Tanggal 24 April kemarin Saya melihat sesuatu yang tidak biasa di Auditorium bioskop CGV: sebuah listening session album Ceriwis Necis milik Dongker yang disajikan dengan visual yang dibuat oleh Zirlyanpaja. Paja mungkin lebih banyak berada di belakang layar. Tetapi karya-karyanya mungkin tanpa disadari sudah pernah kamu lihat di beberapa output. Sebut saja stage photography band Dongker, sampai editorial dan lookbook fashion dari brand-brand kontemporer yang sering malang-melintang di linimasa Instagram kamu. 

 

Untuk visualizer album Dongker, apakah Lo berusaha merespon lagu-lagu dari Dongker atau mereka memberi kebebasan penuh?

Bisa dibilang mix antara keduanya sih, ada beberapa yang merespon dari lagu atau style Dongker, dan ada juga yang emang explorasi visual biar beragam output akhirnya. Dan ini tuh sebenarnya visualizer, bukan video lirik atau MV hahaha.. 

Tidak bisa dipungkiri, Dongker adalah band yang sangat memperdulikan visual, baik itu dari visual di panggung, merch, rilisan sampai output video-video mereka. Apakah ide-ide visual datang dari mereka atau lebih banyak dari diskusi?  Lalu bagaimana awalnya lo bekerja bareng Dongker sebagai fotografer live nya?

Untuk ide awalnya biasanya dari Delpi dulu sih lalu kita kembangin bareng-bareng dari diskusi, bisa dari film, MV, ataupun dari postingan random yang lewat di instagram, terus coba aku susun dan terapin di visualizernya. Awal mula kerjasama dengan Dongker itu pas ngefoto mereka di gigs Pelipur Lara, di Grun Bandung. Waktu itu kebetulan aku pulang foto dari studio terus melipir kesana dan foto-foto band yang manggung, sesudahnya ternyata Dongker suka dan aku diajak ikut manggung bareng Dongker.

 

Sudah berkolaborasi dengan brand-brand apa saja untuk foto lookbook, editorial dan output foto lainnya?

Kebanyakan brand-brand Bandung, kalo yang baru-baru ini Poshbrain, Portee, SVH..

Generasi Saya mungkin banyak terpengaruh oleh karya fotografer seperti Dash Snow, Juergen Teller dan Terry Richardson. Untuk era kontemporer ini, siapa saja yang lo lookup sebagai inspirasi lo dalam berkarya?

Buat sekarang kalo fashion editorial Thibaut Grevet, untuk surrealism ada Cho Gi-Seok, dan kalau untuk film Ari Aster kali ya..

 

Rekomendasi 5 video klip favorit lo apa saja?

Waduh lumayan susah ini hahaha.. Sekarang udah banyak banget yang bagus

kalo buat yang baru-baru ini Unknown T – Hocus Pocus, Young Friend – Feral Canadian Scaredy Cat, James Blake – Playing Robots Into Heaven, badbadnotgood – Beside April, Jean Dawson – Sick of it. Kalo alasannya selalu dari explorasi visual sih, semakin susah untuk dipikirkan dari ide atau tekniknya, semakin punya hook tersendiri waktu nontonnya. Selain itu harus match sama musiknya itu sendiri.

 

Foto fashion yang menurut lo bagus yang seperti apa? Karakter dan elemen-elemen apa yang diterapkan di foto-foto editorial dan lookbook fashion lo?

Kalo menurut aku ketika semuanya match antara looks, model, tempat dan konsep, itu udah ngasih karakter tersendiri yang natural. Dari situ bisa berangkat ke elemen-elemen surprising atau editorial yang ngasih karakter lebih ke foto itu sendiri.

 

Kamera yang lo pake dari awal sampai sekarang?

Buat start awal tuh kalo gasalah Nikon D3100. Pas SMA aku pake buat hunting foto alam hahaha, kalo buat sekarang belum banyak nyoba explore gear yang lain, tapi aku paling nyaman kalo kamera pake Sony, mungkin buat next aku mau coba kamera analog..

What’s next for Zirlyanpaja?

Buat kedepannya aku lagi coba buat foto lebih banyak di idealis aku sendiri, i want to explore my own style and idea, aku mau coba start di zine yang bakal aku bikin di tahun ini.

 

Pertanyaan terakhir: wishlist band, artist dan brand yang lo pengen banget foto siapa dan apa saja?

Waduhh hahaha, kalo band Slowdive kali ya hahaha, kalo brand aku pengen yang diluar Indonesia, dan pengen banget masuk majalah fashion yang sudah di ranah internasional apapun brandnya. Kalo buat seniman aku juga masih cari yang mungkin bisa dibilang punya karakter yang match sama aku, pengen coba buat kolaborasi terus buat share ideas bareng-bareng dan bikin sesuatu.

Showcase Dongker di Surabaya bersama Lobby dengan judul “Distopia Cinta,” tidak hanya sekadar pertunjukan musik. Acara ini juga menjadi panggung bagi gelaran multi-disiplin yang diperkaya dengan produk parfum dari REVERSEAS yang berjudul sama, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “LOVE DYSTOPIA.” Merujuk pada salah satu lirik lagu baru Dongker yang akan masuk dalam album perdana mereka tahun ini, acara ini memadukan tema “cinta terhadap sesuatu yang tidak semestinya.” Namun, keunikan Showcase ini tidak hanya terletak pada aspek musik, melainkan juga pada kolaborasi dengan Reverseas dalam menciptakan aroma parfum eksklusif.

 

Produk parfum utama yang dikembangkan oleh Reverseas memiliki aroma manis yang kuat, mencoba menginterpretasikan energi musik punk Dongker yang kasar dan penuh perlawanan. Campuran aromanya terdiri dari:
Top notes : Bergamot & Pink Pepper
Middle Notes : Clary Sage
Base Notes : Tonka Bean & Cocoa

Kolaborasi ini menampilkan enam artikel, yaitu parfum, dua kaos, celana baggy, topi, kalung, dan strap gitar. Seluruh rangkaian produk akan dirilis pada tanggal 21 Januari di Showcase Dongker yang akan diadakan di PosBloc Surabaya.

Untuk Bastards Music Series vol. 5, Bastards of Young berkolaborasi dengan Dongker, band yang selalu menjadi crowd-favorite di setiap gigs, mempunyai lirik-lirik yang tajam, serta sedang hangat dibicarakan oleh publik. Setelah Berkolaborasi dengan Diskoria, Perunggu, The Panturas dan Collapse, Bastards of Young memilih untuk bekerja sama dengan Dongker bukan semata karena musikalitasnya, tetapi band ini juga sudah memiliki identitas visual dan karakter yang kuat, dengan logotype, karakter-karakter dan berbagai elemen yang kerap muncul di output visual mereka seperti rilisan fisik, merch, cover art single sampai video klip.

Tidak hanya merilis merchandise berupa T-shirt, Bastards juga melakukan sesi wawancara dan membuat playlist Spotify yang diisi oleh lagu-lagu pilihan personil Dongker. Berikut ini adalah pendapat dari Dongker dan Bastards mengenai inspirasi design dari ketiga artikel yang dirilis:

API
“Api kita pilih karena lagu “Bertaruh Pada Api” adalah satu lagu Dongker yang paling iconic, crowd favorite dan memiliki lirik yang bagus. Logotype di design oleh Mayatschism, ilustrasi oleh Meirmaid. Sebuah parodi dari Cuphead.” -BASTARDS

“Design ini merupakan interpretasi dari lagu “Bertaruh Pada Api” yang mengambil identitas visual band metal Deicide yang digabungkan dengan tokoh King Dice pada video game Cuphead. Kami memang cukup sering memparodikan visual dari band metal, sebelumnya Sabbath Bloody Sabbath, tapi ilustrasi ini jauh lebih menarik dan kami sangat suka. -DONGKER

KEKAR
“Kekar Menyelimuti Mu” di backprint kaos diambil dari penggalan lirik “Luka di Pelupuk Mata”. Lagu ini bertema tentang toxic masculinity, feminisme dan patriarki, sehingga kami pilih design parody She-Hulk yang digambar oleh Mayatschism. -BASTARDS

“Ini adalah merch pertama yang menginterpretasi lagu “Luka di Pelupuk Mata” yang bercerita tentang toxic relationship yang seringkali terjadi karena konstruksi patriarki di masyarakat. Pada ilustrasinya menampilkan lirik “kekar menyelimuti” yang umumnya identik dengan pria namun diganti dengan sosok perempuan.” -DONGKER

KOTA
“Design kota adalah respon Bastards terhadap lagu “Tuhan di Reruntuhan Kota”. Sebuah homage terhadap design stiker Angkutan Umum yang di parodikan dengan estetika Godspeed You! Black Emperor. -BASTARDS

“Ide ini datang dari Bastards, dan yang membuatnya menarik ada 2 easter egg di design ini. Jika QR code di scan kalian akan mendapatkan soft file dari zine yang kami tulis, dan jika QR code di zine tersebut kalian scan akan masuk ke web manga di salah satu chapter manga favorit kami.” -DONGKER

Dongker terus menjadi perbincangan semenjak dirilisnya Bertaruh Pada Api serta showcase pertama mereka di Jakarta berjudul Konser Sepenggal Sadar. Kali ini, Dongker merilis single ke-3 berjudul Tuhan di Reruntuh Kota yang menjadi salah sati dari 5 singel yang akan dirilis untuk full album pertama mereka.

Pada kesempatan ini Dongker melebarkan ruang artistik mereka dengan mengajak berbagai kolaborator. Tuhan di Reruntuh Kota dikerjakan bersama musisi eksperimental Tomy Herseta dan diisi juga oleh Friska (White Chorus) sedangkan pada bagian visual dikerjakan oleh pengrajin emas bernama Rafida Nur Aini yang lebih dikenal bersama brandnya Medividi.

Dongker mencoba menceritakan Tarik ulur antara Kota dengan berbagai persoalan Agama. Selain merilis singel ke-3, bersama Greedy Dust mereka mengumumkan showcase berjudul Tuhan di Reruntuh Bandung pada tanggal 5 Maret di De Majestic Braga Bandung dengan tambahan penampil BAP. & Bleach. Akan ada kelompok Teater Tuturupa yang akan membuka showcase tersebut dengan teater yang merupakan interpretasi ulang dari lagu Bertaruh Pada Api.

Akhir-akhir ini, nama Dongker selalu bersinonim dengan show yang penuh keringat, stagedive, sing-along, fist in the air dan penonton yang pulang dengan tersenyum lebar. Dongker adalah quartet yang terdiri dari Arno (gitar & vokal), Delpi (gitar & vokal), Bilal (bass), dan Dzikrie (drum). Mereka memainkan musik punk dengan sound gitar yang cukup raw, dan terkenal akan live shownya yang enerjik dan durasi lagu yang singkat. Kalian bahkan bisa mendengar 2 EP mereka hanya dalam waktu 10 menit saja. Karena Dzikrie berhalangan hadir, mari berbincang dengan Arno, Delpi & Bilal mengenai pengalaman Arno yang hampir mati di panggung dan insiden Dongker di grebek oleh warga pada saat beres manggung di Solo..

Siapa Asmudjo yang kalian sebut di lagu “Terlalu Bodoh Untuk Bandung”? Apakah dosen ITB tempat kalian kuliah? Awalnya memutuskan ngeband gara-gara satu kampus ya?
Delpi: Iya itu dosen Senirupa ITB, dosen saya, Bilal sama Dzikrie. Dia ngajar beberapa mata kuliah teori, disebut sebagai bapak kontemporer Indonesia. Apa sih Lal pameran tunggalnya dulu?

Bilal: Maju Gak Bisa, Mundur Gak Bisa gitu ya? Lupa lagi. Dia ngajarin seni eksperimental dulu..

Delpi: Dia ada statement di pamerannya bahwa ga ada yang original. Cuma dia aja yang orisinil, karena itu nama instagram nya Asmudjo Asli, yang lain seniman palsu..

Bilal: Iya betul kita ketemu di kampus ITB dulu, dulu aku, Arno sama ada satu teman lagi sering nongkrong di kontrakan Delpi.

Delpi: Dulu saya ngekos mas bareng Bilal, Arno dan teman satu lagi, cuma dia gak diajakin ngeband karena gak bisa main musik, bisa nya bikin tank dan senjata perang. Kalau dulu sama pas tingkat satu kurang dekat sama Dzikrie.. Pas tingkat 2 mulai dekat..

Bilal: Dia wibu soalnya mas hahaha..

Arno: Dzikrie temenan nya banyak sama wanita soalnya mas.. Kita dulu masih malu sama wanita waktu itu..

Arno photos by @darkofmoist_ (Prita)

Sound gitar kalian terdengar raw di rekaman dan versi live kalian. Sound gitar ideal versi kalian itu yang bagaimana sih?
Arno: Kalau aku sih di musik garage itu paling suka sound clean kaya Dark Thoughts gitu mas.. Sedikit overdrive tapi cempreng. Tapi ada nge fuzz nya dikit.. Kalau buat di musik punk paling suka sound kaya gitu buat gitar. Biar ga cape downstroke terus..

Nanti tangan nya gede sebelah ya kaya Ramones dan Misfits kalau downstroke terus haha..
Arno: Oh iya bener gede sebelah tuh mereka haha..

Delpi: Kalau jenis suara efek saya sepakat sama Arno sih, cuma kalau di gitar saya suka gitar yang menumpuk di layer-layer atau penempatan nya jelas di lagu tuh.. Ada beberapa band yang gitar nya 2 tapi ga signifikan kenapa gitar nya 2. Kaya album Arctic Monkeys yang gambar orang ngerokok itu terasa ada 2 manusia yang main gitar. Menurut saya suara gitar yang bagus itu terdengar kenapa urgensi nya misal harus 2, 3 atau 4 orang..

Bilal mungkin mau nambahin sound bass yang ideal menurut lo?
Bilal: Saya suka Frankie Sadikin. Skillful tu orang Indonesia kaya gitu, cuma dia kan memang jago. Sound bass Parquet Courts juga saya suka, slide-slide nya enak, sound nya agak bulat juga..

Delpi photos by @darkofmoist_ (Prita)

Musik kalian terdengar catchy, layaknya band-band seperti Protex dan The Dickies. Album punk terbaik versi masing-masing personil apa? Dan Kenapa?
Arno: Dark Thoughts. Band 2013 gitu mas. Albumnya yang self titled. Dari segi sound dan vokalnya tuh kaya yang nyanyi bahasa Inggrisnya cepat. Aku tuh terinspirasi live music dari mereka, gitar juga SG, terus dia itu bertiga.

Delpi: Blitz yang album Voice of A Generation. Mereka tuh band Oi punk secara fashion, dan visual, cuma secara musik berkembang terus, ga seperti band punk yang lain, lebih open minded musikalitas nya. Kaya Cock Sparrer juga kesan nya seram tapi saya suka. Cuma yang representatif buat Dongker itu Blitz.

Bilal: PUP punk bukan sih? Kalau aku sih selain musiknya suka penampilannya dulu sih, dan artwork kemasannya. Albumnya yang The Dream is Over.

Bilal photos by @darkofmoist_ (Prita)

Siapa saja yang menulis lirik di Dongker?
Arno: Kaya single terakhir yang “Sepenggal Sadar”, itu lirik dari Delpi lalu aku rubah. Atau misal aku yang bikin lirik pasti diubah juga sama Delpi… Jadi dari intro sampai outro itu dinamikanya sedih secara lirik..

Delpi: Awalnya tuh judulnya “Setengah Sadar” tapi sama Arno diubah jadi “Sepenggal Sadar”. Kebanyakan saya sama Arno. Arno itu banyak imbuhan nya. Kalau ada hal yang diluar orang pada umumnya itu pasti Arno. Kaya suara kambing. Nanti di album ada suara gorila..

Lirik-lirik lagu kalian bertema perlawanan pada otoritas tetapi kadang bersifat nihilist juga. Kalau disuruh memilih, kalian lebih suka lirik-lirik yang berbahaya seperti Crass, intelek seperti Propagandhi atau lirik yang lebih bersenang-senang seperti The Queers?

Arno: Kalau The Clash tau sih agak-agak politis.. Aku sih pengen nya bersenang-senang, komedi gitu, tapi ada politiknya biar tajam aja sih..

Delpi: Crass No, bukan Clash.. Saya ketiga-tiganya gak begitu suka sihh.. Kalau di Dongker gak cuma di lirik aja sih penerapannya. Meskipun “Bertaruh Pada Api” liriknya agak sedih, secara gimmick dan pembawaan kita tetap fun, Arno masih pakai topeng di panggung, merchnya tampilan kartun, live show kita pada senyum ketawa.. Gak semua elemen di Dongker berfokus ke satu titik..

Arno: Rencana di 4 track di album mendatang yang nanti mau kita rilis itu, saya juga bingung nanti live nya gimana mau dibawa senang-senangnya. Saya kan orangnya olah rasa banget nih. Gatau sih ntar kayaknya sedih albumnya..

Kemarin saya liat di IG, Dongker sedang rekaman di Downton Market Studio ya? Sedang merekam single baru atau menggarap album?
Delpi: Sebenarnya udah hampir setahun nih, mulai bulan Juni 2022, udah direkam 11 lagu gitarnya. Target 13 lagu. Tadinya mau 22 lagu, cuma setelah sharing sama anak-anak Sun Eater katanya kebanyakan.

Arno: Iya terlalu banyak bisa jadi 2 album..

“Bertaruh pada api” itu tema besar liriknya bercerita tentang apa?
Delpi: Ini tentang patah hati terhadap Jokowi mas hahaha..

Arno: Jokowi? Bukannya tentang perselingkuhan Pi?

Delpi: Saya pribadi ngerasa Dongker itu sulit untuk bikin lirik yang spesifik menceritakan suatu kejadian. Misal Tigapagi yang menceritakan kejadian tahun ‘65. Atau “Bioskop Pisau Lipat” milik Melancholic Bitch itu kan spesifik pengalaman anak-anak Melbi pas dipaksa menonton film G30SPKI di bioskop. Karena itu banyak lagu kita itu menghadirkan pengalam personal kami ke bahasa yang lebih umum. Bahkan ada 1 lagu itu menceritakan tentang keluarga teman atau kesedihan yang dirasakan teman saya ketika istrinya meninggal. Jadi dekonstruksi nya lebih umum.

Video “Batas Pedut” dibuat oleh Bilal ya? Ide awal memakai teknik animasi rotoscope di video “Batas Pedut” dari mana? Gimana proses penggarapan video itu?
Bilal: Awalnya melihat efektivitasnya aja sih. Waktu itu terburu-buru oleh deadline, akhirnya kita memakai metode rotoscope dan memilih lagu itu karena durasi lagunya paling pendek cuma 34 detik. Paling masuk akal untuk dibikin animasi ya lagu itu, prosesnya panjang soalnya kalau bikin animasi. Sebenarnya belum maksimal, tapi yang ditonjolkan adalah teknik hand drawingnya raw dan kasar ala punk.

Dzikri photo by @darkofmoist_ (Prita)

Arno sering menggunakan topeng kupluk yang cukup iconic setiap perform live dan itu menjadi ciri khas Dongker. Kenapa cuma Arno aja yang pakai? Ide dari mana awalnya memakai topeng setiap perform?
Arno: Awalnya untuk menutupi ketampanan mas… Awal main pakai balaclava di acara Taman Sari Melawan, tapi masih balaclava Eiger. Saya pengen Dongker masuk ke pengkondisian Taman Sari, pakai balaclava biar anarkis.. Tetapi sebenarnya ingin menutupi muka sih, orang-orang yang nonton serem soalnya.. Nah kalau udah pakai topeng jadi lebih pede aja. Lalu semenjak itu jadi pakai topeng terus. Dan dulu juga saya gondrong jadi pakai balaclava biar rambut ga ganggu pas main gitar.. Lalu sesudah pandemi aku bikin balaclava ke teman namanya Sasa Yarn Eater, custom bikin yang unik, tambahin rambut mohawk punk nya sekalian..

Delpi: Saya sih pernah nyobain maen pakai balaclava tapi pusing, pengap mas.. Waktu di Gudskul gak keliatan apa-apa dan pusing, nyanyi juga susah. Tapi kalau Arno sudah terbiasa nyanyi pakai balaclava. Sudah menyatu dia.

Bilal: Kalau Delpi gak mau menutup ketampanan nya kayaknya mas hahaha.. Kalau saya rencana malah manggung pakai peci..

Arno: Waktu konser “Sepenggal Sadar” di Gudskul juga kita semua pakai balaclava semua personil. Cuma di 2 lagu awal, karena pada eungap..

Dengar-dengar kemarin ada insiden banyak penonton naik ke panggung dan sampai mengganggu performa Dongker (bahkan sound monitor ada yang mati). Bisa elaborasi sedikit?
Arno: Sebetulnya gara-gara Dongker punya ekspektasi main bagus sih di SFTC sebab memang acara tersebut ngomongin musiknya sebagai bentuk apresiasi & didokumentasikan secara proper, makanya kami sudah mempersiapkan untuk main bagus, jadinya kami hanya sedih sendiri ketika kemaren mainnya cukup buruk sebab adanya gangguan teknis dan lain-lain, kami emang tidak ada persiapan untuk kondisi seperti itu & kami pengen punya momen keren di SFTC, alhasil kekecewaan yang terjadi, jadi sebenarnya tidak ada salah benar di kejadian kemarin tapi hanya lebih ke tepat atau tidak tepat aja, bagi aku pribadi kemarin tidak tepatnya adalah ketika penonton naik dan tidak mengerti kondisi konteks acara SFTC yang memang kami sebagai performer punya ekspektasi kepuasan untuk unjuk gigi musik kami sendiri. Kebetulan juga output dari SFTC kan musik video di Youtube dan itu menjadi kesempatan pertama Dongker dilihat sebagai band yang bagus secara aksi panggung dengan video yang ciamik.

Delpi: Disamping tindakan merebut mic tanpa concern memang mengganggu kami memiliki ekspektasi tinggi dalam show SFTC kemarin seperti kata Arno karena memang akan menjadi salah satu dokumentasi live yang baik dari tim SFTC. Karena ekspektasi tersebut saya cukup bete dan akhirnya terus menendang dari awal set sampai akhir. Tapi tindakan saya ini tidak sepenuhnya dibenarkan oleh rekan band saya, karena setelah show berakhir Arno memberi teguran kepada saya untuk lebih sabar jika ada hal diluar kendali terjadi saat di panggung.

Versi masing-masing personil: Live show kalian yang paling berkesan?
Delpi: Kalau kejadian unik di Solo sih. Mau siapa nih yang cerita nih hahaha.. Bilal saksi pertama nih..

Bilal: Kalau ini bukan venuenya, lebih ke peristiwanya, kita di grebek warga pas lagi nginep, kirain masalah nya gara-gara kita menginap disitu. Taunya masalah personal yang punya kos-kosan nya..

Delpi: Jadi pagi-pagi Bilal bangunin saya jam 8. Bilal kan ga ngerti soalnya orang-orang marah pakai bahasa Jawa, ternyata kita diusir dari kontrakan nya. Hubungan warga dengan penghuni kontrakan ternyata kurang baik. Gigs nya lancar, setelah main ngegigs kita makan dan nongkrong. Lalu kita dititipin di kontrakan itu. Datang kita langsung tidur karena sudah capai. Tau-tau pagi-pagi digrebek dan kita gatau ada apa..

Arno: Yang kemarin terakhir ya mas? Nah kalau di Gudskul pas konser “Sepenggal Sadar” itu adalah pengalaman pertama saya seperti mau dicabut nyawanya. Pengap parah karena saya salah kostum. Pakai wearpack bahan nya tuh panas dan anti air, dan pakai balaclava baru yang agak tebal. Kondisi juga saya capek karena nyetir dari Bandung ke Jakarta. Massa udah main gila semua di gigs itu, dan saya sebagai performer juga harus menunjukkan kalau saya main dengan gembira. Saya gak bisa nafas, sudah mau pingsan di lagu kedua terakhir. “Wah saya mati disini kayaknya mas”. Gapapa deh mati disini.. Karena suhu badan saya ketahan di wearpack saya, untungnya masih bisa nyanyi dan main gitar. Ini pengalaman paling melekat sepanjang manggung.

Bilal: Beres acara Arno langsung telanjang mas diluar..

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos by Bimanda Dharma, Prita Darkofmoist, Delpi

Ini adalah beberapa single-single yang menarik dan sering kami putar akhir-akhir ini. Mari simak 14 single berikut ini yang kami sajikan tanpa urutan. Here goes…

Alkateri – “Egosentris”
Ini adalah debut single dari unit indie pop yang baru terbentuk di Bandung pada tahun 2021. Band ini seakan muncul tiba-tiba ditengah pandemi 2021 dan akhirnya merilis “Egosentris”, sebuah track indie pop bergitar jangly dengan modulasi delay. Memang single ini dirilis September lalu, tapi sepertinya lagu ini cocok untuk meng-elevate solo travelling kalian menggunakan kereta atau sambil melihat jendela dari pesawat terbang. For fans of: The Sastro, The Sweaters atau Secret Meadow.

Retlehs – “Kaki”
Trio goth / shoegaze / post-punk / indie rock / whatever ini cukup menyita perhatian kami: vokalis Natasha dengan suaranya yang mengalun dan powerful disaat yang sama, basslines Hara yang mengingatkan saya pada Kim Deal dari The Pixies dan Faizu, drummer yang menurut saya sangat badass. “Kaki” adalah sebuah track yang terdengar seperti peleburan nu gaze tahun 2000an ala Amusement Parks on Fire dengan alternative rock ‘90an. Dengan produser Joseph Saryuf (Sinjitos Records), mereka berada di tangan yang tepat untuk merilis debut EP mereka “Satyr’s Satire”. Oh ya, cek juga cover version Efek Rumah Kaca “Di Udara” yang mereka bawakan. This band should deserve more attention.

Polka Wars – “Phases of Hue”
Band indie rock asal Jakarta ini sempat diisukan bubar, tetapi ternyata mereka merilis single baru dengan format trio. “Phases of Hue” juga diproduseri oleh Lafa Pratomo (produser album “Bani Bumi”). Surprisingly, “Phases of Hue” lebih straightforward secara musikalitas dan instrumentasi. Jika dibanding dengan single “Rangkum” atau lagu-lagu di album “Bani Bumi” yang lebih melankolis dan moody. Tidak bisa dipungkiri, track bernuansa indie rock ini sangat catchy. Terkadang memang ada benarnya less is more. Kami menyukai direction baru Polka Wars yang lebih simple dan segar. Can’t wait for the album to drop.

Dongker – “Bertaruh Pada Api”
Setelah tahun 2020 lalu merilis merilis mini album “Menghibur Domba di Atas Puing”, Dongker kembali merilis materi baru yang berbeda dari rilisan-rilisan sebelumnya: berdurasi lebih panjang. Band yang memainkan musik punk ala Protex dan The Dickies ini cukup dikenal dengan lagu-lagunya yang berdurasi singkat, lirik Indonesia yang offensive dan sound gitar yang raw. Dengan lirik seperti “Aku ingin terus hidup / berharap umurku panjang” sampai kalimat penutup “Tanpa batas, tanpa negara, tanpa agama”, sudah tentu lagu ini akan mengundang sing along yang lantang jika dibawakan. Lagu dengan aransmen ala “Bohemian Rhapsody” ini juga di mix oleh Pandu Fuzztoni (The Adams), dengan bantuan vokal latar dari Jasmine Kane (Loner Lunar).

Bleach – “Overcast”
Setelah merilis “Iced Cold” 16 September lalu, kuintet hardcore asal Bandung, Bleach, merilis single bertajuk “Overcast” pada 25 November ini. Kedua single ini adalah bagian dari debut full-album yang akan dirilis pada awal tahun depan via Disaster dan Oblivion Records. Jika pada “Iced Cold” mereka menyelipkan sedikit riff grunge, pada “Overcast” mereka terasa lebih tight dengan pakem hardcore ‘90an yang catchy. Ada elemen perkusi yang dipadupadankan dengan bassline yang groovy disini. Mike (Vokal) sedikit bernyanyi disini seperti pada single “Iced Cold”. Cover art untuk single ini dikerjakan oleh Yowdy Santiar dari Iron Voltage.

Godplant – “Neraca Rimba”
Setelah merilis Caruk pada bulan Juni lalu, Godplant kembali dengan single baru berjudul “Neraca Rimba”. Single kedua dari unit doom/sludge asal Jakarta ini sudah resmi dirilis dan bisa didengarkan di media streaming pilihan kalian. Kedua single ini adalah bagian dari upcoming album mereka yang tentunya akan dirilis dalam waktu dekat. Artwork menarik single ini dibuat oleh illustrator Syams Riadio. Tentunya band pilihan Lawless Jakarta selalu top notch. Godplant sepertinya ingin kita mendengarkan lagu mereka dengan volume yang keras.

Alpha Mortal Foxtrot – “Spectrum”
Salah satu band underrated favorit kami. Alpha Mortal Foxtrot, atau Amofo adalah band alt-rock / indie rock dari Jakarta. Kita mendengarkan Amofo sejak mereka merilis single “No One Will Talk About Us”. Band ini kerap memprakarsai “Menyongsong Nah Ini Dia Fest”, sebuah gigs intimate yang menampung band-band underdog lainnya yang tidak tampil di festival-festival besar. Rupanya dari departemen lirik, single alternative rock ini bercerita mengenai pengalaman personal Wiku (Vokal/gitar) dan dipersembahkan untuk anaknya. Sebuah lagu yang uplifting dan diracik degan baik.

Sieve – “In the Shore of Madness”
Salah satu pionir darkwave / goth rock asal Bandung ini kembali dengan single baru setelah hiatus selama 22 tahun. Produksi sound modern ternyata mampu menghadirkan musik Sieve yang sesungguhnya, jika pada EP “Biara” mereka terhalang oleh teknologi yang terbatas, kali ini musik Sieve terdengar seperti seharusnya: megah nan epik. Tentu saja vokal Alexandra J. Wuisan tidak mengecewakan dan malah lebih terekspos di single ini.

Rafi Muhammad – “Tasty”
Setelah merilis Transition pada tahun 2017, Rafi Muhammad; Drummer sekaligus produser asal Jakarta kembali dengan secara resmi merilis EP bertajuk “Laughter Master” pada 18 November kemarin. Self-produced EP bernuansa jazz, afro, house sampai hip hop ini direkam secara live bersama tiga musisi yang juga sahabatnya: Nikita Dompas (gitar), Kevin Suwandhi (synth bass, keyboard), dan Kuba Skowroński (saksofon). Muhammad menggarap keempat materi tersebut bersama Doni Joesran, salah satu personil trio jazz / leftfield / electronica asal Jakarta, Batavia Collective. Kudos untuk Randy MP yang membuat lagu ini terdengar sangat nyaman di telinga. Mastering pun digarap oleh Viki Vikranta dari Kelompok Penerbang Roket.

Sore – “Maka Terjadilah Sekilas Kisah Murah”
Selalu menjadi perdebatan para penggemarnya, kalau Sore formasi trio sekarang ini output musiknya sedikit berbeda dengan formasi kuintet klasiknya. Tetapi bagi kami, rilisan-rilisan Sore yang baru terdengar lebih effortless dan tetap tidak mengalienasi penggemar-penggemar lama mereka. Contoh kongkritnya ada di lagu ini tentunya. A nice poppy ballad dengan mood nostalgia yang datang entah darimana.

Efek Rumah Kaca – “Heroik”
Ini adalah single terbaru dari Efek Rumah Kaca, apa perlu kita jelaskan lebih lanjut? Sedikit mengingatkan ke direksi aransmen musik ERK di era album self-titled (2007). Go ahead and listen this banging song.

Sunbath – “Paralyzed”
Sunbath berhasil mempraktekkan tagline “alternative rock revival” mereka dengan single ini. Kalian akan mencium sedikit aroma dari Lush, Elastica, Veruca Salt bahkan L7 dan Sixpence None The Richer di lagu ini. Single ini adalah rilisan perdana Sunbath dengan formasi yang lebih solid, dan rilisan ini juga menandakan bahwa mereka akan merilis “sesuatu” dalam waktu dekat. Catch their live performances too, you won’t be disappointed.

Collapse – “Rute Menuju Ivory”
Collapse seakan menemukan energi baru dengan transisi mereka dari solo project menjadi sebuah band yang solid. Jika kalian rindu Collapse era “Cold November” dan “Chloe”, maka ini adalah obat nya. “Rute Menuju Ivory” memang terasa seperti “sekuel” dari 2 single terakhir mereka sebelum hiatus. Kali ini Andika Surya seperti lebih “lepas” untuk mengeksplorasi departemen vokal karena gitar sudah dipercayakan kepada 2 sahabat nya: Angga dan Mario. Suara crunch gitar yang renyah berpadu dengan permainan drum yang epik kelak akan membuat lagu ini menjadi favorit di show mereka dan akan menggantikan “Given” sebagai lagu andalan. Mari kita tunggu single berikutnya yang akan dirilis dalam waktu dekat ini.

Nearcrush feat. Collapse – “Season Finale”
Pada tahun 2022 band indie rock veteran asal Jakarta, Sajama Cut, merilis album kompilasi tribute to Sajama Cut berjudul “You Can Be Anyone You Want”. Siapa sangka, band alt-rock asal Bandung bisa mengkover lagu “Season Finale” Sajama Cut yang dengan sangat baik. Dengan aransmen yang sedikit berbeda dari versi originalnya, lagu cover ini dikemas sedikit lebih modern dari versi aslinya yang lo-fi. Sound gitar yang lush bertemu dengan efek fuzz yang mengawang di background, lalu diakhiri dengan outro yang sedikit basah oleh modulasi chorus. Pada single ini, Andika Surya dari Collapse membantu mengisi departemen drum dengan permainan nya yang apik dan pas.

Words by Jeurnals

Setelah merilis “Bertaruh Pada Api” Dongker kembali dengan merilis single ke-2 ekslusif di Storefront yang sekaligus mengumumkan showcase awal tahun mereka di Aula Gudskul Jakarta. Sebelumnya mereka bekerjasama dengan desainer kontemporer asal Bandung yang kerap mengeksplorasi material muncul dengan teknis letterpress di single Bertaruh Pada Api. Kali ini bersama dengan Studio Pancaroba, Dongker menghadirkan cover berupa foto dari karya terbaru Studio Pancaroba yang merespon lagu baru Dongker berjudul Sepenggal Sadar. Foto tersebut diambil di persimpangan jalan jalan Dago yang dekat dengan kampus member Dongker.

Single ini dikerjakan oleh Pandu Fuzztoni (Morfem, The Adams) pada proses mixing dan Bill Handerson dari Azimuth Studio (Title Fights Kingston era & Tigers Jaw Two World) pada proses mastering. Untuk cover single ini dikerjakan oleh Studio Pancaroba dan artwork foto oleh Zirlyan Paja. Selanjutnya Dongker akan berkala merilis single dan menargetkan album penuh pada paruh ke-2 2023. Single “Sepenggal Sadar” dapat dingerkan pada tanggal 13 Desember 2022 di platform music Storefront.

Lagu ini dibandrol dengan 4 jenis harga yang juga berlaku sebagai tiket masuk Showcase mereka di Gudskul pada 14 Januari 2023.
Singel Saja = Rp. 25.000
Early Bird = Rp. 75.000
Pre-sale = Rp. 125.000
OTS (Tanpa Singel) = Rp. 125.000
Detail silahkan mengikuti akun Instagram Greedy Dust.

Setelah merilis Menghibur Domba di Atas Puing pada 2020 lalu. Akhirnya Dongker kembali dengan merilis materi baru yang jauh berbeda secara artistik dan kualitas dari materi-materi mereka yang sudah ada. Di materi terbarunya kini Dongker tidak lagi mempertahankan ciri khas mereka yaitu memainkan lagu berdurasi singkat. Single terbaru Dongker berjudul “Bertaruh Pada Api” berdurasi 4 setengah menit, sekaligus menjadi lagu terpanjang versi mereka. Pada single ini Dongker mencoba proses kreasi yang lebih terbuka dan inklusif. Proses tersebut Dongker ramu dengan mengajak banyak teman terdekat mereka untuk berkontribusi serta memberi kesan yang lebih ramah namun tetap dengan ciri kalimat ofensif di tiap baitnya.

Untuk pengerjaan mixing, Dongker mempercayakannya kepada Pandu Fuzztoni (Morfem, The Adams) dan pada proses mixing dan Bill Handerson dari Azimuth Studio (Title Fights Kingston era & Tigers Jaw Two World) pada proses mastering. Untuk cover single ini dikerjakan oleh Sidney Islam. Selanjutnya Dongker akan berkala merilis single dan menargetkan album penuh pada paruh ke-2 2023. Single “Bertaruh Pada Api” sudah dapat didengarkan di semua platform musik.

Latar belakang gigs ini cukup menarik: sebuah perhelatan diadakan dadakan pada hari Minggu(13/11) (diprakarsai Discover Sounds & Kaum) menampung band-band yang seharusnya main di Alternative stage Fosfen tetapi tidak jadi dikarenakan festivalnya yang (katanya) postponed. Dengan line up keren yang cukup variatif seperti, Saturday Night Karaoke, Muchos Libre, Dongker, Phonetic, Collapse, CAL sampai Eastcape yang jauh-jauh datang dari Blitar.

Saturday Night Karaoke menghangatkan dingin nya udara Grun Bar yang terletak di jalan Setiabudi atas tersebut dengan sajian musik punk ala Lookout Records (The Queers, Screeching Weasel). Kami melewatkan penampilan Muchos Libre tetapi kami yakin mereka bisa menghibur penonton seperti biasa dengan aksi panggungnya yang atraktif. Jika SNK membuat suasana menjadi hangat, CAL kembali “mendinginkan” suasana dengan sajian nu-gaze nya yang mengalun. Mereka tampil rapih malam itu.

Eastcape yang tahun lalu baru merilis split EP dengan Sugar Thrills (Bali) sangat menarik. Mereka membawakan musik midwest emo ala American Football dengan sedikit sentuhan math rock. Datang jauh-jauh dari Blitar untuk bermain di Fosfen, kedatangan mereka pun tidak sia-sia karena akhirnya tampil di Grun Bar pada malam itu, dan crowd pun cukup apresiatif melihat penampilan mereka. Phonetic bermain sangat maksimal malam itu walaupun tidak soundcheck. Mungkin mereka sudah bosan mendengar komparasi dengan band 1975, tapi beberapa lagu baru mereka malah keluar dari pakem musik seperti itu. Mereka juga membawakan cover version “There She Goes” entah dari The LA’s atau Sixpence None The Richer pada setlist nya.

Dongker membuat crowd stage dive dan singalong, rupanya sebagian besar penonton ternyata hafal lirik-lirik lagu Dongker. Malam itu ditutup dengan Collapse yang tentunya membawakan “Given” dan 2 cover version wajib mereka: “Blood Bank” dari Bon Iver & “Toxic Boombox” dari Angel Du$t. Mereka juga sempat membawakan single baru “Ivory” yang sangat catchy. Tidak ada yang lebih tepat dari mendengarkan Collapse membawakan “Cold November” di malam November yang dingin.

 

Words by Aldy Kusumah

Photos by Fabian Insan Faturahman