Tanpa introduksi yang bertele-tele, ini adalah beberapa album pilihan kami yang sering kami putar di tahun 2022 ini. Maybe this year sucks but at least we’ve got several great albums! Jangan bersedih jiika album favorit kamu tidak ada disini, tulis di kolom komentar and tell us what’s great about it!

SZA – SOS
Dengan 23 lagu dan durasi lebih dari satu jam, “SOS” milik SZA yang baru dirilis ini bukan sekadar pernyataan: “SOS” adalah kitab suci baru R&B transendental yang paling memikat dan inventif. Follow up dari album “Ctrl” yang dirilis pada tahun 2017 silam ini dipenuhi aransmen cerdas, permainan kata yang “witty” dan sound yang epik. Album yang dibuat selama 5 tahun ini memiliki elemen folk, jazz, pop, ambient electronica dan bahkan memiliki sedikit unsur surf, trap, grunge dan AOR rock, tetapi tetap memiliki hati R&B yang kental.
Key tracks: Good Days, Kill Bill, Ghost in the Machine

Inclination – Unaltered Perspective
Sejak akhir tahun 2000-an band straight-edge menjadi sesuatu yang langka, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, generasi baru hardcore menciptakan beberapa band yang luar biasa. Ketika Inclination yang berbasis di midwest menjatuhkan demo mereka “Midwest Straight Edge”, skena hardcore sangat menyukainya, termasuk saya. Sejalan dengan band-band seperti Strife dan One King Down, mereka menambahkan sentuhan melodi ke hardcore yang lebih baru untuk menciptakan salah satu album hardcore terbaik untuk tahun ini. “Unaltered Perspective” adalah album Inclination yang paling menantang & introspektif hingga saat ini. Sekarang mereka memiliki tiga rilisan yang sekarang dapat mengukuhkan diri mereka sebagai hardcore straight edge terbaik dari generasi modern, yang akan mengingatkanmu pada band-band hardcore straight edge terbaik dari era 2000-an.
Key tracks: Thoughts and Prayers, Epidemic

Anxious – ‘Little Green House’
Little Green House memiliki banyak keunggulan yang dimiliki band-band indie/emo awal tahun 2000-an yang populer pada saat itu. Hampir setiap lagu dalam rekaman ini memiliki kualitas anthemic yang siap untuk dimainkan di arena besar, terutama dengan output vokal yang berlapis-lapis seperti pada single “In April” dan “Growing Up Song”. Lagu pembuka “Your One Way Street” dimulai dengan beberapa riff melodi yang kemudian digantikan oleh vokal yang lebih keras. Tapi tentu saja, mereka melanjutkan lagu dengan part chorus yang megah, dan itu akan menjadi tema yang diulang di album ini. Anxious ini telah memahami cara menulis hook yang baik dan benar. “Afternoon” dan “You When You’re Gone” menutup album ini dengan beberapa vokal tamu lagi, kali ini milik Stella Branstool (Hello Mary). Dalam “Afternoon”, vokalis Grady Allen menyanyikan melodi yang catchy dan kadang-kadang dibantu oleh Stella tetapi pada “You When You’re Gone” skenario berbalik dengan Stella mengambil peran vokal utama dan Grady menyanyikan harmoni latar.
Key tracks: You When You’re Gone, Call From You, Your One Way Street

No Pressure – S/T
No Pressure adalah proyek sampingan dari Parker Cannon dari The Story So Far, Pat Kennedy dari Light Years, dan Harry Corrigan dari Regulate yang memainkan pop-punk/easy core awal tahun 2000-an. Album ini dirilis dibawah bendera Triple B Records dan dengan cover artwork yang keren (Menggunakan fonts Goldfinger dan No Doubt) tentu saja album ini akan menarik perhatian sampai ke headphone dan speaker bluetooth saya. Terlepas dari upaya terbaik saya untuk tidak menikmati album throwback Blink-182 era “Dude Ranch” dengan sedikit sentuhan TSSF dan Gorilla Biscuits ini, No Pressure adalah salah satu album pop-punk paling megah yang dirilis tahun ini dan pasti akan menemukan rumah untuk para penggemar pop-punk “new school” (baca awal 2000-an) dan pop-punk nü-school (baca awal 2020-an).
Key tracks: One Way Trip, Both Sides, Too Far

Domi & JD Beck – ‘NOT TiGHT’
Album debut dari duo keyboardist DOMi & drummer JD Beck mungkin memiliki “bintang tamu” paling banyak tahun ini. ‘NOT TiGHT’ menawarkan deretan bintang indie yang menakjubkan (Thundercat, Mac DeMarco), sultan-sultan hip-hop (Snoop Dogg, Busta Rhymes) dan satu titan jazz O.G. (Herbie Hancock). Album ini adalah sebuah langkah cerdik bos label mereka Anderson .Paak (yang juga bernyanyi di lagu “TAKE A CHANCE”), yang melibatkan pasangan itu ke APESHIT, label barunya di bawah label jazz legendaris Blue Note. Album ini bisa menjadi gateway bagi para penggemar baru musik jazz, dan sekaligus bisa di apresiasi juga oleh para pendengar jazz veteran yang sudah terbiasa mendengar Cannonball Adderley, Sun Ra, Art Blakey, Ahmad Jamal dan Thelonious Monk.
Key tracks: SMiLE, TAKE A CHANCE, BOWLiNG

Perunggu – ‘Memorandum’
“Memorandum” adalah salah satu pemersatu crowd di sebuah gigs musik: dimana lagi kalian bisa melihat metalheads, hardcore kids sampai indie darlings dengan kompak sing along menyanyikan (kadang berteriak) lagu-lagu Perunggu. Betul, lirik mereka telah menembus berbagai batasan genre sehingga tidak aneh bila seseorang yang memakai baju “Vein FM sekalipun menyanyikan lirik “33x” ketika Perunggu sedang tampil. Lirik-lirik dengan tema kontemporer ini ditulis dengan cerdik sehingga bisa relate kepada berbagai kalangan. Secara musikalitas, bagi saya Perunggu terdengar seperti campuran dari Death Cab For Cutie dan Sheila on 7. Kalimat “Kukoleksi semua rilisan” pada track “Canggih” membuktikan bahwa Maul, Ildo dan Adam adalah penggemar musik, dan sekarang mereka memiliki penggemar juga yang dengan lantang hafal setiap bait lirik Perunggu. Album yang dibuat oleh fans untuk fans lainnya tentu akan lebih relateable dalam berbagai aspek. Every parent should at least watch “Pastikan Riuh Akhiri Malammu” music video.
Key tracks: Biang Lara, Pastikan Riuh Akhiri Malammu, Membelah Belantara, 33x

Alex G – ‘God Save the Animals’
Entah kenapa album ini mengingatkan saya pada Elliott Smith. Dari grunge-pop hingga breakbeat, God Save the Animals mengintegrasikan berbagai genre dengan nakal ala Alex G ke dalam penulisan lagu ala slacker folk ballads yang terstruktur. Di albumnya yang diproduksi paling elegan (album-album terdahulunya lebih berkesan lo-fi secara sound), Alex Giannascoli dengan mudah meramu ide-ide yang berbeda. Sebagai salah satu ujung tombak indie rock kontemporer, Giannascoli membuat karakter lagu-lagunya dengan sangat hati-hati dan tetap bisa menyentuh secara personal.
Key tracks: Runner, No Bitterness, Forgive

Kendrick Lamar – ‘Mr. Morale & the Big Steppers’
Rasa sakit Kendrick tetap belum terselesaikan pada album “Mr. Moral & the Big Steppers”. Kendrick Lamar menghabiskan album kelimanya untuk merayakan dan mencela sifat buruk dan kekurangannya; dia tidak mencari pengampunan, karena memang tidak ada. Album ini adalah pengalaman mendengarkan yang luar biasa. Sudah lima tahun sejak “DAMN” dirilis dan mendengar Kendrick membuat album ganda adalah sebuah kejutan. Album ini menggabungkan semua eksplorasi musik masa lalu Kendrick; R&B, Pop, Jazz, atau funk, semuanya ada disini. Albumnya ini bagus dan pasti jauh lebih baik dari “Donda” yang pretensius dan hanya mengandalkan gimmick semata.
Key tracks: N95, Die Hard, Savior, Mirror.

Alvvays – ‘Blue Rev’
Tanpa menggali lebih dalam lagi, “Blue Rev” adalah 14 lagu yang Alvvays lakukan dengan sangat baik: lapisan gitar jangly mencapai semua nada yang tepat dan didukung oleh bagian ritme metronomik band. “Blue Rev” juga menampilkan anggota baru – drummer Sheridan Riley dan bassis Abbey Blackwell – untuk album ini. “After The Earthquake” adalah sebuah indie-pop gem dengan melodi yang enak, highlight kami yang lain adalah “Pomeranian Spinster” yang sedikit punkish dan lagu pembuka “Pharmacist” yang shoegazing. Alvvays ini secara musikalitas terus berkembang dari album ke album, dan kita tentu akan menanti rilisan selanjutnya dari Band Kanada ini.
Key tracks: Pharmacist, Easy on Your Own?

Spiritworld – ‘DEATHWESTERN’
Jika kalian menyukai band hardcore bernama Integrity, menurut kami Spiritworld adalah Integrity versi koboy. Bahkan Dwid Hellion dari Integrity menyumbangkan suaranya ada track “Moonlit Torture”. Spiritworld adalah band yang tidak dibicarakan tiga atau empat tahun yang lalu. Namun, di tahun 2020 ada sebuah album berjudul “Pagan Rhythms” yang meramu hardcore dan death metal dengan estetika dan riff yang heavy. Itu menjadi rilisan metal favorit banyak orang di tahun 2020 itu. Setelah bertahan beberapa tahun tanpa materi baru, DEATHWESTERN akhirnya hadir. Melodi dan riff ala Slayer berkecimpung dengan padatnya rhythm section mereka. Elemen-elemen horror western yang mereka angkat di lirik bahkan konsep album ini begitu kental, dari intro “Mojave Bloodlust” saja kamu akan berpikir “apakah saya sedang mendengarkan album metal atau menonton film spaghetti-western?”. Arwah komposer Ennio Morricone pun seakan merasuki para personil Spiritworld di album ini. Jika kamu hanya akan mendengarkan satu album metal saja tahun ini, maka dengarkanlah yang satu ini.
Key tracks: Moonlit Torture, DEATHWESTERN, Purafied in Violence

Honorable Mentions:
1. Vein.fm – “This World is Going to Ruin You”
2. Drug Church – “Hygiene”
3. Soul Blind – “Feel it Around”
4. Russian Circles – “Gnosis”
5. Mitski – “Lauren Hell”

 

Words by Aldy Kusumah

2022 mungkin bukan tahun yang baik, tapi setidaknya ada beberapa film bagus yang rilis di tahun 2022. Tanpa banyak berbasa-basi, ini adalah beberapa film favorit JEURNALS di tahun 2022.

Everything Everywhere All At Once (Dir. Daniel Kwan & Daniel Scheinert)
Everything Everywhere All At Once adalah film yang tidak terburu-buru untuk menceritakan cerita yang bagus dan ditulis dengan sangat baik. Film ini seakan tidak peduli dengan pengaruh luar. Crew film ini hanya sekelompok orang yang membuat karya seni dan bersenang-senang sambil melakukannya, dan kamu bisa merasakannya pada saat menonton film ini. Film Sci-Fi ini terlihat seperti film Coen Brothers yang dipengaruhi LSD dan memberi homage pada film-film kung-fu Asia sambil menyindir alam semesta Marvel. Jika kamu seperti saya dan kecewa dengan Doctor Strange in the Multiverse of Madness yang tidak sesuai ekspektasi, atau hanya ingin bersenang-senang menaiki roller coaster emosional, tolong bantulah diri kamu sendiri dan tontonlah film brilian ini. kamu tidak akan menyesalinya.

The Fabelmans (Dir. Steven Spielberg)
Sebuah semi-autobiografi mengenai Steven Spielberg sebelum menjadi sutradara yang kita kenal seperti sekarang. Dibalut dengan drama keluarga khas cerita coming-of-age, The Fabelmans adalah Cinema Paradiso versi Spielberg. Menceritakan perkenalan awal Spielberg dengan film atau “gambar bergerak”dan bagaimana dia jatuh cinta pada dunia “filmaking”. Scene saat Sammy terpesona melihat adegan kereta tabrakan yang epik di bioskop (Dari film “Greatest Show on Earth” milik Cecil B. Demille) sampai bagaimana Sammy membuat efek ledakan dan tembakan menggunakan practical effects (pasir dan kembang api) tentunya membangkitkan imajinasi kita. Seperti Cinema Paradiso (1988) milik Giuseppe Tornatore, film ini mengingatkan kembali kenapa kita jatuh cinta pada film-film yang hebat dari kecil sampai sekarang.

Broker (Dir. Hirokazu Koreeda)
Setelah Shoplifters (2018) yang berhasil membuat jutaan penonton meneteskan air mata, Hirokazu Koreeda kembali lagi dengan drama “Broker” yang dikemas seperti sebuah film road movie. Setelah The Truth (2019) yang di shoot di Perancis, kali ini Koreeda — yang biasa membuat film di Jepang dan menggunakan aktor-aktor Jepang — bekerjasama dengan aktor-aktor Korea Selatan seperti Song Kang-Ho (Parasite, Memories of Murder) Donna Bae, Lee Ji Eun (IU) dan Gang Dong Won. Film yang bertema sentral mengenai aborsi, penjualan bayi ilegal dan “Baby box” (Google it) ini dikemas dengan ringan, layaknya gabungan film Little Miss Sunshine dan Juno. Menurut saya ini adalah salah satu film terbaik Hirokazu Koreeda setelah Shoplifters (2018), After Life (1998) dan Still Walking (2008).

Triangle of Sadness (Dir. Ruben Östlund)
Ruben Östlund pernah memenangkan penghargaan tertinggi Cannes, Palme d’Or, dua kali. Kali ini dia kembali dengan sebuah dark comedy satir mengenai kapitalisme. Ruben membahas narasi klasik proletar vs borjuis, dengan kritik sosialisme yang tajam. Tapi uniknya, disini dia tidak hanya memperlihatkan kebobrokan kelas atas saja, melainkan menyamaratakan narasi dengan memperlihatkan kelas proletar yang sama saja corrupted dengan para borjuis jika keadaan berbalik. Saran saya, jangan nonton yang satu ini sambil makan pada saat film memainkan scene “makan malam bersama kapten”.

Pearl (Dir. Ti West)
…Dan film terbaik untuk kategori horror di tahun 2022 jatuh kepada: Pearl. Kombinasi berbahaya antara sutradara “nyeleneh” Ti West dengan Mia Goth tentunya akan menghasilkan output yang luar biasa. Film ini adalah prekuel dari film “X” yang menggabungkan backwoods horror ala Texas Chainsaw Massacre dan elemen ‘70s-porn. Pearl tidak mengambil direksi ke arah itu, melainkan lebih berfokus pada elemen horror psikologis, walaupun tetap dalam ranah slasher horror. Lihat saja betapa luas range emosi yang ditampilkan Mia Goth di film ini, bahkan jika bertemu langsung dengan Mia Goth, saya tentu akan menghindarinya. She’s so believable in this film.

The Batman (Dir. Matt Reeves)
Setelah beberapa film Batman, akhirnya Matt Reeves mengangkat 1 karakteristik Batman yang sepertinya tidak terlalu sentral di film lain: Batman sebagai seorang detektif. Ya, seperti pada komik-komiknya, Batman adalah seorang detektif handal, dan itu adalah satu hal yang membedakan Batman dengan superhero lainnya. Batman disini digambarkan lebih menggunakan insting dan kemampuan detektifnya daripada bergantung pada gadget. Dikemas seperti sebuah film noir yang gelap, ternyata The Batman mampu menghadirkan sosok Batman yang menakutkan, yang surprisingly dimainkan dengan sangat baik oleh Robert Pattinson. The Riddler disini pun dimainkan dengan apik oleh Paul Dano (yang mungkin cocok juga berperan sebagai Joker). Menurut saya, The Batman adalah adaptasi Batman yang sangat baik, dan dalam beberapa hal bahkan lebih baik dari The Dark Knight.

Glass Onion: Knives Out Mystery (Dir. Rian Johnson)
Mungkin ini adalah film detektif whodunit mystery terbaik ditahun ini, karena memang genre thriller seperti ini adalah genre yang terlupakan. Dipopulerkan oleh novel-novel Agatha Christie (Murder on the Orient Express, And Then There Were None), film misteri whodunit lebih berfokus pada misteri siapakah pelaku/pembunuhnya diantara karakter-karakter utama yang muncul di film. Seperti apa yang dia lakukan di Knives Out (2019), Rian Johnson meninggalkan konvensi dan tradisi whodunit mystery klasik dengan penggarapan yang lebih segar. Dan di sekuel ini eksekusinya lebih apik. Dari awal film dimulai, penonton sudah diajak untuk berpartisipasi mengungkap kejahatan ini dengan memperhatikan detail-detail kecil di setiap scene, dialog-dialog yang cerdas dan tentunya membaca gerak-gerik yang mencurigakan. Tentunya film seperti ini akan lebih baik dengan ditonton ulang 2-3x untuk mendapatkan semua detail-detail kecil yang ada. Disini akting Janelle Monáe stand out dan hampir mencuri perhatian di setiap scene, saya tidak akan heran bila dia akan mendapatkan nominasi Oscar dari film ini.

Decision to Leave (Dir. Park Chan Wook)
Jika Park Chan Wook (Oldboy) membuat sebuah kisah cinta, tentunya itu tidak akan menjadi drama percintaan yang generik. Park Chan Wook mengemas kisah percintaan di film ini menjadi salah satu film police procedural / murder mysteries yang keren. Apa yang terjadi jika sang detektif jatuh cinta pada penjahat yang dia cari? Konflik di film ini adalah sebuah pilihan: apakah sang detektif ingin menyelesaikan pekerjaan nya atau mengikuti kata hatinya. Dikemas seperti film noir yang bertempo cepat, Decision to Leave mungkin akan sulit dimengerti pada tontonan pertama karena banyaknya informasi yang harus diproses penonton. Kalian mungkin perlu menonton film ini 2-3 kali untuk melihat semua detail yang ditebarkan dengan apik oleh sang sutradara. Dan jika berbicara mengenai ending, this one got one hell of an ending.

Top Gun: Maverick (Dir. Joseph Kosinski)
Top Gun: Maverick adalah pencapaian sinematik Hollywood di titik tertinggi. Dari scoring yang ditaruh dengan presisi di scene-scene tertentu, set piece action yang di shoot dengan sempurna, akting dari para ensemble cast, visual yang keren hingga direksi yang tanpa cacat dari seorang Joseph Kosinski. Saya cukup beruntung bisa menyaksikan film epik ini di bioskop dengan jernihnya tampilan proyektor Christie dan sound system Dolby Atmos yang menggelegar. Mungkin kamu tidak akan merasakan sensasi maksimal dari film ini jika hanya menyaksikannya di layar laptop kamu yang berdebu. Tapi film seperti Top Gun adalah alasan yang cukup untuk pergi ke bioskop. It’s films like these that makes us go the the movies once in a while.

Aftersun (Dir. Charlotte Wells)
Debut dari sutradara Charlotte Wells ini memiliki premis yang simple: menceritakan liburan Sophie, seorang anak perempuan berumur 11 tahun dengan bapaknya Calum, di sebuah resort di Turki. Bersetting ‘90-an lengkap dengan telepon umum koin, game ding-dong (arcade), walkman dan tentunya Sony handycam. Film ini digambarkan menyerupai flashback yang dikumpulkan oleh Sophie yang sudah dewasa (dan mempunyai seorang anak bayi) melalui video-video dari hasil rekaman handycam yang direkam Sophie selama liburan ketika masih berumur 11 tahun. Charlotte Wells seolah mengajak para penonton duduk dan makan di samping Calum dan Sophie, dengan visualisasi dan dialog yang cukup intim. Calum diperankan dengan sangat baik oleh Paul Mescal dan Francesca Coria memainkan Sophie dengan range emosi yang cukup luas. Chemistry kedua aktor ini juga terlihat seperti hubungan ayah dan anak yang natural, dan tidak dibuat-buat. Film ini sangat wajib ditonton para ayah yang memiliki anak perempuan. Sangat relatable.

EO (Dir. Jerzy Skolimowski)
Sinema yang murni dan lembut jarang terlihat di film-film kontemporer, tetapi EO memperlihatkannya dengan baik. Sutradara Jerzy Skolimowski menggarap film ini di usianya yang sudah menginjak 84 tahun. Hampir semua elemen di EO disusun dan dieksekusi dengan sempurna. Tetapi yang terpenting, EO adalah film yang akan membuatmu patah hati. EO berhasil menghipnotis saya, dengan menyajikan pengalaman sinematik yang transenden dari awal hingga akhir yang menakjubkan..

Honorable Mentions:
1. NOPE (Dir. Jordan Peele)
2. Return to Seoul (Dir. Davy Chou)
3. The Northman (Dir. Robert Eggers)
4. Joyland (Dir. Saim Sadiq)
5. Crimes of the Future (Dir. David Cronenberg)
6. Licorice Pizza (Dir. P.T. Anderson)
7. Tar (Dir. Todd Field)
8. Speak no Evil (Dir. Christian Tafdrup)
9. Pinocchio (Dir. Guillermo Del Toro)
10. Barbarian (Dir. Zach Cregger)

 

Words by Jeurnals

Ini adalah beberapa single-single yang menarik dan sering kami putar akhir-akhir ini. Mari simak 14 single berikut ini yang kami sajikan tanpa urutan. Here goes…

Alkateri – “Egosentris”
Ini adalah debut single dari unit indie pop yang baru terbentuk di Bandung pada tahun 2021. Band ini seakan muncul tiba-tiba ditengah pandemi 2021 dan akhirnya merilis “Egosentris”, sebuah track indie pop bergitar jangly dengan modulasi delay. Memang single ini dirilis September lalu, tapi sepertinya lagu ini cocok untuk meng-elevate solo travelling kalian menggunakan kereta atau sambil melihat jendela dari pesawat terbang. For fans of: The Sastro, The Sweaters atau Secret Meadow.

Retlehs – “Kaki”
Trio goth / shoegaze / post-punk / indie rock / whatever ini cukup menyita perhatian kami: vokalis Natasha dengan suaranya yang mengalun dan powerful disaat yang sama, basslines Hara yang mengingatkan saya pada Kim Deal dari The Pixies dan Faizu, drummer yang menurut saya sangat badass. “Kaki” adalah sebuah track yang terdengar seperti peleburan nu gaze tahun 2000an ala Amusement Parks on Fire dengan alternative rock ‘90an. Dengan produser Joseph Saryuf (Sinjitos Records), mereka berada di tangan yang tepat untuk merilis debut EP mereka “Satyr’s Satire”. Oh ya, cek juga cover version Efek Rumah Kaca “Di Udara” yang mereka bawakan. This band should deserve more attention.

Polka Wars – “Phases of Hue”
Band indie rock asal Jakarta ini sempat diisukan bubar, tetapi ternyata mereka merilis single baru dengan format trio. “Phases of Hue” juga diproduseri oleh Lafa Pratomo (produser album “Bani Bumi”). Surprisingly, “Phases of Hue” lebih straightforward secara musikalitas dan instrumentasi. Jika dibanding dengan single “Rangkum” atau lagu-lagu di album “Bani Bumi” yang lebih melankolis dan moody. Tidak bisa dipungkiri, track bernuansa indie rock ini sangat catchy. Terkadang memang ada benarnya less is more. Kami menyukai direction baru Polka Wars yang lebih simple dan segar. Can’t wait for the album to drop.

Dongker – “Bertaruh Pada Api”
Setelah tahun 2020 lalu merilis merilis mini album “Menghibur Domba di Atas Puing”, Dongker kembali merilis materi baru yang berbeda dari rilisan-rilisan sebelumnya: berdurasi lebih panjang. Band yang memainkan musik punk ala Protex dan The Dickies ini cukup dikenal dengan lagu-lagunya yang berdurasi singkat, lirik Indonesia yang offensive dan sound gitar yang raw. Dengan lirik seperti “Aku ingin terus hidup / berharap umurku panjang” sampai kalimat penutup “Tanpa batas, tanpa negara, tanpa agama”, sudah tentu lagu ini akan mengundang sing along yang lantang jika dibawakan. Lagu dengan aransmen ala “Bohemian Rhapsody” ini juga di mix oleh Pandu Fuzztoni (The Adams), dengan bantuan vokal latar dari Jasmine Kane (Loner Lunar).

Bleach – “Overcast”
Setelah merilis “Iced Cold” 16 September lalu, kuintet hardcore asal Bandung, Bleach, merilis single bertajuk “Overcast” pada 25 November ini. Kedua single ini adalah bagian dari debut full-album yang akan dirilis pada awal tahun depan via Disaster dan Oblivion Records. Jika pada “Iced Cold” mereka menyelipkan sedikit riff grunge, pada “Overcast” mereka terasa lebih tight dengan pakem hardcore ‘90an yang catchy. Ada elemen perkusi yang dipadupadankan dengan bassline yang groovy disini. Mike (Vokal) sedikit bernyanyi disini seperti pada single “Iced Cold”. Cover art untuk single ini dikerjakan oleh Yowdy Santiar dari Iron Voltage.

Godplant – “Neraca Rimba”
Setelah merilis Caruk pada bulan Juni lalu, Godplant kembali dengan single baru berjudul “Neraca Rimba”. Single kedua dari unit doom/sludge asal Jakarta ini sudah resmi dirilis dan bisa didengarkan di media streaming pilihan kalian. Kedua single ini adalah bagian dari upcoming album mereka yang tentunya akan dirilis dalam waktu dekat. Artwork menarik single ini dibuat oleh illustrator Syams Riadio. Tentunya band pilihan Lawless Jakarta selalu top notch. Godplant sepertinya ingin kita mendengarkan lagu mereka dengan volume yang keras.

Alpha Mortal Foxtrot – “Spectrum”
Salah satu band underrated favorit kami. Alpha Mortal Foxtrot, atau Amofo adalah band alt-rock / indie rock dari Jakarta. Kita mendengarkan Amofo sejak mereka merilis single “No One Will Talk About Us”. Band ini kerap memprakarsai “Menyongsong Nah Ini Dia Fest”, sebuah gigs intimate yang menampung band-band underdog lainnya yang tidak tampil di festival-festival besar. Rupanya dari departemen lirik, single alternative rock ini bercerita mengenai pengalaman personal Wiku (Vokal/gitar) dan dipersembahkan untuk anaknya. Sebuah lagu yang uplifting dan diracik degan baik.

Sieve – “In the Shore of Madness”
Salah satu pionir darkwave / goth rock asal Bandung ini kembali dengan single baru setelah hiatus selama 22 tahun. Produksi sound modern ternyata mampu menghadirkan musik Sieve yang sesungguhnya, jika pada EP “Biara” mereka terhalang oleh teknologi yang terbatas, kali ini musik Sieve terdengar seperti seharusnya: megah nan epik. Tentu saja vokal Alexandra J. Wuisan tidak mengecewakan dan malah lebih terekspos di single ini.

Rafi Muhammad – “Tasty”
Setelah merilis Transition pada tahun 2017, Rafi Muhammad; Drummer sekaligus produser asal Jakarta kembali dengan secara resmi merilis EP bertajuk “Laughter Master” pada 18 November kemarin. Self-produced EP bernuansa jazz, afro, house sampai hip hop ini direkam secara live bersama tiga musisi yang juga sahabatnya: Nikita Dompas (gitar), Kevin Suwandhi (synth bass, keyboard), dan Kuba Skowroński (saksofon). Muhammad menggarap keempat materi tersebut bersama Doni Joesran, salah satu personil trio jazz / leftfield / electronica asal Jakarta, Batavia Collective. Kudos untuk Randy MP yang membuat lagu ini terdengar sangat nyaman di telinga. Mastering pun digarap oleh Viki Vikranta dari Kelompok Penerbang Roket.

Sore – “Maka Terjadilah Sekilas Kisah Murah”
Selalu menjadi perdebatan para penggemarnya, kalau Sore formasi trio sekarang ini output musiknya sedikit berbeda dengan formasi kuintet klasiknya. Tetapi bagi kami, rilisan-rilisan Sore yang baru terdengar lebih effortless dan tetap tidak mengalienasi penggemar-penggemar lama mereka. Contoh kongkritnya ada di lagu ini tentunya. A nice poppy ballad dengan mood nostalgia yang datang entah darimana.

Efek Rumah Kaca – “Heroik”
Ini adalah single terbaru dari Efek Rumah Kaca, apa perlu kita jelaskan lebih lanjut? Sedikit mengingatkan ke direksi aransmen musik ERK di era album self-titled (2007). Go ahead and listen this banging song.

Sunbath – “Paralyzed”
Sunbath berhasil mempraktekkan tagline “alternative rock revival” mereka dengan single ini. Kalian akan mencium sedikit aroma dari Lush, Elastica, Veruca Salt bahkan L7 dan Sixpence None The Richer di lagu ini. Single ini adalah rilisan perdana Sunbath dengan formasi yang lebih solid, dan rilisan ini juga menandakan bahwa mereka akan merilis “sesuatu” dalam waktu dekat. Catch their live performances too, you won’t be disappointed.

Collapse – “Rute Menuju Ivory”
Collapse seakan menemukan energi baru dengan transisi mereka dari solo project menjadi sebuah band yang solid. Jika kalian rindu Collapse era “Cold November” dan “Chloe”, maka ini adalah obat nya. “Rute Menuju Ivory” memang terasa seperti “sekuel” dari 2 single terakhir mereka sebelum hiatus. Kali ini Andika Surya seperti lebih “lepas” untuk mengeksplorasi departemen vokal karena gitar sudah dipercayakan kepada 2 sahabat nya: Angga dan Mario. Suara crunch gitar yang renyah berpadu dengan permainan drum yang epik kelak akan membuat lagu ini menjadi favorit di show mereka dan akan menggantikan “Given” sebagai lagu andalan. Mari kita tunggu single berikutnya yang akan dirilis dalam waktu dekat ini.

Nearcrush feat. Collapse – “Season Finale”
Pada tahun 2022 band indie rock veteran asal Jakarta, Sajama Cut, merilis album kompilasi tribute to Sajama Cut berjudul “You Can Be Anyone You Want”. Siapa sangka, band alt-rock asal Bandung bisa mengkover lagu “Season Finale” Sajama Cut yang dengan sangat baik. Dengan aransmen yang sedikit berbeda dari versi originalnya, lagu cover ini dikemas sedikit lebih modern dari versi aslinya yang lo-fi. Sound gitar yang lush bertemu dengan efek fuzz yang mengawang di background, lalu diakhiri dengan outro yang sedikit basah oleh modulasi chorus. Pada single ini, Andika Surya dari Collapse membantu mengisi departemen drum dengan permainan nya yang apik dan pas.

Words by Jeurnals