Masih ingatkah kalian pada kover-kover album metalcore ala Derek Hess? Sebuah era dimana kover album dihiasi oleh ilustrasi malaikat, anatomi tubuh manusia sampai layer-layer bercak darah ala style photoshop Jacob Bannon. Akhir ‘90an dan awal 2000an adalah sebuah era keemasan bagi metalcore, genre yang dipopulerkan oleh Botch, Converge, Poison The Well, Dillinger Escape Plan, Every Time I Die,  sampai Killswitch Engage, band yang paling mainstream pada saat itu. Metalcore adalah genre fusion yang menggabungkan unsur-unsur extreme metal dengan DNA hardcore punk. Metalcore terkenal karena penggunaan breakdown nya yang masif, yaitu bagian yang lambat dan intens yang sangat kondusif untuk headbang ataupun moshing. Karakteristik instrumentasi penentu lainnya adalah riff gitar chugging + melodi unison yang sering kali mengikuti beat pedal perkusi dan permainan drum double bass. Teknik vokal screaming menutupi lirik-lirik yang emosional. Di beberapa lagu para vokalis menggabungkan teknik scream dengan nyanyian bernada (yang kadang memudarkan genre antara band screamo dan metalcore). Pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, band-band pionir seperti Integrity, Earth Crisis, dan Converge, menginjeksi style musik punk-hardcore nya dengan DNA metal, sehingga terkadang mereka disebut sebagai pionir metallic hardcore tersebut. Walaupun label-label seperti Deathwish, Hydra Head, Roadrunner, Victory dan Relapse memiliki sumbangsih dalam merilis album-album metalcore yang keren, tentunya Trustkill Records dan Ferret Music adalah 2 komponen utama yang harus di highlight di dalam setiap pembahasan metalcore.

 

Trustkill Records adalah sebuah label rekaman independen yang fokus utamanya pada musik punk dan metalcore. Didirikan pada tahun 1993 oleh Josh Grabelle, Trustkill menjadi terkenal karena menandatangani dan mempromosikan band-band seperti Killswitch Engage, Poison the Well, Eighteen Visions, Bleeding Through, dan It Dies Today. Namun, Trustkill Records menghadapi beberapa kontroversi dan masalah hukum selama bertahun-tahun, termasuk perselisihan dengan band mengenai kontrak dan royalti. Pada tahun 2010, Trustkill menjalani proses rebranding dan restrukturisasi, yang akhirnya diluncurkan kembali sebagai Bullet Tooth Records di bawah kepemimpinan Josh Grabelle. Bullet Tooth Records terus merilis musik dari band-band hardcore dan metalcore, mengusung semangat Trustkill dalam banyak hal. Meskipun Trustkill Records mungkin sudah tidak ada lagi dalam bentuk aslinya, warisannya tetap hidup melalui band-band yang dibantunya untuk dipromosikan dan dampaknya terhadap dunia musik hardcore dan metalcore.

 

Satu label lagi yang memperkuat warisan metalcore untuk generasi penerusnya mungkin adalah Ferret Music. Ferret adalah label rekaman independen yang sangat berpengaruh di scene hardcore punk dan metalcore. Didirikan oleh Carl Severson (vokalis NORA) dan Paul Conroy pada tahun 1996, Ferret Music menjadi terkenal karena roster nya yang tidak main-main: Misery Signals, Poison the Well, From Autumn to Ashes, dan Every Time I Die. Seperti Trustkill Records, Ferret Music memainkan peran penting dalam membentuk lanskap dan blueprint musik metalcore di akhir 1990an dan awal 2000an. Ferret Music adalah tastemakers di ekosistem metalcore dan hardcore, bahkan terkadang mereka melampaui batasan genre-genre itu. Banyak rilisan Ferret yang masih relevan hingga saat ini.

 

Ferret Music juga memiliki reputasi karena merilis album-album yang menggabungkan style musik yang agresif dengan lirik yang penuh emosi, sehingga disukai oleh fanbase mereka yang berdedikasi dan cukup militan pada jamannya. Selama bertahun-tahun, Ferret Music menghadapi tantangan yang sama, termasuk masalah hukum dan perubahan kepemilikan. Pada tahun 2015, Ferret Music bergabung dengan Good Fight Entertainment untuk membentuk Good Fight Music, dan mereka melanjutkan tradisinya dalam mempromosikan artis musik berat di bawah bendera baru ini. Warisan Ferret Music bertahan melalui dampaknya terhadap karier banyak band dan kontribusinya terhadap perkembangan musik hardcore punk dan metalcore. 

 

Berikut ini adalah beberapa highlight rilisan metalcore dari Trustkill Records & Ferret Music:

1. Converge – Petitioning the Empty Sky (1996)

 

2. Poison the Well – The Opposite of December (1999)

 

3. NORA – Loser’s Intuition (2001)

 

4. Every Time I Die – Hot Damn (2003)

 

5. Eighteen Visions – Until the Ink Runs Out (2000)

6. Poison the Well – Tear From the Red (2002)

 

7. Martyr A.D. – The Human Condition in Twelve Fractions (2001)

 

8. Every Time I Die – Gutter Phenomenon (2005)

 

9. The Devil Wears Prada – Dead Throne (2011)

 

10. From Autumn to Ashes – Too Bad You’re Beautiful (2001)

 

11. Hopesfall – The Satellite Years (2002)

 

12. Bleeding Through – This is Love, This is Murderous (2003)

Tanggal 24 April kemarin Saya melihat sesuatu yang tidak biasa di Auditorium bioskop CGV: sebuah listening session album Ceriwis Necis milik Dongker yang disajikan dengan visual yang dibuat oleh Zirlyanpaja. Paja mungkin lebih banyak berada di belakang layar. Tetapi karya-karyanya mungkin tanpa disadari sudah pernah kamu lihat di beberapa output. Sebut saja stage photography band Dongker, sampai editorial dan lookbook fashion dari brand-brand kontemporer yang sering malang-melintang di linimasa Instagram kamu. 

 

Untuk visualizer album Dongker, apakah Lo berusaha merespon lagu-lagu dari Dongker atau mereka memberi kebebasan penuh?

Bisa dibilang mix antara keduanya sih, ada beberapa yang merespon dari lagu atau style Dongker, dan ada juga yang emang explorasi visual biar beragam output akhirnya. Dan ini tuh sebenarnya visualizer, bukan video lirik atau MV hahaha.. 

Tidak bisa dipungkiri, Dongker adalah band yang sangat memperdulikan visual, baik itu dari visual di panggung, merch, rilisan sampai output video-video mereka. Apakah ide-ide visual datang dari mereka atau lebih banyak dari diskusi?  Lalu bagaimana awalnya lo bekerja bareng Dongker sebagai fotografer live nya?

Untuk ide awalnya biasanya dari Delpi dulu sih lalu kita kembangin bareng-bareng dari diskusi, bisa dari film, MV, ataupun dari postingan random yang lewat di instagram, terus coba aku susun dan terapin di visualizernya. Awal mula kerjasama dengan Dongker itu pas ngefoto mereka di gigs Pelipur Lara, di Grun Bandung. Waktu itu kebetulan aku pulang foto dari studio terus melipir kesana dan foto-foto band yang manggung, sesudahnya ternyata Dongker suka dan aku diajak ikut manggung bareng Dongker.

 

Sudah berkolaborasi dengan brand-brand apa saja untuk foto lookbook, editorial dan output foto lainnya?

Kebanyakan brand-brand Bandung, kalo yang baru-baru ini Poshbrain, Portee, SVH..

Generasi Saya mungkin banyak terpengaruh oleh karya fotografer seperti Dash Snow, Juergen Teller dan Terry Richardson. Untuk era kontemporer ini, siapa saja yang lo lookup sebagai inspirasi lo dalam berkarya?

Buat sekarang kalo fashion editorial Thibaut Grevet, untuk surrealism ada Cho Gi-Seok, dan kalau untuk film Ari Aster kali ya..

 

Rekomendasi 5 video klip favorit lo apa saja?

Waduh lumayan susah ini hahaha.. Sekarang udah banyak banget yang bagus

kalo buat yang baru-baru ini Unknown T – Hocus Pocus, Young Friend – Feral Canadian Scaredy Cat, James Blake – Playing Robots Into Heaven, badbadnotgood – Beside April, Jean Dawson – Sick of it. Kalo alasannya selalu dari explorasi visual sih, semakin susah untuk dipikirkan dari ide atau tekniknya, semakin punya hook tersendiri waktu nontonnya. Selain itu harus match sama musiknya itu sendiri.

 

Foto fashion yang menurut lo bagus yang seperti apa? Karakter dan elemen-elemen apa yang diterapkan di foto-foto editorial dan lookbook fashion lo?

Kalo menurut aku ketika semuanya match antara looks, model, tempat dan konsep, itu udah ngasih karakter tersendiri yang natural. Dari situ bisa berangkat ke elemen-elemen surprising atau editorial yang ngasih karakter lebih ke foto itu sendiri.

 

Kamera yang lo pake dari awal sampai sekarang?

Buat start awal tuh kalo gasalah Nikon D3100. Pas SMA aku pake buat hunting foto alam hahaha, kalo buat sekarang belum banyak nyoba explore gear yang lain, tapi aku paling nyaman kalo kamera pake Sony, mungkin buat next aku mau coba kamera analog..

What’s next for Zirlyanpaja?

Buat kedepannya aku lagi coba buat foto lebih banyak di idealis aku sendiri, i want to explore my own style and idea, aku mau coba start di zine yang bakal aku bikin di tahun ini.

 

Pertanyaan terakhir: wishlist band, artist dan brand yang lo pengen banget foto siapa dan apa saja?

Waduhh hahaha, kalo band Slowdive kali ya hahaha, kalo brand aku pengen yang diluar Indonesia, dan pengen banget masuk majalah fashion yang sudah di ranah internasional apapun brandnya. Kalo buat seniman aku juga masih cari yang mungkin bisa dibilang punya karakter yang match sama aku, pengen coba buat kolaborasi terus buat share ideas bareng-bareng dan bikin sesuatu.

Tidak hanya karya-karya literatur saja yang selalu sarat dengan tema-tema sosial-politik, sinema juga sudah dari dulu menjadi salah satu medium terbaik dalam menyampaikan ide-ide menarik, memantik ruang diskusi sampai menyuarakan ideologi tertentu. Beberapa bergenre sci-fi seperti Code 46, Soylent Green, sampai They Live yang di kemudian hari menjadi ide bagi Shepard Fairey untuk memulai Obey Giant. Lalu ada beberapa yang diadaptasi dari karya literatur seperti adaptasi 1984 milik George Orwell yang disutradarai Michael Radford sampai V For Vendetta milik Alan Moore yang diangkat ke layar lebar. Bahkan film yang dikemas dengan “ringan” seperti Robocop (1987) pun mempunyai tema antipolice state dan anti kapitalisme didalamnya. Dengan eskalasi genosida di Palestina dan krisis iklim yang diam-diam sudah membawa kita ke era dystopia, sepertinya beberapa film sosial-politik ini akan semakin relevan untuk direkomendasikan dan ditonton. Walaupun sinema adalah sebuah budaya eskapisme, tidak ada salahnya menonton beberapa film menarik ini untuk memperkaya wawasan kamu kepada ide-ide liar dan imajinasi para creator film. Ini adalah beberapa film sosial-politik rekomendasi JEURNALS:

 

Civil War (2024, Alex Garland)

Tidak, film ini tidak berfokus pada polarisasi diskursus antara partai demokrat vs republikan di Amerika Serikat. Film ini hanya sebuah dystopia mengenai sebuah negara yang dikuasai oleh presiden diktator yang otoriter. Presiden ini bertahan selama 3 periode melebihi batas maksimal 2 periode / 8 tahun, lalu dia membubarkan FBI dan puncaknya menyerang warga sipil yang tidak menyetujui kebijakan-kebijakan nya menggunakan serangan udara (mengadu domba rakyat dengan militer). Dystopia seperti ini bisa saja terjadi di negara manapun jika negara tersebut dikuasai oleh seorang asshole. Kirsten Dunst (Spiderman, Marie Antoinette, Virgin Suicides), Wagner Moura (Narcos) & Cailee Spaeny (Priscilla, Alien: Romulus) membintangi Civil War dengan baik. Mereka berperan menjadi jurnalis perang yang meliput perang sipil ini, dan travelling dari New York menuju ke Washington D.C. dan menjadikan film ini seperti sebuah road movie yang menarik. Sebuah tour de force untuk melihat perang dari sudut pandang pertama, tentunya dengan visual yang indah dan sound design yang keren; suara tembakan di film ini bahkan lebih realistik dari Heat milik Michael Mann. Coba saja tonton yang satu ini di IMAX. Dengan direksi yang presisi dari seorang Alex Garland (28 Days Later, Ex-Machina), kalian akan melihat Western Forces yang terdiri dari Texas & Kalifornia melawan Pemerintahan Amerika yang sudah bobrok, dibantu oleh Maoist dari Portland. Dengan background mata uang dollar merosot, bendera AS yang menjadi 2 bintang dan presiden yang diburu oleh 90% rakyat sipil, tentunya ini adalah sebuah eskapisme yang satisfying. Film ini mempunyai soundtrack menarik juga dari Suicide, De La Soul, Sturgill Simpson sampai scoring dari Geoff Barrow (Portishead). Sebuah film perang dari studio A24 tentunya tidak akan kamu lewatkan begitu saja.

How to Blow Up A Pipeline (2023, Daniel Goldhaber)

Mungkin ini adalah film dengan pesan aktivisme yang cukup penting di tahun 2023 ini. Jika membicarakan efek rumah kaca dan krisis iklim, suka atau tidak suka tentunya efek perubahan cuaca ekstrim sudah mulai terasa langsung oleh kita semua. Apalagi dengan banyak nya heatwave yang memakan banyak korban jiwa di Asia, terutama di India dimana jalanan aspal pun meleleh. How To Blow Up A Pipeline diadaptasi dari buku berjudul sama karya Andreas Malm yang diterbitkan pada tahun 2021. Sebuah buku yang mengusulkan direct action dalam menanggapi krisis iklim ini dikemas menjadi film heist-thriller yang menarik. Sutradara Daniel Goldhaber mengubah ide Malm menjadi dasar untuk film thriller perampokan yang sangat efisien. Alih-alih masuk ke lemari besi atau museum, 8 karakter di film ini berkonspirasi untuk melakukan tindakan sabotase yang akan merusak harga minyak di seluruh dunia. Para eco-terrorist ini adalah 8 orang dengan tujuan yang sama, walaupun memiliki motivasi personal yang berbeda pada awalnya. Struktur flashback ala Tarantino yang perlahan memperkenalkan kita dengan para komplotan ini cukup menarik. Intensitas dan pacing di seluruh film tetap terjaga dari scene pembuka dimana Xochitl menusuk ban sebuah mobil SUV sampai adegan ending yang juga tidak kalah menarik dan cukup satisfying. Goldhaber bisa memacu tingkat ketegangan dan menerapkan efisiensi yang menjadi terlalu langka di film-film mainstream. Tetapi “How to Blow Up a Pipeline” dikemas sebagai film dengan sebuah pesan. Dalam semangat kolektivitas, ini disebut sebagai upaya kelompok. Jika mengingat prolog awal resensi ini, situasi krisis iklim yang semakin hari semakin berbahaya ini membutuhkan urgensi, dan sepertinya quotes eco-terrorism is self-defense akan sangat relatable di tahun 2024 ini.

 

Children of Men (2006, Alfonso Cuarón)

Masyarakat futuristik menghadapi teror kepunahan ketika tidak ada anak yang dilahirkan dan umat manusia kehilangan kemampuan untuk bereproduksi. Inggris menjadi sebuah negara dystopia dimana kekacauan, protes dan terorisme merajalela.

Children of Men adalah sebuah film sci-fi distopia dari tahun 2006 yang disutradarai oleh Alfonso Cuarón yang pernah membuat film Harry Potter terbaik:  Harry Potter & The Prisoner of Azkaban. Film ini diadaptasi dari novel tahun 1992 berjudul sama karya P.D. James. Tentunya film dengan latar belakang dunia di masa depan di mana umat manusia menghadapi kepunahan karena ketidaksuburan global kana menjadi sesuatu yang dark. Film ini mengikuti Theo Faron (diperankan oleh Clive Owen), seorang birokrat yang terjerat dalam rencana untuk melindungi wanita hamil pertama dalam 18 tahun. Dalam perjalanan untuk melindungi wanita hamil tersebut, Theo akan berhadapan dengan pasukan pemerintah, kelompok militan, dan keruntuhan masyarakat secara struktural. Children of Men terkenal karena sinematografinya yang inovatif, dan ikonik khususnya pengambilan gambar yang panjang (long takes) dan world-building yang sangat detail dan megah. Realisme film yang kasar dan penggambaran masyarakat distopia yang suram membuatnya mendapat pujian kritis dan mengukuhkan statusnya sebagai film sci-fi yang patut diperhitungkan. Tema-tema mengenai agama, pemerintahan yang totalitarian dan police-state juga menjadi highlight film ini.

 

Exit Through the Gift Shop (2010, Banksy)

Exit Through the Gift Shop adalah film dokumenter yang disutradarai oleh seniman jalanan Banksy, yang karya-karya nya selali mengkritisi budaya kapitalisme kontemporer dan pemerintahan otoriter. Dirilis pada tahun 2010, dokumenter ini mengeksplorasi dunia seni jalanan, dengan fokus pada kemunculan Thierry Guetta, seorang imigran Perancis yang tinggal di Los Angeles yang asyik dengan dunia seni jalanan. Thierry Guetta awalnya mendokumentasikan kehidupan dan karya berbagai seniman jalanan, termasuk Banksy, Shepard Fairey, dan Invader. Namun, seiring dengan berkembangnya film dokumenter tersebut, terlihat jelas bahwa Guetta sendirilah yang menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut. Didorong oleh Banksy, Guetta mulai menciptakan karya seninya sendiri dengan nama “Mr. Brainwash.” Film ini mengaburkan batas antara kenyataan dan fiksi, menimbulkan pertanyaan tentang keaslian, ketenaran, dan komersialisasi seni. Dampak media massa terhadap budaya dan tema ekspresi artistik juga menjadi eksplorasi yang di-highlight oleh Banksy. Exit Through the Gift Shop menerima pujian kritis secara luas dan memenangkan berbagai penghargaan, termasuk Penghargaan Grierson untuk Dokumenter Terbaik di British Independent Film Awards. Film ini memikat penonton dengan cerita yang menarik dan memberikan gambaran sekilas yang menarik tentang dunia seni jalanan dan hubungannya dengan budaya mainstream & pop culture. Penonton akan dimanjakan dengan footage-footage interview Banksy yang jarang terjadi dan scene-scene behind the scene proses Banksy bombing di jalanan pada malam hari.  Terlepas dari format dokumenternya, beberapa aspek dari film ini tetap diselimuti misteri, menambah daya tariknya dan memicu spekulasi di kalangan penonton tentang niat Banksy dan Thierry Guetta. Secara keseluruhan, Exit Through the Gift Shop berdiri sebagai eksplorasi seni, perdagangan, dan dunia street-art yang penuh dengan teka-teki. Penempatan lagu Tonight the Street Are Ours milik Richard Hawley di dokumenter ini akan selalu membuat Saya merinding saat menyaksikan end creditsnya.

 

Do the Right Thing (1989, Spike Lee)

Ini adalah film tahun 1989 yang disutradarai oleh Spike Lee. Bertempat di lingkungan Bedford-Stuyvesant di Brooklyn pada hari terpanas sepanjang tahun, film ini mengeksplorasi ketegangan rasial yang meningkat sepanjang hari, yang pada akhirnya berpuncak pada tragedi. Ceritanya berputar pada ensemble cast multi-rasial, Mookie (diperankan oleh Spike Lee), yang bekerja di Sal’s Famous Pizzeria, Sal (diperankan oleh Danny Aiello), pemilik restoran pizza Italia-Amerika, Samuel L. Jackson, John Turturro dan Radio Raheem (diperankan oleh Bill Nunn), seorang pemuda kulit hitam yang dikenal selalu memainkan boombox dengan cincin love-hate-nya yang ikonik. Seiring berjalannya waktu, ketegangan meningkat antara penduduk kulit hitam di lingkungan tersebut dan keluarga Sal yang keturunan Italia-Amerika, yang menyebabkan serangkaian konfrontasi dan akhirnya terjadi ledakan kekerasan yang juga melibatkan police brutality. Do the Right Thing dikenal karena penggambarannya yang kuat mengenai ketegangan rasial dan eksplorasi tema-tema seperti prejudice, diskriminasi, dan kebrutalan polisi terhadap ras-ras tertentu. Penyutradaraan dan skenario Spike Lee mendapat pujian luas atas kejujuran dan keotentikan dalam menggambarkan kompleksitas hubungan ras di perkotaan Amerika. Film ini sukses secara kritis dan komersial dan menerima banyak penghargaan, termasuk dua nominasi Academy Award. Sejak itu, karya tersebut dianggap sebagai karya penting dalam sinema Amerika, yang dikenal karena komentar sosialnya dan kemampuannya memprovokasi pemikiran dan diskusi tentang ras dan masyarakat.

 

Fight Club (1999, David Fincher)

Hanya Chuck Palahniuk yang bisa menyambungkan korelasi antara pabrik sabun, pertarungan bebas dan anarkisme. Fight Club adalah sebuah film cult yang dirilis di tahun 1999. Film ini adalah sebuah adaptasi yang berhasil dari novel karya Chuck Palahniuk yang diterbitkan pada tahun 1996. Disutradarai oleh David Fincher, dan dibintangi oleh Brad Pitt, Edward Norton dan Helena Bonham Carter. Film ini berdasarkan pada novel tahun 1996 karya Chuck Palahniuk. Norton berperan sebagai anonymous narator yang tidak bisa dipercaya, yang tidak puas dengan pekerjaan corporate-nya. Dia membentuk “sebuah fight club di basement sebuah bar dengan penjual sabun karismatik bernama Tyler Durden (Pitt), dan terlibat dalam hubungan dengan seorang wanita nyeleneh bernama Marla Singer (Bonham Carter) yang kerap menghadiri grup-grup diskusi penderita kanker dan penyakit berbahaya lainnya. Klub pertarungan bawah tanah ini berfungsi sebagai saluran bagi para pria yang kecewa dengan kehidupan duniawi mereka untuk melepaskan rasa frustrasi mereka melalui kekerasan fisik. Lalu klub ini pun berkembang menjadi sebuah organisasi bernama Project Mayhem yang cukup berbahaya. Mereka bertujuan untuk membongkar norma dan institusi masyarakat. Tema maskulinitas, konsumerisme, dan pencarian identitas mendominasi sepanjang narasi, dan film ini juga memiliki sebuah plot twist yang sangat menarik. Novel dan film ini mendapatkan banyak penggemar karena eksplorasi provokatifnya terhadap kekecewaan dan ketidakpuasan masyarakat zaman modern. Kedua versi tersebut dipuji karena humor gelapnya, komentar sosial yang pedas, dan struktur plot yang rumit. Namun, mereka juga memicu kontroversi dan perdebatan mengenai penggambaran kekerasan dan nihilisme. Fight Club telah meninggalkan dampak jangka panjang pada budaya populer, dan mempengaruhi diskusi tentang maskulinitas, budaya konsumen, dan sifat pemberontakan yang terus dipelajari dan dianalisis di kalangan akademis, dan juga menjadi sebuah stepping stone atau gateway bagi penonton yang tertarik pada karya sastra dan film subversif.

 

The Platform (2019, Galder Gaztelu-Urrutia)

The Platform adalah film horor-sci-fi dari Spanyol yang disutradarai oleh Galder Gaztelu-Urrutia, dan dirilis pada tahun 2019. Setting dystopia di film ini cukup menarik: berlatarkan penjara vertikal di mana narapidana ditempatkan di tingkat yang berbeda, dengan platform besar makanan yang turun melalui level setiap hari. Makanan dimulai dari tingkat atas dan dimaksudkan untuk memberi makan semua tahanan, namun seiring berjalannya waktu, semakin sedikit makanan yang tersedia bagi mereka yang berada di tingkat bawah. Hey, rupanya ini bukan sebuah karya fiksi melainkan analogi pembagian kue yang sedang terjadi di era kontemporer ini ya? Film ini mengeksplorasi tema kesenjangan sosial, hierarki sosial, dan human condition secara umum. Sebuah studi karakter terhadap perilaku orang-orang ketika dihadapkan pada kelangkaan makanan, serta konsep altruisme versus pelestarian diri. Tokoh protagonis-nya rela dipenjara dengan imbalan ijazah S1, namun ia segera menyadari kenyataan pahit kehidupan di penjara vertikal ini. Film ini dipuji karena elemen alegorisnya dan kemampuannya menghasilkan diskusi tentang isu-isu sosial seperti distribusi kekayaan dan sifat manusia. Akhir film yang ambigu telah memicu banyak interpretasi dan diskusi di kalangan penonton. Overall, The Platform cukup menonjol sebagai film sci-fi yang menarik dengan genre sci-fi-horror, menawarkan hiburan yang intens dan komentar sosial yang mendalam.

Lahir di California pada tahun 1962, perjalanan musik Steve Albini adalah bukti nyata manifestasi dari energi punk. Etos kerja dan prinsip Steve adalah bukti nyata dari suara pemberontakan. Pada suatu momen Steve pernah menolak royalty sebesar $500,000 dari album In Utero milik Nirvana yang dia produseri dan hanya mengambil fee dia sebagai produser, menurutnya bagi seorang produser untuk mengambil royalty dari jerih payah musisi lain adalah sesuatu yang memalukan. Steve Albini meninggal karena serangan jantung pada usia 61 tahun pada tanggal 7 Mei, meninggalkan beberapa album yang intens dan ikonik sebagai seorang musisi dan ribuan proyek yang sangat beragam sebagai produser dan engineer. Terinspirasi dari gerakan punk dan band-band seperti Ramones, Steve mempelajari jurnalisme di pinggiran kota Chicago, di mana ia membenamkan dirinya dalam scene musik kota tersebut.

 

Steve merekam album klasik yang tidak terhitung jumlahnya seperti “In Utero” milik Nirvana, “Surfer Rosa” milik Pixies, dan “Rid of Me” milik PJ Harvey, yang menanamkan teknik produksi uniknya dalam beberapa rekaman terpenting grunge dan alternative-rock tahun ‘90an. Steve bahkan menolak menyebut dirinya sebagai produser, lebih memilih istilah record engineer. Steve Albini juga menjadi vokalis band-band seperti Big Black, Rapeman (nama yang kemudian dia sesali), dan Shellac, mendorong batas-batas dalam skena post-punk.

Pada tahun 1995 Steve mendirikan studio rekamannya sendiri – Electrical Audio. Albini juga seorang kritikus vokal terhadap praktik eksploitatif dalam industri musik yang menolak layanan streaming dan selalu menolak mengambil royalti dari rekaman yang ia hasilkan untuk artis lain. Steve bukanlah seorang rockstar, melainkan dia adalah seorang penyair yang profan dan tentunya adalah seorang purist, yang mungkin tidak banyak tersisa di skena musik sekarang ini. Baik itu album Pixies dan the Jesus Lizard atau bandnya sendiri Shellac dan Big Black, Albini mengkhususkan diri dalam menangkap sensasi mendalam dari gitar dan drum yang dimainkan dengan volume yang memekakkan telinga. DIa adalah seorang purist analog, dan pada suatu waktu merekam drum Dave Grohl di sebuah dapur dengan 30 mikrofon hanya untuk mengambil reverb dari ruangan tersebut. Secara terpisah, ketika menulis untuk zine seperti Forced Exposure, Albini sangat pandai berbicara dan argumentatif tentang seleranya terhadap band, teknik rekamannya, dan kebenciannya terhadap kebiasaan industri musik yang eksploitatif. Steve mencapai tingkat ketenaran baru ketika Kurt Cobain memintanya (lebih tepatnya memaksa) untuk merekam album Nirvana tahun 1993 In Utero.

 

Mari menggali sedikit lebih dalam mengenai album-album esensial yang pernah diproduseri oleh Steve Albini. Berikut ini adalah 10 rekomendasi JEURNALS:

 

1. Shellac – 1000 Hurts (2000)

2. The Breeders – Pod (1990)

3. Low – Things We Lost in the Fire (2001)

4. Neurosis – Times of Grace (1998)

5. Godspeed You! Black Emperor – Yanqui U.X.O. (2002)

6. Superchunk – No Pocky For Kitty (1991)

7. Bush – Razorblade Suitcase (1996)

8. The Jesus Lizard – Goat (1991)

9. Big Black – Songs About Fucking (1987)

10. PJ Harvey – Rid of Me (1993)

11. Nirvana – In Utero (1993)

12. Pixies – Surfer Rosa (1988)

Hardik adalah sebuah unit hardcore/punk yang terbentuk pada tahun 2023 di Tasikmalaya. Band ini diperkuat oleh Nahla (Vocal), Angga (Guitar), Yepi (Guitar), Ilham (Bass) dan Yogi (Drum). Secara musikalistas, Hardik cukup unik karena memadukan hardcore punk klasik ala band-band SST Records dan Bikini Kill. Adanya pengaruh anime dan unsur psikadelia di musik mereka juga semakin memperkuat karakter unik Hardik. Mari berbincang dengan band punk Tasik ini mengenai Junji Ito, Pink Floyd dan Nasi Tutug Oncom..

 

Halo Hardik! Bisa introduce dan menceritakan kesibukan kalian diluar Hardik? Oh iya, kabarnya karya-karya kalian juga dipengaruhi oleh anime. Anime favorit kalian apa saja?

 

Ilham: Hallo A, Alhamdulillah baik, Saya Ilham player bass di Hardik. Diluar ngeband kesibukan Saya bekerja dan anime favorite Saya adalah karya-karya Junji Ito, dengan begitupun cover-cover Hardik pun terinspirasi dengan (referensi) anime horror, salah satunya Junji Ito.

 

Yepi: Hallo Kang, Alhamdulillah baik, kenalin Saya Yepi Setiadi, di Hardik posisi Saya sebagai gitar pemanis tanpa gula buatan hehe.. Kesibukan Saya diluar Hardik selain kerja on site di Jakarta, juga lagi bikin project musik baru di Jakarta juga. Benar sekali, terutama Saya orangnya weeaboo jadi musik Hardik ada terkaitnya sama anime, salah satu anime favorit Saya One Piece dan One Punch Man.

 

Nahla: Halo Kang, Alhamdulillah baik. Kenalin Aku Nahla, Aku vokalis di Hardik. Kesibukan Aku selain band-band-an yaitu kuliah, Aku juga suka nonton film setiap hari makanya Aku banyak dapat inspirasi ke lirik dari film-film yang Aku tonton. Dan salah satunya Aku juga suka nonton banyak film animasi Jepang dan baca manga dan komik juga dari Junji Ito. Aku juga suka sekali film-film dari Studio Ghibli.

 

Angga: Hallo Kang, Alhamdulillah baik. Nama Saya Angga gitaris di Hardik. Diluar main band kesibukan Saya bekerja. Saya pribadi sih tidak terlalu anime banget mungkin dari teman-teman yang lain…

 

Yogi: Hallo Jeurnals Alhamdulillah kabar baik, kenalin Saya Yogi, kesibukan selain di Hardik seperti pada orang umumnya adalah cari uang, scroll reels & main game. Dipengaruhi anime, kalo Saya pribadi engga sih sebenernya, mungkin dari temen-temen Hardik yang lain.

 

Musik hc/punk yang dimainkan Hardik cukup menarik, karena kalian lebih terdengar raw seperti band-band SST records ketimbang menggunakan sound modern. Apakah masing-masing personil lebih menyukai band-band hc/punk klasik? Ide siapa yang memasukkan unsur psychedelic di musik kalian?

 

Nahla: Untuk Saya sendiri sebagai vokalis, Saya banyak mendengarkan band raw klasik sebagai patokan referensi ketimbang band yang sudah diberikan bumbu-bumbu lebih karena lebih mudah untuk memoles dan menambahkan sebagai inspirasi. Contohnya seperti Exit Order, Gel, dan untuk yang lebih raw nya adalah Bikini Kill. Untuk ide dari penambahan psychedelic di musik Hardik yaitu dari Yepi gitaris pemanis kami.

 

Angga: Saya pribadi suka, ada beberapa band klasik yang sering saya dengarkan seperti Minor Threat, Black Flag dan lain-lain. Referensi awal sih pengen bikin band yang cepat dan energik. Unsur psychedelic datang secara spontan pas latihan.

 

Yepi: Untuk Saya pribadi, justru Saya sebelumnya tidak sempat mendengarkan mengenal musik hc/punk yang baru bahkan klasik, karena saya lebih menyukai psychedelic rock 70’s semacam Jimi Hendrix, Pink Floyd, Black Sabbath, The Rolling Stones, terus selain psychedelic rock Saya juga suka musik rock semacam King Gizzard and Lizard Wizard dan musik stoner rock/doom semacam Sleep, Radio Moscow, Belzebong, Bongripper… Hingga satu waktu ingin membuat project band dengan musik yang ngebut namun tanpa distorsi yang sangat keras, akhirnya dibikin lah sama anak-anak materi yang lebih masuk ke hc punk, namun sama Saya dibalut sedikit ambience dari modulasi biar ga jenuh aja.

Ilham: Sebelum bersama Hardik, Saya bermain di 2 project band yang berjalan bergenre crust punk dan psychedelic rock. Mungkin referensi Saya dari dulu senang eksplor musik rock dengan sound vintage dan kesan yang mengawang dan sedikit psychedelic, jadi Saya mencampurkan referensi dari band rock terkenal seperti King Gizzard and The Lizard Wizard dan punk-punk era 80’s. Mungkin ide psychedelic ini dari beberapa anak-anak yang sebelumnya sudah bermain di band-band stoner rock, blues, dan psychedelic rock / pop.

 

Yogi: Kalo Saya band-band hc/punk banyak dikasih tau sama Ilham dan temen yang lain di Hardik dan tidak terlalu banyak tau awalnya hanya beberapa.. Sebelumnya Saya lebih sering dengerin genre metal seperti Trivium, rock seperti Foo Fighters, Red Fang, The Sword, kalo punk lebih sedikit awalnya seperti Fall of Efrafa. Untuk ide yang memasukan unsur psychedelic itu masukan dari beberapa teman, dari Ilham sama Yepi yang punya project band psychedelic.

 

Bagaimana proses Hardik membuat sebuah lagu? Apa melalui jam session di studio atau kirim-kirim file sketch? Siapa yang paling banyak bertanggung jawab di departemen lirik? Tema apa yang kalian selalu angkat di lirik-lirik kalian?

 

Nahla: Biasanya untuk Hardik kalo membuat sebuah materi itu berawal dari instrumen terlebih dahulu mengingat-ngingat lalu dikirim melalui voice note ke grup lalu langsung ke studio untuk mencari ketukan drumnya dan untuk lirikal selalu di akhir ketika instrument sudah final. Pertanggungjawaban lirikal banyak dari Saya sendiri sebagai vokalis untuk mencari visual dan keresahan pribadi di dalam materi-materinya. Untuk tema dari lagu-lagu yang kami angkat spontan dari apa yang kami rasakan dan kami lihat contohnya seperti keresahan sehari-hari dan apa yang kami tonton balik lagi ke animasi-animasi jepang sebagai visualnya.

 

Angga: Proses membuat lagu kalo lagi ngumpul bareng sama di studio.

Lirik dan tema di buat oleh Nahla.

 

Yepi: Biasanya kami membuat suatu materi itu berawal dari riff dasar yang dibuat oleh Ilham, Yogi dan Angga, setelah jadi riff dasar nya kita langsung di modifikasi lagi saat jam session di studio, untuk masalah lirik dan temanya hampir semuanya dibuat oleh Nahla

 

Ilham: Proses di album awal, dulu kita hampir setiap hari ngumpul bareng di rumah Saya, dari mulai membuat instrument mentah sampai lirik semua dibuat secara langsung pada album pertama, seiring berjalan nya waktu anak-anak mulai sibuk bekerja dan kuliah di luar kota, jadi untuk proses album yang terbaru ini kita kirim kirim file di grup whatsapp, dan proses pematangan lagu nya pas semua udah pulang kumpul bareng baru kita ke studio. Kalo lirik aku biasanya bikin tulisan kecil di memo lalu aku kasih sama Nahla buat Nahla tambahin, tetapi sebagian besar nya dari Nahla untuk proses lirik. Untuk tema yang di angkat mungkin ada isu sosial yang di balut dan dianimasikan sebagai perjalanan seseorang dari perjalanan A sampai Z.

 

Yogi: Proses membuat lagu Hardik di 2 E.P yang sudah keluar lebih banyak melalui jam session di studio atau di rumah karena waktu itu personil Hardik masih ada di satu kota yang sama, mungkin di lagu selanjutnya bisa jadi kirim-kirim file sketch karena sudah ada di beberapa kota yang berbeda. Dari lirik yang paling banyak bertanggung jawab sejauh ini kebanyakan Nahla hampir semua, dari tema E.P sampai keseluruhan detail perlagu

 

Secara visual Hardik juga sepertinya sangat memikirkan tampilan visual. Mulai dari logotype, ilustrasi pada merch sampai gaya berpakaian kalian di panggung. Menurut kalian seberapa penting elemen visual dalam karakter sebuah band? Siapa yang biasanya bertanggung-jawab pada kreatif di visual kalian secara artwork dan juga stage presence? Kenapa memilih Gavin Vikram dan Delpi Suhariyanto untuk mendesain kover 2 EP kalian?

 

Nahla: Menurut Saya elemen visual dalam sebuah band itu sangat penting, karena secara tidak langsung dapat menggambarkan apa isi/gambaran suatu band hanya dari melihat visualnya, dengan begitu akan banyak orang yang berspekulasi arti dari penampakan yang kita tampilkan. Untuk kreatif visual biasanya kita diskusikan bersama sama (biasanya aku dan Ilham) lalu diberikan kepada Artworker nya dan merevisi sampai benar-benar nampak maksud dari apa yang benar-benar kami presentasikan. Untuk Gavin kita tertarik dengan ilustrasi komiknya dan untuk Delpi Saya sangat menyukai pemilihan warna dan pengambilan karakter yang sesuai dengan apa yang kami mau visualkan.

 

Angga: Karena visual menunjukan karakter sebuah band. Untuk visual dan artwork selain dari teman – teman band, kita juga di bantu oleh Omen dan Zura. Memilih Gavin karena ilustrasi komiknya yang sangat menarik, dan artwork Delpi itu suka dengan karakter liar dan pilihan pilihan warna yang seram.

Yepi: Karena visual merupakan aspek fundamental dalam karakter sebuah band maka untuk visual sendiri kita ber 5 pasti selalu berunding terlebih dahulu, tapi biasanya untuk perihal visual, fashion di panggung, stage presence dan lain-lain kami berdiskusi dulu kepada tim kami yaitu Salman dan Zura, agar kami bisa lebih optimal dalam menyajikan musik yang dibawakan. Untuk EP pertama kita sengaja mengajak Gavin karena beliau berasal dari kota yang sama juga yaitu Tasikmalaya, terlebih karena artwork Gavin memiliki karakter komik yang kita rasa cocok untuk EP pertama, lalu untuk EP ke 2 oleh Delpi karena dilihat dari EP nya dari Honey terbaru yang artworknya dibuat oleh Delpi juga bisa menggambarkan EP mereka, maka kita sepakat untuk mengajak Delpi untuk proses penggarapan visual EP yang ke 2.

 

Ilham: Menurut Saya karakter di sebuah band sangat penting dan Hardik juga ingin menyampaikan beberapa pesan dari karakter yang dibawakan oleh Hardik secara organik. Yang biasanya bertanggung jawab pada kreatif visual kami adalah teman di balik layar kami Salman dan Azura yang turut serta membantu sampai sekarang.

Saya tertarik artwork Gavin karena karakter komik nya terasa dan cover dari Delpi juga menurut Saya bagus untuk pengambilan beberapa object  karakter yang dibuat.

 

Yogi: Tampilan visual seperti cover art sama desain merch yang biasanya harus sesuai, apa yang disuarakan di lagu kita berusaha sama dengan visual cover art sama desain merch, selebihnya seperti logo type, fashion di panggung itu menyesuaikan berjalan saja. Berapa penting elemen visual dalam karakter band, menurut Saya penting karena dengan visual sedikit banyaknya menggambarkan band itu sendiri dari mulai genre, lebih dalamnya apa yang band itu bahas didalam lagu-lagunya yang dituangkan melalui visual. Kenapa Gavin Vikram dan Delpi Suhariyanto, karena menurut kita cover art dari mereka cocok dan bisa menggambarkan apa yang kita sampaikan di masing masing EP

 

Bisa ceritakan gimana awalnya bisa terlibat menjadi opening act Dongker di Bandung, dirilis oleh Greedydust dan juga bagaimana awalnya Nahla bisa berkolaborasi menyumbangkan vokal di Leipzig? Selain ini apakah ada kolaborasi Hardik dengan band/brand/label lain di masa mendatang?

 

Nahla: Awalnya untuk menjadi opening act Dongker itu setelah kami menjalani tour 8 titik kota, kami tiba-tiba dikontek oleh Delpi dan akhirnya kami tertarik. Dan untuk Leipzig Saya bisa menyumbangkan suara di salah satu lagu di album berjudul “Sunday Risoulez Communique” itu karena tiba-tiba a Rio menghubungi Saya melalui Instagram langsung to the point mengajak project-an ini dan aku pun langsung tertarik. Kami insyaallah akan melaksanakan tour lagi tapi untuk bekerjasama mungkin belum terpikirkan.

 

Angga: Bisa terlibat menjadi opening act Dongker itu karena di kontak kak Delpi,

Lalu setelah itu di tawari untuk di rilis oleh Greedy Dust. Untuk kolaborasi mendatang belum ada.

 

Yepi: Seingat Saya pribadi awalnya saat kita sedang ngejalanin tour 8 kota, sehabis titik dari Garut, ada info yang masuk ke kita kalau Delpi meminta kontak kita, setelah itu Delpi mengajak kita untuk menjadi opening act Dongker di bandung, setelah konser Dongker kita dikabari Delpi lagi untuk album selanjutnya Greedy Dust bersedia untuk merilis album Hardik. Soal Nahla yang berkolaborasi dengan leipzig Saya kurang tau infonya, tau-tau Nahla info ke anak-anak akan berkolaborasi dengan Leipzig. Untuk saat ini yang Saya tau belum ada info lagi mengenai kolaborasi dengan siapa atau brand atau label manapun, saat ini kita hanya fokus untuk mempersiapkan jadwal tour kita

 

Ilham: Awalnya Delpi kontak kami untuk menjadi opening act nya Dongker di Bandung, setelah deal dan main disana, beberapa kali komunikasi kita ditawari untuk dirilis oleh Greedy Dust, karena sebelumnya album awal kita rilis mandiri, kita coba deal dengan dirilis oleh label. Untuk kolaborasi dengan leipzig, dari pihak Leipzig komunikasi langsung dengan Nahla. Buat kolaborasi mendatang belum saat ini belum ada, paling kita lagi garap buat tour E.P kita.

 

Yogi: Awal bisa terlibat menjadi opening act Dongker di Bandung, waktu itu Hardik lagi jalan weekend tour, tiba-tiba di kontak diajak jadi opening act di Dongker di Bandung, setelah itu ada obrolan untuk selanjutnya dirilis sama Greedy Dust. Soal kolaborasi sama band, brand atau label, kita liat aja nanti kita berjalan saja tapi buat saat ini Hardik lagi coba buat rencanain tour.

 

Ceritain dong bagaimana Tasik pada saat kalian tumbuh dewasa dengan ekosistem musik Tasik yang sekarang ini dari sudut pandang masing-masing personil?

 

Nahla: Saya melihat ekosistem musik di Tasikmalaya khususnya musik underground sedang bagus dan mulai banyak dikembangkan oleh generasi baru kami juga termasuk dalam lingkaran tersebut tapi generasi yang lebih awal juga tetap konsisten membuat karya dan inovasi baru yang menginfluence kami untuk terus konsisten juga.

Angga: Ekosistem musik di Tasik untuk sekarang semakin banyak,tumbuh dan berkembang dengan sangat keren.

 

Yepi: Kota Tasikmalaya adalah gudangnya orang-orang berbakat dengan berbagai keterbatasan, kenapa Saya bilang begitu? Karena anak-anak Tasik itu sebetulnya orang-orang yang bener-bener ngulik, orang-orang yang kreatif, namun kita dihadapkan oleh fasilitas yang minim, perizinan event kecil yang sangat ketat dan kendala akses atau jarak dari kota kita untuk ke kota yang lebih besar, namun lambat laun ekosistem Tasik sudah mulai berkembang bahkan lebih maju lagi, terbukti dengan munculnya band Tasik yang lain seperti Strawberry Pills dan Lucy Meet Dopamine.

 

Ilham: Ekosistem musik di Tasik sekarang makin menjamur dan cukup bereksplorasi. Mungkin banyak serapan juga dari band band tour yang berdatangan ke kota kami serta media sekarang yang bisa menjadi influence untuk eksplorasi musik dan berkembang di kota kami.

 

Yogi: Tasikmalaya yang sering disebut second city dengan ekosistem musik yang menurut Saya lumayan masih terasa perbedaannya dibanding dengan kota kota besar yang lebih banyak komunitas, tetapi dengan adanya band-band tour dan band Tasik sendiri yang bermunculan itu membuat pandangan baru buat trigger teman-teman yang lain di Tasik.

 

Kalian juga salah satu band yang jadwal tour nya cukup padat. Menurut kalian masing-masing, apa saja sih hal paling menyenangkan dan menyebalkan pada saat tour?

 

Nahla: Yang menyenangkan nya menemukan banyak teman-teman yang baru yang sampai sekarang masih sering berkomunikasi dan menonton band-band keren di setiap kotanya. Ada juga hal yang menyebalkan yaitu capek dan seperti biasa yaitu keteledoran anak-anak. Cerita unik dan lucu banyak banget ga bisa disebutkan satu-persatu, kalo seram paling nyasar sama macet.

 

Angga: Hal yang paling menyenangkan bagi Saya pribadi menikmati perjalanan bersama Hardik, terus bisa menjalin pertemanan lintas kota, bercerita tentang musik dan bertukar ide. Hal yang paling menyebalkan itu jadwal tour bentrok sama jadwal kerja.

 

Yepi: Aamiin mudah-mudahan hehe. Hal yang paling menyenangkan menurutku yaitu bisa berkenalan dengan berbagai kalangan diluar kota yang suka musik juga, manfaatnya bisa dirasakan sampai sekarang saat Saya sekarang sedang berada diluar kota jadi ada teman untuk dikunjungi dan sharing soal musik, hal yang paling menyebalkannya itu saat jadwal tour yang bentrok dengan jadwal kerja, terlebih jadwal kota yang dikunjunginya itu banyak pusat kemacetan, alhasil waktu banyak terkuras dijalan. Kalau cerita unik banyak sekali, kudu sambil nongkrong kita ceritain hehe..

 

Ilham: Hal yang paling menyenangkan disaat tour ketika perjalanan dan kebersamaan serta menambah relasi juga teman antar kota, dan hal menyebalkan nya paling, mepet waktu karena ada kendala macet atau trouble di perjalanan. Ada kejadian yang Saya ingat mungkin bisa dibilang sedih lucu senang campur aduk, ketika kita mau melaksanakan tour ke 8 kota untuk pertama kalinya bersama Hardik, karena kita nekat mau tour H-4 sebelum tour kita hanya punya bekel beberapa ratus ribu hahaha, karena proses pembuatan artwork belum selesai untuk membuat P.O T-shirt, mau tidak mau tour harus tetap berjalan sesuai agenda yang di jadwalkan, the power of miracle sang ibunda mamah nya Nahla, ngasih bekal sejumlah uang yang cukup untuk kami melakukan perjalanan tour di weekend tour minggu pertama hehehe…

 

Yogi: Hal yang menyenangkan ketika tour itu kita mendapat koneksi baru dengan teman teman di kota lain, menyenangkan ketika main maksimal pun sebaliknya

 

Kuliner Tasik rekomendasi kalian yang harus dicoba para pembaca JEURNALS kalau main ke Tasik apa saja?

 

Nahla: Tutug Oncom Benhil, Baso Firman, dan Kupat Tahu Kabita (Certificated recommendation by Rio Leipzig)

 

Angga: Baso Firman, Tutug Oncom Pak Ubad, Makanan ringan bi Aam sama Surabi Ceu Mamah.

 

Yepi: Tutug Oncom Ubad adalah pusat dari segala kalcer yang ada di kota Tasikmalaya. Paket nasi Tutug Oncom murah meriah tuma’ninah gemah ripah loh jinawi..

 

Ilham: Kalo pagi-pagi wajib ke Tutug Oncom Benhil..

 

Yogi: Kuliner Tasik yang harus dicoba kalau main ke tasik sih Nasi Tutug Oncom, Baso Firman, Usus Citapen, Keripik singkong Bi Aam.

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Photo by @alyanflf & @alidirgaa

Pandu Fathoni adalah seorang multi-instrumentalis dan record producer yang terlibat di beberapa band. Sempat mengisi bass di The Upstairs, Barasuara dan The Adams, kini Pandu lebih fokus untuk berkarya di Morfem dan Zzuf sebagai gitaris dan vokalis. Kecintaan pandu pada sebuah pedal efek fuzz terinspirasi dari band-band indie-rock yang Pandu dengarkan saat bertumbuh dewasa, yang tentunya banyak menggunakan sound fuzz. Mari berbincang dengan Pandu mengenai Steve Albini, Big Muff, jersey MU dan rendang Padang..

 

“Kalo dengerin album gue dengerin satu album sampe beneran hafal baru pindah ke album lainnya”

 

Du, apa sih yang ngebuat lo sangat tertarik sama pedal efek Fuzz? Band-band apa saja yang ngebuat lo explore sound gitar fuzz?

Karena dulu gue suka banget soundnya Nick Zinner gitarisnya Yeah Yeah Yeahs. Sampe gue cari tuh sound nya pake Metal Zone, Boss Mega Distortion, Overdrive gue stack sama Distortion gak dapet dapet hehe, karena dulu internet belum segampang ini) sampe akhirnya gue menemukan pedal Big Muff Russian pertama gue yang gue beli di sebuah toko musik di bilangan Blok M. Mulai dari situ akhirnya gue selalu menggunakan Fuzz sebagai pedal distorsi utama gue. Kalo band-band utama yang mempengaruhi sound Fuzz gua udah pasti Mudhoney, Fu Manchu, Fuzz, Ratcat, MBV, JAMC, Weezer.

Membicarakan music-producing, bagaimana proses awal lo berkolaborasi dengan Feast untuk memproduce single terbaru mereka yang berjudul Konsekuens? Bagaimana approach lo pada saat mengerjakan Feast?

Awalnya Awan (Bassist Feast) yang kontak gue, membicarakan bahwa mereka mau buat album yang diluar dari kebiasaan mereka, makannya dia approach gua untuk memproduce Single “Konsekuens” ini, diluar kebiasaan disini maksudnya adalah mereka ingin dari secara produksi dan post-pro itu fresh dari apa yang mereka lakukan sebelumnya. Jadi gue ikut serta dari awal untuk pengerjaannya, kaya mereka ngirim draft lagu, gue bedah part part nya, duduk bareng tiap minggunya, ngobrol bareng, baru kita berangkat untuk rekaman. Dan akhirnya dirilis lah single Konsekuens ini.

 

Lo juga banyak mengerjakan mixing, mastering, producing, dan pekerjaan lain yang berhubungan dengan music production. Bisa elaborasi sedikit ga gimana awalnya lo mulai mengerjakan bidang ini secara serius dan mengerjakan album band apa tuh titik awalnya?

Kalo secara serius mengerjakan album band itu kayaknya karena secara gak sengaja waktu itu akhirnya gue memproduce dan mixing band gue sendiri yaitu Morfem di album “Binar Wajah Sebaya”, EP “Apapun Dilibas” dan EP “Megah Diterima” itu dengan pengetahuan seadanya dan intuisi gue terhadap musik Morfem itu sendiri. Lalu di studio (kadang di backstage juga) ngobrol, dan bertemu dengan banyak band band seperti Grrrl Gang, Feast, Dongker, Arc Yellow, Skandal, The Rang Rangs, dan lain-lain dan pada akhirnya berkolaborasi secara organik, gitu aja sih.

 

Denger-denger kalau lo merecord bass, bassist tersebut wajib take bass sambil berdiri agar picking nya lebih powerful ya? Hal-hal apa sih yang simple tapi banyak terlupakan oleh para bassist pada saat recording atau live?

Hahahahahah! Sebenarnya tergantung musiknya sih, kalo musik nya agresif ya menurut gue tampolan tangan ke bass lo harus agresif juga, setiap urat-urat tangan lo harus ngerasain beat yang udah di kasih sama drummer lo, kalo engga ya lagu lo gak ada Rasanya nanti. Hal-hal simple yah, ada sih.. Jangan lupa gunting kuku sebelum take/manggung hehehehe… Jangan lupa tampol bass lu sekeras-kerasnya karena drum dan bass adalah fondasi musik lu..

 

5 bassist favorit lo siapa aja?

Lokal:

  1. Aghan (Monkey To Millionaire/ The Sigit) Tight As Fuck! Dan he’s a Funny guy!
  2. Ombags (NTRL) dari dulu sampe sekrang cabikan bass sama vokalnya gak berubah ni orang, gila.
  3. Yuyi (Fleur) Band Fleur-nya udah bubar tapi, basis cewe indonesia legend, sessionist legend, tight dan otomatis enak.

 

Luar:

  1. Peter Hook (Joy division / New order) Legendary bassline-nya. Timeless.
  2. Dee Dee Ramone.

 

Lebih sulit membuat lagu di Morfem atau Zzuf? Bagaimana proses 2 band tersebut bikin lagu? Lo prefer jamming, kirim-kirim file sketch atau gimana?

Kalo di Morfem itu biasanya gue dan Jimi nge sketch, kadang gue udah ada beat dan udah jadi nada sama lagunya, gue rekam full di DAW, Jimi ngisi liriknya, kadang Jimi ngasih nada lirik dan lagu gua bikin part nya, kaya gitu, kadang Yusak dan Freddie ketika di ketemuin di studio juga nyumbang Part. Kalo Zzuf kurang lebih sama, semua percaya satu sama laen sih ketika gua bikin nada yang lain nyaut dan saling ngisi aja. Kadang kalo mentok gua juga minta tolong tema apa yg cocok buat lagunya, setelah semua denger baru jamming kita.

 

Lo juga fans MU garis keras ya, dan sepertinya sudah meracuni diri dengan mengoleksi jersey MU dari dulu. Bagaimana pendapat lo soal trend bloke core yang sekarang mulai ramai?

Apapun yang bertemu dengan sepakbola gua suka sih, apalagi sekarang fashion ya, ya akhirnya sekarang gue ada temennya gitu gak cuma gue doang yang kemana mana pake baju bola hahaha. Kalo urusan MU kalo kata Eric cantona You can change your wife, your religion, everything, but you cannot change your favorite football team hahaha!!

Lo pernah bermain bass di The Upstairs, Barasuara dan The Adams, tapi lo juga bermain gitar di Morfem dan Zzuf. Basicnya lo itu gitaris atau bassist? Apa sih pros-cons nya main bass vs pros-cons nya main gitar menurut lo?

Awalnya gue drummer malah, dulu. Makanya sisa-sisa ke-drummeran gua masih sedikit kepake di Barefood hahaha. Awalnya gue emang suka ngeband, dari kecil ngeband, gue tekunin apa yang lagi gue mainin, kenapa gue bisa maen gitar karena dulu abang gue nyerah ngulik lead nya John squire (Stone Roses ) yang lagu “I am the Resurrection”, jadilah gue pemain gitar. Gua kalo dengerin album gue dengerin satu album sampe beneran hafal baru pindah ke album lainnya, dulu ya pas jaman CD dan kaset, sekalian gue kulik partnya. Gue memang suka ngulik instrumen dari kecil, sampe sekarang. Jadi ketika dulu gue pernah ada di The Upstairs and The Adams as a bassist, gue udah pernah ngulik lagu-lagunya dan part-part nya jadi prosesnya secepat itu, dan sampai akhirnya gue involve di album Agterplass dan Katalika.

Kalo pros & cons nya as a bassist gue ngerasa gue harus fokus jagain beat bersama drummer, kalo main gitar gue bisa lebih atraktif aja, tapi itu hal yang aman aja buat gua sih. Kalo sambil nyanyi seperti di Zzuf itu lumayan pengalaman baru buat gua yang musti sambil belajar jalaninya hahaha! Kalau lirik lupa kasih penonton aja hahaha..

Gua di Zzuf bakalan bawain lagu baru terus sih di setiap manggungnya, even itu lagu belom rilis.

 

Kemarin-kemarin Steve Albini baru saja meninggal karena serangan jantung. What is your fondest memories of Steve Albini? Album-album karya Steve Albini favorit lo apa aja?

It’s a sad news banget ya, salah satu orang yang menginspirasi gue di dunia per audioan, album favorit gue udah pasti Pixies “Surfer Rosa” dan “In Utero” Nirvana sih, itu ultra mega authentic banget sound nya, apalagi drum ya, gua juga banyak belajar baca artikel dia how to produce a band dengan cara lo, gua ada cerita unik sih soal rekaman menggunakan metode miking-nya dia. Jadi temen gue namanya Josua itu punya band namanya Larung, dia minta gua untuk producing, dia iseng ngemail Steve untuk nanya proses miking drum versi dia, dan dibales dong. Lalu ya gue terapin aja berdasarkan yang dia kasih tau, tapi dengan Mic se-adanya. Kalo lo mau denger ada lagu Larung yang judulnya “Nekablury”.

 

Rig rundown bass dan gitar lo sekarang apa aja nih dari instrumen sampe ampli? Wishlist efek / amps / instrumen yang belum kesampean apa aja dan 5 efek favorit di pedal lo (kecuali tuner haha) apa aja dan kenapa?

Gua pengen nyoba Neural Quad Cortex deh penasaran hehehe. Rig rundown bass gue pake JHS Muffuletta sama Boss IR 200. Gitar sama sih JHS Muffuletta sama Hx stomp sama Maxon OD 808.

 

5 efek favorit gue? Udah pasti JHS Muffuletta, Hx Stomp, Maxon OD808, Boss DD3 (still the best delay ever for me hehe) sama Dunlop Cry Baby sih. Lebih tepatnya pedal-pedal yang krusial buat musik Morfem/Zzuf.

 

Last shouts:

 

Nevermind atau In Utero?

In Utero, karena Steve Albini dan sound Drum-nya tak tergantikan dan terkalahkan.

 

Dinosaur Jr atau Sebadoh?

Dinosaur Jr lah, J. mascis is one of a kind, gue lebih suka songwriting nya doi.

 

Gitar atau bass?

100% Gitar.

 

Ampli atau direct?

Untuk saat ini gue prefer Direct hehe..

 

Steve Albini atau Butch Vig?

Anjir susah, porsinya sama sama penting, wkwkwk both deh..

 

Best after gigs food?

Ya Nasi Padang kalo gue sih, Rendang adalah makanan terenak di dunia haha..

 

Words & interview by Aldy Kusumah                   

Photo by @rakasyah.reza and Pandu’s archives