Apa kabar Prejudize? Gimana rasanya punya full album pertama?

Alfi: Alhamdulillah baik nih, rasanya punya album pertama menyenangkan, kaya pecah telur aja gitu. Setelah proses panjang dan aku puas dengan semua hasilnya, cuma tetap pingin bikin lagi.

Rian: Halo Jeurnals, Alhamdulillah baik. Wah, rasanya seneng banget kaya punya ijazah, ngerasa punya SIM sebagai anak band haha!

Arga: ⁠Sedikit anugerah yang lumayan beresiko punya album perdana di hidup saya, karena harus menurunkan ego saya yang udah “bm” pingin ngerjain materi lagi langsung, dimana temen-temen lain masih menikmati dulu kehangatan album Echoes of Life ini.

 

Diluar jalinan pertemanan, kenapa kalian ngajakin Kevin (Bleach) untuk jadi produser untuk album ini?

Alfi: Kevin mempunyai kemampuan yg memumpuni dalam aransemen dan bikin komposisi yang kecee anjay. Yang pasti dia hatam metal sih hahaha.

Rian: Kevin selain hubungan dekat sebagai teman, aku pribadi ajak lagi kevin karna Prejudize dari demo awal dibantu Kevin juga sebagai produser dan di album pingin ngerangkum semua rilisan Prejudize. terus ngobrol dan Kevin langsung nerima dengan baik dan ngerti apa yg aku maksud.

Arga: Kevin bisa mendeliver apa yang ada di otak saya sejauh ini, mungkin personil lain juga. cuma alasan paling kuat adalah dia sebagai produser bisa membuat formula musik Prejudize jauh lebih matang.

 

Band/artis apa sih yang kalian dengerin ketika penggarapan album ini?

Alfi: ⁠Year of the knife, Judiciary, Pain of Truth, Jesus Piece, Slayer yang pasti hahaha enggak hilang hilang dari soul aku.

Rian: ⁠Kalau aku waktu album lagi dengerin semua rilisan Prejudize lagi. Di luar itu lagi dengerin God’s Hate, Korn, balik lagi dengerin Suburban Scum kaya waktu bikin demo.

Arga: Banyak banget sih apalagi gw pribadi mulai dari All Out War, Biohazard ke Limp Bizkit sampe yang paling ekstrem Infectious Grooves yang kalo dipikir-pikir gimana ya caranya masukin ke musik kami dan sampe kami setuju kalo titik temu selera kami pada saat itu di God’s Hate.

Gw ngerasa sentuhan Death Metalnya kental banget, kalau ga salah Arga dulu punya band Death Metal ya? Apakah itu mempengaruhi dengan gaya penulisan lagu untuk album ini?

Alfi: Sebenernya engga ngaruh sih, cuma aku pertama bikin Blazing Pledge dengan secara alamiah aku masukin sentuhan death metalnya dikit, terus jadi ngaruh ke lagu2 lainnya.

Rian: Betul, Arga dulu punya band Death Metal sebagai bassist , 60-70% penulisan album ini direct Death Metalnya dari Arga.

Arga: Yes! Dulu gw main band Death Metal sekitar tahun 2011an. Kalau dibilang pengaruh atau engga sepertinya lumayan ngaruh di fundamental band ini terbentuk, karena pas udah jalan sampe saat ini rasa Death Metalnya dalam penulisan lagu sangatlah organik dari personil lain juga.

 

Ceritain dong ketika kalian approach Arian 13 dan alasan kalian ngajak Arian 13

Rian: ⁠Awalnya Arga di Futura sempet ada project sama Mas Arian, nah pas penulisan Against My Self yang dimana itu cerita tentang aku. Aku “bm” pengen pake lirik bahasa Indonesia tapi pingin engga biasa juga jadi tercetus pingin featuring. Waktu itu langsung terbesit Mas Arian dengan proses pitching yang cepet, Alhamdulillah Mas Arian mau. Hats off Mas Arian!

Arga: Kebetulan waktu itu memang ada lagi ada project buat Futura Free, setelah itu gw dan Mas Arian lumayan agak sedikit ngobrol-ngobrol perihal featuring untuk salah satu track di album Echoes of Life dan gak disangka dia mau. Kalau dalam pemilihan sebenernya karena pinginn ada lirik bahasa Indonesia di album dan kami pikir kayaknya kalo Arian yang ngisi lirik Indonesia ini bakalan jadi valid akreditasi haha.

 

Apakah ada wishlist kalian masing-masing mau ngajakin siapa untuk featuring di album ini?

Alfi: ⁠Pengennya mah sama Kerry King atau Gary Holt biar full ngajuit!

Rian: Waktu itu aku ada beberapa wishlist buat featuring selain sama Mas Arian dan Shafa. Waktu itu pingin sama Agan (Dazzle), Sansan (Peewee Gaskins) tapi dengan suara scream kecilnya

 

Echoes Of Life menjadi cerminan gimana kalian melihat kehidupan ini melalui lirik dan musik yang kalian buat, elaborasikan dong kehidupan akhir-akhir ini dari sudut pandang kalian masing-masing? Is it sucks?

Alfi: Kehidupan aku hanya diserahkan kepada Allah aja, mau hancur mau senang mau gerus aja terus.

Rian: ⁠Echoes of Life dari setiap lagunya berisikan cerita anak-anak. Waktu Arga nulis lirik Arga interview kami satu-satu buat dijadiin lirik. di Against My Self cerita tentang ke fucked-up-an hidup aku pada saat itu, is it sucks? buat aku pada saat itu sucks banget mas, harus ngadepin kondisi-kondisi yang engga terbayang sebelumnya dan kondisinya harus dihadepin sendiri banget. Luv Arga udah sempurna ngerangkumin cerita aku yg pahit jadi keren <3

Arga: Melihat kehidupan sekarang yang makin hari makin explicit memperlihatkan banyak hal yang menurut gw enggak masuk akal sampe yang diakal-akalin. Track yang kayanya sih vibesnya for family and friends cuma track Blessed doang, sisanya ngetai-tai fenomena sekarang di sekitar gw.

 

False Perception adalah lagu favorit gw di album ini, kalau kalian masing-masing lagu favoritnya apa?

Alfi: ⁠Blessed, False Perception juga sama tapi ketika sudah aku kasih lead gitar, harusnya lagu itu ada leadnya cuman baru kepikiran waktu ketika udah kelar semua materi dan beres mixing & mastering, jadi leadnya dipake pas dibawain live aja.

Rian: Udah pasti Against My Self dan Blessed. Karena Blessed cerita Arga yang kehilangan teman semasa dulu belajar dan kenal musik serta main band. Fun fact aku juga ngalamin hal yg sama.

Arga: NOT BREAK salah satu track yang paling gw suka, akhirnya gw bisa beresin track yang lumayan challenging. Tau kan kenapa? dengerin deh.

Dengan rilisnya album Echoes Of Life apakah kalian masih menyebut genre Prejudize hardcore? Atau kalian punya terminologi sendiri akan musik kalian?

Alfi: ⁠Metalic hardcore tenagaaa kudaaaaaaaaaaaaaaa!

Rian: ⁠Soal genre aku masih ngerasa Hardcore sih, cuman balik lagi gimana persepsi orang-orang yang dengerin dan aku sangat open orang-orang mau bilang genre Prejudize apapun.

Arga: ⁠Dari awal Prejudize terbentuk kita main musik Hardcore, cuman karena sekarang banyak elemen kategori permetalan yang bikin musik kita lebih tereksplor.

 

Apa tanggapan kalian mengenai fenomena crowd killer?

Alfi: Crowd killer is sucks! Orang datang ke acara buat senang-senang, bukan buat ngarah-ngarah orang buat dipukulin.

Rian: Crowd killer kalau aku sangat tidak membenarkan sih, apapun yang akan kalian ekspresikan di moshpit tolong hanya untuk bersenang-senang jangan sampai ada pihak yang disudutkan dan dilukai

Arga: Gw sih gamau ambil pusing perihal itu, karena gw pribadi masih menikmati moshpit sampe sekarang dengan segala macam-macamnya. Tapi kalau untuk crowd killer yang penting bisa tanggung jawab aja, karena balik lagi Hardcore itu soal mindset.

 

Album lokal rekomendasi kalian

Alfi: Yang pertama aku lagi dengerin Swarm “Badai”, Colorcode “Check My Sanity”, Amerta “Nodus Tollens”.

Rian: ⁠White Chorus (Limbo +)

Arga: Karmax – Sambartaka

 

Interviewed by Andika Surya
Photos by Lucas Benedict & Zirlyanpaja

 

Joyland Festival Jakarta 2024 kembali membuktikan diri sebagai salah satu festival musik yang paling dinantikan di setiap tahunnya. Selama tiga hari (22–24 November), sekitar 45.000 pengunjung memadati Stadion Baseball GBK Senayan untuk menikmati pengalaman tak terlupakan. Festival ini menghadirkan panggung yang memukau, mulai dari aksi artis internasional hingga musisi lokal yang membawa energi luar biasa.

Penampilan luar biasa dari artis lokal hingga internasional menjadi highlight festival yang ramah untuk membawa anak ini. Dengan sajian visual dan sound yang memukau, headliner Air menjadi penutup yang manis Joyland 2024 di hari pertama. Tidak lupa St. Vincent memukau pengunjung dengan aksi panggungnya yang karismatik dan sound yang berkelas. Selain itu dihari pertama ada penampilah dari band-band lokal seperti, Feast, White Shoes and The Couples Company, Bank, The Sigit, dan lainnya. Di hari kedua dibuka oleh penampilang di Cottons di stage Lily Pad. Yang menarik di hari kedua Joyland ini ada penampilan set spesial dari Efek Rumah Kaca dengan set Rimpang yang menghiasi panggung dengan tatanan visual yang ERK pakai ketika merayakan peluncuran album Rimpang pada Juli 2023 lalu. Dan ada set “Hujan Orang Mati” dari Majelis Lidah Berduri yang menampilkan aksi teatrikal di atas panggung Plainsong. Tentu saja di hari kedua ini, [AAA] kolaborasi Hyukoh dari Korea Selatan dan Sunset Rollercoaster dari Taiwan menjadi salah satu line up yang ditunggu tampil tanpa celah kekurangan sedikit pun. Hari ketiga dibuka oleh band asal Jepang DYGL, lalu disambung oleh Teenage Death Star di Lily Pad stage dan Brainstory di Joyland stage. Blueboy menjadi salah satu band yang ditunggu penampilannnya di Joyland Festival 2024. Tampil dengan set yang minimalis, Blueboy berhasil membawa romantisme era kejayaan Indie pop. Bombay Bicycle Club menjadi band yang tampil terakhir di Joyland Festival 2024.

Di panggung Lily Pad pun tidak kalah menarik dengan panggung besar Joyland dan Plainsong. Panggung yang dikurasi oleh White Shoes and the Couples Company ini menghadirkan The Panturas, The 5,6,7,8, Idiotape sampai Dj seperti dari Jazzy Sport, Daniella Dee sampai Habibi Funk berhasil menarik perhatian para pengunjung. Panggung-panggung lainnya seperti Shroom Stage, yang dikurasi oleh Soleh Solihun, menampilkan stand up comedian dari yang emang kita sering jumpai layar televisi sama comic dari komunitas pun hadir menghibur penonton yang hadir di Joyland Festival 2024. Dan tidak lupa pemutaran film hasil kurasi Joko Anwar di Cinerillaz menjadi suguhan menarik. Bagi pengunjung yang mebawa putra-putrinya ada sajian sajian activity yang disuguhkan di area White Peacock. Dimulai dari puppet show yang dibacakan langsung oleh Sal Priadi, tempat menitipkan stroller sampai story telling dari conductor MRT ada semuanya di area White Peacock.

Joyland Festival merupakan salah satu festival yang sangat disayangkan bila dilewatkan. Kami sangat tunggu kejutan berikutnya dari Plainsong untuk ramuan Joyland tahun 2025 mendatang.

 

Teks by Firman Oktaviawan

Photos by Plainsong Live doc’s