Setelah merilis dua lagu single secara berkelanjutan, Muchos Libre akhirnya meluncurkan album penuh kedua mereka. Album ini membawa angin segar dengan perubahan gaya, karena mereka dengan tegas menghilangkan elemen surf rock yang sebelumnya melekat pada mereka. Tema dalam album ini sangat beragam, seperti yang diakui oleh vokalis mereka, Korongmentah. Lirik di album ini sebagian besar mencerminkan kegelisahan yang dirasakannya selama 32 tahun hidupnya. Isu-isu seputar pekerjaan, obrolan sehari-hari, penghormatan, refleksi, dan penerimaan terhadap situasi hidup diungkapkan melalui lagu-lagu dalam album ini.
Secara keseluruhan, album ini menampilkan gaya musik rock yang lebih kuat dibandingkan dengan karya sebelumnya. Transformasi ini terbantu oleh visi produser Andresa Nugraha (The Battlebeats), yang memberikan sentuhan yang berbeda pada produksi album. Proses pembuatan album ini relatif cepat bagi Muchos Libre, hanya memakan waktu satu tahun. Rencananya, grup ini akan melakukan tur di Jawa untuk mempromosikan album terbaru ini, bersama dengan The Battlebeats & Hockey Hook, pada bulan September. Tur yang diberi nama "Rocking Rampage Tour" ini akan mengunjungi 10 kota dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Setelah merilis dua lagu single secara berkelanjutan, Muchos Libre akhirnya meluncurkan album penuh kedua mereka. Album ini membawa angin segar dengan perubahan gaya, karena mereka dengan tegas menghilangkan elemen surf rock yang sebelumnya melekat pada mereka. Tema dalam album ini sangat beragam, seperti yang diakui oleh vokalis mereka, Korongmentah. Lirik di album ini sebagian besar mencerminkan kegelisahan yang dirasakannya selama 32 tahun hidupnya. Isu-isu seputar pekerjaan, obrolan sehari-hari, penghormatan, refleksi, dan penerimaan terhadap situasi hidup diungkapkan melalui lagu-lagu dalam album ini.
Secara keseluruhan, album ini menampilkan gaya musik rock yang lebih kuat dibandingkan dengan karya sebelumnya. Transformasi ini terbantu oleh visi produser Andresa Nugraha (The Battlebeats), yang memberikan sentuhan yang berbeda pada produksi album. Proses pembuatan album ini relatif cepat bagi Muchos Libre, hanya memakan waktu satu tahun. Rencananya, grup ini akan melakukan tur di Jawa untuk mempromosikan album terbaru ini, bersama dengan The Battlebeats & Hockey Hook, pada bulan September. Tur yang diberi nama "Rocking Rampage Tour" ini akan mengunjungi 10 kota dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Setelah merilis dua lagu single secara berkelanjutan, Muchos Libre akhirnya meluncurkan album penuh kedua mereka. Album ini membawa angin segar dengan perubahan gaya, karena mereka dengan tegas menghilangkan elemen surf rock yang sebelumnya melekat pada mereka. Tema dalam album ini sangat beragam, seperti yang diakui oleh vokalis mereka, Korongmentah. Lirik di album ini sebagian besar mencerminkan kegelisahan yang dirasakannya selama 32 tahun hidupnya. Isu-isu seputar pekerjaan, obrolan sehari-hari, penghormatan, refleksi, dan penerimaan terhadap situasi hidup diungkapkan melalui lagu-lagu dalam album ini.
Secara keseluruhan, album ini menampilkan gaya musik rock yang lebih kuat dibandingkan dengan karya sebelumnya. Transformasi ini terbantu oleh visi produser Andresa Nugraha (The Battlebeats), yang memberikan sentuhan yang berbeda pada produksi album. Proses pembuatan album ini relatif cepat bagi Muchos Libre, hanya memakan waktu satu tahun. Rencananya, grup ini akan melakukan tur di Jawa untuk mempromosikan album terbaru ini, bersama dengan The Battlebeats & Hockey Hook, pada bulan September. Tur yang diberi nama "Rocking Rampage Tour" ini akan mengunjungi 10 kota dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Setelah merilis dua lagu single secara berkelanjutan, Muchos Libre akhirnya meluncurkan album penuh kedua mereka. Album ini membawa angin segar dengan perubahan gaya, karena mereka dengan tegas menghilangkan elemen surf rock yang sebelumnya melekat pada mereka. Tema dalam album ini sangat beragam, seperti yang diakui oleh vokalis mereka, Korongmentah. Lirik di album ini sebagian besar mencerminkan kegelisahan yang dirasakannya selama 32 tahun hidupnya. Isu-isu seputar pekerjaan, obrolan sehari-hari, penghormatan, refleksi, dan penerimaan terhadap situasi hidup diungkapkan melalui lagu-lagu dalam album ini.
Secara keseluruhan, album ini menampilkan gaya musik rock yang lebih kuat dibandingkan dengan karya sebelumnya. Transformasi ini terbantu oleh visi produser Andresa Nugraha (The Battlebeats), yang memberikan sentuhan yang berbeda pada produksi album. Proses pembuatan album ini relatif cepat bagi Muchos Libre, hanya memakan waktu satu tahun. Rencananya, grup ini akan melakukan tur di Jawa untuk mempromosikan album terbaru ini, bersama dengan The Battlebeats & Hockey Hook, pada bulan September. Tur yang diberi nama "Rocking Rampage Tour" ini akan mengunjungi 10 kota dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Setelah merilis dua lagu single secara berkelanjutan, Muchos Libre akhirnya meluncurkan album penuh kedua mereka. Album ini membawa angin segar dengan perubahan gaya, karena mereka dengan tegas menghilangkan elemen surf rock yang sebelumnya melekat pada mereka. Tema dalam album ini sangat beragam, seperti yang diakui oleh vokalis mereka, Korongmentah. Lirik di album ini sebagian besar mencerminkan kegelisahan yang dirasakannya selama 32 tahun hidupnya. Isu-isu seputar pekerjaan, obrolan sehari-hari, penghormatan, refleksi, dan penerimaan terhadap situasi hidup diungkapkan melalui lagu-lagu dalam album ini.
Secara keseluruhan, album ini menampilkan gaya musik rock yang lebih kuat dibandingkan dengan karya sebelumnya. Transformasi ini terbantu oleh visi produser Andresa Nugraha (The Battlebeats), yang memberikan sentuhan yang berbeda pada produksi album. Proses pembuatan album ini relatif cepat bagi Muchos Libre, hanya memakan waktu satu tahun. Rencananya, grup ini akan melakukan tur di Jawa untuk mempromosikan album terbaru ini, bersama dengan The Battlebeats & Hockey Hook, pada bulan September. Tur yang diberi nama "Rocking Rampage Tour" ini akan mengunjungi 10 kota dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Setelah merilis dua lagu single secara berkelanjutan, Muchos Libre akhirnya meluncurkan album penuh kedua mereka. Album ini membawa angin segar dengan perubahan gaya, karena mereka dengan tegas menghilangkan elemen surf rock yang sebelumnya melekat pada mereka. Tema dalam album ini sangat beragam, seperti yang diakui oleh vokalis mereka, Korongmentah. Lirik di album ini sebagian besar mencerminkan kegelisahan yang dirasakannya selama 32 tahun hidupnya. Isu-isu seputar pekerjaan, obrolan sehari-hari, penghormatan, refleksi, dan penerimaan terhadap situasi hidup diungkapkan melalui lagu-lagu dalam album ini.
Secara keseluruhan, album ini menampilkan gaya musik rock yang lebih kuat dibandingkan dengan karya sebelumnya. Transformasi ini terbantu oleh visi produser Andresa Nugraha (The Battlebeats), yang memberikan sentuhan yang berbeda pada produksi album. Proses pembuatan album ini relatif cepat bagi Muchos Libre, hanya memakan waktu satu tahun. Rencananya, grup ini akan melakukan tur di Jawa untuk mempromosikan album terbaru ini, bersama dengan The Battlebeats & Hockey Hook, pada bulan September. Tur yang diberi nama "Rocking Rampage Tour" ini akan mengunjungi 10 kota dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Setelah merilis dua lagu single secara berkelanjutan, Muchos Libre akhirnya meluncurkan album penuh kedua mereka. Album ini membawa angin segar dengan perubahan gaya, karena mereka dengan tegas menghilangkan elemen surf rock yang sebelumnya melekat pada mereka. Tema dalam album ini sangat beragam, seperti yang diakui oleh vokalis mereka, Korongmentah. Lirik di album ini sebagian besar mencerminkan kegelisahan yang dirasakannya selama 32 tahun hidupnya. Isu-isu seputar pekerjaan, obrolan sehari-hari, penghormatan, refleksi, dan penerimaan terhadap situasi hidup diungkapkan melalui lagu-lagu dalam album ini.
Secara keseluruhan, album ini menampilkan gaya musik rock yang lebih kuat dibandingkan dengan karya sebelumnya. Transformasi ini terbantu oleh visi produser Andresa Nugraha (The Battlebeats), yang memberikan sentuhan yang berbeda pada produksi album. Proses pembuatan album ini relatif cepat bagi Muchos Libre, hanya memakan waktu satu tahun. Rencananya, grup ini akan melakukan tur di Jawa untuk mempromosikan album terbaru ini, bersama dengan The Battlebeats & Hockey Hook, pada bulan September. Tur yang diberi nama "Rocking Rampage Tour" ini akan mengunjungi 10 kota dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Setelah merilis dua lagu single secara berkelanjutan, Muchos Libre akhirnya meluncurkan album penuh kedua mereka. Album ini membawa angin segar dengan perubahan gaya, karena mereka dengan tegas menghilangkan elemen surf rock yang sebelumnya melekat pada mereka. Tema dalam album ini sangat beragam, seperti yang diakui oleh vokalis mereka, Korongmentah. Lirik di album ini sebagian besar mencerminkan kegelisahan yang dirasakannya selama 32 tahun hidupnya. Isu-isu seputar pekerjaan, obrolan sehari-hari, penghormatan, refleksi, dan penerimaan terhadap situasi hidup diungkapkan melalui lagu-lagu dalam album ini.
Secara keseluruhan, album ini menampilkan gaya musik rock yang lebih kuat dibandingkan dengan karya sebelumnya. Transformasi ini terbantu oleh visi produser Andresa Nugraha (The Battlebeats), yang memberikan sentuhan yang berbeda pada produksi album. Proses pembuatan album ini relatif cepat bagi Muchos Libre, hanya memakan waktu satu tahun. Rencananya, grup ini akan melakukan tur di Jawa untuk mempromosikan album terbaru ini, bersama dengan The Battlebeats & Hockey Hook, pada bulan September. Tur yang diberi nama "Rocking Rampage Tour" ini akan mengunjungi 10 kota dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Setelah merilis dua lagu single secara berkelanjutan, Muchos Libre akhirnya meluncurkan album penuh kedua mereka. Album ini membawa angin segar dengan perubahan gaya, karena mereka dengan tegas menghilangkan elemen surf rock yang sebelumnya melekat pada mereka. Tema dalam album ini sangat beragam, seperti yang diakui oleh vokalis mereka, Korongmentah. Lirik di album ini sebagian besar mencerminkan kegelisahan yang dirasakannya selama 32 tahun hidupnya. Isu-isu seputar pekerjaan, obrolan sehari-hari, penghormatan, refleksi, dan penerimaan terhadap situasi hidup diungkapkan melalui lagu-lagu dalam album ini.
Secara keseluruhan, album ini menampilkan gaya musik rock yang lebih kuat dibandingkan dengan karya sebelumnya. Transformasi ini terbantu oleh visi produser Andresa Nugraha (The Battlebeats), yang memberikan sentuhan yang berbeda pada produksi album. Proses pembuatan album ini relatif cepat bagi Muchos Libre, hanya memakan waktu satu tahun. Rencananya, grup ini akan melakukan tur di Jawa untuk mempromosikan album terbaru ini, bersama dengan The Battlebeats & Hockey Hook, pada bulan September. Tur yang diberi nama “Rocking Rampage Tour” ini akan mengunjungi 10 kota dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Muchos Libre, rilis single baru dengan tema yang serius. Single yang berjudul “Dunia Tanpa Abu-Abu” ini menceritakan perjalanan seorang individu yang mengalami proses hijrah, dan bagaimana ucapan seorang teman membuat Korongmentah, merenungkan arti agama yang hanya mengenal hitam dan putih. Meskipun jarang mengambil jalur serius, Muchos Libre berhasil menghadirkan nuansa berbeda dalam lagu ini dengan menggabungkan elemen musik baru yang belum pernah mereka eksplor sebelumnya. Single “Dunia Tanpa Abu-Abu” menjadi bagian kedua menuju album mereka yang direncanakan rilis pada bulan Agustus 2023.
Perubahan gaya musik menjadi sorotan dalam single terbaru Muchos Libre, “Dunia Tanpa Abu-Abu.” Mereka biasanya dikenal dengan gaya musik garage rock yang khas, namun kali ini mereka memberikan sentuhan berbeda dengan mencoba unsur-unsur baru. Lagu ini membawa cerita tentang seseorang yang berpikir tentang proses hijrah dalam hidupnya, sekaligus mencermati pernyataan drastis seorang teman mengenai ketegasan hukum agama yang tak mengenal abu-abu. Meskipun tema serius, Muchos Libre tetap mempertahankan identitas mereka sebagai band komedi dan ugal-ugalan, menunjukkan kedewasaan dalam eksplorasi musik mereka. Single ini menjadi prolog menarik untuk album mereka yang dijadwalkan rilis di bulan Agustus 2023, dan telah dapat dinikmati di berbagai platform streaming musik.
Latar belakang gigs ini cukup menarik: sebuah perhelatan diadakan dadakan pada hari Minggu(13/11) (diprakarsai Discover Sounds & Kaum) menampung band-band yang seharusnya main di Alternative stage Fosfen tetapi tidak jadi dikarenakan festivalnya yang (katanya) postponed. Dengan line up keren yang cukup variatif seperti, Saturday Night Karaoke, Muchos Libre, Dongker, Phonetic, Collapse, CAL sampai Eastcape yang jauh-jauh datang dari Blitar.
Saturday Night Karaoke menghangatkan dingin nya udara Grun Bar yang terletak di jalan Setiabudi atas tersebut dengan sajian musik punk ala Lookout Records (The Queers, Screeching Weasel). Kami melewatkan penampilan Muchos Libre tetapi kami yakin mereka bisa menghibur penonton seperti biasa dengan aksi panggungnya yang atraktif. Jika SNK membuat suasana menjadi hangat, CAL kembali “mendinginkan†suasana dengan sajian nu-gaze nya yang mengalun. Mereka tampil rapih malam itu.
Eastcape yang tahun lalu baru merilis split EP dengan Sugar Thrills (Bali) sangat menarik. Mereka membawakan musik midwest emo ala American Football dengan sedikit sentuhan math rock. Datang jauh-jauh dari Blitar untuk bermain di Fosfen, kedatangan mereka pun tidak sia-sia karena akhirnya tampil di Grun Bar pada malam itu, dan crowd pun cukup apresiatif melihat penampilan mereka. Phonetic bermain sangat maksimal malam itu walaupun tidak soundcheck. Mungkin mereka sudah bosan mendengar komparasi dengan band 1975, tapi beberapa lagu baru mereka malah keluar dari pakem musik seperti itu. Mereka juga membawakan cover version “There She Goes†entah dari The LA’s atau Sixpence None The Richer pada setlist nya.
Dongker membuat crowd stage dive dan singalong, rupanya sebagian besar penonton ternyata hafal lirik-lirik lagu Dongker. Malam itu ditutup dengan Collapse yang tentunya membawakan “Given†dan 2 cover version wajib mereka: “Blood Bank†dari Bon Iver & “Toxic Boombox†dari Angel Du$t. Mereka juga sempat membawakan single baru “Ivory†yang sangat catchy. Tidak ada yang lebih tepat dari mendengarkan Collapse membawakan “Cold November†di malam November yang dingin.
Setelah hampir 10 tahun lebih tidak menyaksikan performa live Sajama Cut, gigs intim mereka hadir di Bandung. Sebuah event launching CD Tribute Sajama Cut yang dirilis oleh Oblivion Records dan Disaster Records. Event apik ini pun diprakarsai oleh mereka. Menariknya band-band yang tampil mengkover lagu-lagu Sajama Cut dalam kompilasi ini bisa dibilang lintas genre. Dari Neonomora, Lomba Sihir, Sal Priadi, Ade Paloh (Sore) ft. Costaroy, Texpack, Adrian Adioetomo & Daniel Mardhany sampai Polka Wars ada disini dengan reinterpretasi mereka masing-masing. Dari Bandung juga ada beberapa band seperti Polyester Embassy, Nearcrush, Ikkubaru dan Muchos Libre yang tentunya berbagi panggung juga dengan Sajama Cut di gigs ini.
Muchos Libre
Perhelatan ini berlokasi di IFI Bandung yang cukup sering menjadi pilihan lokasi dari event-event Maternal Disaster dan Disaster Records. Ada beberapa merch table dari Oblivion Records yang menjual merch Sunbath, Nearcrush sampai Forgotten. Disampingnya ada merch table dari Disaster Records yang menjual T-shirt dengan design logo baru mereka, dan tentunya T-Shirt dan CD Sajama Cut yang eksklusif. Para pengunjung juga bisa mendapatkan poster dan stiker Sajama Cut gratis di table ini. Terlihat juga merch table dari Ikkubaru dan Muchos Libre didekat pintu backstage.
IkkubaruNearcrush
Penampil pertama adalah Muchos Libre dengan punk rock ugal-ugalan nya. Mereka juga membawakan kover lagu Sajama Cut “Tekstur Kulit Wanita Kaya-Raya†yang menurut akun IG mereka akan dibawakan pertama dan terakhir kalinya di gigs ini. Penampil kedua Ikkubaru cukup menarik dengan sajian City Pop nya. Mereka mengkover juga “Paintings/Pantings†dari Sajama Cut dan “Star Guitar†dari Chemical Brothers. Penampil ketiga adalah Nearcrush dengan presentasi musik alt-rock’ 90s mereka. Sound mereka terdengar sedikit lebih berisik dan raw dari kedua penampil sebelumnya. Selain membawakan materi dari debut album “Bloodsports & Modern Arts†yang dirilis oleh Disaster Records, mereka juga sempat mengkover lagu “Head in the Ceiling Fan†dari Title Fight. Lagu kover Sajama Cut mereka “Season Finale†dibawakan juga, yang di album kompilasi menampilkan permainan drum dari Andika Surya (Collapse). Penampil terakhir sebelum SC adalah Polyester Embassy yang tentunya selalu apik dalam soal sound dan performa. Mereka membawakan “Adegan Ranjang 1981â¤ï¸ 1982†versi remix. Tentunya kedua lagu penutup dari Elang Eby dan kawan-kawan akan menganti rasa rindu kalian pada Polem: “Faded Blur†dan “Polypanic Rooms†yang sound gitar dan intro bass nya sangat ikonik.
Polyester EmbassySajama Cut
Perhelatan ini ditutup oleh penampilan apik dari Sajama Cut. Hampir kebanyakan materi upbeat dari album “Godsigma†mereka bawakan. Formasi Sajama Cut yang kali ini sepertinya adalah formasi tersolid mereka so far. Dengan Aldrian Risjad (Gitar), Arta Kurnia (bass), Dewandra Danishwara (Gitar), Daniel Hasu (Keyboard), Adam Rinando (Drum) dan tentunya the one and only Marcel Thee, satu-satunya founding member yang masih ada di Sajama Cut dari awal sampai sekarang. Permainan gitar duo Aldrian dan Danish sangat mengkomplemen satu sama lain, dan tentunya permainan drum Adam yang sangat powerful dan teknikal, sangat cocok membawakan materi-materi lagu baru dari “Godsigmaâ€. Bahkan lagu “Less Afraid†dari soundtrack Janji Joni pun terasa lebih enerjik dengan drumming style Adam. Mereka juga membawakan beberapa lagu dari ‘Osaka Journals’ juga seperti “Alibiâ€, “Less Afraidâ€, “Fin†dan “Fallen Japaneseâ€. Jokes-jokes sarkastik Marcel dan stage banter-nya dengan Aldrian cukup membuat penonton terhibur di Sabtu Malam itu. Hujan deras di luar pun tidak terasa dengan setlist SC yang sangat upbeat. Penampilan SC malam itu diitutup dengan “Terbaring Di Pundak Pesawat, Termakan Api, Terlentang, Tersenyumâ€.
Sajama Cut
Malam itu memang pengunjung tidak terlalu ramai yang mungkin dikarenakan karena bentrok juga dengan beberapa acara pada hari itu, dan juga derasnya hujan. Tapi tidak apa-apa, Sajama Cut memang sudah memiliki niche-marketnya sendiri, dan sedikit obscure. Hal itu dibuktikan dengan mayoritas pengunjung yang sepertinya sudah hafal lirik dan materi-materi lagu mereka. Seperti liner notes yang ada di kover CD kompilasinya: “Buat apa juga punya ribuan fans tapi cuma hafal “Less Afraid†kan?â€