Bastards of Young adalah brand asal Bandung yang cukup prolifik dalam kolaborasi; beberapa kolaborasi mereka adalah dengan brand Maternal Disaster, seniman seperti Senikanji, Ken Terror dan Ykha Amelz, dan juga tentunya dengan beberapa band yang dirangkum dalam Bastards Music Series. Setelah berkolaborasi dengan Perunggu, The Panturas dan Diskoria, kali ini mereka berkolaborasi dengan Collapse, band alternative rock asal Bandung.

Untuk menggarap grafis pada artikel-artikel merchandise kali ini Bastards seperti biasa merespon lagu-lagu terbaru Collapse seperti “Them Chords”, “Born Again” dan tentunya “Violet Membran” yang baru saja dirilis video klipnya. Mereka juga menyajikan sesi wawancara eksklusif Collapse formasi terbaru ini, yang sepertinya memang belum pernah melakukan video interview di media lain. Untuk departemen fashion spread Bastards juga melakukan sesi foto dengan Collapse, dan juga merilis lookbook video yang berlokasi di Tokyo. Segera dapatkan capsule collection ini melalui kanal-kanal Bastards of Young.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Bastards of Young (@bastards_)

Collapse yang pada awalnya hanya solo-project Andika Surya (vokal) kini sudah bertransformasi menjadi full band, dengan line-up personil tersolid nya: Angga Kusuma (gitar), Hasbi Erlangga (bass), Mario Panji (gitar) dan Gustian Satria (drums). Dengan line-up itulah Collapse kembali ke studio untuk merekam 4 track yang ada di ‘Saint EP’ ini. Dibuka dengan track instrumental “Born Again”, mood pendengar seakan sudah dipersiapkan oleh suara keyboard yang mengalun dan gitar dengan efek reverse delay nya. Mengawang dan memiliki mood yang sedikit mengingatkan pada “Sleepless and Dreaming” dari EP Grief terdahulu.

Pada saat track 2 “Rute Menuju Ivory” diputar, seakan ada batu bata yang menghantam muka kamu. Aransmen yang tight dan lead gitar catchy mengundang siapapun yang mendengar lagu ini secara live untuk berdansa seakan tidak ada hari esok. Menariknya, lagu ini adalah lagu Collapse pertama yang berbahasa Indonesia, dan rupanya memberanikan diri untuk menulis lirik berbahasa Indonesia adalah langkah yang tepat untuk Collapse. Lagam dan nada vokal yang dinyanyikan Andika sedikit mengingatkan saya ke Dewa 19 era ‘Terbaik Terbaik’ dan Protonema era “Rinduku Adinda”. Walaupun part bridge lagu ini (“Presence / Grudges / Longing / Lost”) menggunakan bahasa Inggris, semua tetap terasa aman dan tidak dipaksakan. Rupanya mereka memilih aransmen yang dinamis tanpa chorus dan pengulangan, karena seperti judul lagunya yang memiliki tema perjalanan, aransmen lagu ini pun tidak maju mundur dan terus bergerak kedepan, semakin intens dan sesekali menurunkan temponya.

Track ketiga “Them Chords” adalah sebuah skit, layaknya sebuah skit di album hiphop. Dibuka dengan voice over penyiar radio yang (katanya) bernama Vidi Nurhadi, di track ini Collapse memainkan musik dengan sound lo-fi dan musik ala slacker rock yang biasa dimainkan oleh band-band seperti Sunset Rollercoaster, Hush Moss, Boy Pablo dan Cuco. Sayang sekali lagu ini hanya dijadikan skit semata, padahal kalau dijadikan lagu penuh mempunyai potensi yang menarik. “Them Chords” seolah hanya bertugas untuk menjadi intro dari track “Violet Membran”, yang ditaruh terakhir di EP ini. So far, mungkin “Violet Membran” adalah lagu terbaik yang Collapse pernah bikin selain “Chloe” dan “Cold November”. Track yang bernuansa dreamo (dream pop + emo) ini memiliki beat dan aransmen straighforward, dimana mereka berhasil mengambil elemen-elemen terbaik dari Title Fight era “Hyperview”, Foo Fighters era ‘The Colour & The Shape’ dan tentunya sedikit riff ala Deftones, in a good way. Andika terasa lebih percaya diri dan lepas dalam bernyanyi setelah menjadi vokalis dan “menggantung” gitarnya, dan itu dibuktikan dengan baik di lagu ini. Overall, jika Saint EP adalah pemanasan untuk debut full album mereka, we can expect great things coming your way.

 

Words by Aldy Kusumah
Photo by Darkofmoist

Stereo Night Club adalah sebuah perhelatan yang diinisiasi oleh 2 program radio OZ yaitu Substereo dan Thursday Night Club. Acara kolaborasi antara Substereo dan TNC ini pun di kemudian hari akan menjadi sebuah perhelatan yang diadakan setiap bulan dengan line-up band yang berbeda. Untuk gigs perdana nya, Stereo Night Club memilih Vandal Bar sebagai venue, mungkin karena lokasinya yang strategis, area parkir yang luas dan sudah cukup dikenal juga sebagai tempat yang mengakomodir gigs-gigs seperti ini.

Line-up Stereo Night Club Vol. 1 ini cukup menarik: Vertical Abuse, Swarm, Iron Voltage dan Collapse. Vertical Abuse membakar panggung dengan fusion hardcore/metal/punk khas mereka. Walaupun crowd belum terlalu banyak dan belum “panas”, Vertical Abuse mampu menyajikan setlist yang cukup enerjik. Swarm tampil berikutnya dengan sajian screamo mereka. Band ini uniknya selalu membawa lampu-lampu berdiri untuk properti panggungnya, yang menambah kesan teatrikal dan gloomy. Swarm bermain rapih malam itu. Single “Kelambu di Tapal Batas” dibawakan dengan apik, dan mengajak crowd bernostalgia ke era tahun 2000an dimana band-band screamo merajalela.

Pada saat band thrash metal Iron Voltage bermain, crowd sudah memanas dan berdansa. Edy sang vokalis seakan memberi kode kepada para penonton untuk mengikutinya headbang sambil diiringi “Devastation” yang selalu menjadi andalan mereka saat perform. Pada saat Collapse naik ke panggung, Andika Surya dan cohorts nya membawakan “Cathedral”, dan salah satu lagu Collapse favorit saya “Chloe”. Pada saat “Cold November” berkumandang, para penonton sudah tidak bisa menahan keinginan mereka untuk stage dive dan crowd surfing, tampak beberapa security panik dan naik ke panggung karena mungkin belum terbiasa dengan pemandangan seperti itu. “Blood Bank” cover version Bon Iver pun dibawakan dengan apik malam itu.

Overall, sebuah acara perdana yang sukses. Stereo Night Club vol. 2 tentunya akan sangat dinantikan crowd yang pulang berbahagia malam itu.

 

Photos by Fabian Insan Faturrahmhan

Beberapa waktu lalu, Maternal Disaster dan Collapse mempublish sebuah teaser videoklip single baru mereka yang berjudul “Rute Menuju Ivory”. Single ini akan dirilis oleh Disaster Records dalam waktu dekat, dan video klipnya yang digarap oleh Ideas Crtve akan rilis hari minggu (11/12). Jika kamu menyaksikan Collapse dengan formasi baru ini tentunya akan setuju dengan saya kalau formasi ini lebih solid dari formasi sebelumnya. Kali ini Andika tidak memegang gitar dan bisa lebih ekspresif dan fokus menjadi vokalis. Departemen gitar sudah diamankan oleh 2 punggawa Mario dan Angga yang bermain apik. Belum lagi rhythm section yang groovy dari Hasbi dan Satria.

Menurut Andika Surya, lagu baru ini “menawarkan sentuhan dari varian genre Alternatif hingga Progressive Rock, tetapi yang paling menonjol adalah nuansa yang lebih Bright dan Heavy bertemu dengan energi Hardcore yang elegan”. Kali ini Collapse merubah formasinya dari one man project menjadi full-band beranggotakan 5 orang personil. Mereka adalah: Andika Surya sebagai vokalis dan songwriter yang juga turut melibatkan kawan lama Angga Kusuma (Ssslothhh), Mario Panji (Leipzig), Hasbi Erlangga (Haul) dan Satria Gustian (Lizzie/Gaung) untuk merekam lagu ini sekaligus penetapan sebagai personil Collapse.

Well what can we say? Menurut kami ini adalah karya terbaik Collapse yang mereka pernah mereka rekam sejauh ini. Rilisan terakhir mereka adalah “Chloe / A Glaring Panorama” yang dirilis pada tahun 2018 silam. Walaupun animo dan respon pendengar tidak sehangat single “Cold November”, single “Chloe / A Glaring Panorama” adalah personal favorite saya. Kembali ke single baru mereka, kalian mungkin akan sedikit “terkejut”. Bayangkan saja musikalitas Basement dengan lagam vokal ala Protonema atau Dewa 19 era Ari Lasso. Sound gitar yang renyah bertemu dengan fondasi permainan drum Satria Gustian yang menurut saya cukup epik. Oh ya, ini juga pertama kalinya Collapse membuat lagu dengan lirik berbahasa Indonesia, dan Andika cukup “witty” juga untuk menyelipkan part bridge spoken words berbahasa Inggris ala Frank Ocean di album “Channel Orange”. Tentunya simak video klip mereka dan gunakan speaker atau headphone terbaikmu untuk mendengarkan “Rute Menuju Ivory” jika sudah hadir di media streaming, karena lagu ini di mixing dan mastering oleh Indra Severus yang dulu juga turut andil memoles EP “Grief” milik Collapse.

Words by Aldy Kusumah

Latar belakang gigs ini cukup menarik: sebuah perhelatan diadakan dadakan pada hari Minggu(13/11) (diprakarsai Discover Sounds & Kaum) menampung band-band yang seharusnya main di Alternative stage Fosfen tetapi tidak jadi dikarenakan festivalnya yang (katanya) postponed. Dengan line up keren yang cukup variatif seperti, Saturday Night Karaoke, Muchos Libre, Dongker, Phonetic, Collapse, CAL sampai Eastcape yang jauh-jauh datang dari Blitar.

Saturday Night Karaoke menghangatkan dingin nya udara Grun Bar yang terletak di jalan Setiabudi atas tersebut dengan sajian musik punk ala Lookout Records (The Queers, Screeching Weasel). Kami melewatkan penampilan Muchos Libre tetapi kami yakin mereka bisa menghibur penonton seperti biasa dengan aksi panggungnya yang atraktif. Jika SNK membuat suasana menjadi hangat, CAL kembali “mendinginkan” suasana dengan sajian nu-gaze nya yang mengalun. Mereka tampil rapih malam itu.

Eastcape yang tahun lalu baru merilis split EP dengan Sugar Thrills (Bali) sangat menarik. Mereka membawakan musik midwest emo ala American Football dengan sedikit sentuhan math rock. Datang jauh-jauh dari Blitar untuk bermain di Fosfen, kedatangan mereka pun tidak sia-sia karena akhirnya tampil di Grun Bar pada malam itu, dan crowd pun cukup apresiatif melihat penampilan mereka. Phonetic bermain sangat maksimal malam itu walaupun tidak soundcheck. Mungkin mereka sudah bosan mendengar komparasi dengan band 1975, tapi beberapa lagu baru mereka malah keluar dari pakem musik seperti itu. Mereka juga membawakan cover version “There She Goes” entah dari The LA’s atau Sixpence None The Richer pada setlist nya.

Dongker membuat crowd stage dive dan singalong, rupanya sebagian besar penonton ternyata hafal lirik-lirik lagu Dongker. Malam itu ditutup dengan Collapse yang tentunya membawakan “Given” dan 2 cover version wajib mereka: “Blood Bank” dari Bon Iver & “Toxic Boombox” dari Angel Du$t. Mereka juga sempat membawakan single baru “Ivory” yang sangat catchy. Tidak ada yang lebih tepat dari mendengarkan Collapse membawakan “Cold November” di malam November yang dingin.

 

Words by Aldy Kusumah

Photos by Fabian Insan Faturahman