Sutradara langganan Studio A24 Ari Aster kembali ke layar lebar dengan salah satu aktor terbaik yang bekerja di industri sinema hari ini: Joaquin Phoenix. “Beau is Afraid†dari awal hingga akhir berkisah tentang perjalanan panjang yang melelahkan dari seorang pria yang gelisah dalam upayanya untuk mengunjungi ibunya. Joaquin selalu memilih peran karakter yang sangat abstrak dan kompleks, dan Joaquin tampil prima di semua film yang dia perankan. Film ini terlihat seperti mimpi dari POV penonton. Sebuah pengalaman sinematik yang berani, luar biasa, dan bahkan menyesakkan bagi pemirsanya.
Di permukaan, terlihat elemen-elemen tema black comedy dengan nada melodramatis. Itu dibuat dengan cermat oleh Ari Aster dalam 3 jam, untuk membuatnya terasa lebih kaya dan lebih detail. “Beau Is Afraid†memiliki anggaran yang lebih besar dibanding 2 karya Ari Aster sebelumnya: "Hereditary" dan "Midsommar". Dan itu sangat membantu dalam produksi dan visual dari skenario aneh di "Beau Is Afraid". Overall, "Beau Is Afraid" adalah film Aster yang paling ambisius hingga saat ini. Meski bukan horor yang mentah dan eksperimental, namun film ini tetap menghadirkan pengalaman dan perasaan tak terlupakan yang kerap dirindukan dalam film-film arthouse belakangan ini.
Saya senang untuk mengatakan bahwa saya sangat terpesona dan puas dengan film terbaru dari studio A24 ini . Entah itu logika mimpi, atau logika mimpi buruk yang hadir. Saya merasakan kehadirannya dengan baik setelah runtime film. "Beau Is Afraid" akan menjadi film yang mempolarisasi banyak orang, either you love it or you will hate it. Tetapi Ari Aster selalu memiliki suara yang unik. Mudah-mudahan Ari Aster tidak pernah berhenti menjadi diri sendiri untuk film-film selanjutnya, karena sejauh ini, konsep-konsep auteur ini selalu on point. Dalam hal plot, saya akan mendeskripsikan film ini dengan "Kafkaesque". Penonton akan menemukan diri mereka bertanya apakah film ini didasarkan pada fantasi atau kenyataan atau apakah dimaksudkan sebagai garis tipis antara dua ekstrem di mana mimpi dan kehidupan nyata bergabung dan bercampur. Film serupa yang muncul di benak setelah direnungkan adalah Brazil(1985), Paprika (2009) dan The Truman Show(1997).
Text by Aldy Kusumah
Sutradara langganan Studio A24 Ari Aster kembali ke layar lebar dengan salah satu aktor terbaik yang bekerja di industri sinema hari ini: Joaquin Phoenix. “Beau is Afraid†dari awal hingga akhir berkisah tentang perjalanan panjang yang melelahkan dari seorang pria yang gelisah dalam upayanya untuk mengunjungi ibunya. Joaquin selalu memilih peran karakter yang sangat abstrak dan kompleks, dan Joaquin tampil prima di semua film yang dia perankan. Film ini terlihat seperti mimpi dari POV penonton. Sebuah pengalaman sinematik yang berani, luar biasa, dan bahkan menyesakkan bagi pemirsanya.
Di permukaan, terlihat elemen-elemen tema black comedy dengan nada melodramatis. Itu dibuat dengan cermat oleh Ari Aster dalam 3 jam, untuk membuatnya terasa lebih kaya dan lebih detail. “Beau Is Afraid†memiliki anggaran yang lebih besar dibanding 2 karya Ari Aster sebelumnya: "Hereditary" dan "Midsommar". Dan itu sangat membantu dalam produksi dan visual dari skenario aneh di "Beau Is Afraid". Overall, "Beau Is Afraid" adalah film Aster yang paling ambisius hingga saat ini. Meski bukan horor yang mentah dan eksperimental, namun film ini tetap menghadirkan pengalaman dan perasaan tak terlupakan yang kerap dirindukan dalam film-film arthouse belakangan ini.
Saya senang untuk mengatakan bahwa saya sangat terpesona dan puas dengan film terbaru dari studio A24 ini . Entah itu logika mimpi, atau logika mimpi buruk yang hadir. Saya merasakan kehadirannya dengan baik setelah runtime film. "Beau Is Afraid" akan menjadi film yang mempolarisasi banyak orang, either you love it or you will hate it. Tetapi Ari Aster selalu memiliki suara yang unik. Mudah-mudahan Ari Aster tidak pernah berhenti menjadi diri sendiri untuk film-film selanjutnya, karena sejauh ini, konsep-konsep auteur ini selalu on point. Dalam hal plot, saya akan mendeskripsikan film ini dengan "Kafkaesque". Penonton akan menemukan diri mereka bertanya apakah film ini didasarkan pada fantasi atau kenyataan atau apakah dimaksudkan sebagai garis tipis antara dua ekstrem di mana mimpi dan kehidupan nyata bergabung dan bercampur. Film serupa yang muncul di benak setelah direnungkan adalah Brazil(1985), Paprika (2009) dan The Truman Show(1997).
Text by Aldy Kusumah
Sutradara langganan Studio A24 Ari Aster kembali ke layar lebar dengan salah satu aktor terbaik yang bekerja di industri sinema hari ini: Joaquin Phoenix. “Beau is Afraid†dari awal hingga akhir berkisah tentang perjalanan panjang yang melelahkan dari seorang pria yang gelisah dalam upayanya untuk mengunjungi ibunya. Joaquin selalu memilih peran karakter yang sangat abstrak dan kompleks, dan Joaquin tampil prima di semua film yang dia perankan. Film ini terlihat seperti mimpi dari POV penonton. Sebuah pengalaman sinematik yang berani, luar biasa, dan bahkan menyesakkan bagi pemirsanya.
Di permukaan, terlihat elemen-elemen tema black comedy dengan nada melodramatis. Itu dibuat dengan cermat oleh Ari Aster dalam 3 jam, untuk membuatnya terasa lebih kaya dan lebih detail. “Beau Is Afraid†memiliki anggaran yang lebih besar dibanding 2 karya Ari Aster sebelumnya: "Hereditary" dan "Midsommar". Dan itu sangat membantu dalam produksi dan visual dari skenario aneh di "Beau Is Afraid". Overall, "Beau Is Afraid" adalah film Aster yang paling ambisius hingga saat ini. Meski bukan horor yang mentah dan eksperimental, namun film ini tetap menghadirkan pengalaman dan perasaan tak terlupakan yang kerap dirindukan dalam film-film arthouse belakangan ini.
Saya senang untuk mengatakan bahwa saya sangat terpesona dan puas dengan film terbaru dari studio A24 ini . Entah itu logika mimpi, atau logika mimpi buruk yang hadir. Saya merasakan kehadirannya dengan baik setelah runtime film. "Beau Is Afraid" akan menjadi film yang mempolarisasi banyak orang, either you love it or you will hate it. Tetapi Ari Aster selalu memiliki suara yang unik. Mudah-mudahan Ari Aster tidak pernah berhenti menjadi diri sendiri untuk film-film selanjutnya, karena sejauh ini, konsep-konsep auteur ini selalu on point. Dalam hal plot, saya akan mendeskripsikan film ini dengan "Kafkaesque". Penonton akan menemukan diri mereka bertanya apakah film ini didasarkan pada fantasi atau kenyataan atau apakah dimaksudkan sebagai garis tipis antara dua ekstrem di mana mimpi dan kehidupan nyata bergabung dan bercampur. Film serupa yang muncul di benak setelah direnungkan adalah Brazil(1985), Paprika (2009) dan The Truman Show(1997).
Text by Aldy Kusumah
Sutradara langganan Studio A24 Ari Aster kembali ke layar lebar dengan salah satu aktor terbaik yang bekerja di industri sinema hari ini: Joaquin Phoenix. “Beau is Afraid†dari awal hingga akhir berkisah tentang perjalanan panjang yang melelahkan dari seorang pria yang gelisah dalam upayanya untuk mengunjungi ibunya. Joaquin selalu memilih peran karakter yang sangat abstrak dan kompleks, dan Joaquin tampil prima di semua film yang dia perankan. Film ini terlihat seperti mimpi dari POV penonton. Sebuah pengalaman sinematik yang berani, luar biasa, dan bahkan menyesakkan bagi pemirsanya.
Di permukaan, terlihat elemen-elemen tema black comedy dengan nada melodramatis. Itu dibuat dengan cermat oleh Ari Aster dalam 3 jam, untuk membuatnya terasa lebih kaya dan lebih detail. “Beau Is Afraid†memiliki anggaran yang lebih besar dibanding 2 karya Ari Aster sebelumnya: "Hereditary" dan "Midsommar". Dan itu sangat membantu dalam produksi dan visual dari skenario aneh di "Beau Is Afraid". Overall, "Beau Is Afraid" adalah film Aster yang paling ambisius hingga saat ini. Meski bukan horor yang mentah dan eksperimental, namun film ini tetap menghadirkan pengalaman dan perasaan tak terlupakan yang kerap dirindukan dalam film-film arthouse belakangan ini.
Saya senang untuk mengatakan bahwa saya sangat terpesona dan puas dengan film terbaru dari studio A24 ini . Entah itu logika mimpi, atau logika mimpi buruk yang hadir. Saya merasakan kehadirannya dengan baik setelah runtime film. "Beau Is Afraid" akan menjadi film yang mempolarisasi banyak orang, either you love it or you will hate it. Tetapi Ari Aster selalu memiliki suara yang unik. Mudah-mudahan Ari Aster tidak pernah berhenti menjadi diri sendiri untuk film-film selanjutnya, karena sejauh ini, konsep-konsep auteur ini selalu on point. Dalam hal plot, saya akan mendeskripsikan film ini dengan "Kafkaesque". Penonton akan menemukan diri mereka bertanya apakah film ini didasarkan pada fantasi atau kenyataan atau apakah dimaksudkan sebagai garis tipis antara dua ekstrem di mana mimpi dan kehidupan nyata bergabung dan bercampur. Film serupa yang muncul di benak setelah direnungkan adalah Brazil(1985), Paprika (2009) dan The Truman Show(1997).
Text by Aldy Kusumah
Sutradara langganan Studio A24 Ari Aster kembali ke layar lebar dengan salah satu aktor terbaik yang bekerja di industri sinema hari ini: Joaquin Phoenix. “Beau is Afraid†dari awal hingga akhir berkisah tentang perjalanan panjang yang melelahkan dari seorang pria yang gelisah dalam upayanya untuk mengunjungi ibunya. Joaquin selalu memilih peran karakter yang sangat abstrak dan kompleks, dan Joaquin tampil prima di semua film yang dia perankan. Film ini terlihat seperti mimpi dari POV penonton. Sebuah pengalaman sinematik yang berani, luar biasa, dan bahkan menyesakkan bagi pemirsanya.
Di permukaan, terlihat elemen-elemen tema black comedy dengan nada melodramatis. Itu dibuat dengan cermat oleh Ari Aster dalam 3 jam, untuk membuatnya terasa lebih kaya dan lebih detail. “Beau Is Afraid†memiliki anggaran yang lebih besar dibanding 2 karya Ari Aster sebelumnya: "Hereditary" dan "Midsommar". Dan itu sangat membantu dalam produksi dan visual dari skenario aneh di "Beau Is Afraid". Overall, "Beau Is Afraid" adalah film Aster yang paling ambisius hingga saat ini. Meski bukan horor yang mentah dan eksperimental, namun film ini tetap menghadirkan pengalaman dan perasaan tak terlupakan yang kerap dirindukan dalam film-film arthouse belakangan ini.
Saya senang untuk mengatakan bahwa saya sangat terpesona dan puas dengan film terbaru dari studio A24 ini . Entah itu logika mimpi, atau logika mimpi buruk yang hadir. Saya merasakan kehadirannya dengan baik setelah runtime film. "Beau Is Afraid" akan menjadi film yang mempolarisasi banyak orang, either you love it or you will hate it. Tetapi Ari Aster selalu memiliki suara yang unik. Mudah-mudahan Ari Aster tidak pernah berhenti menjadi diri sendiri untuk film-film selanjutnya, karena sejauh ini, konsep-konsep auteur ini selalu on point. Dalam hal plot, saya akan mendeskripsikan film ini dengan "Kafkaesque". Penonton akan menemukan diri mereka bertanya apakah film ini didasarkan pada fantasi atau kenyataan atau apakah dimaksudkan sebagai garis tipis antara dua ekstrem di mana mimpi dan kehidupan nyata bergabung dan bercampur. Film serupa yang muncul di benak setelah direnungkan adalah Brazil(1985), Paprika (2009) dan The Truman Show(1997).
Text by Aldy Kusumah
Sutradara langganan Studio A24 Ari Aster kembali ke layar lebar dengan salah satu aktor terbaik yang bekerja di industri sinema hari ini: Joaquin Phoenix. “Beau is Afraid†dari awal hingga akhir berkisah tentang perjalanan panjang yang melelahkan dari seorang pria yang gelisah dalam upayanya untuk mengunjungi ibunya. Joaquin selalu memilih peran karakter yang sangat abstrak dan kompleks, dan Joaquin tampil prima di semua film yang dia perankan. Film ini terlihat seperti mimpi dari POV penonton. Sebuah pengalaman sinematik yang berani, luar biasa, dan bahkan menyesakkan bagi pemirsanya.
Di permukaan, terlihat elemen-elemen tema black comedy dengan nada melodramatis. Itu dibuat dengan cermat oleh Ari Aster dalam 3 jam, untuk membuatnya terasa lebih kaya dan lebih detail. “Beau Is Afraid†memiliki anggaran yang lebih besar dibanding 2 karya Ari Aster sebelumnya: "Hereditary" dan "Midsommar". Dan itu sangat membantu dalam produksi dan visual dari skenario aneh di "Beau Is Afraid". Overall, "Beau Is Afraid" adalah film Aster yang paling ambisius hingga saat ini. Meski bukan horor yang mentah dan eksperimental, namun film ini tetap menghadirkan pengalaman dan perasaan tak terlupakan yang kerap dirindukan dalam film-film arthouse belakangan ini.
Saya senang untuk mengatakan bahwa saya sangat terpesona dan puas dengan film terbaru dari studio A24 ini . Entah itu logika mimpi, atau logika mimpi buruk yang hadir. Saya merasakan kehadirannya dengan baik setelah runtime film. "Beau Is Afraid" akan menjadi film yang mempolarisasi banyak orang, either you love it or you will hate it. Tetapi Ari Aster selalu memiliki suara yang unik. Mudah-mudahan Ari Aster tidak pernah berhenti menjadi diri sendiri untuk film-film selanjutnya, karena sejauh ini, konsep-konsep auteur ini selalu on point. Dalam hal plot, saya akan mendeskripsikan film ini dengan "Kafkaesque". Penonton akan menemukan diri mereka bertanya apakah film ini didasarkan pada fantasi atau kenyataan atau apakah dimaksudkan sebagai garis tipis antara dua ekstrem di mana mimpi dan kehidupan nyata bergabung dan bercampur. Film serupa yang muncul di benak setelah direnungkan adalah Brazil(1985), Paprika (2009) dan The Truman Show(1997).
Text by Aldy Kusumah
Sutradara langganan Studio A24 Ari Aster kembali ke layar lebar dengan salah satu aktor terbaik yang bekerja di industri sinema hari ini: Joaquin Phoenix. “Beau is Afraid†dari awal hingga akhir berkisah tentang perjalanan panjang yang melelahkan dari seorang pria yang gelisah dalam upayanya untuk mengunjungi ibunya. Joaquin selalu memilih peran karakter yang sangat abstrak dan kompleks, dan Joaquin tampil prima di semua film yang dia perankan. Film ini terlihat seperti mimpi dari POV penonton. Sebuah pengalaman sinematik yang berani, luar biasa, dan bahkan menyesakkan bagi pemirsanya.
Di permukaan, terlihat elemen-elemen tema black comedy dengan nada melodramatis. Itu dibuat dengan cermat oleh Ari Aster dalam 3 jam, untuk membuatnya terasa lebih kaya dan lebih detail. “Beau Is Afraid†memiliki anggaran yang lebih besar dibanding 2 karya Ari Aster sebelumnya: "Hereditary" dan "Midsommar". Dan itu sangat membantu dalam produksi dan visual dari skenario aneh di "Beau Is Afraid". Overall, "Beau Is Afraid" adalah film Aster yang paling ambisius hingga saat ini. Meski bukan horor yang mentah dan eksperimental, namun film ini tetap menghadirkan pengalaman dan perasaan tak terlupakan yang kerap dirindukan dalam film-film arthouse belakangan ini.
Saya senang untuk mengatakan bahwa saya sangat terpesona dan puas dengan film terbaru dari studio A24 ini . Entah itu logika mimpi, atau logika mimpi buruk yang hadir. Saya merasakan kehadirannya dengan baik setelah runtime film. "Beau Is Afraid" akan menjadi film yang mempolarisasi banyak orang, either you love it or you will hate it. Tetapi Ari Aster selalu memiliki suara yang unik. Mudah-mudahan Ari Aster tidak pernah berhenti menjadi diri sendiri untuk film-film selanjutnya, karena sejauh ini, konsep-konsep auteur ini selalu on point. Dalam hal plot, saya akan mendeskripsikan film ini dengan "Kafkaesque". Penonton akan menemukan diri mereka bertanya apakah film ini didasarkan pada fantasi atau kenyataan atau apakah dimaksudkan sebagai garis tipis antara dua ekstrem di mana mimpi dan kehidupan nyata bergabung dan bercampur. Film serupa yang muncul di benak setelah direnungkan adalah Brazil(1985), Paprika (2009) dan The Truman Show(1997).
Text by Aldy Kusumah
Sutradara langganan Studio A24 Ari Aster kembali ke layar lebar dengan salah satu aktor terbaik yang bekerja di industri sinema hari ini: Joaquin Phoenix. “Beau is Afraid†dari awal hingga akhir berkisah tentang perjalanan panjang yang melelahkan dari seorang pria yang gelisah dalam upayanya untuk mengunjungi ibunya. Joaquin selalu memilih peran karakter yang sangat abstrak dan kompleks, dan Joaquin tampil prima di semua film yang dia perankan. Film ini terlihat seperti mimpi dari POV penonton. Sebuah pengalaman sinematik yang berani, luar biasa, dan bahkan menyesakkan bagi pemirsanya.
Di permukaan, terlihat elemen-elemen tema black comedy dengan nada melodramatis. Itu dibuat dengan cermat oleh Ari Aster dalam 3 jam, untuk membuatnya terasa lebih kaya dan lebih detail. “Beau Is Afraid†memiliki anggaran yang lebih besar dibanding 2 karya Ari Aster sebelumnya: "Hereditary" dan "Midsommar". Dan itu sangat membantu dalam produksi dan visual dari skenario aneh di "Beau Is Afraid". Overall, "Beau Is Afraid" adalah film Aster yang paling ambisius hingga saat ini. Meski bukan horor yang mentah dan eksperimental, namun film ini tetap menghadirkan pengalaman dan perasaan tak terlupakan yang kerap dirindukan dalam film-film arthouse belakangan ini.
Saya senang untuk mengatakan bahwa saya sangat terpesona dan puas dengan film terbaru dari studio A24 ini . Entah itu logika mimpi, atau logika mimpi buruk yang hadir. Saya merasakan kehadirannya dengan baik setelah runtime film. "Beau Is Afraid" akan menjadi film yang mempolarisasi banyak orang, either you love it or you will hate it. Tetapi Ari Aster selalu memiliki suara yang unik. Mudah-mudahan Ari Aster tidak pernah berhenti menjadi diri sendiri untuk film-film selanjutnya, karena sejauh ini, konsep-konsep auteur ini selalu on point. Dalam hal plot, saya akan mendeskripsikan film ini dengan "Kafkaesque". Penonton akan menemukan diri mereka bertanya apakah film ini didasarkan pada fantasi atau kenyataan atau apakah dimaksudkan sebagai garis tipis antara dua ekstrem di mana mimpi dan kehidupan nyata bergabung dan bercampur. Film serupa yang muncul di benak setelah direnungkan adalah Brazil(1985), Paprika (2009) dan The Truman Show(1997).
Text by Aldy Kusumah
Sutradara langganan Studio A24 Ari Aster kembali ke layar lebar dengan salah satu aktor terbaik yang bekerja di industri sinema hari ini: Joaquin Phoenix. “Beau is Afraid†dari awal hingga akhir berkisah tentang perjalanan panjang yang melelahkan dari seorang pria yang gelisah dalam upayanya untuk mengunjungi ibunya. Joaquin selalu memilih peran karakter yang sangat abstrak dan kompleks, dan Joaquin tampil prima di semua film yang dia perankan. Film ini terlihat seperti mimpi dari POV penonton. Sebuah pengalaman sinematik yang berani, luar biasa, dan bahkan menyesakkan bagi pemirsanya.
Di permukaan, terlihat elemen-elemen tema black comedy dengan nada melodramatis. Itu dibuat dengan cermat oleh Ari Aster dalam 3 jam, untuk membuatnya terasa lebih kaya dan lebih detail. “Beau Is Afraid†memiliki anggaran yang lebih besar dibanding 2 karya Ari Aster sebelumnya: “Hereditary” dan “Midsommar”. Dan itu sangat membantu dalam produksi dan visual dari skenario aneh di “Beau Is Afraid”. Overall, “Beau Is Afraid” adalah film Aster yang paling ambisius hingga saat ini. Meski bukan horor yang mentah dan eksperimental, namun film ini tetap menghadirkan pengalaman dan perasaan tak terlupakan yang kerap dirindukan dalam film-film arthouse belakangan ini.
Saya senang untuk mengatakan bahwa saya sangat terpesona dan puas dengan film terbaru dari studio A24 ini . Entah itu logika mimpi, atau logika mimpi buruk yang hadir. Saya merasakan kehadirannya dengan baik setelah runtime film. “Beau Is Afraid” akan menjadi film yang mempolarisasi banyak orang, either you love it or you will hate it. Tetapi Ari Aster selalu memiliki suara yang unik. Mudah-mudahan Ari Aster tidak pernah berhenti menjadi diri sendiri untuk film-film selanjutnya, karena sejauh ini, konsep-konsep auteur ini selalu on point. Dalam hal plot, saya akan mendeskripsikan film ini dengan “Kafkaesque”. Penonton akan menemukan diri mereka bertanya apakah film ini didasarkan pada fantasi atau kenyataan atau apakah dimaksudkan sebagai garis tipis antara dua ekstrem di mana mimpi dan kehidupan nyata bergabung dan bercampur. Film serupa yang muncul di benak setelah direnungkan adalah Brazil(1985), Paprika (2009) dan The Truman Show(1997).
Sisu adalah sebuah film yang jelas-jelas terinspirasi dari Inglourious Basterds, John Wick, franchise Mad Max dan karya-karya spaghetti-western Sergio Leone. Tetapi Sisu karya sutradara Jalmari Helander ini berhasil menemukan identitasnya sendiri. Ini adalah film thriller Perang Dunia II yang minim dialog, bercerita tentang seorang penyendiri beruban dan dia pun memiliki masa lalu yang gelap. Plot dimulai dari sang penyendiri yang menemukan lapisan emas yang sangat besar di pelosok Lapland, hanya untuk menemukan dirinya dikejar oleh satu peleton Nazi. Dengan setting tahun 1944 dimana Nazi Jerman sedang dipukul mundur oleh tentara sekutu, Nazi berusaha menghancurkan semua yang ada di jalan mereka. Saat Nazi mengejar sang protagnis, disitulah pacing menjadi sedikit intens.
Apa yang membuat Sisu menarik adalah set-pieces yang keren dan situasi yang tidak dapat diprediksi. Semua ini adalah ide-ide kreatif sutradara Jalmari Helander yang mempersembahkan intensitas kekerasan secara pelan, dimana film ini beralih dari penusukan kepala yang low-key menuju pecahan anggota tubuh lalu berakhir pada klimaks kekacauan yang lebih ambisius dan eksplosif. Fantasi sejarah dari Helander dan gaya yang disengaja membedakan Sisu dari epos Hollywood “orang tua balas dendam†lainnya bersandar pada visual keindahan negaranya yang luas sambil menunjukkan kekuatannya yang terlupakan di pertengahan abad ke-20. Sang protagonis, Aatami, pada dasarnya adalah simbol maskulinitas Finlandia — pendiam, rendah hati, dan kuat. Mungkin pesan dari film ini adalah: Jangan macam-macam dengan orang Finlandia. Protagonis Sisu sulit untuk dibunuh ini telah mendapatkan perbandingan dengan Keanu Reeves dalam John Wick. Tentunya tidak terlepas juga dari tren film-film action oktan tinggi yang diperankan aktor veteran seperti Bob Odenkirk (Nobody), Gerard Butler dan Liam Neeson di… semua filmnya. Mereka adalah para “kakek†yang mengambil tindakan sendiri. Beberapa orang akan mengatakan Sisu mengingatkan mereka kepada Mad Max: Fury Road atau Inglourious Basterds, tetapi menurut saya Sisu adalah apa yang terjadi jika Sergio Leone masih hidup untuk menyutradarai Crank: High Voltage.
Mungkin ini adalah film dengan pesan aktivisme yang cukup penting di tahun 2023 ini. Jika membicarakan efek rumah kaca dan krisis iklim, suka atau tidak suka tentunya efek perubahan cuaca ekstrim sudah mulai terasa langsung oleh kita semua. Apalagi dengan banyak nya heatwave yang memakan banyak korban jiwa di Asia, terutama di India dimana jalanan aspal pun meleleh. How To Blow Up A Pipeline diadaptasi dari novel berjudul sama karya Andreas Malm yang diterbitkan pada tahun 2021. Sebuah buku yang mengusulkan tindakan kekerasan dalam menanggapi krisis iklim ini dikemas menjadi film heist-thriller yang menarik.
Andreas Malm berargumen bahwa status quo telah berkembang begitu parah sehingga para aktivis akan bodoh jika tidak melakukan sabotase, dan bahwa protes damai saja tidak mungkin mencapai hasil dengan cukup cepat. Karena seperti yang kita tahu, krisis iklim ini memiliki deadline yang cukup mepet. Disutradarai oleh Daniel Goldhaber (“Camâ€), yang mengubah ide Malm menjadi dasar untuk film thriller perampokan yang sangat efisien. Alih-alih masuk ke lemari besi atau museum, 8 karakter di film ini berkonspirasi untuk melakukan tindakan sabotase yang akan merusak harga minyak di seluruh dunia.
Para eco-terrorist ini adalah 8 orang dengan tujuan yang sama, walaupun memiliki motivasi personal yang berbeda pada awalnya. Struktur flashback ala Tarantino yang perlahan memperkenalkan kita dengan para komplotan ini cukup menarik. Dari Long Beach, California, Xochitl (Ariela Barer, juga salah satu penulis dan produser film) berduka atas kematian mendadak ibunya akibat gelombang panas dan resah atas kelesuan upaya divestasi bahan bakar fosil. Kami mengetahui bahwa Xochitl tumbuh bersama Theo (Sasha Lane), yang sejak awal ditampilkan di sebuah grup pendukung yang berbicara tentang “diagnosis” penyakit yang spesifiknya pada akhirnya akan terungkap. Di Dakota Utara, Michael (Forrest Goodluck) berkelahi dengan pria yang datang untuk bekerja di ladang minyak. Dia memperdulikan keselamatan fisiknya; pada satu titik, dia mengatakan dia tidak peduli tentang kemungkinan mereka akan meledakkan diri. Dwayne (Jake Weary) adalah pria keluarga Texas yang bayi perempuan dan istri penderita diabetesnya hanya ingin dia pulang untuk Natal. Dia marah karena jalur pipa telah mengganggu propertinya, dan dia membenci anggota kru film dokumenter yang bermaksud baik, termasuk Shawn (Marcus Scribner), yang memfilmkan cerita sedihnya tetapi sebenarnya tidak bisa membantu.
Alisha (Jayme Lawson), pacar Theo, siap membantu. Yang paling misterius adalah Rowan (Kristine Froseth), yang diam-diam memotret beberapa persiapan kolektif ini. Pacarnya, Logan (Lukas Gage), terlihat punk tapi sebenarnya anak orang kaya. Para karakter di film ini sangat menarik, dan tanpa banyak pemeran pendukung, sutradara Daniel Goldhaber bisa mengemas film ini secara utuh. Intensitas dan pricing di seluruh film tetap terjaga dari scene pembuka dimana Xochitl menusuk ban sebuah mobil SUV sampai adegan ending yang juga tidak kalah menarik dan cukup satisfying. Goldhaber bisa memacu tingkat ketegangan dan menerapkan efisiensi yang menjadi terlalu langka di film-film mainstream. Tetapi “How to Blow Up a Pipeline” dikemas sebagai film dengan sebuah pesan. Dalam semangat kolektivitas, ini disebut sebagai upaya kelompok. Jika mengingat prolog awal resensi ini, situasi krisis iklim yang semakin hari semakin berbahaya ini membutuhkan urgensi, dan sepertinya quotes “eco-terrorism is self-defense†akan sangat relatable di tahun 2023 ini.
Franchise Evil Dead karya Sam Raimi rupanya telah menemukan cara yang sangat menyenangkan untuk bangkit kembali. Setelah empat film; The Evil Dead (1981) , Evil Dead II (1987), Army of Darkness (1992) dan Evil Dead (2013), franchise Evil Dead tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti. Sebuah serial TV pun sempat digarap (Ash VS Evil Dead) dengan Bruce Campbell kembali mengenakan mantel sang pahlawan OG bernama Ash. Sulit untuk tidak mempertanyakan apakah Evil Dead akan menawarkan sesuatu yang baru di jaman yang dipenuhi oleh remake, reboot, prekuel, dan sekuel ini. Jika dibandingkan dengan karya O.G. Sam Raimi (Army of Darkness tidak termasuk) yang memiliki setting kabin terpencil (seperti remake 2013 nya juga), kali ini Evil Dead Rise berlokasi di sebuah gedung apartemen bobrok di LA. Gelap, suram, dan tentunya klaustrofobik.
Apartemen sempit ini adalah rumah bagi tattoo artist Ellie (Alyssa Sutherland) dan ketiga anaknya Danny (Morgan Davies), Bridget (Gabrielle Echols) dan Kassie (Nell Fisher). Mereka berjuang untuk bertahan hidup setelah ditinggalkan ayah mereka. Tak lama saudara perempuan Ellie, Beth (Lily Sullivan) yang berprofesi sebagai teknisi gitar tiba ke apartemen tersebut dan cerita pun mulai bergerak saat Danny menemukan Book of the Dead di sebuah ruangan rahasia di bawah gedung mereka. Seperti pada cerita-cerita Evil Dead yang lain, deadites pun dipanggil karena selalu ada karakter asshole yang membaca mantra pada book of the dead tersebut. Dan sisanya pun kalian sepertinya sudah tahu akan mengarah kemana. Evil Dead Rise mungkin tidak se-groovy karya Sam Raimi, tetapi Lee Cronin bisa mengarahkan film ini dengan pitch-black comedy dan set-pieces yang fun. Beberapa komplain saya mungkin mengarah pada karakter-karakter penghuni apartemen lainnya yang tidak menambah apa-apa dan bahkan beberapa mati secara off-screen. Ugh.
Franchise Evil Dead memang dari dulu tidak mengedepankan plotnya, melainkan set pieces yang bikin greget, unsur gore yang campy dan tentunya selalu memiliki mood horror yang tidak terlalu serius. Ya, unsur fun Evil Dead karya Sam Raimi tetap ada disini walaupun tidak ada satupun karakter yang mengucapkan kalimat “groovy babyâ€. Beberapa scene gore disini cukup kreatif dan juga ada beberapa creative kills yang mungkin baru saya lihat di film ini. Ada juga sebuah adegan yang melibatkan sebuah alat parut keju dan sebuah adegan lift yang mungkin berupa homage terhadap The Shining. Anyway, karakter Beth yang diperankan oleh Lily Sullivan sebagai final girl memang cukup keren walaupun tidak bisa mengganti Bruce Campbell sebagai Ash. Sebuah film Evil Dead tanpa Ash layaknya sebuah episode Pokemon tanpa Pikachu. Tetapi Evil Dead Rise berhasil membuktikan kalau kalian tidak membutuhkan Ash untuk bersenang-senang. Yang menjadi highlight bagi saya disini adalah karakter Ellie yang dirasuki oleh deadites. Alyssa Sutherland berakting total seakan tidak ada hari esok: teriak-teriak, mengucapkan sumpah-serapah sampai berperilaku seperti orang kesurupan 100%. Menurut saya sebuah film horror dapat diukur kesuksesannya jika ditengah-tengah film terlihat beberapa penonton yang keluar dari bioskop. Evil Dead Rise memiliki kombinasi yang tepat antara menakutkan, lucu dan sadis. Tontonlah, you’re in for a treat.
Oppenheimer adalah karya epik terbaru Christopher Nolan yang akhirnya tiba, pertanda sekarang adalah puncak dari perilisan film blockbuster musim panas. Oppenheimer memulai debutnya bersama Barbie, dan Mission Impossible: Dead Reckoning Part One yang mendarat lebih dari seminggu sebelumnya. Sementara film-film yang disebutkan di atas jauh lebih mudah dicerna (walaupun masih sangat menyenangkan untuk ditonton), Oppenheimer adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Dalam runtime tiga jamnya, narasinya tidak melambat, penonton akan dimanjakan secara visual dan auditori, dan intensitas film terus bergulir dengan cepat tanpa henti. Singkatnya; ini adalah film yang padat – dan jika kamu belum minum kopi sebelum pertunjukkan dimulai, beberapa poin penting dalam plot dapat dengan mudah lolos dari otak kamu.
Tidak seperti seniman, pendekatan Christopher Nolan pada sinema lebih seperti ilmuwan: logis, teknikal dan penuh pendalaman riset. Saya sangat menikmati karya-karya Nolan ketika dia bermain di genre film noir (Memento, Insomnia & The Dark Knight). Tetapi akhir-akhir ini, Nolan lebih nyaman menggunakan sci-fi sebagai mediumnya. Dimulai dari Inception yang inovatif, sampai Interstellar yang konon teori-teori wormholenya sangat valid (dan bahkan memberikan sudut pandang baru terhadap teori fisika kuantum). Lupakanlah Tenet yang pretensius, dan sambutlah Nolan dengan film biopic terbarunya: Oppenheimer. Oppenheimer adalah sebuah biopic mengenai J. Robert Oppenheimer; ilmuwan pencipta bom nuklir dan seorang figur historikal. Selain Oppenheimer, di film ini juga tampil beberapa ilmuwan terkenal seperti Niels Bohr, Werner Heisenberg, Ernest Lawrence, Enrico Fermi & tentunya Albert Einstein, pencipta teori relativitas (yang secara tidak langsung “membantu†penciptaan bom nuklir).
Kenekatan Nolan dalam membuat film-film nya dengan CGI yang minim (atau kadang nir-CGI seperti di film ini) adalah sesuatu yang cukup spektakuler di era digital dan A.I. Nolan sebelumnya membuat scene koridor “anti-gravitasi†dengan rumit di Inception, kali ini Nolan bahkan me-rekreasi detonasi nuklir tanpa bantuan CGI. Dalam beberapa interview pun Nolan memastikan tidak ada shot yang menggunakan CGI di film ini. Memang practical-effect jauh lebih dashyat efeknya ketimbang digital CGI. Lihat saja animatronic yang digunakan Steven Spielberg di Jurassic Park atau Jaws, atau bahkan efek-efek gore di film horror yang dibuat oleh Tom Savini (Dawn of the Dead, Friday the 13th & Texas Chainsaw Massacre 2). Practical effects lebih memorable, epik dan tentunya terlihat lebih nyata ketimbang efek digital. Dan ini adalah pilihan yang tepat untuk Oppenheimer. Oppenheimer juga adalah film pertama Nolan yang tidak didistribusikan oleh Warner Bros sejak Memento (2000), dan mendapat rating R sejak Insomnia (2002).
Oppenheimer adalah sebuah studi-karakter yang dikemas sebagai spy-thriller. Scoring epik dari Ludwig Goransson juga membantu meng-elevate film ini sehingga intensitas tetap terjaga di film berdurasi 3 jam ini. Dari segi visual, DOP / sinematografer Hoyte Van Hoytema (Interstellar, Dunkirk, NOPE) sudah tidak perlu diragukan lagi. Nolan memaksimalkan semua aspek dan detail, dari kostum, produksi set sampai sound design yang canggih. Uniknya, di sebuah film Christopher Nolan, penonton seolah sudah tidak peduli lagi akan aktor-aktor yang bermain disini, karena Nolan adalah seorang auteur. Ini adalah sebuah ekskursi yang berlimpah akan bintang-bintang: Cillian Murphy, Emily Blunt, Matt Damon, Robert Downey Jr, Florence Pugh, Casey Affleck, Rami Malek, Benny Safdie, Kenneth Branagh, Gary Oldman, dan masih banyak lagi. Sebuah film dimana fisika kuantum dan politik hubungan internasional beririsan, sebuah drama dan studi karakter yang dalam dengan latar belakang perang dunia 2. Sebuah film yang mempertanyakan moralitas dan kemanusiaan itu sendiri. Tidak diragukan lagi, dengan banyaknya detail plot yang ingin disampaikan dan dialog yang membombardir, menonton ulang Oppenheimer kemungkinan besar akan menjadi cara terbaik untuk membedah dan memahami sepenuhnya film ini, serta menghargai cerita yang coba diceritakan oleh penulis/sutradara Christopher Nolan. Oppenheimer adalah karya terbaik Christopher Nolan. Sebuah magnum opus.
Bukan Black Mirror namanya kalau di setiap episodenya tak memiliki alur cerita dan seringkali plot twist yang membuat mata kita terbelalak sampai terheran-heran. Serial yang awalnya tayang di Channel 4 – sebuah stasiun televisi publik di Inggris – dan kini semakin sukses berkat diakuisisi Netflix tersebut memang seringkali tak pernah gagal untuk memberikan suguhan tontonan yang berkesan sejak awal kemunculannya di tahun 2011 silam. Bagi saya pribadi, the series is sometimes stranger than fiction and that’s what good about it.
Bukan tanpa alasan kenapa Black Mirror terkesan stranger than fiction bagi saya. Pasalnya ada beberapa episode yang rasanya memang sedang terjadi di dunia nyata – meski teknologi fiktif yang kerap kali menjadi poros utama cerita di setiap episodenya belum hadir di masa sekarang. Ambil contoh episode “Nosedive†yang berkutat seputar rating di sebuah aplikasi media sosial akan perilaku setiap orang yang mempengaruhi reputasi mereka di dunia nyata. Tema episode itu terkesan agak deja vu bagi saya karena mengingat ada Social Credit System yang sedang berlangsung di RRC dan memberikan impresi yang kurang lebih sama akan penilaian publik melalui hitungan historis dari seorang individu via pengelolaan suatu instansi tertentu.
Contoh lainnya yang menarik soal konteks stranger than fiction dari Black Mirror adalah teknologi robot lebah di episode “Hated In The Nation†yang ternyata (spoiler alert) diproyeksikan oleh suatu instansi badan intelejen di dalam serialnya sebagai metode pengawasan publik. Bukankah isu penyadapan data pun sudah terkuak sejak beberapa tahun lalu di berbagai negara mana pun? If this doesn’t creep you out than you’re missing out that sensation of Black Mirror.
Dan kini di season terbarunya, Black Mirror pun memberikan sejumput kejutan stranger than fiction di beberapa episodenya dan juga kejutan transisi topik dari tema utama berbau teknologi yang menjadi kekuatan serialnya selama belasan tahun ini. Lantaran di season keenamnya, Black Mirror tak hanya berkutat soal tema technology gone wrong, tapi mulai merambah dunia supranatural dan dimensi gaib. Absurd.
Untuk memberikan konteks akan paparan saya di atas tadi, izinkan saya untuk memberikanmu gambaran besar akan lima episode yang terkandung di season keenam Black Mirror secara seksama. Ahhh, tentunya karena ini adalah tulisan review, saya ingatkan akan banyak spoiler berhamburan di bawah ini dan kalau kamu adalah tipe manusia yang anti-spoiler, silahkan berhenti membaca sampai sini dan langsung skip ke dua paragraf terakhir tulisan ini atau baca artikel lain dari Jeurnals dengan klik di sini . Okay, I cleansed my conscience so let’s get into it.
“Joan is Awfulâ€
Meski minim adegan gore nan berdarah-darah, episode ini nyatanya lebih menyakitkan karena lukanya langsung menyayat ke dalam hati dan akan membuatmu berpikir dua kali untuk tidak membaca terms and condition ketika meng-install sebuah aplikasi di gawai personalmu.
“Joan is Awful†adalah sebuah episode bernuansa dark comedy yang akan menunjukkanmu seberapa buruk untuk menjadi pengguna teknologi yang begitu apatis akan detail-detail akan moda yang mereka gunakan sehari-hari dan sialnya akan merubah hidup mereka secara drastis. Well, it’s a lesson for us who always skip terms and conditions page. Haha!
“Loch Henryâ€
Episode ini adalah salah satu pertanda Black Mirror akan mengekspansi tema serialnya keluar dari tipikal tech gone wrong situation. Diceritakan bahwa ada kasus penculikan dan penyiksaan sadis yang kabarnya terkubur dan tak pernah diungkit kembali di suatu desa kecil daerah Inggris. Sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian ada sepasang kekasih yang hendak membuat dokumenter tentang kasus itu dan malah menjerumuskan mereka ke penguakan tabir yang terlalu dekat dengan kehidupan personal mereka.
Menariknya dari episode ini adalah tidak ada aspek penyalahgunaan teknologi futuristik atau terkesan dystopic yang menjadi pemantik ceritanya, justru lebih condong ke aspek psychological thriller yang membangun kengerian di klimaks episodenya. Bagi saya ini adalah perubahan yang menarik untuk Black Mirror. Karena siapa sangka kini Black Mirror pun bisa menggarap sebuah cerita yang lebih realistis dan juga berporos akan alat teknologi yang bisa kita temui sehari-hari sebagai kuncian fakta horor yang menyelimuti cerita utamanya seperti di episode ini.
“Beyond The Seaâ€
Diceritakan di sebuah lini masa alternatif, pada tahun 1960-an terdapat dua astronot yang ditugaskan untuk menjaga satelit di luar angkasa sana selama empat tahun mendatang. Tapi guna menjaga kehidupan personal mereka di bumi, mereka pun diberikan semacam transmisi kesadaran yang bisa ditransfer ke sebuah replika (baca: robot) yang berada di bumi dan tinggal dengan keluarga mereka masing-masing. Namun siapa yang menyangka bahwa akan muncul konflik yang jauh lebih pelik dibanding jarak antar luar angkasa dan bumi di antara ke dua astronot tersebut.
Episode ini durasinya lumayan panjang dan alurnya sangat pelan – namun terbilang efektif untuk membangun kengerian di alur ceritanya. Paduan antara kesalahan teknologi dan rumitnya pola pikir manusia seakan menjadi pelengkap yang sahih untuk konflik yang terdapat di episode ini.
“Mazey Dayâ€
Apa jadinya ketika paparazzi selebriti yang awalnya hanya bertugas untuk mengintil kehidupan para orang terkenal malah terjebak di rumitnya permasalahan ‘personal’ dari sang selebriti – dan sialnya masalah itu di luar nalar kehidupan manusia alias datang dari dimensi lain?
Lagi-lagi, Black Mirror memberikan kejutan di musim terbarunya ini dengan membuang jauh aspek tech gone wrong dan mengajak penontonnya untuk masuk ke alur cerita yang lebih mistis dalam episode ini. Sebetulnya dari alur cerita, episode ini memang tak seintens seperti kebanyakan episode Black Mirror lainnya. Namun berkat tema mistis yang disuguhkan, sepertinya episode ini menjadi titik putar yang penting bagi serial ini ke depannya – meski mungkin bagi beberapa penonton loyalnya harus menyesuaikan diri terhadap perubahan tema yang lumayan radikal ini.
“Demon 79â€
Episode penutup di season keenam Black Mirror ini lebih absurd daripada “Mazey Day†– namun harus kamu simak seksama karena bisa jadi (lagi-lagi) ini adalah episode dari new age of Black Mirror yang mulai lebih ‘gaib’ temanya. Bahkan kalau kamu menonton title card di awal episode-nya, episode ini didaulat sebagai “Red Mirrorâ€. Hmmm apakah Red Mirror ini akan menjadi subtema di serial ini ke depannya? We’ll see.
“Demon 79†menceritakan tentang keapesan seorang penjaga toko sepatu yang menemukan sebuah ‘jimat’ dan mengharuskan dirinya membunuh tiga orang dalam tiga hari agar mencegah datangnya kiamat. Tidak ada cerita soal teknologi di sini. Just pure black comedy about apocalypse. Endingnya pun akan membuatmu menggaruk kepala. Apa semua kejadian di kehidupan sang karakter utama itu kenyataan atau hanya fantasi belaka? You’ll be the judge.
***
Overall, this new season of Black Mirror is a great watch. Meski memang tak semua episodenya memiliki alur cerita yang kuat dan terkesan memiliki banyak plot holes, semuanya masih bisa dinikmati sebagai tontonan yang menghibur.
Belum lagi ada kesan di mana sepertinya Black Mirror akan mulai menghantui nalarmu tak hanya lewat alur cerita seputar teknologi, tapi juga dunia mistis seperti yang dicurahkan di episode “Mazey Day†dan “Demon 79â€. Hal itu tentunya menjadi antisipasi terbaru akan serial ini. Apakah itu hanya sekedar guyonan di episode itu saja? Atau memang akan menjadi subtema baru di Black Mirror? Hanya waktu yang akan menjawab.