White Chorus menghadirkan kejutan dengan merilis album berjudul LIMBO+. Hanya dua bulan setelah perilisan album penuh kedua mereka, LIMBO, album ekstensi ini menampilkan empat trek tambahan yang memberikan perspektif baru terhadap lagu-lagu yang sudah dirilis sebelumnya. Dengan 1 lagu baru berjudul “used to be used to be used to be” yang mengusung elemen elektronika dengan tempo cepat, serta tiga versi demo dari lagu-lagu seperti “Don’t Want This To Be Over”, “How Could You”, dan “I’m Trying”, White Chorus memberikan perspektif lain kepada pendengar untuk lebih mendalami proses kreatif lagu-lagu mereka. LIMBO+ sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming mulai 30 Agustus 2023 lalu.


Tak hanya itu, White Chorus juga bersiap untuk menggelar showcase yang dijadwalkan pada tanggal 8 September mendatang di Jakarta. Acara bertajuk “This Showcase Is LIMBO” ini akan menjadi momen spesial, di mana Emir dan Friska ini akan membawakan seluruh trek dari album LIMBO+ dalam format full band. Showcase ini juga akan diisi oleh sejumlah nama, seperti Hindia, BAP., Basboi, Adeliesa, Noni, Awan, dan Xandega.

Unit shoegaze asal dari Bandung, Heals, kembali dengan merilis single baru setelah menanti selama 6 tahun. Dengan anggotanya, Alyuadi Febryansyah, Reza Arinal, Octavia Variana, dan Adi Reza, Heals telah meluncurkan single bertajuk “Weathre” pada tanggal 25 Agustus 2023 lalu. Lagu ini diinspirasi oleh pengalaman selama pandemi dan mencerminkan perenungan serta pemikiran anggota band. Alyuadi menjelaskan bahwa liriknya lahir secara spontan dalam proses komposisi, menggambarkan perasaan ketika tidak bisa bertemu langsung dengan orang lain akibat berbagai faktor seperti alam atau mungkin sebuah konspirasi.

Secara musikal, “Weathre” memiliki sederhana dalam aransemen namun diberikan kompleksitas yang menunjukkan kedewasaan dan eksplorasi artistik Heals . Tak hanya itu, single ini juga disertai dengan video musik karya Nix Powell yang menggambarkan bagaimana setiap anggota Heals saling berkomunikasi dan proses kreatif dalam sebuah perang pikiran. Single “Weather” akan menjadi pengantar bagi album mendatang Heals yang berjudul “Emerald” dan dijadwalkan dirilis pada bulan Novembe

Grup Latin asal Jatinanor, Elkarmoya, kembali menghadirkan cerita menarik dalam single terbaru mereka berjudul “Sigareto”. Lagu ini lahir dari kerinduan mendalam akibat perasaan kehilangan dan membawa pesan tulus yang merefleksikan pengalaman pribadi para personil. El Baccuanos, salah satu anggota grup, menjelaskan bahwa lagu ini awalnya diciptakan sebagai ekspresi kerinduan terhadap anggota mereka yang bernama Pablo. Lirik “Sigareto” menggambarkan perasaan titik terendah dalam kehidupan, seperti merasa dijambret secara emosional, yang membuat seseorang merasa tak berdaya dan hanya bisa meminta bantuan.

Bayangan akan titik terendah dan tamparan tak terduga menjadi inti dari lagu ini, menciptakan gambaran tentang kehilangan dan kerentanan. Elkarmoya mengungkapkan dalam lirik mereka tentang pentingnya menemukan kedamaian dalam kebersamaan, yang tercermin dalam kata-kata “Muenta sabatang”. Mereka meyakini bahwa bahkan dalam situasi paling sulit dalam hidup, manusia masih bisa menemukan kebahagiaan dan kedamaian dalam momen-momen sederhana, seperti berbagi percakapan tulus dengan sahabat dekat. “Sigareto” tidak hanya merupakan bagian dari album terbaru mereka, tetapi juga melanjutkan tradisi Elkarmoya dalam menyampaikan pesan-pesan kuat melalui melodi latin yang mampu menyatukan emosi dari cerita ke dalam musik mereka, sehingga pendengar dapat merasakan perjalanan tersebut melalui nada-nada yang dihadirkan.

Setelah merilis album kedua dan melakukan tur pertamanya, Oscar Lolang kembali dengan single terbaru berjudul “Python Lives In That House!” . Oscar menghadirkan lagu dengan latar musik energetik dan ritme cepat. Lagu ini diproduksi oleh Esa Prakasa dan ditulis dengan gaya storytelling khas Oscar Lolang. Meskipun memiliki pesan sedih, Oscar berharap lagu ini dapat menghibur pendengar dan mengajak mereka bersenang-senang. Ia menyatakan bahwa lagu ini memiliki komposisi yang berbeda dari karyanya sebelumnya, lebih hidup, dan membuat orang ingin menari.

Melalui lagu terbarunya, Oscar Lolang berharap pendengar dapat merasakan kesenangan meskipun ada kesedihan dalam liriknya. Lagu ini bukan hanya tentang ular piton di dalam rumah, tetapi juga mengangkat kisah-kisah manusiawi yang bisa dirasakan oleh semua orang. Oscar mengajak pendengar untuk ikut menyanyikan atau bahkan menari mengikuti lagu ini setelah mereka merasakan emosi dan ceritanya.


“Python Lives In That House!” oleh Oscar Lolang sudah bisa dinikmati melalui semua platform streaming digital.

Setelah mendapatkan nominasi Anugerah Musik Indonesia untuk kategori  “Artis Solo Pria/Wanita/Grup/Kolaborasi Elektronika Terbaik” di tahun 2022, White Chorus tiba-tiba drop sebuah album baru di tahun 2023. Setelah debut album “FASTFOOD” yang dirilis pada tahun 2021, kini mereka kembali dengan racikan yang lebih fresh secara produksi, aransemen dan direction. Mereka pernah mengatakan kepada Jeurnals di sebuah interview kalau pada awalnya berniat membuat sebuah album full dengan lagu trip hop ala Portishead dan Massive Attack yang tidak terealisasi di album “FASTFOOD”. Ternya di album “LIMBO” ini, mereka tetap tidak merealisasikan itu tetapi malah membawa direksi musikal White Chorus ke arah yang lebih fresh.

Dibuka dengan lagu ‘BLU’ yang di co-produseri oleh Alyuadi (Heals, Fuzzy I) dan Dhafir (The Sugar Spun), track ini dibuka dengan strumming gitar yang sedikit dreamy dibalas oleh lantunan dari Friska “what else can i do?”. Menarik, karena mereka mungkin bisa dibilang jarang membuka sebuah lagu dengan riff gitar. ‘Mystery’ adalah track yang tepat untuk meneruskan mood ‘BLU’. Highlight track ini terdapat di menit 1.29 dimana terdapat perubahan beat yang semakin intens yang berfungsi sebagai breaks sebelum kembali ke verse. Track ke 3 adalah ‘This Feeling’, single pertama yang sangat pop dan sedikit mengingatkan saya pada Homogenic di album kedua. Beat lagu ini juga sedikit mengingatkan pada single ‘Ditto’ milik NewJeans. ‘Somerset’ yang diambil dari sebuah nama daerah di Singapura adalah single ketiga dari album ini (yang video klipnya juga berlokasi di Somerset). Masih dalam wilayah electro-pop, track ini juga sangat catchy.


‘Don’t Want This To Be Over’ sangat menarik. Loop gitar akustik di yang bermain di seluruh lagu adalah nostalgia terhadap RnB tahun 2000an. Ya, White Chorus memang versatile dan dengan nyaman bisa bermain di genre electro-pop, RnB, house sampai trip hop. Membicarakan trip hop, ‘3AM’ adalah sebuah track bernuansa trip hop yang sedikit gelap. Co-produced juga oleh Tendi Ahmad dan menampilkan rapper Nartok. Ah, ternyata sebuah lagu berbahasa bilingual, menarik. ‘HoW cOuLd U’ sangat menarik, dengan beat dinamis dan gitar jangly. Saya bisa membayangkan track ini akan menarik jika dimainkan live dengan full band tanpa sampling dan sequencer. ‘KAFFEINE’ adalah penultimate track yang juga diproduseri oleh Kareem Soenharjo. Lagu tidak akan terdengar out of place apabila dirilis di akhir ‘90an atau awal ‘2000an. ‘Amarah’ menutup album ini dengan high-note. Dan menurut saya ini adalah track terbaik dan menjadi instant favorite setelah didengar. Mungkin White Chorus harus mempertimbangkan untuk membuat sebuah album full berbahasa Indonesia, karena mereka bisa melakukan nya dengan flawless. Overall “LIMBO” dipenuhi oleh produksi yang top notch dan versatilitas White Chorus untuk berpindah-pindah genre di beberapa lagu tanpa terdengar memaksakan. Walaupun para produser tamu disini mampu menambah warna yang menarik, lagu-lagu yang diproduseri oleh Emir Agung Mahendra sendiri menurut saya sudah cukup keren. Jika ada band yang mampu self produced dengan hasil yang keren, mungkin White Chorus bisa masuk ke list tersebut.

 

Text by Aldy Kusumah

Kuartet R&B/hip-hop The Couch Club dari Bandung mengumumkan perilisan single terbaru mereka “Can’t See Us” sebagai pengantar dari album perdana mereka. Lagu ini menggambarkan pengalaman mereka yang seringkali merasa diremehkan. Bassist Vai Siagian dan vokalis Gally Glitch menekankan bahwa lagu ini menyampaikan pesan kepada mereka yang pernah diragukan, bahwa mereka memiliki potensi besar untuk mencapai apa yang mereka inginkan.

Album perdana The Couch Club akan menghadirkan perpaduan genre musik yang unik, mencerminkan keberagaman dan kreativitas band ini. Mereka berkomitmen untuk menciptakan musik yang menginspirasi, memberdayakan, dan memotivasi pendengar.


Single “Can’t See Us” sudah dapat didengarkan di berbagai platform streaming, dan video musiknya akan dirilis pada tanggal 25 Mei 2023. Informasi lebih lanjut mengenai tanggal perilisan album akan segera diumumkan melalui media sosial band.

MICROGRAM, turut meramaikan gelaran festival Pestapora di Gambir Expo Jakarta selama tiga hari 23-25 September 2022 dengan menghadirkan MICROGRAM ALTERNATIVE STAGE. Sesuai dengan namanya, deretan nama di panggung ini akan membawakan berbagai genre musik yang kerap dilabeli dengan sebutan “alternatif”. Mulai dari indie-folk, electro-pop, psychedelic, post-punk, hardcore, latin, bahkan dangdut. Hal ini sejalan dengan semangat Pestapora yang ingin menjadi perayaan lintas genre dan generasi atas kebangkitan musik Tanah Air setelah dua tahun terpukul pandemi.

Di tengah-tengah musisi yang tampil di pangung besar, Microgram Alternative Stage di Pesta Pora dibuka oleh penampilan dari Cal dilanjut oleh Hockey Hook, White Chorus, Elkarmoya dengan set spesialnya. Lalu, dihari pertama juga ada Muchos Libre, Oscar Lolang dengan potongan rambut barunya, Bleach dan terakhir sebagai penutup ada karaoke yang dilead oleh Microgram x Bertinder. Hari kedua Microgram Alternative Stage dimulai lebih awal 30 menit dibanding hari pertama yang ditandai oleh penampilan dari Sunbath, diteruskan oleh Ray Viera Laxmana, lalu ada grup musik Leipzig dengan ciri khas yang selalu membakar dupa ketika manggung. Setelah break maghrib ada The Couch Club, Bleu House, Lizzie dan ditutup oleh penampilan dari Heals. Hari ketiga, sebagai hari terakhir Microgram Alternative Stage line up pun lebih banyak dibanding dua hari sebelumnya. Dibuka oleh The Sugarspun, lalu ada unit screamo dari Bandung Swarm disambung Adadde, Prejudize, Mundae, Saturday Night Karaoke yang sempat featuring Jimmy Multhazam. Lalu ada kolaborasi Dongker x Kinder Bloomen, Symphony Polyphonic Geng dan terakhir ada after party dari Berita Disko.

Microgram berhasil mencuri perhatian ditengah-tengah penampil yang mengisi stage-stage besar. Alternative Stage dari Microgram ini pun kemarin terletak ditempat yang strategis dimana orang yang lewat dari satu area besar ke area besar lainnya pasti lewat ke depan Alternative Stage dari Microgram ini. Area venue yang tidak terlalu besar membuat suasana didalam pun terasa sangat intim. Mengutip dari zine yang dibuat oleh Microgram yang menyatakan bahwa “Alternative Stage adalah buah manifesto kami untuk mengekspos entitas musik potensial yang menanggalkan aturan arus utama mau pun semi -pinggir-” nampaknya sangat mewakili bagaimana Jeurnals melihat pergerakan yang dilakukan oleh Microgram di festival besar sekelas Pesta Pora. Kami selalu menunggu kejutan apalagi yang akan dilakukan oleh Microgram berikutnya.

 

Photos by Fabian Insan Faturrahman