Digelar di The Plug Space pada 5-7 Oktober 2024. MANKIND, HIJACK, DEVÁ STATES, SYMA, SAAMR, JEWEL BY BEPE & AKROSS akan menghadirkan showcase yang diberi nama “Distro”. Penamaan Distro terinspirasi oleh gerakan dengan nama yang sama, yang dipelopori oleh para pionir dari dunia fashion independen Bandung. Acara ini menjadi penghormatan dan warisan yang telah ditanamkan oleh para pendiri gerakan fashion kota Bandung.

Lokasi The Plug dipilih karena berada di jantung kota dengan traffic yang tinggi, menjadikannya melting pot bagi berbagai komunitas. Deva States, salah satu inisiator, menyebutkan bahwa mereka memiliki koneksi dan infrastruktur yang mendukung, serta The Plug sebelumnya telah menjadi pilihan bagi brand-brand besar kelas internasional.

Motivasi di balik kolaborasi ini adalah keinginan untuk menunjukkan bahwa produk-produk Indonesia tidak kalah dengan produk internasional. “Kami memiliki niat yang sama, dan karena pengalaman serta koneksi yang ada, kami ingin membantu brand-brand lain dari Bandung untuk memperkenalkan diri di pasar Jepang,” ungkap Fahmi mewakili Distro dan Hijack.

Setelah acara, masih belum ada kepastian apakah produk tersebut akan tetap dijual di Tokyo. “Kami akan melihat respons dari pengunjung terlebih dahulu. Itulah sebabnya kami mengundang semua yang pernah mendukung perjalanan kami di Jepang,” tambahnya.

Misi dari proyek Distro ini lebih dari sekadar showroom. Mereka ingin menciptakan sebuah platform diskusi yang aksesibel, menjadi media yang mampu membawa brand lokal ke panggung internasional dan memfasilitasi pertukaran ide di masa depan. Selain menghadirkan produk dari setiap brand yang terlibat, Distro akan merilis merchandise eksklusif edisi terbatas hasil kolaborasi antara Distro dan By.U yang hanya akan tersedia selama acara berlangsung.

Sebuah pameran kolaborasi berjudul “Burning Down the House” telah berhasil menyatukan bidang fashion, seni visual, dan musik dengan inspirasi dari lagu “Burning Down the House” oleh Taking Heads. Dalam upaya untuk menciptakan platform kreatif, pameran ini menghadirkan sepuluh seniman visual dan sepuluh band yang bekerja sama untuk menginterpretasikan elemen musikal dan visual ke dalam pasangan sandal Hijack Sandals. Melalui tur di tiga kota, yaitu Bandung, Yogyakarta, dan Malang, pameran ini tidak hanya mengeksplorasi hasil akhir karya seni, tetapi juga merayakan proses kreatif serta mempertemukan seniman dan audiens dalam sebuah pengalaman seni yang beragam dan mendalam.

Pameran “Burning Down the House” berhasil memadukan seni visual, musik, dan fashion dalam sebuah kolaborasi yang inovatif. Dengan menggabungkan sepuluh seniman visual dan sepuluh band, pameran ini menghadirkan karya-karya unik pada sandal Hijack Sandals. Tur tiga kota memperluas dampak pameran ini, memungkinkan interaksi langsung antara seniman, band, dan audiens. Lebih dari sekadar pameran, acara ini menciptakan platform inklusif yang memungkinkan ekspresi dan kolaborasi lintas disiplin seni, menjembatani kesenjangan antara berbagai bentuk ekspresi kreatif.

Daftar seniman dan band:

Conbini (Malang) -> Prejudize (Bandung)
Dizbones (Malang) -> Enola (Surabaya)
Fr3lan (Palu) -> Peach (Medan)
Haiza Putti (Jakarta) -> Kinder Bloomen (Jakarta)
Ivania Nabila (Yogyakarta) -> Dazzle (Malang)
Maruto Ardi (Bandung) -> Dongker (Bandung)
Medividi (Bandung) -> Drizzly (Surabaya)
Nomadé (Bandung) -> Keep It Real (Malang)
Safira Hanum (Bandung) -> Eastcape (Blitar)
Studio Pancaroba (Bandung) -> Skandal (Yogyakarta)

Hijack Sandals telah membuka toko pertamanya di Jepang pada tanggal 25 Maret 2023 lalu. Toko yang terletak di Shibuya PARCO ini sekaligus menjadikan brand footwear asal Bandung ini menjadi brand Indonesia pertama yang hadir di Shibuya PARCO yang menjadi kawasan pertokoan yang ikonic di dunia fashion terletak di jantung kota Tokyo.

Di toko barunya ini, Hijack Sandals memamerkan koleksi produk Hijack selama bertahun-tahun, mulai dari sepatu/sandal two-straps yang paling laris hingga Vibram-soled slides yang dipilih agar sesuai dengan cuaca musim semi dan musim panas di Jepang. Beberapa rilisan eksklusif Jepang pun akan segera mengisi jajaran produk yang ditampilkan oleh Hijack Sandals di tokonya tersebut.

Toko ini terletak di lantai tiga Shibuya PARCO disamping tenantnya visvim dan Vivienne Westwood bersama dengan merek-merek terkenal lainnya seperti UNDERCOVER, TOGA, dan COMME des GARÇONS di lantai bawah.

Common Frequencies menjadi tajuk kolaborasi antara Hijack Sandals dan Offtrack dengan mengedepankan identitas brand yang sangat mementingkan kualitas. Meskipun berasal dari dua negara yang berbeda industri yang berbeda, ada beberapa kesamaan di antara keduanya: kecintaan pada musik, identitas Asia Tenggara, dan dorongan untuk membangun komunitas di wilayahnya. Hijack Sandals bertujuan untuk melestarikan budaya sandal Indonesia, sedangkan Offtrack berupaya membantu merevitalisasi kancah musik lokal Singapura.

Koleksinya terdiri dari dua pasang Manic — siluet slip-on — dicelupkan ke dalam Warna oranye khas Offtrack dan biru phthalo Hijack. Sol oranye terang dihadirkan pada bagian bawah dan bagian atas biru, dengan kabel oranye melewati kait magnet FIDLOCK®. Sebaliknya, pasangan lainnya didominasi dengan warna hitam, kecuali garis batas biru dengan jahitan oranye sebagai aksen. Sebagai sentuhan terakhir, setiap sandal diakhiri dengan Offtrack pin enamel di tali depan. Selain itu ada juga kaus kaki dalam dua corak warna, dan apron yang dibuat khusus untuk tim Offtrack dengan edisi terbatas.

Common Frequencies akan dirilis online pada 28 Februari 2023. Dan akan diteruskan dengan peluncura di Offtrack pada 16 Maret menampilkan DJ dan set live dari Hijack Sandals dan Offtrack.

Ada sebagian orang yangg mungkin berpikir bahwa memasak cuman mengenai apa yang terjadi di dapur. Tapi untuk seorang juru masak banyak hal lain diluar hal tersebut. Ada beberapa hal rutin mereka kerjakan di luar ruangan sepanjang hari seperti pergi ke pasar membeli bahan baku atau menghibur pengunjung ketika sedang diner di udara terbuka. Setiap hari, ada jejak langkah ketika juru masak berkegiatan, sebuah perjalanan dengan jalan yang berganti-ganti di berbagai permukaan basah dan kering, di dalam ataupun di luar.

Bersama dengan Set N Rise, Hijack Sandals membuat Kawa sepasang sandal yang berfungsi untuk di dalam maupun di luar dapur. Terinspirasi dari cinta akan makanan dan yang membuatnya, Kawa diambil dari kulit ayam crispy yang menjadi salah satu kuliner asal Jepang. Dengan tampilan fitur kaki tertutup yang menjadi keharusan untuk dipakai di dapur dan sol riak Vibram®️ untuk kelincahan non-slip yang masih terlihat bagus di luar dapur, sehingga kamu bisa berpindah antar ruang dengan mulus bahkan pada hari-hari tersibuk kamu.

Jika membicarakan brand sandal, sudah tentu dari sekian banyak brand yang ada, Hijack adalah salah satu brand sandal lokal yang cukup ikonik. Mari berbincang dengan Zaki dan Fahmi, kedua orang founder Hijack, mengenai sandal Tarompah, Swallow dan membikin produk di Cibaduyut..

Bisa ceritakan sedikit tentang awal dari Hijack?

Zaki: Jadi saya ama Fahmi teh satu kampus di Widyatama. Fahmi teh senior walaupun satu tongkrongan, dan sering bareng. Pada Tahun 2009-2010 tuh lagi banyak yang bikin brand sepatu, karena Cibaduyut mulai terbuka source nya, kita bisa bikin satu-dua lusin disitu. Seangkatan kita tuh ada Brodo, Amble, Sagara, jadi memang banyak yang bikin sepatu. Kita pengen ikutan juga cuma kayaknya boots udah ada yang bikin, sepatu udah banyak, jadi saya pengen cobain bikin sendal aja, karena memang suka pake sendal.

Fahmi: Sebenarnya sih awalnya founded by Zaki, lalu saya gabung. Tapi emang dari jaman kuliah udah lumayan antik si Zaki, pake sendal terus ke kampus. Zaki cukup unique lah pada saat itu, jadi pas dia bikin sendal ya cukup genuine juga pada akhirnya sih.. Itu mungkin yah awal perjumpaan kita..

Fahmi juga sering pake sendal ke kampus?

Fahmi: Engga gue sih hahaha! Ga begitu sesering Zaki pake sendal.. Di kantor kan diwajibkan untuk pakai sandal sebenarnya. Ada Hijack yang edisi untuk dirumah dan di kantor, kaya sendal hotel.

Zaki: Gue ngefans banget sama tarompah, sendal Tasik. Pas jaman kuliah teh kan sebenernya ga boleh pake sendal, cuma dosen-dosen tertentu yang boleh. Jadi influence awal sebenarnya tarompah. Mo bikin di Cibaduyut ga kesampaian. Akhirnya kita bikin sendal-sendal yang dimodifikasi dan lebih universal. Sebenarnya ga niat sampai kaya sekarang. Dulu beli kulit masih dan bahan masih ngeteng, sekarang mah udah bikin sole minimal order sudah mulai besar quantity nya.

Gue liat colorways sendal-sendal Hijack bisa terinspirasi dari mana aja dari album the Blue Nile, sampai Powerpuff Girls. darimana datangnya inspirasi-inspirasi random itu?

Fahmi: Sebenarnya itu teh balik lagi ke preferensi anak-anak. Kemarin kita baru rilis satu fitur biar customer bisa customize sendalnya. Kalau design itu berasal darimana memang bisa serandom itu. Kaya obrolan ringan di kantor bisa jadi serius pada akhirnya dan dibikin produk. Desainer grafis kita yang kemarin itu memang suka Blue Nile. Jadi anak-anak yang disini suruh customize sendiri colorways favorit mereka. Cuma memang ide sih seliar itu..

Lalu nama hijack sendiri datang darimana? Kenapa kaya bajak laut? Hahaha..

Fahmi: Tah si Zaki eta mah hahaha..

Zaki: Nah saya juga sih kalau bisa balik lagi kenapa ya dulu pakai nama Hijack hahaha.. Benar sih Hijack artinya membajak. Tapi ada dua meaning, dulu bisa juga jadi greetings kayak “Hi Jack!”. Dulu ada spasi nya. Ternyata kurang bold statement nya. Mending gagah sekalian lah kaya membajak, walaupun ada konotasi negatif. Di sisi lain si pembajak juga cukup exploring terhadap pulau-pulau baru, menembus batas terus, dan bisa survive di lautan berhari-hari. Nyambung nih, karena kita juga cuka mendobrak pattern. Jadi cukup filosofis lah..

Fahmi: Sebenarnya ada sisi exploring dan conquering something juga si Hijack itu teh. Jadi nyambung sama visi kita. Bisa nih dipakai.

Gue pernah liat Hijack ada kolaborasi dengan Diskoria sampai Marvel Studios. itu gimana awalnya terjadi kolab-kolab tersebut?

Fahmi: Marvel emang ngontak duluan. Launch tuh di 2018. Disney Indonesia emang kontak kita untuk kolaborasi. Waktu itu untuk campaign film apa ya, Avengers: Infinity War kalau ga salah. Semua tentu suka Marvel disini. Akhirnya kita ngobrol, product development, colorways dan model pun back and forth sampai di acc Marvel pusat. Kalau yang Diskoria itu untuk event Fash Futur Fest. Dari situ mereka ngasih freedom ke kita mau kolab sama siapa aja. Kita langsung ngontak Aat dan Daiva Diskoria. Dan emang limited cuma 100 pcs.

Memang sulit untuk memilih, tapi Kolaborasi Hijack favorit kalian yang mana aja?

Zaki: Kalau gua sih yang kolab sama Gabber Modus Operandi. Itu juga ga dirilis di Hijack, cuma kang Ican Harem nya memang gering lah, memang pengen sesuatu yang beda dan out of the box banget. Anak R&D kita kebetulan keceletot untuk nama artikel nya jadi “Pecel Lele”. Sendal nya juga bisa di roll gitu. Cuma rilis 50 pasang dan dijual pas GMO main di Berlin. Saya aja ga kebagian haha..

Fahmi: Kalau saya yang kolab sama Bluesville. Dia kan indigo dye gitu ya. Secara holistik saya suka banget produknya. Founder Nya emang temen juga, dari awal ngobrol nyambung, referensi nyambung, eksekusi dan konsep oke pisan. Bikin aktivasi juga di Jakarta, kaya workshop batik gitu, hasil karya peserta bikin batik dikasih ke mereka semua sendal nya, jadi personalized banget, ada yang gambar penis lah hahaha.. Tapi dari awal sampai akhir ada keterikatan.

Zaki: Kadang collab yang seru itu adalah collab yang bukan generate uang dan sales. Yang seru yang seperti itu. Kalau sales kan kita mikirin aspek jualan jadi ada limitasi seperti warna harus gimana ya biar laku.

Gue pernah liat di suatu podcast kalian bilang ingin dikenang dan dipakai masyarakat luas seperti sendal Swallow. Bisa elaborasi atau cerita lebih lanjut tentang pernyataan ini?

Fahmi: Bener itu kayaknya saya yang ngomong hehe. Lebih ke arah habit orang Indonesia itu kan sendal dipakai kemana-mana. Di setiap rumah di Indonesia pasti ada satu sandal. Ada sandal untuk ke Masjid, Swallow. Ada Carville untuk jalan-jalan, ada Eiger untuk naik gunung. Kalau ke Masjid pakai Suicoke kan takut hilang haha. Jadi ya harapan saya teh orang melihat ke kultur itu, disini negara nya emang tropis dan humidity nya memastikan kita untuk at some level harus pakai sendal. Kalau kita bisa dipakai masyarakat luas dan bisa apalagi kalau kita bisa provide mereka dengan sandal dari untuk ke warung sampai ke undangan. Kenapa kita ga embrace aja culture ini. Si Sustained Culture ini kita jadikan Campaign dan emang dari jargon awal kita.

Zaki: Mungkin juga kedepan nya ada lini yang lebih “murah” nya, dan bukan bikin brand baru. Seperti bikin varian early stages atau gimana. Kita juga lagi memasarkan Hijack ke luar negeri seperti Singapura dan Jepang. Nah harga ini jadi lumayan sensitif, murah nya relatif juga di Indonesia dan Jepang bakalan beda. Kita juga pengen bikin varian lebih banyak kedepan nya, untuk daily atau untuk ke undangan misalnya.

Top brand sandal favorit kalian?

Zaki: Kalau yang memang strict bikin sandal doang ga banyak ya, cuma Birkenstock cukup oke. Dia kuat banget, dia dari tahun 1774 kan. Dia juga ada sisi kesehatan nya kan, karena bisa mengikuti contour kaki kita. Tapi fitur itu orang-orang banyak yang ga tau. Tentu Suicoke juga bagus dan menjadi influence Hijack awal-awal.

Fahmi: Swallow jelas lah roots. Birkenstock suka function nya sih. Yang sekarang varian nya ngabret sih, ada yang kolab sama Dior segala. Yang artikel “Boston” tuh bagus banget. Satu lagi ada dulu namanya Yuketen Japan. Handmade garis keras tapi shape nya ga selalu vintage, dan tetap modern walaupun handmade dengan gaya klasik.

Sale event kalian yang “Fishy Business” cukup menarik display nya seperti di pasar ikan…

Fahmi: Idenya seperti bikin hajatan aja sih. Kita jarang sale, setahun paling 1-2 kali maksimal. Jadi kalau ada event kagok kita bikin unik. Kaya dagang ikan di pasar awal ide nya. Kita bikin literal aja dari nama Fishy Business. Pertama dulu bikin pas Spasial masih ada. Respon nya menarik juga. Yaudah tiap akhir tahun kita bikin tema sale yang berbeda, Pernah bikin display bootleg kaya Breaking Bad sampe ada laboratorium dan meth-meth biru nya. Display convenience store juga pernah. Ide sih semua dari bercanda, dan berakhir serius…

Trend diskon menurut kalian?

Zaki: Kalau untuk si brand nya sebenarnya bahaya sih, konsumen jadi melihat offering harga dan jadi tidak melihat value brand nya. Tapi kalau secara bisnis atau survive ya itu pilihan ownernya masing-masing. Ga ada salah atau benar, cuma ada konsekuensi ketika brand nya terus-terusan mengambil strategi diskon di satu platform, jadinya perang harga dan value brand nya tidak muncul. Hanya muncul sebagai harga murah. Kalau pendapat pribadi saya kesana sih.

Fahmi: Ada 1-1, 2-2, 3-3, terus aja. Pasti bakal impact banget ke branding. Harusnya value brand nya yang keras kita bangun. Gue lebih memilih untuk back and forth disitu aja sih, biar dapat branding nya seperti “kalau saya beli Hijack sih ga usah nunggu diskon karena value produknya bagus”. Selama 12 tahun ini kita selalu drive market kita untuk lebih mengangkat value brand nya. Kemarin liat acara apa ya pada jual baju 70-80 ribu wah ini kok harga balik lagi kaya jaman pas saya masih kerja di clothingan tahun 2000an dulu..

Zaki: Yang paling kasian vendor jadi di push kualitas harga produksi, terms of payment kadang ada yang kurang sehat. Yang happy sebenarnya platform marketplace dan konsumen.

Fahmi: Kita sih udah aja fokus di value produk yang kita kerjakan sekarang. Kalau kita kebawa-bawa juga ya ga cuan juga mungkin hehe. Ada riset dan develop yang panjang, kita kasih liat aja ke orang-orang kalau kita sih harga segitu memang worth dengan kualitas yang kita berikan.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo taken from Hijack’s archives

Keindahan dunia bawah laut yang menakjubkan menjadi hidup di Sonar, koleksi terbaru dari Hijack sandal yang akan dirilis pada 29 Agustus 2022. Koleksi tersebut memperkenalkan sol baru disebut Mystic, yang detail desainnya mengambil dari lipatan kulit yang terlihat pada beberapa spesies paus balin, dikenal juga sebagai Mysticeti.

Dengan memakai Mystic pada bagian dalam, Sonar terasa lebih ringan dari yang terlihat. Kaki kamu tidak akan terasa lelah, meskipun memakainya selama berjam-jam. Ditambah sol yang lebar, menjadikan lelbih banyaknya bagian kaki yang kontak ke tanah sehingga langkahmu mejadi lebih nyaman dan stabil. Bukan hanya itu aja, Sonar juga memiliki pelindung pada bagian atas yang akan membuat kakimu terasa sangat nyaman ketika memakainya, serasa didalam pelukan.

Dengan “cords” dan “strap” yang dapat dilepas, Sonar menawarkan tiga tampilan berbeda yang bisa membuatmu bereksperimen dengan tiga pilihan kombinasi warna black, ether dan meadow.

Sonar secara resmi akan diluncurkan di Beyond Border Hijack Sandals’ Solo Showcase di Tokyo, Jepang pada tanggal 29 Agustus 2022. Untuk info terbaru bisa dilihat di instagram @hijacksandals dan www.hijacksandals.com.