Daily Breeze sebuah band asal Cipanas, dataran tinggi di perbatasan antara Bogor dan Cianjur yang baru-baru ini merilis maxi-single Dunia // Ruby di September kemarin, sebelum rencananya menyuguhkan album penuh di tahun depan. Album yang tidak sengaja mereka buatkan menjadi trilogi. Band yang tumbuh karena hidup dalam kolektif yang sama, Metaklab, dan tergabung di Gedung Empat Record berkat relasi pertemanan yang mereka yakini sebagai kunci ekosistem ini terus berjalan.

Sesudah menjadi pembuka pada gelaran showcase-nya Skandal di Bandung, kami mencoba mengobrol lebih lanjut tentang proses pembuatan musik mereka, kolektif Metaklab, hingga rencana album. Kami hanya ditemani oleh Rofi, Imam, dan Ikhlas. Silahkan disimak sampai habis! Semoga berkesan! 

Perkenalkan nama kalian masing-masing dan makanan kesukaan?

Rofi : Aku Rofi, vokal, dan makanan kesukaannya adalah soto daging, soto Betawi khususnya.

Imam: Aku Imam di gitar dua, makanan kesukaan sop kambing.

Ikhlas: Aku Ikhlas di drum, makanan kesukaan nasi goreng, sama Indomie.

Indomienya goreng apa rebus?

Ikhlas: Goreng, goreng pride. 

Pakai telur? 

Ikhlas: Pakai, tapi satu setengah matang.

Mungkin ini pernah ditanyain di media-media lain. Tapi bagaimana awal mulanya pembentukan Daily Breeze, boleh ceritain?

Imam: Pertama sih 2018-an, itu tuh kita kan dari dulu sudah lama ya di skena hardcore-punk. Dan bosan juga sih, maksudnya pengen upgrade juga. Terus mau buat band pop, awalnya saya, Reja sama Iqbal yang bass satu lagi. Nah setelah itu butuh vokalis sama drum nih, udah ada materi lah tapi belum belum beres materinya masih raba-raba pengen kayak gimana gitu musiknya. Terus Iqbal ngejakinlah Rofi. Terus untuk Iskandar mungkin ketemu di gigs sih, di gigs Metaklab pada 2018 itu, Iskandar join juga sebagai drum. Nah materi pertama mungkin yang Gamang. Itu tuh sebenarnya udah ada sih bagannya, cuman kalau Rofi sama Otot (panggilan dari Ikhlas) belum bergabung. Itu sih awal mula Daily Breeze.

Tapi kalau nama Daily Breeze itu dari mana sih?

Ikhlas: Daily Breeze pas sudah barengan dengan formasi 5 orang, kalau sekarang kan 4 orang, nah dulu 5 orang. Jadi pertamanya itu sudah ada lagu dua ya, heeuh, sudah ada lagu dua yang di mana dua itu tuh pilihan. Jadi yang satu yang sekarang jadi Gamang, yang satu ada yang nggak jadi, karena secara konsep bedalah, beda yang satu tuh lebih ke dream pop gitu, lebih ke shoegaze yang memang apa ya bahasa sekarang niche gitu. Nah, kita tadinya milih lagu dulu biar nanti kedepannya gambaran next-nya tuh mau dibikin kayak gimana gitu, apakah mau dream pop atau memang mau pop alternatif gitu kayak Daily Breeze sekarang lah gitu. Akhirnya kita milih yang sekarang karena mungkin biar lebih mobile gitu. Nah, dari pas itu langsung nentuin nama juga, walaupun memang ada beberapa nama tapi yang sangat cocok sama letak geografis, yang jadi icon kita, datang dari daerah yang di mana notabenenya lebih dataran tinggi. Daily Breeze itu menggambarkan itu, jadi cukup satu nama pun sudah mencangkup keseluruhan.

Datang dari Cipanas kan ya?

Ikhlas: Ya, betul dari Cipanas. Daily Breeze itu kan artinya keseharian yang sejuk, jadi ya itu yang kita alami setiap hari, bahkan lebih dari sejuk sih, lebih ke dingin kayak di Lembang mereun yah kalau di Bandung mah. Terus ya pengen dijadiin harapan semua orang yang nanti kedepannya ngedengerin Daily Breeze itu bisa ngerasain feel yang sama gitu, dapat ademnya. Walaupun ada beberapa lirik yang terkesan kayak tanda kutip agak sedikit sedih atau galau gitu ya, tapi di balik itu tuh pasti ada hikmah yang tersembunyi kan ya. Nah, mudah-mudahan harapannya dengan cara ngedengerin lagu-lagu kita bisa jadi dapat feel yang sama.

Awal mulanya waktu itu pop kan?

Iklas: Nggak, lebih ke dream pop aja, shoegaze.

Tapi kenapa kalian namanya Sanggabuana-pop?

Ikhlas: Sanggabuana tuh, tadinya rumah gitaris kita, Eza, rumah orang tuanya sih. Jadi di Cipanas itu ada satu hotel, sebenarnya nama tempatnya bukan itu, bukan Sanggabuana, nama tempatnya naonnya? Pancet ya? 

Rofi: Cipendawa.

Ikhlas: Cipendawa, nama daerahnya tuh Cipendawa. Tapi karena si hotel itu tuh udah lama, mungkin dari tahun 80-an juga udah ada, jadi orang Cipanas terkenal daerahnya dipanggil Sanggabuana. Heeh, padahal nama daerahnya mah bukan Sanggabuana. Gara-gara ada hotel Sanggabuana udah lama, nah jadi disebut Sanggabuana. Nah, dulu yang sempat jadi manajer kita gitu dari awal, tapi sekarang sayangnya sudah nggak gitu, teman kita juga, Rezki. Celetukannya aja, kayak mungkin kalau di US ada Seattle sound, nah ya udah kita bikin aja Sanggabuana-pop biar gampang inget aja sama orang.

Oh, nama daerah?

Ikhlas: Daerah.

Rofi: Dan lebihnya, Eki ini tuh lebih sering nonton anime. Ada namanya animenya tuh Beck. Nah, Beck yang band itu terus dalam satu episodenya ada yang berjudul Mongolian Chop Squad. Yang mengatasnamakan si band ini tuh disebutnya itu. Nah, Eki tuh ngambil dari dari situlah si nama si Sanggabuana-pop tuh. Pertama benar kata Otot, mudah diingat, kedua jadi lebih catchy aja terdengarnya: Sanggabuana pop. Jadi seperti itu.

Iklas: Terus, ini nyambung lagi sama materi yang di awal sebenarnya. Jadi dua pilihan yang satu dream pop yang satu sekarang jadi Gamang tuh, kita pengen niatnya lebih lebar aja. Kalau misalkan kayak yang tadi Imam bilang, kita memang muncul dari skena hardcore-punk gitu, yang di mana itu tuh udah segmented banget kan. Nah, dengan bikin band pop tuh sebenarnya kita pengen keluar dari zona itu. Karena kalau misalkan milihnya dream pop atau shoegaze tuh masih tetap segmented. Nah, di situ tuh udah ada gambaran bahwa kita pengennya lebih bebas aja gitu. Dengan materi-materi yang sekarang kalau mau ada shoegaze-nya bisa, kalau mau dibikin akustik juga bisa. Nah, Sanggabuana-pop tuh udah lumayan mewakilin gitu, kalau orang lain nanya genrenya apa, jadinya ya udah jawabnya Sanggabuana-pop aja. Terserah kalian ngedengerin lagu yang mana, menganggap lagunya kayak gimana, ya terserah, pokoknya itu Sanggabuana pop aja.

Tapi kalian dulunya pernah ngeband?

Ikhlas: Ada yang udah, ada yang memang pertama kali.

Yang pertama kali siapa?

Ikhlas: Rofi di vokal kayaknya pertama kali, Fi? Maneh pernah nge-band teu sih? 

Rofi: Enggak.

Ikhlas: Oh, kayaknya Rofi doang yang pertama kali.

Awalnya dulu pernah ngeband bawain apa?

Ikhlas: Kalau aku, band aku sampai sekarang masih pada jalan. Ada The Kuda sama ada Durga. 

Imam: Kalau aku dulu sih band hardcore, youth crew gitu, namanya Count sih. Band SMA, kelas 1 SMA gitu. Pada kenal Iskandar sama Reja itu di itu di band-bandan gitu, di skena hardcore punk. Ketemu di gigs-gigs gitu.

Cipanas teh di Bogorkan ya?

Ikhlas: Sebenarnya secara KTP mah Cianjur masuknya. Secara letak, lebih dekat perbatasan Bogor. Ujung, kayak Ciater mereun di Bandung mah gitu. Masuknya Subang, tapi kan lebih dekat ke Bandung.

Oh, baru-baru ini juga tadi lihat kalian tuh masuk record label Gedung Empat, boleh diceritain itu gimana bisa sampai kesana?

Rofi: Itu lebih ke obrolan tongkrongan awalnya. Lebih ke aku kenal si A, si A ini kenal sama si  B, kayak gitulah. Sesimple itu, hanya jadi silaturahmi aja awalnya. Cuman pas kami merilis EP Muram, ternyata tim mereka tuh sudah memantau lah dalam artian sudah kebayang mau dibawa kemana selanjutnya si Daily Breeze. Nah, pertama ketemu dengan Gedung Empat tuh adalah turnya Alkateri, yang pertama titiknya di Sukabumi. Waktu itu opener-nya adalah kita. Di situ ngobrol panjang. Awalnya nggak kepikiran sampai sejauh ini ya. Jadi hanya aku suka lagu kamu, sesimpel itu. Ternyata berjalannya waktu, mungkin ya memang jodoh pada akhirnya. Jadi nemu aja hal-hal baru yang mau dibuat dengan si Daily Breeze inilah. Nah, sampai akhirnya kita memutuskan untuk kerja sama dengan Gedung Empat. Jadi awalnya lebih ke tongkrongan, obrolan tongkrongan.

Soalnya tadi juga kan ngobrol sama Skandal, mereka juga ke sini, bisa kolab sama orang-orang di Bandung itu karena pertemanan. Menurut kalian pertemanan sebagai band tuh sepenting apa sih?

Rofi: Aku lebih ke bukan kata penting sih, tapi wajib. Wajib dalam artian dalam hal baik, hasilnya apapun itu pasti lancar deh. Dalam artian first impression-nya bagus, itu tuh menghasilkan karya juga menurutku, entah itu silaturahmi, entah itu nantinya kayak Skandal misalkan bisa berkolaborasi gitu, ya nggak jauh juga kita berawal dari pertemuan pertama yang mengesankanlah.

Ikhlas: Dan sebenarnya kalau buat kita, buat Daily Breeze lah ya gitu, buat kalian yang belum tahu juga, kita tuh lahir dari satu kolektif, namanya Metaklab. Metaklab tuh sampai sekarang masih punya agenda namanya Night Creatures, yang sekarang agendanya sudah ke-40, 45, 46 lah, gitu. Nah, itu 100% gigs non-profit. Maksudnya non-profit tuh non-profit uang ya. Tapi profit yang bakal didapat itu link, channel dan lain-lain. Jadi setiap band atau setiap penonton yang datang silahkan guyub masing-masing, gitu. Nah, itu tuh sudah seharusnya mencerminkan bahwa ya pertemanan itu sudah sudah nomor satu aja, lebih dari apapun. Bahkan kita ngelakuin itu yang tanpa materi.

Imam: Pertemanan menurut saya penting banget sih. Dan banyak juga sih kenalan-kenalan dari kota-kota, kota Bandung, misalkan Bogor, ada Swellow gitu teman-teman, itu menambah relasi juga sih buat saya.

Tertarik soal Metaklab, kalian juga ikutan semuakan?

Iklas: Semua ikutan. Daily Breeze tuh lahir dari Metaklab. 

Oh. Kalau band-band lain yang lahir dari Metaklab apa aja?

Iklas: Ya band aku, Durga sama Daily Breeze lahir di Metaklab, kebanyakan hardcore punk sih. Dan Metaklab tuh sekarang tuh jadi ajang untuk transit dan promosi buat band-band tur. Karena letak geografis kita kan ada di tengah-tengah antara Bogor, Jakarta sama Bandung. Jadi otomatis kan itu kota-kota yang biasanya ya disinggahi sama si band. Nah, biasanya dari Jakarta ke Cipanas, ke Bandung atau sebaliknya. Jadi bisa dipakai singgah, makanya lumayan banyaknya malah berjejaring sama luar Cipanas. Jadi itu tuh salah satu apa ya, jalan keluar mungkin, karena Cipanas kan ruang lingkupnya lumayan kecil, orangnya itu-itu aja. Nah, salah satu jalan keluarnya itu tuh dengan kita bikin gigs regular terus-terusan satu bulan sekali, satu bulan dua kali. Jadinya menambah relasi dari luarnya cepat. Bahkan band-band Bandung juga kayaknya notabennya kalau yang pada baru pasti ke Cipanas sih, kebanyakan.

Kan kalian baru rilis Maxi single dua lagu judulnya Dunia sama Rubi

Ikhlas: Iya, Dunia sama Rubi itu cikal bakal album. Nanti masuk ke album.

Rencana album kapan?

Iklas: Mudah-mudahan awal tahun sih beres lebaran. Soalnya nanggung aktivasinya. Sebenarnya sudah beres semua, semua materi album tuh sudah selesai. Cuman tinggal nunggu waktu yang tepat aja, belum nemu waktu yang enak.

Kalau dari pembuatan band sampai ke bikin lagu, benar-benar rekaman itu berapa lama kira-kira?

Ikhlas: Prosesnya lumayan lama, karena tadinya tuh kita, dalam tanda kutip kayak tidak menseriuskan semua ini, gitu. Tadinya ya udah nge-band aja, gitu. Terus ditambah sebelumnya kayak Rofi kendala kerja, masih kerja corporate dan yang lain-lain, banyak lika-likunya lah, makanya lumayan panjang pertama Gamang tuh tahun 2019, EP kita di-2023. Jadi ada 4 tahun sampai EP. 2026 single lagi, entar 2027 album. Sebenarnya agak ngebutnya ke sini-ke sini, ya setelah dirasa ternyata kita harus bertanggung jawab sama karya yang sebelumnya kita buat, ternyata yang dengerin lumayan banyak, gitu. Nggak expect ke sana tapi jadi trigger, “Oh ini kita nggak bisa main-main doang nih kalau sekarang”. Kayaknya harus ningkat ke level yang lebih serius, makanya penggarapan album sekarang tuh lumayan optimis kayak projek paling optimis sejauh ini, paling digarap secara serius juga.

Emang dulu ga serius, haha?

Ikhlas: Serius cuman masih banyak main-mainnya, kalau sekarang memang full serius. Lumayan serius lah ya untuk band dari daerah mungkin.

Terus album di tahun depan kira-kira ya. Sudah ada berapa materi kira-kira?

Iklas: Totalnya 10.

Pakai lirik bahasa Indonesia semua? 

Iklas: Bahasa Indonesia. Full bahasa Indonesia. 

Tadi di departemen lirik siapa, apa campur? 

Iklas: Campur. 

Boleh diceritain itu tentang apa gitu?

Ikhlas: Banyak, beda-beda. Cuman mungkin gini untuk gambaran album tuh kita tuh tidak sengaja jadi konsep trilogi, mungkin bisa disebut gitu, ya Fi?

Rofi: Iya.

Ikhlas: Tidak sengaja jadi konsep trilogi, gitu, tiga sangkutan yang nyambung. Jadi EP pertama kita judulnya Gamang, ya Gamang itu mencerminkan ya ini aja perasaan gamang, gitu, bimbang. Terus EP kita judulnya Muram, lebih deep gitu, lebih sedih. Nah, album sebenarnya belum ada nama judulnya, tapi secara overall konsepnya lebih senang aja, ceria, gitu. Kayak Dunia sama Rubi yang sudah keluar tuh, yang satu menceritakan rasa syukur anak, yang satu rasa sayang atau rasa cinta ke orang tua, gitu.

Terus mungkin ini dua pertanyaan terakhir, kesan-pesan dan main tadi di showcase-nya Skandal?

Rofi: Mungkin aku mulai dengan unlock achievement dalam artian si Daily Breeze sendiri entah itu personal ataupun grupnya, banyak mendengarkan Skandal awalnya. Itu Lemon yang masih berbentuk single, sampai di titik sekarang album penuh. Dan Lemon pun masuk ke situ, sangat seru sekali. Jadi pada akhirnya yang dulu hanya jadi tontonan sosial media gitu, entah itu YouTube atau yang lainnya, ya sekarang lebih ke, “Ternyata seru juga ya ngobrol dan satu panggung pada akhirnya,” gitu. Kalau ditanya seru kesannya sangat seru sekali dan senang sekali.

Imam: Kalau dari saya mungkin kesan-pesannya, senang banget sama hampir kayak Rofi sih, dengerin semua album yang Melodi itu. Sangat suka sekali terutama yang judulnya Melodi sih dengan gitarnya yang khas gitu. Dan nggak expect juga sih sebanyak ini yang nonton Daily Breeze. Senang sih, senang banget.

Ikhlas: Lebih apa ya, haneuteun. Tapi di Bandung, jujur setiap manggung di Bandung tuh memang feel-nya senang banget. Tapi sejauh ini yang lumayan penontonnya lumayan banyak kali ya disini. Tapi selalu gini perasaannya hampir selalu sama, selalu senang, gitu. Ya mudah-mudahan sampai ke depannya setiap main di Bandung harus senang terus. Amin.

Oke, sekarang pertanyaan terakhir, satu lagu favorite dari Skandal dan alasannya?

Ikhlas: Lemon, catchy aja gitu, terus hook-nya kayak terngiang-ngiang, sekali ngedengerin langsung terngiang-ngiang.

Rofi: Aku Sakarin. pertanyaannya kenapa, itu lebih ke featuring yang sebenarnya kan kalau ngomongin featuring dengan cewek sama Lemon pun sama. Cuman kayak lebih porsinya lebih lengkap lah. Kalau makanan tuh ingredient-nya lebih banyak, gitu, ada kerupuknya, ada sambalnya dan apapun itu di dalam piring itu, nah itu tuh lagu Sakarin. Pesannya dapat gitu. Mungkin bagi saya itu lumayan, kalau suruh milih dari berapa berarti? 10 track kalau nggak salah, 10 track, aku akan milih Sakarin.

Imam: Kalau saya yang tadi sih yang Melodi. Ya, karena vibes-nya aja cerah sih kayak ceria gitu. Enak kalau dipakai buat motoran, berkendara mobil misalkan. Saya suka dengerin sih, vibes-nya lebih cerah aja, lebih enak gitu buat sore-sore, pagi-pagi gitu dengernya.

Terima kasih buat teman-teman dari Daily Breeze

Rofi: Sama-sama Iman, salam kenal, aku Rofi, Imam, dan Otot. 

Otot? Namanya Ikhlas?

Ikhlas: Ikhlas sebenernya, cuman banyak orang yang manggilnya Otot.

Sukses dengan albumnya, semoga lancar. 

Ikhlas: Semoga magangnya selesai, bisa langsung kerja. 

Amin, oh iya, ini terakhir beneran, buat pendengar dari Daily Breeze, kenapa harus mendengarkan album kalian?

Rofi: Aku nggak bisa bikin definisi yang khusus harus mendengarkan, tapi setidaknya dengarkan dulu, nanti hasilnya akan tahu sendiri kenapa kamu harus mendengarkan Daily Breeze.

Terima kasih Daily Breeze

Words & interview by Iman Hadiansyah
Photos by @zakihwhy & @noisemann