SSST berkolaborasi dengan Dendy Darman dalam sebuah proyek yang tidak berangkat dari hasil akhir, melainkan dari proses, medium, dan ruang ketidakterdugaan. Alih-alih menawarkan pilihan, kolaborasi ini justru menghapusnya, mendorong audiens untuk masuk ke dalam pengalaman yang lebih intuitif dan eksperimental.

Hadir dalam format blind-pack, setiap paket berisi satu t-shirt dan satu poster dengan desain yang tidak diketahui sebelumnya, mengadopsi mekanisme acak layaknya gacha. Dari enam desain yang dirilis, satu di antaranya hadir sebagai edisi lebih terbatas, dilengkapi poster bertanda tangan langsung menambahkan lapisan nilai yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi sejak awal.

Di balik format tersebut, terdapat pendekatan yang lebih mendasar. Bagi Dendy Darman, manual screen printing memiliki akar yang kuat pada medium kertas. Kolaborasi ini mengembalikan posisi tersebut dengan menjadikan poster sebagai karya utama, sementara t-shirt berfungsi sebagai ekstensi sebuah turunan dari proses yang sama, bukan pusatnya.

Melalui sistem yang berbasis acak ini, SSST dan Dendy tidak hanya merilis produk, tapi membangun pengalaman: tentang menerima ketidakpastian, merayakan proses, dan menemukan nilai dalam hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya dikontrol.

Kanky melanjutkan dialog kreatifnya bersama SBTG (Mr. Sabotage) lewat rilisan terbaru K-Split, sebuah siluet yang berdiri di antara eksplorasi desain dan storytelling visual. Bukan sekadar lanjutan kolaborasi, proyek ini terasa seperti evolusi: lebih matang, lebih terarah, namun tetap menyisakan ruang untuk interpretasi.

Mengusung konsep “Desert on Earth”, K-Split menerjemahkan lanskap yang sunyi tapi berkarakter ke dalam komposisi warna dan detail. Earth tone menjadi fondasi, coklat dan olive membangun nuansa dasar, disusul abu-abu yang mengaburkan batas seperti fatamorgana, sementara aksen kuning di lidah sepatu hadir sebagai pecahan cahaya yang kontras. Setiap elemen bekerja tidak hanya secara estetika, tapi juga sebagai bagian dari narasi yang utuh.

Kolaborasi ini bukan titik awal. Sejak 2023, Kanky dan SBTG telah membangun rangkaian rilisan yang bergerak progresif dari Kitadake, proyek bersama Jeff Staple, hingga Mule dan EXC 01 Misfit. K-Split hadir sebagai kelanjutan dari perjalanan tersebut: sebuah fase baru yang memperlihatkan bagaimana bahasa desain mereka terus berkembang tanpa kehilangan karakter.

Dirilis pada 13 April 2026 melalui kanal resmi Kanky, K-Split menjadi penanda bahwa kolaborasi ini belum mencapai garis akhir, melainkan masih terus bergerak, mencari bentuk berikutnya.

Maternal Disaster memperluas spektrumnya, dari sekadar brand clothing ke ruang yang lebih hidup lewat hadirnya Maternal Cafe & Records. Berlokasi di Braga8, Bandung, ruang ini menjadi perpanjangan identitas Maternal yang selama ini lekat dengan subkultur, kini diterjemahkan ke dalam pengalaman fisik yang bisa ditempati, dirasakan, dan dijelajahi.

Bukan sekadar kafe, Maternal membangun ekosistem kecil yang berangkat dari obsesi personal: musik, koleksi, dan visual. Di dalamnya, pengunjung tidak hanya menemukan kopi dan menu ringan, tapi juga lanskap yang dipenuhi rilisan fisik lintas genre, toys bertema musik, hingga buku-buku yang dikurasi. Semua elemen ini tidak berdiri sebagai dekorasi, melainkan bagian dari narasi yang membentuk karakter ruangnya padat, personal, dan penuh referensi.

Pendekatan total khas Maternal tetap terasa kuat. Identitas visual mereka hadir hingga ke detail terkecil dari desain menu, treatment es krim, sampai cutlery yang bahkan bisa dibawa pulang sebagai objek koleksi. Logo “threat” muncul sebagai penanda yang konsisten, mengikat seluruh pengalaman dalam satu bahasa visual yang solid.

Dibuka mulai 13 April 2026, Maternal Cafe & Records bukan hanya ekspansi, tapi pernyataan: bahwa brand bisa hidup di luar produk, dan berkembang menjadi ruang yang mengakomodasi kultur, memori, dan kebiasaan sehari-hari.

Setelah memulai kolaborasi di Jabodetabek pada akhir tahun lalu, TUKU dan CASIO kini memperluas jangkauannya ke berbagai kota di Indonesia. Bandung menjadi salah satu titik penting lewat hadirnya kolaborasi ini di TOSERBAKU Ambon, disusul Surabaya, Malang, Yogyakarta, Tangerang, hingga Bali menandai pergeseran dari sekadar kolaborasi lokal menjadi gerakan yang lebih luas dan kontekstual.

Mengusung tema “Affordable Luxuries: Living for the Little Moments”, TUKU dan CASIO mengajak publik untuk mendefinisikan ulang kemewahan bukan sebagai sesuatu yang besar atau eksklusif, melainkan sebagai momen-momen kecil yang sering terlewat. Waktu, dalam hal ini, menjadi medium utama: sesuatu yang sederhana, tapi menentukan bagaimana setiap pengalaman dirasakan.

Narasi tersebut diterjemahkan ke dalam pengalaman langsung lewat fun walk bersama komunitas Kakibesi di TUKU Ambon, Bandung (10/04). Alih-alih sekadar berjalan, peserta diajak berinteraksi melalui serangkaian permainan berbasis waktu menggunakan CASIO F-91W mulai dari membaca sinyal kedipan, estafet presisi, hingga eksplorasi tak terduga. Sebuah pendekatan yang playful, namun tetap grounded pada ide utama: memperlambat ritme, dan memberi ruang untuk benar-benar hadir di setiap momen.

Lebih dari sekadar aktivasi, kolaborasi ini menegaskan posisi TUKU dan CASIO sebagai bagian dari keseharian itu sendiri dekat, relevan, dan tidak berjarak. Kini, pengalaman tersebut dapat diakses di berbagai titik: Bandung, Surabaya, Malang, Yogyakarta, Tangerang, hingga Bali.

Di tengah ritme harian yang makin padat dan serba cepat, SYMA. Utilized tidak lagi sekadar membuat tas, mereka merancang cara orang untuk beraktivitas. Lewat semangat “Play Your Part”, brand asal Bandung ini kembali mendorong fungsi jadi sesuatu yang personal. Fable Sling Bag hadir sebagai pernyataan baru: bukan hanya soal membawa barang, tapi tentang bagaimana kamu membawa peran kamu sehari-hari.

Fable Sling Bag jadi titik eksplorasi baru SYMA. menggabungkan desain kasual dengan sentuhan teknologi sederhana seperti magnetic button yang bikin akses terasa instan. Siluetnya bold, tapi tetap grounded. Pilihan warna yang lebih luas dari rilisan sebelumnya membuka ruang ekspresi yang lebih bebas, tanpa kehilangan identitasnya.

Di balik tampilannya yang catchy, Fable sling bag Kompartemen laptop 14 inci, ruang luas, hingga detail kecil seperti mesh pocket, bottle holder, dan key holder dibangun untuk satu hal, keep everything in place tanpa ribet. Dengan kapasitas 19 liter dan konstruksi yang nyaman dipakai seharian, tas ini bukan cuma menemani dalam beraktivitas, dia jadi bagian dari cerita yang kamu bangun setiap hari.

Di tengah derasnya kolaborasi yang sering kali terasa generik, pertemuan antara SURA dan No Masters Gear justru datang dengan pendekatan yang lebih dalam bukan sekadar grafis tempel, tapi sebuah narasi yang dibangun dari sejarah, persepsi, dan subkultur.

Titik berangkatnya cukup tidak biasa. Alih-alih mengambil referensi visual yang aman, kolaborasi ini menengok ke tahun 1943, ke momen ketika Albert Hofmann mengalami apa yang kemudian dikenal sebagai “Happy Bicycle Trip.” Sebuah perjalanan pulang dengan sepeda yang berubah menjadi pengalaman distorsi realitas asing, cair, dan penuh rasa ingin tahu. Dari sini, sepeda tidak lagi sekadar alat transportasi, tapi medium untuk berpindah kesadaran.

Narasi itu diterjemahkan ke dalam bentuk yang tidak sepenuhnya stabil. Jersey dan topi dalam koleksi ini bermain dengan distorsi, repetisi pola, dan rasa gerak yang seolah tidak pernah benar-benar diam. Visualnya terasa “tidak jelas,” tapi justru di situlah letak energinya sebuah refleksi dari akar No Masters Gear yang dekat dengan kultur hardcore, punk, dan metal, lalu dipertemukan dengan pendekatan sistem visual milik SURA yang lebih terstruktur.

Menariknya, hasil akhirnya tidak jatuh menjadi produk yang terlalu konseptual hingga kehilangan fungsi. Justru sebaliknya ia tetap wearable, tapi dengan lapisan cerita yang terasa. Ada tensi antara bentuk dan makna, antara kontrol dan chaos. Sebuah keseimbangan yang jarang berhasil dicapai dalam rilisan kolaboratif.

Dalam lanskap streetwear dan cycling apparel lokal yang terus berkembang, rilisan ini terasa seperti pengingat bahwa produk bisa menjadi medium bercerita. Bukan hanya soal bagaimana sesuatu terlihat, tapi juga bagaimana ia membawa konteks dan dalam kasus ini, sedikit rasa “trip” di dalamnya.

Hailing from Tampa, Florida, Contention is part of a new wave of straight edge hardcore reshaping the genre with a sharper, more personal edge. Fresh off sharing stages with Poison the Well, the band reflects on influence, identity, and staying grounded as their momentum grows. In this interview, vocalist Cosmo reflects on that experience, alongside the band’s influences, their approach to identity in a resurging scene, and how they navigate the realities of balancing music with everyday life.

Having a legendary band like PTW hand-pick Contention and Domain is a massive endorsement. Do you feel a certain responsibility to represent the “new breed” of Florida Straight Edge on this specific stage?

We all grew up as PTW fans so it’s surreal getting to play shows with them. When you meet a band you admire there’s always that risk that they’re going to be pricks, or have a rockstar attitude, but everyone was incredibly kind and accommodating to us. Their singer Jeff helped me load in merch the first night, their guitarist Ryan warmed up with the riff from our song Nuclear Peace, I punished Vadim at length about his time in This Day Forward—just all around great dudes in my experience.

Many reviews point out that being from Tampa, Florida, the “Death Metal DNA” naturally seeps into your hardcore sound. How much of that is a conscious tribute to the local legends (like Morrisound-era bands) versus just an inevitable result of your environment?

Very rarely is that a conscious tribute, we just happen to be influenced by bands that are influenced by Florida death metal. Most of us are into obituary/death/morbid angel and occasionally those reference points get mentioned (primarily by Bayly and I) but for the most part the guitarists are pulling from bands like The Swarm, Morning Again, Reprisal, Arkangel, Culture. To my ears, there’s more Slayer in there than there is death metal.

You’ve cited a massive list of influences, McCarthy, Camus, Dostoevsky, and Vonnegut. Which of these authors’ “worldviews” is most prevalent in the current state of Contention?

Vonnegut has a battered and cynical but humanist perspective that I really resonate with, but McCarthy’s bleak view of war and human nature is certainly more an influence on Contention’s writing. It’s a chaotic and fucked up world, it always has been, and my writing is a distillation of that.

There is a major resurgence of 90s-style metallic hardcore (Magnitude, Ecostrike, etc.). How does Contention maintain its own identity without becoming a “throwback” or “tribute” act to that era?

Playing in the year of our lord 2026 we have the fortunate position of drawing from over 40 years of hardcore music. There’s certainly bands that we are directly influenced by but there’s such a massive well to draw from that it keeps things from getting boring. All of us different tastes so while there’s plenty of undiluted metallic hardcore influence (like All Out War) in there, there’s also plenty of modern hardcore elements, death metal parts, and emotive shit (like Unbroken) woven in.

You’ve mentioned that longer tours are difficult due to jobs and family. How do you decide which “sick offers” are worth the sacrifice, and how does this limitation affect the band’s creative energy?

We do things by a code, and the first tenant on the list is whether or not something is going to be a good time. We like playing with bands that we’re fans of, we like playing new places. Whether or not something is a “good opportunity for our career” doesn’t factor in much.


We never set out to be a full time professional band. We’re just 5 fucked up dudes with chaotic lives who happened to stumble into some small measure of success with music we wrote in a farm garage. It’s difficult for us to write music regularly and it’s painful to say no to offers with legendary bands, but the upside of not being a pro band is that we’re not beholden to anyone. We don’t have to sign any contracts and we only work with people we trust.

Text and interviews by Andika Surya
photos by Evan (@emphotos98)