Digelar di The Plug Space pada 5-7 Oktober 2024. MANKIND, HIJACK, DEVÁ STATES, SYMA, SAAMR, JEWEL BY BEPE & AKROSS akan menghadirkan showcase yang diberi nama “Distro”. Penamaan Distro terinspirasi oleh gerakan dengan nama yang sama, yang dipelopori oleh para pionir dari dunia fashion independen Bandung. Acara ini menjadi penghormatan dan warisan yang telah ditanamkan oleh para pendiri gerakan fashion kota Bandung.

Lokasi The Plug dipilih karena berada di jantung kota dengan traffic yang tinggi, menjadikannya melting pot bagi berbagai komunitas. Deva States, salah satu inisiator, menyebutkan bahwa mereka memiliki koneksi dan infrastruktur yang mendukung, serta The Plug sebelumnya telah menjadi pilihan bagi brand-brand besar kelas internasional.

Motivasi di balik kolaborasi ini adalah keinginan untuk menunjukkan bahwa produk-produk Indonesia tidak kalah dengan produk internasional. “Kami memiliki niat yang sama, dan karena pengalaman serta koneksi yang ada, kami ingin membantu brand-brand lain dari Bandung untuk memperkenalkan diri di pasar Jepang,” ungkap Fahmi mewakili Distro dan Hijack.

Setelah acara, masih belum ada kepastian apakah produk tersebut akan tetap dijual di Tokyo. “Kami akan melihat respons dari pengunjung terlebih dahulu. Itulah sebabnya kami mengundang semua yang pernah mendukung perjalanan kami di Jepang,” tambahnya.

Misi dari proyek Distro ini lebih dari sekadar showroom. Mereka ingin menciptakan sebuah platform diskusi yang aksesibel, menjadi media yang mampu membawa brand lokal ke panggung internasional dan memfasilitasi pertukaran ide di masa depan. Selain menghadirkan produk dari setiap brand yang terlibat, Distro akan merilis merchandise eksklusif edisi terbatas hasil kolaborasi antara Distro dan By.U yang hanya akan tersedia selama acara berlangsung.

Wacko Maria adalah brand fashion asal Jepang, yang didirikan pada tahun 2005 oleh dua mantan pemain J-league (sepak bola profesional Jepang), Atsuhiko Mori dan Keiji Ishizuka. Wacko Maria memulai perjalanan-nya sebagai toko kaset yang berbasis di Tokyo dengan bar koktail yang ter-integrasi di dalam tokonya. Keiji Ishizuka dan Atsuhiko Mori membuat lini Wacko Maria pertama mereka pada tahun 2005 dan merek tersebut dengan cepat menjadi nama populer di Jepang. Dengan tagline dan motto perusahaan: “Music is the Trigger of Imaginations”, brand ini didefinisikan oleh musik sebagai fondasi terkuatnya. Wacko Maria juga merepresentasikan style yang glamor, nakal, klasik dan romantis di saat yang sama. Koleksi setiap season-nya dipengaruhi dan mendapat inspirasi dari musik, film, seni rupa dan tentunya pengalaman sehari-hari para kreatornya. Mereka telah berkolaborasi dengan sutradara film independen Jim Jarmusch dan Larry Clark, fotografer Tim Barber, dan berbagai IP terkenal semacam Ghost in the Shell sampai Basquiat.

Nama brand-nya, WACKO MARIA, adalah bahasa Latin untuk “Maria yang eksentrik”. Dengan konsep “orang dewasa kasar yang menyukai wanita, musik, alkohol, dan topi-topi stylishqq”, banyak item yang ditujukan untuk para profesional dengan style yang lebih laidback dan kenyamanan bahan dan kualitas ala brand artisan Jepang. Semua barangnya merupakan di develop dan di buat di Jepang. Dengan kualitas tinggi dan garansi bebas perawatan, bahan-bahan berkualitas tinggi khas industri Jepang, dan keahlian Jepang yang sangat memperhatikan detail, Wacko Maria adalah brand yang patut diperhitungkan. Produk mereka pun sangat bervariasi dari aksesori, T-shirt, hoodie, jaket, dan tentunya kemeja-kemeja Hawaiian andalan mereka.


Fanbase Wacko Maria pun terus bertambah. J-pop idol, para rocker, sampai DJ memakai produk-produk Wacko Maria dengan bangga. Dalam budaya Jepang, hal-hal seperti tato dan “premanisme” tidak disukai masyarakat, namun Wacko Maria memadukan hal ini dalam marketingnya dan image mereka dan benar-benar menangkap suasana seorang anggota Yakuza yang doyan party. Keseimbangan antara image bad boy dan culture party inilah yang membedakan mereka dari brand “nakal” yang lain.

 

Brand streetwear andalan Tokyo ini tentunya mengambil pengaruh besar dari budaya Amerika. Secara effortless Wacko Maria dengan mudah memadukan style jazz tahun 70an dan 80an dengan gaya rockabilly yang rebellious sehingga menciptakan looks unik yang keren. Label ini melahirkan banyak pengikut setelah beberapa proyek kolaborasi dengan WTAPS dan Porter Yoshida & Co, Nonnative, N. Hoolywood dan UNDERCOVER. Secara keseluruhan, WM dikenal luas karena pakaiannya yang banyak menggunakan aplikasi bordir yang dihiasi dengan tagline “PARADISE TOKYO” dan “GUILTY PARTIES,” yang merupakan penghormatan kepada distrik Nakameguro di Jepang dan Guilty Parties adalah merek turunan-nya. Meskipun Keiji Ishizuka kini telah pensiun, Atsuhiko Mori sampai sekarang tetap bertanggung jawab sebagai desainer dan creative director aktif sejak berdirinya perusahaan. Wacko Maria memiliki visi dan identitas yang jelas dan mereka terus berusaha mencapainya secara effortless. Mereka selalu nampak bersenang-senang dalam melakukan sesuatu, dan hal inilah yang jarang dilakukan oleh brand-brand lain saat ini.

 

Words by Aldy Kusumah

1990: Awal mula Fuct didirkan oleh Erik Brunetti dan Natas Kaupas
Brand ini lahir berdekatan dengan brand-brand ‘90an lainnya seperti Supreme. Fuct sudah pernah dipakai oleh Zack De La Rocha, sampai berkolaborasi dengan Rolling Stones. “Fuct” adalah brand streetwear yang didirikan oleh Erik Brunetti di Los Angeles pada tahun 1990. Merek ini terkenal dengan desainnya yang provokatif dan kontroversial, sering kali menampilkan bahasa eksplisit, pernyataan politik, dan citra satir. Nama “Fuct” sendiri menurut Erik Brunetti adalah singkatan dari “Friends U Can’t Trust”, tetapi Fuct merupakan plesetan dari pengucapan sumpah serapah “Fu*k”, dan merek tersebut telah menghadapi tantangan hukum terkait dengan namanya dan penggunaan bahasa eksplisit dalam desainnya. Pada tahun 2019, Mahkamah Agung AS memenangkan merek tersebut dalam kasus merek dagang. Pengadilan memutuskan bahwa penolakan Kantor Paten dan Merek Dagang AS untuk mendaftarkan merek dagang tersebut karena dianggap menyinggung perasaan melanggar perlindungan kebebasan berpendapat dalam Amandemen Pertama. Kasus ini menarik perhatian pada persinggungan antara undang-undang merek dagang dan Amandemen Pertama, yang menyoroti tantangan dalam mengatur merek dagang yang berpotensi menyinggung atau kontroversial. Keputusan tersebut memperkuat gagasan bahwa pemerintah tidak dapat menolak perlindungan merek berdasarkan konten atau sudut pandang yang diungkapkan oleh suatu merek.

Terlahir dari imajinasi liar Erik Brunetti
Erik Brunetti adalah seorang desainer streetwear dan pendiri merek pakaian “Fuct.” Lahir di Santa Monica, Kalifornia, Brunetti mendirikan Fuct di Los Angeles pada tahun 1990. Brand ini dengan cepat menjadi terkenal karena desainnya yang berani dan provokatif, yang sering kali menampilkan bahasa eksplisit, gambar satir, dan pernyataan politik. Fuct dikaitkan dengan etos streetwear yang kontra-budaya dan anti kemapanan. Brunetti telah terlibat dalam dunia streetwear dan skateboard, mengambil inspirasi dari subkultur dan bentuk seni alternatif. TIdak hanya mengambil inspirasi dari musik dan skateboard, Brunetti juga sangat terpengaruh oleh film-film klasik seperti Planet of the Apes dan Goodfellas (Martin Scorsese), sehingga kedua film tersebut pun menjadi salah satu design T-shirt Fuct yang ikonik. Karyanya dengan Fuct telah berkontribusi pada reputasi merek dalam mendorong batasan dan menantang norma-norma masyarakat melalui desainnya. Selain kiprahnya di bidang fashion, Erik Brunetti mendapat perhatian karena perselisihan hukum terkait pendaftaran merek dagang atas nama merek Fuct. Kantor Paten dan Merek Dagang AS awalnya menolak untuk mendaftarkan merek dagang tersebut, dengan alasan dianggap menyinggung. Namun, pada tahun 2019, Mahkamah Agung AS memenangkan Brunetti, dengan menyatakan bahwa penolakan tersebut melanggar perlindungan kebebasan berpendapat dalam Amandemen Pertama. Hingga Januari 2022, Erik Brunetti terus dikaitkan dengan Fuct, dan brand tersebut tetap menonjol di skena streetwear dan fashion internasional. Fuct adalah pionir, legenda dan sudah meraih cult status di dunia street fashion. Fuct dikenal juga karena beberapa desainnya mengandung bahasa dan gambar eksplisit yang mungkin dianggap menyinggung sebagian individu (malah terkadang sangat vulgar). Penggunaan konten tersebut disengaja dan sejalan dengan estetika merek yang provokatif dan style counter-culture mereka.

Campaign kolaborasi FUCT dengan Brand, musisi dan seniman
Sepanjang tahun 1990-an Fuct berpartner dengan fotografer Larry Clark dan Shawn Mortenson dalam berbagai campign. Subyek dan model yang di shoot Mortenson adalah Kate Moss, Snoop Dogg, The Notorious B.I.G., dan Keith Richards (Rolling Stones). Pada tahun 1998, seniman Kaws meminta Brunetti untuk berkolaborasi dalam sebuah iklan untuk rumah design Calvin Klein. Fuct juga pernah bekerjasama dengan brand pakaian rapper Beastie Boys Mike D, X-Large. Kemudian Fuct membuka pintu lokasi toko pertamanya, X-FUCT, pada tahun 1993. Terletak di Los Angeles, Kalifornia, interior X-FUCT dimodelkan menyerupai toko makanan; desain ini mencakup penggunaan counter daging bekas sebagai pajangan barang dagangan. X-FUCT merilis kolaborasi terbatas di seluruh toko operasional-nya selain menyimpan produk masing-masing merek. Setelah X-FUCT ditutup, Brunetti kembali mengoperasikan Fuct di rumahnya di Hollywood Hills. Pada tahun 2008, Fuct meluncurkan lini produk SSDD (Same Shit, Different Day) di Jepang. Bahasa desainnya menggabungkan motif yang terinspirasi oleh gerakan counter-culture Amerika pada tahun 1960an dan 70an. Produk SSDD dibuat di Jepang dengan pola size chart untuk market orang Asia yang lebih kecil. Pada tahun 2018, Fuct bermitra dengan merek streetwear FTP yang berbasis di Los Angeles untuk merilis capsule collection. Pada tahun 2019, Fuct bermitra dengan majalah Richardson untuk merilis capsule collection. Rilisan ini mencakup desain Fuct sebelumnya yang digabung dengan logo Richardson. Overall, Fuct adalah sebuah brand yang provokatif sejak pertama didirikan, namun sampai sekarang sepertinya tidak ada brand yang se-berani Fuct dalam merilis grafis-grafis yang provokatif dan politikal. Harga T-Shirt grafis Fuct pun selalu naik dengan fantastis setiap tahun nya, karena rilisan mereka yang memang terbatas dan tidak banyak dijual di toko-toko reseller. Jika kamu masih memiliki T-Shirt Fuct dengan design Goodfellas, coba saja dijual dan cek harganya di Ebay. Sampai saat ini, Fuct adalah brand yang selalu disebut oleh berbagai designer dan owner brand fashion lainya sebagai inspirasi. Erik Brunetti adalah seorang legenda.

Words by Aldy Kusumah

Pada awalnya, melihat penampilan Parker Cannon (The Story So Far) di Youtube dengan proyek melodic-hardcore barunya, No Pressure. Di penampilan tersebut, Parker menggunakan jersey bola club Westham dengan sponsor Dr. Martens & Fila. Lalu di era album “Proper Dose” TSSF, style Parker pun lebih terlihat seperti Liam Gallagher dengan parka Stone Island, sneakers putih dan jeans baggy. Ternyata ini adalah blokecore looks. Blokecore bukanlah sebuah penampilan fashion baru. Terutama untuk orang-orang Inggris. Seperti halnya Dad’s core dan Gorpcore, Blokecore juga bernasib sama: sebuah fashion look atau fashion statement yang sudah ada sejak lama, hanya baru saja didefinisikan oleh para jurnalis dan kritikus fashion. Untuk para penggemar sepakbola, Blokecore adalah sebuah penampilan yang cukup generik. Sebuah estetika fashion yang menampilkan atasan jersey bola vintage, jeans yang baggy atau straigh (kebanyakan Levi’s) dan tentunya sneakers Adidas. Kamu pasti pernah melihat style ini dipopulerkan oleh Liam Gallagher (Oasis) dan frontman Blur, Damon Albarn pada awal tahun ‘90an. Dan tentunya fashion style ini pun terlihat dikenakan oleh para “lads” dan bapak-bapak di negara Inggris pada umumnya.

Sebuah kombinasi antara Adidas Originals dan denim adalah salah satu look yang essential dalam blokecore. JIka ditarik lebih jauh, origin blokecore ini pun terinspirasi dari casuals culture tahun ‘70an yang mereferensi gaya berpakaian mods ‘60an. Para “casuals” ini lebih memilih garmen-garmen dari designer Eropa seperti Stone Island, C.P Company dan Sergio Tacchini, ketimbang menggunakan Fred Perry dan Ben Sherman. Pakaian-pakaian ini akan digunakan saat menonton pertandingan sepakbola yang menunjukkan dedikasi mereka terhadap olahraga tersebut. Adidas Samba pun menjadi salah satu item wajib yang dimiliki oleh para blokecore enthusiast ini. Dimana anak-anak jaman sekrang yang menggunakan Adidas Samba mendapat referensi sepatu ini dari ayahnya dan juga mungkin dari ASAP Nast. Bisa dibilang blokecore ini adalah “anak haram” dari kultur sepakbola itu sendiri.

ASAP Rocky dan Rihanna terlihat menggunakan Adidas Samba. Dalam beberapa tahun terakhir ini, beberapa brand seperti Patta, Palace, Moncler, Stella McCartney sampai Balenciaga pun berkolaborasi dengan team-team sepakbola untuk beberapa artikel fashionnya. Mengambil tolak ukur bahwa sepakbola adalah salah satu olahraga yang paling banyak ditonton secara global, cukup masuk akal jika pengaruh kultural sepakbola ini akan relevan bagi generasi TikTok dan para fashion enthusiast. Para nerd blokecore ini pun akan memposting koleksi jersey football vintage nya baik itu di TikTok atau feeds Instagram mereka. Dan beberapa lebih bangga memakai Jersey vintage dengan logo team favorit mereka yang masih O.G. Musik-musik yang digemari para blokecore enthusiast ini pun cukup variatif, dari yang klasik seperti The Jam, Stone Roses dan tentunya Oasis, sampai club-bangers era MTV ‘90an dari Orbital, Underworld dan The Streets (MIke Skinner pun berdandan ala Blokecore dari dulu). Blokecore adalah sebuah peleburan budaya yang cukup antik, dimana kelas pekerja, pecinta British culture, football lads sampai generasi TikTok creators melebur menggemari hal yang sama. Ini adalah sebuah look yang sudah bertahan dalam beberapa generasi dan dipakai secara global, dan tentunya trend blokecore tidak akan kemana-mana dan tenggelam dalam waktu dekat ini. Mari pakai jersey Westham Dr.Martens yang dipakai Parker Cannon (TSSF / No Pressure) dan kembali mendengarkan “Definitely Maybe” dengan volume keras.

 

Words by Aldy Kusumah

2022–Bandung-based apparel/brand, Pile of Dime, baru saja mengeluarkan capsule pertamanya “Logos/Sublunary” yang resmi dirilis pada Kamis, 25 Agustus 2022. Merespon sifat dasar manusia yang tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya dan perjalanan spiritual personal, Pile of Dime mencoba mempresentasikan lewat artwork bergaya doodle dengan karakter pewarnaan ala vintage comic.

Secara arti, “logos” memiliki arti buah pikiran yang diungkapkan oleh perkataan, pertimbangan nalar, atau arti. Sementara “sublunary” atau alam sublunar adalah tempat yang penuh perubahan dan peluruhan. Di mana benda-benda muncul, tumbuh menjadi matang, dan akhirnya mati. Ini menjadi wujud ide fundamental dari Pile Of Dime tentang hasrat dan kefanaan.


Menurut Krisna Rinaldi sebagai sosok di balik Pile Of Dime, produknya sendiri menjadi representasi dari sisa atau puing-puing yang bisa dikerjakannya untuk memperkuat daya hidupnya. Ini menjadi bentuk accepting-nya terhadap sifat dasar manusia yang tak kenal puas.

Menggaet beberapa designer dengan karakter yang kuat seperti Ebispen dan Budi Pratama alias n001cares, mereka sukses memberikan kesan yang kuat dalam beberapa produk yang dimunculkannya dengan line-up hoodie, t-shirt, short pants, caps dan cardigan.

Capsule “Logos/Sublunary” dari Pile Of Dime ini sudah tersedia secara online dan offline di Downtown Market.

Brand menswear/streetwear asal Bandung, MANKIND baru saja merilis “Archives Collection”. Koleksi terbaru dari MANKIND ini menampilkan rekontruksi ide dari koleksi-koleksi MANKIND terdahulu.

Dengan mengedepankan fungsionalitas dan desain MANKIND Archives collection menghadirkan kembali koleksi yang telah dirilis oleh MANKIND. Seperti classic atacama jacket dari SS17 guilt ridden man, black curtis crewneck jumper dari SS19 tribe of thehordes, the chief black corduroy dari SS19 tribe of the hordes, jaguar knight jacket dari SS20 a moveable feast, howey long sleeve t-shirt dengan perpaduan warna yang baru dari SS20 a moveable feast, fantasia crewneck dengan warna baru from SS20 a movable feast dan dormant jacket dari FW20 soile solstice.

Design dan grafis yang terdapat di Archives Collection MANKIND diaplikasikan dengan cara bordir manual, grafik cetak manual, dan jahitan tangan. MANKIND Archives Collection bisa didapatkan melalui website MANDKIND.

 

 

 

Setelah trend normcore, dadcore (dad’s hat, chunky sneakers) dan blokecore (jersey bola), muncul lagi sebuah “trend” fashion yang tanpa kalian sadari sudah sporadis. Memang trend ini sudah ramai diluar sana. Jika kamu sering memakai atau memiliki jaket nuptse puffer North Face, kaos Carhartt, Patagonia X-fleece jacket, botol minum Nalgene dan sepatu Salomon, kamu adalah salah satu Gorp Core enthusiast yang akan kita bahas disini. Ketika Jason Chen pertama kali menyebut kata “gorpcore” di media The Cut pada tahun 2017, dia tidak menciptakan estetika fashion baru, tetapi melabeli sesuatu yang sudah banyak dipakai orang-orang (dengan atau tanpa disadari) dan mereka yang memakai nya pun tidak bisa mendeskripsikannya dengan mudah.

Gorpcore dinamakan dari “Good Ol’ Raisins and Peanuts (G.O.R.P.)”, yang berarti kismis dan kacang tanah yang enak. Kismis dan kacang adalah trail mix yang biasa dimakan dan dibawa para hiking & outdoor enthusiast saat mendaki gunung, hiking atau camping. Karena praktis, mengenyangkan dan enak, term GORP ini sudah sering menjadi satu kalimat dengan sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas outdoor di Amerika. Gorpcore ini adalah sebuah style fashion yang berfokus pada penggunaan gear-gear yang terinspirasi oleh aktivitas outdoor dan mempunyai fungsi utiltas yang baik. Gorpcore sendiri berada diluar fashion style normcore dan techwear, dan beberapa brand gorpcore sendiri (diluar TNF atau Patagonia) bahkan belum menjadi mainstream.

Estetika fashion gorpcore sendiri adalah palet warna yang colorful dan cenderung mencolok, sebagaimana camping gear pada umumnya: oranye, hijau, ungu, biru sampai pink. Mungkin beberapa colorways nya terinspirasi dari warna hijau hutan, air biru sampai bunga-bunga terang dan gradasi sunset yang indah. Brand ACG dari Nike mungkin lebih ke arah earth tone. Tidak seperti techwear yang lebih fit, fashion gorpcore lebih berbicara volume: celana yang lebar, jaket fleece yang oversized, dan apapun yang nyaman untuk bergerak bebas di luar ruangan, apakah itu hiking, mancing, memanjat tebing sampai camping. Layering juga menjadi ciri khas gorpcore, seperti menggunakan nuptse puffer jacket TNF dengan zip terbuka dan memakai fleece didalamnya, yang tentunya tidak cocok di iklim Indonesia yang tropis (kecuali kamu sedang benar-benar hiking di gunung Bromo misalnya). Logo-logo brand gorpcore pun berperan penting, lihat saja logo Patagonia, The North Face, Montbell, Columbia bahkan sampai Snow Peak, Nike ACG, Adidas Terrex dan Arc’teryx gampang dikenali dan terlihat sangat kuat design nya.

Dari partnership Gucci dengan The North Face, collab Salomon dengan COMME des GARCONS, sampai brand ski Italia seperti Moncler juga sudah memasuki ranah dan trend gorpcore. Dari puffer dress Moncler yang di design Pierpaolo Piccioli untuk koleksi autumn/winter 2019, sampai spring.summer 2021 JW Anderson yang mengeluarkan koleksi sebagai tribute dengan tema laut. Dan tentunya kolaborasi epik dari The North Face dengan Maison Margiela untuk koleksi autumn/winter 2020. Seri MM6 ini menghadirkan presisi dan fungsionalitas design ciri khas TNF dengan konsep out-of-the-box nya Margiela, tanpa menghilangkan ciri khas siluet-siluet basic nya TNF di “reissue” di koleksi ini. Dari Frank Ocean yang terlihat menggunakan Mammut puffer dan beanie Arc’teryx, Rihanna dan Bella Hadid yang memakai sepatu Salomon S/Lab XT-6, Hailey Bieber yang memakai jaket denali TNF X Margiela, tentunya popularitas gorpcore ini sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Popularitas brand-brand nya pun semakin meningkat, sebut saja The North Face, Patagonia, Nike ACG, Snow Peak (Jepang) sampai pendatang baru Hoka One One. Tidak perlu menjadi hikers atau pendaki gunung (walaupun itu lebih baik hehe) untuk memakai style gorpcore. Sudah saatnya menormalisasikan memakai puffer jacket, sepatu trail running dan double-layering, bahkan saat pergi ke warteg atau commute ke kantor sekalipun.

 

Words by Aldy Kusumah