Young juga mencoba memperlihatkan kecintaan mereka terhadap kultur ‘90an, yang tentunya disambut baik juga oleh Perunggu. Pada design belakang ada sebuah ilustrasi chord gitar seperti di majalah musik bagi kamu yang ingin mengulik chord gitar dari lagu tersebut.

Artikel Biang Lara yang sudah tentu merespon lagu yang berjudul sama, adalah sebuah T-shirt hitam dengan grafis yang colourful di depan, dengan logo Perunggu yang dibuat oleh Bastards of Young dan sebuah ilustrasi bianglala dengan colorways pink dan tulisan hijau. Pada design backprint, terdapat juga penggalan lirik reff lagu “Biang Lara”, yang akan membantu penonton yang berdiri dibelakangmu untuk menyanyikan lirik lagu tersebut. Artikel terakhir adalah sebuah respon terhadap tema lagu “Membelah Belantara” dan “Tarung Bebas”, sebuah tema mengenai survival yang kerap diangkat di lagu-lagu Perunggu. Ilustrasi memperlihatkan seorang lelaki paruh baya yang berdiri diatas podium bertuliskan juara 3 sambil memakai medali Perunggu, yang juga sering menjadi icon dan emoticon yang sering dipakai Perunggu dalam caption-caption mereka. Koleksi terbatas ini dirilis pada hari senin (“Besok hari senin”) tanggal 16 Januari. Dan kabarnya akan hadir juga di beberapa toko reseller. Segera kunjungi Instagram @bastards_ dan @perunggu_ untuk info-info selanjutnya. Don’t miss this one, and don’t sleep on it.

Setelah sekian lama kami tidak menyaksikan gigs intim Pure Saturday di Bandung, akhirnya event Monumentalia ini seperti mengisi rasa rindu kami pada salah satu band pionir dari Bandung tersebut. Ditambah lagi ada pengisi acara lain seperti Mooner, Rekti Yoewono dan tentunya band yang sedang hangat dalam beberapa bulan ini: Perunggu.

Ya, venue di Mr. Roastman Experience ini pun sangat mendukung suasana dan atmosfer yang menarik: open space yang luas, space yang cukup menampung para pengunjung agar bisa menyaksikan band-band favorit mereka dan kapasitas pun terasa pas, tidak terlalu crowded dan juga tidak terlalu sepi. Cafe di daerah Ciumbuleuit ini disulap oleh team penyelenggara Warkop Musik menjadi sebuah venue musik yang asik; ada area showcase sejarah Pure Saturday, area makanan & minuman, dan tentunya stage yang ditempatkan di area skatepark kafe tersebut.

Rekty Mooner photo by @dikakrebo

Mooner membuka perhelatan ini dengan racikan stoner, psychedelic dan prog-rock nya. Tata lampu dari Convert.id di stage pun membuat penampilan mereka terlihat megah. Mooner adalah supergrup gabungan dari beberapa band seperti The Slave, Sigmun, dan The SIGIT. Mooner beranggotakan Rekti (bass), Absar (gitar/vokal), Marshella (vokal), dan Tama (drum, vokal). Setelah Mooner “memanaskan” panggung dengan penampilannya dan mengcover lagu “Nyala” dari Pure Saturday, pendatang baru pemenang submission Ray Viera Laxmana tampil. Aransmen musik yang keren dan lirik Indonesia yang lugas dari lagu-lagu Ray Viera Laxmana menghipnotis perhatian para pengunjung. Setlist Ray Viera juga mengcover lagu “Desire” dengan apik, yang bagi beberapa pengunjung mungkin adalah salah satu lagu ikonik dari PS.

Perunggu photo by Luthfi Ali Qodri @laok112
Pure Saturday photo by Luthfi Ali Qodri @laok112

Selanjutnya adalah penampilan dari Perunggu. Pertama kali melihat mereka tampil saya langsung bisa menyimpulkan kalau ini adalah band yang sudah “jadi”. Sound yang top notch, urutan setlist yang pas dan stage banter Maul Ibrahim (vokal) konon selalu menjadi ciri khas Perunggu setiap mereka tampil. Bahkan disebelah saya ada seorang pengunjung yang bernyanyi dan hafal semua lirik lagu Perunggu dari “Tarung Bebas”, “Canggih”, “Ini Abadi” sampai “P.R.A.M.”. Perunggu pun mengcover “Spoken” dari PS dan menutup set nya dengan “Biang Lara”. Selanjut nya adalah giliran pionir indie darlings dari Bandung: Pure Saturday. Kali ini formasi cukup unik, karena mereka dibantu Utink (gitar) dari Polyester Embassy, dan tentunya Rekti yang ikut menyanyikan “Utopian Dream”, “Coklat”, “Desire”, & “Kosong”. Setlist PS kali ini cukup menarik bagi saya pribadi karena banyak memainkan lagu-lagu dari album “Pure Saturday (1996)”, “Utopia (1999)”, & “Elora (2005)”. “Later the Saddest World Down”, “Pathetic Waltz”, & “Bangku Taman”, disajikan dengan rapi dan tentunya stage banter Iyo (vokal, gitar) cukup membuat para penonton tertawa dengan jokes-jokes “sektoral” nya. PS pun mengajak Maul Perunggu, Rekti Mooner, Ray Viera Laxmana dan para penonton untuk bernyanyi bersama dan merapat ke panggung. 2 lagu penutup: “Kosong” dan “Pagi” sudah tentu membuat stage-dive tidak dapat terhindarkan. Kedua lagu itu cukup membuat semua pengunjung bernyanyi lantang dan pulang dengan senyuman lebar.

 

Words by Aldy Kusumah

Perunggu adalah trio indie-rock asal Ibu kota yang cukup menarik perhatian sejak mereka merilis single ‘Biang Lara’ dan ‘Tarung Bebas’ yang begitu fresh dan powerful dalam waktu yang sama. Tidak berlebihan apabila menurut kami band ini sangat menjanjikan dan bisa menjadi besar untuk meramaikan ekosistem musik Indonesia.

Bila kemudian waktu band ini tidak besar dan tetap menjadi “underdog”, maka ada yang salah dengan industri musik Indonesia. Tetapi seperti nama band nya, Perunggu memang sudah nyaman menjadi “underdog” dan tidak membutuhkan pengakuan, karena mereka nyaman dan enjoy dengan situasi apapun yang terjadi. Untuk para penggemar Death Cab For Cutie, Band of Horses & Silversun Pickups dengan sensibilitas pop Indonesia, kalian harus menyimak band yang satu ini. Mari sedikit berbincang dengan vokalis Perunggu, Maulana Ibrahim.

Setelah merilis album Memorandum di semua platform musik digital. Akhirnya, Perunggu merilis debut albumnya ini dalam bentuk cakram padat oleh Disaster Records.

Sudah bukan rahasia umum bagi musisi, merilis karya di masa pandemi adalah sebuah keharusan. Sebagai suatu tanda keeksisan demi memanaskan jiwa kesenian dalam diri mereka. Seperti yang dilakukan trio Perunggu yang digawangi Adam Adenan (bass, kibor, piano, vokal latar), Ildo Hasman (dram, vokal latar) dan Maul Ibrahim (gitar, vokal utama) pada Jumat (11/3/2022) ini, melempar debut album penuh mereka berjudul Memorandum yang merupakan kepanjangan dari memo, atau pengingat.

Makna album ini berfungsi sebagai catatan. Secara garis besar berkaitan dengan irisan hidup para personel ketika menginjak fase usia paruh baya bersama segala macam dinamika dan problematikanya.

Semua itu tampak jelas tergambar dalam sebelas nomor yang disajikan: Tarung Bebas (tentang kejadian baku hantam secara harfiah), Canggih! (tentang kecintaan mereka terhadap musik), Pastikan Riuh Akhiri Malammu (tentang makna jatuh cinta seorang bapak yang baru dikaruniai anak), Membelah Belantara (tentang kritik sistem politik domestik), Haru Paling Biru (tentang kesedihan yang mendalam), Ini Abadi (tentang kisah percintaan hubungan jarak jauh), Biang Lara (tentang kejujuran atas perasaan kecewa), Per Hari Ini (tentang semangat kerja anak kantoran), Kalibata, 2012 (tentang kematian orang terdekat), Prematur (tentang makna sebuah keinginan), dan 33x (tentang pengingat atas diri sendiri).

Corak musik rock apik gubahan Perunggu sanggup mendorong semangat kita untuk tegar menjalani hari demi hari kehidupan. Ditambah lirik lagu yang bercerita dalam bahasa Indonesia memastikan para pendengar tak perlu mengernyitkan dahi untuk memahami maksud dan pesan yang disampaikan.

Ide album ini bermula pada Februari 2020 sewaktu Adam Adenan tengah menempuh studi di Inggris dan proses kreatif terjadi lewat pengiriman demo mentah via surel. Tak lama berselang pandemi Covid-19 menghantam. Surutnya aktivitas membuat energi mencipta karya tidak terbendung, walhasil total 18 lagu berhasil tertulis selama masa itu.
Agar materi mentah mampu digarap secara rapi serta elegan, anak-anak Perunggu menggamit Giovanni Rahmadeva, penabuh drum unit indie rock Polka Wars yang telah ‘menemani’ Perunggu sejak pengerjaan EP Pendar (2020) sebagai produser album ini. Di tangan beliau sejumlah lagu dieliminasi dalam upaya mencapai kematangan sebuah karya penuh sehingga tidak ada satu pun formula aransemen yang redundan di setiap lagunya.
Beberapa musisi tamu juga dihadirkan di sini. Dennis Ferdinand diajak sebagai co-producer. Lalu tiga gitaris Bima Errawan, Wiku Anindito, dan Lafa Pratomo yang membuat kedalaman Memorandum terdengar layaknya pesta sonik enam senar. Ada juga hara, penyanyi perempuan yang syahdu bersenandung untuk lagu Prematur.

Dengan pengerjaan yang cukup panjang, memperlihatkan kesungguhan Perunggu dalam memeluk kecintaan mereka terhadap musik. Dan persembahan Memorandum inilah pembuktian terbaik untuk dibingkai sebagai sebuah tonggak.

“Musik adalah hal yang sama sekali tidak mungkin kami tinggalkan. Ini album yang dikerjakan dengan serius. Meskipun waktu dan biaya yang dikeluarkan cukup besar, lucunya kami tidak merasa rugi. Karena kami cinta mati sama musik, dan mengerjakan album ini membuat kami senang menjalani segala macam pengorbanannya,” pungkas Maul Ibrahim.