Baskara Rizqullah A.K.A. Basboi mungkin adalah anomali dalam kultur hip hop Indonesia: dia tidak berpakaian seperti rapper kebanyakan, dia lebih memilih untuk hang out bersama pemain band, dan dia terpapar oleh banyak referensi yang berada diluar kultur hip hop itu sendiri. Rapper & lyricist ini merantau dari Medan dan kuliah di UNPAD Jatinangor, dan kedua skena Medan dan Jatinangor ini pun mulai membuka wawasan bermusiknya. Mari berbincang dengan Basboi mengenai Tyler the Creator, album-album hardcore favoritnya dan culture flexing di social media.

“Selalu ada tempat spesial di hati gue untuk brand keren, punya identitas tapi price point sesuai harga kantong street. Ya streetwear. Relevan, hadir di masyarakat. Bukan jadi brand elitist yang cuma mampu dibeli oleh kalangan ekonomi tertentu dan jadinya gak relevan dan gak sustain.“

Album “Adulting for dummies”, yang dirilis tahun 2021 lalu banyak mendapat respon positif. Kalau lo menempatkan diri lo sebagai kritikus musik, review dan kritik apa aja yang akan lo katakan untuk “Adulting for Dummies”?
Wow.. Pertanyaannya bagus banget hahahahahaha. Kalau gue jadi kritikus musik yaa.. Sulit banget hahahahah! Kalau gue jadi kritikus musik yang ngereview “Adulting For Dummies” i would say: “antar track secara musik, dijahit dengan narasi, tapi tidak secara “sound”. Kalau saja secara sound bisa lebih runut seperti narasinya, akan buat album ini lebih kohesif lagi. Itu aja kali yaa.. Bingung hahahaha…

Apakah lo sudah puas dengan album itu secara musikal?
Cukup puas. Gue bisa mainin dan explore semua jenis sound yang gue suka dari ragam referensi yang gue suka. Yang mana kebanyakan malah bukan hip-hop. Dan gue mainin itu sesuka hati gue. Dengan hasil akhir yang bisa dengan pede gue bilang tercipta kesan soundnya “Basboi” banget.

Kita sempat melihat lo berfoto bareng sama Tyler di Paris. Seberapa besar pengaruh Tyler di musik dan diri lo dan apa pendapat lo tentang Tyler?
Besar banget ya bisa gue bilang. Secara musik dalam artian “sonic” sih enggak banyak. Gue suka dia bukan dari aspek musiknya sih yang paling besar. Yang paling besar itu mindset dan visual sih. Mindset dalam artian Tyler itu adalah figur musik/seni pertama yang gue liat ga bisa dikategorikan. Maverik dan unorthodox. Dia rap, Hip hop tapi doesn’t look like one & doesn’t really sounded like one. Yang bikin gue kecantol banget awalnya sama dia adalah pas gue nonton video live nya Trash Talk. Judulnya Trash Talk 119. Ada dia dong, dan itu bikin gue kaya “anjing gue mah bebas mau dengerin apa aja, mau form self expression gue kaya gimana”. Biar kata hal-hal yang gue sukai ga ada korelasinya, gak nyambung, ato kontradiktif justru itu yang bikin gue otentik. Sama kaya dia jadi otentik. Gue ga harus ngikutin format populer dari suatu bidang, misal hiphop harus begitu looks dan referensinya.

Mungkin gue outputnya hip hop, tapi gue sendiri ga se hip hop itu. Growing up gue malah dengerin musik punk/hardcore dan kultur skateboarding. Pop easy listening kaya Dewa, Radja, Tipe-X juga gue suka sampai Jason Mraz. Disaat gue tidak mengikuti format populer dari suatu bentuk, gue malah bisa jadi otentik. Udah ga penting musik gue hip hop, rap, metal, ya musik gue musik Basboi aja. Dan gue dapet mindset itu dari Tyler. Tyler juga inspires gue untuk gak ngebatasin diri gue dalam 1 format. Gue bisa bikin apapun yang gue mau dengan karakter kuat yang gue punya. Baju kah, presenting kah, ngelawak kah, apapun itu. No wonder he named himself the creator. Not the rapper, the musician.

“Gue sebisa mungkin mengusahakan diri gue terpapar sama banyak referensi yang luas dan bagus-bagus aja”

Fashion lo cukup standout diantara rapper lain. Siapa saja fashion role model lo? Dan mungkin bisa sebutkan top 5 brand lokal favorit lo?
Udah pasti Tyler itu salah satu fashion role model gue. Tapi sebenarnya gue lebih ke certain look, karena sebenarnya ga ada satu orang yang gue patok semua looksnya gue jadikan acuan. Terkadang orang yang kita gatau siapa nongol di explore IG oh nice nih looks nya juga bisa. Gue sebisa mungkin mengusahakan diri gue terpapar sama banyak referensi yang luas dan bagus-bagus aja tanpa mematok si A, si B si C untuk jadi patokan gue.

Kalau untuk brand-brand lokal favorit gue saat ini Pot Meets Pop, gue suka sama spirit dan attitude nya. Sekarang gue lebih suka lagi karena mereka lebih ke general fashion items dan gak terlalu denim-deniman, soalnya gue juga gak segitunya pakai denim, pegel pak. Elhaus gue suka banget cara mereka maneuver dari awalnya denim jadi yang seperti sekarang. Secara branding gue sangat appreciate mereka bisa sustain market mereka dan bisa nembus pasar luar. Price mereka pun wajar sesuai dengan value produknya. Lo dapet apa yang lo bayar, bukan overpriced bullshit. Based Club dong pastinya, gue udah beli dari dulu sebelum di support. Dari jaman gue kuliah jaman di Jatos. 2014-2015 belum banyak brand lokal yang estetika nya soft, kebanyakan yang hitam-hitam galak gitu kan. Selalu ada tempat spesial di hati gue untuk brand keren, punya identitas tapi price point sesuai harga kantong street. Ya streetwear. Relevan, hadir di masyarakat. Bukan jadi brand elitist yang cuma mampu dibeli oleh kalangan ekonomi tertentu dan jadinya gak relevan dan gak sustain. Jadi geek club yang gak relevan dan gak hadir di masyarakat. Gue suka banget Play With Pattero. Jarang ada yang sentuh area itu, sekarang udah banyak pakaian rajut cowok kue, tapi mereka salah satu yang thriving banget dari awal. Keliatan mereka bukan riding the trend knitwear. Banyak brand yang riding the wave knitwear untuk quick cash, dan bukan untuk sustainability dan longevity. Anjayy ngomong apa sih gue.. Terakhir Voted Socks. Bagus banget bahannya dan enak banget dipakai. Bukan soal tagline, atau branding personality nya. Cuma ini sih no bullshit buat gue, udah aja bagus produknya top banget. Fungsional.

Tadi lo bilang growing up banyak dengerin musik punk dan hardcore. Gateway lo ke musik hc/punk awalnya dari mana? Sekarang lagi suka album apa aja yang masih di ranah hc/punk?
Medan in general music scene sampai sekarang ga gede. Dulu ada dominasi hc/punk. Madafaka Records cukup mendominasi di Medan, talent nya banyak ada Martyr, No One Cares. Sampai tur asia tenggara mereka tuh. Gue juga bikin band namanya Mind War. Belum band punk nya. Sebagai orang yang suka musik, dulu sangat mudah untuk terseret ke arus itu. Kalau untuk sekarang yang gue suka si Turnstile “Glow On” udah pasti. Terus ada OVLOV yang “Buds” entah punk atau engga itu, bingung juga gue genre sekarang. Itu dua jadi heavy rotation kalau spesifik hc/punk. Yang dulu-dulu masih gue denger sampai sekarang itu “Nothing to Prove” H20 dan “Songs to Scream at the Sun” nya Have Heart. Masih sering gue puter tuh sampai sekarang.

“Adulthood di mata gue soal kompromi sih. Seberapa jauh lo mau kompromi untuk apa yang mau lo kejar. Karena orang dewasa harus tanggung jawab dan gak akan bisa kalau ga punya disiplin, komitmen dan etos kerja.”

“Adulting For Dummies” adalah judul yang menarik untuk sebuah album. How’s life and adulthood di mata Basboi?
Thank you man. Life’s been very good. Gue manggung sana-sini, tawaran lagi oke. It’s been very good lah, relationship aman, hubungan sama orang tua, teman dan orang-orang yang gue sayangin aman. Sama rekan-rekan bisnis juga aman. Adulthood di mata gue soal kompromi sih. Seberapa jauh lo mau kompromi untuk apa yang mau lo kejar. Gue dulu pengan ada di posisi gue sekarang tapi bangun siang melulu. Effortnya cuma lempar-lempar lagu terus berharap suatu hari pecah. Gak punya etos kerja dan disiplin. Ngorbanin waktu main untuk kerja adalah kompromi yang harus gue lakuin. Ternyata dengan melakukan itu hidup gue jauh lebih nikmat walaupun terasa berat di awalnya. Kompromi, konsisten dan komitmen, jawabannya lumayan normatif dan klise, cuma untuk adulthood jawabanya ya buat gue cuma kompromi. Kalau self-discovery itu kan pre-adulthood kan ya. Karena orang dewasa harus tanggung jawab dan gak akan bisa kalau ga punya disiplin, komitmen dan etos kerja. Begitu bree…

Lo juga sempat berkolaborasi dengan Noni di lagu “WRITTENINTHESTARS”. Gimana background collab itu terjadi dan tentang apa sih tema lirik lagu-nya?
Collabnya beneran Noni ngontak gue dan nanyain mau ga? KAta gue kirimin aja. Gue ngerasa cocok banget sama musiknya. Noni kirim jam 4 sore jam 6 udah beres gue tulis verse gue. Kalau dari Noni sih ini lagu tentang seorang cowok yang mungkin crush-nya dia. Kenapa harus malu-malu, secara zodiak kita sudah cocok. Kalau verse gue karena gue ga terlalu percaya zodiak, gue seperti ga penting juga soal zodiak, karena kita yang menentukan what is written in the stars. Kalau memang kita saling effort, dan itu bakal terjadi terlepas dari apapun yang tertulis di langit, kita yang nentuin nasib kita. Seperti di lirik “Nasib kita di tangan kita behind the wheel”. Kalau menurut zodiak lo bakal jadi orang sukses tapi kerja lo leha-leha, lo bakal jadi ampas selamanya..

Bagaimana pendapat lo tentang flexing culture di social media?
Sah-sah aja ya, seru-seru aja asalkan lo juga pantas buat flexing. Sorry to say, kalau lo masih di tahap token listrik bunyi atau isi bensin cuma sanggup 100rb ga sanggup full tank, tapi lo flexing pake sepatu 6 juta lo tolol sih. Kalau mau flexing yang sabi lah kaya gue foto sama Tyler hahaha!

Gue suka orang flexing yang punya basis achievement. Mostly gue suka flexing yang berbentuk prestasi ya, bukan materi. Tapi ada juga terkadang pencapaian materi lo itu pencapaian prestasi seperti “ini mobil pertama gue”. Tapi kalau yang kaya pemaksaan, hidupnya sulit tapi pakai Carhartt atas-bawah, padahal makan aja sulit. Itu ga masuk ke flexing sih lebih ke tolol aja..

Scene musik Jatinangor pada saat lo dulu tinggal di sana seperti apa?
Waktu gue tinggal di sana dulu band punk banyak, dan band kampus yang variatif banyak. Ada Breh and the Bangsat, Alzheimer Grind, Oscar Lolang dengan folk yang bukan format populer. Ada band-band punk kampus yang absurd banget, ada The Panturas, si Gogon basisnya The Panturas juga punya band orkes komedi, tapi rap kayaknya cuma gue doang di Jatinangor, dan emang belum populer juga. Terlepas dari apapun, yang paling gue suka dari scene Jatinangor itu adalah mereka tetap support gue walaupun mereka gak ngerti musik gue. Jadi itu juga ngasah skill gue kaya bermusik ya bermusik aja. Secara natural gue juga nongkrongnya sama anak band. Dan gue juga lebih senang terasosiasi sama anak band dan musisi. Bukan cuma sekedar showmanship “ah ah, yeah yeah”. Dan gue jadi lebih bisa menghargai inklusivitas.

Top 5 Kuliner Medan favorit lo?
– Bihun Kari RM Tabona
– Mie Bangladesh Warkop AGEM Senyum Ketawa
– Kwetiau Akuang
– Dimsum Nelayan
– Srikaya Medan

Seberapa sulit menulis lirik Indonesia menurut lo?
Awalnya gue pikir sulit ternyata gak sulit sama sekali. Orang pikir susah karena gampang cringe. Ya emang lo nya aja nyembah bule. Lirik bule aja banyak banget yang cringe dan ketahuan gak sekolah. Karena kita udah kepatok standar bule jadinya gampang jijik sama lirik Indonesia. “Ihh alay, ihh katro”. Ga norak nyet, itu emang kita aja kaya gitu. AKan lebih mudah nulis lirik Indonesia kalau menurut gue dengan manner seperti lo biasa ngomong. Lirik gue ga pakai bahasa baku dan sastrais. Tapi gue lebih ke diksi-diksi dan pelafalan seperti gue ngomong Medan sehari-hari. Ya gue akhirnya menulis lagu dengan manner sehari-hari gue berbicara. Liat aja Slank ngomong sehari-hari gitu lirik nya gitu juga. Karena menurut gue itu bahasa ibu dan sudah pasti lebih mudah untuk kembali ke dasar dibanding menjadi yang lain, kalau menurut gue.

Track terakhir di album lo judulnya “Bismillah”. How religious have you gotten throughout the years while making music?
Not much ya bisa gue bilang hahaha. Religiously speaking, i’m just the same man as before. With all the flaws and law-breaking juga. Bismillah itu lebih ke berharap dan berdoa untuk apapun yang gue lakukan. Seperti orang kaya gue juga pantas untuk berdoa, memohon kelancaran dan meminta belas kasih Tuhan. Dan berbangga akan hubungan lo sama Tuhan itu gak harus setelah lo religius, jidat hitam dan celana ngatung. Atau dalam format terkesan religius dalam konteks budaya bebas lain. Sekotor-kotornya lo tuh berhak punya hubungan spesial dengan Tuhan lo. Gak harus jadi suci dulu. Mungkin secara religius not much, tapi secara spiritual gue lebih in tune aja with myself and with my creator. Juga dengan sesama. Habluminallah habluminannas. Yo’i.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Basboi’s IG & Archives

Jika kamu pernah membeli kaset Pesta Rap pada tahun 1995, maka tentunya tidak asing dengan Blakumuh yang merupakan salah satu hip hop group veteran. Mereka juga sempat berkolaborasi dengan Sweet Martabak untuk membuat P-Squad dan juga sempat membantu performa live Iwa K. Setelah sibuk oleh proyek masing-masing, di pertengahan tahun 2022, MR.EP dan Doyz kembali menggebrak dengan merilis album Dekaden Lintas Dekade. Simak perbincangan Jeurnals bersama Blakumuh berikut ini.

“Kalau hip hop trap kayaknya engga, waktu buat kita sudah berhenti di tahun 1999. “

Tahun 1995 single kalian ‘Kaum Kumuh’ debut di Pesta Rap 1, dan ‘SOS’ tampil di Pesta Rap 3 tahun 1997. Kenapa baru buat debut album Blakumuh di tahun 2022?

MR. EP: Sebenarnya udah ada album, P-Squad tahun 2001 hahaha

DOYZ: Jadi waktu itu mereka punya wacana untuk bikinin album kita dan Sweet Martabak, jaman dulu kan cost nya gede untuk rekaman. Masih pakai pita dan waktu ga efisien. Mereka melihat kita berempat (Blakumuh dan Sweetmartabak) cukup akur, yaudah deh disuruh bikin supergroup aja berempat. Rilis satu album.

Siapa yang memberi nama Blakumuh? Ide nya dari MR.EP atau DOYZ?

MR.EP: Sebenarnya itu nama dari announcer-announcer departement store kaya Matahari, Borma & Ramayana. Dulu tiap minggu kita ke Blok M ngamen. Nyari panggung dan mencari jam terbang. Ngasih tau ke orang hip hop itu kayak apa. Kan biasanya ada information di depan toko-toko itu. Mereka biasanya nyediain baju buat kita pakai dan kita nge-rap disitu.

DOYZ: Salah satu announcer booth itu tuh. Kan Ramayana ada announcer yang suka ngasi tau diskon. Mereka melihat kita dekil, pakai sendal jepit dia bilang “Blakumuh lo” hahaha.. Dulu pas kita SMA kelas 3 itu umur 16. Dulu Blakumuh itu kuartet berempat. Yang di Pesta Rap sudah berdua tapi. Kebetulan sudah almarhum dua-duanya.

MR.EP: Dulu sebelum hip hop saya sempat ngeband thrash metal sampai grindcore. Bawain Sepultura, sempat juga bawin Morbid Angel sampai Terrorizer..

DOYZ: Saya sempat bawain Faith No More, groove metal hahaha..

Selama ini proyek solo masing-masing apa aja?

DOYZ: Kalau saya sendiri rilis album solo 2002 (‘Perspektif’), rekaman dan ngumpulin materi udah dari 1997 dari abis jaman Pesta Rap 3. Erik (MR.EP) juga punya band ya?

MR. EP: Ada Native, jazz-hop gitu tapi ada band nya kaya The Roots hahaha. Lengkap playernya, ada drum dan udah main di gigs-gis jazz kaya Java Jazz, Soulnation. Masih ada orang-orang nya cuma belum diaktifkan lagi hehe..

Kalau album solo DOYZ yang ‘Demi Masa” bareng Morgue Vanguard itu gimana background pembuatan nya?

DOYZ: Itu awalnya dari album solo gue yang kedua “Oblivion” pas 2015. Kita juga udah niat pengen nge-revive Blakumuh disitu makanya ada 2 track yang ada Erik nya. Waktu itu kita rilis nya sharing, Baturaja Records dan Grimloc. Sekalian ajak Ucok ngisi satu lagu yang ‘Testamen’. Lalu habis itu ketagihan, 2017 bikin lagi yang “Check Your People’. Abis itu ada ide untuk bikin mini album. Pas 2018 itu tuh proses album rekaman Blakumuh berbarengan sebenarnya dengan ‘Demi Masa’. Cuma karena satu dan lain hal yang menghambat, rilisnya yang ‘Demi Masa’ dulu. Dari single, jadi EP dan akhirnya malah jadi LP hahaha..

Cover kalian adalah homage/tribute terhadap Organized Konfusion yang album “stress”. Ada cerita apa dibalik konsep artwork itu? siapa saja yang terlibat?

MR. EP: Tribute sih sebenarnya ya, beberapa ide juga dari kita dan Ucok. DIbantu Aldy dari Drips & Drops. Akhirnya ketemu lah sama Crack The Toy

DOYZ: Dari pihak kita dan Ucok juga sebenarnya ga ada jembatan untuk ke Crack, yang kenal Aldy jadi dia jadi mediatornya. Sebenarnya awalnya pengan format foto dan ada lukisan nya. Kenapa ga bikin homage ke Organized Konfusion aja yang album Stress.

MR. EP: Itu album yang sangat berpengaruh sekali buat kita. Golden age of hiphop banget.

DOYZ: Saat itu duo hiphop yang bagus gak banyak ya, cuma Organized Konfusion aja mungkin. Banyaknya trio kaya Cypress Hill, Naughty By Nature, RUN DMC, Erik B. & Rakim aja yang satunya lagi DJ haha. Jadi si Organized Konfusion ini relate banget sama Blakumuh..

Top 6 album hiphop 90an favorit kalian?

MR. EP: Big Daddy Kane yang “Long Live the Kane”, pas jaman dia lirik-lirik nya tuh kena banget dan multi-syllable. Dia salah satu yang paling gila saat itu. KRS-ONE “Return of Boombap” the best lah. Dari lirik dan musiknya udah deh susah ngomongnya hahaha. Sama album pertama nya Naughty by Nature yang ada “O.P.P.” the best tuh.

DOYZ: Saya sih “It Takes A Nation..” nya Public Enemy. Waktu itu kayaknya ga ada yang bikin album kaya gini. Kanonik banget rasanya. Out of the blue ada album kayak gitu. SOund gila dan berisik, lirik nya juga gokil dan politikal. Kita sih gak ngerti cuma kok keren banget. Big Daddy Kane yang “Long Live the Kane” . Ini orang suaranya enak banget, pimp banget gayanya dan cool, tapi dia bisa deliver teknik rap yang gak hilang. Mungkin kalau materi itu dibawain sama Kurtis Blow gak mungkin bisa sekeren dia haha. Terakhir Eric B. & Rakim yang “Don’t Sweat the Technics”. Memang relate sama kita yang awalnya suka dengerin lagu itu di disko haha. Cukup nempel di kuping. Dan ada soundtrack Juice yang “Know the Ledge”, itu anthem kita banget pas jaman SMA hahaha..

Kenapa memilih sound dan musik boombap klasik ala golden age of hip hop untuk album “Dekaden Lintas Dekade”?

MR. EP: Simple aja, sound klasik karena kita orang klasik hahahaha! Ya pengen bawa aja knowledge dan legacy Blakumuh yang selama 29 tahun ini gak pernah keluar album.

DOYZ: Balik ke identitas awal kita. Sebenarnya kita mulai dari suara-suara yang seperti itu, walaupun tahun 1993-1995 kita sempat nge G-Funk, yang single pertama Pesta Rap ‘Kaum Kumuh’ itu kan G-Funk banget hahaha. Sempat lah kita manggung bawain lagu Snoop dan Warren G. Sekarang balik lagi sih. Kalau trap kayaknya engga, waktu buat kita sudah berhenti di tahun 1999. Tahun 1999 sudah selesai hahaha. Kalau yang baru-baru kita juga masih ngikutin tapi nyari yang suara nya sama, kaya Griselda Records, Roc Marciano, sound nya masih familiar buat kuping kita.

Bagaimana awalnya memutuskan untuk bekerja sama dengan Napalm Squad?

MR. EP: Karena awalnya ya taste nya sama, dengerin nya sama, dan temen juga…

DOYZ: Seperti yang Ucok pernah singgung di presscon kemarin, walaupun kita beda di Jakarta dan Bandung, karena kita tumbuh di era yang sama pasti referensi nya juga pasti sama sebenarnya. Apa yang Ucok dengar pasti sama dengan apa yang kita dengar. Ya pasti relate aja karena grow up di era yang sama. Dari awal Ucok bilang “pokoknya kalau Blakumuh rilis gue yang produserin”. Dia mungkin punya desire yang gede untuk menampilkan sonik-sonik jadul itu di album kita hahaha..

Blakumuh sempat manggung di Dago Elos. Bisa ceritakan mengenai support dan solidaritas kalian dengan kawan-kawan terhadap pergerakan warga Dago Elos?

DOYZ: Kalau kasusnya sendiri di media sudah banyak ya. Tapi kalau dilihat dari pengalaman saya sendiri relate karena saya korban gusuran urban dari tahun ‘90an. Jadi yang apa mereka rasakan (Warga Dago Elos) itu berasa banget di saya pribadi terutama. Saya yakin Erik juga dulu di kampung nya di Benhil dulu kena juga program penggusuran. Jadi hal seperti ini tuh relate banget. Dan hal seperti ini sampai sekarang ga berubah.

MR. EP: Iya sama. Mafia tanah nya masih sama.

DOYZ: Sekarang juga masih di inisiasi sama Ucok sih Festival Kampung Kota ini, cuma yang nanti malam tema nya hip hop, secara Ucok bapak hip hop hahaha.. Jadi dia mungkin gampang ngambil pengisi acara nya haha..

Musik hip hop sepertinya lebih praktis ya untuk rehearsal dan live set nya dibandung full band?

MR. EP: Ya kalau hip hop sih sebenarnya kita berdua juga bisa tanpa harus ke studio. Cuma dulu gue sempat bikin band karena ada dendam tersendiri. Dari jaman dulu tuh EO kalau kita check sound suka diremehkan “oh rap ya? Minus one doang kan?”. Yaudah akhirnya gue bikin band hip hop yang full band jadi dapet akses check sound yang proper hahaha..

DOYZ: Dulu kita sempat ikut Iwa K sih, disuruh backing in Iwa jadi hype man nya. Dia full band, keyboard aja ampe 2 hahaha, gitar bass, rame lah.. Seru. DJ juga sempat ada tapi kesini nya kayanya engga. Sekarang sih kita format nya pake DJ, classic hip hop: microphone dan DJ.

Pertanyaan terakhir: apakah para penggemar Blakumuh harus menunggu 20 tahun lagi untuk rilisan berikutnya?

DOYZ: Hahahahaha!

MR. EP: Hahaha.. Ya buat penggemarnya Blakumuh nanti mungkin saatnya kalian yang jadi Blakumuhnya nanti, kita yang dengerin haha..

DOYZ: Emang ada penggemarnya Blakumuh? Hahaha. Kita bikin fanbase aja dulu kali ya? Justru emang kadang mereka yang bikin semangat. Kalau tour sebenarnya pengen sih kalau ada yang sponsorin. Cuma mungkin kalau rekaman atau projek studio lagi belum dulu.

 

Words by Aldy Kusumah
Photos by Feri AlanÂ