Entah kenapa, band indie pop asal Sidoarjo/Surabaya ini mengingatkan saya dengan band asal Bandung Mocca dan Olive Tree. Dimulai sebagai proyek solo, Drizzly telah berkembang menjadi kuartet bersaudara musisi yang terdiri dari Manda (Vocal), Moza (Bass), Faye (Guitar) dan menyambut member terbaru mereka yaitu Rascillo (Drum). Seperti all-female band asal Jawa Timur pendahulu nya, Dara Puspita, para personil Drizzly juga piawai dalam memainkan alat musik dan selalu tampil enerjik di setiap performanya. Kali ini mereka merayakan fase terbaru Drizzly dengan merilis EP yang merangkum seluruh tema besar negeri para peri sejak ‘Bitter To See You’ dan ‘If We Know Each Other Well Enough, Maybe We Can Go On a Date’ dengan merilis EP berjudul “Fairyland” via Lisdia Records, Bandung mulai 1 Mei 2023, bertepatan dengan May Day.

EP berisi 5 lagu ini dibuka dengan lagu instrumental berjudul ‘A Moon Parch’t’ yang membius pendengar dengan gitar jangly nya di intro, dengan sentuhan tipis piano di belakangnya. Kesan manis ini dibuyarkan dengan drumming yang dinamis dan powerful dari Rascillo, member terbaru Drizzly. Sound gitar di track kedua (‘ ‘If We Know Each Other Well Enough..’) sedikit mengingatkan saya pada sound gitar Alvvays, and that’s a good thing. Vokalis Manda pun menyambut dengan “one two three four!!” ala Joey Ramone. Lagu ini juga memiliki sound ala band-band roster Heavenly Records. Catchy dan pastinya akan menjadi fan favorit ketika mereka perform kelak.

Track ketiga yang berjudul ‘Peachy World’ agak sedikit punkish dan tentunya tetap mengandung unsur manis seperti dua lagu sebelumnya. Mengenai tema fantasi, Drizzly menganggap bahwa tema besar tentang do Peri-peri juga banyak melalui rintangan seperti dalam lagu keempat: ‘Grasp All, Lose All’, di mana hubungan pertemanan tidak selalu mulus dan diisi orang-orang setiakawan. Selama proses rekaman, Drizzly banyak dibantu berbagai pihak seperti Firhan dari Croud dan pihak Artefakt Records sendiri. Lagu penutup EP ini adalah ‘Bitter To See You’ yang sudah dirilis sebagai single sebelumnya pada tahun 2022. Lagu tercatchy di EP ini juga sudah di stream di Spotify sebanyak 150,000 pada saat tulisan ini ditulis. Dengan produksi sound yang memadai dan materi yang bagus, tentunya debut album mereka akan sangat dinantikan. Jangan lewatkan juga performa mereka jika Drizzly mengunjungi kota kamu. You’re in for a treat.

Text by Aldy Kusumah

Sunny Summer Day adalah alamarhum Dicki Hermansyah (Voices & Guitar), Arief Norman (Lead Guitar)
, Vicky Stefanus (Bass)
 & Teguh Indraputra (Drums). Ferdy Destrian mengisi vokal pada dua dari tujuh lagu di album ini (‘There is a Way’ and ‘Symphony of Lights’). Album ini adalah kisah almarhum Dicki Hermansah dan istrinya yang melakukan perjalanan ke Hong Kong pada tahun 2017. Seharafiah judul “Dreams & Memories”, album ini berisi mimpi dan kenangan yang mereka buat, yang lalu dituangkan ke dalam beberapa lagu di album ini. Lagu yang secara konseptual lebih raw atau ‘kotor’ namun tetap nyaman untuk didengarkan. Produksi yang matang membuat album berisi 7 lagu ini terasa sangat nyaman untuk dinikmati, baik itu di sound system “hareeng” kamu , di mobil ataupun menggunakan earphone telepon genggam.

 

Dibuka oleh ‘Memories’ dengan intro basslines yang catchy, kemudian disambut oleh gitar jangly yang melodious. Entah kenapa, tipe-tipe lagu seperti ini selalu mengingatkan pada Bandung era tahun 2000an. Aransmen lagu ‘Memories’ cukup menarik, karena setelah intro instrumental dan verse, lagu pun ditutup oleh outro yang sama dengan intro. Short and sweet, dan pastinya akan membuat pendengar mengulang track ini. Track 2 berjudul ‘Pearl of Orient’, yang dari judulnya tentu bercerita mengenai kota Hong Kong tersebut. Dibuka oleh intro gitar yang shoegazing dan drumming pattern yang menarik, sedikit mengingatkan pada For Tracy Hyde. Ini adalah lagu favorit di album ini. Durasi 3 menit pun terasa singkat di lagu ini.

‘There is a Way’ adalah sebuah lagu indie pop ala Sarah Records, dengan sound modern. ‘Dusk and Moon (夕暮れと月)’ adalah sebuah track yang menarik, dengan lirik berbahasa Jepang dan diisi vokal perempuan dari Nana Furuya (Charlotte is Mine) yang membius, membuat vibes nostalgia semakin terasa. Track ke 5 ‘Spider Tale’ kembali menaikkan tempo album dengan drumming yang upbeat nya. Sound gitar di lagu ini terasa warm dengan setting drive dan reverb yang pas. Renyah sekali. SSD kembali menurunkan tempo di lagu ‘Symphony of Lights’. Untuk lagu ini tidak terlalu spesial, apalagi jika dibandingkan dengan 6 lagu lainnya yang benar-benar bagus. Track penutup ‘Tomorrow’ sangat menarik, dimulai dengan sinkop drumming dan pattern gitar yang sedikit ehm.. Math rock. Distorsi dan wall of sound shoegazing di lagu ini pun terasa pas membalut aransmen menjadi sedikit droning. Sebuah track yang sangat pas untuk menutup sebuah album yang juga menjadi tribute untuk almarhum vokalis terdahulu, Dicki Hermansah. Seolah mengucapkan selamat tinggal tapi tetap menyambut hari esok dengan penuh passion.

Tracklist:
1. Memories
2. Pearl of Orient
3. There is a Way
4. Dusk and Moon
5. Spider Tale
6. Symphony of Lights
7. Tomorrow

Text by Aldy Kusumah