Dengan jajaran satu barak MC lokal all-star lintas generasi, pengawalan tracklist yang ketat dan produksi yang top-notch, debut album dari Jaydawn yang berjudul “Sekte Air Mata Odin” ini bisa menjadi salah satu album hip hop terbaik yang pernah dirilis di Indonesia. Album ini dibuka oleh track instrumental berjudul ‘Showdawn (Intro)’. Jika Wu-Tang banyak menggunakan sample dan referensi film kungfu, maka Jaydawn menjawabnya dengan cuplikan sampling film laga Indonesia era ‘80an (yang kemungkinan besar mengandung adegan semi dan poster sexy). Track ini seolah menyambut kamu di Valhalla dimana Valhalla versi Jaydawn adalah surga dari beat-beat dan sampling keren. That goddamn horn and funk guitars really gets you in the mood. Track kedua adalah single ‘Cek TKP’ yang sudah dirilis sebelum album ini dijual. Jay menggandeng Nartok dan Al Smith sebagai MC. Produser hip hop mana lagi yang membuka lagunya dengan sebuah sampling dari film bokep semi kaset betamax hasil ngerental? Lagu ini dibuka dengan sample dialog dari film “Golok Setan (1983), Lalu disambut basslines yang cukup familiar dari score film Inglorious Basterds-nya Tarantino. Sound bass empuk yang enak ini pun menyelimuti lagu. Beat gelap Jay yang khas dan sudah diperkenalkan di EP “Darker Dawns Ahead” 3 tahun lalu kembali menghantui track ini. Delivery Nartok di verse awal sangat lugas dan padat. Kamu pun akan bertanya-tanya “berapa lama MC ini kuat menahan nafas didalam air?”. Al Smith menyambut verse 2 dengan flow yang lebih santai pada awalnya “Tendang rima ke kepala gaya popo Kanjuruhan di tengah kerusuhan beat ala Jaydawn“, sebelum he goes all loco rappin in full speed di beberapa bar terakhir. Lagu ini juga mempunyai beberapa rima yang cukup memorable, salah satunya adalah: “Tulisan ku dicuri bak Lukisan Raden Saleh / tapi ku takkan peduli karna kau takkan peroleh style rima orisinil ala Arab Condet”. Lagu berdurasi 4 menit ini pun diakhiri dengan outro jazz, dan kalian pun serasa di teleport ke sebuah jazz bar obscure di tengah kota. ‘Cek TKP’ adalah sebuah single yang sangat menjanjikan.

Track ketiga ‘Mulut Silet’ dengan featuring 4 MC dari Madness On Tha Block adalah sebuah lagu dengan rima yang padat, beats intens dan looping piano yang keren. Dibalik semua intensitas itu, Jay masih sempat menyelipkan sebuah outro yang akan membuatmu tertawa. Track ketiga adalah ‘Bariton Valhalla’ dengan featuring duet MC Endo dan Jerefundamental. Synth yang sepertinya diambil dari lagu industrial obscure menyelimuti seluruh lagu, dan para MC bersuara berat ini berhasil mendeliver rhyme-rhyme terbaiknya (“Endo dan mic, Bruce Lee dan nun chuck / Bruce Willis Die Hard” & “Tiupkan sangkakala / siapa sangka ku gelar perkara”) di track yang berdurasi 3 menit ini. Saatnya pendengar diberi istirahat setelah rentetan beats dan rima yang intens dari 3 track sebelumnya. ‘Phuck The Ho-Lice’ bertugas sebagai sebuah skit yang apik sebelum kegaduhan dilanjutkan. Beberapa elemen disini mengingatkan saya akan film-film blaxploitation. ‘Ujung Fajar’ memiliki basslines terbaik di album ini, dan kolaborator Eyefeelsix mengisi track ini seakan tidak ada hari esok. ‘Style of Steel Fingers’ adalah sebuah lagu dimana Jay memberi ruang bagi DJ Evil Cutz untuk beraksi. Sedikit homage terhadap Public Enemy / The Bomb Squad dengan drum breaks yang asik. ‘Tiga Ragnarok’ adalah aktivitas threesome dari Refo, Kid Vicious, dan Don Wilco. Delivery Kid Vicious seperti biasa sangat laidback dengan lirik yang witty. 3 MC ini cocok sekali berada di satu track, mungkin menarik jika mereka kelak membuat group hip hop. Selanjutnya, ‘Departemen Kegelapan’ hadir dengan featuring dari Krowbar dan Insthinc. Lirik-lirik Krowbar selalu menarik untuk disimak dan Insthinc selalu stylish dalam setiap deliverynya. Mungkin track ini akan menjadi pilihan yang tepat untuk dibuat video musiknya, karena sangat representatif dan catchy. ⅔ album ini ditutup oleh sebuah skit berjudul ‘Anyir’, dengan sample dialog yang cukup dark.

‘Babad Sangit’ adalah sebuah track yang lebih politikal dan gelap, apalagi diisi oleh Morgue Vanguard aka Babap Kobra (yang juga mendesign kover album ini). Adanya Pangalo! di lagu ini tentunya meng-elevate lagu ke titik yang bisa membuat kamu merinding saat mendengar + membaca liriknya (“Meninju ke langit, menolak kendali / tegak berdiri di tanah sendiri”). Setelah lagu dengan muatan yang gelap, saatnya Jaydawn mengembalikan sedikit senyuman untuk para pendengar dengan skit berjudul ‘Valkyrie Cicaheum’. ‘Kalam Demagog’ adalah grimy ‘90s boombap at it’s best, apalagi dengan MC-MC dari era tersebut: Doyz dan Xaqhala, dengan flownya yang smooth dan diksi-diksi yang lugas. Penultimate track album ini adalah ‘Prosa Kehilangan’ dengan duet MC Rand Slam dan Joe Million. Joe Million writes some of his best lyrics here; “selain selempeng sepapan apapun akan ku makan / selama dapat memperpanjang nafas ku sampai ke finish / semangat seorang morfinis”. Album ini pun ditutup dengan sebuah track instrumental (‘Jamuan Odin’) yang mensampling Black Sabbath dengan epik. Overall album ini juga memiliki range yang cukup luas, dan Jaydawn meracik elemen-elemen terbaik dari classic boombap sampai G-funk ala Warren G. Mungkin ini adalah salah satu rilisan Grimloc yang cukup ambisius. Bayangkan saja mengumpulkan jajaran MC, DJ, dan kolaborator dalam satu komando, didalam satu album yang secara musik dan tema cukup konseptual. Belum lagi dengan adanya benang merah dari setiap tema lirik yang ditulis oleh MC yang berbeda. Ya, “Sekte Air Mata Odin” ini menurut saya adalah sebuah concept album yang sangat versatile. Anggap saja ini adalah album kompilasi hip hop yang bagus dengan produksi maksimal dari sang maestro Jaydawn. Easily one of the best hip hop albums of 2023. AOTY material indeed.

Text by Aldy Kusumah

Photo by Verdy Pepey

Jaydawn merilis single ‘Cek TKP’ ini sebagai foreplay sebelum album penuh nya rilis. Di single yang dirilis pada hari ulang tahun nya ini, Jay menggandeng Nartok dan Al Smith sebagai MC. Produser hip hop mana lagi yang membuka lagunya dengan sebuah sampling dari film bokep semi kaset betamax hasil ngerental? Lagu ini dibuka dengan sample dialog dari film “Golok Setan (1983), Lalu disambut basslines yang cukup familiar dari score film Inglorious Basterds-nya Tarantino. Sound bass empuk yang enak ini pun menyelimuti lagu. Beat gelap Jay yang khas dan sudah diperkenalkan di EP “Darker Dawns Ahead” 3 tahun lalu kembali menghantui track ini. Delivery Nartok di verse awal sangat lugas dan padat. Kamu pun akan bertanya-tanya “berapa lama MC ini kuat menahan nafas didalam air?”.

Al Smith menyambut verse 2 dengan flow yang lebih santai pada awalnya “Tendang rima ke kepala gaya popo Kanjuruhan di tengah kerusuhan beat ala Jaydawn“, sebelum he goes all loco rappin in full speed di beberapa bar terakhir. Lagu ini juga mempunyai beberapa rima yang cukup memorable, salah satunya adalah: “Tulisan ku dicuri bak Lukisan Raden Saleh / tapi ku takkan peduli karna kau takkan peroleh style rima orisinil ala Arab Condet”. Lagu berdurasi 4 menit ini pun diakhiri dengan outro jazz, dan kalian pun serasa di teleport ke sebuah jazz bar obscure di tengah kota. ‘Cek TKP’ adalah sebuah single yang sangat menjanjikan.

Beats-beats, produksi sample dan hasil remix Jaydawn mungkin sudah pernah kamu dengarkan di full album Krowbar yang bernuansa psychedelic, Bars of Death yang layer lagunya dipenuhi horn section dan sampling film, Rand Slam, Taring, Jeruji, Homicide, Efek Rumah Kaca dan tentunya group hip hop Jay yang bernama Eyefeelsix. Sound-sound gitar busuk dari website psychedelic Vietnam sampai film-film kung fu dari tahun ‘70-an pun Jay jadikan sample di beat-beats yang dia buat. Bersiaplah, karena dalam waktu dekat ini Jaydawn akan merilis full albumnya yang bertajuk “Sekte Air Mata Odin”. Tentunya dirilis oleh the usual suspects; Grimloc Records.

Seperti apa yang Grimloc lakukan di kompilasi New Evidence yang dirilis di tahun 2022, kali ini New Evidence II telah hadir, tentunya berisikan 12 tracks dari 12 acts yang berbeda. New Evidence adalah sebuah usaha Grimloc untuk memperlihatkan “new blood” yang telah dikurasi oleh mereka. Menurut press release nya, New Evidence II adalah sebuah scene report tahunan berbentuk kompilasi. 14 track dalam kaset berdurasi 40 menit ini full of bangers, dan tidak ada filler disini. Semua bagus dalam karakternya masing-masing. Beberapa track favorit disini adalah Arrived Consilium dengan vokal perempuan yang powerful dan unik. Bricks juga cukup menarik, dengan aransmen hc/punk ‘80an yang raw. Track penutup kompilasi ini dipersembahkan dari Flyzad, hip hop Minang dengan musik jazz ala film noir, yang juga merupakan roster dari Grimloc.

Varian genre disini cukup luas: kamu bisa menemukan hardcore metal ‘90an dari Revival Mode dan Single Drop, agresivitas punk ‘80an dari Reticent, Bottled Violent, Dazed, dan Bricks, hardcore/punk dari Nousonix, d-beat crust gelap Harm dan Arrived Consilium, hip hop instrumentals dari Ways, rap Minang-noir Flyzad, hingga ramuan black metal post-rock dari Grimoire. Menurut press release dari Grimloc pun kompilasi ini adalah semacam “scene report”, dan tentunya bukan satu-satunya: “Kita bisa menemukan generasi baru di banyak daerah yang membuat band, mengorganisir gigs mandiri, mendistribusikan rilisan, berjejaring, membentuk komunitas, mendiskusikan gagasan dan mempraktekan ide-ide. Kompilasi ini merupakan upaya tahunan kami mendokumentasikan yang kami bisa. Mirip sebuah scene report di Bandung, versi kami. Dan tentu saja bukan satu-satunya versi.”. Seperti rilisan Grimloc lainnya, kompilasi ini di mastering untuk format kaset oleh Hamzah Kusbiyanto. Departemen artwork & graphic design oleh Herry Sutresna. Big ups untuk Grimloc yang “digging” dan mengkurasi band-band/artist newcomer ini. Semoga Grimloc tetap merilis kompilasi New Evidence setiap tahun nya dan tetap menjalankan tradisi “annual scene report” ini.

SIDE A
01. REVIVAL MODE – ALL OVER
02. RETICENT – WASTING TIME
03. BOTTLED VIOLENT – BOTTLED VIOLENT
04. ARRIVED CONSILIUM – SELF-INTROSPECTION
05. WAYS – BADMAN
06. BRICKS – LURKING
07. HARM – AIN’T WORSHIPPER
08. SINGLE DROP – AKSI BALISTIKA

SIDE B
01. NOUSONIX – PERISHED
02. DAZED – MANIPULATION NEWS
03. GRIMOIRE – VALAR OF ETERNAL DEVOTION
04. FLYZAD – DIKSI REDUKSI

Sepertinya intro musik jazz ala film noir dan excerpts dialog “he sits on his ass all day / smoking dope and jerking off / and he plays that fucking game” yang disambut Kid Vicious dengan “HAHAHA!!” adalah indikasi kalau ini akan menjadi album yang menyenangkan. Beat yang catchy dari WAYS dengan delivery super-santai rapper asal Semarang Kid Vicious terasa pas di lagu pertama ‘Antimodar’. Dimana lagi kamu akan menemukan lagu hip hop lokal dengan lirik double-entendre “Power up magic mushroom Super Mario” yang bertemu dengan “Semacam pidato Cyrus bertemu ODB”? Kid Vicious sudah cukup mencuri perhatian sejak awal artwork cover nya di post di feeds IG Grimloc: seorang rapper berwujud “nerd” yang berpose didepan bioskop jadul dengan cover art foto D.I. yang diprakarsai oleh sensei Agan Harahap. Untuk penulisan lirik dan rima, amunisi Kid Vicious cukup lengkap dari referensi film cult (Crows Zero, Soul Plane, The Warriors), diksi-diksi psikadelia, pop culture dan tentunya bumbu kearifan lokal. Jika Krowbar banyak membicarakan kelamin, maka Kid Vicious adalah anthem bagi para “angkatan udara”. Tentunya para penggemar Dr. Octagon (Kool Keith), Wu-Tang, RZA dan The Alchemist akan merasa nyaman mendengar album ini.

“Roadtrip” adalah track dengan beat gelap yang terdengar dipenuhi sampling dari album jazz obscure dan produksi yang matang. Track ketiga ‘Ascetic Monk’ dibuka dengan spoken words yang tentunya akan mendapat validasi dari para pecinta herbal alami. Densky9 bertanggung jawab dalam produksi di lagu ini. Beats yang gagah dilebur dengan sound trippy dan tentunya penuh dengan sampling psychedelia dari Timur Tengah. Kid Vicious juga menulis lagu di track keempat ‘High Voltage’, dan Jaydawn juga hadir menulis musik di track berjudul ‘TKP’. ‘Anubis’ menghadirkan featuring dari Don Wilco dan ‘Receh Solasi’ menghadirkan featuring dari Dzulfahmi. Line “Masa bodoh radio atau Spotify Playlist / Kuberi kardio dalam setiap tracklist” mungkin adalah statement Kid Vicious agar orang-orang kembali menikmati album secara penuh, bukan mendengar single saja. Tentunya DJ Evil Cutz hadir juga di album ini di departemen scratches, dan produksi album ini direkam di Cutz Chamber dengan WAYS sebagai engineer-nya. Mixing dan mastering? Serahkan saja pada Hamzah Kusbiyanto, cohorts tetap dari Grimloc Records yang sudah terpercaya. Mungkin ini adalah album rap rilisan Grimloc yang sedikit eksperimental tetapi tetap catchy dan dipenuhi oleh track bangers dari awal sampai akhir.

 

Text by Aldy Kusumah

“Larynx” adalah sebuah lembaran baru dari Kuntari setelah “Last Boy Picked” yang dirilis pada tahun 2021. Sebuah EP berisikan 5 track yang dimainkan oleh Tesla Manaf (Cornet, Sampler, Gitar) dan Rio Abror (Drums & Perkusi). Setelah sebelumnya dirilis oleh netlabel Yesnowave, kali ini “Larynx” hadir dalam format fisik berupa CD, dengan sebuah track tambahan berjudul ‘Stridula’. Dibuka oleh ‘Baopi’ yang terdengar sangat tribal dan eksplosif. Intensitas komposisi di lagu ini bagaikan seseorang yang meledak-ledak dan memiliki moodswings. Permainan drum dan perkusi dari Rio Abror berhasil mengelevate layer-layer instrumen yang dimainkan oleh Tesla. Those two guys can really go hand in hand. Walaupun lebih eksperimental, Tesla pun kembali bermain gitar di track ini. Track ini pun ditutup oleh sebuah suara hewan yang terdengar seperti ingin “berternak”. Track kedua ‘Larynx, Pt. One’ melanjutkan sesi “mating calls” hewan yang ada di menit-menit akhir track pertama. Permainan cornet Tesla di lagu ini terdengar seperti versi liarnya Miles Davis era “Bitches Brew” yang menggunakan efek-efek modern.

Track ketiga adalah ‘Larynx, Pt. Two’ yang berdurasi 12 menit. Track ini tidak akan terdengar out of place apabila dipakai menjadi film score di film-film seperti “Salo”, “Cannibal Holocaust” ataupun film-film bergenre folk-horror seperti “Midsommar” dan “Enys Men”. Overall, “Larynx” adalah sebuah mini-album dengan konsep yang dinamis dan fluid. Dari intensitas komposisi dan output yang bisa kita dengar di EP ini, saya bisa membayangkan Tesla dan Rio mengurung diri di sebuah tempat dan mengerjakan album ini dengan jamming yang dilanjutkan dengan sesi workshop, dari pagi sampai pagi lagi. Lalu merekamnya dengan berbagai revisi pada aransmen maupun eksplorasi sound. Setelah mendedikasikan dirinya memproduce beberapa album jazz, world music, neo-classical, Tesla pun mem-followup eksperimennya dalam menciptakan teknik embouchure yang tidak ortodoks untuk cornet/terompet. Menurut press releasenya: “Tujuannya adalah untuk meniru suara perkawinan hewan dan makhluk fiksi raksasa. Menggabungkan suara primal tersebut dengan irama Hadrah Kuntulan Banyuwangi, dan Sar Ping/Barongsai (tarian barongsai) Bali-Cina. Dan dengan sengaja mengaibaikan not.”. Whoa. Simak juga bonus track ‘Stridula’ yang tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan 4 track sebelumnya.

 

Text by Aldy Kusumah

Lose it All kembali lagi dengan sebuah album baru setelah beberapa kali berganti formasi. “Bentala Sirna”, album ketiga-nya yang memiliki tema-tema lirik yang relevan dengan kehidupan di akhir zaman. Mereka kembali dengan racikan aransmen musik ala groove metal Roadrunner Records tahun 2000an. Sebut saja Machine Head, Prong, Soulfly, Slipknot, bahkan Fear Factory dan A Perfect Circle. Tentunya sebuah album metal dengan kover Raden Saleh sangat layak untuk dikoleksi.

Dibuka dengan”Threnody (Prelude)” yang berdurasi 2:51 detik, intro instrumental yang moody ini dibalut oleh spoken words, seakan menjadi introduksi yang cukup menjelaskan keseluruhan mood dan direction album ini. Track kedua, “Swarm of Apathetic” adalah sebuah track yang groovy, layaknya sebuah lagu groove metal yang jika dirilis pada tahun 2000an awal tidak akan terasa “out of place”. “Surup Dasamuka” memperlihatkan kepiawaian mereka menulis lirik berbahasa Indonesia dengan lirik seperti “Lidah ini setajam belati, mata ini tiada empati!”. Dengan part chorus bernyanyi yang catchy, pasti lagu ini menjadi salah satu lagu dimana crowd akan sing along di live show mereka.

Track 9, “Coup de Grace” adalah sebuah showmanship yang menunjukkan kualitas permainan para personil Lose it All dan kepiawaian mereka mengulik sound. Coba saja dengarkan lagu ini dengan speaker memadai di volume yang keras. Ross Robinson pun sepertinya akan mengangguk menikmati mixingan lagu ini. Lagu favorit kami di album ini sudah tentu “Manufaktur Siwalingga” yang juga menjadi single utama dari album ini. Dengan aransmen quiet-loud dynamics dan performa mereka yang “tight as hell”. Rupanya usaha mereka untuk sedikit “meninggalkan” roots hardcore mereka membuahkan hasil. Semua lagu di album ini sangat catchy, dengan sound mixing dan mastering yang cukup maksimal. Sepertinya, mereka berhasil mengembalikan estetika racikan groove metal ala Roadrunner Records di era tahun 2000an. Rupanya jawaban interview mereka pun selaras dengan konsep yang ingin mereka angkat di album ini: “Saya selalu yakin bahwa revolusi sound itu hanya sebatas pengulangan di setiap dekade dengan pengemasan nya saja yang berbeda.”

 

Words by Aldy Kusumah

Kabar baik bagi kamu yang menyukai Balcony, khususnya yang mendengarkan album “Instant Justice” (1997), “Terkarbonasi“ (1999) dan “Metafora Komposisi Imajinar” (2003). Grimloc, label asal Bandung yang cukup prolifik merilis rilisan fisik akan merilis Balcony Complete Discography (1994-2017), yang rencananya akan berisi semua lagu dari 3 album, 3 EP, 3 single dan beberapa unreleased tracks. Menurut Baruz, kompilasi ini akan dirilis dalam format double CD dan berisi “kurang lebih 50 track sepertinya hahaha”. Balcony adalah salah satu band hardcore asal Bandung yang pada era ‘90an sampai 2000an awal sering berbagi panggung dengan Puppen, Savor of Filth, Burgerkill, Full of Hate, Injected, Homicide, sampai Authority. Formasi awal Balcony adalah: Yudi Setiawan (Vocals), Ardiandes (Lead Guitar), Febby Herlambang (Drums), Wahyu Permana (Rhythm guitar) dan Anton Andrianto (Bass). Pada tahun 2012 mereka sempat reuni dengan formasi: Yudi Setiawan, Febby Herlambang, Wahyu Permana, Ramdan Agustiana dan Dikdik Setiawan.

Setelah Grimloc dan Disaster Records merilis reissue album “Metafora Komposisi Imajinar” pada April 2022 dalam versi vinyl, beberapa penggemar Balcony bertanya-tanya kapan reissue 2 album terdahulu nya akan rilis. Rilisan ini sekaligus menjawab semua pertanyaan itu. Sudah sepatutnya Grimloc records merilis kompilasi diskografi Balcony, karena album-album mereka dulu dirilis oleh Harder Records, yang kemudian bertransformasi menjadi Grimloc. Yang satu ini tentunya jangan sampai terlewatkan, a collectible archives indeed.

Album:
• Instant Justice (1997)
• Terkarbonasi (1999)
• Metafora Komposisi Imajinar (2003)

EP:
• Redefinishit (2000)
• Hymne Penghitam Langit & Prosa Tanpa Tuhan (split EP bersama Homicide, 2003)
• Reunion (2013)

Single:
• Reckless Life (Strike hard compilation Riotic Recs )
• Lemah Nyata ( single 1998, Brain Beverages compilation Harder Recs )
• Kafir (2012, Die Trying Recs )

 

Words by Aldy Kusumah
Photo taken from Grimloc’s archives

Pada bulan Februari lalu, Extincted telah merilis debut single dengan tajuk Piromania. Kali ini unit metalic hardcore asal Bandung merilis single kedua Terrible Drain Traps yang menjadi sebuah project plot twist sebagai pembuka untuk full length album perdana yang berjudul Inferno. Tidak berbeda dengan Piromania, balutan vibe ala band metallic hardcore era 90/200an dengan sound modern yang heavy dan kelam, Terrible Drain Traps lebih menonjolkan medium tempo yang dibalut riffing era chuga chuga yang dominan.

Single ini merupakan era sebelum Piromania dirilis ke publik. Pengerjaan full lengt album yang cukup lama dengan berbagai kendala menjadi pengalaman bagi Extincted untuk terus berproses bersama Oktav Mutter di Re-Built 40.1.24 Studio untuk merampungkannya.

Terrible Drain Traps sudah bisa didengarkan si platform musik digital dan full length debut album dari Extincted yang bertajuk Inferno akan segara rilis dalam bentuk cakram pada oleh Grimloc Records

Jika kamu pernah membeli kaset Pesta Rap pada tahun 1995, maka tentunya tidak asing dengan Blakumuh yang merupakan salah satu hip hop group veteran. Mereka juga sempat berkolaborasi dengan Sweet Martabak untuk membuat P-Squad dan juga sempat membantu performa live Iwa K. Setelah sibuk oleh proyek masing-masing, di pertengahan tahun 2022, MR.EP dan Doyz kembali menggebrak dengan merilis album Dekaden Lintas Dekade. Simak perbincangan Jeurnals bersama Blakumuh berikut ini.

“Kalau hip hop trap kayaknya engga, waktu buat kita sudah berhenti di tahun 1999. “

Tahun 1995 single kalian ‘Kaum Kumuh’ debut di Pesta Rap 1, dan ‘SOS’ tampil di Pesta Rap 3 tahun 1997. Kenapa baru buat debut album Blakumuh di tahun 2022?

MR. EP: Sebenarnya udah ada album, P-Squad tahun 2001 hahaha

DOYZ: Jadi waktu itu mereka punya wacana untuk bikinin album kita dan Sweet Martabak, jaman dulu kan cost nya gede untuk rekaman. Masih pakai pita dan waktu ga efisien. Mereka melihat kita berempat (Blakumuh dan Sweetmartabak) cukup akur, yaudah deh disuruh bikin supergroup aja berempat. Rilis satu album.

Siapa yang memberi nama Blakumuh? Ide nya dari MR.EP atau DOYZ?

MR.EP: Sebenarnya itu nama dari announcer-announcer departement store kaya Matahari, Borma & Ramayana. Dulu tiap minggu kita ke Blok M ngamen. Nyari panggung dan mencari jam terbang. Ngasih tau ke orang hip hop itu kayak apa. Kan biasanya ada information di depan toko-toko itu. Mereka biasanya nyediain baju buat kita pakai dan kita nge-rap disitu.

DOYZ: Salah satu announcer booth itu tuh. Kan Ramayana ada announcer yang suka ngasi tau diskon. Mereka melihat kita dekil, pakai sendal jepit dia bilang “Blakumuh lo” hahaha.. Dulu pas kita SMA kelas 3 itu umur 16. Dulu Blakumuh itu kuartet berempat. Yang di Pesta Rap sudah berdua tapi. Kebetulan sudah almarhum dua-duanya.

MR.EP: Dulu sebelum hip hop saya sempat ngeband thrash metal sampai grindcore. Bawain Sepultura, sempat juga bawin Morbid Angel sampai Terrorizer..

DOYZ: Saya sempat bawain Faith No More, groove metal hahaha..

Selama ini proyek solo masing-masing apa aja?

DOYZ: Kalau saya sendiri rilis album solo 2002 (‘Perspektif’), rekaman dan ngumpulin materi udah dari 1997 dari abis jaman Pesta Rap 3. Erik (MR.EP) juga punya band ya?

MR. EP: Ada Native, jazz-hop gitu tapi ada band nya kaya The Roots hahaha. Lengkap playernya, ada drum dan udah main di gigs-gis jazz kaya Java Jazz, Soulnation. Masih ada orang-orang nya cuma belum diaktifkan lagi hehe..

Kalau album solo DOYZ yang ‘Demi Masa” bareng Morgue Vanguard itu gimana background pembuatan nya?

DOYZ: Itu awalnya dari album solo gue yang kedua “Oblivion” pas 2015. Kita juga udah niat pengen nge-revive Blakumuh disitu makanya ada 2 track yang ada Erik nya. Waktu itu kita rilis nya sharing, Baturaja Records dan Grimloc. Sekalian ajak Ucok ngisi satu lagu yang ‘Testamen’. Lalu habis itu ketagihan, 2017 bikin lagi yang “Check Your People’. Abis itu ada ide untuk bikin mini album. Pas 2018 itu tuh proses album rekaman Blakumuh berbarengan sebenarnya dengan ‘Demi Masa’. Cuma karena satu dan lain hal yang menghambat, rilisnya yang ‘Demi Masa’ dulu. Dari single, jadi EP dan akhirnya malah jadi LP hahaha..

Cover kalian adalah homage/tribute terhadap Organized Konfusion yang album “stress”. Ada cerita apa dibalik konsep artwork itu? siapa saja yang terlibat?

MR. EP: Tribute sih sebenarnya ya, beberapa ide juga dari kita dan Ucok. DIbantu Aldy dari Drips & Drops. Akhirnya ketemu lah sama Crack The Toy

DOYZ: Dari pihak kita dan Ucok juga sebenarnya ga ada jembatan untuk ke Crack, yang kenal Aldy jadi dia jadi mediatornya. Sebenarnya awalnya pengan format foto dan ada lukisan nya. Kenapa ga bikin homage ke Organized Konfusion aja yang album Stress.

MR. EP: Itu album yang sangat berpengaruh sekali buat kita. Golden age of hiphop banget.

DOYZ: Saat itu duo hiphop yang bagus gak banyak ya, cuma Organized Konfusion aja mungkin. Banyaknya trio kaya Cypress Hill, Naughty By Nature, RUN DMC, Erik B. & Rakim aja yang satunya lagi DJ haha. Jadi si Organized Konfusion ini relate banget sama Blakumuh..

Top 6 album hiphop 90an favorit kalian?

MR. EP: Big Daddy Kane yang “Long Live the Kane”, pas jaman dia lirik-lirik nya tuh kena banget dan multi-syllable. Dia salah satu yang paling gila saat itu. KRS-ONE “Return of Boombap” the best lah. Dari lirik dan musiknya udah deh susah ngomongnya hahaha. Sama album pertama nya Naughty by Nature yang ada “O.P.P.” the best tuh.

DOYZ: Saya sih “It Takes A Nation..” nya Public Enemy. Waktu itu kayaknya ga ada yang bikin album kaya gini. Kanonik banget rasanya. Out of the blue ada album kayak gitu. SOund gila dan berisik, lirik nya juga gokil dan politikal. Kita sih gak ngerti cuma kok keren banget. Big Daddy Kane yang “Long Live the Kane” . Ini orang suaranya enak banget, pimp banget gayanya dan cool, tapi dia bisa deliver teknik rap yang gak hilang. Mungkin kalau materi itu dibawain sama Kurtis Blow gak mungkin bisa sekeren dia haha. Terakhir Eric B. & Rakim yang “Don’t Sweat the Technics”. Memang relate sama kita yang awalnya suka dengerin lagu itu di disko haha. Cukup nempel di kuping. Dan ada soundtrack Juice yang “Know the Ledge”, itu anthem kita banget pas jaman SMA hahaha..

Kenapa memilih sound dan musik boombap klasik ala golden age of hip hop untuk album “Dekaden Lintas Dekade”?

MR. EP: Simple aja, sound klasik karena kita orang klasik hahahaha! Ya pengen bawa aja knowledge dan legacy Blakumuh yang selama 29 tahun ini gak pernah keluar album.

DOYZ: Balik ke identitas awal kita. Sebenarnya kita mulai dari suara-suara yang seperti itu, walaupun tahun 1993-1995 kita sempat nge G-Funk, yang single pertama Pesta Rap ‘Kaum Kumuh’ itu kan G-Funk banget hahaha. Sempat lah kita manggung bawain lagu Snoop dan Warren G. Sekarang balik lagi sih. Kalau trap kayaknya engga, waktu buat kita sudah berhenti di tahun 1999. Tahun 1999 sudah selesai hahaha. Kalau yang baru-baru kita juga masih ngikutin tapi nyari yang suara nya sama, kaya Griselda Records, Roc Marciano, sound nya masih familiar buat kuping kita.

Bagaimana awalnya memutuskan untuk bekerja sama dengan Napalm Squad?

MR. EP: Karena awalnya ya taste nya sama, dengerin nya sama, dan temen juga…

DOYZ: Seperti yang Ucok pernah singgung di presscon kemarin, walaupun kita beda di Jakarta dan Bandung, karena kita tumbuh di era yang sama pasti referensi nya juga pasti sama sebenarnya. Apa yang Ucok dengar pasti sama dengan apa yang kita dengar. Ya pasti relate aja karena grow up di era yang sama. Dari awal Ucok bilang “pokoknya kalau Blakumuh rilis gue yang produserin”. Dia mungkin punya desire yang gede untuk menampilkan sonik-sonik jadul itu di album kita hahaha..

Blakumuh sempat manggung di Dago Elos. Bisa ceritakan mengenai support dan solidaritas kalian dengan kawan-kawan terhadap pergerakan warga Dago Elos?

DOYZ: Kalau kasusnya sendiri di media sudah banyak ya. Tapi kalau dilihat dari pengalaman saya sendiri relate karena saya korban gusuran urban dari tahun ‘90an. Jadi yang apa mereka rasakan (Warga Dago Elos) itu berasa banget di saya pribadi terutama. Saya yakin Erik juga dulu di kampung nya di Benhil dulu kena juga program penggusuran. Jadi hal seperti ini tuh relate banget. Dan hal seperti ini sampai sekarang ga berubah.

MR. EP: Iya sama. Mafia tanah nya masih sama.

DOYZ: Sekarang juga masih di inisiasi sama Ucok sih Festival Kampung Kota ini, cuma yang nanti malam tema nya hip hop, secara Ucok bapak hip hop hahaha.. Jadi dia mungkin gampang ngambil pengisi acara nya haha..

Musik hip hop sepertinya lebih praktis ya untuk rehearsal dan live set nya dibandung full band?

MR. EP: Ya kalau hip hop sih sebenarnya kita berdua juga bisa tanpa harus ke studio. Cuma dulu gue sempat bikin band karena ada dendam tersendiri. Dari jaman dulu tuh EO kalau kita check sound suka diremehkan “oh rap ya? Minus one doang kan?”. Yaudah akhirnya gue bikin band hip hop yang full band jadi dapet akses check sound yang proper hahaha..

DOYZ: Dulu kita sempat ikut Iwa K sih, disuruh backing in Iwa jadi hype man nya. Dia full band, keyboard aja ampe 2 hahaha, gitar bass, rame lah.. Seru. DJ juga sempat ada tapi kesini nya kayanya engga. Sekarang sih kita format nya pake DJ, classic hip hop: microphone dan DJ.

Pertanyaan terakhir: apakah para penggemar Blakumuh harus menunggu 20 tahun lagi untuk rilisan berikutnya?

DOYZ: Hahahahaha!

MR. EP: Hahaha.. Ya buat penggemarnya Blakumuh nanti mungkin saatnya kalian yang jadi Blakumuhnya nanti, kita yang dengerin haha..

DOYZ: Emang ada penggemarnya Blakumuh? Hahaha. Kita bikin fanbase aja dulu kali ya? Justru emang kadang mereka yang bikin semangat. Kalau tour sebenarnya pengen sih kalau ada yang sponsorin. Cuma mungkin kalau rekaman atau projek studio lagi belum dulu.

 

Words by Aldy Kusumah
Photos by Feri AlanÂ