Arga
Dehumanized – Prophecies Foretold (2010)
Awalnya kepincut artwork-nya pas digging materi, tapi trek “Fade Into Obscurity” langsung bikin nempel. Groove dan heaviness-nya sangat masuk ke karakter Prejudize, dengan riff bernuansa Suffocation versi modern. Pendekatan aransemen ini ideal dijadikan referensi tanpa meniru mentah-mentah. Secara musikal dan visual pun terasa klop dengan formasi band kami: dua gitaris yang pas dengan citra gahar, basis yang tetap bebas beraksi khas hardcore, serta drummer yang solid menjaga tempo dan mengeksekusi kebutuhan lagu. Intinya, ada kesinambungan antara sound yang heavy dan identitas band.
Gilang
Suffocation – Blood Oath (2009)
Kalo riffs, gue banyak masukin 2 unsur dari band classic dan band modern. Kalo classic gue ngambilin formula solo guitar nya Suffocation, groovy nya Internal Bleeding, dan heavy nya Cannibal Corpse.
Kalo modern nya gue ngambilin formula kotornya Caustic Wound, dan serem nya Revenge.
Dari situ gue campurin semua, dibikin satu ‘adonan’. Kira-kira kaya gitu cara gue bikin riffs untuk EP State To Kill.
Ruly
Obituary – Inked in Blood (2014)
Baru gabung dua minggu sebelum rekaman, bagan dan ketukan lagu sebenarnya sudah dirancang rapi oleh sang gitaris. Peran di sini lebih ke merapikan struktur dan memberi sentuhan fill-in tipis agar flow-nya makin pas. Fokus utama justru mengejar karakter sound drum yang terinspirasi dari gaya Donald Tardy di album ini. Dry tapi nampol, namun tetap bertenaga. Dengan mengincar karakter snare yang crack dan snappy dengan artikulasi drum yang padat tanpa kehilangan nuansa raw serta tetap menyatu dengan visi awal band.
Ale
Inveracity – Extermination of Millions (2007)
Riff technical dan groovy berbalut brutal death metal di album ini jadi referensi utama saat Prejudize beralih haluan genre. Album ini juga membawa nostalgia masa SMA ketika skena death metal Bandung sedang jaya-jayanya lewat kompilasi legendaris Padiga. Riff-riff gahar dari masa lalu itulah yang akhirnya menginspirasi proses kreatif pembuatan EP State to Kill.
Rian
Hellbeyond – The Strongest Stand Last (2010)
Momen callback muncul saat guide lagu pertama selesai; vibes dan riff-nya langsung mengingatkan ke album ini di jalan balik ke kosan. Sebagai personil yang tidak terlalu mendalami death metal, album ini terasa sangat compact untuk dijadikan referensi—riff, karakter sound gitar, hingga drumnya sangat heavy, sementara sisi hardcore yang diinginkan tetap terwakili. Menariknya, saat take drum di Funhouse, Om Edz (gitaris Hellbeyond) yang jadi operator sempat nyeletuk, “jiga Hellbeyond nya“.