Warp Records adalah record label independen asal Inggris (Saat ini berbasis di London) yang didirikan di Sheffield pada tahun 1989 oleh Steve Beckett dan Rob Mitchell serta produser musik Robert Gordon. Warp adalah salah satu label pionir dalam musik elektronik yang mencakup berbagai genre elektronik seperti IDM (Intelligent Dance Music), ambient, techno, dan musik eksperimental lainnya. Warp Records mulai dikenal pada tahun 1990-an dengan merilis album-album dari musisi  berpengaruh dan pentolan-pentolan elektronik seperti Aphex Twin, Autechre, Squarepusher, dan Boards of Canada. Kini Warp juga menjadi rumah bagi artis-artis dari berbagai genre dari IDM (Intelligent Dance Music), indie-rock hingga hip-hop eksperimental dan pop avant-garde seperti Stereolab, Battles, Grizzly Bear, Maximo Park, Anti-Pop Consortium, Flying Lotus, Oneohtrix Point Never, Danny Brown, Brian Eno, Hudson Mohawke, Kelela, Yves Tumor, Broadcast, dan Gonjasufi.

 

Warp juga menjadi salah satu label yang bertanggung-jawab atas genere “IDM” atau Intellegence Dance Music”, yang sangat bertolak belakang dengan EDM yang lebih dikonsumsi oleh penggemar musik elektronik mainstream. “Artificial Intelligence”, kompilasi label ini yang dirilis pada tahun 1992 membantu membangun subgenre elektronik yang dikenal sebagai musik dansa cerdas (IDM). Menurut salah satu pendiri Warp, Steve Beckett, album kompilasi ini lebih ditujukan untuk didengarkan sambil duduk, tidak untuk berdansa seperti musik elektronik mainstream. Dan ini tercermin di kover album, yang menggambarkan android yang tertidur di kursi sambil mendengarkan album Kraftwerk “Autobahn” (1974)  dan Pink Floyd “The Dark Side of the Moon” (1973). Seolah-olah kamu bisa mendengarkan “Artificial Intelligence” seperti kamu mendengarkan Pink Floyd dan Kraftwerk. Analogi yang menarik. Beberapa media mainstream dan media musik di seluruh dunia menaruh album ini sebagai rilisan esensial bergenre ambient techno. Pada tahun 2014 Rolling Stone memasukkan “Artificial Intelligence” ke daftar “The 40 Most Groundbreaking Album of All Time”. Pada tahun 2017 Pitchfork juga memasukan kompilasi ini ke 10 besar list “The 50 Best IDM Albums of All Time”.

Sebelum menjadi salah satu founder genre IDM, pada awal tahun 1990-an, label ini awalnya diasosiasikan dengan skena techno bleep Inggris, dengan roster artis-artis seperti LFO, Sweet Exorcist, Forgemasters, dan Nightmares on Wax. Warp memang didirikan di tengah-tengah perkembangan scene “bleep techno” di Inggris Utara, yang sering kali dianggap sebagai gaya rave music yang mencerminkan karakter unik musik elektronik Inggris. Sambil mengambil pengaruh dari techno dan house music Amerika, artis-artis bleep juga menggunakan sound synthesizer electro dan suara bass yang sangat heavy. Nada synth yang sederhana (“bleeps”) digabung dengan sub-bass yang terinspirasi oleh reggae sound system, dan instrumentasi yang sporadis, bleep techno juga menggunakan pola drum-machine yang terinspirasi dari breakbeat.

 

Setelah techno ‘bleep’ yang berasal dari kampung halaman mereka di Sheffield pada akhir tahun 80an mulai padam, beberapa fans Warp Records kecewa karena Warp merilis indie-rockers Grizzly Bear dan Maximo Park, yang albumnya menjadi mesin pencetak uang bagi Warp, dan label itu dianggap sell-out. Beberapa respon dari para penggerutu ini menyayangkan kehadiran band-band seperti ini di Warp, selain mengurangi estetika, ini dianggap sebagai sebuah pengkhianatan terhadap fondasi IDM yang selalu menempel pada karakter Warp Records. Warp juga memiliki divisi indie yang dinamai Gift Records di awal tahun 90an, yang dikenal karena merilis single Pulp. Lalu bermunculan lah band-band seperti Broadcast dan Battles telah melakukan pekerjaan luar biasa dengan konsisten dalam menggabungkan kecintaan mereka terhadap musik elektronik ke dalam fondasi guitar music.

Walaupun salah satu founder Warp, Rob Mitchell, meninggal di tahun 2001, Warp Records tetap merilis album-album menarik dan mengexplore genre-genre yang jarang dilakukan label lain (Mungkin Ninja Tune Records, tapi itu akan kita bahas lain kali). Warp terus merilis album, dari artis seperti Hudson Mohawke, Flying Lotus, Mark Pritchard, Bibio, Jamie Lidell, Lonelady, Leila, dan Gonjasufi. Artis-arti eksentrik pun ikut menandatangin kontrak untuk bergabung dengan Warp, seperti Brian Eno, Oneohtrix Point Never, Mount Kimbie, Kwes., Darkstar, Kelela, patten dan Jeremiah Jae. Tahun 2013 Warp mulai memasuki ranah industri film dengan album Broadcast Berberian Sound Studio, soundtrack untuk film dengan nama yang sama. Warp merilis split remix 12″ untuk Record Store Day, yang merupakan kolaborasi antara Brian Eno, Nicolas Jaar dan Grizzly Bear. Pada tahun 2013, Warp juga memenangkan Independent Label Of The Year di AIM Awards. Lalu pada bulan Desember 2013 Warp berkolaborasi dengan museum Tate Britain untuk mempersembahkan sebuah showcase musik dan instalasi, Warp x Tate, bersama seniman Jeremy Deller dengan kontribusi musikal dari Oneohtrix Point Never, Patten, Darkstar, Hudson Mohawke dan Rustie. Pada tahun 2019, Warp merayakan hari jadinya yang ke-30 (bergaya WXAXRXP, kombinasi WARP, dan XXX, angka romawi untuk 30) dengan siaran tiga hari berturut-turut di NTS Radio. baru. Selain itu Warp merilis sebuah boxset berisikan 10 set EP (vinyl) yang berisikan beberapa track eksklusif dari Boards of Canada dan Aphex Twin. Label ini juga telah memperluas cakupannya di luar musik, merambah ke produksi film, instalasi seni, dan proyek multimedia lainnya, yang semakin memperkuat statusnya sebagai kekuatan penting dalam budaya elektronik kontemporer.

 

Berikut ini adalah beberapa album esensial Warp Records favorit kami jika kamu ingin digging lebih dalam:

 

Aphex Twin – Drukqs (2001)

 

 

Boards of Canada – Music Has the Right to Children (1998)

 

 

Autechre – Confield (2001)

 

 

Squarepusher – Go Plastic (2001)

 

 

Antipop Consortium – Arrhythmia (2002)

 

Nightmares on Wax – Mind Elevation (2002)

 

 

Prefuse 73 – One Word Extinguisher (2003)

 

 

Broadcast – haha Sound (2003)

 

Maximo Park – A Certain Trigger (2005)

:

 

 

Battles – Mirrored (2007)

 

 

Flying Lotus – Los Angeles (2008)

 

Grizzly Bear – Veckatimest (2009)

 

Bibio – Ambivalence Avenue (2009)

 

 

Oneohtrix Point Never – R Plus Seven (2013)

 

LFO – Frequencies (1991)

Various Artists – Artificial Intelligence (1992)

 

Seefeel – Succour (1995)

 

 

Plaid – Not for Threes (1997)

 

 

Tortoise – Standards (2001)

Deden adalah orang dibalik Dinding ini Milik Kami, sebuah upaya pengarsipan poster dan flyers gigs lokal. Deden sudah mengarsipkan lebih dari ___ poster fisik dan bahkan memamerkannya di berbagai eksibisi.

 

Halo Deden. Sekarang sedang sibuk dan menjalankan aktivitas apa saja selain mengerjakan D.I.M.K.?

Halo, aktivitas sekarang khususnya yang berkaitan dengan komunitas tidak terlalu banyak dibandingkan dengan beberapa tahun sebelum menikah. Mungkin juga kondisi yang sama di alami oleh banyak orang ketika memasuki fase tersebut (menikah). Sedikit  mengurangi intensitas dan menyesuaikan dengan kehidupan baru, waktu untuk keluarga dan anak juga. Sesekali jika waktu memungkinkan datang ke gigs atau bersilaturohim dengan teman-teman mengingat waktu kerja saya sebagai buruh di perusahaan logistik pengiriman barang harus sedikit pintar mengatur waktu tersebut.

Label dan distribusi saya, ALTERNAIVE sekarang berjalan sangat slow dan bahkan mungkin sedang mengalami hiatus. Untuk ALTERNAIVE Booking Tour, tour organizer yang saya jalankan setelah 2017 lalu menghentikan aktivitasnya, ditahun 2023 lalu mulai kembali melakukan aktivitasnya perlahan. Di 2023 lalu mengorganisir dua tur : PLAYBRUST (Malaysia), dan split tour LASTxMINUTE (Malaysia) / HOODED (Indonesia). Dan ditahun ini sedang mempersiapkan sebuah tur untuk TOOLS OF THE TRADE (Malaysia) yang akan melakukan tur ke Indonesia untuk kedua kalinya dibulan mei/juni ini.

Aktivitas lain di Klab Zine saat ini masih belum mengadakan lagi agenda bulanan untuk aktivasi kegiatannya. Di MATAMATA Zine Archieve sendiri, pengarsipan zine yang saya jalankan bersama Reka (Golosor Times) masih perlahan men-scan banyak arsip zine yang kita kumpulkan untuk nantinya bisa di akses secara online.

Juga sedang menyelesaikan menyusun satu buku jurnal tour dan photography ketika tur bersama MY DISCO (2017).

 

Bisa elaborasi sedikit ga bagaimana terbentuknya Dinding Ini Milik Kami (DIMK)? Konsep awalnya seperti apa dan sekarang total sudah mengarsipkan berapa flyers / poster gigs?

 Pengumpulan poster gigs sendiri sudah jauh hari saya kumpulkan tapi hanya menjadi tumpukan koleksi biasa saja. Hampir bersamaan juga bagaimana saya mulai mengumpulkan zine. DINDING INI MILIK KAMI benar-benar terealisasi ketika saya mulai gabung dirumah kolektif/artist RUMAH KELINCI. Banyak di bantu oleh teman-teman disana. Dari mulai curhatan saya tentang bagaimana kedepannya nasib arsip-arsip yang saya kumpulkan termasuk poster dan zine didalamnya. Juga ketidakmampuan saya dalam soal desain grafis, yang ingin mempunyai satu terbitan dalam bentuk sebuah zine. Dari keresahan tersebutlah, setelah banyak diskusi dan bertukar pikiran, DINDING INI MILIK KAMI lahir sebagai sebuah zine poster. Yang setelah di teliti lagi konsep zine poster ini masih sangat jarang di Indonesia. Banyak sekali di bantu oleh Ferry Firmansyah / Sunstore yang juga memberikan nama DINDING INI MILIK KAMI dan desain grafis di dua edisi pertama yang terbit ditahun 2017. Konsep dari dua edisi pertama DINDING INI MILIK KAMI mengkurasi koleksi poster gigs Bandung secara periodikal dari tahun 90an hingga periode tahun 2000-an. Respon dari teman-teman ternyata sangat positif yang akhirnya melebar menemukan banyak jejaring pertemanan yang mempunyai koleksi poster gigs Bandung yang tak sungkan untuk berbagi koleksi arsip posternya untuk saya arsipkan. Termasuk di edisi ketiga, koleksi poster gigs Julius (Popstore Indo/Seni Kanji) yang berbagi banyak arsip poster gigs Bandung.

Untuk jumlah koleksi poster gigs sendiri, jumlahnya sendiri dari hari kehari semakin bertambah baik fisik dan juga arsip secara digital. Belum ada jumlah pasti, karena saya sendiri belum pernah menghitungnya.

 

Poster pertama dan terakhir yang Deden arsipkan apa aja dan dapat darimana?

Poster yang sedari awal masih disimpan sampai sekarang adalah beberapa poster ketika masih jaman sekolah beberapa diantaranya adalah :

Bandung Ska ’98 / Nonoman Enterprise

Pankreas ’99 / Pensi SMU 9 Bandung

Flower City Sound 2 ’99 / Dongkrak Enterprise

Amuba Garasi ’00 / Stmik Mi Widyaloka

Poster-poster yang dari awal saya simpan, entah itu didapat dari hasil hunting dijalan dengan mencabut banyak poster yang ditempel ditembok atau halte-halte bis kota. Dan juga poster dimana band saya jaman sekolah bermain didalamnya.

Untuk poster yang terakhir saya arsipkan adalah mendapat banyak arsip dari Death Rock Stars, sebuah portal musik / media musik yang telah aktif memberitakan banyak acara musik dari medio 2000an, terutama acara regular yang banyak di selenggarakan di TRL Bar Braga. Seperti gigs series Parklife.

 

5 gigs yang paling berkesan untuk Deden apa aja dan kenapa? (Sebutkan line-up nya juga kalau masih inget)

 Last Show PUPPEN di Dago Tea House.

Menyaksikan band hardcore legenda Bandung mengakhiri karir bermusiknya di komunitas musik extreme. Tentu brutal dan banyak kejutan.Tetapi yang menjadi highlight di acara ini menyaksikan show live terbaik sepanjang  masa dari BALCONY yang saat itu sudah memainkan lagu-lagu dari album Metafora Komposisi Imajinar yang belum rilis. Sound dan live performance BALCONY saat itu masih terkenang hingga hari ini.

Blood In,Blood Out – Harder Recs Showcase

Pertimbangan datang ke show ini : band yang main bagus-bagus tentunya. Dan tiket acara dibonusin poster acara yang bagus untuk ditempel di tembok kamar. Berhasil mengajak dua teman di kelas untuk ikut nonton di acara ini. Walaupun dua teman tersebut belum pernah sama sekali datang menonton sebuah gigs hardcore. Tapi, saya berhasil meminta bonus poster dari dua teman saya tadi haha… Melihat HOMICIDE live masih dengan formasi awal mereka. “aku adalah tuhan, kamu adalah tuhan” beberapa bait lirik yang membuat kedua teman saya geleng-geleng kepala ketika melihat HOMICIDE bermain.

 

R.A.M.B.O –Bandung Show

Show pertama yang saya ikut organisir bersama kolektif Balkot untuk band RAMBO dari Amerika Serikat yang sedang melakukan tur ke Indonesia. Pengalaman pertama secara personal mengorganisir band tur, band internasional pula. Cukup deg-degan karena di buat ketika masa tenang setelah kampanye pemilu. Satu dari generasi pertama band DIY international yang melakukan tur ke Indonesia.

MILISSI 8 – Pentas Seni SMU 8 Bandung

Di era tahun 2000-an pensi-pensi di kota Bandung banyak memasukan band-band underground yang saat itu sering main di GOR Saparua dalam daftar bintang tamu mereka. Dan pensi SMU 8 Bandung, adalah salah satu pensi bergengsi yang ditunggu-tunggu.

THRASH FEST – Balkot Terror Project

Mengorganisir sebuah show untuk band yang beberapa personil didalamnya berasal dari band idola adalah serasa menyaksikan band idola tersebut bermain di depan mata kita sendiri. Kejadian itu benar-benar terjadi ketika mengorganisir show untuk CONQUEST FOR DEATH yang beberapa personilnya adalah yang juga bermain untuk WHAT HAPPEN NEXT? Siapa yang nggak tau mereka? WHN? Adalah band DIY thrash/powerviolence penting dan berpengaruh di era tahun 2000-an. Pengorganisiran show CONQUEST FOR DEATH di Bandung sendiri dalam pengorganisirannya menemui banyak kendala. Venue yang sudah fixed yang sudah tersebar dalam poster harus di cancel karena satu dan hal lainnya. Alhasil harus mencari venue pengganti di beberapa hari tersisa bukan merupakan pekerjaan mudah, di tengah kondisi venue di Bandung saat itu yang memang sangat susah untuk disewa terutama untuk membuat event musik keras. Tapi keberuntungan masih berpihak ketika menemukan bangunan rumah kosong ditengah kota yang awalnya iseng kita tanya untuk disewa membuat sebuah show hardcore/punk. Garasi rumah kosong tersebut yang disewakan membuat show untuk CFD. Melihat Robert Collins dan Devon bermain depan mata memang sebuah mimpi yang menjadi kenyataan yang selama ini melihat mereka berdua bermain di WHN? hanya melalui video. Di akhir acara setelah evaluasi acara,kita hanya berhasil memberi CFD sebesar Rp. 100.000 setelah cost produksi  acara terpenuhi dan Robert Collins menerimanya dengan sangat suka cita dan begitu sangat menikmati show di Bandung.

 

Itu poster-poster yang di arsipkan biar aman dan tidak rusak biasanya ada cara-cara handlingnya ga?

 Awalnya memang kesulitan ketika koleksi poster semakin hari semakin bertambah. Ditambah konsentrasi saya harus terbagi juga dengan koleksi zine yang saat itu jauh lebih banyak. Ditambah lagi harus berpindah-pindah rumah atau kontrakan ketika itu. Kadang, koleksi poster sering terabaikan pada awalnya. Sampe akhirnya merapikannya dalam sebuah map folder untuk handling arsip fisik poster-poster tersebut. Lalu untuk arsip digital, secara rutin dan mulai perlahan men-scan semua arsip poster fisik tersebut. Dan yang pasti untuk penyimpanan poster-poster tersebut diusahakan jangan menyimpannya di tempat yang lembab, minimal memiliki sirkulasi udara yang cukup agar arsip poster yang kebanyakan berupa kertas tersebut tidak mudah rusak dan rapuh.

 

Top 5 poster gigs favorit Deden apa saja? (bagus dari artwork, atau tingkat kesulitan mendapatkannya)

 Dari segi estetik, perkembangan poster sudah banyak mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Poster kini bahkan memiliki nilai ekonominya tersendiri dan bisa menjadi memorabilia tersendiri sebagai sebuah koleksi.

Kalo dari koleksi arsip poster gigs Bandung yang saya arsipkan dan menjadi favorit beberapa diantaranya adalah poster Blood In Blood Out, setelah dulu datang keshownya dan mengoleksi posternya dan lalu hilang. Sampai akhirnya menemukan kembali posternya  setelah berbelas tahun lamanya walaupun bukan official poster gigsnya, tapi menemukannya kembali sungguh sangat membuat saya begitu gembira.

Karya-karya desain poster dengan visual artwork yang kuat menjadi favorit saya juga.Diantaranya poster gigs series God Bless Heavy Metal karya Morgth dan tentu saja poster gigs karya KenTerror. Poster-poster di akhir tahun 90-an yang masih berupa kolase dan gunting temple sungguh menarik perhatian saya. Seperti poster Punk Rock Party.

Kesulitan yang di hadapi saat ini adalah mendapatkan kembali poster gigs Bandung di era 90-an dan awal tahun 2000-an yang banyak terpusat digelar di GOR Saparua. Tak banyak orang-orang dulu yang menyimpan arsip-arsip poster tersebut. Kalo tak menemui pelakunya sejarahnya langsung seperti para pemain band, event organizer, para kolektor sangat sulit sekali mendapatkan akses atau poster fisiknya secara langsung yang sudah banyak dibuang terlebih lagi kesadaran jaman dulu tentang pengarsipan masih belum menjadi hal yang menjadi kesadaran di teman-teman komunitas.

 

Ada beberapa cerita unik ga pas lagi hunting poster-poster dan flyers gigs? Biasanya nyari kemana dan kesulitan dalam hunting biasanya apa aja?

Satu cerita unik ketika dulu masih sering hunting dan mengambil poster dijalanan. Ketika masih sering nongkrong distudio IDJS Jl. Garuda selepas pulang sekolah. Sansan salah satu crew JERUJI dan DECAY menempelkan poster gigs yang masih basah dengan lem, selang beberapa menit akhirnya saya copot poster gigs tadi. Lalu Sansan pun datang kepada saya dan bertanya kenapa poster gigs yang baru dia temple saya cabut kembali? Setelah ngobrol panjang lebar akhirnya salah malah dikasih banyak poster oleh Sansan haha…

Selain hunting poster gigs di jalanan, kebiasaan saya berkeliling ke beberapa distro yang kadang banyak menyediakan banyak poster gigs secara gratis.

Kesulitan ketika hunting poster gigs di tembok-tembok jalanan kadang tidak mendapatkan secara utuh poster tersebut, yang sering terjadi poster-poster tersebut yang dicabut menjadi sobek.

Sudah pernah dipamerkan dimana saja koleksi arsip DIMK? Apa rencana DIMK kedepannya? (Kolaborasi, eksibisi, etc)

Secara resmi showcase pertama arsip poster gigs Bandung dan beberapa poster lainnya ketika launching DINDING INI MILIK KAMI edisi 2 di Rumah Kelinci, lalu yang kedua showcase di Bandung Desain Bienalle, juga ketika peluncuran buku Don’t Read This karya Prabu dan beberapa arsip poster juga ada dalam buku tersebut.

Beberapa arsip poster gigs Bandung juga muncul di film documenter tentang Gelora Saparua Bandung yang rilis beberapa tahun lalu.

Rencana kedepan masih terus merencanakan dan menyusun edisi ke empat dari DINDING INI MILIK KAMI yang konsentrasinya saat ini terbagi juga untuk bagaimana maintenance yang baik tentang pengarsipan itu sendiri. Karena mau tak mau DINDING INI MILIK KAMI sudah bergerak jalan kearah pengarsipan yang lebih serius. Oleh karena itu, sebagai sebuah inisiasi mandiri dalam aktivasi ini tentu kiranya memikirkan bagaimana menghidupi aktivasi ini secara mandiri pula dengan cara pembuatan merchandise yang di garap serius untuk subsidi silang supaya aktivasi pengarsipan ini bisa terus berjalan. Sudah memikirkan rumah selanjutnya untuk arsip poster gigs Bandung ini membangun rumah barunya, yaitu membuat sebuah website untuk bisa di akses banyak orang. Entah itu untuk riset, untuk keperluan film, pameran dan lainnya.

Projek jangka panjang tentu saja poster-poster ini akan dibukukan sebagai sebuah pusat arsip poster gigs Bandung yang bisa terus berkesinambungan.  Dan tentu juga membuat sebuah pameran tunggal untuk poster gigs Bandung ini. Yang harapannya bisa menumbuhkan kesadaran pengarsipan di setiap generasi di komunitas musik Bandung khususnya. Sudah saatnya para penggiat di komunitas musik Bandung mempunyai kesedaran yang lebih tentang pengarsipan yang bisa menjadi aset berharga dikemudian hari untuk menjaga dan merawat ingatan tentang komunitas ini.

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Etos D.I.Y., anti-konsumerisme dan anti-kekerasan (violent dancing / slam dance)
Selain prinsip D.I.Y., straight-edge dan anti-konsumerisme mereka yang unik, Fugazi juga mempunyai berbagai prinsip yang cukup berbeda dengan band-band punk/hc atau yang mengusung genre sejenis. Fugazi tidak pernah membuat merchandise dan mereka sangat anti untuk memakai baju atau atribut yang bermerk (mereka seringkali manggung bertelanjang dada ataupun memakai kaos polos). Jadi jika kamu melihat orang memakai merch Fugazi, sudah pasti itu bootleg. Selain itu, etos D.I.Y. (do it yourself) mereka cukup garis keras. Mereka merekam, memproduksi, merilis dan mendistribusikan rilisan-rilisannya secara mandiri. Mereka tidak pernah manggung di venue yang menjual tiket masuknya diatas $5 (walaupun di akhir umur band ini mereka kesulitan membook event yang ingin menjual tiket dibawah $10-$15), karena mereka ingin membuat gigs punk selalu terjangkau untuk semua kalangan, dan menariknya selalu bermain di all-ages show dimana penonton dibawah 17 tahun pun boleh masuk dan menikmati showcase Fugazi. Karena Fugazi juga anti segala bentuk bahasa kekerasan, maka mereka selalu melarang para crowd untuk slam dancing / violent dancing di moshpit. Di sebuah show Ian MacKaye pernah menghentikan lagu dan menyuruh seorang penonton yang moshing dengan brutal untuk keluar, lalu uang tiket penonton tersebut dikembalikan dengan sopan. Uniknya, Fugazi pun selalu memberikan performa maksimal seakan tidak ada hari esok di setiap penampilannya.


Formasi dan tahun-tahun awal (1986–1989)
Fugazi terbentuk setelah grup punk hardcore legendaris Minor Threat dibubarkan, MacKaye (vokal dan gitar) aktif dengan beberapa grup yang berumur pendek, terutama Embrace. Dia memutuskan untuk membuat sebuah proyek yang terdengar “seperti The Stooges dengan elemen reggae”, tetapi MacKaye khawatir untuk membentuk band lain setelah bubarnya Embrace. MacKaye ingin berada di sebuah band bersama orang-orang yang ingin bermain musik seperti dia. MacKaye merekrut mantan drummer Dag Nasty Colin Sears dan bassist Joe Lally, dan ketiganya mulai berlatih bersama pada bulan September 1986. Setelah beberapa bulan latihan, Sears kembali ke Dag Nasty dan digantikan oleh Brendan Canty (sebelumnya Rites of Spring). Suatu hari, Guy Picciotto, rekan band Canty di Rites of Spring mampir saat sesi latihan Fugazi. Dia kemudian mengakui bahwa dia ingin untuk bergabung dengan grup tersebut. Namun Picciotto kecewa karena sepertinya tidak ada tempat untuknya.

Band ini manggung pertama kali di Wilson Center pada awal September 1987. Grup tersebut masih membutuhkan nama, jadi MacKaye memilih kata “Fugazi” yang diambil dari buku “Nam” karya Mark Baker. Di dalamnya terdapat akronim slang untuk “Fucked Up, Got Ambushed, Zipped In [a body bag]” yang disingkat menjadi Fugazi. Band ini mulai mengundang Picciotto untuk berlatih. MacKaye akhirnya meminta Picciotto untuk menjadi anggota penuh, dan dia menerimanya. And the rest is history.

Ian MacKaye, Fugazi dan pengaruh Dischord Records terhadap skena Washington D.C.
Sebelum mendirikan Fugazi, Ian MacKaye lebih dulu bermain bersama The Teen Idles (pada tahun 1979). Sesaat setelah Idles bubar, MacKaye ingin melakukan sesuatu mengingat ia masih memegang $600 yang dihasilkan dari beberapa kali manggung bersama Teen Idles. Akhirnya MacKaye bersama Jeff Nelson memutuskan untuk membangun label rekaman sendiri bernama Dischord Records. Lewat label ini, MacKaye mulai menjaring relasi dengan band-band punk lokal di D.C. Pada 1985, Revolution of Summer yang diinisiasi oleh Amy Pickering mulai aktif. Dilatarbelakangi oleh maraknya kekerasan di gigs punk hingga sikap apatis terhadap kondisi sosial-politik. Mereka melangsungkan demo di depan kedutaan Afrika Selatan. Mereka menuntut apartheid dihapuskan.


Kehadiran Revolution Summer melahirkan band-band baru seperti Rites of Spring, Embrace, Dag Nasty, Soulside, Jawbox, Shudder to Think, sampai Nation of Ulysses. Keadaan tersebut juga membawa MacKaye melakukan hal serupa dengan membentuk Fugazi pada 1987, empat tahun pasca bubarnya Minor Threat. Secara tidak langsung Ian MacKaye, Dischord dan Fugazi juga sangat berpengaruh bagi blueprint dan menjadi benchmark musik post-hardcore maupun punk/hc di skena Washington D.C., yang kemudian diadopsi juga stylenya oleh band-band secara global.
Untuk kamu yang baru digging musik Fugazi, kami menyarankan untuk mulai dari track-track berikut ini:

1. Waiting Room

2. Turnover

3. Sieve-Fisted Find

4. Recap Modotti

5. Cashout

6. Do You Like Me?

7. Great Cop

8. Nice New Outfit

9. Bulldog Front

10. I’m So Tired

Words by Aldy Kusumah

Denis Villeneuve sepertinya tidak pernah membuat film gagal, dan dia terlihat sangat versatile dalam melakukannya. Pertama kali saya jatuh cinta pada karya Denis adalah pada saat melihat Sicario di bioskop, sebuah crime-thriller yang mengandung unsur-unsur film noir dan western di dalamnya. Saya selalu melihat Josh Brolin dan Benicio Del Toro seperti para gunslingers di film-film koboy Sam Peckinpah, hanya saja menggunakan senjata yang lebih modern. Mungkin Denis Villeneuve adalah salah satu sutradara yang kecil kemungkinannya untuk menyutradarai film-film besar Hollywood. Pertimbangkan ini: Villeneuve merilis film pertamanya pada tahun 1998 (August 32nd on Earth) dan film keduanya Maelström pada tahun 2000, kemudian Denis mengambil jeda selama bertahun-tahun untuk menekan tombol reset dan, baru-baru ini dia mengatakan kepada The Hollywood Reporter, bahwa dia telah mempelajari pendekatan yang berbeda terhadap sinema. Pendekatan baru Denis ini melibatkan dia untuk mengamati sutradara teater yang sedang bekerja dan mempelajari cara-cara berkomunikasi yang lebih baik dengan para aktor. Lalu pada tahun 2009 tiba-tiba Denis muncul dengan Polytechnique, yang kemudian dilanjutkan dengan masterpiece Incendies (2010), Prisoners & Enemy di tahun 2013, lalu Sicario (2015), Arrival (2016) dan Blade Runner 2049 (2017) secara berturut-turut. Apakah orang ini bisa membuat film jelek? Sepertinya tidak.

Fast-forward ke 2024: Villeneuve berhasil menyelesaikan adaptasi dua bagian dari film sci-fi terkenal karya Frank Herbert, Dune, sebuah proyek yang dulunya secara luas dianggap tidak dapat diadaptasi setelah upaya David Lynch gagal dan flop secara komersil pada tahun 1984. Bahkan sutradara nyentrik Alejandro Jodorowsky pun gagal mengadaptasi Dune. Namun Dune mungkin juga dibuat khusus untuk Villeneuve, yang berhasil merancang storyboard untuk adaptasi imajinasi dengan sahabatnya saat remaja. Setiap adaptasi buku Herbert harus menangkap kekerasan, ambiguitas moral, dan konflik manusia di masa depan tanpa kehilangan sisi anehnya. Ini semua adalah sebuah sweet spot bagi Villeneuve, bahkan di luar genre sci-fi sekalipun. Denis berhasil membawa karya-karyanya ke panggung yang lebih besar, tanpa kehilangan karakternya. Berikut ini adalah film-film Denis Villeneuve favorit JEURNALS dari yang “terburuk” sampai ke terbaik.

Maelström (2000) & August 32nd on Earth (1998)
Dua film pertama Villeneuve adalah satu kesatuan, sehingga sulit untuk untuk membahasnya secara terpisah. Kecelakaan mobil memainkan peran sentral dalam keduanya, begitu pula hubungan ambigu antara dua orang yang mungkin terletak di sepanjang garis tipis antara hidup dan mati. Maelström mengimplementasikan elemen-elemen fantasi dan komedi, narator film ini pun adalah ikan yang dapat berbicara. Ketertarikan Denis pada tema-tema gelap dan ambiguitas moral mendorong kedua film tersebut untuk mendapat pujian dari berbagai kritikus, dan Maelström bernasib cukup baik di Genie Awards Kanada, meraih enam piala, termasuk penghargaan Film Terbaik, Sutradara, Skenario, dan Aktris. Sayangnya, ikan-ikan yang menjadi narator itu tidak mendapat apa-apa. Jika melihat film-film Denis setalah ini, tentu saja 2 film awal ini sangat jauh kualitas nya dengan karya-karya berikutnya yang dia buat.

Polytechnique (2009)
Villeneuve kembali ke film layar lebar setelah hampir satu dekade berlalu, karena mungkin terpanggil untuk memfilmkan dengan dramatisasi pembantaian di École Polytechnique; sebuah insiden yang terjadi di tahun 1989 dimana seorang pria misoginis bersenjata menembak dan membunuh 14 wanita dan melukai 14 rekan mahasiswanya di sebuah universitas di Montreal. Di shoot dengan format hitam-putih, Polytechnique sebagian besar mengikuti dua siswa yang hadir di pembantaian tersebut. Film ini berdurasi singkat (hanya 77 menit, dengan kredit), shocking, dan tak terlupakan. Film ini tidak tanggung-tanggung dalam menggambarkan peristiwa mengerikan tersebut namun tidak pernah terasa eksploitatif. Film ini sedikit mengingatkan saya pada Elephant karya Gus Van Sant, dan kedua film ini menurut saya cukup ditonton sekali saja.

Enemy (2013)
Adaptasi dari novel The Double karya José Saramago yang ditulis oleh Javier Gullón, film surealis ini dibuka dengan sebuah scene surreal yang berlatar di sebuah klub rahasia di mana wanita menusuk tarantula dengan sepatu hak tinggi dan film ini menjadi semakin aneh setlah adegan itu. Jake Gyllenhaal berperan sebagai Adam, seorang profesor sejarah Toronto yang murung, hidupnya menjadi tidak tenang ketika dia melihat duplikatnya, Anthony Claire, berperan sebagai pelayan dalam komedi Kanada. Setelah Adam menghubunginya, kehidupannya dan kehidupan Anthony (dan kehidupan pasangan mereka, yang diperankan oleh Mélanie Laurent dan Sarah Gadon) mulai tumpang tindih dalam cara yang tidak nyaman sehingga menjadi perebutan kekuasaan. Difilmkan sebelum Prisoners tetapi dirilis setelahnya, disini Villeneuve sudah bermain-main dengan konvensi pembuatan film bergenre saat ia meng-injeksi momen-momen yang tampaknya biasa-biasa saja dengan rasa takut. Enemy adalah sebuah mindfuck dan studi karakter yang cukup berat, penonton perlu sedikit energi ekstra untuk mengkonsumsi yang satu ini.

Arrival (2016)
Diadaptasi oleh penulis skenario Eric Heisserer dari cerita pendek karya Ted Chiang, film ini dibintangi oleh Amy Adams sebagai Louise, seorang ahli bahasa yang terpanggil untuk bertindak ketika 12 pesawat ruang angkasa (UFO) misterius muncul secara tak terduga di seluruh dunia. Diambil dengan indah oleh DOP Bradford Young, film ini menggunakan warna abu-abu pucat dan warna hijau yang subtle untuk menciptakan suasana tidak nyaman yang semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Alien di film ini datang dalam bentuk makhluk humanoid yang berkaki banyak. Mereka memiliki kecerdasan namun dengan motif misterius yang tidak dapat dimengerti melalui cara komunikasi manusia. Kebutuhan untuk berkomunikasi dengan alien-alien ini berubah menjadi perlombaan melawan waktu ketika kapal-kapal dan pilot misterius mereka memicu krisis global yang mengancam. Terlepas dari semua unsur politik global, dan impending doom yang disebabkan oleh kedatangan alien-alien tersebut, Arrival tetap menjadi kisah tentang Louise, sebuah cerita mengenai nasib dan bagaimana kehidupan tidak dapat dipisahkan dari kematian. Tema sentral film ini mungkin dekat dengan Interstellar karya Christopher Nolan. In other words, jika kamu menyukai Interstellar, kemungkinan besar kamu akan menyukai yang satu ini.

Incendies (2010)
Selain mempertimbangkan kembali pendekatannya terhadap film, Villeneuve menghabiskan tahun-tahun setelah film pertamanya mengerjakan skenario untuk Polytechnique dan Incendies, yang dia buat satu demi satu. Sebuah adaptasi (ditulis bersama Valérie Beaugrand-Champagne) dari karya drama 2003 milik screenwriter Kanada asal Lebanon, Wajdi Mouawad. Drama tersebut beralih antara masa lalu dan masa kini karena menggambarkan sebuah tragedi yang cakupan penuhnya tidak akan terlihat sampai semua puzzle-nya telah tersusun. Ini adalah mahakarya sinematik yang bisa “triggering” untuk beberapa penonton, dengan cerita yang kuat dan kedalaman emosional. Sutradara Denis Villeneuve menciptakan narasi memukau yang mengungkap rahasia, ikatan keluarga, dan masa lalu yang menghantui dengan lokasi Timur Tengah yang menarik. Momen paling “berdarah” di Incendies datang dengan tiba-tiba dan mengejutkan, tetapi juga terasa seperti akibat yang tak terhindarkan dari kekuatan politik yang lebih besar dan siklus kekerasan multigenerasi, tema yang dia ulang kembali di Dune dan Sicario. Lagi-lagi, menurut saya plot-twist gelap di film ini hanya cukup ditonton sekali saja.

Prisoners (2013)
Villeneuve membuat lompatan dari Kanada ke Hollywood dengan sebuah film-noir tanpa kompromi yang dibintangi Hugh Jackman, Viola Davis, Terrence Howard, dan Maria Bello, masing-masing berperan sebagai Keller, Nancy, Franklin, dan Grace, orang tua dari dua gadis yang menghilang di kota kecil mereka di Pennsylvania pada hari saat Thanksgiving. Ketika karakter Jackman yakin dia telah menemukan pelakunya, seorang warga lokal bernama Alex (Paul Dano), dia mengambil tindakan sendiri bagai seorang vigilante, menyandera Alex dan menyiksanya untuk mengetahui detail dan rincian kejahatannya. Beberapa momen di film ini terasa seperti sebuah torture porn yang satisfying untuk beberapa penonton. Jake Gyllenhaal berperan sebagai Loki, detektif yang menangani kasus ini. Akting Gyllenhaal pun cukup intens di film ini. Ini juga film pertama dari tiga film Denis dimana dia berkerjasama dengan sinematografer legendaris Roger Deakins. Namun terlepas dari balas dendam, film ini tetap berakar pada kemanusiaan dimana Denis mengeksplorasi bagaimana sebuah kejahatan menghasilkan kejahatan baru.

Blade Runner 2049 (2017)
Respon Villeneuve terhadap film sci-fi masterpiece Blade Runner yang dibuat Ridley Scott di tahun 1982 adalah respon yang tepat. Denis membuang kerangka cerita film-noir dari karya originalnya untuk menjelajahi alam semesta yang lebih luas yang disarankan. Film ini mengikuti K (Ryan Gosling), seorang Blade Runner yang juga seorang replicant (android). K tergiring pada sebuah perjalanan yang akan membuatnya mempertanyakan hubungan antara manusia dan ciptaan androidnya. Pertanyaan lama yang sudah ditanyakan oleh Ridley Scott kembali ditanyakan lagi disini: Apa yang membuat manusia menjadi manusia? Harrison Ford kembali sebagai Blade Runner dari film OGnya, Rick Deckard. Film ini tidak kekurangan adegan action tetapi tetap memberikan banyak ruang untuk perenungan filosofis didalam dialog-dialog dan tema sentralnya. Kolaborasi Denis-Deakins lainnya, Blade Runner 2049 juga menawarkan visual yang menakjubkan: Tidak ada yang lebih berkesan dari reruntuhan Las Vegas. Mungkin ini bukan film untuk setiap orang, tetapi untuk para penggemar Blade Runner, film in adalah sebuah karya yang esensial. Dan sudah sepatutnya para penonton berterima kasih pada Denis untuk menghadirkan Ana de Armas sebagai AI sebesar billboard neon yang epik.

Sicario (2015)
Di shoot dengan indah oleh Roger Deakins, ditambah dengan set piece keren seperti scene pertempuran di terowongan gelap atau tembak-menembak yang intens di perbatasan, dibalut oleh scoring indah dari Jóhann Jóhannsson, Sicario memiliki semua elemen untuk menjadi film 10 out of 10. Performa Benicio Del Toro dan Josh Brolin pun menjadi aksen yang kuat untuk membuat Sicario jadi salah satu crime-saga paling keren yang pernah difilmkan. Denis juga ingin memperlihatkan kalau pemerintah, kartel narkotika dan polisi adalah para aktor abu-abu. There is no good guys here. Namun, sekali lagi, kerugian yang diakibatkan oleh konflik-konflik war on drugs inilah yang menjadi perhatian utamanya. Siapa saja para pelaku kejahatan multi-generasi ini? Siapa saja korban-nya? Pasangkan film ini dengan Incendies, dan kamu akan menemukan beberapa elemen yang berima dan senada.

Dune (2021)
Novel Dune memang sulit untuk di adaptasi. David Lynch dan Alejandro Jodorowsky gagal, dan karena kegagalan itulah yang George Lucas berhasil menjadikan Star Wars sebagai IP sci-fi paling sukses di dunia (padahal konon Lucas pun “meminjam” beberapa ide dari novel Dune karya Frank Herbert). Tapi di tahun 2021 dan 2024 adapatasi Dune yang berhasil akhirnya muncul ke permukaan. Setelah kesuksesan Dune ini, perlu diingat betapa mudahnya hal itu gagal. Novel Herbert kaya akan lore dan kental dengan tokoh-tokoh bernama unik seperti Glossu Rabban, Thufir Hawat, dan Duncan Idaho. Oke, yang terakhir mungkin tidak terlalu sulit. Ceritanya mencakup seluruh galaksi dan menampilkan banyak subplot, liku-liku, dan konspirasi. Tidak tanggung-tanggung seperti Terminator yang menggambarkan dunia pada tahun 2029 atau Blade Runner yang bersetting tahun 2019, Dune bersetting tahun 10,191. Dan sebagian besar cerita terjadi di gurun. Banyak sekali rintangan yang harus diselesaikan untuk membuat film ini, tetapi Villeneuve hampir membuatnya terlihat mudah melalui desain film yang imajinatif, CGI yang keren, dan plot yang jelas. Dune menampilkan dunia-dunia menakjubkan secara visual. Kepiawaian Denis memilih lokasi untuk beberapa set-pieces action yang intens pun kembali terlihat, seperti yang sebelumya dia lakukan di Sicario, khususnya serangan malam hari di Istana Arrakeen yang memenuhi langit dengan api. Namun, yang terpenting, ini adalah investasi film pada karakter-karakternya — khususnya calon mesias Paul Atreides (Timothée Chalamet), ibunya Lady Jessica (Rebecca Ferguson), dan (lebih lagi di Bagian Dua daripada film ini), mentornya di Fremen– kekasih Chani (Zendaya) — yang membuat Dune tetap membumi. Look out Star Wars, Dune akan segera menggeser posisi sebagai IP sci-fi terbaik untuk dekade ini.

Dune: Part Two (2024)
Tanpa rencana untuk membuat sekuel jika film pertama adaptasi Villeneuve tidak laku, Dune: Part Two tetap hadir dengan maksimal. Villeneuve konon sudah menyelesaikan Dune: Part Two ini jauh-jauh hari, walupun tidak ada kepastian untuk shooting. Ada juga beberapa rumor kalau adaptasi dari Dune Messiah dan beberapa alur cerita yang jelas-jelas mengisyaratkan mungkin ada lebih banyak lagi yang akan datang sudah mulai dikerjakan. Jika berbicara visual dan adegan epik, lihat saja rangkaian visual monokrom panjang di bawah matahari hitam planet Harkonnen dan scene Shai-Hulud yang menakjubkan. Membentang melintasi cakrawala di layar IMAX, memanjakan mata para penonton. Jika membicarakan sound design, arsitektur brutalist dan scoring film ini, mungkin artikel ini akan jadi terlalu panjang, so let’s skip that for another time. Beberapa kekuatan terbesar Dune: Part 2 ini bahkan tidak ada hubungannya dengan dunia Dune dan efek CGI. Semua aktor di film ini juga memainkan peran-nya masing-masing dengan sempurna (kecual Christopher Walken yang menurut saya sedikit miscast dengan aksen gangster Brooklyn-nya). Dune 1 dan Dune: Part 2 tidak bisa dipisahkan. Saya menganggap kedua film ini sebagai satu kesatuan, dimana Dune 1 mengenalkan backdrop dan backstory para karakternya, sedangkan Dune 2 bergerak dengan pacing yang lebih dinamis. Saran saya: Tontonlah kedua film ini back-to-back. Dan kamu akan mendapatkan experience yang tidak terlupakan.

Words by Aldy Kusumah

Preface
Lahir dan besar di Tokyo, Shinichiro Nakamura (lebih dikenal sebagai Sk8thing) telah menjadi tokoh penting dalam dunia streetwear selama lebih dari dua dekade. Meskipun ada banyak outlet untuk karya desainnya, portofolionya mencakup tugas bersama legenda-legenda industri street fashion seperti Nigo, dan kemudian Pharrell Williams. Resume desain grafisnya yang produktif sudah tampil di produk-produk BAPE, WTAPS, Human Made, dan Undercover. Dibalik karya-karya monumentalnya, hanya sedikit yang diketahui tentang desainer berpengaruh dan misterius ini. Mari menggali sedikit lebih dalam tentang pria dibalik topeng tersebut.

Pria misterius itu bernama Shinichiro Nakamura
Shinichiro Nakamura lahir di Tokyo pada tahun 1969. Minim sekali informasi mengenai masa kecil dan remajanya, kecuali fakta bahwa dia tidak menerima pendidikan seni rupa secara formal. Hiroshi Fujiwara memperkenalkan Sk8thing pada komputer Apple awal, dan dia segera mendalami software-software desain grafisnya. Dia dengan cepat membuat namanya terkenal sebagai desainer grafis dunia streetwear Tokyo, langkah besar pertamanya adalah mendirikan BAPE bersama Nigo setelah maraton menonton film sci-fi “Planet of the Apes” selama 5 jam. Di BAPE Sk8thing bertanggung jawab atas banyaknya grafis dan design-design awal perusahaan ini. Di tahun 2003 dia bertemu Toby Feltwell dari Mo’ Wax. Setelah bergabung dengan BAPE, Toby juga memperkenalkan Sk8thing kepada Pharrell Williams sebagai desainer grafis untuk label streetwear barunya BBC dan Ice Cream, yang mana Sk8thing tidak hanya menciptakan koleksi season awal tetapi juga logo terkenalnya. Bekerja sama di BAPE dan BBC/Ice Cream, Toby dan Sk8thing menemukan potensi kolaborasi mereka dan meletakkan dasar untuk mendirikan Cav Empt bersama Hishiyama Yutaka beberapa tahun kemudian.

Pengaruh Sk8thing di ekosistem streetwear Jepang
Selama 30 tahun terakhir Sk8thing telah menjadi pengaruh paling “obscure” namun mendominasi streetwear dan budaya Jepang hingga saat ini. Karyanya dalam desain grafis telah menjadi kekuatan pendorong bagi hampir setiap merek streetwear Jepang yang relevan sejak tahun 90an dan dia benar-benar ada di sana ketika beberapa nama paling ikonik di dunia streetwear mulai terbentuk. Untuk sebagian besar karirnya, Sk8thing memutuskan untuk tidak disebutkan namanya secara publik, biasanya mengenakan topeng atau menutupi wajahnya ke mana pun dia pergi. Dia mengatakan itu dimulai ketika dia masih kecil setelah dia menonton Phantom of the Opera, itu terkait dengan apa yang selalu dia rasakan di dalam dirinya. Pengalaman sinematik itu adalah manifestasi dari alter egonya, Sk8thing. Sk8thing akan selalu tetap anonim untuk memisahkan kehidupan pribadi dan profesionalnya yang menurut dia tidak penting untuk dimunculkan ke permukaan. Hiroshi Fujiwara (Fragment Design) bukan satu-satunya yang terpengaruh oleh Sk8thing karena pada tahun 1992, teman baik mereka bernama Nigo juga ingi memulai mereknya sendiri. Melalui koneksi-koneksi dengan para pionir tersebut akhirnya Sk8thing dipekerjakan full-time masih dan bekerja di toko Nowhere sebagai desainer grafis di mana dia mengembangkan beberapa desain paling terkenal untuk merek seperti Bathing Ape, Undercover, Neighborhood, dan banyak lagi.

Designer grafis misterius
Sk8thing juga memainkan peran integral dalam pengembangan banyak merek seperti Bounty Hunter oleh Hikaru Iwanaga dan Undercover oleh Jun Takahashi. Bounty Hunter dimulai sebagai perusahaan mainan vinyl, memproduksi karakter kecil yang dapat dikoleksi dan Sk8thing merancang salah satu mainan pertama untuk mereka yang diberi nama “Kid Hunter.” T-shirt dengan karakter tersebut juga dirilis yang merupakan usaha pertama Bounty Hunter di bidang fashion. Dengan Undercover, Jun Takahashi meminta Sk8thing untuk mendesain grafis dan juga koleksi SS 2001 miliknya yang berjudul “Chaotic Discord.” Sk8thing sangat sulit dipahami dalam hal identitas publik dan kepribadiannya. Meskipun banyak desainer dan orang dalam industri fashion ingin menarik perhatian media dan mendokumentasikan style mereka, Sk8thing lebih memilih untuk tidak menonjolkan diri dan tetap anonim. Faktanya, dia jarang terlihat tanpa masker. Dalam suatu interview Sk8thing mengenakan syal C.E. yang menutupi bagian bawah wajahnya. Yang lebih misterius lagi adalah bagaimana keseluruhan video disajikan melalui teks dengan suaranya yang diubah secara digital.

Di awal karirnya, Sk8thing bahkan menolak sebagian besar permintaan wawancara karena dia lebih suka berbicara melalui karyanya. Meskipun ia mampu untuk tetap berada di bawah radar saat bekerja untuk tokoh-tokoh besar yang sering tampil di hadapan publik seperti Nigo dan Hiroshi Fujiwara, salah satu pendiri C.E. memaksa Sk8thing untuk lebih menerima publisitas. Pendekatan Sk8thing terhadap desain dapat digambarkan sebagai tidak konvensional. Sulit membayangkan banyak desainer lain memilih untuk membalik logo Monster Energy atau memasukkan kutipan dari filsuf Perancis postmodernist ke-kirian seperti Jean Baudrillard. Meskipun karyanya di BAPE dan BBC dibatasi oleh estetika yang konsisten dan berbeda dari label-label tersebut; Sk8thing telah mampu mengekspresikan dirinya sepenuhnya setelah memulai C.E. Konon, Sk8thing juga banyak mengerjakan design-design untuk beberapa perusahaan terkenal yang dirahasiakan, dan dia tidak masalah menjadi ghost writer untuk perusahaan-perusahaan tersebut. Designer mana yang lebih keren dari Sk8thing di era foto selfie Instagram dan video OOTD Tik Tok ini? We praise you, lord.

Words by Aldy Kusumah

Wacko Maria adalah brand fashion asal Jepang, yang didirikan pada tahun 2005 oleh dua mantan pemain J-league (sepak bola profesional Jepang), Atsuhiko Mori dan Keiji Ishizuka. Wacko Maria memulai perjalanan-nya sebagai toko kaset yang berbasis di Tokyo dengan bar koktail yang ter-integrasi di dalam tokonya. Keiji Ishizuka dan Atsuhiko Mori membuat lini Wacko Maria pertama mereka pada tahun 2005 dan merek tersebut dengan cepat menjadi nama populer di Jepang. Dengan tagline dan motto perusahaan: “Music is the Trigger of Imaginations”, brand ini didefinisikan oleh musik sebagai fondasi terkuatnya. Wacko Maria juga merepresentasikan style yang glamor, nakal, klasik dan romantis di saat yang sama. Koleksi setiap season-nya dipengaruhi dan mendapat inspirasi dari musik, film, seni rupa dan tentunya pengalaman sehari-hari para kreatornya. Mereka telah berkolaborasi dengan sutradara film independen Jim Jarmusch dan Larry Clark, fotografer Tim Barber, dan berbagai IP terkenal semacam Ghost in the Shell sampai Basquiat.

Nama brand-nya, WACKO MARIA, adalah bahasa Latin untuk “Maria yang eksentrik”. Dengan konsep “orang dewasa kasar yang menyukai wanita, musik, alkohol, dan topi-topi stylishqq”, banyak item yang ditujukan untuk para profesional dengan style yang lebih laidback dan kenyamanan bahan dan kualitas ala brand artisan Jepang. Semua barangnya merupakan di develop dan di buat di Jepang. Dengan kualitas tinggi dan garansi bebas perawatan, bahan-bahan berkualitas tinggi khas industri Jepang, dan keahlian Jepang yang sangat memperhatikan detail, Wacko Maria adalah brand yang patut diperhitungkan. Produk mereka pun sangat bervariasi dari aksesori, T-shirt, hoodie, jaket, dan tentunya kemeja-kemeja Hawaiian andalan mereka.


Fanbase Wacko Maria pun terus bertambah. J-pop idol, para rocker, sampai DJ memakai produk-produk Wacko Maria dengan bangga. Dalam budaya Jepang, hal-hal seperti tato dan “premanisme” tidak disukai masyarakat, namun Wacko Maria memadukan hal ini dalam marketingnya dan image mereka dan benar-benar menangkap suasana seorang anggota Yakuza yang doyan party. Keseimbangan antara image bad boy dan culture party inilah yang membedakan mereka dari brand “nakal” yang lain.

 

Brand streetwear andalan Tokyo ini tentunya mengambil pengaruh besar dari budaya Amerika. Secara effortless Wacko Maria dengan mudah memadukan style jazz tahun 70an dan 80an dengan gaya rockabilly yang rebellious sehingga menciptakan looks unik yang keren. Label ini melahirkan banyak pengikut setelah beberapa proyek kolaborasi dengan WTAPS dan Porter Yoshida & Co, Nonnative, N. Hoolywood dan UNDERCOVER. Secara keseluruhan, WM dikenal luas karena pakaiannya yang banyak menggunakan aplikasi bordir yang dihiasi dengan tagline “PARADISE TOKYO” dan “GUILTY PARTIES,” yang merupakan penghormatan kepada distrik Nakameguro di Jepang dan Guilty Parties adalah merek turunan-nya. Meskipun Keiji Ishizuka kini telah pensiun, Atsuhiko Mori sampai sekarang tetap bertanggung jawab sebagai desainer dan creative director aktif sejak berdirinya perusahaan. Wacko Maria memiliki visi dan identitas yang jelas dan mereka terus berusaha mencapainya secara effortless. Mereka selalu nampak bersenang-senang dalam melakukan sesuatu, dan hal inilah yang jarang dilakukan oleh brand-brand lain saat ini.

 

Words by Aldy Kusumah

Prita “Darkofmoist” adalah seorang stage photographer yang akhir-akhir ini karyanya cukup sering tampil di linimasa sosial media. Selain berkerja di Maternal Disaster sebagai fotografer, Prita juga sangat aktif mengikuti eksibisi yang memamerkan karya-karya fotografinya dan juga menjadi narasumber di event-event fotografi. Beberapa band yang sudah didokumentasikan oleh Prita adalah Eyehategod, Speed, Jesus Piece, Wormrot, Doldrey, GAG, Sial dan tentunya band-band lokal seperti Ssslothhh, Collapse, Haul, Perunggu, Kuntari, Pure Wrath, Komunal, Ancient dan masih banyak lagi.

“Kalo buat aku equipment bisa nomer dua ya, yang terpenting buat aku insting ketika kita nangkap momennya atau gimana cara kita setting kamera nya. Kalo untuk stage photography sih menurutku ya kita harus tau momen dan sweet spot nya”

Halo! Sedang sibuk mengerjakan apa saja akhir-akhir ini?
​​Hallooo… Sehari-hari sih kerja di Maternal sebagai fotografer. Selain itu juga untuk sekarang lagi collect beberapa karya aku yang rencananya pengen dibikin pameran tunggal tahun ini. Doakan! Hehehe..

Lo sudah banyak mendokumentasikan banyak band. Band apa aja sih yang sudah pernah lo capture performa live nya?
Lumayan banyak ya kalo yang udah pernah aku foto, seinget aku sekarang sih Speed, GAG, Doldrey, EYEHATEGOD, SSSLOTHHH, Collapse, Haul, dan lain-lain. Kalo yang terbaru seinget aku Jesus Piece, Wormrot, Komunal.. Sisanya agak lupa hahaha.. Kalo yang terfavorit sejauh ini Jesus Piece sama Haul karena waktu Jesus Piece harus sedikit naik rigging demi hasil yang okeee, kalo Haul set panggung dan lightingnya menurutku cakepp siih..

Menurut lo equipment penting ga sih untuk membuat sebuah karya yang ikonik?
Kalo buat aku equipment bisa nomer dua ya, yang terpenting buat aku insting ketika kita nangkap momennya atau gimana cara kita setting kamera nya. Karena ngga jarang juga aku pake kamera lo-fi tapi hasilnya bisa cantik hehe..

Equipment favorit lo apa aja?
Standar sih sebenernya.. Kamera dan lensa yang mendukung atau menyesuaikan sudah cukup menurutku, dan juga flash untuk lighting panggung yang kurang mendukung atau kalau ingin hasil yang lebih tajam.

Untuk para fotografer-fotografer baru, apa aja tips & tricks lo dalam melakukan stage photography, editorial fashion dan foto profil band/artist?
Kalo untuk stage photography sih menurutku ya kita harus tau momen dan sweet spot nya. Misal kalo vokalis pas lagi loncat atau pas lagi ngasih mic nya ke penonton untuk ngajak sing along. Misal ya itu… Terus kalo untuk editorial fashion menurut aku kita sebagai fotografer harus tau persona atau brand image nya kaya gimana, biar pesan secara visual nya tuh nyampe ke audience. Hmm.. Kalo untuk foto profile band sih biasanya aku menyesuaikan kepengen mereka aja, kadang aku cuma suggest vibe lighting sama ekspresi nya aja.

Lo juga sudah sudah memamerkan karya foto-foto lo di beberapa eksibisi dan juga menjadi guest talkshow acara fotografi. Apakah senang bisa berada di posisi sekarang sebagai seorang fotografer yang karyanya sudah cukup dikenal?
Kalo senang pasti, tapi kalo puas sih belom yaa hahahaha. Karena aku juga punya beberapa target/cita-cita di dunia yang aku sukai ini, semoga aja satu-satu bisa tercapai hehe. Kalo exhibition ada beberapa diantaranya “Kilas #00” yang dibikin sama temen-temen “Kilas Archive”. Nah kalo talk show dulu pernah juga ngisi sebagai narasumber, dengan tema “Peran Wanita Dalam Dokumentasi Musik” yang dibikin sama Kilas Archive juga, dan baru kemarin mengisi acara talk show ”Bagaimana Memulai Dan Bersikap” yang dibikin sama Stage ID Bandung. Semuanya seru dan berkesan karena bisa ketemu temen-temen sesama fotografer di luar panggung dan banyak banget sharing perihal industri ini.

Ada beberapa band atau talent yang sudah terbiasa difoto dan ada juga yang perlu pengarahan khusus. Bagaimana lo biasa mengarahkan talent/band yang sedikit kaku dan tidak biasa difoto?
Kebetulan belum pernah ngalamin itu.. Soalnya beberapa band/artis yang kerja bareng sama aku tuh banyaknya temen dan obrolannya nyambung, jadi ga susah untuk aku direct dan komunikasi sama mereka.

Berapa lama waktu yang lo butuhkan untuk mengedit sebuah foto? Biasanya apa aja sih yang lo suka edit biar hasilnya Darkofmoist banget?
Nah kalo yang ini agak tricky, karena kalo lagi mood banget ngedit dalam hitungan jam beres haha! Tapi kalo mood lagi kurang bagus bisa berhari-hari. Tapi rata-rata sih hmm bisa 2 hari deng hehe… Kalo apa aja yang aku suka edit sih lebih ke tone dan “ngebersihin” objek-objek yang bisa dibilang mengganggu. Misal kalo foto stage kan sering banget tuh ada sampah minuman air mineral, nah itu aku bersihin dulu biar fotonya cakep dan sedikit clean haha

Di satu sisi analog photography menjadi hobby yang sedang ramai, tapi disisi lain kemarin Seni Abadi baru saja tutup karena kekurangan peminat. Bagaimana pendapat lo mengenai trend fotografi analog ini? Apa lo mengikuti dan tertarik juga untuk mencoba mengaplikasikan kamera analog untuk karya-karya berikutnya?
Trend fotografi analog tuh kan ga pernah turun ya, ada aja yang baru maen atau yang masih maen analog tuh banyak banget. Means kalo dari dulu maen analog berarti banyak uang karena film nya mahal haha! Tapi aku salut sama yang maen analog, karena hasilnya kan ga bisa kita cek dulu dan skill yang maen analog tuh mantep-mantep haha. Tapi lebih seru maen analog yang fully manual gitu lohhh, ngelatih aku buat cari fokus atau atur shutter speed, ISO, aperture dan lain-lain. Ga seru nya kalo ternyata hasilnya blur atau filmnya kebakar HAHAHA! Untuk mengikuti trend fotografi analog sih sudah pasti iyaa.. Jaman aku SD kakek-ku kasih aku kamera Pentax K1000 dan P30 dan cukup sering aku pake. Beberapa tahun kemarin sempet aku pake tapi belum sempat aku cuci sampe sekarang hahaha, selain belom sempet.. Liat harga film semakin melejit mahal kok agak mikirrr yaa.. Badidaaaamm….!!!

Words & interview by Aldy Kusumah

Kukuh Rizal adalah sosok dibalik music company / record label yang bernama Sun Eater. Sun Eater dikenal lewat output-output kerjasamanya dengan Hindia, Lomba Sihir, Mantra Vutura dan Feast. Selain menjadi founder Sun Eater, Kukuh juga sedang mempersiapkan dan mendevelop label-label lainnya, beberapa diantaranya adalah SDY yang banyak merilis merchandise, sebuah label koplo dan dangdut, dan juga partnership dengan Greedy Dust untuk merilis musik-musik dengan variasi genre yang lebih luas.

“Label yang Gue bedah pas bikin Sun Eater adalah Big Hit Music yang sekarang rebranding menjadi HYBE. Turunan nya banyak: NewJeans, BTS.. 5 tahun terakhir ini gue perhatiin banget gerakan mereka.”

Halo Kukuh! Bisa ceritakan sedikit ga gimana Lo awalnya membuat Sun Eater? Sebelumnya Lo juga sempat berkerja di S.C.A.N.D.A.L. (Divisi publishing 347) ya?

Iya dulu sempat magang di SCANDAL, karena Gue lumayan penasaran gimana proses kreatif dibelakang 347. Jadi waktu itu iseng ngontak teman-teman di SCANDAL untuk bisa terlibat di beberapa projek mereka, walau ga banyak lumayan bisa ngasih pengalaman berharga banget. Sempat bikin creative house di Bandung namanya House the House (Keuken). 2013 sempat join Nike Indonesia, bikin aktivasi kaya Bajak Jakarta, mirip konsep reclaim the street nya Keuken cuma ini event lari. Sempat megang retail, lalu pindah ke Phillip Morris. Lalu ngerjain Soundrenaline, dan ada beberapa direct communication marketing dengan beberapa influencer dan kerjasama dengan Arian 13, Anton Ismael dan kawan-kawan lain.

Dengan beberapa pengalaman Gue di bidang urban design, marketing, event dan digital content Gue ke trigger untuk membuat Sun Eater. Tapi ada 3 artikel yang paling nge-trigger Gue. Satu adalah Gue penasaran model bisnis Radiohead yang ternyata lumayan luas. Salah satu wartawan Guardian membedah model bisnis mereka. Kedua artikel mengenai kolaborasi Interscope & Google yang membuat label UnitedMasters. Dan ketiga artikel mengenai fenomena 88Rising yang dibedah oleh Forbes dan media bisnis lain. 3 artikel ini membuat Gue kepikiran kalau bisnis musik itu bisa se-beyond ini dan ada beberapa loophole dan insight menarik juga. Kayaknya Gue udah punya plan untuk apa yang mau Gue lakukan di bisnis musik dan akhirnya Gue bikin Sun Eater.

Denger-denger Lo juga berencana membuat sebuah media ya? Seperti apa Lo membayangkan output finished product media tersebut? Konsepnya seperti apa?

Iya betul, sebenarnya ga cuma media tapi Gue membayangkan music dan media community. Gue juga sudah beberapa kali membuat konsep media dengan community base dan user generated content. Sun Eater bisnisnya artist-centric driven banget dan dengan ledakan jumlah talent di Indonesia masih ada ketimpangan di industri musik salah satunya akses ke pengetahuan investment/bisnis musik dan artist management. Harusnya ada sebuah platform dimana orang bisa cari tahu, belajar dan sharing tentang informasi apapun terkait musik. Harusnya dalam waktu dekat akan segera di launch dan akan ada aktivasi music-con under company ini di bulan Juli.

Lalu bagaimana dengan label koplo yang akan menjadi divisi baru Sun Eater? Apa yang membuat Lo kepikiran untuk membuat sebuah label koplo?

Sun Eater secara model bisnis adalah multi-label group. Mungkin orang tau nya Sun Eater hanya Feast dan Lomba Sihir, tapi kita uga aktif nge-scale up record label lain seperti Greedy Dust dan Riuh Records. Label ini sebenarnya ga pure koplo tapi menyasar ke musik Indonesia karena secara revenue pop Indonesia itu posisi ke-3 dan posisi ke-1 adalah dangdut dan no 2 adalah campur sari. Jadi menurut Gue melihat market share ini Gue melihat potensi bagus untuk mengangkat musik Indonesia ke skala yang lebih besar, bisa jadi koplo, campur sari atau dangdut. Tapi kita sedang planning label lain juga seperti label untuk games, label untuk Gen-Z dan beberapa label lain yang sedang kita kembangkan.

Divisi merchandise Sun Eater yang dinamakan Sun Dong Yang sudah merilis berbagai merch menarik. Apakah Lo bakal nge-treat divisi merch ini seperti merch band atau Lo lebih suka pendekatan brand fashion?

Kita sudah rebranding menjadi SDY. Dan itu bukan divisi merch dari Sun Eater, sudah benar-benar beda perusahaan, beda PT, beda pembukuan dan beda partner, cuma kebetulan under Sun Eater group. Ini sebenarnya kita pas bikin bisnis pasti pinpoint secara konsumen itu seperti apa. Kalau udah ketemu product marketnya enak untuk kita scale up. Seperti Gentle Monster di Korea atau Uniqlo, ga cuma musik tapi kita benar-benar perhatikan fitting, siluet dan material selayaknya brand fashion. Lalu akan ada in-house SDY product dan juga kolaborasi dengan artist lain. Kita ingin music merch ini dapat diakses dengan mudah dan seluas mungkin, mungkin seperti Uniqlo kita pengen ada di mall juga. Mall adalah salah satu titik yang akan kita coba reach untuk SDY.

Sudah collab dengan siapa saja SDY?

Pee Wee Gaskins, Rendy Pandugo, Mahalini, Phum Viphurit dari Thailand, ada juga Maudy Ayunda yang mainstreamnya. Ada Feast, Hindia, Lomba Sihir, Rayhan Noor dan upcoming akan ada banyak musisi juga yang akan segera kita rilis. Ga cuma T-Shirt basic, kita udah mulai ngeluarin baby tees, boxy cut, tumbler, totebag, kita pengen varian nya seluas mungkin juga.

Tentunya Sun Eater lekat dengan Hindia, Feast dan Lomba Sihir. Tapi adakah roster atau upcoming artist Sun Eater yang menurut Lo tidak kalah menarik?

Upcoming artist kita yang baru ada satu dari Jawa Timur dan satu lagi dari Jakarta. Secara musik akan sangat menarik karena agak sedikit berbeda dengan musik zona nyaman kita. Tungguin aja pergerakan-pergerakan dari Sun Eater yang pastinya ga akan membosankan lah hehe..

Apakah Lo lebih memposisikan Sun Eater sebagai record label, artist management, atau event organizer?

Sebagai music company memang kita ada beberapa core business-nya. Sebagai record label kita merilis Mantra Vutura, Agatha Pricilla, Rayhan Noor, Feast, Lomba Sihir dan beberapa artist lain. Artist management dan event juga kita handle sendiri, sampai digital content. Mudahnya kita itu memang music company sih.

6 record label favorit Lo apa saja?

Kalau lokal Gue suka banget Grimloc, cara mereka merilis, cara memilih artist, artist repertoar nya bagus, komunitas jalan dan direct fans service nya bagus banget. Mereka salah satu yang terbaik so far, bahkan di compare sama label luar juga Grimloc masih jadi favorit Gue. Future Classic salah satu yang Gue perhatiin banget walaupun Gue gak terlalu into electronic music, mungkin entry point Gue karena coolness nya, Gue mulai dengerin Flume dan G Flip. Modular juga salah satu label Australia yang dulu Gue ikutin, ada Cut Copy dan kawan-kawan cuma mereka sempat ada drama dan ga Gue ikutin lagi. Warp mungkin lebih ke positioning labelnya walaupun jujur Gue kurang mendengarkan katalog musiknya, selain musik banyak diversifikasi bisnisnya ada label film nya juga. XL Recording juga Gue suka. Label yang Gue bedah pas bikin Sun Eater adalah Big Hit Music yang sekarang rebranding menjadi HYBE. Turunan nya banyak: NewJeans, BTS.. 5 tahun terakhir ini gue perhatiin banget gerakan mereka.


Kolaborasi Sun Eater dengan Teenage Death Star tentunya sangat diantisipasi. Kenapa memilih TDS sebagai kolaborator? Setelah tidak membuat full album selama 17 tahun, bagaimana Sun Eater bisa mengajak mereka untuk kembali ke dapur rekaman? Hahaha..

Ini hubungan 2 belah pihak sih karena gue lumayan kenal dengan beberapa personil dan kita juga sudah ngobrolin soal kreatif jauh-jauh hari sebenarnya. In gila sih, vibes nya kaya gue di Bandung lagi: ketemu Acong, Alvin, Firman, kang Iyo dan kang Helvi. Kadang gue harus bikin template dan S.O.P. di Sun Eater, tapi dengan TDS gue bisa keluar dari kebiasaan itu. Dan mereka juga tertarik dengan beberapa hal yang kita bicarakan jadi kita jalan bareng, walaupun kadang gue bikin plan tahunan, di TDS ini jadi playground untuk ide-ide gila gue, yang mungkin tanpa plan bisa kejadian atau plan nya tiba-tiba berubah 100%. Ada beberapa hal yang kita rencanakan untuk dilakukan sepanjang tahun ini bakal menarik banget.

Untuk meng-elevate Indonesia ke level berikutnya, perlu ada apa aja sih di ekosistem industri musik Indonesia?

Wah banyak banget.. Tapi ada beberapa hal yang harus gue highlight. Satu adalah akses ke informasi atau knowledge. Harus ada platform yang menjembatani gap antara generasi record label konvensional dan artis-artis independen baru. Ada jarak juga antara musisi dengan entrepreneurship karena pada akhirnya kita butuh banyak pertimbangan dari sisi bisnis musik. Namanya industri musik kadang ga semuanya dari sisi idealisme juga. Salah satu yang paling penting itu adalah Indonesia adalah local content driven market banget, jadi kita seperti hidup di bubble-nya sendiri. Kita kadang butuh akses ke industri global baik itu promotor luar atau musik media luar mengcover musisi Indonesia. Keempat mungkin mengenai regulasinya, kita tuh kaya pemberontak di Star Wars, dan pada akhirnya harus ada peran pemerintah sebagai regulator. Perbaikan di industri musik akan jauh lebih mudah dipercepat ketika regulator turn tangan. Sebenarnya banyak banget sih yang harus di highlight karena industri musik Indonesia masih butuh banyak berbenah banget.

Words & interview by Aldy Kusumah

Alkateri dibentuk di era pandemi, lebih tepatnya pertengahan tahun 2021. Sebuah unit indie/alternative pop dari Bandung yang beranggotakan Fauzan Ghifari (vokal), Reza Zulmi (guitar), Galuh Ilham (guitar), Hadiyan Fazari (bass), Rifqi Maulana (synth), dan Felmy Herdianto (drums).

Halo Alkateri! Sudah sampai mana proses untuk debut albumnya? Bagaimana konsep awal dibalik pembuatan album ini dan proses recordingnya? Kabarnya diberi judul “Kontemplasi” ya?
Felmy: ​​Allhamdullilah sudah rampung semua, tinggal rilis saja. Gak ada konsep yang gimana sebenernya, cuma sekenanya aja hehe, kalo proses seru banget banget banget, karena rata2 dari kita dah lama hiatus ngeband kurang lebih masing2 personil kaya 3-4 taun lalulah ngeband.

Serunya jadi semua kaya mulai dari 0 lg, bedanya sama dulu sekarang kita di bimbing sama @+62 878-1276-8691 sebagai operator merangkap produser jadi banyak hal yg baru belajar lg dan baru ngerti kudu gimana nih ngeband yang technically.

Yaps, kontemplasi. Yaps kalo dari konsep mungkin trigger awalnya ini yah, kek kita lg cape aja sama musik yang cadas atau eclectic akhir-akhir ini hehe Dan kangen sama nuansa musik Bandung era Pure, Milo, Cherry Bombshell dll

Zulmi: Yaa, untuk konsep si sebenernya semua berjalan bersamaan dengan proses rekaman, namun yang perlu digaris bawahi adalah pengambilan genre pop itu sendiri, bisa dibilang saya dan kawan kawan mungkin bisa dikatakan lelah dengan genre band yang ada di kota bandung yang kebanyakan bergenre cadas. Dari situ muncul hasrat untuk melanjutkan atau bisa dibilang meramaikan kembali pop bandung pada semestinya, ya bisa dibilang niatan saya pribadi untuk membentuk grup alkateri ini melanjutkan legacy yang sebelumnya bandung terkenal dengan pure saturday, themilo dan sebagainya. Keputusan untuk mengambil kontemplasi sebagai nama album sebenarnya cukup sederhana, diambil dari salah satu track pada album dan bisa dijadikan bentuk represntatif dari topik yang dibahas pada album ini.

Untuk proses rekaman sendiri itu menghabiskan waktu kurang lebih selama 3 tahun, karena personil dari alkateri pun misah2, ya mungkin ini salah satu hambatan kami mengapa proses ini cukup mengambil banyak waktu. Alasan lainnya adalah bisa dikatakan ini adalah momentum kembalinya felmy, hadiyan, galuh melakukan rekaman, jadi masih ada kaku-kakunya dan bisa dibilang ‘telat panas’ untuk melakukan rekaman, karna memang secara teknis proses rekaman kami tidak pernah masuk tahap jamming di studio, untuk saya, piki dan ojan yang baru pertama kali melakukan rekaman dengan bimbingan hadiyan yang sangat berpengaruh dalam penggarapan album ini.

Fauzan: mau nambahin di proses rekaman dari POV aku yang dibanding teman-teman lain lebih khatam dalam proses bermusik karena mereka berangkat dari pelaku. Sedangkan aku pribadi berangkat dari penikmat, reporter media musik dan akhirnya jadi pengalaman masuk studio pertama. Karena suka nulis dan punya relatable musik yang didengerin, dipercaya ngisi vokal yang dimbimng setengah mati sama Hadiyan (karena deal-dealan awal kepengen dibimbing cara bener nyanyi tuh kaya gimana yang masih terus belajar sampe sekarang hehe).

ternyata bikin karya dari penulisan sampe publishing tuh amat sangat memakan banyak waktu dan tenaga. Disyukurinya jadi tau karakter masing-masing sekalian jadi bonding juga. Seru pol!

Cuma yang jadi kendala karena kita ben LDR kali ya Kang. Aku di Jakarta, Galuh di Bogor/Jakarta, Piki di Bali, dan sisanya Bandung. Hambatan jarak dan nyocokin jadwal ini akhirnya memakan wkatu sampe 3 taun buat ada di tahap ini.

Single Egosentris MV nya dan promo nya berkerjasama dengan Studio Pancaroba. Bagaimana awalnya kalian memilih Studio Pancaroba sebagai kolaborator? Tentang apa tema besar lagu Egosentris tersebut?
Fauzan: akhirnya kenapa mutusin buat ngegarap video lyric sama SP karena pertama proximity sih haha kebetulan adik kelas SMA dan cukup intens nongkrong dan kontekan. Kedua, ngerasa punya benang merah yang sama; seneng bikin karya yang punya pesan-pesan subliminal. terlebih si Egosentris ini tuh ditulis karena ngerasa resah dan sedih ngeliat orang-orang yang mentingin kepentingannya sendiri tapi gak mikirin orang lain. Dibuktiin sama covid yang mana jalan keluar dari pandemi teh sabenerna kolektifitas, gak bisa jalan sendiri sesuai egonya (Lagu ditulis jaman covid)

Zulmi: Egosentris yang berkolaborasi dengan Studio Pancaroba itu bukan music video, namun lirik video saja sebenarnya, mengapa studio pancaroba alasan terkuatnya adalah dia mempunyai ciri khas yang paten dan secara visualpun selaras dengan yang alkateri inginkan, untuk tema besar lagu egosentris itu mungkin bisa dikatakan bentuk sarkasme atas prilaku ego berlebihan pada manusia aja si. mungkin untuk lebih detail tema besar lagu egosentris nanti bisa dijabarkan oleh ojan sebagai penulis lirik yaaa a

Dengar-dengar beberapa personil Alkateri adalah teknisi The Panturas ya? Bagaimana jika The Panturas dan Alkateri manggung di hari yang sama apakah akan menjadi kendala?
Zulmi: Hadiyan adalah soundman dari The Panturas, Felmy teknisi drum dan saya fotografer/videografer dari the panturas sebelumnya. Kalau bentrok dengan The Panturas yang paling mungkin untuk diganti oleh additional adalah Hadiyan karna role dia di The Panturas sangat krusial. Jadi kami pun akan memahami hal itu

Hadiyan: ​​Iya , kalo ada bentrok sama panturas misalkan, aku pasti sama panturas a, karena aku mulai meniti karir dari pertama sama panturas. Jadi udah badamian sama anak anak alkateri sih kalo ini. Begtu kurang lebih

Kover art kalian “Egosentris” dan “Lebih Dari” terlihat memiliki konsep yang senada. Siapa yang membuat kover-kover single dan album kalian?
Zulmi: Itu hasil fotografi Piki, keyboardist kami. Itu diambil dari dokumentasi pribadi dia saat melakukan perjalanan menggunakan sepeda di Jepang

“Lebih Dari” sangat menarik dari penulisan lirik. Tema apa yang ingin kalian angkat dari lirik lagu itu? Siapa yang paling banyak bertanggung-jawab menulis lirik di band ini?
Zulmi: Lebih Dari ditulis saat hampir semua personil berada dalam kondisi paling bawah dalam kisah percintaannya, terutama Ojan sebagai penanggung jawab lirik dari keseluruhan album Kontemplasi.

Fauzan: Hatur nuhun sateuacanna kangge respon positifna Kang. Lirik aku tulis karena putus setelah 7 taun pacaran — asa ngajaagan jodoh batur wkwk. Lebih ingin ngebuktiin kalo misal mau bertahan dan sedikit lebih sabar, indah-indah nudipikahayang eta teh bakal dileuwihan lah kasarna haha kurleb kitu Kang. Direspon sama anak-anak buat bikin aransemen yang kedengaran ‘happy’ dan akhirnya setuju karena jadi kepikiran kaya konsep si The Smiths, musik seneng tapi lirikna barubuk..

Kalian terbentuk di era pandemi 2021. Apa yang membuat kalian memutuskan untuk membuat sebuah band indie pop dengan gitar jangly? Eureka momen apa yang membuat kalian memilih nama Alkateri pada saat itu?
Felmy: Kalau nama, awalnya sih ingin ingin keren2an pake bahasa inggris, tapi kalo dipikir2 karena kita ingin bernuansa Bandung tempat dimana kita dibesarkan ini jadi makin pol aja sih.

Setelah ngelist nama2 jalan yang keren di Bandung, alkateri lah yang menurut kita okay dan dan secara history juga gokil.

Jalannya juga kebanyakn orang bandung tau tapi cukup underated, secara pengucapan dan pencarian di kanal digital juga okay hehe jadi yaudah deh alkateri aja. Ohiya jalannya estetis karena heritage

Zulmi: Bicara gitar jangly itu sebenarnya saya juga gatau gitar-gitar jangly itu seperti apa, namun yang pasti dotted 8th delay menjadi kuncian saya dalam penggarapan album ini, atas dasar suka aja sih dengan suara delay yang seperti itu, main gitar sendiri tapi kaya ada temennya

Fauzan: kalo ditanya kenapa; pengen bring back pop Bandung yang kami konsumsi selama tumbuh kembang (karena keseluruhan dari kami sepakat dengan PS). Walaupun PS atau Kang Suar gak minta digantiin keberadaannya, kami kaya ngerasa punya semangat buat ada meneruskan jejak mereka.

Terus pandemi teh akhirnya banyak dipake digging sampe akhirnya nemu band pop hebeul kaya Plester Kuning, Karma, My Violaine Morning, Astrolab. Nama-nama yang aku pribadi harapin panjang umur tapi kudu hiatus panjang

Album favorit atau album yang paling berpengaruh untuk masing-masing personil apa saja? Dan kenapa?
Fauzan: favorit Bloodflowers – The Cure dan hampir semua album si Peterpan. Cuma spesfikasi yang bikin berpengaruh mah album The Glow punya DMA’S. ngerasa dipengaruhi karena eksplorasi musik pop jadul yang dijual teh bisa seluas itu dibawa ke masa sekarang.

Zulmi: – The Cure – Bloodflowers (liriknya sedih dan instrumennya sangat mendukung)
– ⁠The Smashing Pumpkins Machina/The Machines of God (karna ada lagu try,try,try dan this time yang menjadi acuan groove yang diinginkan)
– ⁠Peterpan – Taman Langit (tanpa sadar album ini menjadi pondasi saya sebelum menulis lagu dan album ini siapa yang ga suka? Hahahaha)

Felmy: Peterpan – Taman Langit & Alexandria (Ketukan drum yang gak ngerepotin org kalo ngulik, trs yang genit nemenin bassline, chord gitarnya gak nyusahin yang nongkrong, leadsnya bisa dinyanyiin itu gue banget)

The Stone Roses – The Stone Roses (banyak terinfluence ketukan drum tanggung dari lagu mereka)

Spiritualized – Ladies and Gentleman We Are Floating In Space (Belajar ngemanage nuansa pada lagu, kayanya gara2 suka banget album ini)

Untuk departemen gitar Zulmi dan Galuh, apakah kalian seorang gearheads yang selalu merubah susunan pedalboard kalian? Menurut kalian efek-efek apa saja yang paling esensial untuk karakter sound Alkateri yang dipakai selama ini?
Zulmi: Untuk saya pribadi dengan skill pas-pasan tentunya harus ngulik efek sebagai ‘make up’ hahahahaha, untuk pedalboard saya pribadi masih terus bongkar pasang, namun yang paling krusial adalah delay, overdrive dan compressor ajaa. Delay: Boss DD-20, overdive: masih mencari-cari, sejauh ini Boss OS2, compressor: ngambil dari zoom MS-70CDR

Galuh: Senada dengan Zulmi. Di album pertama ini bisa dibilang jadi kesempatan pertama buat eksperimen ngulik2 efek yang ada. Saya bukan orang yang bongkar2 efek gitu sih, karena budget terbatas dan males jual beli. Di album ini lagi coba eksplor overdrive karena dapet peran ngisi rhythm kebanyakan. OD dan distorsi yang dipake: Ibanez TS Mini, Providence Red Rock OD, Suhr Riot Distortion.

Pertanyaan terakhir: 5 tempat makan sunda favorit versi kalian di Bandung yang semua orang harus coba? Dan kenapa alasan nya memilih tempat-tempat tersebut?
Zulmi: Laksana euy paten. Semua menu sama sambelnya ngeblend

Fauzan: 1. Nasi Babat Berkah Dago Atas
2. Empal Gentong Cihapit
3. Lomie Lombok
4. Bu Imas
5. Lotek Jl. Mahmud

Galuh: Bukan makanan Sunda tapi boleh dicobain. Bubur di Jalan ABC/Alkateri. Sebenernya ini favorit temen. Dulu pernah diajakin sama temen, sengajain dari Nangor ke sana. Boleh di cobain buburnya + suasana pagi Jalan ABC/Alkateri pagi-pagi hehe

Felmy: Aduh dari aku Warung SS Jatinangor lagi, Beda rasanya sama SS yg di Bandung. Percayalah wkwk

Hadiyan: Warteg di gerlong hilir a, murah soalnya 4 macem 13 rebu

Words & interview by Aldy Kusumah
Live photos by Luthfi Ali Qodri

Skandal adalah Yogha Prasiddhamukti (vokalis, tamborin), Rheza Ibrahim (gitaris), Robertus Febrian Valentino (gitaris, vokalis), dan Argha Mahendra (drummer). Sebuah unit indie-rock dari Yogya yang tentunya sudah mempunyai beberapa single yang melekat di hati para penggemarnya. Para personilnya tumbuh mendengarkan lagu-lagu radio dan TV di awal akhir ‘90an dan awal ‘2000an, yang tentunya didominasi band-band pop rock Indonesia, jauh sebelum mereka mengenal style musik yang lebih beragam lagi seperti indie rock yang didominasi oleh guitar music seperti: Superchunk, Teenage Fanclub, Lemonheads dan The Replacements. Sebentar lagi mereka akan merilis sebuah album bertajuk “Melodi” yang menggabungkan dua spektrum tersebut. Sebuah sweet spot diantara pop rock radio hits dengan DNA musik indie rock dan alternative rock. Let’s have a chat with the boys from Skandal..

“Album ini yang ngegabungin dua spektrum tersebut, nemu titik tengah antara pop rock radio dengan DNA musik indie rock dan alternative favorit kami.”

Halo Skandal! Dengar-dengar sedang mempersiapkan album “Melodi” ya? Sudah berapa persen progressnya? Bisa elaborasi sedikit tentang konsep dan proses pembuatan album ini?

Siddha: Halo Jeurnals! Iya benar, kami sedang dalam proses nyelesaiin album Melodi nih, lumayan seru sekaligus challenging karena ini sebenarnya adalah debut album penuh kami, setelah sebelumnya hanya ngeluarin EP dan single-single saja. Prosesnya bisa dibilang sudah 75% lah, kurang lebih.

Kalau ngomongin proses, sebenernya rencana bikin album udah ada sejak lama, tapi baru bener-bener mulai tuh pertengahan menjelang akhir tahun 2023 kemarin. Kebetulan juga, kami beruntung bisa dapet label, Disaster Records, dan dibantu banget sama mereka supaya bisa jalan rekaman. Proses rekamannya agak unik. Sebagian besar materi udah siap dari lama, tapi juga ada yang digarap sembari jalan rekaman. Butuh effort lebih memang, cuma kami bisa dibilang menikmati prosesnya. Kami jadi belajar satu sama lain lagi soal songwriting, desain sound, dan banyak hal lainnya, termasuk relasi antar personel. Prosesnya jauh lebih berkembang dibanding sebelumnya.

Konsep album Melodi sebenernya sederhana. Kami mencoba untuk merangkum kecintaan kami akan musik-musik gitar yang jadi first musical interest kami dulu, yaitu style musik yang kalau diinget-inget, dulu bikin kami masing-masing pengen ngeband at the first place–music we grew up listening to, kind of thing. Lebih ke ngegabungin perasaan nostalgic dengan sentuhan kami sendiri based on musik yang udah kami bikin sebelumnya, sepanjang perjalanan band ini. Di sini kami juga coba mengeksplor kemungkinan lain, nyoba nulis lagu dengan sense pop yang kuat, dan sebagainya. Buat kami, album ini adalah tentang menyampaikan rasa yang majemuk dan ngerayain dualitas dalam tiap aspek kehidupan, senang dan sedih; puas dan kecewa; dan lainnya.

Apakah single-single seperti Terbang, Lemon, Bosan dan Percuma akan masuk juga ke album ini?

Siddha: Materi kami di album mendatang adalah materi baru semua, termasuk empat lagu yang ada di EP Dengar yang baru rilis tempo hari. Single-single terdahulu nggak akan masuk, karena memang mereka udah jadi materi yang berdiri sendiri, dan kami sebagai musisi juga pengen nge-push sejauh mana kami bisa terus menciptakan karya-karya baru, nggak hanya bergantung sama lagu-lagu lama saja. Ditambah, banyak materi baru yang sayang kalau nggak digarap dan dirilis. Tapi, ada satu single terdahulu yang bakalan diaransemen ulang untuk versi albumnya. Tunggu aja.

Beberapa single terakhir kalian dan tentunya yang “Mimpi” ini terdengar lebih effortless dan straightforward guitar rock ya. Tetapi diluar dari DNA musik indie rock Amerika / Inggris, gue masih mendengar unsur alternative pop seperti band-band Indonesia era ‘90an. Secara direksi musik apa yang kalian tuju di album “Melodi” ini? Apa yang membuatnya berbeda dari EP “Sugar” atau beberapa single sebelumnya?

Siddha: Seperti yang sempat saya bilang tadi, kami nyoba nulis lagu yang jadi semacam ode untuk kecintaan kami akan musik-musik gitar yang jadi ketertarikan musikal pertama kami, ketika dulu kami mulai ngeband atau bahkan lebih jauh lagi ketika remaja, masing-masing dari kami tumbuh mendengarkan lagu-lagu lewat radio dan TV di awal akhir 90an dan awal 2000an, yang didominasi band-band pop rock Indonesia, jauh sebelum kami mengenal style musik yang lebih beragam lagi. Album ini yang ngegabungin dua spektrum tersebut, nemu titik tengah antara pop rock radio dengan DNA musik indie rock dan alternative favorit kami. Kalau dibandingin sama rilisan sebelumnya, saya pikir materinya lebih eklektik, ada yang energik dan upbeat, mid-tempo yang punchy, dan ada lagu slow di antaranya. Sound album ini lebih tergarap dengan baik, songwriting tetap simple tapi mungkin lebih solid. Di sisi lain, secara keseluruhan materinya juga jadi lebih crunchy, melodic, dan in general, poppier. And of course, more big hooks!

Lyrically, kalian salah satu band lokal yang berani menggunakan lirik straightforward dan gaya bahasa ringan tapi tetap terdengar cool dan tidak cheesy. Bagaimana proses kalian menemukan ramuan yang tepat dalam menulis lirik bahasa?

Siddha: Saya nggak tau apakah saya sudah bisa menemukan “ramuan tepat” atau belum, tapi terima kasih jika terdengar seperti yang Anda bilang. Saya pikir, saya juga dibantu banget sama aransemen lagu buatan Rheza atau Robert yang udah kedengeran enak duluan. Jadi, tinggal ngepasin lagi dengan liriknya, dan bikin nada enak. If it sounds good, the lyrics will follow, I guess.

Kalau buat saya sendiri, sebagai penulis lirik utama, selain Robert, prosesnya lumayan berasa ya, terutama ketika akhirnya beralih untuk mencoba menulis semua lirik dalam bahasa Indonesia, bahasa ibu sendiri. Dari yang ngerasa aneh sendiri, lalu mencoba kemungkinan diksi lain, hingga pada akhirnya yang dipakai adalah yang keluar sejujur dan senatural mungkin. Saya selalu suka lirik yang sentimentil, melankolis, tapi di satu sisi juga yang rasanya bersahaja dan ringan, dan itu bisa jadi secara nggak langsung saya terapkan ketika nulis lirik buat band ini.

Tentunya energi Teenage Fanclub, Superchunk, Sheila on 7 dan Oasis terdengar di lagu-lagu kalian, tetapi kalian mampu meramu semua influence menjadi racikan yang Skandal banget. Akhir-akhir ini, 5 lagu yang ada di playlist kalian apa aja sih?

Siddha: I’ll make it ten,
Three – “Swann Street”
Wilco – “I’m Always in Love”
Superstar – “Barfly”
Padi – “Bidadari”
Gigolo Aunts – “Everyone Can Fly”
Primal Scream – “Everybody Needs Somebody”
Sugar – “Believe What You’re Saying”
Firstrate – “Springtime”
Ex-Vöid – “Boyfriend”
Tossing Seed – “When You Come Around”

Rob: Teethe – “ Lucky “
The Db’s – “Love is for Lovers”
Blair – “By the C”
Milly – “ Grab the Wheel”
The Ergs! – “180 Emotional Ollie”
Texas Is the Reason – “Blue Boy”
Netral – “Sibuk”

Rheza: Laura Day Romance – “Sad Number”
Dr. pm – “Esok Bangunkan Aku”
L’Arc-en-Ciel – “Link”
Travis – “Closer”
Carpark North – “More”

Untuk departemen artwork cover single dan merch banyak dikerjakan oleh Rob. Seperti apa kalian ingin merepresentasikan Skandal terlihat secara visual? Baik dari asset grafis, foto band, fashion dan video klip kalian?

Siddha: Biasanya creative direction-nya saya yang nge-handle, dan memang banyak back to back dengan Rob untuk urusan ilustrasi jika dibutuhkan. Kadang pake ilustrasinya Rob, kadang temen-temen lain.

Dari dulu, saya udah tahu kalau saya pengen bikin pendekatan visual yang eye-catching, dengan palet warna bold dan bright serta pemilihan font tertentu untuk ngelengkapin musik kami yang poppy; semuanya dipengaruhi oleh estetika 90an yang kami gandrungi, mulai dari visual di rilisan musik era itu sampe ke banyak hal lainnya di ranah subkultur. Tentunya, tanpa mengesampingkan identitas kami sebagai band era sekarang.

Untuk urusan presentasi visual, jujur selama ini kami ngasih effort dan kepedulian yang sama seriusnya dengan ketika kami bikin lagu. Entah itu untuk layout dan artwork rilisan, foto band, estetika video musik, sampe desain merchandise, karena bagi kami, itu udah termasuk dalam paket karya audiovisual sebuah band, yang nggak bisa dipisahin. Jadi, terima kasih atas pertanyaan ini.

“Udah mager euy nginjek-nginjek pedal kebanyakan, hahaha, pengennya jreng maen aja sambil nyanyi gitu.”

Untuk para gitaris Rob dan Rheza, bisa sedikit menceritakan loop efek dan setting ampli kalian untuk para pembaca gearheads? Sound gitar seperti apa yang ingin kalian beri untuk pendengar?

Rob: Biasanya dulu kalau ampli selalu pake Roland Jazz Chorus karena soundnya kerasa jujur banget buatku, plus clean-nya enak banget. Cuma, sekarang udah nggak pernah pake ampli lagi alias udah direct semua. Buat loop efek dari gitar langsung ke pedal overdrive trus masuk ke multi fx (buat cab sim, mic dan beberapa modulasi kecil buat keperluan lead) berakhir di pedal cab sim lamaku yang sekarang perannya udah ganti jadi semi-direct box sebelum nyambung ke mixer dan ke FOH. Sebenernya nggak pengen nyari sound yang heavy dan bising lagi sih, sekarang malah pengen yang crunchy aja, dengan harapan pas dan tepat guna aja untuk ngewakilin sound-nya Skandal saat ini. Terdengar poppish tapi crunchy here and there, dan sopan di kuping aja kalo bisa. Sesimpel pedal overdrive dengan ampli combo atau head cabinet dengan settingan clean tapi rada crunch itu aja udah cukup buatku. Udah mager euy nginjek-nginjek pedal kebanyakan, hahaha, pengennya jreng maen aja sambil nyanyi gitu.

Rheza: Kalau ampli biasanya pake Marshall JCM 900 atau Fender Deluxe 90. Cuma sekarang udah langsung direct pake amp simulator NUX Solid Studio. Efek yang dipake sih tergolong sederhana ya, menyesuaikan kebutuhan lagu-lagu di Skandal aja: tuner Polytune 3 (tc electronic), overdrive OD 3 (boss), distorsi Tone Bone (radial), delay Carbon Copy (MXR), dan amp simulator Solid Studio (NUX). Saya pengen sound yang cenderung distortif tapi masih dalam koridor warm dan tetep ada sensibilitas crunch-nya.

Nama band kalian cukup menarik. Skandal apa saja yang pernah kalian alami sebagai band atau individu?

Siddha: Bikin dan ngejalanin band ini sampe sekarang kayaknya salah satu skandal dalam hidup saya, deh, hahaha! Lainnya seinget saya nggak ada, atau ya nggak bisa dibahas di sini, LOL.

Rob: Nggak sampe skandal sih, tapi momen random aja, kayak joget di dalem ATM pas malem-malem mau ambil duit, cuma lupa kalo ada CCTV. Semoga aja nggak diambil ataupun diupload di kompilasi rekaman awkward CCTV, hahaha!

Rheza: Skandal asmara waktu masih lajang dulu, hahaha!

Kalau tidak salah Sid tinggal dan bekerja di Jakarta sedangkan personil lain berbasis di Yogya. Bagaimana kalian workshop, latihan atau rekaman? Misal ada panggung di Bandung, apakah kalian latihan dadakan dulu di kota tersebut sebelum manggung?

Siddha: Kalau dulu, begitu. Bolak balik antara saya ke Jogja untuk latihan (kalau manggung di Jogja), atau ya latihan dulu di kota tempat manggung. Workshop pun saya jarang ikut, paling hanya via online untuk presentasi lirik dan sebagainya. Ketika saatnya rekaman, baru saya pulang ke Jogja, dan seterusnya. Tapi, setelah sekarang saya memutuskan untuk balik lagi ke Jogja setelah 12 tahun tinggal dan kerja di Jakarta, salah satunya karena sedang menggarap album ini, ya jadi lebih enak untuk urusan band karena lebih fleksibel dan dekat jaraknya, udah sekota lagi.

Pertanyaan terakhir: Top 5 food spots di Yogya atau Jakarta menurut masing-masing personil dan alasan nya!

Siddha: Kalau di Jakarta banyak banget, tapi yang udah jadi kuncian banget dan deket sama tempat tinggal saya dulu adalah Pecel Boma Fatmawati dan Ayam Jeletot Bonsar. Kalau di Jogja itu Sego Telkem Mbak Nur, Cookroom Burger, RM Terang Mulyo, dan Bakmie Petbun. Terlalu banyak food spots favorit di Jogja, hahaha!

Rob: Di Jogja, yang jadi favorit saya ada BPK Lima Serangkai, Cookroom Burger, Siomay Shinchan, RM Baru, dan Bakso Jawi.

Rheza: Siomay Kang Is, Omah Kluwih, Cookroom Burger, Soto Pak Dalbe, dan Roka Ramen.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Skandal’s archives